NADIR: CAHAYA TERAKHIR BUMI
Bab 1 — Ketika Matahari Mulai Padam
Tahun 2149.
Langit tak lagi biru — ia berwarna kelabu pucat, seperti debu yang membungkus dunia.
Matahari kini hanya tampak seperti bola merah kusam yang nyaris padam. Sejak lima tahun
terakhir, suhu Bumi turun drastis, tanaman membeku, dan laut perlahan mengeras menjadi
es.
Peradaban manusia berada di ambang punah. Kota-kota megah kini tinggal reruntuhan
tertutup salju. Yang tersisa hanyalah beberapa koloni manusia yang bertahan di bawah
tanah, menggantungkan hidup pada sisa energi dari reaktor tua.
Di salah satu koloni itu — Stasiun Arkha-7, seorang ilmuwan bernama Dr. Leona Varez
menatap layar monitor besar di ruang penelitian. Detak jantungnya berpacu cepat, bukan
karena dingin, tapi karena data yang muncul di layar menampilkan sesuatu yang tak
mungkin:
Sebuah sinyal panas… alami… dari tubuh manusia.
“Apakah ini… nyata?” gumamnya pelan.
Asisten mudanya, Rey, menatap grafik di layar. “Koordinatnya di zona beku, di sektor utara.
Tidak mungkin ada yang hidup di sana.”
Leona menatapnya tajam. “Kalau sinyal ini benar, kita baru saja menemukan alasan untuk
kembali percaya pada kehidupan.”
Bab 2 — Anak dari Cahaya
Mereka mengirim tim pencari ke sektor utara — wilayah yang disebut “Sabuk Beku”, tempat
suhu bisa mencapai minus 90 derajat. Setelah dua hari perjalanan di tengah badai salju, tim
menemukan sebuah kapsul logam yang setengah terkubur di es.
Di dalamnya — seorang anak laki-laki, berusia sekitar dua belas tahun, tidur tenang.
Tubuhnya memancarkan suhu 36 derajat stabil, padahal udara di luar mencapai -87°C. Tidak
ada alat bantu hidup, tidak ada pemanas. Hanya kulitnya yang tampak hangat bersinar
samar keemasan.
Anak itu dibawa ke Arkha-7.
Ketika ia sadar, matanya terbuka perlahan — irisnya berwarna amber, bercahaya lembut
seperti sinar matahari sore yang hilang dari dunia.
“Siapa namamu?” tanya Dr. Leona dengan lembut.
Anak itu terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Nadir.”
Nama yang sederhana, tapi maknanya dalam — titik terendah di langit, kebalikan dari zenit.
Leona tersenyum samar. “Tepat sekali,” katanya. “Kau mungkin lahir di titik tergelap dunia,
tapi dari tubuhmu… ada cahaya.”
Bab 3 — Cahaya yang Menyembuhkan
Hari-hari berikutnya penuh keajaiban.
Setiap kali Nadir berada di dekat tanaman beku, daun-daun itu mulai mencair dan tumbuh
kembali. Es di dinding laboratorium perlahan menetes.
Tubuhnya seolah menjadi sumber energi alami yang melawan kematian planet ini.
Namun, setiap keajaiban ada harganya.
Satu malam, Rey memergoki Leona mencatat data rahasia.
“Apa maksudmu menyembunyikan hasil pengukuran energi dari dewan koloni?”
Leona menatapnya dengan tatapan berat. “Karena mereka tidak ingin menyelamatkan dunia,
Rey. Mereka ingin menguasainya.”
Rey terdiam.
Leona melanjutkan, “Energi di tubuh anak itu cukup untuk menyalakan seluruh Arkha-7
selama seratus tahun. Kau tahu apa artinya itu?”
Rey menggeleng.
“Itu berarti mereka akan mengorbankannya demi listrik. Bukan demi kehidupan.”
Bab 4 — Pengejaran
Kabar tentang “anak cahaya” menyebar cepat. Dewan pusat mengirim pasukan keamanan
untuk mengambil Nadir dari laboratorium.
Leona menolak. Ia tahu, begitu anak itu diserahkan, mereka akan mengekstraksi seluruh
energi panas tubuhnya hingga mati.
Malam itu, Leona dan Rey memutuskan melarikan diri membawa Nadir ke permukaan.
Angin di luar menggigit kulit, udara tipis dan beracun. Tapi tubuh Nadir menciptakan
semacam medan hangat di sekeliling mereka, membuat salju mencair di setiap langkah.
“Bu, kenapa mereka ingin aku?” tanya Nadir polos.
“Karena kau sesuatu yang belum pernah ada di dunia ini,” jawab Leona sambil menahan
gemetar. “Kau cahaya terakhir bumi.”
Pasukan pengejar tiba beberapa jam kemudian. Peluru energi menghantam dinding es,
menciptakan kilatan biru.
Rey terkena ledakan di bahu, tapi tetap berlari sambil menarik Nadir.
Mereka tiba di tebing tinggi, di bawahnya terbentang samudra beku.
Leona menatap ke bawah, lalu pada Nadir. “Kau harus pergi. Dunia butuh kau, bukan kami.”
“Tidak! Aku nggak mau meninggalkan kalian!”
Leona tersenyum lemah. “Nadir, dengarkan aku… setiap cahaya selalu punya tempat untuk
bersinar.”
Ia mendorong Nadir ke kapsul penyelamat, menekan tombol peluncur. Kapsul itu meluncur
menembus badai menuju arah selatan — satu-satunya zona yang masih punya tanda-tanda
kehidupan.
Beberapa detik kemudian, ledakan besar menghantam tebing, menelan Leona dan Rey
dalam cahaya putih.
Bab 5 — Cahaya di Ufuk Selatan
Beberapa minggu kemudian, di zona selatan yang masih disinari matahari lemah, seorang
gadis kecil melihat sesuatu jatuh dari langit — seperti meteor kecil yang menyala lembut.
Ketika ia mendekat, ia menemukan kapsul logam terbuka, dan seorang anak laki-laki dengan
mata keemasan duduk di dalamnya.
“Apa kamu malaikat?” tanya gadis itu polos.
Nadir tersenyum. “Bukan. Aku cuma seseorang yang ingin membuat dunia hangat lagi.”
Dari telapak tangannya, muncul cahaya keemasan yang memancar lembut, melelehkan es di
sekitar mereka.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, langit selatan menunjukkan warna jingga —
bukan dari api, tapi dari sinar mentari yang kembali menembus awan tebal.
Dunia mulai mencair.
Harapan mulai tumbuh.
Dan di tengah hamparan putih, berdirilah seorang anak — cahaya terakhir bumi — yang
kelahirannya mungkin bukan kebetulan, tapi janji dari alam semesta bahwa gelap tidak akan
menang selamanya.