0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Diunggah oleh

maharanideswita361
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Diunggah oleh

maharanideswita361
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH


Dalam bagian ini akan di paparkan pengertian masalah, pengertian
kemampuan pemecahan masalah, langkah-langkah pemecahan masalah, dan
indikator pemecahan masalah.

2.1.1 Pengertian Masalah


Dalam setiap kehidupan manusia selalu dikelilingi oleh masalah
yang harus dihadapi dan dipecahkan. Masalah dapat timbul dalam berbagai
situasi. Schoendfeld (1992) mendeskripsikan masalah sebagai pertanyaan
atau masalah yang dihadapi oleh seseorang yang tidak memiliki solusi atau
penyelesaian yang tepat. Sejalan dengan hal ini Krulik dan Rudnick (dalam
Hendriana 2018) juga mengemukakan pendapatnya mengenai masalah
yakni “A problem is a situation, quantitative or otherwise, that confronts an
individual or group of individuals, that requires solution, and for a which
the individual sees no apparent path to obtaining the solution”. Maksud dari
pernyataan tersebut yakni masalah merupakan situasi yang dihadapi oleh
seseorang atau sekelompok orang yang memerlukan suatu pemecahan, serta
di dalam menemukan jawaban permasalahan tersebut tidak dapat langsung
ditemukan jawabannya.
Pratiwi (2016) mengungkapkan bahwa masalah matematika
berkaitan dengan persoalan atau tantangan yang dihadapkan kepada
seseorang atau kelompok yang tidak dapat menyelesaikan tantangan
tersebut secara langsung melalui prosedur biasa, sehingga mereka harus
memiliki kesiapan mental dan pengetahuan untuk memperoleh solusi dari
suatu masalah yang diberikan melalui berbagai strategi yang bisa digunakan
untuk mendekatkan peserta didik kepada solusi yang diharapkan. Sejalan
dengan hal ini Polya (1973) menyebutkan terdapat 2 jenis masalah dalam
matematika, yaitu :

8
9

1. The aim of a problem to find is to find a certain object the unknown of


the problem (tujuan dari suatu masalah menemukan adalah untuk
menemukan suatu objek tertentu yang belum diketahui
permasalahannya)
2. The aim of a problem to prove is to show conclusively that a certain
clearly stated assertain is true, or else to show that it is false (tujuan
dari suatu soal membuktikan adalah untuk menunjukkan secara
meyakinkan bahwa pernyataan tertentu yang dinyatakan dengan jelas
adalah benar atau untuk menunjukkan bahwa pernyataan itu salah)
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dalam penelitian ini
masalah matematika merupakan masalah yang disajikan dalam bentuk soal
cerita yang berkaitan dengan kejadian sehari-hari.

2.1.2 Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah


Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu kemampuan
dasar yang harus dimiliki dan dikuasai oleh setiap peserta didik.
Kemampuan pemecahan masalah sangat penting dimiliki peserta didik,
terlihat dalam pernyataan Branca (1980) yang menyatakan bahwa : 1)
Kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan umum dalam
pembelajaran matematika. 2) Pemecahan masalah meliputi metode,
prosedur, dan strategi yang merupakan proses inti dan utama dalam
kurikulum matematika. 3) Kemampuan pemecahan masalah merupakan
kemampuan dasar dalam belajar matematika.
NCTM (National Council of Teacher of Mathematics) (2000)
menyebutkan bahwa memecahkan masalah bukan hanya merupakan tujuan
belajar matematika, tetapi juga merupakan alat utama dalam proses
pembelajaran matematika. Oleh karena itu, kemampuan pemecahan
masalah menjadi fokus utama dalam pembelajaran matematika bagi peserta
didik dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Pemecahan masalah adalah suatu usaha mencari jalan keluar dari
satu kesulitan untuk mencapai tujuan yang tidak mudah untuk dicapai
(Polya, 1973). Menurut Krulik dan Rudnik (dalam Hendriana 2018),
pemecahan masalah ialah proses di mana seseorang menggunakan
10

pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman yang diperoleh untuk


menyelesaikan masalah dalam situasi yang belum dikenalnya. Sedangkan
menurut Juanda (2014) pemecahan masalah merupakan suatu kegiatan
manusia yang tidak terbatas pada keterampilan umum, tetapi
menggabungkan ide-ide dan aturan yang telah dipelajari sebelumnya.
Menurut Sumarmo (dalam Amam 2017) pemecahan masalah dapat
dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu sebagai pendekatan dan
sebagai tujuan pembelajaran. Dalam pendekatan, pemecahan masalah
digunakan untuk menemukan dan memahami materi matematika,
sedangkan sebagai tujuan pembelajaran pemecahan masalah ditujukan pada
peserta didik untuk dapat merumuskan masalah dalam matematika,
menerapkan strategi untuk menyelesaikan berbagai masalah, mampu
membuat model matematika dan menyelesaikan masalah nyata, serta dapat
menggunakan matematika secara bermakna.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka dalam penelitian
ini kemampuan pemecahan masalah adalah suatu kemampuan yang dimiliki
oleh seseorang untuk menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan
pemahaman yang telah didapat untuk menemukan solusi atau cara untuk
menyelesaikan masalah.

2.1.3 Langkah-langkah Pemecahan Masalah


Pemecahan masalah dibuat untuk dicari solusinya yang mana satu
permasalahan tersebut dapat diselesaikan melalui banyak solusi. Tingkat
kesulitan suatu masalah dapat dinilai dengan melihat seberapa banyak solusi
dan seberapa lama solusi tersebut bisa di selesaikan. Semakin sulit suatu
masalah maka semakin lama juga untuk ditemukan solusinya. Langkah-
langkah yang tepat diperlukan dalam memecahkan masalah untuk
mendapatkan solusi yang tepat juga. Beberapa ahli mengemukakan
langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut.
Langkah-langkah pemecahan masalah yang dikemukakan oleh
Gagne (dalam Russefendi 2006) yakni : 1) Menyajikan masalah dalam
bentuk yang lebih jelas; 2) Menyatakan masalah dalam bentuk operasional
(dapat dipecahkan); 3) Menyusun hipotesis-hipotesis alternatif dan prosedur
11

kerja yang diperkirakan baik untuk digunakan dalam pemecahan masalah;


4) Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya
(pengumpulan data, pengolahan data, dan lain-lain), hasilnya mungkin lebih
dari sebuah; 5) Memeriksa kembali apakah hasil yang diperoleh benar.
Adapun menurut John Dewey (dalam Carson 2007) langkah
pemecahan masalah terbagi menjadi lima di antaranya : 1) Mengenali
Masalah (Confront Problem); 2) Diagnosis atau pendefinisian masalah
(Dignose or Define Problem); 3) Mengumpulkan beberapa solusi
pemecahan (Inventory Several Solutions); 4) Menduga solusi (Conjecture
Consequences of Solutions); 5) Mengetes dugaan (Test Consequences).
Sedangkan menurut Krulik dan Rudnick (dalam Carson 2007)
langkah pemecahan masalah terbagi menjadi lima, yakni : 1) Membaca
(Read); 2) Mengeksplorasi (Explore); 3) Memilih suatu strategi (Select a
Strategy); 4) Menyelesaikan (Solve); 5) Meninjau kembali dan
mendiskusikan (Refiew and Extend).
Selanjutnya, Polya (1973) juga mengemukakan pendapatnya
mengenai langkah pemecahan masalah yakni terdiri dari empat langkah
sebagai berikut :
1. Memahami masalah (Understanding the problem)
Dalam tahap memahami masalah, peserta didik harus mampu
mengidentifikasi apa saja data yang ada pada masalah, seperti apa yang
diketahui, apa yang ditanya, apakah syarat untuk menjawab soal sudah
tersedia dan mengaitkannya dengan apa yang mereka cari. Pada buku Polya
(1973, hlm. 7) tertulis bahwa pada tahap memahami masalah dibagi menjadi
2 tahap yaitu “Getting acquainted” (Berkenalan) dan “Working for Better
Understanding” (Bekerja untuk pemahaman yang lebih baik).
Pada tahap “Getting acquainted” dan “Working for Better
Understanding” hal yang harus dilakukan peserta didik adalah :
1) Dari mana saya harus memulai? (Where should I start?)
2) Apa yang bisa saya lakukan? (What can I do)
3) Apa yang bisa saya peroleh dengan melakukan hal itu? (What can I gain
by doing so?)
12

2. Merencanakan pemecahan (Devising a plan)


Pada tahap merencanakan penyelesaian, peserta didik harus dapat
menyusun langkah-langkah apa saja yang akan digunakan untuk dapat
memecahkan masalah yang dihadapinya. Kemampuan berpikir yang tepat
hanya dapat dicapai oleh peserta didik yang telah memperoleh pengetahuan
sebelumnya yang cukup memadai mengenai masalah yang mereka hadapi,
bukan hal yang baru sama sekali tetapi sejenis atau mendekati. Adapun hal
yang harus dilakukan peserta didik pada tahap ini adalah :
1) Apakah Anda mengetahui masalah yang terkait? (Do you know a
related problem?)
2) Lihat masalah yang tidak diketahui! Dan coba untuk memikirkan
masalah familiar yang memiliki bentuk tidak diketahui yang sama atau
serupa. (Look at the unknown! And try to think of a familiar problem
heaving the same or a similiar unknown)
3) Jika terdapat suatu masalah yang terkait dengan Anda dan penyelesaian
atau solusi sebelumnya, dapatkah Anda menggunakan itu. (Here is
problem related to yours and solved before, could you use it)
4) Bisakah Anda memperkenalkan beberapa elemen tambahan untuk
memanfaatkan kemungkinan? (Could you introducesome auxiliary
element in order to make its possible?)
5) Dapatkah Anda menyatakan kembali masalahnya. (Could you restate
the problem)
3. Melakukan rencana pemecahan (Carrying out the plan)
Pada tahap melaksanakan rencana pemecahan peserta didik telah
siap melakukan perhitungan dengan segala macam data yang diperlukan
termasuk konsep dan rumus atau persamaan yang sesuai. Adapun hal yang
dilakukan peserta didik pada tahap ini adalah :
1) Memeriksa setiap langkahnya. (Check each step)
2) Bisakah Anda memperlihatkan dengan jelas bahwa langkah itu benar?
Bisakah Anda juga membuktikan bahwa langkah tersebut benar. (Can
you see clearly that the step is correct? Can you also prove that step is
correct)
13

4. Memeriksa kembali (Looking back)


Pada tahap terakhir, diharapkan kemampuan peserta didik dalam
memecahkan masalah ini yaitu upaya peserta didik untuk mengevaluasi dan
meninjau kembali setiap langkah pemecahan yang sudah dilakukan. Tahap
ini dilakukan untuk mengetahui :
1) Dapatkah Anda memeriksa hasilnya. (Can you check the result).
2) Dapatkah Anda memeriksa argumen atau pernyataan. (Can you check
the argument).
3) Apakah Anda memperoleh hasil yang berbeda? (Can you derive the
result differently)
4) Dapatkah Anda melihatnya sekilas? (Can you see it at a glance)
Dari beberapa langkah-langkah pemecahan masalah yang
dikemukakan oleh beberapa peneliti di atas, Dewi (2014) mengungkapkan
bahwa model Polya menyajikan kerangka-kerangka yang sudah tersusun
rapi untuk menyelesaikan masalah. Selain itu, langkah-langkah pemecahan
masalah menurut Polya juga lebih ringkas, padat, jelas, dan sudah bisa
mewakili kriteria-kriteria pemecahan masalah ahli yang lain sehingga lebih
sering digunakan dibandingkan dengan lainnya (Sukayasa, 2012).
Berdasarkan uraian tersebut, maka pada penelitian ini peneliti menggunakan
langkah-langkah kemampuan pemecahan masalah menurut Polya.

2.1.4 Indikator Pemecahan Masalah


Untuk mengukur seberapa besar kemampuan pemecahan masalah
matematika peserta didik maka diperlukan beberapa indikator. Lestari dan
Yudhanegara (2018) mengemukakan beberapa indikator di antaranya : 1)
Mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan, dan kecukupan
unsur yang diperlukan; 2) Merumuskan masalah matematis atau menyusun
model matematis; 3) Menerapkan strategi untuk menyelesaikan masalah; 4)
Menjelaskan atau menginterpretasikan hasil penyelesaian masalah.
Adapun indikator kemampuan pemecahan masalah menurut
Noviarni (2014) di antaranya : 1) Mengidentifikasi kecukupan data untuk
pemecahan masalah; 2) Membuat model matematika dari situasi atau
masalah sehari-hari dan menyelesaikannya; 3) Memilih dan menerapkan
14

strategi untuk menyelesaikan masalah matematika atau di luar matematika;


4) Menjelaskan atau menginterpretasi hasil sesuai permasalahan asal, serta
memeriksa kebenaran hasil atau jawaban; 5) Menerapkan matematika
secara bermakna.
Polya (1973) juga mengemukakan beberapa indikator pemecahan
masalah yakni : 1) Menentukan informasi apa yang diketahui; 2)
Menggunakan strategi yang dapat membantunya menyelesaikan masalah;
3) Melaksanakan cara penyelesaian masalah yang telah direncanakan
sampai menemukan hasil; 4) Memeriksa apakah langkah-langkah yang
digunakan benar.
Berdasarkan beberapa indikator yang telah dikemukakan oleh
beberapa ahli di atas, maka indikator pemecahan masalah yang akan
digunakan dalam penelitian ini yaitu indikator pemecahan masalah yang
dikemukakan oleh (Polya, 1973). Uraian indikator kemampuan pemecahan
masalah dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.1 Indikator Kemampuan Pemecahan Masalah


No. Langkah-langkah Indikator Keterangan
1. Memahami Menentukan Peserta didik dapat
masalah informasi apa yang menyebutkan
(Understanding the diketahui. informasi apa saja
Problem) yang diketahui dan
ditanya dalam
masalah yang telah
diberikan.
2. Merencanakan Menggunakan Peserta didik dapat
pemecahan strategi yang dapat menyatakan dan
(Devising a plan) membantunya menuliskan model
menyelesaikan atau rumus yang
masalah digunakan untuk
menyelesaikan
masalah.
3. Melakukan Melaksanakan cara Peserta didik dapat
rencana penyelesaian memecahkan
pemecahan masalah yang telah masalah sesuai
(Carrying out the direncanakan rencana dan
plane) sampai melakukan operasi
menemukan hasil hitung secara benar
dan tepat.
15

4. Memeriksa Memeriksa apakah Peserta didik dapat


kembali (Looking langkah-langkah menarik kesimpulan
back) yang digunakan dari jawaban yang
benar. sudah diperoleh.

2.2 MASALAH KONTEKSTUAL


Dalam bagian ini akan di paparkan pengertian kontekstual serta
kontekstual dan macam-macamnya.

2.2.1 Pengertian Kontekstual


Secara harfiah, kontekstual berasal dari kata “context” yang berarti
hubungan, konteks, suasana, dan keadaan konteks. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia, konteks adalah situasi yang ada hubungannya dengan
suatu kejadian.. Tujuan penggunaan konteks adalah untuk menopang
terlaksananya proses guided reinvention (pembentukan model, konsep,
aplikasi, dan mempraktikkan skill tertentu). Selain itu, penggunaan konteks
dapat memudahkan peserta didik untuk mengenali masalah sebelum
memecahkannya (Zulkardi & Ilma, 2006).
Menurut Munaka (2009) juga masalah kontekstual dalam
matematika adalah soal yang menampilkan permasalahan yang biasa
dihadapi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Masalah kontekstual
mengajarkan peserta didik mengonstruksikan masalah tertentu, melihat
sebuah masalah dalam kaca mata umum kemudian digunakan sebagai cara
konkret mempresentasikan situasi baru dan penyelesaian atas kasus tersebut
(Rahayu, 2012).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
sifat kontekstual dari suatu masalah matematika dapat berkaitan dengan
objek yang nyata atau berkaitan dengan objek dalam pikiran yang dapat
dibayangkan oleh peserta didik.

2.2.2 Kontekstual dan Macam-macamnya


Menurut De Lange (1987) (dalam Zulkardi dan Ratu Ilma 2006)
menyebutkan terdapat empat macam masalah konteks atau situasi, di
antaranya :
16

1. Personal Peserta Didik, yakni situasi yang berkaitan dengan kehidupan


sehari-hari peserta didik baik di rumah dengan keluarga, dengan teman
sepermainan, teman sekelas dan kesenangannya.
2. Sekolah/Akademik, yakni situasi yang berkaitan dengan kehidupan
akademik di sekolah, di ruang kelas, dan kegiatan-kegiatan yang terkait
dengan proses pembelajaran.
3. Masyarakat/Publik, yakni situasi yang terkait dengan kehidupan dan
aktivitas masyarakat sekitar di mana peserta didik tersebut tinggal.
4. Saintifik/Matematik, yakni situasi yang berkaitan dengan fenomena dan
substansi secara saintifik atau berkaitan dengan matematika itu sendiri.

2.3 SELF EFFICACY


Dalam bagian ini akan di paparkan pengertian self efficacy, faktor-
faktor yang mempengaruhi self efficacy, dan dimensi self efficacy.

2.3.1 Pengertian Self Efficacy


Kepercayaan diri atau yang biasa disebut self efficacy dipopulerkan
oleh seorang tokoh psikologi sosial yakni Albert Bandura. Menurut Bandura
(1997) Self efficacy merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuan
dirinya untuk menyelesaikan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk
mencapai hasil yang diinginkan. Self efficacy menekankan pada aspek
keyakinan diri dalam melakukan suatu tugas dan tindakan yang seharusnya
bisa dilakukan dari apa yang dimilikinya. Setiap individu pasti memiliki
kemampuannya sendiri, namun akan lebih baik jika kemampuan tersebut
disertai dengan keyakinan yang seimbang untuk mencapai hasil yang
optimal. Hal ini selaras dengan pendapat Susanti (2017) yang menyebutkan
bahwa self efficacy turut berkontribusi terhadap kemampuan seseorang
untuk menyelesaikan suatu permasalahan dengan baik.
Sementara self efficacy menurut Jatisunda (2017) merupakan
keyakinan diri seseorang terhadap keahlian yang terdapat pada dirinya dan
memiliki pengaruh terhadap keberhasilannya dalam proses pembelajaran.
Hasanah (2019) juga mengemukakan bahwa self efficacy pada dasarnya
adalah hasil dari proses kognitif, seperti keputusan, keyakinan, atau
penghargaan tentang sejauh mana peserta didik memperkirakan kemampuan
17

dirinya untuk menyelesaikan tugas atau tindakan tertentu untuk


menghasilkan hasil yang diharapkan.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa self efficacy merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuan
yang dimilikinya untuk melakukan dan menyelesaikan suatu tindakan untuk
mencapai suatu tujuan yang diinginkan, serta dapat mempengaruhi keadaan
dengan baik dan mengatasi kesulitan.

2.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Efficacy


Menurut Bandura (1997) terdapat empat sumber utama yang
mempengaruhi self efficacy seseorang, di antaranya :
1. Performance accomplishment, merupakan pengalaman seseorang dalam
mencapai keberhasilan dalam mengerjakan sesuatu. Apabila seseorang
memiliki pengalaman keberhasilan sebelumnya dalam menghadapi tugas-
tugas tertentu, mereka cenderung memiliki tingkat self efficacy yang tinggi.
Sebaliknya, jika seseorang dimasa lalu pernah mengalami kegagalan,
mereka cenderung memiliki tingkat self efficacy yang rendah.
2. Vicarious experience, merupakan pengalaman orang lain dalam mencapai
suatu keberhasilan dapat menjadikan self efficacy bagi dirinya. Jika
seseorang melihat orang lain berhasil dalam aktivitas yang sama dan
memiliki kemampuan yang sebanding, maka akan lebih mudah bagi mereka
untuk meningkatkan self efficacy pada dirinya. Sebaliknya, self efficacy
seseorang akan menurun jika orang tersebut dilihat gagal.
3. Verbal persuasion merupakan dorongan atau keyakinan yang diberikan
orang lain bahwa dirinya memiliki kemampuan yang baik. Persuasi dari
orang lain dapat meningkatkan atau menurunkan self efficacy. Persuasi
verbal yang mengatakan bahwa seseorang memiliki kemampuan untuk
melakukan sesuatu cenderung mendorong lebih besar usaha untuk
mencapainya.
4. Emotional arousal, merupakan perubahan emosional seseorang yang dapat
mempengaruhi self efficacy pada dirinya. Performa seseorang biasanya akan
berkurang jika dikuasai oleh emosi yang terlalu berlebihan. Seperti ketika
seseorang mengalami ketakutan yang hebat, kecemasan, atau tingkat stres
18

yang tinggi, akan mempengaruhi self efficacy seseorang dalam menghadapi


tugas.

2.3.3 Dimensi Self Efficacy


Tiap individu memiliki self efficacy yang berbeda, pada tiap aspek
atau dimensi pun berbeda. Bandura (1997) menyebutkan dimensi self
efficacy sebagai berikut :
1. Level, merupakan dimensi yang berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas
yang dirasakan oleh seseorang serta sikap atau perilaku yang mereka
tunjukkan saat menghadapi tugas tersebut. Batas tingkat kemampuan setiap
individu berbeda-beda. Hal ini dapat dirasakan oleh setiap seseorang
terhadap tugas yang dihadapinya baik itu mudah, sedang ataupun sulit.
Batas kemampuan yang dirasakannya diberikan untuk mengukur level tugas
yang akan menunjukkan seberapa sulit untuk mencapai hasil yang
diinginkan. Sehingga pada dasarnya seseorang akan mencoba hal-hal yang
dirasa mampu untuk dilakukan dan akan menghindari tugas yang dianggap
berada di luar batas kemampuannya.
2. Strength, merupakan dimensi yang berkaitan dengan kekuatan atau
kelemahan keyakinan seseorang terhadap kemampuan yang dimilikinya.
Seseorang yang memiliki self efficacy yang lemah, ia akan mudah
terguncang saat menghadapi rintangan kecil dalam menyelesaikan tugas
yang dihadapinya. Sedangkan seseorang yang memiliki self efficacy yang
tinggi, ia akan tetap bertahan meskipun banyak kesulitan dalam
menyelesaikan tugas yang dihadapinya.
3. Generality, merupakan dimensi mengenai ruang lingkup tingkat
keberhasilan seseorang dalam mengatasi atau menyelesaikan tugas-tugas
dalam kondisi tertentu. Dalam menyelesaikannya setiap orang memiliki
keyakinan yang terbatas pada suatu aktivitas atau situasi tertentu, sehingga
diperlukan keyakinan diri dalam diri sendiri. Keyakinan diri merupakah hal
yang paling mendasar dan penting untuk dibangun, terutama di sekitar
tempat lingkungan kehidupan. Sehingga pada dimensi ini diharapkan
seseorang dapat menganggap pengalamannya bukan sebagai hambatan,
19

tetapi sebagai sarana untuk meningkatkan keyakinan mereka dalam


menghadapi permasalahan yang ada.
Pada penelitian Nursilawati (2010), ia mengukur self efficacy
menggunakan indikator yang merujuk dengan tiga dimensi di atas, seperti
yang disajikan dalam Tabel 2.2 berikut :

Tabel 2.2 Indikator Self Efficacy


Dimensi Indikator
Level 1. Keyakinan terhadap kemampuan
dalam mengambil tindakan yang
diperlukan untuk mencapai suatu hasil.
2. Keyakinan terhadap kemampuan
dalam menyelesaikan tugas yang
mudah sampai yang sulit.
3. Keyakinan terhadap kemampuan
dalam menghadapi tugas di luar
kemampuan.
Strength 1. Bertahan dan ulet dalam mengerjakan
soal matematika.
2. Kegigihan dalam menghadapi tugas
matematika.
3. Pengaruh pengalaman pribadi yang
tidak mendukung.
Generality 1. Konsistensi pada tugas aktivitas.
2. Kesiapan menghadapi situasi.
3. Mengarahkan perilaku.

2.4 PENELITIAN RELEVAN


Beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang
akan dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Tati Resmiati dan Hamdan (2019) yang
membahas tentang kemampuan pemecahan masalah matematis dan self
efficacy siswa sekolah menengah pertama. Pada penelitian ini indikator
kemampuan pemecahan masalah yang digunakan yakni indikator menurut
Sumarno dan kisi-kisi angket self efficacy yang digunakan yakni menurut
Putra et al. Sedangkan materi yang digunakan pada penelitian ini yakni materi
bangun datar. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan
pemecahan masalah di tempat sasaran masih rendah. Dari 29 peserta didik
hanya 3 orang yang mendapat skor sempurna dan memenuhi semua indikator
20

yang ada serta dapat menyelesaikan soal dengan baik. Dari hasil pada
penelitian ini terlihat masih banyak peserta didik yang tidak dapat
menyelesaikan soal-soal pemecahan masalah, peserta didik tidak memahami
permasalahan yang diberikan.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Farida Tunnajach dan Gunawan (2021)
yang membahas mengenai kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
dalam menyelesaikan soal berbasis kontekstual pada materi trigonometri
ditinjau dari perbedaan gender. Pada penelitian ini indikator pemecahan
masalah yang digunakan yakni indikator menurut Polya dan materi yang
digunakan adalah materi trigonometri. Hasil penelitian tersebut menunjukkan
bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis secara keseluruhan
peserta didik perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan peserta didik laki-
laki dengan perbedaan total rata-rata nilai adalah 0,46 atau 3,06%.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Anida Nurul Fadilah dan Haerudin (2022)
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas IX pada materi
SPLDV berdasarkan tahapan Polya. Hasil pada penelitian ini menunjukkan
bahwa dari jawaban peserta didik dengan kategori tinggi, sedang, dan rendah
sebagian besar peserta didik belum memenuhi tahap pemecahan masalah
yang dikemukakan oleh Polya pada tahap pertama yakni memahami
permasalahan karena banyak peserta didik yang tidak menuliskan informasi
tentang hal-hal yang diketahui dan ditanyakan pada lembar jawaban dan tahap
4 di mana peserta didik tidak memeriksa kembali hasil perhitungannya.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Apri Kurniawan, Diki Setiawan, dan Wahyu
Hidayat (2019) yang membahas tentang kemampuan pemecahan masalah
siswa SMP berbantuan soal kontekstual pada materi bangun ruang sisi datar.
Hasil pada penelitian ini adalah peserta didik sudah mampu memahami
permasalahan yang mana peserta didik menjawab permasalahan dengan
menuliskan informasi, data yang diketahui dengan menggunakan kalimat
sendiri. Peserta didik juga sudah mampu mencari solusi permasalahan, dan
berdasarkan hasil penelitian pada indikator ini merupakan indikator yang
tertinggi persentasenya. Jadi dapat disimpulkan bahwa rata-rata kemampuan
pemecahan masalah tergolong sedang.
21

5. Penelitian yang dilakukan oleh Riska Adetia dan Alpha Galih Adirakasiwi
(2022) yang membahas tentang kemampuan pemecahan masalah matematis
ditinjau dari self efficacy siswa. Hasil pada penelitian ini adalah siswa dengan
tingkat self efficacy sangat rendah memiliki kemampuan pemecahan masalah
matematis yang kurang baik karena siswa belum mampu memenuhi seluruh
indikator kemampuan pemecahan masalah. Siswa dengan tingkat self efficacy
rendah memiliki kemampuan pemecahan masalah yang cukup baik di mana
siswa telah mampu menyusun rencana dan melaksanakan rencana meskipun
masih terdapat kekeliruan. Siswa dengan tingkat self efficacy sedang memiliki
kemampuan pemecahan masalah yang baik karena siswa mampu memahami
soal, menyusun rencana dan melaksanakan rencana. Siswa dengan tingkat self
efficacy tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah baik karena siswa
mampu memahami soal, menyusun rencana, melaksanakan rencana dan
menyimpulkan dengan tepat. Siswa dengan tingkat self efficacy yang sangat
tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah sangat baik karena siswa
mampu memenuhi seluruh indikator kemampuan pemecahan masalah.

Anda mungkin juga menyukai