BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Undang-undang No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah telah mengamanatkan bahwa
terdapat pembagian urusan di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Urusan tersebut merupakan
urusan pemerintah konkuren yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Salah satu urusan wajib
non-pelayanan dasar yang harus dilaksanakan oleh pemerintah daerah adalah urusan statistik.
Sementara itu, Undang-undang No. 16 Tahun 1997 tentang Statistik, telah membedakan
penyelenggaraan statistik menjadi tiga, yaitu statistik dasar, statistik sektoral, dan statistik khusus.
Statistik dasar diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), statistik sektoral oleh instansi
pemerintah selain BPS, sedangkan statistik khusus diselenggarakan oleh masyarakat baik perorangan
maupun lembaga/perusahaan. Dengan demikian, penyelenggaraan urusan statistik pada pemerintah
daerah merupakan penyelenggaraan urusan statistik sektoral.
Berdasarkan Peraturan Presiden no. 39 Tahun 2019 tentang satu Data Indonesia, BPS tidak hanya
menjadi penyelenggara statistik dasar, tetapi juga sebagai pembina statistik. Oleh sebab itu, BPS perlu
menyiapkan sumber daya yang memadai untuk mendukung
penyelenggaraan statistik sektoral. Salah satu yang dilakukan adalah melakukan peningkatan
kemampuan sumber daya manusia pada penyelenggaraan statistik sektoral.
Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan kegiatan statistik sektoral oleh perangkat daerah, diperlukan
pengetahuan bisnis proses penyelenggaraan statistik. Dalam hal ini, perlu disusun bahan- bahan ajar
yang mudah dipahami dan dilaksanakan oleh penyelenggara urusan statistik di provinsi dan
kabupaten/kota.
Modul GSBPM (Umum, Specify Needs, dan Design & Build) ini sebagai salah satu bagian dari modul-
modul lainnya mengenai proses bisnis penyelenggaraan kegiatan statistik yang dirancang untuk
peningkatan kemampuan penyelenggara statistik sektoral, khusunya dalam
perencanaan/mengidentifikasi kebutuhan dalam penyelenggaraan statistik. Modul ini mengantarkan
para peserta untuk memahami cara-cara dalam tahapan perencanaan/mengidentifikasi kebutuhan
penyelenggaraan statistik. Di samping itu, modul ini digunakan sebagai pedoman bagi fasilitator dalam
mendesain praktikum atau penerapan dalam perencanaan kegiatan statistik
Modul GSBPM (Umum, Specify Needs, dan Design & Build) ini sebagai salah satu bagian dari modul-
modul lainnya mengenai proses bisnis penyelenggaraan kegiatan statistik yang dirancang untuk
peningkatan kemampuan penyelenggara statistik sektoral, khusunya dalam
perencanaan/mengidentifikasi kebutuhan dalam penyelenggaraan statistik.
1.2 Deskripsi Singkat
Modul ini membahas mengenai beberapa peraturan perundang-undangan mengenai penyelenggaraan
statistik sektoral. Selanjutnya membahas mengenai Generic Statistical Business Process Model (GSBPM)
yang biasa disebut proses bisnis baku penyelenggaraan kegiatan statistik secara umum. Modul ini
merupakan best practices dari kegiatan yang relatif mudah diikuti dan
dapat dilaksanakan oleh pemerintah daerah.
1.3 Hasil Belajar (Tujuan Pembelajaran)
Secara umum tujuan dari pembelajaran peserta terhadap modul ini adalah :
1. Peserta dapat memahami konsep-konsep yang berkaitan dengan tata laksana statistik sektoral
meliputi dasar hukum penyelenggaraan kegiatan statistik, jenis statistik, metadata kegiatan statistik dan
SiRusa serta Satu Data Indonesia.
2. Peserta memahami tahapan-tahapan dalam proses bisnis penyelenggaraan kegiatan statistik
yang biasa disebut sebagai Generic Statistical Business Process Model (GSBPM), khususnya memahami
tahapan dalam specify needs dan Design &Build dalam penyelenggaraan kegiatan statistik serta dapat
menerapkannya dalam penyelenggaraan kegiatan statistik.
1.4 Indikator Hasil Belajar
Setelah mempelajari modul ini secara tuntas, peserta diharapkan dapat:
1. Mampu menjelaskan konsep-konsep yang berkaitan dengan tata laksana statistik sektoral meliputi
dasar hukum penyelenggaraan kegiatan statistik, jenis statistik, metadata kegiatan statistik dan SiRusa
serta Satu Data Indonesia.
2. Mampu menjelaskan tahapan Specify Needs dan Design & Build
kegiatan statistik dalam Generic Statistical Business Process
Model (GSBPM) dan
3. Mampu merancang dan menyusun specify needs dan Design & Build dalam penyelenggaraan kegiatan
statistik.
1.6 Manfaat
Berbekal hasil belajar pada Modul GSBPM (Umum, Specify Needs dan Design & Build) ini, peserta
diharapkan mampu menerapkan dan mereplikasinya pada unit kerja masing-masing. Pada akhirnya,
diharapkan juga dapat meningkatkan kinerja instansinya.
BAB II
KONSEP-KONSEP KEGIATAN STATISTIK
2.1. Dasar Hukum
Dasar hukum penyelenggaraan kegiatan statistik adalah:
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1997
tentang Statistik, khususnya pada:
a. Pasal 6 ayat 1, mengatur pemanfaatan statistik sektoral
untuk umum
b. Pasal 12, mengatur penyelenggaraan statistik sektoral
c. Pasal 17, mengatur koordinasi dan kerjasama antara BPS
dengan instansi pemerintah
d. Pasal 30, mengatur kelembagaan yang menyangkut
pelaksanaan statistik sektoral
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014
tentang Pemerintahan Daerah
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun
1999 tentang Penyelenggaraan Statistik
a. Pasal 26, mengatur kewajiban yang harus dilakukan oleh
penyelenggara statistik sektoral
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun
2016 tentang Perangkat Daerah
5. Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2019 tentang
Satu Data Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 12 Juni
2019, dan berlaku sejak diundangkan pada tanggal 17 Juni
2.2.1. Statistik Dasar
Statistik dasar adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk keperluan yang bersifat luas, baik
bagi pemerintah maupun masyarakat, yang memiliki ciri-ciri lintas sektoral, berskala nasional, makro,
dan yang penyelenggaraannya menjadi tanggung jawab BPS.
2.2.2. Statistik Sektoral
Statistik sektoral adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan instansi
tertentu dalam rangka penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan yang
merupakan tugas pokok instansi yang bersangkutan.
2.2.3. Statistik Khusus
Statistik khusus adalah statistik yang pemanfaatannya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
spesifik dunia usaha, pendidikan, sosial budaya, dan kepentingan lain dalam kehidupan
masyarakat, yang penyelenggaraannya dilakukan oleh lembaga, organisasi, perorangan, dan
atau unsur masyarakat lainnya.
2.3. Kegiatan Statistik
Kegiatan statistik adalah tindakan yang meliputi upaya penyediaan dan penyebarluasan data, upaya
pengembangan ilmu statistik, dan upaya yang mengarah pada berkembangnya Sistem Statistik Nasional
(UU No.16 Tahun 1997 tentang Statistik).
a. Sensus
Sensus adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan semua unit populasi untuk
memperoleh karakteristik suatu populasi pada saat tertentu.
b. Survei
Survei adalah cara pengumpulan data yang dilakukan melalui pencacahan sampel untuk memperkirakan
karakteristik suatu populasi pada saat tertentu.
c. Kompilasi Produk Administrasi (Kompromin)
Kompilasi produk administrasi adalah cara pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan analisis data yang
didasarkan pada catatan administrasi yang ada pada pemerintah dan atau masyarakat.
d. Cara Lain sesuai Perkembangan Teknologi
Sesuai dengan perkembangan teknologi, saat ini dengan adanya internet dan media sosial dapat
dimanfaatkan untuk pengumpulan data. Salah satu contohnya adalah data registrasi akun media
sosial, web crawling, dan big data mining.
2.4. Metadata
Metadata merupakan informasi yang disusun sedemikian rupa untuk menggambarkan,
menjelaskan, menempatkan, memudahkan pencarian, menggunakan, atau mengelola sumber daya
informasi (NISO, 2004). Metadata dapat disebut sebagai data tentang data atau informasi tentang
informasi. Informasi yang terkandung dalam metadata menjelaskan aspek-aspek penting dari sebuah
sumber data.
BAB III
Generic Statistical Business Process Model
(GSBPM)
3.1. Deskripsi Singkat
Dalam menghasilkan statistik, penyelenggara kegiatan statistik harus menerapkan proses bisnis yang
sesuai dengan kerangka baku dan terminologi proses statistik yang harmonis. Hal ini bertujuan agar
statistik-statistik yang dihasilkan dapat dibandingkan baik dari segi metodologi dan komponennya
lainnya, dapat diintegrasikan antara data dan standar metadata pada proses dokumentasi, adanya
harmonisasi infrastruktur penghitungan statistik, serta tersedianya suatu kerangka yang dapat
digunakan dalam proses quality assessment dan perbaikan. Kerangka baku yang diterapkan pada proses
bisnis penyelenggaraan kegiatan statistik mengacu pada Generic Statistical Bussiness Process
Model (GSBPM).
Manfaat mengaplikasikan GSBPM dalam penyelenggaraan kegiatan statistik adalah:
1. Mengelola kegiatan Statistik menjadi lebih mudah
2. Mengefisienkan biaya dan sumber daya lainnya
3. Menghasilkan data berkualitas sesuai dengan yang ditetapkan dalam NSPK
4. Sebagai Framework untuk penyelenggaraan kegiatan statistik
5. Mendokumentasikan proses bisnis statistik
. BAB IV
TAHAPAN PERENCANAAN/ SPECIFY NEED
4.1. Identifikasi Kebutuhan
Identifikasi berasal dari kata Identify yang artinya meneliti, menelaah. Identifikasi adalah kegiatan yang
mencari, menemukan, mengumpulkan, meneliti, mendaftarkan, mencatat data dan informasi dari
“kebutuhan” lapangan. Secara intensitas kebutuhan dapat dikategorikan (dua) macam yakni kebutuhan
terasa yang sifatnya mendesak dan kebutuhan terduga yang sifatnya tidak mendesak.
4.1.2. Konsultasi dan Konfirmasi
Setelah dilakukan identifikasi kebutuhan, tahapan selanjutnya adalah melakukan konsultasi dengan para
pemangku kepentingan dan melakukan konfirmasi secara rinci atas kebutuhan data statistik. Manfaat
suatu statistik dalam memenuhi kebutuhan pengguna harus dipahami secara detail agar
penyelenggara kegiatan statistik dapat mengetahui apa yang diharapkan, kapan statistik
didiseminasikan, bagaimana penghitungannya, dan mengapa statistik itu diperlukan.
4.1.3. Menentukan Tujuan
Menentukan tujuan dari sebuah kegiatan statistik merupakan langkah berikutnya yang sangat penting.
Isi dari tujuan dapat berisi output statistik yang diperlukan. Output statistik ini dirumuskan untuk
menjawab kebutuhan pengguna yang sudah teridentifikasi dalam tahapan sebelumnya. Setelah tujuan
ditentukan, perlu dilakukan kesesuaian antara output statistik yang diusulkan dalam tujuan dengan
langkah-langkah yang akan dilakukan.
4.1.4. Mengidentifikasi Konsep dan Definisi
Pada tahapan ini dilakukan identifikasi konsep dan definisi dari indikator yang akan diukur berdasarkan
tujuan yang ditetapkan. Konsep dan definisi dapat berdasarkan referensi berbagai sumber. Konsep dan
definisi yang sudah diidentifikasi bisa saja tidak sesuai dengan standar statistik yang ada. Namun,
untuk memperoleh keterbandingan hasil, perlu menggunakan konsep dan definisi yang sesuai
dengan standar statistik.
4.1.5. Memeriksa Ketersediaan Data.
Setelah dilakukan identifikasi terhadap konsep dan definisi, tahapan selanjutnya adalah pemeriksaan
terhadap ketersediaan data dan statistik. Hal ini dilakukan untuk memeriksa apakah data dan statistik yang
telah tersedia saat ini sudah bisa memenuhi kebutuhan yang telah teridentifikasi.
Kegiatan statistik dasar, sektoral, dan khusus yang sudah pernah dilakukan oleh penyelenggara kegiatan
statistik dapat diakses melalui website [Link]. Website tersebut merupakan sarana untuk
membantu penyelenggara kegiatan statistik dalam memperoleh informasi mengenai kegiatan statistik
dasar, sektoral, dan khusus berupa metadata kegiatan. Dalam metadata kegiatan tersebut, tercantum
data-data yang telah tersedia dari berbagai kegiatan statistik.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan ketersediaan data adalah
kelebihan dan kekurangan data yang tersedia, termasuk keterbatasan dalam penggunaannya,
Jika setelah pemeriksaan ditemukan bahwa data yang tersedia sudah memenuhi kebutuhan, maka kegiatan
statistik yang akan dilakukan cenderung bersifat kompilasi data. Sebaliknya, jika data yang tersedia masih
belum bisa memenuhi kebutuhan, maka pelaksanaan kegiatan dapat berupa sensus atau survei. Data yang
tersedia bisa digunakan sebagai data pendukung terhadap hasil sensus atau survei yang dihasilkan.
4.1.6. Membuat Proposal Kegiatan
Sub tahapan ini menyusun proposal kegiatan atau Term of References (Kerangka Acuan Kerja) yang berisi
penjelasan/keterangan mengenai apa, mengapa, siapa, kapan, dimana, bagaimana, dan berapa perkiraan
biaya dari suatu kegiatan. Proposal kegiatan berisi uraian tentang latar belakang, tujuan, ruang lingkup,
masukan yang dibutuhkan, dan hasil yang diharapkan dari suatu kegiatan
4.2. Contoh Tahapan Perencanaan/Specify Need
Salah satu kegiatan statistik yang dapat dilakukan oleh instansi pemerintah selaku lembaga publik adalah
penilaian kepuasan pengguna layanan terhadap pelayanan instansi pemerintah bersangkutan. Penilaian
kepuasan tersebut dapat dikemas melalui kegiatan Survei Kepuasan Masyarakat (SKM).
BAB V. PERANCANGAN
Tahapan perancangan (Design) menggambarkan proses perancangan yang dibutuhkan meliputi
penentuan output statistik yang akan dihasilkan, konsep, metodologi yang digunakan, rancangan
instumen penelitian, dan proses pelaksanaan
5.1. Merancang Output
Pada Sub-tahapan ini disusun output statistik yang akan dihasilkan (rancangan tabulasi dan rancangan
analisis yang akan digunakan), termasuk juga penyusunan alur kerja dan persiapan sistem kerja, serta
perangkat yang akan digunakan pada tahapan diseminasi. Output yang akan dihasilkan dirancang
mengikuti standar baku yang ada.
Untuk memudahkan membaca dan menganalisis data hasil survei maka dilakukan tabulasi. Tabulasi
adalah penyajian data dalam bentuk tabel dimana data-data yang dimasukkan hanyalah data-data
yang dianggap perlu dan relevan dalam analisis. Dengan menyajikan data dalam bentuk tabel kita akan
lebih mudah membaca data. Dari tabel tersebut juga bisa dibuat grafiknya sehingga data tersaji secara
visual dan lebih komperehensif sehingga sudut pandang menjadi lebih luas. Perlu juga ditentukan
apakah akan dibuatkan grafik berupa peta tematik untuk melihat persebaran data.
5.2. Merancang Deskripsi Variabel
Sub-tahapan ini mendefinisikan variabel yang akan dikumpulkan dengan instrumen penelitian
(kuesioner). Menurut KErlinger (2006), Variabel merupakan sesuatu yang menjadi objek pengamatan
penelitian , sering juga disebut sebagai factor yang berperan dalam penelitian atau gejala yang akan
diteliti.
Variabel dan Kuesioner
Variabel diterjemahkan kedalam pertanyaan dalam kuesioner. Kuesioner adalah alat bantu untuk
pengumpulan data berupa pertanyaan-pertanyaan baik pertanyaan terbuka maupun tertutup dengan
cara wawancara, surat, email, dan angket.
5.4. Merancang Kerangka Sampel dan Pengambilan Sampel
Mendefinisikan Unit Observasi dan Populasi
Populasi adalah sekumpulan unsur atau elemen atau unit analisis yang menjadi objek penelitian, seperti
kumpulan semua kota, semua rumah tangga, semua perusahaan, dan lain- lain. Sedangkan populasi
target merupakan populasi yang ingin disimpulkan dan ditentukan sesuai dengan masalah penelitian.
Populasi survei adalah populasi yang terliput dalam penelitian yang dilakukan. Populasi terdiridari
unsur sampling yang diambil sebagai sampel. Daftar semua unsur sampling dalam populasi disebut
kerangka sampling.
Menentukan Populasi dan Kerangka Sampel
Metode sampling dalam penerapannya digunakan untuk dapat menyajikan data yang mewakili populasi
ditinjau dari segi efisiensi dan hematnya biaya. Oleh karena itu penentuan populasi dan kerangkasampel
merupakan bagian penting dalam fase desain suatu proses bisnis statistik. Definisi sederhana dari
kerangka sampel adalah kumpulan unit dari mana sampel dipilih.
Merancang Jumlah Sampel
Penentuan jumlah sampel bertujuan untuk memenuhi kecukupan sampel yang representatif untuk
melakukan estimasi pada tingkat wilayah tertentu. Lebih lanjut, jumlah sampel ini dapat digunakan
untukpenentuan volume kegiatan survei seperti jumlah petugas, jumlah dokumen, anggaran yang
diperlukan, dll.
Ukuran sampel bergantung pada derajat keseragaman, presisi yang dikehendaki, rencana analisis data
dan sumber daya yang tersedia (Singarimbun dan Effendi, 1982). Semakin besar sampel, semakin
tinggi tingkat presisi yang didapatkan. Bila unsur populasi benar-benar seragam, satu sampel saja
cukup untuk mewakili populasi. Bila kita ingin melakukan analisis tabulasi
5.5. Mendesain Sampling
Sampling adalah teknik memilih sebagian unit populasi yang kemudian digunakan
untuk melakukangeneralisasi populasi tempat ampel tersebut diambil. Harus dipahami dan
ditekankan bahwa tahapan desain sampling tidak dapat dipisahkan dari proses
perancangan dan pelaksanaan survei secara keseluruhan. Secara umum, teori sampling
membicarakan bagaimana estimasi dari suatu survei dan sampling error-nya dihubungkan
dengan ukuran atau jumlah sampel yang dipilih, serta skemanya. Dalampraktiknya sampling
design meliputi penentuan ukuran sampel, skemanya, serta mempertimbangkan anggaran
yang disediakan untuk pelaksanaan survei. Sampling design terdiri dari dua jenis, yaitu
probability sampling dan non-probability sampling.
Probability Sampling
Probability Sampling adalah teknik sampling yang menerapkan setiap unit dalam populasi memiliki
peluang (lebih dari nol) untuk terpilih dalam sampel, dan peluang ini dapat ditentukan secara akurat.
Ketika setiap unit dalam populasi memiliki peluang untuk terpilih yang sama, maka teknik ini
dinamakan equal probability of selection (EPS) design.
Non-Probability Sampling
Non-probability sampling adalah teknik sampling yang menganut adanya elemen populasi yang tidak
memiliki peluang terpilih, atau peluang terpilihnya tidak dapat ditentukan dengan akurat. Teknik
ini melibatkan pemilihan elemen populasi berdasarkan asumsi tertentu. Karena pemilihan sampel
yang tidak random, menyebabkan peluang pemilihan sampel pada rancangan non-probabilty
sampling tidak dapat dihitung sehingga tidak memungkinkan dilakukan estimasi dan estimasi sampling
error. Yang termasukdalam
BAB VI. IMPLEMENTASI RANCANGAN
Tahapan ini merupakan implementasi dari tahapan sebelumnya (tahap rancangan) yang akan berisi
penjelasan tentang penyusunan instrumen penelitian (kuesioner), Uji coba Instrumen penelitian,
penyusunan buku pedoman, penentuan teknik metode pengolahan, penyusunan outline analisis,
penentuan komponen diseminasi, penyusunan alur kerja, dan pelaksanaan pilot project (Uji coba).
6.1. Menyusun Instrumen Pengumpulan Data
6.1.1. Menyusun Instrumen
Instrumen merupakan alat bantu bagi peneliti di dalam menggunakan metode pengumpulan data.
Dengan demikian terrdapat kaitan antara metode dengan instrumen pengumpulan data. Pemilihan satu
jenis metode pengumpulan data kadang-kadang dapat memerlukan lebih dari satu jenis instrumen.
Sebaliknya satu jenis instrumen dapat
digunakan untuk berbagai macam metode (Arikunto, 2016).
Pada umumnya perekaman data dengan komputer dilakukan melalui 2 (dua) tahapan, yaitu tahap pra
komputer dan tahap komputerisasi. Tahapan pra komputer yaitu kegiatan yang harus dilakukan sebelum
dilakukan input data ke dalam aplikasi pengolahan. Tahapan ini terdiri dari:
a. Penerimaan dokumen (receiving)
Penerimaan dokumen merupakan proses menerima dan memeriksa kelengkapan dokumen hasil
pelaksanaan lapangan. Hasil pemeriksaan dicatat dalam suatu daftar penrimaan dokumen. Apabila
petugas menemukan perbedaan jumlah dokumen yang diterima dengan jumlah yang seharusnya,
petugasharus segera melapor kepada pengawas agar memutuskan jumlah mana yang benar. Tahap ini
sangat penting dilakukan khususnya jika data yang unit yang diteliti dalam jumlah yang cukup besar.
Pada tahapan ini akan dilakukan pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen hasil penelitian. Catatan
hasil penerimaan dokumen selanjutnya diberikan kepada petugas batching.
b. Pengelompokkan dokumen (batching)
Pengelompokkan dokumen merupakan proses mengelompokkan dokumen menjadi batch-batch.
Dokumen biasanya dikelompokkan berdasarkan wilayah. Setiap batch diberi nomor batch yang ditulis
pada label batch yang telah disiapkan. Pada label batch dituliskan pula jumlah dokumen yang ada dalam
batch. Dokumen yang telah dikelompokkan kemudian diserahkan kepada petugas editing.
ii. Penyandian (Koding)
Penyandian adalah pemberian kode atau merubah isian kuesioner ke dalam bentuk angka dan
karakter. Karakter bisa terdiri dari alphabetik (A, B,C,...,Z) dan campuran antara alpabet dan angka
(numerik).
6.3.1. Menyusun Outline Analisis
Outline adalah kerangka karangan dalam suatu karya tulis. Outline bisa memiliki pengertian
sebagaisuatu rencana penulisan yang memuat garis besar dari suatu karangan yang akan ditulis. Garis
besar ini bisa berupa rangkaian ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.
Dalam menyusun outline analisis perlu diperhatikan
agar apa yang akan dianalisis dapat menjawab tujuan dan hipotesis penelitian. Selain itu Metode
penelitian secara garis besar dibagi dua bagian yaitu
a. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah teknik analisis yang digunakan dalam menganalisis data dengan membuat
gambaran data-data yang terkumpul tanpa membuat generalisasi dari hasil penelitian tersebut.
Beberapa yang termasuk di dalam teknik analisis data secara deskriptif misalnya grafik, tabel,
persentase, frekuensi, diagram, dll
b. Analisis Inferensial
Analisis inferensial adalah teknik analisis data dengan menggunakan statistik dengan cara membuat
kesimpulan yang berlaku secara umum. Analisis inferensial
menggunakan rumus statistik tertentu. Hasil perhitungan rumus tersebut akan menjadi
BAB VII. REKOMENDASI KEGIATAN
STATISTIK
7.1. Kegiatan Statistik
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik mengamanatkan bahwa
Badan Pusat Statistik (BPS) bekerja sama dengan instansi pemerintah dan unsur masyarakat
melakukan pembinaan terhadap penyelenggara kegiatan statistik dan masyarakat, agar lebih
meningkatkan kontribusi dan apresiasi masyarakat terhadap statistik, mengembangkan Sistem Statistik
Nasional (SSN), dan mendukung pembangunan nasional. Koordinasi dan kerjasama penyelenggaraan
statistik dilakukan oleh BPS dengan instansi pemerintah dan masyarakat baik di tingkat pusat maupun di
daerah. Dalam halini, BPS sebagai pusat rujukan statistik harus bertindak selaku inisiator dalam
koordinasi dan kerjasama serta pembinaan statistik.
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 51 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Statistik menjelaskan
bahwa penyelenggara survei statistik sektoral wajib:(1) memberitahukan rencana penyelenggaraan
survei kepada BPS; (2) mengikuti rekomendasi yang diberikan BPS; dan (3) menyerahkan hasil
penyelenggaraan survei yang dilakukannya kepada BPS. Kewajiban-kewajiban tersebut dimaksudkan
untuk menghindari terjadinya duplikasi dalam penyelenggaraan kegiatan statistik, mendorong
diperolehnya hasil yang secarateknis dapat dipertanggungjawabkan, serta mengurangi keraguan
konsumen data atas beberapa sajian jenis data yang sama tetapi angkanya berbeda
7.2. Tata Cara Rekomendasi Survei Statistik Sektoral
Peran aktif instansi pemerintah dalam melaporkan survei statistik sektoral ke BPS
sangat membantudalam mewujudkan Sistem Statistik Nasional (SSN) yang andal, efektif, dan efisien.
Instansi pemerintah yang wajib mengikuti rekomendasi penyelenggaraan survei.
Sejak tahun 2019, mekanisme pemberitahuan rancangan survei statistik sektoral dapat dilakukan
melalui 2 (dua) cara yaitu secara manual maupun online:
1) Manual
Yaitu pemberitahuan rancangan survei statistik sektoral yang dilakukan secara manual baik melalui
surat, email, ataupun datang langsung ke layanan rekomendasi. Dengan cara ini, pengelola rekomendasi
akan melakukan perekamanisian Formulir Pemberitahuan Rancangan Survei Statistik Sektoral (FS3)
keaplikasi Romantik Online.
2) Online
Yaitu pemberitahuan rancangan survei statistik sektoral yang dilakukan secara online
melalui Romantik Online di [Link]