Risiko Bunuh Diri: Definisi dan Kategori
Risiko Bunuh Diri: Definisi dan Kategori
KEMENKES TANJUNGKARANG
PROGRAMSTUDI STR KEPERAWATANTANJUNGKARANG
BandarLampung
[Link].1HajimenaBandarLampung
Bunuh diri adalah tindakan sengaja membunuh diri [Link] diri adalah istilh lenbih luas
mengacu pada disengaja keracunan diri sendiri secra sengaja atau cedera, yang mungkin tidak
memiliki niat. Fatal atau hasil (WHO,2014)
Bunuh diri didefinisikan oleh herdman (2015) sebagai tindakan yang secara sadar dilakukan oleh
klien untuk mengakhiri [Link] gawat pada bunuh diri adalah saat ide bunuh diri timbul
secara berulang tanpa rencana yang spesifik atau percobaan bunuh diri atau rencana yang spesifik
untuk bunuh diri. (Yusuf,Fitryasari, & Endang, 2015, hal. 140).
5. Rentang Respon
• Peningkatan diri
Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar terhadap situasional yang
membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya
yang berbeda mengenai loyalitas terhadap pimpinan di tempat kerjanya.
• Pengambilan resiko yang meningkatkan pertumbuhan
Seseorang memiliki kecenderungan atau berisiko mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan
diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa
patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal sudah
melakukan pekerjaan secara optimal.
• Destruktif diri tidak langsung
Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang
membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya karena pandangan pimpinan terhadap
kerjanya yang tidak loyal, maka seseorang karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja
seenaknya dan tidak optimal.
• Pencederaan diri
Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencedaraan diri akibatnya hilangnya harapan
terhadap situasi yang ada.
• Bunuh diri
Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.
II. Proses Terjadinya Masalah
1. Faktor Predisposisi
Tidak ada teori tunggal yang mengungkapkan tentang bunuh diri danmemberi petunjuk mengenai cara
melakukan intervensi yang [Link] perilaku meyakini bahwa pencederaan diri merupakan hal
yang di pelajari dan diterima pada saat anak-anak dan masa remaja. Teoripsikologimemfokuskan pada
masalah tahap awal perkembangan ego,trauma interpersonal, dan kecemasan berkepanjangan yang
mungkin dapatmemicu seseorang untuk mencederai diri. Teori interpersonal mengungkapkan bahwa
mencederai diri sebagai kegagalan dari interaksidalam hidup, masa anak-anak mendapat perlakuan
kasar serta tidakmendapatkan kepuasan (Stuart & Sundeen, 1995).
5 faktor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilakudestruktif-diri sepanjang siklus
kehidupan adalah sebagai berikut :
1) Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan carabunuh diri mempunyai
riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yangdapat membuat individu berisiko untuk
melakukan tindakan bunuh diriadalah gangguan afektif, penyalahgunaan zat dan skizofrenia.
2) Sifat Kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya risikobunuh diri adalah antipati,
impulsif, dan depresi.
3) Lingkungan psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalahpengalaman kehilangan,
kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejdiannegatif dalam hidup, penyakit kronis, perpisahan, atau
bahkan [Link] dukungan sosial sangat penting dalam menciptakan intervensiyang
terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab masalah,respon seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut dan lain-lain.
4) Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan factor penting yang dapat
menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuhdiri.
5) Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan risiko bunuh diri terjadipeningkatan zat-zat kimia
yang terdapat di dalam otak seperti serotonin,adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut
dapat dilihat melaluirekaman gelombang otak Elektro Encephalo Graph (EEG).
2. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yangdialami oleh individu.
Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yangmemalukan. Faktor lain yang dapat menjadi
pencetus adalah melihat ataumembaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh
diriataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, haltersebut menjadi sangat
rentan (Fitria, 2009).
4. Mekanisme Koping
Seorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme kopingyang berhubungan dengan
perilaku bunuh diri, termasuk denial,rasionalization, regression, dan magical thinking. Mekanisme
pertahanan diri yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping [Link]
bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme [Link] bunuh diri mungkin menunjukkan
upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yangterjadi
merupakan kegagalan koping dan mekanisme adaptif pada diri seseorang.
III.
III . Pohon Masalah dan Data yang Perlu Dikaji
A. Pohon Masalah
Bunuh Diri
Isolasi Sosial
DO:
DO:
1. Menarik diri
2. Tidak berminat/menolak berinteraksi dengan orang
lain atau lingkungan
C. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko Bunuh Diri [SDKI D.0135]
2. Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)
3. Isolasi Sosial (D.0121)
Risiko Bunuh Diri Kontrol Diri (L.09076) Pencegahan Bunuh Diri (I.14538)
[SDKI D.0135] Setelah dilakukan tindakan
keperawatan ... × 24 jam Observasi
diharapkan kontrol diri klien • Identifikasi gejala risiko bunuh diri (mis:
meningkat dengan kriteria
gangguan mood, halusinasi, delusi, panik,
hasil:
penyalahgunaan zat, kesedihan, gangguan
- Verbalisasi keinginan
kepribadian)
bunuh diri menurun • Identifikasi keinginan dan pikiran rencana
- Verbalisasi isyarat bunuh diri
bunuh diri menurun
• Monitor lingkungan bebas bahaya secara
- Verbalisasi ancaman
rutin (mis: barang pribadi, pisau cukur,
bunuh diri menurun jendela)
- Verbalisasi rencana • Monitor adanya perubahan mood atau
bunuh diri menurun perilaku
Terapeutik
SAK
SP1:
1) Identifikasi beratnya masalah risiko bunuh
diri: isarat, ancaman, percobaan (jika
percobaan segera di rujuk)
2) Identifikasi bendabenda berbahaya dan
mengankatnya lingkungan aman untuk pasien).
3) Latihan cara mengendalikan diri dari
dorongan bunuh diri: buat daftar aspek positif
diri sendiri, latihan afirmasi/berfikir aspek
kositif yang dimiliki
4) Masukkan pada jadual latihan berfikir positif
5 kali per hari
SP2:
1) Evaluasi kegiatan berfikir positif tentang
diri sendiri, beri pujian. Kaji ulan risiko bunuh
diri. 2) Latih cara mengendalikan diri dari
dorongan bunuh diri: buat daftar aspek positif
keluarga dan lingkungan, latih [Link]
aspek positif keluarga dan lingungan. 3)
Masukkan pada jadual latihan berfikir positif
tentang diri, keluarga dan lingkungan.
SP3:
1) Evaluasi kegiatan perpikir positi tentang diri,
keluarga dan lingkungan. Beri pujian. Kaji
risiko bunuh diri ,.2). Diskusikan harapan dan
masa depan,. 3)Diskusiakan cara mencapai
harapan dan masa depan., 4)Latih cara-cara
mencapai harapan dan masa depan secara
bertahan (setahap demi setahap) Masukkan
pada jadual ltihan berfikir positif tenatng diri,
keluarga dan lingkungan dan tahap kegiatan
SP4:
1) Evaluasi kegiatan berfikir positif tentang
diri, keluarga dan lingungan serta kegiatan
yang dipilih. Beri pujian. 2). Latih tahap kedua
kegiatan mencapai masa depan. 3) Masukkan
pada jadual latihan berfikir positif tentang diri,
keluarga dan lingukungan, serta kegiatan yang
dipilih untuk persiapan masa depan.
SAK
SP1: 1. Mengidentifikasi penyebab isolasi
sosial Latih cara berkenalan dengan anggota
keluarga,. 2, Masukan pada jadwal kegiatan
untuk laihan berkenalan
Menurut SDKI (2016), harga diri rendah diklasifikasikan menjadi harga diri
rendah kronis dan harga diri rendah situasional. Harga diri rendah kronis adalah
evaluasi atau perasaan negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan klien tidak berarti,
tidak berharga, tidak berdaya yang berlangsung dalam waktu lama dan terus-menerus
(SDKI, 2016).Sedangkan harga diri rendah situasional adalah evaluasi atau perasaan
terhadap diri sendiri atau kemampuan klien sebagai respon terhadap situasi saat ini
(SDKI, 2016).
2. Rentang Respon
a. Aktualisasi diri pernyataan tentang konsep diri dengan yang positif dengan
latarbelakang pengalaman sukses.
b. Konsep diri positif Pasien mempunyai pengalaman yang positif dalam
perwujudandirinya, dapat mengidentifikasi kemampuan dan kelemahan secara
jujur dalam menilai asuatu masalah sesuai dengan norma norma sosial dan
kebudayaan suatu tempat jika menyimpang ini merupakan respon adaptif.
c. Harga diri rendah transisi antara adaptif dan mal adaftip,sehingga individu
cenderungberfikir k arah negative.
d. Kerancuan identitas Kegagalan individu mengintegrasikan aspek-aspek masa
kanak- kanak ke dalam kematangan aspek psikologis, kepribadian pada masa
dewasa secaraharmonis.
e. Depersonalisasi Keracunan Identitas Pernyataan tentang konsep diri dengan
yangpositif dengan latar belakang pengalaman [Link] antara adaptif
dan mal adaptif, sehingga individu cenderung berfikir ke arah negatif.
Berdasarkan biologis dapat dilihat sebagai suatu keadaan atau faktor resiko
yang dapat mempengaruhi peran manusia dalam menghadapi stresor.
Adapun yangtermasuk dalam faktor biologis adalah :
1) Neuroanatomi
2) .Neurotransmiter
b. Faktor Psikologis
Harga diri rendah sangat berhubungan dengan pola asuh dan kemampuan
individu menjalankan peran dan fungsi. Jika lingkungan tidak memberikan dukungan
positif atau justru menyalahkan individu dan terjadi terus-menerus akan
mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah. Hal-hal yang dapat
mengakibatkan individu mengalami harga diri rendah meliputi penolakan orang tua,
harapan orang tua yang tidak realistis, orang tua yang tidak percaya pada anak,
tekananteman sebaya, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan
pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistik. (Stuart & Sundeen, 2009).
c. Faktor sosial dan kultural
Secara sosial status ekonomi sangat mempengaruhi proses terjadinya harga
diri rendah. Dimana tempat tumbuh kembang yaitu keluarga, lembaga pendidikan,
dan lingkungan masyarakat. Kondisi sosial di masing-masing tempat akan
berinteraksi satu dengan yang lainnya dan mempengaruhi tumbuh [Link]
masalah sosial yang dapat menimbulkan harga diri rendah antara lain kemiskinan,
tempat tinggal daerah kumuh, rawan kriminalitas. Dimana menurut Hawari (2001)
rasa tidak aman dan tidak terlindung membuat jiwa seseorang tertekan.
2. Faktor Presipitasi
Menurut Ftria (2009), Faktor presipitasi dari harga diri rendah yaitu: Hilangnya
sebgaian anggota tubuh, Berubahnya penampilan atau bentuk tubuh, mengalami
kegagalan, dan menurunnya produktivitas.
Merupakan perilaku yang telah dipertahankan dalam waktu yang lama atau
kronik yang meliputi ungkapan negatif tentang diri sendiri dalam waktu lama
dan terus menerus. Perilaku yang ditampilkan berupa sikap malu/minder/rasa
bersalah, kontak mata kurang/tidak ada, selalu mengatakan
ketidakmampuan/kesulitan untuk mencoba sesuatu, bergantung pada orang lain,
tidak asertif, pasif dan hipoaktif. Perilaku lain yang juga sering muncul seperti:
mengkritik diri sendiri dan/atau orang lain, gangguan dalam berhubungan, rasa
diri penting berlebihan, mudah tersinggung atau marah yang berlebihan,
ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup yang pesimis, khawatir,
bimbang dan ragu-ragu, menolak umpanbalik positif dan membesarkan umpan
balik negatif mengenai dirinya serta ada juga yang menyalahgunakan zat.
Menurut Westermeyer (2006), empat area gejala umum yang menunjukkan
masalah harga diri rendah adalah:
a. Fisik
Respon fisiologis tersebut merupakan tanggapan dari fisik seseorang yang
dirasakan dan mempengaruhi fungsi tubuh. Tanda dan gejala dari respon
fisiologi terhadap penurunan harga diri antara lain penurunan energi, lemah,
agitasi, penurunan libido, insomnia/hipersomnia, penurunan/peningkatan
nafsu makan, anoreksia, sakit kepala(Westermeyer, 2006; Stuart & Sundeen,
2005). Kondisi ini akan menunjukkan perilaku yang maladaptif pada pasien
dimana pasien akan malas beraktivitas, lebih banyak tidur sehingga kurang
berinteraksi dengan orang lain.
b. Kognitif
Menurut Stuart and Laraia (2005) kognitif adalah tindakan atau proses
dari [Link] ini diperlukan dan memungkinkan mengetahui
kondisi otak untuk proses informasi dalam hal ketelitian, penyimpanan dan
keterangan.
d. Afek
Afek merupakan sifat emosional yang nyata (Stuart & Laraia, 2005)
Gambaran emosiyang sering kita temui pada pasien harga diri rendah
(Stuart & Laraia, 2005; Westermeyer, 2006) adalah kemarahan, kecemasan,
rasa kesal, murung, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesepian dan
kesedihan, merasa berdosa, dan kurang motivasi.
5. Sumber Koping
6. Mekanisme Koping
objektif
1. sulit berkonsentrasi
Objektif
1. Menarik diri
2. Tidak berminat/menolak berinteraksi
dengan orang lain atau lingkungan
Objektif
[Link] Masalah
Isolasi Sosial Efek
IV . Intervensi Keperawatan
Dx. Tujuan Intervensi
Keperawatan
Harga Diri Harga Diri (L.09069) Intervensi Utama
Rendah Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen Perilaku
(D.0087) keperawatan ... × 24 jam ( I.12463)
diharapkan klien memiliki
kemampuan yang meningkat Observasi
dengan kriteria hasil:
• Identifikasi harapan untuk
- Penilaian diri positif
mengendalikan perilaku
meningkat
- Perasaan memiliki kelebihan Terapeutik
atau kemampuan positif
meningkat • Diskusikan tanggung jawab
- penerimaan penilaian positif terhadap perilaku
terhadap diri sendiri • Jadwalkan kegiatan terstruktur
meningkat • Ciptakan dan pertahankan
- minat mencoba hal baru lingkungan dan kegiatan
meningkat perawatan konsisten setiap
- berja;an menampakkan dinas
wajah meningkat • Tingkatkan aktivitas fisik
- postur tubuh menampakkan sesuai kemampuan
wajah meningkat • Batasi jumlah pengunjung
- konstetrasi meningkat • Bicara dengan nada rendah dan
- tidur meningkat tenang
- kontak mata meningkat • Lakukan kegiatan pengalihan
- percaya diri berbicara terhadap sumber agitasi
meningkat • Cegah perilaku pasif dan
- perasaan malu menurun agresif
- perasaan bersalah menurun • Beri penguatan positif terhadap
- perasaan tidak mampu keberhasilan mengendalikan
melakukan apapun perilaku
meningkat • Lakukan pengekangan fisik
sesuai indikasi
• Hindari bersikap menyudutkan
dan menghentikan pembicaraan
• Hindari sikap mengancam atau
berdebat
• Hindari berdebat atau menawar
batas perilaku yang telah
ditetapkan
Edukasi
SAK
SP1: 1. Mengidentifikasi
penyebab isolasi sosial Latih cara
berkenalan dengan anggota
keluarga, 2. Masukan pada
jadwal kegiatan untuk laihan
berkenalan
SP2 :1. Evaluasi kegiatan
berkenalan ( berapa orang ) beri
pujian . 2. Latih cara berbicara
saat melakukan kegiatan harian
3. Masukan pada jadwal kegitan
untuk latihan berkenalan 2-3
orang.
SP3: 1. Evaluasi kegiatan
berkenalan ( berapa orang ) dan
bicara saat melakukan dua
kegiatan harian,beri pujian Latih
cara berbicara saat melakukan
kegiatan harian ( 2 kegiatan baru)
2. Masukan pada jadwal kegitan
untuk latihan berkenalan 4-5
orang.
Koping Tidak Status Koping (L.09086) Promosi Koping (I.09312)
Efektif (D.0096) Setelah dilakukan tindakan
Observasi
keperawatan ... × 24 jam
diharapkan status koping klien
membaik dengan kriteria hasil: • Identifikasi kegiatan jangka
- Kemampuan memenuhi pendek dan Panjang sesuai
peran sesuai usia meningkat tujuan
- Perilaku koping adaptif • Identifikasi kemampuan yang
meningkat dimiliki
- Verbalisasi kemampuan • Identifikasi pemahaman proses
mengatasi masalah penyakit
meningkat • Identifikasi dampak situasi
- Verabalisasi pengakuan terhadap peran dan hubungan
masalah meningkat • Identifikasi metode
- Verbalisasi kelemahan diri penyelesaian masalah
meningkat • Identifikasi kebutuhan dan
- Perilaku asertif meningkat keinginan terhadap dukungan
- Verbalisasi menyalahkan sosial
orang lain menurun
Terapeutik
- Verbalisasi rasionalisasi
kegagalan menurun • Diskusikan perubahan peran
- Hipersensitif terhadap kritik yang dialami
menurun • Gunakan pendekatan yang
tenang dan meyakinkan
• Diskusikan alasan mengkritik
diri sendiri
• Diskusikan untuk
mengklarifikasi
kesalahpahaman dan
mengevaluasi perilaku sendiri
• Diskusikan konsekuensi tidak
menggunakan rasa bersalah dan
rasa malu
• Diskusikan risiko yang
menimbulkan bahaya pada diri
sendiri
• Fasilitasi dalam memperoleh
informasi yang dibutuhkan
• Berikan pilihan realistis
mengenai aspek-aspek tertentu
dalam perawatan
• Motivasi untuk menentukan
harapan yang realistis
• Tinjau Kembali kemampuan
dalam pengambilan keputusan
• Hindari mengambil keputusan
saat pasien berada dibawah
tekanan
• Motivasi terlibat dalam
kegiatan sosial
Edukasi
SAK
SP1: 1. membina hubungan
saling percaya. 2. membantu
pasien mengenal koping yang
tidak efektif. 3. menganjurkan
koping konstruktif: bicara
terbuka dengan orang lain. 4.
masukkan ke dalam jadwal
kegiatan harian
SP2: 1. mengevaluasi
pelaksaaan jadwal kegiatan
harian. 2. mengajarkan koping
konstruktif : melakukan
kegiatan . 3. masukkan ke
dalam jadwal kegiatan harian
SP3: 1. mengevaluasi
pelaksanaan jadwal kegiatan
harian. 2. Mengajarkan koping
konstruktif: latihan
fisik/olahraga. 3. Masukkan ke
dalam jadwal kegiatan harian
V. Sumber Rujukan
Panduan bimbingan pratikum keperawatan jiwa
PPNI (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definsi dan Indikator
Diagnostik,
Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018). Standar Intervensi Luaran Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil, Edisi
1. Jakarta: DPP PPNI.
Satrio, Rika Damayanti, Ardinata. 2015. Buku ajar keperawatan jiwa. Lampung:
LP2M IAIN Raden Intan Lampung.
Balitbang Depkes, (2008), Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kesehatan Jiwa,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta. Hawari, D. (2007). Pendekatan Holistik
pada
Gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: FK-UI
[Link]
harga+diri+rendah&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&source=gb_mobile_searc
h&ovdme=1&sa=X&ved=2ahUKEwjvsIXgoa37AhXeSmwGHZJnCY8Q6wF6BAgBE
AU#v=onepage&q=pengertian%20harga%20diri%20rendah&f=false
Modul keperawatan jiwa [Link] sdm kesehatan
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES
KEMENKES TANJUNGKARANG
PROGRAMSTUDI STR KEPERAWATANTANJUNGKARANG
BandarLampung
[Link].1HajimenaBandarLamung
Myers, dkk. (2017) menyatakan bahwa waham adalah keyakinan atau persepsi palsu yang tetap tidak
dapat diubah meskipun ada bukti yang membantahnya. Gangguan proses pikir waham mengacu pada
suatu kondisi seseorang yang menampilkan satu atau lebih khayalan ganjil selama paling sedikit satu
bulan. Waham merupakan suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat atau terus
menerus, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan. Klien meyakini bahwa dirinya adalah seperti apa yang
ada di dalam isi pikirannya (Sutejo, 2017)
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat atau Terus menerus, tapi
tidak sesuai dengan kenyataan. Waham adalah termasuk gangguan isi pikiran. Pasien meyakini bahwa
dirinya adalah seperti apa yang ada di dalam isi pikirannya. Waham sering ditemui pada gangguan jiwa
berat dan beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada penderita skizofrenia waham
adalah suatu keyakinan yang salah dan menetap, tidak berdasarkan [Link] atau waham
merupakan keyakinan yang tidak sesuai dengan realita (Manurung & Pardede,2022)
2. Klasifikasi Waham
Menurut Iyus & Sutini (2016)
a. Waham kebesaran
Meyakini bahwa ia memiliki suatu kebesaran atau kekuasaan khusus. Keyakinan diucapkan secara
berulan-ulang, tetapi tidak sesuai dengan realita.
b. Waham persekusi
Meyakini bahwa ada seseorang atau suatu kelompok yang berusaha merugikan atau mencederai
dirinya, diucapkan beulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
c. Waham agama
Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang kali namun tidak
sesuai dengan kenyataan.
d. Waham somatik
Meyakini bahwa tubuh klien atau bagian tubuhnya terganggu, diucapkan berulang kali namun tidak
sesuai dengan kenyataan. e. Waham nihilistik Mayakini bahwa dirinya sudah tidak ada didunia atau
sudah meninggal, diucapkan berulang kali namun tidak sesuai dengan kenyataan.
3. Fase-Fase Waham
Menurut Sutejo, 2017 proses terjadinya waham melibatkan fase-fase berikut ini :
a. Fase kurangnya kebutuhan manusia (Lack of human need)
Waham dimulai dengan terbatasnya kebutuhan fisik maupun psikis klien. Secara fisik, klien dengan
gangguan waham memiliki keterbatasan status sosial dan ekonomi. Keinginan klien yang biasanya
sangat miskin dan menderita untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mendorong untuk melakukan
kompensasi (pencarian kepuasan dalam suatu bidang tertentu) yang salah. Selain klien dengan
keterbatasan ekonomi, gangguan waham ini juga dapat terjadi pada klien yang cukup secara finansial,
tetapi memiliki kesenjangan antara realita (reality) dan ideal diri (selfideal) yang sangat tinggi.
Waham terjadi karena klien merasa bahwa pengakuan atas keeksisan atau kehadiran adalah suatu hal
yang sangat penting. Gangguan ini juga terjadi akibat minimnya penghargaan saat tumbuh kembang
(life span history)
b. Fase kurangnya kepercayaan diri (Lack of self esteem)
Ketiadaan pengakuan dari lingkungan, tingginya kesenjangan antara ideal diri dan realita, dan
kebutuhan yang tak terpenuhi sesuai dengan standar lingkungan membuat seseorang merasa
menderita, malu, dan merasa tidak berharga.
c. Fase kendali internal dan eksternal (Control internal and external)
Bagi klien dengan gangguan waham, menghadapi kenyataan adalah suatau hal yang sulit. Klien
mencoba berfikir secara logis bahwa apa yang diyakini dan apa yang dikatakannya adalah suatu
kebohongan yang dilakukan untuk menutupi kekurangan. Kekurangan itu seperti ketidakcukupan
materi, kebutuhan akan pengakuan dan penerimaan, merupakan suatu yang belum terpenuhi secara
optimal sejak kecil. Oleh karena itu, kebutuhan akan pengakuan dan penerimaan di lingkungan
tersebut menjadi prioritas utama dan mendominasi dalam hidupnya. Disisi lain, lingkungan sekitar
menjadi pendengar pasif dan kurang memberikan koreksi secara memadai klien dengan alasan
toleransi dan menjaga perasaan.
d. Fase dukungan lingkungan (Environment support)
Kepercayaan beberapa orang dalam lingkungan terhadap klien membuat klien merasa didukung.
Lama kelamaan, perkataan yang terus menerus diulang oleh orang di lingkungannya tersebut
membuat klien kehilangan kendali diri dan mengakibatkan tidak berfungsinya norma (super ego) yang
ditandai dengan ketiadaan perasaan berdosa saat berbohong.
e. Fase kenyamanan (Comforting)
Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya. Ia juga menganggap bahwa semua
orang sama, yaitu mereka akan mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan ini sering disertai
dengan halusinasi dan terjadi ketika klien menyendiri dari lingkungannya. Pada tahap selanjutnya,
klien lebih sering meyendiri dan menghidari interaksi sosial (isolasi sosial).
f. Fase peningkatan (Improving)
Ketiadaan konfrontasi dan upaya-upaya koreksi dapat meningkatkan keyakinan yang salah pada klien.
Tema waham yang sering muncul adalah tema seputar pengalaman traumatik masa lalu atau
kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang hilang).
a. Faktor Predisposisi
1) Biologi
Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu kelainan ini adalah
mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang tua, saudara kandung,
sanak saudara lain).
a) Hambatan perkembangan otak khususnya kortek prontal, temporal dan limbik.
b) Pertumbuhan dan perkembangan individu pada prenatal, perinatal, neonatus dan kanak-kanak.
2) Psikososial
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis dari klien. Sikap
atau keadaan yang dapat mempengaruhi seperti penolakan dan kekerasan.
3) Sosial budaya
Kehidupan sosial budaya dapat pula mempengaruhi timbulnya waham seperti [Link]
sosial budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan) serta kehidupan yang terisolasi dans tress yang
menumpuk.
b. Faktor Presipitasi
Karakteristik umum latar belakang termasuk riwayat penganiayaan fisik/emosional, perlakuan kekerasan
dari orang tua,tuntutan pendidikan yang perfeksionis, tekanan, isolasi, permusuhan, perasaan tidak
bergunaataupun tidak berdaya.
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta
abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk
secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2) Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan
terjadinya gangguan perilaku.
3) Sumber koping
individu, konteks budaya dimana individu berada, dan/atau hubungan-hubungan sosial yang
dihadapinya.
Pervin & John (1997) menyebutkan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi individu dalam
melakukan koping adalah waham. Cara individu dengan kepribadian introver atau ekstrover misalnya,
jelas akan berbeda. Pada individu introver, dia akan lebih memfokuskan pada koping yang mendukung
kepribadiannya yang lebih melihat ke dalam dirinya. Sedangkan individu yang ekstrover akan memilih
koping yang lebih banyak melihat atau melibatkan hal-hal di luar dirinya.
Menurut Sment, (1984) berpendapat bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi bagaimana
individu melakukan koping terhadap tekanan. Faktor-faktor tersebut adalah:
a. Kondisi individu yang bersangkutan, seperti berapa umurnya, apa jenis kelaminnya, bagaimana
temperamennya, faktor-faktor genetik yang didapat dari leluhurnya, tingkat intelegensi, tingkat atau
jenis pendidikan, suku asal, kebudayaan dimana ia tinggal/dibesarkan, status ekonomi, dan/atau
kondisi fisik secara umum.
b. Karakteristik kepribadian seperti tipe keribadian A atau B, individu yang optimis atau pesimis, dan
jenis-jenis /tipologi kepribadian lainnya.
c. Kondisi sosial kognitif seperti dukungan sosial, jaringan sosial, dan/atau kontrol pribadi atas diri
individu itu sendiri.
d. Hubungan yang terjadi antara individu tersebut dengan lingkunga sosial atau jaringan sosialnya,
dan/atau penyatuan diri masing-masing individu dalam sebuah kelompok pada masyarakat dimana
ia tinggal..
e. Mekanisme Koping
a) Regresi
Menghindari stress , kecemasan , dengan menampilkan perilaku kembali seperti perkembangan
pada anak.
b) Proyeksi
Keinginan yang tidak dapat di toleransi, mencurahkan emosi kepada orang lain karena kesalahan
yang di akui sendiri
c) Menarik diri
Reaksi yang di tampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun biologi.
A. Pohon Masalah
Proses terjadinya waham menurut Stuart dan Sundean:
NO DATA MASALAH
1. Waham (D.0105)
DS:
DO:
DO:
1. Menarik diri
2. Tidak berminat/menolak berinteraksi dengan orang lain
atau lingkungan
DO:
C. Diagnosa Keperawatan
1. Waham (D.0105)
2. Isolasi Sosial (D.0121)
3. Harga Diri Rendah Kronis (D.0086)
IV Intervensi Keperawatan
Dx. Keperawatan Tujuan Intervensi
Waham (D.0105) Status Orientasi (L.09090) Manajemen Waham (I.09295)
Setelah dilakukan tindakan
Observasi
keperawatan ... × 24 jam diharapkan
status orintasi klien membaik dengan
• Monitor waham yang isinya
kriteria hasil:
membahayakan diri sendiri,
- Verbalisasi waham menurun
orang lain, dan lingkungan
- Perilaku waham menurun • Monitor efek terapeutik dan efek
- Perilaku sesuai realita membaik samping obat
- Isi pikir sesuai realita membaik
- Pembicaraan membaik Terapeutik
- Menarik diri menurun
- Konsentrasi membaik • Bina hubungan interpersonal
- Proses pikir membaik saling percaya
- Khawatir menurun • Tunjukkan sikap tidak
- Curiga menurun menghakimi secara konsisten
- Tegang menurun • Diskusikan waham dengan
berfokus pada perasaan yang
mendasari waham (“Anda
terlihat seperti sedang merasa
ketakutan”)
• Hindari perdebatan tentang
keyakinan yang keliru, nyatakan
keraguan sesuai fakta
• Hindari memperkuat gagasan
waham
• Sediakan lingkungan aman dan
nyaman
• Berikan aktivitas rekreasi dan
pengalihan sesuai kebutuhan
• Lakukan intervensi pengontrolan
perilaku waham (Mis: limit
setting, pembatasan wilayah,
pengekangan fisik, atau seklusi)
Edukasi
SAK
SP1:
1. Identifikasi tanda dan gejala
waham
2. Bantu orintasi realitas: panggil
nama, orintasi waktu, orang
dan tempat/lingkung an
3. Diskusikan kebutuhan pasien
yang tidak terpenuhi
4. Bantu pasien memenuhi
kebutuhan yang realistis
5. Masukan pada jadual kegiatan
pemenuhan
kebutuhanIdentifikasi tanda
dan gejala waham
6. Bantu orintasi realitas: panggil
nama, orintasi waktu, orang
dan tempat/lingkung an
7. Diskusikan kebutuhan pasien
yang tidak terpenuhi
8. Bantu pasien memenuhi
kebutuhan yang realistis’
9. Masukan pada jadual
kegiatan pemenuhan
kebutuhan
SP2:
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan
kebutuhan pasien dan
berikan pujian
2. .Diskusikan kemampuan yang
dimiliki
3. Latih kemampuan yang
dipilih, berikan pujian
4. Masukkan pada jadual
pemenuhan kebutuhan dan
kegiatan yang telah dilatih
SP3:
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan
kebutuhan pasien, kegiatan
yang dilakukan pasien dan
berikan pujian
Jelaskan tentang obat yang
di minum (6 benar : jenis,
gua, dosis, frekuensi, cara,
kontinuitas minum obat)
dan tanyakan manfaat yang
dirasakan pasien
2. Masukkan pada jadual
pemenuhan kebutuhan,
kegiatan yang telah dilatih dan
obat
SP4:
1. Evaluasi kegiatan pemenuhan
kebutuhan pasien, kegiatan
yang telah di latih, dan minum
obat. Berikan pujian
2. Diskusikan kebutuhan lain dan
cara memenuhiny a
3. Diskusikan kemampuan yang
dimiliki dan memilih yang
akan dilatih. Kemudian latih
4. Masukkan pada jadual
pemenuhan kebutuhan,
kegiatan yang telah dilatih,
minum obat
Isolasi Sosial (D.0121) Keterlibatan Sosial (L.13116) Promosi Sosialisasi (I.13498)
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan ... × 24 jam diharapkan Observasi
keterlibatan sosial klien meningkat
• Identifikasi kemampuan
dengan kriteria hasil:
melakukan interaksi dengan
- minat interaksi meningkat orang lain
- verbalisasi tujuan yang jelas
• Identifikasi hambatan melakukan
meningkat
interaksi dengan orang lain
- minat terhadap aktivitas
meningkat Tarapeutik
- verbalisasi sosial menurun
- verbalisasi ketidakamanan di • Motivasi meningkatkan
tempat umum menurun keterlibatan dalam suatu
- perilaku menarik diri menurun hubungan
- afek murung/sedih menurun • Motivasi kesabaran dalam
- kontak mata meningkat mengembangkan suatu hubungan
• Motivasi berpartisipasi dalam
aktivitas baru dan kegiatan
kelompok
• Motivasi berinteraksi di luar
lingkungan (mis: jalan-jalan, ke
toko buku)
• Diskusikan kekuatan dan
keterbatasan dalam
berkomunikasi dengan orang lain
• Diskusikan perencanaan kegiatan
di masa depan
• Berikan umpan balik positif
dalam perawatan diri
• Berikan umpan balik positif pada
setiap peningkatan kemampuan
Evaluasi
SAK
SP1:
1. Mengidentifikasi penyebab
isolasi sosial Latih cara
berkenalan dengan anggota
keluarga,
2. Masukan pada jadwal
kegiatan untuk laihan
berkenalan
SP2 :
1. Evaluasi kegiatan berkenalan (
berapa orang ) beri pujian .
2. Latih cara berbicara saat
melakukan kegiatan harian
3. Masukan pada jadwal kegitan
untuk latihan berkenalan 2-3
orang.
SP3:
1. Evaluasi kegiatan berkenalan
( berapa orang ) dan bicara
saat melakukan dua kegiatan
harian,beri pujian Latih cara
berbicara saat melakukan
kegiatan harian ( 2 kegiatan
baru)
2. Masukan pada jadwal kegitan
untuk latihan berkenalan 4-5
orang.
Harga Diri Rendah Harga Diri (L.09069) Promosi Harga Diri (I.09308)
Kronis (D.0086) Setelah dilakukan tindakan
keperawatan ... × 24 jam diharapkan Observasi
klien memiliki kemampuan yang
• Identifikasi budaya, agama, ras,
meningkat dengan kriteria hasil: jenis kelamin, dan usia terhadap
harga diri
- Penilaian diri positif meningkat • Monitor verbalisasi yang
- Perasaan memiliki kelebihan atau merendahkan diri sendiri
kemampuan positif meningkat • Monitor tingkat harga diri setiap
- Penerimaan penilaian positif waktu, sesuai kebutuhan
terhadap diri sendiri meningkat
Terapeutik
- Minat mencoba hal baru
meningkat • Motivasi terlibat dalam
- Berjalan menampakkan wajah verbalisasi positif untuk diri
meningkat sendiri
- Postur tubuh menampakkan • Motivasi menerima tantangan
wajah meningkat atau hal baru
- Perasaan malu menurun • Diskusikan pernyataan tentang
- Perasaan bersalah menurun harga diri
- Perasaan tidak mampu • Diskusikan kepercayaan terhadap
melakukan apapun menurun penilaian diri
- Meremehkan kemampuan • Diskusikan pengalaman yang
mengatasi masalah menurun meningkatkan harga diri
• Diskusikan persepsi negatif diri
• Diskusikan alasan mengkritik
diri atau rasa bersalah
• Diskusikan penetapan tujuan
realistis untuk mencapai harga
diri yang lebih tinggi
• Diskusikan Bersama keluarga
untuk menetapkan harapan dan
Batasan yang jelas
• Berikan umpan balik positif atas
peningkatan mencapai tujuan
• Fasilitasi lingkungan dan
aktivitas yang meningkatkan diri
Edukasi
SAK
SP1:
1. Identifikasi kemampuan
melakukan kegiatan dan aspek
positif pasien (buat daftar
kegiatan),
2. Bantu pasien menilai kegiatan
yang dapat dilakukan saat ini
(pilih daftar kegiatan) : buat
daftar kegiatan yang dapat
dilakukan saat ini :
3. Bantu pasien memilih salah
satu kegiatan yang dapat
dilakukan saat ini untuk
dilatih,
4. Latih kegiatan yang dipilih
(alat dan cara melakukannya),
5. Masukkan pada jadwal
kegaitan untuk latihan dua kali
per hari
SP2:
1. Evaluasi kegiatan pertama yang
telah dilatih dan berikan pujian;
2. Bantu pasien memilih kegiatan
kedua yang akan dilatih;
3. Latih kegiatan kedua kedua
(alat dan cara);
4. . Masukkan pada jadual
kegiatan untuk latihan: dua
kegiatan masing2 dua kali per
hari.
SP3:
1. Evaluasi kegiatan pertama dan
kedua yang telah dilatih dan
berikan pujian
2. . Bantu pasien memilih kegiatan
ketiga yang akan dilatih;
3. Latih kegiatan ketiga (alat dan
cara);
4. . Masukkan pada jadual
kegiatan untuk latihan: tiga
kegiatan, masing-masing dua
kali per hari.
SP4:
1. Evaluasi kegiatan pertama,
kedua, dan ketiga yang telah
dilatih dan berikan pujian;
2. Bantu pasien memilih kegiatan
keempat yang akan dilatih
3. Latih kegiatan keempat (alat
dan cara);
4. Masukkan pada jadual kegiatan
untuk latihan: empat kegiatan
masing-masing dua kali per hari
V. Daftar Pustaka
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan
III (Revisi). Jakarta: PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan, Edisi 1
Cetakan II. Jakarta: PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, Edisi 1
Cetakan II. Jakarta: PPNI.
Hapsari, A. (2022). LAPORAN KASUS ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA
NY S DENGAN MASALAH KEPERAWATAN WAHAM DI RUANG
SEMBODRO RSJ GRHASIA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Doctoral dissertation,
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta).
Fitrianingsih, F. (2022). LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA NY. P DENGAN GANGGUAN
PROSES PIKIR: WAHAM KEBESARAN DI WISMA SRIKANDI RSJ GRAHASIA DIY (Doctoral
dissertation, POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA).
Keliat, Budi Anna. 2006. Kumpulan Proses Keperawatan Masalah Jiwa. Jakarta : FIK, Universitas
Indonesia
Stuart dan Sundeen . 2005 . Buku Keperawatan Jiwa . Jakarta : EGC .
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES TANJUNGKARANG
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN TANJUNGKARANG
Bandar Lampung
Jl. Soekarno Hatta No. 1 Hajimena Bandar Lampung
LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI
1
2. Jenis Halusinasi
a. Halusinasi pendengaran
Menurut Stuart (2009), pada klien halusinasi dengar tanda dan gejala dapat di
karakteristik mendengar bunyi atau suara, paling sering dalam bentuk suara,
rentang suara dari suara sederhana atau suara yang jelas, suara tersebut
membicarakan tentang pasien, sampai percakapan yang komplet antara dua
orang atau lebih seperti orang yang berhalusinasi. Suara yang didengar dapat
berupa perintah yang memberitahu pasien untuk melakukan sesuatu, kadang-
kadang dapat membahayakan atau mencedera.
Halusinasi dengar merupakan gejala mayoritas yang sering dijumpai pada
pasien skizofrenia. Hasil penelitian Nayani dan David (1996, dalam Birchwood
2009) menunjukkan bahwa isi halusinasi pendengaran 84% berupa perintah
untuk melakukan sesuatu, 77% mengkritik individu, 70% menghina klien, 66%
mengancam, 61% membicarakan tentang orang lain, 53% mendebat klien, 48%
menyenagkan klien, 41% menanyakan sesuatu dan 40% menertawakan klien.
Halusinasi dengar harus menjadi fokus perhatian kita bersama karena halusinasi
dengar apabila tidak ditangani secara baik dapat menimbulkan resiko terhadap
keamanan diri klien sendiri, orang lain dan juga lingkungan sekitaran.
b. Halusinasi penciuman
Pada halusinasi penciuman isi halusinasi dapat berupa klien mencium aroma
atau bau tertentu seperti urine atau feces atau bau yang bersifat lebih umum atau
bau busuk atau bau yang tidak sedap (Cancro & Lehman, 2000 dalam Videbeck
2008).
c. Halusinasi penglihatan
Pada klien yang mengalami halusinasi penglihatan, isi dari halusinasi berupa
melihat bayangan yang sebenarnya tidak ada sama sekali, misalnya cahaya atau
orang yang telah meninggal atau mungkin sesuatu yang bentuknya menakutkan
(Cancro & Lehman, 2000 dalam Videbeck 2008).
d. Halusinasi pengecapan
Pada halusinasi pengecapan, isi halusinasi berupa klien mengecap rasa yang
tetap ada dalam mulut atau perasaan bahwa makanan terasa seperti sesuatu yang
lain. Rasa tersebut dapat berupa rasa logam atau pahit, dapat berupa rasa busuk,
tak sedap dan anyir seperti darah, urine dan feces (Stuart & Laraia, 2005; Stuart,
2009).
2
e. Halusinasi perabaan
Isi halusinasi perabaan adalah klien merasakan sensasi seperti aliran listrik
yang menjalar ke seluruh tubuh atau binatang kecil yang merayap di kulit
(Cancro & Lehman, 2000 dalam Videbeck, 2008).
f. Halusinasi Chenesthetik
Halusinasi chenesthetik klien akan merasa fungsi tubuh seperti darah
berdenyut melalui vena dan arteri, mencerna makanan atau bentuk urin
(Videbeck, 2008; Stuart, 2009)
g. Halusinasi Kinesteteik
Terjadi ketika klien tidak bergerak tetapi melaporkan sensasi gerakan tubuh,
gerakan tubuh yang tidak lazim seperti melayang di atas tanah. Sensasi gerakan
sambil berdiri tak bergerak (Videbeck 2008; Stuart, 2009).
Jenis Halusinasi serta Ciri Objektif dan Subjektif Klien yang Mengalami
Halusinasi
Jenis halusinasi Data Objektif Data Subjektif
Halusinasi Bicara atau tertawa Mendengar suara–
Dengar sendiri. suara atau kegaduhan.
(klien mendengar Marah–marah tanpa Mendengar suara
suara/bunyi yang sebab. yang mengajak bercakap-
tidak ada Mendekatkan cakap.
hubungannya telinga ke arah tertentu. Mendengar suara
dengan stimulus Menutup telinga. menyuruh melakukan sesuatu
yang yang berbahaya.
nyata/lingkungan)
3
lingkungan dan
orang lain tidak
melihatnya).
Halusinasi Mengendus-endus Membaui bau-bauan seperti
Penciuman seperti sedang membaui bau darah, urine, feses, dan
(klien mencium bau-bauan tertentu. terkadang bau-bau tersebut
suatu bau yang Menutup hidung. menyenangkan bagi klien.
muncul dari
sumber tertentu
tanpa stimulus
yang nyata).
Halusinasi Sering meludah. Merasakan rasa seperti darah,
pengecapan Muntah. urine, atau feses.
(klien merasakan
sesuatu yang tidak
nyata, biasanya
merasakan rasa
makanan yang
tidak enak).
Halusinasi Menggaruk-garuk Mengatakan ada
Perabaan permukaan kulit serangga di permukan kulit.
(klien merasakan Merasa seperti
sesuatu pada tersengat listrik.
kulitnya tanpa ada
stimulus yang
nyata).
Halusinasi Memegang kakinya yang Mengatakan badannya
Kinestetik dianggapnya bergerak melayang di udara.
(klien merasa sendiri.
badan nya
bergerak dalam
suatu ruangan atau
anggota badan nya
bergerak).
4
Halusinasi Memegang badannya yang Mengatakan perutnya menjadi
Viseral di anggapnya berubah mengecil setelah minum soft
(perasaan tertentu bentuk dan tidak normal drink.
timbul dalam seperti biasanya.
tubuhnya).
Sumber: Stuart dan Sundeen (1998)
1. Kadang
1. Pikiran Logis 1. Gangguan
proses pikir
2. Persepsi proses pikir
terganggu
Akurat 2. Ilusi (waham)
3. Emosi 2. Halusinasi
3. Emosi
konsisten 3. RPK
4. Perilaku tidak
dengan 4. Perilaku tidak
biasa
pengalaman terorganisir
5. Menarik diri
4. Perilaku 5. Isolasi sosial
sesuai
4. Penyebab
a. Faktor Predisposisi
Faktor Biologis
Menurut Videbeck (2008), faktor biologi yang dapat menyebabkan
terjadinya skizofrenia yaitu:
1) Genetik
Secara genetik ditemukan perubahan pada kromosom 5 dan 6 yang
mempredisposisikan individu mengalami skizofrenia (Copel, 2007).
Sedangkan Buchanan dan Carpenter (2000, dalam Stuart &Laraia, 2005;
Stuart, 2009) menyebutkan bahwa kromosom yang berperan dalam
menurunkan skizofrenia adalah kromosom 6. Sedangkan kromosom lain
yang juga berpean adalah kromosom 4, 8, 15, dan 22, Craddock et al
(2006 dalam Stuart, 2009). Penelitian juga menemukan gen GAD 1 yang
bertanggungjawab memproduksi GABA, dimana pada klien skizofrenia
tidakdapat meningkat secara normal sesuai perkembangan pada daerah
5
frontal, dimana bagian ini berfungsi dalam proses berfikir dan
pengambilan keputusan Hung et al, (2007 dalam Stuart, 2009).
Penelitian yang paling penting memusatkan pada penelitian anak
kembar yang menunjukkan anak kembar identik berisiko mengalami
skizofrenia sebesar 50%, sedangkan pada kembar non identik/ fraternal
berisiko 15% mengalami skizofrenia, angka ini meningkat sampai 35%
jika kedua orangtua biologis menderita skizofrenia (Cancro & Lehman,
2000; Videbeck, 2008; Stuart, 2009). Semua penelitian ini menunjukkan
bahwa faktor genetik hanya sebagian kecil penyebab terjadinya
skizofrenia dan ternyata masih ada faktor lain yang juga berperan
sebagai faktor penyebab terjadinya skizofrenia.
2) Neuroanatomi
Penelitian menunjukkan kelainan anatomi, fungsional dan
neurokimia di otak klien skizofrenia hidup dan postmortem, penelitian
menunjukkan bahwa kortek prefrontal dan sistem limbik tidak
sepenuhnya berkembang pada di otak klien dengan skizofrenia.
Penurunan volume otak mencerminkan penurunan baik materi putih dan
materi abu-abu pada neuron akson (Kuroki et al, 2006; Higgins, 2007
dalam Stuart, 2009). Hasil pemeriksaan Computed Tomography (CT)
dan Magnetic Resonance Imaging (MRI), memperlihatkan penurunan
volume otak pada individu dengan skizofrenia, temuan ini
memperlihatkan adanya keterlambatan perkembangan jaringan otak dan
atropi. Pemeriksaan Positron Emission Tomography (PET)
menunjukkan penurunan aliran darah ke otak pada lobus frontal selama
tugas perkembangan kognitif pada individu dengan skizofrenia.
Penelitian lain juga menunjukkan terjadinya penurunan volume otak dan
fungsi otak yang abnormal pada area temporalis dan frontal (Videbeck,
2008). Perubahan pada kedua lobus tersebut belum diketahui secara pasti
penyebabnya.
Keadaan patologis yang terjadi pada lobus temporalis dan frontalis
berkolerasi dengan terjadinya tanda-tanda positif dan negatif dari
skizofrenia. Copel (2007) menyebutkan bahwa tanda-tanda positif
skizofrenia seperti psikosi disebabkan karena fungsi otak yang abnormal
pada lobus temporalis. Sedangkan tanda-anda negatif seperti tidak
6
memiliki kemauan untuk motivasi dan anhedonia disebabkan oleh fungsi
otak yang abnormal pada lobus frontalis.
Hal ini sesuai dengan Sadock dan Sadock (2007 dalam Towsend,
2009) yang menyatakan bahwa fungsi utama lobus frontalis adalah
aktivasi motorik, intelektual, perencanaan konseptual, aspek
kepribadian, aspek produksi bahasa. Sehingga apabila terjadi gangguan
pada lobus frontalis, maka akan terjadi perubahan pada aktivitas motorik,
gangguan intelektual, perubahan kepribadian dan juga emosi yang tidak
stabil. Sedangkan fungsiutam adari lobus temporalis adalah pengaturan
bahasa, ingatan dan juga emosi. Sehingga gangguan yang terjadi pada
korteks temporalis dan nukleus-nukleus limbik yang berhubungan pada
lobus temporalis akan menyebabkan timbulnya gejala halusinasi.
3) Neurokimia
Penelitian di bidang neurotransmisi telah memperjelas hipotetsi
disregulasi pada skizofrenia, gangguan terus menerus dalam satu atau
lebih neurotransmiter atau neuromodulator mekanisme pengaturan
homeostatic menyebabkan neurotransmisi tidak stabil atau tidak
menentu. Teori ini menyatakan bahwa area mesolimbik overaktif
terhadap dopamine, sedangkan area prefrontal mengalami hipoaktif
sehingga terjadi ketidakseimbangan antara sistem neurotransmiter
dopamine dan serotonin serta yang lain (Stuart, 2009). Pernyataan ini
memberi arti bahwa neurotransmitter mempunyai peranan yang penting
menyebabkan terjadinya skizofrenia.
Beberapa referensi menunjukkan bahwa neurotransmiter yang
bereperan menyebabkan skizofrenia adalah dopamin dan serotonin. Satu
teori yang terkenal memperlihatkan dopamin sebagai faktor penyebab,
ini dibuktikan dengan obat-obatan yang menyekat reseptor dopamin
pascasinaptik mengurangi gejala gejala psikotik dan pada kenyataan nya
semakin efektif obat tersebut dalam mengurangigejala skizofrenia.
Sedangkan serotonin berfungsi sebagai modulasi dopamine, yang
membantu mengontrol kelebihan dopamine, beberapa peneliti yakin
bahwa kelebihan serotonin itu sendiri bereperan dalam perkembangan
skizofrenia, ini dibuktikan dengan penggunaan obat antipsikotik atipikal
seperti klozapin (clorazil) yang merupakan antagonis dopamine dan
serotonin. Penelitian menunjukkan bahwa klozapin dapat menghasilkan
7
penurunan gejala psikotik secara dramatis dan mengurangi tanda-tanda
negatif skizofrenia (O’Connor, 1998; Marder, 2000 dalam Videbeck,
2008).
Adanya overload reuptake neurotransmiter dopamin dan serotonin
mengakibatkan kerusakan komunikasi antar sel otak, sehingga jalur
penerima dan pengiriman informasi di otak terganggu. Keadaan inilah
yang mengakibatkan informasi tidak dapat diproses sehingga terjadi
kerusakan dalam persepsi yang berkembang menjadi halusinasi dan
kesalahan dalam membuat kesimpulan yang berkembang menjadi delusi.
4) Imunovirologi
Sebuah penelitian untuk menemukan “virus Skizofrenia” telah
berlangsung (Torrey et al, 2007; alman et al, 2008). Bukti campuran
menunjukkan bahwa paparan prenatal terhadap virus influenza, terutama
selama trimester pertama, mungkin menjadi salah satu faktor penyebab
skizofrenia pada beberapa orang tetapi tidak pada orang lain (Brown et
al, 2004). Teori ini didukung oleh temuan riset yang memperlihatkan
lebih banyak orang dengan skiofrenia lahir di musim dingin atau awal
musim semi dan di daerah perkotaan (Van Os et al, 2004). Temuan ini
menunjukkan musim potensial dan tempat lahir dampak terhadap resiko
untuk skizofrenia. Infeksi virus lebih sering terjadi pada tempat-tempat
keramaian dan musim dingin dan awal musing semi dan dapat terjadi in
utero atau pada anak usia dini pada beberapa orang yang rentan
(Gallagher et al, 2007; Velling et al, 2008 dalam Stuart, 2009)
5) Psikologis
Awal terjadinya skizofrenia difokuskan pada hubungan dalam
keluarga yang mempengaruhi perkembangan gangguan ini, teori awal
menunjukkan kurangnya hubungan antara orangtua dan anak, serta
disfungsi sistem keluarga sebagai penyebab skizofrenia. Dalam
penelitian lain, beberapa anak dengan skizofrenia menunjukkan kelainan
halus yang meliputi perhatian, koordinasi, kemampuan sosaial, fungsi
neuromotordan respon emosional jauh sebelum mereka menunjukkan
gejala yang jelas dari skizofrenia (Schiffman et al, 2004 dalam Stuart,
2009). Hal di atas dukung oleh Sinaga (2007), yang menyebutkan bahwa
lingkungan emosional yang tidak stabil mempunyai resiko yang besar
terhadap perkembangan skizofrenia, pada masa kanak disfungsi situasi
8
sosial seperti trauma masa kecil, kekerasan, hostilitas dan huungan
interpersonal yang kurang hangat diterima oleh anak sangat
mempengaruhi perkembangan neurologikal anak sehingga lebih rentan
mengalami skizofrenia dikemudian hari.
Berdasarkan Stuart dan Laraia (2005), faktor psikologis yang dapat
mempengaruhi adalah tingkat intelegensi, kemampuan verbal, moral,
kepribadian, pengalaman masa lalu, konsep diri dan motivasi. Selain itu
faktor penyebab terjadinya skizofrenia berdasarkan teori interpersonal
berpendapat bahwa s skizofrenia muncul akibat hubungan disfungsional
pada masa kehidupan awal dan masa remaja, skizofrenia terjadi akibat
ibu yang cemas atau ayah yang jauh dan suka mengonbtrol (Torrey, 1995
dalam Videbeck, 2008). Halini memberiarti bahwa anak akan belajar
pada orangtua nya yang mengalami skizofrenia dan akan mempraktekkan
apa yang dilihatnya setelah ia besar dalam setiap ia mengalami masalah.
6) Sosial Budaya
Faktor sosial budaya yang dapat menyebabkan terjadinya
skizofrenia adalah adanya double bind didalam keluarga dan konflik
dalam keluarga. Torrey (1995 dalam Videbeck, 2008) menyebutkan
bahwa salah satu faktor sosial yang dapat menyebabkan terjadinya
skizofrenia adalah asnya disfungsi dalam pengasuhan anak maupun
dinamika keluarga.
Seaward (1997, dalam Videbeck 2008) menyebutkan bahwa fakor
budaya dan sosial dapat menyebabkan terjadinya skizofrenia adalah
karena tidak adanya penghasilan, adanya kekerasan, tidak memiliki
tempat tinggal, kemiskinan dan diskriminasi ras, golongan, usia maupun
jenis kelamin.
b. Faktor Presipitasi
Faktor pencetus halusinasi diakibatkan gangguan umpan balik di otak
yang mengatur jumlah dan waktu dalam proses informasi. Stimulasi
pemglihatan dan pendengaran pada awalnya di saring oleh hipotalamus dan
dikirim untuk diproses oleh lobus frontal dan bila informasi yang disampaikan
terlalu banyak pada suatu waktu atau jika informasi tersebut salah, lobus frontal
mengirimkan pesan overload ke ganglia basal dan di ingatkan lagi hipotalamus
untuk mmeperlambat transmisi ke lobus frontal. Penurunan fungsi dari lobus
9
frontal menyebabkan gangguan pada proses umpan balik dalam penyampaian
informasi yang menghasilkan proses informasi overload (Stuart & Laraia 2005;
Stuart 2009). Selain itu, penurunan pintu mekanisme/gatting proses ini
ditunjukkan dengan ketidakmampuan individu dalam memilih stimuli secara
selektif (Hong et al, 20027 dalam Stuart 2009).
d. Sumber Koping
Berdasarkan Stuart dan Laraia (2005), sumber koping merupakan hal
yang penting dalam membantu klien dalam mengatasi stressor yang
dihadapinya. Sumber koping tersebut meliputi aset ekonomi, sosial support,
nilai dan kemampuan individu mengatasi masalah. Apabila individu mempunyai
sumber koping yang adekuat maka ia akan mampu beradaptasi dan mengatasi
stressor yang ada.
Keluarga merupakan salah satu sumber koping yang dibutuhkan individu
ketika mengalami stress. Hal tersebut sesuai dengan Videbeck (2008) yang
menyatakan bahwa keluarga memang merupakan salah satu sumber pendukung
yang utama dalam penyembuhan klien skizofrenia. Psikosis atau skizofrenia
adalah penyakit menakutkan dan sangat menjengkelkan yang memerlukan
penyesuaian baik bagi klien dan keluarga. Proses penyesuaian psikotik terdiri
dari empat fase: (1)disonansi kognitif (psikosis aktif), (2)pencapaian wawasan,
(3)stabilitas dalam semua aspek kehidupan (ketetapan kognitif), dan (4)bergerak
10
terhadap prestasi kerja atau tujuan pendidikan. Proses multifase penyesuaian
dapat berlangsung 3 sampai 6 tahun (Moller, 2006 dalam Stuart, 2009) :
a) Efikasi/Kemanjuran pengobatan untuk secara konsisten mengurangi gejala
dan menstabilkan disonansi kognitif setelah episode pertama memakan
waktu 6 sampai 12 bulan.
b) Awal penegenalan diri/insight sebagai proses mandiri melakukan
pemeriksaan realitas yang dapat diandalkan. Pencapaian keterampilan ini
memakan waktu 6 sampai 18 bulan dan tergantung pada keberhasilan
pengobatan dan dukungan yang berkelanjutan.
c) Setelah mencapai pengenalan diri/insight, proses pencapaian kognitif
meliputi keteguhan melanjutkan hubungan interpersoanl normal dan
reengaging dalam kegiatan yang sesuai dengan usia yang berkaitan dengan
sekolah dan bekerja. Fase ini berlangsung 1 sampai 3 tahun.
d) Ordinariness/kesiapan kembali seperti sebelum sakit ditandai dengan
kemampuan untuk secara konsisten dan dapat diandalkan dan terlibat dalam
kegiatan yang sesuai dengan usia lengkap dari kehidupan sehari-hari
mencerminkan tujuan prepsychosis. Fase ini berlangsung minimal 2 tahun.
Sumber daya keluarga, seperti pemahaman orang tua terhadap penyakit,
keuangan, ketersediaan waktu dan energi, dan kemampuan untuk
menyediakan dukungan yang berkelanjutan, mempengaruhi jalannya
penyesuaian pospsychotic.
e. Mekanisme Koping
Menurut Stuart & Laraia, 2005 dalam Stuart, 2009, pada klien
skizofrenia, klien berusaha untuk melindungi dirinya dan pengalaman yang
disebabkan oleh penyakitnya. Klien akan melakukan regresi untuk mengatasi
kecemasan yang dialaminya, melakukan proyeksi sebagai usaha untuk
menjelaskan persepsinya dan menarik diri yang berhubungan dengan masalah
membangun kepercayaan dan keasyikan terhadap pengalaman internal.
11
Pasien mengatakan :
1) Mendengar suara-suara atau kegaduhan
2) Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
3) Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu
yang berbahaya
4) Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk
kartun, melihat hantu atau monster
5) Mencium bau-bauan seperti bau darah, urin, feses,
kadang-kadang bau itu menyenangkan
6) Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses
7) Merasa takut atau senang dengan halusinasinya
Data objektif :
1) Bicara atau tertawa sendiri
2) Marah-marah tanpa sebab
3) Mengarahkan telinga ke arah tertentu
4) Menutup telinga
5) Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu
6) Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas
7) Mencium sesuatu seperti membaui bau-bauan
tertentu
8) Menutup hidung
9) Sering meludah
10) Muntah
11) Mengaruk-garuk permukaan kulit
12
B. Pohon Masalah
Resiko perilaku Kekerasan
Isolasi Sosial
Keluarga
Sp2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala halusinasi, jenis halusinasi yang dialami pasien
besertaprosesterjadinya
halusinasiJelaskan pengertian, tanda dan gejala halusinasi, jenis halusinasi yang dialami pa
sien beserta proses terjadinya halusinasi
13
Sp 4. . Membantu keluarga membuat jadwal aktivitas di rumah termasuk minum
obat(discharge planning
DAFTAR PUSTAKA
Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC, 1995
Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
Keliat BA. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri. Jakarta : FIK UI. 1999
Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino Gonohutomo,
2003
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung,
2000
14
FORMAT PENGKAJIAN KEPERAWATAN JIWA
Keterangan Genogram
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
………….………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan …………………………………………………………….……
V. PERSEPSI KESEHATAN
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan……………………………………………………………………………………………………..
2. Penilaian Nyeri
Keluhan nyeri : □ tidak □Ya, Jika ya Skor nyeri :………………/10
□ nyeri kronis: Lokasi :……………kualitas :…………….frekuenis :……….durasi :…………………
□ nyeri akut : Lokasi :……………kualitas :…………….frekuenis :……….durasi :…………………
Nyeri hilang : □ minum obat □istirahat □mendengar music □berubah
No Parameter Score
1. Apakah pasien mengalami penurunan berat badan yang tidak diinginkan dalam 6
bulan terakhir?
1-5 kg
6-10 kg
11-15 kg
>15 kg
a. Tidak
b. Ya
Total score
Bila score ≥ 2/ pasien dg diagnosis/kondisi khusus lakukan pengkajian lanjut oleh ahli gizi
Masalah keperawatan :…………………………………………………………………………………………………………..
Mandiri
Mandiri
Mandiri
Mandiri
Butuh pertolongan
Mandiri
Mandiri
Total score
Usia ≥ 50 tahun
50-79 tahun
≥ 80 tahun
Agitasi/cemas
Sering bingung
Bingung dan disorientasi
Eliminasi Mandiri untuk BAB dan BAK
Memakai kateter/astomy
Obat-obatan jantung
Dimensia /delitrium
Vertigo/hipotensi ortostatik/kelemahan
TOTAL SKOR
KATEGORI RESIKO
VIII. PSIKOSOSIAL
1. Konsep Diri
a. Citra tubuh :
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan…………..…………………………………………………..
b. Identitas diri :
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………...…………………………………………………….
Masalah Keperawatan……….….…………………………………………………..
c. Peran :
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan………………………………………………………………
d. Ideal diri :
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan…………………………..…………………………………..
e. Harga diri :
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan …………………………………….…..…………………..
2. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan :
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
b. Kegiatan ibadah :
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………….......
Masalah Keperawatan: Distress Spiritual
3. Hubungan Sosial
a. Orang yang berarti :……………………………………………………………...
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat/sekolah:
……………………………………………………………………………………
c. Hambatan dalam hubungan dengan orang lain:
……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………
2. Pembicaraan
□ Sesuai □ Cepat □ Keras □ Apatis □ Inkoheren
□ Mendominasi □ Mengancam □ Lambat □ Gagap □ Membisu
□ Tidak mampu memulai pembicaraan
Jelaskan :
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan………………………………………………………………………
3. Aktifitas motorik/perilaku
□ Normal □ Agitasi □ Konflusif □ Lesu/tidak bersemangat □ Grimasem
□ Tegang □ Gelisah □ Tremor □ Melamun/banyak diam □ Sulit diarahkan
□ TIK
Jelaskan :
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan : …………………………………………………………………....
4. Alam perasaan
□ Sesuai □ Putus asa □ Sedih □ Merasa tidak mampu
□ Marah □ Ketakutan □ Labil □ Gembira berlebihan
□ Tertekan □ Khawatir □ Malu □ Tidak berharga/berguna
Jelaskan :
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan :……………………………………………………………………..
6. Afek
□ Sesuai □ Datar □ Tumpul □ Labil □ Tidak sesuai
Jelaskan:……………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan:……………………………………………………………………
7. Persepsi
□ Halusinasi □ Pendengaran □ Penghidu □ Penglihatan □ Pengecapan
□ Perabaan
Jelaskan:……………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan:……………………………………………………………………
8. Proses pikir
□ Sesuai □ Sirkumsial □ Flight of ideas □ Pengulangan pembicaraan
□ Tangensial □ Bloking □ Kehilangan asosiasi
Jelaskan:……………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan :……………………………………………………………………
9. Isi Pikir
□ Sesuai □ Obsesi □ Fobia □ Hipokondria
□ Pikiran magis □ Ide yang terkait □ Depersonalisasi □ Agama
□ Waham □ Kebesaran □ Curiga □ Nihilistik
Jelaskan:……………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………
Masalah keperawatan:…………………………………………………………………….
10. Tingkat kesadaran
□ Compos mentis □ Apatis □ Stupor □ Bingung □ Sedasi
Disorientasi : □ Tidak □ Ya □ Waktu □ Tempat □ Orang
Jelaskan:……………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan:……………………………………………………………………
11. Memori
□ Gangguan daya ingat jangka pendek □ Gangguan daya ingat jangka pendek
□ Gangguan daya ingat saat ini □ Konfabulasi
Jelaskan:……………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
Masalah Keperawatan :…………………………………………………………………...
X. SUMBER KOPING
………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………...
Masalah Keperawatan: ……………………………………………………………………..
A. DATA FOKUS
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
...........................................................................................................................................................
B. ANALISIS DATA
NO DATA MASALAH
C. POHON MASALAH
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN CATATAN KEPERAWATAN
Nama pasien : _____________________ Diagnosis Medik : _________________
RM no : _____________________ Ruangan : _________________
Umur : __________________________________________________
DATA ..........................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
.....................................................................................................................................
Catatan Keperawatan (Nursing note)
Nama : ……………………………………….
Alamat : ……………………………………….
1. 05.00-06.00
2. 06.00-07.00
3. 07.00-08.00
4. 08.00-09.00
5. 09.00-10.00
6. 10.00-11.00
7. 11.00-12.00
8. 12.00-13.00
9. 13.00-14.00
10. 14.00-15.00
11. 15.00-16.00
12. 16.00-17.00
13. 17.00-18.00
14. 18.00-19.00
15. 19.00-20.00
16. 20.00-21.00
Keterangan:
- Tuliskan jadwal kegiatan harian pasien pada kolom kegiatan sesuai dengan aktivitas yang dijadwalkan
pada pasien
- Tuliskan tanggal pada kolom kegiatan
- Berilah kode: M = mandiri, B = bantuan, dan T = tergantung pada setiap kegiatan yang telah
dilakukan pasien pada kolom di bawah tanggal
ANALISIS PROSES INTERAKSI
Komunikasi Verbal Komunikasi non verbal Analisis berpusat pada perawat Analisis berpusat pada pasien Rasional
Komunikasi Verbal Komunikasi non verbal Analisis berpusat pada perawat Analisis berpusat pada pasien Rasional
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIAPOLTEKKES KEMENKES TANJUNGKARANG
PROGRAM STUDI STR KEPERAWATAN
TANJUNGKARANG
Bandar Lampung
[Link] Hatta No.1Hajimena Bandar
Lampug
c. Tahap 3: Krisis
Perasaan : Peningkatan kemarahan dan agresi
Perilaku : Agitasi, gerakan mengancam, menyerang
orangdisekitar, berkata kotor; berteriak
Tindakan Perawat: Lanjutkan intervensi tahap 2, dalam lipatan ruang pribadi,
hangat (tidak mengancam) konsekuensi, cobalah untuk menjaga komunikasi
Skema 2.2 Rentang Respon Marah Menurut Stuart dan Sundeen (1995 dalam
Satrio,dkk, 2015)
a. Asertif
Perilaku asertif adalah menyampaikan suatu perasaan diri dengan pasti dan
merupakan komunikasi untuk menghormati orang lain. Individu yang asertif
berbicara dengan jujur dan jelas. Mereka dapat melihat norma dari individu
lainnya dengan tepat sesuai dengan situasi. Pada saat berbicara kontak mata
langsung tapi tidak mengganggu, intonasi suara dalam berbicara tidak
mengancam. Postur tegak dan santai, kesan keseluruhan adalah bahwa
individu tersebut kuat tapi tidak mengancam. Individu yang asertif dapat
menolak permintaan yang tidak beralasan dan menyampaikan rasionalnya
kepada orang lain dan sebaliknya individu juga dapat menerima dan tidak
merasa bersalah bila permintaannya di tolak orang lain. Individu yang asertif
ingat untuk mengungkapkan kasih sayang kepada siapa saja yang dekat,
pujian diberikan sepatutnya. Permintaan masukan yang positif juga termasuk
perilaku asertif ( Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009 dalam Satrio, dkk,
2015).
b. Pasif
Individu yang pasif sering mengenyampingkan haknya dari persepsinya
terhadap hak orang lain. Ketika seseorang yang pasif marah maka dia akan
berusaha menutupi kemarahannya sehingga meningkatan tekanan pada
dirinya. Pola interaksi seperti ini dapat menyebabkan gangguan
perkembangan interpersonal (Stuart & Laraia, 2005; Stuart, 2009). Perilaku
pasif dapat diekpresikankan secara nonverbal, seseorang yang pasif biasanya
bicara pelan, sering dengan cara kekanak-kanakan dan kontak mata yang
sedikit. Individu tersebut mungkin dalam posisi membungkuk, tangan
memegang tubuh dengan dekat (Stuart, 2009 dalam Satrio, dkk, 2015).
c. Frustasi
Frustrasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan yang
kurang realistis atau hambatan dalam mencapai tujuan (Stuart & Laraia,
2005). Frustrasi adalah kegagalan individu dalam mencapai tujuan yang
diinginkan Frustrasi akan bertambah berat jika keinginan yang tidak tercapai
memiliki nilai yang tinggi dalam kehidupan (Keliat & Sinaga, 1991 dalam
Satrio, dkk, 2015).
d. Agresif
Individu yang agresif tidak menghargai hak orang lain. Individu merasa
harus bersaing untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Seseorang yang
agresif di dalam hidupnya selalu mengarah pada kekerasan fisik dan verbal.
Perilaku agresif pada dasarnya disebabkan karena menutupi kurangnya rasa
percaya diri (Bushman& Baumeister, 1998 dalam Stuart & Laraia, 2005;
Stuart, 2009). Perilaku agresif juga dapat di tunjukkan secara nonverbal,
seseorang yang agresif melanggar batas pribadi orang lain, bicaranya keras
dan lantang, biasanya kontak mata yang berlebihan dan menganggu, postur
kaku dan tampak mengancam (Stuart, 2009 dalam Satrio, dkk, 2015).
e. Amuk
Amuk atau perilaku kekerasan adalah perasaan marah dan bermusuhan yang
kuat yang disertai kehilangan kontrol diri sehingga individu dapat merusak
diri sendiri, orang lain dan lingkungan ( Keliat & Sinaga, 1991). Menurut
Stuart dan Laraia (2009) perilaku kekerasan berfluktuasi dari tingkat rendah
sampai tinggi yaitu yang disebut dengan hirarki perilaku agresif dan
kekerasan
Tindakan yang dilakukan pasien dengan masalah perilaku kekerasan dapat terjadi
dikarenakan banyak faktor, seperti paktor penyebab/predisposisi terjadinya masalah dan
faktor pencetus/presipitasi (Stuart, 2022).
Faktor presdisposisi perilaku kekerasan, ada beberapa faktor yang memicu seseorang
melakukan perilaku kekerasan, diantaranya faktor biologis, psikologis, dan sosiokultural.
1) Faktor Biologi
Teori ini merupakan Teori stimulus dari naluri dimana perilaku kekerasan terjadi
karena berhubungan dengan kebutuhan dasar seseorang. Saat adanya kebutuhan
yang harus segera dipenuhi insting seseorang akan terdorong untuk bereaksi.
b) Teori Psikomatik.
luar dan dari dalam diri seseorang. Pada kondisi ini perilaku marah yang
ditampilkan seseorang dari dalam dan dari luar individu, sehingga lymbic sistem
berperan sebagai pusat yang akan menampilkan ekspresi.
2) Faktor psikologi
Merupakan teori agresif frustasi Teori ini mengartikan adanya kemarahan dapat
terjadi sebagai reaksi menumpuknya perasaan frustast Seseorang yang memiliki
suatu keinginan, namun mengalami kesulitan atau kegagalan untuk mencapainya
akan mengalami frustasi. Kondisi frustasi akan menstimulasi seseorang untuk
menampilkan reaksi agresi disebabkan oleh rasa frustasi yang diekspresikan
melalui kemarahannya untuk menekan perasaan frustasi yang dialami
b) Behaviororal Theory
c) Existential theory
d) Neurobiologic Theories
Para peneliti telah memeriksa peran neurotransmiter dalam agresi di hewan dan
manusia, tetapi tidak dapat mengidentifikasi penyebab tunggal. Temuan
mengungkapkan bahwa serotonin memainkan peran penghambatan utama dalam
perilaku agresif, oleh karena itu, kadar serotonin yang rendah dapat menyebabkan
peningkatan perilaku agresif. Temuan ini mungkin terkait dengan serangan
kemarahan yang terlihat pada beberapa pasien dengan depresi. Selain itu,
peningkatan aktivitas dopamin dan norepinefrin dalam ota dikaitkan dengan
peningkatan perilaku kekerasan impulsif Lebih jauh kerusakan struktural pada
sistem limbik dan lobus frontal dan temporal otak dapat mengubah kemampuan
seseorang untuk memodulasi agrestin dapat menyebabkan perilaku agresif
(Victorotoff, 2017)
e) Psychososial Theories
Bayi dan balita mengekspresikan diri mereka dengan keras dan intens yang
normal untuk tahap pertumbuhan dan perkembangan ini. Temper tantrum adalah
hal yang biasa terjadi respon dari balita yang keinginannya tidak dikabulkan. Saat
seorang anak dewasa dia atau dia diharapkan untuk mengembangkan kontrol
(kemampuan impuis untuk menunda kepuasan dan perilaku yang sesua secara
sosial Hubungan positif dengan orang tua, guru, dan teman sebaya sukses di
sekolah dan kemampuan untuk menjadi bertanggung jawab atas diri sendiri
mendorong pengembangan kualitas-kualitas dikeluarga ini. Anak-anak
disfungsional dengan pengasuhan yang buruk, anak-anak yang menerima tidak
konsisten tanggapan terhadap perilaku mereka, dan anak-anak yang keluarganya
berasal dari kelas bawah status sosial ekonomi berada pada peningkatan risiko
gagal berkembang secara sosial perilaku yang sesuai. Kurangnya perkembangan
mengakibatkan ini seseorang dapat yang impulsif, mudah frustrasi, dan rentan
terhadap perilaku agresif.
Hubungan antara penolakan interpersonal dan agresi juga dapat dasar untuk
masalah jangka panjang yang mengatur dan mengelola emosi, termasuk marah
dan juga orang lain. Penolakan dapat menyebabkan kemarahan dan agresi ketika
itu penolakan menyebabkan rasa sakit atau frustrasi emosional individu, atau
merupakan ancaman bagi harga diri. Perilaku agresif dipandang sebagai sarana
untuk membangun kembali kontrol, meningkatkan suasana hati. atau mencapai
pembalasan, yang semuanya gagal mencapainya berakhir (Victorotoff, 2017).
3) Faktor sosiokultiral
Kondisi demografi pasien, seperti umur jenis kelamin, latar belakang pendidikan Riwayat
kerja, budaya, agama, keterlibatan pada kegiatan sosial dan keyakinan seseorang
merupakan faktor sosial budaya dan spiritual yang merupakan faktor penyebab yang
dapat memicu terjadinya perilaku agresif. Faktor sosial lain sepert tidak dapat membau
dan rukun dengan lingkungan tempat tinggal pasien berkontribusi memperberat kondisi
skizofrenia. Tidak berfungsinya tugas dalam keluarga, ketidak harmonisan keluarga,
masalah komunikasi dan tidak adanya kehangatan dalam keluarga miskin pujian memicu
sesorang untuk mencapai tugas perkembangannya juga menjadi penyebab masalah
gangguan jiwa khususnya resiko perilaku kekerasan (Stuart, 2013).
b. Faktor Presipitasi
Faktor pencetus atau dikenal dengan presipitasi ini berkaitan dengan dampak stimulus
yang mendorong terjadinya perilaku kekerasan bagi setiap orang. Masalah yang dialami
dapat disebabkan oleh adanya stressor internal dan eksternal. Yang merupakan stressor
eksternal adalah adanya penganiayaan, kehilangan barang/orang yang dicintai, tekanan
sosial dan tekanan lain dari luar din pasien. Sementara stressor internal pada seseorang
seperti kegagalan memperoleh keinginan, ideal diri tidak tercapa mengalami penyakit
kronis, dan kondisi internal lainnya. Lingkungan yang tidak mendudkung seperti
perbedaan status sosial tidak ada penghargaan, lingkungan dengan tindakan kekerasan
dapat menjadi pencetus perilaku kekerasan.
Penilaian terhadap stressor yang ditampilkan pasien akibat kemarahannya adalah bagian
dari reaksi pasien terhadap masalah yang dialami, karena dilakukan dengan tidak
sehat/maladaftif tentu saja dapat merugikan dirinya, orang dan lingkungan sekitarnya.
Dampak negatif ini perlu diatasi dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat
sesuai dengan masalah yang dialami pasien Penatalaksanaan perilaku kekerasan
dilakukan sesuai dengan kondisi pasien, yaitu actual dimana saat perawatan pasien
sedang melakukan perilaku kekerasan dan resiko jika ada riwayat sebelumnya pasien
melakukan kekerasan namun pasien belum memiliki kemampuan untuk
mengendalikannya, sehingga beresiko akan melakukan kembali dimasa yang akan datang
Berdasarkan pengertian ini perilaku kekerasan dilakukan oleh pasien dengan tujuan
menyakiti orang lain baik dengan cara fisik dan mental korbannya.
d. Sumber Koping
e. Mekanisme Koping
• Mengancam
• Mengumpat dengan kata-kata kasar
• Suara keras
• Bicara
DO:
C. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko Perilaku Kekerasan (D.0145)
2. Harga Diri Rendah (D.0086)
3. Perilaku Kekerasan (D.0132)
IV. Intervensi Keperawatan
Dx. Keperawatan Tujuan Intervensi
Risiko Perilaku Kontrol Diri (L.09076) Pencegahan Perilaku
Kekerasan (D.0145) Setelah dilakukan tindakan Kekerasan (I.14544)
keperawatan ... × 24 jam
diharapkan kontrol diri klien Observasi
meningkat dengan kriteria hasil:
• Monitor adanya benda
- Verbalisasi ancaman kepada
yang berpotensi
orang lain menurun
membahayakan (mis:
- Verbalisasi umpatan
benda tajam, tali)
menurun
• Monitor keamanan barang
- Suara keras menurun
yang dibawa oleh
- Bicara ketus menurun
pengunjung
- perilaku agresif menurun
• Monitor selama
- verbalisasi keinginan bunuh
penggunaan barang yang
diri menurun
dapat membahayakan (mis:
- perilaku melukai diri
pisau cukur)
sendiri/orang lain menurun
Terapeutik
• Pertahankan lingkungan
bebas dari bahaya secara
rutin
• Libatkan keluarga dalam
perawatan
Edukasi
SAK
SP1:1) Identifikasi
penyebab, tanda & gejala,
PK yang dilakukan, akibat
PK 2) Jelaskan cara
mengontrol PK: fisik, obat,
verbal, spiritual. 3) Latihan
cara mengontrol PK secara
fisik: tarik nafas dalam dan
pukul kasur dan bantal.4)
Masukan pada jadwal
kegiatan untuk latihan fisik
SP2: 1) Evaluasi kegiatan
latihan fisik, beri pujian. 2)
Latih cara mengontrol PK
dengan obat (jelaskan 6
benar: jenis, guna, dosis,
frekuensi, cara, kontinuitas
minum obat). 3) Masukan
pada jadwal kegiatan
untuk latihan fisik dan
minum obat
SP3: 1) Evaluasi kegiatan
latihan fisik dan obat, beri
pujian. 2) Latih cara
mengontrol PK secara verbal
3 cara yaitu:
mengungkapkan,meminta,
menolak dengan benar)
3)Memasukan pada
jadwal
kegiatan untuk latihan fisik,
minum obat dan verbal
SP4: 1) Evaluasi kegiatan
latihan fisik & obat & verbal,
beri pujian. 2) Latih cara
mengontrol spiritual (2
kegiatan). 3) Masukan pada
jadwal kegiatan untuk
latihan fisik, minum obat,
verbal dan spiritual
Harga Diri Rendah Harga Diri (L.09069) 1. Manajemen Perilaku
Kronis (D.0086) Setelah dilakukan tindakan ( I.12463)
keperawatan ... × 24 jam
Observasi
diharapkan klien memiliki
kemampuan yang meningkat • Identifikasi harapan untuk
dengan kriteria hasil: mengendalikan perilaku
- Penilaian diri positif
meningkat Terapeutik
- Perasaan memiliki kelebihan
• Diskusikan tanggung
atau kemampuan positif
jawab terhadap perilaku
meningkat
• Jadwalkan kegiatan
- penerimaan penilaian positif
terstruktur
terhadap diri sendiri
• Ciptakan dan pertahankan
meningkat
lingkungan dan kegiatan
- minat mencoba hal baru
perawatan konsisten setiap
meningkat
dinas
- berja;an menampakkan
• Tingkatkan aktivitas fisik
wajah meningkat
sesuai kemampuan
- postur tubuh menampakkan
• Batasi jumlah pengunjung
wajah meningkat
• Bicara dengan nada rendah
- konstetrasi meningkat
dan tenang
- tidur meningkat
• Lakukan kegiatan
- kontak mata meningkat
pengalihan terhadap
- percaya diri berbicara
sumber agitasi
meningkat
• Cegah perilaku pasif dan
- perasaan malu menurun
agresif
- perasaan bersalah menurun
• Beri penguatan positif
- perasaan tidak mampu
terhadap keberhasilan
melakukan apapun
mengendalikan perilaku
meningkat
• Lakukan pengekangan fisik
sesuai indikasi
• Hindari bersikap
menyudutkan dan
menghentikan pembicaraan
• Hindari sikap mengancam
atau berdebat
• Hindari berdebat atau
menawar batas perilaku
yang telah ditetapkan
Edukasi
• Informasikan keluarga
bahwa keluarga sebagai
dasar pembentukan
kognitif
SAK
SP1: 1) Identifikasi
penyebab, tanda dan gejala
serta akibat perilaku
kekerasan. 2)latih cara fisik:
tarik nafas dalam. 3)
Masukkan dalam jadwal
harian
SP2: 1) evaluasi kegiatan
yang lalu (SP1). 2) latih cara
fisik: pukul kasur/bantal. 3)
masukkan dalam jadwal
harian
SP3: 1) evaluasi kegiatan
yang lalu (SP1 dan SP2). 2)
latih secara sosial/verbal. 4)
menolak dengan baik. 5)
meminta dengan baik. 6)
mengungkapkan dengan baik,
7)masukkan dalam jadwal
harian
SP4:1) Evaluasi kegiatan
yang lalu (SP1,2,3). 2) Latih
secara spiritual (berdoa dan
beribadah). 3)masukkan
dalam jadwal harian
SP5: 1) evaluasi kegiatan
yang lalu (SP1.2.3.4). 2)
Latih patuh obat
- minum obat secara teratur
dengan prinsip 5B
- susun jadwal minum obat
secara teratur
3) masukkan dalam jadwal
harian pasien
V. Daftar Puataka
I. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien :-
2. Diagnosa Keperawatan : -
3. Tujuan Keperawatan : Klien mampu mengidentifikasi masalah yang di alami
4. Tindakan Keperawatan : Mengajarkan klien untuk mengidentifikasi masalah yang di
alami
2. Fase Kerja
Baik Bapak, boleh saya tahu apa yang Bapak rasakan saat ini? Apakah Bapak ingin
pulang ke rumah? Kapan terakhir kali Bapak dijenguk oleh keluarga? Bapak Anak
keberapa dari berapa bersaudara? Apakah Bapak sudah berkeluarga atau masih
bekerja/sekolah? Asalnya dari mana dan tinggal dengan siapa? Lalu, apa keinginan
Bapak setelah keluar dari rumah sakit ini? Sudah berapa lama dirawat di sini? Apakah
benar Bapak dirawat karena sering mendengar suara-suara seperti bisikan yang tidak
didengar orang lain? Sudah berapa lama suara itu muncul? Apakah suara itu
menyuruh melakukan sesuatu atau membuat Bapak merasa takut, marah, atau curiga
kepada orang lain? Apakah Bapak merasa ada yang ingin mencelakai? Apakah Bapak
merasa memiliki kemampuan khusus? Apakah Bapak pernah merasa ingin menyakiti
diri sendiri atau merasa hidup tidak berarti? Selama di sini, aktivitas apa saja yang
biasa dilakukan Bapak? Apakah Bapak mampu merawat diri sendiri seperti mandi
dan makan? Apakah Bapak merasa sedih selama di rumah sakit ini atau merasa
kesepian? Apakah Bapak memiliki teman ngobrol di sini atau merasa dijauhi? Lalu,
mengapa Bapak merasa tidak percaya diri? Apakah pernah merasa gagal atau tidak
berharga? Dan terakhir, apa harapan Bapak untuk ke depannya?
3. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang dengan saya ? apakah bapak
merasa lebih baik ? apakah bapak bisa menyebutkan kembali apa yang sudah kita
diskusikan tadi ? iya benar sekali, bapak hebat bisa menjelaskan ulang apa yang
sudah kita diskusikan tadi.