0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Model Pembelajaran Problem Solving Efektif

Diunggah oleh

yayangnuri5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Model Pembelajaran Problem Solving Efektif

Diunggah oleh

yayangnuri5
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING BERBASIS

MASALAH DAN PEMBELAJARAN LANGSUNG


MAKALAH
Diajukan guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Model-Model
Pembelajaran Dosen pengampu Dr. Asep Ganjar Sukarelawan, [Link]., [Link]. I

Disusun Oleh Kelompok 3 :

M Syarif Habibi 20220110065⁠

Maulana Rizal Fahira 20220110010

Syipa Nurul A 20220110024

Nuriyatul Faridah 20220110020

Salsabil Sahla Nabila 20220110023

Naufal Fakhrudin 20220110059

Hamdan Rahmat Ramadhan 20220110015

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SEBELAS APRIL

SUMEDANG

2024
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan


rahmatdan inayah-Nya sehinga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Model Pembelajaran Problem Solving Berbaris Masalah Pembelajaran Langsung.
Terima kasih kami ucapkan kepada bapak/ibu dosen yang telah membantu
kami baik secara moral maupun materi. Terima kasih juga kami ucapkan kepada
teman-teman seperjuangan yang telah mendukung saya sehingga kami bisa
menyelesaikan tugas ini.
Kami menyadari, bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna baik
segi penyusunan, Bahasa, maupun penulisannya. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca guna
menjadi acuan agar penulis bisa menjadi lebih baik lagi di masa mendatang.
Semoga makalah ini bisa menambah wawasan para pembaca dan bisa
bermanfaat untuk perkembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan.

Sumedang, April 2024

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... ii


DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Problem Solving Berbasis Masalah ..................................................... 3
B. Model Pembelajaran Langsung ............................................................ 6
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Model pembelajaran berbasis masalah terbukti efektif meningkatkan hasil
belajar dan keterampilan berpikir kritis mahasiswa pada bidang studi kimia, baik
mata pelajaran kimia dan sains di sekolah menengah maupun mata kuliah bidang
studi kimia di perguruan tinggi (Yuzhi, 2003; Redhana & Ngadiran, 2006; Redhana
& Simamora, 2008). Redhana (2009) serta Redhana dan Sudiatmika (2010) telah
menggabungkan penggunaan model pembelajaran berbasis masalah dan pertanyaan
Socratik untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Hasil-hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran berbasis masalah
dan pertanyaan Socratik sangat efektik meningkatkan keterampilan berpikir kritis
siswa. Hasil-hasil yang sejalan juga ditemukan pada bidang studi lainnya, seperti:
farmasi (Cisneros, Salisbury-Glennon, & Anderson-Harper, 2002); medis (Barrow,
1996; Yalcin, dkk., 2006); matematika (Akino lu & Tando an, 2007); biologi (Zohar,
1994; Ommundsen, 2001); fisika (Hamid, 2010); dan sains (Anshori & Munasir,
2010). Namun, penerapan model pembelajaran berbasis masalah pada mata kuliah
non-bidang studi, seperti mata kuliah pendidikan, belum pernah diteliti.
Dengan mengambil asumsi bahwa model pembelajaran berbasis masalah
mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah
mahasiswa pada semua bidang, seyogyanya model pembelajaran ini juga efektif
meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah mahasiswa pada
mata kuliah Pengantar Pendidikan. Dengan demikian, tujuan dari penelitian ini
adalah untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan berpikir kritis
mahasiswa pada mata kuliah Pengantar Pendidikan melalui penerapan model
pembelajaran berbasis masalah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan problem solving berbasis masalah ?
2. Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran langsung ?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui problem solving berbasis masalah.
2. Untuk mengetahui model pembelajaran langsung.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Problem Solving Berbasis Masalah
1. Pengertian
Menurut Marzano dkk. (1988) Problem Solving adalah salah satu bagian
dari proses berpikir, yang berupa kemampuan untuk memecahkan persoalan.
Terminologi problem solving digunakan secara ekstensif mendeksripsikan
“semua bentuk dari kesadaran/ pengertian/kognisi". Anderson (1983) misalnya
dikutip Marzano dik. (1988) sebagai mengklasifikasikan semua perilaku yang
diarahkan kepada tujuan (yang disadari atau tidak disadari) sebagai problem
solving. Jika Wickelgren (1974) mendefinisikan problem solving sebagai upaya
untuk mencapai tujuan khusus, maka Van Dijk dan Kintsch (1983) dikutip
Marzano dkk.
(1988) menyatakan bahwa problem solving terjadi bila pencapaian tujuan tertentu
mensyaratkan kinerja dan langkah-langkah mental tertentu.
Bagi Palumbo (1990) problem solving adalah fungsi dari cara bagaimana
stimulus tertentu menjadi in-put melalui sistem sensori ingatan, diproses, dan
dikoding melalui memori kerja (working memory/short term memory) dan
disimpan bersama asosiasi-asosiast dan peristiwa-peristiwa (histories) yang
sekeluarga dalam memori jangka panjang (Long Term Memory).
Girl dkk (2002) menyatakan bahwa pemecahan masalah adalah proses yang
melibatkan penerapan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan untuk
mencapai tujuan. Sedang menurut Gagne & Briggs (1979) unjuk kerja
pemecahan masalah ita berupa penciptaan dan penggunaan aturan yang kompleks
dan lebih tinggi tingkatannya, untuk mencapal solusi masalah. Dalam pemecahan
masalah pembelajar harus merecall/ mengundang kembali aturan-aturan yang
lebih rendah (subordinate) maupun informansi informasi yang relevan, yang
diasumsikan telah dipelajari sebelumnya. Ketika aturan yang lebih tingg
tingkatannya telah diperoleh, maka pembelajar sangat dimungkinkan akan
menggunakannya dalam situasi yang secara fisik berbeda namun secara formal
mirip Dengan perkataan lain, aturan baru yang lebit kompleks yang telah
diperoleh itu akan memungkinkan terjadinya transfer belajar.
Problem Solving atau pemecahan masalah merupakan suatu proses yang
mengarahkan atau melatih siswa untuk mampu memecahkan masalah dalam
bidang ilmu yang dipelajarinya Dengan pembelajaran Problem Solving, siswa
akan mampu memecahkan masalah sesuai dengan kenyataan yang ada di
lingkungan siswa dengan mengkontrusikan pengetahuan awal siswa dengan
pengetahuan baru yang ditemukan secara berkelompok (Hendrawan, 2013:2).
Model pembelajaran problem solving adalah model pembelajaran yang
mengutamakan pemecahan masalah dalam kegiatan belajar untuk memperkuat
daya nalar yang digunakan oleh peserta didik agar mendapatkan pemahaman
yang lebih mendasar dari materi yang disampaikan. Seperti yang diungkapkan

3
Pepkin (dalam Shoimin, 2017, hIm. 135) bahwa metode problem solving adalah
suatu model pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan
keterampilan pemecahan masalah yang diikuti dengan penguatan keterampilan.
Problem solving dalam pembelajaran memegang peranan yang sangat
penting. Mengapa? Karena dengan mengetahui masalahnya, pembelajaran akan
merekat jauh lebih dalam dan tidak mudah untuk dilupakan. Dampaknya hampir
sama dengan pembelajaran kontekstual, karena pada akhirnya masalah adalah hal
sehari-hari yang akan ditemui oleh siswa.
Sementara itu Purwanto (dalam Chotimah & Fathurrohman, 2018, hIm.
280-281) berpendapat bahwa model pembelajaran problem solving adalah suatu
proses dengan menggunakan strategi, cara, atau teknik tertentu untuk
menghadapi situasi baru, agar keadaan tersebut dapat dilalui sesuai keinginan
yang ditetapkan.
Model ini sering disebut sebagai metode pula karena boleh dibilang
merupakan salah satu penerapan problem based learning (PBL) yang sudah
memiliki langkah-langkah konkret. Namun, dibalik itu metode ini juga cukup
dinamis untuk dimodifikasi dan disesuaikan dengan keadaan siswa atau sekolah.
Karena sifatnya dinamis, terdapat berbagai turunan dari model ini, misanya
model pembelajaran creative problem solving.
Menurut Murray, Hanlie, (dalam Huda, 2015, him. 273) model
pembelajaran problem solving merupakan salah satu dasar teoretis dari berbagai
strategi pembelajaran yang menjadikan masalah (problem) sebagai isu utamanya.
Jadi, istilah pemecahan masalah secara umum dapat diartikan sebagai
proses untuk menyelesaikan masalah yang ada. Sebagai terjemahan dari istilah
problem solving, istilah pemecahan masalah dalam bahasa Indonesia bermakna
ganda yaitu proses memecahkan masalah itu sendiri dan hasil dari upaya
memecahkan masalah yang dalam Bahasa Inggris disebut dengan solution atau
solusi.
2. Langkah-Langkah Pelaksanaan
Pada langkah pemecahan masalah menurut John Dewey, terdapat kesaman
pada langkah pemecahan masalah menurut Polya. Adapun langkah pemecahan
masalah menurut John Dewey sebagai berikut:
1) Mengenali masalah
2) Mendefinisikan masalah
3) Mengembangkan beberapa solusi yang mungkin,
4) Menguji beberapa ide
5) Mengambil hipotesis terbaik.
Sedangkan pada langkah pemecahan masalah menurut Polya sebagai
berikut :
1) Memahami masalah
2) Menyusun rencana pemecahan masalah
3) Melaksanakan rencana
4) Memeriksa kembali.

4
Masing-masing dari setiap langkah memiliki kesamaan, hanya saja pada
langkah ketiga pada John Dewey yaitu mengembangkan beberapa solusi yang
mungkin. Langkah ini yang berbeda dengan langkah pada Polya yaitu menyusun
rencana. Pada langkah ketiga mengembangkan beberapa solusi, sedangkan pada
langkah Polya, siswa cukup memiliki rencana untuk menyelesaikan permasalahan.
Hal ini yang mendasari perbedaan antara John Dewey dan Polya mengenai langkah
pemecahan masalah.
Menurut Majid (2015:213) langkah-langkah dalam penggunaan model
pembelajaran Problem Solving adalah sebagai berikut:
1) Menyiapkan isu atau masalah yang jelas untuk dipecahkan,
2) Menuliskan tujuan atau kompetensi yang hendak dicapai
3) Mencari data atau keterangan yan dapat digunakan untuk
memecahkan masalah tersebut
4) Menetapkan jawaban sementara tersebut. Dalam langkah ini, siswa
harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin
bahwa jawaban tersebut benar-benar cocok dengan jawaban
sementara atau sama sekali tidak sesuai
5) Mempresentasikan jawaban dari masing-masing kelompok
6) Menarik kesimpulan.
3. Tujuan
Dalam metode pembelajaran problem solving pembelajaran tidak hanya
difokuskan dalam upaya mendapatkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Justru
bagaimana menggunakan segenap pengetahuan yang didapat tersebut adalah
fokusnya. Beberapa tujuan dari pembelajaran problem solving adalah sebagai
berikut :
 Peserta didik menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan
kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya
 Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hasil intrinsik
bagi peserta didik
 Peserta didik belajar bagaimana melakukan penemuan dengan
melalui proses melakukan penemuan
 Potensi intelektual peserta didik meningkat
4. Keunggulan dan Kekurangan
- Keunggulan
Secara umum salah satu kelebihan dari model pembelajaran problem
meningkatnya daya kritis siswa dalam pembelajaran. Selain itu, kelebihan
dari model pembelajaran problem solving adalah sebagai berikut :
a) Membuat peserta didik lebih menghayati pembelajaran berdasarkan
kehidupan sehari-hari
b) Melatih dan membiasakan para peserta didik untuk menghadapi dan
memecahkan masalah secara terampil
c) Dapat mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik secara
kreatif

5
d) Peserta didik sudah mulai dilatih untuk memecahkan masalahnya
dari semenjak sekolah (sebelum memasuki kehidupan nyata)
e) Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan
f) Membuat peserta didik berpikir dan bertindak kreatif
g) Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
h) Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan
kehidupan, khususnya dunia kerja
i) Merangsang perkembangan kemajuan berpikir siswa untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan cara yang tepat
j) Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan
k) Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
- Kekurangan
Model Pembelajaran problem solving memiliki kelemahan/ kekurangan,
yaitu :
a) Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,
maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba
b) Keberhasilan strategi pembelajaran problem solving membutuhkan
cukup waktu untuk persiapan
c) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan
masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa
yang mereka ingin dipelajari.
B. Model Pembelajaran Langsung
1. Pengertian
Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) merupakan salah satu
model pengajaran yang dirancang khusus untuk mengembangkan belajar siswa
tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan
baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah (Sofan Amri & lif Khoiru
Ahmadi, 2010:39). Yang dimaksud dengan pengetahuan deklaratif (dapat
diungkapkan dengan kata-kata) adalah pengetahuan tentang sesuatu. Sedangkan
pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Model pembelajaran langsung mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Adanya tujuan pembelajaran dan pengaruh model pada siswa
termasuk prosedur penilaian belajar
2) Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran
3) Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar model yang diperlukan
agar kegiatan pembelajaran tertentu dapat berlangsung dengan
berhasil. (dalam Kardi & Nur, 2000:3)
Arends dalam Sugiarto (2008:49), mengatakan: "Model pembelajaran
langsung dikembangkan secara khusus untuk meningkatkan proses pembelajaran
para siswa terutama dalam hal memahami sesuatu (pengetahuan) dan
menjelaskannya secara utuh sesuai pengetahuan procedural dan pengetahuan
deklaratif yang diajarkan secara bertahap"

6
Menurut teori belajar sosial Albert Bandura dalam Woollfolk (1995:221)
bahwa seseorang dapat mudah belajar melalui pengamatan dan meniru perilaku
orang lain atau modeling. Berdasarkan teori tersebut, agar keterampilan
pengambilan keputusan dapat dikuasai siswa maka perlu ada contoh nyata melalui
pemodelan. Salah satu ciri-ciri model pembelajaran langsung adalah adanya
pemodelan atau pendemonstrasian tentang materi yang bersifat prosedural yang
dilakukan oleh guru dan ditunjukkan kepada siswa. Pendemonstrasian tentang
pengetahuan prosedural dilakukan oleh guru di awal pembelajaran.
Pendemonstrasian ini dapat berupa pendemonstrasian langkah-langkah
belajar yang bersifat prosedural untuk memecahkan suatu masalah, sehingga
pendemonstrasian dapat mempengaruhi minat belajar siswa, meningkatkan rasa
ingin tahu siswa, memancing siswa untuk belajar berpikir, belajar menyelesaikan
masalah dengan mengambil keputusan yang benar serta terlibat langsung dalam
proses pembelajaran.
2. Tahapan atau Fase Model Pembelajaran Langsung
Menurut Sofan Amri dan lif Khoiru (2010, 43-47) Model pembelajaran
langsung memiliki lima fase yan sangat penting. Kelima fase dalam pengajaran
langsun dapat dijelaskan secara detail seperti berikut :
- Menyampaikan Tujuan dan Mempersiapkan Siswa
a) Menjelaskan tujuan
Para siswa perlu mengetahui dengan jelas mengapa mereka
berpartisipasi dalam suat pelajaran tertentu, dan mereka perh mengetahui
apa yang harus dapat mereka lakukan setelah selesai berperan serta dalam
pelajaran itu. Guru mengkomunikasikan tujuan tersebut kepada siswa-
siswanya melalui rangkuman rencana pembelajaran dengan cara
menuliskannya di papan tulis, atau menempelkan informasi tertulis pada
papan bulletin, yang berisi tahap-tahap dan isinya, serta alokasi waktu yang
disediakan untuk setiap tahap. Dengan demikian siswa dapat melihat
keseluruhan alur tahap pelajaran dan hubungan antar tahap-tahap pelajaran
itu.
b) Menyiapkan Siswa
Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian siswa, memusatkan
perhatian siswa pada pokok pembicaraan, dan mengingatkan kembali pada
hasil belajar yang telah dimilikinya, yang relevan dengan pokok
pembicaraan yang akan dipelajari. Tujuan ini dapat dicapai dengan jalan
mengulang pokok-pokok pelajaran yang lalu, atau memberikan sejumlah
pertanyaan kepada siswa tentang pokok-pokok pelajaran yang lalu, atau
memberikan sejumlah pertanyaan kepada siswa tentang pokok-pokok
pelajaran yang lalu.
- Mendemonstrasikan Pengetahuan Atau Keterampilan
a) Menyampaikan informasi dengan jelas
Kejelasan informasi atau presentasi yang diberikan guru kepada
siswa dapat dicapai melalui perencanaan dan pengorganisasian

7
pembelajaran yang baik. Dalam melakukan presentasi, guru harus
menganalisis keterampilan yang kompleks menjadi keterampilan yang
lebih sederhana dan dipresentasikan dalam langkah-langkah kecil
selangkah demi selangkah.
b) Melakukan demonstrasi
Pengajaran langsung berpegang teguh pada asumsi bahwa sebagian
besar yang dipelajari berasal dari pengamatan terhadap orang lain.
Mendemonstrasikan suatu keterampilan atau konsep dengan agar
berhasil, guru perlu sepenuhnya menguasai konsep atau keterampilan
yang akan didemonstrasikan, dan berlatih melakukan demonstrasi untuk
menguasai komponen-komponennya.
- Menyediakan Latihan Terbimbing
Salah satu tahap penting dalam pengajara langsung adalah cara guru
mempersiapkan dar melaksanakan "pelatihan terbimbing". Keterlibatal siswa
secara aktif dalam pelatihan dapat meningkatkan retensi, membuat belajar
berlangsung dengan lancar, dan memungkinkan siswa menerapkan konsep/
keterampilan pada situasi yang baru.
- Menganalisis Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik
Pada pengajaran langsung, fase ini mirip dengan apa yang kadang-kadang
disebut resitasi atau umpan balik. Guru dapat menggunakan berbagai cara
untuk memberikan umpan balik kepada siswa.
- Memberikan Kesempatan Latihan Mandiri
Kebanyakan latihan mandiri yang diberikan kepada siswa sebagai fase akhir
pelajaran pada pengajaran Pekerjaan rumah atau berlatih secara mandiri,
merupakan kesempatan bagi siswa untuk menerapkan keterampilan baru
yang diperolehnya secara mandiri.
3. Strategi Pembelajaran Langsung
Strategi pembelajaran langsung dirancang untuk mengenalkan siswa
terhadap mata pelajaran guna membangun minat, menimbulkan rasa ingin tahu, dan
merangsang mereka berpikir. Siswa tidak bisa berbuat apa-apa jika pikiran mereka
dikembangkan oleh guru. Banyak guru yang membuat kesalahan dengan mengajar,
yakni sebelum siswa merasa terlibat dan siap secara mental guru langsung
memberikan materi pelajaran.
Menurut Silbernam (dalam Suryati dkk, 2008:35), strategi pembelajaran
langsung melalui berbagai pengetahuan secara aktif merupakan cara untuk
mengenalkan siswa kepada materi pelajaran yang akan diajarkan. Guru juga dapat
menggunakannya untuk menilai tingkat pengetahuan siswa sambil melakukan
kegiatan pembentukan tim. Cara ini cocok pada segala ukuran kelas dengan materi
pelajaran apapun.
4. Keunggulan dan Keterbatasan Model Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction)
- Keunggulan Model Pembelajaran Langsung, adalah:
 Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun kecil

8
 Dapat digunakan untuk menekankan kesulitan-kesulitan yang
mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal tersebut dapat diungkapkan
 Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan
keterampilan keterampilan
 Ceramah merupakan cara yang bermanfaat untuk menyampaikan
informasi kepada siswa yang suka membaca atau yang tidak memiliki
keterampilan dalam menyusun dan menafsirkan informasi
 Ceramah dapat bermanfaat untuk menyampaikan pengetahuan yang
tidak tersedia secara langsung bagi siswa, termasuk contoh-contoh
yang relevan dan hasil-hasil penelitian terkini
 Secara umum, ceramah adalah cara yang paling memungkinkan untuk
menciptakan lingkungan yang tidak mengancam dan bebas stress bagi
siswa. Para siswa yang pemalu, tidak percaya diri, dan tidak memiliki
pengetahuan yang cukup tidak merasa dipaksa dan berpartisipasi dan
dipermalukan
 Model pembelajaran langsung dapat digunakan untuk membangun
model pembelajaran dalam bidang studi tertentu. Guru dapat
menunjukkan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati,
bagaimana informasi dianalisis, dan bagaimana suatu pengetahuan
dihasilkan
 Pengajaran yang eksplisit membekali siswa dengan "cara-cara
displiner dalam memandang dunia (dan) dengan menggunakan
perspektif-perspektif alternatif" yang menyadarkan siswa akan
keterbatasan perspektif yang inheren dalam pemikiran sehari-hari
 Model pembelajaran langsung yang menekankan kegiatan mendengar
(misanya ceramah) dan mengamati (misalnya demonstrasi) dapat
membantu siswa yang cocok belajar dengan cara cara ini
 Model pembelajaran langsung (terutama demonstrasi) dapat memberi
siswa tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan yang terdapat
diantara teori (yang seharusnya terjadi) dan observasi (kenyataan
yang mereka lihat).
 Demonstrasi memungkinkan siswa untuk berkonsentrasi pada hasil-
hasil dari suatu tugas dan bukan teknik-teknik dalam
menghasilkannya. Hal ini penting terutama jika siswa tidak memiliki
kepercayaan diri atau keterampilan dalam melakukan tugas tersebut
 Siswa yang tidak dapat mengarahkan diri sendiri dapat tetap
berprestasi apabila model pembelajaran langsung digunakan secara
efektif
 Model pembelajaran langsung bergantung pada kemampuan refleksi
guru sehingga guru dapat terus menerus mengevaluasi dan
memperbaikinya.

9
- Kekurangan dari Model Pembelajaran Langsung, adalah :
 Model pembelajaran langsung bersandar pada mengasimilasikan
mengamati, dan mencatat. Karena tidak semua siswa memiliki keterampilan
dalam hal-hal tersebut, guru masih harus mengajarkannya kepada siswa
 Dalam model pembelajaran langsung ini sulit mengatasi perbedaan dalam
hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat pembelajaran dan pemahaman,
gaya belajar, atau ketertarikan siswa
 Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlihat secara aktif,
sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan interpersonal mereka
 Karena guru merupakan pusat dalam cara penyampaian ini, maka
kesuksesan pembelajaran ini bergantung pada guru. Jika guru tidak tampak
siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias dan terstruktur, siswa dapat
menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pembelajaran akan terhambat
 Terdapat beberapa bukti penelitian bahwa tingkat struktur dan kendali guru
yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran, yang menjadi karakteristik model
pembelajaran langsung, dapat berdampak negatif terhadap kemampuan
penyelesaian masalah, kemandirian, dan keingin tahuan siswa
 Model pembelajaran langsung sangat bergantung pada gaya komunikasi
guru. Komunikator yang buruk cenderung menghasilkan pembelajaran yang
buruk pula
 Jika materi yang disampaikan bersifat kompleks, rinci, atau abstrak, model
pembelajaran langsung mungkin tidak dapat memberi siswa kesempatan
yang cukup untuk memproses dan memahami informasi yang disampaikan
 Jika model pembelajaran langsung tidak banyak melibatkan siswa, siswa
akan kehilangan perhatian setelah 10-15 menit dan hanya akan sedikit
mengingat sedkit isi materi yang disampaikan
 Jika terlalu sering digunakan, model pembelajaran langsung akan membuat
siswa percaya bahwa guru akan memberi tahu mereka semua yang perlu
mereka ketahui. Hal ini akan menghilangkan rasa tanggung jawab mengenai
pembelajaran mereka sendiri
 Karena model pembelajaran langsung melibatkan banyak komunikasi satu
arah, guru sulit untuk mendapatkan umpan balik mengenai pemahaman
siswa. Hal ini dapat membuat siswa tidak paham atau salah paham
 Demonstrasi sangat bergantung pada keterampilan pengamatan siswa.
Sayangnya, banyak siswa bukanlah merupakan pengamat yang baik
sehingga dapat melewatkan hal-hal yang dimaksudkan oleh guru. Akhmad
Sudrajad. (dalam Depdiknas, 2009).
Kekurangan tersebut dapat disiasati oleh guru dengan cara guru harus siap,
berpengetahuan, percaya diri, antusias dan terstruktur dalam ceramah dan
demonstrasi sehingga kekurangan tersebut dapat diatasi oleh guru dalam
pembelajaran.

10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan tentang model pembelajaran problem solving berbasis masalah
dan pembelajaran langsung menunjukkan bahwa model ini merupakan pendekatan
yang sangat relevan dan efektif dalam konteks pendidikan modern. Berikut adalah
beberapa kesimpulan utama:
1. Pentingnya Keterampilan Berpikir Kritis: Model ini menekankan pentingnya
pengembangan keterampilan berpikir kritis dan analitis melalui pemecahan
masalah langsung. Siswa diajak untuk aktif terlibat dalam mengidentifikasi,
menganalisis, dan menyelesaikan masalah nyata, yang membantu mereka
mengasah keterampilan berpikir yang penting untuk sukses di dunia nyata.
2. Keterlibatan Aktif Siswa: Model ini menempatkan siswa sebagai subjek aktif
dalam pembelajaran, bukan sebagai penerima pasif informasi. Dengan
terlibat langsung dalam pemecahan masalah, siswa dapat mengembangkan
pemahaman yang lebih mendalam tentang materi pelajaran dan memperoleh
keterampilan praktis yang relevan.
3. Pembelajaran Berarti dan Kontekstual: Melalui pembelajaran langsung dan
berbasis masalah, siswa dapat membuat koneksi yang lebih kuat antara
konsep-konsep yang dipelajari dengan konteks kehidupan nyata. Hal ini
membuat pembelajaran lebih bermakna bagi mereka dan meningkatkan
retensi informasi.
4. Persiapan untuk Tantangan Dunia Nyata: Model ini membantu siswa
mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dunia nyata dengan
memberikan pengalaman langsung dalam menangani masalah-masalah
kompleks. Mereka belajar bagaimana beradaptasi, bekerja sama, dan mencari
solusi kreatif untuk masalah yang mereka hadapi.
5. Integrasi Teknologi: Dengan kemajuan teknologi, model ini dapat
ditingkatkan melalui integrasi berbagai alat dan platform teknologi yang
mendukung pembelajaran interaktif dan berbasis masalah. Hal ini
memungkinkan penggunaan simulasi, permainan pembelajaran, dan platform
online untuk memperkaya pengalaman belajar siswa.
Secara keseluruhan, model pembelajaran problem solving berbasis masalah dan
pembelajaran langsung menawarkan pendekatan yang holistik dan efektif dalam
membantu siswa mengembangkan keterampilan dan pemahaman yang mereka
butuhkan untuk berhasil di dunia yang terus berubah dan kompleks.

11
DAFTAR PUSTAKA

Redhana Wayan. (April 2013) Model Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk


Peningkatan Keterampilan Pemecahan Masalah Dan Berfikir Kritis. Jurnal
Pendidikan dan Pengajaran.

Korf Joshua (Juli 2018) Pembelajaran Berbasis Masalah Dan Intruksi Langsung.
Jurnal Pendidikan

Sukarelawan, Asep Ganjar; Qomusuddin, Ivan Fanani. (Februari 2022). Model


Model Pembelajaran. Sukabumi: Farha Pustaka.

12

Anda mungkin juga menyukai