SISTEM PELAKSANAAN PEDOMAN HIDUP ISLAMI
(PHI)
Dalam pelaksanaan pedoman ini terdiri dari beberapa hal
yaitu:
A. Subjek PHI adalah seluruh pendidik, tenaga
kependidikan, siswa, dan siswi SMA dan Pondok
Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan dan Kota
Metro
B. Tempat pelaksanaan PHI adalah seluruh tempat di atas
bumi
C. Waktu pelaksanaan PHI selama 24 jam dari Senin-Ahad
selama 365 hari dalam 1 tahun
D. Penanggungjawab pelaksanaan PHI bidang Ismuba SMA
Muhammadiyah Ahmad Dahlan dan orang tua wali.
E. Pendamping dan teladan pelaksanaan adalah seluruh
pendidik dan tenaga kependidikan di SMA dan Pondok
Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan dan seluruh
orang tua wali.
ADAB KESEHARIAN
A. ADAB SEHARI-HARI
Adab sehari-hari menurut sunnah Nabi Muhammad saw,
antara lain:
1. Niatkan semua perbuatan kita hanya untuk
beribadah kepada Allah swr dan hanya mengharap
ridho dan pahala-Nya.
2. Berangkat dari rumah atau pondok menuju sekolah
dengan berpasrah diri kepada Allah swt dengan
mengucapkan doa
ِبْس اللِه َتَوَّكْلُت َعَلى اللِه اَل َح ْوَل َواَل ُقَّوَة ِإاَّل
ِم
ِباللِه
“Dengan nama Allah, saya berserah diri kepada
Allah, tiada daya dan tiada upaya melainkan dengan
pertolongan Allah semata” (HR. At-Tirmidzi dari Anas
bin Malik ra.)
3. Tradisikan sunnah Nabi saw dengan menebar
senyum, salam, apa, dan bersipak sopan dan santun
4. Menghidupkan ukhuwwah islamiyah dengan saling
tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan,
saling menasehari dengan benar dan penuh
kesabaran, dan saling menjaga keselamatan dan
kehormatan masing-masing. Jika perlu, menawarkan
bantuan yang bisa diberikan untuk meringankan
beban dan menyenangkan hati saudara kita.
5. Berkata yang baik dan benar, bersikap amanah dan
dapat dipercaya, ramah dan supel dalam bergaul,
namun tetap menjaga kehormatan dan kesopanan
sebagai pribadi muslim dan muslimah. Tidak
memperlihatkan perhiasan dan keindahan anggota
tubuhnya, yakni dengan berbusana
muslim/muslimah yang sesuai syariat.
6. Menjaga kebersihan, penampilan, dan keharuman
anggota badan, pakaian, lingkungan, membuang
sampah pada tempatnya dan tidak merokok.
B. ADAB DI KELAS
1. Datang di kelas sebelum waktu yang ditentukan, dan
sebelum ustadz/ustadzah masuk ruang kelas
2. Duduklah dengan sopan di tempat duduk masing-
masing
3. Luruskan niat karena Allah dan berdoalah sebelum
belajar
4. Akhirilah belajar dengan berdoa
C. ADAB MAKAN DAN MINUM
1. Mencuci tangan sebelum makan/minum
2. Tidak mencela makanan bila tidak sesuai selera
3. Memakan makanan dan minuman yang halal dan
thayyib (baik)
4. Mengambil makan secukupnya, jangan berlebih-
lebihan dan jangan membuang makanan (mubadzir)
5. Berdoa sebelum makan dengan mengucapkan
Bismillahirrahmanirrahim
6. Mengambil dan makan dengan tangan kanan
7. Mengambil makanan yangterdekat
8. Makan dan minum sambil duduk
9. Akhiri dengan Alhamdulillahirabbil’alamin dan berdoa
D. ADAB TIDUR
1. Berisitirahatlah di awal malam dan jauhi begadang
2. Bersucilah sebelum tidur
3. Bacalah doa sebelum tidur
4. Bersyukurlah saat bangun tidur dengan membaca
doa
5. Rapikan tempat tidur setelah bangun
E. ADAB DI KAMAR MANDI DAN WC
1. Berdoalah sebelum masuk ke kamar mandi dan wc
2. Masuk kamar mandi dan WC dengan mendahulukan
kaki kiri
3. Gunakan air secukupnya dan matikan kran air bila
selesai digunakan
4. Jangan berlama-lama di kamar mandi dan wc
5. Jangan membuang sampah berjenis apapun di WC
6. Siram segala najis dan kotoran sampai bersih
7. Keluar kamar mandi dan wc dengan mendahulukan
kaki kanan
8. Berdoa setelah keluar kamar mandi
TUNTUNAN THAHARAH
A. Pengertian
Secara bahasa thahârah berarti suci dan bersih, baik
itu suci dari kotoran lahir maupun dari kotoran batin
berupa sifat dan perbuatan tercela. Sedangkan secara
istilah fiqh, thaharah adalah mensucikan diri dari najis
dan hadats yang menghalangi shalat dan ibadah-ibadah
sejenisnya dengan air atau tanah atau batu. Penyucian
diri di sini tidak terbatas pada badan saja tetapi juga
termasuk pakaian dan tempat.
Hukum thahârah (bersuci) ini adalah wajib,
khususnya bagi orang yang akan melaksanakan shalat.
Hal ini didasarkan pada QS. Al-Ma’idah/5: 6 dan hadis
Nabi saw:
ِمْفَتاُح الَّصَالِة الُّطُهوُر َوَتْح ِريُمَها الَّتْكِبيُر
َوَتْح ِليُلَها الَّتْس ِليُم
“Kunci shalat itu adalah bersuci, yang
mengharamkan dari perkara di luar shalat adalah
ucapan takbir dan yang menghalalkan kembali adalah
ucapan salam.” (HR al-Tirmidzi, Ibn Mâjah, Ahmad, al-
Dârimi, dari ‘Ali bin Abi Thâlib ra.)
Alat yang digunakan untuk bersuci terdiri dari air,
debu, dan batu atau benda padat lainnya (seperti:
daun, tisu) yang bukan berasal dari najis/kotoran. Benda
padat tersebut digunakan khususnya ketika tidak ada
air. Namun jika ada air yang bisa digunakan bersuci,
maka disunnahkan untuk lebih dahulu menggunakan
air. Tapi tidak semua air dapat digunakan untuk bersuci.
Air yang dapat digunakan untuk bersuci adalah:
1. Air muthlaq yaitu air yang suci lagi mensucikan,
seperti: air mata air, air sungai, air zamzam, air
hujan, salju, embun, air laut;
2. Air musta’mal yaitu air yang telah digunakan untuk
wudu dan mandi (Muttafaq `alayh, dari Jabir).
Sedangkan air yang tidak dapat digunakan untuk
bersuci antara lain:
1. Air mutanajjis yaitu air yang sudah terkena najis,
kecuali dalam jumlah yang besar yakni minimal dua
َّل
kullah (ُق َتْيِن
. HR. Tirmidzi, Nasa’i, dll.) atau sekitar
500 liter Iraq, dan tidak berubah sifat kemutlakannya
yakni berubah bau, rasa dan warnanya;
2. Air suci tetapi tidak dapat mensucikan, seperti air
kelapa, air gula (teh atau kopi), air susu, dan
semacamnya. Namun air yang bercampur dengan
sedikit benda suci lainnya –seperti air yang
bercampur dengan sedikit sabun, kapur barus atau
wewangian–, selama tetap terjaga kemutlakannya,
maka hukumnya tetap suci dan mensucikan. Tapi jika
campurannya banyak hingga tidak layak lagi disebut
sebagai air mutlak, maka hukumnya suci tapi tidak
mensucikan.
B. Najis dan Hadats
Najis adalah segala kotoran seperti tinja, kencing,
darah (termasuk nanah), daging babi, bangkai (kecuali
bangkai ikan, belalang dan sejenisnya), liur anjing,
madzi (yakni air berwarna putih cair yang keluar dari
kemaluan laki-laki yang biasanya karena syahwat seks,
tetapi bukan air mani), wadi (yaitu air putih agak kental
yang keluar dari kemaluan biasanya setelah kencing
dan karena kecapekan, dan semacamnya). Inilah yang
kemudian dikenal dengan istilah najis hakiki. Najis ini
harus dihilangkan lebih dahulu dari badan dan pakaian,
sebelum melakukan aktifitas thaharah selanjutnya.
Selain najis hakiki, dikenal pula istilah najis hukmi
atau hadats yakni sesuatu yang diperbuat oleh anggota
badan yang menyebabkan ia terhalang untuk
melakukan shalat. Hadats ini ada dua macam, yaitu
hadats kecil dan hadats besar. Hadats kecil adalah
suatu keadaan di mana seorang muslim tidak dapat
mengerjakan shalat kecuali dalam keadaan wudu atau
tayammum. Yang termasuk hadats kecil adalah buang
air besar dan air kecil, kentut, menyentuh kemaluan
tanpa pembatas, dan tidur nyenyak dalam posisi
berbaring. Sedangkan hadats besar (seperti: junub dan
haid) harus disucikan dengan mandi besar, atau bila
tidak memungkinkan untuk mandi maka cukup dengan
tayammum.
Yang dilarang ketika kita terkena hadast :
• Hadast kecil : Shalat, thawaf, meraba Al Qur’an,
membawa Al Qur’an.
• Hadast sedang : Shalat, thawaf, meraba, membawa
dan membaca Al Qur’an, diam di mesjid.
• Hadast besar :Shalat, thawaf, meraba, membawa
dan membaca Al Qur’an, diam di mesjid, melewati
mesjid, thalaq, puasa, jima.
TUNTUNAN WUDU
A. Pengertian
Wudu secara bahasa berasal dari kata al-wadhā’ah
الَوضاءة
( ) yang berarti keindahan, keceriaan, dan
kebersihan. Menurut istilah, wudu adalah menggunakan
air yang suci lagi menyucikan untuk membasuh dan
mengusap anggota tubuh tertentu (Nailul Autar, As-
saukani)
B. Dalil Wudu
Dalil tentang wajibnya wudu’ terdapat dalam Qs.
al-Ma’idah/5: 6 yang berbunyi
َأ
َيآ ُّيَه ا اَّل ِذيَن آَمُن وا ِإَذا ُقْمُتْم ِإَلى الَّص اَل ِة
َل ْل َأ ُل
َفاْغِس وا ُوُج وَهُكْم َو ْي ِدَيُكْم ِإ ى ا َمَر اِف ِق
ُكْم َوَأْر ُج َلُكْم ِإَلى ُح وا ِبُر ُءوِس َواْمَس
... اْلَكْعَبْيِن
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu
hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu
dan tanganmu sampai siku, sapulah kepalamu, dan
(basuh) kakimu sampai mata kaki." (QS. Al-Ma'idah: 6)
Nabi Muhammad saw bersabda:
ُه َص َالَة َأَح ِدُكْم ِإَذا َأْح َدَث َحَّتىs َال َيْقَبُل الل
َأ
َيَتَوَّض
“Allah tidak menerima shalat salah seorang kamu
bila berhadats sampai ia berwudu.” (HR. al-Bukhari,
Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud dan Ahmad dari Abu
Hurairah)
Adapun tata cara berwudu secara terperinci di
jelaskan dari hadits Nabi Muhammad saw dari Humran
(mantan budak) Usman ra yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari dan Muslim:
َأ َأ َأ
َّن ُح ْمَر اَن َمْوَلى ُعْثَم اَن ْخ َب َر ُه َّن ُعْثَم اَن
َأ
ْبَن َعَّفاَن َر ِضَي اللُه َعْنُه َدَعا ِبَوُضوٍء َفَتَوَّض
َفَغَس َل َكَّفْي ِه َثَالَث َم َّر اٍت ُثَّم َمْض َمَض
َواْس َتْنَثَر ُثَّم َغَس َل َوْج َه ُه َثاَل َث َم َّر اٍت ُثَّم
َغَس َل َيَدُه اْلُيْمَنى ِإَلى اْلِمْر َفِق َثَالَث َم َّر اٍت
ُثَّم َغَس َل َيَدُه اْلُيْس َر ى ِمْث َل َذِل َك ُثَّم َمَس َح
َل ْل َل ْل ْأ
َر َس ُه ُثَّم َغَس َل ِرْج ُه ا ُيْمَنى ِإ ى ا َكْعَبْيِن
َثَالَث َمَّر اٍت ُثَّم َغَس َل اْلُيْس َر ى ِمْثَل َذِل َك ُثَّم
َأ
َر ْيُت َر ُس وَل الَّل ِه َص َّلى الَّل ُه َعَلْي ِه: َق اَل
)َوَس َّلَم َتَوَّضَأ َنْح َو ُوُضوِئي َهَذا (متفق عليه
“Bahwasanya Humran pembantu Utsman
menceritakan bahwasanya Usman bin `Affan r.a.
meminta tempat air lalu berwudu. Maka (ia mulai)
membasuh kedua telapak tangannya tiga kali,
kemudian berkumur-kumur dan menyemburkan air dari
mulutnya. Lalu ia membasuh wajahnya tiga kali,
kemudian membasuh tangan kanannya sampai siku
tiga kali, kemudian membasuh yang kiri seperti itu
(pula). Lalu mengusap kepalanya, kemudian membasuh
kaki kanannya sampai kedua mata kaki tiga kali,
kemudian kaki kirinya seperti itu (pula). Kemudian ia
(Usman) berkata: Saya melihat Rasulullah saw berwudu
seperti wuduku ini.” (Muttafaq ‘alaih, dari Humrân)
C. Keutamaan Wudu
1. Wudhu adalah separuh dari iman
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw.
َأْل َأ
ُه َعْن ُهs َعْن ِبي َماِلٍك ا ْش َعِرِّي َر ِض َي الل
الَّطُهْوُر َش طُر: َقاَل َر ُس ْوُل اللِه ﷺ: َقاَل
) اِإْلْيَماِن (َرَواُه ُمْس ِلٌم
Dari Abu Malik al-Asy‘ari ra., ia berkata:
Rasulullah ﷺbersabda: “Kesucian adalah separuh
dari iman”. (H.R. Muslim)
2. Wudhu dapat menghapus dosa-dosa.
: َعْن ُعْثَماَن ْبن َعَّفان َر ِضَي اللُه َعْنُه َقاَل
َأ َفَأ
َن َس ْح َمْن َتَوَّض: َقاَل َر ُس ْوُل اللِه ﷺ
، َخ َر َج ْت َخ َطاَي اُه ِمْن َج َس ِدِه،اْلُوُض ْوَء
َأ
َحَّتى َتْخ ُر َج ِمْن َتْحِت ْظَف اِرِه (َرَواُه
) ُمْس ِلٌم
Dari Utsman bin ‘Affan ra., ia berkata:
Rasulullah ﷺbersabda: “Barang siapa berwudhu
dan menyempurnakan wudhunya, maka dosa-
dosanya akan keluar dari tubuhnya, hingga keluar
bahkan dari bawah kuku-kukunya” (H.R. Muslim)
Dari hadis ini menunjukkan bahwa wudu bukan
hanya membersihkan anggota tubuh secara lahir,
tapi juga menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa kecil.
Kalimat “hingga keluar dari bawah kuku-kukunya”
memberi gambaran betapa sempurnanya
penghapusan dosa bagi orang yang berwudhu
dengan baik dan benar.
3. Menjaga wudhu adalah salah satu tanda orang
beriman.
ُه َعْن ُه َق اَل َق اَلssَعْن َثْوَب اَن َر ِض َي الل
، ِاْس َتِقْيُمْوا َوَلْن ُتْح ُص ْوا: َر ُس ْوُل اللِه ﷺ
َواَل،َواْعَلُم ْوا َأَّن َخ ْي َر َأْعَم اِلُكْم الَّص اَل ُة
ُيَح اِفُظ َعَلى اْلُوُضْوِء إاَّل ُمْؤِمٌن (َرَواُه اْبُن
)َماَج ه
Dari Tsauban ra., ia berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: “Beristiqamahlah kalian, meskipun kalian
tidak akan mampu (melakukannya secara
sempurna). Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik
amalan kalian adalah shalat. Dan tidaklah menjaga
wudhu kecuali orang yang benar-benar beriman.”
4. Wudhu memberi cahaya di hari kiamat
: ُه عنه َق اَلssَعْن َأِبي ُهَر ْي َر َة َر ِض َي الل
إَّن ُأَّمِتي: ِه ﷺ َيُق ْوُلsَس ِمْعُت َر ُس ْوَل الل
ُيْدَعْوَن َيْوَم اْلِقَياَمِة ُغًّر ا ُمَحَّج ِلْيَن ِمْن آَثاِر
) اْلُوُضْوِء (َرَواُه اْلُبَخاِري َوُمْس ِلٌم
“Sesungguhnya umatku pada hari kiamat akan
dipanggil dalam keadaan bercahaya karena bekas
wudhu, Maka barang siapa di antara kalian mampu
memperluas (cahaya) wudhunya, hendaklah ia
melakukannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
5. Wudhu menjadi salah satu sebab masuk surga dan
berhias dengan perhiasannya.
: َعْن ُعقَبَة ْبُن َعاِمر َر ِضَي اللُه َعْن ُه َق اَل
َكاَنْت َعَلْيَن ا ِرَعاَي ُة اِإْلِب ِل َفجاَءْت َن ْوَبِتي
ِه ﷺsَفَرَّوْحُتَها بَعِش ٍّي َفَأْدَر ْكُت َر سوَل الل
َما:َقاِئًما ُيَحِّدُث الَّناَس َفَأْدَر ْكُت ِمْن َقْوِلِه
ُأ
ُثَّم،ِمْن ُمْس ِلٍم َيَتَوَّض فُيْحِس ُن ُوُض ْوَءُه
ُمْقِبٌل َعَلْيِهَما ِبَقْلِبِه، َيُقْوُم َفُيَصِّلي َر ْكَعَتْيِن
) إاَّل َوَجَبْت َلُه اْلَج َّنُة (َرَواُه ُمْس ِلٌم،وَوْج ِهِه
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra. Berkata : “Kami
dahulu bergiliran menggembala unta. Ketika tiba
giliranku, aku pulang sore hari lalu mendapati
Rasulullah ﷺsedang berdiri menyampaikan nasihat
kepada orang-orang. Aku sempat mendengar sabda
beliau: ‘Tidaklah seorang muslim berwudhu, lalu
menyempurnakan wudhunya, kemudian berdiri
menunaikan shalat dua rakaat dengan penuh
kekhusyukan hati dan perhatian wajahnya,
melainkan surga pasti menjadi miliknya.
D. Waktu-waktu disyariatkannya wudhu
1. Ketika Shalat
Wudu merupakan syarat sahnya shalat (wajib
dilakukan) jika seseorang berhadas kecil. Namun,
apabila seseorang melaksanakan shalat, tapi dia
lupa bahwa dia berhadas atau tidak tahu bahwa
dirinya berhadas, maka setelah ia ingat ia wajib
mengulang shalatnya dengan terlebih dahulu
berwudu. Hal tersebut sesuai dalil Q.S. Al-Maidah
ayat dan Hadis “Allah tidak menerima shalat salah
seorang kamu bila berhadats sampai ia berwudu.”
(HR. Bukhari)
Adapun memperbarui wudu untuk setiap kali
hendak melakukan salat walaupun tidak berhadas
disunnahkan.
َأ
َعْن َعْم ُر و ْبُن َع اِمٍر َعْن َنِس ْبِن َماِل ٍك
ُأ
كاَن الَّنِبُّي ﷺ َيَتَوَّض: َر ِضَي اللُه َعْنُه َقاَل
َكْيَف ُكْنُتْم َتْصَنُعوَن ؟: ِع ْنَد ُكِّل َصاَل ٍة ُقْلُت
ُيْج ِزُئ أَحَدَنا الُوُض وُء ما َلْم ُيْح ِدْث: َقاَل
)(َرَواُه اْلُبَخاِري
“Dahulu Nabi ﷺberwudhu setiap kali hendak
shalat.” Aku (‘Amr Ibnu Amir) bertanya: ‘Bagaimana
dengan kalian, apa yang biasa kalian lakukan?’ Ia
menjawab: ‘Cukuplah bagi salah seorang dari kami
dengan satu wudhu selama ia tidak berhadas. (H.R.
Bukhari)
2. Ketika Thawaf
Para ulama telah sepakat bahwa bersuci
disyariatkan ketika melakukan tawaf
ُه َعْنَه ا "َأَّوُل َش ْي ٍءsَعْن َعاِئَش َة َر ِضَي الل
َأ
ُثَّم َط اَف، َب َدَأ ِب ِه ِح ْيَن َق ِدَم أَّن ُه َتَوَّض
)ِباْلَبْيِت (َرَواُه اْلُبَخاِري َوُمْس ِلم
Dari Aisyah ra. disebutkan: “Perkara pertama yang
dilakukan Nabi ﷺketika tiba di Makkah adalah
berwudhu, kemudian bertawaf mengelilingi Ka‘bah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hal ini menunjukkan bahwa bersuci adalah
syarat sah tawaf. Sebab, Nabi ﷺ telah
mencontohkannya dengan perbuatan
3. Ketika Berdzikir (membaca Al quran dan Adzan)
Disunnahkan bagi seseorang yang akan
membaca Al-quran dan seorang muadzin ketika
hendak adzan untuk berada dalam keadaan suci
(berwudhu).
أَّن،َعِن اْلُمَهاِج ِر ْبِن ُقْنُفٍذ َر ِضَي اللُه َعْنٌه
النبَّي ﷺ َقاَل َلُه ِإِّني َكِرْهُت ْن ْذُكَر الَّلَه
َأ َأ
َع َّز َوَج َّل إاَّل َعَلى ُطْه ٍر َأْو َق اَل َعَلى
)َطَهاَر ٍة (رواه أبو داود
Dari al-Muhajir bin Qunfudz ra., bahwa Nabi ﷺ
bersabda kepadanya: Sesungguhnya yang
menghalangiku untuk menjawab salam kepadamu
hanyalah karena aku tidak suka menyebut nama
Allah kecuali dalam keadaan suci.”
Hadis ini menunjukkan bahwa zikir akan lebih
utama bila dilakukan dalam keadaan yang sempurna,
seperti dalam kondisi suci, tenang, dan penuh
kekhusyukan. Walaupun zikir bisa dilakukan kapan
saja, kualitasnya akan lebih baik bila dilakukan
dengan kesiapan lahir dan batin.
Al-Qur’an merupakan zikir yang paling utama,
karena di dalamnya terkandung bacaan, petunjuk,
dan pahala yang lebih agung dibandingkan bentuk
zikir lainnya.
Azan juga merupak dzikir kepada Allah, dan
Nabi ﷺtidak suka berdzikir dalam keadaan tidak
suci, maka dianjurkan dilakukan dalam keadaan suci.
Selain itu, Azan adalah dzikir yang agung, sehingga
melakukannya dalam keadaan suci lebih
mencerminkan penghormatan dan pengagungan.
Apalagi azan adalah seruan untuk melaksanakan
shalat. Maka, sudah sepantasnya muadzin berada
dalam keadaan yang sama dengan para pelaksana
shalat, yaitu dalam kondisi suci.
4. Ketika hendak tidur
Salah satu sunnah Nabi Muhammad saw adalah
berwudhu sebelum tidur, lalu berbaring di sisi kanan.
Hikmah sunnah ini diantaranya agar seorang Muslim
tidur dalam keadaan suci, sehingga akan
mendatangkan keberkahan, ketenangan, dan ketika
meninggal dalam tidur, maka ia wafat dalam
keadaan suci.
Dasarnya sabda Nabi Muhammad saw
َق اَل الَّنِبُّي: َق اَل، َعْن اْلَبَر اِء ْبِن َع اِزٍب
ِإَذا َأَتْيَت َمْضَجَعَك َفَتَوَّضْأ ُوُضوَءَك: ﷺ
، ِللَّص اَل ِة ُثَّم اْض َطِج ْع َعَلى ِش ِّقَك اَأْلْيَمِن
ُثَّم ُق ْل الَّلُهَّم َأْس َلْمُت َوْج ِهي ِإَلْي َك
َوَفَّوْضُت َأْمِري ِإَلْيَك َوَأْلَج ْأُت َظْهِري ِإَلْيَك
َر ْغَبًة َوَر ْهَبًة ِإَلْيَك اَل َمْلَج َأ َواَل َمْنَج ا ِمْن َك
َأ
ِإاَّل ِإَلْيَك الَّلُهَّم آَمْنُت ِبِكَتاِبَك اَّل ِذي ْن َز ْلَت
َفِإْن ُمَّت ِمْن َلْيَلِتَك، َوِبَنِبِّيَك اَّلِذي َأْر َس ْلَت
َف َأْنَت َعَلى اْلِفْط َر ِة َواْجَعْلُهَّن آِخ َر َم ا
َق اَل َفَر َّدْدُتَه ا َعَلى الَّنِبِّي ﷺ،َتَتَكَّلُم ِب ِه
َفَلَّم ا َبَلْغُت الَّلُهَّم آَمْنُت ِبِكَتاِب َك اَّل ِذي
َق اَل اَل َوَنِبِّي َك، ُقْلُت َوَر ُس وِلَك، َأْن َز ْلَت
ْل اَّل ي َأ
ِذ ْر َت
َس
Dari al-Barā’ bin ‘Āzib radhiyallāhu ‘anhu, ia
berkata: Nabi ﷺbersabda: “Jika engkau hendak pergi
ke tempat tidurmu, maka berwudulah seperti
wudumu untuk shalat, lalu berbaringlah di sisi
kananmu, kemudian ucapkanlah:
“Ya Allah, kuserahkan jiwaku pada-Mu, dan
kuhadapkan wajahku pada-Mu. Kupasrahkan
urusanku pada-Mu, dan ku-sandarkan punggungku
pada-Mu, dengan harap dan cemas kapada-Mu. Tidak
ada tempat bersandar dan berlindung dari-Mu
kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada
kitab-Mu yang Engkau turunkan. Dan Nabi-Mu yang
Engkau utus.”
Jika engkau meninggal pada malam itu, maka
engkau meninggal dalam keadaan fithrah. Jadikanlah
ia akhir pembicaraanmu. Maka jadikanlah doa ini
sebagai ucapan terakhirmu (sebelum tidur).”
Al-Barā’ berkata: “Lalu aku mengulangi (doa
itu) di hadapan Nabi ﷺ. Ketika aku sampai pada
bagian: ‘Ya Allah, aku beriman kepada Kitab-Mu yang
Engkau turunkan,’ aku berkata: ‘dan kepada Rasul-
Mu.’ Maka Nabi ﷺbersabda:
“Tidak (begitu), tapi katakan: dan kepada Nabi-
Mu yang Engkau utus” (H.R. Bukhari)
5. Dalam keadaan Junub
Dianjurkan bagi orang yang junub untuk
berwudhu apabila ia ingin makan, minum, tidur atau
mengulang jima’. Sebagaimana hadits Nabi
َعْن َأِبي َس ِعيٍد اْلُخ ْدِرِّي َقاَل َق اَل َر ُس وُل
ِإَذا َتى َحُدُكْم ْهَلُه ُثَّم َر اَد ْن: اللِه ﷺ
َأ َأ َأ َأ َأ
ْأ
َوِفي ِرَواَي ِة.َيُعوَد َفْلَيَتَوَّض َبْيَنُهَما ُوُض وًءا
"اْلَح اِكِم "َفِإَّنُه َأْنَش ُط ِلْلَعْوِد
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallāhu ‘anhu, ia
berkata: Rasulullah ﷺbersabda: “Jika salah seorang
dari kalian telah mendatangi istrinya (berjima‘),
kemudian ingin mengulanginya lagi, maka
hendaklah ia berwudu di antara keduanya. Dalam
riwayat Hakim “Karena hal itu lebih menyegarkan
(menambah semangat) untuk mengulanginya lagi.”
(HR. Muslim)
َعْن َعاِئَش َة َقاَلْت َكاَن َر ُس وُل اللِه ﷺ ِإَذا
َأ َأ َأ َأ ْأ
َك اَن ُج ُنًب ا َف َر اَد ْن َي ُك َل ْو َيَن اَم َتَوَّض
ُوُضوَءُه ِللَّصاَل ِة
Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, ia berkata:
“Rasulullah ﷺapabila dalam keadaan junub lalu
ingin makan atau tidur, maka beliau berwudu
terlebih dahulu seperti wudu untuk shalat.” (H.R.
Muslim)
َأ
َس َل َر سوَل الَّل ِه، أَّن ُعَمَر بَن الَخ َّطاِب
َنَعْم إَذا: ﷺ أَيْر ُقُد أَحُدَنا وهو ُجُنٌب ؟ قاَل
. َفْلَيْر ُقْد َوُهَو ُجُنٌب، َتَوَّضَأ أَحُدُكْم
Dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu,
ia bertanya kepada Rasulullah ﷺ: "Apakah
seseorang di antara kami boleh tidur dalam keadaan
junub?"
Beliau menjawab: "Ya, apabila salah seorang dari
kalian berwudhu, maka tidurlah ia dalam keadaan
junub." (H.R. Bukhari)
6. Sebelum mandi
َعْن َعاِئَش َة َز ْوِج الَّنِبِّي ﷺ َأَّن الَّنِبَّي ﷺ
َكاَن ِإَذا اْغَتَس َل ِمْن اْلَجَناَب ِة َب َدَأ َفَغَس َل
ُث اَل ُأ َك ُأ
َّم ِة َّص لِل َّضَوَت
َي ا َم َيَدْي ِه ُثَّم َيَتَوَّض
ُي ْدِخ ُل َأَص اِبَعُه ِفي اْلَم اِء َفُيَخ ِّل ُل ِبَه ا
ُأُصوَل َش َعِرِه ُثَّم َيُص ُّب َعَلى َر ْأِس ِه َثاَل َث
ُغَر ٍف ِبَيَدْيِه ُثَّم ُيِفيُض اْلَم اَء َعَلى ِج ْل ِدِه
ُكِّلِه
“Dari ‘Aisyah, istri Nabi ﷺ, ia berkata:
Sesungguhnya Nabi ﷺapabila mandi dari junub,
beliau memulainya dengan mencuci kedua
tangannya, kemudian berwudu seperti wudunya
untuk shalat. Lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke
dalam air dan menyela-nyela (menggosok) akar-akar
rambutnya dengan jari-jari itu. Setelah itu, beliau
menuangkan air ke atas kepalanya sebanyak tiga
kali dengan kedua tangannya, kemudian menyiram
seluruh tubuhnya dengan air.” (H.R. Bukhari)
E. Syarat Wudhu
1. Islam
Disyaratkan bagi orang yang berwudhu adalah
seorang Muslim, maka tidak sah wudhu yang
dilakukan oleh orang kafir. Hal ini karena amalan
mereka tidak diterima akibat ketiadaan iman, karena
iman adalah syarat diterimanya segala amal,
termasuk wudhu, dan kewajiban-kewajiban syariat
tidaklah berlaku kecuali setelah adanya iman. Allah
berfirman
َوَم ا َمَنَعُهْم َأْن ُتْقَب َل ِمْنُهْم َنَفَق اُتُهْم ِإاَّل
)54 : َأَّنُهْم َكَفُر وا ِبالَّلِه َوِبَر ُس وِلِه (التوبة
Dan tidak ada yang menghalangi diterimanya
nafkah-nafkah mereka, melainkan karena mereka
telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. At-
Taubah: 54)
2. Berakal
Disyaratkan bahwa orang yang berwudhu harus
berakal.
:ُه َعْن ُهsَعْن َعِلِّي ْبِن َأِبي َطاِلٍب َر ِضَي الل
: ُر ِف َع اْلَقَلُم َعْن َثاَل َث ٍة: َأَّن الَّنِبَّي ﷺ قال
َوَعِن الَّص ِبِّي، َعِن الَّن اِئِم َحَّتى َيْس َتْيِقَظ
َوَعِن اْلَمْجُن ْوِن َحَّتى َيعِق َل، َحَّتى َيْح َتِلَم
)(رواه الترمذي والنسائي
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi
ﷺbersabda: ‘Diangkat pena (pencatatan dosa) dari
tiga golongan: dari orang yang tidur sampai ia
bangun, dari anak kecil sampai ia bermimpi (baligh),
dan dari orang gila sampai ia berakal kembali (H.R.
Tirmidzi dan Nasai)
Hadits diatas menunjukkan bahwa orang gila
tidak memiliki akal dan tidak mampu berniat, dan
tidak terkena beban syariat mereka yang tidak
berakal.
3. Niat
Niat adalah syarat sah wudhu. Dalilnya adalah
hadis dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu,
bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺbersabda:
ِإَّنَما اَأْلْعَماُل ِبالِّنَّياِت َوإَّنَما ِلُكِّل اْمِرٍئ َم ا
) (رواه البخارى والمسلم... َنَوى
‘Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat,
dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan
apa yang ia niatkan.’
Niat adalah urusan hati dan tempat niat itu
adalah di dalam hati, bukan dengan ucapan lisan.
Hal ini karena Rasulullah ﷺtidak pernah
mencontohkan mengucapkan niat dengan suara
keras, begitu juga para sahabat. Beliau juga tidak
pernah memerintahkan umatnya untuk melafalkan
niat. Seandainya itu disyariatkan, tentu Nabi ﷺdan
para sahabat tidak akan meninggalkannya.
Niat itu mengikuti pengetahuan. Jika seseorang
tahu apa yang akan ia lakukan, otomatis ia sudah
berniat. Tidak mungkin orang mengetahui suatu
perbuatan tapi tidak berniat melakukannya.
Sehingga jika seseorang sudah mengambil air dan
mulai membasuh anggota wudhu berarti dia sudah
berniat untuk berwudhu.
4. Berhentinya hal-hal yang membatalkan wudhu,
seperti darah haid atau nifas.
Berhentinya darah haid dan nifas merupakan
syarat bagi wajibnya wudhu sekaligus sahnya.
Sebab, darah haid dan nifas adalah hadats yang
tidak mungkin disucikan kecuali setelah benar-benar
berhenti.
5. Menghilangkan sesuatu yang menghalangi
sampainya air ke kulit anggota wudhu
Wajib menghilangkan segala sesuatu yang
menghalangi sampainya air ke kulit anggota wudhu.
Seperti lilin, lemak, adonan, tanah liat, bahan cat,
kuteks, kuku palsu, juga make-up atau celak bila
keduanya membentuk lapisan yang mencegah
sampainya air ke kulit.
Hal ini dilihat dari dalil Q.S. Al-Maidah : 6 yang
menunjukkan kewajiban air mengenai seluruh
anggota wudhu. Sehingga, wajib menghilangkan
segala penghalang sampainya air ke anggota wudhu
baik alami maupun buatan, jika tidak maka wudhu
tidak sah.
6. Menggunakan Air Suci lagi Mensucikan
Disyaratkan dalam sahnya wudhu harus
menggunakan air yang suci lagi mensucikan. Hal ini
didasarkan pada keumuman lafadz Al-Qur’an dalam
QS. Al-Ma’idah ayat 6, Allah memerintahkan
tayammum bagi orang yang tidak mendapatkan air,
yang berarti bahwa bersuci hanya sah dengan air
atau tanah (tayammum).
Allah swt juga menjelaskan dalam QS. Al-Anfal
ayat 11,
َوُيَنِّز ُل َعَلْيُكْم ِمَن الَّسَماِء َم اًء ِلُيَطِّه َر ُكْم
)11 : ِبِه (األنفال
bahwa Allah menurunkan air dari langit untuk
menyucikan hamba-hamba-Nya dengan air tersebut.
Sehingga jelas bahwa airlah yang dijadikan syariat
sebagai sarana utama bersuci.
Para sahabat pun ketika dalam perjalanan
kadang kehabisan air, padahal mereka membawa
minyak, susu, dan cairan lain. Tetapi tidak pernah
ada riwayat bahwa mereka berwudhu dengan selain
air.
F. Tata Cara Berwudhu
Dari ayat Alqur’an dan hadits di atas tata cara
berwudu secara lengkap berdasarkan sunnah Rasul
adalah:
1. Niat berwudu’ karena Allah semata. Sebagai
pekerjaan hati, maka niat tidak perlu dilafalkan, dan
tidak ada tuntunan untuk melafalkan niat dari Nabi
saw. Beliau hanya menuntunkan untuk mengucapkan
basmallah ketika wudu sebagaimana hadits Nabi
َأ
َق اَل َطَلَب، َعْن َنٍس، َوَقَت اَدُة، َعْن َثاِبٍت
هssه عليssَبْعُض َأْص َح اِب الَّنِبِّي صلى الل
وسلم َوُضوًءا َفَقاَل َر ُس وُل الَّلِه ﷺ "َه ْل
َفَوَضَع َيَدُه ِفي اْلَم اِء."َمَع َأَحٍد ِمْنُكْم َماٌء
َفَر َأْيُت اْلَم اَء."َوَيُقوُل "َتَوَّضُئوا ِبْس ِم الَّلِه
وا ُئ ى ا َأ
ْن ِم َّضَوَت َحَّت ِعِهِب َص َيْخ ُر ُج ِمْن َبْيِن
َأل
َق اَل َث اِبٌت ُقْلُت َنٍس َكْم. ِعْن ِد آِخ ِرِهْم
ُت َر اُهْم َق اَل َنْح ًوا ِمْن َس ْبِعيَن (رواه
)النسائي
Dari Tsābit dan Qatādah, dari Anas radhiyallāhu
‘anhu, ia berkata: “Sebagian sahabat Nabi ﷺ
mencari air untuk berwudhu. Maka Rasulullah ﷺ
bersabda, “Apakah ada di antara kalian yang
memiliki air?” Lalu beliau meletakkan tangannya ke
dalam air sambil bersabda, “Berwudhulah kalian
dengan menyebut nama Allah.” Aku pun melihat air
keluar dari sela-sela jari-jemari beliau hingga mereka
semua berwudhu sampai orang terakhir. Tsābit
berkata, “Aku bertanya kepada Anas, “Kira-kira
berapa jumlah mereka?” Ia menjawab, ‘Sekitar tujuh
puluh orang”
2. Membasuh telapak tangan tiga kali sambil menyela-
nyelai jari-jemarinya sebagaimana hadits nabi
َأْسِبِغ اْلُوُضْوَء َوَخ ِّل ْل َبْيَن اَأْلَص اِبِع َوَب اِلْغ
ِفي اِإْلْس ِتْنَش اِق ِإاَّل َأْن َتُكْوَن َصاِئًما (رواه
أحمد وأبو داود والترمذي والنسائي وابن
)ماجه
“Sempurnakanlah wudumu, dan bersihkanlah
sela-sela jarimu, pula lebihkanlah (air) ketika
berkumur dan menghirupnya kecuali bila kamu
dalam keadaan berpuasa.” (HR. Tirmidzi, Nasa’i, Abu
Dawud, dan Ibn Majah)
3. Berkumur-kumur secara sempurna sambil
memasukkan air ke hidung dengan 1 (satu) telapak
tangan dan kemudian menyemburkannya sebanyak
tiga kali. Abdullah bin Zaid ra menceritakan bahwa
setelah Nabi saw membasuh kedua tangannya:
َعْن َعْبِد الَّلِه ْبِن َزْيٍد َأَّنُه َأْفَر َغ ِمْن اِإْلَناِء
َأ
َعَلى َيَدْيِه َفَغَس َلُهَما ُثَّم َغَس َل ْو َمْضَمَض
َواْس َتْنَش َق ِمْن َكَّف ٍة َواِح َدٍة َفَفَع َل َذِل َك
َل ْل اَل
َث ًثا َفَغَس َل َيَدْي ِه ِإ ى ا ِم ْر َفَقْيِن َم َّر َتْيِن
َأ َأ ْأ
َمَّر َتْيِن َوَمَس َح ِبَر ِسِه َم ا ْقَب َل َوَم ا ْدَب َر
َوَغَس َل ِرْج َلْيِه ِإَلى اْلَكْعَبْيِن ُثَّم َقاَل َهَك َذا
)ُوُضوُء َر ُس وِل الَّلِه ﷺ (رواه اْلبخاري
Dari Abdullah bin Zaid, bahwa ia menuangkan
air dari bejana ke kedua tangannya, lalu membasuh
keduanya. Kemudian ia berkumur dan menghirup air
ke hidung dari satu telapak tangan, dan ia
melakukannya tiga kali. Lalu ia membasuh kedua
tangannya (yakni lengan) hingga ke siku dua kali-
dua kali, mengusap kepalanya – bagian depan dan
belakang –, dan membasuh kedua kakinya hingga
mata kaki. Setelah itu ia berkata: “Beginilah wudu
Rasulullah ﷺ.”(HR. al-Bukhari)
Anjuran untuk berkumur-kumur sampai ke
dalam-dalam, tidak berlaku bagi orang yang sedang
berpuasa sebagaimana hadits Rasulullah saw.
4. Untuk menjaga kebersihan dan keharuman mulut,
Rasulullah saw menganjurkan bersikat gigi (siwâk)
dalam setiap berwudu’
َأ َأ
َّن:ُه َعْن ُهsssَعْن ِبي ُهَر ْي َر َة َر ِض َي الل
َلْواَل َأْن َأُش َّق َعَلى: َقاَل،َر ُس ْوَل اللِه ﷺ
َأَل َأ ُأ
ْر ُتُهْم اِس – َم َّمِتي – ْو َعَلى الَّن
)ِبالِّس َواِك َمَع ُكِّل َصَالٍة (ُمَّتَفٌق َعَلْيِه
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,
“Seandainya tidak memberatkan umatku —atau
tidak memberatkan manusia—, aku pasti
memerintahkan mereka untuk bersiwak bersamaan
dengan setiap kali shalat.” (Muttafaqun ‘alaih)
5. Membasuh wajah tiga kali secara merata.
Wajah adalah bagian yang dengannya terjadi
muwājahah (saling berhadapan). Batas lebarnya:
antara pangkal kedua telinga. Batas panjangnya: dari
tempat tumbuh rambut kepala yang biasa hingga
ujung dagu bagian bawah.
Adapun ‘idzār (rambut yang tumbuh di sisi
wajah dekat telinga) termasuk bagian dari wajah,
sehingga wajib dibasuh ketika berwudhu.
Disunnahkan sambil membersihkan sudut mata
sebagaimana hadits Nabi :
َعْن َأِبي ُأَماَمَة َوَذَكَر ُوُضوَء الَّنِبِّي ﷺ َقاَل
َكاَن َر ُس وُل الَّلِه َص َّلى الَّل ُه َعَلْي ِه َوَس َّلَم
ِم ا َن ُح اْل ْأَقْي َق اَل َق اَل اُأْل
ُذ
ِن ْن َو َم ِن َيْمَس
)الَّر ْأِس (َر واه أبو داود
“Dari Abu Umamah, ia menjelaskan wudunya
Nabi SAW, ia berkata: “Adalah Rasulullah [Link]
mengusap dua sudut mata dalam wudu”. (HR. Abu
Daud)
Bagi yang berjenggot (lihyah) Jika jenggot nya
tipis sehingga kulit di bawahnya terlihat, maka wajib
membasuh bagian luar dan dalamnya (yakni kulit di
bawahnya). Namun jika lebat dituntunkan supaya
menyela-nyelai jenggotnya sebagaimana hadits
Nabi:
َأ
َعْن َح َّس اَن ْبِن ِباَل ٍل َق اَل َر ْيُت َعَّم اَر ْبَن
َياِس ٍر َتَوَّضَأ َفَخ َّلَل ِلْح َيَتُه َفِقيَل َلُه َأْو َق اَل
َفُقْلُت َلُه َأُتَخ ِّلُل ِلْح َيَتَك َق اَل َوَم ا َيْمَنُعِني
ِه ﷺ ُيَخ ِّل ُل ِلْح َيَت ُهsَوَلَقْد َر ْيُت َر ُس وَل الل
َأ
)(صحيح رواه الترمذي وابن ماجه
Dari Hassān bin Bilāl, ia menuturkan, "Aku
melihat 'Ammār bin Yāsir berwudu, ia menyela-nyela
jenggotnya. Ditanyakan padanya -atau ia berkata,
maka aku bertanya padanya-, "Kenapa engkau
menyela-nyela jenggotmu?" Ia menjawab, "Apa yang
mencegahku? Sungguh aku telah melihat Rasulullah
-ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- menyela-nyela jenggot
beliau." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
6. Membasuh tangan kanan sampai siku tiga kali,
kemudian tangan kiri dengan cara yang sama.
Rasulullah saw bersabda:
َعْن َعاِئَش َة َق اَلْت َك اَن الَّنِبُّي ﷺ ُيْعِج ُب ُه
الَّتَيُّمُن ِفي َتَنُّعِل ِه َوَتَر ُّج ِل ِه َوُطُه وِرِه َوِفي
)َش ْأِنِه ُكِّلِه (رواه البخارى
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:
"Bahwasanya Nabi ﷺmenyukai mendahulukan yang
kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut,
bersuci, dan dalam segala urusannya." (HR. Imam
Bukhari)
:َعْن َأِبي ُهَر ْيَر َة َقاَل َقاَل َر ُس وُل الَّل ِه ﷺ
َأ ْأ
ِإَذا َلِبْس ُتْم َوِإَذا َتَوَّض ُتْم َفاْب َدُءوا ِب َي اِمِنُكْم
)(رَواه أبو داود
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
Rasulullah ﷺbersabda: "Apabila kalian memakai
pakaian dan apabila kalian berwudu, maka mulailah
dengan yang kanan kalian." (HR. Abu Daud)
7. Mengusap kepala sekaligus dengan telinga, cukup
satu kali.
Kepala yang dimaksudkan adalah tempat
tumbuhnya rambut di kepala. Dan membasuh kepala
maksudnya adalah membasuh seluruh kepala bukan
sebagian kepala. Huruf bā’ dalam firman Allah: "
"َواْمَس ُح وا ِبُر ُؤوِس ُكْم (usaplah kepala kalian)
bukanlah bermakna sebagian (tab‘īḍ), melainkan
bermakna melekatkan (ilṣāq).
Banyaknya mengusap kepala adalah satu kali
sebagaimana disebutkan dalam hadis Humron
tentang tata cara wudhu Nabi ﷺbahwa beliau
membasuh anggota wudhu tiga kali-tiga kali, kecuali
kepala. Pada bagian kepala tidak disebutkan
jumlahnya sebagaimana pada anggota lainnya. Dari
sini dipahami bahwa pengulangan dilakukan pada
selain kepala.
Adapun caranya adalah dengan cara
menjalankan kedua telapak tangan dimulai dari
ujung kepala hingga tengkuk dan mengembalikannya
pada posisi semula, kemudian mengusap kedua
telinga, bagian dalam dengan telunjuk dan telinga
bagian luar (daun telinga) dengan ibu jari.
Hal ini didasarkan pada hadis riwayat Abdullah
bin Zaid ra.:
َأ َأ ْأ
ُثَّم َمَس َح َر َسُه ِبَيَدْي ِه َف ْقَب َل ِبِهَم ا َو ْدَب َر
َب َدَأ ِبُمَق َّدِم َر ْأِس ِه َحَّتى َذَهَب ِبِهَم ا ِإَلى
َأ
َقَفاُه ُثَّم َر َّدُهَما ِإَلى اْلَمَكاِن اَّلِذي َبَد ِمْنُه
Kemudian beliau mengusap kepalanya dengan
kedua tangannya, dari depan ke belakang, (yakni) ia
mulai dari batas depan kepala hingga beliau
menjalankan kedua tangannya sampai tengkuknya,
lalu mengembalikannya ke tempat ia memulainya.”
(HR. Bukhari)
Juga Hadits Nabi Muhammad saw dari Abdullah
bin ‘Amr,
َل َفَأ ْأ
ِن َت
ْي َب اَّب َّسال َبَعْيِه ِإْص َخْد ِسِه ُثَّم َمَس َح ِبَر
ا َظ ى َلَع ا ُذي ُأ
ِرِه ِه ْي َم َهْب
ِإِب َح َمَس َو ِه َن
ْي ِف
ُأُذَنْيِه َوِبالَّس َّباَح َتْيِن َباِطَن ُأُذَنْي ِه (رواه أبو
)داود
“Kemudian mengusap kepalanya, dan
memasukkan jari telunjuknya ke dalam dua lubang
telinga. Dua ibu jari beliau mengusap punggung
kedua telinganya sedang dua telunjuknya di dalam
kedua telinganya.” (HR. Abu Dâwud).
Bagi yang memakai sorban karena sudah terbiasa
memakainya, cukup dengan mengusap ubun-
ubunnya (bagian depan kepala) dan atas sorbannya,
Tetapi bila tidak bersorban, maka dituntunkan untuk
mengusap kepalanya secara merata. Sebagaimana
hadits Nabi
َأ
َعِن اْلُمِغْيَر ة ْبن ُش ْعَبة َّن الَّنِبَّي ﷺ َتَوَّض
َأ
َح َفَمَس
َل َل ْل
َوَع ى ا ِعَماَم ِة وع ى الُخَّفْيِن،ِبَناِص َيِتِه
)(رواه مسلم
Dari Mughirah bin Syu'bah bahwa Nabi ﷺ
berwudu, lalu beliau mengusap bagian depan kepala
atau ubun-ubun (nashiyah), dan di atas sorbannya
(al-‘imamah) serta di atas kedua khuf. (HR. Muslim)
8. Membasuh kaki kanan sampai dua mata kaki sambil
menyela-nyelai jemari sebanyak tiga kali, kemudian
kaki kiri dengan gerakan yang sama. Hal ini
sebagaimana dijelaskan dalam hadis Humron
tentang tata cara berwudu dan hadis tentang
menyela-nyelai jari.
9. Tertib, yaitu melakukan wudu sesuai urutan yang
disebutkan dalam perintah Allah di Q.S. Al-Mā'idah:
6, dan berdasarkan tuntunan Rasulullah ﷺ
sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Humran,
serta tidak boleh membolak balik urutan wudu
karena tidak ada dalil atas hal tersebut.
10. Membaca do’a setelah Wudu
ُه َوْح َدُه اَل َش ِرْيَكs َه إاَّل اللsَأْش َهُد َأْن اَل ِإل
َأ َأ
َو ْش َهُد َّن ُمَح َّمًدا َعْبُدُه َوَر ُس ْوُلُه،َلُه
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw
، َفُيْسِبُغ اْلُوُض ْوَء،َما ِمْنُكْم ِمْن َأَحٍد َيَتَوَّضُأ
َأ
ْش َهُد: ُثَّم َيُقْوُل ِح ْيَن َيْف ُر ُغ ِمْن ُوُض ْوِئِه
َأ َأ
َو َّن،ْن اَل ِإَلَه إاَّل اللُه َوْحَدُه اَل َش ِرْيَك َل ُه
ِإاَّل ُفِتَح ْت َل ُه،ُمَح َّم ًدا َعْب ُدُه َوَر ُس ْوُلُه
َيْدُخ ُل ِمْن َأِّيَها َش اَء،َأْبَواُب اْلجَّنِة الَّثَماِنَّيِة
)(رواه مسلم
“Tidaklah salah seorang dari kalian berwudu lalu
menyempurnakan wudunya, kemudian
mengucapkan:
‘Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan)
yang berhak disembah selain Allah semata, tiada
sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya’, kecuali
akan dibukakan baginya delapan pintu surga, dia
dapat masuk dari pintu mana saja yang dia
kehendaki.”
G. Anjuran-anjuran dalam berwudu
Ada beberapa hal yang disyariatkan dan
disunnahkan oleh Nabi Muhammad saw ketika berwudu
diantaranya :
1. Rasulullah saw menuntunkan umatnya untuk
menyempurnakan wudu dan tidak boleh membiarkan
ada anggota wudu yang tak terbasuh air meskipun
selebar kuku.
،ُه َعْن ُهs َعْن ُعْثَم اَن ْبِن َعَّف اٍن َر ِض َي الل
َأ
َمْن َتَوَّض:ِه ﷺs َق اَل َر ُس ْوُل الل: َق اَل
فأْح َس َن اْلُوُض ْوَء َخ َر َج ْت َخ َطاَي اُه ِمن
َأ
َحَّتى َتْخ ُر َج ِمْن َتْحِت ْظَف اِرِه،َج َس ِدِه
)(رواه مسلم
Dari Utsmān bin ‘Affān raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah ﷺbersabda: "Barang siapa berwudhu lalu
menyempurnakan wudhunya, maka dosa-dosanya
keluar dari tubuhnya, hingga keluar dari bawah
kukunya." (HR. Muslim)
: ُه َعْن ُهs َعْن ُعَمَر ْبِن الخَّطاِب َر ِض َي الل
َأَّن َر ُج اًل َتَوَّض َأ َفَت َر َك َمْوِض َع ُظُف ٍر َعَلى
َأ
ِاْر ِج ْع: َقَدِم ِه َف ْبَص َر ُه الَّنِبُّي ﷺ َفَق اَل
ُثَّم َص َّلى (رواه،َفَأْحِس ْن ُوُضوَءَك َفَر َج َع
)مسلم وأبو داود
Dari Umar bin Al-Khaththab “Ada seseorang yang
berwudhu dan meninggalkan membasuh bagian
sebesar kuku di tumit kakinya, Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pun melihatnya, lalu beliau
bersabda, ‘Ulangilah wudhumu lalu perbaguslah.’
Maka ia pun mengulanginya, kemudian shalat.” (HR.
Muslim dan Abu Daud)
2. Bagi yang tidak serius dan tergesa gesa dalam
berwudu, nabi memberikan peringatan dalam
hadisnya
ُه َعْنُهَم اsَعْن َعْبِد اللِه ْبِن َعْمٍرو َر ِضَي الل
ِه ﷺ ِمْن َمَّك َةss َر َجْعَنا َمَع َر ُس وِل الل: َقاَل
َّط َل ْل
ِإ ى ا َمِديَن ِة َحَّتى ِإَذا ُكَّن ا ِبَم اٍء ِب ال ِريِق
َفَتَوَّض ُؤوا َوُهْم،َتَعَّج َل َق ْوٌم ِعْن َد اْلَعْص ِر
َأ
َفاْنَتَهْيَن ا ِإَلْيِهْم َو ْعَق اُبُهْم َتُل وُح َلْم، ِع َج اٌل
ُهs َيَمَّس َها اْلَماُء َفَقاَل َر ُس وُل اللِه َصَّلى الل
" ْي ٌل ِلَأْل: َّل
ِر ا َّنال َن ِم ِبا ْعَق َعَلْي ِه َوَس َم َو
"َأْسِبُغوا اْلُوُضوَء
Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhumā-
meriwayatkan, Kami pulang bersama Rasulullah ﷺ
dari Makkah menuju Madinah. Ketika kami tiba di
sebuah tempat yang memiliki air di perjalanan
tersebut, sebagian orang terburu-buru untuk salat
Asar dengan berwudu secara tergesa-gesa. Ketika
kami menyusul mereka, ternyata tumit mereka
kering, tidak terbasuh oleh air. Maka Rasulullah ﷺ
bersabda, "Celakalah dalam neraka bagi tumit-tumit
(yang tidak terkena air wudu). Sempurnakanlah
wudu kalian."
3. Maka, disyariatkan Menggosok-Gosok Anggota Wudu,
sebagaimana sabda nabi
: ُه َعْن ُهsي اللssَوَعْن َعْبِد الَّلِه ْبِن َزْي ٍد رض
َفَجَع َل َي ْدُلُك،َأَّن َالَّنِبَّي ﷺ ُأِتَي ِبُثُلَثْي ُمٍّد
َأ َأ
َوَص َّحَح ُه ِاْبُن،ِذَر اَعْي ِه ( ْخ َر َج ُه ْح َم ُد
)ُخ َزْيَمة
Dari ‘Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi 2/3 mud
(air), lantas beliau menggosok kedua sikunya. (HR.
Ahmad dan disahihkan oleh Ibnu Khuzaimah)
4. Dan dituntunkan untuk melebihkan basuhan
sebagaimana hadis
: ُه َعْن ُه َق اَلs َوَعْن َأِبي ُهَر ْي َر َة َر ِض َي الل
"ِإَّن ُأَّمِتي: َس ِمْعُت َر ُس وُل الَّلِه ﷺ َيُق وُل
َأ ْأ
ِمْن َث ِر، َي ُتوَن َيْوَم َاْلِقَياَمِة ُغ ًّر ا ُمَحَّج ِليَن
َفَمْن ِاْس َتَطاَع ِمْنُكْم َأْن ُيِطْي َل،َاْلُوُض وِء
َوالَّلْف ُظ، (ُمَّتَف ٌق َعَلْي ِه. ُغَّر َت ُه َفْلَيْفَع ْل
)ِلُمْس ِلٍم
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata
bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda, “Sesungguhnya umatku akan
dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan wajah,
tangan dan kakinya nampak bercahaya karena
adanya bekas wudhu. Barangsiapa di antara kalian
dapat memperpanjang cahaya tersebut, hendaklah
ia melakukannya.” (Muttafaqun ‘alaih, lafazh ini dari
Muslim) [HR. Bukhari dan Muslim]
5. Namun, Jangan menggunakan air secara berlebihan
(mubadzir), sebagaimana sabdanya.
َأ
َك اَن: َعْن َنِس ْبِن َماِلٍك َر ِضَي اللُه َعْنُه
َوَيْغَتِس ُل،ِه ﷺ َيَتَوَّض ُأ ِباْلُم ِّدs َر ُس ْوُل الل
)ِبالَّصاِع ِإَلى َخ ْمَس ِة َأْمَداٍد (ُمَّتَفٌق َعَلْيه
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu
dengan satu mudd air dan mandi dengan satu sha’
hingga lima mud air.” (Muttafaqun ‘alaih-HR. Bukhari
dan Muslim). Satu mudd adalah ukuran kurang lebih
dua telapak tangan penuh bagi orang timur tengah.
6. Disunnahkan setelah berwudhu melaksanakan shalat
dua rakaat.
: َعْن ُعثماَن بن عَّفاَن َر ِضَي اللُه عنه َقاَل
َأ
ِه ﷺ َمْن َتَوَّض َنْح َوssَق اَل َر ُس ْوُل الل
ُوُض وِئي َه َذا ُثَّم َص َّلى َر ْكَعَتْيِن اَل ُيَح ِّدُث
ُه َل ُه َم ا َتَق َّدَم ِمْنs ِفيِهَما َنْفَسُه َغَف َر الل
)َذْنِبِه (رواه البخاري ومسلم
Dari Usman berkata : Rasulullah saw bersabda
“Barang siapa berwudhu seperti wudhuku ini,
kemudian berdiri dan shalat dua rakaat tanpa
berbicara dengan dirinya (khusyuk), maka akan
diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
H. Hal-hal Yang Membatalkan Wudu
1. Keluarnya sesuatu dari dua lubang bawah yakni
qubul (lubang depan) dan dubur (lubang belakang).
Baik berupa benda padat seperti kotoran, cair
seperti air seni, wadi, madzi, dan gas seperti kentut,
juga sesuatu yang jarang terjadi yang keluar dari dua
jalan seperti cacing, batu kecil, darah wasir, dan
semisalnya itu membatalkan wudhu.
Firman Allah:
... َأْو َج اَء َأَحٌد ِمْنُكْم ِمَن اْلَغآِئِط...
“Atau kembali dari tempat buang air (kakus).”
(Q.S. Al-Maidah : 6)
Yang dimaksud dengan al ghoith dalam ayat
ini adalah kata kiasan untuk tempat buang air
(kakus).
a. Menyentuh kemaluan (qubul/dubur) secara
langsung tanpa alas/pembatas. Ini didasarkan
pada hadis Nabi saw:
َعْن ُبْس َر َة ِبْنِت َصْفَواَن َر ِضَي اللُه َعْنَها
َقاَل َر ُس وُل اللِه َصَّلى اللُه َعَلْيِه: َقاَلْت
"َمْن َمَّس َذَكَر ُه فاَل ُيَصِّل َحَّتى: َوَس َّلَم
"َيَتَوَّضَأ
“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya
maka janganlah ia shalat sampai ia berwudu.”
(HR. Tirmidzi).
b. Tidur nyenyak dalam keadaan berbaring. Namun
bila dalam keadaan duduk, tidak mengapa. Hal ini
didasarkan pada riwayat sahabat Anas bin Malik
ra.:
َأ
َكاَن ْص َح اُب َر ُس وِل الَّل ِه َص َّلى الَّل ُه
َعَلْيِه َوَس َّلَم َيْنَتِظ ُر وَن اْلِعَش اَء اآْل ِخ َر َة
َحَّتى َتْخ ِف َق ُر ُءوُس ُهْم ُثَّم ُيَص ُّلوَن َوَال
َيَتَوَّضُئوَن
“Suatu ketika para sahabat Rasulullah saw
menunggu waktu shalat Isya yang akhir hingga
terkantuk-kantuk kemudian mereka shalat dan
tidak berwudu.” (HR. Abu Dawud dari Anas)
c. Hilang akal, seperti : gila, pingsan atau mabuk.
Hilang kesadaran pada kondisi semacam ini
melebihi tidur nyenyak.
Berkaitan dengan menyentuh lawan jenis sebagaimana
firman Allah:
... ٰلَمْس ُتُم الِّنَس ۤاَء...
… atau menyentuh perempuan … (Q.S. Al-Maidah : 6)
Menurut Ibn Abbas bahwa kata lâ-ma-sa (“saling
bersentuhan”) secara bahasa berarti: bersetubuh. Hal ini
diperkuat oleh hadits yang menyatakan bahwa Nabi saw
pernah disentuh oleh istrinya saat sujud dalam shalat
َعْن َعاِئَش َة َز ْوِج الَّنِبِّي َصَّلى اللُه َعَلْي ِه َوَس َّلَم
َأَّنَها َقاَلْت ُكْنُت َأَناُم َبْيَن َيَدْي َر ُس وِل اللِه َصَّلى
اللُه َعَلْيِه َوَس َّلَم َوِرْج اَل َي ِفي ِقْبَلِتِه َف ِإَذا َس َجَد
َغَم َز ِني َفَقَبْض ُت ِرْج َلَّي َف ِإَذا َق اَم َبَس ْطُتُهَما
َقاَلْت َواْلُبُيوُت َيْوَمِئٍذ َلْيَس ِفيَها َمَصاِبيُح
“Aku dahulu tidur di depan Nabi ﷺ, dan kedua kakiku
berada di arah kiblatnya (dalam shalat). Jika beliau sujud,
beliau menyentuhku (dengan tangan), lalu aku menarik
kedua kakiku. Dan bila beliau berdiri, aku
membentangkannya lagi”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi mencium
istrinya lalu shalat tanpa berwudu lagi
َأ
َعْن َعاِئَش َة َّن الَّنِبَّي َصَّلى الَّلُه َعَلْيِه َوَس َّلَم
َقَّب َل َبْعَض ِنَس اِئِه ُثَّم َخ َر َج ِإَلى الَّص اَل ِة َوَلْم
ْأ
َيَتَوَّض
“Nabi ﷺpernah mencium salah satu istrinya,
kemudian beliau keluar untuk shalat tanpa berwudu lagi.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Abu Daud).
Mandi
Mandi atau biasa disebut dengan mandi junub adalah
membasahi seluruh badan dengan air suci. Hal ini
disyari`atkan berdasarkan QS. Al-Ma’idah/5: 6 dan Al-
Baqarah/2: 222. Mandi besar ini wajib dilakukan apabila
keluar mani, selesai bersenggama (sekalipun tidak keluar
mani), selesai haid atau nifas (yakni darah yang keluar
sehabis melahirkan), baru masuk Islam, sesudah sadar dari
pingsan atau gila, dan meninggal dunia. Sedangkan bagi
orang yang junub atau wanita yang selesai haid, selama
belum mandi besar diharamkan untuk shalat, thawaf dan
berdiam di masjid.
Adapun hal-hal yang disunatkan untuk mandi antara lain
adalah ketika hendak menunaikan shalat Jum`at, shalat dua
hari raya atau bagi yang berhaji mulai ketika hendak wukuf
di Arafah, sesudah memandikan jenazah dan hendak ihram.
Tata Cara Mandi
Hal pertama yang penting dilakukan adalah berniat mandi
karena Allah dengan membaca basmalah. Kemudian
berdasarkan hadis dari istri Nabi yakni Aisyah ra. bahwa
Nabi saw :
ِإَذا اْغَتَس َل ِمْن اْلَجَناَبِة َيْبَدُأ َفَيْغِس ُل َيَدْيِه ُثَّم ُيْفِرُغ ِبَيِميِنِه َعَلى ِش َماِلِه َفَيْغِس ُل
ُأ َأ ْأ ُأ
َفْر َج ُه ُثَّم َيَتَوَّض ُوُضوَءُه ِللَّصَالِة ُثَّم َي ُخ ُذ اْلَماَء َفُيْدِخ ُل َصاِبَعُه ِفي ُصوِل
َأ ْأ َأ َأ َأ
الَّش ْعِر َحَّتى ِإَذا َر ى ْن َقْد اْس َتْبَر َح َفَن َعَلى َر ِسِه َثَالَث َح َفَناٍت ُثَّم َفاَض
َعَلى َس اِئِر َج َس ِدِه ُثَّم َغَس َل ِرْج َلْيِه.
“Apabila beliau mandi karena junub, beliau memulai
dengan membasuh kedua tangannya, lalu menuangkan
(air) dengan tangan kanannya ke tangan kirinya lalu
membasuh farjinya. Kemudian beliau berwudu seperti
wudunya untuk shalat, kemudian mengambil air lalu
memasukkan jari-jarinya ke dasar rambut hingga apabila ia
sudah merasa bersih, beliau siramkan air di atas kepalanya
dengan tiga siraman. Kemudian beliau meratakan ke
seluruh tubuhnya, lalu membasuh kedua kakinya.”
(Muttafaq ‘alayh)
Dengan demikian tata cara mandi secara runtut menurut
Rasulullah saw adalah:
Mencuci kedua tangan.
Mencuci farji (kemaluan) dengan tangan kiri. Setelah itu
dituntunkan pula mencuci tangan kiri dengan tanah (HR. Al-
Bukhâri) atau cukup digantikan dengan sabun mandi.
Berwudu seperti wudu untuk shalat.
Menyiramkan air ke kepala secara merata (keramas) sambil
menguceknya sampai ke dasar kulit kepala. Bagi wanita
yang berambut panjang, bila merasa kerepotan maka bisa
menggelung rambutnya kemudian menyiramnya dengan
air. (HR. Jama`ah, kecuali al-Bukhari).
Menyiramkan air ke seluruh badan (mandi) sampai rata
yang dimulai dari kanan kemudian kiri. Rasulullah saw
mengakhiri mandinya dengan mencuci kaki. (HR. al-
Bukhâri-Muslim)
Selama wudu tidak batal, maka setelah mandi boleh
melaksanakan shalat tanpa perlu berwudu lagi.
Tayammum
Tayammum dilakukan sebagai pengganti wudu’ dan mandi
besar bila ada halangan, seperti sakit atau ketiadaan air
untuk bersuci, misalnya karena musafir. Tayammum
didasarkan pada ayat Al-Qur’an surat Al-Nisa’/4: 43:
َوِإْن ُكْنُتْم َمْر َضى َأْو َعَلى َس َفٍر َأْو َج اَء َأَحٌد ِمْنُكْم ِمَن اْلَغاِئِط َأْو َالَمْس ُتُم الِّنَس اَء
َأ
َفَلْم َتِج ُدوا َماًء َفَتَيَّمُموا َصِعيًدا َطِّيًبا َفاْمَس ُح وا ِبُوُج وِهُكْم َو ْيِديُكْم ِإَّن الَّلَه َكاَن
َعُفًّوا َغُفوًر ا
“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau
kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh
perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka
bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci):
sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha
Pema`af lagi Maha Pengampun.” (Lihat pula ayat senada
dalam QS. Al-Mâidah/5: 6)
Demikian pula riwayat sahabat ‘Ammâr bin Yâsir ra. yang
bercerita di hadapan ‘Umar bin al-Khaththâb ra. bahwa
dalam sebuah perjalanan ia pernah berguling-guling di atas
tanah lalu shalat karena junub dan tidak mendapatkan air.
Setelah kejadian ini diceritakan kepada Nabi saw, maka
beliau bersabda:
َفَضَر َب الَّنِبُّي َصَّلى الَّلُه َعَلْيِه َوَس َّلَم ِبَكَّفْيِه اَأْلْرَض َوَنَفَخ،ِإَّنَما َكاَن َيْكِفيَك َهَكَذا
ِفيِهَما ُثَّم َمَس َح ِبِهَما َوْج َهُه َوَكَّفْيِه
“Sesungguhnya cukup bagimu begini, lalu beliau pun
menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah lalu
meniupnya kemudian mengusap keduanya pada wajah dan
kedua telapak tangannya.” (Muttafaq ‘alayh)
Dalam redaksi al-Bukhâri yang lain ada tambahan: َوَمَس َح
َوْج َهُه َوَكَّفْيِه َواِح َدًة: “dan mengusap wajah dan kedua
tangannya, sekali.” Sedang dalam redaksi al-Daraquthni
disebutkan: ُثَّم َتْمَس ُح ِبِهَما َوْج َهَك َوَكَّفْيَك إَلى الُّر ْس َغْيِن: “Kemudian
kamu mengusap dengan keduanya (yakni: telapak tangan)
pada wajahmu dan kedua tanganmu sampai kedua
pergelangan tangan.”
Berdasarkan QS. 4: 43, QS. 5: 6 dan riwayat yang
disepakati al-Bukhari dan Muslim di atas, maka cara
bertayammum adalah sebagai berikut:
Mengucap basmalah (yakni bismillâhirrahmânirrahîm)
sambil meletakkan kedua telapak tangan di tanah (boleh di
dinding) kemudian meniup debu yang menempel di kedua
telapak tangan tersebut.
Mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah satu kali,
kemudian langsung mengusapkan ke tangan kanan lalu kiri
cukup sampai pergelangan telapak tangan, masing-masing
satu kali.
Hal-hal yang membatalkan tayammum,
adalah:
Semua hal yang membatalkan wudu.
Menemukan air suci sebelum mengerjakan shalat. Bagi
yang sudah shalat lalu menemukan air untuk bersuci pada
saat waktu shalat belum lewat maka ada dua pilihan
kebolehan, yakni pertama, ia boleh tidak mengulangi
shalatnya lagi, dan kedua, boleh juga ia berwudu lalu shalat
lagi (HR. Abu Daud dan al-Nasa’i). Namun jika sudah
bertayammum dan belum melaksanakan shalat, maka ia
wajib berwudu’. (HR. al-Bukhari, dari `Amran)
Habis masa berlakunya, yakni satu tayammum untuk satu
shalat, kecuali bila shalatnya dijama’. Menurut keterangan
sahabat Ibn Abbas (HR. al-Daraquthni) dan Ibn Umar (HR.
al-Bayhaqi) bahwa masa berlaku tayammum hanya untuk
satu kali shalat, meskipun tidak berhadats. Inilah pendapat
yang lebih kuat. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa
sebagai pengganti wudu maka masa berlaku tayammum
sama dengan masa berlaku wudu.
Narasumber utama artikel ini: Syakir Jamaluddin
Tuntunan Shalat
Kita sepakati bersama bahwasannya tujuan kita sebagai
hamba Allah Swt semata-mata hanya untuk meraih ridha-
Nya. Cara kita untuk meraih ridho tersebut pun dapat
dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya yaitu
dengan beribadah. Kunci dalam pelaksanaan salat adalah
dibuka oleh wudu, permulaannya takbir dan
penghabisannya salam (HR. Abu Dawud dan Attirmidzi).
Baca Juga
No Content Available
Kemudian firman Allah Subhanahu wata’ala “Dan tidaklah
mereka diperintah melainkan supaya menyembah kepada
Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam menjalan agama (al-
bayyinah : 5). Dalam dua dalil tersebut tersurut makna
ubudiyah dan akhlaqiyah bagi hamba Allah yang
mengerjakan salat.
Sebagai seorang muslim, tentu ibadah sholat merupakan
pokok utama kita sebagai bentuk keimanan dan ketaqwaan
hambanya, yang mana suatu saat nanti niat kita dalam
melaksanakan ibadah sholat akan dipertanggung jawabkan
di akhirat kelak. Tentu, dengan niatpun tak cukup untuk
membuat ibadah kita sempurna. Dalam hadist dari Malik
bin Huwairis ra:
ٌأ َأ
َصٌّلْوا َكَما َر ْيٌتٌمْوِني َصِّلْي: َقا َل َر ُس وٌل اللِه َصَّلى اللُه َعَلْيِه َو َس َّلَم
Rasulullah saw bersabda, “Shalatlah kamu sebagaimana
kamu melihat aku melakukan shalat”
Dalam fiqh, sholat adalah doa. Doa ini dapat diartikan
bahwa sholat merupakan ibadah yang tersusun dari
beberapa perkataan dan perbuatan yang diawali dengan
takbir, kemudian diakhiri dengan salam. Makna tersebutlah
yang menunjukan bahwa sangat perlu diperhatikan
mengenai syarat dan rukun sholat.
Agar ibadah sholat kita sempurna, perlu adanya
pemahaman dan pengamalan mengenai syarat sah sholat
yaitu beragama islam, baligh, mempunyai akal sehat dan
suci dari haid dan nifas. Selain itu juga, kita harus
mengetahui dan memperhatikan rukun shalat. Berikut
rukun dan bacaan sholat beserta bacaan yang dapat
dipelajari menurut Himpunan Putusan Tarjih
Muhammadiyah:
Berdiri bagi yang mampu
Rukun pertama yang harus kita penuhi sebelum
melaksanakan shalat adalah berdiri tegak, menghadap
kiblat dan berniat ikhlas karena Allah.
Niat dan takbiratul ikhram
Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya
bahwasannya setiap perbuatan yang akan kita lakukan
tergantung pada niatnya. Jika niat yang kita tanamkan
dalam hati baik, maka pahala yang akan kita dapatkan juga
akan baik. Begitupun juga sebaliknya.
Hadist riwayat Bukhori dan Muslim:
ِإنَما اَاْلْعَماُل ِبا لِّنَّيا ِت
‘’Sesungguhnya (sahnya) amal itu tergantung kepada niat’’
ِاَذا ُقْمَت ِإَلى الَّصاَل ِة َفَكِّبْر
“Bila kamu menjalankan shalat, takbirlah…”
Hadist diatas merupakan penggalan dari sebuah hadist
yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dijelaskan
didalamnya bahwa Rasulullah Saw mengajarkan tentang
bertakbir dalam shalat yaitu ketika ia menghadap ke kiblat
dan mengangkat kedua belah tangannya dengan membaca
Allahu Akbar.
Sholat Takbiratul Ihram
Takbiratul Ihram
Bacaan doa iftitah:
الَّلُهَّم، َكَما َباَعْدَت َبْيَن الَمْش ِرِق َوالَمْغِرِب، الَّلُهَّم َباِع ْد َبْيِني َوَبْيَن َخ َطاَياَي
الَّلُهَّم اْغِس ْل، َكَما ُيَنَّقى الَّثْوُب اَألْبَيُض ِمَن الَّدَنِس، َنِّقِني ِمَن الَخ َطاَيا
َوالَبَر ِد، َوالَّثْلِج، َخ َطاَياَي ِباْلَماِء
Allahumma baaid baynii wa bayna khotoyaaya kamaa
baa’adta baynal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii
min khotoyaaya kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minad
danas. Allahummagh-silnii min khotoyaaya bil maa-iwats
tsalji wal barod.
Artinya; Wahai Allah jauhkanlah antara aku dan kesalahan-
kesalahanku sebagaimana engkau jauhkan antara timur
dan barat, ya Allah bersihkanlah aku dari kesalahan
sebagaimana bersihnya baju putih dari kotoran, ya Allah
basuhlah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju dan air
dingin.
Bacaan Sholat: Membaca Surat Al Fatihah
Membaca Surat Al Fatihah merupakan suatu hal yang wajib
dilakukan ketika shalat setiap rakaatnya.
َأ
َعْن ِع َبَاَدَة ْبِن الَّصاِمِت ِن َر ُس ْوَل اللِه صلى الله عليه وسلم َقاَل اَل َصاَل َة ِلَمْن
ْأ
َلْم َيْقَر ِبَفاِتَحِة اْلِكَتاِب
“Rasulullah Saw bersabda, “Tidak sah shalatnya orang yang
tidak membaca permulaan Kitab (Fatihah).
Sholat
Sholat
Ruku’ dan Tuma’ninah
Nabi Muhammad saw pernah bersabda dalam hadist
riwayat Bukhari No. 793 dan Muslim No. 397)
ُثَّم اْر َكْع َحَّتى َتْطَمِئَّن َر اِكًعا
“kemudian, rukuklah dan thuma’ninahlah saat rukuk.”
Ruku’ dilakukan dengan melapangkan punggung dengan
leher dan kedua belah tangan memegang lutut sembari
membaca doa:
ُس ْبَح اَنَك الّلهم َر َّبَنا َوِبَح ْمِدَك الّلهم اْغِفْر ِلْي
Subhaanakallaahumma rabbanaa wabihamdika
Allaahummagh firlii
Artinya: Maha Suci Engkau, ya Allah. Dan dengan memuji
Engkau, ya Allah, aku memohon ampun.
Sholat Rukuk
Ruku’
I’tidal setelah rukuk dan Thuma’ninah
Rukun I’tidal ini dilakukan dengan mengangkat kedua belah
tangan seperti dalam takbiratul ihram. Dalam Himpunan
Putusan Tarjih Muhammadiyah terdapat bacaan doa ketika
bersamaan mengangkat kedua belah tangan:
َس ِمَع اللُه ِلَمْن َحِمَدُه
Sami’allaahu liman hamidah
“Allah mendengar orang yang memuji Nya”
Setelah itu membaca doa:
َر َّبَنا َوَلَك اْلَح ْمُد
Rabbanaa wa lakal hamd
“Ya Tuhanku, segala puji itu bagi engkau”
Ataupun juga dapat membaca:
َس ِمَع اللُه ِلَمْن َحِمَدُه َر َّبَنا َوَلَك اْلَح ْمُد ِمْل ُء الَّس موِت َوِمْل ُءاَأْلْر ِض َوِمْل ُء َما
ِش ْئَت ِمْن َش ْي ٍء َبْعُد
Sami’allahu limah hamidah. Allahumma robbana lakal
hamdu mil us samaa waa ti wa mil ul ardhi wa mil umaa
syi’ta syai in ba’du”
“ Ya Allah, Tuhanku, bagiMu segala puji, sepenuh semua
langit, sepenuh bumi, dan sepenuh semua apa yang Kau
sukai dari sesuatu apapun”
Selain itu bacaan doa i’tidal yaitu
َس ِمَع اللُه ِلَمْن َحِمَدُه َر َّبنَا َوَلَك اْلَح ْمُد َح ْمًدا َكِثْيًر ا َطِّيًبا ُمَباَر ًكاِفْيِه
Sami’allaahu liman hamidah. Rabbanaa wa lakal hamdu
hamdan katsiran thayyiban mubaarokan fiih
“Allah mendengar orang yang memujinya. Ya Tuhanku, bagi
Mulah segala puji, pujian yang banyak, baik dan
memberkati
Bacaan Sholat: Sujud dua kali dalam satu rakaat
Rukun ini dilakukan dengan takbir, letakkan kedua lutut dan
jari kakimu diatas tanah, lalu kedua tanganmu, kemudian
dahi dan hidung. Dengan menghadapkan ujung jari kakimu
ke arah kiblat serta meregangkan tanganmu daripada
kedua lambungmu dengan mengangkat sikumu. Dalam
Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah terdapat
beberapa bacaan doa ketika sujud yaitu:
ُس ْبَح اَنَك اللُهَّم َر َّبَنا َوِبَح ْمِدَك اللُهَّم اْغِفْر ِلْي
Subhaanakallah humma rabbanaa wa
bihamdikallahummaghfirlii
“ Maha suci Engkau, Ya Allah, dan dengan memuji kepada
Engkau, Ya Allah, aku memohon ampun”
Ataupun dengan salah satu doa Nabi Muhammad saw:
ُس ْبَح اَن َر ِّبَي اَأْلْعَلى
Subhaana Rabbiyal a’laa
“Maha suci Tuhanku yang Maha Tinggi”
Atau berdoa:
ْل اَل
ُس ُّبْوٌح ُقُّدْوٌس َر ٌّب ا َم ِئَكِة َوالُّرْوِح
Subbuuhun quddusun rabbul malaaikati warruuh
“Maha Suci, Maha Kudus, Tuhannya sekalian Malaikat dan
Ruh (Jibril).
Sholat Sujud
Sujud
Duduk di antara dua sujud
Duduk diantara dua sujud ini dilakukan dengan
mengangkat kepala seraya bertakbir dan duduk tenang.
Terdapat bacaan doa kerika duduk diantara dua sujud
sesuai dengan Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah:
َالّلُهَم اْغِفْر ِلْي واْر َح مِنْي َواْجُبْر ِنْي َواْهِدِنْي َواْر ُز ْقِنْي
Allaahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii
“ Ya Allah, ampunilah aku, belas kasihanilah aku, cukupilah
aku, tunjukilah aku dan berikanlah rezeki kepadaku”
Bacaan Sholat: Tasyahud Akhir
Bacaan doa tasyahud akhir:
. َالَّس َالُم َعَلْيَك َأُّيهَا الَّنِبُّيَوَر ْح َمُة اللِه َوَبَر كَاُتُه. َالَّتِح َّياُت ِلّلِه َوالَّصَلَواُت َوالَّطِّيبَاُت
َالَّس َالُم َعَلْينَا َوَعَلى ِع بَاِداللِه الَّصاِلِح ْيَنَأْش َهُد َاْن َالِاَلَه ِاَّال اللِه َوَأْش َهُد َأَّن ُمَح َّمًدا
َعْبُدُه َوَر ُس ْوُلُه
Attahiyyaatu lillaahi washsholawaatu waththoyyibaat.
Assalaamu ‘alaika ayyuhannabiyyu warohmatullaahi
wabarokaatuh. Assalaamu’alainaa wa’ala
‘ibaadillaahi shshoolihiin. Asyhadu anlaa ilaaha illallaah
waasyhadu annamuhammadan ‘abduhu warosuuluh
“Segala kehormatan, kebahagiaan dan kebagusan adalah
kepunyaan Allah, Semoga keselamatan bagi Engkau, ya
Nabi Muhammad, beserta rahmat dan kebahagiaan Allah.
Mudah-mudahan keselamatan juga bagi kita sekalian dan
hamba-hamba Allah yang baik-baik. Aku bersaksi bahwa
tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa
Muhammad itu hamba Allah dan utusan-Nyautusan-Nya,”
Bacaan Sholat: Membaca Sholawat
Bacaan doa sholawat:
َكَما َصَّلْيَت َعَلى ِإْبَر اِهيَم َوَعَلى آِل، َوَعَلى آِل ُمَح َّمٍد، لَّلُهَّم َصِّل َعَلى ُمَح َّمٍد
َكَما، َوَعَلى آِل ُمَح َّمٍد، الَّلُهَّم َباِرْك َعَلى ُمَح َّمٍد، ِإَّنَك َحِميٌد َمِج يٌد، ِإْبَر اِهيَم
ِإَّنَك َحِميٌد َمِج يٌد، َوَعَلى آِل ِإْبَر اِهيَم، َباَر ْكَت َعَلى ِإْبَر اِهيَم
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad
kamaa shollaita ‘ala Ibroohim wa ‘ala aali Ibrohim, innaka
hamidun majiid. Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala
aali Muhammad kamaa baarokta ‘ala Ibrohim wa ‘ala aali
Ibrohimm innaka hamidun majiid
“Ya Allah, semoga shalawat tercurah kepada Muhammad
dan keluarga Muhammad. Seperti rahmat yang tercurah
pada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan limpahilah berkah
atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Seperti
berkah yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan
keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha
Mulia di seluruh alam,”
Kemudian membaca doa untuk memohon perlindungan:
َالَّلُهَّم ِإِّنْي َأُعْوُذ ِبَك ِمْن َعَذاِب َج َهَّنَم َوِمْن َعَذاِب اْلَقْبِر َوِمْن ِفْتَنِة اْلَمْحَيا
َواْلَمَماِت َوِمْن َش ِّر ِفْتَنِة اْلَمِسْيِح الَّدَّج اِل
Allaahumma inni a’uudzubika min ‘adzaabil qabri wa min
‘adzaabinnaari jahannama wa min fitnatil mahyaa wal
mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal.
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari
adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah kehidupan
dan kematian, dan dari keburukan fitnah Dajjal.”
Bacaan Sholat: Salam
Menurut hadist Rasulullah saw dari Ali bin Abi Thalib
bahwasannya kunci pembuka shalat itu wudu,
permulaannya takbir dan penghabisannya salam.
Dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah terdapat
dua macam salam:
Ke kanan : الَّس َالُم َعَلْيُكْم َوَر ْح َمُة اللِه َوَبَر َكاُتُه
Ke kiri : الَّس َالُم َعَلْيُكْم َوَر ْح َمُة اللِه َوَبَر َكاُتُه
Ke kanan : الَّس َالُم َعَلْيُكْم َوَر ْح َمُة اللِه
Ke kiri : الَّس َالُم َعَلْيُكْم َوَر ْح َمُة اللِه
Sholat Salam
Salam
Dari rukun-rukun dan bacaan sholat yang sudah dijelaskan
di atas, memberi kesimpulan bahwasannya dengan kita
belajar tentang ilmu shalat seorang hamba akan kokoh dan
yakin bahwasanya salat yang ia kerjakan khusyuk. Dan
ilmu juga akan mengantarkan seorang hamba ditinggikan
beberapa derajat.
Lalu lebih dari pada itu seseorang jika mengaplikasikan
ilmu tentang shalat dalam kehidupan sehari-harinya, maka
akan terpancarkan sinar kebaikan yang ada dalam jiwanya.
Maka dari itu, sepatutnya sebagai orang islam kita perlu
mendirikan shalat dengan berlandaskan keilmuan kita
terhadap lafadz, gerakan dan makna dari setiap yang kita
lakukan dalam sholat.
In Syaa Allah salat kita akan diterima dan kita semua
termasuk dalam hamba-hambanya yang khusyuk dan dari
semua itu akan memberikan pengaruh baik pada
kehidupan manusia di dunia. (Afra)