Bahasa Indonesia
3.4 Penulisan Kata Depan (di, ke) dan Awalan (di-, ke-)
⁃ Penulisan kata yang perlu mendapat perhatian dalam karya ilmiah adalah
kemampuan membedakan antara kata depan (di, ke) dan awalan (di-, ke-). Penulisan
kata depan di sering dipertukarkan penulisannya dengan di-sebagai prefiks,
misalnya: di sebelah sering ditulis disebelah, sedangkan dikontrakkan sering
ditulis di kontrakkan. Dampenulisan kata depan ke dengan bentuk dasar yang
mengandung ke, misalnya: ke luar (‘ke tempat luar’) keluar (‘pergi ke luar’), dan
penulisan kata depan di luar dengan diluar.
⁃ Kata depan di harus dipisahkan dari kata yang mengikutinya karena
mempunyai kedudukan sebagai kata. Pengenalannya dapat dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan di mana? Jawabannya yang mengandung kata depan di harus dipisahkan
penulisannya, misalnya di samping, di sini, di pasar, di kantor, dan di pura.
Selain itu, untuk mengetahui bahwa bentuk di sebagai kata depan, bentukan itu dapat
dipasangkan dengan kata depan ke atau kata depan dari, misalnya: di samping>ke
samping>dari samping di sini>ke sini>dari sini
⁃ Berbeda dengan penulisan di- sebagai awalan (prefiks) yang hanya dapat
melekat pada kata kerja, baik disertai akhiran -kan, -i, maupun tanpa akhiran,
penulisannya harus dirangkaikan dengan kata kerja yang mengikutinya, misalnya:
dikontrakkan, diawasi, dibawa. Untuk lebih meyakinkan bahwa bentuk di- sebagai
prefiks bentukan yang diperoleh dapat dipasangkan dengan bentukan yang mengandung
prefiks me-, misalnya: dikontrakan>mengontrakkan diawasi>mengawasi dibawa>membawa
⁃ Tidak jauh berbeda dengan kata depan di, kata depan ke juga ditulis
terpisah dari kata yang mengikutinya, misalnya: ke dalam, ke sana, ke rumah. Untuk
meyakinkan bahwa bentuk ke sebagai kata depan, bentukan itu dapat dipasangkan
dengan kata depan di atau kata depan dari, misalnya: ke dalam>di dalam>dari dalam
ke sana>di sana>dari sana ke rumah>di rumah>dari rumah
⁃ Namun ada bentukan tertentu yang sulit ditentukan apakah bentukan itu
mengandung kata depan atau bukan, misalnya bentukan keluar. Bentukan keluar yang
dapat dipasangkan dengan bentukan di luar dan dari luar maka bentukan itu dapat
dikatakan mengandung kata depan dan penulisannya harus dipisahkan, misalnya ke
luar. Jika bentukan itu merupakan lawan dari bentukan masuk, bentukan itu harus
dirangkaikan, misalnya keluar >< masuk.
3.5 Penulisan Partikel
⁃ Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (2015) disebutkan bahwa
terdapat partikel -lah, -tah, -kah, dan -pun yang ditulis serangkai dengan kata
yang mendahuluinya, misalnya: tulislah, mungkinkah, apatah, dan walaupun. Penulisan
partikel -lah, -kah, dan –tah tidak ditemukan kesalahan dalam penulisannya, tetapi
penulisan partikel –pun sering mengalami kesalahan, misalnya: sekalipun atau sekali
pun, apapun atau apa pun, ataupun atau atau pun.
⁃ Ejaan bahasa Indonesia memilah pemakaian partikel pun menjadi dua,
yakni (1) partikel –pun yang dianggap padu dengan kata yang mendahuluinya, seperti
adapun, biarpun, ataupun, andaipun, bagaimanapun, kalaupun, maupun, meskipun,
sungguhpun, walaupun, sekalipun; (2) bentuk pun yang berfungsi sebagai kata penuh
yang bersinonim dengan kata juga, misalnya: sekali pun, kami pun, sepeda pun, harga
mahal pun dalam kalimat:
• Jangan dua kali, sekali pun dia tidak pernah datang ke rumah.
• Kami pun turut serta dalam perlombaan itu.
• Jangankan mobil, sepeda pun dia tidak punya.
• Dengan harga mahal pun, sembako tetap diserbu pelanggan.
⁃ Dengan demikian, -pun ditulis serangkai apabila unsur itu sudah padu
dengan kata yang mendahuluinya, sedangkan bentuk pun ditulis terpisah dengan kata
yang mendahuluinya apabila pun didahului oleh kata kerja, kata ganti, kata benda,
dan kata sifat.
⁃ Senada dengan partikel –pun atau pun, bentukan per harus dibedakan
antara partikel per dan awalan per-. Partikel per pada frasa: satu per satu, per 1
Oktober, per helai berbeda dengan awalan per- pada: pertama, pertegas,
perkebubunan, dan memperindah. Partikel per yang berarti ’demi,’ ’setiap,’ dan
’mulai’ harus ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, sedangkan per- yang
merupakan satu kesatuan harus dirangkaikan.
3.6 Penulisan Singkatan dan Akronim
⁃ Kaidah penulisan singkatan meliputi singkatan nama orang, nama gelar,
jabatan atau pangkat yang diikuti dengan tanda titik, misalnya: Moh. Yamin, Dr. A.
A. Putu Putra, [Link]., Kol. Soeharto, Sdr. I Made Buda, Bpk. I Wayan Subawa;
singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi,
serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf
kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik, misalnya: DPR, SMUN, PT, KTP;
singkatan umum yang terdir atas tiga huruf atau lebih diikuti oleh satu titik,
misalnya: dll., dst., hlm., sda., tetapi apabila terdiri atas dua huruf maka
ditulis dengan dua titik, misalnya, a.n., s.d., u.b.
⁃ Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku
kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan
sebagai kata. Kaidah penulisan akronim meliputi: akronim nama diri yang berupa
gabungan huruf awal dari deret kata yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital,
misalnya: ABRI, IKIP, PASI; akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau
gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf kapital pada
huruf awalnya, misalnya: Unud, Akabri, Bappenas, Kowani; akronim yang bukan nama
diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata
dari deret kata seluruhnya, ditulis dengan huruf kecil, misalnya: pemilu, rapim,
tilang.
3.7 Penulisan Angka dan Lambang Bilangan
⁃ Ada dua belas kaidah penulisan angka dan lambang bilangan, tetapi
penulisan angka dan lambang bilangan yang sering dipersoalkan penulisannya adalah
angka yang digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, satuan waktu, nilai uang, dan
kuantitas; angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar; penulisan bilangan
tingkat; penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran -an; lambang bilangan
yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata; serta lambang bilangan pada awal
kalimat.
⁃ Penulisan angka yang digunakan untuk menyatakanukuran panjang, luas,
isi, satuan waktu, nilai uang, dan kuantitas, misalnya: 1 cm, 5 kg, 15 l, pukul
17.30, 2.000 rupiah, Rp5.000,00, dan 25 orang; Penulisan angka yang menunjukkan
bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih mudah dibaca, misalnya:
300 juta, 500 juta; penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut,
misalnya: Bab I, Bab kesatu, Bab ke-1, abad 21, abad kedua puluh satu, Abad ke-21.
Kenyataannya, angka semacam itu sering ditulis secara salah: Bab ke I, Abad ke XXI.
⁃ Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran – an, misalnya: tahun
2000-an, uang 5000-an, tetapi sering ditulis 2000 an dan 5000 an; Penulisan lambang
bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf,
kecuali jika beberapa bilangan dipakai secara berurutan, misalnya: satu kali dan
dua puluh kali
(1) Mereka hadir dalam rapat sejumlah 25 orang anggota.
(2) Di antara 40 anggota yang hadir, 22 orang setuju, 10 tidak
setuju, dan 8 orang tidak memberikan suara.
⁃ Penulisan bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu,
susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu
atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat, misalnya:
(3) Empat ratus orang diterima dalam seleksi penerimaan siswa baru tingkat SMUN
itu.
(4) Bapak kepala sekolah mengundang 450 orang siswa untuk seleksi siswa
berprestasi.