0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan10 halaman

Pengaruh Knowledge Sharing terhadap Inovasi

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan10 halaman

Pengaruh Knowledge Sharing terhadap Inovasi

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Akuntansi, Manajemen dan Ilmu Manajemen (JASMIEN)

Volume 03 Nomor 03 Tahun 2023


(Online) 2723-813X l (Print) 2723-8121
[Link]
Pengaruh Knowledge Sharing, Absortive Capacity dan Organizational Learning Capability
Terhadap Innovation Performance Pada PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero)
Medan

M Mario Boy Sandy1, Alvin Fahlevi 2, Sopi Pentana3


Universitas Harapan Medan

ARTICLEINFO ABSTRAK

Article history: The formulation of the problem in this study is whether knowledge sharing
Received : 20 Mei 2023 has an effect on the Performance of the State Civil Apparatus (ASN) at PT.
Revised : 21 Mei 2023 Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Does absortive capacity
Accepted : 24 Mei 2023 affect the performance of the State Civil Apparatus (ASN) at PT.
Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Does organizational learning
capability affect the performance of the State Civil Apparatus (ASN) at PT.
Keywords: Knowledge Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Does knowledge sharing,
Sharing, Absortive absortive capacity and organizational learning capability affect the
Capacity, Organizational performance of the State Civil Apparatus (ASN) at PT. Perkebunan
Learning Capability, Nusantara IV (Persero) Medan. The total population in this study
Innovation Performance amounted to 389 people, and by using the Slovin formula obtained a
sample of 80 people. The analysis technique used is multiple linear
HR Tax Planning, regression. The results showed that knowledge sharing had a positive and
significant effect on innovation performance at PT. Perkebunan Nusantara
Income tax Article 21, IV (Persero) Medan. Absortive capacity has no effect on innovation
Tax Burden Efficiency performance at PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan.
Organizational learning capability has a positive and significant effect on
innovation performance at PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero)
Medan. Knowledge sharing, absortive capacity and organizational
learning capability have a positive and significant effect on innovation
performance at PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0


International License.
Correspondling Author :
Mario Boy
Universitas Harapan Medan
Email : marioboys0800@[Link]

Pendahuluan
Organizational learning capabiltiy merupakan kemampuan organisasi untuk menerapkan ide-
ide kreatif ke dalam proses, produk maupun aspek lainnya untuk mencapai kinerja organisasi
yang lebih baik dan kompetitif. Organizational learning capabiltiy data didefinisikan sebagai
suatu proses kegiatan atau pemikiran manusia untuk menemukan sesuatu yang baru yang
berkaitan dengan input, proses dan output serta dapat memberikan manfaat dalam kehidupan
manusia. Organizational learning capabiltiy yang berkaitan degan input diartikan sebagai
pola pemikiran dan metode atau teknik kerja yang telah dilakukan.
Perilaku inovatif merupakan perilaku yang memunculkan, meningkatkan dan menerapkan
182
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3

[Link]/10.54209/jasmien.v3i03.381 Hal : 182-191

ide-ide baru dalam tugasnya, lingkungan kerja atau organisasinya. Menurut Darmadi (2018)
mengartikan proses modernisasi, ditekankan bahwa perubahan kehidupan akibat perilaku
inovatif modernisasi ini diikuti oleh perubahan sikap, sifat atau gaya hidup individu-individu
dalam masyarakat.
Salah satu faktor sumber daya manusia (SDM) yang berpengaruh dalam lingkungan
organisasi perusahaan adalah faktor perilaku inovatif. Menurut Mangkunegara (2017)
perilaku inovatif pada dasarnya merupakan kemampuan individu melakukan perubahan cara
kerja dalam bentuk mengadopsi prosedur, praktek dan teknik kerja yang baru dalam
menyelesaikan tugas dan pekerjannya. Perilaku inovatif disarankan menjadi penting bagi
organisasi yang ingin meningkatkan efisiensi dan efektifitas keseluruhan proses organisasi.
Organisasi yang ingin maju harus memiliki kemampuan yang inovatif untuk meningkatkan
kinerja organizational learning capabiltiy baik individu maupun organisasi, melalui
kemampuan berbagi pengetahuan.

Pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang diinterpretasikan dan diintegrasikan.


Knowledge berasal dari informasi yang diserap dalam akal pikiran seseorang, sedangkan
seorang lainnya mengasimilasi pengetahuan tersebut. Fokus knowledge sharing di masing-
masing individu yaitu mampu menjelaskan, mengkodekan dan mengkomunikasikan
pengetahuan kepada orang lain dan kelompok kerja dalam organisasi. Knowledge sharing
dapat terjadi diantara individu, di dalam dan diantara tim, antara unit organisasi, dan antara
organisasi. Definisi diatas diperluas lagi dengan pernyataan bahwa knowledge sharing
merupakan proses dimana individu secara kolektif dan interaktif memperbaiki sebuah
pemikiran, gagasan, atau saran sesuai dengan petunjuk dari pengalaman individu.
Knowledge sharing akan berhasil bila dalam organisasi tercipta hubungan baik diantara
anggota, membuat mereka merasa senang dapat membantu orang lain, mendapat dukungan
dari pimpinan dan balas jasa dalam berbagi pengetahuan. Saling memberi dan menerima
pengetahuan dan informasi bagi karyawan adalah hal yang normal dilakukan dengan senang
hati, sehingga bila ada rekan kerja mendapatkan pengetahuan baru mereka akan memberitahu
pada rekan kerja lain tanpa diminta, demikian juga mereka menerima pengetahuan baru dari
rekan kerja tanpa meminta. Semakin tinggi perilaku berbagi pengetahuan akan meningkatkan
perilaku inovatif seseorang.

Absorptive capacity juga diperlukan dalam aktifitas sharing knowledge untuk menyebarkan
pengetahuan diantara unit yang berbeda dan mencegah kerugian suatu kelompok atau
organisasi. Pengetahuan merupakan sebuah dasar atau pondasi untuk belajar bagi suatu
individu maupun suatu organisasi untuk menyerap pengetahuan tersebut. Absorptive capacity
seseorang adalah kemampuan yang bukan hanya ditujukan untuk memperoleh dan
mengasimilasi tapi juga untuk menggunakan knowledge.

Menurut Afandi (2018) menggambarkan sebagai sebuah kemampuan daya serap suatu
organisasi untuk mengenali informasi eksternal yang baru, berasimilasi, dan menerapkannya
untuk tujuan komersial. Hal ini sebagian besar merupakan fungsi dari pengetahuan yang
terkait sebelumnya. Pada tingkat organisasi, pengetahuan ini meliputi pengembangan
keterampilan dasar, dan pengetahuan ilmiah atau teknologi yang paling baru di bidang terkait.
Absorptive capacity pada konteks administrasi bisnis digunakan untuk mengukur kemampuan
dari suatu perusahaan untuk menilai, mengasimilasi, dan menerapkan knowledge baru, yang
dipelajari pada berbagai tingkatan baik individu, kelompok, perusahaan, dan nasional
Absorptive capacity seseorang adalah kemampuan yang bukan hanya ditujukan untuk

183
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3

[Link]/10.54209/jasmien.v3i03.381 Hal : 182-191

memperoleh dan mengasimilasi tapi juga untuk menggunakan knowledge. Kemampuan


seorang individu untuk mengevaluasi dan memanfatkan knowledge yang berasal dari luar
dengan lebih baik merupakan tingkatan fungsi dari knowledge terdahulu yang saling
berhubungan. Knowledge terdahulu yang saling berhubungan ini memberikan suatu
kemampuan untuk mengenali nilai knowledge baru dan untuk mengasimilasi dan menerapkan
pengaturan baru. Secara spesifik, knowledge terdahulu tersebut dapat mencakup keahlian
dasar, pembagian bahasa, atau knowledge apapun dari perkembangan teknologi atau
perkembangan ilmiah yang paling terbaru pada bidang yang berkaitan.

Organizational learning yang baik akan lebih tahan terhadap krisis. Dimensi seperti
keinginan, disiplin, pengambilan keputusan, dan kesejajaran disajikan sebagai elemen penting
pembelajaran organisasi. Organizational learning juga merupakan indikator kinerja yang
penting untuk mengevaluasi kinerja organiasi secara keseluruhan yang mampu membantu
membangun sumber daya pengetahuan yang diperlukan dan mempertahankan pertumbuhan
serta kelangsungan perusahaan. Kemampuan akses terhadap pengetahuan adalah faktor
pembeda antar perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya. Kesuksesan strategi
perusahaan sangat signifikan berkaitan dengan basis pengetahuan yang kokoh dan dimiliki
oleh setiap insan perusahaan Penciptaan pengetahuan yang dikondisikan oleh organizational
learning akan memicu dan memacu innovation capability. Organizational learning capabiltiy
perusahaan akan berkesinambungan ketika didasari oleh budaya belajar yang memberi nilai
tambah. Budaya belajar inilah yang menjadikan semua pegawai berinteraksi satu sama lain
sehingga pengetahuan mereka saat ini dan pengetahuan baru yang diperoleh dapat secara
efektif ditransfer, dipertukarkan dan digabungkan menjadi kecerdasan dan pengetahuan
sekolah

PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan adalah merupakan salah satu Badan Usaha
Milik Negara yang bergerak dalam bidang usaha perkebunan, pengolahan dan pemasaran
hasil perkebunan. Berdasarkan observasi awal, yang telah dilakukan peneliti dapat dilihat
fenomena yang terjadi pada perusahaan melihat beberapa permasalahan pada Innovation
Performance kurangnya organizational learning capabiltiy karyawan dalam melakukan
pekerjaan hal ini dilihat dari tidak tercapainya target kerja karyawan. Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor antara lain, kurangnya berbagi pengetahuan atau knowledge sharing antar
karyawan di satu divisi, Absorptive capacity dimana kapasitas penting untuk kinerja
perusahaan dan kelangsungan hidup jangka panjang Levinthal ini mengacu pada kemampuan
perusahaan untuk mengenali nilai baru, informasi eksternal, asimilasi, dan menerapkannya ke
tujuan komersial serta Organizational Learning Capability dimana kurangnya pengarahan
dan pelatihan yang dapat mengembangkan pengetahuan karyawan untuk bekerja lebih kreatif
dan berorganizational learning capabiltiy

Teori Dan Pengembangan Hipotesis


Innovation Performance
Menurut Sudaryory et al (2018) innovation performance dapat didefinisikan sebagai sejauh
mana kemampuaan organisasi untuk bisa meningkatkan kreativitasnya dalam membuat suatu
ide mengenai produk baru, metode operasi baru dan proses desain baru.

Knowledge Sharing
Menurut Siahaan (2019) berpendapat bahwa : “knowledge sharing merupakan suatu proses
sistematis dalam mengirimkan, mendistribusikan, dan mendiseminasikan pengetahuan dan

184
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3

[Link]/10.54209/jasmien.v3i03.381 Hal : 182-191

konteks multidimensi antar individu atau antar organisasi melalui metode atau media yang
beragam.

Absorptive Capacity
Menurut Umam (2018), yang memperkenalkan konsep absorptive capacity, sumber-sumber
pengetahuan dari luar seringkali penting untuk proses organizational learning capabiltiy,
sehingga kemampuan untuk mengeksploitasi pengetahuan eksternal sangat penting bagi
kapasitas perusahaan untuk melakukan organizational learning capabiltiy.

Organizational Learning Capability


Menurut Fattah (2017) "Organizational learning adalah organisasi yang di dalamnya terdapat
sistem, mekanisme, dan proses, yang digunakan secara kontinu oleh anggota-anggotanya
guna meningkatkan kapabilitas sehingga mampu mencapai sasaran pribadinya dan komunitas
di mana dia berpartisipasi”.

Hasil Dan Pembahasan


Uji Kualitas Data
Uji Validitas Data
Uji validitas dilakukan untuk mengukur apakah data yang didapat setelah penelitian
merupakan data yang valid dengan alat ukur yang digunakan (kuesioner). Pengujian validitas
dan reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan Software Statistic Package and
Social Science (SPSS).

Tabel 1. Hasil Uji Validitas Variabel X1 (Knowledge Sharing)


Pernyataan rhitung rtabel Validitas
Butir 1 0.555 0,217 Valid
Butir 2 0.506 0,217 Valid
Butir 3 0.569 0,217 Valid
Butir 4 0.423 0,217 Valid
Butir 5 0.621 0,217 Valid
Variabel X2 (Abosrptive Capacity)
Pernyataan rhitung rtabel Validitas
Butir 1 0.466 0,217 Valid
Butir 2 0.595 0,217 Valid
Butir 3 0.553 0,217 Valid
Butir 4 0.524 0,217 Valid
Butir 5 0.445 0,217 Valid

Variabel X3 (Organizational Learning Capabiltiy)


Pernyataan rhitung rtabel Validitas
Butir 1 0.483 0,217 Valid
Butir 2 0.668 0,217 Valid
Butir 3 0.725 0,217 Valid
Butir 4 0.605 0,217 Valid
Variabel Y (Innovation Performance)
Pernyataan rhitung rtabel Validitas
Butir 1 0.652 0,217 Valid
Butir 2 0.716 0,217 Valid
Butir 3 0.490 0,217 Valid

185
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3

[Link]/10.54209/jasmien.v3i03.381 Hal : 182-191

Butir 4 0.774 0,217 Valid


Butir 5 0.591 0,217 Valid
Butir 6 0.683 0,217 Valid
Butir 7 0.575 0,217 Valid

Pada Tabel 1, menunjukkan bahwa seluruh butir pernyataan telah valid karena rhitung > rtabel.
Dengan demikian, kuesioner dapat dilanjutkan pada tahap pengujian reliabilitas.

Uji Reliabilitas Data

Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Variabel


Variabel Jumlah Pertanyaan Cronbach’s Alpha Keterangan
Innovation performance (Y) 7 0.866 Reliabel
Knowledge sharing (X1) 5 0.764 Reliabel
Abosrptive capacity (X2) 5 0.750 Reliabel
Organizational learning capabiltiy (X3) 4 0.804 Reliabel

Pada pengujian reliabilitas nilai Cronbach’s Alpha harus lebih besar dari 0,60 maka instrumen
penelitian dapat dikatakan reliabel. Pada tabel IV.9 dapat dilihat bahwa nilai Cronbach’s
Alpha > 0,60 berarti bahwa instrumen tersebut reliabel.

Hasil Uji Asumsi Klasik


Pengujian Normalitas Data

Tabel 3. Hasil Uji Kolmogorov Smirnov


One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 80
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation 5,12437568
Most Extreme Differences Absolute ,115
Positive ,073
Negative -,115
Test Statistic ,115
Asymp. Sig. (2-tailed) ,051c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Berdasarkan hasil uji normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov Model 1 diperoleh nilai
Asyimp. Sig sebesar 0,051 lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan data berdistribusi
normal.

Pengujian Multikolinearitas

Tabel 4. Hasil Uji Multikolinearitas


Coefficientsa
Standardized Coefficients Collinearity Statistics
Model Beta Tolerance VIF
1 (Constant)
Knowledge Sharing ,282 ,690 1,450
Abosrptive Capacity ,034 ,845 1,184
Organizational Learning Capabiltiy ,244 ,801 1,249

186
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3

[Link]/10.54209/jasmien.v3i03.381 Hal : 182-191

a. Dependent Variable: Innovation Performance

Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai VIF dari nilai knowledge sharing, abosrptive
capacity dan organizational learning capabiltiy lebih kecil atau dibawah 10 (VIF < 10), ini
berarti tidak terkena multikolinearitas antara variabel independen dalam model regresi. Nilai
Tolerance dari nilai knowledge sharing, abosrptive capacity dan organizational learning
capabiltiy lebih besar dari 0,1 ini berarti tidak terdapat multikolinearitas antar variabel
independen dalam model regresi.

Pengujian Heteroskedasdisitas

Tabel 5. Hasil Uji Glejser


Coefficientsa
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 4,155 2,688 1,546 ,126
Knowledge Sharing ,074 ,125 ,082 ,595 ,554
Abosrptive Capacity -,026 ,107 -,030 -,241 ,810
Org. Learning Capabiltiy -,065 ,114 -,073 -,571 ,570
a. Dependent Variable: Abs_Res

Berdasarkan Tabel 5, diketahui nilai signifikansi (Sig.) untuk variabel knowledge sharing (X1)
adalah 0,554, nilai signifikansi (Sig.) untuk variabel abosrptive capacity (X2) adalah 0,810
dan nilai signifikansi (Sig.) untuk variabel organizational learning capabiltiy (X3) adalah
0,570. Karena ketiga variabel nilai signifikansi variabel di atas lebih besar dari 0,05, maka
sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam uji glejser, dapat disimpulkan bahwa tidak
terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi.

Hasil Uji Regresi Linier Berganda

Tabel 6. Hasil Uji Regresi Linier Berganda


Coefficientsa
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 8,385 4,601 1,822 ,072
Knowledge Sharing ,491 ,214 ,282 2,292 ,025
Abosrptive Capacity ,056 ,183 ,034 ,304 ,762
Org. Learning Capabiltiy ,416 ,195 ,244 2,136 ,036
a. Dependent Variable: Innovation performance

Y = 8,385 + 0,491 X1 + 0,056 X2 + 0,416 X3


a. a = 8,385 atau konstanta regresi, yang berarti jika tidak ada nilai independen variabel X1
(knowledge sharing), X2 (abosrptive capacity) dan X3 (organizational learning
capabiltiy). Dalam hal ini jika X1, X2, dan X3 sama dengan 0 (nol) maka innovation
performance akan bertambah sebesar 8,385.
b. b1 = 0,491 untuk independen variabel X1 (knowledge sharing) yang bertanda positif
menunjukkan peningkatan knowledge sharing sebesar 1 satuan akan meningkatkan
innovation performance sebesar 0,491 satuan.

187
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3

[Link]/10.54209/jasmien.v3i03.381 Hal : 182-191

c. b2 = 0,056 untuk independen variabel X2 (abosrptive capacity) yang bertanda positif


menunjukkan bahwa kenaikan abosrptive capacity sebesar 1 satuan akan meningkatkan
innovation performance sebesar 0,056 satuan.
d. b3 = 0,416 untuk independen variabel X3 (organizational learning capabiltiy) yang
bertanda positif menunjukkan bahwa peningkatan organizational learning capabiltiy
sebesar 1 satuan akan meningkatkan innovation performance sebesar 0,416 satuan.

Uji Kelayakan Model


Uji F

Tabel 7. Hasil Uji F


ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 542,321 3 180,774 6,623 ,000b
Residual 2074,479 76 27,296
Total 2616,800 79
a. Dependent Variable: Innovation performance
b. Predictors: (Constant), Organizational Learning Capabiltiy, Abosrptive Capacity, Knowledge Sharing

Dari uji ANOVA atau F test, didapat Fhitung sebesar 6,623 dengan tingkat signifikansi 0,000.
Jadi Fhitung > Ftabel (6,623 > 3,11) atau sig F < 5 % (0,000 < 0,05). Artinya bahwa secara
simultan variabel knowledge sharing, abosrptive capacity dan organizational learning
capabiltiy berpengaruh signifikan terhadap innovation performance, sehingga disimpulkan
bahwa hipotesis penelitian terbukti.

Uji Determinasi

Tabel 8. Hasil Uji Koefisien Determinasi


Model Summaryb
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 ,455a ,207 ,176 5,22454
a. Predictors: (Constant), Organizational learning capabiltiy, Knowledge sharing, Abosrptive capacity
b. Dependent Variable: Innovation performance

Dari tabel 8, diperoleh R Square adalah 0,207. Hal ini berarti 20,7% innovation performance
(Y) dipengaruhi oleh X1 (knowledge sharing), X2 (abosrptive capacity), dan X3
(organizational learning capabiltiy) secara simultan dan sisanya sebesar 79,3% ditentukan
oleh variabel lain di luar model penelitian ini.

Hasil Uji Hipotesis


Tabel 9. Hasil Uji t
Coefficientsa
Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 8,385 4,601 1,822 ,072
Knowledge Sharing ,491 ,214 ,282 2,292 ,025
Abosrptive Capacity ,056 ,183 ,034 ,304 ,762
Org. Learning Capabiltiy ,416 ,195 ,244 2,136 ,036
a. Dependent Variable: Innovation performance

188
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3

[Link]/10.54209/jasmien.v3i03.381 Hal : 182-191

Nilai t-tabel dengan derajat bebas 80 – 3 = 77 dan taraf nyata 5% adalah 1,990. Nilai t hitung
untuk X1 (2,292 > 1,990) dan Sig (0,025 < 0,05), maka knowledge sharing berpengaruh
positif dan signifikan terhadap innovation performance. Untuk nilai t hitung untuk X2 (0,304
< 1,990) dan Sig (0,762 > 0,05), maka abosrptive capacity tidak berpengaruh terhadap
innovation performance. Untuk nilai t hitung untuk X3 (2,136 > 1,990) dan Sig (0,036 <
0,05), maka organizational learning capabiltiy berpengaruh positif dan signifikan terhadap
innovation performance.

Pembahasan
Pengaruh Knowledge Sharing Terhadap Innovation Performance
Dari hasil uji regresi diperoleh hasil bahwa knowledge sharing berpengaruh positif dan
signifikan terhadap innovation performanace di PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero)
Medan. Pada praktiknya knowledge sharing behavior masih sulit untuk dilakukan karyawan
di lingkungan kerja. Kesulitan utama dari knowledge sharing behavior terletak pada faktor
manusia, karena jika tidak terdapat keinginan dari individu untuk membagi pengetahuan yang
dimilikinya maka knowledge sharing behavior tidak akan terjadi. Proses ini juga sulit
dilakukan jika tidak terdapat kesempatan untuk melakukan knowledge sharing behavior.
Terlepas dari segala kesulitan tersebut, knowledge sharing behavior memberikan keuntungan
pada perusahaan, antara lain menurunkan ongkos produksi, penyelesaian pekerjaan yang lebih
cepat, peningkatan performa tim, peningkatan kapasitas organizational learning capabiltiy,
dan peningkatan keuntungan perusahaan baik dari segi pertumbuhan penjualan atau
pendapatan dari produk dan jasa. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Rahmahthia & Etikariena (2019) Tulangow & Massie (2018) menyatakan knowledge sharing
berpengaruh terhadap innovation performance

Pengaruh Absorptive Capacity Terhadap Innovation Performance


Dari hasil uji regresi diperoleh hasil bahwa absorptive capacity tidak berpengaruh terhadap
innovation performanace di PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Absorptive
capacity dapat berkontribusi pada hasil inovatif perusahaan dan kinerja dalam organizational
learning capabiltiy setidaknya dalam dua cara. Pertama, absorptive capacity memungkinkan
perusahaan untuk menilai nilai pengetahuan eksternal, memperoleh pengetahuan eksternal
yang bermanfaat, dan kemudian menggabungkan pengetahuan tersebut dengan pengetahuan
yang ada untuk menghasilkan hasil organizational learning capabiltiy. Dalam hal ini,
absorptive capacity dapat berkontribusi pada kinerja organizational learning capabiltiy
perusahaan dengan beroperasi sebagai alat untuk memproses pengetahuan eksternal yang
bermanfaat. Kedua, karena pengetahuan tersebar secara tidak sempurna ke seluruh kelompok
dan unit dalam suatu organisasi, ide atau informasi dari satu unit dapat memberikan input ke
unit lain, yang dapat menghasilkan hasil inovatif jika pertukaran efektif dilakukan antara unit-
unit ini. Hasil ini tidak sejalan dengan hasil penelitian terdahlulu yang dilakukan oleh
Kusumawardhany (2018) Setiawan & Hartanto (2020) menyatakan absortive capacity
berpengaruh terhadap innovation performance

Pengaruh Organizational Learning Capability Terhadap Innovation Performance


Dari hasil uji regresi diperoleh hasil bahwa organizational learning capability berpengaruh
positif dan signifikan terhadap innovation performanace di PT. Perkebunan Nusantara IV
(Persero) Medan. Penciptaan pengetahuan yang dikondisikan oleh organizational learning
akan memicu dan memacu innovation capability dan kinerja organisasi. peforma
organizational learning capabiltiy akan berkesinambungan ketika didasari oleh budaya

189
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3

[Link]/10.54209/jasmien.v3i03.381 Hal : 182-191

belajar yang memberi nilai tambah. Budaya belajar inilah yang menjadikan semua karyawan
berinteraksi satu sama lain sehingga pengetahuan mereka saat ini dan pengetahuan baru yang
diperoleh dapat secara efektif ditransfer, dipertukarkan dan digabungkan menjadi kecerdasan
dan pengetahuan perusahaan. Lingkungan organisasi yang memberikan kegembiraan dalam
bekerja merupakan faktor penting dalam menciptakan innovation performance anggota
organisasi. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
Goestjahjanti et al (2020) Bai et al (2021) menyatakan organizational learning capability
berpengaruh terhadap inovation performance

Pengaruh Knowledge Sharing, Absortive Capacity, Organizational Learning Capability


Terhadap Innovation Performance
Dari hasil uji regresi diperoleh hasil bahwa knowledge sharing, absortive capacity dan
organizational learning capability berpengaruh positif dan signifikan terhadap innovation
performanace di PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Perilaku inovatif merupakan
perilaku yang memunculkan, meningkatkan dan menerapkan ide-ide baru dalam tugasnya,
lingkungan kerja atau organisasinya. Menurut Darmadi (2018) mengartikan proses
modernisasi, ditekankan bahwa perubahan kehidupan akibat perilaku inovatif modernisasi ini
diikuti oleh perubahan sikap, sifat atau gaya hidup individu-individu dalam masyarakat.
Pada praktiknya knowledge sharing behavior masih sulit untuk dilakukan karyawan di
lingkungan kerja. Kesulitan utama dari knowledge sharing behavior terletak pada faktor
manusia, karena jika tidak terdapat keinginan dari individu untuk membagi pengetahuan yang
dimilikinya maka knowledge sharing behavior tidak akan terjadi. Proses ini juga sulit
dilakukan jika tidak terdapat kesempatan untuk melakukan knowledge sharing behavior.
Terlepas dari segala kesulitan tersebut, knowledge sharing behavior memberikan keuntungan
pada perusahaan, antara lain menurunkan ongkos produksi, penyelesaian pekerjaan yang lebih
cepat, peningkatan performa tim, peningkatan kapasitas organizational learning capabiltiy,
dan peningkatan keuntungan perusahaan baik dari segi pertumbuhan penjualan atau
pendapatan dari produk dan jasa.
Absorptive capacity dapat berkontribusi pada kinerja inovatif perusahaan dengan beroperasi
sebagai jalur untuk mentransfer pengetahuan untuk kegiatan organizational learning
capabiltiy lintas organisasi. Dengan lebih mahir memproses pengetahuan eksternal yang
bermanfaat dan mengintegrasikan secara lebih baik, keberadaan perusahaan terdapat dalam
posisi yang lebih baik pula untuk meluncurkan produk baru, menyempurnakan prosesnya,
atau memulai praktik manajemen, yang semuanya kami harapkan akan meningkatkan hasil
inovatif dan kinerja terkait organizational learning capabiltiy.
Penciptaan pengetahuan yang dikondisikan oleh organizational learning akan memicu dan
memacu teacher innovation capability dan kinerja organisasi. Peforma organizational
learning capabiltiy akan berkesinambungan ketika didasari oleh budaya belajar yang memberi
nilai tambah. Budaya belajar inilah yang menjadikan semua karyawan berinteraksi satu sama
lain sehingga pengetahuan mereka saat ini dan pengetahuan baru yang diperoleh dapat secara
efektif ditransfer, dipertukarkan dan digabungkan menjadi kecerdasan dan pengetahuan
perusahaan. Lingkungan organisasi yang memberikan kegembiraan dalam bekerja merupakan
faktor penting dalam menciptakan innovation performance anggota organisasi.

Kesimpulan
Knowledge sharing berpengaruh positif dan signifikan terhadap innovation performanace di
PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Absortive capacity tidak berpengaruh
terhadap innovation performanace di PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan.

190
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3

[Link]/10.54209/jasmien.v3i03.381 Hal : 182-191

Organizational learning capability berpengaruh positif dan signifikan terhadap innovation


performanace di PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Knowledge sharing,
absortive capacity dan organizational learning capability berpengaruh positif dan signifikan
terhadap innovation performanace di PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan.

DAFTAR PUSTAKA
[1]. Afandi, P. (2018). Concept & Indicator Human Resources Management. Yogyakarta:
Deepublish.
[2]. Bai, P., Wu, Q., Li, Q., Xue, C., & Zhang, L. (2021). Mediating Effect of
Organizational Learning Capacity on the Relationship between Relational
Embeddedness and Innovation Performance in Freight Logistics Service. Hindawi, 1, 1–
18.
[3]. Darmadi. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: CV. Budi Utama.
[4]. Fattah, H. (2017). Kepuasan Kerja & Kinerja Pegawai,Budaya Organisasi,Perilaku
Organisasi Dan Efikasi Diri. Yogyakarta: Elmatera.
[5]. Goestjahjanti, F. S., Asbari, M., Purwanto, A., Agistiawati, E., & Fayzhall, M. (2020).
Pengaruh Organizationla Learning Terhadap Peningkatan Hard Skills, Soft Skills dan
Organizational learning capabiltiy Guru. EduPsyCouns Journal, 2(1), 202–226.
[6]. Kusumawardhany, P. A. (2018). Pengaruh Kapasitas Absortif dan Situs Jejaring Sosial
Terhadap Kinerja Organizational learning capabiltiy Usaha Mikro Kecil dan Menengah
di Indonesia. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan, 11(1), 71–88.
[7]. Mangkunegara, A. A. P. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung:
[Link] Kosda Karya.
[8]. Rahmahthia, S. E., & Etikariena, A. (2019). Pengaruh Knowledge Sharing Behavior
terhadap Perilaku Inovatif di Tempat Kerja pada Karyawan PT X dan PT Y. Jurnal
Psikogenesis, 7(2), 116–128.
[9]. Setiawan, R., & Hartanto, M. A. N. (2020). The Roles Of Environmental Strategy And
Innovation Performance: The Effects Of Absorptive Capacity To Competitive
Advantage. Systematic Reviews in Pharmacy, 11(12), 2341–2352.
[10]. Siahaan, M. P. (2019). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
[11]. Sudaryo, Y., Aribowo, A., & Sofiati, N. A. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta: CV. Andi Offset.
[12]. Tulangow, K. C., & Massie, J. D. D. (2016). Innovation Performance: Absorptive
Capacity to Increase Performance in Small and Medium Sized Enterprise (SMSE) (Case
Study: SMES In Manado). Jurnal EMBA, 6(4), 3318–3327.
[13]. Umam, K. (2018). Perilaku Organisasi (Ketiga.). Bandung: Pustaka Setia.
[14]. Situmorang, P. A., Adlina, H., & Siregar, O. M. (2022). THE INFLUENCE OF
BRAND AMBASSADOR AND BRAND IMAGE ON PURCHASE DECISIONS FOR
L’ORÉAL PARIS PRODUCTS IN MEDAN CITY. JURNAL EKONOMI KREATIF
DAN MANAJEMEN BISNIS DIGITAL, 1(2), 105-117.
[Link]

191

Anda mungkin juga menyukai