Pengaruh Knowledge Sharing terhadap Inovasi
Pengaruh Knowledge Sharing terhadap Inovasi
ARTICLEINFO ABSTRAK
Article history: The formulation of the problem in this study is whether knowledge sharing
Received : 20 Mei 2023 has an effect on the Performance of the State Civil Apparatus (ASN) at PT.
Revised : 21 Mei 2023 Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Does absortive capacity
Accepted : 24 Mei 2023 affect the performance of the State Civil Apparatus (ASN) at PT.
Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Does organizational learning
capability affect the performance of the State Civil Apparatus (ASN) at PT.
Keywords: Knowledge Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Does knowledge sharing,
Sharing, Absortive absortive capacity and organizational learning capability affect the
Capacity, Organizational performance of the State Civil Apparatus (ASN) at PT. Perkebunan
Learning Capability, Nusantara IV (Persero) Medan. The total population in this study
Innovation Performance amounted to 389 people, and by using the Slovin formula obtained a
sample of 80 people. The analysis technique used is multiple linear
HR Tax Planning, regression. The results showed that knowledge sharing had a positive and
significant effect on innovation performance at PT. Perkebunan Nusantara
Income tax Article 21, IV (Persero) Medan. Absortive capacity has no effect on innovation
Tax Burden Efficiency performance at PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan.
Organizational learning capability has a positive and significant effect on
innovation performance at PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero)
Medan. Knowledge sharing, absortive capacity and organizational
learning capability have a positive and significant effect on innovation
performance at PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan.
Pendahuluan
Organizational learning capabiltiy merupakan kemampuan organisasi untuk menerapkan ide-
ide kreatif ke dalam proses, produk maupun aspek lainnya untuk mencapai kinerja organisasi
yang lebih baik dan kompetitif. Organizational learning capabiltiy data didefinisikan sebagai
suatu proses kegiatan atau pemikiran manusia untuk menemukan sesuatu yang baru yang
berkaitan dengan input, proses dan output serta dapat memberikan manfaat dalam kehidupan
manusia. Organizational learning capabiltiy yang berkaitan degan input diartikan sebagai
pola pemikiran dan metode atau teknik kerja yang telah dilakukan.
Perilaku inovatif merupakan perilaku yang memunculkan, meningkatkan dan menerapkan
182
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3
ide-ide baru dalam tugasnya, lingkungan kerja atau organisasinya. Menurut Darmadi (2018)
mengartikan proses modernisasi, ditekankan bahwa perubahan kehidupan akibat perilaku
inovatif modernisasi ini diikuti oleh perubahan sikap, sifat atau gaya hidup individu-individu
dalam masyarakat.
Salah satu faktor sumber daya manusia (SDM) yang berpengaruh dalam lingkungan
organisasi perusahaan adalah faktor perilaku inovatif. Menurut Mangkunegara (2017)
perilaku inovatif pada dasarnya merupakan kemampuan individu melakukan perubahan cara
kerja dalam bentuk mengadopsi prosedur, praktek dan teknik kerja yang baru dalam
menyelesaikan tugas dan pekerjannya. Perilaku inovatif disarankan menjadi penting bagi
organisasi yang ingin meningkatkan efisiensi dan efektifitas keseluruhan proses organisasi.
Organisasi yang ingin maju harus memiliki kemampuan yang inovatif untuk meningkatkan
kinerja organizational learning capabiltiy baik individu maupun organisasi, melalui
kemampuan berbagi pengetahuan.
Absorptive capacity juga diperlukan dalam aktifitas sharing knowledge untuk menyebarkan
pengetahuan diantara unit yang berbeda dan mencegah kerugian suatu kelompok atau
organisasi. Pengetahuan merupakan sebuah dasar atau pondasi untuk belajar bagi suatu
individu maupun suatu organisasi untuk menyerap pengetahuan tersebut. Absorptive capacity
seseorang adalah kemampuan yang bukan hanya ditujukan untuk memperoleh dan
mengasimilasi tapi juga untuk menggunakan knowledge.
Menurut Afandi (2018) menggambarkan sebagai sebuah kemampuan daya serap suatu
organisasi untuk mengenali informasi eksternal yang baru, berasimilasi, dan menerapkannya
untuk tujuan komersial. Hal ini sebagian besar merupakan fungsi dari pengetahuan yang
terkait sebelumnya. Pada tingkat organisasi, pengetahuan ini meliputi pengembangan
keterampilan dasar, dan pengetahuan ilmiah atau teknologi yang paling baru di bidang terkait.
Absorptive capacity pada konteks administrasi bisnis digunakan untuk mengukur kemampuan
dari suatu perusahaan untuk menilai, mengasimilasi, dan menerapkan knowledge baru, yang
dipelajari pada berbagai tingkatan baik individu, kelompok, perusahaan, dan nasional
Absorptive capacity seseorang adalah kemampuan yang bukan hanya ditujukan untuk
183
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3
Organizational learning yang baik akan lebih tahan terhadap krisis. Dimensi seperti
keinginan, disiplin, pengambilan keputusan, dan kesejajaran disajikan sebagai elemen penting
pembelajaran organisasi. Organizational learning juga merupakan indikator kinerja yang
penting untuk mengevaluasi kinerja organiasi secara keseluruhan yang mampu membantu
membangun sumber daya pengetahuan yang diperlukan dan mempertahankan pertumbuhan
serta kelangsungan perusahaan. Kemampuan akses terhadap pengetahuan adalah faktor
pembeda antar perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya. Kesuksesan strategi
perusahaan sangat signifikan berkaitan dengan basis pengetahuan yang kokoh dan dimiliki
oleh setiap insan perusahaan Penciptaan pengetahuan yang dikondisikan oleh organizational
learning akan memicu dan memacu innovation capability. Organizational learning capabiltiy
perusahaan akan berkesinambungan ketika didasari oleh budaya belajar yang memberi nilai
tambah. Budaya belajar inilah yang menjadikan semua pegawai berinteraksi satu sama lain
sehingga pengetahuan mereka saat ini dan pengetahuan baru yang diperoleh dapat secara
efektif ditransfer, dipertukarkan dan digabungkan menjadi kecerdasan dan pengetahuan
sekolah
PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan adalah merupakan salah satu Badan Usaha
Milik Negara yang bergerak dalam bidang usaha perkebunan, pengolahan dan pemasaran
hasil perkebunan. Berdasarkan observasi awal, yang telah dilakukan peneliti dapat dilihat
fenomena yang terjadi pada perusahaan melihat beberapa permasalahan pada Innovation
Performance kurangnya organizational learning capabiltiy karyawan dalam melakukan
pekerjaan hal ini dilihat dari tidak tercapainya target kerja karyawan. Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor antara lain, kurangnya berbagi pengetahuan atau knowledge sharing antar
karyawan di satu divisi, Absorptive capacity dimana kapasitas penting untuk kinerja
perusahaan dan kelangsungan hidup jangka panjang Levinthal ini mengacu pada kemampuan
perusahaan untuk mengenali nilai baru, informasi eksternal, asimilasi, dan menerapkannya ke
tujuan komersial serta Organizational Learning Capability dimana kurangnya pengarahan
dan pelatihan yang dapat mengembangkan pengetahuan karyawan untuk bekerja lebih kreatif
dan berorganizational learning capabiltiy
Knowledge Sharing
Menurut Siahaan (2019) berpendapat bahwa : “knowledge sharing merupakan suatu proses
sistematis dalam mengirimkan, mendistribusikan, dan mendiseminasikan pengetahuan dan
184
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3
konteks multidimensi antar individu atau antar organisasi melalui metode atau media yang
beragam.
Absorptive Capacity
Menurut Umam (2018), yang memperkenalkan konsep absorptive capacity, sumber-sumber
pengetahuan dari luar seringkali penting untuk proses organizational learning capabiltiy,
sehingga kemampuan untuk mengeksploitasi pengetahuan eksternal sangat penting bagi
kapasitas perusahaan untuk melakukan organizational learning capabiltiy.
185
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3
Pada Tabel 1, menunjukkan bahwa seluruh butir pernyataan telah valid karena rhitung > rtabel.
Dengan demikian, kuesioner dapat dilanjutkan pada tahap pengujian reliabilitas.
Pada pengujian reliabilitas nilai Cronbach’s Alpha harus lebih besar dari 0,60 maka instrumen
penelitian dapat dikatakan reliabel. Pada tabel IV.9 dapat dilihat bahwa nilai Cronbach’s
Alpha > 0,60 berarti bahwa instrumen tersebut reliabel.
Pengujian Multikolinearitas
186
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3
Berdasarkan tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai VIF dari nilai knowledge sharing, abosrptive
capacity dan organizational learning capabiltiy lebih kecil atau dibawah 10 (VIF < 10), ini
berarti tidak terkena multikolinearitas antara variabel independen dalam model regresi. Nilai
Tolerance dari nilai knowledge sharing, abosrptive capacity dan organizational learning
capabiltiy lebih besar dari 0,1 ini berarti tidak terdapat multikolinearitas antar variabel
independen dalam model regresi.
Pengujian Heteroskedasdisitas
Berdasarkan Tabel 5, diketahui nilai signifikansi (Sig.) untuk variabel knowledge sharing (X1)
adalah 0,554, nilai signifikansi (Sig.) untuk variabel abosrptive capacity (X2) adalah 0,810
dan nilai signifikansi (Sig.) untuk variabel organizational learning capabiltiy (X3) adalah
0,570. Karena ketiga variabel nilai signifikansi variabel di atas lebih besar dari 0,05, maka
sesuai dengan dasar pengambilan keputusan dalam uji glejser, dapat disimpulkan bahwa tidak
terjadi gejala heteroskedastisitas dalam model regresi.
187
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3
Dari uji ANOVA atau F test, didapat Fhitung sebesar 6,623 dengan tingkat signifikansi 0,000.
Jadi Fhitung > Ftabel (6,623 > 3,11) atau sig F < 5 % (0,000 < 0,05). Artinya bahwa secara
simultan variabel knowledge sharing, abosrptive capacity dan organizational learning
capabiltiy berpengaruh signifikan terhadap innovation performance, sehingga disimpulkan
bahwa hipotesis penelitian terbukti.
Uji Determinasi
Dari tabel 8, diperoleh R Square adalah 0,207. Hal ini berarti 20,7% innovation performance
(Y) dipengaruhi oleh X1 (knowledge sharing), X2 (abosrptive capacity), dan X3
(organizational learning capabiltiy) secara simultan dan sisanya sebesar 79,3% ditentukan
oleh variabel lain di luar model penelitian ini.
188
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3
Nilai t-tabel dengan derajat bebas 80 – 3 = 77 dan taraf nyata 5% adalah 1,990. Nilai t hitung
untuk X1 (2,292 > 1,990) dan Sig (0,025 < 0,05), maka knowledge sharing berpengaruh
positif dan signifikan terhadap innovation performance. Untuk nilai t hitung untuk X2 (0,304
< 1,990) dan Sig (0,762 > 0,05), maka abosrptive capacity tidak berpengaruh terhadap
innovation performance. Untuk nilai t hitung untuk X3 (2,136 > 1,990) dan Sig (0,036 <
0,05), maka organizational learning capabiltiy berpengaruh positif dan signifikan terhadap
innovation performance.
Pembahasan
Pengaruh Knowledge Sharing Terhadap Innovation Performance
Dari hasil uji regresi diperoleh hasil bahwa knowledge sharing berpengaruh positif dan
signifikan terhadap innovation performanace di PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero)
Medan. Pada praktiknya knowledge sharing behavior masih sulit untuk dilakukan karyawan
di lingkungan kerja. Kesulitan utama dari knowledge sharing behavior terletak pada faktor
manusia, karena jika tidak terdapat keinginan dari individu untuk membagi pengetahuan yang
dimilikinya maka knowledge sharing behavior tidak akan terjadi. Proses ini juga sulit
dilakukan jika tidak terdapat kesempatan untuk melakukan knowledge sharing behavior.
Terlepas dari segala kesulitan tersebut, knowledge sharing behavior memberikan keuntungan
pada perusahaan, antara lain menurunkan ongkos produksi, penyelesaian pekerjaan yang lebih
cepat, peningkatan performa tim, peningkatan kapasitas organizational learning capabiltiy,
dan peningkatan keuntungan perusahaan baik dari segi pertumbuhan penjualan atau
pendapatan dari produk dan jasa. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Rahmahthia & Etikariena (2019) Tulangow & Massie (2018) menyatakan knowledge sharing
berpengaruh terhadap innovation performance
189
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3
belajar yang memberi nilai tambah. Budaya belajar inilah yang menjadikan semua karyawan
berinteraksi satu sama lain sehingga pengetahuan mereka saat ini dan pengetahuan baru yang
diperoleh dapat secara efektif ditransfer, dipertukarkan dan digabungkan menjadi kecerdasan
dan pengetahuan perusahaan. Lingkungan organisasi yang memberikan kegembiraan dalam
bekerja merupakan faktor penting dalam menciptakan innovation performance anggota
organisasi. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
Goestjahjanti et al (2020) Bai et al (2021) menyatakan organizational learning capability
berpengaruh terhadap inovation performance
Kesimpulan
Knowledge sharing berpengaruh positif dan signifikan terhadap innovation performanace di
PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan. Absortive capacity tidak berpengaruh
terhadap innovation performanace di PT. Perkebunan Nusantara IV (Persero) Medan.
190
Mario Boy1, Alvin Fahlevi2, Sopi Pentana3
DAFTAR PUSTAKA
[1]. Afandi, P. (2018). Concept & Indicator Human Resources Management. Yogyakarta:
Deepublish.
[2]. Bai, P., Wu, Q., Li, Q., Xue, C., & Zhang, L. (2021). Mediating Effect of
Organizational Learning Capacity on the Relationship between Relational
Embeddedness and Innovation Performance in Freight Logistics Service. Hindawi, 1, 1–
18.
[3]. Darmadi. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: CV. Budi Utama.
[4]. Fattah, H. (2017). Kepuasan Kerja & Kinerja Pegawai,Budaya Organisasi,Perilaku
Organisasi Dan Efikasi Diri. Yogyakarta: Elmatera.
[5]. Goestjahjanti, F. S., Asbari, M., Purwanto, A., Agistiawati, E., & Fayzhall, M. (2020).
Pengaruh Organizationla Learning Terhadap Peningkatan Hard Skills, Soft Skills dan
Organizational learning capabiltiy Guru. EduPsyCouns Journal, 2(1), 202–226.
[6]. Kusumawardhany, P. A. (2018). Pengaruh Kapasitas Absortif dan Situs Jejaring Sosial
Terhadap Kinerja Organizational learning capabiltiy Usaha Mikro Kecil dan Menengah
di Indonesia. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan, 11(1), 71–88.
[7]. Mangkunegara, A. A. P. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung:
[Link] Kosda Karya.
[8]. Rahmahthia, S. E., & Etikariena, A. (2019). Pengaruh Knowledge Sharing Behavior
terhadap Perilaku Inovatif di Tempat Kerja pada Karyawan PT X dan PT Y. Jurnal
Psikogenesis, 7(2), 116–128.
[9]. Setiawan, R., & Hartanto, M. A. N. (2020). The Roles Of Environmental Strategy And
Innovation Performance: The Effects Of Absorptive Capacity To Competitive
Advantage. Systematic Reviews in Pharmacy, 11(12), 2341–2352.
[10]. Siahaan, M. P. (2019). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
[11]. Sudaryo, Y., Aribowo, A., & Sofiati, N. A. (2018). Manajemen Sumber Daya Manusia.
Yogyakarta: CV. Andi Offset.
[12]. Tulangow, K. C., & Massie, J. D. D. (2016). Innovation Performance: Absorptive
Capacity to Increase Performance in Small and Medium Sized Enterprise (SMSE) (Case
Study: SMES In Manado). Jurnal EMBA, 6(4), 3318–3327.
[13]. Umam, K. (2018). Perilaku Organisasi (Ketiga.). Bandung: Pustaka Setia.
[14]. Situmorang, P. A., Adlina, H., & Siregar, O. M. (2022). THE INFLUENCE OF
BRAND AMBASSADOR AND BRAND IMAGE ON PURCHASE DECISIONS FOR
L’ORÉAL PARIS PRODUCTS IN MEDAN CITY. JURNAL EKONOMI KREATIF
DAN MANAJEMEN BISNIS DIGITAL, 1(2), 105-117.
[Link]
191