PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KECEMASAN
SOSIAL PADA KALANGAN GENERASI Z
SKRIPSI
Disusun Oleh :
Zhamira Daffa Andytra 210401110238
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2025
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KECEMASAN
SOSIAL PADA KALANGAN GENERASI Z
SKRIPSI
Diajukan kepada
Dekan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh
Gelar Sarjana Psikologi ([Link])
Oleh
Zhamira Daffa Andytra
NIM. 210401110238
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2025
i
ii
iii
NOTA DINAS
Kepada Yth.,
Dekan Fakultas Psikologi
UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
Assalamu’alaikum wr. wb.
Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi
terhadap naskah
Skripsi berjudul :
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KECEMASAN
SOSIAL PADA KALANGAN GENERASI Z
Yang ditulis oleh :
Nama : Zhamira Daffa Andytra
NIM : 210401110238
Program : S1 Psikologi
Saya berpendapat bahwa Skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas
Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk diujikan dalam Sidang Ujian
Skripsi.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Malang, 19 Maret 2025
Dosen Pembimbing I,
Dr. Nur Ila Ifawati, [Link]
NIP. 198412112023212031
iv
NOTA DINAS
Kepada Yth.,
Dekan Fakultas Psikologi
UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
Assalamu’alaikum wr. wb.
Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi
terhadap naskah
Skripsi berjudul :
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KECEMASAN
SOSIAL PADA KALANGAN GENERASI Z
Yang ditulis oleh :
Nama : Zhamira Daffa Andytra
NIM : 210401110238
Program : S1 Psikologi
Saya berpendapat bahwa Skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas
Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk diujikan dalam Sidang Ujian
Skripsi.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Malang, 19 Maret 2025
Dosen Pembimbing II,
Dr. Fathul Lubabin Nuqul, [Link]
NIP. 197605122003121002
v
vi
MOTTO
“A journey a thousand miles begins with a single step.”
"Belajar bukan soal lulus, tapi tentang tumbuh bersama waktu."
“Tetap sabar, semangat, dan tersenyum. Karena kamu sedang menimba ilmu di
Universitas Kehidupan. Allah menaruhmu di tempatmu yang sekarang bukan karena
kebetulan.”
-Dahlan Iskan
vii
HALAMAN PERSEMBAHAN
Pertama, saya ucapkan puji syukur kehadirat Alla SWT atas segala nikmat
yang berupa kesehatan, kekuatan, dan inspirasi yang sangat banyak dalam proses
penyelesaian skripsi ini. Shalawat serta salam selalu terlimpahkan pada Nabi
Muhammad SAW. Skripsi ini saya persembahkan sebagai bukti semangat usahaku
serta cinta dan kasih sayangku kepada orang-orang yang sangat berharga dalam
hidupku.
Untuk karya yang sederhana ini, maka penulis persembahkan untuk :
Ayah saya Alm. Budi Santoso dan Ibunda Anisatul Fauziah selaku orang tua yang
saya sayangi dan cintai. Alhamdulillah kini penulis sudah berada di tahap ini,
menyelesaikan karya tulis sederhana ini sebagai perwujudan terakhir sebelum ayah
pergi. Terimakasih sudah mengantarkan saya berada di tempat ini walaupun pada
akhirnya penulis berjuang tanpa semangat dari sosok ayah.
Saudara kandung saya Savana Aqnia Andytra yang turut memberikan doa, motivasi
dan dukungan. Tak lupa pula seluruh keluarga besar, sahabat, teman terbaikku yang
senantiasa memberikan dukungan dan kasih sayang ketika di masa terpuruk serta
membuat penulis sampai di titik ini.
Dosen pembimbing saya, Ustadzah Dr. Nur Ila Ifawati, [Link] selaku menjadi dosen
pembimbing pertama dan Dr. Fathul Lubabin, [Link], yang telah memberikan arahan,
motivasi, inspirasi, dan dosen terbaik sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
viii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur peneliti haturkan kepada Allah SWT Sang Maha
mencintai makhluknya tanpa syarat dan senantiasa memberikan peneliti limpahan
rahmat, maaf, kasih, dan sayang sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.
Shalawat serta salam senantiasa peneliti haturkan kepada Baginda Muhammad SAW
yang dinanti-nantikan syafaatnya khususnya di yaumil akhir.
Karya tulis ini merupakan salah satu wujud dari dukungan serta bantuan beberapa
pihak yang terlibat dalam prosesi perkuliahan jenjang S1. Oleh karenanya, peneliti
dengan rasa tulus dan hormat ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Prof. Dr. M. Zainuddin, M.A. selaku rektor Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang.
2. Dr. Hj. Rifa Hidayah, [Link]. selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
3. Dr. Nur Ila Ifawati, [Link], selaku dosen pembimbing I skripsi serta menjadi wali
dosen sejak mahasiswa baru hingga saat ini.
4. Dr. Fathul Lubabin Nuqul, [Link], selaku dosen pembimbing II skripsi, motivatior,
dan navigator yang luar biasa dalam perjalanan hidup peneliti.
5. Seluruh sivitas akademika Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim Malang utamanya Bapak/Ibu dosen atas segala arahan, bimbingan,
dan ilmu yang diberikan.
ix
6. Orang tua penulis, Bunda Anisatul Fauziah dan Alm. Ayah Budi Santoso, yang
telah memberikan seluruh dunianya untuk penulis, serta adik penulis, Savana
Aqnia Andytra dan seluruh sanak saudara yang memberikan dukungan dalam
kehidupan ini.
7. Seluruh teman- teman, sahabat terbaik, yang tidak bisa tercantum satu-persatu,
terima kasih senantiasa menemani penulis dalam keadaan sulit dan senang,
memberikan dukungan serta motivasi, dan memberikan doa di setiap langkah yang
penulis lalui sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar.
8. Teman-teman Psikologi yang senantiasa mendukung dalam kebaikan,
membersamai dalam setiap langkah yang dilalui, dan saling memberikan motivasi
dalam meningkatkan semangat serta kemudahan untuk menyelesaikan ini.
9. Zhamira Daffa Andytra, ya! diri saya sendiri. Apreasisi sebesar-besarnya karena
telah bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai.
Terimakasih karena terus berusaha dan tidak menyerah, serta senantiasa
menikmati setiap prosesnya yang bisa dibilang tidak mudah. Terimakasih sudah
bertahan.
10. Terima kasih kepada semua pihak-pihak yang sudah memberi bantuannya, semoga
Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini memberikan manfaat sekaligus
kebaikan bagi para pembaca dan kemajuan keilmuan.
x
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL ........................................................................................................ i
LEMBAR PERSETUJUAN ....................................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN .......................................... Error! Bookmark not defined.
NOTA DINAS ............................................................................................................. iv
NOTA DINAS ............................................................................................................. iv
SURAT PERNYATAAN .............................................. Error! Bookmark not defined.
MOTTO ...................................................................................................................... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................................... viii
KATA PENGANTAR ................................................................................................ ix
DAFTAR ISI ............................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL..................................................................................................... xiv
DAFTAR DIAGRAM ............................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ xvi
ABSTRAK ............................................................................................................... xvii
ABSTRACT ............................................................................................................. xviii
المستخلص الملخص.......................................................................................................... xix
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 12
C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 12
D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 12
BAB II KAJIAN PUSTAKA .................................................................................... 16
A. Penggunaan Media Sosial ............................................................................. 16
1. Definisi Penggunaan Media Sosial .......................................................... 16
2. Karakteristik Media Sosial ....................................................................... 21
3. Faktor Media Sosial ................................................................................. 23
4. Dampak Media Sosial .............................................................................. 25
B. Kecemasan Sosial (Social Anxiety)............................................................... 32
xi
1. Pengertian Kecemasan Sosial (Social Anxiety) ........................................ 32
2. Aspek-aspek Kecemasan Sosial ............................................................... 39
3. Faktor-faktor Kecemasan Sosial .............................................................. 42
C. Hubungan Antar Penggunaan Media Sosial dengan Kecemasan Sosial ...... 47
D. Hipotesis ....................................................................................................... 51
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 52
A. Rancangan Penelitian .................................................................................... 52
B. Identifikasi Variabel...................................................................................... 53
C. Definisi Operasional ..................................................................................... 54
D. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling ....................................................... 55
1. Populasi .................................................................................................... 55
2. Sampel ...................................................................................................... 56
3. Teknik Sampling ...................................................................................... 57
E. Instrumen Pengukuran .................................................................................. 57
F. Analisis Data ................................................................................................. 61
BAB IV HASIL PENELITIAN ................................................................................ 65
A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ................................................................. 65
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................................ 65
2. Gambaran Umum Partisipan .................................................................... 69
3. Waktu dan Pelaksanaan Penelitian .......................................................... 77
4. Hambatan Dalam Pelaksanaan Penelitian ................................................ 78
B. Hasil Penelitian dan Analisis Deskriptif ....................................................... 78
1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas .......................................................... 78
2. Hasil Uji Asumsi ...................................................................................... 82
3. Analisis Deskriptif.................................................................................... 84
4. Uji Hipotesis............................................................................................. 95
C. Pembahasan................................................................................................... 96
1. Tingkat Kecenderungan Penggunaan Media Sosial Pada Generasi Z ..... 96
2. Tingkat Kecemasan Sosial Yang Dialami Oleh Generasi Z. ................. 102
xii
3. Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Kecemasan Sosial Pada
Kalangan Generasi Z................................................................................... 107
BAB V PENUTUP ................................................................................................... 116
A. Kesimpulan ................................................................................................. 116
B. Saran ........................................................................................................... 117
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 120
LAMPIRAN ............................................................................................................. 129
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Penilaian Skala Likert ................................................................................. 59
Tabel 3.2 The Scale for the Individual and Social Impact of Student ......................... 60
Tabel 3.3 Skala Liebowitz Social Anxiety Scale.......................................................... 61
Tabel 3.4 Kuosioner Tersebar Berdasarkan Gender ................................................... 71
Tabel 3.5 Berdasarkan Usia ........................................................................................ 72
Tabel 3.6 Berdasarkan Semester ................................................................................. 74
Tabel 4.1 Uji Validitas Penggunaan Media Sosial...................................................... 79
Tabel 4.2 Uji Validitas Kecemasan Sosial .................................................................. 80
Tabel 4.3 Hasil Uji Reliabilitas .................................................................................. 81
Tabel 4.4 Uji Normalitas Variabel .............................................................................. 82
Tabel 4.5 Uji Linearitas Variabel ................................................................................ 83
Tabel 4.6 Uji Deskripsi Skor Hipotetik dan Skor Empirik ......................................... 84
Tabel 4.7 Kategorisasi Data Penggunaan Media Sosial.............................................. 86
Tabel 4.7.1 Kategorisasi Aspek Intensity of Social Media Sosial Use................... 88
Tabel 4.7.2 Kategorisasi Aspek Social Media Use & Communication Preferences
................................................................................................................................ 89
Tabel 4.8 Kategorisasi Kecemasan Sosial .................................................................. 90
Tabel 4.8.1 Kategorisasi Aspek Performance Anxiety ................................................ 92
Tabel 4.8.2 Kategorisasi Aspek Social Anxiety ......................................................... 93
Tabel 4.9 Uji Hipotesis ............................................................................................... 95
xiv
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 4.1 Jumlah Ponsel Responden ...................................................................... 75
Diagram 4.2 Waktu Online ......................................................................................... 76
Diagram 4.3 Kategorisasi Penggunaan Media Sosial ................................................. 87
Diagram 4.4 Kategorisasi Kecemasan Sosial.............................................................. 91
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Skala Penggunaan Media Sosial ............................................................ 129
Lampiran 2 Skala Kecemasan Sosial ........................................................................ 131
Lampiran 3 Uji Validitas dan Reliabilitas ................................................................. 133
Lampiran 4 Kategorisasi dan Skor Responden Penelitian ........................................ 135
Lampiran 5 Hasil Demografi .................................................................................... 137
Lampiran 6 Uji Normalitas ....................................................................................... 139
Lampiran 7 Uji Linearitas ......................................................................................... 140
Lampiran 8 Hipotesis ................................................................................................ 141
xvi
ABSTRAK
Andytra, Zhamira Daffa (2025). Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap
Kecemasan Sosial pada kalangan generasi Z. Skripsi. Fakultas Psikologi.
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pembimbing 1 : Dr. Nur Ila Ifawati, [Link]
Pembimbing 2 : Dr. Fathul Lubabin Nuqul, [Link]
Kata Kunci : Penggunaan Media Sosial, Kecemasan Sosial, Generasi Z, Mahasiswa
Media sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-
hari generasi Z, terutama dalam berkomunikasi, memperoleh informasi, dan
membangun interaksi sosial. Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan juga
dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan sosial, dimana individu merasa kurang
percaya diri dalam interaksi langsung akibat lebih terbiasa berkomunikasi secara
daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penggunaan media sosial dan
kecemasan sosial di kalangan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
khususnya generasi Z serta menguji pengaruh penggunaan media sosial terhadap
kecemasan sosial. Kecemasan sosial merupakan perasaan takut atau cemas yang
berlebihan dalam situasi sosial, terutama ketika individu merasa diperhatikan, dinilai,
atau diharapkan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan
korelasional. Respondennya merupakan mahasiswa generasi Z di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang menggunakan kuosioner dengan sampel 302 orang yang dipilih
dengan menggunakan puposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala ” The
Scale for the Individual and Social Impact of Student” untuk mengukur kecenderungan
penggunaan media sosial dan skala “Liebowitz Social Anxiety Scale” untuk mengukur
kecenderungan kecemasan sosial. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis
dengan menggunakan uji korelasi pearson dengan bantuan aplikasi SPSS 25 for
windows.
Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya mayoritas generasi Z khususnya
mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki tingkat penggunaan
media sosial yang tinggi yakni sebesar 62,9% dan tingkat kecemasan sosial yang
sedang sebesar 48,7%. Hasil uji hipotesis menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara penggunaan media sosial dengan kecemasan sosial (R=0,647;
p=0,000; p<0,05). Hal tersebut berarti bahwa penggunaan media sosial merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan sosial di kalangan generasi Z
yakni mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semakin sering seseorang
menggunakan media sosial, semakin tinggi pula tingkat kecemasan sosial yang
dialami, terutama akibat tekanan sosial, perbandingan diri dengan orang lain, dan
berkurangnya interaksi sosial secara langsung.
xvii
ABSTRACT
Andytra, Zhamira Daffa (2025). The effect of Social Media Use on Social Anxiety
among generation Z. Thesis. Faculty of Psychology.
Maulana Malik Ibrahim State Islamic University Malang.
Supervisor 1 : Dr. Nur Ila Ifawati, [Link]
Supervisor 2 : Dr. Fathul Lubabin Nuqul, [Link]
Keyword : Social Media Use, Social Anxiety, Geration Z, College Students
Social media is an integral part of Generation Z’s daily life, especially in
communicating, obtaining information and building social interactions. However,
excessive use of social media is also associated with increased social anxiety, where
individuals feel less confident in in-person interactions due to being more accustomed
to communicating online. This study aims to determine the level of social media use
and social anxiety among students of UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, especially
generation Z and to examine the effect of social media use on social anxiety. Social
anxiety is an excessive feeling of fear or anxiety in social situations, especially when
individuals feel noticed, judged, or expected to interact with others.
The research method used is quantitative with a correlational approach. The
respondents were generation Z students at UIN Maulana Malik Ibrahim Malang using
a questionnaire with a sample of 302 people selected using puposive sampling. Data
collection used “The Scale for the Individual and Social Impact of Student” scale to
measure the tendency to use social media and the “Liebowitz Social Anxiety Scale”
scale to measure the tendency of social anxiety. The data that has been obtained is then
analyzed using the Pearson correlation test with the help of the SPSS 25 for Windows
application.
The results showed that the majority of generation Z, especially students at UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, had a high level of social media use, namely 62.9%
and a moderate level of social anxiety of 48.7%. The results of hypothesis testing
showed a significant relationship between social media use and social anxiety (R=0.6
p=0.000; p<0.05). This means that the use of social media is one of the factors that
can affect social anxiety among Generation Z students at UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang. The more often a person uses social media, the higher the level of social
anxiety experienced, especially due to social pressure, self-comparison with others,
and reduced direct social interaction.
xviii
المستخلص الملخص
ئنديترا ،زهاميرا دفا ( ، ) 2025تأثير استخدام وسائل التواصل االجتماعي على القلق االجتماعي في أوساط جيل
زد .رسالة جامعية .كلية علم النفس .جامعة مواالن مالك إبراهيم اإلسالمية الحكومية ماالنج
المشرفة :الدكتور نور إلى إفاوتي ،الماجستر
المشرف :الدكتور فتح اللبب النقول ،الماجستر
الكلمات المفتاحية :استخدام وسائل التواصل االجتماعي ،القلق االجتماعي ،جيل زد ،الطالب الجامعيون
وسائل التواصل االجتماعي جزء ال يتجزأ من الحياة اليومية لجيل زد ،ال سيما في التواصل ،والحصول
على المعلومات ،وبناء التفاعل االجتماعي .ومع ذلك ،فإن االستخدام المفرط لوسائل التواصل االجتماعي يرتبط
أيضًا بزيادة القلق االجتماعي ،حيث يشعر األفراد بعدم الثقة في ال تفاعل المباشر نتيجة تعودهم على التواصل عبر
اإلنترنت .تهدف هذه الدراسة إلى معرفة مستوى استخدام وسائل التواصل االجتماعي والقلق االجتماعي بين طالب
جامعة مواالن مالك إبراهيم اإلسالمية الحكومية ماالنج ،خاصة من جيل زد ،واختبار تأثير استخدام وسائل
التواصل االجتما عي على القلق االجتماعي .القلق االجتماعي هو الشعور بالخوف أو القلق المفرط في المواقف
االجتماعية ،خاصة عندما يشعر األفراد بأنهم موضع مراقبة أو تقييم أو متوقع منهم التفاعل مع اآلخرين.
تعتمد هذه الدراسة على المنهج الكمي ذو النهج االرتباطي .شملت العينة طالب جامعة مواالن مالك
إبراهيم اإلسالمية الحكومية ماالنج جيل زد في ،حيث تم اختيار 302مشار ًكا باستخدام أسلوب أخذ العينات
الهادفة .تم جمع البيانات باستخدام مقياس التأثير الفردي واالجتماعي للطالب لقياس مدى استخدام وسائل التواصل
االجتماعي ،ومقياس ليبوفيتز للقلق االجتماعي لقياس القلق االجتماعي .ثم تم تحليل البيانات باستخدام اختبار
االرتباط بيرسون بمساعدة برنامج الحزمة اإلحصائية للعلوم االجتماعية 25لنظام ويندوز.
أظهرت نتائج الدراسة أن غالبية جيل زد ،ال سيما طالب جامعة مواالن مالك إبراهيم اإلسالمية
الحكومية ماالنج لديهم مستوى عا ٍل من استخدام وسائل التواصل االجتماعي بنسبة %62.9ومستوى متوسط من
القلق االجتماعي بنسبة .%48.7كما أظهرت نتائج اختبار الفرضيات وجود عالقة ذات داللة إحصائية بين استخدام
وسائل التواصل االجتماعي والقلق االجتماعي (ف<; 0,05ف=; 0,000ر= )0,647وهذا يعني أن استخدام
وسائل التواصل االجتماعي يعد أحد العوامل التي يمكن أن تؤثر على القلق االجتماعي لدى جيل زد ،أي طالب
جامعة مواالن مالك إبراهيم اإلسالمية الحكومية ماالنج .فكلما زاد استخدام الفرد لوسائل التواصل االجتماعي،
ارتفع مستوى القلق االجتماعي لديه ،ال سيما بسبب الضغوط االجتماعية ،والمقارنات مع اآلخرين ،وانخفاض
التفاعل االجتماعي المباشر.
xix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi pada generasi Z telah
memunculkan beberapa fenomena yang menarik dan mengkhawatirkan.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI tahun
2023, sekitar 68% dari anggota generasi Z mengecek media sosial mereka minimal
10 kali per jam. Selain itu, 72% dari mereka melaporkan mengalami kecemasan
jika tidak dapat mengakses media sosial dalam waktu yang relative singkat.
Perilaku ini menunjukan adanya ketergantungan yang tinggi terhadap media
sosial. Ketergantungan ini berkorelasi dengan munculnya berbagai gejala
kecemasan sosial di kalangan generasi Z. Dengan kata lain, semakin sering mereka
terhubung dengan media sosial, semakin besar pula dampak negatif yang mungkin
mereka alami terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan emosional mereka.
Perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi telah
secara drastis mengubah cara manusia berinteraksi, terutama dengan munculnya
media sosial yang kini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari
masyarakat modern. Generasi Z, yang terlahir antara tahun 1997 sampai 2012
adalah generasi pertama yang dibesarkan dalam lingkungan digital native, dimana
akses ke internet dan media sosial sudah menjadi hal biasa sejak usia dini
(Oktaviani & Khoirunisa, 2024). Menurut data dari We Are Social tahun 2023,
rata-rata penggunaan media sosial di Indonesia menghabiskan waktu sekitar 3 jam
1
2
17 menit setiap hari dengan generasi Z sebagai kelompok pengguna dominan
untuk mengakses berbagai platform media sosial.
Berbagai ahli memiliki pendapat yang berbeda mengenai rentang kelahiran
generasi Z. Berhate dan Dirani (2022) serta Gabrielova dan Buchko (2021)
menyatakan bahwa generasi Z mencakup individu yang lahir antara tahun 1995
hingga 2012. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Gentina (2020) dalam
bukunya The New Generation Z in Asia : Dynamics, Fifferences, Digitalisation,
yang menyebutkan bahwa generasi Z lahir pada pertengahan 1990-an hingga akhir
2000-an. Sementara itu, Atika dkk. (2020) mendefinisikan generasi Z sebagai
mereka yang lahir dalam rentang 1996 hingga 2010. McCrindle (2014)
berpendapat bahwa generasi Z mencakup kelahiran tahun 1995 hingga 2009,
sedangkan Francis dan Hoefel (2018) menyebutkan rentang tahun 1995 hingga
2010. Meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam penentuan tahun lahirnya,
secara umum, generasi Z dapat diperkirakan lahir antara pertengahan 1990-an
hingga tahun 2012.
Dalam era digital yang semakin berkembang, media sosial telah menjadi
bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Platfrom seperti Facebook,
Instagram, Twitter dan WhatsApp tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi
atau berbagi informasi, tetapi juga menjadi ruang bagi individu untuk mencari
dukungan sosial (De Laurita & Rusli, 2021). Dengan meningkatnya penggunaan
internet, semakin banyak orang yang beralih ke media sosial untuk mendapatkan
3
kenyamanan emosional, berbagi pengalaman, serta menerima dukungan dari
komunitas daring.
Media sosial telah menjadi platform utama bagi banyak orang untuk
mencari dukungan sosial secara online. Trend ini semakin meningkat karena
kemudahan akses dan anonimitas yang ditawarkan platform digital. Banyak
pengguna merasa lebih nyaman membagikan masalah pribadi mereka secara
online karena berkurangnya tekanan sosial yang biasa dirasakan dalam interaksi
tatap muka. Hal ini terlihat dari maraknya grup-grup dukungan di Facebook, forum
diskusi di WhatsApp, atau berbagi cerita melalui Instagram Stories (Ainun &
Yuni, 2018).
Dalam konteks pencarian dukungan sosial, media sosial memberikan
beberapa keuntungan yang unik. Pertama, pengguna dapat menemukan komunitas
yang memiliki pengalaman atau masalah serupa tanpa terikat oleh batasan
geografis. Sebagai contoh, di Amerika Serikat para penyintas kanker payudara
memanfaatkan platform Twitter untuk memperoleh informasi dan dukungan sosial
melalui penggunaan tagar #BCSM (The Breast Cancer Social Media), yang
bertujuan membantu mengurangi tingkat kecemasan mereka (Attai et al., 2015: 5).
Kedua, dukungan dapat diakses kapan saja, baik melalui komentar, pesan
langsung, maupun interaksi lainnya. Misalnya, di komunitas online seperti Rahasia
Gadis menciptakan lingkungan yang aman bagi para anggotanya untuk saling
berbagi pengalaman dan menerima dukungan, tanpa khawatir akan penilaian dari
orang lain, berkat adanya fitur anonimitas yang ditawarkan (Husna et al., 2024).
4
Ketiga, pengguna memiliki kendali penuh atas seberapa banyak informasi yang
ingin mereka bagikan dan dengan siapa mereka ingin berinteraksi.
O’Day dan Heimberg (2021), menyatakan bahwa individu yang
mengalami kecemasan sosial dan kesepian cenderung mencari dukungan melalui
media sosial, alih-alih mencari dukungan secara langsung. Tindakan ini dilakukan
sebagai upaya untuk mengatasi hambatan yang mereka hadapi, yang pada akhirnya
membuat mereka menjadi terlalu fokus pada penggunaan media sosial. Sementara
itu Pilkionien dkk (2021) menemukan bahwa kecemasan sosial yang dialami oleh
remaja berdampak negatif terhadap kualitas hidup mereka.
Meskipun hubungan antara media sosial dan kecemasan sosial kompleks
dan dapat berjalan dua arah, media sosial dapat berperan ganda dalam menghadapi
kecemasan sosial (O’day & Heimberg, 2021). Di satu sisi, media sosial dapat
membantu individu dengan kecemasan sosial untuk berlatih berinteraksi dalam
lingkungan yang lebih aman dan terkontrol (Permadi, 2022). Mereka dapat
membangun kepercayaan diri secara bertahap sebelum menghadapi interaksi tatap
muka. Platform digital juga memungkinkan mereka untuk tetap terhubung dengan
dunia sosial meskipun mengalami kesulitan dalam interaksi langsung (Niharika,
2024: hal 38-40).
Di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memperburuk
kecemasan sosial. Fenomena “social comparison” di media sosial, di mana
pengguna membandingkan kehidupan mereka dengan tampilan sempurna
kehidupan orang lain, dapat meningkatkan perasaan tidak mampu dan kecemasan
5
(Tedjawidjaja & Christanti, 2022). Selain itu, ketergantungan berlebihan pada
interaksi online dapat menghambat pengembangan keterampilan sosial dalam
dunia nyata dan menciptakan siklus yang memperkuat kecemasan sosial
(Simarmata & Citra, 2020: hal 18).
Studi terbaru menunjukkan bahwa kualitas penggunaan media sosial lebih
penting daripada kuantitasnya. Menurut Darusman dkk (2021) menyatakan
pengguna yang secara aktif menggunakan media sosial untuk membangun
hubungan yang berarti dan mencari dukungan yang konstruktif cenderung
merasakan manfaat positif (Anggraini et al., 2022: hal 1592). Sebaliknya,
penggunaan pasif, seperti hanya menggulir tanpa melakukan interaksi atau
membandingkan diri dengan orang lain, cenderung meningkatkan kecemasan
sosial (Gunawan et al., 2022).
Kecemasan sosial merupakan suatu kondisi di mana seseorang merasakan
ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan saat berinteraksi dengan orang lain.
Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, seperti dalam situasi sosial,
pekerjaan atau pendidikan (Jatmiko, 2017). Generasi Z, yang tumbuh di era
teknologi dan media sosial, mungkin lebih rentan terhadap kecemasan sosial. Hal
ini disebabkan oleh kebiasaan mereka yang sering membandingkan diri dengan
orang lain, terpapar kritik di dunia maya, serta tekanan untuk selalu tampil
sempurna di berbagai platform (Astaningtias & Andhini, 2023). Akibatnya,
mereka dapat merasa kurang percaya diri dan mengalami stress saat harus
berkomunikasi dengan teman atau bertemu dengan orang baru.
6
Fenomena kecemasan sosial yang berkaitan dengan penggunaan media
sosial di kalangan generasi Z semakin diperkuat oleh hasil berbagai penelitian
sebelumnya. Dalam studi yang dilakukan oleh Rahman et al. (2022) terhadap 450
mahasiswa, ditemukan bahwa adanya hubungan positif (r = 0,67) antara durasi
penggunaan media sosial dan tingkat kecemasan sosial. Selain itu, penelitian
longitudinal yang dilakukan oleh Chen dan Wong (2023) mengungkapkan bahwa
terdapat peningkatan sebesar 45% dalam gejala kecemasan sosial selama periode
dua tahun pengamatan pada pengguna aktif media sosial dari generasi Z. Temuan
ini juga didukung oleh penelitian kuantitatif oleh Putri dan Handayani (2021) yang
mengidentifikasikan budaya perbandingan di media sosial sebagai faktor utama
yang berkontribusi terhadap munculnya kecemasan sosial di kalangan remaja.
Hubungan kompleks antara penggunaan media sosial dan kecemasan sosial
pada generasi Z tampak jelas melalui berbagai manifestasi psikologis yang
muncul. Fear of Missing Out (FOMO), anxiety related to social comparison, and
validation seeking behavior menjadi fenomena yang semakin umum ditemukan di
kalangan generasi ini. Mereka sering merasa khawatir bahwa mereka akan
melewatkan momen penting atau tidak dapat menikmati aktivitas karena sibuk
memeriksa akun media sosial mereka. Selain itu, perbandingan diri sendiri dengan
orang lain di platform seperti Instagram, Facebook, Twitter juga menyebabkan
stress dan rasa kurang percaya diri (Sutanto et al., 2020).
Menurut data dari Asosiasi Psikologi Sosial Indonesia tahun 2023,
sebanyak 65% pengguna media sosial dari generasi Z mengalami kecemasan
7
terkait jumlah likes dan komentar yang mereka terima. Hal ini menunjukan betapa
signifikan pengaruh dari interaksi online dalam membantuk self-esteem individu.
Bukan hanya itu, 71% dari mereka merasa tertekan untuk selalu menampilkan
konten yang sempurna di media sosial mereka. Ini mencerminkan tekanan internal
untuk mendapatkan validasi dari pihak luar melalui tampilan virtual yang ideal.
Kecemasan sosial muncul dari kekhawatiran individu tentang penilaian
orang lain terhadap mereka, dan jika tingkat kekhawatiran ini cukup tinggi, dapat
berdampak negatif pada pola komunikasi seseorang (Schlenker & Leary, 1985).
Meskipun kecemasan sosial yang dialami sesekali adalah hal yang umum bagi
anak-anak dan orang dewasa, kondisi ini dapat menjadi patologis pada sekitar 12%
orang dewasa, biasanya sebelum mencapai usia 20 tahun (Gangguan Kecemasan
Sosial, November 2017). Ketika kecemasan sosial berkembang menjadi masalah
yang lebih serius, hal ini dapat secara kronis mempengaruhi kualitas dan kuantitas
interaksi serta hubungan sosial mereka. Selain itu, kecemasan sosial juga
merupakan faktor resiko utama untuk perkembangan penyakit depresi dan
penyalahgunaan zat di kemudian hari (Stein & Stein, 2008).
Dalam diskursus psikologi klinis, istilah “kecemasan sosial” dan “fobia
sosial” sering digunakan secara bergantian, meskipun keduanya memiliki nuansa
dan karakteristik yang berbeda (Pratiwi et al., 2019). Kecemasan sosial
didefinisikan sebagai respons emosional yang umum terhadap situasi sosial yang
dianggap mengancam atau berpotensi menimbulkan evaluasi negatif dari orang
lain. Menurut Watson dkk (1969), kecemasan sosial memiliki spektrum yang luas,
8
mulai dari tingkat ringan hingga berat. Individu dengan kecemasan sosial sering
kali merasa cemas atau gelisah ketika harus berinteraksi dengan orang lain,
terutama dalam situasi baru atau ketika mereka merasa diawasi.
Gejala kecemasan sosial dapat bervariasi antar individu, tetapi umumnya
mencakup aspek afektif, fisiologis, kognitif dan perilaku (Nugraha, 2020). Dari
segi afektif, individu mungkin merasakan ketegangan dan kekhawatiran yang
berlebihan tentang bagaimana mereka akan dinilai oleh orang lain. Secara
fisiologis, gejala dapat berupa peningkatan detak jantung, berkeringat atau bahkan
mual dapat menghadapi situasi sosial. Dalam aspek kognitif, individu mungkin
mengalami pikiran negatif yang berulang tentang kemungkinan penilaian buruk
dari orang lain. Sementara itu, dari segi perilaku mereka cenderung menghindari
interaksi sosial atau situasi di mana mereka merasa terancam untuk dievaluasi
(Gall W., 2006: 149).
Selain itu, banyak pengguna internet mengalami apa yang dikenal sebagai
“ilusi keamanan digital”. Mereka merasa terlindungi oleh anonimitas yang seolah-
olah diberikan oleh internet, sehingga berpikir bahwa mereka terlindungi saat
online (Nurul dkk, 2024). Perasaan ini seringkali membuat seseorang kurang
berhati-hati, seperti membagikan informasi pribadi atau menggunakan kata sandi
yang lemah. Psikolog John Suler (2004) menjelaskan fenomena ini dengan istilah
“efek disinhibisi online” di mana orang merasa lebih bebas dan tidak terhambat
saat berinteraksi di dunia maya dibandingkan dengan interaksi langsung.
9
Efek disinhibisi online muncul karena beberapa faktor, terutama
anonimitas dan ketidaknampakan (Difa dkk, 2024). Ketika seseorang
berkomunikasi secara online, mereka tidak terlihat oleh orang lain, sehingga
merasa lebih leluasa untuk mengekspresikan diri tanpa takut akan penilaian. Hal
ini dapat membuat mereka lebih terbuka, tetapi juga dapat menyebabkan perilaku
negatif, seperti berbicara kasar atau melakukan penipuan (Febriana, 2024). Suler
(2004) mengidentifikasi dua jenis efek disinhibisi, yakni : Benign Disinhibition,
dimana individu lebih terbuka dan berbagi emosi positif, sedangkan Toxic
Disinhibition, yang merupakan bentuk kemunculan perilaku agresif dan
merugikan.
Kondisi ini menciptakan tantangan besar dalam konteks keamanan digital.
Pengguna yang merasa aman mungkin tidak menyadari resiko yang mereka hadapi
saat membagikan informasi pribadi atau berinteraksi dengan orang asing secara
online (Ratnadewati & Oktarina, 2024). Misalnya, seseorang mungkin merasa
nyaman membagikan lokasi mereka di media sosial tanpa mempertimbangkan
potensi ancaman terhadap privasi dan keamanannya. Selain itu, penggunaan kata
sandi yang lemah atau pengabaian terhadap pengaturan privasi juga dapat
meningkatkan kerentanan terhadap serangan cyber (Lesmana & Nasution, 2025).
Memahami bahwa meskipun kecemasan sosial adalah reaksi normal
terhadap situasi sosial yang menantang, ketika kecemasan tersebut menjadi
berlebihan dan tidak terkendali, intervensi klinis mungkin saja diperlukan. Terapi
perilaku kognitif (CBT) adalah salah satu pendekatan yang efektif untuk mengatasi
10
kecemasan sosial. pendekatan ini membantu inidvidu mengenali dan mengubah
pola pikir negatif serta meningkatkan keterampilan sosial mereka. Selain itu,
dukungan dari kelompok atau komunitas juga dapat memberikan rasa aman bagi
individu yang mengalami kecemasan sosial untuk berbagi pengalaman dan
mendapatkan bantuan.
Dengan demikian, kompleksitas hubungan antara penggunaan media sosial
dan kecemasan sosial pada generasi Z sangatlah nyata. Perilaku tersebut tidak
hanya menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi digital
tetapi juga berkorelasi dengan munculnya gejala-gejala mental yang negative
secara kompleks. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, pendidik, serta
profesional kesehatan mental untuk memberikan edukasi dan dukungan yang tepat
kepada generasi ini agar mereka bisa mengelola dampak positif maupun negatif
dari penggunaan media sosial secara bijaksana.
Dalam studi terbaru menunjukkan adanya hubungan positif antara
dukungan teman sebaya di media sosial dan kesejahteraan remaja, yang
mengindikasikan bahwa media sosial dapat berperan dalam meningkatkan suasana
hati mereka. Dampak positif dari media sosial mencakup peningkatan empati dan
pembentukan identitas, karena platform ini menyediakan ruang terbuka bagi
remaja untuk berbagai minat dan pengalaman pribadi (Allen et al, 2014; Hur &
Gupta, 2013; Manago, Taylor & Greenfield, 2012; Rajamohan, Bennet & Tedone,
2019).
11
Namun, penelitian epidemiologi skala besar menunjukkan adanya
hubungan negatif antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental. Studi-
studi ini menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat
menyebabkan berbagai gangguan mental, termasuk depresi, kecemasan, gangguan
panik, perilaku nakal, dan dukungan sosial yang lebih buruk (Barry et al., 2017;
Primack & Escobar-Viera, 2017; Rajamohan et al., 2019; Ralph et al., 2011;
Richards et al., 2015).
Sebuah studi terkini juga menemukan bahwa generasi saat ini dengan
penggunaan media sosial yang tinggi secara keseluruhan lebih mungkin
mengalami gejala-gejala tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Vannucci dan
Ohannessian (2019) mengklasifikasikan penggunaan media sosial dengan skor
frekuensi yang berbeda, mulai dari “tidak pernah” hingga “hampir terus-menerus”.
Mereka menemukan bahwa generasi Z yang menggunakan media sosial dengan
frekuensi yang lebih tinggi, seperti beberapa kali sehari atau hampir terus menerus
semakin besar kemungkinan mengalami gangguan mental seperti depresi dan
gangguan panik.
Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan
tidak hanya memiliki dampak negatif pada kesehatan mental, tetapi juga dapat
mempengaruhi hubungan sosial dan perilaku mereka. Oleh karena itu, penting
untuk menggunakan media sosial dengan bijak dan sadar akan dampaknya
terhadap kesehatan mental dan psikologis
12
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, rumusan masalah dari penelitian ini
antara lain :
1) Bagaimana tingkat kecenderungan penggunaan media sosial pada kalangan
generasi Z?
2) Bagaimana tingkat kecemasan sosial yang dialami oleh generasi Z ?
3) Bagaimana pengaruh penggunaan media sosial terhadap kecemasan sosial
pada kalangan generasi Z ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah di paparkan, maka tujuan dalam
penelitian ini antara lain :
1) Memaparkan tingkat kecenderungan penggunaan media sosial pada kalangan
generasi Z.
2) Memaparkan tingkat kecemasan sosial yang dialami oleh generasi Z.
3) Menganalisis pengaruh penggunaan media sosial terhadap kecemasan sosial
pada kalangan generasi Z.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dibagi menjadi dua, yakni :
1) Manfaat Teoritis
13
Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu
pengetahuan, tetapi juga membentuk dasar kuat untuk penelitian lanjutan dan
pengembangan penerapan secara praktis. Pemahaman teoritis yang diperoleh
dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan solusi yang lebih efektif dalam
mengatasi tantangan kesehatan mental di era digital, khususnya dalam konteks
kecemasan sosial pada generasi Z.
2) Manfaat Praktis
Bagi institusi pendidikan, temuan penelitian ini dapat dijadikan dasar
untuk mengembangkan program literasi digital yang lebih efektif dan
terstruktur. Institusi dapat merancang kurikulum khusus yang mencakup
materi mengenai penggunaan media sosial yang sehat, strategi untuk
mengelola kecemasan sosial, serta pengembangan keterampilan sosial yang
seimbang antara interaksi online dan offline. Program-program ini dapat
diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran maupun kegiatan
ekstrakurikuler, sehingga membantu siswa membangun hubungan yang lebih
sehat dengan media sosial.
Lalu, dalam konteks kesehatan mental, hasil penelitian ini memberikan
manfaat praktis bagi para profesional kesehatan mental seperti psikolog,
konselor, dan terapis. Para ahli ini dapat menggunakan temuan penelitian
untuk pengembangan protokol asesmen dan intervensi yang lebih tepat
sasaran dalam menangani kasus kecemasan sosial yang berkaitan dengan
penggunaan media sosial. pemahaman yang lebih mendalam tentang
14
mekanisme pembentukan kecemasan sosial di era digital memungkinkan
pengembangan teknik terapi yang lebih sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhan generasi Z. Selain itu, hasil penelitian ini dapat membantu dalam
merancang program pencegahan dan intervensi dini untuk mengurangi resiko
berkembangnya gangguan kecemasan sosial yang lebih serius.
Selanjutnya, bagi orang tua dan pengasuh, penelitian ini memberikan
panduan praktis dalam mendampingi anak-anak dan remaja generasi Z agar
dapat menggunakan media sosial dengan cara yang sehat. Hasil ini akan dapat
membantu orang tua mengenali tanda-tanda awal kecemasan sosial yang
mungkin muncul akibat penggunaan media sosial, serta memberikan strategi
konkret untuk mendukung anak-anak mereka dalam membangun hubungan
yang positif dengan platform digital. Selain itu, pemahaman ini juga
memungkinkan orang tua untuk menetapkan batasan dan aturan yang sesuai
terkait penggunaan media sosial, sambil tetap mempertimbangkan kebutuhan
sosial dan perkembangan anak mereka.
Selain itu, dapat juga memberikan manfaat bagi pengembangan platform
media sosial dan profesional teknologi. Dengan memahami bagaimana fitur-
fitur tertentu dalam media sosial dapat mempengaruhi kesehatan mental
penggunanya, pengembang dapat merancang platform yang lebih
memperhatikan aspek kesejahteraan mental pengguna. Hal ini dapat
mencakup pengembangan fitur yang mendorong penggunaan media sosial
yang lebih sehat, mengimplementasikan sistem peringatan untuk penggunaan
15
berlebihan, serta penggunaan tools untuk mengelola paparan terhadap konten
yang berpotensi memicu kecemasan. Dengan demikian, platform media sosial
dapat menjadi lebih ramah dan responsif terhadap kebutuhan kesehatan
mental pengguna.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penggunaan Media Sosial
1. Definisi Penggunaan Media Sosial
Dikutip dari laporan Hootsuite (We Are Social) mengenai Digital Report
Indonesia 2021, jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 170 juta
jiwa yang setara dengan 61,8% dari total populasi negara tersebut. Media
sosial berfungsi sebagai platform yang memungkinkan individu untuk
bertemu dan berbagi dengan sesama pengguna. Popularitas media sosial
semakin meningkat karena memberikan kemudahan dan kesempatan bagi
masyarakat untuk terhubung dan membangun jaringan satu sama lain melalui
internet. Dengan fitur interaktif yang ditawarkan, media sosial telah menjadi
alat penting dalam memperkuat hubungan sosial di era digital ini.
Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata penggunaan merupakan sebagai
proses, cara, atau perbuatan dalam memanfaatkan atau memakai (KBBI,
2002:852). Istilah ini mencakup berbagai konteks, baik dalam kehidupan
sehari-hari, pekerjaan, maupun dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi,
yang dimana suatu alat, metode, atau sumber daya digunakan secara efektif
dengan kebutuhan. Dalam penelitian ini penggunaan merujuk pada
pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi berupa media sosial yang
digunakan oleh generasi Z dalam kehidupan sehari-hari.
16
17
Media berasal dari bahasa Latin yaitu medius yang artinya “tengah”, dan
merupakan bentuk jamak dari kata medium. Secara harfiah, medium berarti
perantara atau pengantar. Sementara itu, kata sosial mengacu pada realitas
sosial di mana setiap individu melakukan tindakan yang berdampak atau
berkontribusi terhadap masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pada
dasarnya, media beserta seluruh perangkat lunaknya bersifat sosial, dalam arti
bahwa keduanya merupakan hasil dari proses sosial (Durkheim dalam Fuchs,
2014). Dalam konteks ini, media berfungsi sebagai perantara dalam proses
komunikasi dan interaksi antar pengguna melalui platform digital. Media
sosial memungkinkan individu untuk berbagi informasi, ide, dan pendapat
secara cepat dan luas, menjadikannya sebagai alat komunikasi modern yang
sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.
Media dan seluruh perangkat lunak dapat dipahami sebagai entitas
“sosial”, karena keduanya terbentuk melalui proses interaksi dan konstruksi
sosial dalam masyarakat (Mulawarman & Nurfitri, 2017). Hal ini sejalan
dengan pendapat Nasrullah (2015) media sosial adalah medium di internet
yang memungkinkan pengguna untuk merepresentasikan dirinya, serta
berinteraksi, bekerja sama, berbagi, dan berkomunikasi dengan pengguna lain
guna membentuk ikatan sosial secara virtual. Media sosial juga berperan
sebagai ruang terbuka yang memfasilitasi pertukaran informasi dan
membangun jejaring sosial tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.
18
Menurut Chris Heuer (2010) penggunaan media sosial dapat
didefinisikan melalui empat elemen kunci yang dikenal sebagai 4C, antara
lain:
a) Context
Konteks dalam penggunaan media sosial berkaitan dengan cara meyusun
pesan dengan memperhatikan pemilihan bahasa yang tepat. Pengelolaan
bahasa ini yang sering disebut sebagai copywriting yang sangat penting
untuk menciptakan konteks yang sesuai dan menarik bagi audiens.
Dengan konteks yang tepat, pesan yang akan disampaikan dapat lebih
mudah dipahami dan diterima oleh pengguna.
b) Communication
Komunikasi dalam media sosial melibatkan proses berbagi informasi
yang meliputi mendengarkan, membaca dan memberikan respons. Ini
menekankan pentingnya interaksi dua arah, di mana pengguna tidak
hanya menyampaikan informasi tetapi juga aktif terlibat dalam
percakapan dengan orang lain. Komunikasi yang efektif di media sosial
dapat meningkatkan keterlibatan dan membangun hubungan yang lebih
kuat antara pengguna.
c) Collaboration
Kolaborasi dalam media sosial merujuk pada kemampuan platform ini
untuk mempertemukan berbagai pihak untuk bekerja sama mencapai
tujuan tertentu. Media sosial menyediakan ruang bagi individu dan
19
organisasi untuk berkolaborasi, berbagi ide dan mengembangkan proyek
bersama. Misalnya, kolaborasi di media sosial dapat menciptakan
kemitraan yang bermanfaat antara influencer dan merek atau antara
seniman dalam proyek seni kolaboratif (Digima, 2021).
d) Connection
Koneksi dalam konteks media sosial berfokus pada pemeliharaan
hubungan yang telah terjalin dengan pengguna lain. Media sosial
memungkinkan individu untuk tetap terhubung dengan teman, keluarga
dan kolega, meskipun jarak fisik memisahkan mereka. memelihara
koneksi ini penting untuk membangun jaringan sosial yang kuat dan
mendukung interaksi yang berkelanjutan.
Media sosial adalah platform di internet yang memungkinkan
penggunanya untuk mengekspresikan diri, berinteraksi, berkolaborasi,
berbagi informasi, dan membangun hubungan sosial secara virtual dengan
pengguna media sosial lainnya (Nashrullah, 2015). Sosial media merupakan
platfrom online mendukung interaksi antar pengguna dengan memanfaatkan
teknologi yang berbasis website dan dapat mengubah komunikasi menjadi
dialog yang lebih interaktif. Saat ini, terdapat beberapa situs media sosial yang
popular, antara lain : WhatsApp, Facebook, YouTube, Twitter, Instagram,
blog lainnya (Doni, 2017).
20
Menurut Ardianto dalam bukunya yang berjudul komunikasi massa,
tingkat pengguna media dapat diukur melalui frekuensi dan durasi
penggunaanya. Lometti, Reeves dan Bybee mengidentifikasi tiga hal yang
penting dalam penggunaan media oleh individu, yaitu :
a. Jumlah waktu, hal ini berkaitan dengan frekuensi, intensitas dan durasi
yang digunakan saat mengakses situs media.
b. Isi media, pemilihan media dan metode yang tepat sangat penting agar
pesan yang ingin disampaikan dapat dikomunikasikan dengan efektif.
c. Hubungan media dengan individu, ini merujuk pada keterkaitan antara
pengguna da media sosial yang mereka gunakan.
Teori Uses and Gratifications menekankan pada proses penerimaan
dalam komunikasi serta menjelaskan bagaimana individu menggunakan
media sosial. Teori ini berasumsi bahwa setiap pengguna memiliki berbagai
pilihan untuk memenuhi kebutuhannya (Nurudin, 2003:181). Dalam hal ini,
manusia memiliki kebebasan dalam menilai serta memanfaatkan media.
Sehingga dapat menentukan sendiri bagaimana mereka akan menggunakan
media tersebut. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh M.
Zuwairi M. S. (2019) menemukan bahwa media sosial mempermudah dalam
komunikasi tanpa adanya batasan jarak dan waktu. Selain itu, media sosial
juga memungkinkan individu untuk mengakses informasi yang relevan dan
meningkatkan interaksi sosial antara penggunanya. Dengan adanya
kebebasan dalam memanfaatkan media, individu dapat menyesuaikan
21
penggunanya sesuai dengan kebutuhan mereka, baik untuk keperluan edukasi,
komunikasi, maupun hiburan.
Penggunaan layanan media sosial, seperti Facebook, YouTube, dan
blog, telah mengalami lonjakan yang signifikan dalam beberapa tahun
terakhir. Layanan media sosial dapat dikategorikan menjadi enam jenis:
penerbitan dan distribusi konten, berbagi konten, situs jejaring sosial,
produksi kolaboratif, dunia virtual, dan add-on (Silius et al., 2011).
Fungsi media sosial sangat luas, mulai dari sebagai sarana interaksi
sosial antar individu hingga sebagai pendukung penyebaran pengetahuan dan
informasi yang lebih luas. Media sosial juga berperan dalam
mentransformasikan praktik komunikasi dari yang sebelumnya bersifat satu
arah, seperti yang terjadi pada media tradisional menjadi praktik komunikasi
yang lebih interaktif dan dialogis antara audiens. Dengan demikian, media
sosial tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi, tetapi juga
memperluas jangkauan interaksi sosial di era digital ini.
2. Karakteristik Media Sosial
Media sosial memiliki enam karakteristik yang dijelaskan oleh Mitra
dan Cohen, sebagaimana diungkapkan dalam penelitian Kade Galuh (2016).
Keenam karakteristik tersebut adalah sebagai berikut :
a. Intertextuality, setiap teks di media sosial memiliki tautan atau hubungan
dengan teks lainnya. Artinya, konten yang dipublikasikan tidak pernah
22
tunggal dan selalu terkait dengan konteks lain yang ada di platform
tersebut.
b. Nonlinearity, struktur kontennya tidak linear, sehingga tidak ada awal dan
akhir yang pasti. Topik yang berakhir dapat menjadi tema baru dan
pengguna dapat berinteraksi dengan konten secara fleksibel tanpa batasan
kronologis.
c. Blurring Reader/Writer Distinction, pembedaan antara pembaca dan
penulis menjadi kabur. Seorang pengguna media sosial tidak hanya dapat
menghasilkan konten tetapi juga menjadi konsumen dari konten yang
sama, membuat menjadi actor dual dalam proses komunikasi.
d. Multimediality, media sosial mencakup berbagai jenis media seperti
gambar, suara an teks yang saling melengkapi untuk memberikan
pengalaman interaktif yang lebih luas bagi pengguna
e. Global Reach, internet memiliki sifat global sehingga konten dapat
disebarkan secara luas tanpa adanya batasan geografis atau waktu. Ini
memungkinkan informasi untuk diakses oleh orang-orang dari seluruh
dunia dengan mudah
f. Ephemerality, kontennya cenderung tidak stabil karena dapat dihapus
baik secara sengaja maupun tidak oleh pengguna. Hal ini membuat teks
dalam media sosial rentan terhadap perubahan dan kehilangan seiring
berjalannya waktu.
23
3. Faktor Media Sosial
Menurut Topaloglu, dkk (2016) merupakan penggunaan media sosial
mencerminkan tingkat ketertarikan individu terhadap media sosial, yang dapat
ditinjau dari sikap individu terhadap tujuan penggunaan serta preferensinya
dalam berkomunikasi secara daring. Topaloglu, dkk (2016) mengidentifikasi
sejumlah faktor yang memengaruhi perilaku individu dalam menggunakan
media sosial, yakni :
a. Tujuan Penggunaan Media Sosial
Tujuan seseorang dalam menggunakan media sosial mencerminkan
tingkat dorongan atau keinginannya yang terlihat dari sikap terhadap
media sosial itu sendiri. Pengguna yang memiliki pandangan positif
terhadap media sosial cenderung lebih sering mengaksesnya dan
menganggapnya sebagai sesuatu yang berguna.
b. Preferensi Komunikasi Melalui Media Sosial
Preferensi komunikasi melalui media sosial menunjukkan sejauh mana
individu lebih memilih berkomunikasi secara daring dibandingkan
dengan komunikasi langsung atau tatap muka. Pengguna yang memiliki
sikap positif terhadap media sosial cenderung lebih menyukai komunikasi
online (daring) daripada komunikasi offline (luring) (Topaloglu et al.,
2016).
24
Sedangkan, dalam penelitian oleh Julianti dan Clara (2020) menjelaskan
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keinginan untuk menggunakan
media sosial, yakni :
1) Perilaku Pencarian Informasi (Information Seeking Behavior)
Media sosial berfungsi sebagai sumber informasi yang luas dan
mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk budaya, sosial, ekonomi,
agama, dan tradisi. Dalam konteks ini, media sosial dapat dianggap
sebagai ensiklopedia global yang terus berkembang (Kemendag, 2014).
Kemajuan teknologi digital telah mempermudah penyampaian informasi
kepada masyarakat, sehingga pencarian informasi melalui media sosial
semakin menggantikan metode konvensional seperti media cetak, radio,
dan televisi. Hal ini mendorong individu untuk aktif menggunakan media
sosial sebagai alat untuk mendapatkan informasi yang relevan dan terkini.
Dengan akses yang cepat dan mudah, pengguna dapat mengikuti berita
terbaru, tren, dan berbagai topik menarik lainnya, serta terlibat dalam
diskusi yang memperkaya pengetahuan mereka.
2) Perilaku Mencari Hiburan dalam Mengisi Waktu Luang (Hedonic
Behavior)
Perilaku ini berkaitan dengan pencarian kesenangan dan kepuasan
pribadi. Media sosial menawarkan berbagai konten hiburan yang dapat
dinikmati oleh pengguna, mulai dari video lucu hingga musik. Menurut
25
APJII (2016), banyak pengguna mengunjungi situs hiburan seperti Iflix
untuk menonton film atau Spotify untuk mendengarkan musik saat
mengisi waktu luang. Dengan demikian, media sosial menjadi sarana
yang efektif bagi individu untuk bersantai dan menikmati waktu mereka.
Selain itu, platform ini juga memungkinkan pengguna untuk berbagi
konten hiburan dengan teman-teman mereka, menciptakan pengalaman
sosial yang lebih menyenangkan dan interaktif.
3) Rasa Kekomunitasan (Sense Of Community)
Rasa kekomunitasan mencerminkan kebutuhan individu untuk
membangun hubungan sosial melalui media sosial. Menurut Scheepers,
Stockdale, dan Nurdin (2014), interaksi di media sosial memungkinkan
individu untuk bertukar pandangan dan saling mengenal lebih baik,
sehingga terjalin ikatan emosional yang kuat. Media sosial berfungsi
sebagai platform untuk menjalin relasi sosial yang lebih luas,
memudahkan komunikasi antarindividu dan memperkuat rasa
kebersamaan di antara pengguna. Dengan adanya grup atau komunitas
online berdasarkan minat yang sama, individu dapat merasa lebih
terhubung dan mendapatkan dukungan dari orang lain dalam suasana
yang lebih santai.
4. Dampak Media Sosial
Menurut Djarijah (2022, hal 15) menjelaskan jika penggunaan media
sosial saat ini berlangsung hampir setiap saat dan mengalami perkembangan
26
yang pesat. Munculnya berbagai aplikasi media sosial yang semakin popular
di kalangan Masyarakat membawa dampak yang signifikan, baik positif
maupun negatif bagi penggunanya.
Media sosial memudahkan komunikasi dan berbagi informasi,
memungkinkan individu untuk terhubung dengan orang lain di seluruh dunia
dengan cepat. Namun di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan
dapat menimbulkan masalah seperti kecanduan, penurunan interaksi sosial
secara langsung, serta dampak negatif terhadap kesehatan mental. Isu-isu
seperti cyberbullying dan penyebaran informasi palsu juga menjadi tantangan
serius yang muncul akibat interaksi di platfromnya.
Terdapat dampak positif dan negatif dalam pengunaan media sosial, antara
lain :
a. Dampak Positif
Dampak positif dari penggunaan media sosial dapat dilihat dari beberapa
hal (Endah Triastuti : 64, 2017), yakni :
1) Mengembangkan Relasi Pertemanan
Media sosial sebagai jejaring sosial membantu penggunanya
untuk terhubung dan berkomunikasi dengan siapa saja dalam
jaringan, baik orang yang dikenal maupun orang asing. Interaksi
dapat dibangun melalui chatting, saling share dan juga komentar
antar pengguna. Selain itu, media sosial juga membantu
meningkatkan jumlah pertemanan atau followers dalam akun
27
Facebook, Instagram dan Twitter. Dengan adanya fitur-fitur yang
mendukung interaksi ini, pengguna dapat memperluas jaringan sosial
individu dan menjalin hubungan yang lebih erat dengan orang-orang
di sekitarnya. Hal ini tidak hanya meningkatkan kemampuan sosial
tetapi juga memberikan kesempatan untuk bertukar ide dan
pengalaman dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.
Media sosial juga memungkinkan pengguna untuk tetap terhubung
dengan teman-teman lama, sehingga memperkuat ikatan yang
mungkin sudah mulai pudar akibat jarak fisik.
2) Sebagai Media Informasi
Pengguna media sosial memiliki akses yang mudah dan cepat
untuk memperoleh informasi terkini melalui situs jejaring sosial.
Berbagai jenis informasi yang dibagikan di platform ini mencakup
topik-topik penting seperti pendidikan, kesehatan, hiburan dan tren
gaya hidup. Dengan demikian, pengguna dapat mengakses beragam
informasi yang relevan dan update. Media sosial memungkinkan
pengguna untuk mengikuti akun-akun yang menyediakan konten
informatif dan edukatif, sehingga dapat tetap terinformasi tentang
perkembangan terbaru dalam berbagai bidang. Misalnya, pelajar
dapat menemukan sumber belajar tambahan, mengikuti berita terkini
atau mendapatkan tips dan trik yang bermanfaat untuk kehidupan
sehari-hari.
28
3) Menambah Wawasan, Keterampilan dan Pengembangan
Infromasi yang dibagikan di media sosial menjadi komoditas
yang sangat berharga bagi pengguna untuk menambah wawasan dan
keterampilan. Melalui platform seperti YouTube, pengguna tidak
hanya dapat menonton video tutorial tentang berbagai topik, mulai
dari memasak sampai pemrograman, tetapi juga dapat
mengembangkan bakat dan keterampilan baru. Konten kreatif yang
diunggah oleh orang lain juga bisa menjadi inspirasi bagi pengguna
untuk mengeksplorasi minat mereka lebih dalam. Dengan
memanfaatkan media sosial secara efektif, individu dapat belajar
secara mandiri (otodidak) dan mengakses berbagai sumber daya
pendidikan tanpa batasan geografis. Hal ini membuka peluang bagi
mereka untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman,
serta meningkatkan daya saing di dunia kerja.
4) Media Komersial atau Bisnis Online
Media sosial telah menjadi platform yang penting bagi bisnis
untuk mempromosikan produk dan layanan mereka. Jejaring sosial
seperti Intagram dan Facebook berfungsi sebagai sarana efektif untuk
memperkenalkan barang-barang komersial kepada audiens yang
lebih luas. Pengguna dapat mengubah akun media sosial mereka
menjadi platform bisnis, mempromosikan dan menjual produk secara
29
langsung. Dengan memanfaatkan konten menarik dan interaksi
langsung, bisnis dapat meningkatkan kesadaran merek dan loyalitas
untuk melacak keberhasilan promosi pemasaran, sehingga strategi
pemasaran menjadi lebih efisien. Jadi, penggunaan media sosial
dalam bisnis memberikan banya keuntungan, membantu pengusaha
untuk menjalin hubungan dengan pelanggan dan meningkatkan
pertumbuhan bisnis secara signifikan.
b. Dampak Negatif
Dampak negatif dari penggunaan media sosial dapat dijabarkan
sebagai berikut (Endah Triastuti, 2017) :
1) Pengaruh yang Ditimbulkan Oleh Media Sosial dan Game Online
Media sosial dengan berbagai fitur menarik yang
ditawarkannya, sering kali membuat penggunanya sulit untuk
melepaskan diri dari keterikatan tersebut. Banyak orang
menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menyusuri
platform ini, bahkan seseorang yang terlibat dalam game online dapat
menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga dan perhatian untuk
menyelesaikan misi dan tantangan dalam game. Keterikatan ini
menciptakan rasa nyaman dan betah bagi pengguna, sehingga mereka
terus-menerus menikmati pengalaman yang ditawarkan hanya
dengan sekali pencet. Kebiasaan ini tidak hanya mengganggu
produktivitas sehari-hari tetapi juga dapat berdampak negatif pada
30
kesehatan mental. Penggunaan media sosial yang berlebihan sering
kali menyebabkan kecanduan, di mana pengguna lebih memilih
berinteraksi secara virtual daripada melakukan kegiatan sosial secara
langsung. Hal ini dapat memicu perasaan kesepian dan kecemasan,
serta mengganggu keseimbangan hidup yang sehat.
2) Menurunnya Sosialisasi yang Nyata
Hal ini terjadi ketika seseorang lebih memilih untuk
mengisolasi diri dalam dunianya sendiri, cenderung bersikap
individualitis saat berinteraksi dengan orang lain di dunia maya.
Akibatnya, interaksi langsung dengan teman atau orang di sekitar
semakin berkurang. Pengguna media sosial sering kali lebih intensif
membangun hubungan di platform digital dibandingkan dengan
orang-orang di sekitarnya. Misalnya, mereka lebih memilih untuk
membagikan masalah pribadi melalui status atau cerita di akun media
sosial daripada mendiskusikannya secara langsung dengan orangtua,
teman atau orang terdekat. Fenomena ini menunjukkan bahwa
meskipun media sosial dapat memfasilitasi komunikasi, ia juga dapat
mengurangi kualitas interaksi sosial yang sebenarnya, sehingga
menciptakan jarak emosional antara individu dan lingkungan sosial
mereka.
3) Penyebaran Hoaks yang Memicu Konflik di Media Sosial
Sebagai salah satu produk media cyber, media sosial telah
31
menjadi arena bagi penyebaran informasi palsu atau hoaks. Informasi
yang beredar di platform ini sering kali merupakan hasil reupload
atau modifikasi oleh pengguna lain, sehingga keakuratan dan
kebenarannya tidak dapat dipastikan. Ketika informasi tersebut
menjadi konsumsi publik, konflik dapat muncul akibat pengguna
yang menyampaikan pendapat mereka secara bebas tanpa batasan
yang jelas. Situasi ini menciptakan perdebatan dan ketegangan antar
pengguna, terutama ketika hoaks berkaitan dengan isu-isu sensitif
seperti politik, agama atau ras. Penyebaran hoaks tidak hanya
mengganggu komunikasi yang sehat di media sosial tetapi juga dapat
berdampak pada hubungan sosial di dunia nyata, karena dapat
memicu perpecahan dan menurunkan tingkat kepercayaan di
masyarakat.
4) Media Sosial Telah Menjadi Sarang bagi Kriminalitas dan
Cyberbullying
Berbagai bentuk kejahatan muncul akibat penggunaan
platform ini, seperti perjudian online, pornografi, penipuan yang
berkedok jual beli online, pembajakan akun, pelecehan seksual dan
bahkan prostitusi online. Selain itu, fenomena perundungan di dunia
maya juga semakin meluas. Penelitian menunjukkan bahwa
perundungan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga
berkembang ke bentuk verbal dan psikologis, baik di dunia nyata
32
maupun di virtual. Kejahatan cyber ini semakin meningkatkan
seiring dengan bertambahnya pengguna media sosial dan
kemudahan akses yang ditawarkannya. Data dari kepolisian
menunjukkan bahwa kasus kejahatan cyber di Indonesia mengalami
peningkatan yang signifikan dengan ribuan laporan terkait penipuan
online dan pelecehan yang tercatat setiap tahunnya. Hal ini
menegaskan bahwa meskipun media sosial menawarkan banyak
manfaat, ia juga membawa resiko serius bagi penggunanya. Jadi,
para pengguna harus tetap waspada dan memahami cara bagaimana
melindungi diri dari potensi ancaman yang ada di platform digital
ini.
B. Kecemasan Sosial (Social Anxiety)
1. Pengertian Kecemasan Sosial (Social Anxiety)
Kalimat kecemasan berasal dari kata latin “Angustus” yang berarti kaku
dan angos atau anci yang berarti mencekik. Kecemasan adalah kondisi mental
yang ditandai dengan ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan terhadap
apa yang mungkin terjadi, baik terkait masalah tertentu maupun hal-hal yang
tidak jelas.
Secara umum, kecemasan dapat digambarkan sebagai “perasaan
tertekan dan tidak tenang, disertai pikiran yang kacau dan banyak
penyelesaian”. Kondisi ini dapat berdampak signifikan pada tubuh,
33
menyebabkan gejala fisik seperti menggigil, berkeringat, detak jantung yang
cepat, mual dan rasa lemas. Selain itu, kecemasan juga dapat mengurangi
kemampuan seseorang untuk berproduktivitas, sehingga banyak orang
mencari pelarian ke dalam dunia imajinasi sebagai bentuk terapi sementara.
Menurut Liebowitz (1987) kecemasan sosial merupakan perasaan takut
dan kekhawatiran yang berlebihan dan terus menerus terkait dengan
kemungkinan merasa malu atau mendapatkan penilaian negatif dari orang lain
saat berinteraksi sosial. Individu yang mengalami kecemasan sosial cenderung
merasa cemas karena ketakutan akan penilaian negatif dari orang lain yang
dapat membuat mereka merasa tertekan dan tidak nyaman. Akibatnya, mereka
sering kali lebih memilih untuk menghindari interaksi sosial dan merasa lebih
tenang saat berada sendirian. Kecemasan ini dapat mengganggu kehidupan
sehari-hari dan memengaruhi kemampuan individu untuk berinteraksi dengan
orang lain secara efektif.
Lazarus mengemukakan bahwa kecemasan adalah respons terhadap
pengalaman yang tidak menyenangkan disertai perasaan gelisah, khawatir dan
takut. Kecemasan merupakan aspek subjektif dari emosi seseorang, karena
melibatkan perasaan yang tidak nyaman dan bersifat pribadi (Ari et al., 2024).
Kecemasan merupakan pengalaman yang dialami oleh semua orang pada
tingkat tertentu, dan Peplau (1952) mengidentifikasi empat tingkatan
kecemasan yang berbeda.
34
Kecemasan ringan berfungsi sebagai motivasi dalam kehidupan sehari-
hari, mendorong individu untuk belajar dan berkembang. Kecemasan sedang
memungkinkan fokus pada hal-hal penting, meskipun dapat menyebabkan
beberapa gejala fisik dan kognitif. Kecemasan berat sangat memengaruhi
persepsi dan kemampuan individu untuk berfungsi secara efektif, sering kali
disertai dengan gejala fisik yang lebih serius. Selanjutnya, panik adalah
tingkat kecemasan yang paling ekstrem, ditandai dengan perasaan kehilangan
kendali dan ketakutan yang mendalam. Memahami berbagai tingkatan
kecemasan ini penting untuk mengenali dampaknya terhadap kehidupan
sehari-hari dan untuk menentukan intervensi yang tepat guna mengatasi
masalah kecemasan.
Freud (1989) menganggap kecemasan sebagai elemen yang sangat
penting dalam sistem kepribadian dan sebagai pusat perkembangan perilaku
neurosis dan psikosis (Andri & Dewi, 2007). Freud dalam Corey (2014)
mengemukakan bahwa kecemasan adalah kondisi tegang yang mendorong
individu untuk bertindak. Jika tidak dikelola dengan baik, kecemasan bisa
berkembang menjadi gangguan psikologis seperti neurosis atau psikosis.
Untuk mengatasinya, manusia sering menggunakan mekanisme pertahanan
seperti menekan ingatan yang tidak menyenangkan atau mencari alasan untuk
membenarkan perilakunya. Jadi, kecemasan ini berperan sebagai tanda
bahaya yang membuat seseorang berusaha mencari cara agar merasa lebih
nyaman dan aman.
35
Sedangkan, Muchlas (1976) mengatakan kecemasan merupakan
pengalaman subjektif yang ditandai dengan ketegangan mental, penderitaan
dan tekanan yang muncul dari konflik atau ancaman. Dengan hal ini, Freud
menetapkan tiga jenis kecemasan yakni kecemasan realistic, kecemasan
neurotic dan kecemasan moral.
a. Kecemasan Realitas atau Objektif (Reality or Objective Anxiety)
Kecemasan realitas atau objektif adalah jenis kecemasan yang
muncul sebagai respons terhadap ancaman yang berasal dari dunia luar,
serta perasaan takut terhadap bahaya yang nyata dalam lingkungan
sekitar. Kecemasan ini berfungsi sebagai sinyal bagi individu untuk
mengambil tindakan yang diperlukan dalam menghadapi situasi berisiko.
Misalnya, seseorang mungkin merasa cemas untuk keluar rumah karena
khawatir akan terjadi kecelakaan atau seorang pelajar mungkin
mengalami kecemasan saat menghadapi ujian penting.
Kecemasan realitas ini dapat memotivasi individu untuk
mempersiapkan diri da mengambil langkah-langkah pencegah. Dalam
konteks ujian, rasa cemas dapat mendorong siswa untuk belajar lebih giat
dan mempersiapkan diri dengan baik. namun, jika kecemasan ini
berlebihan, hal itu bisa mengganggu fungsi sehari-hari dan menyebabkan
individu merasa tertekan. Oleh karena itu, penting untuk mngenali
batasan antara kecemasan yang sehat yang dapat mendorong tindakan
36
positif dan kecemasan yang berlebihan dapat menghambat kemampuan
seseorang untuk berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
b. Kecemasan Neurotik (Neurotic Anxiety)
Kecemasan neurotic adalah jenis kecemasan yang muncul sebagai
hasil dari pengalaman masa kanak-kanak, sering kali terkait dengan
ancaman atau hukuman yang dirasakan dari orang tua atau figur otoritas
lainnya. Kecemasan ini berkembang ketika individu merasa takut akan
konsenkuensi negatif yang mungkin tidak nyata, tetapi terbentuk dari
pengalaman traumatis atau ketakutan yang dialami di masa lalu.
Misalnya, seorang anak yang pernah dihukum secara berlebihan mungkin
tumbuh menjadi dewasa yang selalu merasa cemas dan akan
kemungkinan hukuman, meskipun situasi saat ini tidak mengancam.
Ketika individu mengalami kecemasan neurotic, mereka sering kali
merasa terjebak dalam pikiran tentang hukuman yang mungkin mereka
terima, baik secara nyata maupun imajiner. Rasa takut ini dapat
menghalangi mereka untuk memenuhi dorongan insting dan keinginan
pribadi mereka, karena mereka khawatir akan penilaian atau reaksi
negatif dari orang lain. Kecemasan neurotic dapat menyebabkan individu
merasa tidak berdaya dan terasing, sehingga berdampak buruk pada
kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu,
perlu untuk mengenali dan menangani kecemasan ini melalui terapi atau
37
dukungan psikologis agar individu bisa mengembangkan pola pikir yang
lebih sehat dan positif.
c. Kecemasan Moral (Moral Anxiety)
Kecemasan moral ditandai oleh perasaan bersalah atau rasa malu
yang muncul ketika seseorang merasa bahwa tindakan atau keinginan
mereka tidak sesuai dengan norma atau nilai moral yang dianut.
Kecemasan ini merupakan respons dari superego terhadap dorongan id
yang berpotensi mengarah pada kepuasan yang dianggap tidak bermoral.
Dalam konteks ini, superego berfungsi sebagai suara hati yang menilai
dan mengawasi perilaku individu, memberikan peringatan ketika mereka
melanggar batasan moral.
Individu yang mengalami kecemasan moral sering kali merasa
tertekan oleh ketakutan akan hukuman dari superego mereka sendiri.
Mereka mungkin khawatir tentang konsekuensi emosional dari tindakan
mereka, seperti rasa bersalah yang mendalam atau rasa malu yang
menyakitkan. Kecemasan ini dapat bertindak sesuai dengan keinginan
mereka karena takut melanggar prinsip moral. Oleh karena itu, individu
harus memahami dan mengelola kecemasan moral ini agar dapat hidup
dengan lebih seimbang dan harmonis, tanpa terjebak dalam perasaan
bersalah yang berlebihan.
Martin dan Richard (2017) menjelaskan bahwa kecemasan sosial
merujuk pada perasaan tidak nyaman atau kegugupan yang dialami
38
seseorang dalam situasi sosial. Rasa cemas ini biasanya muncul karena
ketakutan untuk melakukan sesuatu yang dianggap memalukan atau
bodoh, yang dapat mengakibatkan penilaian negatif atau kritik dari orang
lain. Kecemasan sosial sering kali berkaitan dengan berbagai karakteristik
kepribadian, seperti rasa malu, perfeksionisme dan sifat introvert.
Individu yang pemalu, misalnya merasa canggung saat berada dalam
situasi sosial tertentu, terutama ketika berinteraksi dengan orang baru.
Secara umum, kecemasan sosial adalah bentuk ketakutan yang dialami
seseorang ketika berada di kerumunan, di mana interaksi dengan orang
lain dapat menimbulkan perasaan cemas dan tidak nyaman.
La Greca dan Lopez (1998) mendefinisikan kecemasan sosial
sebagai perasaan cemas yang dapat digeneralisasi, yang menyebabkan
individu merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan orang lain, baik
yang dikenal maupun yang tidak. Ketidaknyamanan ini muncul karena
adanya ketakutan untuk melakukan tindakan yang dianggap memalukan
atau bodoh, yang dapat mengakibatkan penilaian negatif dan penghinaan
dari orang lain. Dengan demikian, kecemasan sosial berkaitan erat dengan
kekhawatiran tentang bagaimana orang lain melihat dan menilai diri kita.
Jadi secara umum, kecemasan sosial merupakan jenis kecemasan
yang dialami seseorang ketika berada dalam kerumunan atau situasi
sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia secara alami berinteraksi dengan
orang lain, dan interaksi ini merupakan bagian yang tak terhindarkan dari
39
kehidupan. Namun, bagi individu yang mengalami kecemasan sosial,
interaksi tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan
ketegangan. Kondisi ini membuat mereka merasa tertekan saat harus
berhadapan dengan orang lain, baik yang dikenal maupun yang tidak.
Akibatnya, individu dengan kecemasan sosial sering kali merasa
kesulitan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial, yang dapat
mengganggu kualitas hidup mereka.
2. Aspek-aspek Kecemasan Sosial
Terdapat aspek-aspek kecemasan sosial menurut La Greca dan Lopez
(1998) terbagi menjadi 3 aspek meliputi sebagai berikut :
a) Ketakutan terhadap Evaluasi Negatif (Fear of Negative Evaluation)
Heimberg dkk (2005) menyimpulkan bahwa individu yang memiliki
tingkat ketakutan terhadap evaluasi negatif yang tinggi cenderung merasa
khawatir tentang penilaian orang lain terhadap diri mereka. Sebaliknya,
individu dengan tingkat ketakutan yang rendah tidak merasakan
kekhawatiran terkait penilaian orang lain. Hal ini mencerminkan salah
satu aspek kognitif dari kecemasan sosial.
Aspek ini merujuk pada kekhawatiran atau ketakutan individu
terhadap penilaian buruk yang mungkin diberikan oleh orang lain, seperti
ejekan atau kritik. Individu yang mengalami ketakutan ini merasa cemas
akan kemungkinan dievaluasi secara negatif yang dapat memengaruhi
kepercayaan diri dan kenyamanan mereka dalam situasi sosial.
40
Indikator Fear of Negative Evaluation menurut La Greca dan Lopez
(1998) terbagi menjadi 2 kategori yakni : rasa khawatir yang muncul
akibat pemikiran berlebihan tentang kemungkinan penilaian negatif dari
orang lain yang dapat berdampak buruk pada individu itu sendiri, dan
kesulitan dalam menampilkan kemampuan secara optimal dalam
melakukan suatu tugas atau aktivitas.
b) Penghindaran Sosial dan Ketertekanan Umum (Social Avoidance and
Distress in General)
La Grace dalam Olivers (2009) menjelaskan bahwa penghindaran
sosial dan rasa tertekan dalam situasi baru terjadi ketika individu merasa
gugup saat berbicara dan tidak memahami alasan di balik perasaan
tersebut. Ketika menghadapi orang baru atau situasi yang tidak yang tidak
familiar, individu sering kali merasakan kecemasan yang membuat
mereka sulit untuk berinteraksi dengan nyaman.
Menggambarkan kecenderungan individu untuk menghindari
tempat-tempat umum atau situasi sosial yang dapat menimbulkan rasa
tidak nyaman. Mereka merasa lebih aman dan tenang ketika berada
sendirian, sehingga cenderung menjauh dari interaksi sosial. hal ini dapat
mengakibatkan isolasi dan mengurangi kesempatan untuk berpartisipasi
dalam aktivitas sosial yang seharusnya menyenangkan.
Indikator dari aspek perilaku ini meliputi pertama, rasa malu dan gugup
yang dirasakan saat berinteraksi dengan orang baru maupun dengan orang
41
yang sudah dikenal dan kedua, penghindaran terhadap kontak mata dan
situasi sosial karena adanya kekhawatiran saat harus melakukan sesuatu
di depan orang lain.
c) Penghindaran Sosial dan Ketertekanan terhadap Lingkungan Sosial yang
Baru (Social Avoidance Specific to New Stuations)
La Greca menyatakan bahwa penghindaran sosial dan perasaan
tertekan yang dialami secara umum dapat mencerminkan sejauh mana
individu mampu membangun hubungan dengan orang lain. Ini
menunjukkan bahwa kecemasan sosial dapat memengaruhi kemampuan
seseorang dalam berinteraksi dan menjalin relasi.
Sedangkan, Menurut Liebowitz menjelaskan bahwa kecemasan
sosial terdiri dari dua aspek utama, yaitu Performance Anxiety dan Social
Interaction Anxiety (Liebowitz, 1987). Performance Anxiety adalah rasa
takut dan cemas yang dialami individu ketika kinerja atau aktivitas
mereka diperhatikan oleh orang lain. Sedangkan, Social Interaction
Anxiety adalah ketakutan dan kecemasan yang muncul saat individu
melakukan interaksi dengan orang lain.
Dalam hal ini merujuk pada kecenderungan individu untuk
menghindari situasi baru, termasuk pertemuan dengan orang-orang yang
tidak dikenal atau asing. Dalam konteks ini, individu merasa cemas dan
lebih memilih untuk menjauh dari interaksi sosial yang melibatkan orang
42
baru yang dapat meningkatkan rasa tidak nyaman dan ketegangan dalam
diri mereka.
Indikator dalam konteks ini mencakup : 1) Perasaan tidak nyaman saat
mengajak orang lain berinteraksi karena takut akan kemungkinan
penolakan, 2) Kesulitan dalam mengajukan pertanyaan kepada orang lain,
3) Rasa malu yang muncul ketika terlibat dalam pekerjaan kelompok.
3. Faktor-faktor Kecemasan Sosial
Durrand dan Barlow (2006) mengemukakan bahwa kecemasan sosial dapat
dipengaruhi oleh tigas faktor utama, yakni kontribusi biologis, psikologis dan
psikososial. Berikut tiga faktor utamanya antara lain :
1. Kontribusi Biologis
Kontribusi biologis merujuk pada pengaruh genetik dan aspek
neurobiologis yang dapat memengaruhi tingkat kecemasan individu.
Faktor ini mencakup warisan genetik dari keluarga, di mana individu
dengan riwayat keluarga yang mengalami kecemasan cenderung
memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama. Selain
itu, sirkuit otak dan sistem neurotransmiter tertentu, seperti serotonin,
norepinefrin, dan Gamma-Aminobutyric Acid (GABA), juga berperan
penting dalam mengatur respons kecemasan. Ketidakseimbangan dalam
neurotransmiter ini dapat menyebabkan peningkatan kecemasan dan
reaktivitas emosional yang lebih tinggi.
43
2. Kontribusi Psikologis
Faktor psikologis berkaitan dengan cara individu memandang dan
merespons situasi di sekitar mereka. Pada masa kanak-kanak, individu
mulai menyadari bahwa tidak semua peristiwa dapat dikendalikan.
Persepsi ini dapat bervariasi, beberapa anak mungkin merasa yakin akan
kemampuan mereka untuk mengontrol berbagai situasi, sementara yang
lain mungkin merasa tidak berdaya. Ketidakmampuan untuk mengontrol
situasi yang dianggap berbahaya atau menakutkan dapat menghasilkan
kecemasan yang signifikan. Misalnya, anak yang tumbuh dalam
lingkungan yang terlalu melindungi mungkin tidak belajar keterampilan
mengatasi kesulitan, sehingga ketika menghadapi tantangan baru, mereka
merasa cemas dan tidak siap.
3. Kontribusi Psikososial
Faktor psikososial mencakup pengalaman sosial dan lingkungan
yang dapat mempengaruhi perkembangan kecemasan. Pengalaman
traumatis atau tekanan sosial seperti peristiwa pribadi yang signifikan
(misalnya perceraian, kehilangan orang terkasih, atau masalah di tempat
kerja) yang dapat meningkatkan risiko kecemasan. Lingkungan sosial
yang mendukung atau sebaliknya, lingkungan yang penuh tekanan juga
berkontribusi pada bagaimana individu menghadapi situasi sosial.
Individu yang memiliki dukungan sosial yang baik cenderung lebih
44
mampu mengatasi kecemasan dibandingkan mereka yang merasa
terisolasi.
Di sisi lain, Schlenker dan Leary berpendapat juga bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi individu mengalami kecemasan sosial adalah :
a. Hubungan dengan Kekuasaan dan Status Sosial Tinggi
Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial tinggi
cenderung mengalami kecemasan sosial yang lebih rendah. Hal ini
disebabkan oleh kekuatan dan pengaruh yang mereka miliki yang
memberikan rasa aman dalam interaksi sosial. Dengan status yang lebih
tinggi, individu merasa lebih percaya diri dan tidak terlalu khawatir
akan penilian negatif dari orang lain.
b. Konteks Evaluasi
Individu yang berada dalam situasi sosial sering kali merasa tidak
nyaman karena mereka menganggap bahwa orang lain akan
memberikan penilaian yang berlebihan terhadap mereka.
Ketidaknyamanan ini dapat menyebabkan mereka merasa tertekan dan
cemas, terutama jika mereka percaya bahwa evaluasi tersebut akan
berdampak negatif pada diri mereka.
c. Fokus Interaksi Pada Kesan Individu
Banyak individu percaya bahwa kesan pertama sangat penting dan
menjadi acuan untuk interaksi selanjutnya. Oleh karena itu, mereka
45
merasa tertekan untuk memberikan kesan yang baik di awal interaksi,
yang dapat meningkatkan kecemasan saat bertemu orang baru.
d. Situasi Sosial Yang Tidak Terstruktur
Situasi sosial yang tidak terorganisir, seperti hari pertama di sekolah
atau acara baru lainnya, dapat meningkatkan kecemasan sosial.
Ketidakpastian mengenai norma dan aturan dalam situasi tersebut
membuat individu merasa tidak nyaman karena mereka belum
mengetahui bagaimana seharusnya berperilaku.
e. Kesadaran Diri
Kesadaran diri merujuk pada perhatian individu terhadap diri mereka
sendiri dan bagaimana mereka berperilaku dalam lingkungan sosial.
Individu yang sangat fokus pada diri sendiri sering kali merasa cemas
karena khawatir tentang bagaimana tindakan mereka akan dinilai oleh
orang lain. Hal ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk
berinteraksi secara efektif.
4. Dampak Kecemasan Sosial
Wittchen dan Fehm (Muarifah dan Budiani, 2012) memaparkan
bahwa kecemasan sosial dapat menimbulkan negatif yang signifikan.
Dampak tersebut mencakup penurunan fungsi dalam peran sosial,
perkembangan karir, serta kualitas kesejahteraan subjektif dan kualitas
hidup secara keseluruhan (Jatmiko, 2016).
46
Hal ini sejalan dengan pandangan Castella et al. (2014), menyebutkan
bahwa individu yang mengalami kecemasan sosial sering kali membuat
kesalahan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti di lingkungan kerja,
pendidikan, persahabatan dan hubungan intim. Kecemasan sosial bisa
berdampak pada ketidakmampuan berfungsi secara optimal dalam berbagai
aspek kehidupan. Hal ini bisa mempengaruhi interaksi sosial serta
menghambat perkembangan karir dan hubungan interpersonal.
Kompleksitas kecemasan sosial biasanya membawa konsekuensi
besar bagi individu. Dampak negatif dari kecemasan sosial meliputi
penurunan kesejahteraan subjektif dan kualitas hidup, serta gangguan
fungsi peran sosial dan perkembangan karier. Orang-orang yang menderita
kecemasan sosial biasanya memiliki persepsi diri negatif dan mengalami
penurunan kemampuan dan prestasinya.
Selain itu, beberapa orang yang mengalami kecemasan sosial akan
merasa khawatir jika orang lain memperhatikan mereka. Tanda-tanda fisik
pun dapat terlihat jelas seperti pipi memerah, berkeringat, muka nampak
pucat, serta suara gemetar jika diiajak bicara.
Kecemasan sosial ini juga berdampak pada perilaku secara nyata,
seperti merasa malu berbicara di depan umum, serta cenderung menarik diri
dari lingkungan. Hal ini disebabkan karena adanya perasaan takut akan rasa
malu dan penilaian negatif yang timbul dengan berbagai penyebab.
Pernyataan ini juga didukung oleh pendapat Beck (1967), yang menjelaskan
47
bahwa kecemasan sosial merupakan pikiran seseorang yang merasa bahwa
orang lain menilai dirinya negatif.
C. Hubungan Antar Penggunaan Media Sosial dengan Kecemasan Sosial
Media sosial kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
sehari-hari, terutama bagi generasi Z. Penggunaan media sosial menggambarkan
seberapa sering serta untuk tujuan apa seseorang memanfaatkan platform digital
seperti Instagram, WhatsApp, TikTok dan lain sebagainya. Dalam kajian psikologi
sosial, fenomena ini dapat ditelaah lebih lanjut melalui dua dimensi utama:
intensitas penggunaan dan preferensi dalam berkomunikasi. Intensitas merujuk
pada seberapa sering dan berapa lama individu mengakses media sosial, sedangkan
preferensi komunikasi mencerminkan kecenderungan seseorang untuk memilih
interaksi secara online dibandingkan komunikasi langsung. Ketika kedua aspek ini
meningkat, maka semakin besar kemungkinan terjadinya perubahan dalam pola
hubungan sosial dan cara individu berinteraksi dengan lingkungannya.
Aspek intensitas dalam penggunaan media sosial memiliki kaitan yang
signifikan dengan munculnya kecemasan sosial. Individu yang menghabiskan
waktu berlebih di platform digital umumnya memiliki keterbatasan dalam
pengalaman interaksi tatap muka, yang pada gilirannya dapat menimbulkan rasa
kurang percaya diri dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain dalam situasi
sosial. Kondisi ini semakin diperburuk ketika individu merasa terdorong untuk
menyesuaikan diri dengan standar sosial yang dibentuk oleh media sosial, seperti
citra fisik yang ideal atau gaya hidup yang tinggi. Tekanan untuk menampilkan
48
diri sesuai standar tersebut dapat memicu kecemasan performatif (performance
anxiety), yakni perasaan cemas atau gugup yang muncul saat harus tampil di depan
publik atau berada dalam situasi yang menjadi pusat perhatian.
Selain itu, kecenderungan tinggi dalam memilih komunikasi melalui media
sosial turut berperan dalam meningkatnya tingkat kecemasan sosial secara umum.
Individu yang lebih sering berinteraksi melalui pesan teks atau komentar online
biasanya mengalami kesulitan dalam memahami isyarat nonverbal serta dalam
merespons percakapan yang terjadi secara spontan dalam komunikasi langsung.
Hal ini membuat mereka cenderung menghindari situasi yang memerlukan
interaksi tatap muka, yang justru dapat memperkuat rasa cemas dalam konteks
sosial. Dalam kondisi tertentu, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana
komunikasi, tetapi juga menjadi mekanisme pelarian dari interaksi sosial nyata
yang dirasakan sebagai sumber tekanan atau ketidaknyamanan.
Kemudian, keterkaitan antara penggunaan media sosial dan kecemasan sosial
dapat membentuk pola hubungan timbal balik yang bersifat negatif. Individu
dengan tingkat kecemasan sosial yang tinggi sering kali mencari rasa aman melalui
interaksi digital yang dirasa lebih dapat dikendalikan, seperti mengirim pesan
singkat atau memberikan tanda suka pada unggahan. Namun, kecenderungan
untuk menghindari interaksi tatap muka justru mengurangi kesempatan mereka
dalam mengembangkan keterampilan sosial secara langsung. Dalam jangka
panjang, hal ini dapat memperburuk tingkat kecemasan sosial yang dialami,
sehingga menciptakan siklus yang sulit diputus.
49
Penggunaan media sosial dapat memicu gangguan mental seperti kecemasan,
depresi, stres, dan kesepian (Nurlina et al., 2022). Hal ini sejalan dengan penelitian
yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dengan intensitas tinggi dapat
menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan. Semakin
sering seseorang menggunakan media sosial, semakin tinggi pula tingkat
kecemasan yang dialami (Zhao & Zhou, 2020).
Semakin sering seseorang menggunakan media sosial, maka semakin
berdampak media itu terhadap dirinya. Seiring dengan penemuan penelitian yang
mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat
mengganggu aktivitas seseorang (Woran et al., 2021). Motif yang pada mulanya
hanya melibatkan pengamatan aktivitas orang lain dan berinteraksi dapat
menciptakan rasa cemas pada pengguna. Selaras dengan hasil penelitian yang
mencerminkan bahwa media memiliki pengaruh terhadap individu sejalan dengan
cara individu tersebut menggunakannya (Adawiyah, 2020).
Individu dengan tingkat kecemasan sosial yang tinggi sering kali mengalami
ketakutan atau kecemasan yang berlebihan saat berhadapan dengan situasi sosial.
Penelitian oleh Pratiwi et al. (2019) menunjukkan bahwa perasaan cemas ini dapat
mempengaruhi cara individu berinteraksi dengan orang lain. Salah satu
manifestasi dari kecemasan sosial adalah peningkatan durasi penggunaan media
sosial yang menjadi cara alternatif bagi individu tersebut untuk bersosialisasi. Hal
ini diperkuat oleh pendapat Halim dan Sabri (2013) yang menyatakan bahwa
50
individu dengan kecemasan sosial lebih cenderung menghindari interaksi langsung
dan memilih untuk berkomunikasi melalui platform digital.
Media sosial menawarkan lingkungan yang lebih nyaman dan aman,
memungkinkan individu dengan kecemasan sosial untuk terhubung dengan orang
lain tanpa tekanan dari situasi tatap muka. Weidman et al. (2012) menambahkan
bahwa penggunaan media sosial dapat memberikan kesempatan bagi penderita
kecemasan sosial untuk membangun hubungan sosial, meskipun dalam bentuk
yang tidak langsung. Dengan demikian, media sosial berfungsi sebagai jembatan
yang memfasilitasi interaksi sosial sekaligus memberikan ruang bagi individu
untuk tetap merasa aman dalam berkomunikasi.
51
Kerangka Berpikir
Intensity of Social Performance
Media Sosial Use Anxiety
Penggunaan
Kecemasan Sosial
Media Sosial
Social Media Use
& Communication Social Anxiety
Preferences
D. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah dalam
penelitian. Disebut sementara karena jawaban tersebut masih didasarkan pada
teori-teori yang relevan dan belum berlandaskan pada fakta-fakta empiris yang
diperoleh melalui pengumpulan data (Sugiyono, 2022, h. 64). Adapun hipotesis
dari “Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Kecemasan Sosial pada
Kalangan Generasi Z” sebagai berikut : “Ada pengaruh penggunaan media sosial
terhadap tingkat kecemasan sosial pada generasi Z”.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang
berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini dirancang untuk meneliti
populasi atau sampel tertentu dengan tujuan yang jelas. Pengumpulan data
dilakukan melalui instrumen penelitian yang telah ditentukan dan analisis data
dilakukan secara statistik untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan
sebelumnya (Sugiyono, 2019). Penelitian kuantitatif berusaha menjelaskan
hubungan antara fenomena atau gejala sosial yang terjadi di masyarakat.
Menurut Suharsaputra (2012, p. 50) menjelaskan bahwa paradigma
positivisme ini memberikan gambaran atau pemahaman yang jelas tentang
fenomena yang sedang terjadi. Kedua, data yang disajikan dalam bentuk angka
atau numerik menjadi dasar untuk analisis. Ketiga, analisis data dilakukan dengan
menggunakan metode statistik.
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengamati bagaimana berbagai
variabel saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Dengan pendekatan
ini, diharapkan dapat memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang dinamika
sosial yang ada. Metode kuantitatif memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan
data numerik yang dapat diolah secara statistik, sehingga menghasilkan temuan
52
53
yang objektif dan dapat diukur. Hal ini memberikan landasan yang kuat untuk
menarik kesimpulan dan membuat rekomendasi berdasarkan hasil analisis.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat eksplanatif, di
mana peneliti berusaha menghubungkan dan mencari hubungan sebab-akibat
antara dua atau lebih variabel yang diteliti (Simarmata, 2018). Peneliti akan
menguji variabel-variabel tersebut untuk menentukan apakah terdapat pengaruh di
antara keduanya. Proses pengujian variabel dilakukan melalui tiga tahap, yakni :
1) uji validitas menggunakan teknik pearson correlation, 2) uji reabilitas dengan
menggunakan teknik cronbach alpha, 3) uji normalitas melalui analisis
Kolmogrov-Smirnov (K-S). Setelah itu, variabel-variabel tersebut akan diuji lebih
lanjut menggunakan regresi linier sederhana untuk memahami hubungan yang ada
secara lebih mendalam.
B. Identifikasi Variabel
Dalam penelitian ini, terdapat dua jenis variabel berdasarkan hubungan antara satu
variabel dengan variabel lainnya, yakni :
1. Variabel Independen (X) : Variabel independen merupakan variabel yang
berperan dalam memengaruhi atau menyebabkan perubahan pada variabel
dependen (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian ini, variabel bebas yang
dianalisis adalah penggunaan media sosial.
54
2. Variabel Dependen (Y) : Variabel dependen merupakan variabel
dipengaruhi oleh variabel independen (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian ini,
variabel dependen yang dianalisis adalah kecemasan sosial.
C. Definisi Operasional
Nazir (1999) menjelaskan bahwa definisi operasional adalah penjelasan
yang diberikan kepada suatu variabel atau konstruk dengan cara menetapkan arti
yang jelas dan spesifik. Definisi ini mencakup rincian tentang kegiatan yang harus
dilakukan serta prosedur operasional yang diperlukan untuk mengukur konstruk
atau variabel tertentu secara efektif. Dengan kata lain, definisi operasional
berfungsi sebagai panduan yang membantu peneliti dalam mengidentifikasi dan
mengukur variabel yang sedang diteliti, sehingga hasil penelitian dapat lebih
akurat dan dapat diandalkan.
1. Penggunaan Media Sosial
Penggunaan media sosial merujuk kecenderungan pada aktivitas individu
dalam mengakses, berinteraksi dan berbagi konten melalui platform digital
seperti Instagram, Twitter, Facebook dan TikTok. Pada skala The Scale for
the Individual and Social Impact of Student yang terdiri dari dua aspek, yakni
Intensity of Social Media Use dan Social Network Use and Communication
Preferences. Semakin tinggi skor skala, maka makin kuat intensitas dan
mempunyai kecenderungan preferensi menggunakan media sosial dalam
kehidupan sehari-harinya
55
2. Kecemasan Sosial
Kecemasan sosial adalah perasaan takut atau khawatir yang berlebihan
terkait interaksi sosial yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari individu.
Dalam penelitian ini, kecemasan sosial diukur menggunakan Social Anxiety
Scale. Dalam penelitian ini mencakup gejala-gejala seperti rasa malu,
ketakutan akan penilaian negatif dari orang lain dan kekhawatiran berlebihan
tentang situasi sosial.
D. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
1. Populasi
Menurut Sugiyono (2013) populasi didefinisikan sebagai wilayah
generalisasi yang terdiri dari subjek atau objek yang memiliki syarat dan
karakteristik tertentu yang telah ditentukan sebelumnya untuk diteliti dengan
tujuan untuk menghasilkan kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini terdiri
dari kalangan mahasiswa UIN Malang dengan jumlah data 19.697
mahasiswa, hal ini berdasarkan data yang tercatat di website resmi UIN
Malang.
Pemilihan subjek ini dalam pengaruh penggunaan media sosial terhadap
kecemasan sosial didasarkan pada sejumlah alasan yang kuat. Generasi Z
merupakan pengguna media sosial paling aktif. Mereka rata-rata
menghabiskan 2 sampai 3 jam sehari di berbagai platform seperti Instagram,
WhatsApp, Twitter, Tiktok dan lain sebagainya. Dengan penggunaan intensif
56
ini menjadi bagian internal dari kehidupan sosial mereka dan mengubah cara
mereka berinteraksi, berkomunikasi dan memandang dunia.
Media sosial menghadirkan versi kehidupan orang lain yang lebih baik
dan mendorong perbandingan sosial yang intens di kalangan gen Z. Mereka
sering membandingkan diri mereka dengan teman sebaya dan orang yang
berpengaruh, sehingga dapat menimbulkan perasaan tidak mampu dan takut.
Ada banyak takanan untuk memproyeksikan kehidupan sempurna secara
online dengan harapan mendapatkan suka, komentar dan pengikut.
Salah satu aspek yang perlu diteliti adalah dampak psikologis dari
penggunaan media sosial. Generasi Z sering kali merasa tertekan untuk
membandingkan diri dengan orang lain yang menampilkan kehidupan yang
tampak sempurna di media sosial. Ini dapat menyebabkan perasaan rendah
diri, kecemasan, dan bahkan depresi. Memahami dampak ini sangat penting
untuk menemukan cara mendukung kesehatan mental mereka.
Selain itu, hal ini mengubah dinamika sosial, di mana hubungan antar
individu kini lebih sering terjadi secara online dibandingkan tatap muka. Hal
ini penting untuk dipahami karena interaksi di dunia maya bisa berbeda
dengan interaksi langsung, dan ini dapat memengaruhi kualitas hubungan
mereka.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki karakteristik
tertentu (Sugiyono, 2013). Populasi penelitian ini yang berjumlah 19.697
57
(menurut website resmi UIN Malang), tidak memungkinkan untuk diteliti
seluruhnya karena terbatas dana, tenaga dan waktu, maka peneliti
menggunakan sampel yang hasilnya diberlakukan untuk populasi.
Dalam penelitian ini, untuk memperoleh sampel peneliti mengambil
banyak sampel untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh lebih
representatif dan dapat digeneralisasi. Untuk penelitian dengan desain
korelasional, jumlah sampel yang disarankan adalah minimal 30 subjek
(Arikunto, 2011). Sehingga peneliti memutuskan untuk menggunakan sampel
dengan jumlah 302 responden, sesuai dengan rumus sample metode Excel
Krejcie dan Morgan.
3. Teknik Sampling
Dalam menentukan sampel, peneliti menerapkan teknik purposive
sampling, yaitu metode pemilihan sampel yang didasarkan pada pertimbangan
tertentu (Sugiyono, 2013). Dengan menggunakan teknik ini, peneliti bertujuan
agar data yang diperoleh dapat memenuhi kriteria yang telah ditetapkan untuk
diuji. Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Terkategori sebagai generasi Z dengan rentang usia 18 – 27 tahun
2. Individu dengan pengguna media sosial.
E. Instrumen Pengukuran
Instrumen penelitian kuantitatif merupakan alat yang krusial untuk
mengumpulkan data secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara
58
statistik. Penelitian jenis ini mengadopsi pendekatan ilmiah serta menggunakan
metode statistik untuk mengukur berbagai variabel dalam suatu populasi, sehingga
hasil yang diperoleh bersifat objektif dan dapat diandalkan. Beberapa instrumen
yang umum digunakan dalam penelitian kuantitatif meliputi kuesioner, tes dan
pengamatan terstruktur. Data yang dikumpulkan melalui instrumen ini kemudian
diproses dan dianalisis dengan teknik statistik yang canggih, memungkinkan
peneliti untuk menghasilkan temuan yang akurat dan berbasis ilmiah (Suparyanto
dan Rosad, 2020).
Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala likert, yang dirancang
untuk menilai tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan responden terhadap suatu
pernyataan terkait objek tertentu (Zikmund, 1997). Skala likert ini menggunakan
format jawaban berbasis angka, yaitu 5, 4, 3, 2, dan 1, khusus untuk pernyataan
yang bersifat positif. Lima kategori pilihan jawaban yang digunakan meliputi :
“Selalu”, “Sering”, “Kadang-kadang”, “Jarang”, dan “Tidak Pernah”. Instrumen
penelitian ini terdiri dari pernyataan-pernyataan yang mendukung (favorable).
59
Tabel 3.1 Penilaian Skala Likert
Skor
Jawaban
Favorable
Selalu (SL) 5
Sering (SR) 4
Kadang-kadang (KK) 3
Jarang (J) 2
Tidak Pernah (TP) 1
1. Skala Penggunaan Media Sosial
Terdapat dua indikator pada variabel ini, yakni 1) Tujuan Penggunaan, yang
didefinisikan sebagai motivasi individu dalam memanfaatkan media sosial.
2) Preferensi Komunikasi Online, yang diartikan sebagai kecenderungan
individu untuk lebih memilih menggunakan media sosial sebagai sarana
komunikasi dibandingkan dengan komunikasi tatap muka, serta intensitas
penggunaan media sosial itu sendiri. Pengukuran ini dilakukan melalui alat
ukur penggunaan media sosial yang dibuat oleh Topaloglu (2016) dalam
“The Scale for the Individual and Social Impact of Student”. Semakin tinggi
skor yang diperoleh menunjukkan bahwa individu tersebut lebih menyukai
keberadaan media sosial, karena dianggap bermanfaat dan lebih memilih
60
menyukai komunikasi secara online (Topaloglu et al., 2016). Berikut adalah
blueprint yang menggambarkan variabel penggunaan media sosial.
Tabel 3.2 The Scale for the Individual and Social Impact of Student
Faktor Favorable Jumlah
Intensity od Social 1,2,3,4, 7
Media Use 5,6,7
Social Media Use & 8,9,10, 6
Communication 11,12,13
Preferences
Total 13
2. Skala Kecemasan Sosial
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah LSAS-SR yang
merupakan versi Self Report dari Liebowitz Social Anxiety Scale, yang
awalnya dikembangkan oleh Michael Liebowitz tahun 1987. Pada skala ini,
terdapat pertanyaan yang menggambarkan situasi yang jarang atau tidak
pernah di alami, responden diminta untuk membayangkan bagaimana akan
bereaksi jika dihadapkan oleh situasi tersebut, sehingga semua jawaban
diberikan berdasarkan bagaimana situasi tersebut memengaruhi responden
.Alat ukur ini sering digunakan oleh profesional kesehatan mental untuk
mendeteksi dan mengevaluasi tingkat kecemasan sosial atau fobia sosial
61
pada individu. Kemudian, alat ukur ini telah diadaptasi ke dalam bahasa
Indonesia oleh Sasri (2014). Versi bahasa Indonesia dari LSAS
menunjukkan reabilitas yang tinggi, dengan skor 0,88 untuk domain
ketakutan dan 0,86 untuk domain penghindaran. LSAS merupakan salah
satu alat ukur yang valid dan dapat diandalkan untuk mengukur kecemasan
(Heimberg, 1999). Berikut adalah blueprint yang menggambarkan variabel
kecemasan sosial.
Tabel 3.3 Skala Liebowitz Social Anxiety Scale
Faktor Favorable Jumlah
Performance Anxiety 14,16,17,18,19,21, 13
22,26,27.29,30,34
Social Anxiety 20,23,24,25,28,31, 11
32,33,35,36,37
Total 24
F. Analisis Data
Setelah memperoleh populasi dan sampel, maka selanjutnya dilakukan
proses analisa yang meliputi :
1. Persiapan
Kegiatan yang dilakukan dalam persiapan ini meliputi :
a) Memverifikasi nama dan kelengkapan identitas responden
62
b) Memastikan bahwa data telah terisi dengan lengkap, termasuk pengisian
item pada instrumen pengumpulan data serta memeriksa jenis-jenis data
yang diisi.
2. Tabulasi
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a) Memberikan skor (skoring) pada aitem yang perlu dinilai
b) Mengkode (koding) aitem yang tidak dinilai
Teknik analisis data merupakan langkah-langkah yang digunakan untuk
menjawab rumusan masalah dalam penelitian dan bertujuan untuk menarik
kesimpulan dari hasil penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Proses analisis data dilakukan dengan
menggunakan program komputer SPSS (Statistical Product and Service Solutions)
versi 25.0 for windows.
Untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan melalui skala, menguji
hipotesis, serta mengetahui pengaruh penggunaan media sosial terhadap
kecemasan sosial, peneliti menggunakan analisis berdasarkan skor mean hipotetik
dan standar deviasi. Beberapa langkah yang diambil dalam proses ini meliputi :
1. Menentukan skor minimum berdasarkan jumlah aitem pada skala, kemudian
mengalikan hasilnya dengan skor terendah yang ada pada skala.
2. Menentukan skor maksimum berdasarkan jumlah aitem pada skala, lalu
mengalikan hasilnya dengan skor tertinggi yang tersedia.
3. Menghitung mean hipotetik menggunakan rumus berikut :
63
(Skor Minimum + Skor Maksimum) : 2
4. Menghitung standar deviasi dengan rumus berikut :
(Skor Maksimum – Skor Minimum) : 6
Setelah memperoleh distribusi skor responden, mean dan standar deviasi
dihitung untuk menetapkan batas angka penilaian sesuai dengan norma yang telah
ditentukan. Norma yang digunakan dalam analisis ini adalah :
Kategori Kriteria
Tinggi X ≥ M + 1SD
Sedang M – 1SD s/d M + 1SD
Rendah X ≤ Mean – 1SD
Setelah angka penilaian sudah diberikan pada setiap responden, kemudian
ditentukan frekuensi pada setiap kategori dengan rumus :
P = F/N x 100%
Keterangan :
P : Presentase
F : Frekuensi
N: Jumlah Sampel
64
Untuk menghitung korelasi menggunakan model prodeuct moment
correlation (Korelasi Prodeuk Momen). Korelasi ini digunakan untuk mencari
hubungan antara variabel (X) penggunaan media sosial dengan variabel (Y)
kecemasan sosial. Adapun rumus koefisien korelasi adalah sebagai berikut :
Keterangan :
X : Variabel penggunaan media sosial
Y : Variabel kecemasan sosial
N : Jumlah Responden
∑x : Jumlah nilai tiap aitem X
∑y : Jumlah nilai tiap aitem Y
∑x2 : Jumlah kuadrat nilai tiap aitem X
∑y2 : Jumlah kuadrat nilai tiap aitem Y
Rxy : Koefisien korelasi antara X dan Y
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang,
sebelumnya dikenal sebagai UIIS yang merupakan perguruan tinggi yang
berlokasi di Kota Malang, Jawa Timur. Nama Maulana Malik Ibrahim
diambil dari salah satu anggota Walisongo yang dikenal sebagai Sunan
Gresik yang merupakan seorang tokoh penyebar agama islam di Pulau Jawa.
Sebelumnya berganti nama, Universitas ini bernama UIIS dan tetap belokasi
di Kota Malang.
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang adalah
salah satu perguruan tinggi Islam negeri terkemuka di Indonesia, yang
didirikan pada tahun 2004 dan telah berkembang menjadi pusat pendidikan
tinggi yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan dengan nilai-nilai
islam.
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki dua lokasi kampus utama:
a. Kampus I (Utama)
Berlokasi di Jalan Gajayana No. 50, Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru,
Kota Malang. Kampus ini berfungsi sebagai pusat kegiatan akademik
dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, termasuk gedung perkuliahan,
65
66
perpustakaan pusat, masjid kampus, laboratorium, dan gedung rektorat.
Kampus I digunakan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Fakultas Syariah, Fakultas Humaniora, serta Fakultas Ekonomi.
b. Kampus II
Terletak di Puncak Tidar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Kampus
ini merupakan pengembangan dari kampus utama dan digunakan untuk
kegiatan perkuliahan Fakultas Sains dan teknologi, Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan, serta program pascasarjana.
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dikenal dengan pendekatan
integrasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman.
Lingkungan kampus yang hijau, fasilitas yang memadai, serta dukungan
akademik yang kuat menjadikan UIN Malang sebagai tempat yang ideal
untuk penelitian dan pengembangan ilmu. Dengan lokasi yang strategis dan
suasana akademik yang mendukung, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
menjadi pilihan yang tepat untuk melakukan penelitian di berbagai bidang,
termasuk pendidikan, agama, sosial, dan teknologi.
Berdasarkan website resmi UIN Malang berikut beberapa Fakultas dan
Jurusan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
1) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
a) Pendidikan Agama Islam
b) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
c) Pendidikan Bahasa Arab
67
d) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
e) Pendidikan Islam Anak Usia Dini
f) Manajemen Pendidikan Islam
g) Tadris Bahasa Inggris
h) Tadris Matematika
i) Pendidikan Profesi Guru
j) Magister Pendidikan Matematika
2) Fakultas Syariah
a) Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah)
b) Hukum Ekonomi Syariah (Mu’amalah)
c) Hukum Tata Negara
d) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
e) Ilmu Hadist
3) Fakultas Humaniora
a) Bahasa dan Sastra Arab
b) Sastra Inggris
4) Fakultas Ekonomi
a) Perbankan Syariah
b) Akuntansi
c) Manajemen
5) Fakultas Sains dan Teknologi
a) Matematika
68
b) Biologi
c) Teknik Arsitektur
d) Fisika
e) Matematika
f) Teknik Informatika
g) Kimia
h) Perpustakaan dan Sains Informasi
i) Teknik Sipil
j) Teknik Elektro
k) Teknik Mesin
l) Teknik Mesin
m) Teknik Lingkungan
n) Magister Biologi
o) Magister Informatika
6) Fakultas Psikologi
a) Psikologi
b) Magister Psikologi
7) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
a) Pendidikan Dokter
b) Farmasi
c) Profesi Dokter
d) Pendidikan Profesi Apoteker
69
8) Program Pascasarjana
a) Magister Manajemen Pendidikan Islam
b) Magister Pendidikan Bahasa Arab
c) Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
d) Magister Pendidikan Agama Islam
e) Magister Al-Ahwal Al-Syakhsiyah
f) Magister Ekonomi Syariah
g) Magister Bahasa dan Sastra Arab
h) Magister Studi Islam
i) Doktor Manajemen Pendidikan Islam
j) Doktor Pendidikan Bahasa Arab
k) Doktor Pendidikan Agama Islam Berbasis Studi Interdispliner
l) Doktor Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah)
m) Doktor Ekonomi Syariah
n) Doktor Studi Islam
2. Gambaran Umum Partisipan
Generasi Z yang terdiri dari individu kelahiran tahun 1997 hingga
2012 saat ini menjadi kelompok usia dominan di kalangan mahasiswa
perguruan tinggi, termasuk di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.
Mahasiswa berusia 18 hingga 27 tahun ini memiliki ciri khas yang
membedakan mereka dari generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah
70
pesatnya perkembangan teknologi digital, di mana internet dan media sosial
telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari.
Mahasiswa UIN Malang dari generasi Z dikenal memiliki
kemampuan literasi digital yang tinggi. Mereka terbiasa memanfaatkan
berbagai perangkat teknologi seperti smartphone, laptop, dan tablet untuk
menunjang kegiatan akademik maupun sosial. Kemudahan akses informasi
melalui internet membuat mereka lebih kritis dalam menyeleksi informasi,
meskipun tantangan dalam membedakan informasi valid dan hoaks masih
menjadi perhatian. Selain itu, mereka cenderung lebih mandiri dalam
mencari referensi belajar melalui platform daring seperti jurnal digital, e-
book, dan video pembelajaran.
Dalam aspek sosial, mahasiswa generasi Z di UIN Malang
menunjukkan sikap terbuka terhadap keberagaman dan inklusivitas. Mereka
aktif berpartisipasi dalam organisasi kampus, komunitas, serta kegiatan
keagamaan. Keterlibatan ini mencerminkan bahwa meskipun tumbuh di era
digital, nilai kebersamaan dan gotong royong tetap menjadi bagian penting
dalam kehidupan mereka. Namun, tingginya penggunaan media sosial dan
komunikasi virtual terkadang menyebabkan menurunnya frekuensi interaksi
sosial secara langsung.
Sedangkan dalam hal kepribadian, mahasiswa generasi Z cenderung
bersifat kreatif, inovatif, dan berfokus pada pencapaian tujuan. Mereka lebih
menyukai pekerjaan yang menawarkan fleksibilitas waktu serta peluang
71
untuk berkontribusi dalam perubahan sosial. Namun, generasi ini juga sering
menghadapi tingkat kecemasan yang tinggi, terutama terkait tekanan
akademik, ketidakpastian masa depan, dan tuntutan sosial.
Dengan berbagai pandangan dan alasan ini, mahasiswa di UIN
Malang merupakan individu yang mudah beradaptasi, berpikiran terbuka,
dan terampil dalam menggunakan teknologi. Dukungan dalam
pengembangan keterampilan digital, menjaga kesehatan mental, serta
memperkuat nilai sosial dan spiritual sangat dibutuhkan agar mereka mampu
menghadapi tantangan di masa depan dan memberikan kontribusi yang
positif bagi masyarakat.
Peneliti melibatkan sebanyak 302 responden dalam penelitian ini
untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Pemilihan responden
didasarkan pada beberapa kriteria, termasuk jenis kelamin, usia, semester,
jumlah ponsel yang dimiliki, dan lama waktu online.
a. Frekuensi Penggunaan
Responden berdasarkan jenis kelamin, deskripsi karakteristik
responden disajikan pada tabel di bawah ini :
Tabel 3.4 Kuosioner Tersebar Berdasarkan Gender
Jenis Kelamin Frekuensi Presentase
Laki-laki 133 44%
Perempuan 169 56%
72
Jumlah 302 100%
Berdasarkan distribusi jenis kelamin yang ditampilkan dalam tabel
di atas, terdapat 133 responden laki-laki atau sekitar 44% dari total
responden, sementara 169 responden atau 56% adalah perempuan. Hasil
ini mengindisikan bahwa perempuan di UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang lebih dominan dalam menggunakan media sosial dibandingkan
laki-laki.
b. Usia
Responden berdasarkan usia, deskripsi karakteristik responden
disajikan pada tabel di bawah ini :
Tabel 3.5 Sebaran Subjek Berdasarkan Usia
Usia Frekuensi Persentase
19 19 6%
20 33 11%
21 118 39%
22 74 25%
23 32 11%
24 26 9%
Total 302 100%
73
Berdasarkan data dalam tabel di atas, distribusi responden
berdasarkan usia menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 21
tahun, yaitu sebanyak 118 mahasiswa dengan presentase 39%.
Berikutnya, responden berusia 22 tahun dengan jumlah 74 mahasiswa
dengan presentase 25%. Sementara itu, responden yang berusia 20 dan
23 tahun masing-masing memiliki jumlah yang sama, yaitu 33 dan 32
orang dengan presentase 11%. Kemudian, usia 24 tahun memiliki
jumlah responden 26 mahasiswa dengan presentase 9%, sedangkan usia
19 tahun menjadi yang paling sedikit dengan jumlah 19 orang dengan
presentase 6%.
Distribusi ini mencerminkan bahwa sebagian besar responden
berada dalam rentang usia 20 – 22 tahun yang merupakan periode aktif
dalam kehidupan akademik mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang. Usia ini juga menjadi masa dimana penggunaan media sosial
cenderung tinggi, sehingga dapat memberikan wawasan yang lebih jelas
terkait hubungan antara penggunaan media sosial dan kecemasan sosial.
Dengan variasi usia yang cukup beragam, penelitian ini dapat
mencerminkan pengalaman dan pola interaksi sosial mahasiswa dari
berbagai tingkat akademik.
c. Semester
Responden berdasarkan semester, deskripsi karakteristik responden
disajikan pada tabel di bawah ini :
74
Tabel 3.6 Sebaran Subjek Berdasarkan Semester
Semester Orang Presentase
2 19 6%
3 21 7%
4 38 13%
5 28 9%
6 67 22%
7 41 14%
8 88 29%
Total 302 100%
Berdasarkan tabel di atas, mengenai karakteristik responden
berdasarkan semester di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
menunjukkan distribusi yang bervariasi di antara mahasiswa. Dari total
302 responden, semester 8 memiliki jumlah responden tertinggi yakni
88 mahasiswa dengan presentase 29%, diikuti oleh semester 6 dengan
67 responden dengan presentase 22%. Sementara itu, semester 2
mencatat jumlah responden terendah sebanyak 19 mahasiswa atau 6%.
Distribusi ini menggambarkan bahwa mahasiswa di semester yang lebih
tinggi cenderung lebih terlibat dalam penelitian, dikarenakan mereka
75
memiliki pengalaman akademik yang lebih banyak dan lebih siap untuk
berbagi pandangan serta pengalaman mereka.
Kecenderungan ini dapat diartikan bahwa mahasiswa di semester
akhir seperti semester 8 hingga 8 lebih aktif dalam menggunakan media
sosial untuk berinteraksi dengan teman sekelas dan mencari informasi
terkait jenjenag karir di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa seiring
dengan kemajuan studi, mahasiswa tidak hanya berfokus pada
akademik, tetapi juga memanfaatkan platform sosial untuk membangun
jaringan dan mendukung kesejahteraan sosial mereka.
d. Jumlah Ponsel
Responden berdasarkan jumlah ponsel yang dimiliki, deskripsi
karakteristik responden disajikan diagram di bawah ini :
Diagram 4.1 Jumlah Ponsel Responden
3%
29%
68%
1 Ponsel 2 Ponsel 3 Ponsel
76
Berdasarkan diagram di atas, menunjukkan bahwa mayoritas
responden sebanyak 205 mahasiswa dengan presentase 68% memiliki
satu ponsel. Sementara itu, 88 mahasiswa dengan presentase 29%
memiliki dua ponsel, dan hanya 9 mahasiswa atau 3% yang memiliki
tiga ponsel.
Distribusi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar mahasiswa
cenderung memiliki satu ponsel yang mencerminkan kebutuhan dasar
untuk komunikasi dan akses informasi. Presentase yang lebih kecil
untuk responden yang memiliki dua atau tiga ponsel menunjukkan
bahwa kepemilikan lebih dari satu ponsel tidak umum di kalangan
mahasiswa.
e. Lama Waktu Online
Responden berdasarkan lama waktu ketika online, deskripsi
karakteristik responden disajikan pada diagram di bawah ini :
Diagram 4.2 Waktu Online
77
Berdasarkan data yang diperoleh dari 302 responden mahasiswa
mengenai lama waktu mereka saat online, mayoritas mahasiswa
menghabiskan waktu lebih dari 5 jam per hari dengan presentase sebesar
60,6%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki
ketergantungan yang cukup tinggi terhadap aktivitas online, baik untuk
keperluan akademik, hiburan, maupun interaksi di media sosial.
Selain itu, sebanyak 30,8% mahasiswa tercatat bahwa mereka
menghabiskan waktu sekitar 4 sampai 5 jam per hari untuk online.
Kelompok ini juga cukup besar dengan menunjukkan bahwa hampir
sepertiga mahasiswa masih memiliki durasi penggunaan internet yang
cukup intens, meskipun tidak sebanyak kelompok yang berada di
kategori lebih dari 5 jam per hari.
Sementara itu, hanya 8,6% mahasiswa yang menggunakan media
sosial kurang dari 3 jam per hari. Presentase ini menunjukkan bahwa
hanya sebagian kecil mahasiswa yang memiliki kebiasaan online
dengan durasi yang relatif rendah dibandingkan mayoritas responden
lainnya.
3. Waktu dan Pelaksanaan Penelitian
Dalam pelaksanaan pengambilan data yang dilakukan terhadap subjek
ini menggunakan metode penyebaran kuosioner di media sosial dan
lingkungan kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggunakan
google form. Penyebaran angket kepada seluruh mahasiswa UIN Malang
78
selama 60 hari pada 31 Desember 2024 – 27 Februari dengan jumlah subjek
sebanyak 302 responden.
4. Hambatan Dalam Pelaksanaan Penelitian
Dalam proses pelaksanaan subjek penelitian ini menghadapi sejumlah
hambatan yang perlu diperhatikan. Salah satu hambatan utama adalah
partisipasi responden, dimana mendapatkan keterlibatan yang memadai dari
mahasiswa bisa menjadi tantangan karena jadwal yang ketika masa liburan
dan keterbatasan waktu. Selain itu, ada potensi bias dalam data, karena
mahasiswa yang bersedia berpartisipasi mungkin memiliki karakteristik
yang berbeda dari mereka yang tidak mau berpartisipasi dengan
menimbulkan ketidakseriusan dalam pengisian angket. Hambatan lain
melibatkan masalah privasi dan konfidensialitas dalam pengumpulan data,
serta kompleksitas menentukan pengaruh penggunaan media sosial terhadap
kecemasan sosial pada generasi Z di UIN Malang untuk mendapatkan
dukungan yang diperlukan.
B. Hasil Penelitian dan Analisis Deskriptif
1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas
a) Uji Validitas
Dalam penelitian ini mengenai hasil pengukuran dari variabel
penggunaan media sosial yang sudah dilakukan oleh peneliti terhadap
subjek, maka dari itu terdapat 2 faktor yang ada didalamnya meliputi
79
Aims of Social Network Use dan Social Network Use and
Communication Preferences. Dari hasil responden yang sudah
didapatkan, mendapatkan interpretasi hasil dengan sebagai berikut :
Tabel 4.1 Uji Validitas Penggunaan Media Sosial
No Aspek Valid Gugur Jumlah
Fav Un Fav Un Valid
1. Aims of Social 1,2,3,4, - - - 7
Network Use 5,6,7
2. Social Network 8,9,10, - - - 6
Use and 11,12,13
Communication
Preferences
TOTAL 13
Berdasarkan dari hasil uji validitas pada skala penggunaan media
sosial kepada subjek yang sudah dilakukan dengan 13 aitem yang diuji
kepada 302 subjek, mendapatkan hasil dengan adanya 13 aitem yang
dinyatakan valid dan tidak ada aitem yang dinyatakan gugur. Hal ini
ditunjukkan angka validitas dengan rentang antara (hasil) hingga (hasil),
sehingga untuk aitem yang nilai validitasnya < 0,5 dengan kriteria
tersebut, dinyatakan valid.
80
Dalam penelitian ini mengenai hasil pengukuran dari variabel
kecemasan sosial yang sudah dilakukan oleh peneliti terhadap subjek,
maka dari itu terdapat 2 aspek yang ada didalamnya meliputi
performance anxiety dan social anxiety. Dari hasil responden yang
sudah didapatkan, mendapatkan interpretasi hasil dengan sebagai
berikut :
Tabel 4.2 Uji Validitas Kecemasan Sosial
No Aspek Valid Gugur Jumlah
Fav Un Fav Un Valid
1. Performance 14,15,16,17,18, - - - 14
Anxiety 19,20,21,22,
23,24,25,26,27
2. Social 28,29,30,31,32, - - - 10
Anxiety 33,34,35,36,37
TOTAL 24
Berdasarkan dari hasil pengujian skala kecemasan sosial kepada
302 subjek yang sudah dilakukan dengan 24 aitem yang diuji,
mendapatkan hasil dengan valid semua dan tidak ada aitem yang
dinyatakan gugur. Hal ini ditunjukkan angka validitas dengan rentang
81
antara (hasil) hingga (hasil), sehingga untuk aitem yang niali
validitasnya < 0,5 dengan kriteria tersebut, dinyatakan valid.
b) Uji Reliabilitas
Hasil uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini yakni
alpha cronbach dengan nilai angka pada rentang 0 sampai 1.00 yang
artinya semakin tinggi angka reliabilitas koefisien yang 1.00 maka
semakin bagus reliabilitasnya dan semakin rendah angka reliabilitas
dibawah 0, maka dinyatakan tidak bagus reliabilitasnya.
Tabel 4.3 Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Alpha N of Keterangan
Cronbach Items
Penggunaan Media .926 13 Reliabel
Sosial
Kecemasan Sosial .964 24 Reliabel
Berdasarkan dari tabel data dari hasil uji reliabilitas yang sudah
dilakukan menunjukkan hasil dari penggunaan media sosial 0.926 dan
kecemasan sosial 0.964, kedua hasil tersebut menunjukkan bahwa angka
tersebut reliabilitas pada tingkat tinggi dan dapat digunakan untuk
analisis data pada penelitian ini.
82
2. Hasil Uji Asumsi
Hasil uji asumsi menjadi permulaan dalam proses menjalankan
analisis regresi linier berganda, pada penelitian ini melakukan serangkaian
uji asumsi yang meliputi uji normalitas, dan uji linieritas. Uji ini dilakukan
enggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistic 25 version. Berikut adalah
hasil uji asumsi yang dilakukan.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas digunakan untuk menentukan apakah data
mengikuti distribusi normal. Jika analisis yang dilakukan menggunakan
metode parametik, data perlu terdistribusi normal. Namun, jika data
tidak terdistribusi normal, maka metode yang sesuai adalah statistik
non-parametik. Pengujian normalitas sering dilakukan menggunakan
perangkat lunak seperti SPSS versi 25.0 untuk Windows dengan metode
Kolmogrov-Smirnov Test, terutama saat jumlah responden melebihi 50.
Distribusi data akan dikatakan normal apabila uji normalitas memiliki
hasil nilai signifikan P > 0,05. Berikut adalah hasil dari uji normalitas
yang dilakukan.
Tabel 4.4 Uji Normalitas Variabel
Variabel K-SZ Sig. Status
Penggunaan Sosial 0,121 0,000 Tidak Normal
Media
83
Kecemasan Sosial 0,062 0,007 Tidak Normal
Pada tabel 4.4, dapat dibuktikan bahwasannya hasil uji normalitas
menunjukkan bahwa kedua variabel tidak terdistribusi normal karena
signifikansinya < 0,05. Hal ini berarti pendistribusian data tidak
memenuhi syarat.
b. Uji Linearitas
Uji linearitas merupakan sarana yang digunakan untuk
mengetahui hubungan yang sejalan atau linear antara varibel bebas dan
variabel terikat. Ketika menggunakan uji korelasi atau regresi, syaratnya
adalah hasil uji linearitas harus menunjukkan signifikansi > 0,05. Hal
ini juga mempertimbangkan “deviation from linearity” yang
menunjukkan adanya hubungan linier antar variabel. Kehadiran
hubungan linier antara variabel menandakan bahwa perubahan yang
terjadi pada variabel Y secara linier memengaruhi peningkatan atau
penurunan pada kualitas data variabel X. Berikut adalah hasil dari uji
linearitas yang telah dilakukan.
Tabel 4.5 Uji Linearitas Variabel
Variabel Linearity Sig. Status
(Tabel nilai F)
Kecemasan Sosial 1,416 0,066 Linear
84
Penggunaan Media
Sosial
Berdasarkan tabel di atas, hasil uji linearitas menunjukkan bahwa
antara variabel penggunaan sosial media dan kecemasan sosial memiliki
hubungan yang linear karena nilai signifikasi > 0,05.
3. Analisis Deskriptif
a. Skor Hipotettik dan Empirik
Dalam penelitian ini, gambaran mengenai distribusi data dan
kecenderungan responden dalam penelitian ditelaah menggunakan skor
hipotetik dan skor empirik, sebagaimana berikut :
Tabel 4.6 Uji Deskripsi Skor Hipotetik dan Skor Empirik
Variabel Hipotetik Mean Empirik Mean
Min Max Min Max
Penggunaan 13 65 39 27 65 49,3
Sosial Media
Kecemasan 24 120 72 40 120 86,9
Sosial
Berdasarkan pada tabel di atas dapat dijabarkan sebagai berikut :
85
1. Skala penggunaan media sosial memiliki skor mininum 1 dan
skor maksimum 5 dengan jumlah total aitem 13. Pada skala ini
menunjukkan skor hipotetik memiliki rentang dari 13 hingga 65
dengan mean 39, sedangkan skor empiriknya menunjukkan
rentang dari 27 hingga 65 dengan mean 49,3. Apabila dilakukan
perbandingan antara mean empirik dan mean hipotetik, maka
mean empirik lebih tinggi daripada mean hipotetik sehingga
dapat diartikan bahwa kecenderungan responden dalam
melakukan penggunaan media sosial tergolong tinggi.
2. Skala kecemasan sosial memiliki skor minimum 1 dan skor
maksimum 5 dengan jumlah total aitem 24. Pada skala ini
menunjukkan skor hipotetik berkisar antara 24 hingga 120
dengan mean 72, sedangkan skor empiriknya berkisar dari 40
hingga 120 dengan mean 86,9. Apabila dilakukan perbandingan
antara mean empirik dan mean hipotetik, maka mean empirik
lebih tinggi daripada mean hipotetik sehingga dapat diartikan
bahwa responden memiliki kecenderungan mengalami
kecemasan sosial tergolong tinggi.
86
b. Deskripsi Kategorisasi Data
Intensity of Social Performance
Media Sosial Use Anxiety
Tinggi (67,2%) Tinggi (49,3%)
Penggunaan
Kecemasan Sosial
Media Sosial
Sedang (48,7%)
Tinggi (62,9%)
Social Media Use
& Communication Social Anxiety
Preferences Tinggi (45%)
Tinggi (61,9%)
1) Kategorisasi Penggunaan Media Sosial
Dalam penelitian ini, tingkat penggunaan media sosial terbagi
menjadi beberapa kelompok yang dikategorisasikan berdasarkan
skor yang diperoleh oleh responden berdasarkan hasil pengukuran
variabel penggunaan media sosial. Kriteria kategorisasi didasarkan
pada rentang skor yang telah diolah dengan penjabaran sebagai
berikut :
Tabel 4.7 Kategorisasi Data Penggunaan Media Sosial
Kategori Range F Persentase
87
Tinggi > 47,5 190 62,9%
Sedang 30,4 – 47,6 109 36,1%
Rendah < 30,3 3 1%
Dari total 302 responden yang berada dalam penelitian ini,
mayoritas responden tersebut berada dalam kategori penggunaan
media sosial yang tinggi, yakni sebesar 62,9% atau sebanyak 190
mahasiswa. Responden dalam kategori sedang memiliki jumlah 109
mahasiswa dengan persentase 36,1%, sementara dalam kategori
rendah penggunaan media sosial memiliki persentase 1%, dengan
jumlah 3 mahasiswa.
Diagram 4.3 Kategorisasi Penggunaan Media Sosial
36.1
62.9
TINGGI SEDANG RENDAH
Berdasarkan dari hasil diagram yang terdapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa kategorisasi tingkat penggunaan media sosial
pada mahasiswa generasi Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
88
dalam kategori tinggi. Hal ini dibuktikan dengan presentase 62,9%
yang menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa dalam penelitian
ini memiliki intensitas penggunaan media sosial yang cukup besar
dengan jumlah mahasiswa sebanyak 190 orang.
Data ini mengindikasikan bahwa media sosial memainkan
peran penting dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa, baik untuk
keperluan akademik, sosial, maupun hiburan. Tingginya angka ini
juga dapat menjadi refleksi dari bagaimana teknologi digital
semakin terintegrasi dalam gaya hidup mahasiswa generasi Z, yang
cenderung mengandalkan media sosial untuk berkomunikasi,
informasi, serta interaksi sosial.
Tabel 4.7.1 Kategorisasi Aspek Intensity of Social Media Sosial
Use
Kategori Range F Persentase
Tinggi > 25,6 203 67,2%
Sedang 16,4 – 25,5 98 32,5%
Rendah < 16,3 1 0,3%
Berdasarkan tabel diatas, mayoritas mahasiswa Generasi Z di
UIN Malang menunjukkan tingkat penggunaan media sosial yang
cukup tinggi. Hal ini terlihat dari 203 responden dengan presentase
67,2%. Sementara itu, sebanyak 98 responden atau 32,5% berada
89
dalam kategori sedang. Dan, hanya satu responden dengan
presentase 0,3% yang masuk dalam kategori rendah.
Data tersebut menggambarkan bahwa intensitas penggunaan
media sosial di kalangan mahasiswa Generasi Z UIN Malang
tergolong dominan pada tingkat tinggi. Hal ini mengindikasikan
bahwa aktivitas bermedia sosial telah menjadi bagian penting dalam
keseharian mereka, sejalan dengan karakteristik kehidupan digital
yang melekat pada generasi ini. Minimnya jumlah responden
dengan intensitas rendah mempertegas bahwa media sosial
memiliki peran signifikan, baik sebagai sarana komunikasi, hiburan,
maupun pendukung kegiatan akademik.
Tabel 4.7.2 Kategorisasi Aspek Social Media Use &
Communication Preferences
Kategori Range F Persentase
Tinggi > 22 187 61,9%
Sedang 14 – 21,5 95 31,5%
Rendah < 13,5 20 6,6%
Dalam aspek penggunaan media sosial dan preferensi
komunikasi, mayoritas mahasiswa Generasi Z di UIN Malang
menunjukkan kecenderungan yang tinggi terhadap interaksi melalui
platform digital. Sebanyak 187 responden atau 61,9% tercatat dalam
90
kategori tinggi. Sementara itu, 95 responden dengan presentase
31,5% berada dalam kategori sedang. Serta, 20 responden atau 6,6%
yang termasuk kategori rendah.
Data ini mencerminkan bahwa sebagian besar mahasiswa lebih
memilih media sosial sebagai saluran utama dalam berkomunikasi,
baik dalam ranah sosial, akademik, maupun personal. Proporsi yang
sangat kecil pada kategori rendah menunjukkan bahwa preferensi
terhadap komunikasi digital telah menjadi karakteristik umum di
kalangan mahasiswa Generasi Z. Hal ini mengindikasikan bahwa
media sosial tidak hanya digunakan secara intensif, tetapi juga telah
membentuk cara berkomunikasi yang dominan dalam kehidupan
sehari-hari mereka.
2) Kategorisasi Kecemasan Sosial
Dalam penelitian ini, tingkat kecemasan sosial terbagi menjadi
beberapa kelompok yang dikategorisasikan berdasarkan hasil
pengukuran variabel kecemasan sosial. Kriteria kategorisasi
didasarkan pada rentang skor yang telah diolah dengan penjabaran
sebagai berikut :
Tabel 4.8 Kategorisasi Kecemasan Sosial
Kategori Range F Persentase
Tinggi > 88 140 46,4%
91
Sedang 56 – 87,5 147 48,7%
Rendah < 55,5 15 5%
Responden pada kecemasan sosial diklasifikasikan menjadi
tiga kategori utama, yakni responden yang memiliki tingkat
kecemasan tinggi sebanyak 140 mahasiswa atau 46,4%, kemudian
diikuti oleh responden yang memiliki kategori kecemasan sosial
sedang sebanyak 147 mahasiswa atau 48,7%, dan mahasiswa yang
memiliki kecemasan sosial rendah sebanyak 15 atau 5%.
Diagram 4.4 Kategorisasi Kecemasan Sosial
46.4
48.7
TINGGI SEDANG RENDAH
Berdasarkan dari hasil diagram yang terdapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa kategorisasi tingkat kecemasan sosial pada
mahasiswa generasi Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
dalam kategori sedang. Hal ini ditunjukkan oleh presentase 48,7%
yang berarti setengah dari total responden mengalami kecemasan
92
sosial pada tingkat yang tidak terlalu rendah, tetapi juga tidak
terlalu tinggi, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 147 orang.
Mahasiswa yang masuk dalam kategori sedang, yang
menunjukkan bahwa mereka mungkin menghadapi beberapa
kesulitan dalam situasi sosial tertentu, seperti berbicara di depan
umum, berinteraksi dengan orang baru atau menghadapi tekanan
sosial dalam lingkungan akademik. Tingkat kecemasan sosial yang
sedang ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tekanan
akademik, ekspektasi sosial, serta pola interaksi di era digital yang
lebih banyak terjadi melalui media sosial dibandingkan dengan
komunikasi langsung.
Tabel 4.8.1 Kategorisasi Aspek Performance Anxiety
Kategori Range F Persentase
Tinggi > 47,6 149 49,3%
Sedang 30,4 – 47,5 143 47,4%
Rendah < 30,3 10 3,3%
Dalam aspek performance anxiety atau kecemasan ketika
tampil, mayoritas mahasiswa Generasi Z di UIN Malang
menunjukkan tingkat kecemasan yang tinggi ketika berada dalam
situasi performatif seperti presentasi, ujian lisan, atau tampil di
93
depan publik. Sebanyak 149 responden atau 49,3% tercatat dalam
kategori tinggi. Sementara itu, 143 responden dengan presentase
47,4% berada dalam kategori sedang. Serta, 10 responden atau
3,3% yang termasuk kategori rendah.
Data tersebut menunjukkan bahwa performance anxiety
merupakan kondisi yang umum dialami oleh mahasiswa, dengan
96,7% responden berada pada tingkat kecemasan sedang hingga
tinggi. Temuan ini mengisyaratkan bahwa situasi yang menuntut
performa, seperti presentasi atau evaluasi akademik, menjadi salah
satu faktor stres utama di lingkungan perkuliahan. Tingginya
persentase ini menekankan pentingnya peran institusi pendidikan
dalam memberikan dukungan, seperti layanan konseling, pelatihan
keterampilan komunikasi, serta strategi pengelolaan kecemasan,
guna membantu mahasiswa lebih percaya diri dan siap menghadapi
tantangan performatif dalam aktivitas akademik mereka.
Tabel 4.8.2 Kategorisasi Aspek Social Anxiety
Kategori Range F Persentase
Tinggi > 40,3 136 45%
Sedang 25,7 – 40,2 134 44,4%
Rendah < 25,6 32 10,6%
94
Dalam aspek social anxiety atau kecemasan bersosialisasi,
mayoritas mahasiswa Generasi Z di UIN Malang menunjukkan
tingkat kecemasan yang tinggi ketika berinteraksi dalam situasi
sosial, seperti berbicara dengan orang baru, berpartisipasi dalam
diskusi kelompok, atau menghadapi penilaian sosial dari
lingkungan sekitarnya. Sebanyak 136 responden atau 45% tercatat
dalam kategori tinggi. Sementara itu, 134 responden dengan
presentase 44,4% berada dalam kategori sedang. Serta, 32
responden atau 10,6% yang termasuk kategori rendah.
Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa
(89,4%) mengalami tingkat kecemasan sosial pada kategori sedang
hingga tinggi, yang menandakan bahwa interaksi sosial masih
menjadi hambatan signifikan bagi banyak mahasiswa Generasi Z.
Persentase yang tinggi ini menyoroti bahwa social anxiety
merupakan isu penting yang perlu mendapat perhatian serius,
karena dapat berdampak pada partisipasi mahasiswa dalam
aktivitas akademik, organisasi, maupun kehidupan sosial secara
keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan upaya intervensi yang
berfokus pada pengembangan keterampilan sosial, peningkatan
rasa percaya diri, serta penyediaan dukungan psikologis guna
membantu mahasiswa menghadapi tantangan sosial dengan lebih
adaptif dan percaya diri.
95
4. Uji Hipotesis
Penelitian ini menggunakan korelasi Pearson sebagai sarana untuk
mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hipotesis yang diuji
dipaparkan sebagaimana dalam tabel berikut :
Tabel 4.9 Uji Hipotesis
Variabel Pearson Sig. Keterangan
Corelations
Penggunaan Media 0,804 0,000 Signifikan
Sosial
Kecemasan Sosial
Berdasarkan tabel hasil uji hipotesis, menunjukkan bahwa terdapat
korelasi antara penggunaan media sosial dan kecemasan sosial pada subjek
penelitian dengan pearson correlation memiliki hubungan positif dan nilai
hasil signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Ketika nilai signifikansi kurang
dari 0,05, maka kedua variabel dianggap berkorelasi. Hal ini menegaskan
bahwa hipotesis tentang adanya hubungan yang positif antara penggunaan
media sosial dan kecemasan sosial pada kalangan generasi Z di UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang dinyatakan diterima.
96
C. Pembahasan
1. Tingkat Kecenderungan Penggunaan Media Sosial Pada Generasi Z
Tingkat penggunaan media sosial di kalangan generasi Z yang
khususnya mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menunjukkan
kecenderungan yang sangat tinggi dan mencerminkan pola perilaku khas di
era digital. Generasi Z yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal
2010-an, dikenal sebagai yang tumbuh dengan kemudahan akses terhadap
internet dan perangkat seluler. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Pew
Research Center pada tahun (2022), sekitar 95% remaja di Amerika Serikat
memiliki akses ke smartphone dan 45% diantaranya mengaku hampir selalu
terhubung secara daring.
Menurut data responden yang mencakup sekitar 56% merupakan
perempuan, sisanya sekitar 44% responden laki-laki. Hasil ini menunjukkan
bahwa perempuan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang lebih dominan
dalam menggunakan media sosial dibandingkan laki-laki. Dominasi ini
mencerminkan pola perilaku yang berbeda antara kedua jenis kelamin dalam
memanfaatkan platform media sosial. Hal ini didukung oleh Thelwall,
Wilkinson & Uppal (2010) mengungkapkan bahwa perempuan cenderung
lebih sering memberikan dan menerima komentar positif di media sosial
dibandingkan dengan laki-laki. Interaksi yang suportif ini membuat
perempuan merasa lebih nyaman dalam menggunakan sosial media.
97
Penggunaan media sosial yang tinggi di kalangan mahasiswa dapat
mencerminkan kebutuhan mereka terhadap informasi dan interaksi sosial
yang semakin mudah dijangkau melalui dunia maya. Seperti hasil data yang
telah dikumpulkan, mayoritas mahasiswa yakni 60,6% menghabiskan lebih
dari 5 jam per hari untuk beraktivitas secara online. Hal ini menunjukkan
adanya ketergantungan yang cukup tinggi terhadap internet, terutama untuk
mengerjakan tugas kuliah, mencari hiburan, serta berinteraksi melalui media
sosial. Dengan ini mengindikasikan bahwa media sosial telah menjadi
bagian penting dalam kehidupan mahasiswa, dengan sebagian besar dari
mereka menghabiskan waktu yang cukup lama untuk beraktivitas secara
daring.
Berdasarkan hasil distribusi data dan kecenderungan responden
dianalisis menggunakan skor hipotetik dan empirik. Hasilnya menunjukkan
bahwa skala penggunaan media sosial memiliki rentang skor hipotetik antara
13 hingga 65 dengan nilai mean sebesar 39. Sementara itu, skor empiriknya
berada dalam rentang 27 hingga 65 dengan nilai mean 49,3. Jika
dibandingkan keduanya, mean empirik lebih tinggi daripada mean hipotetik
yang mengindikasikan bahwa tingkat penggunaan media sosial di kalangan
responden tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas
responden cenderung aktif dalam menggunakan media sosial dalam
kehidupan sehari-hari.
98
Dalam hasil penelitian terhadap 302 responden terdapat tingkat
penggunaan media sosial diklasifikasikan ke dalam tiga kategori
berdasarkan skor yang diperoleh dari responden. Kategori tersebut meliputi
tingkat penggunaan yang tinggi, sedang dan rendah, yang ditentukan melalui
rentang skor yang telah dianalisis. Sebagian besar yaitu 62,9% atau 190
mahasiswa yang masuk dalam kategori penggunaan media sosial yang
tinggi. Sementara itu, sebanyak 109 mahasiswa atau 36,1% berada dalam
kategori sedang, dan hanya 3 mahasiswa atau 1 % yang memiliki tingkat
penggunaan yang rendah.
Dengan beberapa hasil di atas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa
generasi Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang cenderung memiliki
tingkat penggunaan media sosial yang tinggi. Persentase dominan ini
menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian integral dari
kehidupan sehari-hari mereka, baik untuk berkomunikasi, mengakses
informasi, maupun kebutuhan akademik dan hiburan. Hal ini sejalan dengan
hasil penelitian oleh Nurohmat, dkk (2024) menunjukkan bahwa mayoritas
responden merasa bahwa media sosial memiliki dampak positif terhadap
produktivitas mereka. Media sosial mendukung mereka dalam hal
konektivitas, akses informasi dan kolaborasi. Namun, penggunaan media
sosial yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan keseimbangan
antara kehidupan pribadi dan profesional yang pada akhirnya dapat
menurunkan produktivitas. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan
99
pentingnya pengelolaan penggunaan media sosial yang efektif untuk
memaksimalkan manfaat tanpa mengorbankan produktivitas.
Menjadi mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang
mayoritas merupakan gen Z secara aktif memanfaatkan media sosial sebagai
sarana komunikasi dan sumber informasi. Selain sebagai alat untuk
berinteraksi, media sosial juga berperan dalam membentuk identitas serta
menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperoleh dukungan sosial.
Meskipun menawarkan berbagai manfaat, penelitian mengungkap bahwa
penggunaan media sosial secara berlebihan dapat berdampak negatif
terhadap kesehatan mental, seperti meningkatkan resiko kecemasan dan
depresi. Hal ini didukung oleh teori Uses and Grafitications yang
menjelaskan bahwa individu memanfaatkan media sosial untuk memenuhi
kebutuhan sosial dan emosional mereka. Namun, jika penggunaannya tidak
terkontrol dengan baik maka hal ini dapat berpotensi menimbulkan efek
negatif terhadap kesejahteraan psikologis.
Menurut teori Uses and Gratifications yang menekankan pada proses
penerimaan dalam komunikasi serta menjelaskan bagaimana individu
menggunakan media sosial. Teori ini berasumsi bahwa setiap pengguna
memiliki berbagai pilihan untuk memenuhi kebutuhannya (Nurudin,
2003:181). Dalam hal ini, manusia memiliki kebebasan dalam menilai serta
memanfaatkan media. Sehingga dapat menentukan sendiri bagaimana
mereka akan menggunakan media tersebut. Hal ini didukung dengan
100
penelitian yang dilakukan oleh M. Zuwairi M. S. (2019) menemukan bahwa
media sosial mempermudah dalam komunikasi tanpa adanya batasan jarak
dan waktu. Selain itu, media sosial juga memungkinkan individu untuk
mengakses informasi yang relevan dan meningkatkan interaksi sosial antara
penggunanya. Dengan adanya kebebasan dalam memanfaatkan media,
individu dapat menyesuaikan penggunanya sesuai dengan kebutuhan
mereka, baik untuk keperluan edukasi, komunikasi, maupun hiburan.
Pola penggunaan media sosial di masyarakat dipengaruhi oleh berbagai
faktor, seperti interaksi dengan orang lain, proses berpikir individu, serta
latar belakang budaya (Suryadi et al., 2022). Faktor-faktor ini membentuk
cara seseorang memanfaatkan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat menggunakan media sosial untuk berbagi tujuan, mulai dari
berkomunikasi dengan orang lain, mencari hiburan, hingga berbagi
informasi. Selain itu, media sosial juga menjadi sarana bagi individu untuk
mengekspresikan diri dan membangun citra pribadi di dunia digital.
Beberapa aktivitas yang paling sering dilakukan meliputi memperbarui
status, mengunggah foto selfie dan bertukar pesan dengan teman atau
keluarga.
Penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa, khususnya generasi
Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menuntut adanya strategi yang
tepat agar dapat memberikan manfaat secara maksimal. Salah satu langkah
penting yang perlu diterapkan adalah pengelolaan waktu dan prioritas.
101
Mahasiswa perlu mengatur durasi penggunaan media sosial agar tidak
mengganggu aktivitas akademik, misalnya dengan menetapkan waktu
khusus untuk mengakses media sosial di luar jam belajar atau tugas. Selain
itu penggunaan fitur pembatasan layar atau aplikasi manajemen waktu dapat
membantu mengontrol intensitas akses terhadap media sosial.
Dan juga, literasi digital dan etika bermedia sosial juga menjadi aspek
yang perlu diperhatikan. Mahasiswa harus memiliki pemahaman yang baik
dalam memilah infromasi yang valid serta menghindari penyebaran hoaks.
Serta, menjaga etika dalam berkomunikasi di dunia maya, seperti
menghormati privasi orang lain dan tidak menyebarkan informasi tanpa
verifikasi, dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan
konstruktif.
Dengan interaksi yang sehat di media sosial menjadi faktor penting
dalam menciptakan lingkungan digital yang positif. Mahasiswa sebaiknya
menghindari konflik dan ujaran kebencian di media sosial serta lebih fokus
pada membangun komunikasi yang suportif. Tidak membandingkan diri
dengan orang lain juga menjadi langkah penting agar mereka tidak merasa
tertekan dengan standar kehidupan yang sering kali tidak realistis di dunia
maya.
102
2. Tingkat Kecemasan Sosial Yang Dialami Oleh Generasi Z.
Tingkat kecemasan sosial yang dialami oleh generasi Z, khususnya
mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menjadi isu yang
semakin nyata seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan pola
interaksi sosial. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Alva Research
Center (2022) mengemukakan bahwa generasi Z lebih banyak merasa stress
dan cemas dibandingkan dengan kelompok generasi yang lebih tua.
Generasi Z dikenal sebagai kelompok yang tumbuh di era digital dengan
perkembangan teknologi yang sangat pesat. Selain memberikan kemudahan
mengakses informasi dan media sosial, di sisi lain juga memicu tantangan
psikologis termasuk kecemasan sosial. Tekanan untuk selalu tampil
sempurna, keharusan mengikuti tren, serta kebiasaan membandingkan diri
dengan orang lain di media sosial sering kali membuat generasi ini merasa
cemas dan kurang percaya diri dalam kehidupan nyata.
Berdasarkan distribusi data kecenderungan responden terhadap
kecemasan sosial menyatakan bahwa skor hipotetik berkisar antara 24
hingga 120 dengan mean 72, sementara itu skor empirik yang diperoleh dari
data yakni 40 hingga 120 dengan mean sebesar 86,9. Jika dibandingkan
mean empirik lebih tinggi daripada mean hipotetik yang menunjukkan
bahwa tingkat kecemasan sosial yang dialami mahasiswa cenderung tinggi.
Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki
kecenderungan untuk mengalami kecemasan sosial yang lebih besar
103
daripada yang diperkirakan secara teoritis. Dengan demikian, kecemasan
sosial merupakan isu yang cukup signifikan di kalangan responden dalam
penelitian ini.
Menurut teori Liebowitz (1987) menyatakan bahwa kecemasan sosial
adalah perasaan takut dan kekhawatiran yang berlebihan serta terus-menerus
terkait kemungkinan merasa malu atau mendapatkan penilaian negatif dari
orang lain saat berinteraksi sosial. Individu dengan kecemasan sosial
cenderung menghindari situasi yang melibatkan interaksi dengan orang lain,
terutama dalam kondisi yang mengharuskan mereka tampil di depan umum
atau berbicara dengan orang yang tidak dikenal. Sesuai dengan aspek dalam
instrumen skala kecemasan sosial, yaitu performance anxiety dan social
anxiety.
Performance anxiety mengacu pada ketakutan ketakutan atau
kecemasan yang muncul ketika seseorang harus tampil di depan umum atau
melakukan suatu tugas yang melibatkan penilaian orang lain, seperti
berbicara di depan kelas, melakukan presentasi atau mengikuti ujian praktik.
Menurut Clark dan Wells (1995) yang mengemukakan bahwa individu
dengan performance anxiety sering kali mengalami kecemasan berlebihan
karena mereka merasa menjadi pusat perhatian dan takut gagal atau
dipermalukan. Rasa cemas ini dapat menghambat kemampuan mereka
dalam menampilkan performa terbaik dan bahkan bisa berujung pada
penghindaran terhadap situasi tersebut.
104
Di sisi lain, social anxiety secara umum mencakup ketakutan terhadap
berbagai interaksi sosial, bukan hanya situasi yang berhubungan dengan
performa. Menurut Rapee dan Heimberg (1997) individu dengan social
anxiety cenderung memiliki rasa takut berlebihan terhadap penilaian negatif
dari orang lain yang membuat mereka sulit untuk menjalin hubungan sosial,
berbicara dengan orang baru, atau bahkan sekedar berpartisipasi dalam
kegiatan kelompok. Mereka sering kali merasa canggung, malu atau takut
bertindak tidak sesuai dengan ekspektasi sosial. Dengan demikian,
kecemasan sosial bukan hanya sekedar perasaan takut biasa, tetapi juga
melibatkan pola pikir negatif yang memperkuat ketakutan individu dalam
situasi sosial. Faradiana, dkk (2022) mengkaji pada penelitiannya
menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel
yakni pola pikir negatif dan tingkat kecemasan. Dengan kata lain, semakin
kuat pola pikir negatif yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula tingkat
kecemasan yang dialaminya dalam membangun hubungan dengan lawan
jenis.
Pada klasifikasi kategori menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa
sebanyak 147 atau 48,7% termasuk dalam kategori kecemasan sosial yang
sedang. Hal ini dapat disimpulkan mayoritas mahasiswa generasi Z di UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang mengalami kecemasan sosial pada tingkat
sedang. Dengan presentase 48,7%, menunjukkan bahwa hampir setengah
dari responden mengalami kecemasan sosial yang tidak tergolong rendah,
105
tetapi juga tidak terlalu tinggi. Mahasiswa dalam kategori ini diasumsikan
menghadapi tantangan dalam berbagai situasi sosial, seperti berbicara di
depan umum, merasa canggung saat berinteraksi dengan orang baru atau
mengalami tekanan sosial dalam lingkungan akademik yang kompetitif.
Kecemasan berbicara di depan umum adalah fenomena yang umum
terjadi pada mahasiswa berusia 17-22 tahun (Rengganawati, 2024).
Kecemasan berbicara di depan umum memiliki dampak langsung pada
kehidupan mahasiswa, terutama dalam bidang hubungan sosial, pendidikan
dan karir. Banyak mahasiswa merasa sulit membangun hubungan sosial dan
berpartisipasi dalam aktivitas akademik yang melibatkan presentasi atau
diskusi kelompok. Hal ini memengaruhi prestasi akademik mereka dan
menghambat pengembangan keterampilan interpersonal serta rasa percaya
diri.
Selain itu, terdapat pandangan yang menyatakan bahwa kecemasan
sosial tidak selalu memberikan dampak negatif bagi individu. Beberapa
orang dengan kecenderungan mengalami kecemasan sosial justru dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan mengembangkan strategi
koping yang efektif. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Puspa Rini
(2013) menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kepercayaan diri yang
tinggi cenderung memiliki kecemasan komunikasi interpersonal yang lebih
rendah. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kepercayaan diri dapat
106
menjadi mekanisme koping yang efektif bagi individu dengan kecemasan
sosial.
Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan
Promotif oleh Pabebang, dkk (2022) menyoroti bahwa berbagai faktor,
seperti dukungan sosial dan kemampuan dalam memecahkan masalah,
memiliki keterkaitan dengan mekanisme koping individu. Dukungan sosial
yang kuat, baik dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar dapat
memberikan rasa aman dan meningkatkan kepercayaan diri individu dalam
menghadapi interaksi sosial. Dengan adanya dukungan tersebut, individu
dengan kecenderungan kecemasan sosial dapat merasa lebih nyaman dalam
bersosialisasi, mengurangi rasa takut akan penilaian negatif, serta
mengembangkan strategi koping yang lebih efektif untuk mengelola
kecemasan mereka.
Oleh karena itu, diperlukan berbagai strategi yang efektif untuk
membantu mahasiswa mengatasi kecemasan sosial dan meningkatkan
kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial. Salah
satunya yakni dengan terapi kognitif dan perilaku (CBT) yang ditemukan
dalam berbagai penelitian dan literatur psikologi. Menurut penelitian yang
diterbitkan dalam Jurnal of Anxiety Disorder terbukti efektif dalam
menurunkan gejala kecemasan sosial dengan mengubah pola pikir negatif
dan mengajarkan keterampilan sosial yang lebih adaptif. Terapi ini
membantu individu mengidentifikasi ketakutan irasional mereka, dengan
107
mengekspos diri secara bertahap pada situasi sosial yang menantang, serta
mengambangkan strategi koping yang lebih sehat (Resti, 2022).
Terdapat juga penelitian yang sejalan yakni penelitian yang dilakukan
oleh Hofmann & Smits (2008) yang menunjukkan bahwa individu yang
menjalani terapi CBT mengalami penurunan gejala kecemasan sosial yang
signifikan dan mampu mempertahankan hasil positif dalam jangka panjang.
Dengan demikian, CBT merupakan pendekatan untuk membantu mahasiswa
mengatasi kecemasan sosial dan meningkatkan keterampilan sosial mereka.
Selain CBT, dukungan sosial juga memiliki peran penting dalam
mengurangi kecemasan sosial. Mahasiswa yang memiliki jaringan sosial
yang kuat, cenderung lebih mudah mengatasi kecemasan mereka. Seperti
halnya dengan penelitian dalam Journal of Social and Clinical Psychology
menyatakan bahwa dukungan sosial yang kuat dari teman, keluarga dan
komunitas terbukti dapat mengurangi tingkat kecemasan sosial dengan
memberikan rasa aman, validasi emosional, serta peluang untuk berlatih
keterampilan sosial dalam lingkungan yang lebih nyaman (Hidayati &
Purwandari, 2023).
3. Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Kecemasan Sosial Pada
Kalangan Generasi Z
Media sosial kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan
sehari-hari generasi Z, termasuk mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang. Platform ini menawarkan berbagai kemudahan, seperti
108
mempermudah komunikasi, mengakses informasi, serta memperluas
jaringan pertemanan. Namun, penggunaan yang berlebihan juga dapat
menimbulkan dampak negatif, salah satunya adalah meningkatnya
kecemasan sosial. Banyak mahasiswa merasa kurang percaya diri atau cemas
ketika harus berinteraksi secara langsung karena lebih terbiasa
berkomunikasi melalui media sosial.
Hasil penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan positif dan
signifikan antara penggunaan media sosial dan tingkat kecemasan sosial di
kalangan mahasiswa. Dalam psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi
menemukan bahwa terdapat hubungan antara tingkat ketergantungan pada
media sosial dan kecemasan sosial pada mahasiswa (Fatih et al., 2018).
Penelitian ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang menyoroti
dampak negatif dari penggunaan media sosial yang berlebihan, terutama di
kalangan generasi Z. Generasi ini yang tumbuh dalam era digital, sering kali
merasakan tekanan untuk selalu terhubung dan tampil sempurna di platform
online dan dapat memicu kecemasan sosial. Misalnya, penelitian oleh
Primack et al (2017) menemukan bahwa penggunaan media sosial yang
intens dapat berkontribusi pada peningkatan gejala kecemasan dan depresi.
Hal ini menunjukkan bahwa interaksi yang tidak sehat di dunia maya dapat
memperburuk kesehatan mental.
Pada aspek instrumen penggunaan media sosial terdiri dari dua aspek,
yakni aims of social network use dan social network use and communication
109
preference. Penggunaan media sosial memiliki berbagai tujuan yang berbeda
setiap individu yang dikenal sebagai aims of social network use. Alasan
utama seseorang menggunakan media sosial meliputi membangun dan
mempertahankan hubungan sosial, berbagi informasi, serta
mengekspresikan identitas diri (Boyd & Ellison, 2007). Generasi Z termasuk
mahasiswa yang cenderung memanfaatkan media sosial untuk menjalin
komunikasi dengan teman, mencari hiburan, serta mengikuti perkembangan
informasi terkini. Kuss dan Griffiths (2017) juga menemukan bahwa
penggunaan media sosial sering kali berkaitan dengan kebutuhan psikologis,
seperti mencari validasi sosial atau menghindari perasaan kesepian. Dengan
demikian, tujuan penggunaan media sosial sangat bervariasi, tergantung
pada kebutuhan dan kondisi sosial masing-masing individu.
Selain tujuan penggunaan, preferensi komunikasi melalui media
sosial atau social network use and communication preference juga menjadi
aspek penting dalam memahami pola interaksi pengguna. Banyak individu,
terutama generasi Z lebih memiliki berkomunikasi melalui media sosial
dibandingkan dengan komunikasi langsung. Media sosial memberikan
kenyamanan bagi penggunanya karena memungkinkan komunikasi tanpa
harus bertatap muka, yang sering kali dapat memicu kecemasan sosial
(Subrahmanyam & Greenfield, 2008). Hal ini sejalan dengan temuan
Lemmens et al (2009), yang menyatakan bahwa individu dengan tingkat
kecemasan sosial yang lebih tinggi cenderung lebih nyaman berkomunikasi
110
secara daring dibandingkan dengan interaksi langsung. Namun, preferensi
ini juga dapat menyebabkan ketergantungan yang berdampak pada
menurunnya keterampilan komunikasi interpersonal, sehingga mempersulit
interaksi di dunia nyata.
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang disajikan sebelumnya, ditemukan
kedua variabel memiliki korelasi positif dengan nilai Pearson Correlation
sebesar 0,804 dan tingkat signifikansi 0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan
hubungan kedua variabel dianggap signifikan. Hasil penelitian ini
menyatakan bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial,
semakin tinggi pula tingkat kecemasan sosial yang dialaminya. Hal ini
disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tekanan untuk menampilkan citra
diri yang ideal di dunia maya, kecenderungan membandingkan diri dengan
orang lain serta berkurangnya interaksi langsung akibat lebih banyak
berkomunikasi melalui media sosial. Dengan demikian. Hipotesis yang
menyatakan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan
kecemasan sosial pada mahasiswa generasi Z di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang dapat diterima.
Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memicu stres,
kecemasan, gangguan tidur, serta perasaan terisolasi. Tekanan untuk
memenuhi ekspektasi yang tidak realistis dan perbandingan sosial juga
berkontribusi pada menurunnya rasa percaya diri mahasiswa (Hilda & Roy,
2022). Selain itu, faktor seperti durasi penggunaan, jenis konten yang
111
dikonsumsi, serta pola penggunaan (aktif atau pasif) berperan penting dalam
menentukan sejauh mana media sosial memengaruhi kesejahteraan mental
mahasiswa. Terdapat pula, tekanan sosial dari media sosial, seperti tuntutan
untuk tampil menarik dan mendapatkan validasi dan juga berkontribusi
terhadap meningkatnya kecemasan sosial.
Remaja yang aktif di media sosial cenderung membandingkan diri
mereka dengan orang lain, terutama dengan individu yang terlihat lebih
sukses, menarik, atau populer. Perbandingan ini dapat menurunkan rasa
percaya diri dan membuat mereka merasa kurang puas dengan diri sendiri.
Selain itu, mereka sering mengalami tekanan untuk memenuhi standar yang
ditetapkan di media sosial, seperti memiliki banyak teman, pengikut, tanda
suka, atau komentar (Indranu et al., 2024). Jika tidak dikelola dengan baik,
tekanan ini dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional dan menganggu
perkembangan psikologis mereka.
Fenomena kecemasan sosial yang berkaitan dengan penggunaan
media sosial di kalangan generasi Z semakin diperkuat oleh hasil berbagai
penelitian sebelumnya. Dalam studi yang dilakukan oleh Rahman et al.
(2022) terhadap 450 mahasiswa, ditemukan bahwa adanya hubungan positif
(r = 0,67) antara durasi penggunaan media sosial dan tingkat kecemasan
sosial. Selain itu, penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Chen dan
Wong (2023) mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan sebesar 45%
dalam gejala kecemasan sosial selama periode dua tahun pengamatan pada
112
pengguna aktif media sosial dari generasi Z. Temuan ini juga didukung oleh
penelitian kuantitatif oleh Putri dan Handayani (2021) yang
mengidentifikasikan budaya perbandingan di media sosial sebagai faktor
utama yang berkontribusi terhadap munculnya kecemasan sosial di kalangan
remaja.
Namun, tidak semua penelitian menunjukkan dampak negatif dari
media sosial. Beberapa studi, seperti yang dilakukan oleh Valkenburg dan
Peter (2007), menunjukkan bahwa media sosial dapat meningkatkan
keterhubungan sosial dan memfasilitasi komunikasi antarindividu, yang
pada gilirannya dapat mengurangi perasaan kesepian dan meningkatkan
dukungan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa efek media sosial terhadap
kecemasan sosial sangat bergantung pada cara penggunaannya. Penggunaan
yang berlebihan dan tidak terkontrol cenderung berkontribusi pada
peningkatan kecemasan, sementara penggunaan yang lebih moderat dan
positif dapat memberikan manfaat sosial yang signifikan.
Pada Theory of Planned Behavior (TPB) merupakan salah satu
kerangka kerja yang efektif dalam memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan individu dalam menggunakan media sosial. TPB
menjelaskan bahwa niat seseorang untuk berperilaku ditentukan oleh tiga
faktor utama, yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi
kontrol perilaku. Ketiga faktor ini saling berinteraksi dan membentuk sejauh
113
mana seseorang cenderung untuk menggunakan media sosial dalam
kehidupan sehari-hari.
Pada sikap terhadap perilaku merupakan faktor kunci dalam
menentukan bagaimana individu, khususnya generasi Z yang menggunakan
media sosial. Generasi ini dikenal sebagai digital native, yaitu individu yang
tumbuh di era digital dan memiliki keterampilan tinggi dalam menggunakan
teknologi. Sikap mereka terhadap media sosial sangat dipengaruhi oleh
persepsi terhadap manfaat dan resiko yang ditawarkan oleh platform-
paltform digital. Seperti pada penelitian dalam share Social Work Journal
mengungkapkan bahwa generasi Z menggunakan media sosial seperti
TikTok dan Instagram sebagai sarana edukasi informal. Mereka aktif
mencari informasi terkait akademik, keterampilan baru, serta wawasan sosial
dan politik melalui konten yang interaktif dan mudah diakses (Firamadhina
& Krisnani, 2021).
Selanjutnya pada norma subjektif, memainkan peran penting dalam
menentukan perilaku penggunaan media sosial di kalangan generasi Z.
Ketika keluarga, teman, atau lingkungan sosial secara umum mendukung
dan aktif menggunakan media sosial, individu dalam kelompok ini
cenderung mengikuti kebiasaan yang sama. Sebaliknya jika lingkungan
sosial mereka cenderung menghindari atau membatasi penggunaan media
sosial, individu akan mempertimbangkan kembali kebiasaanya dalam
mengakses platform tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang
114
dilakukan oleh Kalista dkk (2024) yang menyatakan bahwa pandangan serta
sikap lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku generasi
Z dalam memanfaatkan media sosial, khususnya dalam mengakses berita
politik seperti ringkasan informasi seputar pemilu 2024. Norma subjektik
disini berperan dalam membentuk atau mendorong cara individu
memandang suatu perilaku berdasarkan ekspektasi dan opini orang-orang di
sekitar mereka, baik keluarga, teman, maupun komunitas online.
Kemudian, pada persepsi kontrol perilaku berperan penting dalam
menentukan sejauh mana generasi Z merasa mampu menggunakan media
sosial, dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti akses terhadap
perangkat teknologi, pemahaman fitur platform, dan tingkat literasi digital.
Hal ini sesuai dengan penelitian Mustika Wanda (2024) yang menunjukkan
bahwa literasi digital memiliki pengaruh signifikan terhadap pergaulan
sosial generasi Z di era kemajuan teknologi. Inovasi media literasi seperti e-
book, perpustakaan online, dan media sosial di kalangan generasi Z.
Penelitian yang menunjukkan hubungan antara penggunaan media
sosial dan kecemasan sosial tidak selalu bersifat linier dan dapat dipengaruhi
oleh berbagai faktor individu. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang
dilakukan Purnomo et al (2023) menjelaskan hubungan antara tingkat
kecemasan sosial dan durasi penggunaan media sosial pada mahasiswa
kedokteran. Penelitian ini menemukan bahwa individu dengan tingkat
115
kecemasan sosial yang lebih tinggi cenderung lebih banyak menggunakan
media sosial untuk menghindari interaksi sosial secara langsung.
Penggunaan media sosial yang intensif di kalangan generasi Z telah
dikaitkan dengan peningkatan kecemasan sosial. Paparan terhadap konten
yang menampilkan kehidupan ideal dapat memicu perasaan tidak aman dan
tekanan untuk memenuhi standar tersebut. Terdapat beberapa hal yang dapat
diimpelementasikan yakni meningkatkan literasi digital sangat penting agar
generasi Z dapat memahami bahwa tidak semua yang ditampilkan di media
sosial mencerminkan realitas. Literasi digital berperan penting dalam
mendorong budaya literasi di kalangan generasi Z, mengansumsikan mereka
untuk menjadi individu yang lebih produktif, inovatif dan siap menghadapi
berbagai tantangan di era digital (Ni Luh et al., 2012 )
Selain itu, mendorong keterlibatan dalam kegiatan seperti olahraga,
seni, atau komunitas juga dapat membantu mengalihkan perhatian dari
media sosial dan membangun keterampilan sosial yang lebih baik.
Keterlibatan dalam hubungan sosial yang bermakna, termasuk melalui
aktivitas kelompok seperti olahraga, seni, dapat menigkatkan kesejahteraan
mental dan mengurangi resiko gangguan kecemasan (Holt et al., 2015).
Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya membantu mengalihkan perhatian dari
meda sosial, tetapi juga memungkinkan generasi Z untuk membangun
keterampilan sosial, meningkatkan rasa percaya diri dan merasakan
dukungan emosional dari lingkungan sekitar.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil penelitian dan analisis data mengenai pengaruh
penggunaan media sosial terhadap kecemasan sosial pada kalangan generasi Z,
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Mengenai Penggunaan Media Sosial mayoritas termasuk dalam kategori
tinggi yang mencapai 62,9%. Ditemukan bahwa 36,1% berada pada kategori
sedang, sementara 1% berada pada kategori rendah. Hal ini menggambarkan
bahwa media sosial memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan generasi
Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mengansumsikan dipengaruhi
oleh perkembangan teknologi serta kebutuhan untuk tetap terhubung secara
digital.
2. Mengenai kecemasan sosial generasi Z, sebagian besar tergolong sedang yang
mencapai 48,7%. Kemudian, skor empirik yang lebih tinggi dibandingkan
skor hipotetik menunjukkan memiliki kecenderungan mengalami kecemasan
sosial yang tergolong tinggi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kecemasan
sosial menjadi isu yang cukup menonjol di kalangan generasi Z yang dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tekanan sosial, ekspektasi akademik,
serta interaksi di media sosial yang semakin intens dalam sehari-hari.
116
117
3. Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel
penggunaan media sosial dengan kecemasan sosial pada kalangan generasi Z
di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Uji korelasi yang telah dilakukan
menunjukkan nilai pearson correlation positif antara kedua variabel tersebut,
dengan nilai signifikansi statistik 0,000 (p<0,05). Artinya semakin tinggi
intensitas penggunaan media sosial, maka kecenderungan individu mengalami
kecemasan sosial juga meningkat. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai
faktor, seperti tekanan sosial di dunia maya, perbandingan diri dengan orang
ain, serta interaksi sosial yang lebih banyak terjadi secara virtual dibandingkan
secara langsung.
B. Saran
Berdasarkan hasil dari analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan,
peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut :
1. Mahasiswa Generasi Z
Mahasiswa generasi Z perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial
agar tidak terjebak dalam kecemasan sosial yang berlebihan. Salah satu cara
efektif adalah dengan membatasi waktu penggunaan media sosial. Dengan
mengatur durasi harian dan menghindari konsumsi konten yang bisa memicu
perasaan tidak percaya diri atau perbandingan sosial yang tidak sehat.
Selain itu, dengan meningkatkan interaksi sosial di dunia nyata, seperti
bergabung dengan organisasi kampus, menghadiri acara sosial, serta aktif
118
dalam diskusi langsung bisa membantu melatih keterampilan komunikasi dan
membangun kepercayaan diri. Interaksi tatap muka juga memberikan
pengalaman sosial yang lebih nyata dibandingkan komunikasi daring.
Mahasiswa juga sebaiknya mulai mengembangkan pola pikir yang positif
dan berhenti membandingkan diri dengan standar yang ada di media sosial.
Apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya bagian terbaik dari
kehidupan seseorang. Dengan memahami hal ini, tekanan untuk selalu tampil
sempurna bisa berkurang dan rasa percaya diri akan meningkat.
Kemudian, meningkatkan literasi digital juga sangat penting. Mahasiswa
perlu memahami dampak media sosial terhadap kesehatan mental dan
membekali diri dengan pengetahuan tentang bagaimana menggunakannya
secara sehat. Dengan begitu, mereka bisa lebih sadar dalam mengambil
keputusan terkait aktivitas online mereka.
Selanjutnya, mengembangkan strategi koping yang sehat bisa menjadi
solusi untuk mengurangi kecemasan. Melakukan aktivitas positif seperti
olahraga, meditasi, atau bahkan mencari bantuan profesional jika diperlukan
dapat membantu menjaga kesehatan mental. Mahasiswa juga bisa
menggunakan media sosial secara lebih positif, seperti mengikuti akun
edukatif, berbagi pengalaman yang bermanfaat dan membangun komunitas
yang mendukung.
2. Penelitian Selanjutnya
Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar kajian dampak
119
penggunaan media sosial terhadap kecemasan sosial pada mahasiswa generasi
Z lebih diperluas. Penelitian dapat mencakup faktor-faktor lain yang mungkin
berkontribusi, seprti tingkat dukungan sosial, kondisi psikologis individu,
serta perbedaan budaya dalam penggunaan media sosial. Dengan memahami
faktor-faktor ini, penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih
komprehensif mengenai hubungan antara media sosial dan kecemasan sosial.
Selain itu, penelitian dapat lebih fokus pada pendekatan longitudinal
untuk melihat bagaimana penggunaan media sosial memengaruhi kecemasan
sosial dalam jangkan panjang. Dengan melakukan studi dalam periode waktu
yang lebih lama, data yang diperoleh akan lebih akurat dalam menunjukkan
pola perubahan tingkat kecemasan sosial yang di alami mahasiswa akibat
penggunaan media sosial yang terus berkembang.
Kemudian, penelitian mendatang dapat mempertimbangkan metode
intervensi atau strategi yang dapat membantu mahasiswa mengelola
penggunaan media sosial dengan lebih sehat. Misalnya, studi ekperimental
dapat dilakukan untuk menguji efektivitas dari teknik tertentu, seperti digital
detix, mindfulness, atau pelatihan komunikasi interpersonal dalam
menurunkan kecemasan sosial akibat penggunaan media sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Alkis, Y., Kadirhan, Z., & Sat, M. (2017). Development and validation of social
Anxiety Scale for Social Media Users. Computers in Human Behavior, 72, 296–
303. [Link]
Allen, K. A., Ryan T., Gray, D. L., Mcinerney, D. M., Waters, L. (2014). Social media
use and social connectedness in adoslescents: The positives and the potential
pitfalls. Aust. J. Educ. Dev. Psychol., 31(1), 18-31.
Alvara Research Center. (2022).
Andri, & Dewi, Y.P. (2007). Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik dan
Berbagai Mekanisme Pertahanan terhadap Kecemasan. Maj Kedokt Indon.
Anindi Trikandini, & Lia Kurniasari. (2021). Hubungan Intensitas Penggunaan Media
Sosial dengan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa UMKT. Borneo Student
Research, 3(1), 614–619.
APJII. (2016). Penetrasi & perilaku pengguna internet Indonesia survey 2016.
<[Link]
Ari S., Julia E. P., Wahyu N. (2024). Gejala Kejiwaan Manusia. Aktualita: Jurnal
Penelitian Sosial dan Keagamaan, 14 (2).
Arifah, N., Budiani, M. (2012). Hubungan Antara Attachment Stye dan Self-Esteem
dengan Kecemasan Sosial pada Remaja. Fakultas Psikologi Universitas Negeri
Surabaya.
Asosiasi Psikologi Sosial Indonesia. (2023). Laporan mengenai kecemasan pengguna
media sosial generasi Z.
Atika, Kholifah, N., Nurrohmah, S., & Purwiningsih, R. (2020). Eksistensi motif batik
klasik pada generasi z. Jurnal Teknologi Busana Dan Boga, 8(2), 141–144.
[Link]
Azka, F., Firdaus, D. F., & Kurniadewi, E. (2018). Kecemasan Sosial dan
Ketergantungan Media Sosial pada Mahasiswa. Psympathic : Jurnal Ilmiah
Psikologi, 5(2), 201–210. [Link]
Barhate, B., & Dirani, K. M. (2022). Career aspirations of generation z: A systematic
literature review. European Journal of Training and Development, 46(1), 139–
157. [Link] 2020-0124
Boyd, D. M., & Ellison, N. B. (2007). Social network sites: Definition, history, and
scholarship. Journal of Computer-Mediated Communication, 13(1), 210–230.
[Link]
120
121
Castella, K., Goldin, P., Jazaieri, H., Ziv, M., Heimberg, R., dan Gross, J. (2014).
Emotionbeliefs in social anxiety disorder: Associations with stress, anxiety, and
[Link] Journal of Psychology. 66: 139–148. doi:
10.1111/ajpy.12053
Chen, X., & Wong, Y. (2023). The longitudinal impact of social media use on social
anxiety among Generation Z: A two-year study. Journal of Social Media
Research, 12(1), 34-50.
Christian Fuchs. (2014). Social Media: A Critical Introduction. In European Journal
of Communication (Vol. 33, Nomor 1).
[Link]
Clark, D. M., & Wells, A. (1995). A cognitive model of social phobia. In Social
phobia: Diagnosis, assessment, and treatment. (hal. 69–93). The Guilford Press.
Damodar, S., Lokemoen, C., Gurusamy, V., Takhi, M., Bishev, D., Parrill, A.,
Deviney, M., Person, U., Korie, I., & Branch, R. (2022). Trending: A Systematic
Review of Social Media Use’s Influence on Adolescent Anxiety and Depression.
Adolescent Psychiatry, 12(1), 11–22.
[Link]
Difa A. H., Widyaning H., Karsiyati. (2024). Peran Anonimitas Dan Konsep Diri
Terhadap Online Disinhibition Effect Pada Remaja. Jurnal Ilmiah Wahana
Pendidikan, 10 (160, 238-252.
Emily A., Vogels, Risa G. W., & Navid M. (2022). Teens, Social Media and
Technology. Pew Research Center.
Faiza, N. N., & Maryam, E. W. (2024). Self-Disclosure, social comparison, and social
anxiety among gen z social media users. Empathy : Jurnal Fakultas Psikologi,
7(1), 17. [Link]
Faradiana, Z., & Mubarok, A. S. (2022). Hubungan antara Pola Pikir Negatif dengan
Kecemasan dalam Membina Hubungan Lawan Jenis pada Dewasa Awal. Jurnal
Psikologi Teori dan Terapan, 13(1), 71–81.
[Link]
Febriana, V. R. (2024). Fenomena Komunikasi Virtual Anonim Dalam Melakukan
Self Disclosure ( Studi Fenomenologi pada Pengguna Voisa . App ). PERSUASI
(Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Ilmu Komunikasi), 1(1), 68–78.
Firamadhina, F. I. R., & Krisnani, H. (2021). PERILAKU GENERASI Z
TERHADAP PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TIKTOK: TikTok Sebagai
Media Edukasi dan Aktivisme. Share : Social Work Journal, 10(2), 199.
[Link]
122
Francis, T., & Hoefel, F. (2018). ‘True gen’: Generation Z and its implications for
companies. McKinsey & Company, 10.
Gabrielova, K., & Buchko, A. A. (2021). Here comes generation Z: Millennials as
Business Horizons, [Link]
Gail W. Stuart. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Alih Bahasa: Ramona P.
Kapoh & Egi Komara Yudha. Jakarta: EGC.
Gentina, E. (2020). Generation z in Asia: A research agenda. In E. Gentina & E. Parry
(Eds.), What the expert tell us South East Asia: Dynamics, differences,
digitalisation (pp. 3-19).
Greca, A. M., & Lopez, A. N. (1998). Social Anxiety AInong Adolescents: Linkages
with Peer Relations and Friendship. Journal of Abnonnal Child Psychology, 83-
94.
Gunawan, I. A. N., . S., & Shalahuddin, I. (2022). Dampak Penggunaan Media Sosial
Terhadap Gangguan Psikososial Pada Remaja: A Narrative Review. Jurnal
Kesehatan, 15(1), 78–92. [Link]
Halim, M. H. A., & Sabri, F. (2013). Relationship Between Defense Mechanisms and
Coping Styles Among Relapsing Addicts. Procedia - Social and Behavioral
Sciences, 84, 1829–1837. [Link]
Anggraini, R., Hanita, Suhendri, N., Shintia, Y., Amanda, X., & Safa, F. (2022).
Pengaruh Positif Dan Negatif Penggunaan Media Sosial. The 4th National
Conference of Community Service Project 2022, 4(1), 1590–1595.
[Link]
Hanafi, K., & Rahim, Mohd. H. Abd. (2017). Penggunaan Media Sosial Dan Faktor-
Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Gerakan Sosial Oleh Pemimpin
Pelajar Universiti di Bandar Pekan Baru, Riau, Indonesia. Journal of Social
Sciences and Humanities, 12(2), 87–101.
[Link]
Herman, F. (2018). Pengukuran Skala Kecemasan Sosial pada pengguna media sosial
berusia dewasa awal. Jurnal Teknik Informatika Vo.13 No.1 .
Hidayati, D. L., & Purwandari, E. (2023). Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan
Kesehatan Mental di Indonesia: Kajian Meta-Analisis. GUIDENA: Jurnal Ilmu
Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling, 13(1), 270.
[Link]
Hilda, & Roy Purwanto, M. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesejahteraan
Mental Mahasiswa: Studi Kasus Di Fakultas Ilmu Agama Islama Universitas
123
Islam Indonesia. At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam, 6(1), 1485–1486.
[Link]
Hofmann, S. G., & Smits, J. A. J. (2008). Cognitive-behavioral therapy for adult
anxiety disorders: A meta-analysis of randomized placebo-controlled trials.
Journal of Clinical Psychiatry, 69(4), 621–632.
[Link]
Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., Baker, M., Harris, T., & Stephenson, D. (2015).
Loneliness and Social Isolation as Risk Factors for Mortality: A Meta-Analytic
Review. Perspectives on Psychological Science, 10(2), 227–237.
[Link]
Indranu, F., Kesuma, M., & Kalifia, A. D. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap
Tingkat Anxiety Pada Remaja : Sebuah Analisis Dengan Rapidminer. Jurnal
Ilmiah Multidisiplin, 1(3), 177–181. [Link]
Indranu, F., Kesuma, M., & Kalifia, A. D. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap
Tingkat Anxiety Pada Remaja : Sebuah Analisis Dengan Rapidminer. Jurnal
Ilmiah Multidisiplin, 1(3), 177–181. [Link]
Jatmiko, A. (2017). Sense Of Place Dan Social Anxiety bagi Mahasiswa Baru
Pendatang. KONSELI : Jurnal Bimbingan dan Konseling (E-Journal), 3(2), 161–
170. [Link]
Kalista, A., Badriyah, A., Zhoulva Salim, N., Sunan Ampel Surabaya, N., Surabaya,
K., & Jawa Timur, P. (2024). Perilaku Pengguna Media Sosial (Generasi Z) pada
Mahasiswa Surabaya Terhadap Berita Ringkas Pemilihan Umum 2024 Ditinjau
dari Perspektif Teori Atribusi. Jurnal Kewarganegaraan, 8(2), 1387–1394.
[Link]
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dalam [Link] diakses
tanggal 12 Mei 2025.
KARAUWAN, M. Z. (2020). Refleksi Kecemasan Dalam Final Destination 3 Karya
James Wong. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1–14.
[Link]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Aksi inovasi ekosistem digital
kesehatan nasional: Laporan tahunan Digital Transformation Office 2023. DKI
Jakarta: Kemenkes RI. [Link]
Kuss, D. J., & Griffiths, M. D. (2017). Social networking sites and addiction: Ten
lessons learned. International Journal of Environmental Research and Public
Health, 14(3). [Link]
124
Lemmens, J. S., Valkenburg, P. M., & Peter, J. (2009). Development and validation
of a game addiction scale for adolescents. Media Psychology, 12(1), 77–95.
[Link]
Lesmana, R., & Nasution, M. I. P. (2025). Kebocoran Data di Media Sosial : Analisis
Pola dan Strategi Pencegahannya. Socius: Jurnal Administrasi Publik, 2 (10),
123–128.
Liebowitz, M. R. (1987). Social phobia. Prabl. Pharmacopsychiat, 22, 141–173.
M. Thelwall, D. Wilkinson & S. Uppal. (2010). Data Mining Emotion In Social
Network Communication: Gender Differences In Myspace. JOURNAL OF THE
AMERICAN SOCIETY FOR INFORMATION SCIENCE AND TECHNOLOGY,
61(1):190–199.
Marhaen, T. R., & Evi, E. (2023). Hubungan Penggunaan Media Sosial Dengan
Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa Fk Untar. Jurnal Kesehatan Tambusai,
4(4), 4598–4604. [Link]
Mat Saad, M. Z., & Yusuf, M. H. (2019). Cultural Adaptation: The Impact of Social
Media Toward Uses and Gratification. Journal of Techno Social, 11(1), 46–53.
[Link]
McCrindle. (2014). The ABC of XYZ: Understanding the Global Generation.
McCrindle Research.
Mustika Wanda, E. (2024). Pengaruh Literasi Digital Pada Generasi Z Terhadap
Pergaulan Sosial Di Era Kemajuan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Jurnal
Sosial Teknologi, 3(12), 1035–1042.
[Link]
Mutiara Vina Febriana. (2022) Penggunaan Media Sosial Terhadap Kecemasan Sosial
di Kalangan Mahasiswa.
Nan, Y., Qin, J., Li, Z., Kim, N. G., Kim, S. S. Y., & Miller, L. C. (2024). Is Social
Media Use Related to Social Anxiety? A Meta-Analysis. Mass Communication
and Society, 27(3), 441–474. [Link]
Ni Luh W., Ni Kadek C. W., N. Putu D. E. (2012). Pengaruh Literasi Digital Pada
Generasi Z Terhadap Peningkatan Budaya Literasi Untuk Melahirkan Generasi
Penerus Bangsa Yang Berkualitas Di Era Kemajuan Ilmu Pengetahuan Dan
Teknologi. Triana Mulya.
Niharika Sharma. (2024). The Effect of Social Media on Body Image, Self Esteem
and Social Appearance Anxiety Among Young Adults. IJRAR-International
Journal of Research and Analytical Reviews (IJRAR), 11(1), 38–72.
125
Nugraha, A. D. (2020). Memahami Kecemasan: Perspektif Psikologi Islam. IJIP :
Indonesian Journal of Islamic Psychology, 2(1), 1–22.
[Link]
Nugraha, A. D. (2020). Memahami Kecemasan: Perspektif Psikologi Islam. IJIP :
Indonesian Journal of Islamic Psychology, 2(1), 1–22.
[Link]
Nurohmat, Rusman L., Safrudiningsih. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap
Produktivitas Gen Z. DIALEKTIKA KOMUNIKA: Jurnal Kajian Komunikasi
dan Pembangunan Daerah, Banten.
Nurudin, 2003. Komunikasi Massa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 181
Nurul Fadilah, A., & Sa’adah, N. (2021). Hubungan Ketergantungan Media Sosial
Generasi Z Dengan Kecemasan Sosial. In Cons-Iedu (Vol. 1, Issue 02, pp. 95–
105). [Link]
Nurul H., Nalendra P., Damiara P. (2024). Peningkatan Keterampilan Keamanan
Digital pada Siswa SMK Ananda Bekasi di Era Disrupsi Digital. Jurnal
Pengabdian Masyarakat Waradin, 4 (3), 234-242.
O'Day, E. B., & Heimberg, R. G. (2021). Social media use, social anxiety, and
loneliness: A systematic review. Computers in Human Behavior Reports, 3,
Article 100107.
Pabebang, Y., Handayani Mangapi, Y., & Kelong, P. (2022). Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Mekanisme Koping Pada Lansia Di Lembang Benteng
Ka’do Kecamatan Kapalapitu Kabupaten Toraja Utara Tahun 2019. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Promotif, 6(2), 157–169. [Link]
Pilkionien, J., Šuminas, A., & Šuminas, A. (2021). The impact of social media on
social anxiety: A systematic review. Journal of Social Media Studies, 8(2), 45-
60.
Pranata, W. Y., Sa’adah, T. I., & Maulana, M. S. (2023). Media sosial sebagai
platform digital pemicu ketidakstabilan kecemasan generasi z. Prosiding
Seminar Nasional, 681–686.
Pratiwi, D., Mirza, R., & El Akmal, M. (2019). Kecemasan Sosial Ditinjau Dari Harga
Diri Pada Remaja Status Sosial Ekonomi Rendah. Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan
dan Konseling, 9(1), 21–34. [Link]
Pribadi, R. (2019). Hubungan antara citra diri negatif dengan kecemasan sosial pada
remaja putri perkotaan. Calyptra, 8(2), 1–16.
Permadi, D. A. (2022). Kecemasan sosial dan intensitas penggunaan media sosial
pada remaja. [Link]
126
Pratiwi, D., Mirza, R., & Akmal, M. E. l. (2019). Social Anxiety In Terms Of Self-
Esteem In Adolescents With Low Socio-Economic Status. Journal of Education
and Counseling, 9(1), 21–22. [Link]
irsyad/article/download/6734/2966
Primack, B. A., Shensa, A., Sidani, J. E., Whaite, E. O., Lin, L. yi, Rosen, D., Colditz,
J. B., Radovic, A., & Miller, E. (2017). Social Media Use and Perceived Social
Isolation Among Young Adults in the U.S. American Journal of Preventive
Medicine, 53(1), 1–8. [Link]
Purnomo, C. W., Oktaviyantini, T., & Hastami, Y. (2023). Hubungan Tingkat
Kecemasan Sosial dengan Durasi Penggunaan Media Sosial pada Mahasiswa
Kedokteran. Plexus Medical Journal, 2(2), 65–69.
[Link]
Puspa Rini, H. (2024). Self Efficacy Dengan Kecemasan Dalam Menghadapi Ujian
Nasional. Cognicia, 1(1), 30–39. [Link]
Putri, A., & Handayani, S. (2021). Identifikasi budaya perbandingan di media sosial
sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap munculnya kecemasan sosial
di kalangan remaja. Jurnal Psikologi dan Pendidikan, 5(2), 123-135.
Rahman, M., Sani, R. A., & Mentari, A. (2022). Hubungan antara durasi penggunaan
media sosial dan tingkat kecemasan sosial di kalangan mahasiswa. Jurnal
Psikologi, 10(1), 45-60.
Rapee, R. M., & Heimberg, R. G. (1997). A cognitive-behavioral model of anxiety in
social phobia. Behaviour Research and Therapy, 35(8), 741–756.
[Link]
Ratnadewati, D. Y., & Oktarina, R. V. (2024). Pengaruh Kesadaran Keamanan
Informasi terhadap Pengguna Media Sosial Instagram. Seminar Nasional
Teknologi Informasi dan Bisnis (SENATIB), 442–448.
Rengganawati, H. (2024). Kecemasan Dalam Berbicara Di Depan Umum Pada
Kalangan Mahasiswa Berusia 17-22 Tahun. Indonesian Journal of Digital Public
Relations (IJDPR), 2(2), 60. [Link]
Resti Rahmawati. (2022). Menurunkan Gejala Kecemasan Pada Gangguan
Kecemasan Umum Dengan Cognitif Therapy. PROCEDIA: Studi kasus dan
intervensi psikologi, 10(4)
Scheepers, H., Scheepers, R., Stockdale, R., & Nurdin, N. (2014). The dependent
variable in social media use. The Journal of Computer Information
Systems,54(2), 25-34.
127
Schlenker, B. R., & Leary, M. R. (1985). Social Anxiety And Self-Presentation: A
Conceptualization Of Social Anxiety And Its Implications For Social
Behavior. Psychological Bulletin, 97(3), 347-366.
Selly Gita Praditha, K., & Made Swasti Wulanyani, N. (2024). Faktor-Faktor Yang
Memengaruhi Adiksi Media Sosial Pada Mahasiswa: Literature Review. Ni
Made Swasti Wulanyani INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 4,
2506–2524.
Simarmata, S. W., & Citra, Y. (2020). Kecanduan Internet Terhadap Keterampilan
Sosial Di Era Generasi Milenial. Jurnal Serunai Bimbingan dan Konseling, 9(1),
16–21. [Link]
Subrahmanyam, K., & Greenfield, P. (2009). Media Symbol Systems and Cognitive
Processes. The Handbook of Children, Media, and Development, 166–187.
[Link]
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Dan Pengembangan Research Dan
Development. Bandung : Alfabeta.
Suharsaputra, U. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, tindakan. Reflika
Aditama. Bandung: Reflika Aditama.
Suparyanto dan Rosad. (2020). Skala Pengukuran Dan Instrumen Penelitian. In
Suparyanto dan Rosad (2015 (Vol. 5, Issue 3).
Suryadi, M. D., Imran, & Rosyid, R. (2022). Analisis Perilaku Masyarakat dalam
Penggunaan Media Sosial (Studi Kasus pada Kumpulan Ibu-Ibu di Komplek
Batara Indah 1 Kelurahan Sungai Jawi Kecamatan Pontianak Kota). Jurnal
Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 11(8), 818–827.
[Link]
Sutanto, A., Yuniardi, D., & Prabowo, H. (2020). Perbandingan diri di media sosial
dan dampaknya terhadap stres serta rasa kurang percaya diri. Jurnal Psikologi
dan Media Sosial, 4(1), 25-38.
Tedjawidjaja, D., & Christanti, D. (2022). Effect of Social Comparison in Social
Media on Psychological Distress in Adolescents: Role of Emotion Regulation as
Moderator. Journal of Educational, Health and Community Psychology, 11(4),
836. [Link]
Topaloglu, M., Caldibi, E., & Oge, G. (2016). The scale for the individual and social
impact of students’ social network use: The validity and reliability studies.
Computers in Human Behavior, 61, 350–356.
[Link]
128
Valkenburg, P. M., & Peter, J. (2007). Preadolescents’ and adolescents’ online
communication and their closeness to friends. Developmental Psychology, 43(2),
267–277. [Link]
Vannucci, A., & McCauley Ohannessian, C. (2019). Social Media Use Subgroups
Differentially Predict Psychosocial Well-Being During Early Adolescence.
Journal of Youth and Adolescence, 48(8), 1469–1493.
[Link]
Watson, D., & Friend, R. (1969). Measurement of social-evaluative anxiety. Journal
of Consulting and Clinical Psychology, 33(4), 448–457.
[Link]
We Are Social. (2023). Digital 2023: October global statshot report.
[Link]
report/
Weidman, A. C., Fernandez, K. C., Levinson, C. A., Augustine, A. A., Larsen, R. J.,
& Rodebaugh, T. L. (2012). Compensatory internet use among individuals higher
in social anxiety and its implications for well-being. Personality and Individual
Differences, 53(3), 191–195. [Link]
Wiwin Yuliani & Ecep S. (2023). Metode Penelitian Bagi Pemula. Widina Bhakti
Persada Bandung.
Woran, K., Kundre, R. M., & Pondaag, F. A. (2021). Analisis Hubungan Penggunaan
Media Sosial Dengan Kualitas Tidur Pada Remaja. Jurnal Keperawatan, 8(2), 1.
[Link]
Yusri, A. Z. dan D. (2020). Teori,Metode dan Praktik Penelitian Kualitatif. In Jurnal
Ilmu Pendidikan (Vol. 7, Issue 2).
Zahra Kamila Fauziyyah, Zulmansyah, & Dony Septriana Rosady. (2023). Coping
Strategy, Tingkat Kecemasan Sosial, dan Remaja Pengguna Media Sosial. Jurnal
Riset Kedokteran, 91–96. [Link]
Zhao, N., & Zhou, G. (2020). Applied Psych Health Well - 2020 - Zhao - Social Media
Use and Mental Health during the COVID‐19 Pandemic Moderator [Link]
LAMPIRAN
Lampiran 1 Skala Penggunaan Media Sosial
SL : Selalu
SR : Sering
J : Jarang
K : Kadang-kadang
TP : Tidak Pernah
SKALA LIKERT
No Faktor Aitem
TP K J SR SL
1. Saya melihat media sosial
setiap hari
2. Saya berbagi foto dan video
di media sosial
3. Ada beberapa akun media
sosial yang selalu saya ikuti
4. Intensity of Social Saya memiliki lebih dari
Media Use satu akun media sosial yang
saya gunakan secara aktif
5. Saya fikir media sosial
sangatlah berguna
6. Saya suka mengikuti teman
saya berbagi di media sosial
7. Saya biasanya memeriksa
apa yang dilakukan teman-
teman saya di media sosial
8. Saya merasa lebih nyaman
di media sosial
dibandingkan dengan waktu
yang saya habiskan di
Social Media Use
lingkungan sosial
& Communication
9. Saya lebih memilih media
Preferences
sosial daripada
menghabiskan waktu
dengan lingkungan sosial
saya
129
130
10. Saya dapat
mengekspresikan diri saya
dengan lebih jelas
menggunakan media sosial
11. Saya lebih suka
menggunakan media sosial
daripada telepon ketika
berkomunikasi dengan
teman
12. Saya lebih menggunakan
media sosial untuk
pertemanan dan mengobrol
13. Saya memperbarui profil
saya di media sosial
131
Lampiran 2 Skala Kecemasan Sosial
Coba ilustrasikan dalam beberapa waktu pekan terakhir, seberapa cemas anda jika
berada situasi di bawah ini :
SKALA LIKERT
No Aspek Aitem
TP K J SR SL
1. Menelepon di tempat umum
2. Berpartisipasi dalam suatu
kegiatan kelompok kecil
3. Makan di tempat umum
4. Minum-minum bersama orang
lain di tempat umum
5. Berbicara dengan orang yang
berwenang
6. Berakting, pentas, atau berbicara
di hadapan banyak penonton
7. Performance Menyajikan pendapat dalam rapat
8. Anxiety Bekerja sambil diamati
9. Menulis sambil diamati
10. Memasuki ruangan ketika orang-
orang sudah duduk di tempatnya
11. Menjalani tes mengenai
kemampuan, keterampilan atau
pengetahuan Anda
12. Mencoba berkenalan dengan
seseorang dengan tujuan
percintaan atau hubungan seksual
13. Buang air kecil di toilet umum
14. Bertemu dengan orang yang tidak
terlalu Anda kenal
15. Pergi ke acara ditengah
keramaian
16. Menjadi pusat perhatian
17. Social Menelpon orang yang tidak
Anxiety terlalu anda kenal
18. Berbicara tatap muka dengan
orang yang tidak terlalu Anda
kenal
19. Mengungkapkan
ketidaksepahaman atau celaan
132
terhadap seseorang yang tidak
begitu Anda kenal
20. Menatap mata seseorang yang
tidak begitu Anda kenal
21. Menyampaikan pidato yang
sudah dipersiapkan kepada suatu
kelompok
22. Mengembalikan barang ke toko
untuk mendapatkan
pengembalian uang
23. Mengadakan pesta
24. Menolak seorang penjual yang
gigih
133
Lampiran 3 Uji Validitas dan Reliabilitas
a. Skala Penggunaan Media Sosial
Item-Total Statistics
Corrected Item- Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted
X01 45.2815 66.509 .396 .929
X02 45.5331 60.635 .749 .917
X03 45.4272 61.601 .741 .918
X04 45.4868 61.134 .668 .920
X05 45.2715 66.159 .420 .928
X06 45.4702 62.110 .697 .920
X07 45.6026 60.254 .743 .918
X08 45.7781 58.924 .735 .918
X09 45.7848 58.927 .709 .919
X10 45.6291 60.659 .740 .918
X11 45.5596 61.098 .697 .919
X12 45.5497 61.843 .665 .920
X13 45.7980 57.962 .755 .917
b. Skala Kecemasan Sosial
Reliability Statistics
Cronbach's Alpha N of Items
.964 24
Item-Total Statistics
134
Corrected Item- Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted
VAR00001 83.0596 265.192 .803 .961
VAR00002 82.9570 271.204 .729 .962
VAR00003 82.9205 272.731 .695 .962
VAR00004 83.1391 267.622 .718 .962
VAR00005 82.9901 270.581 .782 .962
VAR00006 83.0861 267.607 .816 .961
VAR00007 83.0629 270.265 .772 .962
VAR00008 82.9801 274.551 .658 .963
VAR00009 83.0199 275.993 .625 .963
VAR00010 83.3510 262.966 .824 .961
VAR00011 83.2483 269.191 .777 .962
VAR00012 83.3146 269.273 .773 .962
VAR00013 83.3146 271.386 .729 .962
VAR00014 83.2682 272.835 .743 .962
VAR00015 83.3079 273.795 .674 .963
VAR00016 83.2219 275.442 .682 .963
VAR00017 83.2384 274.853 .680 .963
VAR00018 83.4073 273.325 .680 .963
VAR00019 83.5166 268.815 .767 .962
VAR00020 83.4669 272.037 .743 .962
VAR00021 84.2450 268.239 .517 .966
VAR00022 83.5232 270.078 .691 .962
VAR00023 83.5861 269.858 .720 .962
VAR00024 83.5662 272.313 .680 .963
135
Lampiran 4 Kategorisasi dan Skor Responden Penelitian
a. Penggunaan Media Sosial
1) Aspek Intensity of Social Media Use
2) Aspek Social Media Use & Communication Preferences
136
b. Kecemasan Sosial
137
Lampiran 5 Hasil Demografi
a. Usia
b. Semester
138
c. Jumlah Ponsel
d. Lama Waktu Online
139
Lampiran 6 Uji Normalitas
a. Skala Penggunaan Media Sosial
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
penggunaan media .121 302 .000 .968 302 .000
sosial
a. Lilliefors Significance Correction
b. Skala kecemasan Sosial
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
kecemasan .062 302 .007 .982 302 .001
sosial
a. Lilliefors Significance Correction
140
Lampiran 7 Uji Linearitas
ANOVA Table
Sum of Mean
Squares df Square F Sig.
kecemasan sosial Between (Combined) 62389.758 37 1686.210 16.967 .000
* penggunaan Groups Linearity 57322.857 1 57322.85 576.80 .000
medsos 7 2
Deviation from 5066.901 36 140.747 1.416 .066
Linearity
Within Groups 26236.457 264 99.381
Total 88626.215 301
141
Lampiran 8 Hipotesis
Correlations
X Y
X Pearson Correlation 1 .804**
Sig. (2-tailed) .000
N 302 302
Y Pearson Correlation .804** 1
Sig. (2-tailed) .000
N 302 302
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).