0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan161 halaman

Media Sosial dan Kecemasan Generasi Z

Diunggah oleh

rosmanidarzen
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan161 halaman

Media Sosial dan Kecemasan Generasi Z

Diunggah oleh

rosmanidarzen
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KECEMASAN

SOSIAL PADA KALANGAN GENERASI Z

SKRIPSI

Disusun Oleh :
Zhamira Daffa Andytra 210401110238

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2025
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KECEMASAN
SOSIAL PADA KALANGAN GENERASI Z

SKRIPSI

Diajukan kepada
Dekan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh
Gelar Sarjana Psikologi ([Link])

Oleh
Zhamira Daffa Andytra
NIM. 210401110238

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2025

i
ii
iii
NOTA DINAS
Kepada Yth.,
Dekan Fakultas Psikologi
UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
Assalamu’alaikum wr. wb.
Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi
terhadap naskah
Skripsi berjudul :
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KECEMASAN
SOSIAL PADA KALANGAN GENERASI Z
Yang ditulis oleh :
Nama : Zhamira Daffa Andytra
NIM : 210401110238
Program : S1 Psikologi
Saya berpendapat bahwa Skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas
Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk diujikan dalam Sidang Ujian
Skripsi.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Malang, 19 Maret 2025


Dosen Pembimbing I,

Dr. Nur Ila Ifawati, [Link]


NIP. 198412112023212031

iv
NOTA DINAS
Kepada Yth.,
Dekan Fakultas Psikologi
UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
Assalamu’alaikum wr. wb.
Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi
terhadap naskah
Skripsi berjudul :
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TERHADAP KECEMASAN
SOSIAL PADA KALANGAN GENERASI Z
Yang ditulis oleh :
Nama : Zhamira Daffa Andytra
NIM : 210401110238
Program : S1 Psikologi
Saya berpendapat bahwa Skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Fakultas
Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk diujikan dalam Sidang Ujian
Skripsi.
Wassalamu’alaikum wr. wb.

Malang, 19 Maret 2025


Dosen Pembimbing II,

Dr. Fathul Lubabin Nuqul, [Link]


NIP. 197605122003121002

v
vi
MOTTO

“A journey a thousand miles begins with a single step.”

"Belajar bukan soal lulus, tapi tentang tumbuh bersama waktu."

“Tetap sabar, semangat, dan tersenyum. Karena kamu sedang menimba ilmu di

Universitas Kehidupan. Allah menaruhmu di tempatmu yang sekarang bukan karena

kebetulan.”

-Dahlan Iskan

vii
HALAMAN PERSEMBAHAN

Pertama, saya ucapkan puji syukur kehadirat Alla SWT atas segala nikmat

yang berupa kesehatan, kekuatan, dan inspirasi yang sangat banyak dalam proses

penyelesaian skripsi ini. Shalawat serta salam selalu terlimpahkan pada Nabi

Muhammad SAW. Skripsi ini saya persembahkan sebagai bukti semangat usahaku

serta cinta dan kasih sayangku kepada orang-orang yang sangat berharga dalam

hidupku.

Untuk karya yang sederhana ini, maka penulis persembahkan untuk :

Ayah saya Alm. Budi Santoso dan Ibunda Anisatul Fauziah selaku orang tua yang

saya sayangi dan cintai. Alhamdulillah kini penulis sudah berada di tahap ini,

menyelesaikan karya tulis sederhana ini sebagai perwujudan terakhir sebelum ayah

pergi. Terimakasih sudah mengantarkan saya berada di tempat ini walaupun pada

akhirnya penulis berjuang tanpa semangat dari sosok ayah.

Saudara kandung saya Savana Aqnia Andytra yang turut memberikan doa, motivasi

dan dukungan. Tak lupa pula seluruh keluarga besar, sahabat, teman terbaikku yang

senantiasa memberikan dukungan dan kasih sayang ketika di masa terpuruk serta

membuat penulis sampai di titik ini.

Dosen pembimbing saya, Ustadzah Dr. Nur Ila Ifawati, [Link] selaku menjadi dosen

pembimbing pertama dan Dr. Fathul Lubabin, [Link], yang telah memberikan arahan,

motivasi, inspirasi, dan dosen terbaik sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

viii
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur peneliti haturkan kepada Allah SWT Sang Maha

mencintai makhluknya tanpa syarat dan senantiasa memberikan peneliti limpahan

rahmat, maaf, kasih, dan sayang sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

Shalawat serta salam senantiasa peneliti haturkan kepada Baginda Muhammad SAW

yang dinanti-nantikan syafaatnya khususnya di yaumil akhir.

Karya tulis ini merupakan salah satu wujud dari dukungan serta bantuan beberapa

pihak yang terlibat dalam prosesi perkuliahan jenjang S1. Oleh karenanya, peneliti

dengan rasa tulus dan hormat ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada :

1. Prof. Dr. M. Zainuddin, M.A. selaku rektor Universitas Islam Negeri Maulana

Malik Ibrahim Malang.

2. Dr. Hj. Rifa Hidayah, [Link]. selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas Islam

Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

3. Dr. Nur Ila Ifawati, [Link], selaku dosen pembimbing I skripsi serta menjadi wali

dosen sejak mahasiswa baru hingga saat ini.

4. Dr. Fathul Lubabin Nuqul, [Link], selaku dosen pembimbing II skripsi, motivatior,

dan navigator yang luar biasa dalam perjalanan hidup peneliti.

5. Seluruh sivitas akademika Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Maulana

Malik Ibrahim Malang utamanya Bapak/Ibu dosen atas segala arahan, bimbingan,

dan ilmu yang diberikan.

ix
6. Orang tua penulis, Bunda Anisatul Fauziah dan Alm. Ayah Budi Santoso, yang

telah memberikan seluruh dunianya untuk penulis, serta adik penulis, Savana

Aqnia Andytra dan seluruh sanak saudara yang memberikan dukungan dalam

kehidupan ini.

7. Seluruh teman- teman, sahabat terbaik, yang tidak bisa tercantum satu-persatu,

terima kasih senantiasa menemani penulis dalam keadaan sulit dan senang,

memberikan dukungan serta motivasi, dan memberikan doa di setiap langkah yang

penulis lalui sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan lancar.

8. Teman-teman Psikologi yang senantiasa mendukung dalam kebaikan,

membersamai dalam setiap langkah yang dilalui, dan saling memberikan motivasi

dalam meningkatkan semangat serta kemudahan untuk menyelesaikan ini.

9. Zhamira Daffa Andytra, ya! diri saya sendiri. Apreasisi sebesar-besarnya karena

telah bertanggung jawab untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Terimakasih karena terus berusaha dan tidak menyerah, serta senantiasa

menikmati setiap prosesnya yang bisa dibilang tidak mudah. Terimakasih sudah

bertahan.

10. Terima kasih kepada semua pihak-pihak yang sudah memberi bantuannya, semoga

Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan.

Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini memberikan manfaat sekaligus

kebaikan bagi para pembaca dan kemajuan keilmuan.

x
DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ........................................................................................................ i


LEMBAR PERSETUJUAN ....................................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN .......................................... Error! Bookmark not defined.
NOTA DINAS ............................................................................................................. iv
NOTA DINAS ............................................................................................................. iv
SURAT PERNYATAAN .............................................. Error! Bookmark not defined.
MOTTO ...................................................................................................................... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN............................................................................... viii
KATA PENGANTAR ................................................................................................ ix
DAFTAR ISI ............................................................................................................... xi
DAFTAR TABEL..................................................................................................... xiv
DAFTAR DIAGRAM ............................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................ xvi
ABSTRAK ............................................................................................................... xvii
ABSTRACT ............................................................................................................. xviii
‫ المستخلص الملخص‬.......................................................................................................... xix
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................................... 12
C. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 12
D. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 12
BAB II KAJIAN PUSTAKA .................................................................................... 16
A. Penggunaan Media Sosial ............................................................................. 16
1. Definisi Penggunaan Media Sosial .......................................................... 16
2. Karakteristik Media Sosial ....................................................................... 21
3. Faktor Media Sosial ................................................................................. 23
4. Dampak Media Sosial .............................................................................. 25
B. Kecemasan Sosial (Social Anxiety)............................................................... 32

xi
1. Pengertian Kecemasan Sosial (Social Anxiety) ........................................ 32
2. Aspek-aspek Kecemasan Sosial ............................................................... 39
3. Faktor-faktor Kecemasan Sosial .............................................................. 42
C. Hubungan Antar Penggunaan Media Sosial dengan Kecemasan Sosial ...... 47
D. Hipotesis ....................................................................................................... 51
BAB III METODE PENELITIAN .......................................................................... 52
A. Rancangan Penelitian .................................................................................... 52
B. Identifikasi Variabel...................................................................................... 53
C. Definisi Operasional ..................................................................................... 54
D. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling ....................................................... 55
1. Populasi .................................................................................................... 55
2. Sampel ...................................................................................................... 56
3. Teknik Sampling ...................................................................................... 57
E. Instrumen Pengukuran .................................................................................. 57
F. Analisis Data ................................................................................................. 61
BAB IV HASIL PENELITIAN ................................................................................ 65
A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ................................................................. 65
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................................ 65
2. Gambaran Umum Partisipan .................................................................... 69
3. Waktu dan Pelaksanaan Penelitian .......................................................... 77
4. Hambatan Dalam Pelaksanaan Penelitian ................................................ 78
B. Hasil Penelitian dan Analisis Deskriptif ....................................................... 78
1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas .......................................................... 78
2. Hasil Uji Asumsi ...................................................................................... 82
3. Analisis Deskriptif.................................................................................... 84
4. Uji Hipotesis............................................................................................. 95
C. Pembahasan................................................................................................... 96
1. Tingkat Kecenderungan Penggunaan Media Sosial Pada Generasi Z ..... 96
2. Tingkat Kecemasan Sosial Yang Dialami Oleh Generasi Z. ................. 102

xii
3. Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Kecemasan Sosial Pada
Kalangan Generasi Z................................................................................... 107
BAB V PENUTUP ................................................................................................... 116
A. Kesimpulan ................................................................................................. 116
B. Saran ........................................................................................................... 117
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 120
LAMPIRAN ............................................................................................................. 129

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Penilaian Skala Likert ................................................................................. 59


Tabel 3.2 The Scale for the Individual and Social Impact of Student ......................... 60
Tabel 3.3 Skala Liebowitz Social Anxiety Scale.......................................................... 61
Tabel 3.4 Kuosioner Tersebar Berdasarkan Gender ................................................... 71
Tabel 3.5 Berdasarkan Usia ........................................................................................ 72
Tabel 3.6 Berdasarkan Semester ................................................................................. 74
Tabel 4.1 Uji Validitas Penggunaan Media Sosial...................................................... 79
Tabel 4.2 Uji Validitas Kecemasan Sosial .................................................................. 80
Tabel 4.3 Hasil Uji Reliabilitas .................................................................................. 81
Tabel 4.4 Uji Normalitas Variabel .............................................................................. 82
Tabel 4.5 Uji Linearitas Variabel ................................................................................ 83
Tabel 4.6 Uji Deskripsi Skor Hipotetik dan Skor Empirik ......................................... 84
Tabel 4.7 Kategorisasi Data Penggunaan Media Sosial.............................................. 86
Tabel 4.7.1 Kategorisasi Aspek Intensity of Social Media Sosial Use................... 88
Tabel 4.7.2 Kategorisasi Aspek Social Media Use & Communication Preferences
................................................................................................................................ 89
Tabel 4.8 Kategorisasi Kecemasan Sosial .................................................................. 90
Tabel 4.8.1 Kategorisasi Aspek Performance Anxiety ................................................ 92
Tabel 4.8.2 Kategorisasi Aspek Social Anxiety ......................................................... 93
Tabel 4.9 Uji Hipotesis ............................................................................................... 95

xiv
DAFTAR DIAGRAM

Diagram 4.1 Jumlah Ponsel Responden ...................................................................... 75


Diagram 4.2 Waktu Online ......................................................................................... 76
Diagram 4.3 Kategorisasi Penggunaan Media Sosial ................................................. 87
Diagram 4.4 Kategorisasi Kecemasan Sosial.............................................................. 91

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Penggunaan Media Sosial ............................................................ 129


Lampiran 2 Skala Kecemasan Sosial ........................................................................ 131
Lampiran 3 Uji Validitas dan Reliabilitas ................................................................. 133
Lampiran 4 Kategorisasi dan Skor Responden Penelitian ........................................ 135
Lampiran 5 Hasil Demografi .................................................................................... 137
Lampiran 6 Uji Normalitas ....................................................................................... 139
Lampiran 7 Uji Linearitas ......................................................................................... 140
Lampiran 8 Hipotesis ................................................................................................ 141

xvi
ABSTRAK
Andytra, Zhamira Daffa (2025). Pengaruh Penggunaan Media Sosial terhadap
Kecemasan Sosial pada kalangan generasi Z. Skripsi. Fakultas Psikologi.
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Pembimbing 1 : Dr. Nur Ila Ifawati, [Link]


Pembimbing 2 : Dr. Fathul Lubabin Nuqul, [Link]
Kata Kunci : Penggunaan Media Sosial, Kecemasan Sosial, Generasi Z, Mahasiswa
Media sosial merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-
hari generasi Z, terutama dalam berkomunikasi, memperoleh informasi, dan
membangun interaksi sosial. Namun, penggunaan media sosial yang berlebihan juga
dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan sosial, dimana individu merasa kurang
percaya diri dalam interaksi langsung akibat lebih terbiasa berkomunikasi secara
daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat penggunaan media sosial dan
kecemasan sosial di kalangan mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
khususnya generasi Z serta menguji pengaruh penggunaan media sosial terhadap
kecemasan sosial. Kecemasan sosial merupakan perasaan takut atau cemas yang
berlebihan dalam situasi sosial, terutama ketika individu merasa diperhatikan, dinilai,
atau diharapkan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan
korelasional. Respondennya merupakan mahasiswa generasi Z di UIN Maulana Malik
Ibrahim Malang menggunakan kuosioner dengan sampel 302 orang yang dipilih
dengan menggunakan puposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala ” The
Scale for the Individual and Social Impact of Student” untuk mengukur kecenderungan
penggunaan media sosial dan skala “Liebowitz Social Anxiety Scale” untuk mengukur
kecenderungan kecemasan sosial. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis
dengan menggunakan uji korelasi pearson dengan bantuan aplikasi SPSS 25 for
windows.
Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya mayoritas generasi Z khususnya
mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki tingkat penggunaan
media sosial yang tinggi yakni sebesar 62,9% dan tingkat kecemasan sosial yang
sedang sebesar 48,7%. Hasil uji hipotesis menunjukkan adanya hubungan yang
signifikan antara penggunaan media sosial dengan kecemasan sosial (R=0,647;
p=0,000; p<0,05). Hal tersebut berarti bahwa penggunaan media sosial merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan sosial di kalangan generasi Z
yakni mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Semakin sering seseorang
menggunakan media sosial, semakin tinggi pula tingkat kecemasan sosial yang
dialami, terutama akibat tekanan sosial, perbandingan diri dengan orang lain, dan
berkurangnya interaksi sosial secara langsung.

xvii
ABSTRACT
Andytra, Zhamira Daffa (2025). The effect of Social Media Use on Social Anxiety
among generation Z. Thesis. Faculty of Psychology.
Maulana Malik Ibrahim State Islamic University Malang.

Supervisor 1 : Dr. Nur Ila Ifawati, [Link]


Supervisor 2 : Dr. Fathul Lubabin Nuqul, [Link]
Keyword : Social Media Use, Social Anxiety, Geration Z, College Students
Social media is an integral part of Generation Z’s daily life, especially in
communicating, obtaining information and building social interactions. However,
excessive use of social media is also associated with increased social anxiety, where
individuals feel less confident in in-person interactions due to being more accustomed
to communicating online. This study aims to determine the level of social media use
and social anxiety among students of UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, especially
generation Z and to examine the effect of social media use on social anxiety. Social
anxiety is an excessive feeling of fear or anxiety in social situations, especially when
individuals feel noticed, judged, or expected to interact with others.
The research method used is quantitative with a correlational approach. The
respondents were generation Z students at UIN Maulana Malik Ibrahim Malang using
a questionnaire with a sample of 302 people selected using puposive sampling. Data
collection used “The Scale for the Individual and Social Impact of Student” scale to
measure the tendency to use social media and the “Liebowitz Social Anxiety Scale”
scale to measure the tendency of social anxiety. The data that has been obtained is then
analyzed using the Pearson correlation test with the help of the SPSS 25 for Windows
application.
The results showed that the majority of generation Z, especially students at UIN
Maulana Malik Ibrahim Malang, had a high level of social media use, namely 62.9%
and a moderate level of social anxiety of 48.7%. The results of hypothesis testing
showed a significant relationship between social media use and social anxiety (R=0.6
p=0.000; p<0.05). This means that the use of social media is one of the factors that
can affect social anxiety among Generation Z students at UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang. The more often a person uses social media, the higher the level of social
anxiety experienced, especially due to social pressure, self-comparison with others,
and reduced direct social interaction.

xviii
‫المستخلص الملخص‬
‫ئنديترا‪ ،‬زهاميرا دفا (‪ ، ) 2025‬تأثير استخدام وسائل التواصل االجتماعي على القلق االجتماعي في أوساط جيل‬
‫زد‪ .‬رسالة جامعية‪ .‬كلية علم النفس‪ .‬جامعة مواالن مالك إبراهيم اإلسالمية الحكومية ماالنج‬

‫المشرفة ‪ :‬الدكتور نور إلى إفاوتي‪ ،‬الماجستر‬


‫المشرف ‪ :‬الدكتور فتح اللبب النقول ‪ ،‬الماجستر‬
‫الكلمات المفتاحية‪ :‬استخدام وسائل التواصل االجتماعي‪ ،‬القلق االجتماعي‪ ،‬جيل زد‪ ،‬الطالب الجامعيون‬
‫وسائل التواصل االجتماعي جزء ال يتجزأ من الحياة اليومية لجيل زد‪ ،‬ال سيما في التواصل‪ ،‬والحصول‬
‫على المعلومات‪ ،‬وبناء التفاعل االجتماعي‪ .‬ومع ذلك‪ ،‬فإن االستخدام المفرط لوسائل التواصل االجتماعي يرتبط‬
‫أيضًا بزيادة القلق االجتماعي‪ ،‬حيث يشعر األفراد بعدم الثقة في ال تفاعل المباشر نتيجة تعودهم على التواصل عبر‬
‫اإلنترنت‪ .‬تهدف هذه الدراسة إلى معرفة مستوى استخدام وسائل التواصل االجتماعي والقلق االجتماعي بين طالب‬
‫جامعة مواالن مالك إبراهيم اإلسالمية الحكومية ماالنج‪ ،‬خاصة من جيل زد‪ ،‬واختبار تأثير استخدام وسائل‬
‫التواصل االجتما عي على القلق االجتماعي‪ .‬القلق االجتماعي هو الشعور بالخوف أو القلق المفرط في المواقف‬
‫االجتماعية‪ ،‬خاصة عندما يشعر األفراد بأنهم موضع مراقبة أو تقييم أو متوقع منهم التفاعل مع اآلخرين‪.‬‬
‫تعتمد هذه الدراسة على المنهج الكمي ذو النهج االرتباطي‪ .‬شملت العينة طالب جامعة مواالن مالك‬
‫إبراهيم اإلسالمية الحكومية ماالنج جيل زد في ‪ ،‬حيث تم اختيار ‪ 302‬مشار ًكا باستخدام أسلوب أخذ العينات‬
‫الهادفة ‪ .‬تم جمع البيانات باستخدام مقياس التأثير الفردي واالجتماعي للطالب لقياس مدى استخدام وسائل التواصل‬
‫االجتماعي‪ ،‬ومقياس ليبوفيتز للقلق االجتماعي لقياس القلق االجتماعي‪ .‬ثم تم تحليل البيانات باستخدام اختبار‬
‫االرتباط بيرسون بمساعدة برنامج الحزمة اإلحصائية للعلوم االجتماعية ‪ 25‬لنظام ويندوز‪.‬‬
‫أظهرت نتائج الدراسة أن غالبية جيل زد‪ ،‬ال سيما طالب جامعة مواالن مالك إبراهيم اإلسالمية‬
‫الحكومية ماالنج لديهم مستوى عا ٍل من استخدام وسائل التواصل االجتماعي بنسبة ‪ %62.9‬ومستوى متوسط من‬
‫القلق االجتماعي بنسبة ‪ .%48.7‬كما أظهرت نتائج اختبار الفرضيات وجود عالقة ذات داللة إحصائية بين استخدام‬
‫وسائل التواصل االجتماعي والقلق االجتماعي (ف<‪; 0,05‬ف=‪; 0,000‬ر= ‪ )0,647‬وهذا يعني أن استخدام‬
‫وسائل التواصل االجتماعي يعد أحد العوامل التي يمكن أن تؤثر على القلق االجتماعي لدى جيل زد‪ ،‬أي طالب‬
‫جامعة مواالن مالك إبراهيم اإلسالمية الحكومية ماالنج ‪ .‬فكلما زاد استخدام الفرد لوسائل التواصل االجتماعي‪،‬‬
‫ارتفع مستوى القلق االجتماعي لديه‪ ،‬ال سيما بسبب الضغوط االجتماعية‪ ،‬والمقارنات مع اآلخرين‪ ،‬وانخفاض‬
‫التفاعل االجتماعي المباشر‪.‬‬

‫‪xix‬‬
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi pada generasi Z telah

memunculkan beberapa fenomena yang menarik dan mengkhawatirkan.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI tahun

2023, sekitar 68% dari anggota generasi Z mengecek media sosial mereka minimal

10 kali per jam. Selain itu, 72% dari mereka melaporkan mengalami kecemasan

jika tidak dapat mengakses media sosial dalam waktu yang relative singkat.

Perilaku ini menunjukan adanya ketergantungan yang tinggi terhadap media

sosial. Ketergantungan ini berkorelasi dengan munculnya berbagai gejala

kecemasan sosial di kalangan generasi Z. Dengan kata lain, semakin sering mereka

terhubung dengan media sosial, semakin besar pula dampak negatif yang mungkin

mereka alami terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan emosional mereka.

Perkembangan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi telah

secara drastis mengubah cara manusia berinteraksi, terutama dengan munculnya

media sosial yang kini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari

masyarakat modern. Generasi Z, yang terlahir antara tahun 1997 sampai 2012

adalah generasi pertama yang dibesarkan dalam lingkungan digital native, dimana

akses ke internet dan media sosial sudah menjadi hal biasa sejak usia dini

(Oktaviani & Khoirunisa, 2024). Menurut data dari We Are Social tahun 2023,

rata-rata penggunaan media sosial di Indonesia menghabiskan waktu sekitar 3 jam

1
2

17 menit setiap hari dengan generasi Z sebagai kelompok pengguna dominan

untuk mengakses berbagai platform media sosial.

Berbagai ahli memiliki pendapat yang berbeda mengenai rentang kelahiran

generasi Z. Berhate dan Dirani (2022) serta Gabrielova dan Buchko (2021)

menyatakan bahwa generasi Z mencakup individu yang lahir antara tahun 1995

hingga 2012. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Gentina (2020) dalam

bukunya The New Generation Z in Asia : Dynamics, Fifferences, Digitalisation,

yang menyebutkan bahwa generasi Z lahir pada pertengahan 1990-an hingga akhir

2000-an. Sementara itu, Atika dkk. (2020) mendefinisikan generasi Z sebagai

mereka yang lahir dalam rentang 1996 hingga 2010. McCrindle (2014)

berpendapat bahwa generasi Z mencakup kelahiran tahun 1995 hingga 2009,

sedangkan Francis dan Hoefel (2018) menyebutkan rentang tahun 1995 hingga

2010. Meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam penentuan tahun lahirnya,

secara umum, generasi Z dapat diperkirakan lahir antara pertengahan 1990-an

hingga tahun 2012.

Dalam era digital yang semakin berkembang, media sosial telah menjadi

bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Platfrom seperti Facebook,

Instagram, Twitter dan WhatsApp tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi

atau berbagi informasi, tetapi juga menjadi ruang bagi individu untuk mencari

dukungan sosial (De Laurita & Rusli, 2021). Dengan meningkatnya penggunaan

internet, semakin banyak orang yang beralih ke media sosial untuk mendapatkan
3

kenyamanan emosional, berbagi pengalaman, serta menerima dukungan dari

komunitas daring.

Media sosial telah menjadi platform utama bagi banyak orang untuk

mencari dukungan sosial secara online. Trend ini semakin meningkat karena

kemudahan akses dan anonimitas yang ditawarkan platform digital. Banyak

pengguna merasa lebih nyaman membagikan masalah pribadi mereka secara

online karena berkurangnya tekanan sosial yang biasa dirasakan dalam interaksi

tatap muka. Hal ini terlihat dari maraknya grup-grup dukungan di Facebook, forum

diskusi di WhatsApp, atau berbagi cerita melalui Instagram Stories (Ainun &

Yuni, 2018).

Dalam konteks pencarian dukungan sosial, media sosial memberikan

beberapa keuntungan yang unik. Pertama, pengguna dapat menemukan komunitas

yang memiliki pengalaman atau masalah serupa tanpa terikat oleh batasan

geografis. Sebagai contoh, di Amerika Serikat para penyintas kanker payudara

memanfaatkan platform Twitter untuk memperoleh informasi dan dukungan sosial

melalui penggunaan tagar #BCSM (The Breast Cancer Social Media), yang

bertujuan membantu mengurangi tingkat kecemasan mereka (Attai et al., 2015: 5).

Kedua, dukungan dapat diakses kapan saja, baik melalui komentar, pesan

langsung, maupun interaksi lainnya. Misalnya, di komunitas online seperti Rahasia

Gadis menciptakan lingkungan yang aman bagi para anggotanya untuk saling

berbagi pengalaman dan menerima dukungan, tanpa khawatir akan penilaian dari

orang lain, berkat adanya fitur anonimitas yang ditawarkan (Husna et al., 2024).
4

Ketiga, pengguna memiliki kendali penuh atas seberapa banyak informasi yang

ingin mereka bagikan dan dengan siapa mereka ingin berinteraksi.

O’Day dan Heimberg (2021), menyatakan bahwa individu yang

mengalami kecemasan sosial dan kesepian cenderung mencari dukungan melalui

media sosial, alih-alih mencari dukungan secara langsung. Tindakan ini dilakukan

sebagai upaya untuk mengatasi hambatan yang mereka hadapi, yang pada akhirnya

membuat mereka menjadi terlalu fokus pada penggunaan media sosial. Sementara

itu Pilkionien dkk (2021) menemukan bahwa kecemasan sosial yang dialami oleh

remaja berdampak negatif terhadap kualitas hidup mereka.

Meskipun hubungan antara media sosial dan kecemasan sosial kompleks

dan dapat berjalan dua arah, media sosial dapat berperan ganda dalam menghadapi

kecemasan sosial (O’day & Heimberg, 2021). Di satu sisi, media sosial dapat

membantu individu dengan kecemasan sosial untuk berlatih berinteraksi dalam

lingkungan yang lebih aman dan terkontrol (Permadi, 2022). Mereka dapat

membangun kepercayaan diri secara bertahap sebelum menghadapi interaksi tatap

muka. Platform digital juga memungkinkan mereka untuk tetap terhubung dengan

dunia sosial meskipun mengalami kesulitan dalam interaksi langsung (Niharika,

2024: hal 38-40).

Di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memperburuk

kecemasan sosial. Fenomena “social comparison” di media sosial, di mana

pengguna membandingkan kehidupan mereka dengan tampilan sempurna

kehidupan orang lain, dapat meningkatkan perasaan tidak mampu dan kecemasan
5

(Tedjawidjaja & Christanti, 2022). Selain itu, ketergantungan berlebihan pada

interaksi online dapat menghambat pengembangan keterampilan sosial dalam

dunia nyata dan menciptakan siklus yang memperkuat kecemasan sosial

(Simarmata & Citra, 2020: hal 18).

Studi terbaru menunjukkan bahwa kualitas penggunaan media sosial lebih

penting daripada kuantitasnya. Menurut Darusman dkk (2021) menyatakan

pengguna yang secara aktif menggunakan media sosial untuk membangun

hubungan yang berarti dan mencari dukungan yang konstruktif cenderung

merasakan manfaat positif (Anggraini et al., 2022: hal 1592). Sebaliknya,

penggunaan pasif, seperti hanya menggulir tanpa melakukan interaksi atau

membandingkan diri dengan orang lain, cenderung meningkatkan kecemasan

sosial (Gunawan et al., 2022).

Kecemasan sosial merupakan suatu kondisi di mana seseorang merasakan

ketakutan atau kekhawatiran yang berlebihan saat berinteraksi dengan orang lain.

Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari, seperti dalam situasi sosial,

pekerjaan atau pendidikan (Jatmiko, 2017). Generasi Z, yang tumbuh di era

teknologi dan media sosial, mungkin lebih rentan terhadap kecemasan sosial. Hal

ini disebabkan oleh kebiasaan mereka yang sering membandingkan diri dengan

orang lain, terpapar kritik di dunia maya, serta tekanan untuk selalu tampil

sempurna di berbagai platform (Astaningtias & Andhini, 2023). Akibatnya,

mereka dapat merasa kurang percaya diri dan mengalami stress saat harus

berkomunikasi dengan teman atau bertemu dengan orang baru.


6

Fenomena kecemasan sosial yang berkaitan dengan penggunaan media

sosial di kalangan generasi Z semakin diperkuat oleh hasil berbagai penelitian

sebelumnya. Dalam studi yang dilakukan oleh Rahman et al. (2022) terhadap 450

mahasiswa, ditemukan bahwa adanya hubungan positif (r = 0,67) antara durasi

penggunaan media sosial dan tingkat kecemasan sosial. Selain itu, penelitian

longitudinal yang dilakukan oleh Chen dan Wong (2023) mengungkapkan bahwa

terdapat peningkatan sebesar 45% dalam gejala kecemasan sosial selama periode

dua tahun pengamatan pada pengguna aktif media sosial dari generasi Z. Temuan

ini juga didukung oleh penelitian kuantitatif oleh Putri dan Handayani (2021) yang

mengidentifikasikan budaya perbandingan di media sosial sebagai faktor utama

yang berkontribusi terhadap munculnya kecemasan sosial di kalangan remaja.

Hubungan kompleks antara penggunaan media sosial dan kecemasan sosial

pada generasi Z tampak jelas melalui berbagai manifestasi psikologis yang

muncul. Fear of Missing Out (FOMO), anxiety related to social comparison, and

validation seeking behavior menjadi fenomena yang semakin umum ditemukan di

kalangan generasi ini. Mereka sering merasa khawatir bahwa mereka akan

melewatkan momen penting atau tidak dapat menikmati aktivitas karena sibuk

memeriksa akun media sosial mereka. Selain itu, perbandingan diri sendiri dengan

orang lain di platform seperti Instagram, Facebook, Twitter juga menyebabkan

stress dan rasa kurang percaya diri (Sutanto et al., 2020).

Menurut data dari Asosiasi Psikologi Sosial Indonesia tahun 2023,

sebanyak 65% pengguna media sosial dari generasi Z mengalami kecemasan


7

terkait jumlah likes dan komentar yang mereka terima. Hal ini menunjukan betapa

signifikan pengaruh dari interaksi online dalam membantuk self-esteem individu.

Bukan hanya itu, 71% dari mereka merasa tertekan untuk selalu menampilkan

konten yang sempurna di media sosial mereka. Ini mencerminkan tekanan internal

untuk mendapatkan validasi dari pihak luar melalui tampilan virtual yang ideal.

Kecemasan sosial muncul dari kekhawatiran individu tentang penilaian

orang lain terhadap mereka, dan jika tingkat kekhawatiran ini cukup tinggi, dapat

berdampak negatif pada pola komunikasi seseorang (Schlenker & Leary, 1985).

Meskipun kecemasan sosial yang dialami sesekali adalah hal yang umum bagi

anak-anak dan orang dewasa, kondisi ini dapat menjadi patologis pada sekitar 12%

orang dewasa, biasanya sebelum mencapai usia 20 tahun (Gangguan Kecemasan

Sosial, November 2017). Ketika kecemasan sosial berkembang menjadi masalah

yang lebih serius, hal ini dapat secara kronis mempengaruhi kualitas dan kuantitas

interaksi serta hubungan sosial mereka. Selain itu, kecemasan sosial juga

merupakan faktor resiko utama untuk perkembangan penyakit depresi dan

penyalahgunaan zat di kemudian hari (Stein & Stein, 2008).

Dalam diskursus psikologi klinis, istilah “kecemasan sosial” dan “fobia

sosial” sering digunakan secara bergantian, meskipun keduanya memiliki nuansa

dan karakteristik yang berbeda (Pratiwi et al., 2019). Kecemasan sosial

didefinisikan sebagai respons emosional yang umum terhadap situasi sosial yang

dianggap mengancam atau berpotensi menimbulkan evaluasi negatif dari orang

lain. Menurut Watson dkk (1969), kecemasan sosial memiliki spektrum yang luas,
8

mulai dari tingkat ringan hingga berat. Individu dengan kecemasan sosial sering

kali merasa cemas atau gelisah ketika harus berinteraksi dengan orang lain,

terutama dalam situasi baru atau ketika mereka merasa diawasi.

Gejala kecemasan sosial dapat bervariasi antar individu, tetapi umumnya

mencakup aspek afektif, fisiologis, kognitif dan perilaku (Nugraha, 2020). Dari

segi afektif, individu mungkin merasakan ketegangan dan kekhawatiran yang

berlebihan tentang bagaimana mereka akan dinilai oleh orang lain. Secara

fisiologis, gejala dapat berupa peningkatan detak jantung, berkeringat atau bahkan

mual dapat menghadapi situasi sosial. Dalam aspek kognitif, individu mungkin

mengalami pikiran negatif yang berulang tentang kemungkinan penilaian buruk

dari orang lain. Sementara itu, dari segi perilaku mereka cenderung menghindari

interaksi sosial atau situasi di mana mereka merasa terancam untuk dievaluasi

(Gall W., 2006: 149).

Selain itu, banyak pengguna internet mengalami apa yang dikenal sebagai

“ilusi keamanan digital”. Mereka merasa terlindungi oleh anonimitas yang seolah-

olah diberikan oleh internet, sehingga berpikir bahwa mereka terlindungi saat

online (Nurul dkk, 2024). Perasaan ini seringkali membuat seseorang kurang

berhati-hati, seperti membagikan informasi pribadi atau menggunakan kata sandi

yang lemah. Psikolog John Suler (2004) menjelaskan fenomena ini dengan istilah

“efek disinhibisi online” di mana orang merasa lebih bebas dan tidak terhambat

saat berinteraksi di dunia maya dibandingkan dengan interaksi langsung.


9

Efek disinhibisi online muncul karena beberapa faktor, terutama

anonimitas dan ketidaknampakan (Difa dkk, 2024). Ketika seseorang

berkomunikasi secara online, mereka tidak terlihat oleh orang lain, sehingga

merasa lebih leluasa untuk mengekspresikan diri tanpa takut akan penilaian. Hal

ini dapat membuat mereka lebih terbuka, tetapi juga dapat menyebabkan perilaku

negatif, seperti berbicara kasar atau melakukan penipuan (Febriana, 2024). Suler

(2004) mengidentifikasi dua jenis efek disinhibisi, yakni : Benign Disinhibition,

dimana individu lebih terbuka dan berbagi emosi positif, sedangkan Toxic

Disinhibition, yang merupakan bentuk kemunculan perilaku agresif dan

merugikan.

Kondisi ini menciptakan tantangan besar dalam konteks keamanan digital.

Pengguna yang merasa aman mungkin tidak menyadari resiko yang mereka hadapi

saat membagikan informasi pribadi atau berinteraksi dengan orang asing secara

online (Ratnadewati & Oktarina, 2024). Misalnya, seseorang mungkin merasa

nyaman membagikan lokasi mereka di media sosial tanpa mempertimbangkan

potensi ancaman terhadap privasi dan keamanannya. Selain itu, penggunaan kata

sandi yang lemah atau pengabaian terhadap pengaturan privasi juga dapat

meningkatkan kerentanan terhadap serangan cyber (Lesmana & Nasution, 2025).

Memahami bahwa meskipun kecemasan sosial adalah reaksi normal

terhadap situasi sosial yang menantang, ketika kecemasan tersebut menjadi

berlebihan dan tidak terkendali, intervensi klinis mungkin saja diperlukan. Terapi

perilaku kognitif (CBT) adalah salah satu pendekatan yang efektif untuk mengatasi
10

kecemasan sosial. pendekatan ini membantu inidvidu mengenali dan mengubah

pola pikir negatif serta meningkatkan keterampilan sosial mereka. Selain itu,

dukungan dari kelompok atau komunitas juga dapat memberikan rasa aman bagi

individu yang mengalami kecemasan sosial untuk berbagi pengalaman dan

mendapatkan bantuan.

Dengan demikian, kompleksitas hubungan antara penggunaan media sosial

dan kecemasan sosial pada generasi Z sangatlah nyata. Perilaku tersebut tidak

hanya menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi digital

tetapi juga berkorelasi dengan munculnya gejala-gejala mental yang negative

secara kompleks. Oleh karena itu, penting bagi orang tua, pendidik, serta

profesional kesehatan mental untuk memberikan edukasi dan dukungan yang tepat

kepada generasi ini agar mereka bisa mengelola dampak positif maupun negatif

dari penggunaan media sosial secara bijaksana.

Dalam studi terbaru menunjukkan adanya hubungan positif antara

dukungan teman sebaya di media sosial dan kesejahteraan remaja, yang

mengindikasikan bahwa media sosial dapat berperan dalam meningkatkan suasana

hati mereka. Dampak positif dari media sosial mencakup peningkatan empati dan

pembentukan identitas, karena platform ini menyediakan ruang terbuka bagi

remaja untuk berbagai minat dan pengalaman pribadi (Allen et al, 2014; Hur &

Gupta, 2013; Manago, Taylor & Greenfield, 2012; Rajamohan, Bennet & Tedone,

2019).
11

Namun, penelitian epidemiologi skala besar menunjukkan adanya

hubungan negatif antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental. Studi-

studi ini menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat

menyebabkan berbagai gangguan mental, termasuk depresi, kecemasan, gangguan

panik, perilaku nakal, dan dukungan sosial yang lebih buruk (Barry et al., 2017;

Primack & Escobar-Viera, 2017; Rajamohan et al., 2019; Ralph et al., 2011;

Richards et al., 2015).

Sebuah studi terkini juga menemukan bahwa generasi saat ini dengan

penggunaan media sosial yang tinggi secara keseluruhan lebih mungkin

mengalami gejala-gejala tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Vannucci dan

Ohannessian (2019) mengklasifikasikan penggunaan media sosial dengan skor

frekuensi yang berbeda, mulai dari “tidak pernah” hingga “hampir terus-menerus”.

Mereka menemukan bahwa generasi Z yang menggunakan media sosial dengan

frekuensi yang lebih tinggi, seperti beberapa kali sehari atau hampir terus menerus

semakin besar kemungkinan mengalami gangguan mental seperti depresi dan

gangguan panik.

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan

tidak hanya memiliki dampak negatif pada kesehatan mental, tetapi juga dapat

mempengaruhi hubungan sosial dan perilaku mereka. Oleh karena itu, penting

untuk menggunakan media sosial dengan bijak dan sadar akan dampaknya

terhadap kesehatan mental dan psikologis


12

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, rumusan masalah dari penelitian ini

antara lain :

1) Bagaimana tingkat kecenderungan penggunaan media sosial pada kalangan

generasi Z?

2) Bagaimana tingkat kecemasan sosial yang dialami oleh generasi Z ?

3) Bagaimana pengaruh penggunaan media sosial terhadap kecemasan sosial

pada kalangan generasi Z ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah di paparkan, maka tujuan dalam

penelitian ini antara lain :

1) Memaparkan tingkat kecenderungan penggunaan media sosial pada kalangan

generasi Z.

2) Memaparkan tingkat kecemasan sosial yang dialami oleh generasi Z.

3) Menganalisis pengaruh penggunaan media sosial terhadap kecemasan sosial

pada kalangan generasi Z.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian dibagi menjadi dua, yakni :

1) Manfaat Teoritis
13

Penelitian ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu

pengetahuan, tetapi juga membentuk dasar kuat untuk penelitian lanjutan dan

pengembangan penerapan secara praktis. Pemahaman teoritis yang diperoleh

dapat menjadi fondasi untuk mengembangkan solusi yang lebih efektif dalam

mengatasi tantangan kesehatan mental di era digital, khususnya dalam konteks

kecemasan sosial pada generasi Z.

2) Manfaat Praktis

Bagi institusi pendidikan, temuan penelitian ini dapat dijadikan dasar

untuk mengembangkan program literasi digital yang lebih efektif dan

terstruktur. Institusi dapat merancang kurikulum khusus yang mencakup

materi mengenai penggunaan media sosial yang sehat, strategi untuk

mengelola kecemasan sosial, serta pengembangan keterampilan sosial yang

seimbang antara interaksi online dan offline. Program-program ini dapat

diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran maupun kegiatan

ekstrakurikuler, sehingga membantu siswa membangun hubungan yang lebih

sehat dengan media sosial.

Lalu, dalam konteks kesehatan mental, hasil penelitian ini memberikan

manfaat praktis bagi para profesional kesehatan mental seperti psikolog,

konselor, dan terapis. Para ahli ini dapat menggunakan temuan penelitian

untuk pengembangan protokol asesmen dan intervensi yang lebih tepat

sasaran dalam menangani kasus kecemasan sosial yang berkaitan dengan

penggunaan media sosial. pemahaman yang lebih mendalam tentang


14

mekanisme pembentukan kecemasan sosial di era digital memungkinkan

pengembangan teknik terapi yang lebih sesuai dengan karakteristik dan

kebutuhan generasi Z. Selain itu, hasil penelitian ini dapat membantu dalam

merancang program pencegahan dan intervensi dini untuk mengurangi resiko

berkembangnya gangguan kecemasan sosial yang lebih serius.

Selanjutnya, bagi orang tua dan pengasuh, penelitian ini memberikan

panduan praktis dalam mendampingi anak-anak dan remaja generasi Z agar

dapat menggunakan media sosial dengan cara yang sehat. Hasil ini akan dapat

membantu orang tua mengenali tanda-tanda awal kecemasan sosial yang

mungkin muncul akibat penggunaan media sosial, serta memberikan strategi

konkret untuk mendukung anak-anak mereka dalam membangun hubungan

yang positif dengan platform digital. Selain itu, pemahaman ini juga

memungkinkan orang tua untuk menetapkan batasan dan aturan yang sesuai

terkait penggunaan media sosial, sambil tetap mempertimbangkan kebutuhan

sosial dan perkembangan anak mereka.

Selain itu, dapat juga memberikan manfaat bagi pengembangan platform

media sosial dan profesional teknologi. Dengan memahami bagaimana fitur-

fitur tertentu dalam media sosial dapat mempengaruhi kesehatan mental

penggunanya, pengembang dapat merancang platform yang lebih

memperhatikan aspek kesejahteraan mental pengguna. Hal ini dapat

mencakup pengembangan fitur yang mendorong penggunaan media sosial

yang lebih sehat, mengimplementasikan sistem peringatan untuk penggunaan


15

berlebihan, serta penggunaan tools untuk mengelola paparan terhadap konten

yang berpotensi memicu kecemasan. Dengan demikian, platform media sosial

dapat menjadi lebih ramah dan responsif terhadap kebutuhan kesehatan

mental pengguna.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penggunaan Media Sosial

1. Definisi Penggunaan Media Sosial

Dikutip dari laporan Hootsuite (We Are Social) mengenai Digital Report

Indonesia 2021, jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 170 juta

jiwa yang setara dengan 61,8% dari total populasi negara tersebut. Media

sosial berfungsi sebagai platform yang memungkinkan individu untuk

bertemu dan berbagi dengan sesama pengguna. Popularitas media sosial

semakin meningkat karena memberikan kemudahan dan kesempatan bagi

masyarakat untuk terhubung dan membangun jaringan satu sama lain melalui

internet. Dengan fitur interaktif yang ditawarkan, media sosial telah menjadi

alat penting dalam memperkuat hubungan sosial di era digital ini.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata penggunaan merupakan sebagai

proses, cara, atau perbuatan dalam memanfaatkan atau memakai (KBBI,

2002:852). Istilah ini mencakup berbagai konteks, baik dalam kehidupan

sehari-hari, pekerjaan, maupun dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi,

yang dimana suatu alat, metode, atau sumber daya digunakan secara efektif

dengan kebutuhan. Dalam penelitian ini penggunaan merujuk pada

pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi berupa media sosial yang

digunakan oleh generasi Z dalam kehidupan sehari-hari.

16
17

Media berasal dari bahasa Latin yaitu medius yang artinya “tengah”, dan

merupakan bentuk jamak dari kata medium. Secara harfiah, medium berarti

perantara atau pengantar. Sementara itu, kata sosial mengacu pada realitas

sosial di mana setiap individu melakukan tindakan yang berdampak atau

berkontribusi terhadap masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa pada

dasarnya, media beserta seluruh perangkat lunaknya bersifat sosial, dalam arti

bahwa keduanya merupakan hasil dari proses sosial (Durkheim dalam Fuchs,

2014). Dalam konteks ini, media berfungsi sebagai perantara dalam proses

komunikasi dan interaksi antar pengguna melalui platform digital. Media

sosial memungkinkan individu untuk berbagi informasi, ide, dan pendapat

secara cepat dan luas, menjadikannya sebagai alat komunikasi modern yang

sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari.

Media dan seluruh perangkat lunak dapat dipahami sebagai entitas

“sosial”, karena keduanya terbentuk melalui proses interaksi dan konstruksi

sosial dalam masyarakat (Mulawarman & Nurfitri, 2017). Hal ini sejalan

dengan pendapat Nasrullah (2015) media sosial adalah medium di internet

yang memungkinkan pengguna untuk merepresentasikan dirinya, serta

berinteraksi, bekerja sama, berbagi, dan berkomunikasi dengan pengguna lain

guna membentuk ikatan sosial secara virtual. Media sosial juga berperan

sebagai ruang terbuka yang memfasilitasi pertukaran informasi dan

membangun jejaring sosial tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu.


18

Menurut Chris Heuer (2010) penggunaan media sosial dapat

didefinisikan melalui empat elemen kunci yang dikenal sebagai 4C, antara

lain:

a) Context

Konteks dalam penggunaan media sosial berkaitan dengan cara meyusun

pesan dengan memperhatikan pemilihan bahasa yang tepat. Pengelolaan

bahasa ini yang sering disebut sebagai copywriting yang sangat penting

untuk menciptakan konteks yang sesuai dan menarik bagi audiens.

Dengan konteks yang tepat, pesan yang akan disampaikan dapat lebih

mudah dipahami dan diterima oleh pengguna.

b) Communication

Komunikasi dalam media sosial melibatkan proses berbagi informasi

yang meliputi mendengarkan, membaca dan memberikan respons. Ini

menekankan pentingnya interaksi dua arah, di mana pengguna tidak

hanya menyampaikan informasi tetapi juga aktif terlibat dalam

percakapan dengan orang lain. Komunikasi yang efektif di media sosial

dapat meningkatkan keterlibatan dan membangun hubungan yang lebih

kuat antara pengguna.

c) Collaboration

Kolaborasi dalam media sosial merujuk pada kemampuan platform ini

untuk mempertemukan berbagai pihak untuk bekerja sama mencapai

tujuan tertentu. Media sosial menyediakan ruang bagi individu dan


19

organisasi untuk berkolaborasi, berbagi ide dan mengembangkan proyek

bersama. Misalnya, kolaborasi di media sosial dapat menciptakan

kemitraan yang bermanfaat antara influencer dan merek atau antara

seniman dalam proyek seni kolaboratif (Digima, 2021).

d) Connection

Koneksi dalam konteks media sosial berfokus pada pemeliharaan

hubungan yang telah terjalin dengan pengguna lain. Media sosial

memungkinkan individu untuk tetap terhubung dengan teman, keluarga

dan kolega, meskipun jarak fisik memisahkan mereka. memelihara

koneksi ini penting untuk membangun jaringan sosial yang kuat dan

mendukung interaksi yang berkelanjutan.

Media sosial adalah platform di internet yang memungkinkan

penggunanya untuk mengekspresikan diri, berinteraksi, berkolaborasi,

berbagi informasi, dan membangun hubungan sosial secara virtual dengan

pengguna media sosial lainnya (Nashrullah, 2015). Sosial media merupakan

platfrom online mendukung interaksi antar pengguna dengan memanfaatkan

teknologi yang berbasis website dan dapat mengubah komunikasi menjadi

dialog yang lebih interaktif. Saat ini, terdapat beberapa situs media sosial yang

popular, antara lain : WhatsApp, Facebook, YouTube, Twitter, Instagram,

blog lainnya (Doni, 2017).


20

Menurut Ardianto dalam bukunya yang berjudul komunikasi massa,

tingkat pengguna media dapat diukur melalui frekuensi dan durasi

penggunaanya. Lometti, Reeves dan Bybee mengidentifikasi tiga hal yang

penting dalam penggunaan media oleh individu, yaitu :

a. Jumlah waktu, hal ini berkaitan dengan frekuensi, intensitas dan durasi

yang digunakan saat mengakses situs media.

b. Isi media, pemilihan media dan metode yang tepat sangat penting agar

pesan yang ingin disampaikan dapat dikomunikasikan dengan efektif.

c. Hubungan media dengan individu, ini merujuk pada keterkaitan antara

pengguna da media sosial yang mereka gunakan.

Teori Uses and Gratifications menekankan pada proses penerimaan

dalam komunikasi serta menjelaskan bagaimana individu menggunakan

media sosial. Teori ini berasumsi bahwa setiap pengguna memiliki berbagai

pilihan untuk memenuhi kebutuhannya (Nurudin, 2003:181). Dalam hal ini,

manusia memiliki kebebasan dalam menilai serta memanfaatkan media.

Sehingga dapat menentukan sendiri bagaimana mereka akan menggunakan

media tersebut. Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh M.

Zuwairi M. S. (2019) menemukan bahwa media sosial mempermudah dalam

komunikasi tanpa adanya batasan jarak dan waktu. Selain itu, media sosial

juga memungkinkan individu untuk mengakses informasi yang relevan dan

meningkatkan interaksi sosial antara penggunanya. Dengan adanya

kebebasan dalam memanfaatkan media, individu dapat menyesuaikan


21

penggunanya sesuai dengan kebutuhan mereka, baik untuk keperluan edukasi,

komunikasi, maupun hiburan.

Penggunaan layanan media sosial, seperti Facebook, YouTube, dan

blog, telah mengalami lonjakan yang signifikan dalam beberapa tahun

terakhir. Layanan media sosial dapat dikategorikan menjadi enam jenis:

penerbitan dan distribusi konten, berbagi konten, situs jejaring sosial,

produksi kolaboratif, dunia virtual, dan add-on (Silius et al., 2011).

Fungsi media sosial sangat luas, mulai dari sebagai sarana interaksi

sosial antar individu hingga sebagai pendukung penyebaran pengetahuan dan

informasi yang lebih luas. Media sosial juga berperan dalam

mentransformasikan praktik komunikasi dari yang sebelumnya bersifat satu

arah, seperti yang terjadi pada media tradisional menjadi praktik komunikasi

yang lebih interaktif dan dialogis antara audiens. Dengan demikian, media

sosial tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi, tetapi juga

memperluas jangkauan interaksi sosial di era digital ini.

2. Karakteristik Media Sosial

Media sosial memiliki enam karakteristik yang dijelaskan oleh Mitra

dan Cohen, sebagaimana diungkapkan dalam penelitian Kade Galuh (2016).

Keenam karakteristik tersebut adalah sebagai berikut :

a. Intertextuality, setiap teks di media sosial memiliki tautan atau hubungan

dengan teks lainnya. Artinya, konten yang dipublikasikan tidak pernah


22

tunggal dan selalu terkait dengan konteks lain yang ada di platform

tersebut.

b. Nonlinearity, struktur kontennya tidak linear, sehingga tidak ada awal dan

akhir yang pasti. Topik yang berakhir dapat menjadi tema baru dan

pengguna dapat berinteraksi dengan konten secara fleksibel tanpa batasan

kronologis.

c. Blurring Reader/Writer Distinction, pembedaan antara pembaca dan

penulis menjadi kabur. Seorang pengguna media sosial tidak hanya dapat

menghasilkan konten tetapi juga menjadi konsumen dari konten yang

sama, membuat menjadi actor dual dalam proses komunikasi.

d. Multimediality, media sosial mencakup berbagai jenis media seperti

gambar, suara an teks yang saling melengkapi untuk memberikan

pengalaman interaktif yang lebih luas bagi pengguna

e. Global Reach, internet memiliki sifat global sehingga konten dapat

disebarkan secara luas tanpa adanya batasan geografis atau waktu. Ini

memungkinkan informasi untuk diakses oleh orang-orang dari seluruh

dunia dengan mudah

f. Ephemerality, kontennya cenderung tidak stabil karena dapat dihapus

baik secara sengaja maupun tidak oleh pengguna. Hal ini membuat teks

dalam media sosial rentan terhadap perubahan dan kehilangan seiring

berjalannya waktu.
23

3. Faktor Media Sosial

Menurut Topaloglu, dkk (2016) merupakan penggunaan media sosial

mencerminkan tingkat ketertarikan individu terhadap media sosial, yang dapat

ditinjau dari sikap individu terhadap tujuan penggunaan serta preferensinya

dalam berkomunikasi secara daring. Topaloglu, dkk (2016) mengidentifikasi

sejumlah faktor yang memengaruhi perilaku individu dalam menggunakan

media sosial, yakni :

a. Tujuan Penggunaan Media Sosial

Tujuan seseorang dalam menggunakan media sosial mencerminkan

tingkat dorongan atau keinginannya yang terlihat dari sikap terhadap

media sosial itu sendiri. Pengguna yang memiliki pandangan positif

terhadap media sosial cenderung lebih sering mengaksesnya dan

menganggapnya sebagai sesuatu yang berguna.

b. Preferensi Komunikasi Melalui Media Sosial

Preferensi komunikasi melalui media sosial menunjukkan sejauh mana

individu lebih memilih berkomunikasi secara daring dibandingkan

dengan komunikasi langsung atau tatap muka. Pengguna yang memiliki

sikap positif terhadap media sosial cenderung lebih menyukai komunikasi

online (daring) daripada komunikasi offline (luring) (Topaloglu et al.,

2016).
24

Sedangkan, dalam penelitian oleh Julianti dan Clara (2020) menjelaskan

terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keinginan untuk menggunakan

media sosial, yakni :

1) Perilaku Pencarian Informasi (Information Seeking Behavior)

Media sosial berfungsi sebagai sumber informasi yang luas dan

mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk budaya, sosial, ekonomi,

agama, dan tradisi. Dalam konteks ini, media sosial dapat dianggap

sebagai ensiklopedia global yang terus berkembang (Kemendag, 2014).

Kemajuan teknologi digital telah mempermudah penyampaian informasi

kepada masyarakat, sehingga pencarian informasi melalui media sosial

semakin menggantikan metode konvensional seperti media cetak, radio,

dan televisi. Hal ini mendorong individu untuk aktif menggunakan media

sosial sebagai alat untuk mendapatkan informasi yang relevan dan terkini.

Dengan akses yang cepat dan mudah, pengguna dapat mengikuti berita

terbaru, tren, dan berbagai topik menarik lainnya, serta terlibat dalam

diskusi yang memperkaya pengetahuan mereka.

2) Perilaku Mencari Hiburan dalam Mengisi Waktu Luang (Hedonic

Behavior)

Perilaku ini berkaitan dengan pencarian kesenangan dan kepuasan

pribadi. Media sosial menawarkan berbagai konten hiburan yang dapat

dinikmati oleh pengguna, mulai dari video lucu hingga musik. Menurut
25

APJII (2016), banyak pengguna mengunjungi situs hiburan seperti Iflix

untuk menonton film atau Spotify untuk mendengarkan musik saat

mengisi waktu luang. Dengan demikian, media sosial menjadi sarana

yang efektif bagi individu untuk bersantai dan menikmati waktu mereka.

Selain itu, platform ini juga memungkinkan pengguna untuk berbagi

konten hiburan dengan teman-teman mereka, menciptakan pengalaman

sosial yang lebih menyenangkan dan interaktif.

3) Rasa Kekomunitasan (Sense Of Community)

Rasa kekomunitasan mencerminkan kebutuhan individu untuk

membangun hubungan sosial melalui media sosial. Menurut Scheepers,

Stockdale, dan Nurdin (2014), interaksi di media sosial memungkinkan

individu untuk bertukar pandangan dan saling mengenal lebih baik,

sehingga terjalin ikatan emosional yang kuat. Media sosial berfungsi

sebagai platform untuk menjalin relasi sosial yang lebih luas,

memudahkan komunikasi antarindividu dan memperkuat rasa

kebersamaan di antara pengguna. Dengan adanya grup atau komunitas

online berdasarkan minat yang sama, individu dapat merasa lebih

terhubung dan mendapatkan dukungan dari orang lain dalam suasana

yang lebih santai.

4. Dampak Media Sosial

Menurut Djarijah (2022, hal 15) menjelaskan jika penggunaan media

sosial saat ini berlangsung hampir setiap saat dan mengalami perkembangan
26

yang pesat. Munculnya berbagai aplikasi media sosial yang semakin popular

di kalangan Masyarakat membawa dampak yang signifikan, baik positif

maupun negatif bagi penggunanya.

Media sosial memudahkan komunikasi dan berbagi informasi,

memungkinkan individu untuk terhubung dengan orang lain di seluruh dunia

dengan cepat. Namun di sisi lain, penggunaan media sosial yang berlebihan

dapat menimbulkan masalah seperti kecanduan, penurunan interaksi sosial

secara langsung, serta dampak negatif terhadap kesehatan mental. Isu-isu

seperti cyberbullying dan penyebaran informasi palsu juga menjadi tantangan

serius yang muncul akibat interaksi di platfromnya.

Terdapat dampak positif dan negatif dalam pengunaan media sosial, antara

lain :

a. Dampak Positif

Dampak positif dari penggunaan media sosial dapat dilihat dari beberapa

hal (Endah Triastuti : 64, 2017), yakni :

1) Mengembangkan Relasi Pertemanan

Media sosial sebagai jejaring sosial membantu penggunanya

untuk terhubung dan berkomunikasi dengan siapa saja dalam

jaringan, baik orang yang dikenal maupun orang asing. Interaksi

dapat dibangun melalui chatting, saling share dan juga komentar

antar pengguna. Selain itu, media sosial juga membantu

meningkatkan jumlah pertemanan atau followers dalam akun


27

Facebook, Instagram dan Twitter. Dengan adanya fitur-fitur yang

mendukung interaksi ini, pengguna dapat memperluas jaringan sosial

individu dan menjalin hubungan yang lebih erat dengan orang-orang

di sekitarnya. Hal ini tidak hanya meningkatkan kemampuan sosial

tetapi juga memberikan kesempatan untuk bertukar ide dan

pengalaman dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.

Media sosial juga memungkinkan pengguna untuk tetap terhubung

dengan teman-teman lama, sehingga memperkuat ikatan yang

mungkin sudah mulai pudar akibat jarak fisik.

2) Sebagai Media Informasi

Pengguna media sosial memiliki akses yang mudah dan cepat

untuk memperoleh informasi terkini melalui situs jejaring sosial.

Berbagai jenis informasi yang dibagikan di platform ini mencakup

topik-topik penting seperti pendidikan, kesehatan, hiburan dan tren

gaya hidup. Dengan demikian, pengguna dapat mengakses beragam

informasi yang relevan dan update. Media sosial memungkinkan

pengguna untuk mengikuti akun-akun yang menyediakan konten

informatif dan edukatif, sehingga dapat tetap terinformasi tentang

perkembangan terbaru dalam berbagai bidang. Misalnya, pelajar

dapat menemukan sumber belajar tambahan, mengikuti berita terkini

atau mendapatkan tips dan trik yang bermanfaat untuk kehidupan

sehari-hari.
28

3) Menambah Wawasan, Keterampilan dan Pengembangan

Infromasi yang dibagikan di media sosial menjadi komoditas

yang sangat berharga bagi pengguna untuk menambah wawasan dan

keterampilan. Melalui platform seperti YouTube, pengguna tidak

hanya dapat menonton video tutorial tentang berbagai topik, mulai

dari memasak sampai pemrograman, tetapi juga dapat

mengembangkan bakat dan keterampilan baru. Konten kreatif yang

diunggah oleh orang lain juga bisa menjadi inspirasi bagi pengguna

untuk mengeksplorasi minat mereka lebih dalam. Dengan

memanfaatkan media sosial secara efektif, individu dapat belajar

secara mandiri (otodidak) dan mengakses berbagai sumber daya

pendidikan tanpa batasan geografis. Hal ini membuka peluang bagi

mereka untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan zaman,

serta meningkatkan daya saing di dunia kerja.

4) Media Komersial atau Bisnis Online

Media sosial telah menjadi platform yang penting bagi bisnis

untuk mempromosikan produk dan layanan mereka. Jejaring sosial

seperti Intagram dan Facebook berfungsi sebagai sarana efektif untuk

memperkenalkan barang-barang komersial kepada audiens yang

lebih luas. Pengguna dapat mengubah akun media sosial mereka

menjadi platform bisnis, mempromosikan dan menjual produk secara


29

langsung. Dengan memanfaatkan konten menarik dan interaksi

langsung, bisnis dapat meningkatkan kesadaran merek dan loyalitas

untuk melacak keberhasilan promosi pemasaran, sehingga strategi

pemasaran menjadi lebih efisien. Jadi, penggunaan media sosial

dalam bisnis memberikan banya keuntungan, membantu pengusaha

untuk menjalin hubungan dengan pelanggan dan meningkatkan

pertumbuhan bisnis secara signifikan.

b. Dampak Negatif

Dampak negatif dari penggunaan media sosial dapat dijabarkan

sebagai berikut (Endah Triastuti, 2017) :

1) Pengaruh yang Ditimbulkan Oleh Media Sosial dan Game Online

Media sosial dengan berbagai fitur menarik yang

ditawarkannya, sering kali membuat penggunanya sulit untuk

melepaskan diri dari keterikatan tersebut. Banyak orang

menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari untuk menyusuri

platform ini, bahkan seseorang yang terlibat dalam game online dapat

menghabiskan lebih banyak waktu, tenaga dan perhatian untuk

menyelesaikan misi dan tantangan dalam game. Keterikatan ini

menciptakan rasa nyaman dan betah bagi pengguna, sehingga mereka

terus-menerus menikmati pengalaman yang ditawarkan hanya

dengan sekali pencet. Kebiasaan ini tidak hanya mengganggu

produktivitas sehari-hari tetapi juga dapat berdampak negatif pada


30

kesehatan mental. Penggunaan media sosial yang berlebihan sering

kali menyebabkan kecanduan, di mana pengguna lebih memilih

berinteraksi secara virtual daripada melakukan kegiatan sosial secara

langsung. Hal ini dapat memicu perasaan kesepian dan kecemasan,

serta mengganggu keseimbangan hidup yang sehat.

2) Menurunnya Sosialisasi yang Nyata

Hal ini terjadi ketika seseorang lebih memilih untuk

mengisolasi diri dalam dunianya sendiri, cenderung bersikap

individualitis saat berinteraksi dengan orang lain di dunia maya.

Akibatnya, interaksi langsung dengan teman atau orang di sekitar

semakin berkurang. Pengguna media sosial sering kali lebih intensif

membangun hubungan di platform digital dibandingkan dengan

orang-orang di sekitarnya. Misalnya, mereka lebih memilih untuk

membagikan masalah pribadi melalui status atau cerita di akun media

sosial daripada mendiskusikannya secara langsung dengan orangtua,

teman atau orang terdekat. Fenomena ini menunjukkan bahwa

meskipun media sosial dapat memfasilitasi komunikasi, ia juga dapat

mengurangi kualitas interaksi sosial yang sebenarnya, sehingga

menciptakan jarak emosional antara individu dan lingkungan sosial

mereka.

3) Penyebaran Hoaks yang Memicu Konflik di Media Sosial

Sebagai salah satu produk media cyber, media sosial telah


31

menjadi arena bagi penyebaran informasi palsu atau hoaks. Informasi

yang beredar di platform ini sering kali merupakan hasil reupload

atau modifikasi oleh pengguna lain, sehingga keakuratan dan

kebenarannya tidak dapat dipastikan. Ketika informasi tersebut

menjadi konsumsi publik, konflik dapat muncul akibat pengguna

yang menyampaikan pendapat mereka secara bebas tanpa batasan

yang jelas. Situasi ini menciptakan perdebatan dan ketegangan antar

pengguna, terutama ketika hoaks berkaitan dengan isu-isu sensitif

seperti politik, agama atau ras. Penyebaran hoaks tidak hanya

mengganggu komunikasi yang sehat di media sosial tetapi juga dapat

berdampak pada hubungan sosial di dunia nyata, karena dapat

memicu perpecahan dan menurunkan tingkat kepercayaan di

masyarakat.

4) Media Sosial Telah Menjadi Sarang bagi Kriminalitas dan

Cyberbullying

Berbagai bentuk kejahatan muncul akibat penggunaan

platform ini, seperti perjudian online, pornografi, penipuan yang

berkedok jual beli online, pembajakan akun, pelecehan seksual dan

bahkan prostitusi online. Selain itu, fenomena perundungan di dunia

maya juga semakin meluas. Penelitian menunjukkan bahwa

perundungan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga

berkembang ke bentuk verbal dan psikologis, baik di dunia nyata


32

maupun di virtual. Kejahatan cyber ini semakin meningkatkan

seiring dengan bertambahnya pengguna media sosial dan

kemudahan akses yang ditawarkannya. Data dari kepolisian

menunjukkan bahwa kasus kejahatan cyber di Indonesia mengalami

peningkatan yang signifikan dengan ribuan laporan terkait penipuan

online dan pelecehan yang tercatat setiap tahunnya. Hal ini

menegaskan bahwa meskipun media sosial menawarkan banyak

manfaat, ia juga membawa resiko serius bagi penggunanya. Jadi,

para pengguna harus tetap waspada dan memahami cara bagaimana

melindungi diri dari potensi ancaman yang ada di platform digital

ini.

B. Kecemasan Sosial (Social Anxiety)

1. Pengertian Kecemasan Sosial (Social Anxiety)

Kalimat kecemasan berasal dari kata latin “Angustus” yang berarti kaku

dan angos atau anci yang berarti mencekik. Kecemasan adalah kondisi mental

yang ditandai dengan ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan terhadap

apa yang mungkin terjadi, baik terkait masalah tertentu maupun hal-hal yang

tidak jelas.

Secara umum, kecemasan dapat digambarkan sebagai “perasaan

tertekan dan tidak tenang, disertai pikiran yang kacau dan banyak

penyelesaian”. Kondisi ini dapat berdampak signifikan pada tubuh,


33

menyebabkan gejala fisik seperti menggigil, berkeringat, detak jantung yang

cepat, mual dan rasa lemas. Selain itu, kecemasan juga dapat mengurangi

kemampuan seseorang untuk berproduktivitas, sehingga banyak orang

mencari pelarian ke dalam dunia imajinasi sebagai bentuk terapi sementara.

Menurut Liebowitz (1987) kecemasan sosial merupakan perasaan takut

dan kekhawatiran yang berlebihan dan terus menerus terkait dengan

kemungkinan merasa malu atau mendapatkan penilaian negatif dari orang lain

saat berinteraksi sosial. Individu yang mengalami kecemasan sosial cenderung

merasa cemas karena ketakutan akan penilaian negatif dari orang lain yang

dapat membuat mereka merasa tertekan dan tidak nyaman. Akibatnya, mereka

sering kali lebih memilih untuk menghindari interaksi sosial dan merasa lebih

tenang saat berada sendirian. Kecemasan ini dapat mengganggu kehidupan

sehari-hari dan memengaruhi kemampuan individu untuk berinteraksi dengan

orang lain secara efektif.

Lazarus mengemukakan bahwa kecemasan adalah respons terhadap

pengalaman yang tidak menyenangkan disertai perasaan gelisah, khawatir dan

takut. Kecemasan merupakan aspek subjektif dari emosi seseorang, karena

melibatkan perasaan yang tidak nyaman dan bersifat pribadi (Ari et al., 2024).

Kecemasan merupakan pengalaman yang dialami oleh semua orang pada

tingkat tertentu, dan Peplau (1952) mengidentifikasi empat tingkatan

kecemasan yang berbeda.


34

Kecemasan ringan berfungsi sebagai motivasi dalam kehidupan sehari-

hari, mendorong individu untuk belajar dan berkembang. Kecemasan sedang

memungkinkan fokus pada hal-hal penting, meskipun dapat menyebabkan

beberapa gejala fisik dan kognitif. Kecemasan berat sangat memengaruhi

persepsi dan kemampuan individu untuk berfungsi secara efektif, sering kali

disertai dengan gejala fisik yang lebih serius. Selanjutnya, panik adalah

tingkat kecemasan yang paling ekstrem, ditandai dengan perasaan kehilangan

kendali dan ketakutan yang mendalam. Memahami berbagai tingkatan

kecemasan ini penting untuk mengenali dampaknya terhadap kehidupan

sehari-hari dan untuk menentukan intervensi yang tepat guna mengatasi

masalah kecemasan.

Freud (1989) menganggap kecemasan sebagai elemen yang sangat

penting dalam sistem kepribadian dan sebagai pusat perkembangan perilaku

neurosis dan psikosis (Andri & Dewi, 2007). Freud dalam Corey (2014)

mengemukakan bahwa kecemasan adalah kondisi tegang yang mendorong

individu untuk bertindak. Jika tidak dikelola dengan baik, kecemasan bisa

berkembang menjadi gangguan psikologis seperti neurosis atau psikosis.

Untuk mengatasinya, manusia sering menggunakan mekanisme pertahanan

seperti menekan ingatan yang tidak menyenangkan atau mencari alasan untuk

membenarkan perilakunya. Jadi, kecemasan ini berperan sebagai tanda

bahaya yang membuat seseorang berusaha mencari cara agar merasa lebih

nyaman dan aman.


35

Sedangkan, Muchlas (1976) mengatakan kecemasan merupakan

pengalaman subjektif yang ditandai dengan ketegangan mental, penderitaan

dan tekanan yang muncul dari konflik atau ancaman. Dengan hal ini, Freud

menetapkan tiga jenis kecemasan yakni kecemasan realistic, kecemasan

neurotic dan kecemasan moral.

a. Kecemasan Realitas atau Objektif (Reality or Objective Anxiety)

Kecemasan realitas atau objektif adalah jenis kecemasan yang

muncul sebagai respons terhadap ancaman yang berasal dari dunia luar,

serta perasaan takut terhadap bahaya yang nyata dalam lingkungan

sekitar. Kecemasan ini berfungsi sebagai sinyal bagi individu untuk

mengambil tindakan yang diperlukan dalam menghadapi situasi berisiko.

Misalnya, seseorang mungkin merasa cemas untuk keluar rumah karena

khawatir akan terjadi kecelakaan atau seorang pelajar mungkin

mengalami kecemasan saat menghadapi ujian penting.

Kecemasan realitas ini dapat memotivasi individu untuk

mempersiapkan diri da mengambil langkah-langkah pencegah. Dalam

konteks ujian, rasa cemas dapat mendorong siswa untuk belajar lebih giat

dan mempersiapkan diri dengan baik. namun, jika kecemasan ini

berlebihan, hal itu bisa mengganggu fungsi sehari-hari dan menyebabkan

individu merasa tertekan. Oleh karena itu, penting untuk mngenali

batasan antara kecemasan yang sehat yang dapat mendorong tindakan


36

positif dan kecemasan yang berlebihan dapat menghambat kemampuan

seseorang untuk berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

b. Kecemasan Neurotik (Neurotic Anxiety)

Kecemasan neurotic adalah jenis kecemasan yang muncul sebagai

hasil dari pengalaman masa kanak-kanak, sering kali terkait dengan

ancaman atau hukuman yang dirasakan dari orang tua atau figur otoritas

lainnya. Kecemasan ini berkembang ketika individu merasa takut akan

konsenkuensi negatif yang mungkin tidak nyata, tetapi terbentuk dari

pengalaman traumatis atau ketakutan yang dialami di masa lalu.

Misalnya, seorang anak yang pernah dihukum secara berlebihan mungkin

tumbuh menjadi dewasa yang selalu merasa cemas dan akan

kemungkinan hukuman, meskipun situasi saat ini tidak mengancam.

Ketika individu mengalami kecemasan neurotic, mereka sering kali

merasa terjebak dalam pikiran tentang hukuman yang mungkin mereka

terima, baik secara nyata maupun imajiner. Rasa takut ini dapat

menghalangi mereka untuk memenuhi dorongan insting dan keinginan

pribadi mereka, karena mereka khawatir akan penilaian atau reaksi

negatif dari orang lain. Kecemasan neurotic dapat menyebabkan individu

merasa tidak berdaya dan terasing, sehingga berdampak buruk pada

kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu,

perlu untuk mengenali dan menangani kecemasan ini melalui terapi atau
37

dukungan psikologis agar individu bisa mengembangkan pola pikir yang

lebih sehat dan positif.

c. Kecemasan Moral (Moral Anxiety)

Kecemasan moral ditandai oleh perasaan bersalah atau rasa malu

yang muncul ketika seseorang merasa bahwa tindakan atau keinginan

mereka tidak sesuai dengan norma atau nilai moral yang dianut.

Kecemasan ini merupakan respons dari superego terhadap dorongan id

yang berpotensi mengarah pada kepuasan yang dianggap tidak bermoral.

Dalam konteks ini, superego berfungsi sebagai suara hati yang menilai

dan mengawasi perilaku individu, memberikan peringatan ketika mereka

melanggar batasan moral.

Individu yang mengalami kecemasan moral sering kali merasa

tertekan oleh ketakutan akan hukuman dari superego mereka sendiri.

Mereka mungkin khawatir tentang konsekuensi emosional dari tindakan

mereka, seperti rasa bersalah yang mendalam atau rasa malu yang

menyakitkan. Kecemasan ini dapat bertindak sesuai dengan keinginan

mereka karena takut melanggar prinsip moral. Oleh karena itu, individu

harus memahami dan mengelola kecemasan moral ini agar dapat hidup

dengan lebih seimbang dan harmonis, tanpa terjebak dalam perasaan

bersalah yang berlebihan.

Martin dan Richard (2017) menjelaskan bahwa kecemasan sosial

merujuk pada perasaan tidak nyaman atau kegugupan yang dialami


38

seseorang dalam situasi sosial. Rasa cemas ini biasanya muncul karena

ketakutan untuk melakukan sesuatu yang dianggap memalukan atau

bodoh, yang dapat mengakibatkan penilaian negatif atau kritik dari orang

lain. Kecemasan sosial sering kali berkaitan dengan berbagai karakteristik

kepribadian, seperti rasa malu, perfeksionisme dan sifat introvert.

Individu yang pemalu, misalnya merasa canggung saat berada dalam

situasi sosial tertentu, terutama ketika berinteraksi dengan orang baru.

Secara umum, kecemasan sosial adalah bentuk ketakutan yang dialami

seseorang ketika berada di kerumunan, di mana interaksi dengan orang

lain dapat menimbulkan perasaan cemas dan tidak nyaman.

La Greca dan Lopez (1998) mendefinisikan kecemasan sosial

sebagai perasaan cemas yang dapat digeneralisasi, yang menyebabkan

individu merasa tidak nyaman ketika berhadapan dengan orang lain, baik

yang dikenal maupun yang tidak. Ketidaknyamanan ini muncul karena

adanya ketakutan untuk melakukan tindakan yang dianggap memalukan

atau bodoh, yang dapat mengakibatkan penilaian negatif dan penghinaan

dari orang lain. Dengan demikian, kecemasan sosial berkaitan erat dengan

kekhawatiran tentang bagaimana orang lain melihat dan menilai diri kita.

Jadi secara umum, kecemasan sosial merupakan jenis kecemasan

yang dialami seseorang ketika berada dalam kerumunan atau situasi

sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia secara alami berinteraksi dengan

orang lain, dan interaksi ini merupakan bagian yang tak terhindarkan dari
39

kehidupan. Namun, bagi individu yang mengalami kecemasan sosial,

interaksi tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan

ketegangan. Kondisi ini membuat mereka merasa tertekan saat harus

berhadapan dengan orang lain, baik yang dikenal maupun yang tidak.

Akibatnya, individu dengan kecemasan sosial sering kali merasa

kesulitan untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial, yang dapat

mengganggu kualitas hidup mereka.

2. Aspek-aspek Kecemasan Sosial

Terdapat aspek-aspek kecemasan sosial menurut La Greca dan Lopez

(1998) terbagi menjadi 3 aspek meliputi sebagai berikut :

a) Ketakutan terhadap Evaluasi Negatif (Fear of Negative Evaluation)

Heimberg dkk (2005) menyimpulkan bahwa individu yang memiliki

tingkat ketakutan terhadap evaluasi negatif yang tinggi cenderung merasa

khawatir tentang penilaian orang lain terhadap diri mereka. Sebaliknya,

individu dengan tingkat ketakutan yang rendah tidak merasakan

kekhawatiran terkait penilaian orang lain. Hal ini mencerminkan salah

satu aspek kognitif dari kecemasan sosial.

Aspek ini merujuk pada kekhawatiran atau ketakutan individu

terhadap penilaian buruk yang mungkin diberikan oleh orang lain, seperti

ejekan atau kritik. Individu yang mengalami ketakutan ini merasa cemas

akan kemungkinan dievaluasi secara negatif yang dapat memengaruhi

kepercayaan diri dan kenyamanan mereka dalam situasi sosial.


40

Indikator Fear of Negative Evaluation menurut La Greca dan Lopez

(1998) terbagi menjadi 2 kategori yakni : rasa khawatir yang muncul

akibat pemikiran berlebihan tentang kemungkinan penilaian negatif dari

orang lain yang dapat berdampak buruk pada individu itu sendiri, dan

kesulitan dalam menampilkan kemampuan secara optimal dalam

melakukan suatu tugas atau aktivitas.

b) Penghindaran Sosial dan Ketertekanan Umum (Social Avoidance and

Distress in General)

La Grace dalam Olivers (2009) menjelaskan bahwa penghindaran

sosial dan rasa tertekan dalam situasi baru terjadi ketika individu merasa

gugup saat berbicara dan tidak memahami alasan di balik perasaan

tersebut. Ketika menghadapi orang baru atau situasi yang tidak yang tidak

familiar, individu sering kali merasakan kecemasan yang membuat

mereka sulit untuk berinteraksi dengan nyaman.

Menggambarkan kecenderungan individu untuk menghindari

tempat-tempat umum atau situasi sosial yang dapat menimbulkan rasa

tidak nyaman. Mereka merasa lebih aman dan tenang ketika berada

sendirian, sehingga cenderung menjauh dari interaksi sosial. hal ini dapat

mengakibatkan isolasi dan mengurangi kesempatan untuk berpartisipasi

dalam aktivitas sosial yang seharusnya menyenangkan.

Indikator dari aspek perilaku ini meliputi pertama, rasa malu dan gugup

yang dirasakan saat berinteraksi dengan orang baru maupun dengan orang
41

yang sudah dikenal dan kedua, penghindaran terhadap kontak mata dan

situasi sosial karena adanya kekhawatiran saat harus melakukan sesuatu

di depan orang lain.

c) Penghindaran Sosial dan Ketertekanan terhadap Lingkungan Sosial yang

Baru (Social Avoidance Specific to New Stuations)

La Greca menyatakan bahwa penghindaran sosial dan perasaan

tertekan yang dialami secara umum dapat mencerminkan sejauh mana

individu mampu membangun hubungan dengan orang lain. Ini

menunjukkan bahwa kecemasan sosial dapat memengaruhi kemampuan

seseorang dalam berinteraksi dan menjalin relasi.

Sedangkan, Menurut Liebowitz menjelaskan bahwa kecemasan

sosial terdiri dari dua aspek utama, yaitu Performance Anxiety dan Social

Interaction Anxiety (Liebowitz, 1987). Performance Anxiety adalah rasa

takut dan cemas yang dialami individu ketika kinerja atau aktivitas

mereka diperhatikan oleh orang lain. Sedangkan, Social Interaction

Anxiety adalah ketakutan dan kecemasan yang muncul saat individu

melakukan interaksi dengan orang lain.

Dalam hal ini merujuk pada kecenderungan individu untuk

menghindari situasi baru, termasuk pertemuan dengan orang-orang yang

tidak dikenal atau asing. Dalam konteks ini, individu merasa cemas dan

lebih memilih untuk menjauh dari interaksi sosial yang melibatkan orang
42

baru yang dapat meningkatkan rasa tidak nyaman dan ketegangan dalam

diri mereka.

Indikator dalam konteks ini mencakup : 1) Perasaan tidak nyaman saat

mengajak orang lain berinteraksi karena takut akan kemungkinan

penolakan, 2) Kesulitan dalam mengajukan pertanyaan kepada orang lain,

3) Rasa malu yang muncul ketika terlibat dalam pekerjaan kelompok.

3. Faktor-faktor Kecemasan Sosial

Durrand dan Barlow (2006) mengemukakan bahwa kecemasan sosial dapat

dipengaruhi oleh tigas faktor utama, yakni kontribusi biologis, psikologis dan

psikososial. Berikut tiga faktor utamanya antara lain :

1. Kontribusi Biologis

Kontribusi biologis merujuk pada pengaruh genetik dan aspek

neurobiologis yang dapat memengaruhi tingkat kecemasan individu.

Faktor ini mencakup warisan genetik dari keluarga, di mana individu

dengan riwayat keluarga yang mengalami kecemasan cenderung

memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama. Selain

itu, sirkuit otak dan sistem neurotransmiter tertentu, seperti serotonin,

norepinefrin, dan Gamma-Aminobutyric Acid (GABA), juga berperan

penting dalam mengatur respons kecemasan. Ketidakseimbangan dalam

neurotransmiter ini dapat menyebabkan peningkatan kecemasan dan

reaktivitas emosional yang lebih tinggi.


43

2. Kontribusi Psikologis

Faktor psikologis berkaitan dengan cara individu memandang dan

merespons situasi di sekitar mereka. Pada masa kanak-kanak, individu

mulai menyadari bahwa tidak semua peristiwa dapat dikendalikan.

Persepsi ini dapat bervariasi, beberapa anak mungkin merasa yakin akan

kemampuan mereka untuk mengontrol berbagai situasi, sementara yang

lain mungkin merasa tidak berdaya. Ketidakmampuan untuk mengontrol

situasi yang dianggap berbahaya atau menakutkan dapat menghasilkan

kecemasan yang signifikan. Misalnya, anak yang tumbuh dalam

lingkungan yang terlalu melindungi mungkin tidak belajar keterampilan

mengatasi kesulitan, sehingga ketika menghadapi tantangan baru, mereka

merasa cemas dan tidak siap.

3. Kontribusi Psikososial

Faktor psikososial mencakup pengalaman sosial dan lingkungan

yang dapat mempengaruhi perkembangan kecemasan. Pengalaman

traumatis atau tekanan sosial seperti peristiwa pribadi yang signifikan

(misalnya perceraian, kehilangan orang terkasih, atau masalah di tempat

kerja) yang dapat meningkatkan risiko kecemasan. Lingkungan sosial

yang mendukung atau sebaliknya, lingkungan yang penuh tekanan juga

berkontribusi pada bagaimana individu menghadapi situasi sosial.

Individu yang memiliki dukungan sosial yang baik cenderung lebih


44

mampu mengatasi kecemasan dibandingkan mereka yang merasa

terisolasi.

Di sisi lain, Schlenker dan Leary berpendapat juga bahwa faktor-faktor

yang mempengaruhi individu mengalami kecemasan sosial adalah :

a. Hubungan dengan Kekuasaan dan Status Sosial Tinggi

Anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial tinggi

cenderung mengalami kecemasan sosial yang lebih rendah. Hal ini

disebabkan oleh kekuatan dan pengaruh yang mereka miliki yang

memberikan rasa aman dalam interaksi sosial. Dengan status yang lebih

tinggi, individu merasa lebih percaya diri dan tidak terlalu khawatir

akan penilian negatif dari orang lain.

b. Konteks Evaluasi

Individu yang berada dalam situasi sosial sering kali merasa tidak

nyaman karena mereka menganggap bahwa orang lain akan

memberikan penilaian yang berlebihan terhadap mereka.

Ketidaknyamanan ini dapat menyebabkan mereka merasa tertekan dan

cemas, terutama jika mereka percaya bahwa evaluasi tersebut akan

berdampak negatif pada diri mereka.

c. Fokus Interaksi Pada Kesan Individu

Banyak individu percaya bahwa kesan pertama sangat penting dan

menjadi acuan untuk interaksi selanjutnya. Oleh karena itu, mereka


45

merasa tertekan untuk memberikan kesan yang baik di awal interaksi,

yang dapat meningkatkan kecemasan saat bertemu orang baru.

d. Situasi Sosial Yang Tidak Terstruktur

Situasi sosial yang tidak terorganisir, seperti hari pertama di sekolah

atau acara baru lainnya, dapat meningkatkan kecemasan sosial.

Ketidakpastian mengenai norma dan aturan dalam situasi tersebut

membuat individu merasa tidak nyaman karena mereka belum

mengetahui bagaimana seharusnya berperilaku.

e. Kesadaran Diri

Kesadaran diri merujuk pada perhatian individu terhadap diri mereka

sendiri dan bagaimana mereka berperilaku dalam lingkungan sosial.

Individu yang sangat fokus pada diri sendiri sering kali merasa cemas

karena khawatir tentang bagaimana tindakan mereka akan dinilai oleh

orang lain. Hal ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk

berinteraksi secara efektif.

4. Dampak Kecemasan Sosial

Wittchen dan Fehm (Muarifah dan Budiani, 2012) memaparkan

bahwa kecemasan sosial dapat menimbulkan negatif yang signifikan.

Dampak tersebut mencakup penurunan fungsi dalam peran sosial,

perkembangan karir, serta kualitas kesejahteraan subjektif dan kualitas

hidup secara keseluruhan (Jatmiko, 2016).


46

Hal ini sejalan dengan pandangan Castella et al. (2014), menyebutkan

bahwa individu yang mengalami kecemasan sosial sering kali membuat

kesalahan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti di lingkungan kerja,

pendidikan, persahabatan dan hubungan intim. Kecemasan sosial bisa

berdampak pada ketidakmampuan berfungsi secara optimal dalam berbagai

aspek kehidupan. Hal ini bisa mempengaruhi interaksi sosial serta

menghambat perkembangan karir dan hubungan interpersonal.

Kompleksitas kecemasan sosial biasanya membawa konsekuensi

besar bagi individu. Dampak negatif dari kecemasan sosial meliputi

penurunan kesejahteraan subjektif dan kualitas hidup, serta gangguan

fungsi peran sosial dan perkembangan karier. Orang-orang yang menderita

kecemasan sosial biasanya memiliki persepsi diri negatif dan mengalami

penurunan kemampuan dan prestasinya.

Selain itu, beberapa orang yang mengalami kecemasan sosial akan

merasa khawatir jika orang lain memperhatikan mereka. Tanda-tanda fisik

pun dapat terlihat jelas seperti pipi memerah, berkeringat, muka nampak

pucat, serta suara gemetar jika diiajak bicara.

Kecemasan sosial ini juga berdampak pada perilaku secara nyata,

seperti merasa malu berbicara di depan umum, serta cenderung menarik diri

dari lingkungan. Hal ini disebabkan karena adanya perasaan takut akan rasa

malu dan penilaian negatif yang timbul dengan berbagai penyebab.

Pernyataan ini juga didukung oleh pendapat Beck (1967), yang menjelaskan
47

bahwa kecemasan sosial merupakan pikiran seseorang yang merasa bahwa

orang lain menilai dirinya negatif.

C. Hubungan Antar Penggunaan Media Sosial dengan Kecemasan Sosial

Media sosial kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan

sehari-hari, terutama bagi generasi Z. Penggunaan media sosial menggambarkan

seberapa sering serta untuk tujuan apa seseorang memanfaatkan platform digital

seperti Instagram, WhatsApp, TikTok dan lain sebagainya. Dalam kajian psikologi

sosial, fenomena ini dapat ditelaah lebih lanjut melalui dua dimensi utama:

intensitas penggunaan dan preferensi dalam berkomunikasi. Intensitas merujuk

pada seberapa sering dan berapa lama individu mengakses media sosial, sedangkan

preferensi komunikasi mencerminkan kecenderungan seseorang untuk memilih

interaksi secara online dibandingkan komunikasi langsung. Ketika kedua aspek ini

meningkat, maka semakin besar kemungkinan terjadinya perubahan dalam pola

hubungan sosial dan cara individu berinteraksi dengan lingkungannya.

Aspek intensitas dalam penggunaan media sosial memiliki kaitan yang

signifikan dengan munculnya kecemasan sosial. Individu yang menghabiskan

waktu berlebih di platform digital umumnya memiliki keterbatasan dalam

pengalaman interaksi tatap muka, yang pada gilirannya dapat menimbulkan rasa

kurang percaya diri dan kekhawatiran terhadap penilaian orang lain dalam situasi

sosial. Kondisi ini semakin diperburuk ketika individu merasa terdorong untuk

menyesuaikan diri dengan standar sosial yang dibentuk oleh media sosial, seperti

citra fisik yang ideal atau gaya hidup yang tinggi. Tekanan untuk menampilkan
48

diri sesuai standar tersebut dapat memicu kecemasan performatif (performance

anxiety), yakni perasaan cemas atau gugup yang muncul saat harus tampil di depan

publik atau berada dalam situasi yang menjadi pusat perhatian.

Selain itu, kecenderungan tinggi dalam memilih komunikasi melalui media

sosial turut berperan dalam meningkatnya tingkat kecemasan sosial secara umum.

Individu yang lebih sering berinteraksi melalui pesan teks atau komentar online

biasanya mengalami kesulitan dalam memahami isyarat nonverbal serta dalam

merespons percakapan yang terjadi secara spontan dalam komunikasi langsung.

Hal ini membuat mereka cenderung menghindari situasi yang memerlukan

interaksi tatap muka, yang justru dapat memperkuat rasa cemas dalam konteks

sosial. Dalam kondisi tertentu, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana

komunikasi, tetapi juga menjadi mekanisme pelarian dari interaksi sosial nyata

yang dirasakan sebagai sumber tekanan atau ketidaknyamanan.

Kemudian, keterkaitan antara penggunaan media sosial dan kecemasan sosial

dapat membentuk pola hubungan timbal balik yang bersifat negatif. Individu

dengan tingkat kecemasan sosial yang tinggi sering kali mencari rasa aman melalui

interaksi digital yang dirasa lebih dapat dikendalikan, seperti mengirim pesan

singkat atau memberikan tanda suka pada unggahan. Namun, kecenderungan

untuk menghindari interaksi tatap muka justru mengurangi kesempatan mereka

dalam mengembangkan keterampilan sosial secara langsung. Dalam jangka

panjang, hal ini dapat memperburuk tingkat kecemasan sosial yang dialami,

sehingga menciptakan siklus yang sulit diputus.


49

Penggunaan media sosial dapat memicu gangguan mental seperti kecemasan,

depresi, stres, dan kesepian (Nurlina et al., 2022). Hal ini sejalan dengan penelitian

yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dengan intensitas tinggi dapat

menimbulkan berbagai masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan. Semakin

sering seseorang menggunakan media sosial, semakin tinggi pula tingkat

kecemasan yang dialami (Zhao & Zhou, 2020).

Semakin sering seseorang menggunakan media sosial, maka semakin

berdampak media itu terhadap dirinya. Seiring dengan penemuan penelitian yang

mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat

mengganggu aktivitas seseorang (Woran et al., 2021). Motif yang pada mulanya

hanya melibatkan pengamatan aktivitas orang lain dan berinteraksi dapat

menciptakan rasa cemas pada pengguna. Selaras dengan hasil penelitian yang

mencerminkan bahwa media memiliki pengaruh terhadap individu sejalan dengan

cara individu tersebut menggunakannya (Adawiyah, 2020).

Individu dengan tingkat kecemasan sosial yang tinggi sering kali mengalami

ketakutan atau kecemasan yang berlebihan saat berhadapan dengan situasi sosial.

Penelitian oleh Pratiwi et al. (2019) menunjukkan bahwa perasaan cemas ini dapat

mempengaruhi cara individu berinteraksi dengan orang lain. Salah satu

manifestasi dari kecemasan sosial adalah peningkatan durasi penggunaan media

sosial yang menjadi cara alternatif bagi individu tersebut untuk bersosialisasi. Hal

ini diperkuat oleh pendapat Halim dan Sabri (2013) yang menyatakan bahwa
50

individu dengan kecemasan sosial lebih cenderung menghindari interaksi langsung

dan memilih untuk berkomunikasi melalui platform digital.

Media sosial menawarkan lingkungan yang lebih nyaman dan aman,

memungkinkan individu dengan kecemasan sosial untuk terhubung dengan orang

lain tanpa tekanan dari situasi tatap muka. Weidman et al. (2012) menambahkan

bahwa penggunaan media sosial dapat memberikan kesempatan bagi penderita

kecemasan sosial untuk membangun hubungan sosial, meskipun dalam bentuk

yang tidak langsung. Dengan demikian, media sosial berfungsi sebagai jembatan

yang memfasilitasi interaksi sosial sekaligus memberikan ruang bagi individu

untuk tetap merasa aman dalam berkomunikasi.


51

Kerangka Berpikir

Intensity of Social Performance


Media Sosial Use Anxiety

Penggunaan
Kecemasan Sosial
Media Sosial

Social Media Use


& Communication Social Anxiety
Preferences

D. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah dalam

penelitian. Disebut sementara karena jawaban tersebut masih didasarkan pada

teori-teori yang relevan dan belum berlandaskan pada fakta-fakta empiris yang

diperoleh melalui pengumpulan data (Sugiyono, 2022, h. 64). Adapun hipotesis

dari “Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Kecemasan Sosial pada

Kalangan Generasi Z” sebagai berikut : “Ada pengaruh penggunaan media sosial

terhadap tingkat kecemasan sosial pada generasi Z”.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang

berlandaskan pada filsafat positivisme. Metode ini dirancang untuk meneliti

populasi atau sampel tertentu dengan tujuan yang jelas. Pengumpulan data

dilakukan melalui instrumen penelitian yang telah ditentukan dan analisis data

dilakukan secara statistik untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan

sebelumnya (Sugiyono, 2019). Penelitian kuantitatif berusaha menjelaskan

hubungan antara fenomena atau gejala sosial yang terjadi di masyarakat.

Menurut Suharsaputra (2012, p. 50) menjelaskan bahwa paradigma

positivisme ini memberikan gambaran atau pemahaman yang jelas tentang

fenomena yang sedang terjadi. Kedua, data yang disajikan dalam bentuk angka

atau numerik menjadi dasar untuk analisis. Ketiga, analisis data dilakukan dengan

menggunakan metode statistik.

Dalam penelitian ini, peneliti akan mengamati bagaimana berbagai

variabel saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Dengan pendekatan

ini, diharapkan dapat memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang dinamika

sosial yang ada. Metode kuantitatif memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan

data numerik yang dapat diolah secara statistik, sehingga menghasilkan temuan

52
53

yang objektif dan dapat diukur. Hal ini memberikan landasan yang kuat untuk

menarik kesimpulan dan membuat rekomendasi berdasarkan hasil analisis.

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini bersifat eksplanatif, di

mana peneliti berusaha menghubungkan dan mencari hubungan sebab-akibat

antara dua atau lebih variabel yang diteliti (Simarmata, 2018). Peneliti akan

menguji variabel-variabel tersebut untuk menentukan apakah terdapat pengaruh di

antara keduanya. Proses pengujian variabel dilakukan melalui tiga tahap, yakni :

1) uji validitas menggunakan teknik pearson correlation, 2) uji reabilitas dengan

menggunakan teknik cronbach alpha, 3) uji normalitas melalui analisis

Kolmogrov-Smirnov (K-S). Setelah itu, variabel-variabel tersebut akan diuji lebih

lanjut menggunakan regresi linier sederhana untuk memahami hubungan yang ada

secara lebih mendalam.

B. Identifikasi Variabel

Dalam penelitian ini, terdapat dua jenis variabel berdasarkan hubungan antara satu

variabel dengan variabel lainnya, yakni :

1. Variabel Independen (X) : Variabel independen merupakan variabel yang

berperan dalam memengaruhi atau menyebabkan perubahan pada variabel

dependen (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian ini, variabel bebas yang

dianalisis adalah penggunaan media sosial.


54

2. Variabel Dependen (Y) : Variabel dependen merupakan variabel

dipengaruhi oleh variabel independen (Sugiyono, 2013). Dalam penelitian ini,

variabel dependen yang dianalisis adalah kecemasan sosial.

C. Definisi Operasional

Nazir (1999) menjelaskan bahwa definisi operasional adalah penjelasan

yang diberikan kepada suatu variabel atau konstruk dengan cara menetapkan arti

yang jelas dan spesifik. Definisi ini mencakup rincian tentang kegiatan yang harus

dilakukan serta prosedur operasional yang diperlukan untuk mengukur konstruk

atau variabel tertentu secara efektif. Dengan kata lain, definisi operasional

berfungsi sebagai panduan yang membantu peneliti dalam mengidentifikasi dan

mengukur variabel yang sedang diteliti, sehingga hasil penelitian dapat lebih

akurat dan dapat diandalkan.

1. Penggunaan Media Sosial

Penggunaan media sosial merujuk kecenderungan pada aktivitas individu

dalam mengakses, berinteraksi dan berbagi konten melalui platform digital

seperti Instagram, Twitter, Facebook dan TikTok. Pada skala The Scale for

the Individual and Social Impact of Student yang terdiri dari dua aspek, yakni

Intensity of Social Media Use dan Social Network Use and Communication

Preferences. Semakin tinggi skor skala, maka makin kuat intensitas dan

mempunyai kecenderungan preferensi menggunakan media sosial dalam

kehidupan sehari-harinya
55

2. Kecemasan Sosial

Kecemasan sosial adalah perasaan takut atau khawatir yang berlebihan

terkait interaksi sosial yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari individu.

Dalam penelitian ini, kecemasan sosial diukur menggunakan Social Anxiety

Scale. Dalam penelitian ini mencakup gejala-gejala seperti rasa malu,

ketakutan akan penilaian negatif dari orang lain dan kekhawatiran berlebihan

tentang situasi sosial.

D. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2013) populasi didefinisikan sebagai wilayah

generalisasi yang terdiri dari subjek atau objek yang memiliki syarat dan

karakteristik tertentu yang telah ditentukan sebelumnya untuk diteliti dengan

tujuan untuk menghasilkan kesimpulan. Populasi dalam penelitian ini terdiri

dari kalangan mahasiswa UIN Malang dengan jumlah data 19.697

mahasiswa, hal ini berdasarkan data yang tercatat di website resmi UIN

Malang.

Pemilihan subjek ini dalam pengaruh penggunaan media sosial terhadap

kecemasan sosial didasarkan pada sejumlah alasan yang kuat. Generasi Z

merupakan pengguna media sosial paling aktif. Mereka rata-rata

menghabiskan 2 sampai 3 jam sehari di berbagai platform seperti Instagram,

WhatsApp, Twitter, Tiktok dan lain sebagainya. Dengan penggunaan intensif


56

ini menjadi bagian internal dari kehidupan sosial mereka dan mengubah cara

mereka berinteraksi, berkomunikasi dan memandang dunia.

Media sosial menghadirkan versi kehidupan orang lain yang lebih baik

dan mendorong perbandingan sosial yang intens di kalangan gen Z. Mereka

sering membandingkan diri mereka dengan teman sebaya dan orang yang

berpengaruh, sehingga dapat menimbulkan perasaan tidak mampu dan takut.

Ada banyak takanan untuk memproyeksikan kehidupan sempurna secara

online dengan harapan mendapatkan suka, komentar dan pengikut.

Salah satu aspek yang perlu diteliti adalah dampak psikologis dari

penggunaan media sosial. Generasi Z sering kali merasa tertekan untuk

membandingkan diri dengan orang lain yang menampilkan kehidupan yang

tampak sempurna di media sosial. Ini dapat menyebabkan perasaan rendah

diri, kecemasan, dan bahkan depresi. Memahami dampak ini sangat penting

untuk menemukan cara mendukung kesehatan mental mereka.

Selain itu, hal ini mengubah dinamika sosial, di mana hubungan antar

individu kini lebih sering terjadi secara online dibandingkan tatap muka. Hal

ini penting untuk dipahami karena interaksi di dunia maya bisa berbeda

dengan interaksi langsung, dan ini dapat memengaruhi kualitas hubungan

mereka.

2. Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki karakteristik

tertentu (Sugiyono, 2013). Populasi penelitian ini yang berjumlah 19.697


57

(menurut website resmi UIN Malang), tidak memungkinkan untuk diteliti

seluruhnya karena terbatas dana, tenaga dan waktu, maka peneliti

menggunakan sampel yang hasilnya diberlakukan untuk populasi.

Dalam penelitian ini, untuk memperoleh sampel peneliti mengambil

banyak sampel untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh lebih

representatif dan dapat digeneralisasi. Untuk penelitian dengan desain

korelasional, jumlah sampel yang disarankan adalah minimal 30 subjek

(Arikunto, 2011). Sehingga peneliti memutuskan untuk menggunakan sampel

dengan jumlah 302 responden, sesuai dengan rumus sample metode Excel

Krejcie dan Morgan.

3. Teknik Sampling

Dalam menentukan sampel, peneliti menerapkan teknik purposive

sampling, yaitu metode pemilihan sampel yang didasarkan pada pertimbangan

tertentu (Sugiyono, 2013). Dengan menggunakan teknik ini, peneliti bertujuan

agar data yang diperoleh dapat memenuhi kriteria yang telah ditetapkan untuk

diuji. Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Terkategori sebagai generasi Z dengan rentang usia 18 – 27 tahun

2. Individu dengan pengguna media sosial.

E. Instrumen Pengukuran

Instrumen penelitian kuantitatif merupakan alat yang krusial untuk

mengumpulkan data secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan secara


58

statistik. Penelitian jenis ini mengadopsi pendekatan ilmiah serta menggunakan

metode statistik untuk mengukur berbagai variabel dalam suatu populasi, sehingga

hasil yang diperoleh bersifat objektif dan dapat diandalkan. Beberapa instrumen

yang umum digunakan dalam penelitian kuantitatif meliputi kuesioner, tes dan

pengamatan terstruktur. Data yang dikumpulkan melalui instrumen ini kemudian

diproses dan dianalisis dengan teknik statistik yang canggih, memungkinkan

peneliti untuk menghasilkan temuan yang akurat dan berbasis ilmiah (Suparyanto

dan Rosad, 2020).

Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan skala likert, yang dirancang

untuk menilai tingkat persetujuan atau ketidaksetujuan responden terhadap suatu

pernyataan terkait objek tertentu (Zikmund, 1997). Skala likert ini menggunakan

format jawaban berbasis angka, yaitu 5, 4, 3, 2, dan 1, khusus untuk pernyataan

yang bersifat positif. Lima kategori pilihan jawaban yang digunakan meliputi :

“Selalu”, “Sering”, “Kadang-kadang”, “Jarang”, dan “Tidak Pernah”. Instrumen

penelitian ini terdiri dari pernyataan-pernyataan yang mendukung (favorable).


59

Tabel 3.1 Penilaian Skala Likert

Skor
Jawaban
Favorable

Selalu (SL) 5

Sering (SR) 4

Kadang-kadang (KK) 3

Jarang (J) 2

Tidak Pernah (TP) 1

1. Skala Penggunaan Media Sosial

Terdapat dua indikator pada variabel ini, yakni 1) Tujuan Penggunaan, yang

didefinisikan sebagai motivasi individu dalam memanfaatkan media sosial.

2) Preferensi Komunikasi Online, yang diartikan sebagai kecenderungan

individu untuk lebih memilih menggunakan media sosial sebagai sarana

komunikasi dibandingkan dengan komunikasi tatap muka, serta intensitas

penggunaan media sosial itu sendiri. Pengukuran ini dilakukan melalui alat

ukur penggunaan media sosial yang dibuat oleh Topaloglu (2016) dalam

“The Scale for the Individual and Social Impact of Student”. Semakin tinggi

skor yang diperoleh menunjukkan bahwa individu tersebut lebih menyukai

keberadaan media sosial, karena dianggap bermanfaat dan lebih memilih


60

menyukai komunikasi secara online (Topaloglu et al., 2016). Berikut adalah

blueprint yang menggambarkan variabel penggunaan media sosial.

Tabel 3.2 The Scale for the Individual and Social Impact of Student

Faktor Favorable Jumlah

Intensity od Social 1,2,3,4, 7

Media Use 5,6,7

Social Media Use & 8,9,10, 6

Communication 11,12,13

Preferences

Total 13

2. Skala Kecemasan Sosial

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah LSAS-SR yang

merupakan versi Self Report dari Liebowitz Social Anxiety Scale, yang

awalnya dikembangkan oleh Michael Liebowitz tahun 1987. Pada skala ini,

terdapat pertanyaan yang menggambarkan situasi yang jarang atau tidak

pernah di alami, responden diminta untuk membayangkan bagaimana akan

bereaksi jika dihadapkan oleh situasi tersebut, sehingga semua jawaban

diberikan berdasarkan bagaimana situasi tersebut memengaruhi responden

.Alat ukur ini sering digunakan oleh profesional kesehatan mental untuk

mendeteksi dan mengevaluasi tingkat kecemasan sosial atau fobia sosial


61

pada individu. Kemudian, alat ukur ini telah diadaptasi ke dalam bahasa

Indonesia oleh Sasri (2014). Versi bahasa Indonesia dari LSAS

menunjukkan reabilitas yang tinggi, dengan skor 0,88 untuk domain

ketakutan dan 0,86 untuk domain penghindaran. LSAS merupakan salah

satu alat ukur yang valid dan dapat diandalkan untuk mengukur kecemasan

(Heimberg, 1999). Berikut adalah blueprint yang menggambarkan variabel

kecemasan sosial.

Tabel 3.3 Skala Liebowitz Social Anxiety Scale

Faktor Favorable Jumlah

Performance Anxiety 14,16,17,18,19,21, 13

22,26,27.29,30,34

Social Anxiety 20,23,24,25,28,31, 11

32,33,35,36,37

Total 24

F. Analisis Data

Setelah memperoleh populasi dan sampel, maka selanjutnya dilakukan

proses analisa yang meliputi :

1. Persiapan

Kegiatan yang dilakukan dalam persiapan ini meliputi :

a) Memverifikasi nama dan kelengkapan identitas responden


62

b) Memastikan bahwa data telah terisi dengan lengkap, termasuk pengisian

item pada instrumen pengumpulan data serta memeriksa jenis-jenis data

yang diisi.

2. Tabulasi

Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

a) Memberikan skor (skoring) pada aitem yang perlu dinilai

b) Mengkode (koding) aitem yang tidak dinilai

Teknik analisis data merupakan langkah-langkah yang digunakan untuk

menjawab rumusan masalah dalam penelitian dan bertujuan untuk menarik

kesimpulan dari hasil penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Proses analisis data dilakukan dengan

menggunakan program komputer SPSS (Statistical Product and Service Solutions)

versi 25.0 for windows.

Untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan melalui skala, menguji

hipotesis, serta mengetahui pengaruh penggunaan media sosial terhadap

kecemasan sosial, peneliti menggunakan analisis berdasarkan skor mean hipotetik

dan standar deviasi. Beberapa langkah yang diambil dalam proses ini meliputi :

1. Menentukan skor minimum berdasarkan jumlah aitem pada skala, kemudian

mengalikan hasilnya dengan skor terendah yang ada pada skala.

2. Menentukan skor maksimum berdasarkan jumlah aitem pada skala, lalu

mengalikan hasilnya dengan skor tertinggi yang tersedia.

3. Menghitung mean hipotetik menggunakan rumus berikut :


63

(Skor Minimum + Skor Maksimum) : 2

4. Menghitung standar deviasi dengan rumus berikut :

(Skor Maksimum – Skor Minimum) : 6

Setelah memperoleh distribusi skor responden, mean dan standar deviasi

dihitung untuk menetapkan batas angka penilaian sesuai dengan norma yang telah

ditentukan. Norma yang digunakan dalam analisis ini adalah :

Kategori Kriteria

Tinggi X ≥ M + 1SD

Sedang M – 1SD s/d M + 1SD

Rendah X ≤ Mean – 1SD

Setelah angka penilaian sudah diberikan pada setiap responden, kemudian

ditentukan frekuensi pada setiap kategori dengan rumus :

P = F/N x 100%

Keterangan :

P : Presentase

F : Frekuensi

N: Jumlah Sampel
64

Untuk menghitung korelasi menggunakan model prodeuct moment

correlation (Korelasi Prodeuk Momen). Korelasi ini digunakan untuk mencari

hubungan antara variabel (X) penggunaan media sosial dengan variabel (Y)

kecemasan sosial. Adapun rumus koefisien korelasi adalah sebagai berikut :

Keterangan :

X : Variabel penggunaan media sosial

Y : Variabel kecemasan sosial

N : Jumlah Responden

∑x : Jumlah nilai tiap aitem X

∑y : Jumlah nilai tiap aitem Y

∑x2 : Jumlah kuadrat nilai tiap aitem X

∑y2 : Jumlah kuadrat nilai tiap aitem Y

Rxy : Koefisien korelasi antara X dan Y


BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian

1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang,

sebelumnya dikenal sebagai UIIS yang merupakan perguruan tinggi yang

berlokasi di Kota Malang, Jawa Timur. Nama Maulana Malik Ibrahim

diambil dari salah satu anggota Walisongo yang dikenal sebagai Sunan

Gresik yang merupakan seorang tokoh penyebar agama islam di Pulau Jawa.

Sebelumnya berganti nama, Universitas ini bernama UIIS dan tetap belokasi

di Kota Malang.

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang adalah

salah satu perguruan tinggi Islam negeri terkemuka di Indonesia, yang

didirikan pada tahun 2004 dan telah berkembang menjadi pusat pendidikan

tinggi yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan dengan nilai-nilai

islam.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki dua lokasi kampus utama:

a. Kampus I (Utama)

Berlokasi di Jalan Gajayana No. 50, Dinoyo, Kecamatan Lowokwaru,

Kota Malang. Kampus ini berfungsi sebagai pusat kegiatan akademik

dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, termasuk gedung perkuliahan,

65
66

perpustakaan pusat, masjid kampus, laboratorium, dan gedung rektorat.

Kampus I digunakan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,

Fakultas Syariah, Fakultas Humaniora, serta Fakultas Ekonomi.

b. Kampus II

Terletak di Puncak Tidar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Kampus

ini merupakan pengembangan dari kampus utama dan digunakan untuk

kegiatan perkuliahan Fakultas Sains dan teknologi, Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan, serta program pascasarjana.

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dikenal dengan pendekatan

integrasi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman.

Lingkungan kampus yang hijau, fasilitas yang memadai, serta dukungan

akademik yang kuat menjadikan UIN Malang sebagai tempat yang ideal

untuk penelitian dan pengembangan ilmu. Dengan lokasi yang strategis dan

suasana akademik yang mendukung, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

menjadi pilihan yang tepat untuk melakukan penelitian di berbagai bidang,

termasuk pendidikan, agama, sosial, dan teknologi.

Berdasarkan website resmi UIN Malang berikut beberapa Fakultas dan

Jurusan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

1) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

a) Pendidikan Agama Islam

b) Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

c) Pendidikan Bahasa Arab


67

d) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

e) Pendidikan Islam Anak Usia Dini

f) Manajemen Pendidikan Islam

g) Tadris Bahasa Inggris

h) Tadris Matematika

i) Pendidikan Profesi Guru

j) Magister Pendidikan Matematika

2) Fakultas Syariah

a) Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyyah)

b) Hukum Ekonomi Syariah (Mu’amalah)

c) Hukum Tata Negara

d) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

e) Ilmu Hadist

3) Fakultas Humaniora

a) Bahasa dan Sastra Arab

b) Sastra Inggris

4) Fakultas Ekonomi

a) Perbankan Syariah

b) Akuntansi

c) Manajemen

5) Fakultas Sains dan Teknologi

a) Matematika
68

b) Biologi

c) Teknik Arsitektur

d) Fisika

e) Matematika

f) Teknik Informatika

g) Kimia

h) Perpustakaan dan Sains Informasi

i) Teknik Sipil

j) Teknik Elektro

k) Teknik Mesin

l) Teknik Mesin

m) Teknik Lingkungan

n) Magister Biologi

o) Magister Informatika

6) Fakultas Psikologi

a) Psikologi

b) Magister Psikologi

7) Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

a) Pendidikan Dokter

b) Farmasi

c) Profesi Dokter

d) Pendidikan Profesi Apoteker


69

8) Program Pascasarjana

a) Magister Manajemen Pendidikan Islam

b) Magister Pendidikan Bahasa Arab

c) Magister Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah

d) Magister Pendidikan Agama Islam

e) Magister Al-Ahwal Al-Syakhsiyah

f) Magister Ekonomi Syariah

g) Magister Bahasa dan Sastra Arab

h) Magister Studi Islam

i) Doktor Manajemen Pendidikan Islam

j) Doktor Pendidikan Bahasa Arab

k) Doktor Pendidikan Agama Islam Berbasis Studi Interdispliner

l) Doktor Hukum Keluarga Islam (Ahwal Syakhshiyah)

m) Doktor Ekonomi Syariah

n) Doktor Studi Islam

2. Gambaran Umum Partisipan

Generasi Z yang terdiri dari individu kelahiran tahun 1997 hingga

2012 saat ini menjadi kelompok usia dominan di kalangan mahasiswa

perguruan tinggi, termasuk di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Mahasiswa berusia 18 hingga 27 tahun ini memiliki ciri khas yang

membedakan mereka dari generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah


70

pesatnya perkembangan teknologi digital, di mana internet dan media sosial

telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa UIN Malang dari generasi Z dikenal memiliki

kemampuan literasi digital yang tinggi. Mereka terbiasa memanfaatkan

berbagai perangkat teknologi seperti smartphone, laptop, dan tablet untuk

menunjang kegiatan akademik maupun sosial. Kemudahan akses informasi

melalui internet membuat mereka lebih kritis dalam menyeleksi informasi,

meskipun tantangan dalam membedakan informasi valid dan hoaks masih

menjadi perhatian. Selain itu, mereka cenderung lebih mandiri dalam

mencari referensi belajar melalui platform daring seperti jurnal digital, e-

book, dan video pembelajaran.

Dalam aspek sosial, mahasiswa generasi Z di UIN Malang

menunjukkan sikap terbuka terhadap keberagaman dan inklusivitas. Mereka

aktif berpartisipasi dalam organisasi kampus, komunitas, serta kegiatan

keagamaan. Keterlibatan ini mencerminkan bahwa meskipun tumbuh di era

digital, nilai kebersamaan dan gotong royong tetap menjadi bagian penting

dalam kehidupan mereka. Namun, tingginya penggunaan media sosial dan

komunikasi virtual terkadang menyebabkan menurunnya frekuensi interaksi

sosial secara langsung.

Sedangkan dalam hal kepribadian, mahasiswa generasi Z cenderung

bersifat kreatif, inovatif, dan berfokus pada pencapaian tujuan. Mereka lebih

menyukai pekerjaan yang menawarkan fleksibilitas waktu serta peluang


71

untuk berkontribusi dalam perubahan sosial. Namun, generasi ini juga sering

menghadapi tingkat kecemasan yang tinggi, terutama terkait tekanan

akademik, ketidakpastian masa depan, dan tuntutan sosial.

Dengan berbagai pandangan dan alasan ini, mahasiswa di UIN

Malang merupakan individu yang mudah beradaptasi, berpikiran terbuka,

dan terampil dalam menggunakan teknologi. Dukungan dalam

pengembangan keterampilan digital, menjaga kesehatan mental, serta

memperkuat nilai sosial dan spiritual sangat dibutuhkan agar mereka mampu

menghadapi tantangan di masa depan dan memberikan kontribusi yang

positif bagi masyarakat.

Peneliti melibatkan sebanyak 302 responden dalam penelitian ini

untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Pemilihan responden

didasarkan pada beberapa kriteria, termasuk jenis kelamin, usia, semester,

jumlah ponsel yang dimiliki, dan lama waktu online.

a. Frekuensi Penggunaan

Responden berdasarkan jenis kelamin, deskripsi karakteristik

responden disajikan pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.4 Kuosioner Tersebar Berdasarkan Gender

Jenis Kelamin Frekuensi Presentase

Laki-laki 133 44%

Perempuan 169 56%


72

Jumlah 302 100%

Berdasarkan distribusi jenis kelamin yang ditampilkan dalam tabel

di atas, terdapat 133 responden laki-laki atau sekitar 44% dari total

responden, sementara 169 responden atau 56% adalah perempuan. Hasil

ini mengindisikan bahwa perempuan di UIN Maulana Malik Ibrahim

Malang lebih dominan dalam menggunakan media sosial dibandingkan

laki-laki.

b. Usia

Responden berdasarkan usia, deskripsi karakteristik responden

disajikan pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.5 Sebaran Subjek Berdasarkan Usia

Usia Frekuensi Persentase

19 19 6%

20 33 11%

21 118 39%

22 74 25%

23 32 11%

24 26 9%

Total 302 100%


73

Berdasarkan data dalam tabel di atas, distribusi responden

berdasarkan usia menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 21

tahun, yaitu sebanyak 118 mahasiswa dengan presentase 39%.

Berikutnya, responden berusia 22 tahun dengan jumlah 74 mahasiswa

dengan presentase 25%. Sementara itu, responden yang berusia 20 dan

23 tahun masing-masing memiliki jumlah yang sama, yaitu 33 dan 32

orang dengan presentase 11%. Kemudian, usia 24 tahun memiliki

jumlah responden 26 mahasiswa dengan presentase 9%, sedangkan usia

19 tahun menjadi yang paling sedikit dengan jumlah 19 orang dengan

presentase 6%.

Distribusi ini mencerminkan bahwa sebagian besar responden

berada dalam rentang usia 20 – 22 tahun yang merupakan periode aktif

dalam kehidupan akademik mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim

Malang. Usia ini juga menjadi masa dimana penggunaan media sosial

cenderung tinggi, sehingga dapat memberikan wawasan yang lebih jelas

terkait hubungan antara penggunaan media sosial dan kecemasan sosial.

Dengan variasi usia yang cukup beragam, penelitian ini dapat

mencerminkan pengalaman dan pola interaksi sosial mahasiswa dari

berbagai tingkat akademik.

c. Semester

Responden berdasarkan semester, deskripsi karakteristik responden

disajikan pada tabel di bawah ini :


74

Tabel 3.6 Sebaran Subjek Berdasarkan Semester

Semester Orang Presentase

2 19 6%

3 21 7%

4 38 13%

5 28 9%

6 67 22%

7 41 14%

8 88 29%

Total 302 100%

Berdasarkan tabel di atas, mengenai karakteristik responden

berdasarkan semester di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

menunjukkan distribusi yang bervariasi di antara mahasiswa. Dari total

302 responden, semester 8 memiliki jumlah responden tertinggi yakni

88 mahasiswa dengan presentase 29%, diikuti oleh semester 6 dengan

67 responden dengan presentase 22%. Sementara itu, semester 2

mencatat jumlah responden terendah sebanyak 19 mahasiswa atau 6%.

Distribusi ini menggambarkan bahwa mahasiswa di semester yang lebih

tinggi cenderung lebih terlibat dalam penelitian, dikarenakan mereka


75

memiliki pengalaman akademik yang lebih banyak dan lebih siap untuk

berbagi pandangan serta pengalaman mereka.

Kecenderungan ini dapat diartikan bahwa mahasiswa di semester

akhir seperti semester 8 hingga 8 lebih aktif dalam menggunakan media

sosial untuk berinteraksi dengan teman sekelas dan mencari informasi

terkait jenjenag karir di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa seiring

dengan kemajuan studi, mahasiswa tidak hanya berfokus pada

akademik, tetapi juga memanfaatkan platform sosial untuk membangun

jaringan dan mendukung kesejahteraan sosial mereka.

d. Jumlah Ponsel

Responden berdasarkan jumlah ponsel yang dimiliki, deskripsi

karakteristik responden disajikan diagram di bawah ini :

Diagram 4.1 Jumlah Ponsel Responden

3%

29%

68%

1 Ponsel 2 Ponsel 3 Ponsel


76

Berdasarkan diagram di atas, menunjukkan bahwa mayoritas

responden sebanyak 205 mahasiswa dengan presentase 68% memiliki

satu ponsel. Sementara itu, 88 mahasiswa dengan presentase 29%

memiliki dua ponsel, dan hanya 9 mahasiswa atau 3% yang memiliki

tiga ponsel.

Distribusi ini mengindikasikan bahwa sebagian besar mahasiswa

cenderung memiliki satu ponsel yang mencerminkan kebutuhan dasar

untuk komunikasi dan akses informasi. Presentase yang lebih kecil

untuk responden yang memiliki dua atau tiga ponsel menunjukkan

bahwa kepemilikan lebih dari satu ponsel tidak umum di kalangan

mahasiswa.

e. Lama Waktu Online

Responden berdasarkan lama waktu ketika online, deskripsi

karakteristik responden disajikan pada diagram di bawah ini :

Diagram 4.2 Waktu Online


77

Berdasarkan data yang diperoleh dari 302 responden mahasiswa

mengenai lama waktu mereka saat online, mayoritas mahasiswa

menghabiskan waktu lebih dari 5 jam per hari dengan presentase sebesar

60,6%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki

ketergantungan yang cukup tinggi terhadap aktivitas online, baik untuk

keperluan akademik, hiburan, maupun interaksi di media sosial.

Selain itu, sebanyak 30,8% mahasiswa tercatat bahwa mereka

menghabiskan waktu sekitar 4 sampai 5 jam per hari untuk online.

Kelompok ini juga cukup besar dengan menunjukkan bahwa hampir

sepertiga mahasiswa masih memiliki durasi penggunaan internet yang

cukup intens, meskipun tidak sebanyak kelompok yang berada di

kategori lebih dari 5 jam per hari.

Sementara itu, hanya 8,6% mahasiswa yang menggunakan media

sosial kurang dari 3 jam per hari. Presentase ini menunjukkan bahwa

hanya sebagian kecil mahasiswa yang memiliki kebiasaan online

dengan durasi yang relatif rendah dibandingkan mayoritas responden

lainnya.

3. Waktu dan Pelaksanaan Penelitian

Dalam pelaksanaan pengambilan data yang dilakukan terhadap subjek

ini menggunakan metode penyebaran kuosioner di media sosial dan

lingkungan kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggunakan

google form. Penyebaran angket kepada seluruh mahasiswa UIN Malang


78

selama 60 hari pada 31 Desember 2024 – 27 Februari dengan jumlah subjek

sebanyak 302 responden.

4. Hambatan Dalam Pelaksanaan Penelitian

Dalam proses pelaksanaan subjek penelitian ini menghadapi sejumlah

hambatan yang perlu diperhatikan. Salah satu hambatan utama adalah

partisipasi responden, dimana mendapatkan keterlibatan yang memadai dari

mahasiswa bisa menjadi tantangan karena jadwal yang ketika masa liburan

dan keterbatasan waktu. Selain itu, ada potensi bias dalam data, karena

mahasiswa yang bersedia berpartisipasi mungkin memiliki karakteristik

yang berbeda dari mereka yang tidak mau berpartisipasi dengan

menimbulkan ketidakseriusan dalam pengisian angket. Hambatan lain

melibatkan masalah privasi dan konfidensialitas dalam pengumpulan data,

serta kompleksitas menentukan pengaruh penggunaan media sosial terhadap

kecemasan sosial pada generasi Z di UIN Malang untuk mendapatkan

dukungan yang diperlukan.

B. Hasil Penelitian dan Analisis Deskriptif

1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

a) Uji Validitas

Dalam penelitian ini mengenai hasil pengukuran dari variabel

penggunaan media sosial yang sudah dilakukan oleh peneliti terhadap

subjek, maka dari itu terdapat 2 faktor yang ada didalamnya meliputi
79

Aims of Social Network Use dan Social Network Use and

Communication Preferences. Dari hasil responden yang sudah

didapatkan, mendapatkan interpretasi hasil dengan sebagai berikut :

Tabel 4.1 Uji Validitas Penggunaan Media Sosial

No Aspek Valid Gugur Jumlah

Fav Un Fav Un Valid

1. Aims of Social 1,2,3,4, - - - 7

Network Use 5,6,7

2. Social Network 8,9,10, - - - 6

Use and 11,12,13

Communication

Preferences

TOTAL 13

Berdasarkan dari hasil uji validitas pada skala penggunaan media

sosial kepada subjek yang sudah dilakukan dengan 13 aitem yang diuji

kepada 302 subjek, mendapatkan hasil dengan adanya 13 aitem yang

dinyatakan valid dan tidak ada aitem yang dinyatakan gugur. Hal ini

ditunjukkan angka validitas dengan rentang antara (hasil) hingga (hasil),

sehingga untuk aitem yang nilai validitasnya < 0,5 dengan kriteria

tersebut, dinyatakan valid.


80

Dalam penelitian ini mengenai hasil pengukuran dari variabel

kecemasan sosial yang sudah dilakukan oleh peneliti terhadap subjek,

maka dari itu terdapat 2 aspek yang ada didalamnya meliputi

performance anxiety dan social anxiety. Dari hasil responden yang

sudah didapatkan, mendapatkan interpretasi hasil dengan sebagai

berikut :

Tabel 4.2 Uji Validitas Kecemasan Sosial

No Aspek Valid Gugur Jumlah

Fav Un Fav Un Valid

1. Performance 14,15,16,17,18, - - - 14

Anxiety 19,20,21,22,

23,24,25,26,27

2. Social 28,29,30,31,32, - - - 10

Anxiety 33,34,35,36,37

TOTAL 24

Berdasarkan dari hasil pengujian skala kecemasan sosial kepada

302 subjek yang sudah dilakukan dengan 24 aitem yang diuji,

mendapatkan hasil dengan valid semua dan tidak ada aitem yang

dinyatakan gugur. Hal ini ditunjukkan angka validitas dengan rentang


81

antara (hasil) hingga (hasil), sehingga untuk aitem yang niali

validitasnya < 0,5 dengan kriteria tersebut, dinyatakan valid.

b) Uji Reliabilitas

Hasil uji reliabilitas yang digunakan dalam penelitian ini yakni

alpha cronbach dengan nilai angka pada rentang 0 sampai 1.00 yang

artinya semakin tinggi angka reliabilitas koefisien yang 1.00 maka

semakin bagus reliabilitasnya dan semakin rendah angka reliabilitas

dibawah 0, maka dinyatakan tidak bagus reliabilitasnya.

Tabel 4.3 Hasil Uji Reliabilitas

Variabel Alpha N of Keterangan

Cronbach Items

Penggunaan Media .926 13 Reliabel

Sosial

Kecemasan Sosial .964 24 Reliabel

Berdasarkan dari tabel data dari hasil uji reliabilitas yang sudah

dilakukan menunjukkan hasil dari penggunaan media sosial 0.926 dan

kecemasan sosial 0.964, kedua hasil tersebut menunjukkan bahwa angka

tersebut reliabilitas pada tingkat tinggi dan dapat digunakan untuk

analisis data pada penelitian ini.


82

2. Hasil Uji Asumsi

Hasil uji asumsi menjadi permulaan dalam proses menjalankan

analisis regresi linier berganda, pada penelitian ini melakukan serangkaian

uji asumsi yang meliputi uji normalitas, dan uji linieritas. Uji ini dilakukan

enggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistic 25 version. Berikut adalah

hasil uji asumsi yang dilakukan.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menentukan apakah data

mengikuti distribusi normal. Jika analisis yang dilakukan menggunakan

metode parametik, data perlu terdistribusi normal. Namun, jika data

tidak terdistribusi normal, maka metode yang sesuai adalah statistik

non-parametik. Pengujian normalitas sering dilakukan menggunakan

perangkat lunak seperti SPSS versi 25.0 untuk Windows dengan metode

Kolmogrov-Smirnov Test, terutama saat jumlah responden melebihi 50.

Distribusi data akan dikatakan normal apabila uji normalitas memiliki

hasil nilai signifikan P > 0,05. Berikut adalah hasil dari uji normalitas

yang dilakukan.

Tabel 4.4 Uji Normalitas Variabel

Variabel K-SZ Sig. Status

Penggunaan Sosial 0,121 0,000 Tidak Normal

Media
83

Kecemasan Sosial 0,062 0,007 Tidak Normal

Pada tabel 4.4, dapat dibuktikan bahwasannya hasil uji normalitas

menunjukkan bahwa kedua variabel tidak terdistribusi normal karena

signifikansinya < 0,05. Hal ini berarti pendistribusian data tidak

memenuhi syarat.

b. Uji Linearitas

Uji linearitas merupakan sarana yang digunakan untuk

mengetahui hubungan yang sejalan atau linear antara varibel bebas dan

variabel terikat. Ketika menggunakan uji korelasi atau regresi, syaratnya

adalah hasil uji linearitas harus menunjukkan signifikansi > 0,05. Hal

ini juga mempertimbangkan “deviation from linearity” yang

menunjukkan adanya hubungan linier antar variabel. Kehadiran

hubungan linier antara variabel menandakan bahwa perubahan yang

terjadi pada variabel Y secara linier memengaruhi peningkatan atau

penurunan pada kualitas data variabel X. Berikut adalah hasil dari uji

linearitas yang telah dilakukan.

Tabel 4.5 Uji Linearitas Variabel

Variabel Linearity Sig. Status

(Tabel nilai F)

Kecemasan Sosial 1,416 0,066 Linear


84

Penggunaan Media

Sosial

Berdasarkan tabel di atas, hasil uji linearitas menunjukkan bahwa

antara variabel penggunaan sosial media dan kecemasan sosial memiliki

hubungan yang linear karena nilai signifikasi > 0,05.

3. Analisis Deskriptif

a. Skor Hipotettik dan Empirik

Dalam penelitian ini, gambaran mengenai distribusi data dan

kecenderungan responden dalam penelitian ditelaah menggunakan skor

hipotetik dan skor empirik, sebagaimana berikut :

Tabel 4.6 Uji Deskripsi Skor Hipotetik dan Skor Empirik

Variabel Hipotetik Mean Empirik Mean

Min Max Min Max

Penggunaan 13 65 39 27 65 49,3

Sosial Media

Kecemasan 24 120 72 40 120 86,9

Sosial

Berdasarkan pada tabel di atas dapat dijabarkan sebagai berikut :


85

1. Skala penggunaan media sosial memiliki skor mininum 1 dan

skor maksimum 5 dengan jumlah total aitem 13. Pada skala ini

menunjukkan skor hipotetik memiliki rentang dari 13 hingga 65

dengan mean 39, sedangkan skor empiriknya menunjukkan

rentang dari 27 hingga 65 dengan mean 49,3. Apabila dilakukan

perbandingan antara mean empirik dan mean hipotetik, maka

mean empirik lebih tinggi daripada mean hipotetik sehingga

dapat diartikan bahwa kecenderungan responden dalam

melakukan penggunaan media sosial tergolong tinggi.

2. Skala kecemasan sosial memiliki skor minimum 1 dan skor

maksimum 5 dengan jumlah total aitem 24. Pada skala ini

menunjukkan skor hipotetik berkisar antara 24 hingga 120

dengan mean 72, sedangkan skor empiriknya berkisar dari 40

hingga 120 dengan mean 86,9. Apabila dilakukan perbandingan

antara mean empirik dan mean hipotetik, maka mean empirik

lebih tinggi daripada mean hipotetik sehingga dapat diartikan

bahwa responden memiliki kecenderungan mengalami

kecemasan sosial tergolong tinggi.


86

b. Deskripsi Kategorisasi Data

Intensity of Social Performance


Media Sosial Use Anxiety
Tinggi (67,2%) Tinggi (49,3%)

Penggunaan
Kecemasan Sosial
Media Sosial
Sedang (48,7%)
Tinggi (62,9%)

Social Media Use


& Communication Social Anxiety
Preferences Tinggi (45%)
Tinggi (61,9%)

1) Kategorisasi Penggunaan Media Sosial

Dalam penelitian ini, tingkat penggunaan media sosial terbagi

menjadi beberapa kelompok yang dikategorisasikan berdasarkan

skor yang diperoleh oleh responden berdasarkan hasil pengukuran

variabel penggunaan media sosial. Kriteria kategorisasi didasarkan

pada rentang skor yang telah diolah dengan penjabaran sebagai

berikut :

Tabel 4.7 Kategorisasi Data Penggunaan Media Sosial

Kategori Range F Persentase


87

Tinggi > 47,5 190 62,9%

Sedang 30,4 – 47,6 109 36,1%

Rendah < 30,3 3 1%

Dari total 302 responden yang berada dalam penelitian ini,

mayoritas responden tersebut berada dalam kategori penggunaan

media sosial yang tinggi, yakni sebesar 62,9% atau sebanyak 190

mahasiswa. Responden dalam kategori sedang memiliki jumlah 109

mahasiswa dengan persentase 36,1%, sementara dalam kategori

rendah penggunaan media sosial memiliki persentase 1%, dengan

jumlah 3 mahasiswa.

Diagram 4.3 Kategorisasi Penggunaan Media Sosial

36.1

62.9

TINGGI SEDANG RENDAH

Berdasarkan dari hasil diagram yang terdapat di atas, dapat

disimpulkan bahwa kategorisasi tingkat penggunaan media sosial

pada mahasiswa generasi Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang


88

dalam kategori tinggi. Hal ini dibuktikan dengan presentase 62,9%

yang menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa dalam penelitian

ini memiliki intensitas penggunaan media sosial yang cukup besar

dengan jumlah mahasiswa sebanyak 190 orang.

Data ini mengindikasikan bahwa media sosial memainkan

peran penting dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa, baik untuk

keperluan akademik, sosial, maupun hiburan. Tingginya angka ini

juga dapat menjadi refleksi dari bagaimana teknologi digital

semakin terintegrasi dalam gaya hidup mahasiswa generasi Z, yang

cenderung mengandalkan media sosial untuk berkomunikasi,

informasi, serta interaksi sosial.

Tabel 4.7.1 Kategorisasi Aspek Intensity of Social Media Sosial


Use
Kategori Range F Persentase

Tinggi > 25,6 203 67,2%

Sedang 16,4 – 25,5 98 32,5%

Rendah < 16,3 1 0,3%

Berdasarkan tabel diatas, mayoritas mahasiswa Generasi Z di

UIN Malang menunjukkan tingkat penggunaan media sosial yang

cukup tinggi. Hal ini terlihat dari 203 responden dengan presentase

67,2%. Sementara itu, sebanyak 98 responden atau 32,5% berada


89

dalam kategori sedang. Dan, hanya satu responden dengan

presentase 0,3% yang masuk dalam kategori rendah.

Data tersebut menggambarkan bahwa intensitas penggunaan

media sosial di kalangan mahasiswa Generasi Z UIN Malang

tergolong dominan pada tingkat tinggi. Hal ini mengindikasikan

bahwa aktivitas bermedia sosial telah menjadi bagian penting dalam

keseharian mereka, sejalan dengan karakteristik kehidupan digital

yang melekat pada generasi ini. Minimnya jumlah responden

dengan intensitas rendah mempertegas bahwa media sosial

memiliki peran signifikan, baik sebagai sarana komunikasi, hiburan,

maupun pendukung kegiatan akademik.

Tabel 4.7.2 Kategorisasi Aspek Social Media Use &


Communication Preferences
Kategori Range F Persentase

Tinggi > 22 187 61,9%

Sedang 14 – 21,5 95 31,5%

Rendah < 13,5 20 6,6%

Dalam aspek penggunaan media sosial dan preferensi

komunikasi, mayoritas mahasiswa Generasi Z di UIN Malang

menunjukkan kecenderungan yang tinggi terhadap interaksi melalui

platform digital. Sebanyak 187 responden atau 61,9% tercatat dalam


90

kategori tinggi. Sementara itu, 95 responden dengan presentase

31,5% berada dalam kategori sedang. Serta, 20 responden atau 6,6%

yang termasuk kategori rendah.

Data ini mencerminkan bahwa sebagian besar mahasiswa lebih

memilih media sosial sebagai saluran utama dalam berkomunikasi,

baik dalam ranah sosial, akademik, maupun personal. Proporsi yang

sangat kecil pada kategori rendah menunjukkan bahwa preferensi

terhadap komunikasi digital telah menjadi karakteristik umum di

kalangan mahasiswa Generasi Z. Hal ini mengindikasikan bahwa

media sosial tidak hanya digunakan secara intensif, tetapi juga telah

membentuk cara berkomunikasi yang dominan dalam kehidupan

sehari-hari mereka.

2) Kategorisasi Kecemasan Sosial

Dalam penelitian ini, tingkat kecemasan sosial terbagi menjadi

beberapa kelompok yang dikategorisasikan berdasarkan hasil

pengukuran variabel kecemasan sosial. Kriteria kategorisasi

didasarkan pada rentang skor yang telah diolah dengan penjabaran

sebagai berikut :

Tabel 4.8 Kategorisasi Kecemasan Sosial

Kategori Range F Persentase

Tinggi > 88 140 46,4%


91

Sedang 56 – 87,5 147 48,7%

Rendah < 55,5 15 5%

Responden pada kecemasan sosial diklasifikasikan menjadi

tiga kategori utama, yakni responden yang memiliki tingkat

kecemasan tinggi sebanyak 140 mahasiswa atau 46,4%, kemudian

diikuti oleh responden yang memiliki kategori kecemasan sosial

sedang sebanyak 147 mahasiswa atau 48,7%, dan mahasiswa yang

memiliki kecemasan sosial rendah sebanyak 15 atau 5%.

Diagram 4.4 Kategorisasi Kecemasan Sosial

46.4

48.7

TINGGI SEDANG RENDAH

Berdasarkan dari hasil diagram yang terdapat di atas, dapat

disimpulkan bahwa kategorisasi tingkat kecemasan sosial pada

mahasiswa generasi Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

dalam kategori sedang. Hal ini ditunjukkan oleh presentase 48,7%

yang berarti setengah dari total responden mengalami kecemasan


92

sosial pada tingkat yang tidak terlalu rendah, tetapi juga tidak

terlalu tinggi, dengan jumlah mahasiswa sebanyak 147 orang.

Mahasiswa yang masuk dalam kategori sedang, yang

menunjukkan bahwa mereka mungkin menghadapi beberapa

kesulitan dalam situasi sosial tertentu, seperti berbicara di depan

umum, berinteraksi dengan orang baru atau menghadapi tekanan

sosial dalam lingkungan akademik. Tingkat kecemasan sosial yang

sedang ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tekanan

akademik, ekspektasi sosial, serta pola interaksi di era digital yang

lebih banyak terjadi melalui media sosial dibandingkan dengan

komunikasi langsung.

Tabel 4.8.1 Kategorisasi Aspek Performance Anxiety

Kategori Range F Persentase

Tinggi > 47,6 149 49,3%

Sedang 30,4 – 47,5 143 47,4%

Rendah < 30,3 10 3,3%

Dalam aspek performance anxiety atau kecemasan ketika

tampil, mayoritas mahasiswa Generasi Z di UIN Malang

menunjukkan tingkat kecemasan yang tinggi ketika berada dalam

situasi performatif seperti presentasi, ujian lisan, atau tampil di


93

depan publik. Sebanyak 149 responden atau 49,3% tercatat dalam

kategori tinggi. Sementara itu, 143 responden dengan presentase

47,4% berada dalam kategori sedang. Serta, 10 responden atau

3,3% yang termasuk kategori rendah.

Data tersebut menunjukkan bahwa performance anxiety

merupakan kondisi yang umum dialami oleh mahasiswa, dengan

96,7% responden berada pada tingkat kecemasan sedang hingga

tinggi. Temuan ini mengisyaratkan bahwa situasi yang menuntut

performa, seperti presentasi atau evaluasi akademik, menjadi salah

satu faktor stres utama di lingkungan perkuliahan. Tingginya

persentase ini menekankan pentingnya peran institusi pendidikan

dalam memberikan dukungan, seperti layanan konseling, pelatihan

keterampilan komunikasi, serta strategi pengelolaan kecemasan,

guna membantu mahasiswa lebih percaya diri dan siap menghadapi

tantangan performatif dalam aktivitas akademik mereka.

Tabel 4.8.2 Kategorisasi Aspek Social Anxiety

Kategori Range F Persentase

Tinggi > 40,3 136 45%

Sedang 25,7 – 40,2 134 44,4%

Rendah < 25,6 32 10,6%


94

Dalam aspek social anxiety atau kecemasan bersosialisasi,

mayoritas mahasiswa Generasi Z di UIN Malang menunjukkan

tingkat kecemasan yang tinggi ketika berinteraksi dalam situasi

sosial, seperti berbicara dengan orang baru, berpartisipasi dalam

diskusi kelompok, atau menghadapi penilaian sosial dari

lingkungan sekitarnya. Sebanyak 136 responden atau 45% tercatat

dalam kategori tinggi. Sementara itu, 134 responden dengan

presentase 44,4% berada dalam kategori sedang. Serta, 32

responden atau 10,6% yang termasuk kategori rendah.

Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa

(89,4%) mengalami tingkat kecemasan sosial pada kategori sedang

hingga tinggi, yang menandakan bahwa interaksi sosial masih

menjadi hambatan signifikan bagi banyak mahasiswa Generasi Z.

Persentase yang tinggi ini menyoroti bahwa social anxiety

merupakan isu penting yang perlu mendapat perhatian serius,

karena dapat berdampak pada partisipasi mahasiswa dalam

aktivitas akademik, organisasi, maupun kehidupan sosial secara

keseluruhan. Oleh karena itu, diperlukan upaya intervensi yang

berfokus pada pengembangan keterampilan sosial, peningkatan

rasa percaya diri, serta penyediaan dukungan psikologis guna

membantu mahasiswa menghadapi tantangan sosial dengan lebih

adaptif dan percaya diri.


95

4. Uji Hipotesis

Penelitian ini menggunakan korelasi Pearson sebagai sarana untuk

mengetahui hubungan antara kedua variabel. Hipotesis yang diuji

dipaparkan sebagaimana dalam tabel berikut :

Tabel 4.9 Uji Hipotesis

Variabel Pearson Sig. Keterangan

Corelations

Penggunaan Media 0,804 0,000 Signifikan

Sosial

Kecemasan Sosial

Berdasarkan tabel hasil uji hipotesis, menunjukkan bahwa terdapat

korelasi antara penggunaan media sosial dan kecemasan sosial pada subjek

penelitian dengan pearson correlation memiliki hubungan positif dan nilai

hasil signifikansi sebesar 0,000 (p<0,05). Ketika nilai signifikansi kurang

dari 0,05, maka kedua variabel dianggap berkorelasi. Hal ini menegaskan

bahwa hipotesis tentang adanya hubungan yang positif antara penggunaan

media sosial dan kecemasan sosial pada kalangan generasi Z di UIN

Maulana Malik Ibrahim Malang dinyatakan diterima.


96

C. Pembahasan

1. Tingkat Kecenderungan Penggunaan Media Sosial Pada Generasi Z

Tingkat penggunaan media sosial di kalangan generasi Z yang

khususnya mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menunjukkan

kecenderungan yang sangat tinggi dan mencerminkan pola perilaku khas di

era digital. Generasi Z yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal

2010-an, dikenal sebagai yang tumbuh dengan kemudahan akses terhadap

internet dan perangkat seluler. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Pew

Research Center pada tahun (2022), sekitar 95% remaja di Amerika Serikat

memiliki akses ke smartphone dan 45% diantaranya mengaku hampir selalu

terhubung secara daring.

Menurut data responden yang mencakup sekitar 56% merupakan

perempuan, sisanya sekitar 44% responden laki-laki. Hasil ini menunjukkan

bahwa perempuan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang lebih dominan

dalam menggunakan media sosial dibandingkan laki-laki. Dominasi ini

mencerminkan pola perilaku yang berbeda antara kedua jenis kelamin dalam

memanfaatkan platform media sosial. Hal ini didukung oleh Thelwall,

Wilkinson & Uppal (2010) mengungkapkan bahwa perempuan cenderung

lebih sering memberikan dan menerima komentar positif di media sosial

dibandingkan dengan laki-laki. Interaksi yang suportif ini membuat

perempuan merasa lebih nyaman dalam menggunakan sosial media.


97

Penggunaan media sosial yang tinggi di kalangan mahasiswa dapat

mencerminkan kebutuhan mereka terhadap informasi dan interaksi sosial

yang semakin mudah dijangkau melalui dunia maya. Seperti hasil data yang

telah dikumpulkan, mayoritas mahasiswa yakni 60,6% menghabiskan lebih

dari 5 jam per hari untuk beraktivitas secara online. Hal ini menunjukkan

adanya ketergantungan yang cukup tinggi terhadap internet, terutama untuk

mengerjakan tugas kuliah, mencari hiburan, serta berinteraksi melalui media

sosial. Dengan ini mengindikasikan bahwa media sosial telah menjadi

bagian penting dalam kehidupan mahasiswa, dengan sebagian besar dari

mereka menghabiskan waktu yang cukup lama untuk beraktivitas secara

daring.

Berdasarkan hasil distribusi data dan kecenderungan responden

dianalisis menggunakan skor hipotetik dan empirik. Hasilnya menunjukkan

bahwa skala penggunaan media sosial memiliki rentang skor hipotetik antara

13 hingga 65 dengan nilai mean sebesar 39. Sementara itu, skor empiriknya

berada dalam rentang 27 hingga 65 dengan nilai mean 49,3. Jika

dibandingkan keduanya, mean empirik lebih tinggi daripada mean hipotetik

yang mengindikasikan bahwa tingkat penggunaan media sosial di kalangan

responden tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas

responden cenderung aktif dalam menggunakan media sosial dalam

kehidupan sehari-hari.
98

Dalam hasil penelitian terhadap 302 responden terdapat tingkat

penggunaan media sosial diklasifikasikan ke dalam tiga kategori

berdasarkan skor yang diperoleh dari responden. Kategori tersebut meliputi

tingkat penggunaan yang tinggi, sedang dan rendah, yang ditentukan melalui

rentang skor yang telah dianalisis. Sebagian besar yaitu 62,9% atau 190

mahasiswa yang masuk dalam kategori penggunaan media sosial yang

tinggi. Sementara itu, sebanyak 109 mahasiswa atau 36,1% berada dalam

kategori sedang, dan hanya 3 mahasiswa atau 1 % yang memiliki tingkat

penggunaan yang rendah.

Dengan beberapa hasil di atas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa

generasi Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang cenderung memiliki

tingkat penggunaan media sosial yang tinggi. Persentase dominan ini

menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian integral dari

kehidupan sehari-hari mereka, baik untuk berkomunikasi, mengakses

informasi, maupun kebutuhan akademik dan hiburan. Hal ini sejalan dengan

hasil penelitian oleh Nurohmat, dkk (2024) menunjukkan bahwa mayoritas

responden merasa bahwa media sosial memiliki dampak positif terhadap

produktivitas mereka. Media sosial mendukung mereka dalam hal

konektivitas, akses informasi dan kolaborasi. Namun, penggunaan media

sosial yang berlebihan dapat mengganggu konsentrasi dan keseimbangan

antara kehidupan pribadi dan profesional yang pada akhirnya dapat

menurunkan produktivitas. Oleh karena itu, penelitian ini menyarankan


99

pentingnya pengelolaan penggunaan media sosial yang efektif untuk

memaksimalkan manfaat tanpa mengorbankan produktivitas.

Menjadi mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang

mayoritas merupakan gen Z secara aktif memanfaatkan media sosial sebagai

sarana komunikasi dan sumber informasi. Selain sebagai alat untuk

berinteraksi, media sosial juga berperan dalam membentuk identitas serta

menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperoleh dukungan sosial.

Meskipun menawarkan berbagai manfaat, penelitian mengungkap bahwa

penggunaan media sosial secara berlebihan dapat berdampak negatif

terhadap kesehatan mental, seperti meningkatkan resiko kecemasan dan

depresi. Hal ini didukung oleh teori Uses and Grafitications yang

menjelaskan bahwa individu memanfaatkan media sosial untuk memenuhi

kebutuhan sosial dan emosional mereka. Namun, jika penggunaannya tidak

terkontrol dengan baik maka hal ini dapat berpotensi menimbulkan efek

negatif terhadap kesejahteraan psikologis.

Menurut teori Uses and Gratifications yang menekankan pada proses

penerimaan dalam komunikasi serta menjelaskan bagaimana individu

menggunakan media sosial. Teori ini berasumsi bahwa setiap pengguna

memiliki berbagai pilihan untuk memenuhi kebutuhannya (Nurudin,

2003:181). Dalam hal ini, manusia memiliki kebebasan dalam menilai serta

memanfaatkan media. Sehingga dapat menentukan sendiri bagaimana

mereka akan menggunakan media tersebut. Hal ini didukung dengan


100

penelitian yang dilakukan oleh M. Zuwairi M. S. (2019) menemukan bahwa

media sosial mempermudah dalam komunikasi tanpa adanya batasan jarak

dan waktu. Selain itu, media sosial juga memungkinkan individu untuk

mengakses informasi yang relevan dan meningkatkan interaksi sosial antara

penggunanya. Dengan adanya kebebasan dalam memanfaatkan media,

individu dapat menyesuaikan penggunanya sesuai dengan kebutuhan

mereka, baik untuk keperluan edukasi, komunikasi, maupun hiburan.

Pola penggunaan media sosial di masyarakat dipengaruhi oleh berbagai

faktor, seperti interaksi dengan orang lain, proses berpikir individu, serta

latar belakang budaya (Suryadi et al., 2022). Faktor-faktor ini membentuk

cara seseorang memanfaatkan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat menggunakan media sosial untuk berbagi tujuan, mulai dari

berkomunikasi dengan orang lain, mencari hiburan, hingga berbagi

informasi. Selain itu, media sosial juga menjadi sarana bagi individu untuk

mengekspresikan diri dan membangun citra pribadi di dunia digital.

Beberapa aktivitas yang paling sering dilakukan meliputi memperbarui

status, mengunggah foto selfie dan bertukar pesan dengan teman atau

keluarga.

Penggunaan media sosial di kalangan mahasiswa, khususnya generasi

Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menuntut adanya strategi yang

tepat agar dapat memberikan manfaat secara maksimal. Salah satu langkah

penting yang perlu diterapkan adalah pengelolaan waktu dan prioritas.


101

Mahasiswa perlu mengatur durasi penggunaan media sosial agar tidak

mengganggu aktivitas akademik, misalnya dengan menetapkan waktu

khusus untuk mengakses media sosial di luar jam belajar atau tugas. Selain

itu penggunaan fitur pembatasan layar atau aplikasi manajemen waktu dapat

membantu mengontrol intensitas akses terhadap media sosial.

Dan juga, literasi digital dan etika bermedia sosial juga menjadi aspek

yang perlu diperhatikan. Mahasiswa harus memiliki pemahaman yang baik

dalam memilah infromasi yang valid serta menghindari penyebaran hoaks.

Serta, menjaga etika dalam berkomunikasi di dunia maya, seperti

menghormati privasi orang lain dan tidak menyebarkan informasi tanpa

verifikasi, dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan

konstruktif.

Dengan interaksi yang sehat di media sosial menjadi faktor penting

dalam menciptakan lingkungan digital yang positif. Mahasiswa sebaiknya

menghindari konflik dan ujaran kebencian di media sosial serta lebih fokus

pada membangun komunikasi yang suportif. Tidak membandingkan diri

dengan orang lain juga menjadi langkah penting agar mereka tidak merasa

tertekan dengan standar kehidupan yang sering kali tidak realistis di dunia

maya.
102

2. Tingkat Kecemasan Sosial Yang Dialami Oleh Generasi Z.

Tingkat kecemasan sosial yang dialami oleh generasi Z, khususnya

mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menjadi isu yang

semakin nyata seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan pola

interaksi sosial. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Alva Research

Center (2022) mengemukakan bahwa generasi Z lebih banyak merasa stress

dan cemas dibandingkan dengan kelompok generasi yang lebih tua.

Generasi Z dikenal sebagai kelompok yang tumbuh di era digital dengan

perkembangan teknologi yang sangat pesat. Selain memberikan kemudahan

mengakses informasi dan media sosial, di sisi lain juga memicu tantangan

psikologis termasuk kecemasan sosial. Tekanan untuk selalu tampil

sempurna, keharusan mengikuti tren, serta kebiasaan membandingkan diri

dengan orang lain di media sosial sering kali membuat generasi ini merasa

cemas dan kurang percaya diri dalam kehidupan nyata.

Berdasarkan distribusi data kecenderungan responden terhadap

kecemasan sosial menyatakan bahwa skor hipotetik berkisar antara 24

hingga 120 dengan mean 72, sementara itu skor empirik yang diperoleh dari

data yakni 40 hingga 120 dengan mean sebesar 86,9. Jika dibandingkan

mean empirik lebih tinggi daripada mean hipotetik yang menunjukkan

bahwa tingkat kecemasan sosial yang dialami mahasiswa cenderung tinggi.

Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki

kecenderungan untuk mengalami kecemasan sosial yang lebih besar


103

daripada yang diperkirakan secara teoritis. Dengan demikian, kecemasan

sosial merupakan isu yang cukup signifikan di kalangan responden dalam

penelitian ini.

Menurut teori Liebowitz (1987) menyatakan bahwa kecemasan sosial

adalah perasaan takut dan kekhawatiran yang berlebihan serta terus-menerus

terkait kemungkinan merasa malu atau mendapatkan penilaian negatif dari

orang lain saat berinteraksi sosial. Individu dengan kecemasan sosial

cenderung menghindari situasi yang melibatkan interaksi dengan orang lain,

terutama dalam kondisi yang mengharuskan mereka tampil di depan umum

atau berbicara dengan orang yang tidak dikenal. Sesuai dengan aspek dalam

instrumen skala kecemasan sosial, yaitu performance anxiety dan social

anxiety.

Performance anxiety mengacu pada ketakutan ketakutan atau

kecemasan yang muncul ketika seseorang harus tampil di depan umum atau

melakukan suatu tugas yang melibatkan penilaian orang lain, seperti

berbicara di depan kelas, melakukan presentasi atau mengikuti ujian praktik.

Menurut Clark dan Wells (1995) yang mengemukakan bahwa individu

dengan performance anxiety sering kali mengalami kecemasan berlebihan

karena mereka merasa menjadi pusat perhatian dan takut gagal atau

dipermalukan. Rasa cemas ini dapat menghambat kemampuan mereka

dalam menampilkan performa terbaik dan bahkan bisa berujung pada

penghindaran terhadap situasi tersebut.


104

Di sisi lain, social anxiety secara umum mencakup ketakutan terhadap

berbagai interaksi sosial, bukan hanya situasi yang berhubungan dengan

performa. Menurut Rapee dan Heimberg (1997) individu dengan social

anxiety cenderung memiliki rasa takut berlebihan terhadap penilaian negatif

dari orang lain yang membuat mereka sulit untuk menjalin hubungan sosial,

berbicara dengan orang baru, atau bahkan sekedar berpartisipasi dalam

kegiatan kelompok. Mereka sering kali merasa canggung, malu atau takut

bertindak tidak sesuai dengan ekspektasi sosial. Dengan demikian,

kecemasan sosial bukan hanya sekedar perasaan takut biasa, tetapi juga

melibatkan pola pikir negatif yang memperkuat ketakutan individu dalam

situasi sosial. Faradiana, dkk (2022) mengkaji pada penelitiannya

menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel

yakni pola pikir negatif dan tingkat kecemasan. Dengan kata lain, semakin

kuat pola pikir negatif yang dimiliki seseorang, semakin tinggi pula tingkat

kecemasan yang dialaminya dalam membangun hubungan dengan lawan

jenis.

Pada klasifikasi kategori menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa

sebanyak 147 atau 48,7% termasuk dalam kategori kecemasan sosial yang

sedang. Hal ini dapat disimpulkan mayoritas mahasiswa generasi Z di UIN

Maulana Malik Ibrahim Malang mengalami kecemasan sosial pada tingkat

sedang. Dengan presentase 48,7%, menunjukkan bahwa hampir setengah

dari responden mengalami kecemasan sosial yang tidak tergolong rendah,


105

tetapi juga tidak terlalu tinggi. Mahasiswa dalam kategori ini diasumsikan

menghadapi tantangan dalam berbagai situasi sosial, seperti berbicara di

depan umum, merasa canggung saat berinteraksi dengan orang baru atau

mengalami tekanan sosial dalam lingkungan akademik yang kompetitif.

Kecemasan berbicara di depan umum adalah fenomena yang umum

terjadi pada mahasiswa berusia 17-22 tahun (Rengganawati, 2024).

Kecemasan berbicara di depan umum memiliki dampak langsung pada

kehidupan mahasiswa, terutama dalam bidang hubungan sosial, pendidikan

dan karir. Banyak mahasiswa merasa sulit membangun hubungan sosial dan

berpartisipasi dalam aktivitas akademik yang melibatkan presentasi atau

diskusi kelompok. Hal ini memengaruhi prestasi akademik mereka dan

menghambat pengembangan keterampilan interpersonal serta rasa percaya

diri.

Selain itu, terdapat pandangan yang menyatakan bahwa kecemasan

sosial tidak selalu memberikan dampak negatif bagi individu. Beberapa

orang dengan kecenderungan mengalami kecemasan sosial justru dapat

menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan mengembangkan strategi

koping yang efektif. Seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Puspa Rini

(2013) menunjukkan bahwa individu dengan tingkat kepercayaan diri yang

tinggi cenderung memiliki kecemasan komunikasi interpersonal yang lebih

rendah. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kepercayaan diri dapat


106

menjadi mekanisme koping yang efektif bagi individu dengan kecemasan

sosial.

Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Kesehatan

Promotif oleh Pabebang, dkk (2022) menyoroti bahwa berbagai faktor,

seperti dukungan sosial dan kemampuan dalam memecahkan masalah,

memiliki keterkaitan dengan mekanisme koping individu. Dukungan sosial

yang kuat, baik dari keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar dapat

memberikan rasa aman dan meningkatkan kepercayaan diri individu dalam

menghadapi interaksi sosial. Dengan adanya dukungan tersebut, individu

dengan kecenderungan kecemasan sosial dapat merasa lebih nyaman dalam

bersosialisasi, mengurangi rasa takut akan penilaian negatif, serta

mengembangkan strategi koping yang lebih efektif untuk mengelola

kecemasan mereka.

Oleh karena itu, diperlukan berbagai strategi yang efektif untuk

membantu mahasiswa mengatasi kecemasan sosial dan meningkatkan

kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial. Salah

satunya yakni dengan terapi kognitif dan perilaku (CBT) yang ditemukan

dalam berbagai penelitian dan literatur psikologi. Menurut penelitian yang

diterbitkan dalam Jurnal of Anxiety Disorder terbukti efektif dalam

menurunkan gejala kecemasan sosial dengan mengubah pola pikir negatif

dan mengajarkan keterampilan sosial yang lebih adaptif. Terapi ini

membantu individu mengidentifikasi ketakutan irasional mereka, dengan


107

mengekspos diri secara bertahap pada situasi sosial yang menantang, serta

mengambangkan strategi koping yang lebih sehat (Resti, 2022).

Terdapat juga penelitian yang sejalan yakni penelitian yang dilakukan

oleh Hofmann & Smits (2008) yang menunjukkan bahwa individu yang

menjalani terapi CBT mengalami penurunan gejala kecemasan sosial yang

signifikan dan mampu mempertahankan hasil positif dalam jangka panjang.

Dengan demikian, CBT merupakan pendekatan untuk membantu mahasiswa

mengatasi kecemasan sosial dan meningkatkan keterampilan sosial mereka.

Selain CBT, dukungan sosial juga memiliki peran penting dalam

mengurangi kecemasan sosial. Mahasiswa yang memiliki jaringan sosial

yang kuat, cenderung lebih mudah mengatasi kecemasan mereka. Seperti

halnya dengan penelitian dalam Journal of Social and Clinical Psychology

menyatakan bahwa dukungan sosial yang kuat dari teman, keluarga dan

komunitas terbukti dapat mengurangi tingkat kecemasan sosial dengan

memberikan rasa aman, validasi emosional, serta peluang untuk berlatih

keterampilan sosial dalam lingkungan yang lebih nyaman (Hidayati &

Purwandari, 2023).

3. Pengaruh Penggunaan Media Sosial Terhadap Kecemasan Sosial Pada

Kalangan Generasi Z

Media sosial kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan

sehari-hari generasi Z, termasuk mahasiswa di UIN Maulana Malik Ibrahim

Malang. Platform ini menawarkan berbagai kemudahan, seperti


108

mempermudah komunikasi, mengakses informasi, serta memperluas

jaringan pertemanan. Namun, penggunaan yang berlebihan juga dapat

menimbulkan dampak negatif, salah satunya adalah meningkatnya

kecemasan sosial. Banyak mahasiswa merasa kurang percaya diri atau cemas

ketika harus berinteraksi secara langsung karena lebih terbiasa

berkomunikasi melalui media sosial.

Hasil penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan positif dan

signifikan antara penggunaan media sosial dan tingkat kecemasan sosial di

kalangan mahasiswa. Dalam psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi

menemukan bahwa terdapat hubungan antara tingkat ketergantungan pada

media sosial dan kecemasan sosial pada mahasiswa (Fatih et al., 2018).

Penelitian ini sejalan dengan beberapa studi sebelumnya yang menyoroti

dampak negatif dari penggunaan media sosial yang berlebihan, terutama di

kalangan generasi Z. Generasi ini yang tumbuh dalam era digital, sering kali

merasakan tekanan untuk selalu terhubung dan tampil sempurna di platform

online dan dapat memicu kecemasan sosial. Misalnya, penelitian oleh

Primack et al (2017) menemukan bahwa penggunaan media sosial yang

intens dapat berkontribusi pada peningkatan gejala kecemasan dan depresi.

Hal ini menunjukkan bahwa interaksi yang tidak sehat di dunia maya dapat

memperburuk kesehatan mental.

Pada aspek instrumen penggunaan media sosial terdiri dari dua aspek,

yakni aims of social network use dan social network use and communication
109

preference. Penggunaan media sosial memiliki berbagai tujuan yang berbeda

setiap individu yang dikenal sebagai aims of social network use. Alasan

utama seseorang menggunakan media sosial meliputi membangun dan

mempertahankan hubungan sosial, berbagi informasi, serta

mengekspresikan identitas diri (Boyd & Ellison, 2007). Generasi Z termasuk

mahasiswa yang cenderung memanfaatkan media sosial untuk menjalin

komunikasi dengan teman, mencari hiburan, serta mengikuti perkembangan

informasi terkini. Kuss dan Griffiths (2017) juga menemukan bahwa

penggunaan media sosial sering kali berkaitan dengan kebutuhan psikologis,

seperti mencari validasi sosial atau menghindari perasaan kesepian. Dengan

demikian, tujuan penggunaan media sosial sangat bervariasi, tergantung

pada kebutuhan dan kondisi sosial masing-masing individu.

Selain tujuan penggunaan, preferensi komunikasi melalui media

sosial atau social network use and communication preference juga menjadi

aspek penting dalam memahami pola interaksi pengguna. Banyak individu,

terutama generasi Z lebih memiliki berkomunikasi melalui media sosial

dibandingkan dengan komunikasi langsung. Media sosial memberikan

kenyamanan bagi penggunanya karena memungkinkan komunikasi tanpa

harus bertatap muka, yang sering kali dapat memicu kecemasan sosial

(Subrahmanyam & Greenfield, 2008). Hal ini sejalan dengan temuan

Lemmens et al (2009), yang menyatakan bahwa individu dengan tingkat

kecemasan sosial yang lebih tinggi cenderung lebih nyaman berkomunikasi


110

secara daring dibandingkan dengan interaksi langsung. Namun, preferensi

ini juga dapat menyebabkan ketergantungan yang berdampak pada

menurunnya keterampilan komunikasi interpersonal, sehingga mempersulit

interaksi di dunia nyata.

Berdasarkan hasil uji hipotesis yang disajikan sebelumnya, ditemukan

kedua variabel memiliki korelasi positif dengan nilai Pearson Correlation

sebesar 0,804 dan tingkat signifikansi 0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan

hubungan kedua variabel dianggap signifikan. Hasil penelitian ini

menyatakan bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial,

semakin tinggi pula tingkat kecemasan sosial yang dialaminya. Hal ini

disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tekanan untuk menampilkan citra

diri yang ideal di dunia maya, kecenderungan membandingkan diri dengan

orang lain serta berkurangnya interaksi langsung akibat lebih banyak

berkomunikasi melalui media sosial. Dengan demikian. Hipotesis yang

menyatakan adanya hubungan positif antara penggunaan media sosial dan

kecemasan sosial pada mahasiswa generasi Z di UIN Maulana Malik

Ibrahim Malang dapat diterima.

Penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memicu stres,

kecemasan, gangguan tidur, serta perasaan terisolasi. Tekanan untuk

memenuhi ekspektasi yang tidak realistis dan perbandingan sosial juga

berkontribusi pada menurunnya rasa percaya diri mahasiswa (Hilda & Roy,

2022). Selain itu, faktor seperti durasi penggunaan, jenis konten yang
111

dikonsumsi, serta pola penggunaan (aktif atau pasif) berperan penting dalam

menentukan sejauh mana media sosial memengaruhi kesejahteraan mental

mahasiswa. Terdapat pula, tekanan sosial dari media sosial, seperti tuntutan

untuk tampil menarik dan mendapatkan validasi dan juga berkontribusi

terhadap meningkatnya kecemasan sosial.

Remaja yang aktif di media sosial cenderung membandingkan diri

mereka dengan orang lain, terutama dengan individu yang terlihat lebih

sukses, menarik, atau populer. Perbandingan ini dapat menurunkan rasa

percaya diri dan membuat mereka merasa kurang puas dengan diri sendiri.

Selain itu, mereka sering mengalami tekanan untuk memenuhi standar yang

ditetapkan di media sosial, seperti memiliki banyak teman, pengikut, tanda

suka, atau komentar (Indranu et al., 2024). Jika tidak dikelola dengan baik,

tekanan ini dapat mempengaruhi kesejahteraan emosional dan menganggu

perkembangan psikologis mereka.

Fenomena kecemasan sosial yang berkaitan dengan penggunaan

media sosial di kalangan generasi Z semakin diperkuat oleh hasil berbagai

penelitian sebelumnya. Dalam studi yang dilakukan oleh Rahman et al.

(2022) terhadap 450 mahasiswa, ditemukan bahwa adanya hubungan positif

(r = 0,67) antara durasi penggunaan media sosial dan tingkat kecemasan

sosial. Selain itu, penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Chen dan

Wong (2023) mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan sebesar 45%

dalam gejala kecemasan sosial selama periode dua tahun pengamatan pada
112

pengguna aktif media sosial dari generasi Z. Temuan ini juga didukung oleh

penelitian kuantitatif oleh Putri dan Handayani (2021) yang

mengidentifikasikan budaya perbandingan di media sosial sebagai faktor

utama yang berkontribusi terhadap munculnya kecemasan sosial di kalangan

remaja.

Namun, tidak semua penelitian menunjukkan dampak negatif dari

media sosial. Beberapa studi, seperti yang dilakukan oleh Valkenburg dan

Peter (2007), menunjukkan bahwa media sosial dapat meningkatkan

keterhubungan sosial dan memfasilitasi komunikasi antarindividu, yang

pada gilirannya dapat mengurangi perasaan kesepian dan meningkatkan

dukungan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa efek media sosial terhadap

kecemasan sosial sangat bergantung pada cara penggunaannya. Penggunaan

yang berlebihan dan tidak terkontrol cenderung berkontribusi pada

peningkatan kecemasan, sementara penggunaan yang lebih moderat dan

positif dapat memberikan manfaat sosial yang signifikan.

Pada Theory of Planned Behavior (TPB) merupakan salah satu

kerangka kerja yang efektif dalam memahami faktor-faktor yang

mempengaruhi keputusan individu dalam menggunakan media sosial. TPB

menjelaskan bahwa niat seseorang untuk berperilaku ditentukan oleh tiga

faktor utama, yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi

kontrol perilaku. Ketiga faktor ini saling berinteraksi dan membentuk sejauh
113

mana seseorang cenderung untuk menggunakan media sosial dalam

kehidupan sehari-hari.

Pada sikap terhadap perilaku merupakan faktor kunci dalam

menentukan bagaimana individu, khususnya generasi Z yang menggunakan

media sosial. Generasi ini dikenal sebagai digital native, yaitu individu yang

tumbuh di era digital dan memiliki keterampilan tinggi dalam menggunakan

teknologi. Sikap mereka terhadap media sosial sangat dipengaruhi oleh

persepsi terhadap manfaat dan resiko yang ditawarkan oleh platform-

paltform digital. Seperti pada penelitian dalam share Social Work Journal

mengungkapkan bahwa generasi Z menggunakan media sosial seperti

TikTok dan Instagram sebagai sarana edukasi informal. Mereka aktif

mencari informasi terkait akademik, keterampilan baru, serta wawasan sosial

dan politik melalui konten yang interaktif dan mudah diakses (Firamadhina

& Krisnani, 2021).

Selanjutnya pada norma subjektif, memainkan peran penting dalam

menentukan perilaku penggunaan media sosial di kalangan generasi Z.

Ketika keluarga, teman, atau lingkungan sosial secara umum mendukung

dan aktif menggunakan media sosial, individu dalam kelompok ini

cenderung mengikuti kebiasaan yang sama. Sebaliknya jika lingkungan

sosial mereka cenderung menghindari atau membatasi penggunaan media

sosial, individu akan mempertimbangkan kembali kebiasaanya dalam

mengakses platform tersebut. Hal ini sejalan dengan penelitian yang


114

dilakukan oleh Kalista dkk (2024) yang menyatakan bahwa pandangan serta

sikap lingkungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku generasi

Z dalam memanfaatkan media sosial, khususnya dalam mengakses berita

politik seperti ringkasan informasi seputar pemilu 2024. Norma subjektik

disini berperan dalam membentuk atau mendorong cara individu

memandang suatu perilaku berdasarkan ekspektasi dan opini orang-orang di

sekitar mereka, baik keluarga, teman, maupun komunitas online.

Kemudian, pada persepsi kontrol perilaku berperan penting dalam

menentukan sejauh mana generasi Z merasa mampu menggunakan media

sosial, dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal seperti akses terhadap

perangkat teknologi, pemahaman fitur platform, dan tingkat literasi digital.

Hal ini sesuai dengan penelitian Mustika Wanda (2024) yang menunjukkan

bahwa literasi digital memiliki pengaruh signifikan terhadap pergaulan

sosial generasi Z di era kemajuan teknologi. Inovasi media literasi seperti e-

book, perpustakaan online, dan media sosial di kalangan generasi Z.

Penelitian yang menunjukkan hubungan antara penggunaan media

sosial dan kecemasan sosial tidak selalu bersifat linier dan dapat dipengaruhi

oleh berbagai faktor individu. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang

dilakukan Purnomo et al (2023) menjelaskan hubungan antara tingkat

kecemasan sosial dan durasi penggunaan media sosial pada mahasiswa

kedokteran. Penelitian ini menemukan bahwa individu dengan tingkat


115

kecemasan sosial yang lebih tinggi cenderung lebih banyak menggunakan

media sosial untuk menghindari interaksi sosial secara langsung.

Penggunaan media sosial yang intensif di kalangan generasi Z telah

dikaitkan dengan peningkatan kecemasan sosial. Paparan terhadap konten

yang menampilkan kehidupan ideal dapat memicu perasaan tidak aman dan

tekanan untuk memenuhi standar tersebut. Terdapat beberapa hal yang dapat

diimpelementasikan yakni meningkatkan literasi digital sangat penting agar

generasi Z dapat memahami bahwa tidak semua yang ditampilkan di media

sosial mencerminkan realitas. Literasi digital berperan penting dalam

mendorong budaya literasi di kalangan generasi Z, mengansumsikan mereka

untuk menjadi individu yang lebih produktif, inovatif dan siap menghadapi

berbagai tantangan di era digital (Ni Luh et al., 2012 )

Selain itu, mendorong keterlibatan dalam kegiatan seperti olahraga,

seni, atau komunitas juga dapat membantu mengalihkan perhatian dari

media sosial dan membangun keterampilan sosial yang lebih baik.

Keterlibatan dalam hubungan sosial yang bermakna, termasuk melalui

aktivitas kelompok seperti olahraga, seni, dapat menigkatkan kesejahteraan

mental dan mengurangi resiko gangguan kecemasan (Holt et al., 2015).

Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya membantu mengalihkan perhatian dari

meda sosial, tetapi juga memungkinkan generasi Z untuk membangun

keterampilan sosial, meningkatkan rasa percaya diri dan merasakan

dukungan emosional dari lingkungan sekitar.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian dan analisis data mengenai pengaruh

penggunaan media sosial terhadap kecemasan sosial pada kalangan generasi Z,

dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Mengenai Penggunaan Media Sosial mayoritas termasuk dalam kategori

tinggi yang mencapai 62,9%. Ditemukan bahwa 36,1% berada pada kategori

sedang, sementara 1% berada pada kategori rendah. Hal ini menggambarkan

bahwa media sosial memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan generasi

Z di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang mengansumsikan dipengaruhi

oleh perkembangan teknologi serta kebutuhan untuk tetap terhubung secara

digital.

2. Mengenai kecemasan sosial generasi Z, sebagian besar tergolong sedang yang

mencapai 48,7%. Kemudian, skor empirik yang lebih tinggi dibandingkan

skor hipotetik menunjukkan memiliki kecenderungan mengalami kecemasan

sosial yang tergolong tinggi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa kecemasan

sosial menjadi isu yang cukup menonjol di kalangan generasi Z yang dapat

dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tekanan sosial, ekspektasi akademik,

serta interaksi di media sosial yang semakin intens dalam sehari-hari.

116
117

3. Penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan antara variabel

penggunaan media sosial dengan kecemasan sosial pada kalangan generasi Z

di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Uji korelasi yang telah dilakukan

menunjukkan nilai pearson correlation positif antara kedua variabel tersebut,

dengan nilai signifikansi statistik 0,000 (p<0,05). Artinya semakin tinggi

intensitas penggunaan media sosial, maka kecenderungan individu mengalami

kecemasan sosial juga meningkat. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai

faktor, seperti tekanan sosial di dunia maya, perbandingan diri dengan orang

ain, serta interaksi sosial yang lebih banyak terjadi secara virtual dibandingkan

secara langsung.

B. Saran

Berdasarkan hasil dari analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan,

peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut :

1. Mahasiswa Generasi Z

Mahasiswa generasi Z perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial

agar tidak terjebak dalam kecemasan sosial yang berlebihan. Salah satu cara

efektif adalah dengan membatasi waktu penggunaan media sosial. Dengan

mengatur durasi harian dan menghindari konsumsi konten yang bisa memicu

perasaan tidak percaya diri atau perbandingan sosial yang tidak sehat.

Selain itu, dengan meningkatkan interaksi sosial di dunia nyata, seperti

bergabung dengan organisasi kampus, menghadiri acara sosial, serta aktif


118

dalam diskusi langsung bisa membantu melatih keterampilan komunikasi dan

membangun kepercayaan diri. Interaksi tatap muka juga memberikan

pengalaman sosial yang lebih nyata dibandingkan komunikasi daring.

Mahasiswa juga sebaiknya mulai mengembangkan pola pikir yang positif

dan berhenti membandingkan diri dengan standar yang ada di media sosial.

Apa yang ditampilkan di media sosial sering kali hanya bagian terbaik dari

kehidupan seseorang. Dengan memahami hal ini, tekanan untuk selalu tampil

sempurna bisa berkurang dan rasa percaya diri akan meningkat.

Kemudian, meningkatkan literasi digital juga sangat penting. Mahasiswa

perlu memahami dampak media sosial terhadap kesehatan mental dan

membekali diri dengan pengetahuan tentang bagaimana menggunakannya

secara sehat. Dengan begitu, mereka bisa lebih sadar dalam mengambil

keputusan terkait aktivitas online mereka.

Selanjutnya, mengembangkan strategi koping yang sehat bisa menjadi

solusi untuk mengurangi kecemasan. Melakukan aktivitas positif seperti

olahraga, meditasi, atau bahkan mencari bantuan profesional jika diperlukan

dapat membantu menjaga kesehatan mental. Mahasiswa juga bisa

menggunakan media sosial secara lebih positif, seperti mengikuti akun

edukatif, berbagi pengalaman yang bermanfaat dan membangun komunitas

yang mendukung.

2. Penelitian Selanjutnya

Untuk penelitian selanjutnya, disarankan agar kajian dampak


119

penggunaan media sosial terhadap kecemasan sosial pada mahasiswa generasi

Z lebih diperluas. Penelitian dapat mencakup faktor-faktor lain yang mungkin

berkontribusi, seprti tingkat dukungan sosial, kondisi psikologis individu,

serta perbedaan budaya dalam penggunaan media sosial. Dengan memahami

faktor-faktor ini, penelitian dapat memberikan gambaran yang lebih

komprehensif mengenai hubungan antara media sosial dan kecemasan sosial.

Selain itu, penelitian dapat lebih fokus pada pendekatan longitudinal

untuk melihat bagaimana penggunaan media sosial memengaruhi kecemasan

sosial dalam jangkan panjang. Dengan melakukan studi dalam periode waktu

yang lebih lama, data yang diperoleh akan lebih akurat dalam menunjukkan

pola perubahan tingkat kecemasan sosial yang di alami mahasiswa akibat

penggunaan media sosial yang terus berkembang.

Kemudian, penelitian mendatang dapat mempertimbangkan metode

intervensi atau strategi yang dapat membantu mahasiswa mengelola

penggunaan media sosial dengan lebih sehat. Misalnya, studi ekperimental

dapat dilakukan untuk menguji efektivitas dari teknik tertentu, seperti digital

detix, mindfulness, atau pelatihan komunikasi interpersonal dalam

menurunkan kecemasan sosial akibat penggunaan media sosial.


DAFTAR PUSTAKA

Alkis, Y., Kadirhan, Z., & Sat, M. (2017). Development and validation of social
Anxiety Scale for Social Media Users. Computers in Human Behavior, 72, 296–
303. [Link]
Allen, K. A., Ryan T., Gray, D. L., Mcinerney, D. M., Waters, L. (2014). Social media
use and social connectedness in adoslescents: The positives and the potential
pitfalls. Aust. J. Educ. Dev. Psychol., 31(1), 18-31.
Alvara Research Center. (2022).
Andri, & Dewi, Y.P. (2007). Teori Kecemasan Berdasarkan Psikoanalisis Klasik dan
Berbagai Mekanisme Pertahanan terhadap Kecemasan. Maj Kedokt Indon.
Anindi Trikandini, & Lia Kurniasari. (2021). Hubungan Intensitas Penggunaan Media
Sosial dengan Tingkat Kecemasan pada Mahasiswa UMKT. Borneo Student
Research, 3(1), 614–619.
APJII. (2016). Penetrasi & perilaku pengguna internet Indonesia survey 2016.
<[Link]
Ari S., Julia E. P., Wahyu N. (2024). Gejala Kejiwaan Manusia. Aktualita: Jurnal
Penelitian Sosial dan Keagamaan, 14 (2).
Arifah, N., Budiani, M. (2012). Hubungan Antara Attachment Stye dan Self-Esteem
dengan Kecemasan Sosial pada Remaja. Fakultas Psikologi Universitas Negeri
Surabaya.
Asosiasi Psikologi Sosial Indonesia. (2023). Laporan mengenai kecemasan pengguna
media sosial generasi Z.
Atika, Kholifah, N., Nurrohmah, S., & Purwiningsih, R. (2020). Eksistensi motif batik
klasik pada generasi z. Jurnal Teknologi Busana Dan Boga, 8(2), 141–144.
[Link]
Azka, F., Firdaus, D. F., & Kurniadewi, E. (2018). Kecemasan Sosial dan
Ketergantungan Media Sosial pada Mahasiswa. Psympathic : Jurnal Ilmiah
Psikologi, 5(2), 201–210. [Link]
Barhate, B., & Dirani, K. M. (2022). Career aspirations of generation z: A systematic
literature review. European Journal of Training and Development, 46(1), 139–
157. [Link] 2020-0124
Boyd, D. M., & Ellison, N. B. (2007). Social network sites: Definition, history, and
scholarship. Journal of Computer-Mediated Communication, 13(1), 210–230.
[Link]

120
121

Castella, K., Goldin, P., Jazaieri, H., Ziv, M., Heimberg, R., dan Gross, J. (2014).
Emotionbeliefs in social anxiety disorder: Associations with stress, anxiety, and
[Link] Journal of Psychology. 66: 139–148. doi:
10.1111/ajpy.12053
Chen, X., & Wong, Y. (2023). The longitudinal impact of social media use on social
anxiety among Generation Z: A two-year study. Journal of Social Media
Research, 12(1), 34-50.
Christian Fuchs. (2014). Social Media: A Critical Introduction. In European Journal
of Communication (Vol. 33, Nomor 1).
[Link]
Clark, D. M., & Wells, A. (1995). A cognitive model of social phobia. In Social
phobia: Diagnosis, assessment, and treatment. (hal. 69–93). The Guilford Press.
Damodar, S., Lokemoen, C., Gurusamy, V., Takhi, M., Bishev, D., Parrill, A.,
Deviney, M., Person, U., Korie, I., & Branch, R. (2022). Trending: A Systematic
Review of Social Media Use’s Influence on Adolescent Anxiety and Depression.
Adolescent Psychiatry, 12(1), 11–22.
[Link]
Difa A. H., Widyaning H., Karsiyati. (2024). Peran Anonimitas Dan Konsep Diri
Terhadap Online Disinhibition Effect Pada Remaja. Jurnal Ilmiah Wahana
Pendidikan, 10 (160, 238-252.
Emily A., Vogels, Risa G. W., & Navid M. (2022). Teens, Social Media and
Technology. Pew Research Center.
Faiza, N. N., & Maryam, E. W. (2024). Self-Disclosure, social comparison, and social
anxiety among gen z social media users. Empathy : Jurnal Fakultas Psikologi,
7(1), 17. [Link]
Faradiana, Z., & Mubarok, A. S. (2022). Hubungan antara Pola Pikir Negatif dengan
Kecemasan dalam Membina Hubungan Lawan Jenis pada Dewasa Awal. Jurnal
Psikologi Teori dan Terapan, 13(1), 71–81.
[Link]
Febriana, V. R. (2024). Fenomena Komunikasi Virtual Anonim Dalam Melakukan
Self Disclosure ( Studi Fenomenologi pada Pengguna Voisa . App ). PERSUASI
(Jurnal Tugas Akhir Mahasiswa Ilmu Komunikasi), 1(1), 68–78.
Firamadhina, F. I. R., & Krisnani, H. (2021). PERILAKU GENERASI Z
TERHADAP PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL TIKTOK: TikTok Sebagai
Media Edukasi dan Aktivisme. Share : Social Work Journal, 10(2), 199.
[Link]
122

Francis, T., & Hoefel, F. (2018). ‘True gen’: Generation Z and its implications for
companies. McKinsey & Company, 10.
Gabrielova, K., & Buchko, A. A. (2021). Here comes generation Z: Millennials as
Business Horizons, [Link]
Gail W. Stuart. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Alih Bahasa: Ramona P.
Kapoh & Egi Komara Yudha. Jakarta: EGC.
Gentina, E. (2020). Generation z in Asia: A research agenda. In E. Gentina & E. Parry
(Eds.), What the expert tell us South East Asia: Dynamics, differences,
digitalisation (pp. 3-19).
Greca, A. M., & Lopez, A. N. (1998). Social Anxiety AInong Adolescents: Linkages
with Peer Relations and Friendship. Journal of Abnonnal Child Psychology, 83-
94.
Gunawan, I. A. N., . S., & Shalahuddin, I. (2022). Dampak Penggunaan Media Sosial
Terhadap Gangguan Psikososial Pada Remaja: A Narrative Review. Jurnal
Kesehatan, 15(1), 78–92. [Link]
Halim, M. H. A., & Sabri, F. (2013). Relationship Between Defense Mechanisms and
Coping Styles Among Relapsing Addicts. Procedia - Social and Behavioral
Sciences, 84, 1829–1837. [Link]
Anggraini, R., Hanita, Suhendri, N., Shintia, Y., Amanda, X., & Safa, F. (2022).
Pengaruh Positif Dan Negatif Penggunaan Media Sosial. The 4th National
Conference of Community Service Project 2022, 4(1), 1590–1595.
[Link]
Hanafi, K., & Rahim, Mohd. H. Abd. (2017). Penggunaan Media Sosial Dan Faktor-
Faktor Yang Mempengaruhi Terbentuknya Gerakan Sosial Oleh Pemimpin
Pelajar Universiti di Bandar Pekan Baru, Riau, Indonesia. Journal of Social
Sciences and Humanities, 12(2), 87–101.
[Link]
Herman, F. (2018). Pengukuran Skala Kecemasan Sosial pada pengguna media sosial
berusia dewasa awal. Jurnal Teknik Informatika Vo.13 No.1 .
Hidayati, D. L., & Purwandari, E. (2023). Hubungan Antara Dukungan Sosial dengan
Kesehatan Mental di Indonesia: Kajian Meta-Analisis. GUIDENA: Jurnal Ilmu
Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling, 13(1), 270.
[Link]
Hilda, & Roy Purwanto, M. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesejahteraan
Mental Mahasiswa: Studi Kasus Di Fakultas Ilmu Agama Islama Universitas
123

Islam Indonesia. At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam, 6(1), 1485–1486.


[Link]
Hofmann, S. G., & Smits, J. A. J. (2008). Cognitive-behavioral therapy for adult
anxiety disorders: A meta-analysis of randomized placebo-controlled trials.
Journal of Clinical Psychiatry, 69(4), 621–632.
[Link]
Holt-Lunstad, J., Smith, T. B., Baker, M., Harris, T., & Stephenson, D. (2015).
Loneliness and Social Isolation as Risk Factors for Mortality: A Meta-Analytic
Review. Perspectives on Psychological Science, 10(2), 227–237.
[Link]
Indranu, F., Kesuma, M., & Kalifia, A. D. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap
Tingkat Anxiety Pada Remaja : Sebuah Analisis Dengan Rapidminer. Jurnal
Ilmiah Multidisiplin, 1(3), 177–181. [Link]
Indranu, F., Kesuma, M., & Kalifia, A. D. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap
Tingkat Anxiety Pada Remaja : Sebuah Analisis Dengan Rapidminer. Jurnal
Ilmiah Multidisiplin, 1(3), 177–181. [Link]
Jatmiko, A. (2017). Sense Of Place Dan Social Anxiety bagi Mahasiswa Baru
Pendatang. KONSELI : Jurnal Bimbingan dan Konseling (E-Journal), 3(2), 161–
170. [Link]
Kalista, A., Badriyah, A., Zhoulva Salim, N., Sunan Ampel Surabaya, N., Surabaya,
K., & Jawa Timur, P. (2024). Perilaku Pengguna Media Sosial (Generasi Z) pada
Mahasiswa Surabaya Terhadap Berita Ringkas Pemilihan Umum 2024 Ditinjau
dari Perspektif Teori Atribusi. Jurnal Kewarganegaraan, 8(2), 1387–1394.
[Link]
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dalam [Link] diakses
tanggal 12 Mei 2025.
KARAUWAN, M. Z. (2020). Refleksi Kecemasan Dalam Final Destination 3 Karya
James Wong. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), 1–14.
[Link]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Aksi inovasi ekosistem digital
kesehatan nasional: Laporan tahunan Digital Transformation Office 2023. DKI
Jakarta: Kemenkes RI. [Link]
Kuss, D. J., & Griffiths, M. D. (2017). Social networking sites and addiction: Ten
lessons learned. International Journal of Environmental Research and Public
Health, 14(3). [Link]
124

Lemmens, J. S., Valkenburg, P. M., & Peter, J. (2009). Development and validation
of a game addiction scale for adolescents. Media Psychology, 12(1), 77–95.
[Link]
Lesmana, R., & Nasution, M. I. P. (2025). Kebocoran Data di Media Sosial : Analisis
Pola dan Strategi Pencegahannya. Socius: Jurnal Administrasi Publik, 2 (10),
123–128.
Liebowitz, M. R. (1987). Social phobia. Prabl. Pharmacopsychiat, 22, 141–173.
M. Thelwall, D. Wilkinson & S. Uppal. (2010). Data Mining Emotion In Social
Network Communication: Gender Differences In Myspace. JOURNAL OF THE
AMERICAN SOCIETY FOR INFORMATION SCIENCE AND TECHNOLOGY,
61(1):190–199.
Marhaen, T. R., & Evi, E. (2023). Hubungan Penggunaan Media Sosial Dengan
Tingkat Kecemasan Pada Mahasiswa Fk Untar. Jurnal Kesehatan Tambusai,
4(4), 4598–4604. [Link]
Mat Saad, M. Z., & Yusuf, M. H. (2019). Cultural Adaptation: The Impact of Social
Media Toward Uses and Gratification. Journal of Techno Social, 11(1), 46–53.
[Link]
McCrindle. (2014). The ABC of XYZ: Understanding the Global Generation.
McCrindle Research.
Mustika Wanda, E. (2024). Pengaruh Literasi Digital Pada Generasi Z Terhadap
Pergaulan Sosial Di Era Kemajuan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Jurnal
Sosial Teknologi, 3(12), 1035–1042.
[Link]
Mutiara Vina Febriana. (2022) Penggunaan Media Sosial Terhadap Kecemasan Sosial
di Kalangan Mahasiswa.
Nan, Y., Qin, J., Li, Z., Kim, N. G., Kim, S. S. Y., & Miller, L. C. (2024). Is Social
Media Use Related to Social Anxiety? A Meta-Analysis. Mass Communication
and Society, 27(3), 441–474. [Link]
Ni Luh W., Ni Kadek C. W., N. Putu D. E. (2012). Pengaruh Literasi Digital Pada
Generasi Z Terhadap Peningkatan Budaya Literasi Untuk Melahirkan Generasi
Penerus Bangsa Yang Berkualitas Di Era Kemajuan Ilmu Pengetahuan Dan
Teknologi. Triana Mulya.
Niharika Sharma. (2024). The Effect of Social Media on Body Image, Self Esteem
and Social Appearance Anxiety Among Young Adults. IJRAR-International
Journal of Research and Analytical Reviews (IJRAR), 11(1), 38–72.
125

Nugraha, A. D. (2020). Memahami Kecemasan: Perspektif Psikologi Islam. IJIP :


Indonesian Journal of Islamic Psychology, 2(1), 1–22.
[Link]
Nugraha, A. D. (2020). Memahami Kecemasan: Perspektif Psikologi Islam. IJIP :
Indonesian Journal of Islamic Psychology, 2(1), 1–22.
[Link]
Nurohmat, Rusman L., Safrudiningsih. (2024). Pengaruh Media Sosial Terhadap
Produktivitas Gen Z. DIALEKTIKA KOMUNIKA: Jurnal Kajian Komunikasi
dan Pembangunan Daerah, Banten.
Nurudin, 2003. Komunikasi Massa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 181
Nurul Fadilah, A., & Sa’adah, N. (2021). Hubungan Ketergantungan Media Sosial
Generasi Z Dengan Kecemasan Sosial. In Cons-Iedu (Vol. 1, Issue 02, pp. 95–
105). [Link]
Nurul H., Nalendra P., Damiara P. (2024). Peningkatan Keterampilan Keamanan
Digital pada Siswa SMK Ananda Bekasi di Era Disrupsi Digital. Jurnal
Pengabdian Masyarakat Waradin, 4 (3), 234-242.
O'Day, E. B., & Heimberg, R. G. (2021). Social media use, social anxiety, and
loneliness: A systematic review. Computers in Human Behavior Reports, 3,
Article 100107.
Pabebang, Y., Handayani Mangapi, Y., & Kelong, P. (2022). Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Mekanisme Koping Pada Lansia Di Lembang Benteng
Ka’do Kecamatan Kapalapitu Kabupaten Toraja Utara Tahun 2019. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Promotif, 6(2), 157–169. [Link]
Pilkionien, J., Šuminas, A., & Šuminas, A. (2021). The impact of social media on
social anxiety: A systematic review. Journal of Social Media Studies, 8(2), 45-
60.
Pranata, W. Y., Sa’adah, T. I., & Maulana, M. S. (2023). Media sosial sebagai
platform digital pemicu ketidakstabilan kecemasan generasi z. Prosiding
Seminar Nasional, 681–686.
Pratiwi, D., Mirza, R., & El Akmal, M. (2019). Kecemasan Sosial Ditinjau Dari Harga
Diri Pada Remaja Status Sosial Ekonomi Rendah. Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan
dan Konseling, 9(1), 21–34. [Link]
Pribadi, R. (2019). Hubungan antara citra diri negatif dengan kecemasan sosial pada
remaja putri perkotaan. Calyptra, 8(2), 1–16.
Permadi, D. A. (2022). Kecemasan sosial dan intensitas penggunaan media sosial
pada remaja. [Link]
126

Pratiwi, D., Mirza, R., & Akmal, M. E. l. (2019). Social Anxiety In Terms Of Self-
Esteem In Adolescents With Low Socio-Economic Status. Journal of Education
and Counseling, 9(1), 21–22. [Link]
irsyad/article/download/6734/2966
Primack, B. A., Shensa, A., Sidani, J. E., Whaite, E. O., Lin, L. yi, Rosen, D., Colditz,
J. B., Radovic, A., & Miller, E. (2017). Social Media Use and Perceived Social
Isolation Among Young Adults in the U.S. American Journal of Preventive
Medicine, 53(1), 1–8. [Link]
Purnomo, C. W., Oktaviyantini, T., & Hastami, Y. (2023). Hubungan Tingkat
Kecemasan Sosial dengan Durasi Penggunaan Media Sosial pada Mahasiswa
Kedokteran. Plexus Medical Journal, 2(2), 65–69.
[Link]
Puspa Rini, H. (2024). Self Efficacy Dengan Kecemasan Dalam Menghadapi Ujian
Nasional. Cognicia, 1(1), 30–39. [Link]
Putri, A., & Handayani, S. (2021). Identifikasi budaya perbandingan di media sosial
sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap munculnya kecemasan sosial
di kalangan remaja. Jurnal Psikologi dan Pendidikan, 5(2), 123-135.
Rahman, M., Sani, R. A., & Mentari, A. (2022). Hubungan antara durasi penggunaan
media sosial dan tingkat kecemasan sosial di kalangan mahasiswa. Jurnal
Psikologi, 10(1), 45-60.
Rapee, R. M., & Heimberg, R. G. (1997). A cognitive-behavioral model of anxiety in
social phobia. Behaviour Research and Therapy, 35(8), 741–756.
[Link]
Ratnadewati, D. Y., & Oktarina, R. V. (2024). Pengaruh Kesadaran Keamanan
Informasi terhadap Pengguna Media Sosial Instagram. Seminar Nasional
Teknologi Informasi dan Bisnis (SENATIB), 442–448.
Rengganawati, H. (2024). Kecemasan Dalam Berbicara Di Depan Umum Pada
Kalangan Mahasiswa Berusia 17-22 Tahun. Indonesian Journal of Digital Public
Relations (IJDPR), 2(2), 60. [Link]
Resti Rahmawati. (2022). Menurunkan Gejala Kecemasan Pada Gangguan
Kecemasan Umum Dengan Cognitif Therapy. PROCEDIA: Studi kasus dan
intervensi psikologi, 10(4)
Scheepers, H., Scheepers, R., Stockdale, R., & Nurdin, N. (2014). The dependent
variable in social media use. The Journal of Computer Information
Systems,54(2), 25-34.
127

Schlenker, B. R., & Leary, M. R. (1985). Social Anxiety And Self-Presentation: A


Conceptualization Of Social Anxiety And Its Implications For Social
Behavior. Psychological Bulletin, 97(3), 347-366.
Selly Gita Praditha, K., & Made Swasti Wulanyani, N. (2024). Faktor-Faktor Yang
Memengaruhi Adiksi Media Sosial Pada Mahasiswa: Literature Review. Ni
Made Swasti Wulanyani INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 4,
2506–2524.
Simarmata, S. W., & Citra, Y. (2020). Kecanduan Internet Terhadap Keterampilan
Sosial Di Era Generasi Milenial. Jurnal Serunai Bimbingan dan Konseling, 9(1),
16–21. [Link]
Subrahmanyam, K., & Greenfield, P. (2009). Media Symbol Systems and Cognitive
Processes. The Handbook of Children, Media, and Development, 166–187.
[Link]
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Dan Pengembangan Research Dan
Development. Bandung : Alfabeta.
Suharsaputra, U. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, tindakan. Reflika
Aditama. Bandung: Reflika Aditama.
Suparyanto dan Rosad. (2020). Skala Pengukuran Dan Instrumen Penelitian. In
Suparyanto dan Rosad (2015 (Vol. 5, Issue 3).
Suryadi, M. D., Imran, & Rosyid, R. (2022). Analisis Perilaku Masyarakat dalam
Penggunaan Media Sosial (Studi Kasus pada Kumpulan Ibu-Ibu di Komplek
Batara Indah 1 Kelurahan Sungai Jawi Kecamatan Pontianak Kota). Jurnal
Pendidikan dan Pembelajaran Khatulistiwa, 11(8), 818–827.
[Link]
Sutanto, A., Yuniardi, D., & Prabowo, H. (2020). Perbandingan diri di media sosial
dan dampaknya terhadap stres serta rasa kurang percaya diri. Jurnal Psikologi
dan Media Sosial, 4(1), 25-38.
Tedjawidjaja, D., & Christanti, D. (2022). Effect of Social Comparison in Social
Media on Psychological Distress in Adolescents: Role of Emotion Regulation as
Moderator. Journal of Educational, Health and Community Psychology, 11(4),
836. [Link]
Topaloglu, M., Caldibi, E., & Oge, G. (2016). The scale for the individual and social
impact of students’ social network use: The validity and reliability studies.
Computers in Human Behavior, 61, 350–356.
[Link]
128

Valkenburg, P. M., & Peter, J. (2007). Preadolescents’ and adolescents’ online


communication and their closeness to friends. Developmental Psychology, 43(2),
267–277. [Link]
Vannucci, A., & McCauley Ohannessian, C. (2019). Social Media Use Subgroups
Differentially Predict Psychosocial Well-Being During Early Adolescence.
Journal of Youth and Adolescence, 48(8), 1469–1493.
[Link]
Watson, D., & Friend, R. (1969). Measurement of social-evaluative anxiety. Journal
of Consulting and Clinical Psychology, 33(4), 448–457.
[Link]
We Are Social. (2023). Digital 2023: October global statshot report.
[Link]
report/
Weidman, A. C., Fernandez, K. C., Levinson, C. A., Augustine, A. A., Larsen, R. J.,
& Rodebaugh, T. L. (2012). Compensatory internet use among individuals higher
in social anxiety and its implications for well-being. Personality and Individual
Differences, 53(3), 191–195. [Link]
Wiwin Yuliani & Ecep S. (2023). Metode Penelitian Bagi Pemula. Widina Bhakti
Persada Bandung.
Woran, K., Kundre, R. M., & Pondaag, F. A. (2021). Analisis Hubungan Penggunaan
Media Sosial Dengan Kualitas Tidur Pada Remaja. Jurnal Keperawatan, 8(2), 1.
[Link]
Yusri, A. Z. dan D. (2020). Teori,Metode dan Praktik Penelitian Kualitatif. In Jurnal
Ilmu Pendidikan (Vol. 7, Issue 2).
Zahra Kamila Fauziyyah, Zulmansyah, & Dony Septriana Rosady. (2023). Coping
Strategy, Tingkat Kecemasan Sosial, dan Remaja Pengguna Media Sosial. Jurnal
Riset Kedokteran, 91–96. [Link]
Zhao, N., & Zhou, G. (2020). Applied Psych Health Well - 2020 - Zhao - Social Media
Use and Mental Health during the COVID‐19 Pandemic Moderator [Link]
LAMPIRAN

Lampiran 1 Skala Penggunaan Media Sosial

SL : Selalu

SR : Sering

J : Jarang

K : Kadang-kadang

TP : Tidak Pernah

SKALA LIKERT
No Faktor Aitem
TP K J SR SL
1. Saya melihat media sosial
setiap hari
2. Saya berbagi foto dan video
di media sosial
3. Ada beberapa akun media
sosial yang selalu saya ikuti
4. Intensity of Social Saya memiliki lebih dari
Media Use satu akun media sosial yang
saya gunakan secara aktif
5. Saya fikir media sosial
sangatlah berguna
6. Saya suka mengikuti teman
saya berbagi di media sosial
7. Saya biasanya memeriksa
apa yang dilakukan teman-
teman saya di media sosial
8. Saya merasa lebih nyaman
di media sosial
dibandingkan dengan waktu
yang saya habiskan di
Social Media Use
lingkungan sosial
& Communication
9. Saya lebih memilih media
Preferences
sosial daripada
menghabiskan waktu
dengan lingkungan sosial
saya

129
130

10. Saya dapat


mengekspresikan diri saya
dengan lebih jelas
menggunakan media sosial
11. Saya lebih suka
menggunakan media sosial
daripada telepon ketika
berkomunikasi dengan
teman
12. Saya lebih menggunakan
media sosial untuk
pertemanan dan mengobrol
13. Saya memperbarui profil
saya di media sosial
131

Lampiran 2 Skala Kecemasan Sosial

Coba ilustrasikan dalam beberapa waktu pekan terakhir, seberapa cemas anda jika
berada situasi di bawah ini :

SKALA LIKERT
No Aspek Aitem
TP K J SR SL
1. Menelepon di tempat umum
2. Berpartisipasi dalam suatu
kegiatan kelompok kecil
3. Makan di tempat umum
4. Minum-minum bersama orang
lain di tempat umum
5. Berbicara dengan orang yang
berwenang
6. Berakting, pentas, atau berbicara
di hadapan banyak penonton
7. Performance Menyajikan pendapat dalam rapat
8. Anxiety Bekerja sambil diamati
9. Menulis sambil diamati
10. Memasuki ruangan ketika orang-
orang sudah duduk di tempatnya
11. Menjalani tes mengenai
kemampuan, keterampilan atau
pengetahuan Anda
12. Mencoba berkenalan dengan
seseorang dengan tujuan
percintaan atau hubungan seksual
13. Buang air kecil di toilet umum
14. Bertemu dengan orang yang tidak
terlalu Anda kenal
15. Pergi ke acara ditengah
keramaian
16. Menjadi pusat perhatian
17. Social Menelpon orang yang tidak
Anxiety terlalu anda kenal
18. Berbicara tatap muka dengan
orang yang tidak terlalu Anda
kenal
19. Mengungkapkan
ketidaksepahaman atau celaan
132

terhadap seseorang yang tidak


begitu Anda kenal
20. Menatap mata seseorang yang
tidak begitu Anda kenal
21. Menyampaikan pidato yang
sudah dipersiapkan kepada suatu
kelompok
22. Mengembalikan barang ke toko
untuk mendapatkan
pengembalian uang
23. Mengadakan pesta
24. Menolak seorang penjual yang
gigih
133

Lampiran 3 Uji Validitas dan Reliabilitas

a. Skala Penggunaan Media Sosial

Item-Total Statistics
Corrected Item- Cronbach's
Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted
X01 45.2815 66.509 .396 .929
X02 45.5331 60.635 .749 .917
X03 45.4272 61.601 .741 .918
X04 45.4868 61.134 .668 .920
X05 45.2715 66.159 .420 .928
X06 45.4702 62.110 .697 .920
X07 45.6026 60.254 .743 .918
X08 45.7781 58.924 .735 .918
X09 45.7848 58.927 .709 .919
X10 45.6291 60.659 .740 .918
X11 45.5596 61.098 .697 .919
X12 45.5497 61.843 .665 .920
X13 45.7980 57.962 .755 .917

b. Skala Kecemasan Sosial

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items


.964 24

Item-Total Statistics
134

Corrected Item- Cronbach's


Scale Mean if Scale Variance Total Alpha if Item
Item Deleted if Item Deleted Correlation Deleted
VAR00001 83.0596 265.192 .803 .961
VAR00002 82.9570 271.204 .729 .962
VAR00003 82.9205 272.731 .695 .962
VAR00004 83.1391 267.622 .718 .962
VAR00005 82.9901 270.581 .782 .962
VAR00006 83.0861 267.607 .816 .961
VAR00007 83.0629 270.265 .772 .962
VAR00008 82.9801 274.551 .658 .963
VAR00009 83.0199 275.993 .625 .963
VAR00010 83.3510 262.966 .824 .961
VAR00011 83.2483 269.191 .777 .962
VAR00012 83.3146 269.273 .773 .962
VAR00013 83.3146 271.386 .729 .962
VAR00014 83.2682 272.835 .743 .962
VAR00015 83.3079 273.795 .674 .963
VAR00016 83.2219 275.442 .682 .963
VAR00017 83.2384 274.853 .680 .963
VAR00018 83.4073 273.325 .680 .963
VAR00019 83.5166 268.815 .767 .962
VAR00020 83.4669 272.037 .743 .962
VAR00021 84.2450 268.239 .517 .966
VAR00022 83.5232 270.078 .691 .962
VAR00023 83.5861 269.858 .720 .962
VAR00024 83.5662 272.313 .680 .963
135

Lampiran 4 Kategorisasi dan Skor Responden Penelitian

a. Penggunaan Media Sosial

1) Aspek Intensity of Social Media Use

2) Aspek Social Media Use & Communication Preferences


136

b. Kecemasan Sosial
137

Lampiran 5 Hasil Demografi

a. Usia

b. Semester
138

c. Jumlah Ponsel

d. Lama Waktu Online


139

Lampiran 6 Uji Normalitas

a. Skala Penggunaan Media Sosial

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
penggunaan media .121 302 .000 .968 302 .000
sosial
a. Lilliefors Significance Correction

b. Skala kecemasan Sosial

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
kecemasan .062 302 .007 .982 302 .001
sosial
a. Lilliefors Significance Correction
140

Lampiran 7 Uji Linearitas

ANOVA Table
Sum of Mean
Squares df Square F Sig.
kecemasan sosial Between (Combined) 62389.758 37 1686.210 16.967 .000
* penggunaan Groups Linearity 57322.857 1 57322.85 576.80 .000
medsos 7 2
Deviation from 5066.901 36 140.747 1.416 .066
Linearity
Within Groups 26236.457 264 99.381
Total 88626.215 301
141

Lampiran 8 Hipotesis

Correlations
X Y
X Pearson Correlation 1 .804**
Sig. (2-tailed) .000
N 302 302
Y Pearson Correlation .804** 1
Sig. (2-tailed) .000
N 302 302
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Anda mungkin juga menyukai