Bab II
Sejarah singkat periode ejaan
2.1 Sejarah singkat periode ejaan
Prof. Charles van Ophuijsen melakukan pembakuan ejaan Bahasa
melayu yang dibantu oleh Nawawi soetan makmoer dan moh. Taib
sultan ibrahim, yang dikenal sebagai ejaan Van Ophuijsen. Ejeaan ini
menggunakan sistem alfabet latin untuk Bahasa melayu di Indonesia,
yang ada di dalam buku berjudul kitab logat malajoe.
Setelah menerbitkan kitab logat malajoe, van ophuijsen kemudian
menerbitkan maleische spraakkunst (1910). Buku ini kemudian di
terjemahkan oleh T.W. kamil dengan judul tata bahasa melayu dan
menjadi panduan bagi pemakai bahasa melayu di indonesia.
Ejaan Charles van ophuijsen Adalah ejaan yang pernah digunakan
untuk Bahasa melayu dan kemudian Bahasa Indonesia pada zaman
kolonialisme Belanda. Ejaan ini menggunakan alfabet latin dan bunyi
yang mirip dengan tuturan Belanda.
1938 kogres Bahasa Indonesia I rekomendasi ejaan Bahasa
Indonesia harus lebih banyak diinternalkan.
Ejaan ini muncul karena di latar belakangi adanya keinginan para
cendikiawan dan budaya indonesia yang hadir dalam kongres bahasa
indonesia I, untuk melepaskan pengaruh kolonial belanda terhadap
bahasa indonesia. Saat itu, soewandi selaku menteri pengajaran,
pendidikan, dan kebudayaan memutuskan untuk mengganti ejaan
van ophjuijsen. Ejaan pengganti itu disebut ejaan soewandi atau
ejaan republik. Di sebut ejaan republik karena ejaan tersebut lahir
setelah kemerdekaan republik indonesia.
Ejaan ini berlaku sampai tahun 1972 lalu di gantikan oleh ejaan yang
disempurnakan pada masa menteri mashuri saleh. Pada masa
jabatannya sebagai menteri pendidikan dan kebudayaan, pada 23
mei 1972 mashuri mengesahkan penggunakaan ejaan yang di
sempurnakan dalam bahasa indonesia yang menggantikan ejaan
soewandi. Sebagai menteri, mashuri menandai pergantian hal itu
dengan mecopot nama jalan yang melintas di depan kantor
departemen saat itu, dan mengubahnya dari Djl. Tjilatjap menjadi Jl.
Cilacap
Ejaan soewandi adalah ketentuan ejaan bahasa indonesia yang
berlaku sejak 19 maret 1947. Ejaan ini biasa dikenal sebagai ejaan
soewandi, menteri pendidikan dan kebudayaan kala itu, yang
mengumumkan berlakunya ejaan tersebut. Ejaan ini menggantikan
ejaan warisan masa kolonial yang sebelumnya di gunakan, yaitu van
ophuijsen, yang mulai berlaku sejak 1901. Terdapat beberapa ciri
penanda lingual dalam ejaan soewandi, yaitu:
Penggantian huruf oe menjadi u,
Bunyi sentak di tulis dengan k
Kata ulang boleh di tulis dengan angka 2
Tidak dibedakan antara penulisan di sebagai awalan dan di sebagai
kata depan.
1954 kongres Bahasa Indonesia II pengusulan terbentuknya
Lembaga penyusun.
Tanggal 28 Oktober hingga 2 November 1954 diselenggarakan
Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan
perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus
menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa
kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.
Ejaan Pembaharuan atau ejaan Dubovska adalah sistem ejaan
bahasa Indonesia yang dirancang oleh sebuah panitia yang
diketuai oleh Prijono dan E. Katoppo dengan mengikuti saran
ahli bahasa dari Cekoslowakia Zorica Dubovska yang
menginginkan ejaan baru bahasa Indonesia harus mengikuti
alfabet Ceko pada tahun 1957 sebagai hasil keputusan Kongres
Bahasa Indonesia II di Medan, tetapi sistem ejaan ini tidak
pernah dilaksanakan.[1] Ejaan sebelum ini adalah Ejaan
Repoeblik (Ejaan Suwandi), dan ejaan setelah ini adalah Ejaan
Melindo (1959, batal diresmikan), Ejaan Baru atau Ejaan LBK
(Lembaga Bahasa dan Kesusastraan, sekarang Pusat Bahasa,
1967), dan Ejaan yang Disempurnakan sejak 1972.[2][3]
Ejaan pembaharuan merupakan suatu ejaan yang direncanakan
untuk memperbaharui Ejaan Republik. Penyusunan itu
dilakukan oleh Panitia Pembaharuan Ejaan Bahasa Indonesia.
Konsep Ejaan Pembaharuan yang telah berhasil disusun itu
dikenal sebuah nama yang diambil dari dua nama tokoh yang
pernah mengetuai panitian ejaan itu. Yaitu Profesor Prijono dan
E. Katoppo. Pada tahun 1957 panitia dilanjutkan itu berhasil
merumuskan patokan-patokan ejaan baru. Akan tetapi, hasil
kerja panitia itu tidak pernah diumumkan secara resmi sehingga
ejaan itu pun belum pernah diberlakukan. Salah satu hal yang
menarik dalam konsep Ejaan Pembaharuan ialah
disederhanakannya huruf-huruf yang berupa gabungan
konsonan dengan huruf tunggal. Hal itu, antara lain tampak
dalam contoh di bawah ini.
Gabungan konsonan dj diubah menjadi dž
Gabungan konsonan tj diubah menjadi č
Gabungan konsonan ng tetap menjadi ng
Gabungan konsonan nj diubah menjadi ň
Gabungan konsonan sj diubah menjadi š
Selain itu, gabungan vokal (diftong) ai, au, dan oi, ditulis
berdasarkan pelafalannya yaitu menjadi ae, ao, dan oe.
Contoh penggunaan
EYD Ejaan Pembaharuan
Santai Santae
Gulai Gulae
Harimau Harimao
Kalau Kalao
Amboi Amboe
Sarung Sarung
Syarat Šarat
1966 ejaan baru Bahasa Indonesia
Ejaan Baru atau Ejaan LBK (Lembaga Bahasa dan Kesusastraan,
pendahulu Pusat Bahasa) adalah ejaan bahasa Indonesia yang
dikeluarkan pada tahun 1967. Ejaan ini adalah kelanjutan dari
Ejaan Melindo. Anggota pelaksananya pun, selain dari panitia
LBK, juga beranggotakan panitia dari Malaysia. Ejaan ini tidak
memiliki banyak perbedaan dengan EYD kecuali pada perincian-
perincian kaidah saja.[1] Gabungan panitia yang diketuai oleh
Anton M. Moeliono saat itu berhasil merumuskan suatu konsep
ejaan yang kemudian diberi nama Ejaan Baru. Ejaan ini
diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sarino
Mangunpranoto, dengan SK Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No.062/67, tanggal 19 September 1967.[2][3]
Perubahan yang terdapat pada Ejaan Baru atau Ejaan LBK,
antara lain:[4]
Huruf ‘tj’ diganti ‘c’, j diganti ‘y,’ ‘nj’ diganti ‘ny,’ ‘sj ‘menjadi
‘sy,’ dan ‘ch’ menjadi ‘kh.’
Huruf asing: ‘z,’ ‘y,’ dan ‘f’ disahkan menjadi ejaan bahasa
Indonesia. Hal ini disebabkan pemakaian yang sangat produktif.
Huruf ‘e’ tidak dibedakan pepet atau bukan, alasannya tidak
banyak kata yang berpasangan dengan variasi huruf ‘e’ yang
menimbulkan salah pengertian.
1972 ejaan yang disempurnakan lampiran Keputusan
presiden repubilk Indonesia nomor 57 tahun 1972
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (disingkat Ejaan yang
Disempurnakan atau EYD) adalah ejaan bahasa Indonesia yang
berlaku dari tahun 1972 hingga 2015 menggantikan Ejaan Baru,
serta kembali berlaku sejak tahun 2022 menggantikan Ejaan Bahasa
Indonesia.[1] Ejaan ini menggantikan Ejaan Republik atau Ejaan
Soewandi pada tahun 1972 dan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) pada
tahun 2022. EYD pertama kali diberlakukan dan diresmikan pada
tanggal 26 Agustus 1972. Pemberlakuan pemakaian EYD diperkuat
dengan keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972.
Ejaan ini sempat digantikan oleh Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) sejak
tahun 2015 hingga bulan Agustus 2022, ketika istilah "Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan" kembali digunakan.
Jika menghitung EBI sebagai edisi keempat, Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan saat ini telah memiliki lima edisi.
Pada tahun 1966, panitia untuk menyusun ejaan baru bagi bahasa
Indonesia dibentuk. Panitia itu bekerja atas dasar Surat Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 062 Tahun 67, pada
tanggal 19 September 1967. Pada, tahun 1967, Lembaga Bahasa
dan Kesusastraan (LBK, sekarang Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa) mengeluarkan Ejaan Baru (Ejaan LBK) yang
merupakan hasil kerja panitia bentukan LBK tersebut. Ejaan Baru
pada dasarnya merupakan lanjutan dari usaha yang telah dirintis
oleh panitia Ejaan Malindo.
Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama ditandatangani oleh
pemerintah Indonesia dan pemerintah Malaysia. Pernyataan
bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan
asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang
ejaan yang baru. Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan
Latin bagi bahasa Indonesia dan bahasa Melayu ("Rumi" dalam
istilah bahasa Melayu Malaysia). Di Malaysia, ejaan baru bersama
ini dinamai Ejaan Rumi Bersama (ERB). Pada waktu pidato
kenegaraan untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan
Republik Indonesia yang ke XXVII, tanggal 17 Agustus 1972
diresmikanlah pemakaian ejaan baru untuk bahasa Indonesia oleh
Presiden Republik Indonesia. Dengan Keputusan Presiden No. 57
tahun 1972, ejaan tersebut dikenal dengan nama Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan (EYD). Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan ini merupakan penyederhanaan serta
penyempurnaan daripada Ejaan Suwandi atau Ejaan Republik yang
dipakai sejak bulan Maret 1947.
Selanjutnya pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan
Bahasa Indonesia Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih
luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 27 Agustus
1975 Nomor 0196/U/1975 memberlakukan "Pedoman Umum Ejaan
Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dan "Pedoman Umum
Pembentukan Istilah". Buku pedoman tersebut menjadi pedoman
EYD edisi pertama.
Pada tahun 1987, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
mengeluarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 0543a/U/1987 tentang Penyempurnaan "Pedoman Umum
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan". Keputusan menteri
ini menjadi aturan EYD edisi kedua yang menyempurnakan EYD
edisi pertama (1975).
Pada tahun 2009, Menteri Pendidikan Nasional mengeluarkan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009
tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan, yang menjadi aturan EYD edisi ketiga. Dengan
dikeluarkannya peraturan menteri ini, maka EYD edisi kedua (1987)
diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.[2]
Pada tahun 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 50 Tahun 2015 yang menyempurnakan EYD edisi ketiga
(2009), serta mengubah istilah EYD menjadi Ejaan Bahasa Indonesia
(EBI).[3]
Pada tahun 2022, Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa Nomor 0424/I/BS.00.01/2022 dikeluarkan oleh
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Keputusan menteri
tersebut pada intinya mengembalikan istilah EBI menjadi EYD, atau
yang lebih tepatnya Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Edisi Kelima, sehingga menganggap bahwa EBI merupakan EYD edisi
keempat. Dalam keputusan tersebut pula, beberapa pedoman
dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) direvisi.[
Edisi pertama (1972)
Beberapa ketentuan baru yang ditetapkan di dalam EYD edisi
pertama, antara lain:[5]
Huruf f, v, dan z yang merupakan unsur serapan dari bahasa
asing diresmikan pemakaiannya.
Huruf q dan x yang lazim digunakan dalam bidang ilmu
pengetahuan tetap digunakan, misalnya pada kata furqan, dan
xenon.
Awalan di- dan kata depan di dibedakan penulisannya. Kata
depan di pada contoh di rumah, di sawah, penulisannya
dipisahkan dengan spasi, sementara di- pada dibeli atau
dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Huruf diftong oi hanya ditemukan di belakang kata,
misalnya oi pada kata amboi.
Bentuk gabungan konsonan kh, ng, ny, dan sy termasuk
kelompok huruf konsonan.
Masih menggunakan dua istilah, yaitu huruf besar dan huruf
kapital.
Penulisan huruf hanya mengatur dua macam huruf yaitu
huruf besar atau huruf kapital dan huruf miring.
Penulisan angka untuk menyatakan nilai uang
menggunakan spasi antara lambang dengan angka, misalnya
Rp 500,00.
Tanda petik dibedakan istilah dan penggunaannya menjadi
dua, yaitu tanda petik ganda dan tanda petik tunggal.
Kata ulang ditulis penuh dengan mengulang unsur-
unsurnya. Angka dua (2) tidak digunakan sebagai penanda
perulangan, kecuali mungkin dalam tulisan cepat dan notula.
Ketentuan-ketentuan selain penulisan huruf di dalam
pedoman EYD, antara lain:
Penulisan kata.
Penulisan tanda baca.
Penulisan singkatan dan akronim.
Penulisan angka dan lambang bilangan.
Penulisan unsur serapan.
Edisi kedua (1987)
Beberapa perubahan pada EYD edisi kedua, antara lain:[5]
Penggunana huruf kapital dalam ungkapan yang
berhubungan dengan nama Tuhan terdapat catatan tambahan
yaitu:
bila terdiri dari kata dasar maka tulisan disambung,
misalnya Tuhan Yang Mahakuasa;
bila terdiri dari kata berimbuhan maka penulisan dipisah,
misalnya Tuhan Yang Maha Pengasih.
Huruf kapital sebagai huruf pertama nama orang diberi
keterangan tambahan, yaitu:
jika nama jenis atau satuan ukuran ditulis dengan huruf
kecil, misalnya mesin diesel, 10 volt, dan 5 ampere.
Huruf kapital yang digunakan sebagai nama khas geografi
diberi catatan tambahan, yaitu:
istilah geografi bukan nama diri ditulis dengan huruf kecil,
misalnya berlayar ke teluk;
nama geografi sebagai nama jenis ditulis dengan huruf
kecil, misalnya, gula jawa.
Huruf kapital yang digunakan sebagai nama resmi badan
dan dokumen resmi terdapat catatan tambahan, yaitu:
jika tidak diikuti nama maka ditulis dengan huruf kecil,
misalnya sebuah republik dan menurut undang-undang yang
berbeda dengan Republik Indonesia dan Undang-Undang
Dasar 1945.
Penulisan angka untuk menyatakan nilai uang
menggunakan spasi antara lambang dengan angka terdapat
catatan tambahan, yaitu:
untuk desimal pada nilai mata uang dolar dinyatakan
dengan titik, misalnya $3.50;
angka yang menyatakan jumlah ribuan dibubuhkan tanda
titik, misalnya Buku ini berusia 1.999 tahun.
Edisi ketiga (2009)
Beberapa perubahan pada EYD edisi ketiga, antara lain:[5]
Huruf diftong oi ditemukan pada posisi tengah dan posisi
akhir dalam sebuah kata, misalnya boikot dan amboi.
Bentuk kh, ng, ny, dan sy dikelompokkan menjadi gabungan
huruf konsonan.
Penulisan huruf masih tetap mengatur dua macam huruf,
yaitu huruf besar atau huruf kapital dan huruf miring.
Tanda garis miring terdapat penggunan tambahan, yaitu
tanda garis miring ganda untuk membatasi penggalan-
penggalan dalam kalimat untuk memudahkan pembacaan
naskah.
Penggunaan angka dua (2) disebutkan digunakan dalam
keperluan khusus, seperti dalam pembuatan catatan rapat
atau kuliah.
Edisi keempat (2015)
Artikel utama: Ejaan Bahasa Indonesia § Perbedaan dengan
ejaan sebelumnya
Ejaan yang Disempurnakan edisi keempat disebut dengan
nama Ejaan Bahasa Indonesia.
Edisi kelima (2022)
Beberapa perubahan pada EYD edisi kelima, antara lain:[6]
Penambahan istilah huruf monoftong, yang beranggotakan
lambang huruf eu (juga digunakan oleh bahasa Sunda dan
bahasa Aceh).
Bentuk terikat maha- dan kata dasar atau berimbuhan yang
merujuk pada nama dan sifat Tuhan ditulis terpisah.
Perubahan redaksi (pengantar), pemindahan kaidah penulisan
unsur serapan, penghapusan kaidah penulisan kutipan, perubahan
contoh, dan perubahan tata cara penyajian isi.
Dalam penggunaannya pada nama, sering kali masih
menggunakan ejaan lama, misalnya Soekarno, yang sudah
lebih dulu terkenal, dan terkadang dalam nama modern
dicampur dengan ejaan baru, seperti nama belakang
Megawati Soekarnoputri (bukan Sukarnoputri maupun
Soekarnopoetri).
Dalam penggunaannya di luar Indonesia, beberapa orang dapat
memilih untuk mengejanya dengan ejaan asing (bukan Belanda /
Ejaan Lama). Misalnya, musisi Stephanie Poetri mengeja nama
keduanya (nama tengahnya) mirip kata bahasa Inggris poetry
(puisi), alih-alih putri.
Ejaan EYD beberapa mirip dengan bahasa Inggris, seperti penulisan
huruf vokal (a, i, u, e, o) sehingga banyak kata yang diserap secara
utuh dari bahasa Inggris seperti solder, pistol, sandal, dll.
2016 pedoman umum ejaan Bahasa Indonesia peraturan
Menteri Pendidikan dan kebudayaan republic Indonesia nomor
50 tahun 2015
Ejaan Bahasa Indonesia (disingkat EBI) adalah ejaan bahasa
Indonesia yang pernah berlaku sejak tahun 2015 hingga 26
November 2022. EBI diatur berdasarkan Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50
Tahun 2015,[1] yang menggantikan Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan (EYD) edisi ketiga.[2] Pedoman yang mengatur
Ejaan Bahasa Indonesia disebut Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia (PUEBI).
Ejaan ini digantikan oleh EYD edisi kelima yang berlaku mulai 16
Agustus 2022.[3]
Pada tahun 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nomor 50 Tahun 2015 yang menyempurnakan Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan (EYD) edisi ketiga (2009), serta
mengubah istilah EYD menjadi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).[4]
Pada tahun 2021, berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 18 Tahun 2021 tentang
Pembakuan dan Kodifikasi Kaidah Bahasa Indonesia,
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
memberikan wewenang kepada Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa berwenang melakukan pembakuan dan
kodifikasi kaidah bahasa Indonesia. Oleh karena itu, Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa kemudian
mengeluarkan Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa Nomor 0321/I/BS.00.00/2021, yang intinya
menetapkan ulang Ejaan Bahasa Indonesia.[5]
Setahun kemudian, Keputusan Kepala Badan Pengembangan
dan Pembinaan Bahasa Nomor 0424/I/BS.00.01/2022
dikeluarkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Keputusan menteri tersebut pada intinya mengembalikan istilah
EBI menjadi EYD, atau yang lebih tepatnya "Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan Edisi Kelima", sehingga
menganggap bahwa EBI merupakan EYD edisi keempat. Dalam
keputusan tersebut pula, beberapa pedoman dalam Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) direvisi.[6]
Tidak banyak perbedaan Ejaan Bahasa Indonesia dengan Ejaan
yang Disempurnakan edisi ketiga (revisi 2009). Perubahan-
perubahan yang ada pada Ejaan Bahasa Indonesia adalah
sebagai berikut.[7][8][9][10]
Pada huruf vokal, untuk pengucapan (pelafalan) kata yang
benar digunakan diakritik yang lebih rinci, yaitu:
diakritik (é) dilafalkan [e] misalnya Anak-anak bermain di
teras (téras);
diakritik (è) dilafalkan [Ɛ] misalnya Kami menonton film seri
(sèri);
diakritik (ê) dilafalkan [Ə] misalnya Pertandingan itu
berakhir seri (sêri).
Pada huruf konsonan terdapat catatan penggunaan huruf q
dan x yang lebih rinci, yaitu:
huruf q dan x khusus digunakan untuk nama diri dan
keperluan ilmu;
huruf x pada posisi awal kata diucapkan [s].
Pada huruf diftong terdapat tambahan yaitu diftong ei
misalnya pada akata eigendom, geiser, dan survei.
Pada huruf kapital aturan penggunaan lebih diringkas (pada
PUEYD terdapat 16 aturan sedangkan pada PUEBI terdapat 13
aturan) dengan disertai catatan.
Pada huruf tebal terdapat pengurangan aturan sehingga
hanya dua aturan, yaitu menegaskan bagian tulisan yang sudah
ditulis miring dan menegaskan bagian karangan seperti judul
buku, bab, atau subbab.
Aturan bentuk ulang dengan angka dua (2) dihapuskan.
2022 EYD EdisiV
Pada tahun 2022, Keputusan Kepala Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa Nomor 0424/I/BS.00.01/2022 dikeluarkan
oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Keputusan
menteri tersebut pada intinya mengembalikan istilah EBI
menjadi EYD, atau yang lebih tepatnya Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan Edisi Kelima, sehingga menganggap bahwa
EBI merupakan EYD edisi keempat. Dalam keputusan tersebut
pula, beberapa pedoman dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia (PUEBI) direvisi.[4]
2.1.1 latar belakang munculnya ejaan
era melayu kuno berakar dari Bahasa melayu sebagai
lingua franca di Kawasan asia Tenggara.
Era colonial kitab logat melajoe
Era kebangkitan nasional dimulai dari sumpah pemuda
pada tanggal 28 oktober 1928
Era kemerdekaan PUEYD PUEYD II PUEYD III PUEBI
IV EYD V
2.1.2 perbedaan ejaan dibanding ejaan lainnya
berubah huruf
Ada beberapa penanda dalam ejaan ini yaitu:
penggunaan huruf j untuk bunyi konsonan hampiran langit-
langit (y)
penggunaan huruf tj untuk bunyi konsonan gesek pasca
rongga-gigi nirsuara (c)
penggunaan huruf dj untuk bunyi konsonan gesek pasca
rongga-gigi bersuara (j)
penggunaan huruf oe untuk vokal /u/ dan
penggunaan tanda diakritik meliputi tanda koma (,), ain (‘), dan
trema (¨).
penggunaan huruf sj untuk bunyi sy ()ش
penggunaan huruf nj untuk bunyi (ny), dan
penggunaan huruf ch untuk bunyi kh ()خ
Huruf hidup yang diberi aksen trema atau dwititik diatasnya
seperti ä, ë, ï dan ö, menandai bahwa huruf tersebut dibaca
sebagai satu suku kata, bukan gabungan dua vocal dalam satu
huruf, sama seperti ejaan Bahasa Belanda sampai saat ini.
2.2 dampak dan relevansi perubahan ejaan terhadap Bahasa
Indonesia
dampak dari perubah itu menyebabkan pengucapan terhadap
Bahasa Indonesia menjadi lebih pasti dan salah ketik menjadi
lebih jarang.