LAPORAN PENDAHULUAN (LP)
DIABETES MELITUS
DISUSUN OLEH:
GHAZALAH WULAN SAFITRI
P07120525053
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI PENDIDIKAN PROFESI NERS
2025
I. TINJAUAN TEORI DIABETES MELITUS
A. DEFINISI DIABETES MELITUS
Diabetes berasal dari bahasa Yunani yang berarti "mengalirkan atau
mengalihkan" (menyedot). Mellitus berasal dari bahasa Latin yang bermakna manis
atau Madu. Penyakit diabetes melius dapat buku harian artikan individu yang
mengalirkan volume air seni yang banyak dengan kadar glukosa tinggi. Diabetes
melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan mutlak
insulin atau penurunan relatif ketidakpekaan sel terhadap insulin (Corwin, 2019).
Diabetes Melitus adalah keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai
kelainan metabolik akibatnya gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai
komplikasi kronik pada ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran
basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop electron (Mansjoer dkk, 2017)
Menurut Amerika Diabetes Asosiasi (ADA) tahun 2015, kencing manis yaitu
merupakan suatu kelompok panyakit metabolik dengan karakteristik hiperglekimia
yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diabetes
mellitus adalah kelainan defisiensi dari insulin dan kehilangan toleransi terhadap
glukosa (Rab, 2018).
Diabetes Melitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai
oleh kelainan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia yang disebabkan
ketidakjelasan insulin atau akibatnya kerja insulin yang tidak memadai (Peleburan,
SC, 2015).
B. KLASIFIKASI DIABETES MELITUS
Berikut Tipe Diabetes dalam Brunner & Suddarth (2015):
1. Diabetes tipe 1 adalah diabetes tergantung insulin (Insulin dependent diabetes
mellitus atau IDDM). Kurang lebih 5% hingga 10% penderita mengalami tipe ini.
Pada DM tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-
sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Jika konsentrasi
glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua
glukosa yang tersaring keluar akibatnya glukosa tersebut diekskresikan dalam urin
(glukosuria). Ekskresi ini akan disertai oleh pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik Pasien mengalami
peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsi)
2. Diabetes tipe II adalah diabetes tidak tergantung insulin (Non Insulin Dependent
Diabetes Mellitus atau NIDDM). Klmlr lebih 90% hingga 95% penderita
mengalami tipe ini terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin yang
disebut resistensi insulin atau akibat penurunan jumah produksi insulin. Resistensi
insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan
glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati.
Sel tntnm tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya, artinya
terjadi defisiensi relatif insulin.
3. DM Gestational Diabetes yang didiagnosis pada trimester kedua atau ketiga
kehamilan dan tidak mempunyai riwayat diabetes sebelum kehamilan.
4. DM Tipe Lain Contoh dari DM tipe lain (ADA, 2020), yaitu : a. Sindrom
diabetes monogenik (diabetes neonatal) b. Penyakit pada pankreas c. Diabetes
yang diinduksi bahan kimia (penggunaan glukortikoid pada HIV/AIDS atau
setelah transplantasi organ)
C. ETIOLOGI DIABETES MELITUS
1. Diabetes tipe 1
Ditandai oleh penghancuran sel sel beta pancreas. Kombinasi factor genetic,
imunologi dan mungkin pula lingkungan (misalnya: infeksi virus), (Brunner &
Suddart,2014):
a) Faktor- faktor genetic:
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri melainkan
mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya
diabetes tipe 1. Kecenderungan genetic ini ditemukan pada individu yang
memilki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA
merupakan sekumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi
dan proses imun muae. 95% pasien berkulit putih ( Cucasian) dengan diabetes
tipe I memperlihatkan tipe HLA yang spesfik (DR3 atau DR4) 2
b) Faktor- faktor Imunologi:
Pada Diabetes tipe 1 terdapat bukti adanya respon autoimun. Respon ini
merupakan respons abnormal dimana antibody mengarah pada jaringan
normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut dianggapnya
seolah sebagai jaringan asing.
c) Faktor- faktor Lingkungan
Juga sedang dilakukan terhadap kemungkinan faktor eksternal yang dapat
memicu destruksi sel beta. Sebagai contoh, hasil penyelidikan yang
menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun
yang menimbulkan destruksi sel beta.
2. Diabetes tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada dibetes tipe II masih belum diketahui Faktor genetik diperkirakan
memegang peranan penting dalam proses terjadinya resistensi insulin (Brunner &
Suddart, 2014).
Selain itu terdapat juga factor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya
diabetes tipe II yaitu:
a) Usia (resistensi insulin lebih cenderung meningkat pada usia > 65 tahun).
b) Obesitas, perubahan konsumsi makanan merupakan salah satu faktor yang
lebih signifikan untuk mempengaruhi tingkat obesitas. Kebiasaan diet tinggi
kalori, lemak tinggi, dan lebih suka mengkonsumsi makanan cepat saji atau
yang lebih dikenal dengan fast food (Alzaman & Ali, 2016).
c) Riwayat keluarga dengan diabetes mellitus.
D. PATOFISIOLOGI DIABETES MELITUS
1. Diabetes tipe I
Pada diabetes tipe satu terdapat ketidakmampuan untu menghasilkan
insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun.
Hiperglikemi puasa terjadi akibat produkasi glukosa yang tidak terukur oleh hati.
Di samping itu glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam
hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia
posprandial (sesudah makan). Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi
maka ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar.
akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria). Ketika glukosa yang
berlebihan di ekskresikan ke dalam urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran
cairan dan elektrolit yang berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik.
Sebagai akibat dari kehilangan cairan berlebihan, pasien akan mengalami
peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia).
Defisiensi insulin juga akan menggangu metabolisme protein dan lemak
yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan
selera makan (polifagia), akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya
mencakup kelelahan dan kelemahan. Dalam keadaan normal insulin
mengendalikan glikogenolisis (pemecahan glukosa yang disimpan) dan
glukoneogenesis (pembentukan glukosa baru dari dari asam-asam amino dan
substansi lain), namun pada penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi
tanpa hambatan dan lebih lanjut akan turut menimbulkan hiperglikemia.
Disamping itu akan terjadi pemecahan lemak yang mengakibatkan
peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk samping pemecahan
lemak. Badan keton merupakan asam yang menggangu keseimbangan asam basa
tubuh apabila jumlahnya berlebihan. Ketoasidosis yang diakibatkannya dapat
menyebabkan tanda-tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual, muntah,
hiperventilasi, nafas berbau aseton dan bila tidak ditangani akan menimbulkan
perubahan kesadaran, koma bahkan kematian.
Pemberian insulin bersama cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan akan
memperbaiki dengan cepat kelainan metabolik tersebut dan mengatasi gejala
hiperglikemi serta ketoasidosis. Diet dan latihan disertai pemantauan kadar gula
darah yang sering merupakan komponen terapi yang penting.
2. Diabetes tipe II
Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan
dengan insulin yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya
insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat
terikatnya insulin dengan resptor tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam
metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai
dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak
efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi
resistensi insulin dan untuk mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus
terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi
glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan
kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit
meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi
peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan
terjadi diabetes tipe II.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas DM
tipe II, namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang adekuat untuk
mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya.
Karena itu ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II. Meskipun
demikian, diabetes tipe II yang tidak terkontrol dapat menimbulkan masalah akut
lainnya yang dinamakan sindrom hiperglikemik hiperosmoler nonketoik (HHNK).
Diabetes tipe II paling sering terjadi pada penderita diabetes yang berusia
lebih dari 30 tahun dan obesitas. Akibat intoleransi glukosa yang berlangsung
lambat (selama bertahun-tahun) dan progresif, maka awitan diabetes tipe II dapat
berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya dialami pasien, gejala tersebut sering
bersifat ringan dan dapat mencakup kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsi, luka
pada kulit yang lama sembuh-sembuh, infeksi vagina atau pandangan yang kabur
(jika kadar glukosanya sangat tinggi).
E. MANIFESTASI KLINIS DIABETES MELITUS
Tanda dan gejala diabetes melitus Menurut (Mughfuri, 2016) antara lain:
1. Banyak kencing (poliuria)
Oleh karena sifatnya, kadar glukosa darah yang tinggi akan menyebabkan banyak
kencing.
2. Banyak minum (polidipsia)
Oleh karena sering kencing maka memungkinkan sering merasa haus sehingga
banyak minum.
3. Banyak makan (polifagia)
Penderita diabetes militus mengalami keseimbangan kalori negative, sehingga
timbul rasa lapar yang besar.
4. Penurunan berat badan dan lemah
Hal ini disebabkan dalam darah tidak dapat masuk ke dalam sel, sehingga sel
kekurangan bahan bakar untuk menghasilkan tenaga. Untuk kelangsungan hidup,
sumber tenaga terpaksa diambil dari cadangan [Link] sel lemak dan otot.
Akibatnya penderita kehilangan jaringan lemak dan dan otot sehingga menjadi
kurus.
Tanda dan gejala yang dapt muncul pada penderita diabetes mellitus antara lain yaitu
(Smeltzer & Bare, 2013) :
1. Poliuri (sering kencing), polidipsi (sering haus), polifagi (sering makan)
2. Anoreksi yang terjadi karena glukosuria yang menyebabkan keseimbangan kalori
negatif.
3. Keletihan (rasa cepat lelah) dan kelemahan
4. Kulit kering, lesi atau luka pada kulit yang dapat mengalami perlambatan
kesembuhannya dan rasa gatal pada kulit.
5. Sakit kepala, mengantuk serta gangguan pada saat melakukan aktifitas
6. Kram otot dan iritabilitas.
7. Gangguan penglihatan seperti pemandangan kabur
8. Sensasi kesemutan atau kebas di bagian tangan dan kaki
9. Mual, diare dan konstipasi yang disebabkan karena dehidrasi dan
ketidakseimbangan elektrolit serta neuropati otonom.
F. KOMPLIKASI DIABETES MELITUS
Komplikasi diabetes mellitus menurut Mughfuri, 2016 yaitu:
1. Mata: retinopati diabetic, katarak
2. Ginjal: glomerulosklerosis intrakapiler, infeksi
3. Saraf neuropati perifer, neuropati kranial, neuropati otonom.
4. Kulit dermopatik diabetic, nekrobiosis lipiodika diabetikorum, kandidiasis, tukak
kaki dan tungkai
5. Sistem kardiovaskular: penyakit jantung dan gangrene pada kaki
6. Infeksi tidak lazim: fasilitas dan miosisitis nekrotikans, meningitis mucor,
kolesistitis empfisematosa, otitis eksterna maligna
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DIABETES MELITUS
1. Glukosa darah: gula darah puasa > 130 ml/dl, tes toleransi glukosa > 201 mg/dl. 2
jam setelah pemberian glukosa.
2. Aseton plasma (keton) positif secara mencolok.
3. Asam lemak bebas: kadar lipid dan kolesterol meningkat
4. Osmolalitas serum: meningkat tapi biasanya <330 mOsm/I
5. Elektrolit: Na mungkin normal, meningkat atau menurun, K normal atau
peningkatan semu selanjutnya akan menurun, fosfor sering menurun.
6. Gas darah arteri: menunjukkan Ph rendah dan penurunan HCO3
7. Trombosit darah: Ht meningkat (dehidrasi), leukositosis dan hemokonsentrasi
merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
8. Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal
9. Insulin darah: mungkin menurun tidak ada (Tipe I) atau normal sampai tinggi
(Tipe II)
10. Urine: gula dan aseton positif
11. Kultur dan sensitivitas: kemungkinan adanya ISK. infeksi pernafasan dan infeksi
luka.
H. PENATALAKSANAAN MEDIS DIABETES MELITUS
1. Diet
a) Syarat diet DM hendaknya dapat
1) Memperbaiki kesehatan umum penderita
2) Mengarahkan pada berat badan normal
3) Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetic
4) Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita
5) Menarik dan mudah diberikan
b) Prinsip diet DM. adalah:
1) Jumlah sesuai kebutuhan
2) Jadwal diet ketat
3) Jenis: boleh dimakan/tidak
c) Dalam melaksanakan diet diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J
yaitu:
1) Jumlah kalori yang diberikan harus habis. jangan dikurangi atau ditambah
2) Jadwal diet harus sesuai dengan intervalnya
3) Jenis makanan yang manis harus dihindari
Penentuan jumlah kalori Diit Diabetes Melitus harus disesuaikan oleh status
gizi penderita. penentuan gizi dengan menghitung Percentage of Relative
Body Weight (BBR = berat badan normal) dengan rumus :
1) Kurus (under weight) BBR < 90%
2) Normal (ideal) BBR 90%-110
3) Gemuk (overweight) BBR> 110%
4) Obesitas apabila BBR > 120%
Obesitas ringan BBR 120%-130%
Obesitas sedang BBR 130%-140%
Obesitas berat 140%-201%
Morbid BBR > 201 %
Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita
DM yang bekerja biasa adalah
1) Kurus (underweight) BB X 40-60 kalori sehari
2) Normal (ideal) BB X 30 kalori sehari
3) Gemuk (overweight) BB X 20 kalori sehari
4) Obesitas apabila BB X 10-15 kalori sehari
2. Latihan
Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM, adalah:
a) Meningkatkan kepekaan insulin, apabila dikerjakan setiap 1/2 jam sesudah
makan, berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita dengan
kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan
sensivitas insulin dengan reseptornya.
b) Mencegah kegemukan bila ditambah latihan pagi dan sore
c) Memperbaiki aliran perifer dan menambah suplai oksigen
d) Meningkatkan kadar kolesterol-high density lipoprotein
e) Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang, maka latihan akan dirangsang
pembentukan glikogen baru.
f) Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran
asam lemak menjadi lebih baik.
3. Penyuluhan
Penyuluhan merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita
DM. melalui bermacam-macam cara atau media misalnya: leaflet, poster. TV,
kaset video, diskusi kelompok, dan sebagainya.
4. Terapi obat
Obat Hipoglikemik Oral (OHO) seperti sulfonilurea, biguanid, inhibitor α
glukosidase dan insulin hanya diberikan sesuai dengan kondisi penderita diabetes
melitus. Tindakan yang diberikan mengobati diabetes melitus secara keseluruhan,
tidak sama. Perbedaan penatalaksanaan terjadi karena disesuaikan dengan tipe
diabetes mellitus yang memiliki kondisi yang berbeda-beda (F. Y. Widodo, 2014).
II. TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN DIABETES MELITUS
A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Menurut Bare, Smelter 2015 pengakajian meliputi :
1. Identitas
a) Identitas klien meliputi: Nama, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin,
agama, alamat ,status perkawinan, pendidikan terakhir, pekerjaan.
b) Identitas penanggung jawab meliputi : Nama, umur, jenis kelamin, alamat.
pendidikan, hubungan dengan pasien.
2. Riwayat kesehatan
a) Keluhan utama : akan di temukan tanda-tanda poliuria, polidipsia. polipagia,
penurunan BB, kelelahan
b) Keluhan saat dikaji : pusing, lemas, mual, muntah, edema
c) Riwayat penyakit saat ini : Berisi tentang perjalanan penyakit Diabetes melitus
biasanya mengeluh kesemutan sering buang air kecil berat badan
menurun ,seringhaus,dan nafsu makan meningkat.
d) Riwayat kesehatan masa lalu: kegemukan yang berlangsung lama, riwayat
pankreastitis kronis, riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg. riwayat
glukosuria.
e) Riwayat kesehatan keluarga (genogram) adanya riwayat keluarga tentang
penyakit diabetes mellitus.
3. Kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
a) Pola respirasi : biasanya terdapat bau keton, biasanya pasien diabetes mellitus
mengalami gangguan pola napas atau sesak
b) Pola nutrisi : Penderita diabetes melitus mengalami mual, muntah, haus, dan
terjadi penurunan berat badan
c) Pola eliminasi : Pada pola eliminasi perlu dikaji adanya perubahan ataupun
gangguan pada kebiasaan BAB dan BAK.
d) Pola istirahat tidur : Sering mengalami susah tidur
e) Pola aktivitas dan latihan : sering mengalami lemah, letih, tonus otot menurun
f) Pola personal hygiene : ada atau tidaknya perubahan pola personal hygiene.
Biasanya mengalami gangguan.
g) Pola hubungan dan peran : Sering terjadi gangguan pada poola hubungan dan
peran karena konsisi pasien yang lemah
h) Pola persepsi dan kosep diri : menggambarkan persepsi klien terhadap
penyakitnya tentang pengetahuan dan penatalaksanaan penderita diabetes
melitus dengan ketidak stabilan gula darah
i) Nilai dan keyakinan : Gambaran tentang penyakit diabetes melitus tentang
penyakit yang dideritanya menurut agama dan keprcayaan, kecemasan akan
kesembuhan, tujuan dan harapan akan sakitnya
4. Pemeriksaan Fisik
a) keadaan umum : Tampak lemah
b) kesadaran : Compost mentis
c) TTV : Tekanan darah menurun, nafas sesak, nadi cepat atau lambat, suhu,
d) TB/BB : Sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan
e) Pemeriksaan fisik (Head To Toe )
1) Kepala
Inspeksi : Lihat ada apa tidaknya lesi, warna hitam atau kecoklatan. Ada
odem apa tidak, dan distribusi rambut, ada atau tidak rambut rontok,
ketombe
Palpasi : adanya nyeri tekan atau tidak
2) Mata(tidak ada yang spesifik)
Inspeksi:kelopak mata ada lubang atau tidak, reflek kedip atau tidak,
konjungtiva dan sclera merah atau konjungtivitis, iktirik/ indikasi bilirubin
atau gangguan pada hepar, pupil sokor, miosis atau miodiasis.
Palpasi:tekan secara ringan jika ada peningkatan teraba keras kaji adanya
nyeri tekan.
3) Hidung
Inspeksi : apakah hidung simetris, apakah ada inflamasi, apakah ada
secret., ada polip hidung, pernapasan cuping hidung.
Palpasi : apakah ada nyeri tekan
4) Mulut
Inspeksi : amati bibir apa ada kelainan congenital (bibirsumbing), warna,
kesimetrisan, kelembaban , pembengkakan, lesi, amati jumlah dan bentuk
gigi, berlubang, warna plak, kebersihan gigi.
Palpasi : pegang dan tekan daerah pipi kemudian rasakan ada massa atau
tumor, pembekakan dan nyeri tekan
5) Telinga
Inspeksi : kebersihan telinga, daun telinga simetris atau tidak, warna,
ukuran, bentuk, lesi.
Palpasi : tekan daun telinga apakah ada respon nyeri, rasakan kelenturan
kartilago.
6) Leher
Inspeksi : amati mengenai bentuk, warnakulit, jaringan parut, amati adanya
pembengkakan kelenjar tiroid, amati kesimetrisan leher
Palpasi : letakkan tangan pada leher klien, suruh pasien menelan dan
rasakan adanya kelenjar tiroid.
7) Dada
Inspeksi : kesimetrisan dinding dada, ada atau tidaknya retraksi dinding
dada, ada lesi atau tidak
Palpasi : terdapat nyeri tekan atau tidak
Auskultasi : adanya suara abnormal pernapasan dan jantung atau tidak
8) Abdomen
Inspeksi : ada lesi atau tidak, bentuk perut, warna kulit, adanya reaksi,
adanya ketidak simetrisan
Palpasi : adanya respon nyeri tekan, adanya massa atau tidak
Auskultasi : bising usus normal 10-12x/ menit
9) Integument
Inspeksi : Kulit biasanya kering, terdapat lesi, warna kulit, ada edema atau
tidak, terdapat luka gangrene
Palpasi : biasanya terdapat nyeri tekan, turgor kulit , akral
10) Ekstremitas
Inspeksi : biasanya terdapat udem pada ekstremitas bawah, terdapat lesi,
kekuatan otot menurun
Palpasi : biasanya terdapat nyeri tekan, terdapat cuping edema, CRT
lambat (>2 detik)
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan pada pasien Anemia ( PPNI, 2017. Standar Diagnosis
Keperawatan Indonesia ).
1. Hipovelemia berhubungan dengan diuresis osmotic (D0023)
2. Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan hiperglikemia (D0027)
3. Defisit nutrisis berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorsi makanan
(D0019)
4. Gangguang integritas kulit berhubungan dengan gangguan permukaan kulit
(D0129)
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan (D0054)
6. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis (D0077)
7. Resiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis ( diabetes mellitus) (D0142)
8. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai
penyakitnya (D0111)
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Intervensi keperawatan pada pasien hiperflasia Diabetes Melitus ( PPNI, 2017.
Standar Luran dan Intervensi Keperawatan Indonesia ). Sebagai berikut:
1. Hipovelemia berhubungan dengan diuresis osmotic (D0023)
Tujuan Intervensi Rasional
Setelah dilakukan Manajemen Hipovelemia
tindakan keperawatan (I.03116)
selama …x24 jam Observasi Observasi
diharapkan status 1. Periksa tanda dan gejala 1. Untuk mengetahui
cairan membaik, hipovolemia bagaimana kondisi
dengan kriteria hasil ([Link] pasien, tanda-tanda
sebagai berikut : meningkat, nadi torba kekurangan cairan.
1. Tekanan nadi lemah,tekanan darah
membaik (80- menurun, tekanan nadi
100x/menit) menyempit, turgor kulit
2. Turgor kulit menurun, membran
membaik mukosa kering, volume
3. Tekanan darah urin menurun, hematokrit
meningkat meningkat, haus, lemah)
(120/80mmHg) 2. Monitor intake dan output 2. Untuk memantau
4. Suhu tubuh cairan intake dan output
membaik (36-
37ºC) cairan pada pasien
5. Membran mukosa/ Terapeutik
kelembaban bibir 1. Hitung kebutuhan cairan Terapeutik
meningkat 1. Untuk mengetahui
6. Kadar Hb kehilangan dan
membaik (12-16 2. Berikan posisi modified kebutuhan cairan
g/ dL) Trendelenburg 2. Posisi pasien
berbaring di
tempat tidur
dengan bagian
kepala lebih
rendah dari pada
bagian kaki. Untuk
melancarkan
peredaran darah
3. Berikan asupan cairan keotak.
oral 3. Pemenuhan
kebutuhan dasar
cairan dan
menurunkan resiko
Edukasi kekurangan cairan
1. Anjurkan memperbanyak Edukasi
asupan cairan oral
1. Untuk pemenuhan
kebutuhan dasar
cairan
danmempertahank
2. Anjurkan menghindari an cairan
perubahan posisi 2. Untuk mencegah
mendadak kesalah posisi pada
pasien dalam
menjalani
perencanaan
Kolaborai keperawatan
1. Kolaborasi pemberian Kolaborai
cairan IV isotonis (mis, 1. Cairan intravena
NaCl, RL) diperlukan untuk
mengatasi
kehilangan cairan
2. Kolaborasi pemberian tubuh secara hebat.
cairan IV hipotonis (mis, 2. Untuk membantu
glukosa 2,5%, NaCl 0,4%) mempercepat
dalam pemenuhan
3. Kolaborasi pemberian kebutuhan cairan
cairan koloid (mis, 3. Untuk membantu
albumin, Plasmanate) mempercepat
dalam pemenuhan
kebutuhan cairan
2. Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan hiperglikemia (D0027)
Tujuan Intervensi Rasional
Setelah dilakukan Manajemen Hiperglikemia
tindakan keperawatan I. 03115)
selama … x 24 jam Observasi : Observasi
diharapkan kadar gula 1. Identifikasi kemungkinan 1. untuk mengetahui
dalam darah stabil (L. penyebab hiperglikemia penyebab
03022) hiperglikemia
Dengan kriteria hasil: 2. Monitor kadar glukosa 2. untuk mengetahui
1. Kesadaran darah kadar glukosa darah
meningkat 3. Monitor tanda dan gejala 3. untuk mengetahui
2. Keluhan lapar hiperglikemia (mis, tanda dan gejala
menurun poliurs, polidipsia, hiperglikemia
3. Kadar glukosa polifagia, kelemahan
dalam darah pandangan kabur, sakit
membaik kepala)
4. Identifikasi situasi yang 4. untuk mengetahui
menyebabkan kebutuhan penyebab kebutuhan
insulin meningkat (mis, insulin meningkat
penyakit kambuhan)
Terapeutik: Terapeutik
1. Berikan asupan cairan 1. Untuk menjaga agar
oral asupan cairan oral
tetap terpenuhi
2. Konsultasi dengan medis 2. Agar tanda dan
jika tanda dan gejala gejala hiperglikemia
hiperglikemia tetap ada berkurang atau
atau memburuk membaik
Edukasi: Edukasi
1. Anjurkan menghindari 1. Untuk menghindari
olahraga saat kadar resiko jatuh saat
glukosa darah lebih dari olahraga
250 mg/dL
2. Anjurkan kepatuhan 2. Untuk menjaga nilai
terhadap diet dan kadar glukosa darah
olahraga tetap stabil dan
olahraga dapat
mengurangi resiko
penyakit
kardiovaskuler
3. Ajarkan pengelolaan 3. Untuk menjaga nilai
diabetes (mis, kadar glukosa darah
penggunaan insulin, obat tetap stabil
oral)
Kolaborasi Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian 1. Untuk menjaga nilai
insulin, jika perlu kadar glukosa darah
tetap stabil
2. Kolaborasi pemberian 2. Untuk menjaga
cairan IV, jika perlu cairan dalam tubuh
pasien tetap
terpenuhi
3. Defisit nutrisis berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorsi makanan
(D0019)
Tujuan Intervensi Rasional
Setelah dilakukan Manajemen nutrisi
tindakan keperawatan (I.03119)
selama… x24 jam Observasi Observasi
diharapkan 1. Monitor asupan dan 1. Untuk mengetahui
Status nutrisi keluarnya makanan dan apakah berat badan
membaik, dengan cairan serta kebutuhan naik atau turun
kriteria hasil: kalori
1. Porsi makan yang
dihabiskan Terapeutik Terapeutik
meningkat. 1. Timbang berat badan 1. Untuk menyesuaikan
2. Berat badan secara rutin. atau
membaik menyeimbangkan
3. Frekuensi makan antara energy yang
membaik masuk dan energy
4. Nafsu makan yang keluar untuk
membaik beraktivitas.
5. Mual muntah 2. Diskusikan perilaku 2. Untuk mengetahui
berkurang makan dan jumlah bagaimana perilaku
aktivitas fisik (termasuk makan dan jumlah
olahraga) yang sesuai. aktivitas fisik
(termasuk olahraga)
yang sesuai.
3. Anjurkan makan- 3. Untuk mengurangi
makanan hangat sedikit rasa mual muntah.
tapi sering.
Kolaborasi Kolaborasi
1. Kolaborasi dengan ahli 1. Untuk mengetahui
gizi tentang target berat kebutuhan kalori
badan, kebutuhan kalori untuk target berat
dan pilihan makanan badan
4. Gangguang integritas kulit berhubungan dengan gangguan permukaan kulit
(D0129)
Tujuan Intervensi Rasional
Setelah dilakukan Perawatan Integritas Kulit
tindakan keperawatan (I.11353)
selama … x24 jam, Observasi Observasi
diharapkan integritas 1. Identifikasi penyebab 1. untuk mengetahui
kulit dan jaringan gangguan integritas kulit penyebab terjadinya
meningkat, dengan (mis. Perubahan sirkulasi, gangguan integritas
kriteria hasil : perubahan status nutrisi, kulit/jaringan
1) Elastisitas penurunan kelembaban,
meningkat suhu lingkungan ekstrem,
2) Hidrasi meningkat penurunan mobilitas)
3) Kerusakan lapisan Terapeutik
kulit menurun 1. Ubah posisi tiap 2 jam Terapeutik
4) Hematoma jika tirah baring 1. untuk mencegah
menurun resiko dan atau
terjadinya luka
dekubitus akibat tirah
baring
2. Gunakan produk 2. untuk menjaga
berbahan petrolium atau kelembaban kulit
minyak pada kulit kering selama proses
penyembuhan
3. Hindari produk berbahan 3. produk berbahan
dasar alkohol pada kulit dasar alkohol dapat
kering mengurangi produksi
minyak pada kulit
sehingga membuat
kulit yang kering
menjadi lebih kering
sehingga dapat
mengakibatkan
kemerahan dan gatal.
Edukasi Edukasi
1. Anjurkan menggunakan 1. Agar pasien mengerti
pelembab (mis. Lotion, dan dapat menjaga
serum) kelembaban kulitnya
2. Anjurkan minum air yang 2. Air putih dapat
cukup meningkatkan
kelembaban kulit
3. Anjurkan meningkatkan 3. Buah dan sayur
asupan buah dan sayur mengandung
antioksidan yang
dapat melindungi
kulit dari kerusakan
pada tingkat sel
4. Anjurkan menghindari 4. Suhu ekstrem dapat
terpapar suhu ekstrem memicu ruam, iritasi
dan gatal pada kulit
5. Anjurkan mandi dan 5. Penggunaan sabun
menggunakan sabun yang berlebihan dapat
secukupnya merusak kulit bagian
luar.
5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan (D0054)
Tujuan Intervensi Rasional
Setelah dilakukan Dukungan Mobilisasi
tindakan keperawatan (I.06171)
selama… x24 jam Observasi Observasi
diharapkan dukungan 1. Identifikasi adanya nyeri 1. Untuk mengetahui
mobilitas fisik atau keluhan fisik lainnya nyeri dan keluhan
meningkat. Dengan fisik yang terjadi
kriteria hasil: secara tiba-tiba.
1. Pergerakan 2. Identifikasi toleransi fisik 2. Untuk mengetahui
ekstremitas melakukan pergerakan kemampuan pasien
meningkat dalam melakukan
2. Kekuatan otot mobilisasi fisik agar
meningkat tidak melakukan
3. Nyeri menurun aktivitas yang
4. Kecemasan berlebih
menurun 3. Monitor kondisi umum 3. Untuk mengetahui
5. Gerakan terbatas selama melakukan bagaimana kondisi
menurun mobilisasi pasien selama
6. Kelemahan fisik melakukan ambulasi
menurun Terapeutik Terapeutik
1. Fasilitasi aktivitas 1. Menyediakan alat
mobilisasi dengan alat bantu gerak untuk
bantu (mis. Pagar tempat memudahkan dan
tidur) membantu pasien
dalam melakukan
mobilisasi.
2. Fasilitasi melakukan 2. Untuk memudahkan
pergerakan, jika perlu dan membantu pasien
dalam melakukan
mobilisasi.
3. Libatkan keluarga untuk 3. Memudahkan proses
membantu pasien dalam peningkatan ambulasi
meningkatkan pada pasien
pergerakan.
Edukasi Edukasi
1. Jelaskan tujuan dan 1. Memberikan
prosedur mobilisasi pemahaman
mengenai tujuan
dilakukan ambulasi
2. Ajarkan mobilisasi 2. Agar pasien dapat
sederhana yang harus melakukan ambulasi
dilakukan (mis. Duduk di secara mandiri
tempat tidur, duduk di
sisi tempat tidur, pindah
dari tempat tidur ke kursi)
D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Menurut Setiadi (2012) implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Implementasi
merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien
dari masalah status kesehatan yang di hadapi kedalam suatu kasus kesehatan yang
lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. Dalam pelaksanaan
implementasi meliputi pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon klien
selama dan sesudah pelaksanaan tindakan dan menilai data yang baru (Ilmi, Saraswati
& Hartono, 2019).
E. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi keperawatan adalah tahapan akhir yang ada di dalam proses
keperawatan dimana tujuan dari evaluasi adalah untuk menilai apakah tindakan
keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau tidak. Untuk mengatasi suatu masalah
dari klien pada tahap evaluasi ini perawat dapat mengetahui seberapa jauh diagnose
keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaan sudah tercapai yang telah dilakukan
oleh perawat (Ilmi. Saraswati & Hartono, 2019). Penyusunan evaluasi dengan
menggunakan SOAP yang operasional, dengan pengertian S adalah ungkapan
perasaan dan keluhan yang dirasakan saat implemantasi. O adaah objektif dengan
pengamatan objektif perawat setelah implementasi. A merupakan analisa perawat
setelah mengetahui respon subjektif dan objektif keluarga yang dibandingkan dengan
kriteria dan standar mengacu pada intervensi keperawatan keuarga. P adalah
perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisa. (Kucoro Fadli 2013).
DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, S.C., 2015, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
Potter & Perry, 2015, Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan
Praktik. Jakarta: EGC
Corwin, EJ. 2019. Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi, Jakarta: EGC
Mansjoer, A dkk. 2017. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Rab, T. 2018. Agenda Gawat Darurat (Critical Care). Bandung: Penerbit PT Alumni
PPNI, 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator
Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawaton, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI. 2019. Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI
Hassan,R.,& Alatas H. 2018. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Muslihatun, W. 2011. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya
Walner W.
Tunnessen, J. 2004. Ilmu Kesehatan Anak Tanda & Gejala. Jakarta: Binarupa Aksara