0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan23 halaman

Terapi Bermain Clay untuk Anak RS X

Diunggah oleh

rahayumuthia75
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan23 halaman

Terapi Bermain Clay untuk Anak RS X

Diunggah oleh

rahayumuthia75
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

TERAPI BERMAIN CLAY PADA ANAK USIA PRA SEKOLAH (3 - 6 TAHUN)

DI RUANG RAWAT INAP ANAK RS X

Kelompok 10 :

Serly Anggia Fadila (2402166)

Muthia Rahayu (2402148)

Wahyu Jiwo Albani (2402171)

Maylani Claudya Sianipar (2402145)

Kelas 2D

Mata Kuliah:

Keperawatan Anak Sehat Sakit

Dosen Pengampu:

Ns. Fitri Wahyuni,S, [Link]., [Link]

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KESEHATAN DAN SAINS

UNIVERSITAS MERCUBAKTIJAYA

TA.2025/2026
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
Rahmat dan karunia-Nya, penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dalam waktu yang
ditentukan. Proposal yang berjudul "Terapi Bermain Claypada Anak Usia Pra Sekolah (3 - 6
Tahun) Di Ruang Rawat Inap Anak Rs X" ini, disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah
keperawatan anak sehat dan sakit akut.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada berbagai pihak yang ikut membantu
baik langsung maupun tidak langsung. Setelah mempelajari makalah ini, diharapkan
mahasiswa keperawatan dapat memahaminya. Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Kami juga menyadari makalah ini terdapat kekurangan baik
secara materi maupun penyajian.

Padang, 02 Oktober 2025

Kelompok 10

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................ii

DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR............................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................1

A. Latar Belakang...........................................................................................................1

B. Tujuan........................................................................................................................3

C. Manfaat......................................................................................................................4

BAB II TINJAUAN TEORITIS.........................................................................................5

A. Defenisi Permainan....................................................................................................5

B. Fungsi Permainan.......................................................................................................5

C. Prinsip Terapi Bermain Pada Anak Dengah Hospitalisasi.........................................7

D. Indikasi Dan Kontraindikasi......................................................................................7

E. Hal Hal Yang Diperhatikan........................................................................................8

F. Hambatan Yang Akan Muncul...................................................................................9

G. Alat Dan Bahan..........................................................................................................9

H. Prosedur.....................................................................................................................10

BAB III PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN..............................................................12

A. Metode Pelaksanna....................................................................................................12

B. Pelaksanaan Kegiatan................................................................................................12

C. Pengorganisasian........................................................................................................12

D. Uraian Tugas..............................................................................................................12

E. Setting Tempat...........................................................................................................13

F. Pelaksanaan Kegiatan................................................................................................14

iii
G. Evaluasi Hasil............................................................................................................16

BAB IV PENUTUP..............................................................................................................17

A. Kesimpulan................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................18

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Contoh Permainan..........................................................................................9

Gambar 2.2 Prosedur...........................................................................................................10

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hospitalisasi pada anak merupakan suatu proses karena suatu alasan yang
mengharuskan anak untuk tinggal dirumah sakit, menjalani terapi dan perawatan
sampai anak dapat dipulangkan kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dapat
mengalami berbagai kejadian berupa pengalaman yang sangat traumatik dan penuh
dengan stres (Supartini 2012). Hospitalisasi sering kali menjadi krisis pertama yang
harus dihadapi anak. terutama selama tahun-tahun awal, sangat rentan terhadap krisis
penyakit dan hospitalisasi karena stress akibat perubahan dari keadaan sehat biasa dan
rutinitas lingkungan. Reaksi anak terhadap krisis-krisis tersebut dipengaruhi oleh usia
perkembangan mereka, pengalaman mereka sebelumnya dengan penyakit, perpisahan,
atau hospitalisasi, keterampilan koping yang mereka miliki dan dapatkan, keparahan
diagnosis dan sistem pendukung yang ada (Wong, 2009).

Anak yang dirawat di rumah sakit sering mengalami reaksi hospitalisasi dalam
bentuk anak rewel, tidak mau didekati oleh petugas kesehatan, ketakutan, tampak
cemas, STIK Bina Husada Palembang tidak kooperatif, bahkan tamper tantrum.
Menurut Ball dan Bindler (2003), anak yang dirawat di rumah sakit berada pada
lingkungan asing yang tidak diketahuinya, dikelilingi orang-orang pemandangan
asing, sekitar peralatan, dan menakutkan; sehingga menimbulkan reaksi hospitalisa.

Anak dengan segala karakteristiknya memiliki peluang yang lebih besar untuk
mengalami sakit jika dikaitkan dengan respon imun dan kekuatan pertahanan
tubuhnya yang belum optimal. Rawat inap atau sering disebut dengan hospitalisasi
merupakan suatu proses dimana anak di rawat di rumah sakit. Selama hospitalisasi
anak akan dihadapkan pada kondisi stres yang ditimbulkan oleh stresor seperti
perpisahan, kehilangan kendali, cedera tubuh, dan nyeri. Anak juga akan mengalami
berbagai macam perasaan yang tidak menyenangkan selama rawat inap seperti marah,
takut, sedih, nyeridan cemas (Brykczynska & Simons, 2011 dalam Depi Lukitasari
2019).

Kecemasan gelisah merupakan perasaan yang tidak jelas, ketidak nyamanan,


ketakutan yang disertai respon otonom, dan sering kali tidak diketahui apa

vi
penyebabnya, perasaan takut terhadap sesuatu karena mengantisipasi bahaya
(Townsend, 2009 dalam Depi Lukitasari, 2019).

Kecemasan sangat berhubungan dengan perasaan tidak pasti dan ketidak


berdayaan terhadap penilaian suatu objek atau keadaan, cemas terjadi ketika
seseorang merasa terancam baik fisik maupun psikologis, kekhawatiran yang tidak
jelas yang berkaitan dengan perasan tidak pasti dan tidak berdaya dengan keadaan
(Stuart, 2016).

Kecemasan sangat biasa dialami dan merupakan keadaan emosi yang normal.
namun pada beberapa orang termasuk anak mengalami kecemasan dan kekhawatiran
yang berlebihan dapat menyebabkan mereka sulit untuk mengontrol pikiran dan
perasaannya. Keadaan seperti itulah yang disebut sebagai gangguan
kecemasan(Hildayani,dkk, 2011).

Terutama pada anak usia pra sekolah, di usia ini anak menganggap bahwa baik
prosedur yang menimbulkan nyeri seperti prosedur invasif maupun yang tidak akan
tetap dianggap membahayakan tubuh mereka karena konsep integritas tubuhnya
belum berkembang baik (Hazinski, 2013 dalam Devi Lukitasari, 2019). Hampir
seluruh tindakan atau prosedur yang dilakukan selama anak menjalani rawat inap
dapat menimbulkan trauma dan rasa takut (Ball, Bindler & Cowen, 2015).

Rasa nyeri yang tidak dapat tertangani sebelumnya dengan baik juga akan
memberikan pengaruh buruk bagi fisik, emosi, perilaku, kognitif, dan psikologis
sehingga dapat menimbulkan ketakutan, kecemasan dan penolakan untuk prosedur
selanjutnya (Czarnecki, 2011;Taddio, et al., 2010).

Beberapa faktor et yang al., dapat mempengaruhi kecemasan yaitu faktor


kelemahan fisik dapat melemah kan kondisi mental individu sehingga memudah kan
timbul nya kecemasan, trauma atau konflik dari pengalaman anak yang dapat muncul
nya gejala kecemasan sangat bergantung pada kondisi individu, dalam arti bahwa
pengalaman pengalaman emosional atau konflik mental yang terjadi pada individu
akan memudah kan timbul nya gejala-gejala kecemasan dan faktor lingkungan awal
yang tidak baik karena lingkungan adalah faktor utama yang dapat mempengaruhi
kecemasan individu, jika faktor tersebut kurang baik maka akan menghalangi
pembentukan kepribadian muncul gejala-gejala sehingga kecemasan (Rufaidah, 2009
dalam Heni nurmayunita & Apriyani Puji Hastuti, 2019).
vii
Untuk mengatasi masalah kecemasan dengan hospitalisasi pada anak usia pra
sekolah 3-6 tahun selain dengan melibatkan orang tua anak, dapat diberikan dengan
terapi bermain. Salah satu macam terapi bermain yang sesuai dengan tahapan anak
usia pra sekolah 3-6 tahun yaitu bermain Clay. Selama di rumah sakit permainan ini
bisa dilakukan sendiri maupun dengan orang lain yaitu dampingan orang tua, perawat,
maupun teman sebaya nya yang ada di lingkungan sekitar nya (Hockenbery, 2009
dalam Nurmayunita Heny & Apriyani Puji Hastuti, 2019).

Bermain Clay akan melepas kan anak dari ketegangan dan kecemasan yang di
alami. Karena dengan bermain anak akan dapat mangalih kan rasa sakitnya pada
permainan (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangan nya dalam bermain. Akibat
adanya distraksi dan relaksasi yang terjadi, anak yang mengalami cemas akhirnya
menjadi tidak cemas lagi. Clay dapat meningkatkan daya pikir anak dan konsentrasi
anak. Melalui Clay anak akan dapat mempelajari sesuatu yg rumit serta anak akan
berpikir bagaimana Clay dapat terbentuk sesuai gambar atau cetakan dengan rapi.
Pemberian terapi bermain Clay terhadap dampak hospitalisasi pada anak usia
prasekolah yaitu ada pengaruh terhadap penurunan kecemasan, kehilangan kontrol,
dan ketakutan pada anak yang dirawat di rumah sakit. Karena bermain merupakan
aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak (Alfiyanti, 2010 &Adriana, 2013).

B. TUJUAN

a. Tujuan Umum

Memberikan manfaat bagi perkembangan motorik halus, kognitif dan


kreativitas anak.

b. Tujuan Khusus
1) Anak dapat mengenal benda dan bentuk buah
2) Penggunaan clay yang dibentuk seperti bola dapat melatih gerakan tangan
anak sehingga merangsang otot-otot jari tangannya.
3) Membantu anak dalam melatih daya ingat, warna dan gambar buah yang
ada
4) Membantu anak untuk tenang disaat frustasi atau marah.
5) Mengembangkan keterampilan sosial saat ia bermain bersama dengan anak-
anak lain dan dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk latihan
bekerja sama dan berbagi.
viii
6) Anak mampu mengembangkan kemampuan gerak halus.
7) Dapat mengenal warna-warna.

C. Manfaat

a) Dapat membantu anak mengurangi kecemasan, meningkatkan kreatifitas anak,


dan melanjutkan tumbuh kembang yang normal selama di rawat di rumah
sakit sehingga dapat memperpendek waktu perawatan.
b) Sebagai bahan masukan layanan kesehatan dalam mengembangkan sarana dan
prasarana bermain anak pada proses hospitalisiasi dalam bentuk pelayanan dan
fasilitas ruang dan alat permainan sebagai upaya peningkatan pelayanan
kesehatan pada pasien anak.
c) Bagi institusi diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dan bahan
masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan perawatan anak.

ix
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Defenisi Permainan

Bermain dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan demi kesenangan


tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela,
tanpa paksaan atau tekanan dari pihak luar.

Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan kontlik dalam dirinya
yang tidak disadari. (wholey and Wong.2008). Bermain adalah suatu kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan keinginan untuk memperoleh kesenangan. (Foster.2008)
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir (Hurlock, 2002)

B. Fungsi Permainan

1. Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik


Fungsi bermain pada anak ini adalah dilakukan dengan melakukan
rangsangan pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktifitas anak
dapat mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan
rangsangan taktil, audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan
sensorik dan motorik akan meningkat. Hal tersebut dapat dicontohkan sejak
lahir anak yang telah dikenalkan atau dirangsang visualnya maka anak di
kemudian hari kemampuan visualnya akan lebih menonjol seperti lebih cepat
mengenal sesuatu yang baru dilihatnya. Demikian juga pendengaran, apabila
sejak bayi dikenalkan atau dirangsang melalui suara-suara maka daya
pendengaran di kemudian hari anak lebih cepat berkembang di bandingkan tidak
ada stimulasi sejak dini.
2. Membantu Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini
dapat terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba melakukan
komunikasi dengan bahasa anak, mampu memahami obyek permainan seperti
dunia tempat tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu
belajar warna, memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang

x
digunakan dalam permainan sehingga fungsi bermain pada model demikian
akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya.
3. Meningkatkan Sosialisasi Anak
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai contoh
dimana pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran
orang lain dan merasakan ada teman yang dunianya sama, pada usia toddler
anak sudah mencoba bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses
sosialisasi satu dengan yang lain, kemudian bermain peran seperti bermain-main
berpura-pura menjadi seorang guru, jadi seorang anak, menjadi seorang bapak,
menjadi seorang ibu dan lain-lain, kemudian pada usia prasekolah sudah mulai
menyadari akan keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak mampu
melakukan sosialisasi dengan teman dan orang.
4. Meningkatkan Kreatifitas
Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana
anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu
memodifikasi objek yang akan digunakan dalam permainan sehingga anak akan
lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang
mobil-mobilan.
5. Meningkatkan Kesadaran Diri
Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk
ekplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan
bagian dari individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur
perilaku, membandingkan dengan perilaku orang lain.
6. Mempunyai Nilai Terapeutik
Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga
adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat
menghibur diri anak terhadap dunianya.
7. Mempunyai Nilai Moral Pada Anak
Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada anak, hal
ini dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di
rumah, di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada
beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak
boleh. dilanggar.

xi
C. Prinsip Terapi Bermain Pada Anak Dengan Hospitalisasi

1) Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang


dijalankan pada anak. Apabila anak harus tirah baring, harus dipilih permainan
yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak boleh diajak bermain
dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di ruangan rawat.
2) Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana
3) Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak
4) Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama
5) Melibatkan orang tua

D. Indikasi Dan Kontraindikasi

1. Indikasi
Perawatan ini cocok untuk anak-anak usia prasekolah dan sekolah, serta
mencakup berbagai kesulitan yang mungkin muncul selama perkembangan
mereka. Perawatan ini dapat membantu anak-anak yang sedang dalam masa
transisi, setelah perceraian, kehilangan, perubahan tempat tinggal atau lingkungan
sekolah, atau setelah kedatangan anggota baru dalam keluarga.
Cocok untuk anak-anak dengan kesulitan dalam mengelola emosi mereka,
dalam sosialisasi atau anak-anak yang memiliki masalah perilaku (misalnya
perilaku agresif, amarah di kelas). Ini melibatkan anak-anak yang mungkin terkait
dengan fenomena bullying, apakah mereka berada di posisi korban atau pelaku
(gangguan tidur atau makan). Ini juga menyangkut anak-anak yang telah menjadi
saksi kekerasan dalam rumah tangga, yang telah menderita beberapa bentuk
pelecehan (penarikan sosial), anak-anak yang akan menjalani operasi besar
(kecemasan dan ketakutan pra operasi) atau mereka yang memiliki gangguan
bicara. Lebih jauh, ini cocok untuk anak-anak yang memiliki beberapa jenis
gangguan perkembangan seperti autisme atau gangguan pemusatan perhatian /
hiperaktivitas . Anak-anak, yang telah mengalami situasi dan masalah seperti itu,
dapat dibantu secara substansial dengan penggunaan terapi bermain. Bermain
adalah bentuk proses belajar alami dan mudah, cara paling langsung bagi seorang
anak untuk melepaskan ketegangannya, sementara itu juga memfasilitasi
komunikasi orang dewasa dengan dunia batin anak

xii
2. Kontraindikasi Potensial
Meskipun terapi bermain bermanfaat bagi banyak anak, kondisi atau situasi
tertentu mungkin membatasi efektivitas atau kesesuaiannya:

1) Gangguan Psikologis Berat : Untuk anak-anak dengan kondisi kejiwaan


tertentu, seperti psikosis, gangguan keterikatan, gangguan perilaku, atau
mereka yang memiliki disabilitas intelektual sedang hingga berat, terapi
bermain tradisional mungkin tidak efektif sebagai modalitas pengobatan
utama. Anak-anak ini mungkin memerlukan intervensi terapeutik yang lebih
khusus yang dapat secara langsung memenuhi kebutuhan spesifik mereka.
2) Situasi Krisis : Dalam krisis akut, di mana keselamatan anak berada dalam
risiko langsung (misalnya, trauma berat, pelecehan), intervensi segera di
luar cakupan Terapi Bermain diperlukan. Meskipun Terapi Bermain dapat
menjadi bagian integral dari proses penyembuhan, dalam situasi ini, Terapi
Bermain mungkin perlu menjadi bagian dari pendekatan multidisiplin yang
lebih luas.
3) Tidak Terlibat : Sebagian kecil anak mungkin tidak terlibat dalam proses
Terapi Bermain karena berbagai alasan, termasuk kecemasan yang
berlebihan, ketidakpercayaan, atau ketidakpedulian. Dalam kasus seperti
itu, terapi alternatif yang mungkin lebih sesuai dengan kepribadian dan
kebutuhan anak perlu dipertimbangkan.
4) Dinamika Keluarga : Terkadang, dinamika dalam keluarga atau lingkungan
rumah mungkin tidak mendukung perubahan atau strategi yang diterapkan
dalam terapi bermain. Dalam kasus seperti itu, terapi keluarga atau
keterlibatan orang tua menjadi krusial bagi keberhasilan intervensi
terapeutik apa pun.

E. Hal Hal Yang Diperhatikan

Berikut ini adalah hal-hal apa saja yang dilakukan si Kecil saat melakukan
terapi bermain:

1. Selama perawatan

Sebelumnya, terapis akan menciptakan lingkungan yang nyaman dan aman di


dalam ruang konseling di mana anak diperbolehkan bermain dengan batasan sesedikit
mungkin.
xiii
Ruang konseling ini sering disebut sebagai ruang bermain dan telah dilengkapi
dengan pilihan mainan yang dipilih secara khusus. Ini bertujuan untuk mendorong
anak mengekspresikan perasaannya dan mengembangkan perilaku yang lebih
[Link] anak dengan mainan ini pada dasarnya berfungsi sebagai kata-kata
simbolis [Link] ini memungkinkan terapis untuk belajar tentang pikiran dan emosi
tertentu yang mungkin sulit atau tidak mungkin diungkapkan oleh seorang anak
secara verbal.

[Link] yang digunakan

Terapis dapat menggabungkan penggunaan alat dan teknik, seperti tanah liat,
cerita terapeutik, musik, tarian dan gerakan, drama atau permainan peran, dan
visualisasi kreatif. Pada awalnya, anak-anak dalam terapi umumnya dibiarkan
bermain sesuka [Link], saat perawatan berlangsung, terapis akan memulai
dengan memperkenalkan item tertentu atau aktivitas bermain terkait dengan masalah
yang dihadapi anak.

F. Hambatan Yang Akan Muncul

1. permain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.

2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.

3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.

4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.

5. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

G. Alat Dan Bahan


Bahan yang akan digunakan dalam latihan keterampilan kolase adalah
(Fitianingsih, dkk, 2018) :
 clay
 Cetakan
 Pisau plastic

Contoh permainan :

xiv
Gambar 2.1 contoh permainan

H. Prosedur

Dalam terapi bermain dengan menggunakan metode kolase membutuhkan


langkah yang terencana sehingga menghasilkan suatu karya dan peningkatan dari
latihan tersebut. Langkah- langkah kolase kapas dan kardus membuat boneka anak
ayam (Fitianingsih, dkk, 2018) Sumber gambar 2.2 Mecca (2021):

Membuat bentuk nanas

1. Ambil clay berwarna kuning lalu bentuk bulat lalu pipihkan

2. Ambil pisau plastic lalu bentuk garis garis seperti pada nanas

xv
3. Untuk membuat daunnya, ambil clay berwarna hijau lalu bentuk seperti daun
buat sebanyak 5 daun, Setelah itu daun tersebut di tempelkan diantara daun
daun yang dibuat.

4. Lalu tempelkan daun tersebut ke bentuk buat buah nanas tadi.

xvi
BAB III

PELAKSANAAN TERAPI BERMAIN CLAY

A. Metode pelaksanaan
a. Permainan clay adalah aktivitas bermain menggunakan media tanah liat mainan
(clay) yang dapat dibentuk menjadi berbagai macam kreasi seperti bentuk buah
buahan, bunga, hewan, yang berfungsi untuk mengembangkan kreativitas, pada
anak. Selain menyenangkan, bermain clay juga dapat menjadi terapi untuk
menurunkan kecemasan dan membantu anak mengenal warna, bentuk yang
beragam.
b. Ambil clay berwarna kuning lalu bentuk bulat lalu pipihkan
c. Setelah itu ambil pisau plastic lalu bentuk garis garis seperti pada nanas,
d. Untuk membuat daunnya, ambil clay berwarna hijau lalu bentuk seperti daun buat
sebanyak 5 daun, Setelah itu daun tersebut di tempelkan diantara daun daun yang
dibuat.
e. Lalu tempelkan daun tersebut ke bentuk buat buah nanas tadi.

B. Kegiatan TAK
1. Topik : Bermain clay
2. Sasaran : Anak usia prasekolah (3-6 tahun)
3. Metode : Demonstrasi bermain clay
2. Tempat : Diruangan anak RS X
3. Waktu : Kamis, 2 Oktober 2025/ Pukul 11.00 – 12.00 WIB

C. Pengorganisasian
1. Leader : Sherly anggia fadila
2. Co- Leader : Muthia Rahayu
3. Fasilitator : Maylani claudya sianipar
4. Observasi : Wahyu jiwo albani

C. UraianTugas
1. Leader Tugas :
a. Membuka acara, memperkenalkan nama-nama terapis
b. Menjelaskan tujuan terapi bermain

xvii
c. Menjelaskan aturan terapi permainan
d. Memperkenalkan nama-nama anak yang ikut terapi bermain
2. Co Leader Tugas :
a. Membantu leader dalam mengorganisir kegiatan
b. Menyampaikan jalannya kegiatan
c. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader dan sebaliknya
3. Observer Tugas:
a. Mengamati, mengobservasi, dan melporkan jalannya kegiatan
sertaperilaku yangdiharapkan.
b. Mencatat perilaku verbal dan non verbal selama berlangsungnya kegiatan.
4. Fasilitator Tugas :
a. Memfasilitasi kegiatan yang diharapkan
b. Memotivasi peserta yang kurang aktif agar
b. mengikuti kegiatan dengan baiksebagai role model selama kegiatan

D. Setting Tempat

xviii
E. Pelaksanaan kegiatan

No. Tahap/waktu Kegiatan TAK Respon peserta

1. Interaksi (5 Pembukaan : o Menjawab salam


Menit) 1. Membuka o mendengarkan
kegiatan  Memperhatikan
dengan mengucapkan
salam.
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan
tujuan
dari terapi bermain
4. Kontrak waktu anak
dan orang tua
2. Tahap kerja/ 1. Tentukan siapa yang  Memperhatikan,
pelaksanaan akan bermain (3-5 orang)  Bertanya Antusiassaat
(45 Menit) dengan usia 4 - 6 tahun menerima peralatan,
2. Siapkan alat untuk  Memulai permainan
melakukan permainan dan mendemonstrasik
clay An dan memperhatikan
3. Membagi bagian pola Permainan sesuai
yang akan dibentuk dengan intruski .
4. Kemudian anak
Membuat bentuk pola
seperti Gambar buah,
hewan sesuai dengan
kreativitas anak masing –
masing

Fasilitator
Akan mengajak anak
diskusi
dalam permainan :
1. Setelah anak

xix
Membentuk dengan
sesuai dengan bentuk
pola yang telah
disediakan
2. Setelah itu memberikan
garis pada clay
3. Lalu, bentuknya
Sudah mulai terlihat dan
tempelkan dengan
daunnya
4. Permainan clay selesai
dibuat sesuai dengan
kreativitas masing -
masing
3. Penutup Evaluasi :  Menceritakan
(10 Menit) 1. Anak melakukan  Betepuk tangan
kembali kegiatan yang
telah dilakukan
2. Memberikan
pujian kepada anak
permainan dengan baik
Terminasi:  Mendengarkan
1. Memberikan motivasi  Mendengarkan
dan pujian kepada  Menjawab salam
seluruh anak yang
telah
2. Mengucapkan terima
kasih kepada anak
dan orang tua
3. mengucapkan salam
penutup

G. Evaluasi Hasil

xx
1. Evalusi Struktur

a. Anak hadir di ruangan minimal 3-5 orang

b. Penyelenggaraan terapi bermain dilakukan di ruangan anak

c. Pengorganisasian penyelenggaraan terapi dilakukan sebelumnya

2. Evaluasi Proses
a. Anak dapat mengenal benda dan bentuk buah
b. Penggunaan clay yang dibentuk seperti bola dapat melatih gerakan tangan anak
sehingga merangsang otot otot jari tangannya.
c. Membantu anak dalam melatih daya ingat, warna dan gambar hewan yang ada
d. Membantu anak untuk tenang disaat frustasi atau marah.
e. Mengembangkan keterampilan sosial saat ia bermain bersama dengan anak-
anak lain dan dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk latihan bekerja
sama dan berbagi.
f. Anak mampu mengembangkan kemampuan gerak halus. Dapat mengenal
warna-warna.
3. Evaluasi Hasil
a. Jangka pendek

 70% anak dapat berpartisipasi dalam kegiatan terapi bermain.

 70% anak dapat mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir.

 70% anak dapat mengekspresikan perasaan senang

b. Jangka panjang

 Meningkatkan kemampuan motorik halus anak umur 3-6 tahun

BAB IV

PENUTUP

xxi
A. KESIMPULAN
Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan secara sukarela demi kesenangan tanpa
memperhatikan hasil akhir. Bagi anak, bermain adalah proses alamiah untuk
mengekspresikan diri, mengembangkan keterampilan, dan belajar mengenal lingkungan
sekitar.

Terapi bermain memiliki beragam fungsi penting dalam tumbuh kembang anak, antara
lain:

 Mengembangkan kemampuan sensorik dan motorik, terutama motorik halus.


 Meningkatkan perkembangan kognitif, kreativitas, dan kemampuan berbahasa.
 Memfasilitasi sosialisasi dan pemahaman nilai moral melalui interaksi dan peran-peran
sosial.
 Meningkatkan kesadaran diri, serta memberikan efek terapeutik dalam mengurangi
stres dan kecemasan.

Dalam konteks anak yang mengalami hospitalisasi, terapi bermain harus disesuaikan
dengan kondisi medis, keamanan, dan usia anak. Permainan yang sederhana, tidak
menguras energi, serta melibatkan orang tua dan teman sebaya sangat dianjurkan.

Metode terapi bermain clay yang dilaksanakan pada anak usia prasekolah (3–6 tahun)
terbukti:

 Menarik minat anak untuk terlibat aktif dalam aktivitas kreatif,


 Membantu pengembangan motorik halus dan daya imajinasi,
 Menurunkan stres dan emosi negatif selama masa perawatan di rumah sakit,
 Melatih keterampilan sosial melalui kerja sama dan komunikasi dalam kelompok.

Secara umum, evaluasi kegiatan menunjukkan hasil yang positif, baik dari aspek struktur,
proses, maupun hasil. Sebagian besar anak mampu mengikuti kegiatan dari awal hingga
akhir, mengekspresikan emosi positif, dan menunjukkan perkembangan kemampuan yang
diharapkan.

Dengan perencanaan yang baik dan pendekatan yang tepat, terapi bermain dapat menjadi
media intervensi efektif dalam mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mental anak,
terutama dalam situasi sulit seperti perawatan di rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA

xxii
Putri, T. T. (n.d.). Bab 2_C1020098. Universitas Bhamada. Tersedia secara online:
[Link]
%20Talia%[Link]

(n.d.). Terapi Bermain Clay [PDF]. Tersedia secara online:


[Link]

(n.d.). Terapi bermain clay pada anak usia pra sekolah 3–6 tahun. Google Scholar.
Tersedia secara online: [Link]

Chen, M., et al. (2022). Play therapy for children: Evidence from clinical research.
PMC. [Link]
utm_source=[Link]

The Play Strong Institute. (n.d.). Terapi bermain untuk anak. Tersedia secara online:
[Link]

(n.d.). Mengenal terapi bermain untuk atasi masalah mental pada anak. Tersedia secara
online: [Link]

(n.d.). Terapi Bermain Clay [PDF]. Tersedia secara online:


[Link]

(n.d.). Terapi bermain untuk anak di rumah sakit: Pengembangan diri dan kesehatan
holistik [PDF]. Tersedia secara online: [Link]

(n.d.). Terapi bermain clay [PDF]. Tersedia secara online:


[Link]

xxiii

Anda mungkin juga menyukai