Terapi Bermain Clay untuk Anak RS X
Terapi Bermain Clay untuk Anak RS X
Kelompok 10 :
Kelas 2D
Mata Kuliah:
Dosen Pengampu:
UNIVERSITAS MERCUBAKTIJAYA
TA.2025/2026
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
Rahmat dan karunia-Nya, penyusunan makalah ini dapat terselesaikan dalam waktu yang
ditentukan. Proposal yang berjudul "Terapi Bermain Claypada Anak Usia Pra Sekolah (3 - 6
Tahun) Di Ruang Rawat Inap Anak Rs X" ini, disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah
keperawatan anak sehat dan sakit akut.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada berbagai pihak yang ikut membantu
baik langsung maupun tidak langsung. Setelah mempelajari makalah ini, diharapkan
mahasiswa keperawatan dapat memahaminya. Kami menyadari bahwa penulisan makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Kami juga menyadari makalah ini terdapat kekurangan baik
secara materi maupun penyajian.
Kelompok 10
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...........................................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR............................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................1
A. Latar Belakang...........................................................................................................1
B. Tujuan........................................................................................................................3
C. Manfaat......................................................................................................................4
A. Defenisi Permainan....................................................................................................5
B. Fungsi Permainan.......................................................................................................5
H. Prosedur.....................................................................................................................10
A. Metode Pelaksanna....................................................................................................12
B. Pelaksanaan Kegiatan................................................................................................12
C. Pengorganisasian........................................................................................................12
D. Uraian Tugas..............................................................................................................12
E. Setting Tempat...........................................................................................................13
F. Pelaksanaan Kegiatan................................................................................................14
iii
G. Evaluasi Hasil............................................................................................................16
BAB IV PENUTUP..............................................................................................................17
A. Kesimpulan................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................18
iv
DAFTAR GAMBAR
v
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hospitalisasi pada anak merupakan suatu proses karena suatu alasan yang
mengharuskan anak untuk tinggal dirumah sakit, menjalani terapi dan perawatan
sampai anak dapat dipulangkan kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dapat
mengalami berbagai kejadian berupa pengalaman yang sangat traumatik dan penuh
dengan stres (Supartini 2012). Hospitalisasi sering kali menjadi krisis pertama yang
harus dihadapi anak. terutama selama tahun-tahun awal, sangat rentan terhadap krisis
penyakit dan hospitalisasi karena stress akibat perubahan dari keadaan sehat biasa dan
rutinitas lingkungan. Reaksi anak terhadap krisis-krisis tersebut dipengaruhi oleh usia
perkembangan mereka, pengalaman mereka sebelumnya dengan penyakit, perpisahan,
atau hospitalisasi, keterampilan koping yang mereka miliki dan dapatkan, keparahan
diagnosis dan sistem pendukung yang ada (Wong, 2009).
Anak yang dirawat di rumah sakit sering mengalami reaksi hospitalisasi dalam
bentuk anak rewel, tidak mau didekati oleh petugas kesehatan, ketakutan, tampak
cemas, STIK Bina Husada Palembang tidak kooperatif, bahkan tamper tantrum.
Menurut Ball dan Bindler (2003), anak yang dirawat di rumah sakit berada pada
lingkungan asing yang tidak diketahuinya, dikelilingi orang-orang pemandangan
asing, sekitar peralatan, dan menakutkan; sehingga menimbulkan reaksi hospitalisa.
Anak dengan segala karakteristiknya memiliki peluang yang lebih besar untuk
mengalami sakit jika dikaitkan dengan respon imun dan kekuatan pertahanan
tubuhnya yang belum optimal. Rawat inap atau sering disebut dengan hospitalisasi
merupakan suatu proses dimana anak di rawat di rumah sakit. Selama hospitalisasi
anak akan dihadapkan pada kondisi stres yang ditimbulkan oleh stresor seperti
perpisahan, kehilangan kendali, cedera tubuh, dan nyeri. Anak juga akan mengalami
berbagai macam perasaan yang tidak menyenangkan selama rawat inap seperti marah,
takut, sedih, nyeridan cemas (Brykczynska & Simons, 2011 dalam Depi Lukitasari
2019).
vi
penyebabnya, perasaan takut terhadap sesuatu karena mengantisipasi bahaya
(Townsend, 2009 dalam Depi Lukitasari, 2019).
Kecemasan sangat biasa dialami dan merupakan keadaan emosi yang normal.
namun pada beberapa orang termasuk anak mengalami kecemasan dan kekhawatiran
yang berlebihan dapat menyebabkan mereka sulit untuk mengontrol pikiran dan
perasaannya. Keadaan seperti itulah yang disebut sebagai gangguan
kecemasan(Hildayani,dkk, 2011).
Terutama pada anak usia pra sekolah, di usia ini anak menganggap bahwa baik
prosedur yang menimbulkan nyeri seperti prosedur invasif maupun yang tidak akan
tetap dianggap membahayakan tubuh mereka karena konsep integritas tubuhnya
belum berkembang baik (Hazinski, 2013 dalam Devi Lukitasari, 2019). Hampir
seluruh tindakan atau prosedur yang dilakukan selama anak menjalani rawat inap
dapat menimbulkan trauma dan rasa takut (Ball, Bindler & Cowen, 2015).
Rasa nyeri yang tidak dapat tertangani sebelumnya dengan baik juga akan
memberikan pengaruh buruk bagi fisik, emosi, perilaku, kognitif, dan psikologis
sehingga dapat menimbulkan ketakutan, kecemasan dan penolakan untuk prosedur
selanjutnya (Czarnecki, 2011;Taddio, et al., 2010).
Bermain Clay akan melepas kan anak dari ketegangan dan kecemasan yang di
alami. Karena dengan bermain anak akan dapat mangalih kan rasa sakitnya pada
permainan (distraksi) dan relaksasi melalui kesenangan nya dalam bermain. Akibat
adanya distraksi dan relaksasi yang terjadi, anak yang mengalami cemas akhirnya
menjadi tidak cemas lagi. Clay dapat meningkatkan daya pikir anak dan konsentrasi
anak. Melalui Clay anak akan dapat mempelajari sesuatu yg rumit serta anak akan
berpikir bagaimana Clay dapat terbentuk sesuai gambar atau cetakan dengan rapi.
Pemberian terapi bermain Clay terhadap dampak hospitalisasi pada anak usia
prasekolah yaitu ada pengaruh terhadap penurunan kecemasan, kehilangan kontrol,
dan ketakutan pada anak yang dirawat di rumah sakit. Karena bermain merupakan
aktivitas yang menyenangkan bagi anak-anak (Alfiyanti, 2010 &Adriana, 2013).
B. TUJUAN
a. Tujuan Umum
b. Tujuan Khusus
1) Anak dapat mengenal benda dan bentuk buah
2) Penggunaan clay yang dibentuk seperti bola dapat melatih gerakan tangan
anak sehingga merangsang otot-otot jari tangannya.
3) Membantu anak dalam melatih daya ingat, warna dan gambar buah yang
ada
4) Membantu anak untuk tenang disaat frustasi atau marah.
5) Mengembangkan keterampilan sosial saat ia bermain bersama dengan anak-
anak lain dan dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk latihan
bekerja sama dan berbagi.
viii
6) Anak mampu mengembangkan kemampuan gerak halus.
7) Dapat mengenal warna-warna.
C. Manfaat
ix
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Defenisi Permainan
Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan kontlik dalam dirinya
yang tidak disadari. (wholey and Wong.2008). Bermain adalah suatu kegiatan yang
dilakukan sesuai dengan keinginan untuk memperoleh kesenangan. (Foster.2008)
Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa
mempertimbangkan hasil akhir (Hurlock, 2002)
B. Fungsi Permainan
x
digunakan dalam permainan sehingga fungsi bermain pada model demikian
akan meningkatkan perkembangan kognitif selanjutnya.
3. Meningkatkan Sosialisasi Anak
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai contoh
dimana pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran
orang lain dan merasakan ada teman yang dunianya sama, pada usia toddler
anak sudah mencoba bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses
sosialisasi satu dengan yang lain, kemudian bermain peran seperti bermain-main
berpura-pura menjadi seorang guru, jadi seorang anak, menjadi seorang bapak,
menjadi seorang ibu dan lain-lain, kemudian pada usia prasekolah sudah mulai
menyadari akan keberadaan teman sebaya sehingga harapan anak mampu
melakukan sosialisasi dengan teman dan orang.
4. Meningkatkan Kreatifitas
Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana
anak mulai belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu
memodifikasi objek yang akan digunakan dalam permainan sehingga anak akan
lebih kreatif melalui model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang
mobil-mobilan.
5. Meningkatkan Kesadaran Diri
Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk
ekplorasi tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan
bagian dari individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur
perilaku, membandingkan dengan perilaku orang lain.
6. Mempunyai Nilai Terapeutik
Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga
adanya stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat
menghibur diri anak terhadap dunianya.
7. Mempunyai Nilai Moral Pada Anak
Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada anak, hal
ini dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya di
rumah, di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada
beberapa permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak
boleh. dilanggar.
xi
C. Prinsip Terapi Bermain Pada Anak Dengan Hospitalisasi
1. Indikasi
Perawatan ini cocok untuk anak-anak usia prasekolah dan sekolah, serta
mencakup berbagai kesulitan yang mungkin muncul selama perkembangan
mereka. Perawatan ini dapat membantu anak-anak yang sedang dalam masa
transisi, setelah perceraian, kehilangan, perubahan tempat tinggal atau lingkungan
sekolah, atau setelah kedatangan anggota baru dalam keluarga.
Cocok untuk anak-anak dengan kesulitan dalam mengelola emosi mereka,
dalam sosialisasi atau anak-anak yang memiliki masalah perilaku (misalnya
perilaku agresif, amarah di kelas). Ini melibatkan anak-anak yang mungkin terkait
dengan fenomena bullying, apakah mereka berada di posisi korban atau pelaku
(gangguan tidur atau makan). Ini juga menyangkut anak-anak yang telah menjadi
saksi kekerasan dalam rumah tangga, yang telah menderita beberapa bentuk
pelecehan (penarikan sosial), anak-anak yang akan menjalani operasi besar
(kecemasan dan ketakutan pra operasi) atau mereka yang memiliki gangguan
bicara. Lebih jauh, ini cocok untuk anak-anak yang memiliki beberapa jenis
gangguan perkembangan seperti autisme atau gangguan pemusatan perhatian /
hiperaktivitas . Anak-anak, yang telah mengalami situasi dan masalah seperti itu,
dapat dibantu secara substansial dengan penggunaan terapi bermain. Bermain
adalah bentuk proses belajar alami dan mudah, cara paling langsung bagi seorang
anak untuk melepaskan ketegangannya, sementara itu juga memfasilitasi
komunikasi orang dewasa dengan dunia batin anak
xii
2. Kontraindikasi Potensial
Meskipun terapi bermain bermanfaat bagi banyak anak, kondisi atau situasi
tertentu mungkin membatasi efektivitas atau kesesuaiannya:
Berikut ini adalah hal-hal apa saja yang dilakukan si Kecil saat melakukan
terapi bermain:
1. Selama perawatan
Terapis dapat menggabungkan penggunaan alat dan teknik, seperti tanah liat,
cerita terapeutik, musik, tarian dan gerakan, drama atau permainan peran, dan
visualisasi kreatif. Pada awalnya, anak-anak dalam terapi umumnya dibiarkan
bermain sesuka [Link], saat perawatan berlangsung, terapis akan memulai
dengan memperkenalkan item tertentu atau aktivitas bermain terkait dengan masalah
yang dihadapi anak.
3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
Contoh permainan :
xiv
Gambar 2.1 contoh permainan
H. Prosedur
2. Ambil pisau plastic lalu bentuk garis garis seperti pada nanas
xv
3. Untuk membuat daunnya, ambil clay berwarna hijau lalu bentuk seperti daun
buat sebanyak 5 daun, Setelah itu daun tersebut di tempelkan diantara daun
daun yang dibuat.
xvi
BAB III
A. Metode pelaksanaan
a. Permainan clay adalah aktivitas bermain menggunakan media tanah liat mainan
(clay) yang dapat dibentuk menjadi berbagai macam kreasi seperti bentuk buah
buahan, bunga, hewan, yang berfungsi untuk mengembangkan kreativitas, pada
anak. Selain menyenangkan, bermain clay juga dapat menjadi terapi untuk
menurunkan kecemasan dan membantu anak mengenal warna, bentuk yang
beragam.
b. Ambil clay berwarna kuning lalu bentuk bulat lalu pipihkan
c. Setelah itu ambil pisau plastic lalu bentuk garis garis seperti pada nanas,
d. Untuk membuat daunnya, ambil clay berwarna hijau lalu bentuk seperti daun buat
sebanyak 5 daun, Setelah itu daun tersebut di tempelkan diantara daun daun yang
dibuat.
e. Lalu tempelkan daun tersebut ke bentuk buat buah nanas tadi.
B. Kegiatan TAK
1. Topik : Bermain clay
2. Sasaran : Anak usia prasekolah (3-6 tahun)
3. Metode : Demonstrasi bermain clay
2. Tempat : Diruangan anak RS X
3. Waktu : Kamis, 2 Oktober 2025/ Pukul 11.00 – 12.00 WIB
C. Pengorganisasian
1. Leader : Sherly anggia fadila
2. Co- Leader : Muthia Rahayu
3. Fasilitator : Maylani claudya sianipar
4. Observasi : Wahyu jiwo albani
C. UraianTugas
1. Leader Tugas :
a. Membuka acara, memperkenalkan nama-nama terapis
b. Menjelaskan tujuan terapi bermain
xvii
c. Menjelaskan aturan terapi permainan
d. Memperkenalkan nama-nama anak yang ikut terapi bermain
2. Co Leader Tugas :
a. Membantu leader dalam mengorganisir kegiatan
b. Menyampaikan jalannya kegiatan
c. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader dan sebaliknya
3. Observer Tugas:
a. Mengamati, mengobservasi, dan melporkan jalannya kegiatan
sertaperilaku yangdiharapkan.
b. Mencatat perilaku verbal dan non verbal selama berlangsungnya kegiatan.
4. Fasilitator Tugas :
a. Memfasilitasi kegiatan yang diharapkan
b. Memotivasi peserta yang kurang aktif agar
b. mengikuti kegiatan dengan baiksebagai role model selama kegiatan
D. Setting Tempat
xviii
E. Pelaksanaan kegiatan
Fasilitator
Akan mengajak anak
diskusi
dalam permainan :
1. Setelah anak
xix
Membentuk dengan
sesuai dengan bentuk
pola yang telah
disediakan
2. Setelah itu memberikan
garis pada clay
3. Lalu, bentuknya
Sudah mulai terlihat dan
tempelkan dengan
daunnya
4. Permainan clay selesai
dibuat sesuai dengan
kreativitas masing -
masing
3. Penutup Evaluasi : Menceritakan
(10 Menit) 1. Anak melakukan Betepuk tangan
kembali kegiatan yang
telah dilakukan
2. Memberikan
pujian kepada anak
permainan dengan baik
Terminasi: Mendengarkan
1. Memberikan motivasi Mendengarkan
dan pujian kepada Menjawab salam
seluruh anak yang
telah
2. Mengucapkan terima
kasih kepada anak
dan orang tua
3. mengucapkan salam
penutup
G. Evaluasi Hasil
xx
1. Evalusi Struktur
2. Evaluasi Proses
a. Anak dapat mengenal benda dan bentuk buah
b. Penggunaan clay yang dibentuk seperti bola dapat melatih gerakan tangan anak
sehingga merangsang otot otot jari tangannya.
c. Membantu anak dalam melatih daya ingat, warna dan gambar hewan yang ada
d. Membantu anak untuk tenang disaat frustasi atau marah.
e. Mengembangkan keterampilan sosial saat ia bermain bersama dengan anak-
anak lain dan dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk latihan bekerja
sama dan berbagi.
f. Anak mampu mengembangkan kemampuan gerak halus. Dapat mengenal
warna-warna.
3. Evaluasi Hasil
a. Jangka pendek
b. Jangka panjang
BAB IV
PENUTUP
xxi
A. KESIMPULAN
Bermain merupakan aktivitas yang dilakukan secara sukarela demi kesenangan tanpa
memperhatikan hasil akhir. Bagi anak, bermain adalah proses alamiah untuk
mengekspresikan diri, mengembangkan keterampilan, dan belajar mengenal lingkungan
sekitar.
Terapi bermain memiliki beragam fungsi penting dalam tumbuh kembang anak, antara
lain:
Dalam konteks anak yang mengalami hospitalisasi, terapi bermain harus disesuaikan
dengan kondisi medis, keamanan, dan usia anak. Permainan yang sederhana, tidak
menguras energi, serta melibatkan orang tua dan teman sebaya sangat dianjurkan.
Metode terapi bermain clay yang dilaksanakan pada anak usia prasekolah (3–6 tahun)
terbukti:
Secara umum, evaluasi kegiatan menunjukkan hasil yang positif, baik dari aspek struktur,
proses, maupun hasil. Sebagian besar anak mampu mengikuti kegiatan dari awal hingga
akhir, mengekspresikan emosi positif, dan menunjukkan perkembangan kemampuan yang
diharapkan.
Dengan perencanaan yang baik dan pendekatan yang tepat, terapi bermain dapat menjadi
media intervensi efektif dalam mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mental anak,
terutama dalam situasi sulit seperti perawatan di rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA
xxii
Putri, T. T. (n.d.). Bab 2_C1020098. Universitas Bhamada. Tersedia secara online:
[Link]
%20Talia%[Link]
(n.d.). Terapi bermain clay pada anak usia pra sekolah 3–6 tahun. Google Scholar.
Tersedia secara online: [Link]
Chen, M., et al. (2022). Play therapy for children: Evidence from clinical research.
PMC. [Link]
utm_source=[Link]
The Play Strong Institute. (n.d.). Terapi bermain untuk anak. Tersedia secara online:
[Link]
(n.d.). Mengenal terapi bermain untuk atasi masalah mental pada anak. Tersedia secara
online: [Link]
(n.d.). Terapi bermain untuk anak di rumah sakit: Pengembangan diri dan kesehatan
holistik [PDF]. Tersedia secara online: [Link]
xxiii