0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan30 halaman

Klasifikasi dan Penyelidikan Tanah untuk Pondasi

Diunggah oleh

Enidewi unggul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan30 halaman

Klasifikasi dan Penyelidikan Tanah untuk Pondasi

Diunggah oleh

Enidewi unggul
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah
Tanah menurut Braja M. Das (1995) didefinisikan sebagai material yang
terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi
(terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah
melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi
ruang-ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut. Tanah berfungsi
juga sebagai pendukung pondasi dari bangunan. Maka diperlukan tanah dengan
kondisi kuat menahan beban di atasnya dan menyebarkannya merata. Dalam
pengertian teknik secara umum, tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri
dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat
secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah melapuk
(yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-
ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut Braja [Link] (1995)

Dalam bukunya Braja [Link] (1995) menjelaskan ukuran dari partikel tanah
adalah sangat beragam dengan variasi yang cukup besar, tanah umumnya dapat
disebut sebagai kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (slit), atau lempung (clay),
tergantung pada ukuran partikel yang paling dominan pacta tanah tersebut. Untuk
menerangkan tentang tanah berdasarkan ukuran-ukuran partikelnya, beberapa
organisasi telah mengembangkan batasan-batasan ukuran golongan jenis tanah
(soil-separate-size limit)

Beberapa system klasifikasi tanah berdasarkan tekstur tanah telah di


kembangkan sejak dulu oleh berbagai organisasi guna uutk memenuhi kebutuhan
mereka sendiri, beberpa dari sistem sistem tersebut masih di pakai hingga saat
[Link] 2.1 menunjukan sistem klasifikasi tanah berdasarkan tekstur tanah yang
di kembangkan oleh Departemen Pertanian Amerika (USDA).Sistem ini didasarkan
pada ukuran batas butiran tanah seperti:
a. Pasir : Butiran dengan diameter 2,0 sampai dengan 0.05mm
b. Lanau : Butiran dengan diameter 0.05 sampai dengan 0.002mm
c. Lempung : Butiran dengan diameter lebih kecil dari pada 0.002mm

5
Gambar 2.1:
Gambar 2.1.1 Klasifikasi tanah berdasarkana tekstur.

2.2 Penyelidikan Tanah (Soil Investigation)


Dalam merencanakan sebuah pondasi sangatlah penting untuk mengetahui
jenis, sifat terlebih karakteristik tanah tersebut. Juga apakah tanah tersebut dapat
menahan beban yang ada diatasnya maupun dari pengaruh gaya vertical ataupun
horizontal. Untuk mengetahui tentang jenis tanah tesebut dilakukan test
laboratorium dan tanahnya diambil dari berbagai lapisan maupun juga pengamatan
langsung dilapangan.
Penyelidikan tanah (soil investigation) ada dua jenis yaitu:
1) Penyelidikan di lapangan
Jenis penyelidikan di lapangan seperti pengeboran (hand boring ataupun
machine boring), Cone Penetrometer Test (Sondir), Standard Penetration Test
(SPT), Sand Cone Test dan Dynamic Cone Penetrometer.
2) Penyelidikan di laboratorium
Sifat fisik tanah dapat dipelajari dari hasil uji Laboratorium pada sampel tanah

6
yang diambil dari pengeboran. Hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk
menghitung kapasitas daya dukung ultimit dan penurunan. Jenis penyelidikan
di laboratorium terdiri dari uji indexproperties tanah (Atterberg Limit, Water
Content, Spesific Gravity, Sieve Analysis) danengineering properties tanah
(Direct Shear Test, Triaxial Test, Consolidation Test, Permeability Test,
Compaction Test, dan CBR).

Dari hasil penyelidikan tanah diperoleh contoh tanah (soil sampling) yang
dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Contoh tanah tidak terganggu (undisturbed soil)
Suatu contoh tanah dikatakan tidak terganggu apabila contoh tanah itu
dianggap masih menunjukkan sifat-sifat asli tanah tersebut. Sifat asli yang
dimaksud adalah contoh tanah tersebut tidak mengalami perubahan pada
strukturnya, kadar air, atau susunan kimianya. Contoh tanah seperti ini tidaklah
mungkin bisa didapatkan, akan tetapi dengan menggunakan teknik-teknik
pelaksanaan yang baik, maka kerusakan-kerusakan pada contoh tanah tersebut
dapat diminimalisir. Undisturbed soil digunakan untuk percobaan engineering
properties.
2) Contoh tanah terganggu (disturbed soil)
Contoh tanah terganggu adalah contoh tanah yang diambil tanpa adanya usaha-
usaha tertentu untuk melindungi struktur asli tanah tersebut. Disturbed soil
digunakan untuk percobaan uji index properties tanah.

2.2.1 Pengujian Penetrasi Kerucut Statis (Sondir)


Uji Penetrasi Kerucut Statis atau Uji Sondir banyak digunakan di Indonesia.
Pengujian ini berguna untuk menentukan lapisan-lapisan tanah berdasarkan tanahan
ujung konus dan daya lekat tanah setiap kedalaman pada alat sondir.
Konus yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut (Gambar
2.2):

7
a) Keadaan tertekan. b) Keadaan terbentang.
Gambar 2.2.1 Rincian Konus Ganda.
Dimana:
1) Ujung konus bersudut 60o ± 5o.
2) Ukuran diameter konus adalah 35,7 mm ± 0,4 mm atau luas proyeksi konus =
10 cm2; bagian runcing ujung konus berjari-jari kurang dari 3 mm.
3) Konus ganda harusterbuat dari baja dengan tipe dan kekerasan yang cocok untuk
menahan abrasi dari tanah.

Hasil penyelidikan dengan Sondir ini digambarkan dalam bentuk grafik


yang menyatakan hubungan antara kedalaman setiap lapisan tanah dengan
perlawanan penetrasi konus.

2.2.2 Standard Penetration Test (SPT)


Tujuan Pengujian Penetrasi Standar yaitu untuk menentukan kepadatan relatif
dan sudut geser lapisan tanah tersebut dari pengambilan contoh tanah dengan
tabung, dapat diketahui jenis tanah dan ketebalan dari setiap lapisan tanah tersebut,
untuk memperoleh data yang komulatif pada perlawanan penetrasi tanah dan
menetapkan kepadatan dari tanah yang tidak berkohesi yang biasanya sulit diambil
sampelnya.

Standard Penetration Test adalah suatu metode uji yang dilaksanakan


bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui, baik perlawanan dinamik tanah
maupun pengambilan contoh terganggu dengan teknik penumbukan. Standard
Penetration Test terdiri atas uji pemukulan tabung belah dinding tebal ke dalam
tanah, disertai pengukuran jumlah pukulan untuk memasukkan tabung belah

8
sedalam 300 mm vertikal. Dalam sistem beban jatuh ini digunakan palu dengan
berat 63,5 kg, yang dijatuhkan secara berulang dengan tinggi jatuh 0,76 m.
Pelaksanaan pengujian dibagi dalam tiga tahap, yaitu berturut-turut setebal 150 mm
untuk masing-masing tahap (SNI 4153, 2008)

a. Persiapan Pengujian
Lakukan persiapan pengujian Standard Penetration Test di lapangan dengan
tahapan sebagai berikut (Gambar 2.3):
1) Pasang blok penahan (knocking block) pada pipa bor;
2) Beri tanda pada ketinggian sekitar 75 cm pada pipa bor yang berada di atas
penahan;
3) Bersihkan lubang bor pada kedalaman yang akan dilakukan pengujian dari
bekas-bekaspengeboran;
4) Pasang split barrel sampler pada pipa bor, dan pada ujung lainnya
disambungkandengan pipa bor yang telah dipasangi blok penahan;
5) Masukkan peralatan Standard Penetration Test ke dalam dasar lubang bor
atau sampai kedalamanpengujian yang diinginkan;
6) Beri tanda pada batang bor mulai dari muka tanah sampai ketinggian 15 cm,
30 cm dan 45 cm.

Gambar 2.2.2 Standard Penetration Test (SPT) (SNI 4153,2008)

9
Gambar 2.2.3 Skema urutan Standard Penetration Test (SPT) (SNI 4153,2008)

b. Prosedur Pengujian
Lakukan pengujian dengan tahapan sebagai berikut
1) Lakukan pengujian pada setiap perubahan lapisan tanah atau pada interval
sekitar 1,50 m s.d 2,00 m atau sesuai keperluan;
2) Tarik tali pengikat palu (hammer) sampai pada tanda yang telah dibuat
sebelumnya (kira-kira 75 cm);
3) Lepaskan tali sehingga palu jatuh bebas menimpa penahan Ulangi 2) dan 3)
berkali-kali sampai mencapai penetrasi 15 cm;
4) Hitung jumlah pukulan atau tumbukan N pada penetrasi 15 cm yang
pertama;
5) Ulangi 2), 3), 4) dan 5) sampai pada penetrasi 15 cm yang ke-dua dan ke-
tiga;
6) Catat jumlah pukulan N pada setiap penetrasi 15 cm:
 15 cm pertama dicatat N1;
 15 cm ke-dua dicatat N2;

10
 15 cm ke-tiga dicatat N3;
 Jumlah pukulan yang dihitung adalah N2 + N3. Nilai N1 tidak
diperhitungkan karena masih kotor bekas pengeboran;
7) Bila nilai N lebih besar daripada 50 pukulan, hentikan pengujian dan tambah
pengujian sampai minimum 6 meter;
8) Catat jumlah pukulan pada setiap penetrasi 5 cm untuk jenis tanah batuan.

2.3 Pondasi
Pondasi adalah bagian terendah dari bangunan yang meneruskan beban
[Link] batuan yang berada di bawahnya (Hardiyatmo, 1996).
Terdapat dua klasifikasi fondasi, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi
dangkal didefinisikan sebagai pondasi yang mendukung bebannya secara langsung,
seperti pondasi telapak, pondasi memanjang dan pondasi rakit. contohnya pondasi
sumuran dan pondasi tiang. Macam-macam contoh tipe pondasi diberikan dalam
Gambar dibawah.

Pondasi adalah suatu konstruksi pada bagian dasar struktur/bangunan (sub-


structure) yang berfungsi meneruskan beban dari baguian atas struktur/bangunan
(upper-structure) kelapisan tanah yang berada dibagian bawahnya tanpa
mengakibatkan keruntuhan geser tanah dan penurunan (settlement) tanah/pondasi
yang berlebihan (Hardihardaja, 1997).

Gambar 2.3.1 Macam-macam type pondasi.


(a) Pondasi memanjang (b) Pondasi telapak(c) Pondasi rakit (d) Pondasi sumuran
(e) Pondasi tiang.

11
Istilah struktur-atas umumnya dipakai untuk menjelaskan bagian sistem yang
direkayasa yang membawa beban kepada pondasi atau struktur-bawah. lstilah
struktur-atas mempunyai arti khusus untuk bangunan-bangunan dan jembatan-
jembatan, akan tetapi, pondasi tersebut dapat juga hanya menopang mesin-mesin,
mendukung peralatan industrial, bertindak sebagai alas untuk papan iklan, dan
sejenisnya. Karena sebab-sebab inilah maka lebih baik melukiskan suatu pondasi
itu sebagai bagian tertentu dari sistem rekayasaan komponen-komponen pendukung
beban yang mempunyai bidangantara (interfacing) terhadap tanah.

Menurut Joseph E. Bowles (1997) langkah-langkah berikut ialah kira-kira


persyaratan minimum untuk merancangsuatu pondasi:
1) Tentukan lokasi tapak dan posisi dari muatan. Perkiraan kasar dari beban-
bebanpondasi biasanya disediakan oleh nasabah atau dihitung-sendirinya (in-
house). Tergantung dari kepelikan sistem beban atau tapak, maka dapat dimulai
membuat tinjauan kepustakaan untuk mengetahui bagaimana orang lain
berhasil mengadakan pendekatan atas masalah yang sejenis.
2) Pemeriksaan fisik atas tapak tentang adanya setiap masalah geologis atau
masalahmasalah lain, bukti-bukti dari kemungkinan adanya permasalahan.
Lengkapilah hal-hal ini dengan segala data pertanahan yang telah diperoleh
sebelumnya.
3) Menetapkan program eksplorasi lapangan dan penyusun pengujian pelengkap
lapangan yang perlu atas dasar temuan, serta menyusun program uji
laboratorium.
4) Tentukan parameter rancangan tanah yang perlu berdasarkan pengintegrasian
data uji, asas-asas,ilmiall, dan pertimbangan rekayasa. Hal ini mungkin
melibaikan analisiskomputer yang bersifat sederhana atau rumit. Untuk
masalah-masalah yang kompleks, bandingkanlah data yang dianjurkan deagan
kepustakaan yang pernah diterbitkan atau gunakanlah konsultan geoteknis
yang lain agar hasil-hasilnya memberikan perspektif menurut sumber luar.
5) Buatlah rancangan pondasi dengan menggunakan parameter-parameter tanah
menurut langkah nomor 4. Pondasi tersebut seharusnya bersifat ekonomis dan
mampu untuk dibangun oleh karyawan konstruksi yang tersedia.

12
Perhitungkanlah toleransi-toleransi konstruksi yang praktis dan praktek-
praktek konstruksi yang bersifat lokal. Laksanakan interaksi yang erat dengan
semua pihak yang berkepentingan (nasabah, para perekayasa, arsitek,
kontraktor) sehingga sistem struktur-bawah itu tidak dirancangsecara
berlebihan dan risiko dijaga agar berada pada tingkat-tingkat yang dapat
diterima. Pada langkah ini dapat dipakai perangkat komputer secara sangat luas
(atau semua sama sekali tidak).

Dari hal-hal diatas, jelas bahwa keadaan tanah pondasi pada urutan no 1 yang
merupakan keadaan paling penting dan perinciannya. Berikut ini adalah jenis-jenis
pondasi yang sesuai dengan keadaan tanah pondasi yang bersangkutan
(Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980):
1) Bila tanah pendukung pondasi terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter
dibawah permukaan tanah (Gambar 2.6), dalam hal ini pondasinya adalah
pondasi telapak (spread foundation).
2) Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman 10 meter dibawah
permukaan tanah, dalam hal ini dipakai pondasi tiang atau pondasi tiang apung
(floating pile foundation) untuk memperbaiki tanah pondasi (Gambar 2.7). Jika
memakai tiang, maka tiang baja atau tiang beton yang dicor ditempat (cast in
place) kurag ekonomis, karena tiang tersebut kurang panjang.
3) Bila tanah pondasi terletak pada kedalaman 20 meter dibawah permukaan
tanah, dalam hal ini tergantung dari penurunan (settlement) yang diizikan,
dapat dipakai pondasi seperti Gambar 2.8. Apabila tidak boleh terjadi
penurunan, biasanya digunakan pondasi tiang pancang (pile driven
foundation). Tetapi bila terdapat batu besar (cobble stones) pada lapian antara,
pemakaian kaison lebih menguntungkan.
4) Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman sekitar 30 meter di
bawah permukaan tanah, biasanya dipakai kaison terbuka, tiang baja atau tiang
yang dicor di tempat, seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 2.9. Tetapi
apabila tekanan atmosfir yang bekerja ternyata kurang dari 3 kg/cm2
digunakanjuga kaison tekanan.

13
5) Bila tanah pendukmg pondasi terletak pada kedalaman lebih dari 40 meter di
bawah permukaan tanah, dalam hal ini yang paling baik adalah tiang baja dan
tiang beton yang dicor di tempat.

Gambar 2.3.2 Contoh pondasi bila lapisan pendukung pondasi cukup dangkal
(Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980)

Gambar 2.3.3 Contoh pondasi bila lapisan pendukung pondasi berada sekitar 10
meter dibawah prmukaan tanah (Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980)

Gambar 2.3.4 Contoh pondasi bila lapisan pendukung pondasi berada sekitar 20
meter dibawah prmukaan tanah (Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980

Gambar 2.3.5 Contoh pondasi bila lapisan pendukung pondasi berada sekitar 30
meter dibawah prmukaan tanah (Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980)

14
2.3.1 Pengertian Pondasi Tiang
Pondasi tiang adalah suatu konstruksi pondasi yang mampu menahan gaya
orthgonal kesumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan (Sosrodarsono dan
Nakazawa, 1980). Pondasi tiang dibuat menjadi satu kesatuan dengan monolit
menyatukan pangkal tiang pancang yang terdapat dibawah konstruksi, dengan
tumpuan pondasi.

Dalam Tugas Akhir Harianti (2007) menjeaskan perbedaan antara pondasi


tiang bor dengan pondasi tiang pancang terletak pada metode konstruksinya. Secara
umum, pondasi tiang bor (bored pile) merupakan pondasi yang dikonstruksi dengan
cara mengecor beton segar kedalam lubang yang telah dibor sebelumnya. Tulangan
baja dimasukkan ke dalam lubang bor sebelum pengecoran beton. Pondasi tiang bor
merupakan nondisplacementpile karena pelaksanaannya tidak menyebabkan
perpindahan tanah.

Keuntungan-keuntungan pondasi tiang bor:


a) Peralatan pengeboran mudah dipindahkan sehingga waktu pelaksanaan relatif
sangat cepat.
b) Berdasar contoh tanah selama pengeboran dapat dipelajari kesesuaian kondisi
tanah yang dijumpai dengan keadaan tanah dari boring log yang dilakukan pada
waktu penyelidikan tanah.
c) Diameter dan kedalaman lubang bor mudah divariasikan sehingga jika terjadi
perubahan-perubahan dari rencana semula misalnya beban kolom berubah,
kondisi tanah berbeda dengan penyelidikan tanah dapat segera dilakukan
penyesuaian-penyesuaian.
d) Suara dan getaran yang ditimbulkan dari alat boring relatif lebih kecil jika
dibandingkan dengan alat-alat pancang lain.
e) Dapat dipergunakan untuk segala macam kondisi tanah misalnya harus
menembus lapisan keras, kerakal, lensa-lensa batuan yang tidak dapat ditembus
oleh tiang pancang.
f) Tiang bor merupakan ”high bearing capacity piles” karena diameter dapat
divariasikan sampai 1,50m, sehingga lebih ekonomis untuk beban-beban kolom
yang besar terutama untuk pondasi bangunan tinggi. Dalam arti, 1 tiang bor

15
dapat menggantikan suatu kelompok tiang pancang sehingga pile cap yang
diperlukan praktis lebih kecil dan ekonomis.
g) Tidak diperlukan sambungan tiang terutama untuk tiang-tiang yang dalam
dimana pada tiang pancang mempunyai panjang yang terbatas sehingga harus
disambung dan titik sambungan biasanya merupakan titik-titik perlemahan
selama pemancangan.

Kerugian-kerugian pondasi tiang bor:


a) Prosedur pelaksanaan terutama pengecoran adalah kritis terhadap kualitastiang
secara keseluruhan sehingga memerlukan pengawasan dan pencatatanyang lebih
ketat dan teliti selama pelaksanaan.
b) Teknis-teknis pelaksanaan kadang sangat sensitif terhadap keadaan tanah yang
dijumpai sehingga diperlukan personel-personel yang betul-betul
berpengalaman.
c) Kekurangan pengalaman, pengetahuan dari masalah-masalah pelaksanaan dan
metode perencanaan dapat menimbulkan masalah-masalah seperti:
keterlambatan pelaksanaan, daya dukung yang tidak dipenuhi dan sebagainya.
d) Kondisi lapangan pekerjaan lebih kotor/berlumpur dibandingkan dengan
pondasi tiang pancang sehingga dapat menghambat pekerjaan.
e) Karena makin besar diameter tiang bor yang direncanakan makin besar pula daya
dukungnya sehingga apabila diperlukan loading test, biayanya menjadi lebih
mahal.
f) Kondisi tanah di kaki tiang sering kali rusak akibat proses pengeboran. Adanya
endapan tanah dari runtuhan dinding lubang bor atau sedimentasi lumpur
menjadikan daya dukung ujung dari tiang bor tidak dapat diandalkan.
g) Kelaksanaan pondasi tiang bor memerlukan waktu yang cukup lama.

2.3.2 Pelaksanaan Pondasi Tiang Bor


Kualitas dari pondasi tiang sangat tergantung dari cara pelaksanaannya.
Pemilihan cara pelaksanaan dan alat yang sesuai, cara pelaksanaan
(workmanship)yang baik dan pengawasan yang ketat terhadap pelaksanaan pondasi
tiang bor sangat penting.

16
Salah satu faktor utama yang menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan
jenis pondasi adalah keandalannya. Arti dari keandalan disini adalah keyakinan
bahwa pondasi telah dirancang dapat memikul beban yang diberikan dengan suatu
faktor keamanan yang memadai. Konsekuensi dari keandalan yang ditawarka noleh
pondasi tiang bor, perhatian yang lebih besar harus dicurahkan pada detail
pelaksanaan. Pada dasarnya, semua cara pelaksanaan pondasi tiang akan merubah
keadaan tanah asli setempat. Pelaksanaan konstruksi yang dilakukan tanpa
pengawasan kontraktor ahli dapat berakibat pada kegagalan konstruksi dan juga
terhadap desain pondasi tiang bor yang telah dilakukan.

Pelaksanaan pondasi tiang bor secara garis besar meliputi penggalian lubang
bor, pembersihan dasar lubang bor, pemasangan tulangan, dan pengecoran beton
kedalam lubang.

2.3.3 Penggalian lubang


Penggalian lubang dilakukan dengan cara pengeboran tanah. Pengeboran
diawali dengan menentukan posisi peralatan pengeboran dan melakukan
pengeboran awal dengan metode kering hingga kedalaman tertentu.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengeboran adalah:
1) Dimensi alat bor dan pemasangan alat pengeboran serta ketelitian letak dan
tegak lurusnya tiang.
2) Persediaan alat-alat bantu yang kiranya diperlukan seperti casing, alat-alat
untuk membersihkan lubang, alat-alat pengaman dan sebagainya.
3) Batas dalamnya pengeboran lubang. Batas ini tergantung dari keadaan tanah.
Meskipun umumnya telah ditentukan dalam spesifikasi, namun sebaiknya
penentuan di lapangan ditentukan oleh site soil engineer yang cukup ahli dan
berpengalaman. Jika memungkinkan, sebaiknya kondisi dasar lubang juga
diperiksa. Di luar negeri, dimana lubang bor itu kering, biasanya soil engineer
harus turun ke dalam lubang untuk memeriksa kelayakan dasar galian.

Pada tanah lempung cukup keras, umumnya lubang tiang dapat langsungdibuat
tanpa harus menggunakan casing. Dalam hal ini, mungkin ada bagian-bagian

17
dinding yang runtuh, namun secara umum akan terlihat potongan lubang seperti
pada Gambar 2.11.
Akibat dari penggalian lubang, maka:
1) Tanah sekeliling dan di bawah lubang terganggu, serta terjadi perubahan
tegangan pada bagian yang diarsir pada Gambar 2.10 karena pengambilan tanah,
2) Jika muka air tanah tinggi, maka akan terjadi aliran air pori tanah ke dalam
lubang.

Gambar 2.3.6 Overbreak Diameter Lubang Bor Akibat Longsoran


Tanah(Harianto, 2007)

Para ahli umumnya sependapat bahwa kedua peristiwa tersebut di atas akan
mengakibatkan berkurangnya kekuatan geser tanah lempung. Untuk mengurangi
pengaruh tersebut maka penting agar pengecoran beton dilaksanakan secepat
mungkin setelah lubang dibuat. Sebagian ahli berpendapat bahwa penggunaan
bentonite juga dapat mengurangi pengaruh tersebut. Hal lain yang perlu
diperhatikan dalam pelaksanaan yaitu bahwa dasar lubang bor harus dibersihkan
dahulu dari lumpur dan kotoran yang disebabkan oleh longsornya sebagian dinding
lubang sebelum beton dicor.

18
Masalah utama dalam instalasi tiang bor pada tanah pasir adalah masalah
pelaksanaan. Pada keadaan tanah khusus, seperti tanah pasir lepas sering
memerlukan dipakainya casing atau penggunaan bentonite. Pengaruh pengeboran
tanah pasir pada dasar lubang umumnya sama dengan pada tanah lempung yaitu
berkurangnya daya dukung tanah. Berdasar penelitian beberapa ahli, disimpulkan
bahwa penggunaan bentonite secara praktis tidak mengurangi tahanan selimut tanah
pada tiang bor, jika cara pelaksanaan tiang bor cukup baik.

2.3.4 Pembersihan dasar lubang


Pembersihan dasar lubang dianggap hal yang paling penting dalam
pelaksanaan pengeboran, terlebih jika lubang penuh dengan air. Terdapat banyak
cara yang dapat dilakukan, tetapi jika lubang penuh air, pemakaian cleaningbucket
khusus mungkin yang paling dapat diandalkan. Hal penting juga agar lubang tidak
terlalu lama dibiarkan, sebaiknya pemasangan tulangan dan pengecoran dilakukan
dalam waktu tidak lebih dari 24 jam setelah lubang dibor.

2.3.5 Pemasangan tulangan


Perencanaan besi tulangan untuk tiang bor merupakan bagian dari proses
desain dan bentuk geometri besi tulangan memiliki pengaruh yang signifikan pada
tahapan konstruksi. Penulangan untuk tiang bor biasanya diperlukan untuk
menahan gaya lateral, gaya tarik dan momen yang timbul akibat gaya gempa, angin
dan sebagainya.

Besi tulangan yang dipakai harus memenuhi spesifikasi ASTM A 615 yakni
mempunyai tegangan leleh minimum 3900 kg/cm2. Semua besi tulangan harus
dipabrikasi secara akurat dan ukuran-ukurannya harus sesuai dengan gambar kerja
(shop drawing). Tulangan tiang bor terdiri dari tulangan longitudinal (tulangan
utama) dan tulangan transversal (sengkang). Prinsip utama penulangan longitudinal
adalah untuk menahan tegangan akibat lentur dan tarik. Apabila tegangan lentur
dan tegangan tarik diabaikan, maka tidak diperlukan tulangan utama kecuali
diperlukan dalam spesifikasi. Umumnya, penulangan tiang bor akan maksimum
pada daerah atas dan akan berkurang seiring dengan bertambahnya panjang.
Tulangan longitudinal yang digunakan adalah tulangan ulir.

19
Jarak antar tulangan longitudinal harus cukup sehingga tidak menimbulkan
masalah aliran beton segar selama proses pengecoran berlangsung. Rekomendasi
praktis jarak minimum antar tulangan adalah berkisar dari 3–5 kali ukuran terbesar
agregat.

Tulangan transversal berfungsi untuk menahan gaya geser yang bekerja pada
tiang bor. Tulangan transversal bisa dipasang dengan dua macam konfigurasi yakni
hoop dan spiral. Rangkaian tulangan harus cukup kuat untuk menahan gaya akibat
beton segar yang mengalir selama proses pengecoran dan tidak boleh terjadi
deformasi yang berlebihan pada tulangan. Pemasangan tulangan transversal harus
cukup kuat sehingga mampu mengekang tulangan longitudinal dengan baik.

Untuk membantu dalam proses pabrikasi besi tulangan tiang bor dan untuk
memastikan bahwa diameternya tepat, maka tulangan transversal yang berbentuk
spiral harus dipabrikasi dengan diameter yang benar. Spiral umumnya memberikan
bantuan agar pemasangan tulangan menjadi mudah dan diameternya tepat.

2.3.6 Pengecoran Beton


Seperti dikemukakan sebelumnya, untuk menghindari terganggunya stabilitas
lubang bor sehingga terjadi keruntuhan dinding lubang dan sebagainya,maka
pelaksanaan pengecoran beton pada tiang bor sebaiknya dilaksanakansegera setelah
lubang dibor.

Apabila lubang bor dalam keadaan kering dan tidak terlalu dalam,pengecoran
beton biasanya tidak memerlukan teknik tertentu. Lain halnya jika lubang penuh
dengan air dan cukup dalam, maka pengecoran beton biasanya dilakukan dengan
tremie. Pelaksanaan pengecoran dengan tremie memerlukan teknik khusus.

Hal penting pertama yang perlu diperhatikan adalah workability dari beton.
Workability beton diperlukan agar beton dapat mendesak kotoran tanah yang berada
di dasar lubang ke atas serta dapat mendesak ke samping lubang. Biasanya
diperlukan beton dengan slump >15cm. Hal kedua adalah agar beton tidak cepat
mengering/mengeras. Hal ini perlu disesuaikan dengan perkiraan waktu yang
dibutuhkan untuk penyelesaian pengecoran.

20
2.4 Parameter Tanah
Parameter tanah adalah ukuran atau acuan untuk mengetahui atau menilai hasil
suatu proses perubahan yang terjadi dalam tanah baik dari sifat fisik dan jenis tanah.
Karena sifat-sifat tersebut maka penting dilakukan penyelidikan tanah (soil
investigation).

1. Modulus Young (E)


Nilai perkiraan modulus elastisitas dapat diperoleh dari pengujian (Standart
Penetration Test),Selain itu modulus elastisitas tanah dapat juga di cari dengan
pendekatan terhadap jenis dan konsistensi tanah dengan N-SPT , seperti pada Tabel

Table 2.4-1 Korelasi N-SPT dengan Modulus Elastisitas pada tanah lempung
(Randolph,1978)
Subsurface Penetration Ɛ50 (%) Poisson’s Shear Young’s Shear
condition resistance Ratio (v) strengh Modulus Modulus
range N(bpf) Su Range Es Range G
(psf) (psi) (psi)

Very soft 2 0,020 0,5 250 170-340 60-110


Soft 2-4 0,020 0,5 375 260-520 80-170

Medium 4-8 0,020 0,5 750 520-1040 170-340


Stiff 8-15 0,010 0,45 1500 1040-2080 340-690
Very stiff 15-30 0,005 0,40 3000 2080-4160 690-1390

Hard 30 0,004 0,35 4000 2890-5780 960-1930

40 0,004 0,35 5000 3470-6940 1150-2310

60 0,0035 0,30 7000 4860-9720 1620-3420

80 0,0035 0,30 9000 6250-12500 2080-4160

100 0,003 0,25 11000 7640-15270 2540-5090

120 0,003 0,25 13000 9020-18050 3010-6020

2. Poisson’s Ratio (𝜈')


Rasio poisson sering dianggap sebesar 0,2 – 0,4 dalam pekerjaan – pekerjaan
mekanika tanah. Nilai sebesar 0,5 biasanya dipakai untuk tanah jenuh dan nilai 0

21
sering dipakai untuk tanah kering dan tanah lainnya untuk kemudahan dalam
[Link] Tabel 2.2 ditunjukkan hubungan antara jenis tanah, konsistensi
dengan poisson ratio.

Table 2.4-2 Hubungan Jenis Tanah, konsistensi dan poisson ratio (𝜈),
(Hardiyatmo, 1994)
Soil Type Description (𝝂')
Soft 0.35-0.40
Clay Medium 0.30-0.35
Stiff 0.20-0.30

Sand Loose 0.15-0.25

Medium 0.25-0.30
Dense 0.25-0.35

3. Berat Jenis Tanah Kering (γdry)


Berat jenis tanah kering adalah perbandingan antara berat tanah kering dengan
satuan volume tanah. Berat jenis tanah kering diperoleh dari data Soil Test dan
Direct Shear dan di korelasikan dengan data N-SPT pada Tabel.

Table 2.4-3 Korelasi nilai berat isi dengan N-SPT pada tanah lempung (panduan
All pile manual versi 7)
Consist Symbol Very Soft Medium Stiff Very stiff Hard
ency (Pcf) soft

SPT Nspt 0-2 2-4 4-8 8-16 16-32 >32


UCS q 0-500 500-1000 1000-2000 2000-4000 4000-8000 >8000

Shear 𝑐 0-250 250-500 500-1000 1000-2000 2000-4000 >4000

Saturat γ <100 100-120 100-130 120-130 120-140 >130


ed

22
Table 2.4-4 Korelasi nilai berat isi dengan N-SPT pada tanah pasir (Panduan
Allpile manual versi 7)
Consistency Symbol Very Loose Loose Medium Dense Very
(Pcf) Dense

SPT Nspt 0-4 4-10 10-30 30-50 >50

Moist γ <100 95-125 110-130 110-140 >130

Submerged γ <60 55-65 60-70 65-85 >75

4. Berat Jenis Tanah Jenuh (γsat)


Berat jenis tanah jenuh adalah perbandingan antara berat tanah jenuh air
dengan satuan volume tanah [Link] mana ruang porinya terisi penuh oleh air.

5. Sudut Geser Dalam (ø)


Sudut geser dalam bersama dengan kohesi merupakan faktor dari kuat geser
tanah yang menentukan ketahanan tanah terhadap deformasi akibat tegangan yang
bekerja pada tanah. Deformasi dapat terjadi akibat adanya kombinasi keadaan kritis
dari tegangan normal dan tegangan geser. Nilai dari sudut geser dalam didapat dari
engineering properties tanah, yaitu dengan triaxial test dan direct shear test.

6. Kohesi (c)
Kohesi merupakan gaya tarik menarik antar partikel tanah. Bersama dengan
sudut geser tanah, kohesi merupakan parameter kuat geser tanah yang menentukan
ketahanan tanah terhadap deformasi akibat tegangan yang bekerja pada tanah.
Selain itu nilai berat jenis tanah kering (γdry), berat jenis tanah jenuh (γsat), sudut
geser (ø) dan kohesi ( C ) dapat juga di peroleh dari program Allpile dengan
memasukkan nilai N-SPT.

23
Table 2.4-5 Parameter rencana tiang tanah kohesif (Bridge Design Manual,1992)
Kondisi tanah kohesif Kuat geser
“undrained” rata- Koefisien
Consistency Nila ‘N’ rata nominal,𝒄𝒖 terganggu
kpa 𝑭𝑪
Sangat Hilang antara jari tangan 0-2 0-10 1,0
Lembek

Lembek Mudah di bentuk dengan 2-4 10-25 1,0


jari

Teguh Dapat di bentuk dengan 4-8 25-45 1.0


jari dan tekanan kuat
45-50 1,0-0.95
Kenyal Tidak dapat dibentuk 8-15 50-60 0.95-0,8
dengan jari
60-80 0.8-0.65
80-100 0.65-0.55
Sangat Getas atau tahan 15-30 100-120 0.55-0.45
Kenyal
120-140 0.45-0.4
140-160 0.4-0.35
160-180 0.36-0.35
180-200 0.35-0.34
Keras Keras >30 >200 0.34

Table 2.4-6 Parameter rencana tiang untuk tanah non kohesif (Bridge Design
Manual,1992)
Kondisi tanah Batas 𝑭𝑰 𝑵𝒒
kedalaman/dia
meter tiang Tiang Tiang Tiang Tiang
𝒁𝑳 pancang bora tau pancang bor
Konsistensi Nilai 𝒅 tiang cor
S.P.T di tempat
“N”
Lepas 0-10 6 0.8 0.3 60 25
Sedang 10-30 8 1.0 0.5 100 60
Padat 30-50 15 1.5 0.8 180 100

24
2.5 Kapasitas Daya Dukung
2.5.1 Daya Dukung Ujung Tiang Dan Tiang Gesek
Ditinjau dari cara mendukung beban, tiang dapat dibagi menjadi 2 (dua)
macam (Hardiyatmo, H. C.,2002), yaitu:
1) Daya dukung ujung tiang (end bearing pile) adalah tiang yang kapasitas
dukungnya ditentukan oleh tahanan ujung [Link]-tiang dipancang sampai
mencapai batuan dasar atau lapisan keras lain yang dapat mendukung beban
yang diperkirakan tidak mengakibatkan penurunan berlebihan. Kapasitas tiang
sepenuhnya ditentukan dari tahanan dukung lapisan keras yang berada dibawah
ujung tiang (Gambar 2.11a).
2) Tiang gesek (friction pile) adalah tiang yang kapasitas dukungnya lebih
ditentukan oleh perlawanan gesek antara dinding tiang dan tanah disekitarnya

(a) (b)
Gambar 2.5.1 Tiang ditinjau dari cara mendukung bebannya
(Hardiyatmo, H. C., 2002)

2.5.2 Kapasitas Daya Dukung Dari Data N-SPT


Standard Penetration Test (SPT) adalah sejenis percobaan dinamis dengan
memasukkan suatu alat yang dinamakan split spoon kedalam tanah. Dengan
percobaan ini akan diperoleh kepadatan relatif (relative density), sudut geser tanah
(Ф) berdasarkan nilai jumlah pukulan (N). Hubungan kepadatan relatif, sudut geser
tanah dan nilai N dari pasir dapat dilihat pada Tabel

25
Table 2.5-1 Hubungan dari, Ф dan N dari pasir (Mekanika Tanah & Teknik
Pondasi, Sosrodarsono Suyono Ir, 1983)

Nilai N Kepadatan Relative (Dr) Sudut Geser Dalam


MenurutPeck Menurut
Meyerhof
0-4 0,0-0,2 Sangat lepas < 28,5 < 30
4-10 0,2-0,4 Lepas 28,5-30 30-35
10-30 0,4-0,6 Sedang 30-36 35-40
30-50 0,6-0,8 Padat 36-41 40-45
> 50 0,8-1,0 Sangat Padat < 41 > 45

Adapun perkiraan kapasitas daya dukung pondasi tiang pada tanah kohesi dan
non kohesi didasarkan pada data uji laboratorium, Reese and O’neil (1999)
mengusulkan persamaan untuk menghitung tahanan ujung tiang ditentukan dengan
perumusan sebagai berikut:
1. Kekuatan ujung tiang (end bearing) dan kekuatan lekatan (skin friction) pada
tanah kohesif (Reese and O’neil, 1999) ditunjukkan dalan Pers. 2.1 dan 2.2:
Kekuatan ujung tiang
Q A . N .C (2.1)
Tahanan geser selimut tiang:
Q α . C . p . ∆L (2.2)
Dimana:
p = Keliling
C = Kohesif lapisan tanah yang tidak teratur
α = Faktor adhesi
∆L = Kedalaman
Adapun Pers. Untuk mencari nilai 𝛼 sesuai Pers. 2.3:
C
α = 0,55 → for ≤ 1,5
P

0,55 − 0,1 . − 1,5 → for 1,5 < ≤ 2,5 (2.3)

Luas selimut tiang sesuai Pers. 2.4


p = 2. π . r. t (2.4)
Luas penampang tiang sesuai Pers. 2.5

26
Ap = .π .D (2.5)

2. Kekuatan ujung tiang (end bearing) dan kekuatan lekatan (skin friction) pada
tanah non kohesif (Resse and O’neil) ditunjukkan dalan Pers.2.6 dan 2.7:
Kekuatan ujung tiang sesuai pers. 2.6
Q = Q .a (2.6)
Adapun Pers. Untuk mencari nilai q sesuai Pers. 2.7
Q = 57,5 . Nspt (2.7)
Tahanan geser selimut tiang Pers. 2.8
Q = ∑ f . p . ∆L (2.8)
Adapun Pers. Untuk mencari nilai f Pers. 2.9
f = β .σ (2.9)

2.6 Faktor Keamanan


Daya dukung ijin pondasi tiang untuk beban aksial, Qa atau Q ult, dengan suatu
faktor keamanan (FK) baik secara keseluruhan maupun secara terpisah dengan
menerapkan faktor keamanan pada daya dukung selimut tiang dan pada tahanan
ujungnya. Karena itu daya dukung ijin tiang dapat dinyatakan dalam Pers.2.10 dan
2.11 :

Qa = (2.10)

Qa = + (2.11)

Untuk menentukan faktor keamanan dapat digunakan klasifikasi struktur


bangunan menurut Pugsley (1966) sebagai berikut:
1. Bangunan monumental, umumnya memiliki umur rencana melebihi 100 tahun,
seperti Tugu Monas, Monumen Garuda Wisnu Kencana, jembatan-jembatan
besar, dan lain-lain.
2. Bangunan permanen, umumnya adalah bangunan gedung, jembatan, jalan raya
dan jalan kereta api, dan memiliki umur rencana 50 tahun.
3. Bangunan sementara, umur rencana bangunan kurang dari 25 tahun.
Faktor-faktor lain kemudian ditentukan berdasarkan tingkat pengendaliannya
pada saat konstruksi.

27
1. Pengendalian baik : kondisi tanah cukup homogen dan konstruksi didasarkan
pada program penyelidikan geoteknik yang tepat dan profesional, terdapat
informasi uji pembebanan di dekat lokasi proyek dan pengawasan konstruksi
dilaksanakan secara ketat
2. Pengendalian normal : Situasi yang paling umum, hampir serupa dengan
kondisi diatas, tetapi kondisi tanah bervariasi dan tidak tersedia data pengujian
tanah
3. Pengendalian kurang : Tidak ada uji pembebanan, kondisi tanah sulit dan
bervariasi, tetapi pengujian geoteknik dilakukan dengan baik
4. Pengendalian buruk : Kondisi tanah amat buruk dan sukar ditentukan,
penyelidikan geoteknik tidak memadai

Table 2.6-1 Faktor keamanan untuk pondasi tiang (Reese & O’Neil, 1999;
Pugsley, 1966)
Klasifikasi struktur Bangunan Bangunan
Bangunan permanen
bangunan monumental sementara
Probabilitas kegagalan yang 10-3 10-4 10-3
dapat diterima
FK 2.3 2.0 1.4
(Pengendalian baik)
FK 3.0 2.5 2.0
(Pengendalian normal)
FK 3.5 2.8 2.3
(Pengendalian kurang)
FK 4.0 3.4 2.8
(Pengendalian buruk)

2.7 Penurunan Tiang Elastis


Untuk tiang dengan penurunan segera/ Elastis (Immediate/Ellastic
Settlement) penurunan yang dihasilkan oleh distorsi massa tanah yang tertekan, dan
terjadi pada volume konstan. Termasuk penurunan pada tanah-tanah berbutir kasar
dan tanah-tanah berbutir halus yang tidak jenuh, karena penurunan terjadi segera
setelah terjadi penerapan beban.

Persamaan penurunan segera atau penurunan elastis dari pondasi yang


diasumsikan terletak pada tanah yang homogen, elastis dan isotropis pada media
semi tak terhingga, dinyatakan dengan Pers. 2.12.

28
Penurunan tiang tunggal akibat beban yang bekerja vertical
S = S1 + S2 + S3 (2.12)
Dimana :
S = Penurunan total
S1 = Penurunan batang tiang
S2 = Penurunan tiang akibat beban di ujung tiang
S3 = Penurunan tiang akibat beban yang tersalurkan sepanjang tiang

Menentukan S1 sesuai Pers. 2.13


( ).
S = (2.13)
.

Dimana :
S = Penurunan elastis dari tiang (mm)
Qwp = Daya dukung pada ujung tiang dikurangi daya dukung friction (kN)
Qws = Daya dukung friction (kN)
Ap = Luas penampang tiang pancang (m2)
L = Panjang tiang pancang (m)
Ep = Modulus elastisitas dari bahan tiang (kN/ m2)
ξ = Koefisien dari skin friction,(Gambar 2.12 b)
D = Dameter tiang (m)

𝜉 = 0.5 𝜉 = 0.67
𝜉 = 0.5

(a) (b) (c)


Gambar 2.7.1 Variasi jenis bentuk unit tahanan friksi (kulit) alami terdistribusi
sepanjang tiang tertanam ke dalam tanah (Braja [Link]. 2007)
Menentukan S2 sesuai Pers. 2.14 dan 2.15

(
S = (1 − μ )I (2.14)

29
q = (2.15)

Dimana:
qwp : Beban titik per satuan luas ujung tiang
Qws : Beban yang dipikul selimut tiang akibat beban kerja
D : Lebar atau diameter tiang
Iwp : Faktor pengaruh
Eb : Modulus elastisitas tanah sesuai Pers. 2.18
Menentukan S3 sesuai Pers. 2.16

S = (1 − μ )I (2.16)

Dimana:
p : Keliling tiang
L : Panjang tiang yang tertanam
Iws : Faktor pengaruh sesuai Pers.2.17

: nilai rata-rata friksi sepanjang tiang

I = 2 + 0.35 (2.17)

Table 2.7-1 Nilai umum modulus elastisitas tanah (Braja [Link] edisi 2)
TYPE 𝑬𝑺 (kN/m2)
Coarse and medium-coarse sand
Louse 25.000 - 35000
Medium dense 30000 - 40000
dense 40000 - 45000
Sandy silt
loose 8000 - 12000
Medium dense 10000 - 12000
Dense 12000 – 15000

Karena sifat tanah yang berbeda beda untuk mendapatkan nilai 𝐸 (nilai
modulus elastisitas pada tanah) berdasarkan kedalaman atau dengan mengguakan
data SPT, maka dapat di rumuskan sesuai pers. 2.18.
E = 2,5 . qc kN/m (2.18)

30
2.8 Pile Driving Analyzer (PDA)
Pile Driving Analyzer Test adalah salah satu jenis pengujian dinamik dengan
menggunakan metode analisis gelombang sesuai dengan sifat pengujiannya yang
melakukan pemukulan ulang pondasi tiang yang diuji. Pile Driving Analyzer Test
pelaksanaannya mengacu pada ASTM D-4945 (Standard Test Method for High-
Strain Dynamic Testing of Deep Foundations).
Analisa data Pile Driving Analyzer Test dilakukan dengan prosedur metode
kasus, yang meliputi pengukuran data kecepatan dan gaya selama pelaksanaan
pengujian dan perhitungan variabel dinamik secara tepat waktu untuk mendapatkan
gambaran tentang daya dukung pondasi tiang tunggal.
Dari Pile Driving Analyzer Test dengan menggunakan metode kasus akan dapat
mengetahui :
1. Daya dukung pondasi tiang tunggal
2. Integritas atau keutuhan tiang dan sambungan
3. Efisiensi dari transfer energi pukulan hammer/alat pancang

2.8.1 CAPWAP (Case Pile Wave Analysis Program)


Analisa lanjutan yang dilakukan bersama dengan pengujian Pile Driving
Analyzer Test adalah analisa CAPWAP yang merupakan salah satu metode analisis
pencocokan sinyal. Analisa ini menggunakan data yang diperoleh dari pengujian
Pile Driving Analyzer Test untuk memberikan hasil analisa yang lebih detail. Dari
analisa CAPWAP kita akan mengetahui lebih rinci data yang diperoleh dari
pengujian Pile Driving Analyzer Test, dengan tambahan informasi :
1. Tahanan ujung pondasi tiang tunggal
2. Tahanan friksi pondasi tiang tunggal

31
2.8.2 Bagan Pemasangan Alat Pile Driving Analyzer Test

Gambar 2.8.1 Pemasangan alat Pile Driving Analyzer Test


Pada gambar diatas yang diperhatikan pada waktu pemasangan alat strain
transducer dan accelerometer (minimal masing-masing 2 buah) adalah posisinya
harus sedemikian rupa sehingga pengaruh lentur (kelentingan) tiang dapat
diminimalkan. Karena jika terjadi lenturan (bending) selama pelaksanaan pukulan,
maka data yang diperoleh akan mengalami perubahan bentuk sehingga analisa yang
dilakukan tidak akan akurat.

(a) (b)
Gambar 2.8.2 Proses pemasangan alat Pile Driving Analyzer Test

32
2.8.3 Parameter Pengujian Pile Driving Analyzer Test
Dari beberapa data yang diambil pada waktu pelaksanaan pengujian Pile
Driving Analyzer Test, pada umumnya akan diambil satu grafik dan data yang
paling baik dalam mewakili dan menggambarkan kekuatan atau daya dukung
pondasi tiang yang diuji.

Table 2.8-1 Keterangan kode pembacaan alat CAPWAP

KODE KETERANGAN
BN Pukulan
RMX Daya dukung tiang [ton]
FMX Gaya tekan maksimum [ton]
CTN Gaya tarik maksimum [ton]
EMX Enerji maksimum yang ditransfer [tonm]
DMX Penurunan maksimum [mm]
DFN Penurunan permanen [mm]
STK Tinggi jatuh palu [m]
BPM pukulan permenit
BTA Nilai keutuhan tiang[%]
LE Panjang tiang dibawah instrumen [m]
LP Panjang tiang tertanam [m]
AR Luas penampang tiang [cm2]

Penentuan data tersebut pada umumnya diambil data dari transfer energi atau energi
tersalurkan (EMX) yang paling besar/maksimum selama pelaksanaan pukulan dan
terdata dalam program yang digunakan.

2.8.4 Refusal dan Ultimate


Pada pengujian dengan Pile Driving Analyzer Test akan diperoleh hasil daya
dukung yang bersifat salah satu dari dua kondisi berikut :
1. Refusal
2. Ultimate
Pengertian daya dukung yang bersifat refusal adalah daya dukung yang
terdeteksi/terdata dan dianalisa merupakan daya dukung yang diperoleh dari

33
kondisi pondasi tiang yang belum sepenuhnya termobilisasi. Kondisi belum
sepenuhnya termobilisasi adalah kondisi di mana pondasi tiang belum mencapai
kapasitas tertinggi atau ultimate-nya. Kondisi ini dapat disebabkan karena pada saat
pengujian pukulan dilakukan, energi yang ditransfer tidak cukup besar untuk
memobilisasi seluruh kemampuan tahanan atau daya dukung pondasi tiang yang
diuji. Pengertian daya dukung yang bersifat ultimate adalah daya dukung yang
diperoleh dari kondisi pondasi tiang yang sudah termobilisasi sepenuhnya.
Dengan demikian angka daya dukung yang dihasilkan dari analisa Pile Driving
Analyzer Test dan CAPWAP pada kondisi ini adalah benar-benar daya dukung
ultimate atau batas yang dimiliki oleh pondasi tiang yang diuji.

Kondisi ultimate ditentukan oleh salah satu dari :


1. Telah bergeraknya tiang pancang akibat beban tertentu (beban ultimate)
yang berarti terlampauinya tahanan friksi dan ujung dari pondasi tiang
2. Telah terlampauinya kemampuan material tiang pancang itu sendiri yang
jika diteruskan dengan beban yang lebih berat akan mengakibatkan
kegagalan pada bahan/material tiang pancang

Kedua kondisi tersebut (refusal atau ultimate) dapat diterima selama daya dukung
yang diperoleh masih memenuhi syarat faktor keamanan yang dituntut dari desain
yang ditetapkan.

34

Anda mungkin juga menyukai