Klasifikasi dan Penyelidikan Tanah untuk Pondasi
Klasifikasi dan Penyelidikan Tanah untuk Pondasi
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanah
Tanah menurut Braja M. Das (1995) didefinisikan sebagai material yang
terdiri dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi
(terikat secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah
melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi
ruang-ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut. Tanah berfungsi
juga sebagai pendukung pondasi dari bangunan. Maka diperlukan tanah dengan
kondisi kuat menahan beban di atasnya dan menyebarkannya merata. Dalam
pengertian teknik secara umum, tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri
dari agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat
secara kimia) satu sama lain dan dari bahan-bahan organik yang telah melapuk
(yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-
ruang kosong di antara partikel-partikel padat tersebut Braja [Link] (1995)
Dalam bukunya Braja [Link] (1995) menjelaskan ukuran dari partikel tanah
adalah sangat beragam dengan variasi yang cukup besar, tanah umumnya dapat
disebut sebagai kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (slit), atau lempung (clay),
tergantung pada ukuran partikel yang paling dominan pacta tanah tersebut. Untuk
menerangkan tentang tanah berdasarkan ukuran-ukuran partikelnya, beberapa
organisasi telah mengembangkan batasan-batasan ukuran golongan jenis tanah
(soil-separate-size limit)
5
Gambar 2.1:
Gambar 2.1.1 Klasifikasi tanah berdasarkana tekstur.
6
yang diambil dari pengeboran. Hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk
menghitung kapasitas daya dukung ultimit dan penurunan. Jenis penyelidikan
di laboratorium terdiri dari uji indexproperties tanah (Atterberg Limit, Water
Content, Spesific Gravity, Sieve Analysis) danengineering properties tanah
(Direct Shear Test, Triaxial Test, Consolidation Test, Permeability Test,
Compaction Test, dan CBR).
Dari hasil penyelidikan tanah diperoleh contoh tanah (soil sampling) yang
dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1) Contoh tanah tidak terganggu (undisturbed soil)
Suatu contoh tanah dikatakan tidak terganggu apabila contoh tanah itu
dianggap masih menunjukkan sifat-sifat asli tanah tersebut. Sifat asli yang
dimaksud adalah contoh tanah tersebut tidak mengalami perubahan pada
strukturnya, kadar air, atau susunan kimianya. Contoh tanah seperti ini tidaklah
mungkin bisa didapatkan, akan tetapi dengan menggunakan teknik-teknik
pelaksanaan yang baik, maka kerusakan-kerusakan pada contoh tanah tersebut
dapat diminimalisir. Undisturbed soil digunakan untuk percobaan engineering
properties.
2) Contoh tanah terganggu (disturbed soil)
Contoh tanah terganggu adalah contoh tanah yang diambil tanpa adanya usaha-
usaha tertentu untuk melindungi struktur asli tanah tersebut. Disturbed soil
digunakan untuk percobaan uji index properties tanah.
7
a) Keadaan tertekan. b) Keadaan terbentang.
Gambar 2.2.1 Rincian Konus Ganda.
Dimana:
1) Ujung konus bersudut 60o ± 5o.
2) Ukuran diameter konus adalah 35,7 mm ± 0,4 mm atau luas proyeksi konus =
10 cm2; bagian runcing ujung konus berjari-jari kurang dari 3 mm.
3) Konus ganda harusterbuat dari baja dengan tipe dan kekerasan yang cocok untuk
menahan abrasi dari tanah.
8
sedalam 300 mm vertikal. Dalam sistem beban jatuh ini digunakan palu dengan
berat 63,5 kg, yang dijatuhkan secara berulang dengan tinggi jatuh 0,76 m.
Pelaksanaan pengujian dibagi dalam tiga tahap, yaitu berturut-turut setebal 150 mm
untuk masing-masing tahap (SNI 4153, 2008)
a. Persiapan Pengujian
Lakukan persiapan pengujian Standard Penetration Test di lapangan dengan
tahapan sebagai berikut (Gambar 2.3):
1) Pasang blok penahan (knocking block) pada pipa bor;
2) Beri tanda pada ketinggian sekitar 75 cm pada pipa bor yang berada di atas
penahan;
3) Bersihkan lubang bor pada kedalaman yang akan dilakukan pengujian dari
bekas-bekaspengeboran;
4) Pasang split barrel sampler pada pipa bor, dan pada ujung lainnya
disambungkandengan pipa bor yang telah dipasangi blok penahan;
5) Masukkan peralatan Standard Penetration Test ke dalam dasar lubang bor
atau sampai kedalamanpengujian yang diinginkan;
6) Beri tanda pada batang bor mulai dari muka tanah sampai ketinggian 15 cm,
30 cm dan 45 cm.
9
Gambar 2.2.3 Skema urutan Standard Penetration Test (SPT) (SNI 4153,2008)
b. Prosedur Pengujian
Lakukan pengujian dengan tahapan sebagai berikut
1) Lakukan pengujian pada setiap perubahan lapisan tanah atau pada interval
sekitar 1,50 m s.d 2,00 m atau sesuai keperluan;
2) Tarik tali pengikat palu (hammer) sampai pada tanda yang telah dibuat
sebelumnya (kira-kira 75 cm);
3) Lepaskan tali sehingga palu jatuh bebas menimpa penahan Ulangi 2) dan 3)
berkali-kali sampai mencapai penetrasi 15 cm;
4) Hitung jumlah pukulan atau tumbukan N pada penetrasi 15 cm yang
pertama;
5) Ulangi 2), 3), 4) dan 5) sampai pada penetrasi 15 cm yang ke-dua dan ke-
tiga;
6) Catat jumlah pukulan N pada setiap penetrasi 15 cm:
15 cm pertama dicatat N1;
15 cm ke-dua dicatat N2;
10
15 cm ke-tiga dicatat N3;
Jumlah pukulan yang dihitung adalah N2 + N3. Nilai N1 tidak
diperhitungkan karena masih kotor bekas pengeboran;
7) Bila nilai N lebih besar daripada 50 pukulan, hentikan pengujian dan tambah
pengujian sampai minimum 6 meter;
8) Catat jumlah pukulan pada setiap penetrasi 5 cm untuk jenis tanah batuan.
2.3 Pondasi
Pondasi adalah bagian terendah dari bangunan yang meneruskan beban
[Link] batuan yang berada di bawahnya (Hardiyatmo, 1996).
Terdapat dua klasifikasi fondasi, yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam. Pondasi
dangkal didefinisikan sebagai pondasi yang mendukung bebannya secara langsung,
seperti pondasi telapak, pondasi memanjang dan pondasi rakit. contohnya pondasi
sumuran dan pondasi tiang. Macam-macam contoh tipe pondasi diberikan dalam
Gambar dibawah.
11
Istilah struktur-atas umumnya dipakai untuk menjelaskan bagian sistem yang
direkayasa yang membawa beban kepada pondasi atau struktur-bawah. lstilah
struktur-atas mempunyai arti khusus untuk bangunan-bangunan dan jembatan-
jembatan, akan tetapi, pondasi tersebut dapat juga hanya menopang mesin-mesin,
mendukung peralatan industrial, bertindak sebagai alas untuk papan iklan, dan
sejenisnya. Karena sebab-sebab inilah maka lebih baik melukiskan suatu pondasi
itu sebagai bagian tertentu dari sistem rekayasaan komponen-komponen pendukung
beban yang mempunyai bidangantara (interfacing) terhadap tanah.
12
Perhitungkanlah toleransi-toleransi konstruksi yang praktis dan praktek-
praktek konstruksi yang bersifat lokal. Laksanakan interaksi yang erat dengan
semua pihak yang berkepentingan (nasabah, para perekayasa, arsitek,
kontraktor) sehingga sistem struktur-bawah itu tidak dirancangsecara
berlebihan dan risiko dijaga agar berada pada tingkat-tingkat yang dapat
diterima. Pada langkah ini dapat dipakai perangkat komputer secara sangat luas
(atau semua sama sekali tidak).
Dari hal-hal diatas, jelas bahwa keadaan tanah pondasi pada urutan no 1 yang
merupakan keadaan paling penting dan perinciannya. Berikut ini adalah jenis-jenis
pondasi yang sesuai dengan keadaan tanah pondasi yang bersangkutan
(Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980):
1) Bila tanah pendukung pondasi terletak pada permukaan tanah atau 2-3 meter
dibawah permukaan tanah (Gambar 2.6), dalam hal ini pondasinya adalah
pondasi telapak (spread foundation).
2) Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman 10 meter dibawah
permukaan tanah, dalam hal ini dipakai pondasi tiang atau pondasi tiang apung
(floating pile foundation) untuk memperbaiki tanah pondasi (Gambar 2.7). Jika
memakai tiang, maka tiang baja atau tiang beton yang dicor ditempat (cast in
place) kurag ekonomis, karena tiang tersebut kurang panjang.
3) Bila tanah pondasi terletak pada kedalaman 20 meter dibawah permukaan
tanah, dalam hal ini tergantung dari penurunan (settlement) yang diizikan,
dapat dipakai pondasi seperti Gambar 2.8. Apabila tidak boleh terjadi
penurunan, biasanya digunakan pondasi tiang pancang (pile driven
foundation). Tetapi bila terdapat batu besar (cobble stones) pada lapian antara,
pemakaian kaison lebih menguntungkan.
4) Bila tanah pendukung pondasi terletak pada kedalaman sekitar 30 meter di
bawah permukaan tanah, biasanya dipakai kaison terbuka, tiang baja atau tiang
yang dicor di tempat, seperti yang diperlihatkan dalam Gambar 2.9. Tetapi
apabila tekanan atmosfir yang bekerja ternyata kurang dari 3 kg/cm2
digunakanjuga kaison tekanan.
13
5) Bila tanah pendukmg pondasi terletak pada kedalaman lebih dari 40 meter di
bawah permukaan tanah, dalam hal ini yang paling baik adalah tiang baja dan
tiang beton yang dicor di tempat.
Gambar 2.3.2 Contoh pondasi bila lapisan pendukung pondasi cukup dangkal
(Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980)
Gambar 2.3.3 Contoh pondasi bila lapisan pendukung pondasi berada sekitar 10
meter dibawah prmukaan tanah (Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980)
Gambar 2.3.4 Contoh pondasi bila lapisan pendukung pondasi berada sekitar 20
meter dibawah prmukaan tanah (Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980
Gambar 2.3.5 Contoh pondasi bila lapisan pendukung pondasi berada sekitar 30
meter dibawah prmukaan tanah (Sosrodarsono dan Nakazawa, 1980)
14
2.3.1 Pengertian Pondasi Tiang
Pondasi tiang adalah suatu konstruksi pondasi yang mampu menahan gaya
orthgonal kesumbu tiang dengan jalan menyerap lenturan (Sosrodarsono dan
Nakazawa, 1980). Pondasi tiang dibuat menjadi satu kesatuan dengan monolit
menyatukan pangkal tiang pancang yang terdapat dibawah konstruksi, dengan
tumpuan pondasi.
15
dapat menggantikan suatu kelompok tiang pancang sehingga pile cap yang
diperlukan praktis lebih kecil dan ekonomis.
g) Tidak diperlukan sambungan tiang terutama untuk tiang-tiang yang dalam
dimana pada tiang pancang mempunyai panjang yang terbatas sehingga harus
disambung dan titik sambungan biasanya merupakan titik-titik perlemahan
selama pemancangan.
16
Salah satu faktor utama yang menjadi bahan pertimbangan dalam pemilihan
jenis pondasi adalah keandalannya. Arti dari keandalan disini adalah keyakinan
bahwa pondasi telah dirancang dapat memikul beban yang diberikan dengan suatu
faktor keamanan yang memadai. Konsekuensi dari keandalan yang ditawarka noleh
pondasi tiang bor, perhatian yang lebih besar harus dicurahkan pada detail
pelaksanaan. Pada dasarnya, semua cara pelaksanaan pondasi tiang akan merubah
keadaan tanah asli setempat. Pelaksanaan konstruksi yang dilakukan tanpa
pengawasan kontraktor ahli dapat berakibat pada kegagalan konstruksi dan juga
terhadap desain pondasi tiang bor yang telah dilakukan.
Pelaksanaan pondasi tiang bor secara garis besar meliputi penggalian lubang
bor, pembersihan dasar lubang bor, pemasangan tulangan, dan pengecoran beton
kedalam lubang.
Pada tanah lempung cukup keras, umumnya lubang tiang dapat langsungdibuat
tanpa harus menggunakan casing. Dalam hal ini, mungkin ada bagian-bagian
17
dinding yang runtuh, namun secara umum akan terlihat potongan lubang seperti
pada Gambar 2.11.
Akibat dari penggalian lubang, maka:
1) Tanah sekeliling dan di bawah lubang terganggu, serta terjadi perubahan
tegangan pada bagian yang diarsir pada Gambar 2.10 karena pengambilan tanah,
2) Jika muka air tanah tinggi, maka akan terjadi aliran air pori tanah ke dalam
lubang.
Para ahli umumnya sependapat bahwa kedua peristiwa tersebut di atas akan
mengakibatkan berkurangnya kekuatan geser tanah lempung. Untuk mengurangi
pengaruh tersebut maka penting agar pengecoran beton dilaksanakan secepat
mungkin setelah lubang dibuat. Sebagian ahli berpendapat bahwa penggunaan
bentonite juga dapat mengurangi pengaruh tersebut. Hal lain yang perlu
diperhatikan dalam pelaksanaan yaitu bahwa dasar lubang bor harus dibersihkan
dahulu dari lumpur dan kotoran yang disebabkan oleh longsornya sebagian dinding
lubang sebelum beton dicor.
18
Masalah utama dalam instalasi tiang bor pada tanah pasir adalah masalah
pelaksanaan. Pada keadaan tanah khusus, seperti tanah pasir lepas sering
memerlukan dipakainya casing atau penggunaan bentonite. Pengaruh pengeboran
tanah pasir pada dasar lubang umumnya sama dengan pada tanah lempung yaitu
berkurangnya daya dukung tanah. Berdasar penelitian beberapa ahli, disimpulkan
bahwa penggunaan bentonite secara praktis tidak mengurangi tahanan selimut tanah
pada tiang bor, jika cara pelaksanaan tiang bor cukup baik.
Besi tulangan yang dipakai harus memenuhi spesifikasi ASTM A 615 yakni
mempunyai tegangan leleh minimum 3900 kg/cm2. Semua besi tulangan harus
dipabrikasi secara akurat dan ukuran-ukurannya harus sesuai dengan gambar kerja
(shop drawing). Tulangan tiang bor terdiri dari tulangan longitudinal (tulangan
utama) dan tulangan transversal (sengkang). Prinsip utama penulangan longitudinal
adalah untuk menahan tegangan akibat lentur dan tarik. Apabila tegangan lentur
dan tegangan tarik diabaikan, maka tidak diperlukan tulangan utama kecuali
diperlukan dalam spesifikasi. Umumnya, penulangan tiang bor akan maksimum
pada daerah atas dan akan berkurang seiring dengan bertambahnya panjang.
Tulangan longitudinal yang digunakan adalah tulangan ulir.
19
Jarak antar tulangan longitudinal harus cukup sehingga tidak menimbulkan
masalah aliran beton segar selama proses pengecoran berlangsung. Rekomendasi
praktis jarak minimum antar tulangan adalah berkisar dari 3–5 kali ukuran terbesar
agregat.
Tulangan transversal berfungsi untuk menahan gaya geser yang bekerja pada
tiang bor. Tulangan transversal bisa dipasang dengan dua macam konfigurasi yakni
hoop dan spiral. Rangkaian tulangan harus cukup kuat untuk menahan gaya akibat
beton segar yang mengalir selama proses pengecoran dan tidak boleh terjadi
deformasi yang berlebihan pada tulangan. Pemasangan tulangan transversal harus
cukup kuat sehingga mampu mengekang tulangan longitudinal dengan baik.
Untuk membantu dalam proses pabrikasi besi tulangan tiang bor dan untuk
memastikan bahwa diameternya tepat, maka tulangan transversal yang berbentuk
spiral harus dipabrikasi dengan diameter yang benar. Spiral umumnya memberikan
bantuan agar pemasangan tulangan menjadi mudah dan diameternya tepat.
Apabila lubang bor dalam keadaan kering dan tidak terlalu dalam,pengecoran
beton biasanya tidak memerlukan teknik tertentu. Lain halnya jika lubang penuh
dengan air dan cukup dalam, maka pengecoran beton biasanya dilakukan dengan
tremie. Pelaksanaan pengecoran dengan tremie memerlukan teknik khusus.
Hal penting pertama yang perlu diperhatikan adalah workability dari beton.
Workability beton diperlukan agar beton dapat mendesak kotoran tanah yang berada
di dasar lubang ke atas serta dapat mendesak ke samping lubang. Biasanya
diperlukan beton dengan slump >15cm. Hal kedua adalah agar beton tidak cepat
mengering/mengeras. Hal ini perlu disesuaikan dengan perkiraan waktu yang
dibutuhkan untuk penyelesaian pengecoran.
20
2.4 Parameter Tanah
Parameter tanah adalah ukuran atau acuan untuk mengetahui atau menilai hasil
suatu proses perubahan yang terjadi dalam tanah baik dari sifat fisik dan jenis tanah.
Karena sifat-sifat tersebut maka penting dilakukan penyelidikan tanah (soil
investigation).
Table 2.4-1 Korelasi N-SPT dengan Modulus Elastisitas pada tanah lempung
(Randolph,1978)
Subsurface Penetration Ɛ50 (%) Poisson’s Shear Young’s Shear
condition resistance Ratio (v) strengh Modulus Modulus
range N(bpf) Su Range Es Range G
(psf) (psi) (psi)
21
sering dipakai untuk tanah kering dan tanah lainnya untuk kemudahan dalam
[Link] Tabel 2.2 ditunjukkan hubungan antara jenis tanah, konsistensi
dengan poisson ratio.
Table 2.4-2 Hubungan Jenis Tanah, konsistensi dan poisson ratio (𝜈),
(Hardiyatmo, 1994)
Soil Type Description (𝝂')
Soft 0.35-0.40
Clay Medium 0.30-0.35
Stiff 0.20-0.30
Medium 0.25-0.30
Dense 0.25-0.35
Table 2.4-3 Korelasi nilai berat isi dengan N-SPT pada tanah lempung (panduan
All pile manual versi 7)
Consist Symbol Very Soft Medium Stiff Very stiff Hard
ency (Pcf) soft
22
Table 2.4-4 Korelasi nilai berat isi dengan N-SPT pada tanah pasir (Panduan
Allpile manual versi 7)
Consistency Symbol Very Loose Loose Medium Dense Very
(Pcf) Dense
6. Kohesi (c)
Kohesi merupakan gaya tarik menarik antar partikel tanah. Bersama dengan
sudut geser tanah, kohesi merupakan parameter kuat geser tanah yang menentukan
ketahanan tanah terhadap deformasi akibat tegangan yang bekerja pada tanah.
Selain itu nilai berat jenis tanah kering (γdry), berat jenis tanah jenuh (γsat), sudut
geser (ø) dan kohesi ( C ) dapat juga di peroleh dari program Allpile dengan
memasukkan nilai N-SPT.
23
Table 2.4-5 Parameter rencana tiang tanah kohesif (Bridge Design Manual,1992)
Kondisi tanah kohesif Kuat geser
“undrained” rata- Koefisien
Consistency Nila ‘N’ rata nominal,𝒄𝒖 terganggu
kpa 𝑭𝑪
Sangat Hilang antara jari tangan 0-2 0-10 1,0
Lembek
Table 2.4-6 Parameter rencana tiang untuk tanah non kohesif (Bridge Design
Manual,1992)
Kondisi tanah Batas 𝑭𝑰 𝑵𝒒
kedalaman/dia
meter tiang Tiang Tiang Tiang Tiang
𝒁𝑳 pancang bora tau pancang bor
Konsistensi Nilai 𝒅 tiang cor
S.P.T di tempat
“N”
Lepas 0-10 6 0.8 0.3 60 25
Sedang 10-30 8 1.0 0.5 100 60
Padat 30-50 15 1.5 0.8 180 100
24
2.5 Kapasitas Daya Dukung
2.5.1 Daya Dukung Ujung Tiang Dan Tiang Gesek
Ditinjau dari cara mendukung beban, tiang dapat dibagi menjadi 2 (dua)
macam (Hardiyatmo, H. C.,2002), yaitu:
1) Daya dukung ujung tiang (end bearing pile) adalah tiang yang kapasitas
dukungnya ditentukan oleh tahanan ujung [Link]-tiang dipancang sampai
mencapai batuan dasar atau lapisan keras lain yang dapat mendukung beban
yang diperkirakan tidak mengakibatkan penurunan berlebihan. Kapasitas tiang
sepenuhnya ditentukan dari tahanan dukung lapisan keras yang berada dibawah
ujung tiang (Gambar 2.11a).
2) Tiang gesek (friction pile) adalah tiang yang kapasitas dukungnya lebih
ditentukan oleh perlawanan gesek antara dinding tiang dan tanah disekitarnya
(a) (b)
Gambar 2.5.1 Tiang ditinjau dari cara mendukung bebannya
(Hardiyatmo, H. C., 2002)
25
Table 2.5-1 Hubungan dari, Ф dan N dari pasir (Mekanika Tanah & Teknik
Pondasi, Sosrodarsono Suyono Ir, 1983)
Adapun perkiraan kapasitas daya dukung pondasi tiang pada tanah kohesi dan
non kohesi didasarkan pada data uji laboratorium, Reese and O’neil (1999)
mengusulkan persamaan untuk menghitung tahanan ujung tiang ditentukan dengan
perumusan sebagai berikut:
1. Kekuatan ujung tiang (end bearing) dan kekuatan lekatan (skin friction) pada
tanah kohesif (Reese and O’neil, 1999) ditunjukkan dalan Pers. 2.1 dan 2.2:
Kekuatan ujung tiang
Q A . N .C (2.1)
Tahanan geser selimut tiang:
Q α . C . p . ∆L (2.2)
Dimana:
p = Keliling
C = Kohesif lapisan tanah yang tidak teratur
α = Faktor adhesi
∆L = Kedalaman
Adapun Pers. Untuk mencari nilai 𝛼 sesuai Pers. 2.3:
C
α = 0,55 → for ≤ 1,5
P
26
Ap = .π .D (2.5)
2. Kekuatan ujung tiang (end bearing) dan kekuatan lekatan (skin friction) pada
tanah non kohesif (Resse and O’neil) ditunjukkan dalan Pers.2.6 dan 2.7:
Kekuatan ujung tiang sesuai pers. 2.6
Q = Q .a (2.6)
Adapun Pers. Untuk mencari nilai q sesuai Pers. 2.7
Q = 57,5 . Nspt (2.7)
Tahanan geser selimut tiang Pers. 2.8
Q = ∑ f . p . ∆L (2.8)
Adapun Pers. Untuk mencari nilai f Pers. 2.9
f = β .σ (2.9)
Qa = (2.10)
Qa = + (2.11)
27
1. Pengendalian baik : kondisi tanah cukup homogen dan konstruksi didasarkan
pada program penyelidikan geoteknik yang tepat dan profesional, terdapat
informasi uji pembebanan di dekat lokasi proyek dan pengawasan konstruksi
dilaksanakan secara ketat
2. Pengendalian normal : Situasi yang paling umum, hampir serupa dengan
kondisi diatas, tetapi kondisi tanah bervariasi dan tidak tersedia data pengujian
tanah
3. Pengendalian kurang : Tidak ada uji pembebanan, kondisi tanah sulit dan
bervariasi, tetapi pengujian geoteknik dilakukan dengan baik
4. Pengendalian buruk : Kondisi tanah amat buruk dan sukar ditentukan,
penyelidikan geoteknik tidak memadai
Table 2.6-1 Faktor keamanan untuk pondasi tiang (Reese & O’Neil, 1999;
Pugsley, 1966)
Klasifikasi struktur Bangunan Bangunan
Bangunan permanen
bangunan monumental sementara
Probabilitas kegagalan yang 10-3 10-4 10-3
dapat diterima
FK 2.3 2.0 1.4
(Pengendalian baik)
FK 3.0 2.5 2.0
(Pengendalian normal)
FK 3.5 2.8 2.3
(Pengendalian kurang)
FK 4.0 3.4 2.8
(Pengendalian buruk)
28
Penurunan tiang tunggal akibat beban yang bekerja vertical
S = S1 + S2 + S3 (2.12)
Dimana :
S = Penurunan total
S1 = Penurunan batang tiang
S2 = Penurunan tiang akibat beban di ujung tiang
S3 = Penurunan tiang akibat beban yang tersalurkan sepanjang tiang
Dimana :
S = Penurunan elastis dari tiang (mm)
Qwp = Daya dukung pada ujung tiang dikurangi daya dukung friction (kN)
Qws = Daya dukung friction (kN)
Ap = Luas penampang tiang pancang (m2)
L = Panjang tiang pancang (m)
Ep = Modulus elastisitas dari bahan tiang (kN/ m2)
ξ = Koefisien dari skin friction,(Gambar 2.12 b)
D = Dameter tiang (m)
𝜉 = 0.5 𝜉 = 0.67
𝜉 = 0.5
(
S = (1 − μ )I (2.14)
29
q = (2.15)
Dimana:
qwp : Beban titik per satuan luas ujung tiang
Qws : Beban yang dipikul selimut tiang akibat beban kerja
D : Lebar atau diameter tiang
Iwp : Faktor pengaruh
Eb : Modulus elastisitas tanah sesuai Pers. 2.18
Menentukan S3 sesuai Pers. 2.16
S = (1 − μ )I (2.16)
Dimana:
p : Keliling tiang
L : Panjang tiang yang tertanam
Iws : Faktor pengaruh sesuai Pers.2.17
I = 2 + 0.35 (2.17)
Table 2.7-1 Nilai umum modulus elastisitas tanah (Braja [Link] edisi 2)
TYPE 𝑬𝑺 (kN/m2)
Coarse and medium-coarse sand
Louse 25.000 - 35000
Medium dense 30000 - 40000
dense 40000 - 45000
Sandy silt
loose 8000 - 12000
Medium dense 10000 - 12000
Dense 12000 – 15000
Karena sifat tanah yang berbeda beda untuk mendapatkan nilai 𝐸 (nilai
modulus elastisitas pada tanah) berdasarkan kedalaman atau dengan mengguakan
data SPT, maka dapat di rumuskan sesuai pers. 2.18.
E = 2,5 . qc kN/m (2.18)
30
2.8 Pile Driving Analyzer (PDA)
Pile Driving Analyzer Test adalah salah satu jenis pengujian dinamik dengan
menggunakan metode analisis gelombang sesuai dengan sifat pengujiannya yang
melakukan pemukulan ulang pondasi tiang yang diuji. Pile Driving Analyzer Test
pelaksanaannya mengacu pada ASTM D-4945 (Standard Test Method for High-
Strain Dynamic Testing of Deep Foundations).
Analisa data Pile Driving Analyzer Test dilakukan dengan prosedur metode
kasus, yang meliputi pengukuran data kecepatan dan gaya selama pelaksanaan
pengujian dan perhitungan variabel dinamik secara tepat waktu untuk mendapatkan
gambaran tentang daya dukung pondasi tiang tunggal.
Dari Pile Driving Analyzer Test dengan menggunakan metode kasus akan dapat
mengetahui :
1. Daya dukung pondasi tiang tunggal
2. Integritas atau keutuhan tiang dan sambungan
3. Efisiensi dari transfer energi pukulan hammer/alat pancang
31
2.8.2 Bagan Pemasangan Alat Pile Driving Analyzer Test
(a) (b)
Gambar 2.8.2 Proses pemasangan alat Pile Driving Analyzer Test
32
2.8.3 Parameter Pengujian Pile Driving Analyzer Test
Dari beberapa data yang diambil pada waktu pelaksanaan pengujian Pile
Driving Analyzer Test, pada umumnya akan diambil satu grafik dan data yang
paling baik dalam mewakili dan menggambarkan kekuatan atau daya dukung
pondasi tiang yang diuji.
KODE KETERANGAN
BN Pukulan
RMX Daya dukung tiang [ton]
FMX Gaya tekan maksimum [ton]
CTN Gaya tarik maksimum [ton]
EMX Enerji maksimum yang ditransfer [tonm]
DMX Penurunan maksimum [mm]
DFN Penurunan permanen [mm]
STK Tinggi jatuh palu [m]
BPM pukulan permenit
BTA Nilai keutuhan tiang[%]
LE Panjang tiang dibawah instrumen [m]
LP Panjang tiang tertanam [m]
AR Luas penampang tiang [cm2]
Penentuan data tersebut pada umumnya diambil data dari transfer energi atau energi
tersalurkan (EMX) yang paling besar/maksimum selama pelaksanaan pukulan dan
terdata dalam program yang digunakan.
33
kondisi pondasi tiang yang belum sepenuhnya termobilisasi. Kondisi belum
sepenuhnya termobilisasi adalah kondisi di mana pondasi tiang belum mencapai
kapasitas tertinggi atau ultimate-nya. Kondisi ini dapat disebabkan karena pada saat
pengujian pukulan dilakukan, energi yang ditransfer tidak cukup besar untuk
memobilisasi seluruh kemampuan tahanan atau daya dukung pondasi tiang yang
diuji. Pengertian daya dukung yang bersifat ultimate adalah daya dukung yang
diperoleh dari kondisi pondasi tiang yang sudah termobilisasi sepenuhnya.
Dengan demikian angka daya dukung yang dihasilkan dari analisa Pile Driving
Analyzer Test dan CAPWAP pada kondisi ini adalah benar-benar daya dukung
ultimate atau batas yang dimiliki oleh pondasi tiang yang diuji.
Kedua kondisi tersebut (refusal atau ultimate) dapat diterima selama daya dukung
yang diperoleh masih memenuhi syarat faktor keamanan yang dituntut dari desain
yang ditetapkan.
34