UNIVERSITAS KADIRI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
STATUS TER AKREDITASI BAN-PT
Program Studi : [Link] Ners, [Link] Keperawatan (S.1), [Link]([Link]),
[Link] (DIV), 5. Kebidanan (S.1), 6. Profesi Bidan, 7. Farmasi(S.1),
[Link] Elektromedik ([Link]), [Link] Laboratorium Medis ([Link])
Sekretariat : Jl. Selomangleng No. 1 Kediri Telp. (0354) 775074/771846, Fax (0354)771846
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN RISIKO BUNUH DIRI DI RSJ MENUR SURABAYA
OLEH :
INES SEPTIYA PRAYOGI
NIM : 202406040634
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
TAHUN 2025
LEMBAR PENGESAHAN
JUDUL KASUS
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
RISIKO BUNUH DIRI DI RSJ MENUR SURABAYA
TANGGAL PENGAMBILAN KASUS
8 SEPTEMBER 2025
MAHASISWA
INES SEPTIYA PRAYOGI
NPM: 202406040634
PEMBIMBING INSTITUSI PEMBIMBING KLINIK / CI
…………………………………….. ………………………………………..
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN
DENGAN GANGGUAN PSIKOTIK RISIKO BUNUH DIRI
I. KASUS (MASALAH UTAMA)
Pasien dengan gangguan psikotik risiko bunuh diri
II. TINJAUAN TEORI (PROSES TERJADINYA MASALAH)
1. Teori
a. Definisi
Bridge, Goldstein, dan Brent (2021) merangkum beberapa terminologi yang
sering digunakan dalam memahami definisi bunuh diri. Ide bunuh diri mengacu pada
pikiran-pikiran tentang menyakiti atau membunuh diri sendiri. Percobaan bunuh diri
adalah suatu tindakan yang tidak fatal, menyakiti diri sendiri dengan maksud
eksplisit untuk kematian. Tindakan bunuh diri adalah tindakan menyakiti diri sendiri
yang bersifat fatal dengan maksud eksplisit untuk mati.
Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari untuk mengakhiri kehidupan
individu secara sadar berhasrat dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati
(Yosep, 2022). Bunuh diri menurut Edwin Schneidman dalam Kaplan 2022 adalah
tindakan pembinasaan yang disadari dan ditimbulkan diri sendiri, dipandang sebagai
malaise multidimensional pada kebutuhan individual yang menyebabkan suatu
masalah di mana tindakan yang dirasakan sebagai pemecahan yang terbaik.
Bunuh diri berhubungan dengan kebutuhan yang dihalangi atau tidak terpenuhi,
perasaan ketidakberdayaan, keputusasaan, konflik ambivalen antara keinginan hidup
dan tekanan yang tidak dapat ditanggung, menyempitkan pilihan yang dirasakan dan
kebutuhan meloloskan diri; orang bunuh diri menunjukkan tanda-tanda penderitaan
(Kaplan & Saddock, 2022).
b. Etiologi (Penyebab)
Kajian sistematis dan meta-analisis yang dilakukan Large, Smith, Sharma,
Nielssen, & Singh (2021) menemukan bahwa disamping faktor riwayat menyakiti
diri sendiri dengan sengaja, merasa bersalah atau merasa kurang mampu, suasana
hati depresi, ide-ide bunuh diri dan riwayat keluarga dengan bunuh diri,
ketidakberdayaan adalah faktor yang memengaruhi perilaku bunuh diri pada pasien
psikiatri rawat inap.
Links et al. (2020) juga menemukan bahwa percobaan bunuh diri sebelumnya,
tingkat depresi, ketidakberdayaan, dan impulsivitas meru-pakan faktor risiko yang
memprediksi meningkatnya ide-ide bunuh diri atau perilaku bunuh diri pada pasien
psikiatri yang telah menjalani pengobatan rawat inap.
c. Klasifikasi
Pelaku bunuh diri biasanya memiliki ciri-ciri orang yang mengalami depresi berat
adalah merasa putus asa, suasana hati yang buruk, merasa lelah, atau kehilangan
minat dan motivasi. Hal semacam ini dapat memberi dampak buruk bagi kehidupan
orang tersebut secara menyeluruh. Pada akhirnya memicu mereka untuk mencoba
untuk bunuh diri. Orang yang sudah yang terdampak ciri-ciri tersebut sulit untuk
menghindarkan terjadinya bunuh diri, penting untuk mengenali tanda atau ciri-ciri
yang mengarah pada risiko bunuh diri. Calon pelaku bunuh diri yang harus
diingatkan bahwa selalu ada harapan bagi seseorang yang mengalami tekanan atau
depresi agar dapat kembali pada kehidupan normalnya.
Anomic suicide adalah bunuh diri yang disebabkan oleh perasaan bingung karena
keterputusan sosial dan tidak merasa menjadi bagian dari masyarakat. Menurut
Kimbrel, anomic suicide adalah bom waktu untuk beberapa orang yang memiliki
gangguan kepribadian yang memicu passive suicidal thought (Kimbrel et al., 2023).
Sedangkan altruism suicide adalah bunuh diri untuk pengorbanan seperti yang
dilakukan penerbang pesawat terbang Jepang di masa Perang Dunia II, Kamikaze.
Kita juga bisa melihat altruism suicide pada jihadis yang melakukan teror bom.
Dalam motivasi yang sama dan kerangka yang berbeda, perilaku bom bunuh diri
juga bisa dimasukkan dalam bunuh diri.
Tipe bunuh diri menurut Durkheim
Sumber: Durkheim, 1952
Durkheim meletakkan faktor sosial sebagai elemen penting pendorong orang
bunuh diri. Oleh karena itu ia menarik kesimpulan: apabila orang melakukan bunuh
diri, maka pemicunya takkan jauh dari faktor komunitas dan stabilitas sosial. Secara
sederhana dapat digambarkan idenya sebagai berikut:
1) Bunuh Diri Egoistis
Bunuh diri yang dilakukan seseorang karena merasa kepentingan sendiri
lebih besar dari kepentingan kesatuan sosialnya. Tingginya angka bunuh diri
egoistis dapat ditemukan dalam masyarakat atau kelompok di mana individu
tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas. Lemahnya integrasi
menimbulkan perasaan individu bukan bagian dari masyarakat, dan masyarakat
bukan pula bagian dari individu. Lemahnya integrasi sosial menyebabkan
perbedaan angka bunuh diri. Misalnya pada masyarakat yang disintegrasi akan
melahirkan arus depresi dan kekecewaan. Kekecewaan yang melahirkan situasi
politik didominasi oleh perasaan kesiasiaan, moralitas dilihat sebagai pilihan
individu, dan pandangan hidup masyarakat luas menekan ketidakbermaknaan
hidup, begitu sebaliknya.
2) Bunuh Diri Altruistis
Terjadi ketika integrasi sosial yang sangat kuat, secara harfiah dapat
dikatakan individu terpaksa melakukan bunuh diri. Salah satu contohnya adalah
bunuh diri massal dari pengikut pendeta Jim Jones di Jonestown, Guyana pada
tahun 1978. contoh lain bunuh diri di Jepang (Harakiri). Bunuh diri ini makin
banyak terjadi jika makin banyak harapan yang tersedia, karena dia bergantung
pada keyakinan akan adanya sesuatu yang indah setelah hidup di dunia. Ketika
integrasi mengendur seorang akan melakukan bunuh diri karena tidak ada lagi
kebaikan yang dapat dipakai untuk meneruskan kehidupannya, begitu sebaliknya.
3) Bunuh Diri Anomic
Bunuh diri ini terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu.
Gangguan tersebut mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena
lemahnya kontrol terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras
yang tidak pernah puas terhadap kesenangan. Bunuh diri ini terjadi ketika
menempatkan orang dalam situasi norma lama tidak berlaku lagi sementara
norma baru belum dikembangkan (tidak ada pegangan hidup. Anomi terjadi
manakala orang tak siap menghadapi perubahan sosial. Sebagai contoh orang
yang mengalami post-power syndrome. Dia yang sebelumnya berpangkat
mendadak tak punya orang untuk disuruh. Pada akhirnya dia terjangkit stres dan
mereka lepas dari pengaruh regulatif yang selama ini mereka rasakan.
4) Bunuh Diri Fatalistis
Bunuh diri yang dilakukan seseorang karena adanya kondisi yang sangat
tertekan, dengan adanya aturan, norma, keyakinan dan nilai-nilai dalam
menjalani interaksi sosial sehingga orang tersebut kehilangan kebebasan dalam
hubungan sosial. Bunuh diri ini terjadi ketika regulasi meningkat. Durkheim
menggambarkan seseorang yang mau melakukan bunuh diri ini seperti seseorang
yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang tertahan oleh disiplin yang
menindas. Contoh: perbudakan. Orang yang melakukan bunuh diri fatalistik pada
umumnya adalah orang yang merasa kalah dalam hidup. Setiap kali dia berusaha,
selalu gagal. Cita-citanya untuk maju selalu terhambat; ke mana pun dia pergi
selalu dihantui nasib buruk.
d. Rentang respon
Respon Adaptif Respon Madaptif
Peningakatan diri Pertumbuhan Perilaku Bunuh diri
peningkatan mencederai diri
pengambilan tidak langsung
risiko
2. Faktor Predisposisi
Lima faktor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku destruktif-
diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut:
Sifat Kepribadian
a) Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri
mempunyai riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat
individu berisiko untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif,
penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
b) Tiga kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh diri adalah
antipati, impulsif, dan depresi.
c) Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah pengalaman
kehilangan, kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian negatif dalam hidup,
penyakit kronis, perpisahan, atau bahkan perceraian. Kekuatan dukungan sosial
sangat penting dalam menciptakan intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu
mengetahui penyebab maslah, respon seseorang dalam menghadapi masalah
tersebut, dan lain-lain.
d) Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor penting
yang dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
e) Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi
peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak seperti serotinin dan
dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat dilihat melalui rekaman gelombang otak
Electro Encephalo Graph (EEG).
3. Faktor Prespitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami oleh
individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang memalukan. Faktor lain
yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media mengenai
orang yang melakukan bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang
emosinya labil, hal tersebut menjadi sangat rentan.
4. Sumber koping
Pasien dengan penyakit kronik, nyeri, atau penyakit yang mengancam kehidupan
dapat melakukan perilaku destruktif-diri. Sering kali orang ini secara sadar memilih
untuk bunuh diri. Kulaitas hidup menjadi isu yang mengesampingkan kuantitas hidup.
Dilema etik mungkin timbul bagi perawat yang menyadari pilihan pasien untuk
berperilaku merusak diri. Tidak ada jawaban yang mudah mengenai bagaimana
mengatasi konflik ini. Perawat harus melakukannya sesuai dengan sistem keyakinannya
sendiri.
5. Mekanisme koping
Mekanisme pertahanan ego yang berhubungan dengan perilaku destruktif-diri tak
langsung adalah :
a) Denial, mekanisme koping yang paling menonjol
b) Rasionalisme
c) Intelektualisasi
d) Regresi
Mekanisme pertahanan diri tidak seharusnya ditantang tanpa memberikan cara koping
alternatif. Mekanisme pertahanan ini mungkin berada diantara individu dan bunuh diri.
Perilaku bunuh diri menunjukkan mendesaknya kegagalan mekanisme koping. Ancaman
bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar
dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan koping dan
mekanisme adaptif.
6. Perilaku
Orang yang siap membunuh diri adalah orang yang merencanakan kematian dengan
tindak kekerasan, mempunyai rencana spesifik dan mempunyai niat untuk melakukannya.
Perilaku bunuh diri biasanya dibagi menjadi 3 kategori:
a) Ancaman bunuh diri
Peningkatan verbal/nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk
bunuh diri. Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang tentang
kematian,kurangnya respon positif dapat ditafsirkan seseorang sebagai dukungan
untuk melakukan tindakan bunuh diri.
b) Upaya bunuh diri
Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang
dapat mengarah pada kematian jika tidak dicegah.
c) Bunuh diri
Mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau terabaikan. Orang
yang melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung ingin mati, mungkin
mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepatpada waktunya.
7. Masalah keperawatan
a. Harga Diri Rendah
b. Isolasi Sosial
c. Risiko Bunuh Diri
III. POHON MASALAH
Stress, Tekanan Mengisolasi diri, HDR
Respon
Protektif Diri
Koping
Maladaptif
Perilaku Destruktif Diri
Secara Tidak Langsung
Pencederaan Diri
Isyarat Bunuh Diri
Motivasi
Niat
Penjabaran Gagasan
Ancaman Bunuh Diri
Krisis Bunuh Diri
Percobaan Bunuh Diri
Sumber: Yusuf, Fitriani, Nihayati, 2021
IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Risiko bunuh diri (D.0135)
V. RENCANA KEPERAWATAN
1. Risiko bunuh diri (D.0135)
Setelah dilakukan intervensi selama 5x24 jam, maka kontrol diri (L.09076)
meningkat dengan kriteria hasil:
a. Verbalisasi ancaman kepada orang lain menurun
b. Verbalisasi umpatan menurun
c. Perilaku melukai diri sendiri/orang lain menurun
d. Verbalisasi keinginan bunuh diri menurun
e. Verbalisasi isyarat bunuh diri menurun
f. Verbalisasi ancaman bunuh diri menurun
g. Verbalisasi rencana bunuh diri menurun
h. Perilaku merencanakan bunuh diri menurun
i. Alam perasaan depresi menurun
Intervensi:
Pencegahan bunuh diri (I.14538)
Observasi
1. Identifikasi gejala risiko bunuh diri (mis gangguan mood, halusinasi, delusi, panik,
penyalahgunaan zat, kesedihan, gangguan kepribadian)
2. Identifikasi keinginandan pikiran, rencana bunuh diri
3. Monitor limgkungan bebas bahaya secara rutin (mis. Barang pribadi, pisau cukur,
jendela)
4. Monitor adanya perubahan mood dan perilaku
Teraupetik
5. Libatkan dalam perencanaan perawatan mandiri
6. Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan
7. Lakukan pendekatan langsung dan tidak menghakimi saat membahas bunuh diri
8. Berikan lingkungan dengan pengamanan ketat dan mudah dipantau (mis. Tempat
tidur dekat dengan ruang perawat)
9. Tingkatkan pengawasan pada kondisi tertentu (mis. Rapat staff, pergantian shift)
10. Lakukan intervensi perlindungan (mis. Pembatasan area, pengekangan fisik) jika
diperlukan
11. Hindari diskusi berulang tentang bunuh diri sebelumnya, diskusi berorientasi pada
masa sekarang dan masa depan
12. Diskusikan rencana menghadapi ide bunuh diri di masa depan (mis. Orang yang
dihubungi, ke mana mencari bantuan)
13. Pastikan obat ditelan
Edukasi
14. Anjurkan mendiskusikan perasaan yang dialami kepada orang lain
15. Anjurkan menggunakan sumber pendukung (mis. Layanan spiritual, penyedia
layanan)
16. Jelaskan tindakan pencegahan bunuh diri kepada keluaga atau orang terdekat
17. Informasikan sumber daya masyarakat dan program yang tersedia
18. Latih pencegahan risiko bunuh diri (mis. Latihan asertif, relaksasi otot progresif)
Kolaborasi
19. Kolaborasi pemberian obat antiansietas, atau antipsikotik, sesuai kondusi
20. Kolaborasi tindakan keselamatan PPA
21. Rujuk ke layanan kesehatan mental, jika perlu
DAFTAR PUSTAKA
Andari, S. (2023). Fenomena Bunuh Diri di Kabupaten Gunung Kidul. Sosio Konsepsia:
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, 7(1), 92-108
Jannah, S. R. (2022). TINJAUAN PENATALAKSANAAN KEGAWATDARURATAN
PADA PASIEN DENGAN BUNUH DIRI. Idea Nursing Journal, 1(1), 32-38.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2019), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI),
Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2020), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi
1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2020), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi
1, Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Valentina, T. D., & Helmi, A. F. (2022). Ketidakberdayaan dan perilaku bunuh diri: Meta-
analisis. Buletin Psikologi, 24(2), 123-135.