Program Kerja TPPK SMP Kristen Ambon
Program Kerja TPPK SMP Kristen Ambon
SMP KRISTEN
YPKPM AMBON
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami sampaikan kehadirat Tuhan yang maha esa, atas berkat dan rahmatnya
sehingga kami dapat menyelesaikan Program Kerja Tim Pencegahan Dan Penanganan
Kekerasan Di Lingkungan SMP KRISTEN YPKPM AMBON Periode 2024/2025 dengan baik.
Peningkatan mutu pendidikan sangat tergantung pada pelaksanaan proses belajar dan
kondisi student wellbeing di sekolah. Proses pembelajaran yang efektif sesuai dengan
perkembangan zaman yang didukung situasi dan kondisi sekolah yang ramah anak dan terbebas
dari kekerasan merupakan prasyarat utama keberhasilan suatu pendidikan. Untuk mendukung
kegiatan pembelajaran tersebut perlu adanya upaya untuk dapat memastikan semua yang
diangankan tadi berjalan dengan baik.
Untuk itu TPPK dirasa perlu membuat Program Kerja yang dapat memberikan kepastian
dan jaminan sehingga Satuan Pendidikan terbebas dari kekerasan.
Akhirnya semoga kita semua selaku tenaga pendidik sekaligus sebagai praktisi dalam
dunia pendidikan dapat memanfaatkan kegiatan yang telah diprogramkan ini dengan sebaik-
baiknya demi meningkatan kualitas sumber daya manusia seutuhnya.
Koordinator TPPK
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................................i
DAFTAR ISI................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................................1
BAB IX PENDANAAN.............................................................................................................35
BAB XI PENUTUP....................................................................................................................38
LAMPIRAN...............................................................................................................................40
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga
negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia;
sejurus dengan itu anak adalah amanah dan karunia Tuhan yang maha esa, yang dalam
dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya.
Oleh sebab itu anak adalah tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita
perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang
menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.
Agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu
mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal,
baik fisik, mental maupun sosial, dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan
serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap
pemenuhan hak- haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi.
Untuk mewujudkan perlindungan dan kesejahteraan anak diperlukan dukungan
kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang dapat menjamin pelaksanaannya;
sedangkan berbagai undang-undang hanya mengatur hal-hal tertentu mengenai anak dan
secara khusus belum mengatur keseluruhan aspek yang berkaitan dengan perlindungan anak.
Seiring dengan perkembangan waktu peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan dan
warga satuan pendidikan lainnya berhak mendapatkan perlindungan dari kekerasan yang
terjadi di lingkungan satuan pendidikan; sehingga untuk melaksanakan perlindungan dari
kekerasan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan dilakukan pencegahan dan
penanganan yang mempertimbangkan hak peserta didik dalam memperoleh lingkungan
satuan pendidikan yang ramah, aman, nyaman, dan menyenangkan bagi peserta didik,
pendidik, tenaga kependidikan, dan warga satuan pendidikan lainnya.
Dalam upaya pencegahan dan penanganan kekerasan, satuan pendidikan perlu
membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) seperti yang telah
dimandatkan dalam Permendikbud Ristek Nomor 46 Tahun 2023 Tentang Pencegahan dan
Penanganan Kekerasan
1
di Lingkungan Satuan Pendidikan. TPPK adalah tim yang dibentuk satuan pendidikan untuk
melaksanakan upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di satuan pendidikan. TPPK
berjumlah gasal dan minimal sebanyak tiga orang yang terdiri atas perwakilan pendidik
yang bukan Kepala Satuan Pendidikan dan komite sekolah atau perwakilan Orang Tua.
Dalam melaksanakan tugasnya, TPPK punya wewenang, antara lain;
1. Memanggil dan meminta keterangan, pelapor, korban, saksi, terlapor, orangtua/wali,
pendampingi dan atau ahli.
2. Berkoordinasi dengan pihak terkait dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan.
3. Berkoordinasi dengan satuan pendidikan lain terkait laporan kekerasan yang melibatkan
korban, saksi, pelapor dan atau terlapor dari satuan pendidikan yang bersangkutan.
Saat pengesahan Permendikbudristek PPKSP Nomor 46 Tahun Tahun 2023, Menteri
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim
mendorong TPPK dan Satuan Tugas perlu dibentuk dalam waktu 6 sampai 12 bulan ke
depan setelah peraturan ini disahkan. Saat ini, Kemendikbud telah mengeluarkan
Permendikbudristek nomor 46 tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan
di Lingkungan Satuan Pendidikan atau disingkat Permendikbudristek PPKSP.
Salah satu amanat yang tertuang dalam Peraturan tersebut adalah sekolah atau satuan
Pendidikan dihimbau untuk membentuk tim Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan
(TPPK) yang bertugas melakukan penanganan kekerasan dan memastikan pemulihan bagi
korban atau pemberian sanksi administratif kepada pelaku dengan mempertimbangkan
sanksi yang edukatif dan tetap memperhatikan hak pendidikan peserta didik.
Adanya peraturan ini secara tegas menangani dan mencegah terjadinya kekerasan
seksual, perundungan, serta diskriminasi dan intoleransi. Selain itu, untuk membantu
sekolah dalam menangani kasus-kasus kekerasan yang terjadi mencakup kekerasan dalam
bentuk daring, psikis, dan lainnya dengan berperspektif pada korban.
Upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan satuan pendidikan
bertujuan agar peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, dan warga satuan pendidikan
lainnya mampu mencegah terjadinya kekerasan di lingkungan satuan Pendidikan; mampu
untuk melaporkan kekerasan yang dialami dan diketahuinya; mampu mencari dan
mendapatkan bantuan ketika mengalami kekerasan; yang mengalami kekerasan bisa segera
mendapatkan penanganan dan bantuan yang menyeluruh; pemerintah daerah, dan
Kementerian mampu
2
merespons dan menangani kekerasan yang terjadi di satuan pendidikan sesuai dengan tugas
dan kewenangannya serta mampu mencegah terjadinya Kekerasan di lingkungan satuan
pendidikan. Sehubungan dengan amanat Permendikbudristek di atas, maka SMP KRISTEN
YPKPM AMBON segera menyusun Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan dalam
bentuk Surat Keputusan Kepala Sekolah.
B. LANDASAN HUKUM
1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. UU No.35 Tahun 2009: tentang Narkoba
3. UU No. 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka
4. UU No. 35 Tahun 2014: tentang Perlindungan Anak
5. PP No. 19 Tahun 2005 jo. PP No. 32 Tahun 2013 jo. PP No 57 tahun 2021 jo. PP No. 4
tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan
6. PP No. 74 Tahun 2008 : Tentang Guru
7. Permendiknas No. 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan
8. Permendikbud No. 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler Dikdasmen.
9. Permendikbud No. 23 Tahun 2015: tentang Penciptaan Iklim Sekolah Yang
Menyenangkan dan Penumbuhan Budi Pekerti
10. Permendikbud No. 64 Tahun 2015: tentang Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan
Sekolah.
11. Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023 Tentang Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan
12. Surat Keputusan Kepala SMP Kristen YPKPM Ambon Nomor: //SMPN1/ /2023
Tentang Pembentukan Satuan Tugas Tim Pencegahan Dan Penanganan Kekerasan SMP
Negeri 1 Teriak Tahun Pelajaran 2024/2025.
3
C. PENGERTIAN
Dalam Program kerja tppk ini yang dimaksud dengan:
1. Pencegahan adalah tindakan, cara, atau proses yang dilakukan agar seseorang atau
sekelompok orang tidak melakukan Kekerasan di satuan pendidikan.
2. Penanganan adalah tindakan, cara, atau proses untuk menyelesaikan Kekerasan di satuan
pendidikan.
3. Kekerasan adalah setiap perbuatan, tindakan, dan keputusan terhadap seseorang yang
berdampak menimbulkan rasa sakit, luka, atau kematian, penderitaan seksual/reproduksi,
berkurang atau tidak berfungsinya sebagian dan seluruh anggota tubuh secara fisik,
intelektual atau mental, hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan atau
pekerjaan dengan aman dan optimal, hilangnya kesempatan untuk pemenuhan hak asasi
manusia, ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak,
rasa tidak berdaya, kerugian ekonomi, dan bentuk kerugian lain yang sejenis.
4. Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan SMP KRISTEN YPKPM AMBON yang
selanjutnya disingkat TPPK adalah tim yang dibentuk satuan pendidikan untuk
melaksanakan upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di SMP Negeri 1 Teriak.
5. Komite Sekolah adalah lembaga mandiri yang beranggotakan orang tua/wali peserta
didik, komunitas satuan pendidikan, serta tokoh masyarakat yang peduli pendidikan di
SMP KRISTEN YPKPM AMBON , Warga Satuan Pendidikan adalah peserta didik,
pendidik, Tenaga Kependidikan lainnya yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan di
lingkungan satuan pendidikan.
6. Warga Satuan Pendidikan Lainnya adalah masyarakat yang beraktivitas atau yang
bekerja di lingkungan satuan pendidikan.
7. Aparatur Sipil Negara yang selanjutnya disingkat ASN adalah profesi bagi Pegawai
Negeri Sipil dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja yang bekerja pada
Instansi Pemerintah.
8. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai Guru, Konselor,
Pamong Belajar, Widyaiswara, Tutor, Instruktur, Fasilitator, dan sebutan lain yang
sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
9. Tenaga Kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat
untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan.
4
10. Peserta Didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri
melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan
tertentu.
11. Korban adalah setiap orang yang mengalami Kekerasan.
12. Pelapor adalah setiap orang yang melaporkan mengenai Kekerasan yang dialami
atau diketahui.
13. Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan atas apa yang didengar, dilihat,
dan dialami terhadap dugaan terjadinya Kekerasan.
14. Terlapor adalah setiap orang yang diduga melakukan Kekerasan terhadap Korban.
15. Masyarakat adalah perseorangan, kelompok, dan organisasi kemasyarakatan.
F. SASARAN
Sasaran dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan SMP
Kristen YPKPM Ambon
1. Peserta Didik
2. Pendidik
3. Tenaga Kependidikan
4. Orang Tua/Wali
5. Komite Sekolah
6. Masyarakat.
6
H. BENTUK KEKERASAN
Bentuk kekerasan yang dimaksud terdiri atas:
1. Kekerasan fisik.
2. Kekerasan psikis.
3. Perundungan.
4. Kekerasan seksual.
5. Diskriminasi dan intoleransi.
6. Kebijakan yang mengandung Kekerasan.
7. Bentuk Kekerasan lainnya.
I. CARA KEKERASAN
1. Fisik, dilakukan oleh pelaku kepada Korban dengan kontak fisik oleh pelaku kepada
Korban dengan atau tanpa menggunakan alat bantu, berupa:
a. Tawuran atau perkelahian massal.
b. Penganiayaan.
c. Perkelahian.
d. Eksploitasi ekonomi melalui kerja paksa untuk memberikan keuntungan ekonomi
bagi pelaku.
e. Pembunuhan.
f. Perbuatan lain yang dinyatakan sebagai kekerasan fisik dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan.
2. Psikis, adalah setiap perbuatan nonfisik yang dilakukan bertujuan untuk
merendahkan, menghina, menakuti, atau membuat perasaan tidak nyaman, berupa:
a. Pengucilan
b. Penolakan
c. Pengabaian
d. Penghinaan
e. Penyebaran rumor
f. Panggilan yang mengejek
g. Intimidasi
h. Teror
7
i. Perbuatan mempermalukan di depan umum
j. Pemerasan
k. Perbuatan lain yang sejenis
3. Perundungan, merupakan Kekerasan fisik atau psikis yang dilakukan secara berulang
karena ketimpangan relasi kuasa.
4. Kekerasan seksual, merupakan setiap perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan,
dan menyerang tubuh, dan fungsi reproduksi seseorang, karena ketimpangan relasi kuasa
dan gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan psikis dan fisik termasuk
yang mengganggu kesehatan reproduksi seseorang dan hilang kesempatan melaksanakan
pendidikan dan pekerjaan dengan aman dan optimal, berupa:
a. Penyampaian ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi
tubuh, dan identitas gender Korban.
b. Perbuatan memperlihatkan alat kelamin dengan sengaja.
c. Penyampaian ucapan yang memuat rayuan, lelucon, dan siulan yang bernuansa
seksual pada Korban.
d. Perbuatan menatap Korban dengan nuansa seksual dan membuat Korban merasa
tidak nyaman.
e. Pengiriman pesan, lelucon, gambar, foto, audio, dan video bernuansa seksual kepada
Korban.
f. Perbuatan mengambil, merekam, dan mengedarkan foto dan rekaman audio dan
visual Korban yang bernuansa seksual.
g. Perbuatan mengunggah foto tubuh dan informasi pribadi Korban yang bernuansa
seksual.
h. Penyebaran informasi terkait tubuh dan pribadi Korban yang bernuansa seksual.
i. Perbuatan mengintip atau dengan sengaja melihat Korban yang sedang
melakukan kegiatan secara pribadi dan pada ruang yang bersifat pribadi.
j. Perbuatan membujuk, menjanjikan, atau menawarkan sesuatu Korban untuk
melakukan transaksi atau kegiatan seksual.
k. Pemberian hukuman atau sanksi yang bernuansa seksual.
l. Perbuatan menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium, dan
menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh Korban.
8
m. Perbuatan membuka pakaian Korban.
n. Pemaksaan terhadap Korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual.
o. Praktik budaya komunitas Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan yang
bernuansa Kekerasan Seksual.
p. Percobaan perkosaan walaupun penetrasi tidak terjadi.
q. Perkosaan termasuk penetrasi dengan benda atau bagian tubuh selain alat kelamin.
r. Pemaksaan atau perbuatan memperdayai Korban untuk melakukan aborsi.
s. Pemaksaan atau perbuatan memperdayai Korban untuk hamil.
t. Pembiaran terjadinya Kekerasan seksual dengan sengaja.
u. Pemaksaan sterilisasi.
v. Penyiksaan seksual.
w. Eksploitasi seksual.
x. Perbudakan seksual.
y. Tindak pidana perdagangan orang yang ditujukan untuk eksploitasi seksual.
z. Perbuatan lain yang dinyatakan sebagai Kekerasan seksual dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Catatan:
1. Dalam hal Korban merupakan Peserta Didik berusia anak atau penyandang disabilitas,
Kekerasan seksual dilakukan dengan persetujuan atau tanpa persetujuan Korban.
2. Dalam hal Korban sebagai Pendidik, Tenaga Kependidikan, atau orang dewasa lainnya,
Kekerasan seksual jika dilakukan tanpa persetujuan Korban.
3. Tanpa persetujuan Korban, tidak berlaku bagi Korban sebagai Pendidik, Tenaga
Kependidikan, atau orang dewasa lainnya yang dalam kondisi:
a. Mengalami situasi dimana pelaku mengancam, memaksa, dan
menyalahgunakan kedudukannya.
b. Mengalami kondisi di bawah pengaruh obat- obatan, alkohol, dan narkoba.
c. Mengalami sakit, tidak sadar, tidak berdaya, atau tertidur.
d. Memiliki kondisi fisik dan psikologis yang rentan.
e. Mengalami kelumpuhan atau hambatan motorik sementara (tonic immobility).
f. Mengalami kondisi terguncang.
4. Diskriminasi dan intoleransi, merupakan setiap perbuatan Kekerasan dalam bentuk
pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan suku/etnis,
agama,
9
kepercayaan, ras, warna kulit, usia, status sosial ekonomi, kebangsaaan, jenis kelamin,
dan kemampuan intelektual, mental, sensorik, serta fisik, dapat berupa:
a. larangan untuk:
1) Menggunakan seragam/pakaian kerja bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga
Kependidikan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan-undangan
mengenai pengaturan seragam sekolah maupun seragam Pendidik dan Tenaga
Kependidikan.
2) Mengikuti mata pelajaran agama/kepercayaan yang diajar oleh Pendidik sesuai
dengan agama/kepercayaan Peserta Didik yang diakui oleh Pemerintah.
3) Mengamalkan ajaran agama atau kepercayaan yang sesuai keyakinan agama atau
kepercayaan yang dianut oleh Peserta Didik, Pendidik, atau Tenaga
Kependidikan;
b. Pemaksaan untuk:
1) Menggunakan seragam/pakaian kerja bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga
Kependidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan mengenai pengaturan seragam sekolah.
2) Mengikuti mata pelajaran agama/kepercayaan yang diajar oleh Pendidik yang
tidak sesuai dengan agama/kepercayaan Peserta Didik yang diakui oleh
Pemerintah.
3) Mengamalkan ajaran agama atau kepercayaan yang tidak sesuai keyakinan
agama atau kepercayaan yang dianut oleh Peserta Didik, Pendidik, atau Tenaga
Kependidikan.
c. Mengistimewakan calon pemimpin/pengurus organisasi berdasarkan latar belakang
identitas tertentu.
d. Larangan atau pemaksaan kepada Peserta Didik, Pendidik, atau Tenaga
Kependidikan untuk.
e. Mengikuti atau tidak mengikuti perayaan hari besar keagamaan yang dilaksanakan di
satuan pendidikan yang berbeda dengan agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang
Maha Esa sesuai dengan yang diyakininya.
f. Memberikan donasi/bantuan dengan alasan latar belakang suku/etnis, agama,
kepercayaan, ras, warna kulit, usia, status sosial ekonomi, kebangsaaan, jenis
kelamin, dan kemampuan intelektual, mental, sensorik, serta fisik.
10
g. Perbuatan mengurangi, menghalangi, atau tidak memberikan hak atau kebutuhan
Peserta Didik, untuk:
1) Mengikuti proses penerimaan Peserta Didik.
2) Menggunakan sarana dan prasarana belajar dan akomodasi yang layak.
3) Menerima bantuan pendidikan atau beasiswa yang menjadi hak Peserta Didik.
4) Memiliki kesempatan dalam mengikuti kompetisi.
5) Memiliki kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau melanjutkan pendidikan
pada jenjang berikutnya.
6) Memperoleh hasil penilaian pembelajaran.
7) Naik kelas.
8) Lulus dari satuan pendidikan.
9) Mengikuti bimbingan dan konsultasi.
10) Memperoleh dokumen pendidikan yang menjadi hak Peserta Didik.
11) Memperoleh bentuk layanan pendidikan lainnya yang menjadi hak Peserta Didik.
12) Menunjukkan/menampilkan ekspresi terhadap seni dan budaya yang diminati.
13) Mengembangkan bakat dan minat Peserta Didik sesuai dengan sumber daya atau
kemampuan yang dimiliki oleh Satuan Pendidikan.
14) Perbuatan mengurangi, menghalangi, atau membedakan hak dan kewajiban
Pendidik atau Tenaga Kependidikan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
h. Perbuatan diskriminasi dan intoleransi lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
i. Pemaksaan atas perbuatan termasuk perbuatan meminta atau mengimbau karena ada
ketimpangan relasi kuasa, superioritas, atau senioritas
5. Kebijakan yang mengandung Kekerasan, merupakan kebijakan yang berpotensi atau
menimbulkan terjadinya Kekerasan yang dilakukan oleh Pendidik, Tenaga
Kependidikan, anggota Komite Sekolah, kepala satuan pendidikan, dan kepala Dinas
Pendidikan, berupa tertulis (Surat Keputusan, Surat Edaran, Nota Dinas, Pedoman, dan
Bentuk Kebijakan Tertulis lainnya) maupun tidak tertulis (himbauan, instruksi, dan
bentuk tindakan lainnya).
11
J. CARA MELAKUKAN
1. Verbal dan Non-verbal
2. Fisik
3. Melalui media teknologi informasi dan komunikasi.
12
BAB II
PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEKERASAN DI SMP NEGERI 1 TERIAK
B. EDUKASI
Upaya edukasi dilakukan, dengan cara:
1. Melakukan sosialisasi tata tertib dan program dalam rangka Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan di lingkungan satuan pendidikan kepada seluruh Warga Satuan Pendidikan
dan orang tua/wali Peserta Didik termasuk bagi penyandang disabilitas (Saat MPLS dan
kegiatan lain /elektronik dan non-elektronik).
13
2. Melaksanakan penguatan karakter melalui implementasi nilai Pancasila dan
menumbuhkan budaya pendidikan tanpa Kekerasan kepada seluruh Warga Satuan
Pendidikan melalui;
a. Program Roots Pencegahan Perundungan
b. P5 Topik Pencegahan Kekerasan dan Perundungan
c. Seminar/workshop Pencegahan Kekerasan dan Perundungan dengan melibatkan
pihak terkait
14
BAB III
TIM PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KEKERASAN DI SMP KRISTEN
YPKPM AMBON
A. KETENTUAN TPPK
1. Satuan pendidikan membentuk TPPK.
2. TPPK diangkat dan ditetapkan oleh kepala satuan pendidikan SMP KRISTEN YPKPM
AMBON
B. TUGAS TPPK
Melaksanakan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan satuan pendidikan.
C. FUNGSI TPPK
1. Menyampaikan usulan/rekomendasi program Pencegahan Kekerasan kepada kepala
satuan pendidikan.
2. Memberikan masukan/saran kepada kepala satuan pendidikan mengenai fasilitas
yang aman dan nyaman di satuan pendidikan.
3. Melaksanakan sosialisasi kebijakan dan program terkait Pencegahan dan Penanganan
Kekerasan bersama dengan satuan pendidikan.
4. Menerima dan menindaklanjuti laporan dugaan kekerasan.
5. Melakukan Penanganan terhadap temuan adanya dugaan Kekerasan di lingkungan
satuan pendidikan.
6. Menyampaikan pemberitahuan kepada orang tua/wali dari Peserta Didik yang
terlibat kekerasan.
7. Memeriksa laporan dugaan kekerasan.
8. Memberikan rekomendasi sanksi kepada kepala satuan pendidikan berdasarkan hasil
pemeriksaan.
9. Mendampingi Korban dan Pelapor Kekerasan di lingkungan satuan pendidikan.
10. Memfasilitasi pendampingan oleh ahli atau layanan lainnya yang dibutuhkan
Korban, Pelapor, dan Saksi.
11. Memberikan rujukan bagi Korban ke layanan sesuai dengan kebutuhan Korban
Kekerasan.
12. Memberikan rekomendasi pendidikan anak dalam hal Peserta Didik yang terlibat
Kekerasan merupakan Anak yang Berhadapan
15 dengan Hukum.
13. Melaporkan pelaksanaan tugas kepada Kepala Dinas Pendidikan melalui kepala satuan
pendidikan minimal 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.
D. WEWENANG TPPK
1. Memanggil dan meminta keterangan Pelapor, Korban, Saksi, Terlapor, orang
tua/wali, pendamping, dan ahli.
2. Berkoordinasi dengan pihak terkait dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan.
3. Berkoordinasi dengan satuan pendidikan lain terkait laporan Kekerasan yang melibatkan
Korban, Saksi, Pelapor, dan Terlapor dari satuan pendidikan yang bersangkutan.
F. KEANGGOTAAN TPPK
1. Berjumlah gasal dan minimal 3 (tiga) orang.
2. Terdiri atas perwakilan:
a. Pendidik yang tidak ditugaskan sebagai kepala satuan pendidikan.
b. Komite Sekolah atau perwakilan Orang tua/Wali.
3. Dapat ditambahkan Tenaga Administrasi yang berasal dari perwakilan
Tenaga Kependidikan.
4. Syarat:
a. Tidak pernah terbukti melakukan Kekerasan.
b. Tidak pernah terbukti dijatuhi hukuman pidana dengan ancaman pidana 5 (lima)
tahun atau lebih yang telah berkekuatan hukum tetap.
c. Tidak pernah dan tidak sedang menjalani hukuman disiplin pegawai tingkat sedang
atau berat.
d. Persyaratan dituangkan dalam surat pernyataan yang ditandatangani dan dibubuhi
materai.
5. Dalam hal calon anggota TPPK memberikan pernyataan yang tidak sesuai, dapat
dilakukan tindakan hukum.
16
6. Dipimpin oleh koordinator yang berasal dari unsur Pendidik.
7. Masa tugas selama 2 tahun dan dapat diangkat kembali.
H. EVALUASI TPPK
Dilakukan oleh Kepala Satuan Pendidikan atau Kepala Dinas Pendidikan minimal 1 kali
dalam 1 tahun.
17
2. TPPK dilarang:
a. Melakukan pembiaran terjadinya Kekerasan yang mengakibatkan:
1) Luka fisik berat
2) Kerusakan fisik permanen
3) Kematian
4) Trauma psikologis berat
b. Melakukan penyebaran identitas Korban, Saksi, Terlapor, maupun pihak terkait dan
informasi kasus berjalan kepada publik.
3. Sanksi bagi TPPK yang melanggar:
a. Diberikan sanksi oleh kepala satuan pendidikan.
b. Kepala satuan pendidikan dan TPPK yang berstatus ASN diberikan sanksi sesuai
dengan peraturan perundangan-undangan.
4. Bentuk Sanksi , berupa:
a. Teguran tertulis.
b. Pernyataan permohonan maaf tertulis yang disampaikan melalui papan pengumuman
di satuan pendidikan dan media massa.
c. Pemberhentian dari jabatan keanggotaan TPPK.
18
BAB IV
TATA CARA PENANGANAN KEKERASAN
19
E. PENDAMPINGAN PENANGAN KEKERASAN
1. Dilakukan oleh : satuan pendidikan, pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan, atau
Kementerian.
2. Pendampingan diberikan kepada:
a. Korban, Saksi, Terlapor berusia anak, atau pelaku berusia anak, yang berstatus
Peserta Didik.
b. Korban atau Saksi yang berstatus Pendidik atau Tenaga Kependidikan.
3. Difasilitasi oleh TPPK melalui koordinasi dengan Satuan Tugas dengan
menggunakan layanan yang disediakan oleh pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangan.
4. Pendampingan berupa:
a. Konseling
b. Layanan kesehatan
c. Bantuan hukum
d. Advokasi
e. Bimbingan sosial dan rohani
f. Layanan pendampingan lain.
5. Jika Korban atau Saksi penyandang disabilitas, pendampingan dilakukan dengan
memperhatikan kebutuhan ragam penyandang disabilitas.
6. Pendampingandilakukan berdasarkan persetujuan Korban, Saksi, Terlapor berusia anak,
atau pelaku berusia anak, yang berstatus Peserta Didik.
7. Jika Korban, Saksi, Terlapor, atau pelaku berusia anak, persetujuan dapat diberikan oleh
orang tua/wali Korban atau pendamping.
H. TEKNIS PEMERIKSAAN
1. TPPK atau Satuan Tugas menyampaikan panggilan kepada Pelapor/Korban, Saksi, dan
Terlapor melalui:
a. Surat panggilan secara tertulis.
b. Panggilan secara lisan.
2. Jika Pelapor, Korban, dan Saksi merupakan Peserta Didik , panggilan disampaikan
kepada orang tua/walinya.
3. Jika Terlapor tidak hadir sampai panggilan ketiga, pemeriksaan dilanjutkan tanpa
kehadiran Terlapor.
I. TEKNIS PEMERIKSAAN
1. TPPK melakukan pemeriksaan atas laporan dugaan Kekerasan.
2. TPPK merahasiakan identitas Korban, Saksi, dan Peserta Didik Terlapor sesuai dengan
ketentuan Peraturan Perundang-undangan.
21
J. TUJUAN PEMERIKSAAN
Tujuan pemerikan untuk mengumpulkan:
1. Keterangan dari Pelapor/Korban, Saksi, dan Terlapor.
2. Bukti lain yang diperlukan.
22
N. PENYUSUNAN KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1. Dilakukan TPPK sebagai bagian dari laporan hasil pemeriksaan.
2. Kesimpulan memuat informasi:
a. terbukti adanya Kekerasan.
b. tidak terbukti adanya Kekerasan.
3. Kesimpulan minimal memuat informasi:
a. Identitas Terlapor
b. Bentuk Kekerasan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini
c. Pernyataan terbukti atau tidak terbukti adanya Kekerasan.
4. Jika terbukti adanya Kekerasan , maka rekomendasi memuat:
a. Sanksi administratif kepada pelaku.
b. Pemulihan Korban/Pelapor dan Saksi dalam hal belum dilakukan atau sepanjang
masih dibutuhkan.
c. Tindak lanjut keberlanjutan layanan pendidikan.
5. Jika tidak terbukti adanya Kekerasan, maka rekomendasi memuat:
a. Tindak lanjut keberlanjutan layanan pendidikan.
b. Pemulihan nama baik Terlapor.
O. PENYAMPAIAN LAPORAN
Dilakukan TPPK kepada kepala satuan pendidikan SMP Kristen YPKPM Ambon
atau Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Ambon sesuai dengan kewenangan.
23
3) Satuan Pendidikan, dalam hal keputusan ditandatangani oleh Kepala Dinas.
4) Jika Terlapor Peserta Didik, maka salinan keputusan disampaikan kepada Orang
tua/Wali Peserta Didik.
24
BAB V
SANKSI, PENGAJUAN KEBERATAN, PEMULIHAN
Tingkat Sanksi administratif bagi Terlapor Pendidik dan Tenaga Kependidikan non-
ASN, terdiri atas:
1. Ringan:
a. Teguran tertulis.
b. Pernyataan permohonan maaf secara tertulis yang dipublikasikan di media publikasi
yang dimiliki satuan pendidikan.
2. Sedang:
a. Pengurangan hak
b. Pemberhentian sementara dari jabatan sebagai Pendidik/Tenaga Kependidikan.
25
3. Berat:
berupa pemutusan/pemberhentian hubungan kerja, jika:
1) Terbukti melakukan Kekerasan dan melakukan pembiaran terjadinya Kekerasan
yang mengakibatkan:
a) Luka fisik berat
b) Kerusakan fisik permanen
c) Kematian
d) Trauma psikologis berat
2) Terbukti melakukan Kekerasan minimal 3 (tiga) kali dalam masa jabatannya
yang mengakibatkan luka fisik ringan atau dampak psikologis ringan.
26
4. Pembiayaan program konseling dibebankan pada pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangan.
5. Selama mengikuti program konseling, Peserta Didik dapat mengikuti pembelajaran baik
secara luring atau daring selama atau setelah selesai konseling.
6. Lembaga atau perangkat daerah melaporkan pelaksanaan konseling secara berkala
kepada Satuan Tugas.
7. Satuan Tugas memberikan laporan hasil program konseling kepada Dinas Pendidikan
untuk menilai kesiapan Peserta Didik mengikuti proses pembelajaran di satuan
pendidikan baru.
8. Satuan Tugas dan TPPK mendampingi proses reintegrasi Peserta Didik di lingkungan
satuan pendidikan baru.
9. Satuan Tugas melaporkan perkembangan pendampingan dan proses reintegrasi Peserta
Didik kepada Dinas Pendidikan minimal 30 (tiga puluh) hari kerja setelah Peserta Didik
memulai proses pembelajaran di lingkungan satuan pendidikan baru.
10. Satuan Tugas dan Dinas Pendidikan menjamin Peserta Didik dapat mengikuti
pembelajaran dengan nyaman dan aman pada satuan pendidikan baru.
27
e. Pelaku merupakan anggota TPPK, Satuan Tugas, kepala satuan pendidikan,
Pendidik, atau Tenaga Kependidikan lainnya di satuan pendidikan.
Catatan: Hal lain tentang Pemberian sanksi administratif yang diatur dalam peraturan ini
tidak menyampingkan pengenaan sanksi administratif lain dan sanksi pidana sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
F. KEBERATAN PUTUSAN
1. Jika keputusan dianggap tidak adil, maka Korban atau pelaku dapat mengajukan
keberatan, dan disampaikan kepada:
a. Satuan Tugas atas putusan yang dikeluarkan oleh TPPK.
b. Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangan atas putusan yang dikeluarkan
oleh Satuan Tugas.
2. Durasi Pengajuan keberatan diajukan oleh Korban atau pelaku maksimal 30 (tiga puluh)
hari kerja sejak putusan diterima.
3. Jika pelaku merupakan Pendidik atau Tenaga Kependidikan ASN, pengajuan keberatan
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. Satuan Tugas atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan menindaklanjuti
pengajuan keberatan dengan melakukan evaluasi terhadap:
a. Putusan yang dikeluarkan oleh TPPK.
b. Putusan yang dikeluarkan oleh Satuan Tugas.
5. Evaluas berupa pemeriksaan terhadap putusan dan dokumen pendukung.
6. Satuan Tugas atau pemerintah daerah sesuai kewenangannya dalam melakukan evaluasi
dapat meminta keterangan dari pihak terkait atau meminta dokumen lain yang
diperlukan.
7. Satuan Tugas atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan berdasarkan hasil
evaluasi s menyatakan:
a. menguatkan putusan TPPK atau Satuan Tugas.
b. mengubah putusan berupa:
1) Meringankan sanksi
2) Memberatkan sanksi
3) Membatalkan putusan
28
c. Hasil evaluasi berupa pengubahan putusan atau pembatalan putusan TPPK atau
Satuan Tugas diberikan setelah dilakukan pemeriksaan ulang oleh Satuan Tugas atau
pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan.
d. Tindak lanjut terhadap Pembatalan putusan TPPK atau Satuan Tugas dilakukan
melalui:
1) Pemulihan nama baik pelaku
2) Pengenaan sanksi administratif bagi Terlapor.
e. Jika terjadinya Kekerasan melalui kebijakan pendidikan, Satuan Tugas atau
pemerintah daerah sesuai kewenangan berdasarkan hasil evaluasi merekomendasikan
TPPK atau Satuan Tugas untuk mengubah putusan, dengan menyatakan pembatalan
atau pencabutan kebijakan pendidikan yang:
1) Mengandung unsur Kekerasan.
2) Telah menimbulkan terjadinya Kekerasan.
f. Putusan Satuan Tugas atau pemerintah daerah sesuai dengan kewenangan atas
pengajuan keberatan bersifat final.
g. Putusan atas pengajuan keberatan dijatuhkan maksimal 30 (tiga puluh) hari sejak
pengajuan keberatan diterima.
G. PEMULIHAN
1. Pemulihan terhadap Korban, Saksi, dan pelaku Peserta Didik berusia anak dapat
dilakukan sejak pelaporan diterima oleh TPPK atau Satuan Tugas.
2. TPPK atau Satuan Tugas melakukan identifikasi dampak psikis, fisik, proses
pembelajaran, dan pekerjaan yang dialami Korban, Saksi, dan pelaku Peserta Didik
berusia anak sejak tindakan Kekerasan diketahui atau dilaporkan.
3. Identifikasi dampak yang dialami Korban, Saksi, dan pelaku Peserta Didik berusia anak
bertujuan untuk menentukan layanan pemulihan yang dibutuhkan Korban, Saksi, dan
pelaku Peserta Didik berusia anak.
4. Dalam melakukan identifikasi dampak dan pemulihan TPPK atau Satuan Tugas dapat
mengikutsertakan psikolog/konselor, tenaga medis, tenaga kesehatan, pekerja sosial,
rohaniawan, dan profesi lainnya sesuai kebutuhan.
29
5. Layanan pemulihan terhadap Korban, Saksi, dan pelaku Peserta Didik berusia anak
dilaksanakan oleh TPPK dan Satuan Tugas dengan difasilitasi oleh Pemerintah Daerah
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
6. Ketentuan mengenai usia anak dikecualikan bagi Korban, Saksi, dan pelaku Peserta
Didik penyandang disabilitas mental dan disabilitas intelektual.
30
BAB VI
HAK KORBAN, PELAPOR, SAKSI, DAN PESERTA DIDIK SEBAGAI TERLAPOR
DALAM PENANGANAN KEKERASAN
B. HAK SAKSI
Hak bagi Korban, Pelapor, Saksi, dan Peserta Didik sebagai Terlapor sebagaimana
dimaksud pada sub bab A, B, dan C yang merupakan penyandang disabilitas, diberikan
dengan memperhatikan dan mempertimbangkan ragam disabilitas.
31
E. PERLINDUNGAN ATAS KERAHASIAAN IDENTITAS DAN INFORMASI KASUS
32
BAB VII
PARTISIPASI MASYARAKAT
A. PARTISIPASI MASYARAKAT
Partisipasi Masyarakat Diwujudkan dengan:
1. Menyebarluaskan materi atau informasi.
2. Turut serta dalam program atau kegiatan pendidikan.
3. Melaporkan Kekerasan yang terjadi.
4. Memantau penyelenggaraanya.
5. Mendukung pelaksanaan pemenuhan hak dan perlindungan bagi Korban, Saksi, dan
Pelapor.
6. Mendukung pelaksanaan perlindungan bagi Terlapor berusia anak.
7. Bentuk partisipasi lain yang mendukung.
33
BAB VIII
PENGELOLAAN DATA KASUS KEKERASAN
34
BAB IX
PENDANAAN
35
BAB X
INDIKATOR KEBERHASILAN TPPK
Adalah ukuran yang digunakan untuk menilai apakah program yang dirumuskan berhasil
atau tidak. Apabila indikator keberhasilan telah dapat dicapai, maka program dapat dikatakan
berhasil; sebaliknya apabila indikator keberhasilan belum dapat dicapai, maka program dapat
dikatakan belum berhasil.
Indikator harus ditentukan agar program yang ditetapkan dapat diukur keberhasilannya.
Indikator keberhasilan setiap program bisa berkaitan dengan proses dan dapat juga berkaitan
langsung dengan hasil akhir. Indikator keberhasilan dapat bersifat kuantitatif atau kualitatif,
yang paling terpenting yakni dapat diukur dan dirumuskan secara spesifik, operasional, dan
dalam bentuk kalimat pernyataan.
37
BAB XI
PENUTUP
A. KESIMPALAN
Sebagaimana program-program yang telah dipaparkan di atas maka perlu adanya
kerjasama seluruh elemen sekolah dari mulai stakeholder sampai dengan peserta didik dan
lingkungan masyarakat.
Keberhasilan dan kelancaran suatu kegiatan diperlukan sarana penunjang yang lengkap,
perencanaan yang matang, dan pembagian tugas (Job Discriptions) yang jelas. Agar semua
hambatan yang mungkin timbul dapat dikurangi semaksimal mungkin diperlukan
pengawasan dan pembinaan yang baik disertai rasa tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi
dari seluruh tenaga pelaksana.
Pengumpulan data yang akurat dan ketelitian dalam setiap melaksanakan tugas sangat
diperlukan guna penyusunan laporan yang cepat dan tepat. Semua kegiatan yang
dilaksanakan, baik langsung oleh sekolah maupun oleh Peserta Didik yang berkaitan dengan
pengembangan kepribadian yang berprofile Pelajar Pancasila harus selalu terencana dengan
baik dan matang sehingga tidak terjadi Tindakan kekerasan, yaitu dengan selalu membuat
rencana program kerja atau kegiatan dan rencana anggaran kegiatan.
Semua rencana harus dilaksanakan dengan baik sesuai dengan agenda sekolah dan selalu
dipantau oleh kepala sekolah melalui Koordinator TPPK .
Peran serta yang sangat aktif dari seluruh anggota TPPK dan Peserta Didik sangat
diharapkan demi terwujudnya kepribadian Peserta Didik yang Pancasilais.
Dengan selesainya Program Kerja TPPK 2024/2025 ini, kami selalu berdoa kepada
Tuhan yang maha Esa semoga selalu melimpahkan berkat dan kasih-Nya kepada kami
keluarga besar SMP KRISTEN YPKPM AMBON, sehingga dapat melaksanakan Program
ini dengan baik.
Akhirnya tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam membuat Program Kerja Koordinator TPPK ini, semoga Tuhan selalu
memberkati kita semu dengan berkat melimpah kasih dan sukacita untuk SARAN, KRITIK,
DAN KONSULTASI Kami sebagai TPPK.
38
menyadari sebagai manusia biasa tentu banyak kekurangannya oleh karena itu saran dan
kritik yang bersifat membangun diterima dengan tangan terbuka, harapannya agar masa
yang akan datang lebih baik.
Mengetahui
Koordinator TPPK KepalaSMPKristenYPKPM Ambon
39
DOKUMENTASI TPPK
40
41