TUGAS UAS AL-QUR’AN
Dosen Pengampu: Ahmad Khalakul, [Link]
LILIK AZIZAH
240105163
PROGRAM STUDI TADRIS IPS EKONOMI
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM
2025
A. 10 Nama Lain Al-Qur’an
Al-Qur’an memiliki banyak nama lain yang masing-masing menggambarkan sifat atau
karakteristiknya. Nama-nama tersebut menunjukkan keagungan, kemuliaan dan keistimewaan
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Muslim, 10 nama lain Al-Qur’an diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Al-Kitab (Kitab Suci)
2. Ad-Dzikr (Peringatan)
3. Al-Furqan (Pembeda)
4. An-Nur (Cahaya)
5. Ash-Shifa’ (Penyembuh)
6. Al-Huda (Petunjuk)
7. Al-Wahy (Wahyu)
8. Ar-Rabbani (Buku Tuhan)
9. Al-Mubarak (Yang Diberkati)
10. Al-Mubin (Yang Jelas)
B. Tiga Isi Kandungan Al-Qur’an
Berikut 3 kandungan utama dalam Al-Quran:
1. Akidah (Keyakinan/Kepercayaan)
- Al-Quran mengajarkan tentang keyakinan kepada Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa,
dan meyakini ajaran-ajaran lain yang terkait dengan akidah Islam.
- Misalnya ajaran mengenai keesaan Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para nabi dan rasul,
hari akhir, serta ketentuan hukum dan takdir.
2. Syariah (Hukum/Aturan)
- Al-Quran menetapkan berbagai hukum dan aturan yang mengatur tentang hubungan manusia
dengan Tuhan (ibadah), hubungan manusia dengan sesama manusia (muamalah), serta peraturan
lainnya.
- Contohnya aturan mengenai salat, zakat, puasa, haji, pernikahan, warisan, dan lain-lain.
3. Akhlak (Perilaku/Moral)
- Al-Quran mengajarkan prinsip-prinsip moral dan etika yang harus dimiliki dan dipraktikkan
oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
- Misalnya sifat jujur, amanah, adil, sabar, rendah hati, saling tolong-menolong, dan akhlak
mulia lainnya.
Ketiga kandungan utama tersebut menjadi landasan dalam memahami dan mengamalkan ajaran-
ajaran Islam yang terkandung di dalam Al-Quran.
C. Tahapan Turunnya Al-Qur’an
Proses turunnya Al-Quran secara bertahap terjadi selama kurang lebih 23 tahun. Berikut adalah
tahapan turunnya Al-Quran:
1. Tahap Pertama (610 M)
- Al-Quran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril
pada bulan Ramadan di Gua Hira.
- Ayat pertama yang diturunkan adalah surah Al-'Alaq ayat 1-5.
2. Tahap Kedua (610 M - 622 M)
- Setelah menerima wahyu pertama, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu-wahyu
berikutnya secara bertahap selama kurang lebih 13 tahun.
- Wahyu-wahyu tersebut diturunkan sesuai dengan peristiwa dan kebutuhan umat Islam saat
itu.
3. Tahap Ketiga (622 M - 632 M)
- Pada tahap ini, turunnya Al-Quran semakin intensif seiring dengan semakin banyaknya
peristiwa yang terjadi.
- Ayat-ayat Al-Quran diturunkan untuk memberikan petunjuk, hukum, dan aturan bagi umat
Islam.
4. Tahap Keempat (632 M)
- Pada tahun 632 M, tepat saat Nabi Muhammad SAW wafat, seluruh ayat Al-Quran telah
diturunkan.
- Al-Quran kemudian dibukukan pada masa Khalifah Abu Bakar agar dapat dijaga keasliannya.
Proses turunnya Al-Quran secara bertahap selama 23 tahun ini memberikan kemudahan bagi
Nabi Muhammad SAW dan umat Islam untuk memahami, mengamalkan, serta menyebarkan
ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya.
D. Sejarah Pemeliharaan Al-Qur’an
Sejarah pemeliharaan Al-Quran dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Masa Nabi Muhammad SAW
- Selama masa hidup Nabi Muhammad SAW (610-632 M), Al-Quran dihafal dan ditulis oleh
para sahabat.
- Nabi Muhammad SAW juga membacakan ayat-ayat Al-Quran kepada para sahabat dan
membimbing mereka dalam memahami dan mengamalkannya.
2. Masa Khulafaur Rasyidin
- Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, Khalifah Abu Bakar (632-634 M) mengumpulkan
Al-Quran dalam satu mushaf untuk menjaga keutuhan dan keasliannya.
- Pada masa Khalifah Usman bin Affan (644-656 M), Al-Quran dibukukan secara resmi dan
dibuat salinannya untuk dikirim ke berbagai wilayah kekuasaan Islam.
3. Masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah
- Pada masa Dinasti Umayyah (661-750 M) dan Dinasti Abbasiyah (750-1258 M), upaya
pemeliharaan dan penyebaran Al-Quran terus dilakukan.
- Banyak ulama yang menulis tafsir, mengkaji qiraat (bacaan), dan mengembangkan ilmu-ilmu
terkait Al-Quran.
4. Masa Modern
- Pada masa modern, upaya pemeliharaan Al-Quran terus berlanjut dengan adanya penerbitan
Al-Quran dalam berbagai bahasa, percetakan Al-Quran yang terstandar, serta pengajaran dan
pengkajian Al-Quran yang semakin meluas.
- Teknologi digital juga memudahkan penyebaran dan pembelajaran Al-Quran di seluruh dunia.
E. Klasifikasi Nuzulul Qur’an dan Kaidah-kaidahnya
Klasifikasi Nuzulul Quran (Turunnya Al-Quran) dan Kaidah-Kaidahnya:
1. Klasifikasi Nuzulul Quran:
a. Makkiyah (Turun di Mekah)
- Ayat-ayat yang turun sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah.
- Umumnya berisi ajaran tentang tauhid, akhirat, dan kisah-kisah nabi terdahulu.
b. Madaniyyah (Turun di Madinah)
- Ayat-ayat yang turun setelah Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah.
- Umumnya berisi hukum-hukum syariah, aturan sosial, dan peraturan masyarakat.
2. Kaidah-Kaidah Nuzulul Quran:
a. Kaidah Umum:
- Al-Quran diturunkan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan dan kondisi umat Islam saat
itu.
- Ayat-ayat Al-Quran tidak diturunkan sekaligus, melainkan secara berangsur-angsur.
b. Kaidah Khusus:
- Ayat Makkiyah lebih banyak membahas masalah akidah, ibadah, dan akhlak.
- Ayat Madaniyyah lebih banyak membahas masalah syariah, hukum, dan mu'amalah.
- Terdapat ayat-ayat yang turun di Mekah namun membahas masalah hukum, dan sebaliknya.
c. Kaidah Lain:
- Ayat-ayat yang turun belakangan berfungsi sebagai penyempurna atau penjelasan atas ayat-
ayat sebelumnya.
- Terdapat ayat-ayat yang memiliki sebab-sebab khusus (asbabun nuzul) turunnya.
F. Makna Ijaz Al-Qur’an dan Unsur-unsur didalamnya
Ijaz Al-Qur'an adalah kemukjizatan Al-Qur'an yang tidak dapat ditandingi oleh manusia. Unsur-
unsur Ijaz Al-Qur'an adalah sebagai berikut:
1. Keindahan dan Keistimewaan Bahasa
- Al-Qur'an memiliki keindahan dan keistimewaan bahasa yang tiada tara, baik dari segi
pemilihan kata, struktur kalimat, maupun gaya bahasanya.
- Keindahan dan keistimewaan bahasa Al-Qur'an tidak dapat ditandingi oleh karya sastra
manusia manapun.
2. Keteraturan dan Keserasian Susunan
- Al-Qur'an memiliki keteraturan dan keserasian yang sempurna dalam susunan ayat, surat, dan
isinya.
- Tidak ada satu pun bagian yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dan
mendukung.
3. Kedalaman Makna dan Kandungan
- Al-Qur'an mengandung ajaran, hukum, prinsip, dan petunjuk yang sangat dalam dan
komprehensif.
- Kandungan Al-Qur'an dapat diaplikasikan dalam segala aspek kehidupan manusia.
4. Ketepatan Berita Ghaib
- Al-Qur'an mengandung banyak berita ghaib (hal-hal yang tidak dapat diketahui manusia)
yang kemudian terbukti kebenarannya.
- Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur'an adalah firman Allah yang Maha Mengetahui segala
sesuatu.
5. Kemampuan Mempengaruhi dan Memberi Petunjuk
- Al-Qur'an memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan memberi petunjuk bagi siapa saja
yang membacanya.
- Baik dari segi pemahaman, penghayatan, maupun pengamalan ajarannya.
Keseluruhan unsur Ijaz Al-Qur'an ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an merupakan mukjizat
terbesar yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia.
G. Perbedaan Antara Ayat Muhkamat dan Ayat Mutasyabihat
Perbedaan antara ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat dalam Al-Qur'an adalah sebagai berikut:
1. Ayat Muhkamat:
- Ayat muhkamat adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang maknanya jelas, tidak ambigu, dan dapat
dipahami dengan mudah.
- Ayat muhkamat memiliki makna yang pasti dan tidak menimbulkan penafsiran yang beragam.
- Contoh ayat muhkamat: "Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia,
Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya)." (QS. Al-Baqarah: 255)
2. Ayat Mutasyabihat:
- Ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat Al-Qur'an yang maknanya samar, ambigu, atau sulit
dipahami.
- Ayat mutasyabihat dapat menimbulkan penafsiran yang beragam dan membutuhkan
pendalaman lebih lanjut.
- Contoh ayat mutasyabihat: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa." (QS. Al-Ikhlas: 1)
Perbedaan lain:
- Ayat muhkamat menjadi dasar dalam penetapan hukum dan akidah.
- Ayat mutasyabihat harus dipahami dengan hati-hati dan diserahkan penafsirannya kepada Allah.
- Hanya Allah yang mengetahui makna sebenarnya dari ayat-ayat mutasyabihat.
Pemahaman tentang ayat muhkamat dan mutasyabihat penting dalam mempelajari dan
menafsirkan Al-Qur'an secara benar dan komprehensif.
H. Contoh Ayat Muhkamat dan Ayat Mutasyabihat dalam Al-Quran
Contoh Ayat Muhkamat:
1. "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada
kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia
memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl: 90)
- Ayat ini menjelaskan perintah Allah untuk berbuat adil, baik, dan melarang perbuatan keji.
Maknanya jelas dan mudah dipahami.
2. "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'." (QS.
Al-Baqarah: 43)
- Ayat ini memerintahkan untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan rukuk bersama
orang yang rukuk. Maknanya pasti dan tidak ambigu.
Contoh Ayat Mutasyabihat:
1. "Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pemurah) bersemayam di atas 'Arsy (singgasana)." (QS.
Taha: 5)
- Ayat ini menggunakan kata "bersemayam" yang dapat menimbulkan penafsiran yang beragam
tentang sifat Allah.
2. "Wajah-Mu (menghadap) ke arah Masjidil Haram (di Mekah)." (QS. Al-Baqarah: 144)
- Ayat ini menggunakan kata "wajah" yang dapat menimbulkan penafsiran tentang sifat Allah.
Ayat-ayat mutasyabihat membutuhkan pemahaman yang mendalam dan diserahkan
penafsirannya kepada Allah. Sedangkan ayat-ayat muhkamat menjadi dasar dalam menetapkan
hukum dan akidah.
I. Perbedaan Antara Tarjamah, Tafsir, Dan Ta'wil
Berikut perbedaan antara tarjamah, tafsir, dan ta'wil beserta contoh masing-masing:
1. Tarjamah (Terjemahan):
- Tarjamah adalah mengalihkan makna atau isi suatu teks bahasa sumber ke dalam bahasa
target.
- Tujuannya adalah untuk memudahkan pemahaman teks bagi pembaca yang tidak menguasai
bahasa sumber.
- Contoh: Terjemahan Al-Quran dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia.
2. Tafsir:
- Tafsir adalah menjelaskan dan menerangkan makna, kandungan, dan hikmah yang
terkandung dalam suatu ayat atau teks.
- Tujuannya adalah untuk memahami dan mengungkap maksud sebenarnya dari suatu ayat atau
teks.
- Contoh: Kitab Tafsir Al-Quran karya Ibnu Katsir atau Tafsir Al-Maraghi.
3. Ta'wil:
- Ta'wil adalah memalingkan makna lahiriah suatu teks kepada makna batiniah atau ta'wil yang
dikehendaki.
- Tujuannya adalah untuk mengungkap makna yang lebih dalam dan lebih luas dari suatu teks.
- Contoh: Memalingkan makna lahiriah ayat tentang "tangan Allah" kepada makna kekuasaan
dan kemampuan Allah.
Perbedaan mendasar:
- Tarjamah hanya mengalihkan makna, tanpa memberikan penjelasan.
- Tafsir menjelaskan makna dan kandungan teks secara mendalam.
- Ta'wil memalingkan makna lahiriah teks kepada makna batiniah yang dikehendaki.
Ketiga hal ini saling terkait dalam memahami dan menafsirkan teks-teks keagamaan, khususnya
Al-Quran.
J. Kronologi Penulisan Makalah
Makalah dengan tema besar Al-Qu’an ini disusun setelah Dosen Pengampu mata kuliah
memberikan tugas UAS take home sebagai pengganti ujian lisan. Tugas makalah ini disusun
selama 2 hari, dimana hari pertama mencari sumber untuk menjawab soal-soal yang diberikan
dan pada hari kedua penulis menyusun makalah ini. Adapun sumber yang digunakan yakni,
buku, catatan, serta beberapa referensi jurnal dari internet.