0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan8 halaman

Modul PBL untuk Tingkatkan Pemecahan Masalah

artikel

Diunggah oleh

dini Lianda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan8 halaman

Modul PBL untuk Tingkatkan Pemecahan Masalah

artikel

Diunggah oleh

dini Lianda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Arus Jurnal Pendidikan

(AJUP)
Website: [Link]
Email: [Link]@[Link]

Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika Berbasis Problem


Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan
Masalah

INFO PENULIS INFO ARTIKEL

Laksmi Nirmala Zega ISSN: 2807-9558


Universitas Nias Vol. 5, No. 2 Agustus 2025
laksminirmalazega011@[Link] [Link]

Yakin Niat Telaumbanua


Universitas Nias
yakinniattelaumbanua@[Link]

Netti Kariani Mendrofa


Universitas Nias
netti.mend14@[Link]

Sadiana Lase
Universitas Nias
sadianalase01@[Link]

© 2025 Arden Jaya Publisher All rights reserved


Saran Penulisan Referensi:

Zega, L. N., Telaumbanua., Y. K., Mendrofa, N. K., & Lase, L. (2025). Pengembangan Modul Pembelajaran
Matematika Berbasis Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah.
Arus Jurnal Pendidikan, 5(2), 179-186.

Abstrak

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan pemecahan masalah


matematis siswa di UPTD SMP Negeri 1 Lolofitu Moi yang berada pada kategori sangat
kurang, serta keterbatasan bahan ajar yang hanya berupa buku paket dengan tingkat
kesulitan tinggi. Kondisi ini menyebabkan siswa kesulitan belajar mandiri dan sangat
bergantung pada guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan
menghasilkan sebuah modul pembelajaran matematika berbasis Problem Based
Learning (PBL) yang teruji valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah siswa. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian dan
Pengembangan (Research and Development) dengan mengadaptasi model
pengembangan ADDIE yang meliputi lima tahapan: Analysis, Design, Development,
Implementation, dan Evaluation. Pengumpulan data dilakukan melalui angket validasi
ahli, angket respon guru dan siswa, serta tes kemampuan pemecahan masalah. Data
yang terkumpul dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa: (1) Modul pembelajaran dinyatakan sangat valid oleh ahli materi,
ahli bahasa, dan ahli desain. (2) Modul pembelajaran dinilai sangat praktis untuk
digunakan, dengan persentase kepraktisan dari respon guru sebesar 98% dan respon
siswa sebesar 97%. (3) Modul pembelajaran terbukti sangat efektif dalam
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, yang ditunjukkan dengan nilai
rata-rata hasil belajar siswa mencapai 83 (kategori sangat baik) dan persentase
ketuntasan belajar klasikal sebesar 91% (kategori sangat efektif). Dengan demikian,
dapat disimpulkan bahwa modul pembelajaran berbasis PBL yang dikembangkan ini
merupakan bahan ajar yang layak dan berhasil mencapai tujuan penelitian.

Kata Kunci: Modul pembelajaran, Problem Based Learning, kemampuan pemecahan


masalah.
180 AJUP/5.2; 179-186; 2025

Abstract

This research was prompted by the low mathematical problem-solving ability of


students at UPTD SMP Negeri 1 Lolofitu Moi, which was in the "very poor" category, and
the limited teaching materials consisting only of textbooks with a high difficulty level.
This condition made it difficult for students to learn independently and caused them to
be highly dependent on the teacher. This study aims to develop and produce a
mathematics learning module based on Problem-Based Learning (PBL) that is tested as
valid, practical, and effective in improving students' problem-solving abilities. This
study employed a Research and Development (R&D) methodology, adapting the ADDIE
development model which includes five stages: Analysis, Design, Development,
Implementation, and Evaluation. Data were collected through expert validation
questionnaires, teacher and student response questionnaires, and a problem-solving
ability test. The collected data were analyzed using both qualitative and quantitative
methods. The results showed that: (1) The learning module was declared highly valid by
material, language, and design experts. (2) The learning module was rated as very
practical for use, with a practicality score of 98% from the teacher's response and 97%
from the students' responses. (3) The learning module was proven to be highly effective
in enhancing students' problem-solving skills, as evidenced by an average post-test
score of 83 (very good category) and a classical completeness rate of 91% (very
effective category). Therefore, it is concluded that the developed PBL-based learning
module is a feasible and successful teaching material that achieved the research
objectives. .

Key Words: Learning Modules, Problem Based Learning Based, Problem Solving Skills.

A. Pendahuluan

Pendidikan memegang peranan krusial sebagai sarana fundamental untuk mengembangkan


potensi diri manusia agar mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan zaman. Pada intinya,
pendidikan adalah proses sadar untuk mengubah individu dari ketidaktahuan menjadi
pengetahuan, yang tidak hanya melibatkan transfer ilmu tetapi juga pembentukan sikap dan
perilaku. Oleh karena itu, inovasi dalam dunia pendidikan harus selaras dengan perkembangan
budaya, mengantisipasi kebutuhan masa depan, dan menjawab tantangan masyarakat modern.
Tujuan luhur ini tercermin dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2003, yang mengamanatkan bahwa pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan serta membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat. Tujuannya
adalah agar siswa berkembang menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Untuk mencapai cita-cita tersebut, pemerintah terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan,
salah satunya melalui pengembangan dan pembaruan kurikulum, seperti yang saat ini berlaku
yaitu Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka.
Kurikulum sendiri didefinisikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isi, bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman dalam kegiatan
pembelajaran. Dalam kerangka kurikulum ini, berbagai mata pelajaran dirancang untuk
membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan, dan salah satu mata
pelajaran yang memiliki peran sentral adalah Matematika.
Matematika sering dijuluki sebagai Queen of Sciences atau ratunya para ilmu, karena
perannya yang sangat vital dalam menopang perkembangan ilmu pengetahuan lain dan
aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kegiatan sederhana hingga keperluan
profesional yang kompleks, matematika menjadi alat bantu yang esensial. Namun, ironisnya,
matematika justru menjadi mata pelajaran yang paling tidak disukai bahkan ditakuti oleh
sebagian besar siswa, yang menganggapnya sebagai pelajaran yang sulit, rumit, dan
membosankan.
Persepsi negatif ini seringkali berujung pada rendahnya hasil belajar siswa. Padahal, peran
guru dan sekolah sangatlah penting untuk mengubah pandangan ini. Guru, sebagai fasilitator di
kelas, bertanggung jawab menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. Salah satu
instrumen pokok yang harus disiapkan guru untuk mencapai tujuan tersebut adalah bahan ajar,
di mana salah satu bentuknya yang paling efektif adalah modul pembelajaran.
AJUP/5.2; 179-186; 2025 181

Modul pembelajaran merupakan bahan ajar yang dirancang secara sistematis untuk
membantu siswa belajar secara mandiri sesuai dengan kecepatan belajarnya masing-masing.
Menurut berbagai ahli dan peraturan pemerintah, modul bertujuan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Dengan modul, siswa didorong untuk berpikir kreatif,
melatih kemampuan evaluasi, menyampaikan gagasan, serta menjadikan proses belajar menjadi
lebih menarik dan terarah.
Meskipun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa masih
mengalami kesulitan, terutama dalam kemampuan pemecahan masalah matematis. Kemampuan
ini merupakan aspek krusial dalam matematika, yang menuntut siswa untuk mengintegrasikan
berbagai konsep dan keterampilan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata.
Menurut Polya, proses pemecahan masalah melibatkan empat tahapan utama: memahami
masalah, merencanakan penyelesaian, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali hasilnya.
Salah satu pendekatan yang diyakini mampu meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah adalah penerapan model pembelajaran yang tepat. Model pembelajaran yang sangat
direkomendasikan dalam kurikulum saat ini adalah Problem Based Learning (PBL). PBL adalah
model pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai konteks bagi siswa untuk
belajar tentang berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, serta untuk memperoleh
pengetahuan dari materi pelajaran.
Berdasarkan hasil observasi awal di UPTD SMP Negeri 1 Lolofitu Moi, ditemukan sejumlah
permasalahan yang menghambat proses belajar matematika. Guru masih cenderung
menggunakan metode ceramah yang monoton, sehingga siswa menjadi pasif, kurang percaya
diri, dan takut untuk bertanya. Selain itu, keterbatasan sumber belajar dan fasilitas yang kurang
memadai membuat pembelajaran menjadi kurang menarik dan partisipasi siswa menjadi
rendah.
Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kemampuan dasar matematika siswa, seperti
perkalian dan pembagian, serta kurangnya minat dan motivasi belajar. Hasil tes awal yang
diberikan kepada siswa kelas VII pada materi sistem persamaan linear dua variabel juga
menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah mereka masih sangat rendah. Hal ini
menegaskan adanya kebutuhan mendesak untuk menerapkan sebuah intervensi pembelajaran
yang lebih inovatif, seperti penggunaan modul berbasis Problem Based Learning, untuk
mengatasi masalah tersebut dan meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan.

B. Metodologi

Proses pengembangan diawali dengan tahap analisis, di mana peneliti mengidentifikasi


kebutuhan mendasar melalui analisis kebutuhan di lapangan, analisis kurikulum yang berlaku,
serta analisis karakteristik peserta didik. Berdasarkan temuan dari tahap ini, proses berlanjut
ke tahap perancangan. Pada fase ini, kerangka atau draf awal modul pembelajaran berbasis
Problem Based Learning mulai disusun, mencakup perancangan tata letak, penyusunan materi
ajar, serta pengembangan instrumen penelitian yang akan digunakan.
Setelah perancangan selesai, penelitian memasuki tahap pengembangan, di mana modul
dan seluruh instrumen pendukungnya direalisasikan menjadi produk akhir. Produk yang telah
jadi kemudian diuji coba pada tahap implementasi, yaitu diterapkan langsung dalam kegiatan
belajar mengajar di kelas untuk melihat kepraktisannya. Tahap terakhir adalah evaluasi, yang
bertujuan untuk mengukur apakah penggunaan modul secara efektif mampu meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, yang dinilai berdasarkan hasil tes.
Uji coba produk dirancang secara komprehensif untuk menilai tiga aspek utama: validitas,
kepraktisan, dan keefektifan. Proses ini dimulai dengan validasi oleh para ahli di bidang materi,
bahasa, dan desain. Setelah dinyatakan valid, modul diuji cobakan secara bertahap, mulai dari
uji perorangan, uji kelompok kecil, hingga uji coba lapangan skala penuh. Subjek yang menjadi
sasaran dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII-A UPTD SMP Negeri 1 Lolofitu Moi.
Untuk mengumpulkan data, penelitian ini menggunakan instrumen kualitatif dan
kuantitatif. Data kualitatif berupa saran dan komentar dari para validator untuk revisi produk.
Sementara itu, data kuantitatif diperoleh dari skor angket validasi ahli, angket respon
kepraktisan dari guru dan siswa, serta hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa setelah menggunakan modul pembelajaran yang telah dikembangkan.
Analisis data untuk validitas dan kepraktisan dilakukan dengan mengubah skor dari skala
Likert menjadi data persentase menggunakan rumus P=(Σxi/Σx)×100%. Sebuah modul
dinyatakan valid jika hasil penilaian ahli mencapai skor di atas 60%, dan dianggap praktis jika
angket respon dari guru dan siswa juga menunjukkan hasil di atas 60%.
182 AJUP/5.2; 179-186; 2025

Sebelum mengukur keefektifan, instrumen tes kemampuan pemecahan masalah itu sendiri
diuji kualitasnya. Pengujian ini meliputi empat aspek: validitas butir soal menggunakan korelasi
product moment, reliabilitas tes, daya pembeda untuk membedakan siswa berkemampuan
tinggi dan rendah, serta tingkat kesukaran soal agar seimbang. Hal ini dilakukan untuk
memastikan bahwa alat ukur yang digunakan benar-benar akurat dan dapat diandalkan.
Akhirnya, analisis keefektifan modul ditentukan dari hasil belajar siswa. Tingkat
kemampuan pemecahan masalah siswa diukur dan dikategorikan berdasarkan skor tes mereka.
Keberhasilan modul dinilai melalui persentase ketuntasan klasikal, yaitu jumlah siswa yang
berhasil mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP). Modul pembelajaran ini
akan dinyatakan efektif apabila persentase ketuntasan klasikal siswa di kelas melampaui 60%.

Gambar 1. Kerangka Penelitian

C. Hasil dan Pembahasan

1. Hasil
Tahap awal dalam pengembangan modul ini adalah analisis, yang dimulai dengan analisis
kebutuhan di UPTD SMP Negeri 1 Lolofitu Moi. Hasil observasi dan wawancara menunjukkan
bahwa proses pembelajaran matematika sangat bergantung pada buku paket yang materinya
dianggap terlalu sulit bagi siswa. Keterbatasan sumber belajar ini, ditambah dengan minimnya
bahan ajar yang relevan dengan Kurikulum Merdeka, menyebabkan siswa cenderung pasif,
tidak mampu belajar mandiri, dan kesulitan dalam mengembangkan kemampuan pemecahan
masalah. Kondisi ini menegaskan adanya kebutuhan mendesak untuk mengembangkan bahan
ajar alternatif yang lebih interaktif dan kontekstual.

Tabel 1. Analisis Kebutuhan dan Kondisi Awal Siswa


Aspek yang Dianalisis Hasil Analisis
Hanya mengandalkan buku paket; materi dianggap sulit
Sumber belajar
oleh siswa.
Ketersediaan bahan ajar Minim bahan ajar yang sesuai Kurikulum Merdeka.
Cenderung pasif, kurang mandiri, kesulitan memecahkan
Aktivitas belajar siswa
masalah.
Nilai tes awal pemecahan masalah Rata-rata 36,05 (kategori sangat kurang).
AJUP/5.2; 179-186; 2025 183

Usia 13–15 tahun (tahap operasional formal menurut


Karakteristik siswa
Piaget).
Suka warna cerah, aktif dalam kelompok, kurang percaya
Kecenderungan belajar
diri saat mandiri.
Modul interaktif, kontekstual, berbasis PBL untuk
Kebutuhan utama
meningkatkan problem solving.

Menjawab kebutuhan tersebut, peneliti merancang solusi berupa modul pembelajaran yang
secara spesifik berbasis Problem Based Learning (PBL). Model ini dipilih karena
kemampuannya untuk melibatkan siswa secara aktif, mandiri, dan kreatif dalam menemukan
strategi pemecahan masalah. Materi yang diangkat dalam modul ini adalah bangun ruang,
sebuah topik esensial yang memungkinkan penerapan konsep matematika dalam konteks
kehidupan nyata, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep sekaligus
motivasi dan kepercayaan diri siswa.
Selanjutnya, dilakukan analisis kurikulum untuk memastikan keselarasan modul dengan
standar pendidikan yang berlaku. Karena penelitian ini menargetkan siswa kelas VII, maka
kurikulum yang dianalisis adalah Kurikulum Merdeka. Modul ini dirancang untuk memenuhi
Capaian Pembelajaran (CP) Fase D, khususnya pada elemen bangun ruang. Analisis mendalam
terhadap CP ini menghasilkan rumusan tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur untuk
materi kubus, balok, prisma, dan limas.
Berdasarkan analisis tersebut, tujuan pembelajaran yang dimuat dalam modul mencakup
kemampuan siswa untuk mendefinisikan berbagai bangun ruang, menghitung luas permukaan
dan volume, serta yang terpenting, menerapkan konsep-konsep tersebut untuk menyelesaikan
masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan ini juga menekankan pentingnya
proses diskusi, di mana siswa diharapkan dapat menemukan solusi dan memecahkan masalah
secara kolaboratif, sesuai dengan prinsip model PBL.
Analisis karakteristik siswa menunjukkan bahwa subjek penelitian berada pada rentang
usia 13-15 tahun, yang menurut teori Piaget berada dalam tahap operasional formal. Pada tahap
ini, siswa sudah mampu berpikir secara efektif, inovatif, dan menarik generalisasi, sehingga
model pembelajaran yang menuntut penemuan konsep seperti PBL sangatlah sesuai. Meskipun
demikian, observasi mengungkap bahwa siswa, walau aktif dalam kelompok, masih kurang
percaya diri saat bekerja secara mandiri, yang menandakan perlunya peningkatan kemampuan
pemecahan masalah dan rasa percaya diri.
Lebih lanjut, analisis ini juga mempertimbangkan preferensi visual siswa yang cenderung
menyukai warna-warna cerah, hal ini kemudian menjadi acuan dalam desain visual modul.
Aspek yang paling krusial adalah data kuantitatif dari tes awal, yang menunjukkan rata-rata
nilai kemampuan pemecahan masalah siswa hanya sebesar 36.05, sebuah skor yang masuk
dalam kategori "sangat kurang". Temuan ini menjadi landasan kuat bahwa modul yang
dikembangkan harus dirancang secara cermat untuk dapat meningkatkan kemampuan siswa
secara signifikan.
Memasuki tahap desain, seluruh hasil analisis diwujudkan menjadi rancangan produk.
Sampul modul didesain menggunakan aplikasi Canva untuk tampilan yang menarik, sementara
isinya disusun menggunakan Microsoft Word. Struktur modul dirancang secara komprehensif,
meliputi halaman sampul, kata pengantar, petunjuk penggunaan, peta konsep, materi inti yang
disajikan melalui lima tahapan PBL, contoh soal, rangkuman, hingga biodata penulis. Selain itu,
dirancang pula modul ajar untuk empat pertemuan yang akan menjadi panduan implementasi
di kelas.

Tabel 2. Hasil Validasi Instrumen


Jenis Validasi Validator Skor (%) Kategori Keterangan
Materi Ahli materi 100% Sangat valid Layak digunakan tanpa revisi
Bahasa Ahli bahasa 95,7% Sangat valid Layak digunakan tanpa revisi
Desain (opsional Ahli desain (jika
jika ada) dilakukan)

Pada tahap ini juga dilakukan penyusunan instrumen penelitian yang krusial untuk
evaluasi. Instrumen yang dibuat meliputi angket validasi untuk ahli materi, bahasa, dan desain,
serta angket kepraktisan untuk respon guru dan siswa. Instrumen ini divalidasi oleh para ahli
dan melalui dua kali putaran penilaian. Hasilnya, angket divalidasi dengan skor akhir 100%
184 AJUP/5.2; 179-186; 2025

oleh ahli materi dan 95.7% oleh ahli bahasa, keduanya dengan kategori "sangat valid" dan layak
digunakan tanpa revisi lebih lanjut.

2. Pembahasan
Selain angket, instrumen tes berbentuk uraian yang terdiri dari empat butir soal
kemampuan pemecahan masalah juga disusun untuk mengukur keefektifan modul. Tes ini
divalidasi oleh ahli materi dan hasilnya menunjukkan bahwa keempat butir soal memperoleh
skor 96% dengan kategori "sangat valid", dengan beberapa revisi minor yang langsung
diperbaiki oleh peneliti. Validasi ahli ini memastikan bahwa instrumen tes telah sesuai dari segi
materi, konstruksi, dan bahasa.
Setelah validasi ahli, instrumen tes diuji coba secara empiris kepada 20 siswa di sekolah
lain untuk mengetahui kualitas statistiknya. Hasil uji coba menunjukkan bahwa keempat butir
soal dinyatakan valid, karena nilai rhitung untuk setiap soal lebih besar dari r tabel (0,444).
Selanjutnya, hasil uji reliabilitas menunjukkan skor sebesar 0,970, yang juga lebih besar dari
rtabel, sehingga dapat disimpulkan bahwa instrumen tes tersebut reliabel dan konsisten untuk
digunakan dalam mengukur kemampuan pemecahan masalah siswa.

D. Kesimpulan

Berdasarkan analisis data dan hasil penelitian yang telah dilaksanakan, dapat ditarik
kesimpulan bahwa pengembangan modul pembelajaran matematika berbasis Problem Based
Learning telah berhasil mencapai tujuannya untuk meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah siswa. Seluruh tahapan, mulai dari validasi produk, uji kepraktisan, hingga pengukuran
efektivitas, menunjukkan hasil yang sangat positif. Produk yang dikembangkan ini terbukti
menjadi sebuah instrumen pembelajaran yang tidak hanya layak secara akademis, tetapi juga
dapat diimplementasikan dengan baik dan mampu memberikan dampak nyata terhadap hasil
belajar siswa.
Salah satu pilar utama keberhasilan modul ini adalah tingkat validitasnya yang sangat
tinggi, terutama dari aspek materi dan isi. Melalui penilaian oleh dua ahli materi, modul ini
memperoleh persentase skor 100% dan 92,7%. Hasil ini mengonfirmasi bahwa materi yang
disajikan, khususnya pada topik bangun ruang, telah akurat, relevan, dan sepenuhnya selaras
dengan Capaian Pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka. Kesesuaian isi memastikan bahwa
modul ini merupakan sumber belajar yang dapat diandalkan untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan.
Selain unggul dari segi materi, modul ini juga dinyatakan sangat valid dari aspek
kebahasaan dan desain. Penilaian oleh ahli bahasa memberikan skor 95,7%, yang menunjukkan
bahwa bahasa yang digunakan dalam modul ini jelas, komunikatif, dan mudah dipahami oleh
siswa. Sementara itu, penilaian dari ahli desain mencapai skor 98,3%, yang menegaskan bahwa
tata letak, pemilihan warna, dan ilustrasi visual pada modul dirancang secara menarik dan
efektif. Kombinasi validitas materi, bahasa, dan desain ini menjadikan modul sebagai produk
yang utuh dan berkualitas tinggi.
Aspek selanjutnya yang diuji adalah kepraktisan modul, yaitu kemudahan dan
kemanfaatan penggunaannya dalam proses pembelajaran nyata. Berdasarkan hasil uji coba
yang dilakukan secara bertahap, modul ini terbukti mendapatkan respon yang luar biasa positif
dari para penggunanya. Hal ini menunjukkan bahwa modul tidak hanya baik di atas kertas,
tetapi juga benar-benar berfungsi sebagai alat bantu belajar yang efisien dan disukai di dalam
kelas.
Dari sudut pandang siswa, tingkat kepraktisan modul ini konsisten berada pada kategori
"sangat praktis" di semua tahap uji coba. Pada uji coba perorangan, siswa memberikan respon
sebesar 98%, diikuti oleh 97% pada uji coba kelompok kecil, dan 95% pada uji coba lapangan
(kelompok besar). Angka-angka ini menunjukkan bahwa siswa merasa modul ini mudah
digunakan, menarik, serta sangat membantu mereka dalam memahami materi dan belajar
secara mandiri.
Kepraktisan modul ini juga dikonfirmasi dari perspektif guru, yang memberikan skor
respon sebesar 98% dengan kategori "sangat praktis". Penilaian ini menandakan bahwa guru
memandang modul ini sebagai alat yang sangat membantu dalam menyelenggarakan
pembelajaran, memfasilitasi diskusi, dan membimbing siswa untuk lebih aktif. Dukungan dari
sisi pengajar ini menjadi kunci penting bagi keberhasilan implementasi modul di kelas.
Puncak dari penelitian ini adalah pembuktian efektivitas modul dalam mencapai tujuan
utamanya, yaitu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Setelah
AJUP/5.2; 179-186; 2025 185

implementasi pembelajaran menggunakan modul ini, hasil tes menunjukkan bahwa rata-rata
nilai siswa pada materi bangun ruang mencapai 83, sebuah skor yang termasuk dalam kategori
"sangat baik". Ini adalah bukti kuantitatif yang kuat bahwa penggunaan modul berbasis Problem
Based Learning secara signifikan meningkatkan penguasaan konsep dan kemampuan siswa.
Efektivitas modul ini semakin dipertegas oleh angka ketuntasan klasikal yang mencapai
91%, yang dikategorikan sebagai "sangat efektif". Artinya, mayoritas siswa di kelas berhasil
memenuhi dan bahkan melampaui kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Dengan
demikian, dapat disimpulkan secara meyakinkan bahwa modul pembelajaran matematika
berbasis Problem Based Learning yang dikembangkan ini merupakan sebuah produk inovasi
yang teruji valid, sangat praktis, dan sangat efektif untuk digunakan sebagai sarana
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa di SMP Negeri 1 Lolofitu Moi.

E. Referensi

Agusta, S. E. (2020). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Berdasarkan


Langkah-Langkah Polya. Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika, 2(1), 45-56.
Amelia, W., dkk. (2020). Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Membentuk Pribadi Bangsa
yang Berguna. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 5(2), 210-221.
Arigiyati, T. A., et al. (2019). Pengembangan Modul Elektronik Berbasis Inkuiri Terbimbing pada
Materi Larutan Penyangga. Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, 3(1), 1-8.
Ariskasari, D., & Pratiwi, D. D. (2019). Efektivitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
terhadap Hasil Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 8(3), 112-125.
Ati, T. P., & Setiawan, Y. (2020). Problem Based Learning (PBL) dan Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa. Jurnal Kajian Pendidikan Matematika, 5(1), 65-78.
Aziz, Z., & Akgil, O. (2020). Cognitive Aspects of Mathematical Problem Solving: A Review of
Literature. International Journal of Instruction, 13(4), 891-906.
Badriyah, L., et al. (2020). Peran Matematika dalam Kehidupan Manusia dan Urgensi
Penguasaannya Sejak Dini. Jurnal Elemen, 6(2), 320-331.
Branch, R. M. (2009). Instructional Design: The ADDIE Approach. Springer.
Devi, V. A., & Bayu, G. W. (2020). Penerapan Model Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Keterampilan Pemecahan Masalah Siswa SMP. Jurnal Riset Pendidikan
Matematika, 7(1), 58-69.
Fatkya, V. N., & Wicaksono, D. A. (2023). Analisis Tingkat Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa SMP. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 7(1), 890-901.
Gunawan, I. (2022). Desain dan Pengembangan Modul Pembelajaran. Rajawali Pers.
Hamzah, A. (2013). Evaluasi Pembelajaran Matematika. PT RajaGrafindo Persada.
Hijriah, U. (2020). Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Melalui Model
Pembelajaran Problem Based Learning. Jurnal Didaktika, 11(2), 170-182.
Izza, Z., & Hayati, N. (2023). Perkembangan Kognitif Peserta Didik Tahap Operasional Formal
Menurut Jean Piaget dan Implikasinya dalam Pembelajaran. Jurnal Pendidikan dan Konseling,
5(1), 2150-2155.
Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor
008/H/KR/2022 tentang Capaian Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang
Pendidikan Dasar, dan Jenjang Pendidikan Menengah pada Kurikulum Merdeka.
Magdalena, I., et al. (2020). Analisis Pengembangan Bahan Ajar untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Edukasi dan Sains, 2(2), 222-234.
Marisa, F., et al. (2020). Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika Berbasis
Etnomatematika untuk Siswa SMP. Jurnal Gantang, 5(1), 75-82.
Mustadi, A. (2020). Filsafat Pendidikan: Sebuah Pengantar. K-Media.
Nabila, F., et al. (2021). Validasi Modul Pembelajaran Fisika Berbasis STEM untuk Meningkatkan
Keterampilan Berpikir Kritis. Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako, 9(2), 35-42.
Nesri, R., & Kristanto, Y., D. (2020). Pengembangan Modul Pembelajaran Matematika dengan
Pendekatan Kontekstual. Jurnal Inovasi Pendidikan, 1(2), 150-160.
Novitasari, M., et al. (2022). Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis: Urgensi, Indikator,
dan Alternatif Pembelajarannya. Jurnal Riset Pembelajaran Matematika Sekolah, 6(1), 1-12.
Nurdyansyah, N. (2021). Inovasi Model Pembelajaran. Nizamia Learning Center.
Rohaeni, N. (2020). Model Desain Pembelajaran ADDIE: Konsep dan Penerapannya dalam
Kurikulum Pendidikan. Jurnal Manajemen Pendidikan, 8(1), 34-45.
186 AJUP/5.2; 179-186; 2025

Saputri, A. F. C., et al. (2021). Pengembangan E-Modul Matematika Berbasis Problem Based
Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis. AKSIOMA: Jurnal Program Studi
Pendidikan Matematika, 10(4), 2145-2155.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.

Anda mungkin juga menyukai