6
BAB II
KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kerangka Teoritis
1. Kajian Teori Belajar
Dalam proses pembelajaran terdapat aktivitas yang dilakukan guru dan peserta
didik yang disebut dengan belajar. Pada dasarnya, dalam pengertian yang umum dan
sederhana, belajar seringkali diartikan sebagai akitivitas untuk memperoleh
pengetahuan. Belajar dalam pengertian lain yakni proses perubahan perilaku
seseorang. Akan tetapi, dari pengertian belajar tersebut, tidak semua proses dalam
hidup manusia yang mengalami perubahan dapat dikatakan belajar, seperti halnya
pertumbuhan fisik seseorang yang mengalami perubahan tidak termasuk dalam
kategori belajar. Belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri
orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik atau pun yang
kurang baik, direncanakan atau tidak. Hal lain yang juga selalu terkait dalam belajar
adalah pengalaman, yaitu pengalaman dalam bentuk interaksi dengan orang lain atau
lingkungannya.
Menurut Di Vesta and Thompson (1970: 112) dalam Nana Syaodih (2011, hlm.
155) menyatakan bahwa “belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap
sebagai hasil dari pengalaman. Perubahan dapat menyangkut hal yang sangat luas,
menyangkut semua aspek kepribadian individu. Perubahan berkenaan dengan
penguasaan dan penambahan pengetahuan, kecakapan, sikap, nilai, motivasi,
kebiasaan, minat, apresiasi, dan sebagainya”. Pengalaman yang dimaksud diatas
berkenaan dengan segala bentuk pengalaman atau hal-hal yang pernah dialami.
Misalnya pengalaman karena membaca, melihat, mendengar, merasakan, melakukan,
menghayati, membayangkan, merencanakan, melaksanakan, menilai, mencoba,
menganalisis, memecahkan, dan sebagainya.
Dari beberapa definisi belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan suatu kegiatan yang sengaja dilakukan untuk mencapai perubahan
perilaku pembelajaran kearah yang lebih baik yang didapatkan dari pengalaman yang
7
menyangkut beberapa aspek kecerdasan manusia yakni kognitif, afektif dan
psikomotor.
1) Ciri-ciri Belajar
Ciri-ciri Belajar menurut Aunurrahman (2016, hlm. 48) dapat diuraikan sebagai
berikut:
a) Perubahan yang disadari dan disengaja
Perubahan perilaku yang terjadi merupakan usaha sadar dan disengaja dari
individu yang bersangkutan.
b) Perubahan yang berkesinambungan
Bertambahnya pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki pada dasarnya
merupakan kelanjutan dari pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
sebelumnya.
c) Perubahan yang fungsional
Setiap perubahan perilaku yang terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
hidup individu yang bersangkutan, baik untuk kepentingan sekarang maupun
masa depan.
d) Perubahan yang bersifat positif
Perubahan perilaku yang terjadi bersifat normatif dan menunjukan kearah
kemajuan.
e) Perubahan yang bersifat aktif
Memperoleh perilaku yang baru, individu yang bersangkutan aktif berupaya
melakukan perubahan.
f) Perubahan yang bersifat permanen
Perubahan perilaku yang diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan
menjadi bagian yang melekat dalam dirinya.
g) Perubahan yang bertujuan dan terarah
Individu melakukan kegiatan belajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik
tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang
h) Perubahan perilaku secara menyeluruh
8
Perubahan perilaku belajar bukan hanya sekedar memperoleh pengetahuan
semata, tetapi termasuk memperoleh pula perubahan dalam sikap dan
keterampilannya.
2. Definisi Pembelajaran
Pembelajaran secara umum merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan
perilaku sebagai hasil interaksi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan
hidup. Mohamad Surya (2014, hlm.111) mengatakan bahwa secara psikologis
pengertian pembelajaran dapat dirumuskan : “Pembelajaran ialah suatu proses yang
dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku secara
menyeluruh, sebagai hasil dari interaksi individu itu dengan lingkungannya”. Seluruh
kegiatan belajar ketika pembelajaran berlangsung adalah kegiatan yang dapat
memberikan perubahan pada seseorang sebagai perubahan perilaku ke yang lebih
baik.
Sedangkan menurut Undang-undang N0.20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional pasal 1 ayat 20, “pembelajaran adalah proses interaksi peserta
didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar” lingkungan
belajar baik formal maupun non formal. Kegiatan belajar formal contohnya sekolah,
sekolah terdapat guru sebagai pendidik dan peserta didik sebagai peserta didik.
pendidik dan peserta didik saling berinteraksi untuk tercapainya tujuan yang
diinginkan.
Dari beberapa definisi pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang sengaja diciptakan dengan adanya
interaksi antara guru dan peserta didik di dalamnya yang bertujuan untuk
membelajarkan agar tercapainya kompetensi yang hendak dicapai.
1) Karakteristik Pembelajaran
Pembelajaran yang dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak (1998) dalam
[Link] yang menjelaskan bahwa ada enam ciri pembelajaran yang
efektif, yaitu:
9
a) Peserta didik menjadi pengkaji yang aktif terhadap lingkungannya melalui
mengobservasi, membandingkan, menemukan kesamaan-kesamaan dan
perbedaan-perbedaan serta membentuk konsep dan generalisasi berdasarkan
kesamaan-kesamaan yang ditemukan.
b) Guru menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dengan
pelajaran.
c) Aktifitas-aktifitas peserta didik sepenuhnya didasarkan pada pengkajian.
d) Guru secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada peserta
didik dalam menganalisis informasi.
e) Orientasi pembelajaran, penguasaan isi pelajaran dan pengembangan
keterampilan berpikir.
f) Guru menggunakan teknik mengajar yang bervariasi yang sesuai dengan tujuan
dan gaya mengajar guru.
3. Model Pembelajaran Discovery Learning
1. Definisi Discovery Learning
Guru dituntut untuk kreatif dalam proses pembelajaran yang mampu
mengembangkan pemikiran peserta didik. Seorang guru harus cerdas dalam
menentukan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan
di sampaikan, guru juga harus kreatif dalam mengembangkan metode pembelajaran.
Sehingga peserta didik dapat aktif dan kreatif menggali informasi, pengalaman dan
pengetahuan yang di milikinya, tugas guru hanya sebagai fasilitator saja. Maka
dalam penelitian ini guru menggunakan model discovery learning.
Sagala (2012, hlm.196) mengemukakan bahwa model ini bertolak dari
pandangan bahwa peserta didik sebagai subjek dan objek dalam belajar,
mempunyai kemampuan dasar untuk berkembang secara optimal sesuai
kemampuan yang dimilikinya. Proses pembelajaran harus dipandang sebagai
stimulus yang dapat menantang peserta didik untuk melakukan kegiatan
pembelajaran. Peranan guru lebih banyak menetapkan diri sebagai pembimbing atau
pemimpin belajar dan fasilitator belajar dengan demikian, peserta didik lebih
10
banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam bentuk kelompok memecahkan
permasalahan dengan bimbingan guru. Merujuk kepada kurikulum 2013 bahwa
peserta didik diajarkan bahkan dibiasakan untuk berfikir ilmiah, maka dari itu
pembelajaran yang dilakukan guru memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk mencari tahu dan memecahkan masalah yang diberikan oleh guru.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa model discovery learning merupakan
pembelajaran penemuan yang menuntut peserta didik untuk aktif dalam membangun
pengetahuannya sendiri, dan menitik beratkan pada mental intelektual pada peserta
didik dalam memecahkan berbagai persoalan yang di hadapi, sehingga menemukan
suatu konsep atau generalisasi yang dapat diterapkan di lapangan tanpa harus selalu
bergantung pada teori-teori pembelajaran yang ada dalam pedoman buku pelajaran.
2. Ciri-ciri Model Discovery Learning
Penggunaan model pembelajaran harus disesuaikan dengan kondisi kelas dan
keadaan peserta didik. Guru di tuntut untuk memahami keadaan peserta didik untuk
menentukan model pembelajaran yang sesuai dengan keadaan peserta didik, serta
menentukan penggunaan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan materi yang
akan disampaikan.
Wina Sanjaya (2012, hlm.196) menyatakan bahwa model discovery learning
memiliki cirri utama yaitu sebagai berikut:
1) Model discovery learning menekankan kepada aktivitas peserta didik
secara maksimal untuk mencari dan menemukan.
2) Seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan
menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan sehingga
diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri.
3) Mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis
atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses
mental.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa model discovery learning
mempunyai cirri utamaya itu menekankan kepada aktivitas peserta didik secara
maksimal, semua aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan
menemukan. Selanjutnyaciri discovery learning yaitu memiliki tujuan untuk
11
mengembangkan kemapuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis sebagai upaya
untuk mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik.
3. Langkah-langkah Model Discovery Learning
Penggunaan model discovery learning dapat dilihat dari langkah-langkah
penerapannya di dalam kelas. Berikut langkah-langkah model discovery
learning. Menurut Bruner (dalam Cahyo 2013, hlm.284) langkah-langkah model
discovery learning ialah:
1) Menentukan tujuan pembelajaran
2) Melakukan identifikasi karakteristik peserta didik(kemampuan awal, minat,
gayabelajar, dan sebagainya)
3) Memilih materi pelajaran yang akan dipelajari
4) Menentukan topik-topik yang harus dipelajari peserta didik secara induktif
dari contoh-contoh generalisasi
5) Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi,
tugas, dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik
6) Mengatur topic pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang
konkret ke abstrak atau dari tahap enektif, ikonik sampai simbolik
7) Melakukan penilaian proses dari hasil belajar peserta didik
Pembelajaran dengan tahap model penemuan ini terdiri dari 8 tahapan menurut
Djuanda, dkk. (2009, hlm, 114-115) yaitu:
1) Observasi untuk menentukan masalah
2) Merumuskan masalah
3) Mengajukan hipotesis
4) Merancang pemecahan masalah melalui percoban atau cara lain
5) Melaksanakan percobaan
6) Melaksanakan pengamatan dan pengumpulan data
7) Analisis data
8) Menarik kesimpulan atas percobaan yang telah dilakukan atau penemuan.
Dari uraian di atas dapat digaris bawahi bahwa model Discovery Learning
menekankan pada proses mencari atau mengkontruksi pengetahuan secara mandiri.
Peserta didik secara aktif terlibat dalam pembelajaran yang dilakukan sehingga
kebermaknaan belajar dapat di ciptakan. Oleh karena itu, guru harus mampu
menciptakan situasi belajar yang dapat melibatkan peserta didik secara aktif untuk
berperan dalam pembelajaran yang dilakukan. Langkah pembelajaran pada model
12
ini diawali dengan menentukan tujuan pembelajaran, melakukan identifikasi
karakteristik peserta didik, memilih materi pelajaran, menentukan topik-topik yang
harus dipelajari peserta didik secara induktif, mengembangkan bahan, mengatur
topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau
dari tahap enektif, ikonik sampai simbolik dan melakukan penilaian proses dari hasil
belajar peserta didik.
4. Sintak Model Pembelajaran Discovery Learning
Suatu pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran akan bermakna
dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan apabila dilaksanakan sesuai dengan
prosedur dari model pembelajaran yang digunakan. Pada model Discovery Learning
prosedur tersebut dapat dijelaskan melalui sintak.
Menurut Syah (2014,hlm.244), sintaks model Discovery Learning yaitu :
1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian rangsangan)
Pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan
kebingungannya tanpa pemberian generalisasi untuk menimbulkan
keinginan peserta didik untuk menyelidiki sendiri. Tahap ini berfungsi untuk
menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan
membantu peserta didik dalam mengeksplorasi bahan. Guru harus
menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada peserta didik
agar tujuan mengaktifkan peserta didik untuk mengeksplorasi dapat tercapai.
2) Problem Statement (Pernyataan Masalah/Identifikasi Masalah)
Pada tahap ini guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalahyang relevan
dengan bahan pelajaran untuk kemudian dijadikan hipotesis salah satunya.
3) Data Collection (Pengumpulan Data)
Pada tahap ini peserta didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan
berbagai informasi yang relevan dengan membaca literatur, mengamati
objek, wawancara dengan narasumber, melakukan ujicoba, dan sebagainya.
4) Data Processing (Pengolahan Data)
Pada tahap ini peserta didik mengolah data dan informasiyang diperoleh.
Data tersebut diolah, diacak,diklasifikasikan, ditabulasi, dan dihitung
dengan cara tertentu. Dari proses tersebut peserta didik akan mendapatkan
pengetahuan baru tentang alternatif/penyelesaian yang perlu mendapat
pembuktian secara logis.
13
5) Verification (Pembuktian)
Peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan
benar atau tidaknya hipotesisyang ditetapkanta didengan temuan alternatif,
dihubungkan dengan hasi lpengolahan data.
6) Generalization (Penarikan Kesimpulan)
Tahap ini adalah proses menarik kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip
umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifikasi.
Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa sintak model Discovery Learning
yaitu pada tahap awal peserta didik diberi stimulasi atau pemberian rangsangan,
kemudian peserta didik mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, setelah
pengumpulan data peserta didik mengolah, kemudian peserta didik melakukan
pembuktian terhadap data yang diperolah, dan pada tahap terakhir peserta didik
melakukan generalization atau menarikan kesimpulan.
5. Kelebihan Model Discovery Learning
Setiap model pembelajaran memiliki beberapa kelebihan,halinisebagai
pertimbangan seorang guru untuk menggunakan model pembelajaran tersebut.
Menurut Suryosubroto (2012,hlm.199) kelebihan model Discovery Learning
yaitu:
1) Membantu peserta didik mengembangkan atau memperbanyak persediaan
dan penugasan keterampilan dan proses kognitif peserta didik
2) Pengetahuan di peroleh sifatnya sangat pribadi dan mungkin merupakan
suatu pengetahuan yan sangatkukuh, dalam arti pendalaman dari pengertian
retensi dan transfer
3) Membangkitkan gairah belajar peserta didik
4) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bergerak maju sesuai
dengn kemampuannya sendiri
5) Peserta didik menggarahkan sendiri cara belajarnya sehingga ia lebih
merasa terlibat dan termotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada
suatu proyek penemuan khusus pada suatu proyek penemuan khusus
6) Mambantu memperkuat pribadi peserta didik dengan bertambahnya
kepercayaan pada diri sendiri melalui proses penemuan
7) Memungkinkan peserta didik sanggup mengatasi kondisi yang
mengecewakan
8) Membantu perkembangan peserta didik untuk menemukan kebenaran akhir
dan mutlak
14
Jadi model Discovery Learning memiliki kelebihan dari model pembelajaran
yang lainnya, model pembelajaran ini membantu peserta didik untuk
mengembangkan, memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam
proses kognitif atau pengenalan peserta didik. Discovery Learning juga dapat
membangkitkan gairah belajar peserta didik, mengarahkan cara peserta didik
belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat dan
menambah kepercayaan diri pada peserta didik.
6. Kekurangan Model Discovery Learning
Selain terdapat kelebihan, model Discovery Learning juga memiliki kekurangan,
berikut beberapa kekurangan dari model Discovery Learning. Menurut
Suryosubroto (2012, hlm.199) menjelaskan bahwa terdapat kelemahan yang perlu
diperhatikan dari model Discovery Learning, yaitu:
1) Penemuan akan dimonopoli oleh peserta didik yang lebih pandai dan
menimbulkan perasaan frustasi pada peserta didik yang kurang pandai
2) Kurang sesuai untuk kelas dengan jumlah peserta didik yang banyak
memerlukan waktu yang relative banyak
3) Karena biasa dengan perencanaan dan pengajaran secara tradisional, hasil
pembelajran dengan metode ini selalu mengecewakan
4) Kurang memperhatikan di perolehnya sikap dan keterampilan karena yang
lebih diutamakan adalah penemuan
5) Fasilitas yang dibutuhkan untuk mencoba ide-ide, kemungkinan tidak ada
6) tidak member kesempatan untuk berpikir kreatif dan tidak semua
pemecahan masalah menjamin penemuan yang penuh arti
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa model Discovery Learning
memiliki kekurangan yaitu pada proses pembelajaran, penemuan akan di
monopolioleh peserta didik yang lebih pandai dan menimbulkan perasaan frustasi
pada peserta didik yang kurang pandai ,model ini tidak sesuai untuk kelas dengan
jumlah peserta didik yang banyak karena akan menyita waktu guru untuk mengubah
kebiasaan mengajar yang umumnya pemberi informasi menjadi fasilitator, dan tidak
semua peserta didik dapat mengikuti pelajaran dengan model Discovery Learning.
15
4. Hasil Belajar
1. Definisi Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan tahap akhir yang diperoleh peserta didik setelah
mengikuti proses pembelajaran. Hasil belajar tidak terlepas dari kegiatan
pembelajaran karena hasil belajar merupakan tolak ukur ketercapaian kegiatan
pembelajaranyang dilakukan pendidik. Sebagaimana yang dikemukakan Nana
Sudjana (2016, hlm. 22) menyatakan “hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan
yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
merupakan hasil berupa nilai yang diperoleh peserta didik setelah melakukan
kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan akhir dari proses pembelajaran yang
ditandai dengan pemerolehan hasil berupa nilai, yang menunjukan ketercapaian pada
ranah pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik dari proses
pembelajaran.
2. Prinsip-prinsip Hasil Belajar
Prinsip-prinsip hasil belajar mengacu pada penilaian hasil belajar yang
dilakukan oleh pendidik. Untuk melakukan penilaian tersebut pendidik harus
memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan penilaian dalam pembelajaran,
sebagaimana yang dinyatakan dalam Buku Panduan Penilaian untuk Sekolah Dasar
(2016,hlm.06) menyatakanbahwa“prinsip penilaian adalah asas yang mendasari
penilaian dalam pembelajaran.
Jadi dapat disimpulkan bahwa prinsip- prinsip hasil belajar adalah berkaitan
dengan penialan hasil belajar yaitu (1) data yang diperoleh sesuai dengan keadaan
yang sebenarnya dilapangan (sahih), (2) tidak terpengaruh atau sesuai dengan
kenyataan yang diperoleh (objektif), (3) tidak membeda-bedakan antara peserta didik
yang satu dengan peserta didik yang lain(adil), (4) penilaian yang dilakukan
berkaitan dengan kegiatan pembelajaran (terpadu), (5) penilaian yang dilakukan
dapat diketahui pihak yang berkepentingan (terbuka), (6) semua aspek dinilai dalam
16
proses pembelajaran baik pada rabah pengetahuan dan keterampilan (menyeluruh
dan berkesinambungan), (7) penilaian tersusun dan terencana dengan mengikuti
langkah-langkah penilaian (sistematis), (8) didasarkan pada kompetensi yang
ditetapkan (beracuan kriteria), (9) penilaian yang dilakukan dapat dipertanggung
jawabkan (akuntabel).
3. Karakteristik Hasil Belajar
Karakteristik atau ciri-ciri hasil belajar dari pelaksanaan pembelajaran yang
diberikan pendidik harus dipahami dengan baik untuk mendapatkan hasil belajar
yang memuaskan dan sesuai dengan apa yang diharapkan pendidik. Sardiman
(2016, hlm. 49) menyatakan hasil pengajaran atau belajar dikatakan betul-betul baik,
apabila memiliki ciri-ciri atau karakteristik sebagai berikut:
1) Hasil itu tahan lama dan dapat digunakan dalam kehidupan oleh peserta
didik.
2) Hasil itu merupakan pengetahuan asli atau otentik. Pengetahuan hasil proses
belajar-mengajar itu bagi peserta didik seolah-olah telah merupakan bagian
kepribadian bagi diri setiap peserta didik, sehingga akan dapat
mempengaruhi pandangan dan caranya mendekati sesuatu permasalahan.
Sebab pengetahuan itu dihayati dan penuh makna bagi dirinya.
Selain itu Permendikbud Nomor 53 Tahun 2015 pada Pasal 8 menyatakan
bahwa karakteristik berdasarkan mekanisme penilaian hasil belajar oleh Pendidik
meliputi:
1) Perancangan strategi penilaian oleh pendidik dilakukan pada saat
penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan
silabus;
2) Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dilakukan untuk memantau proses,
kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar melalui penugasan dan
pengukuran pencapaian satu atau lebih Kompetensi Dasar;
3) Penilaian aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan sebagai
sumber informasi utama dan pelaporannya menjadi tanggung jawab wali
kelas atau guru kelas;
4) Hasil penilaian pencapaian sikap oleh pendidik disampaikan dalam bentuk
predikat atau deskripsi;
5) Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan,dan
penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai;
17
6) Penilaian keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek,
portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai;
7) Hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan oleh pendidik
disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi; dan
8) Peserta didik yang belum mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran
remedial.
4. Unsur-unsur Hasil Belajar
Hasil belajar memiliki unsur-unsur yang mendasarinya yang berkaitan dengan
proses dari tercapainya hasil belajar dalam proses pembelajaran. Sardiman (2016,
hlm. 50) menyatakan bahwa guru dituntut untuk dapat mengorganisasikan unsur-
unsur yang terlibat didalam proses belajar-mengajar, sehingga terjadi proses
pengajaran yang optimal. Sebagai visualisasinya dapat dilihat pada Skema berikut:
Bagan 2.1 Komponen Hasil Belajar
Sumber : Sardiman (2016, hlm. 51)
Untuk lebih jelasnya penjabaran dari skema di atas adalah sebagai berikut:
1) Masukan mentah:peserta didik/subjek belajar
2) Masukan alat/instrumenal input, terdiri: tenaga, fasilitas, kurikulum, sistem
administrasidan lain-lain.
3) Lingkungan, termasuk antara lain keluarga, masyarakat, sekolah.
4) Proses pengajaran, merupakan proses interaksi antara unsure rawinput,
instrumental input dan juga pengaruh lingkungan.
18
5) Hasil langsung merupakan tingkah laku peserta didik setelah belajar melalui
proses belajar-mengajar, sesuai dengan materi/bahan yang dipelajarinya.
6) Hasil akhir:merupakan sikap dan tingkah laku peserta didik setelah ada di dalam
masyarakat.
5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang diperoleh dari proses pembelajaran ditentukan oleh faktor-
factor yang mempengaruhi keberhasilan dari pelaksanaan pembelajaran. Faktor-
factor yang mempengaruhi hasil belajar, antara lain meliputi factor internal dan
faktor eksternal. sebagaimana yang dikemukakan oleh Munadi dalam Rusman
(2012,hlm.124) yang menyatakan bahwa hasil belajar dipengaruhi faktor-faktor yang
dijabarkan sebagai berikut:
1) Faktor internal
a) Faktor fisiologis. Secara umum kondisi fisiologis,seperti kesehatan
yang prima, tidak dalam keadaan cacat jasmani dan sebagainya. Hal
tersebut dapat mempengaruhi peserta didik dalam menerima materi
pelajaran.
b) Faktor psikologis. Setiap individu dalam hal ini peserta didik pada
dasarnya memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal
ini turut mempengaruhi hasil belajarnya. Beberapa factor psikologis
meliputi intelegensi (IQ), perhatian, minat, bakat motivasi, kognitif dan
daya nalar peserta didik.
2) Faktor eksternal
a) Fakto lingkungan. Faktor lingkungan dapat mempengaruhi hasil belajar
peserta didik. Faktor lingkungan ini meliputi lingkungan fisik dan
lingkungan sosial.
b) Faktor instrumental. Faktor-faktor instrumental adalah factor yang
keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar
yang diterapkan. Faktor-faktor instrumental ini berupa kurikulum,
sarana, dan guru.
Hasil belajar dipengaruhi berbagai factor baik factor yang menghambat maupun
factor yang mendukung. Slamento dalam Rusman 2012 ,hlm.54) menyakatan faktor-
faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut:
1) Faktor internal, yaitu factor yang ada dalam individu yang sedang belajar
seperti:
a) Faktor jasmaniah, meliputi:faktor kesehatan dan cacat tubuh.
19
b) Faktor psikologi, meliputi: intelegensi, perhatian, minat, bakat,
motivasi, kematangan, kesiapan dan beraktivitas.
c) Faktor kelelahan,meliputi:kelelahan jasmani dan rohani
2) Faktor eksternal
a) Keadaan keluarga
b) Keadaan sekolah
c) Keadaan masyarakat
6. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar
Berbagai upaya dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik
salah satunya dengan memberikan motivasi pada peserta didik untuk giat dalam
mengikuti pembelajaran. Slamento (2010, hlm. 05) yang menyatakan bahwa upaya
untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik adalah sebagai berikut:
1) Arahkan para peserta didik untuk bisa mempersiapkan diri secara fisik dan
mental.
2) Meningkatkan konsentrasi belajar peserta didik.
3) Berilah para peserta didik motivasi belajar.
4) Ajarkan mereka strategi-strategi belajar.
5) Bagaimana caranya bisa belajar sesuai dengan gaya belajar masing-
masing.
6) Belajar secara menyeluruh.
7) Biasakan mereka saling berbagi.
5. Hakikat dan Tujuan Pembelajaran Menerapkan Alat ukur mekanik dan
fungsinya
1. Definisi Materi Pembelajaran
Materi pembelajaran sangatlah berpengaruh dalam keberhasilan peserta didik,
materi adalah bagian yang tak terpisahkan dari silabus. Materi pembelajaran
(instructional material) adalah pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus
dikuasai peserta didik untuk memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan.
Kokom Komalasari (2014, hlm. 28) menyatakan definisi materi pembelajaran, yaitu:
“Materi pembelajaran merupakan salah satu komponen system pembelajaran
yang memegang peranan penting dalam membantu peserta didik mencapai
kompetensi dasar dan standar kompetensi. Materi pembelajaran (instructional
materials) adalah bahan yang diperlukan untuk pembentukan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik dalam rangka
memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan”.
20
2. Jenis-jenis Materi Pembelajaran
Materi Pembelajaran terdiri dari beberapa jenis Muhammad Syamsul Arifin
(2015, dalam [Link] jenis-jenis “materi
pembelajaran tersebut yaitu fakta, konsep, prinsip, prosedur, serta sikap atau nilai.
Jenis-jenis materi pembelajaran tersebut dikemukakan Kokom Komalasari
(2014, hlm. 33) terdapat lima jenis materi pembelajaran, yaitu:
1) Materi fakta:segala hal yang berwujud kenyataan dan kebenaran.
2) Materi konsep: segala yang berwujud pengertian-pengertian yang bisa
muncul sebagai hasil pemikiran.
3) Materi prinsip: berupa hal-hal utama, pokok dan memiliki posisi yang
terpenting.
4) Materi prosedur : meliputi langkah-langkah yang sistematis atau berurutan
dalam mengerjakan suatu aktivitas dan kronologis atau sistem.
5) Sikap atau nilai:merupakan hasil dari belajar aspek
3. Pokok Bahasan Alat ukur mekanik dan fungsinya
Pekerjaan dasar teknik otomotif adalah mata pelajaran ada pada bidang
keahlian Teknik Sepeda Motor. Pekerjaan dasar teknik otomotif adalah mata
pelajaran wajib bagi kompetensi keahlian di bidang Teknik Sepeda Motor khususnya
pada tingkatan/kelas X (sepuluh). Kompetensi Dasar yang akan didapatkan peserta
didik dari mata pelajaran Pekerjaan dasar teknik otomotif salah satunya adalah
Menerapkan Alat ukur mekanik dan fungsinya. Kompetensi Dasarnya adalah
Menerapkan alat ukur mekanik dan fungsinya.
B. Penelitian Terdahulu yang Relevan
1. Gina Rosarina (2015)
Dengan judul Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Kompetensi Dasar
Memahami Prinsip Kerja Sistem Injeksi melalui Penerapan Model Pembelajaran
Discovery Learning.
Penelitian ini di latar belakangi oleh peserta didik mengalami kesulitan dalam
menguasai materi perubahan wujud benda. Penguasaan konsep, kegiatan
pembuktiandan aplikasi yang menjadi keharusan dalam belajar IPA tidak nampak
21
dalam pembelajaran. Kondisi ini diakibatkan dari proses pembelajaran yang
dilakukan oleh guru belum maksimal sehingga berdampak kurang baik pada hasil
belajar peserta didik. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IV SDN
Gudang Kopi yang berjumlah 27 orang. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan
hasil belajar peserta didik dengan menerapkan model Discovery Learning.
Peneliti dengan menggunakan metode PTK dalam penelitian yang dilakukan terdiri
dari tiga siklus, tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan,
observasi, analisis dan refleksi. Dengan menerapkan model discovery learning
untuk meningkatan hasil belajar peserta didik, khususnya pada materi perubahan
wujud benda peningkatan dapat dilihat dari persentase ketuntasan tiap siklus. Peserta
didik yang dinyatakan tuntas pada siklus I berdasarkan hasil tes ada 7 peserta didik
(26,92%), siklus II menjadi 17 peserta didik (65,38%) dan siklus III 23 peserta didik
(88,46%).
C. Kerangka Berpikir
Peserta didik yang tidak aktif atau kurang aktif dapat disebabkan oleh berbagai
hal misalnya kurang memahami materi, atau guru tidak dapat memilih dan
menerapkan model pembelajaran dengan baik, misalnya guru tidak menciptakan
situasi untuk bertanya, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat,
mendengarkan pendapat, bekerjasama dengan anggota kelompok, mempresentasikan
hasil diskusi dan mencatat materi pembelajaran sehingga peserta didik tidak
tertantang untuk mengikuti proses pembelajaran. Diperkirakan apabila guru
menggunakan model pembelajaran discovery learning peserta didik dapat lebih aktif
dalam proses pembelajaran. Jika semua berjalan dengan baik, maka akan
berkontribusi pada hasil belajar Peserta didik semakin baik. Kerangka berfikir
disajikan pada bagan berikut :
Bagan 2.2 Skema Kerangka Berpikir
22
D. Hipotesis
“Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan
penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul”(Arikunto, S, 2010, hlm.
110). Hipotesis yang peneliti ajukan dalam penelitian ini adalah “Penerapan model
pembelajaran discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada
23
Kompetensi Dasar Menerapkan Alat Ukur Mekanik dan Fungsinya di kelas X TSM
SMK Negeri 1 Bener Meriah.”