BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Prosedur audit adalah detail instruksi tertulis yang digunakan untuk
pengumpulan bukti digunakan selama proses audit (Arens, Elder, Beasley dan
Hogan, 2017:191). Tujuan dari prosedur audit menurut Institut Akuntan Publik
Indonesia Standar Audit 500 untuk merancangkan dan melaksanakan prosedur
audit untuk akun-akun terkait dalam mendapatkan bukti yang kompeten, dengan
adanya bukti yang kompeten dapat membantu auditor dalam merumuskan opini
(2014:4). Bukti Audit adalah informasi yang digunakan oleh auditor dalam
menarik kesimpulan sebagai basis opini auditor, informasi yang dimaksud
adalah catatan akuntansi yang mendasari laporan keuangan maupun informasi
lainnya (IAPI SA 500, 2014:4). Bukti yang kompeten diperoleh. dengan
melakukan Pengujian Pengendalian, Pengujian Substantif atas Transaksi,
Prosedur Analitis dan Pengujian Terperinci atas Saldo.
Bukti audit ini dapat menentukan tingkat kewajaran laporan keuangan yang
disajikan, apakah sudah disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum di Indonesia. Untuk penentuan jumlah dan tipe bukti yang
akan diperiksa, ada 4 (empat) keputusan yang terkait dengan bukti yaitu:
penentuan audit prosedur, penentuan jumlah sampel, pemilihan item, dan
penentuan waktu (Arens dkk, 2017:181). Tujuan dari makalah ini adalah untuk
menganalisis bagaimana proses atau pelaksanaan prosedur audit hingga ke
siklus audit.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara kerja Prosedur Audit?
2. Apa saja jenis-jenis Prosedur Audit?
3. Bagaimana Pengujian Transaksi Audit dilakukan?
4. Apa saja siklus Audit?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin
dicapai yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui cara kerja dari Prosedur Audit secara detail dan terperinci.
2. Untuk mengetahui macam-macam dan jenis-jenis dari Prosedur Audit.
3. Untuk mengetahui bagaimana Pengujian Transaksi Audit dilakukan sesuai
prosedur.
4. Untuk mengetahui siklus dari Prosedur Pengauditan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prosedur Audit
Prosedur audit adalah metode atau teknik yang digunakan oleh para auditor
untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti yang mencukupi dan
kompeten. Pilihan auditor tentang prosedur audit dipengaruhi oleh faktor dari
mana data diperoleh, dikirimkan, diproses, dipelihara, atau disimpan secara
elektronik. Pengolahan komputer juga mempengaruhi pemilihan prosedur audit.
oleh Pembahasan berikut ini akan berfokus pada review beberapa jenis prosedur
yang digunakan auditor Prosedur ini dapat digunakan untuk mendukung
pendekatan audit ton-down.
tentang prosedur audit dipengaruhi oleh faktor dari mana data diperoleh,
dikirimkan, diproses, dipelihara, atau disimpan secara elektronik. Pengolahan
komputer juga mempengaruhi pemilihan prosedur audit.
Pembahasan berikut ini akan berfokus pada review beberapa jenis prosedur
yang digunakan oleh para auditor. Prosedur ini dapat digunakan untuk
mendukung pendekatan audit top-down ataupun pendekatan audit bottom-up.
Auditor akan mempertimbangkan bagaimana setiap prosedur ini akan
digunakan ketika merencanakan audit dan mengembangkan program audit.
Prosedur audit adalah instruksi rinci untuk mengumpulkan tipe bukti audit
tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit (Mulyadi, 2002:86).
Prosedur audit yang disebutkan dalam standar tersebut meliputi inspeksi,
pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi.
Disamping auditor memakai prosedur audit yang disebutkan dalam standar
tersebut, auditor melaksanakan berbagai prosedur audit lainnya untuk
mengumpulkan bukti audit yang akan dipakai sebagai dasar untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan audit. Prosedur audit lain meliputi penelusuran,
pemeriksaan bukti pendukung, perhitungan, scanning, pelaksanaan ulang, dan
teknik audit berbantuan computer. Dengan demikian prosedur audit yang biasa
dilakukan oleh auditor meliputi (Mulyadi, 2002:86):
1) Inspeksi (inspecting)
Inspeksi meliputi pemeriksaan rinci terhadap dokumen dan catatan, serta
pemeriksaan sumber daya berwujud. Inspeksi seringkali digunakan dalam
mengumpulkan. dan mengevaluasi bukti bottom-up maupun top-down. Dengan
melakukan inspeksi atas dokumen, auditor dapat menentukan ketepatan
persyaratan dalam faktur atau kontrak yang memerlukan pengujian bottom-up
atas akuntansi transaksi tersebut. Pada saat yang sama, auditor seringkali
mempertimbangkan implikasi bukti dalam konteks pemahaman faktor- faktor
ekonomi dan persaingan entitas.
Sebagai contoh, pada saat auditor memeriksa kontrak sewa guna usaha, ia
melakukan verifikasi kesesuaian akuntansi yang digunakan untuk sewa guna
usaha, mengevaluasi bagaimana sewa guna usaha ini berpengaruh pada kegiatan
pembiayaan dan investasi entitas, dan akhirnya mempertimbangkan bagaimana
sewa guna usaha ini dapat
mempengaruhi kemampuan entitas untuk menambah penghasilan dan
bagaimana pengaruh transaksi ini atas struktur biaya tetap entitas. Istilah-istilah
seperti me-review (reviewing). membaca (reading), dan memeriksa (examining)
adalah sinonim dengan menginspeksi dokumen dan catatan. Menginspeksi
dokumen dapat membuka jalan untuk mengevaluasi bukti dokumenter. Dengan
demikian melalui inspeksi, auditor dapat menilai keaslian dokumen, atau
mungkin dapat mendeteksi keberadaan perubahaan atau item-item yang
dipertanyakan. Bentuk lain dari inspeksi adalah scanning atau memeriksa secara
tepat dan tidak terlampau teliti dokumen dan catatan. Memeriksa sumber daya
berwujud memungkinkan auditor dapat mengetahui secara langsung keberadaan
dan kondisi fisik sumber daya tersebut. Dengan demikian, inspeksi juga
memberikan cara untuk mengevaluasi bukti fisik.
2) Konfirmasi (confirming)
Meminta konfirmasi adalah bentuk permintaan keterangan yang
memungkinkan2) Konfirmasi (confirming)
Meminta konfirmasi adalah bentuk permintaan keterangan yang memungkinkan
auditor memperoleh informasi secara langsung dari sumber independen di luar
organisasi klien. Dalam kasus yang lazim, klien membuat permintaan kepada
pihak luar secara tertulis, namun auditor yang mengendalikan pengiriman
permintaan keterangan tersebut. Permintaan tersebut juga harus meliputi
instruksi berupa permintaan kepada penerima untuk mengirimkan tanggapannya
secara langsung kepada auditor. Konfirmasi menyediakan bukti bottom-up
penting dan digunakan dalam auditing karena bukti tersebut biasanya objektif
dan berasal dari sumber yang independen.
3) Permintaan keterangan (inquiring)
Permintaan keterangan meliputi permintaan keterangan secara lisan atau tertulis
oleh auditor. Permintaan keterangan tersebut biasanya ditujukan kepada
manajemen atau karyawan, umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang
timbul setelah dilaksanakannya prosedur analitis atau permintaan keterangan
yang berkaitan dengan keusangan persediaan atau piutang yang dapat ditagih.
Auditor juga dapat langsung meminta keterangan pada pihak ekstern, seperti
permintaan keterangan langsung kepada penasehat hukum klien tentang
kemungkinan hasil litigasi. Hasil permintaan keterangan dapat berupa bukti
lisan atau bukti dalam bentuk representasi tertulis.
4) Perhitungan (counting)
Prosedur ini merupakan penghitungan fisik yang dilakukan auditor di dalam
pemeriksaan untuk mendapatkan bukti. Penghitungan fisik digunakan untuk
mengevaluasi bukti fisik kuantitas yang ada di tangan. Prosedur ini meliputi:
a. perhitungan fisik sumber daya berwujud seperti jumlah kas dan persediaan
yang ada. Yang pertama dapat dipandang menyediakan cara untuk mengevaluasi
bukti fisik tentang jumlah yang ada
b. Pertanggungjawaban seluruh dokumen dengan nomor urut yang telah
dicetak... sedangkan yang kedua dapat dipandang sebagai penyediaan cara
untuk mengevaluasi pengendalian internal perusahaan melalui bukti yang
objektif tentang kelengkapan catatan akuntansi.
Contoh: Penghitungan fisik dari jumlah persediaan akhir.
Teknik perhitungan ini menyediakan bukti audit bottom-up, namun auditor
seringkali terdorong untuk memperoleh bukti top-down terlebih dahulu guna
mendapatkan konteks ekonomi dari prosedur perhitungan.
5) Penelusuran (tracing)
Dalam penelurusan (tracing) yang seringkali juga disebut sebagai penelusuran
ulang, auditor memilih dokumen yang dibuat pada saat transaksi dilaksanakan,
dan menentukan bahwa informasi yang diberikan oleh dokumen tersebut telah
dicatat dengan benar dalam catatan akuntansi (jurnal dan buku besar). Arah
kegiatan tracing adalah mengikuti dokumen sumber hingga ke pencatatannya
dalam catatan akuntansi. Adapun pelaksanaan dari tracing adalah mengikuti
dokumen sumber,seperti faktur penjualan atau laporan pengiriman, kemudian
auditor melakukan penelusuran dokumen sumber tersebut melalui sistem
akuntansi ke pencatatan akhir dalam catatan akuntansi, seperti jurnal dan buku
besar.
Contoh:
Pemeriksaan transaksi penjualan yang dimulai dengan memeriksa informasi
dalam surat order dari customer, diusut kemudian dengan informasi yang
berkaitan dalam surat
order penjualan, laporan pengiriman barang, faktur penjualan, jurnal penjualan,
dan akun piutang usaha dalam buku pembantu piutang usaha.
6) Pemeriksaan bukti pendukung (vouching)
Pemeriksaan bukti (vouching) pendukung meliputi pemilihan ayat jurnal dalam
catatan akuntansi, dan mendapatkan serta memeriksa dokumentasi yang
digunakan sebagai dasar ayat jurnal tersebut untuk menentukan validitas dan
ketelitian pencatatan akuntansi. Dalam melakukan vouching, arah pengujian
berlawanan dengan yang digunakan dalam tracing. Prosedur vouching
digunakan secara luas untuk mendeteksi adanya salah sajiberupa penyajian yang
lebih tinggi dari yang seharusnya (overstatement) dalam catatan akuntansi.
Vouching adalah kegiatan yang dilakukan untuk memeriksa kebenaran atau
keabsahan suatu bukti yang mendukung transaksi, kegiatan ini meliputi memilih
catatan yang ada pada catatan akuntansi serta memperoleh dan menyelidiki
dokumen yang mendasari catatan tersebut untuk menentukan keabsahan dan
ketelitian transaksi yang dicatat. Vouching dilakukan untuk mendeteksi apakah
catatan akuntansi klien ketinggian (overstatement) selain itu vouching juga
digunakan untuk menguji Asersi management mengenai keberadaan (existence),
Penilaian (Valuation), hak dan kewajiban (Right and Obligation), Penyajian dan
pengungkapan (Presentation and Disclosure).
Contoh:
Terdapat biaya BBM sebesar Rp.100.000 untuk kegiatan operational, dalam hal
ini auditor perlu melihat dokumen kas keluar apakah sudah ditandatangi oleh
pejabat berwenang seperti manager operational, chief akuntan dan kasir atas
pengeluaran uang tersebut kemudian apakah terdapat bukti pendukung yaitu
surat jalan dan bon BBM dari SPBU. Jika semua dilakukan sesuai Prosedur
maka demikian hasil yang didapat perusahaan mengenai kewajaran laporan
keuangan adalah baik "BAIK"
7) Pengamatan (observing)
Pengamatan (observing) berkaitan dengan memperhatikan dan menyaksikan
pelaksanaan beberapa kegiatan atau proses. Kegiatan dapat berupa pemrosesan
rutin jenis transaksi tertentu seperti penerimaan kas, untuk melihat apakah para
pekerja sedang melaksanakan tugas yang diberikan sesuai dengan kebijakan dan
prosedur perusahaan. Pengamatan terutama penting untuk memperoleh
pemahaman atas pengendalian internal.
Auditor juga dapat mengamati kecermatan seorang karyawan klien dalam
melaksanakan pemeriksaan tahunan atas fisik persediaan. Pengamatan yang
terakhir ini memberikan peluang untuk membedakan antara mengamati dan
menginspeksi.
8) Pelaksanaan ulang (reperforming)
Salah satu prosedur audit yang penting adalah pelaksanaan ulang (reperforming)
perhitungan dan rekonsiliasi yang dibuat oleh klien. Misalnya menghitung ulang
total jurnal, beban penyusutan, bunga akrual dan diskon atau premi obligasi,
perhitungan kuantitas dikalikan harga per unit pada lembar ikhtisar persediaan,
serta total pada skedul pendukung dan rekonsiliasi. Auditor juga dapat
melaksanakan ulang beberapa aspek pemrosesan transaksi tertentu untuk
menentukan bahwa pemrosesan awal telah sesuai dengan pengendalian intern
yang telah dirumuskan Sebagai contoh, auditor dapat melaksanakan ulang
pemeriksaan atas kredit pelanggan pada transaksi penjualan untuk menentukan
bahwa pelanggan memang memiliki kredit yang sesuai pada saat transaksi
tersebut diproses. Pemeriksaan ulang biasanya memberikan bukti bottom-up,
dan dengan bukti bottom-up lainnya, auditor dapat terlebih dahulu memahami
konteks ekonomi untuk pengujian audit tersebut.
Contoh:
Penghitungan ulang jumlah total dalam jurnal, penghitungan ulang biaya
depresiasi, biaya bunga terutang, perkalian antara kuantitas dan harga satuan
dalam inventory summary sheet, penghitungan ulang penjumlahan dalam
rekonsiliasi bank
9) Teknik audit berbantuan computer (computer-assisted audit techniques)
Apabila catatan akuntansi klien dilaksanakan melalui media elektronik, maka
auditor dapat menggunakan teknik audit berbantuan computer (computer-
asssited audittechniques/CAAT) untuk membantu melaksanakan beberapa
prosedur yang telah diuraikan sebelumnya.
Contoh:
Auditor menggunakan suatu computer audit software tertentu dalam melakukan
penghitungan jumlah saldo piutang menurut buku pembantu piutang usaha,
pemilihan
nama debitur yang akan dikirimi surat konfirmasi, penghitungan berbagai rasio
dalam posedur analitik, pebandingan unsur data yang ada dalam berbagai file.
2.2 Standar-standar Audit
Standar Auditing adalah sepuluh standar yang ditetapkan dan disahkan oleh
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), yang terdiri dari standar umum,
standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan beserta interpretasinya.
Standar auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis.
1. Standar Umum
Standar umum bersifat pribadi dan berkaitan dengan persyaratan auditor dan
mutu pekerjaannya (Standar Profesional Akuntan Publik, 201:2011). Standar
umum berhubungan dengan kualifikaasi auditor dan kualitas pekerjaan auditor.
(Jusup, 52:2001). Standar umum terdiri atas tiga bagian:
Standar umum pertama: Pelatihan dan Keahlian Auditor Independen
Dalam melaksanakan audit untuk sampai pada suatu pernyataan pendapat,
auditor harus senantiasa bertindak sebagai ahli dalam bidang akuntansi dan
bidang auditing. Pencapaian keahlian tersebut dimulai dengan pendidikan
formalnya, yang diperluas melalui pengalaman- pengalaman selanjutnya dalam
praktik audit. "Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki
keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor." (Standar Profesional
Akuntan Publik, 210:2011)
Standar umum kedua: Independensi
Standar ini mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah
dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum
(dibedakan dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern). Auditor mengakui
kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik perusahaan,
namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan
(paling tidak sebagian) atas laporan auditor independen.
Standar umum ketiga: Penggunaan Kemahiran Profesional dengan Cermat dan
Saksama dalam Pelaksanaan Pekerjaan Auditor
10
Dalam standar ini, Auditor diharuskan menggunaan kemahiran professional
dengan kecermatan dan kesaksamaan menekankan tanggung jawab setiap
professional yang bekerja dalam organisasi auditor independen untuk
mengamati standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan.
2. Standar Pekerjaan Lapangan
Seperti tersirat dari namanya, standar ini terutama berhubungan dengan
pelaksanaan audit di tempat bisnis klien atau di lapangan. Standar ini juga
terdiri dari 3 butir standar yang intinya adalah sebagai berikut:
Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus
disupervisi dengan semestinya.
Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh
untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian
yang akan dilaksanakan
Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan, permintaan pertanyaan, dan konfirmasi sebagai dasar yang
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
3. Standar Pelaporan
yaitu: Dalam melaporkan hasil audit, auditor harus memenuhi empat buah
standar pelaporan,
a Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun
sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia.
b) Laporan audit harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidak
konsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan
periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut
dalam periode sebelumnya.
c) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang
memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan audit.
d) Laporan audit harus memuat suatu pernyataan mengenai laporan keuangan
secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat
diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka
alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan
keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai
sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab
yang dipikul oleh auditor.
2.3 Pengujian Audit
Ada beberapa macam dari Pengujian Audit, yaitu:
Pengujian Substantive
Pengujian substantif adalah prosedur-prosedur audit yang didesain untuk
menguji kesalahan dalam nilai rupiah yang mempengaruhi langsung kebenaran
dari saldo-saldo dalam laporan keuangan. Salah saji (monetary misstatement)
seperti itu adalah indikasi yang jelas dari salah saji dari akunakun. Terdapat 3
(tiga) macam pengujian substantif yaitu:
Pengujian substantif atas transaksi,
Prosedur analitis,
Pengujian terinci atas saldo.
Pengujian substantif atas transaksi
Tujuan dari pengujian substantif atas transaksi adalah untuk menentukan apakah
semua tujuan audit berkaitan dengan transaksi (transaction-related audit
objectives) telah terpenuhi untuk setiap kelas transaksi. Sebagai contoh auditor
melakukan pengujian substantif atas transaksi untuk menguji apakah transaksi
yang dicatat benar-benar ada dan transaksi yang ada semua telah dicatat.
Auditor juga melakukan pengujian ini untuk menentukan apakah transaksi
belanja telah dicatat dengan benar, transaksi belanja telah dicatat pada periode
laporan yang tepat, belanja telah diklasifikasikan dengan benar dalam neraca,
dan apakah belanja telah diikhtisarkan dan diposting dengan benar ke buku
besar. Jika auditor merasa yakin bahwa transaksi-transaksi telah dicatat dan
diposting dengan benar, auditor dapat meyakini bahwa jumlah dalam buku besar
juga benar.
12
Prosedur analitis
Prosedur analitis mencakup perbandingan-perbandingan dari jumlah jumlah
yang dicatat dengan jumlah yang diharapkan yang disusun oleh auditor.
Biasanya juga prosedur analitis mencakup perhitungan rasio-rasio oleh auditor
untuk membandingkan dengan rasio tahun lalu dan data lain yang berhubungan.
Dua tujuan utama prosedur analitis yang dilakukan pada tahap pelaksanaan
audit atas saldo akun adalah
◆ mengindikasikan kemungkinan terjadinya salah saji dalam laporan keuangan
dan
mengurangi pengujian terinci atas saldo.
◆ memahami bidang usaha klien
◆ menetapkan kelangsungan hidup suatu satuan usaha
Ada perbedaan mendasar dalam prosedur analitis yang dilakukan dalam tahap
perencanaan dan prosedur analitis yang dilakukan dalam tahap pengujian. Pada
tahap perencanaan, auditor mungkin menghitung rasio dengan menggunakan
data interim. Sedangkan pada tahap pengujian saldo akhir, auditor akan
menghitung kembali rasio itu dengan menggunakan data setahun penuh.
Jika auditor percaya bahwa prosedur analitis yang dilakukan mengindikasikan
kemungkinan terjadinya salah saji, maka prosedur analitis tambahan dapat
dilakukan atau auditor memutuskan untuk memodifikasi pengujian terinci atas
saldo. Sedangkan jika auditor mengembangkan ekspektasi dengan
menggunakan prosedur analitis dan menyimpulkan bahwa saldo akhir akun
tertentu auditan layak, maka pengujian rincian saldo tertentu mungkin diabaikan
atau mengurangi ukuran sampel yang dibutuhkan.
Pengujian terinci atas saldo
Pengujian terinci atas saldo memusatkan perhatian atas saldo-saldo akhir buku
besar untuk laporan realisasi pendapatan dan belanja serta neraca. Contoh dari
pengujian terinci atas saldo termasuk konfirmasi untuk saldo piutang,
pemeriksaan fisik persediaan, dan pemeriksaan kontrak utang dengan pihak
lain. Pengujian terinci atas saldo ini adalah penting karena bukti biasanya
diperoleh dari sumber yang independen sehingga dapat diandalkan.
Hampir sama halnya dengan pengujian atas transaksi, pengujian rincian saldo
harus dilakukan dengan memenuhi semua tujuan audit yang berkaitan dengan
saldo bagi masing-masing akun yang signifikan. Pengujian atas saldo akun juga
sangat penting karena bukti-bukti biasanya diperoleh dari sumber independen
dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi.
Luas dari pengujian terinci atas saldo bergantung dari hasil pengujian
pengendalian intern, pengujian substantif atas transaksi, dan prosedur analitis
untuk akun tersebut. Pengujian terinci
13
atas saldo memiliki tujuan untuk menetapkan kebenaran jumlah uang (monetary
correctness) dari akun-akun yang berhubungan sehingga dapat dikatakan
sebagai pengujian substantif.
Pengujian rincian saldo juga dapat membantu dalam menetapkan kebenaran
moneter akun- akun yang berhubungan sehingga dianggap sebagai pengujian
substantif. Sebagai contoh, konfirmasi untuk pengujian atas salah saji adalah
pengujian substantif dan penghitungan Kas juga adalah pengujian substantif.
2.4 Siklus Audit
Kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut dipilah menjadi beberapa
siklus yaitu:
2.4.1 Siklus Pendapatan
Siklus pendapatan adalah siklus utama dalam transaksi penjualan, baik
penjualan barang atau penjualan jasa secara tunai maupun kredit. Siklus
pendapatan merupakan prosedur yang dimulai dari bagian penjualan,
pengambilan barang, penerimaan barang, penagihan sampa dengan penerimaan
kas
Siklus pendapatan berisi aktivitas-aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan
pertukaran barang dan jasa antara perusahaan dengan para pelanggan dan proses
pengupulan kas yang dilakukan oleh perusahaan. Kelas transaksi dalam siklus
ini antara lain penjualan kredit, pembelian, pertuaran.
Komponen komponen siklus pendapatan
1. Risiko Inheren: Dalam menilai risiko inheren pada asaesi siklus pendapatan,
auditor harus mempertimbangkan faktor pervasive yang mempengaruhi asersi
dalam beberapa siklus, termasuk siklus pendapatan.
Faktor-faktor yang mendorong manajemen untuk mensalah sajikan asaersi
siklus pendapatan yaitu menyatakan pendapatan yang tertalu tinggi dan
menyatakan tertalu tinggi kas atau piutang kotor atau tertalu rendah penyisihan
piutang tak tertagih. Faktor-faktor lain yang dapat menimbulkan salah saji
dalam asersi siklus pendapatan:
Volume penjualan, penerimaan kas dan penyesuaian penjualan yang tinggi.
Penentuan waktu dan jumlah pendapatan seringkali bertentangan, seperti
dengan standar akuntansi
Mengklasifikasikan piutang sebagai hutang lancar atau tidak lancar karena sifat
penagihannya.
Transaksi penerimaan kas menghasilkan aktiva likuid yang rentan terhadap
misapropriasi.
14
Transaksi penerimaan penjualan digunakan untuk menyembunyikan penerimaan
kas.
2. Risiko Prosedur Analitis Risiko ini merupakan unsur risiko deteksi bahwa
prosedur analitis akan gagal mendeteksi salah saji yang material yang
merupakan cara yang efektif untuk pemahaman bisnis dan usaha [Link]-
langkah yang ditempuh yaitu:
Memperoleh pemahaman tentang kapasitas klien.
Memahami pangsa pasar klien
Mengevaluasi hari perputaran piutang usaha.
3. Materialitas
Total pendapatan dijadikan ukuran yang materialitas karena dapat menimbulkan
piutang usaha dan kas akhir serta arus kas dari operasi. Piutang usaha yang
disebabkan oleh transaksi penjualan kredit hampir selalu bersifat material
terhadap neraca.
2.4.2 Siklus Pengeluaran
Siklus pengeluaran berisi aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan berbagai
keputusan dan proses untuk memperoleh aktiva tetap, barang dan jasa yang
diperlukan dalam proses operasional perusahaan dan pembayaran yang
dilakukan perusahaan atas aktiva tetap, barang dan jasa yang diperoleh. Kelas
transaksi dalam siklus ini antara lain: pembelian, dan pengeluaran kas.
komponen komponen siklus pengeluaran:
1. Materialitas
Pengalokasian materialitas ke akun-akun yang dipengaruhi oleh transaksi dalam
siklus ini akan bervariasi sesuai dengan pertimbangan. Pentingnya siklus
pengeluaran ini juga bisa bervariasi menurut jenis usaha yang dijalankan. Satu
industri dapat memproses transaksi bernilai milyaran dollar selama suatu siklus
operasi, sementara yang lainnya mungkin lebih kecil. Pertimbangan lainnya
tentang materialitas awal atas hutang usaha dapat menjadi tolok ukur
pentingnya rasio cepat (quick ratio) dan rasio lancar (current ratio) bagi
pemakai laporan keuangan, serta besarnya salah saji yang akan mempengaruhi
rasio ini secara signifikan.
2. Risiko Inheren
Dalam menilai risiko inheren untuk asersi-asersi siklus pengeluaran, auditor
harus mempertimbangkan faktor-faktor penting yang bisa mempengaruhi asersi-
asersi diseluruh
laporan keuangan, serta faktor-faktor yang berkaitan dengan asersi spesifik
dalam siklus pengeluaran. Faktor-faktor penting yang dapat memotivasi
manajemen untuk mensalah sajikan asersi-asersi siklus pengeluaran meliputi:
Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah beban agar dapat membuat laporan
yang memenuhi target profitabilitas atau norma industri yang telah ditetapkan,
yang dalam kenyataan tidak tercapai akibat faktor-faktor seperti kondisi
ekonomi global, nasional atau regional yang mempengaruhi biaya operasi,
dampak perkembangan teknologi terhadap produktivitas perusahaan, atau
manajemen yang tidak baik.
Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah hutang agar bisa membuat laporan
yang menunjukkan tingkat modal kerja yang lebih tinggi pada saat perusahaan
sedang menghadapi masalah likuiditas atau keraguan tentang kelangsungan
usahanya.
2.4.3 Siklus Personalia dan Penggajian
Siklus personalia melibatkan berbagai transaksi yang terkait dengan aktivitas
karyawan dan pembayarannya. Kelas transaksi dalam siklus ini adalah transaksi
pengajian.
Siklus penggajian dan personalia meliputi penggunaan tenaga kerja dan
pembayaran kesemua pegawai, tanpa memperhatikan klasifikasi atau metode
penentuan kompensasi. Pegawai dapat berupa eksekutif dengan gaji tetap
ditambah dengan bonus, pekerja kantor berdasarkan gaji bulanan dengan atau
tanpa lembur, wiraniaga berdasarkan komisi, buruh pabrik dan pegawai. serikat
pekerja dibayar berdasarkan jam.
Siklus penggajian dan personalia meliputi semua bentuk kompensasi yang
diberikan kepada seluruh aktivitas tenaga kerja yang dipekerjakan perusahaan.
Rekening-rekening yang terbentuk dalam siklus ini antara lain:
Kompensasi pokok (meliputi gaji, upah, insentip, dan macam-macam tunjangan
karyawan
Pajak atas gaji/upah karyawan
Biaya tenaga kerja langsung (biaya overhead pabrik)
Biaya tenaga kerja langsung
Utang atas gaji/upah karyawan
Gaji dibayar dimuka (uang muka gaji)
Prosedur analitis untuk penggajian dan personalia
Prosedur analitis
Bandingkan saldo akun beban gaji dengan tahun lalu (disesuaikan untuk
peningkatan
Tingkat upah dan peningkatan volume
Bandingkan tenaga kerja langsung sebagai langsung
Bandingkan beban komisi sebagai persentase dari penjualan dengan tahun
laluBandingkan beban pajak ditanggung perusahaan sebagai persentase dari gaji
dan upah dengan tahun lalu (disesuaikan untuk perubahan dalam tarip pajak)
Bandingkan akun hutang pajak penghasilan pegawai dengan tahun lalu
Kekeliruan yang mungkin
Salah saji dari akun beban gaji
Salah saji dari tenaga kerja
Salah saji dalam beban komisi
Salah saji dalam beban pajak ditanggung perusahaan
Salah saji dalam hutang pajak penghasilan pegawai
komponen komponen siklus personalia dan penggajian:
Materialitas
salah saji akibat kecurangan atau kekeliruan yang menghasilkan keputusan
berbeda pada laporan keuangan.
Risiko salah saji dalam perhitungan jam kerja.
Risiko salah saji dalam perhitungan utang gaji
Risiko salah saji dalam pengurangan pajak
Contoh: PT FEB dalam setiap bulannya terdapat masalah perhitungan jam
tenaga kerja. Bulan ke- 1 jam kerja 8 jam, bulan ke-2 10 jam, bulan ke-3 12
jam. Terus menerus seperti itu, hal tersebut akan berpengaruh kepada beban gaji
tenaga kerja.
Risiko bawaan selalu melekat dalam hidup perusahaan. Risiko bawaan dalam
siklus jasa dan personalia, diantaranya:
Hutang Karyawan
Upah Lembur
Gaji Tenaga Kerja
Bonus
Contoh hutang karyawan PT FEB dari seluruh pendapatan karyawan tidak
terbayar karena bencana alam, seperti banjir. Atau bonus yang seharusnya
diberikan 6 bulan sekali, ini diberikan setiap bulan.
b. Risiko Inheren
17
Auditor jarang memperhatikan asersi kelengkapan dalam siklus gaji dan upah
karena sebagian besar karyawan akan segera menuntut majikan mereka jika
tidak dibayar. Akan tetapi, penipuan
gaji dan upah telah menjadi perhatian utama auditor.
c. Prosedur Analitis
Auditor biasanya akan melakukan prosedur analitis ketika memulai audit atas
siklus jasa. personalia karena prosedur ini efektif dari segi biaya.
2.4.4 Siklus Produksi
Siklus produksi berkaitan dengan koversi bahan baku menjadi baran jadi.
Transaksi dalam ini meliputi perencanaan dan pengendalian produksi dan
besarnya tingkatan persediaan. Transaksi dalam siklus ini disebut sebagai
transaksi-transaksi manufaktur (produksi).
Siklus produksi saling berkaitan dengan tiga siklus lain berikut ini:
a. Siklus pengeluaran dalam pembelian bahan baku dan pembayaran berbagai
biaya overhead
b. Siklus jasa personalia dalam pembayaran biaya tenaga kerja pabrik
с. Siklus pendapatan dalam penjualan barang jadi
komponen - komponen siklus produksi:
1. Materialitas
Pertimbangan utama dalam mengevaluasi alokasi materialitas adalah penentuan
besarnya salah saji yang akan mempengaruhi keputusan pemakai laporan
keuangan yang berakal sehat. Pertimbangan sekunder adalah hubungannya
dengan biaya untuk mendeteksi kesalahan. Umumnya audit atas persediaan
termasuk mengamati keberadaan persediaan dan mengaudit ketepatan penilaian
persediaan memerlukan banyak biaya. Akibatnya, auditor biasanya akan
mengalokasikan suatu jumlah yang signifikan dari keseluruhan materialitas ke
audit persediaan, tanpa melebihi jumlah yang ia anggap akan mempengaruhi
analisis pemakai laporan keuangan.
2. Risiko Inheren
18
Risiko inheren dari terjadinya salah saji dalam laporan keuangan yang
disebabkan oleh transaksi persediaan pada jaringan hotel atau distrik sekolah
relatif rendah, karena persediaan bukan merupakan bagian yang material dari
proses inti entitas itu.
3. Prosedur analitis
Prosedur analitis adalah prosedur yang murah dari segi biaya dan dapat
membuat auditor waspada terhadap potensi terjadinya salah saji. Jika persediaan
bersifat material bagi audit laporan keuangan, maka auditor tidak boleh
menganggap bahwa prosedur analitis merupakan pengganti untuk pengujian
rincian lainnya, tetapi prosedur ini bisa sangat efektif dalam memusatkan
perhatian audit dimana salah saji mungkin terjadi.
2.4.5 Siklus Investasi dan Pendanaan
Siklus investasi berkaitan dengan aktivitas kepemilikan surat berharga yang
dikeluarkan oleh perusahaan lain. Siklus pendanaan berkaitan dengan aktivitas
penghimpunan dana yang berasal dari pihak lain, baik sebagai setoran modal
maupu utang jangka panjang, pembayaran kembali utang jangka panjang,
pembayaran bunga dan deviden.
Siklus pendanaan adalah siklus yang berkaitan dengan transaksi pemenuhan
kebutuhan dana yang bersifat jangka panjang.
bersifat jangka panjang.
Risiko salah saji
Risiko bawaan = risiko kesalahan yang tidak terkait dengan faktor SPI.
Risiko pengendalian = risiko kesalahan karena faktor kelemahan SPI.
CARA MENGUKUR POTENSI SALAH SAJI
1. Memahami karakteristik dan tingkat kompleksitas transaksi pendanaan.
2. Memahami sistem pengendalian transaksi.
Materialitas salah saji
Ukuran materialitas salah saji ditentukan berdasarkan pertimbangan profesional
auditor, berdasarkan hasil evaluasi kecukupan dan efektivitas SPI.
Semakin tinggi potensi salah saji, maka sistem dipandang lemah, sehingga
rendah ukuran materialitas salah saji dan bukti audit yang dibutuhkan banyak.
19
Semakin rendah potensi salah saji, maka sistem dipandang kuat, sehingga tinggi
ukuran materialitas salah saji dan bukti audit yang dibutuhkan sedikit.
Contoh potensi salah saji
1. Saldo utang dilaporkan terlalu kecil
2. Kesalahan pembebanan bunga pinjaman
3. Pelunasan pinjaman tidak dicatat
4. Kesalahan akuntansi saham treasuri
5. Kesalahan akuntansi leasing
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Audit adalah pemeriksaan laporan keuangan yang disusun oleh manajemen
beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya. Laporan
keuangan yang harus diperiksa terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan
perubahan modal dan laporan arus kas.
Seorang yang melakukan fungsi auditing dikenal sebagai auditor. Saat ini,
auditor merupakan profesi yang telah berkembang sesuai kebutuhan. Tujuan
pemeriksaan auditor adalah untuk memeriksa dan memperoleh keyakinan,
apakah kegiatan organisasi usaha dalam hal-hal yang material sudah sesuai
dengan kriteria yang ditetapkan. Untuk mencapai tujuan audit (audit objective),
seorang auditor harus membuat rencana audit yang terdiri dari prosedur-
prosedur yang akan dijalankan.
Adapun prosedur Audit terdiri atas Inspeksi, Pengamatan, Konfirmasi,
Permintaan Keterangan, Penelusuran, Perhitungan, Scanning, Pelaksanaan
Ulang dan Teknik Audit
Berbantuan Komputer.
3.2 Saran
Agar makalah ini dapat semakin baik, maka kami memberikan saran bagi
pembaca dalam makalah pengauditan I ini dapat digunakan untuk memperoleh
pengalaman baru dalam pembelajaran pengauditan dan memudahkan
pemahaman konsep, serta dapat membantu pembaca3.2 Saran
Agar makalah ini dapat semakin baik, maka kami memberikan saran bagi
pembaca dalam makalah pengauditan I ini dapat digunakan untuk memperoleh
pengalaman baru dalam pembelajaran pengauditan dan memudahkan
pemahaman konsep, serta dapat membantu pembaca belajar secara mandiri.
Apabila pembaca merasa ada yang kurang tepat dalam penulisan makalah
maupun isi dapat memberikan kelompok kami kritik dan disertakan solusi,
karena kritik hal yang sangat mudah untuk dilakukan namun berbanding
terbalik dengan sebuah solusi.
20
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
audit-siklus- produksi/9111823
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
siklus-audit
[Link]
[Link]
[Link]
tujuan-dan-bukti-audit
[Link]
[Link]#:~:text=Salah%20satu%20teknik%20untuk%20pengujian,tracing
%20(menelusuri%2 Oke%20pencatatan)
[Link]
%[Link]?sequen ce=6&isAllowed=y
[Link]
JENIS_BUKTI_AUDIT_DAN_PROSEDUR_AUDIT
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]