Metode Iqro' untuk Anak Tunarungu PAI
Metode Iqro' untuk Anak Tunarungu PAI
PROPOSAL SKRIPSI
Oleh:
ALFIANA HESTI
NIM. 214110402097
8
Asna Nur Rachma and Afifah Endah Sasanti, “Implementasi Pembelajaran BTA
Melalui Metode Iqro’ Pada Anak SD Dukuh Tebon Gede,” Jurnal Ilmiah Kampus Mengajar,
2021, 31–40, [Link]
9
Rosmiati Azis, “Hakikat Dan Prinsip Metode Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam,” Jurnal Inspiratif Pendidikan 8, no. 2 (2019): 292–300.
proses belajar mengajar di dalam kelas.10 Iqra adalah metode yang
menggunakan cara cepat belajar membaca Al-Qur’an. Iqra’ yang dimaksud
bukan sekedar membaca tulisan, tetapi membaca alam semesta dan
sekitarnya.11 Ada enam tingkatan dalam metode iqro’ pada setiap tingkatan
memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Belajar membaca Al-Qur’an dengan
metode iqro’ dengan menggunakan beberapa teknik seperti teknik praperdati,
ideovisual, latihan refleksi dan latihan menulis, selain itu proses penerapan
metode iqro’ guru juga menggunakan strategi pendekatan individual yaitu
pembelajaran yang dilaksanakan secara face to face antara guru dengan murid.
Dengan penggabungan teknik-teknik tersebut sangat berpeluang besar dalam
keberhasilan proses belajar mengajar. Memberikan pengaruh yang positif
terciptanya kelas yang tanggap, aktif dan kolaboratif.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul ”Penerapan Metode Iqro’ dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam bagi Anak Tunarungu di SLB B Yakut Purwokerto”.
B. Definisi Konseptual
1. Penerapan
Menurut Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) penerapan merupakan
kegiatan menerapkan. Sedangkan menurut beberapa ahli, penerapan
merupakan suatu kegiatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain
untuk mencapai tujuan dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh
suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun
sebelumnya.12
Menurut Setiawan penerapan (implementasi) merupakan perluasan
aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan
10
Nadia Faradibaa, Abdul Jalil, and Imam Syafi’i, “Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam Dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca Al- Qur’an Menggunakan Metode Iqro’
Untuk Siswa Tunarungu Di Slb- B Jati Wiyata Dharma Tuban,” VICRATINA: Jurnal
Pendidikan Islam 7, no. 2 (2022): 183–89,
[Link]
11
Ita Rosita Nur and Rita Aryani, “Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-
Qur’an Melalui Metode Iqra’ Pada Santriwan/Santriwati TPQ Nurussholihin Pamulang Kota
Tangerang Selatan,” AKADEMIK: Jurnal Mahasiswa Humanis 2, no. 3 (2022): 100–110,
[Link]
12
Khuzaimah Khuzaimah and Farid Pribadi, “Penerapan Demokrasi Pendidikan Pada
Pembelajaran Siswa Di Sekolah Dasar,” AL MA’ARIEF : Jurnal Pendidikan Sosial Dan
Budaya 4, no. 1 (2022): 41–49, [Link]
tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana,
birokrasi yang efektif. Kesesuaian antara tujuan dan tindakkan merupakan
bagian yang penting dalam ketercapaian suatu penerapan.13
2. Metode Iqro’
Metode iqro’ adalah salah satu metode dalam membaca Al-Qur’an
yang mempraktikkan langsung bagaimana cara membaca aksasra arab saat
dipelajari metode ini tidak membutuhkan banyak alat untuk mendukung
pemahaman peserta didik sehingga dapat dengan mudah dipelajari dan
dipahami.14 Metode iqro’ merupakan metode yang menekankan cara
membaca Al-Qur’an mempraktikkan langsung membaca dari huruf-huruf
hijaiyah dengan fasih (baik dan benar) sehingga tidak membutuhkan waktu
yang lama dalam mempelajarinya. Terdiri dari enam rangkaian buku jilid,
pada setiap jilid terdapat tingkatan yang berbeda dari yang mudah hingga
tingkatan sulit. Metode iqro’ menjadi salah satu metode dalam membaca
Al-Qur’an yang terkenal dikalangan masyarakat Indonesia karena dapat
dengan mudah untuk dipelajari dan dipraktikkan.15
3. Pendidikan Agama Islam
Berdasarkan KMA nomor 183 tahun 2019 tentang Kurikulum
Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab, Pendidikan Agama Islam (PAI)
adalah suatu mata pelajaran yang didalamnya tentang materi-materi
mengenai Akidah Akhlaq, Al-Qur’an Hadis, Fiqih dan Sejarah
Kebudayaan Islam (SKI).16
Berdasarkan peraturan diatas, Pendidikan Agama Islam adalah
usaha sadar yang dilaksanakan oleh guru Pendidikan Agama Islam dalam
pemberian, pemupukan dan pengembangan pengetahuan, penghayatan,
pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman kepada peserta didik supaya
13
Khuzaimah and Farid Pribadi.
14
Suci Anggita, “Pengaruh Penggunaan Metode Iqra’ Terhadap Kemampuan
Membaca Al-Qur’an Pada Peserta Didik Di TPQ Aisyiyah,” Jurnal Penelitian, Pendidikan
Dan Pengajaran: JPPP 4, no. 1 (2023): 32–54, [Link]
15
Rachma and Sasanti, “Implementasi Pembelajaran BTA Melalui Metode Iqro’ Pada
Anak SD Dukuh Tebon Gede.”
16
Permendikbud, “Keputusan Menteri Agama Nomor 183 Tahun 2019 Tentang
Kurikulum PAI Dan Bahasa Arab Pada Madrasah,” Direktorat KSKK Madrasah Direktorat
Jendral Pendidikan Islam Kementrian Agama Republik Indonesia, 2019, 1–466.
dapat supaya dapat menjadi warga negara yang religius dan berakhlak
mulia.17
Pendidikan Agama Islam merupakan pendidikan yang istimewa
karena bersumber dalam kitab suci Al-Qur’an dan hadits. Pendidikan
Agama Islam merupakan pendidikan dasar yang diajarkan sejak usia dini
baik di sekolah formal maupun non formal. Pendidikan Agama Islam
menjadi dasar sebuah ilmu pengetahuan, sebagai bekal manusia di masa
depan dalam berperilaku, bermasyarakat dan berbudaya. Mengarahkan
manusia agar menjadi pribadi yang religius, berakhlak mulia dan dapat
dipercaya.
4. Anak Tunarungu
Anak berkebutuhan khusus tunarungu adalah anak mengalami
gangguan atau kelainan pendengaran sehingga dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak, tumbuh kebangnya cenderung
lambat dibandingkan dengan anak yang normal khususnya dalam
berkomunikasi, berbahasa dan kepekaan terhadap indra. Dikelompokkan
dalam tuli (deaf) dan kurang pendengaran (hard of hearing) yang
memberikan pengaruh terhadap pendengaran anak sejak lahir.18
Orang dengan gangguan pendengaran adalah yangkehilangan
kemampuan dalam mendengar sehingga menghambat proses informasi
bahasa melalui pendengaran, baik memakai ataupun tidak memakai
alat bantu dengar dimana batas pendengaran yang dimilikinya cukup
memungkinkan keberhasilan proses informasi bahasa melalui
pendengaran.19 Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan
kehilangan fungsi pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat
menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indera
pendengarannya.20
17
Azis, “Hakikat Dan Prinsip Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.”
18
Nur Haliza, Eko Kuntarto, and Ade Kusmana, “Pemerolehan Bahasa Anak
Berkebutuhan Khusus (Tunarungu) Dalam Memahami Bahasa,” Jurnal Genre (Bahasa,
Sastra, Dan Pembelajarannya) 2, no. 1 (2020): 5–11, [Link]
19
Sari Jusnita Br Sebayang, Gabriela Anjelika Br, Ginting and Monang Tua
Simamora, “Gambaran Interaksi Sosial Tunarungu Di Sekolah Inklusif Rumah Ceria Medan,”
Jurnal Ekonomi, Bisnis Dan Teknologi 4, no. 2 (2024): 147–54.
20
Anindita Almas Meidiena, Al Laily Makrifatus Saadah, and Syifatunnazmiah,
“Dukungan Sosial Keluarga Terhadap Kepercayaan Diri Tunarungu,” Proceeding of
5. SLB B Yakut Purwokerto
Sekolah Luar Biasa (SLB) B Yakut Purwokerto merupakan
sekolah formal yang berlokasi di Kecamatan Purwokerto Timur,
Kabupaten Banyumas. SLB B Yakut Purwokerto ini berada di bawah
Yayasan Kesejahteraan Usaha Tama atau sering disebut (YAKUT), berdiri
pada tanggal 2 Juni 1916. Yayasan ini adalah sebuah Yayasan yang
bergerak dalam bidang sosial, khususnya dalam bidang pendidikan khusus
untuk anak berkebutuhan khusus bagi anak yang mempunyai gangguan
atau hambatan pada indera pendengaran atau untuk anak berkebutuhan
khusus tunarungu.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini yaitu ”Bagaimana penerapan metode iqro’ dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam bagi anak tunarungu di SLB B Yakut Purwokerto ?”
E. Kajian Pustaka
Kajian pustaka adalah proses penelitian yang melibatkan pencarian,
pengumpulan, dan observasi terhadap literatur atau referensi yang relevan
dengan topik penelitian tertentu. Tujuan utama kajian pustaka adalah untuk
memahami pengetahuan yang telah ada tentang topik tersebut,
mengidentifikasi keruntuhan pengetahuan, serta mengembangkan pemahaman
yang lebih dalam tentang konteks penelitian. Adapun kajian pustaka dalam
penelitian yang hendak dilakukan oleh penulis adalah sebagai berikut :
Pertama, skripsi yang berjudul “Pembelajaran Al-Qur’an bagi Anak
Berkebutuhan Khusus di Sekolah Inklusi Jakarta” karya Zara Fauziah . Pada
skripsi ini sama-sama membahas tentang penerapan metode iqro’ dalam
membaca Al-Qur’an. Adapun perbedaanya adalah skripsi karya Zara Fauziah
membahas penerapan metode iqro’ dalam membaca Al-Qur’an pada peserta
didik sekolah inklusi Aluna Jakarta sedangkan penelitian kali ini berfokus pada
anak tunarungu di sekolah luar biasa.21
Kedua, skripsi yang berjudul “Penerapan Metode Iqro’ dalam
meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an pada Kelas Ibtida Santri
Pondok Pesantren Nurul Hidayah Pusat Sadeng Kecamatan Leuwisadeng
21
Z Fauziah, “Pembelajaran Al-Qur’an Bagi Anak Berkebutuhan Khusus Di Sekolah
Inklusi Aluna Jakarta,” [Link], no. 11150110000030 (2020): 10,
[Link]
[Link]/dspace/bitstream/123456789/51210/1/11150110000030_ZARA
FAUZIAH - Zara [Link].
Kabupaten Bogor” karya Siti Ikrimatul Hasanah. Pada skripsi ini sama-sama
membahas tentang penerapan metode iqro’. Adapun perbedaanya adalah
skripsi karya Siti Ikrimatul Hasanah membahas penerapan metode iqro’ dalam
meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an pada santri pondok pesantren
sedangkan penelitian kali ini berfokus penerapan metode iqro’ pada anak
tunarungu di sekolah luar biasa.22
Ketiga, jurnal yang berjudul “Kemampuan Membaca Al-Qur’an bagi
Anak Tunarungu “ karya Milania dan M. Dahlan dalam jurnal Pendidikan Luar
Sekolah Vol. 15, No. 1, Mei 2021. Pada jurnal ini dan sekripsi yang akan
ditulis penulis sama-sama menggunakan metode iqro’ pada anak berkebutuhan
khusus tunarungu namun, artikel ini lebih fokus dalam membahas faktor-faktor
yang menghambat kemampuan dalam membaca Al-Qur’an bagi anak
tunarungu.23
Keempat, jurnal yang berjudul “Implementasi Metode Tilawati dan
Metode Iqro’ dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an (Di SD
Islam Al-Azhar dan SDIT Nur El-Qolam Kabupaten Serang)” karya Nurhayah
dan Muhajir Muhajir dalam jurnal Qatharuna Vol. 7 No. 2 – Desember 2020.
Pada jurnal ini dan sekripsi yang akan ditulis oleh penulis sama-sama
menggunakan metode iqro’. Perbedaannya artikel ini menggunakan tambahan
metode tilawati dan berfokus pada SD dan SDIT sedangkan penelitian ini
berfokus pada anak berkrbutuhan khusus tunarungu di sekolah luar biasa.24
Kelima, jurnal yang berjudul ”Penerapan Metode Abata dalam
Membantu Hafalan Al-Qur’an pada Anak Berkebutuhan Khusus Tunarungu di
Pondok Pesantren Abata Temanggung Tahun 2023” karya Riski Kristianto
Pambudi, Joko Sarjono, Iffah Mukhlisah yang diterbitkan dalam jurnal
Pendidikan Islam Vol. 3, No. 2, September 2023, pp. 200-208. Pada jurnal ini
dan skripsi yang akan ditulis oleh penulis mempunyai kesamaan pada objek
22
Siti Ikrimatul Hasanah, “Penerapan Metode Iqro’ Dalam Meningkatkan
Kemampuan Membaca Al-Qur’an Pada Kelas Ibtida Santri Pondok Pesantren Nurul Hidayah
Pusat Sadeng Kecamatan Leuwisadeng KABUPATEN BOGOR,” 2021, 6.
23
Milania and M Dahlan, “Kemampuan Membaca Al-Qur’an Bagi Anak Tunarungu,”
Jurnal Pendidikan Luar Sekolah 15, no. 1 (2021): 11–19,
[Link]
24
Nurhayah Nurhayah and Muhajir Muhajir, “Implementasi Metode Tilawati Dan
Metode Iqro’ Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an,” Qathrunâ 7, no. 2
(2020): 41, [Link]
penelitian yaitu anak berkebutuhan khusus tunarungu. Perbedaanya pada jurnal
ini menggunaan metode Abata dalam membantu hafalan Al-Qur’an dan tempat
penelitiannya di pondok pesantren sedangkan penelitian ini menggunakan
metode iqro’ pada pembelajatan Pendidikan Agama Islam di SLB.25
25
Riski Kristianto Pambudi, Joko Sarjono, and Iffah Mukhlisah, “Penerapan Metode
Abata Dalam Membantu Hafalan Al-Qur’an Anak Berkebutuhan Khusus Tunarungu Di
Pondok Pesantren Abata Temanggung Tahun 2023,” Al’Ulum Jurnal Pendidikan Islam 3, no. 2
(2023): 203–12, [Link]
26
Afi Parnawi et al., “Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Meningkatkan
Kemampuan Praktek Salat Siswa Kelas IV Di SD Al-Azhar 1 Kota Batam,” Journal on
Education 05, no. 02 (2023): 4603–11.
27
Zulfitria Zulfitria and Zainal Arif, “Peningkatan Kompetensi Membaca Al-Qur’an
Melalui Metode Iqro’ Di Tk Hiama Kids-Bogor,” Al-I’jaz : Jurnal Studi Al-Qur’an, Falsafah
Dan Keislaman 4, no. 1 (2022): 60–80, [Link]
2. Metode musyafahah, yaitu langsung melihat gerak. Gerak gerik
bibir gurunya dan melihat gerak gerik bibir siswanya dalam
mengucapkannya.
3. Metode dengan ucapan yang jelas dan komunikatif
4. Metode bertanya, dengan cara menunjuk bagian-bagian huruf
tertentu dan ditanyakan kepada siswa.28
Dengan metode yang bervariasi, anak akan lebih
menyesuaikan dengan metode manakah yang paling mudah untuk
diterapkan sehingga dapat dengan mudah memahami materi.
3. Pendidikan Agama Islam
a. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran merupakan sebuah proses yang dilakukan
seorang pendidik agar peserta didik dapat melaksanakan proses
belajar, dan peserta didik dapat melaksanakan proses belajar
dimana saja, kapan saja, dan dengan apa dia belajar. Sehingga,
pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk
memungkinkan terjadinya proses belajar pada peserta didik. 29
Pembelajaran agama Islam adalah usaha dan serta terencana dalam
mempersiapkan partisipan didik untuk memahami,menguasai,
menguasai sampai beriktikad panutan agama Islam dibarengi
dengan edukasi guna memuliakan pengikut agama lain dalam
hubungannya dengan aman dampingi pengikut beriktikad
hingga terkabul kesatuan serta aliansi bangsa.30
Pendidikan agama Islam diartikan suaru pembelajaran yang
dilakukan oleh seorang guru di sebuah instansi pendidikan yang
memberikan materi agama Islam kepada orang yang ingin
mengetahui lebih dalam tentang agama Islam baik dari segi materi
akademis maupun dari segi praktik yang dapat dilakukan sehari-
28
Nurhayah and Muhajir, “Implementasi Metode Tilawati Dan Metode Iqro’ Dalam
Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an.”
29
Azis, “Hakikat Dan Prinsip Metode Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.”
30
A Sanga, A Rukajat, and K Ramdhani, “Strategi Guru PAI Dalam Meningkatkan
Mutu Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Dasar Dan Menengah,” Jurnal
Pendidikan Tambusai 6 (2022): 16067, [Link]
hari.31 Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di berbagai
jenjang dan jenis pendidikan secara keseluruhan berada pada
lingkup Alquran dan Hadits, keimanan, akhlaq, fiqih, dan sejarah.
Ketercapaian materi pembelajaran didukung dengan adanya
kurikulim, guru profesional, metode yang tepat, sarana dan
prasarana yang memadai, serta kerja sama antar warga sekolah
dengan masyarakat yang baik.32
b. Dasar Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Islam bersumber pada enam hal, yaitu Al-
Qur’an (yang merupakan sumber utama dalam ajaran Islam), as
Sunnah (perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi atas perkataan
dan perbuatan para sahabatnya), kesepakatan para ulama (ijma’),
kemaslahatan umat (mashalih al-mursalah), tradisi atau kebiasaan
masyarakat (urf) dan ijtihad (hasil para ahli dalam Islam).33
Ini artinya, bahwa pendidikan Islam dalam perencanaan,
perumusan, dan pelaksanaannya pada pembentukan pribadi yang
berakidah Islam, berakhlak mulia, berpikiran bebas, untuk
mengarahkan mengembangkan potensi manusia secara terpadu
tanpa ada pemisahan.34
c. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan Pendidikan Islam yang bertugas di samping
menginternalisasikan (menanamkan dalam pribadi) nilai-nilai
islami, juga mengembangkan anak didik agar mampu
melakukan pengamalan nilai-nilai itu secara dinamis dan
fleksibel dalam batas-batas konfigurasi idealitas wahyu Tuhan.35
31
Yulia Syafrin et al., “Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,”
Educativo: Jurnal Pendidikan 2, no. 1 (2023): 72–77,
[Link]
32
Muh Haris Zubaidillah and M. Ahim Sulthan Nuruddaroini, “Analisis Karakteristik
Materi Pelajaran Pendidikan Agama Islam Di Jenjang Sd, Smp Dan Sma,” ADDABANA:
Jurnal Pendidikan Agama Islam 2, no. 1 (2019): 1–11, [Link]
33
Sudarto, “Dasar-Dasar Pendidikan Islam,” Jurnal Penelitian Pendidikan Dan
Keagamaan Islam 6, no. 1 (2020): 56–66.
34
Dian Fitriana, “Hakikat Dasar Pendidikan Islam,” Tarbawy : Jurnal Pendidikan
Islam 7, no. 2 (2020): 143–50, [Link]
35
H Husaini, “Hakikat Tujuan Pendidikan Agama Islam Dalam Berbagai Perspektif,”
Cross-Border: Jurnal Kajian Perbatasan Antarnefara, Diplomasi Dan Hubungan
Internasional 4, no. 1 (2021): 114–26.
Dalam perumusan tujuan pendidikan Islam, paling tidak ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
1) Tujuan dan tugas manusia di muka bumi, baik secara vertikal
maupun horizontal.
2) Sifat-sifat dasar manusia.
3) Tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban kemanusiaan.
4) Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam
Dalam aspek ini, ada 3 macam dimensi ideal Islam, yaitu ;
a) Mengandung nilai yang berupaya meningkatkan
kesejahteraan hidup manusia di bumi.
b) Mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha
keras untuk meraih kehidupan yang baik.
c) Mengandung nilai yang dapat memadukan antara
kepentingan kehidupan dunia dan akhirat.36
Dengan tercapainya dimensi ideal Islam menjadikan
manusia mempunyai tujuan hidup yang baik, terhindar dari hal-hal
yang tidak bermanfaat dan mengandung kerusakan.
4. Anak Tunarungu
a. Penyebab Anak Tunarungu
Orang-orang yang mengalami tunarungu bisa disebabkan
oleh berbagai faktor, seperti kondisi yang terjadi sebelum lahir
(prenatal), saat lahir (natal), maupun setelah lahir (postnatal).
Untuk lebih detail makan akan dibahas lebih lanjut berdasarkan
kedua faktor yaitu internal dan eksternal:
1) Faktor Internal
a) Genetic dari orang tua atau salah satu orang tua yang
menderita ketulian. Terdapat berbagai keadaan genetik
sehingga berpengaruh pada ketunarunguan atau ketulian.
Penularan atau transmisi dari berhubungan dengan jenis
kelamin dan genetik yang lebih dominan represif.
36
Fitriana, “Hakikat Dasar Pendidikan Islam.”
b) Saat kandungan berusia 12 Minggu jika terkena penyakit
rubella akan berakibat fatal terhadap kandungan. Ada
penelitian yang mengatakan 199 bayi yang ketika
mengandung ibunya terinfeksi virus rubella (1964-1965),
50% berdampak pada sistem pendengaran anaknya.
c) Menderita keracunan darah Toxaminia pada saat ibu
mengandung. Kracunan darah Toxaminia dapat berakibat
rusaknya plasenta berpengaruh pada perkembangan janin.
2) Faktor Eksternal
a) Ketika anak terkena Harpes Imlex, apabila alat kelamin ibu
diserang oleh infeksi ini akan menyebabkan ketunarunguan
pada anak apabila menyerang sayaraf anak begitu juga
penyakit kelamin lainnya bisa menular pada anak jika dalam
kondisi aktif.
b) Meningitis. Beberapa penelitian yang dilakukan ahli
tunarungu (Trybus pada tahun 1985) memperoleh
keterangan bahwa 7,33% Meningitis (Radang selaput otak)
mempengaruhi ketunarunguan, Vermon pada 1968
melaporkan 8,1% sedangkan Ries pada 1973 melaporkan
4,9%.
c) Menyebabkan ketunarunguan Kecelakaan yang berdampak
pada rusaknya bagian tengah, dalam alat pendengaran yang
menyebabkan ketunarunguan.37
b. Klasifikasi Anak Tunarungu
Istilah tunarungu digunakan untuk orang yang mengalami
gangguan atau ketidakmampuan dalam hal pendengaran, mulai dari
tingkatan yang ringan sampai yang berat sekali yang
diklasifikasikan ke dalam tuli (deaf) dan kurang dengar (Hard of
hearing). Ketunarunguan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran, ketunarunguan
dapat diklasifikasikan antara lain : tunarungu ringan (Mild
37
Risa Azizah Irawan and Nadia Yuliarti, “Anak Tunarungu (Kelainan Pendengaran),”
PPSDP Undergraduate Journal of Educational Sciences 1, no. 1 (2024): 1–17.
Hearing Loss), tunarungu sedang (Moderate Hearing Loss),
tunarungu agak berat (Moderately Severe Hearing Loss),
tunarungu berat (Severe Hearing Loss), tunarungu berat sekali
(Profound Hearing Loss).
2) Berdasarkan saat terjadinya, ketunarunguan dapat
diklasifikasikan menjadi 2 yaitu: ketunarunguan prabahasa
(Prelingual Deafness) dan ketunarunguan pasca bahasa (Post
Lingual Deafness).
3) Berdasarkan letak gangguan pendengaran secara anatomis,
ketunarunguan dapat diklasifikasikan antara lain: tunarungu
tipe konduktif (kerusakan/gangguan yang terjadi pada telinga
luar, tengah, dan dalam), tunarungu tipe sensorineural
(kerusakan yang terjadi pada syaraf pendengaran).
4) Berdasarkan etiologi atau asal usulnya ketunarunguan
diklasifikasikan menjadi: tunarungu endogen dan tunarungu
eksogen.38
c. Karakteristik Anak Tunarungu
Ada beberapa kelompok karateristik tunarungu yaitu
sebagai berikut:
1) Kelompok 1: Hilangnya pendengaran yang ringan (20-30 dB).
Penderita hilangnya pendengaran ringan masih bisa
berkomunikasi dengan indra pendengarnya. Kondisi ini
ditengah antara orang yang sulit mendengar dengan orang
normal.
2) Kelompok 2: Hilangnya pendengaran marginal (30-40 dB).
Penderita hilangnya pendengaran marginal bisa berkomunikasi
dengan orang secara norman dengan jarak yang dekat, jarak
yang terlalu jauh dapat mempengaruhi komunikasinya.
Pelatihan yang intens akan membantu pemulihan pendengaran
bagi penderita hilangnya pendengaran marginal.
38
Costrie Ganes Widayanti Ika Febrian Kristiana, “Buku Ajar Psikologi Anak
Berkebutuhan Khusus 1,” 2021, 1–110.
3) Kelompok 3: Hilangnya pendengaran sedang (40-60 dB).
Penderita hilangnya pendengaran sedang membutuhkan bantuan
alat pendengaran dan kepekaan mata untuk dapat berkomunikasi
dengan yang lainnya.
4) Kelompok 4: Hilangnya pendengaran yang berat (6075dB).
Penderita hilangnya pendengaran berat perlu berlatih dengan
teknik-teknik khusus untuk dapat berkomunikasi dengan yang
lainnya, baik dengan belajar bahasa isyarat dan ketajaman mata.
5) Kelompok 5 Hilangnya pendengaran yang parah (>75dB).
Penderita hilangnya pendengaran parah Pada kelompok ini tidak
bisa juga mengandalkan teknik-teknik tertentu dalam
berkomunikasi, pada penderita ini alat bantu pendengaran sudah
tidak mampu untuk digunakan.39
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan
data yang mendalam tentang fenomena yang terjadi di lapangan. Penelitian
kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi
objek alamiah, dimana peneliti merupakan instrumen kunci. 40 Penelitian
kualitatif melibatkan studi menggunakan dan mengkoleksi variasi materi-
materi empiris, studi kasus, pengalamanpersonal, introspektif, life histori,
interview, observasi, sejarah, interaksional, dan teks visualyang
mengambarkan rutinitas dan problem waktu dan arti hidup individual.41
Dalam pendekatan kualitatif menggunakan teknik observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Penelitian deskriptif kualitatif memberikan
deskripsi fenomena secara detail, mendalam dan lengkap. peneliti menggali
suatu fenomena tertentu (kasus) dalam suatu waktu dan kegiatan serta
mengumpulkan informasi secara terinci dan mendalam dengan
menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data selama periode
39
Irawan and Yuliarti, “Anak Tunarungu (Kelainan Pendengaran).”
40
D. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan Tindakan, 2013.
41
Syahrial Hasibuan et al., Media Penelitian Kualitatif, Jurnal EQUILIBRIUM, vol. 5,
2022, 39, [Link]
tertentu. Metode penelitian ini berguna untuk menggali fenomena yang
beragam serta memberikan wawasan tentang pengalaman yang mendalam.42
2. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian yang dipilih oleh peneliti yaitu di SLB B Yakut
Purwokerto. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena belum ada
peneliti yang yang meneliti bagaimana penerapan metode iqro’ dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi anak tunarungu.
Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan sesuai waktu penelitian
yang tercantum dalam surat izin observasi, yaitu pada tanggal 10 Desember
2024 sampai 10 Februari 2025.
3. Objek dan Subjek Penelitian
a. Objek Penelitian (definisi)
Peneliti mengkaji suatu topik yang disebut dengan objek
penelitian. Penelitian ini objeknya adalah penerapan penerapan metode
iqro’ dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi anak tunarungu
di SLB B Yakut Purwokerto.
b. Subjek Penelitian (definisi)
Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah kepala sekolah dan
guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan peserta didik. Kepala
sekolah yakni Netti Lestari dan guru mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam yakni Muftatihah sebagai sumber untuk memperoleh data dan
implementasi metode iqro’. Peneliti memilih seubjek penelitian karena
tertarik dalam pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
sekolah.
4. Teknik Pengumpulan Data
a. Metode Observasi (Pengamatan)
Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang melibatkan
pengamatan langsung terhadap partisipan dan konteks yang terlibat
dalam fenomena penelitian.43 Mengamati apa yang terjadi dalam objek
42
Dimas Assyakurrohim et al., “Case Study Method in Qualitative Research,” Jurnal
Pendidikan Sains Dan Komputer 3, no. 01 (2022): 1–9.
43
Ardiansyah, Risnita, and M. Syahran Jailani, “Teknik Pengumpulan Data Dan
Instrumen Penelitian Ilmiah Pendidikan Pada Pendekatan Kualitatif Dan Kuantitatif,” Jurnal
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam 1, no. 2 (2023): 1–9, [Link]
dari jarak dekat, termasuk kejadian yang terjadi di alam sekitar dalam
jangkauan tidak terbatas. Dilakukan dengan partisipasi pengamat ikut
serta dalam kegiatan yang berlangsung dan non partisipasi pengamat
tidak ikut kegiatan yang berlangsung. Teknik pengumpulan data dengan
observasi digunakan bila, penelitian berkenaan dengan perilaku manusia,
proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak
terlalu besar.44
Metode observasi pada penelitian ini dilakukan dengan
pengamatan langsung terkait penerapan metode iqro’ dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SLB B Yakut Purwokerto dengan sistwm
pembelajaran tatap muka di dalam kelas.
b. Metode Wawancara (Interview)
Wawancara adalah salah satu teknik pengumpulan data kualitatif
yang sering digunakan terkait pemenuhan data yang kurang lengkap.
Dalam metode wawancara, terdapat dua teknik wawancara yaitu pertama,
wawancara terstruktur, wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik
pengumpulan data, bila peneliti telah mengetahui dengan pasti tentang
informasi apa yang diperoleh, oleh karena itu dalam melakukan
wawancara, peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa
pertanyaan-pertanyaan tertulis yang alternatif jawabannya pun telah
disiapkan; kedua, wawancara tidak terstruktur wawacara tidak
terstruktur, adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak
menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis
dan lengkap untuk pengumpulan datanya.45
Wawanca adalah komunikasi yang terdiri dari dua orang atau
lebih untuk menggali informasi yang dibutuhkan. Wawancara kualitatif
bertujuan untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang
pengalaman, pandangan, dan perspektif individu terkait fenomena yang
diteliti.46 Peneliti melakukan wawancara dengan subjek penelitian kepala
44
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan Tindakan.
45
Mohamad Anwar Thalib, “Pelatihan Teknik Pengumpulan Data Dalam Metode
Kualitatif Untuk Riset Akuntansi Budaya,” Seandanan: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
2, no. 1 (2022), [Link]
46
Ardiansyah, Risnita, and Jailani, “Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen
Penelitian Ilmiah Pendidikan Pada Pendekatan Kualitatif Dan Kuantitatif.”
sekolah dan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SLB B
Yakut Purwokerto.
c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi melibatkan pengumpulan data dari dokumen, arsip,
atau bahan tertulis lainnya yang berkaitan dengan fenomena penelitian.
Dokumen yang digunakan dapat berupa catatan, laporan, surat, buku,
atau dokumen resmi lainnya. Studi dokumentasi memberikan wawasan
tentang konteks historis, kebijakan, peristiwa, dan perkembangan yang
relevan dengan fenomena yang diteliti.47
Untuk kelengkapan data dibutuhkan dokumentai kegiatan yang
berkaitan dengan penerapan metode iqro’ dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SLB B Yakut Purwokerto.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif adalah proses mencari dan
menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara,
catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga lebih mudah dipahami,
dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.48 Rangkaian proses
analisa data penelitian kualitatif sebagai berikut:
a. Pengumpulan Data
Metode yang digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan suatu
data yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi dan ditulis, dipahami
dan dialasisa dengan baik dan benar.
b. Reduksi Data
Reduksi data berisi rangkuman atau pokok dari pembahasan,
memilah dan memilih hal yang tidak perlu untuk dihilangkan. Sehingga
dapat memberikan gambaran yang jelas terhadap penelitian tersebut. Hal
tersebut supaya tercapainya suatu tujuan, penelitian lapangan merupakan
tujuan utama dari penelitian kualitatif.
47
Ardiansyah, Risnita, and Jailani.
48
Abdul Fatah Nasution, Metode Penelitian Kualitatif, 2015, 131.
H. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan adalah alur penyajian dalam penyusunan
laporan penelitian yang diuraikan secara singkat dalam bentuk narasi pada
setiap bab. Adapun sistematika pembahasan pada penelitian ini, sebagai
berikut:
Bagian awal merupakan bagian yang berfungsi untuk pengantar dan
identitas laporan penelitian. Pada bagian ini terdiri dari sampul depan, halaman
judul, pernyataan keaslian, hasil lolos cek plagiasi, halaman pengesahan, nota
dinas pembimbing, abstrak dan kata kunci, pedoman transliterasi, kata
pengantar, daftar isi, dan daftar lampiran.
Bagian utama adalah inti dari laporan penelitian. Pada bagian ini,
terdapat lima bab yang akan dibagas, sebagai berikut:
Bab I (Pendahuluan), merupakan bagian yang berisi gambaran umum
untuk memberikan pola pemikiran bagi keseluruhan kaporan penelitian. Dalam
bab ini akan dibahas mengenai latar belakang masalah, definisi konseptual,
rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka dan
sistematika pembahasan.
Bab II (Landasan Teoritis), berisi tentang landasan mengenai kerangka
penelitian, yang berisi teori-teori yang sesuai dengan objek penelitian, yaitu
pada sub bab pertama berisi tentang pengertian dan tujuan metode iqro’, sub
bab kedua membahas tentang pengertian dan macam-macam pembelajaran,
pengertian pendidikan agama Islam, dasar dan tujuan pendidikan agama Islam,
sub bab yang ketika berisi tentang pengertian tunarungu, penyebab tunarungu,
klasifikasi dan karakteristik tunarungu.
Bab III (Metode Penelitian), merupakan bagian yang menjelaskan
bagaimana penelitian ini dilakukan secara teknis. Bagian ini meliputi jenis
penelitian, tempat dan waktu penelitian, objek dan subjek penelitian, teknik
pengumpulan data, dan teknik analisis data.
Bab IV (Hasil Penelitian dan Pembahasan), merupakan bagian yang
menjelaskan hasil penelitianyang telah dilaksanakan. Bagian ini berisi jawaban
atas rumusan masalah penelitian yang berupa argumentasi analisis yang
didukung dengan data.
Bab V (Penutup), merupakan bagian yang berfungsi sebagai ringkasan
akhir dari penelitian. Bagian ini berisi kesimpulan dan saran. Dalam
kesimpulan disajikan hasil penelitian secara tegas dan lugas sesuai dengan
permasalahan penelitian. Kemudian peneliti memberikan saran yang
oprasional berdasarkan temuan penelitian. Saran tersebut merupakan tindak
lanjut sumbangsih penelitian bagi perkembangan teori.
Bagian akhir merupakan penutup dari keseluruhan laporan penelitian.
Pada bagian ini terdiri dari daftar pustaka, lampiran, dan daftar riwayat hidup.
I. Daftar Pustaka
Haliza, Nur, Eko Kuntarto, and Ade Kusmana. “Pemerolehan Bahasa Anak
Berkebutuhan Khusus (Tunarungu) Dalam Memahami Bahasa.” Jurnal
Genre (Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya) 2, no. 1 (2020): 5–11.
[Link]
Ika Febrian Kristiana, Costrie Ganes Widayanti. “Buku Ajar Psikologi Anak
Berkebutuhan Khusus 1,” 2021, 1–110.
Jabar, Irmana Abdu Al, Mujahid Rasyid, and Huriah Rachmah. “Implementasi
Metode Iqro’ Dalam Pembelajaran Huruf Hijaiyah Pada Anak Berkebutuhan
Khusus (Tunarungu) Kelas VI Di SLB Negeri Cicendo Kota Bandung.”
Bandung Conference Series: Islamic Education 2, no. 1 (2022): 193–98.
[Link]
Nur, Ita Rosita, and Rita Aryani. “Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca
Al-Qur’an Melalui Metode Iqra’ Pada Santriwan/Santriwati TPQ
Nurussholihin Pamulang Kota Tangerang Selatan.” AKADEMIK: Jurnal
Mahasiswa Humanis 2, no. 3 (2022): 100–110.
[Link]
Parnawi, Afi, Bayu Mujrimin, Yuli Fatimah Waro Sari, and Bagus Wahyudi
Ramadhan. “Penerapan Metode Demonstrasi Dalam Meningkatkan
Kemampuan Praktek Salat Siswa Kelas IV Di SD Al-Azhar 1 Kota Batam.”
Journal on Education 05, no. 02 (2023): 4603–11.
Rachma, Asna Nur, and Afifah Endah Sasanti. “Implementasi Pembelajaran BTA
Melalui Metode Iqro’ Pada Anak SD Dukuh Tebon Gede.” Jurnal Ilmiah
Kampus Mengajar, 2021, 31–40. [Link]
Sebayang, Gabriela Anjelika Br, Ginting, Sari Jusnita Br, and Monang Tua
Simamora. “Gambaran Interaksi Sosial Tunarungu Di Sekolah Inklusif
Rumah Ceria Medan.” Jurnal Ekonomi, Bisnis Dan Teknologi 4, no. 2
(2024): 147–54.
“UU Tahun 2003 Nomor 20.” Zitteliana 19, no. 8 (2003): 159–70.