0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan14 halaman

Menebas: Magis dan Viskositas Mana

Diunggah oleh

afrizalshevar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan14 halaman

Menebas: Magis dan Viskositas Mana

Diunggah oleh

afrizalshevar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 4: Langkah Baru Tanpa Bayangan

*Duke of Morrow, Akademi Velmara

Malam mulai menyelimuti dunia dengan kegelapan dan nila di langit barat, selayaknya askara
adalah kanvas raksasa tempat tuhan pernah menulis takdir dunia. Bayangan panjang tercipta
akibat bangunan tinggi nan besar laksamana istana di sana, setiap sudutnya bercahaya,
menjelaskan apa itu kemegahan. Seolah bangunan itu memang dibangun hanya untuk
memecah heningnya malam.

Masuk lebih dalam salah satu lampu ruangan yang menyala lebih redup dari lainnya, terlihat
di sana dua wanita yang fokus dengan pekerjaannya. Satu orang dengan kacamata yang tidak
lain adalah Profesor Renna, dan salah satu asistennya Sylle Alune, siswi yang sebelumnya
membantu proses perhitungan dari magitech penguak elemental core.

“Sudah berapa kali aku mencoba menghitung ulang dan mengotak-atik Ether Scope juga
tidak ada hasil yang berubah,” gerutu Sylle, rambutnya yang sudah acak-acakan seakan
memberitahukan bahwa ia telah bergulat lama dengan magitech itu. “Sudah kucoba
mengukur manaku sendiri juga hasilnya sama... 70, kecil sekali dibandingkan dirinya.”

Karya Profesor Renna dan Sylle adalah Ether Scope yang sudah terbukti dapat mengetahui
serta mengukur ketertarikan elemental core dan viskositas mana. Bola kristal besar di dalam
kotak adalah hasil pengekstrakan murni dari setiap magis yang langsung beresonasi dengan
mana seseorang. Sedangkan kotak itu perannya sebagai penghitung kekentalan mana, bekerja
berdasarkan jumlah mana di dalam tubuh.

“Simbol yang sama dengan anak itu, tapi ini hanyalah satu. Tapi mengapa anak itu punya
empat?” sahut Profesor Renna yang sudah ke sekian kalinya menggunakan alat tersebut.

“Profesor Renna yang memiliki viskositas mana sebesar 138 saja bisa menggunakan lima
macam sihir... Bagaimana dengan anak itu?” Sylle melemaskan kepalanya hingga membentur
meja. “Belum masuk akademi, viskositas mana 400... apalagi? Mage circle 9?”

Profesor Renna duduk di samping asistennya, meminum sedikit dari kopinya yang tersisa.
“Bahkan tingkat saint pun tidak ada yang memiliki viskositas mana sebesar 400.”

“Pasti ada alasannya...”

“Prof, bolehkah aku tidur sejenak? Aku ingin menikmati waktu setelah ujian...” gumam
Sylle.

Pandangan profesor itu masih terpaku pada bola kristal dari Ether Scope, sesekali benda
tembus pandang itu memantulkan bayangan Vaelric dalam pikirannya.

“Jika kotak bisa menghitung jumlah viskositas mananya, lalu mengapa tidak ada elemental
core yang tertarik dengan jumlah mana sebesar itu?”
Ia terdiam sejenak, menyilangkan tangannya. Tidak lama hingga ia membuka telapak
tangannya untuk mengeluarkan nyala api. “Magis api sangat tertarik dengan jumlah mana
yang besar... atau setidaknya kegelapan bisa juga mystic...”

“Jika aku mencoba membuat paduan bola kristal itu dengan elemental core mystic yang
besar... Bagaimana hasilnya?” Jari-jemarinya sibuk menggerakkan pena, menghitung dan
menulis rumus yang akan ia realisasikan jika memang masuk akal.

“Jika profesor menambahkan paduan elemental core mystic, jadinya harus menambahkan
paduan kegelapan juga... dan kalaupun paduan itu besar, elemental core yang lainnya akan
padam,” jelas Sylle, suaranya berat.

“Hasilnya memang kita bisa menampung lebih banyak warna, tapi dengan kata lain kita harus
membuat bola kristalnya menjadi besar begitu ‘kan?”

“Emmmmhh ya...”

“Sulit membuat bola kristal untuk Ether Scope, kita saja mati-matian untuk mendapatkan
ekstrak elemental core kegelapan...”

Profesor Renna menyatukan sepasang jarinya, “Selain itu, apa ada kemungkinan lainnya?”

Suasana sepi malam memang tidak ada duanya, bahkan api yang perlahan membakar kayu
untuk sekedar penerangan jalan menyanyikan musik indah. Gemerlap bintang sedikit pudar
karena tebalnya awan, sedikit tidak adil bagi benda angkasa yang tinggi itu, tapi mau
bagaimanapun itu adalah hukum alam..

“Yah semoga saja dia masuk akademi tahun ini.”

“Seorang yang berbakat ya?”

“Sylle apakah kamu sudah tidur?” Profesor Renna mengusili asistennya itu dengan jarinya.

Wajah heran serta kaget itu muncul, “Bagaimana kamu bisa tidur dengan tubuh penuh
keringat, apalagi di meja lagi.”

Mengerjakan Ether Scope dua malam dua hari adalah alasan yang cukup untuk membuat
siswi tahun ketiga itu tertidur pulas di meja dengan keadaan tak karuan.

“Yah setidaknya pakai selimutlah.” Profesor Renna memberikan tubuh yang lemas itu dengan
selembar selimut, “Ya kali aku menggendongmu ke kamar asrama.”

*Elf Forest Territory

“Freysthal en’lorien, silva’en ethui laern.”

(Bekulah alam di bawah cahaya bintang, embuskan dingin dari hutan musim semi.)

“Ilvara thal’vanyar, elarion freystval’nare,thal’iven doran erhill!”


(Biarkan kutukan salju merayap, bekulah tanah yang kugenggam, wahai hembus dingin para
bintang.)

“Frigid Glacier!”

Begitu rapalan selesai, embusan angin dingin menerjang ke tanah, memakan sebagian area.
Embun yang menggantung di udara berubah menjadi kristal salju kecil, berputar dalam
pusaran yang meluas dengan perlahan. Tanah di sana mulai merekah pelan, mengeluarkan
retakan-retakan halus berwarna putih kebiruan. Beku. Seolah sekeliling dipenjarakan dalam
waktu yang berhenti.

“A.. Aku berhasil!” seru Luna.

“Kerja bagus, Luna.” Nenek Helena memuji, sedangakan saudarinya nampak cemberut.

“Magis air yang disempurnakan menjadi es... meski Luna masih kecil namun ia bisa
menggunakan magis lanjutan,” gumam Vaelric yang menjadi pengawas anak-anak di sana
bersama nenek Helena.

Lucy berdiri, “Sekarang giliranku!” Ia berlari ke tengah tanah lapang menggantikan Luna,
“Lihat, aku pasti lebih darimu, wlee!”

Sekarang adalah giliran kakak tertua dari saudari kembar itu. Berbeda dengan Luna, ia
didukung dengan tongkat sihir untuk menyempurnakan sihirnya.

Pada dasarnya, penggunaan tongkat sihir dan beberapa alat lainnya adalah sebagai
pendukung. Cara kerjanya tidak jauh berbeda seperti rapalan, yaitu untuk tempat distribusi
mana menjadi magis, singkatnya mempersingkat bahkan meniadakan rapalan. Kebanyakan
pengguna tongkat sihir adalah mage yang memang di khususkan menggunakan sihir besar
atau rapalan yang panjang.

“Kerja bagus nak,” puji Nenek Helena sembari mengelus kepala Luna. “Kekuranganmu
hanya di kontrol area magis saja, sisanya sudah cukup.”

“Emm ya! Aku akan berusaha nek!”

“Nah.. sekarang lihat kakakmu.”

Luna terdiam diantara heningnya alam, memejamkan mata dan membiarkan tongkat
melayang di depannya. Fokus yang dicapai sudah sampai di tingkat ia menghiraukan
tubuhnya sendiri, Luna telah percaya dengan apa yang ia miliki.

“Mana Luna yang memiliki ketertarikan elemental core air tinggi.”

Nenek Helena setuju, “Bisa dibilang bakat alaminya.”

“Tide Break...” lirih gadis itu, memegang kembali tongkatnya dengan salah satu tangan yang
mengangkat.
Udara di sekelilingnya bergetar lembut, partikel embun perlahan berkumpul di tongkat
sihirnya. Membentuk pusaran kecil lalu semakin membesar dan menari di udara. Sekejap saja
gumpalan air itu meletus. Mencipatakan sebuah gelombang yang mengalir ke depan, bukan
menggelinding seperti ombak, tapi menghantam laksamana dinding hidup yang menyapu
segalanya. Hanya tersisa tanah yang basah dan senyap.

“Tsunami kah?” ucap Vaelric yang takjub dengan sihir yang dahsyat itu.

“Memang elemental core air lebih mudah dikendalikan, tapi kebanyakan rapalannya sangat
panjang,”

“Jadi itu alasannya Lucy menggunakan tongkat sihir saat memakai magis air...”

“Cih, sihirku lebih rumit tahu nek,” gerutu Luna. “Benarkan Kak Vael?”

“Yah, bagaimanapun magis kalian berdua sama sama kuat.”

Gadis kecil itu cemberut mendengar jawaban Vaelric, “Jawaban apa itu kak.”

“Bagaimana sihirku nek!” seloroh Lucy yang berlari mendekat.

Tok!

Nenek Helena memukul kepala Lucy, suaranya begitu nyaring hingga membuat gadis itu
mengerang kesakitan. “Kamu terlalu fokus, pakai tongkat sihir saja masih lama distribusi
manamu, dan juga masih kekuatan magismu masih rapuh.”

“Aww... tidak usah dipukul tidak bisakah nek,” gerutu Luna sembali mengelus kepalanya.

Nenek Helena tersenyum setelahnya, “Tidak kok, magismu sudah cukup bagus kok.”

Vaelric mengangguk, “Aku juga tidak bisa membayangkan kalau aku diguyur air seperti
itu...”

“Jadi lebih baik mana aku sama Luna?” tanyanya dengan percaya diri.

“Akulah, magis es itu magis sihir yang diperkuat, jadi jelas aku!”

“Apaan? Lebih besar dampak seranganku tahu,” ketus Lucy.

Vaelric yang menjadi pengawas di sana hanya terdiam dan tidak tahu apa yang harus dia
lakukan, “Magis air milik Lucy memang mengerikan, namun yah... kalau soal kerumitan
Luna pemenangnya.”

“Bagaimana menurutmu Kak Vael?!” tanya mereka berdua kompak.

“Eh? Aku? Kenapa coba?” Sulit untuk membuat keputusan tanpa merugikan salah satu
pilihan.

Langit cerah menjadi lukisan indah di atas tanah lapang. Tanah hijau subur membentang
tidak beraturan, penuh oleh tumbuhan besar maupun kecil. Nyanyian burung begitu nyaring
diantara bisikan angin. Suasana alam dengan warna yang beragam, menghapus cerita kelam
yang telah lama reda.

“Sudahlah, tidak ada ujungnya kalian berdua bertengkar,” potong Nenek Helena sambil
mengelus lembut kedua kepala saudari kembar tersebut. Kemudian netra tuanya teralihkan
pada satu-satunya remaja disana. “Bagaimana denganmu Vaelric?”

“Iya nek?”

“Katanya kamu ingin masuk akademi.”

Vaelric sekejap termenung, fokus matanya beralih kemana-mana. Pilihan itu belum
sepenuhnya sempurna. “Aku...”

“Coba tunjukkan pedang manamu,” sahut langsung Nenek Helena memecah keraguan
Vaelric.

Vaelric terkejut, pasalnya ia tidak pernah mengatakan kepada gurunya itu jika bisa
memanfaatkan teknik dasar pemadatan mana sebagai pedang, “Maaf nek?”

“Aku tahu dua hari belakangan ini kamu pergi ke dungeon tanpa membawa pedang.”

Nenek Helena mendekat, “Hari ini kamu tidak membawa pedang lagi, kemarin juga lusa
pergi ke dungeon tanpa membawa pedang, aku tidak begitu yakin orang yang setiap bhari
berlatih mengayunkan pedang tiba-tiba berhenti begitu saja.”

“Sejak kapan nenek tahu?” lirih Vaelric.

“Hari dimana kamu pertama kali mampu merealisasikan teknik pemadatan mana.” Nenek
Helena memegang pundak remaja itu, “Aku sudah bisa menebak ketika kamu bertanya...”

“Apakah aku bisa membuat apa saja dengan teknik magis ini?” sambung Vaelric, mulutnya
bergetar seolah masa kecilnya yang berucap.

Nenek elf tersebut tersenyum kecil, “Pedang mana, bahkan aku tidak pernah terpikirkan hal
itu selama hidupku ini.”

Perlahan tapi pasti udara dingin mengumpul di sekitar genggaman Vaelric, menyusun bentuk
sebuah pedang dari pegangan hingga ujung bilah yang sempurna. Tajam. Pedang bercahaya
tatkala anugerah dari langit yang dibuat dari gumpalan mana. Murni dan jernih, cukup
nyaman untuk dipandang.

“Memang benar, dunia ini sangat luas.”

“Luna, nenek pinjam tongkat sihirmu boleh?”

“Iya nek,” balas langsung gadis kecil itu dengan penasaran sembari memberikan tongkatnya,
“Untuk apa?”
“Vaelric, aku pernah bilang kalau aku sudah mengajarkan semua ilmu yang bisa aku ajarkan
kepadamu kan?”

Vaelric mengangguk pelan. “Iya?”

“Gunakan ilmu itu untuk melawanku sekarang,” seru Nenek Helena, menodongkan tongkat
magisnya pada Vaelric.

“Apakah catatan tebal tentang monster yang nenek lawan itu termasuk?” sindir Vaelric.

“Mungkin saja.”

Lelaki berambut coklat cerah itu memperlihatkan mata yang tajam, menerima tantangan dari
gurunya. “Sudah tujuh tahun hampir berlalu, apakah ini termasuk ujian terakhir?”

“Benar, ujian yang pertama dan yang terakhir kalinya.”

Matahari belum sepenuhnya berada di tengah sepasang guru dan murid di tanah lapang itu.
Nenek Helena dengan rambut peraknya yang terurai karena tiupan angin, matanya seakan
menampilkan rasa bangga pada salah satu lawannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah
Vaelric. Salah satu murid yang baru saja tumbuh untuk mewarisi kemampuannya.

Begitu pula dengan Vaelric, sesekali ia mengatur jalannya nafas yang berat karena gugup.
Pedang mana selaku temannya itu menyala bergemetar, tak stabil. Sejatinya tidak terlalu
yakin bahwa kemampuannya bisa mengalahkan atau bahkan seimbang melawan gurunya itu.

“Buktikan jika kamu pantas masuk Akademi Velmara,” seloroh Nenek Helena. Lugas namun
tegas, “Datanglah padaku Vaelric!”

Sesuai perintah, Vaelric maju. Pijakannya keras menghantam tanah, sesaat dia mendekat,
tangan kirinya menembakan sebilah mana padat yang tajam.

Serangan dasar, Nenek Helena menghindar. “Bagus. Tapi itu saja tidak cukup.”

Namun tujuan Vaelric menembakkan serangan remeh bukanlah itu, sebelumnya ia sudah
menciptakan sebuah barrier di belakang Nenek Helena. Sebuah jebakan. Aura keperakan
menyelubungi sang guru, elf tua itu tersenyum.

“Sebuah jebakan lingkaran mana,” batinnya. “Aku lupa jika kamu punya ini.” Ia
menghantamkan tongkatnya pada tanah, seketika petir menggelegar dari langit, meluncur ke
tanah untuk membatasi pergerakan Vaelric.

Reflek, ia mengguling, hampir terkena. Belum sempat menghela nafas, tanah berguncang
memunculkan paku batu dari bawah. Ditambah balok es yang menghujam dari atas. Posisi
yang tidak menguntungkan.

Vaelric melompat, mencoba membelah balok es itu dengan tebasan. Sebagian hancur, tapi
sebagian tetap menghantamnya.

“Itu latihan saja kan Lucy?” ucap gemetar Luna setelah melihat serangan yang mematikan.
“Malah lebih seperti pertarungan beneran.”

“Mengeluarkan tiga magis dengan elemental core berbeda itu bukankah sangat hebat?”
gumam Luna.

Vaelric menggertakkan gigi, “Benar-benar ujian dari seorang elf penguasa enam elemental
core.”

“Kenapa kamu tidak mengeluarkan kemampuanmu sebenarnya?” seloroh Nenek Helena.


“Apa kau takut melukai orang tua?”

Remaja dengan beberapa luka goresan itu tersenyum. Melesat maju untuk kedua kalinya.

Namun Nenek Helena tidak diam saja, kali ini ia mengangkat tangan. Memanggil angin
berputar seperti bilah. Vaelric kembali mencipatakan barrier mana di depannya, namun tidak
cukup cepat.

Angin menghantam, Vaelric terpental... namun saat ia terjatuh, dia sadar sesuatu.

“Aku tanpa sengaja membelah es yang terbuat dari magis, kalau begitu...”

Dalam napas terakhir sebelum bangkit, Vaelric memperkuat pedang mananya. Pola pikirnya
sekarang berubah, bukan lagi menghentikan serangan, tapi menghancurkan serangannya.
Dengan tepat ia menebas langsung pusaran magis yang ditujukan padanya.

Crack!

Satu tebasan, dan magis angin itu pecah selayaknya kaca.

Nenek Helena terdiam sejenak. Matanya melebar, lalu mengerut bangga. “Akhirnya kamu
paham.”

Vaelric berdiri dengan nafas terengah, sekali lagi memperkuat pedang mananya sebelum
hancur.

“Ujian belum selesai,” seloroh Nenek Helena.

Elf tua itu tersenyum, mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi hingga melayang dengan
sendirinya. Kemudian membentangkan tangannya dan mengeluarkan keenam elemental core;
air, petir, tanah, cahaya, petir, dan angin. Kemudian menyatukannya saat itu juga, hingga
sebuah pusaran besar di atas langit.

“Kalau begitu, mari kita lihat apakah kau bisa membelah langit!”

Langit menjadi kelabu saat keenam elemental core itu menyatu di atas kepala Nenek Helena.
Pusaran yang cukup mematikan, Tempus Arcanum, kombinasi dari keenam elemental core
milik elf. Sebuah magis yang hanya dimiliki oleh mereka yang menyerahkan kehidupannya
pada dunia mage.
Angin berputar, tanah bergemuruh, kilat berkejaran dengan nyala cahaya, bahkan air berubah
menjadi kabut kristal yang menyelimuti tanah lapang.

“Tutup telingamu, Luna,” sahut Lucy yang mulai panik dari kejauhan.

“Apakah ini beneran kekuatan nenek?”

“Ini juga sudah bukan lagi ujian tahu.”

Vaelric tidak diam saja, ia membuat lagi pedang mana untuk tangan kirinya. Ia hanya bisa
bertaruh pada teknik berpedang dan regenerasi kembali pedang yang mudah hancur itu.
Sesekali memejamkan mata untuk memperkuat setiap lapisan dari mana yang menjadi
pelindung bilah pedangnya.

“Kalau kau bisa melewati ini, Vaelric... maka kau bukan lagi muridku. Tapi kau akan
menjadi penantang takdir!”

Vaelric mengambil langkah pertama.

Lalu yang kedua.

Magis mulai menghujan, petir menyambar dari langit, namun Vaelric menebasnya,
membelah kilat menjadi dua. Batu besar mencuat dari tanah, ia berputar, memanfaatkan
kedua pedangnya menghancurkan batu itu. Pedang mana hancur, tapi dengan cepat langsung
muncul kembali di kedua tangannya.

Serangan kedua datang, air menerjang seperti tsunami, Vaelric dengan tenang membuat
barrier mana sebagai pijakan untuk melompat. Namun cahaya dari balik kabut langsung
menyorot matanya. Bukan hanya cahaya biasa, ini adalah kekuatan alam dari elf yang
menyialukan batin. Vaelric terpaku, tapi di dalam benaknya, terdengar gema suara Nenek
Helena.

“Jangan melawan dengan mata. Rasakan aliran mananya.”

Sontak Vaelric membanting kakinya ke tanah. Menciptakan kembali sepasang pedangnya,


lalu dengan satu tarikan napas-

“Tebas!”

Tebasan itu memecah udara.

Membelah kabut.

Melenyapkan sebagian magis.

“Aku bisa merasakannya, sebuah aliran mana di alam yang diciptakan dengan sengaja.”

Pandangan yang mulai membaik membuatnya percaya ia mempunyai kesempatan untuk


serangan balik. Dari kejauhan ia menciptakan lingkaran mana untuk menghentikan
pergerakan Nenek Helena.
“Sekarang, lakukan Vael..”

Vaelric menutup mata, merasakan apa yang ada di dalam dirinya. Ia larut di dunia alam
bawah sadar, seolah ia hanya sendiri di luasnya angkasa lepas. Namun ini bukanlah pertama
kalinya, Vaelric tau apa yang harus ia lakukan.

“Mana dan tubuhku adalah aliran air yang ada di angkasa lepas, aku bisa mengambil dan
menggunakannya semauku.”

Tangannya perlahan menggenggam gumpalan cairan yang melayang, sebuah cahaya muncul
seketika ia menghancurkannya.

Vaelric membuka mata yang sudah berbeda warna irisnya. Biru tenang nan cerah, ia
menggunakan seluruh tubuhnya untuk distribusi mana. Ia menunjuk ke arah lawannya,
sebuah mana yang menggumpal membentuk cepat di ujung jarinya, siap meledak kapan saja.

“Sekarang giliranku...”

Mana dengan jumlah besar berkumpul, bergerak cepat seolah ingin bebas. Sekejap saja
hingga memancar serangan mana besar nan dahsyat tatkala laser cahaya dari dunia lain. Itu
hanya sekedar teknik mana yang dipadatkan, namun dengan jumlah yang besar. Menciptakan
ilusi indah nan berkilau seperti bintang di tengah malam.

Helena tersenyum semangat, menghantam tongkatnya ke tanah sembari mulutnya yang


merapal cepat. Menciptakan sebuah benteng tak kasat mata dari magis angin, bagaikan
sebuah perisai yang sudah siap menghalau anak panah.

Kedua gadis kecil yang jauh dari medan pertarungan itu memiliki rasa yang berkecamuk,
antara penasaran, takut, bahkan takjub. Pertarungan kedua mage yang tidak bisa diraih hanya
berdasarkan bakat saja. Bahkan alam di sekitar terdiam melihat pertemuan sihir itu, seakan
mereka takut akan dampak dari kehancuran.

Woosh!

Mana penghancur itu lebur sesaat melewati pertahanan yang diciptakan Nenek Helena.
Menciptakan ledakan besar namun berkilauan seperti musim salju akibat buliran mana yang
melebur habis. Perlahan tapi pasti jatuh ke tanah seolah hiasan untuk mengakhiri tarian
terakhir.

Nenek elf sekaligus guru itu berdiri rapuh, beberapa sudut pakaiannya robeh oleh ledakan
mana yang Vaelric lepaskan. Ia terdiam beberapa detik. Lalu tersenyum, dan menjatuhkan
tongkatnya.

“Selamat datang... di jalan yang tak akan bisa dilewati dengan setengah hati.”

Vaelric berlutut, ia menghabiskan seluruh mananya secara langsung, mengangkat


pandangannya. “Tapi, guru masih menangkis seranganku. Dan aku belum lulus.”

“Memang belum. Tapi kamu sudah mulai bertarung.”


“Bertarung?”

Nenek Helena menghampiri, lututnya menekuk pelan seperti embun yang menyentuh daun.
Ia menyentuh bahu Vaelric. “Kamu memang belum lulus. Dan mulai hari ini, bukan hanya
aku yang akan mengajarimu. Tapi juga dunia.”

Cahaya bulan menyelinap malu-malu di antara celah dedaunan, sebagian darinya


memantulkan kilau pada permukaan daun yang lembap. Tidak sedikit pepohonan bergoyang
pelan seolah sedang berdansa dengan semilir angin malam. Suasana hening tapi tidak sunyi,
alam sedang berbicara dalam bisikan lembut yang menenangkan jiwa setiap makhluk.

Dan di bawah naungan itu, sebuah momen sederhana yang dimimpikan semua orang tiap
harinya. Remangnya cahaya obor itu, mendekatkan semuanya dari kegelapan, dunia terasa
lebih dekat. Makan malam bersama, kedamaian yang cukup sederhana, yang hanya bisa
ditemukan saat semua kesibukan berhenti.

“Lagian... apa sih yang barusan terjadi?” gerutu Ellie setelah ia menelan makanannya.
Matanya melirik pada Vaelric yang sudah ia anggap kakaknya sendiri itu penuh memar di
wajahnya.

“Ah maaf Ellie, kamu jadi menyiapkan makan malam.”

“Aha tidak apa kok kak,” balasnya langsung merubah ekspresinya.

“Apa itu berhubungan dengan awan gelap di lapangan latihan itu?” sahut Owan dengan mulut
yang penuh makanan.

“Selesaikan makanmu dulu Owan,” ucap Nenek Helena. “Jika berhubungan memangnya
kenapa? Kamu pasti juga akan kabur...”

“Emm yah, kami sendiri di sana juga...” gerutu Luna.

Ellie terkejut akan perkataan salah satu dari saudari kembar itu. “Jadi memang benar? Aku
dan Owan dari ladang langsung ke sana loh.”

“Tapi bertemu kalian di jalan.” Owan menimbali.

“Tadi nenek dan Kak Vaelric berlatih tanding, itu saja,” Lucy menjelaskan singkat setelah
menyelesaikan makannya.

“Latihan tanding?” Ellie dan Owan kompak.

“Hanya ujian kecil saja, kalian nanti juga akan mengalaminya,” balas langsung Nenek
Helena, sumbernya. “Kamu tidak nambah Lucy?”

Lucy menggelengkan kepala, “Jadi aku akan melawan nenek dengan sihir nenek yang
mengerikan itu?” lirihnya pasrah.

“Bukankah itu mustahil?” imbuh saudarinya.


“Maksudnya ujian itu melawan Nenek Helena?” Ellie menyahut.

“Itu mustahil tidak si Kak Vael?” bisik Owan yang memang sedari tadi duduk di samping
remaja itu.

“Memang.”

“Tuh, Kak Vael saja loh bilang tidak bisa. Apalagi kami?” seru Ellie.

“Ya terus kalau memang Vaelric bilang tidak bisa, apakah kalian juga akan menyerah?”
pungkas Nenek Helena, membersihkan bibirnya dari noda makanan serta mengakhiri
kegiatan itu. “Tujuan utama ujian adalah intropeksi diri.”

“Intropeksi diri?” Keempat anak itu bertanya penasaran dalam heningnya ruangan.

“Apakah kamu layak untuk bisa menyelesaikan semua ini atau belum,” jawab Vaelric, ia
mulai merapikan beberapa piring di atas meja.

Ellie membantu, “Maksudnya kak?”

Nenek Helena tersenyum kecil, “Maksudnya, apakah kamu memang pantas untuk naik ke
tingkat selanjutnya? Jika memang tidak, kamu bisa saja memaksakan diri untuk melanjutkan,
tapi bayarannya adalah buah yang kamu petik tidaklah begitu matang. Dan jika kamu merasa
tidak pantas, maka kamu harus memantaskan diri dengan waktu yang lebih lama untuk
mengambil buahnya.”

“Pohon yang kokoh pasti memilki akar yang kokoh pula...” gumam Vaelric.

“Lagipula sudah lama Vaelric disini, tidak mungkin kan akan menetap disini. Benar begitu
kan Vael?”

Vaelric mengangguk, “Ya, aku juga masih ingin berkembang lebih baik lagi.”

“Kakak mau pergi?” tanya Ellie, ia sedikit shock mendengarnya.

“Tidak jauh kok, aku hanya ingin terus belajar.”

“Masuk akademi?” timbal Owan.

“Benar...”

“Aku berulang kali mengatakannya pada kalian, dunia itu luas. Jangan sampai kita menjadi
seekor katak yang tertinggal di dalam sumur, tanpa mengetahui apa apa di luar sana,” pesan
Nenek Helena.

Vaelric tersenyum ikhlas, perkataan elf tua itu mendukung niatnya. “Bagaimana dengan
kalian kedepannya?”

Keempat anak itu terdiam sejenak. Tidak ada yang bisa menimbali pertanyaan dari yang
paling tua itu.
“Aku sepertinya juga ingin masuk akademi kelak,” jawab Ellie terbata.

“Kalau aku, dari awal memang ingin menjadi pasukan khusus di kerajaan.” Owan mengikuti.

“Kalau begitu aku juga, aku akan menjadi mage no satu di wilayah selatan!”

“Kakak harus melewati aku dulu,” balas Lucy.

Malam terus berlalu tanpa suara, perlahan tapi pasti menebalkan gulita dengan kelembutan
yang menenangkan. Rembulan naik lebih tinggi, sinarnya memutih pucat bak susu di
permukaan awan tipis yang melnintas pelan. Suara alam dan makhluk kecil mulai
mendominasi, menyanyikan lagu yang hanya terderngar oleh mereka yang bersedia diam
untuk mendengar.

Di balkon rumah pohon.

“Seleksi Akademi Velmara dijadwalkan dua minggu kedepan, apakah kau sudah tau Vael?”

Dalam pantulan cahaya bulan, Vaelric mengangguk pelan. “Aku tau, tadi siang aku datang ke
pameran magitech Akademi Velmara.”

Nenek Helena terkejut setelah meneguk tehnya, “Oh. Kamu sudah melangkah duluan ya?
Aku tidak menyangka.”

“Yah, aku diajak saja sih nek.”

“Baguslah kalau begitu, jadinya aku tidak perlu menjelaskan sistem kerja selain mage di
akademi kepadamu.”

“Kalau itu, anak bungsu Moonclair sudah memberitahuku,” jawab Vaelric sambil menggaruk
kepalanya, “Yah... ada banyak yang belum aku ketahui sih.”

“Sudah bagus kalau kamu dekat dengan salah satu anak bangsawan, apalagi dari Viscount
Moonclair.” Nenek Helena menghela nafas sejenak, “Kamu sudah tahukan kalau Akademi
Velmara kebanyak menerima anak bangsawan?”

“Ya, karena itu nenek dari awal bilang akan sulit.”

Guru lanjut usia itu mengelus lembut rambut muridnya, “Memangnya, kamu murid siapa
bisa-bisanya bilang sulit.”

“...” Vaelric tertegun, ia teringat akan banyak kejadian waktu pameran siang tadi, anak
seumuran dia yang sudah begitu terampil menggunakan senjata.

“Percayalah pada dirimu sendiri, kamu itu kuat,” gumamnya. “Bagaimana perasaan adik-
adikmu jika kakak tertuanya menyalahkan dirinya sendiri?”

“Ya, setidaknya aku masih bisa bersaing. Bagaimanapun, aku adalah murid nenek.”
Nenek Helena tersenyum, “Aku bisa memberikanmu surat rekomendasi pada kepala akademi
disana, tapi sebelum itu aku akan bertanya sesuatu yang pasti.”

“Apa itu?”

Mata nenek yang tua itu menatap tajam, pandangannya serius pada Vaelric, “Kamu, akan
menjadi seorang swordsman atau mage?”

Sorot mata Vaelric memusat, pertanyaan itu langsung terbayang jelas di pikirannya. Seorang
swordsman seperti kakaknya dengan kemampuan pedang yang terbaik, atau mewarisi ilmu
elf tua itu dengan mana tanpa elemental core.

“Mungkin tidak sulit bagimu untuk memasuki dunai berpedang, sebelum datang kesini saja
reflek serta gerakanmu sudah setara dengan petualang pemula. Namun jika kamu memilih
kelas mage, kamu harus membuka potensi dirimu sendiri. Tanpa acuan atau target dari
siapapun.”

“Kelas Mage dan Kelas Swordsman..” gumam Vaelric, ia memandangi kedua telapak
tangannya yang bergetar, tangan kanan memperagakan pegangan pedang, dan tangan kiri
dengan balok mananya.

“Pilihan yang sulit ya?”

Vaelric terdiam.

“Dunia itu luas, dan dua pilihan itu juga akan mengungkapkan luasnya dunia.”

“Dua pilihan yang akan mengungkapkan luasnya dunia?”

Vaelric mantap memandangi balok mana yang ia buat itu. “Seorang mage yang bisa
menggunakan pedang, ataukan seorang ksatria yang bisa menggunakan magis.”

“Simpan pilihanmu untuk beberapa hari kedepan. Jika keputusanmu sudah bulat, bilang saja,
aku akan segera mengirimkan surat rekomendasi pada kepala akademi.”

“Akademi Velmara...”

Nenek Helena meminum habis teh di cangkirnya, “Aku teringat sesuatu.” Ia memberikan
surat pada Vaelric. “Ini surat dari ibu dan ayahmu, katanya ini untukmu.”

“Surat dari ayah dan ibu?” Vaelric menerimanya, “Bagaimana nenek..”

“Sebenarnya aku dan ibumu sudah lama saling memberi pesan, tapi kali ini, pesannya
untukmu.”

Vaelric segera membuka surat yang digulung dari kertas tua itu, matanya bergerak mengikuti
setiap kata yang ia baca. Surat yang cukup singkat, dari orang tua pada anaknya.

“Vaelric, bagaimana kabarmu dengan Nenek Helena? Nampaknya kamu sudah berkembang
dan tumbuh cukup baik di sana. Ayah juga cukup senang mendengar kamu bisa
menggunakan magis dari mana, meskipun juga tidak tahu magis apa itu. Ibu juga tahu kalau
kamu akan masuk akademi, akademi mana memangnya? Yang ada di Baron Velthorne? Atau
di March Duskhaven? Atau jangan-jangan Akademi Velmara yang terkenal itu?” baca
Vaelric, ia mengambil nafas untuk membaca paragraf selanjutnya.

“Untuk kabar kakakmu, ia akan pergi ke wilayah pusat beberapa bulan kedepan untuk
menjadi ksatria tetap disana, jangan khawatir, kamu pasti akan setara dengan kakakmu nanti.
Ibu bangga padamu untuk tetap belajar dan terus berjuang meski ibu adalah ibu terburuk yang
tidak bisa mendidik anaknya dengan baik.”

Mata Vaelric berkaca-kaca, ia teringat paras wajah ibunya itu.

“Setiap malam ibu selalu berdoa untuk keselamatanmu, ibu selalu berharap kamu menjadi
anak yang paling bahagia di semesta ini. Maaf hanya itu yang bisa ibu lakukan untukmu, ibu
memang yang terburuk, jika memang kamu gagal, salahkanlah ibumu yang tidak bisa
mendidik anaknya dengan baik. Sekali lagi, ibu minta maaf. Dan juga, kembalilah sejenak,
semua pasti akan menerimamu.”

Angin malam berhembus sedikit sejuk, membelai wajah Vaelric seperti tangan seorang ibu.
Sesekali air matanya hampir merembes keluar, kepalanya sontak dipenuhi semua kenangan di
masa kecil itu. Dunia di depan serta di belakang penuh selimut kegelapan tanpa secercah
cahaya, namun Vaelric percaya, ia tidaklah takut, ibu ada baginya.

Kehangatan tenang dari malam yang dalam, selayaknya bisikan doa yang ingin segera
dilepas.

Anda mungkin juga menyukai