0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan12 halaman

Gerbang Viscount Moonclair dan Dwarf

Diunggah oleh

afrizalshevar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan12 halaman

Gerbang Viscount Moonclair dan Dwarf

Diunggah oleh

afrizalshevar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 2: Gerbang Baru

*Wilayah Viscount Moonclair

Hutan sudah mulai lenyap dari pandangan, pelataran kali ini sudah mulai penuh dengan
nuansa modern. Jalanan yang keduanya lalui setidaknya lebih ramai dari pada di hutan,
nampak beberapa manusia sibuk dengan aktivitas masing-masing. Perbedaannya sangatlah
jelas, mulai dari jalan yang sudah dibentuk dari bebatuan, rumah-rumah pemukiman, bahkan
beberapa kedai yang buka.

Keduanya menyusuri jalanan bebatuan itu hingga masuk gerbang utama dari wilayah
Viscount Moonclair.

“Apakah itu yang dimaksud kereta kuda?” batin Vaelric sesaat melihat kereta bertenagakan
kuda itu memasuki gerbang.

Suasana yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Cukup ramai. Memang untuk memasuki
wilayah itu perlu izin yang kuat. Karena itulah sudah banyak pedagang bahkan pengembara
yang sudah antri di gerbang di hari yang masih pagi ini.

“Bagaimana cara kita masuk?” tanya polos Vaelric, pandangannya tertuju pada penjaga yang
selalu mengecek orang masuk.

“Ikut aku,” sahut Veist. Ia mengambil arah lain, “Bakal repot jika kita harus lewat penjaga
itu.”

Vaelric hanya bisa mengiyakan, mengekor pada langkah Veist. “Kita harus ke kakek dwarf
dulu untuk meminjam surat izin masuk, sekaligus meminta dia membuatkan senjata
untukmu,” jelas Veist.

“Sebegitu ketatnya kah?”

Veist mengangguk kecil, “Susah untuk masuk, dan susah untuk pergi keluar.”

Tidak lama berjalan, keduanya sampai di depan rumah usang yang cukup kecil. Namun
bukan itu tujuan mereka, sebuah bengkel yang berdampingan dengan rumah itu incarannya.
Sebagian besar bangunan itu terbuat dari kayu, tepatnya kayu pinus tua. Dengan bagian
bawahnya dari lempengan batu yang disusun kasar untuk pondasi. Beberapa dindingnya
dipenuhi retakan, bagaikan waktu telah memakan setiap sudutnya.

Veist mengetuk pintu, “Apakah belum buka kek?”

Tidak ada jawaban, hening.

“Apakah benar ini bengkel dwarf yang kamu katakan sebelumnya?” Vaelric merasa bingung,
bagaimana bengkel tua ini bisa menjadi tempat langganan anak bangsawan.

“Iyalah, ini satu-satunya bengkel terbaik di sini.”

“Di perbatasan?”
“Terserahmu.”

Sedikit menunggu lama, Veist mengetuk kembali pintu kayu itu, lebih keras. Kali ini ada
suara berisik dari dalam kedai itu. Seolah beberapa barang jatuh.

“Aw!” teriak seseorang dari dalam.

Seorang dwarf tua nan pendek itu membuka pintu, janggut putihnya lebat seakan mengatakan
bahwa ia sudah punya pengalaman ratusan tahun.

“Kamu baru bangun Kakek Thorne?” heran Veist, melihat perawakan dwarf itu mengantuk.

Kakek Thorne menguap, wajah kantuknya bekum sepenuhnya hilang. “Kenapa kamu pagi-
pagi mendatangiku ha? Apakah glaive-mu rusak?” Ia melirik ke arah Vaelric. Vaelric hanya
terkekeh, berniat menyapa. “Lalu siapa orang asing yang kamu bawa ini?”

“Ah aku, aku Vaelric Elbrecht. Aku tinggal di perbatasan wilayah elf tidak jauh dari sini,”
seloroh Vaelric.

“Dia temanku, aku ingin sebuah pedang yang cocok untuknya.” Veist menegaskan, “Aku sih
yang merusak pedangnya.”

Kakek Thorne hanya memberikan ekspresi bosan, “Oh, hanya ada pedang biasa di sini,
pedang usang yang sudah lama dibuat.” Ia membuka lebar pintu kedainya, membiarkan
Vaelric dan Veist masuk. “Entah bagimu cocok atau tidak.”

“Apa-apaan, biasanya kamu sering sekali membuat senjata aneh,” sindir Veist.

Meski dari luar kelihatannya sangat memprihatinkan, bagian dalamnya berkata lain. Seorang
dwarf tua wanita duduk di dekat tungku api. Dia adalah istri Kakek Thorne, Nenek Asmoe.
Keduanya berbincang sejenak dalam bahasa kuno yang hanya mereka pahami.

Di sisi lain, ada meja panjang penuh dengan cetakan-cetakan logam, nampaknya itu adalah
senjata setengah jadi yang menunggu sentuhan terakhir dari tangan terampil untuk
membentuknya menjadi sempurna. Tidak lupa beberapa lembar blueprint tua bergambar
runa-runa magis di sana, jelas sekali bahwa itu berisikan sihir penguat di senjata.

Tidak cukup, di tak tertinggi, tergantung beberapa jenis senjata. Belati, kapak, pedang,
bahkan perisai. Lengkap dari ukuran kecil hingga besar. Cukup tua dan berdebu, seakan setia
menunggu pemilik baru yang cukup terampil untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

“Senjata di sini terlihat lebih bagus daripada di gudang nenek,” batin Vaelric, ia terlalu
fokus menatap satu persatu senjata yang di pajang.

“Siapa dia? Apakah pelanggan?” sambut Nenek Asmoe, “Kamu terlihat cukup muda.”

“Aku Vaelric Elbrecht, teman Veist,” ucapnya memperkenalkan diri dengan santun.

“Iyalah nek, dia seumuran denganku,” sahut Veist.


“Itu saja senjata yang kami miliki, tidak ada yang lain.”

Vaelric masih saja fokus, “Berapa rata-rata harga senjata di sini?” tunjuknya, beberapa
pajangan pedang dan belati yang relatif lebih kecil.

Nenek Asmoe tersenyum kecil, “Murah saja, tidak sampai tiga koin silver.”

“Itu benar, lagian itu hanyalah sebuah besi biasa yang ditempa,” imbuh suaminya.

Mata uang di benua ini menggunakan tingkatan koin, meskipun sebagian daerah masih
banyak yang melakukan barter atau pertukaran barang yang memiliki nilai sama. Tapi
berbeda dengan kota besar seperti Viscount Mooclair, Duke of Morrow, dan sebagainya.
Mereka sudah sepakat untuk menggunakan koin sebagai sarana jual beli.

Ada tiga mata koin yang berbeda, sesuai dengan bahan baku koin tersebut. Tingkatannya
adalah perunggu, perak, dan emas. Mungkin ada beberapa petinggi yang masih menggunakan
permata zamrud, karena tingkatannya yang lebih tinggi dari emas. Setiap kelipatan mata koin
tersebut, berlaku 10 kalinya. Sebagai contoh satu koin silver sama saja dengan 10 koin
perunggu, begitu seterusnya.

Veist yang bosan memilih untuk duduk dan menunggu, “Ayolah, kalian berdua yang
mennyempurnakan maha karya glaive ini, apakah tidak punya hal lain yang setara?” cibirnya.

“Sudahlah Veist, ini sudah lebih dari cukup.” Vaelric mengambil pedang biasa, “Aku ambil
ini saja.”

“Itu benar nak Vael, kami sekarang sudah mustahil untuk menciptakan senjata spesial seperti
milik Veist. Bahkan untuk sekadar membuat pedang biasa seperti pilihanmu,” jelas nenek
Asmoe.

“Kami kehabisan, kubus mana beberapa bulan yang lalu. Sudah pasti produksi senjata akan
berkurang, terlebih lagi senjata yang diperkuat dengan sihir.”

“Kubus mana?” Vaelric bingung, ia merasa pernah mengetahui hal itu. “Apakah itu seperti
kubus hasil dari pemadatan mana?”

Kakek Thorne mengangguk, “Iya itu benar, benda itu cukup berharga di kalangan dwarf.”

“Susah untuk mencarinya, apalagi kita sudah lama tidak mendapat pesanan dari petinggi, jadi
suplai kubus mana dihentikan sejak beberapa tahun lalu.”

“Itu kelihatannya memprihatinkan,” sahut Veist. Ia memandangi senjatanya, “Apakah senjata


ini juga mengandung banyak material dari kubus mana?”

“Tentu saja, semakin bagus kualitas senjata yang diperkuat, semakin banyak pula kubus mana
yang dikonsumsi.”

Nenek dwarf menghela nafas, “Karena itulah kami berpikiran untuk berhenti dari pembuatan
senjata dan akan menjalani hidup pertanian.”
“Itu benar, kubus mana adalah hal penting bagi ras dwarf, terlebih lagi perajin senjata.”
Kakek Thorne memperkuat gagasan istrinya.

“Jangan begitu, kalian berdua adalah satu-satunya perajin senjata terbaik di generasi ini.
Mana mungkin kehabisan hal seperti itu membuat kalian berhenti,” ketus Veist ia masih
bersikeras.

Di sisi lain, Vaelric terdiam di antara perbincangan mereka. Ia teringat bahwa kubus mana
sejatinya adalah mana yang dipadatkan secara langsung. Dengan kata lain, itu adalah hal
yang biasa dilakukannya untuk membuat pedang saat pertarungan sebelumnya. Salah satu
kemampuannya, pemadatan mana.

Ia mencoba konsentrasi, menepatkan fokus pada telapak tangan kanannya. Membayangkan


sebuah kubus dengan sisi yang sempurna, sama panjangnya, tidak ada rongga di dalamnya,
penuh dengan mana yang dipadatkan menjadi satu.

Perlahan aura biru berkumpul di tangan kanannya, bentuk pertamanya adalah rusuk kubus,
dengan panjang sisinya kurang lebih tujuh cm.

“Apakah seperti ini kubus mana?” sahut Vaelric polos. Di telapak tangan kanannya sudah
terbentuk kubus biru dengan beberapa kabut. Sekilas seperti kubus es karena di sekitarnya
memberikan suasana dingin. “Aku pikir pernah diajari membuat ini waktu pertama kali
belajar sihir.”

Seisi bengkel terkejut, pasalnya membuat kubus mana murni setidaknya dibutuhkan mage
tingkat emas atau di atasnya. Bahkan jika memaksakan diri untuk menciptakan benda itu,
mau tidak mau dirinya akan merasakan mind down karena kehabisan mana. Tapi semua itu
tidak berlaku pada Vaelric.

“Tunggu, apakah itu kubus mana asli?” Nenek Asmoe menghampiri.

“Tidak, bagaimana mungkin di umur mudamu ini bisa mengonsumsi mana yang sangat
besar.” Kakek Thorne memperjelas, “Bahkan kamu terlihat biasa saja setelah menciptakan
hal itu.”

Wanita paruh baya itu mencoba menyentuh kubus mana buatan Vaelric, dari satu jari, hingga
sepenuh jarinya meraba. “Ini sungguhan?”

“Eh, nenek bisa mengambilnya.” Vaelric memberikan kubus biru itu.

“Dingin, aura ini... sudah jelas sekali mana yang sangat murni!”

“Apakah itu benar Asmoe?” Kakek Thorne penasaran, ia menghampiri.

“Mana semurni ini, sebenarnya apa elemental coremu itu?” tanya nenek.

Veist menyahut, karena sebelumnya ia juga penasaran dengan sihir apa yang digunakan
Vaelric sebelumnya. “Iya itu benar, apa sihir yang kamu gunakan itu? Sihir langka dengan
elemental core Mystic?”
“Emm bagaimana ya menjelaskannya.” Vaelric ragu-ragu. “Sebenarnya aku tidah memiliki
sihir yang mewakili elemental core. Maksudku, mana yang kumiliki tidak ada yang cocok
dengan setiap elemental core itu.”

“Jadi?! Sihir dan pedang yang kamu gunakan untuk bertarung denganku adalah mana? Dan
juga, berapa kali kamu menciptakan pedang mana itu?!” tegas Veist, entah karena kagum
atau heran.

“Tunggu? Menggunakan mana sebagai pedang?” Pasangan dwarf itu terkejut bukan main
sesaat mendengar fakta dari Vaelric, terlebih lagi penjelasan dari Veist.

“Yah, pedang itu... sama saja dengan kubus mana ini. Pemadatan mana.”

Nenek Asmoe berdehem, “Baru kali ini aku mendengar ada seorang yang menggunakan
mana untuk menyerang. Terlebih lagi dengan mana seperti itu, kamu tidak memiliki
elemental core yang cocok.”

“Iya itu benar. Seberapa rapuhnya pedang itu?”

“Sangat rapuh lah kek. Hanya sekali tebas saja,” jawab Veist.

Vaelric mengangguk, “Iya sangat rapuh karena aku hanya membuatnya secara mendadak
tanpa memperkuatnya. Lagipula aku masih belajar menggunakan pedang mana itu.”

“Ah, tapi tenang saja. Untuk kubus mana itu sudah sepenuhnya padat kok.”

Kedua dwarf tua itu saling beradu pandang, sesekali berbicara dengan bahasa mereka sendiri.
Vaelric dan Veist tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

Setelahnya, kakek Thorne tertegun, mengepalkan tangan pada dagunya. “Siapa namamu tadi,
Vaelric?”

“Emm ya?”

Ia menunjuk ke pedang yang sebelumnya dipilih Vaelric. “Untuk sementara ini, kamu ambil
saja pedang itu. Gratis.”

“Sungguh?”

Nenek Asmoe tersenyum, “Iya, dan juga kami akan mencoba mengekstrak kubus mana yang
telah kamu buat ini.”

“Tentu saja untuk menciptakan senjata maha karya untukmu,” imbuh kakek Thorne.

“Senjata maha karya?” gumam kedua remaja itu.

“Maksudnya seperti dual glaive milikku ini?” sahut Veist.

“Tentu saja, satu tingkatan dengan senjata itu atau di atasnya.” Kakek Thorne terkekeh, “Tapi
bagaimanapun senjatamu adalah yang terbaik. Asalnya saja dari dungeon tersembunyi.”
“Tapi, apakah itu tidak merepotkan kalian?” ucap Vaelric, ia merasa tidak enak. “Maksudku,
aku hanya memberikan hal yang biasa.”

Kedua pasangan dwarf tua itu tertawa, “Biasa? Apakah hal semenajubkan ini adalah hal
biasa? Kalaupun iya, itu bagimu. Tapi bagi kami, ini adalah peti harta karun yang tidak akan
kami temukan kedua kalinya.”

Kakek Thorne pergi, mendekat ke arah tungku yang mati. Ia mengambil beberapa kayu dan
memasukkannya. “Nah, sekarang. Apakah ada sesuatu permintaan untuk senjata yang akan
kami buat ini?”

“Permintaan?”

Veist mengangguk, “Ya, apa ada model senjata yang kamu inginkan? Seperti sabit raksasa
atau pedang besar?”

“Minta saja, kami akan buatkan sesuai dengan permintaanmu,” pinta nenek Asmoe.

Vaelric berpikir sejenak, menatapi telapak tangannya, menggerakkan jari-jemarinya. Ia


membayangkan senjata apa yang cocok dengan tangannya.

“Sebuah belati.”

Semua terkejut, “Belati? Sebuah bilah pendek?” Veist heran.

“Dengan kubus mana sebesar ini, kami bisa membuat sekitar puluhan senjata biasa atau
beberapa senjata yang diperkuat. Apakah kamu yakin senjata yang kamu inginkan hanya
sebuah belati saja?” jelas kakek Thorne.

Tidak berubah pikiran, Vaelric mengangguk. “Aku rasa belati yang sedikit panjang. Aku
berniat menjadikannya senjata kedua. Karena sejujurnya aku ingin menyempurnakan teknik
pedang manaku.”

Nenek Asmoe merasa salut pada Vaelric, di umurnya yang muda ini, dia tahu bahwa senjata
bukanlah segalanya. Ada yang lebih penting, yakni kemampuan dan teknik. “Sebuah belati
yang menjadi senjata opsional ya?”

“Ya, walau rasanya sedikit menyakitkan kalau senjata yang kutempa menjadi senjata
cadangan. Tapi tidak masalah.”

“Maaf, aku tidak berniat begitu,” lirih Vaelric. Ia merasa bersalah.

“Haha! Tidak masalah!” dwarf tua itu terkekeh. Mengambil obor api dan melemparkannya ke
dalam tungku. “Mari kita panaskan semua apa yang kita punya.”

“Mungkin pengerjaannya selama tiga sampai lima hari. Kamu bisa datang kemari.”

“Baiklah, sekali lagi aku berterima kasih.”

“Ya!”
Namun sebelum pergi, Veist meminta sesuatu pada nenek Asmoe. Surat perizinan masuk.

“Nek, apakah kami boleh minta surat pengantar darimu, yah... tulis ke siapa saja. Kami ingin
masuk ke kota.”

Nenek Asmoe hanya tertawa kecil, “Bahkan anak bungsu dari viscount harus sembunyi-
sembunyi ya?” Ia mengambil sebuah kertas dan menuliskan sesuatu beserta tanda tanganya.
Tidak sebegitu penting isinya, hanya sebuah kertas formalitas yang berisi pengiriman barang.
Tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanyalah untuk mengelabui penjaga.

“Ini, sebaiknya kamu berhenti melakukan ini atau nasib kami akan buruk,” pesan nenek
Asmoe. Surat dengan bungkus sempurna ia berikan pada Veist.

“Santai saja, aku akan melindungi kedai ini apapun yan terjadi.”

“Kami pamit dulu!” pungkas Veist.

Vaelric mengikuti. “Terima kasih atas semuanya.”

“Ya, kami juga.”

Kedua sejoli itu pergi meninggalkan bengkel itu. Yang tersisa hanyalah suara besi yang
ditempa serta bakaran di tungku. Nenek Asmoe masih penasaran dengan kubus mana ciptaan
Vaelric, kedua netranya masih mengamati dengan seksama.

“Aku tidak menyangka ada anak yang bisa menciptakan kubus mana seindah dan semurni ini
tanpa efek samping.”

“Iya, aku lebih takjub jika dia menggunakan mana untuk bertarung.”

Nenek Asmoe menghela nafas, “Bahkan mage tingkat emas saja hanya membuat kubus
seperti ini sehari sekali.”

Tidak lama, pintu bengkel itu kembali diketuk. Seseorang membuka pintu.

“Ada pelanggan?”

“Selamat dat-,”

“Nek! Aku pinjam kereta kudanya ya!” teriak Veist, ia bahkan belum masuk sepenuhnya.
“Akan kukembalikan nanti sore.”

“Ya, pakai saja. Jangan sampai kudanya kelelahan ya.”

“Oke!”

*Viscount of Moonclair

Belum sepenuhnya matahari berada pada puncaknya, bahkan awan gumpalan putih di
angkasa belum bersih. Askara masih terlihat pagi, waktu yang cocok untuk setiap makhluk
yang ingin terus melanjutkan hidupnya. Beberapa dari mereka sudah memenuhi sebagian dari
pasar, ada yang menghasilkan suatu barang, ada pula yang mengonsumsinya. Pada dasarnya
setiap makhluk memang harus hidup berdampigan satu sama lain. Tidak terkecuali manusia,
makhluk sosial.

Pelataran kota yang tidak terlalu padat ini cukup simpel, gerbang utama berisi beberapa kedai
yang menjual oleh-oleh atau sekedar menawarkan penginapan bagi para pengembara.
Setelahnya terdapat bangunan tinggi, tempat tinggal masyarakat di sana. Adanya bangunan
itu memungkinkan munculnya lorong setiap celah antara setiap gedung. Sulit menjelaskan
secara pasti keadaan setiap lorong yang menghubungkan antar jalan itu, kota sebesar ini tidak
mungkin sepenuhnya diisi kebaikan.

“Lalu, kenapa kamu meminta surat dari nenek dwarf kalaupun masuk saja kamu masih
menyuap penjaga tadi?” sindir Vaelric, ia berbaring di dalam kereta kuda tersebut.

Sedangkan temannya, anak bangsawan yang menjadi kusirnya. “Yah, aku lupa sih kalau
penjaganya bakal mengecek barang bawaan kita,” jawab pasrah Veist karena
kecerobahannya. “Lagian kalaupun bawa, mau bawa apa? Toh itu surat dagang yang aku
minta.”

“Seberapa banyak juga uangmu itu...”

“Banyak.

Vaelric menghela nafas kecil, memandangi pemandangan kota yang belum pernah ia lihat
sebelumnya. “Kita mau kemana ini?”

“Mmmh...” Veist melihat temannya sekejap, “Sejujurnya sih, tidak tahu.”

“Hah? Katanya kamu yang mengajakku keliling?”

“Kita sarapan dulu deh.” Veist mengalihkan topik perbincangan.

“Aku sudah sarapan.”

“Hitung-hitung makan disini lah.”

“...”

“Aku yang bayar.”

Tidak jauh kuda itu berjalan, langkah kerasnya berhenti di depan sebuah restoran keluarga
kecil. Di antara deretan gedung beton, nyaris tidak mencolok, seolah kota besar itu lupa akan
keberadaannya. Ketika Vaelric dan Veist masuk, lonceng kecil di atas mereka berdenting
pelan dikombinasikan dengan pintu kayu tua yang di cat ulang lusuh itu, seakan disambut
oleh bisikan selamat datang dari masa lalu.

Seorang pelayan wanita muda segera bergegas menuju pelanggan yang sudah datang di pagi
ini, sedikit tergopoh. “Silahkan kemari,” tunjuknya dengan santun ke arah salah satu meja.
“Maaf jika masih berantakan, masih pagi...”
“Oh ya, terima kasih.”

“Kebetulan sekali anda datang pagi-pagi ini Moonclair?” tanyanya sekaligus mengantarkan
mereka ke tempat duduk.

“Seris Dawnbloom, dia masih terlihat sangat muda,” batin Vaelric yang membaca papan
nama pelayan itu dan sedari tadi mengekor pada Veist.

Anak bangsawan itu menghela nafas kecil, “Panggil saja aku Veist, aku tidak enak dengan
nama keluarga itu.”

Seris mengangguk; Vaelric dan Veist duduk. “Karena masih pagi, mungkin tidak semua
menu siap,” cakapnya sambil memberikan daftar menu.

“Aku seperti biasanya saja, sambal dan daging sapi,” ucap Veist, ia hanya melihat daftar
menu itu sekejap dan memberikannya padaVaelric, “Pesan saja.”

“Aku... sama saja deh,” ujarnya ragu, ia terlalu bimbang untuk mengambil sebuah keputusan
di atas lembar itu.

“Okelah, akan segera aku persiapkan.”

Pelayan itu pergi, hanya tinggal mereka berdua yang menunggu di meja bundar itu. Bagi
Vaelric, kedatangannya adalah hal yang baru, sekaligus pengalaman pertama.

“Apakah kamu sering kemari Veist?”

“Yah begitulah, pelayan itu juga teman waktu kecilku juga,” jawabnya. “Pemilik restoran ini
dulunya kepala koki di kediamanku.”

“Oh, karena itu...”

Tidak ada lantunan musik seperti restoran mewah, hanya ada suara peralatan masak yang
beradu satu sama lain. Perlahan tapi pasti aroma masakan mulai menggoda dari dapur,
perpaduan bumbu yang sempurna menguar dari celah jendela. Pada dasarnya restoran ini
tidak menjual makanan saja, namun ia menyediakan kenyamanan atas suasana terdahulu.

“Omong-omong, pelayan itu juga jago berpedang loh,” celetuk Veist yang mulai sedikit
bosan.

Namun reaksi datar seketika muncul pada Vaelric, “Apa coba? Kamu seperti maniak yang
suka orang berpedang, apa saja soal pedang pasti aja...”

“Tidaklah, memang dia juga pernah latihan pedang waktu kecil bersamaku.”

“Ohh...”

“Tapi tetap saja masih menang aku sih kalau kami bertanding.”

“Iya ya.” Vaelric mulai tidak tertarik dengan ocehan temannya yang tinggi.
“Mungkin akan seimbang jika melawanmu, lagipula teknik berpedang kita hampir mirip,”
ujar Veist, “Seingatku ia menggunakan pedang yang relatif tipis dan ringan.”

“Pedang yang tipis dan ringan?” pikirnya sejenak sembari membayangakan bagaimana
bentuk pedang itu di telapak tangannya, “Yah memang keduanya mengandalkan kelincahan.”

Detik setelahnya, Seris sang pelayan memecah perbicangan mereka. Berdehem keras seakan
memperingatkan keduanya untuk berhenti sambil menghidangkan makanan yang sebelumnya
dipesan.

“Apa yang kalian berdua bicarakan sebelumnya?” Pandangan Seris terpusat pada Vaelric,
seorang yang belum ia kenal.

“Ah tidak kok, tidak ada,” seloroh Veist mengalihkan karena terkejut, “Dan juga sejak kapan
kamu mendengar perbincangan kami?”

“Yah, soal itu aku maaf. Tapi, apakah membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya itu
hal baik Pangeran Bungsu Moonclair?” cibirnya, melirik Veist. “Dan juga, apakah saya boleh
tau siapa dia?”

“Aku Vaelric Elbrecht, aku diajak Veist kemari,” ucapnya langsung memperkenalkan diri.

“Vaelric ya...” ia mengambil pisau dapur yang sebelumnya ada di nampannya, “Aku dengar
sebelumnya kamu bisa bertarung seimbang denganku. Apakah itu benar?” Jari-jemarinya
begitu mahir memainkan benda tajam itu.

Vaelric terkejut bukan main, “Apa, apa apaan? Apakah jika aku bilang iya akan langsung
diajak duel?”

“Mungkin saja, toh baru pagi ini dia baru saja melawanku.”

“Tapi aku kalah, kamu sudah tau begitu,” sambung Vaelric meluruskan.

Seris menghela nafas, “Sudahlah, aku tahu kalau Veist memang hebat, tapi jangan samakan
aku dengan dia, aku tidak terlalu suka berduel.”

“Syukurlah...” Vaelric lega.

“Nikmati makanannya sebelum dingin.”

“Iya, terima kasih.”

Sebelum Seris pergi, ia menanyakan sesuatu. “Apakah kalian tahu kalau ada pameran dari
Akademi Velmara?”

Sontak Vaelric teringat sesuatu, “Akademi Velmara? Bukankah itu yang nenek bicarakan
semalam?”

“Oh ya, aku baru ingat. Di alun alun ya?”


“Ya, tapi hanya pameran peralatan magitech saja sih. Kayaknya cuma acara dari siswanya
saja,” balas Seris.

“Bagaimana Vaelric? Apakah kita kesana?”

Vaelric yang sedang mengunyah makanan itu hanya mengangguk setuju.

“Bagaimana denganmu Seris? Bukankah kamu juga ingin masuk akademi itu?”

“Ya ingin masuk karena ada kelas lanjutan berpedangnya, aku tidak begitu tertarik dengan
peralatan sihir.”

“Seingatku pendaftaran untuk tahun ini dua minggu kedepan ya?”

“Iya, kamu juga ikut daftar?”

“Pendaftaran siswa Akademi Velmara? Apakah yang dikatakan nenek itu benar?” cakap
Vaelric dalam hati, ia tidak berani ikut menimbrung percakapan mereka berdua.

“Aku? Itu jelaslah...” balas Veist pasrah.

Seris mengangguk tipis, “Iya sih, anak bangsawan juga.”

“Bagaimana denganmu Vaelric?” tanya Veist, mengalihkan pandangannya pada lelaki


berambut coklat terang yang sedari tadi fokus mendengarkan.

“Ya dengan kemampuanmu berduel dengan Veist, bukannya itu mungkin?” imbuh Seris.

“Aku masih belum tahu, nenekku juga menawarkan hal itu sebelumnya.”

Setelah menelan sesendok daging, Veist menghela nafas. “Tapi sejujurnya... sulit untuk anak
non bangsawan masuk, yah walau ada jalur beasiswa sih.”

“Iya memang nasib yang sedikit buruk,” gerutu Seris. “Tapi lihat saja, aku pasti akan masuk
di akademi itu.” Gadis berambut pendek itu bersemangat. Ia terlihat motivasi.

“Memalukan master jika kamu tidak berhasil lolos seleksi,” sindir Veist.

Sedangkan anak dari sepasang elf dan manusia itu bimbang. Sesekali meratapi kedua telapak
tangannya, pikirannya penuh oleh semua kemungkinan masa depan yang akan ia lalui. Setiap
detik yang berjalan saat ini, akan merubah hidup atau matimu di masa yang akan datang.
Tidak ada pilihan yang salah, hanya ada pilihan yang sia-sia.

“Apakah keputusanku untuk masuk akademi itu adalah pilihan yang benar?”

Tapi dalam lautan kebingungan itu, Vaelric masih punya kapal bagus yang menemani
pelayarannya. Seorang nenek asuh sekaligus guru yang terus memberikan ia apapun demi
masa depannya, dan satu-satunya teman yang akan menggandengnya menuju masa depan.
Tidak lupa dengan orang tuanya, tanpa mereka ia tidak akan sampai pada titik ini.
“Aku berharap jika kamu masuk Akademi Velmara, yah walaupun hal itu sedikit sulit
untukmu,” pesan Veist memegang pundak temannya itu.

Dalam kota yang bergerak terlalu cepat, langkah kaki mereka berdua seolah menjadi jeda
bagi waktu untuk menikmati ketenangannya. Perjalanannya masih jauh, bahkan belum saja
memulai, tapi keduanya yakin jika mereka akan berhasil, setidaknya salah satu dari mereka.

“Aku tidak tau pastinya, tapi aku masih tetap ingin mengembangkan kemampuanku ini.”

“Iya aku juga, bagaimanapun dunia ini masih luas. Aku juga ingin menuju puncak dari salah
satu luasnya dunia ini,” celetuk Veist.

Vaelric tersenyum, “Dua minggu sebelum ujian masuk ya?”

“Sepertinya pameran magitech itu cukup ramai,” ujar Veist, ia menggunakan telapak
tangannya untuk menutupi matanya dari silaunya sinar matahari. “Banyak sekali yang
nonton.”

Anda mungkin juga menyukai