“Echoes of the Forgotten Lineage: Combat Mage”
Chapter 0: Vaelric Elbrecht
*Elf Forest Territory, Hutan Lutharel
1021 Tahun Setelah Perang Terakhir
Beberapa burung masih berkicauan di pucuk pohon raksasa yang menjulang tinggi di antara
awan, terlihat pula beberapa tupai yang bermain dengan makanannya. Bunga di sekitarnya
juga terpantau bahagia, kelopaknya mekar bebas tanpa merasakan beban berlebih. Sang surya
nampak telah bekerja dengan baik untuk kesejahteraan makhluk yang dinauginya.
Anak elf berlarian kesana kemari membawa setangkai bunga dengan riangnya, sesekali
melewati elf dewasa yang memanggul sewadah buah di kepalanya. Kupu-kupu yang
berterbangan terlihat ingin mengikuti mereka bermain, begitu pula dengan lebah yang tertarik
dengan bunga tersebut. Semua makhluk di latar itu nampak bahagia akan anugerah hidupnya.
Namun kebahagiaan adalah sifat subjektif, tidak semua makhluk menganggap kebahagiaan
adalah sebuah kesenangan semata. Memang secara harfiah kesenangan dan kebahagiaan
merupakan sesuatu yang berhubungan pada dasarnya, namun sulit jika menyimpulkan arti hal
tersebut secara langsung. Salah satu contohnya adalah seorang anak elf yang sudah mandi
keringat di pagi yang cerah ini.
“Lambat! Ayah tidak mengajarimu tebasan seperti itu!” teriak manusia dewasa setelah
menangkis serangan keras dari anaknya.
“Ya!” Tanpa istirahat sedetikpun, ia melanjutkan serangannya. Lebih keras.
Bagi seorang swordsman, tebasan adalah suatu cara berkomunikasi tanpa kata. Kebahagiaan
anak itu mungkin dapat dirasakan oleh ayahnya. Setiap pertemuan bilah besi itu berharga
mahal bagi keduanya, bagaimanapun itulah cara mereka berbagi perasaan.
Latihan itu berlanjut hingga datangnya seorang elf yang menghentikan mereka, “Tuan Noah,
maaf mengganggu waktu latihan kalian, tapi Nyonya Eira sedang melahirkan,” ucapnya
dengan hormat.
Manusia dewasa itu menyarungkan pedangnya langsung, “Ayo Leora, kita cukupkan hari ini.
Dan juga kita akan lihat anggota keluarga baru kita.”
“Baik yah...” Leora mengikuti.
Keduanya sampai di pohon raksasa dengan pintu di batang pohonnya, sudah menjadi budaya
ras elf untuk hidup di dalam pohon. Memang ukuran dari pohon yang tumbuh di wilayah elf
ini lebih besar tujuh hingga sembilan kali lipat dari ukuran normal di luar wilayah, terlebih
lagi hutan ini tersembunyi dari ras lain. Hanya makhluk yang memiliki izin untuk memasuki
wilayah ini tanpa tersesat.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Noah, wajahnya mulai berkeringat entah karena perjalanan
yang tergesa-gesa atau karena kekhawatirannya.
“Bayinya laki-laki, seorang manusia,” jawab seorang pelayan kedua yang menyambut
kedatangan mereka sembari membuka pintu.
“Manusia...” gumam Noah.
Kulitnya seputih bulan saat musim dingin, rambutnya pirang cerah seperti awal senja. Namun
yang menjadi perhatian orang-orang di ruangan itu adalah telinganya bulat, bukan runcing
seperti ibunya. Ia adalah anak dari seorang elf dan seorang manusia.
“Dia seperti ayahnya,” ucap lembut Eira sambil menggendong bayi itu. Memandangi
malaikat kecil itu dengan tangan sedikit bergetar. Matanya yang coklat murni dipenuhi air
mata, bukan hanya karena cinta, tapi juga kekhawatiran.
Bagaimanapun juga, perasaan tidak bisa diungkapkan secara terang-terangan karena situasi
yang sedikit canggung ini. Tetua elf yang mendatangi di sini adalah penyebab adanya
beberapa pelayan yang menemani, tidak lupa dengan salah satu suster di sana.
“Ia manusia, darah Noah,” gumam tetua elf tersebut, memandang dengan tatapan berat.
“Agak keberatan untuk mengurus manusia lagi di sini.”
“Yah kami tahu itu, tapi setidaknya biarkan kami memberikan nama terlebih dahulu sebelum
keputusan yang lainnya berlanjut,” tegas Noah.
“Itu benar,” ucap Eira mendukung.
Tetua elf mengangguk kecil, “Ya, aku izinkan itu.”
Noah menelan ludah; Eira memberikan bayi itu pada pangkuan suaminya. “Vaelric...”
gumamnya, mata rapuhnya berkaca-kaca melihat wajah lelap bayi itu. “Vaelric Elbrecht, dia
adalah anak kedua dari keluarga kami,” ucapnya tegas.
Akan tetapi di sela momen mengharukan itu, tetua elf langsung menyela. “Sudahi drama
kalian, keluarga dan cinta tidak pernah menjadi alasan yang cukup di antara kita,” ujarnya
dingin.
Noah dan Eira tahu ini akan terjadi. Bangsa elf juga terkenal dengan kemurnian darah dan
umur yang panjang, sedangkan manusia adalah makhluk fana dan mudah tua pada dasarnya,
Hidup singkat. Seorang anak setengah manusia akan dianggap lemah, tak pantas mewarisi
keturunan panjang leluhur elf.
“Ya setidaknya aku bisa sedikit membantu di hadapan para dewan elf, atau mungkin malah
memperburuk keadaan,” ketus tetua elf.
Perasaan suami istri itu terguncang secara tidak langsung, sulit menjelaskan perasaan orang
tua kepada anaknya, tidak ada batas. Terlebih lagi Vaelric baru saja lahir hari ini, hanya ayah
dan ibu terburuk yang menelantarkan anaknya.
“Aku ikut, kamu tidak bisa melarangku Nona Luneth,” sahut Noah. Ia memegang sarung
pedangnya dengan tatapan sinis. Siap membunuh.
“Kalau begitu, aku juga. Aku yang melahirkan Vaelric juga,” sambung Eira, wajahnya jelas
menunjukkan tekad melawan.
Tetua elf, Luneth. Dia diam tak berkutik, mengangkat kedua tangannya sambil menghela
nafas. Menyerah. “Dasar keluarga Elbrecth, apakah belas kasih dewan untuk tinggal di sini
belum cukup?”
Pohon suci elf
Sesuai dengan julukannya, pohon raksasa yang setinggi awan itu seolah benteng baja di
antara hutan. Ukurannya yang tidak masuk akal, bahkan dedaunannya sampai-sampai
menutupi langit biru. Konon katanya ada suatu celah luka dari pohon tersebut, salah seorang
ilmuwan dari mereka telah memperkirakan pohon itu telah hidup 4800 tahun dari hasil
menghitung jumlah lapisan kayu di batangnya.
Pohon suci juga menyediakan ruang yang luas di dalam badannya, tentu saja hanya orang
yang pantas untuk tinggal di sana. Karena menurut budaya ras elf, setiap pohon adalah
makhluk yang setara dengan makhluk berjalan lain, dengan alasan itulah mereka percaya
bahwa tumbuhan legenda ini bisa memlih penghuninya.
Tidak hanya itu, kegunaanya cukup banyak. Seperti tempat berkumpul dewan, atau sebagai
persidangan atas kesalahan orang. Opsi terakhir dari pohon itu adalah sebagai tempat
berlindung di zaman peperangan, menjaga ras elf.
“Vaelric Elbrecht. Jadi, ini adalah manusia setengah elf katamu,” ucap salah satu orang yang
duduk di posisi lebih tinggi, nomor tiga dari samping kiri.
Bukan hanya seorang saja di sana, totalnya ada tujuh. Mereka duduk setengah lingkaran,
seakan menginterogasi apa yang ada di tengah mereka. Para dewan elf sangatlah misterius,
tanpa paras wajah, tertutup oleh gelapnya bayangan. Informasi identitas; siapa atau
bagaimana para dewan itu bisa menempati jabatan itu sangatlah terbatas, hanya ada satu
kepastian, umur mereka sudah dipastikan lebih dari 700 tahun.
Umur sepanjang itu pada dasarnya sudah menjadi anugerah tersendiri bagi ras elf, 300 hingga
500 tahun adalah rata-rata umur elf pada dasarnya. Kembali lagi pasal elf yang lebih
mengutamakan keberlangsungan hidup yang lama, hal itu cukup sebagai dasar dipilihnya
dewan. Mereka beranggapan bahwa pengalaman hidup dari generasi ke generasi adalah hal
penting untuk memutuskan suatu permasalahan.
“Padahal kami sudah mengizinkanmu untuk tinggal di sini, tapi masih kurang ya,” sahut
dewan elf paling kanan.
Tingkatan duduk dewan juga menjelaskan seberapa berpengaruh pendapat mereka, semakin
menengah, semakin tinggi juga kedudukannya.
“Ya, itu masih kurang.” Noah bersama Eira berada di tengah, tidak lupa dengan anaknya.
“Wah, berani sekali bicaramu.” Dewan yang duduk kedua dari kanan mengangkat suaranya.
“Sebelum itu, biarkan kami mendengarkanmu dulu permohonanmu,” Tingkat tiga dari kiri
mencoba menjadi penengah untuk lancarnya sidang ini.
“Balas budi, aku ingin kalian balas budi padaku,” tegas Noah.
Beberapa dewan tertawa dengan maksud merendahkan, “Apa? Kamu secara tidak langsung
meminta kami untuk balas budi kedua kalinya?” ungkap dewan paling rendah dari kiri.
“Iya itu benar!” Eira mencoba membantu suaminya. “Jika saja Noah tidak ada, mungkin
wilayah ini akan hancur. Tidak, bahkan pohon suci ini bisa saja hancur,” jelasnya
mengarahkan argumen itu ke dewan paling tengah.
“Hah?! Bahkan rakyat kita sendiri bisa mengatasi penyusup itu, apakah kamu bercanda?”
balas dewan elf kedua dari kiri, beberapa dewan dibawahnya setuju. “Lagipula keberadaanmu
di sini adalah balas budi kami dari kejadian itu bukan?”
Noah sepertinya sudah naik pitam, ia beberapa kali memijat gagang pedangnya. “Bagaimana
pendapatmu ketua para dewan?!”
“Noah... manusia,” ucap dewan paling tengah, suaranya lirih dan serak. “Aku hanya setuju
jika yang lainnya juga setuju,” sambungnya.
Suara pedang yang ditarik dari sarungnya terngiang ke suluruh sudut ruangan. “Jadi, apa
gunanya ketua para dewan?!” Noah menodongkan bilahnya pada dewan tengah.
Seketika suara meja dipukul menyahut, “Apa kamu tau dengan siapa kamu berbicara?!”
“Memang benar tanpa Noah pun kita bisa menghalau serangan penyusup. Tapi,” ucap
seorang di belakang Noah dan Eira. Langkahnya mulai terdengar mendekat, “Bagaimana
dengan magitech anti-sihir itu?” Bayangan luput, pendapat keluarga itu diperkuat oleh tetua
elf, Luneth.
“Ini semakin menarik saja,” komen dewan elf tingkat dua dari kanan. “Bahkan salah satu
tetua elf juga ikut mendukung mereka.”
“Cukup mengesankan bagi seorang manusia, tapi aku tidak bisa memberikan kebebasan
lebih dari itu.” Tetua dewan elf mulai membuka mulut untuk kedua kalinya. “Tentu saja,
membiarkanmu berada di sini adalah balasan untuk kebaikanmu.”
Noah terkekeh, “Jadi maksudmu, aku harus memilih untuk pergi dari wilayah ini, atau
anakku yang pergi? Begitu?!”
“Tepat.”
Nafas besar dihembuskan, diakhiri dengan wajah menunduk. “Aku sangat benci membuat
keputusan.” Ia menyarungkan kembali pedangnya.
“Pilihanku adalah, kamu bisa memilih kamu atau anakmu.”
“Aku tahu, aku tahu, sungguh menyebalkan sekali.” Noah mengambil beberapa langkah
untuk mendekat ke arah tetua dewan. “Aku tidak mau membuat keputusan yang salah lagi,
bagaimana jika pohon suci ini yang memilih. Ketua dewan, Queen of Arcana Order, Fayra?”
Semua di ruangan itu mematung, tidak ada yang berani membuka suaranya, bahkan sekedar
bernafas normal. Hening. Udara dingin menyelimuti keberadaan setiap makhluk yang ada di
sana, seoalah membungkam mulut sang kontra dari sang pro secara langsung.
“Bagaimana? Saat ini, disini, dengan pohon suci ini menjadi pembuat keputusan,” tegas Noah
sekali lagi.
“Lakukan sesukamu. Aku lepas dari masalah ini,” pungkas ketua dewan, dengan itu ia
menyatakan golongan putih atas apa yang terjadi.
Noah tersenyum licik, “Kalau ketua kalian saja mengundurkan diri, apa keggunaan kalian?”
Semuanya tidak ada yang berani menjawab.
Ia mengeluarkan pedangnya, “Kalau begitu, biarkan aku menggunakan pohon suci ini.”
Dilanjut dengan menyayat tangannya untuk meneteskan darah pada lantai, yang bukan lain
adalah tubuh dari pohon suci ini.
Eira membantu Noah dengan mengarahkan Vaelric untuk menyentuh darah ayahnya, sebagai
pertimbangan atas kehidupan kelak.
Tidak lama berlalu, beberapa dedaunan muncul dari atas. Menjulur, mencoba menggapai bayi
kecil yang tertidur pulas itu.
Noah, Eira, bahkan tetua elf yang ada di tengah tersenyum. Dengan penerimaan pohon suci
atas kedatangan bayi ini, hal itu selayaknya sambutan hangat bagi keluarga Elbrecht.
Kesimpulannya adalah, sepasang suami istri, elf, manusia, dan bayi Vaelric telah diberkahi
oleh pohon suci untuk melanjutkan kehidupannya di wilayah elf ini.
7 Tahun Setelah Kelahiran Vaelric
Suasana tidak jauh berbeda dari beberapa tahun yang lalu, hanya saja kali ini sepasang anak
dan ayah di masa lampau itu tumbuh mengikuti arus waktu. Ditambah lagi anak keduanya
yang sudah mulai menjadi teman latihan bagi kakaknya, Leora dan Vaelric. Sepasang saudara
itu memacu tubuhnya sedari fajar hingga sang surya hampir berada di atas mereka, tidak lupa
dengan ayahnya sebagai pelatih mendampingi perkembangan dan pertumbuhannya.
“Samping kirimu Vaelric?!” teriak ayahnya mengarahkan.
Bruk!
Serangan bersih masuk mengenai perut anak kecil itu, keras. Nampaknya kakaknya tidak
meremehkan lawannya sedikit pun, Vaelric mengeram kesakitan sembari memegangi bekas
serangan itu.
“Reflek matanya bagus untuk anak kecil, tapi memang tubuhnya belum bisa mengimbangi
ya?” gerutu Noah.
Vaelric bangkit, namun tubuhnya masih gemetaran. “Aku masih bisa lanjut.”
“Melihat tubuhmu seperti itu, apakah kamu masih meneruskan?” sahut Leora dingin,
menodongkan pedang kayunya ke arah adik satu-satunya.
“Tidak masalah!” Vaelric melesat maju, memberikan beberapa tebasan.
Namun tetap saja, dilihat dari manapun sudah jelas siapa yang akan menang. Bahkan Leora
hampir tidak mengeluarkan keringatnya. Pengalaman berpedang, kekuatan, bahkan fisik pun
Vaelric kalah telak. Tidak dapat dipungkiri bahwa anak itu masih umur tujuh tahun, tepat
pada hari ini.
“Leora, di umur yang sama dengan Vaelric dia bahkan hampir mengimbangiku dalam segi
teknik.”
“Terima ini!” Tebasan dari atas lainnya, lebih kuat.
Percuma saja, hanya dengan kuda-kuda dasar dari Leora sudah cukup untuk memecah
serangan itu. Bagi Leora, lawannya sekarang hanyalah sekedar lalat yang mencoba
mengangkat makanan mewah.
Noah terkejut, “Aku kira serangan itu cukup keras, tapi apa-apaan itu?”
“Bagaimana? Masih lanjut?”
Vaelric mengusap keringatnya, “Ya!”
“Mungkin di umurnya sekarang, Leora bisa saja mengalahkanku telak. Bakat alaminya
sungguh mengerikan.”
Mata Noah tertuju pada anak keduanya, “Sedangkan Vaelric, ya... jujur saja dia tidak
memiliki bakat dalam bertarung. Tapi setidaknya kekuatannya sudah setara dengan siswa
pangkat emas,” batinnya serius.
Dedaunan begitu rimbun sedikit mengenakkan udara di sekitar, angin menggoyangkan batang
pohon yang menjulang tinggi. Pelataran hijau menyediakan tempat pijakan, rumput subur
tumbuh di sekitar sana. Warna hijau memang sudah selayaknya mewakili perasaan alami
ketenaran sang alam.
Matahari tepat di atas sana, waktu dimana dia dapat dipandang semua makhluk di daratan.
Namun teriknya cahaya masih bisa di tahan oleh naungan pepohonan di hutan, bahkan satu
keluarga di sana terlihat memanfaatkannya.
“Bagaimana latihannya? Apakah cukup?”
Leora menghela nafas kecil, ia duduk di atas batu sambil memandangi bilah pedangnya. “Iya,
lumayan. Vaelric juga sudah mulai bagus refleknya.”
Sedangkan Vaelric terdiam saja, berbaring di atas rimbunan rumput. Tangan penuh dengan
memar itu digunakannya untuk menutupi wajah dari silaunya matahari.
“Hari ini tepat ulang tahunmu ke tujuh ya Vaelric?” sahut Noah, menghampiri anak
keduanya.
“Iyakah?”
Noah menatap wajah Vaelric, mereka saling berpandangan; anak itu terkejut. “Apakah kamu
benar-benar melupakan hari ulang tahunmu?”
“Yah, aku rasa memang hari ini mungkin...” Ia memalingkan wajahnya.
Ayahnya tersenyum mengamati kedua anaknya yang sudah tumbuh, Leora menuju masa
remajanya,dan Vaelric yang akan meninggalkan masa kanak-kanaknya. “Kalian sudah mulai
dewasa sekarang, beberapa bulan lagi Leora juga akan pergi ke akademi untuk sekolah.”
“Yah, begitulah...” balas Leora, ia sedikit tersipu.
“Mumpung Vaelric sudah umur tujuh tahun, mari kita segera pulang untuk mencoba
elemental core. Siapa tahu kamu akan cocok menjadi seorang mage,” ajak Noah, ia
membereskan beberapa peralatan latihan: pedang kayu, armor kulit, dan sebagainya.
“Elemental core?” tanya ragu Vaelric, bangkit sesekali merenggangkan tubuhnya.
Suara pedang yang masuk di sarungnya seolah menjadi penjeda, “Kamu akan tahu setelah
mencobanya.”
“Elemental core? Menjadi mage?” pikir Vaelric.
Elemental core sejatinya adalah kekuatan signature seorang mage, singkatnya adalah
kekuatan alaminya. Bentuk umum yang digunakan oleh beberapa mage totalnya adalah enam,
namun jumlah aslinya adalah sembilan core. Salah satunya orang yang berhasil
mengendalikan delapan elemen ialah sang pahlawan dari ras elf, Sicilly Seniorius.
“Di rumah cuman ada enam bola elemental core aja si...” cibir Noah.
“Terus sepertinya keenam bolanya rusak,” sambung Leora.
“Rusak?”
“Itu bukan rusak, memang kamunya aja yang tidak punya bakat di bidang mage,” sindir
ayahnya. “Hanya core tanah saja yang menyala, itupun sangat redup.”
“Butuh kegelapan untuk menyadari hal itu...”
“Menyala? Rusak?” Wajah Vaelric menggambarkan rasa penasaran yang jelas.
Noah mengelus lembut kepala anaknya itu, “Kamu akan segera tahu setelah ini.”
Rumah pohon yang sudah lama ada masih terlihat bagus dalam alur waktu, menyimpan
segala kenangan. Mungkin sebagian orang sudah melupakannya, namun ia adalah saksi bisu
atas pertumbuhan keluarga Elrbrecht, keluarga dengan darah silang elf dan manusia. Ketiga
lelaki baru saja masuk dengan perasaan bahagia, sedangkan ratu mereka sedang menyiapkan
makan siang.
“Kami pulang!” seru Vaelric, ia segera menaruh pedang kayu dan langsung menghampiri
ibunya.
Sosok ibu elf dengan rambut terikat ke belakang itu tersenyum simpul, “Bagaimana
latihanmu nak?”
“Iya seperti biasanya, omong-omong apakah ibu tahu apa itu elemental core?”
“Ya itu seperti batu alam yang tertarik dengan aliran mana, biasanya digunakan untuk melihat
kecocokan antara mana dan sihirnya,” jelas Eira singkat dan padat, namun baru saja ia
menyadari sesuatu. “Loh... bukannya sekarang umurmu sudah tujuh tahun ya?”
Vaelric mengangguk cepat, dia sangat bersemangat. “Iya aku baru ingat.”
“Wah... maaf ya ibu melupakannya, untung saja ibu memasak makanan favoritmu untuk
siang ini.”
“Tempura ikan gulung?” sahut Vaelric.
Eira menjentikkan jari, “Tepat sekali.”
“Sebelum itu, mari kita lihat apa elemental core yang cocok untukmu,” seloroh Noah yang
baru saja datang bersama Leora. Kakaknya itu membawa delapan bola berwarna-warni di
tangannya.
Setiap warna dari bola itu mewakili kemampuan sihir yang cocok untuk mananya. Mulai dari
warna merah tua, yaitu core api; biru laut milik core air; warna cokelat kusam, core tanah;
warna kuning terang, core petir; warna perak kebiruan, core angin; warna indah berkilauan
biasanya emas atu putih terang, core cahaya; pola prismatik dengan warna pelangi kusam,
milik core arcana; seperti suasana gelap, core kegelapan; dan yang terakhir, core langka
dengan biru lavender gemerlapan, tidak lain dan tidak bukan adalah core mystic.
“Aku pikir itu kelereng?” telaah Vaelric.
“Ya... aku awalnya juga berpikir begitu.” Kakaknya satu pemikiran.
“Nah kalau begitu, coba kamu ambil salah satu yang mungkin menarik, siapa tahu itu cocok,”
jelas Eira.
Vaelric nampak sedikit kebingungan, “Aku hanya harus mengambil dan memgangnya kan?”
“Iya tentu.”
Kedelapan batu elemental itu diletakkan di meja, Vaelric nampak ragu untuk mengambil
salah satu batu berwarna itu.
“Tidak apa-apa kok, nanti jika batu elemental itu cocok, dia akan menyala. Semakin terang,
semakin cocok mana milikmu dengan elemental itu,” jelas Eira.
Vaelric mengambil batu berwarna biru lavender, “Core mystic ya? Batunya memang indah,”
sahut Noah.
Namun sesaat batu itu sudah digenggamannya, batunya menyala terang singkat, namun
setelahnya tidak ada reaksi.
“Sudah? Kok langsung tidak ada reaksinya?” Eira nampak bingung.
Noah mengerutkan dahi, “Hanya menyala sebentar saja.”
“Ya, baru pertama kali aku melihat kejadian seperti ini.”
Leora menghela nafas seolah tidak tertarik, “Sudah dibilang, batu elemental itu rusak.”
“Apakah ada yang salah?” Vaelric juga ikut kebingungan.
“Tidak, tidak apa-apa. Mungkin core mystic tidak cocok dengan manamu,” jawab Eira
menenangkan. “Kamu bisa coba batu elemental yang lain.”
Vaelric mengambil batu berkilauan, core cahaya. Tapi kejadian yang sama terulang kembali.
“Apa yang terjadi? Kenapa hanya singkat saja yang menyala?” pikir Eira.
“Coba yang lain.”
Vaelric mengambil batu coklat, dan tetap saja. Reaksi batu elemental itu tidak lebih darisatu
detik.
“Aneh...” gumam Noah.
Semua batu elemental sudah Vaelric genggam, bahkan sudah mengulangi untuk kedua
kalinya.
“Ini membingungkan, semua reaksi batu itu hanya menyala singkat saja,” gumam ibunya.
Noah selaku ayahnya tertegun, “Bahkan jika itu Leora yang tidak memiliki bakat dalam sihir
masih ada satu elemental core yang cocok, walau itu redup. Tapi bagaimana bisa anak ini
tidak memiliki satu saja elemental core?”
“Itu cukup aneh...”
Leora mencoba memecah suasana, “Benar mungkin batu elementalnya rusak?”
“Tidak semudah itu batu sihir rusak. Tapi jika memang kemungkinannya, setidaknya ada
sedikit retakan.” Eira memandangi kedelapan batu itu, tapi perkiraannya nihil.
“Lalu apa selanjutnya?” tanya ragu Vaelric.
“Yah... bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu saja? Bukannya kalian sudah
lelah?” usul ibu dari kedua anak itu, mengalihkan topik.
“Ya... itu mungkin yang terbaik.”
Satu keluarga itu menikmati makan siang dinaungan atap pohon yang begitu sempurna, tidak
panas ataupun tidak terlalu dingin. Makanan yang disiapkan di sana juga nampak sangat
menggoda selera, terlebih lagi seorang ibu yang memasaknya. Namun suasana di sana
sangatlah canggung. Hening. Hanya terdengar suara alat makan yang sesekali saling
terbentur.
“Aku tidak pernah mendengar jika ada makhluk yang tidak memiliki mana yang cocok
dengan sihir apapun itu,” pikir Noah, ia melamun.
Begitu pula dengan istrinya, “Jika memang dia manusia, setidaknya ada satu saja sihir yang
cocok, tapi kenapa dengan Vaelric?”
“Mungkin tidak masalah bagi Leora tidak memiliki sihir, karena memang bakatnya dalam
berpedang. Tapi bagaimana dengan Vaelric?” Noah menaruh pandangan berat pada anak
keduanya.
“Aku masih tidak percaya, jika anakku tidak memiliki sihir... padahal ibunya juga adalah
seorang elf.”
“Apa yang seharusnya aku lakukan sebagai ayah? Aku sejujurnya membenci orang yang
tidak memiliki kemampuan...”
“Vaelric... maaf jika aku sedikit membencimu.”
Eira mendapati pikiran suaminya yang terlihat kecewa, “Aku sendiri tahu perasaanmu, tapi
bagaimanapun ia adalah anak kita.”
Sejak hari itu pandangan akan anak kedua yang baru saja keluar dari masa anak-anak mulai
berubah. Bukan lebih baik, namun malah sebaliknya. Sejatinya lingkungan ras elf yang selalu
menjunjung tinggi kekuatan dan kemurnian darah, hal itu lebih memperburuk keadaan
hidupnya.
“Hanya segini saja kamu tidak bisa?! Dasar lemah!” teriak Noah.
Sedangkan dihadapannya adalah Vaelric yang sudah tidak karuan keadaanya. Memar di
sekujur tubuhnya, nafas yang berat, bahkan tangan yang masih berusaha mengangkat harga
diri pedangnya.
“Jika memang kamu tidak memiliki kekuatan dalam sihir, setidaknya kamu bisa bertarung!”
Pedang kayu itu telak mengenai wajahnya, air merah mulai keluar dari mulut serta lubang
hidungnya. Namun Vaelric masih mematung.
“Jangan anggap aku menyiksamu, jika kau lemah, kau akan terus dipijak oleh orang-orang.”
“Bahkan kakakmu saja akan melaksanakan ujian kenaikan pangkat untuk menjadi ksatria
kerajaan, lalu apa yang bisa kamu lakukan?”
“Sial...”
“Apa dosa yang aku perbuat hingga aku menerima semua ini?” batin Vaelric.
Sudah hampir satu tahun berjalan, pelatihan tidak mengenal kewajaran. Namun anak itu
masih bertahan, meskipun sesekali ia kabur. Tapi bagaimanapun tidak ada jalan lain selain
mengikuti arahan dari ayahnya itu.
Mungkin di sekitar sana hanya ibunya saja yang berempati, itu mungkin menjadi salah satu
alasan mengapa ia masih menjalani latihan dari ayahnya.
Mulut yang tidak nyaman untuk mengunyah makanan, tangan sedikit bergetar karena memar.
Hal itu seakan menjadi rutinitas hidupnya setahun ini.
Eira yang memandanginya makan hanya bisa menahan rasa sedihnya. Meskipun seluruh dia
membenci, mustahil bagi seorang ibu untuk berperilaku yang sama kepada anaknya. “Nak...”
“Iya bu?” sahut Vaelric, membersihkan beberapa noda makanan di bibirnya.
“Apakah kamu masih menyayangi keluargamu?”
Vaelric diam, melanjutkan makan.
“Kamu bisa pergi ke jalan perbatasan di Duke of Morrow untuk belajar, ataupun latihan. Aku
ada seorang kenalan tua yang mungkin bisa membantumu.”
Anak itu memandangi ibunya dengan serius, tapi masih menutup mulut.
Air mata mulai tidak tertahankan, “Sejujurnya aku kasihan denganmu nak... maaf jika aku
menjadi orang tua yang tidak baik bagimu.”
“Kenalan tua...” lirih Vaelric, “Belajar...”
Eira mengusap air matanya, “Ya, setidaknya lingkungannya lebih baik dari pada di sini.”
“Akan kupikirkan terlebih dahulu.”
“Ya, kamu bisa saja langsung pergi tanpa berpamitan dengan siapapun, maupun itu ayahmu.”
Eira memegangi pundak anaknya, “Whisper Gale, bilang itu jika kamu bertemu dengan elf
tua di sana.”
“Whisper Gale...”
Eira mengangguk kecil, “Entah malam ini, besok atau kapanpun. Dimana kamu berada, ibu
akan selalu merestuimu. Aku hanya ingin berbuat sebaik mungkin sebagai orang tua. Selagi
kamu hidup dan bahagia, serta orang di sekitarmu nyaman.”