Fase Perkembangan Bayi: Panduan Lengkap
Fase Perkembangan Bayi: Panduan Lengkap
Assalamu’alaikum [Link]
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang atas izinnya kami dapat menyelesaikan tugas ini.
Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah curahkan kepada junjungan kita nabi besar
Muhammad saw. Yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan hingga zaman yang
terang benderang seperti sekarang ini.
Terima kasih kepada Ibu Dra. Zahrotun Nihayah [Link]. selaku dosen mata kuliah
Psikologi Perkembangan II yang telah memberikan tugas ini sehingga kami dapat
mengembangkan kemampuan kami khususnya dalam mata kuliah psikologi perkembangan.
Terima kasih kami tujukan kepada orang tua kami yang senantiasa mendoakan kami
untuk kesuksesan kami. Terima kasih pula kepada teman-teman kami yang sudah ikut
berpartisipasi dalam kesuksesan makalah ini. Makalah ini kami buat atas tuntutan tugas untuk
mencapai kemampuan kami dalam mata kuliah Psikologi Perkembangan II mengenai Fase
Perkembangan Pada Periode Infancy (Bayi).
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Kami selaku penulis
meminta maaf apabila dalam karya tulis ini memuat banyak kesalahan.
Wassalamu’alaikum [Link].
i|Page
DAFTAR ISI
ii | P a g e
BAB I
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Masa bayi merupakan masa keemasan karena berlangsung secara cepat dan singkat
serta tidak dapat diulang. Masa bayi di anggap sebagai masa dasar, karena merupakan dasar
periode kehidupan yang sesungguhnya. Karena pada saat ini banyak pola perilaku, sikap, dan
pola ekspresi emosi terbentuk.
Bayi merupakan makhluk yang perlu diberi perhatian lebih dan perlakuan khusus.
Semua kebutuhanya harus dipenuhi seperti yang diinginkanya, tetapi ia belum pandai
menyatakan keinginan itu. Ia hanya pandai menangis. Bila seorang ibu mendengar bayinya
menangis, ibu yang pertama kali mempunyai bayi itu tentu merasa bingung tidak mengerti apa
yang harus diperbuatnya.
Setiap orang tua perlu mengetahui tahap perkembangan bayinya secara berkala. Jika
lengah, bisa-bisa tumbuh kembang bayi akan terhambat. Mengenali tahap perkembangan bayi
sejak dini untuk membantu para orang tua dalam mendukung tumbuh kembangnya.
III. TUJUAN
1|Page
1|Page
BAB II
PEMBAHASAN
Menurut beberapa ahli perkembangan, periode bayi ini pada usia 0 sampai dengan 2
tahun. Mussen dan kagan (1979) dan piaget (1950, 1979) memberikan batasan 2 minggu sampai
24 bulan (2 tahun). Pada usia 18 bulan – 24 bulan terjadi perubahan yang cepat dan memiliki
kekhasan tersendiri. Masa bayi adalah periode perkembangan yang terjadi dari kelahiran hingga
18 bulan atau 24 bulan (J.W Santrock, 2002: 22). Meskipun banyak pandangan lain mengenai
tentang usia bayi, secara umum dapat dikatakan bahwa bayi mempunyai batasan rentang usia
dari 0 sampai 2 tahun.
Periode bayi merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat.
Bayi pada periode ini mengalami pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologis yang cepat.
Bayi memiliki perubahan dan kemampuan yang dimilikinya, seperti kemampuan menyesuaikan
diri, kemampuan sensori-motorik, kemampuan gerak motorik kasar (gross motorik) maupun
motorik halus (fine motorik) dan kemampuan lainnya.
Bayi berkembang dari kemampuan yang sederhana, sampai pada kemampuan yang
kompleks baik secara fisik, sampai pada kemampuan yang kompleks baik secara fisik maupun
psikologis. Misalnya, bayi awalnya melakukan aktivitas merangkak, duduk, berjalan masih
dibantu oleh orang tua, sampai adanya kematangan (maturasi) dan stimulasi yang baik dari
lingkungan, maka si bayi perlahan mulai mampu duduk sendiri atau berjalan maupun berlari
tanpa memerlukan bantuan, serta si bayi sudah dapat memanipulasi obyek menurut keinginannya
sendiri.
Periode bayi merupakan dasar dan vital dari suatu pertumbuhan dan perkembangan
individu, karena pada masa dasar tingkah laku dan segala tingkah laku dalam menghadapi diri
sendiri maupun lingkungan luar, serta pola reaksi emosional mulai terbentuk. Oleh karena itu,
peran pengasuh yang dalam hal ini adalah orang tua, perlu hendak memberikan perhatian dan
stimulasi yang sangat cukup bagi bayi guna terciptanya pertumbuhan dan perkembangan yang
baik.
Di bawah ini beberapa tugas perkembangan yang harus dilalui oleh anak-anak di usia bayi
berdasarkan kematangan dan proses belajar adalah:
2. Belajar berjalan
3. Belajar berbicara
2|Page
4. Belajar mengendalikan pembuangan kotoran
6. Belajar membedakan benar dan salah dan mulai mengembangkan hati nurani
I. PERKEMBANGAN FISIK
Pertumbuhan fisik pada masa bayi, paling mudah ditandai dengan rat-rata berat badannya
dan panjangnya. Rata-rata berat badan seseorang bayi ketika lahir adalah 7,5 pound (sekitar 3000
gram) dan panjang badan bayi kurang lebih 20 inci (sekitar 50 cm) (Lerner dan Hultsch, 1983).
Pertumbuhan ini memiliki kecepatan pertumbuhan yang berlainan pada berbagai bagian tumbuh,
maupun pada setiap tubuh, hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip dan pola perkembangan
manusia. Menurut Bayley (1956)bayi yang sampai pada usia 24 bulan, telah mencapai kira-kira
setengah dari tinggi badannya pada saat dewasa nanti.
Laura Berck (2000) mengatakan pada awal masa bayi, berat badan 50% lebih besar
dibandingkan saat ini lahir, begitupun saat usia bayi menginjak 2 tahun, beratnya 75% lebih
besar dibandingkan masa awal kelahirannya. Selama masa bayi, kepala dan dada terus tumbuh
secara baik, tetap tungkai/ batang tubuh dan kaki secara berangsur-angsur tumbuh cepat.
Pertumbuhan fisik dan perkembangan fisik tentunya akan berjalan secara baik dan
progres, apabila dutunjang asupan makanan bergizi yang mengandung vitamin lengkap, protein,
karbohidrat, DHA dan omega untuk pertumbuhan otak, dan zat penunjang seperti suntik-
suntikan yang mengandung zat kekebalatn tubuh, seperti imunisasi, suntik polio, hepatitis A,
B serta stimulasi lain dari orangtua baik secara fisik maupun psikologis. Sekarang ini semakin
banyaknya kuman, virus, bakteri yang akibat dari polusi udara, pencemaran lingkungan, yang
dibuat oleh tangan manusia yang tidak bertanggung jawab, sehingga dapat melemahkan dan
melumpuhkan serta meningkatkan angka kematian pada bayi.
3|Page
II. PERKEMBANGAN EMOSI SOSIAL
Pada periode infancy, emosi yang dimiliki oleh bayi hanyalah emosi primer seperti :
terkejut, tertarik, gembira, marah, sedih, takut, dan jijik. Adapun ekspresi emosi yang terjadi
pada periode ini memungkinkan adanya interaksi yang terjadi dengan pengasuhnya dan bisa
menggambarkan adanya ikatan emosi diantara pengasuh dan bayi. Ada 2 ekspresi emosi yang
diperlihatkan oleh bayi, yaitu menangis dan tersenyum.
Kemampuan sosialisasi yang baik bisa dilakukan apabila bayi memiliki rasa aman dan
percaya pada lingkungan sekitarnya. Oleh karena itulah mengapa peran ibu sangatlah penting
pada tahap ini. Konsep ini juga sering disebut dengan konsep kelekatan (attachment). Adapun
definisi attachment adalah ikatan emosional yang kuat antara dua orang. Dalam periode ini
ikatan yang terjadi adalah ikatan antara ibu dan bayi. Berikut adalah empat tahapan timbulnya
kelekatan:
1) Dari usia 0-2 bulan: Secara insting, bayi menjalin kelekatan dengan manusia baik orang
tua ataupun orang asing memiliki peluang untuk membangkitkan senyuman atau tangisan bayi.
2) Dari usia 2-7bulan: Kelekatan mulai berfokus pada satu individu, biasanya pada orang
tua/yang mengasuh.
3) Dari usia 7-24 bulan: Kelekatan yang khusus berkembang, bayi secara aktif berusaha
menjalin kontak secara teratur dengan para pengasuh (orang tua).
4) Dari 24 bulan dan seterusnya: Anak mulai menyadari perasaan, tujuan, dan rencana
orang lain, dan juga mulai mempertimbangkan hal-hal dalam menentukan sikap.
Moralitas tidak hanya diperoleh dari apa yang kita lihat, namun hakikatnya manusia
memang lahir dengan aspek moral, menurut psikologis asal Yale, Paul Bloom. Saat lahir, bayi
diberikan kasih sayang, rasa empati, dan diawali dengan rasa “keadilan” melalui gerakan
menepuk atau membelai oleh sang ibu. Dari permulaan ini, ia berpendapat dalam buku barunya,
Just Babies: The Origins of Good and Evil, bahwa orang dewasa yang mengembangkan sense of
4|Page
right and wrong, keinginan mereka untuk berbuat baik - dan, kadang-kadang, kemampuan
mereka untuk melakukan hal-hal buruk.
Bloom merasa sulit mencari aspek moral yang dilakukan dengan bayi yang sangat muda,
tetapi Bloom telah menemukan bahwa bahkan anak usia 3 bulan merespons secara berbeda
terhadap perlakuan orang yang membantunya daripada yang mengabaikannya. Temuan ini
mengisyaratkan bahwa penilaian moral mungkin memiliki asal perkembangan yang sangat awal.
Seperti yang Bloom dan tim penelitinya lakukan di Pusat Kognisi Bayi Universitas Yale,
yang dikenal sebagai The Baby Lab, menunjukkan kepada kita bagaimana mereka sampai pada
kesimpulan itu. Dr. Karen Wynn menjalankan Baby Lab, timnya telah mempelajari pikiran dan
perilaku bayi selama beberapa dekade. Sekitar delapan tahun yang lalu mereka mulai
menjalankan serangkaian studi tentang bayi di bawah 24 bulan untuk melihat seberapa banyak
bayi ini memahami tentang perilaku baik dan buruk. Benar dan salah. Mereka memulai dengan
pertunjukan boneka. Dalam acara ini, kucing abu-abu terlihat mencoba membuka kotak plastik
besar. Kucing mencoba berulang kali, tetapi dia tidak dapat membuka tutupnya sepenuhnya, lalu
kelinci dengan kaus hijau muncul dan membantu membuka kotak itu. Skenario ini berulang, tapi
kali ini kelinci berkaus oranye datang dan membanting kotak tertutup sebelum melarikan diri.
Kelinci hijau baik dan bermanfaat. Kelinci oranye cuek dan tidak membantu. Bayi itu kemudian
disajikan dengan dua kelinci dari pertunjukan. Seorang anggota staf yang tidak tahu kelinci mana
yang jahat dan kelinci mana yang baik akan menawarkan kedua kelinci pada saat yang sama
kepada bayinya. Ibu bayi, yang biasanya hadir selama penelitian menutup matanya sehingga dia
tidak akan mempengaruhi keputusan bayi dengan cara apapun. Kelinci mana yang dipilih bayi?
Lebih dari 80% bayi dalam penelitian menunjukkan preferensi mereka untuk kelinci yang baik,
baik dengan meraih atau menatapnya. Dan pada usia hanya tiga bulan, angka itu lebih tinggi,
menjadi 87%.
Paul Bloom dan seorang profesor psikologi di Yale, mengatakan, "Studi-studi ini
menunjukkan bahwa bahkan sebelum bayi dapat berbicara atau berjalan, mereka menilai baik
dan buruk dalam tindakan orang lain karena mereka dilahirkan dengan rasa keadilan yang belum
sempurna." Kita harus memperkuat apa yang sudah diketahui anak-anak mengenai benar dan
salah. Ajarkan mengenai kode moral, ajarkan mereka untuk tidak meragukan diri mereka sendiri.
Bantu mereka melihat bahwa mereka benar-benar dapat mempercayai intuisi mereka.
Perkembangan moral dan sosial pada bayi terjadi secara bersamaan. Menurut teori Jean Piaget,
kepercayaan yang dibangun melalui hubungan pengasuhan menetapkan dasar bagi interaksi
sosial di masa depan dan respons moral. Rebecca Parlakain dan Claire Lerner dari situs web Zero
to Three mendorong para orang tua untuk belajar dan menanggapi sinyal bayi mereka untuk
menyediakan lingkungan yang mendukung bagi perkembangan sosial dan moral yang akan
terjadi.
5|Page
Bayi baru lahir
Bayi di bulan pertama mereka mulai berinteraksi dengan lingkungan mereka dan orang-
orang di dalamnya. Mereka menikmati diadakan dengan cara yang memungkinkan mereka untuk
melihat wajah pengasuh mereka. Menangis adalah bentuk komunikasi utama untuk bayi dan
satu-satunya cara mereka mencari perhatian dan interaksi. Sering menyentuh dan menahan
bermanfaat untuk bayi. Namun demikian, Eileen Allen dan Lynn Marotz, penulis “By the Ages,”
memperingatkan bahwa terlalu banyak gerakan atau stimulasi taktil dapat terlalu merangsang.
1 hingga 4 bulan
Bayi dalam rentang usia ini meningkatkan aktivitas dan interaksi sosial mereka. Ketika
mereka menjadi lebih sadar akan tubuh mereka, mereka menendang kegirangan, memutar kepala
mereka dan menangkap benda-benda. Bayi tersenyum dan menjerit ketika mereka mengenali
wajah yang ramah. Mereka juga mulai menikmati interaksi sosial tatap muka yang konsisten
yang terlibat dalam rutinitas sehari-hari mereka, seperti mengganti popok, mandi, dan memberi
makan. Pengasuh menanggapi vokalisasi bayi, memperkuat mereka dengan mengulangi suara ke
bayi. Allen dan Marotz mencatat bahwa interaksi timbal balik ini adalah kunci dalam
perkembangan sosial bayi.
4 hingga 8 Bulan
Peningkatan keterikatan dengan pengasuh dan membedakan orang asing adalah
perkembangan yang signifikan selama tahap ini. Allen dan Marotz mencatat bahwa perawatan
yang konsisten dan memenuhi kebutuhan bayi mendukung pertumbuhan hubungan saling
percaya. Bayi yang menunjukkan kecemasan orang asing selama bulan-bulan terakhir dari
rentang usia ini menunjukkan keterikatan yang kuat. Kesadaran diri mereka sebagai terpisah dari
orang lain jelas pada tahap ini, seperti kesediaan untuk menjadi lebih terbuka dan menarik. Bayi-
bayi ini sangat ingin tahu tentang lingkungan mereka dan pengamat yang bersemangat tentang
apa yang terjadi di sekitar mereka.
8 hingga 12 bulan
Kekuatan fisik bayi yang berkembang mendekati akhir tahun pertama mereka
meningkatkan kemampuan mereka untuk menemukan dunia mereka dan bagaimana hal-hal
bekerja. Parlakain dan Lerner mendorong orang tua untuk mendukung bayi mereka dalam
bereksperimen dengan sebab dan akibat dengan meminta mereka membunyikan bel pintu atau
menyalakan lampu untuk melihat apa yang terjadi. Pada tahap ini, bayi ingin terlibat dalam
kegiatan keluarga dan lebih memilih pengasuh mereka untuk terlihat setiap saat. Jumlah bahasa
yang mereka pahami memungkinkan mereka mengikuti arahan sederhana dan memahami ketika
mereka diberitahu tidak.
6|Page
IV. PERKEMBANGAN KOGNISI
Perkembangan kognitif pada usia ini dapat kita ketahui melalui aktivitas
sensorimotornya. Pada periode ini satu-satunya cara anak memperoleh pengetahuan ialah melalui
aktivitasnya tersebut. Ia hanya dapat mengetahui dunia melalui aktivitas yang dilakukan
terhadapnya. Aktivitas kognitif selama periode ini didasarkan pada pengalaman langsung melalui
inderanya; aktiftasnya itu merupakan interaksi antara indera-indera yang dimiliki bayi dengan
lingkungan sekitarnya. Mereka melihat, mendengar, mencium (mengidu), mengecap, meraba
suatu objek dan mengetahui objek tersebut. Hal ini disebabkan karena kemampuan belajar bayi
diarahkan pada keterampilan koordinasi sensory motor.
Konsep sensorimotor ini adalah konsep yang diajukan oleh Piaget (1954) tentang tahapan
perkembangan kognitif pada periode bayi. Menurut Piaget, rentang usia tahap sensorimotor ini
adalah usia 0-2 tahun. Perubahan yang terjadi pada tahap ini meliputi perkembangan -yang
dalam konsep Piaget adalah- skema. Skema terbentuk dari urutan aktivitas sensory motor
(Lerner & Hultsch 1983). Skema juga dpaat dikatakan sebagai kumpulan dalam bentuk pola-pola
dasar tingkah laku yang dimiliki individu (Patricia H. Miller, 1983).
Terdapat enam sub-tahap dari tahap sensori motori dalam perkembangan kognitif bayi, yaitu:
1. Modification of Reflexes (0-1 bulan)
Kemampuan kognitif anak terbatas pada aktivitas dan reflex primer, seperti menangis, graps
(menggenggam), sucking (menghisap putting susu ibu, reflex moro, Babinski, eye blink, dll).
7|Page
Dngan kata lain bayi secara tidak sengaja melakukan sesuatu yang mengarahkannya pada efek
yang menarik di lingkungan, misalnya anak memegang sebuah boneka kucing (yang jika
dibenturkan ke benda lain ia akan mengeong), namun dengan tanpa disengaja boneka kucing
tersebut terjatuh lalu mengeluarkan suara”mengeong”. Si bayi senang mendengar suara boneka
kucing yang mengeong tersebut, lalu ia akan meminta kembali boneka itu dan mengulangi
menjatuhkannya lagi.
Bayi pada subtahap ini, dapat melihat benda, menjangkaunya serta melakukan sesutau pada
objek. Tingkah laku bayi makin berorientasi kepada objek dan kejadian di luar tubuhnya sendiri.
Pada periode ini, seorang bayijuga menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik
baginya. Dengan cara ini struktur kognitif bayi menjadi makin terintegrasi dan terorganisir.
Mulai tampil dan dapat memperolrh konsep “objek permanent” (benda tetap ada meskipun
tidak terlihat atau terpegang). Bayi belajar untuk mengkoordinasikan dua bagian skema untuk
memperoleh tujuan. Contohnya : Seorang ibu yang bermain “cilub-ba” dengan bayinya. Mulanya
si ibu menampakkan wajahnya dihadapan anak, kemudian ia menutup mukanya dengan kedua
belah telapak tangannya, sambil mengeluarkan suara “cilub-cilub-cilub”, pada saat ini anak
mulai kehilangan muka ibunya, ia mencoba untuk mencarinya sambil tengak-tengok ke arah
depan, samping dan belakang dan juga dengan mendorong-dorong tangan sang ibu, namun muka
ibu tetap tak terlihat, kemudian ia menarik jemari ibunya dengan tangan mungilnya dan akhirnya
si ibu membuka jari-jarinya sambil berucap ba ba ba ba – ma ma ma ma... Akhirnya anak dapat
melihat kembali muka ibunya.
Jadi, pada periode ini bayi mulai dapat membedakan antara sarana dan hasil tindakannya. Ia
juga sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana yang
digunakan untuk mencapai tujuan/ hasil diperoleh dari koordinasi skema-skema yang telah ia
ketahui.
8|Page
Bereksperimen merupakan suatu upaya untuk melihat bagaimana beragam tingkah laku
mempengaruhi hasil. Melakukan eksplorasi trial and error (coba-coba) secara sederhana.
Bila dihadapkan pada suatu persoalan yang tidak dapat dipecahkan dengan skema yang ada,
anak akan mulai mencoba-coba untuk menemukan cara yang baru guna memecahkan
permasalahan yang dihadapinya. Dengan kata lain, anak mulai mencoba mengembangkan
skema-skema baru.
Pada periode ini, anak lebih mengamati benda-benda di sekitarnya dan mengamati
bagaimana benda-benda bergerak dalam situasi yang baru. Pada periode inilah anak pertama kali
dapat mengadaptasi situasi yang tidak dikenalnya. Konsep anak terhadap pengenalan benda
mulai maju dan lebih lengkap.
Pada periode ini anak berpindah dari periode intelegensi sensory motor ke intelegensi
representasi. Secara mental anak mulai dapat menggambarkan suatu ebnda dan kejadian. Anak
sudah mampu mengembangkan sarana-sarana baru untuk memecahkan persoalan tanpa terus
tergantung pada trial and error.
Pada periode ini, anak mulai dapat meniru suatu model yang sudah tidak ada. Disini anak
sudah mulai mempunyai gambaran dalam pikirannya memgenai suatu model meskipun model
tersebut tidak ada di hadapannya. Anak juga sudah dapat menyajikan dan mempresentasikan
model yang tidak ada dalam suatu simbol.
9|Page
(4-8 bulan) efek yang menarik dari lingkungan
sekitarnya.
4 Coordination of Secondary Schemes Koordinasi skema dan kesengajaan
(8-12 bulan) V.
5 Tertiary Circular Reaction Trial and Error VI.
(12-18 bulan) Rasa ingin tahunya besar VII.
6 Invention of new Means through Mulai representasi simbol VIII.
Mental Combination Koordinasi internal
(18-24 bulan) Meniru model baru
V. PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN
Menurut tinjauan, pendapat pertama bayi dianggap sebagai manusia dipandang dari segi
bentuk dan bukan kejiwaan. Apabila bakat elementer bayi lambat bertumbuh dan matang, maka
agak sukarlah untuk melihat adanya keagamaan pada dirinya. Meskipun demikian, ada yang
berpendapat bahwa tanda-tanda keagamaan pada dirinya tumbuh terjalin secara integral dengan
perkembangan fungsi-fungsi kejiwaan lainnya. Jika demikian, maka apakah faktor yang dominan
dalam perkembangan ini? Dalam membahas masalah tersebut, marilah kita kemukakan beberapa
teori mengenai pertumbuhan agama pada anak antara lain:
1. Rasa ketergantungan (Sense of Depend)
Teori ini dikemukakan oleh Thomas melalui teori Four Wishes. Menurutnya, manusia
dilahirkan ke dunia ini memiliki empat keinginan yaitu: keinginan untuk perlindungan(security),
keinginan akan pengalaman baru (new experience), keinginan untuk mendapat tanggapan
(response), dan keinginan untuk dikenal (recognition). Berdasarkan kenyataan dan kerja sama
dari keempat keinginan itu, maka sejak bayi dilahirkan hidup dalam ketergantungan, melalui
pengalaman-pengalaman yang diterimanya dari lingkungan itu kemudian terbentuklah rasa
keagamaan pada diri anak.
2. Insting keagamaan
Menurut Woodworth, bayi yang dilahirkan sudah memiliki beberapa insting diantaranya
insting keagamaan. Belum terlihatnya tindak keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi
kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya insting itu belum sempurna. Misalnya,
insting sosial pada anak sebagai potensi bawaannya sebagai makhluk homo socius, baru akan
berfungsi setelah anak dapat bergaul dan berkemampuan untuk berkomunikasi. Jadi, insting
sosial itu tergantung dari kematangan fungsi lainnya. Demikian pula insting keagamaan.
10 | P a g e
PERSPEKTIF ISLAM
Ibnul Qayyim seperti yang dikutip oleh Mahmud Mahdi Al Istanbuly, dalam kitabnya
Tuhfatul Maudud Bi Ahkamul Maulud, berkata: “Bila anak sudah mendekati waktu untuk dapat
berbicara, dan dimaksudkan untuk dapat lancar berbicara, hendaklah mulutnya dibersihkan
dengan madu dan garam, karena keduanya itu mengandung obat yang dapat menghilangkan
kesukaran berbicara. Maka, bila anak itu sudah dapat berbicara, hendaklah diajari kalimat “Laa
ilaaha illalah. Muhammad Rasulullah, dan hendaklah yang masuk pada pendengaran si anak
pertama kali adalah kata “Allah”, dan meng-Esa-kan pembicaranya.
Rasulullah saw bersabda, “Mulailah mendidik anak-anak kalian dengan kalimat yang
pertama: Laa ilaaha illallah, tidak ada Tuhan selain Allah, bimbinglah mereka ketika mereka
berada dalam sekarat dengan Laa ilaaha illallah,” (HR Al-Baihaqi). Dalam hadis lain, beliau
bersabda, “Barangsiapa mengasuh anak kecil sampai ia bisa mengucapkan, Laa ilaaha illallah,
maka Allah tidak akan menghisabnya.” (Al-Haitsami)
Penanaman tauhid sejak bayi mulai belajar berbicara sangat penting untuk pembinaan
akhlaknya kelak jika ia menjadi dewasa nanti. Jika akhlak anak sudah baik, mudah baginya
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
Pada fase ini, bayi diusahakan tetap disusui oleh ibunya sebagai bentuk kasih sayang
yang diperlukan olehnya. Selain itu, air susu ibu adalah makanan yang paling utama baginya di
samping menjaganya dari bermacam penyakit, dan dengan air susu ibu bayi akan berkembang
dengan sehat dan kuat. Kasih sayang ibu melalui penyusuan memiliki pengaruh yang besar
dalam pembentukan pribadi anak, dimana ia merasa aman dan tenteram tidak gelisah dan
goncang jiwanya. Mengenai pentingnya menyusui, telah disebutkan oleh Allah swt. di dalam al-
quran pada beberapa tempat, diantaranya, Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga
bulan, (QS. Al-Ahqaaf:15). Dan firman-Nya, “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya
selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS Al-
Baqarah:233)
11 | P a g e
Jika ibu tidak mampu menyusukan anaknya selama dua tahun, diperbolehkan meminta
bantuan kepada ibu lain yang mampu untuk menyusukannya, biasanya jasa atas penyusuan itu
diganti dengan sejumlah bayaran. Hal ini membuktikan bahwa begitu pentingnya
penyempurnaan dalam penyusuan bayi selama dua tahun. Dikhawatirkan, jika susu bayi diganti
dengan susu kaleng atau botol (instan), tujuan utama penyusuan-kedekatan ibu terhadap anak
tidak tercapai, dan juga jika terlalu sering menggunakan susu kaleng atau botol sebelum bayi
genap berusia dua tahun. Ketika Rasulullah saw masih bayi, beliau pun digenapkan dua tahun
dalam penyusuannya kepada Halimah Sa’diyah, seorang Arab kampung, yang memang tugasnya
ialah membantu para ibu yang tidak mempunyai kemampuan untuk menyempurnakan penyusuan
anaknya selama dua tahun.
Kasih sayang sangat ditekankan dalam pembinaan anak. Bentuk curahan kasih sayang
orang tua kepada anak-anaknya banyak sekali dan beragam. Di antaranya adalah pelukan,
ciuman, mengelus kepala dan wajah, menyambut dan mengajak anak-anak berbicara,
mendahulukan anak, memperlakukan anak-anak secara adil dan sama, dan bermain bersama
dengan mereka.
Abu Hurairah berkata: Nabi saw mencium Hasan bin Ali ra, dan di samping beliau ada
Al-Aqra bin Habis Al-Tamimi. Al-Aqra berkata: “Sesungguhnya saya mempunyai sepuluh orang
anak, dan saya belum pernah mencium sama sekali salah seorang di antara mereka.” Lalu,
Rasulullah saw melihatnya kemudian bersabda: “Barangsiapa yang tidak mengasihi, maka tidak
akan dikasihi.” (HR Al-Bukhari, Muslim). Dalam hadis lain, ada orang Arab kampung datang
kepada Nabi saw lalu dia melihat beliau menciumi Hasan dan Husain. Dia berkata: “Apakah
engkau mencium anak kecil? Kami tidak pernah menciumnya.” Lalu Nabi saw bersabda:
“Ataukah aku akan menguasakan, bahwa Allah bakal mencopot rahmat-Nya dari kamu?” (HR
Al-Bukhari, Muslim).
Mengelus kepala dan wajah anak dengan penuh kelembutan merupakan kebanggan dan
kebahagiaan bagi anak. Oleh karena itu, Rasulullah saw sering melakukan hal itu dalam banyak
kesempatan. Anas meriwayatkan, “Rasulullah saw biasa mengunjungi orang-orang Anshar.
Beliau mengucapkan salam kepada anak-anak mereka dan mengelus kepala mereka.” (HR
Nasa’i)
12 | P a g e
sehingga menimbulkan kedengkian dan kecemburuan yang mengakibatkan pada kecenderungan
untuk melakukan hal-hal yang negatif.
Al-Quran mewajibkan manusia atau orangtua untuk berlaku adil kepada para anak, agar
dalam diri anak tertanam sifat adil dan memahami kebutuhan yang sama dimiliki orang selain
dia, Sesungguhnya ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada kisah Yusuf dan saudara-
saudaranya bagi orang-orang yang bertanya, yaitu ketika mereka berkata “Sesungguhnya Yusuf
dan saudara kandungnya (Benyamin) lebih dicintai oleh ayah kita sendiri. Padahal kita ini adalah
satu golongan yang kuat. Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah
Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayah kalian
tertumpah kepada kalian saja, dan sesudah itu hendaklah kalian menjadi orang-orang yang baik.”
(QS Yusuf:7-9).
Hadis lain Anas meriwayatkan, bahwasannya ada seorang lelaki di dekat Nabi saw.
putranya datang, lalu dia menciumnya dan mendudukkanya di pangkuannya. Dan putrinya juga
datang, lalu dia mendudukkannya di depannya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Alangkah
baiknya kamu berbuat sama di antara keduanya?” (HR Al-Bazzar, sanadnya terpercaya)
Rasulullah saw pernah mengerjakan shalat. Tatkala beliau sujud, maka melompatlah
Hasan dan Husain di atas punggung beliau. Tatkala mereka (para sahabat) hendak mencegah
keduanya, beliau memberi isyarat supaya membiarkannya. Yang demikian itu terjadi di dalam
masjid. Selanjutnya, tatkala beliau selesai mengerjakan shalat, beliau meletakkan keduanya di
pangkuannya. Beliau bersabda: “Barangsiapa mencintaiku, maka hendaklah mencintai dua anak
ini,” (Hadis dikeluarkan oleh Abu Ya’la, isnadnya hasan).
Hadis lain meriwayatkan Abu Ayyub Al-Anshari bahwa ia berkata, “Suatu hari aku
masuk ke rumah Rasulullah saw., waktu itu, Hasan dan Husain sedang bermain di hadapan
beliau, atau di pangkuan beliau, atau dalam riwayat lain, di atas perut beliau. Lalu, aku bertanya
kepada beliau, “Ya Rasulullah saw., apakah engkau mencintai mereka berdua?” Beliau
13 | P a g e
menjawab, “Bagaimana mungkin aku tidak mencintai mereka berdua ini, padahal mereka berdua
adalh jantung hatiku di dunia yang biasa aku ciumi.” (HR Al-Haitsami)
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Aku di saat
mengerjakan shalat dan ingin memperlama shalat, (tiba-tiba) aku mendengar tangis anak kecil,
maka aku segera mempercepat shalatku, karena aku mengetahui tentang apa yang menjadi
kesedihan ibunya akibat dari tangis anaknya,” (HR Bukhari). Sedemikian tinggi perhatian
Rasulullah saw terhadap anak kecil, sampai shalat pun dipercepat demi menolong anak kecil
yang sedang menangis, juga membantu ibunya yang hatinya dalam kegelisahan.
Memberikan kasih sayang dan perhatian kepada anak adalah suatu kewajiban yang harus
dilakukan oleh setiap orang tua, supaya mental si anak dapat tumbuh sehat. Hal itu disebabkan
kasih sayang orang tua sangat mempengaruhi perkembangan jiwa anak. Namun, kecintaan
kepada anak hendaknya jangan sampai melewati batas hingga melupakan kecintaannya kepada
Allah. Anak adalah amanat, di samping itu ia juga merupakan cobaan bagi orang tuanya. Anas
meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara
kalian sehingga kecintaannya kepada Allah melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya
dan manusia seluruhnya.” (HR Bukhari)
Nabi Ibrahim adalah contoh paling baik. Beliau adalah figur seorang bapak yang sangat
memperhatikan dan mencintai anaknya. Tidak bisa dibayangkan besarnya kecintaan beliau
kepada anaknya yang bernama Ismail. Pasalnya, sudah berpuluh-puluh tahun beliau tidak
mempunyai anak, begitu istrinya mengandung dan melahirkan seorang anak lelaki, beliau sangat
bahagia dan amat mencintai anaknya.
Meskipun demikian, cintanya pada anak-anak tidak mengalahkan cintanya kepada Allah,
hal ini terbukti dengan beliau diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih anaknya, beliau ikuti
perintah tersebut dengan penuh ketaatan dan keikhlasan walaupun hati beliau terasa teriris karena
sangat pedih, tapi perintah Allah tetap beliau laksanakan. Atas kesabaran dan ketaatan beliau,
Allah lantas mengganti Ismail dengan seekor kambing untuk menjadi korban sembelihan.
Akibat dari kasih sayang yang berlebihan, berpengaruh pada kepribadian anak kelak.
Anak menjadi manja, tidak mandiri, serakah karena ia berpikir kasih sayang orang tuanya hanya
miliknya sendiri. Dalam bersosialisasi pun mengalami gangguan, seperti anak menjadi egois,
ingin menang sendiri, dan senang menyendiri karena selalu ingin ditemani oleh orang tuanya.
Masih banyak lagi efek buruk lain akibat dari si anak diberi kasih sayang yang berlebihan.
14 | P a g e
BAB III
PENUTUP
I. KESIMPULAN
Bayi berkembang dari kemampuan yang sederhana, sampai pada kemampuan yang
kompleks baik secara fisik, sampai pada kemampuan yang kompleks baik secara fisik maupun
psikologis. Misalnya, bayi awalnya melakukan aktivitas merangkak, duduk, berjalan masih
dibantu oleh orang tua, sampai adanya kematangan (maturasi) dan stimulasi yang baik dari
lingkungan, maka si bayi perlahan mulai mampu duduk sendiri atau berjalan maupun berlari
tanpa memerlukan bantuan, serta si bayi sudah dapat memanipulasi obyek menurut keinginannya
sendiri.
Periode bayi merupakan dasar dan vital dari suatu pertumbuhan dan perkembangan
individu, karena pada masa dasar tingkah laku dan segala tingkah laku dalam menghadapi diri
sendiri maupun lingkungan luar, serta pola reaksi emosional mulai terbentuk. Oleh karena itu,
peran pengasuh yang dalam hal ini adalah orang tua, perlu hendak memberikan perhatian dan
stimulasi yang sangat cukup bagi bayi guna terciptanya pertumbuhan dan perkembangan yang
baik. Aspek perkembangan bayi meliputi aspek fisik, moral, kognisi, dan keberagamaan.
II. SARAN
Pada fase infancy, alangkah baiknya pengasuh/orang tua memperhatikan setiap hal yang
ada disekitar/lingkungan bayi. Agar bayi mendapatkan stimulus yang positif, dan agar tidak
terjadi penyimpangan ataupun keterlambatan pada perkembangan dimasa mendatang. Karena
pada fase inilah dasar-dasar kemampuan individu mulai terbentuk.
15 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
Hartati, Netty. dkk. 2004. Islam dan Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo.
Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Prenada Media Group.
Jalaluddin. 2010. Psikologi Agama. Jakarta: Rajawali Press.
Nihayah, Zahrotun, dkk. 2006. Psikologi Perkembangan: Tinjauan Psikologi Barat dan
Psikologi Islam. Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Jakarta Press.
Santrock, J. W. 2012. Perkembangan Masa Hidup Edisi Ketigabelas. Jilid 1. Jakarta :
Penertbit Erlangga.
16 | P a g e