MAKALAH
DISKRIMINASI RASIAL DAN GENDER: KETIDAKSETARAAN YANG MASIH
ADA
Mata Kuliah
Sistem Sosial Indonesia
Dosen Pengampu:
Suanti Tunggala S. Sos., [Link]
Indy Mona Rudi Saputri
24042026
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LUWUK BANGGAI
TAHUN 2025
1
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN.....................................................................................................................3
1.1 Latar Belakang.........................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................4
1.3 Tujuan Penulisan.....................................................................................................4
PEMBAHASAN.......................................................................................................................5
2.1 Memahami Akaar Diskriminasi Rasial dan Gender............................................5
2.2 Ragam Bentuk Diskriminasi Rasial dan Gender di Masyarakat........................6
2.3 Dampak Diskriminasi Rasial dan Gender terhadap Individu dan Masyarakat6
2.4 Upaya Mengatasi Diskriminasi Rasial dan Gender..............................................8
PENUTUP...............................................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................11
2
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masyarakat modern saat ini sering kali mengklaim bahwa prinsip kesetaraan dan hak asasi
manusia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun pada kenyataannya,
diskriminasi rasial dan gender masih menjadi permasalahan serius yang terus hidup dan
berkembang dalam berbagai bentuk. Diskriminasi rasial muncul ketika seseorang
diperlakukan secara tidak adil hanya karena warna kulit, asal suku, atau etnisnya. Hal ini
sering kali berakal dari stereotip, prasangka, dan konstruksi sosial yang sudah lama tertanam.
Di Indonesia, diskriminasi terhadap kelompok tertentu seperti masyarakat Papua atau
kelompok etnis minoritas masih sering terjadi, baik secara terang-terangan maupun
terselubung. Menurut laporan Komnas HAM tahun 2023, aduan terkait diskriminasi etnis
dan ras masih tergolong tinggi, membuktikan bahwa masalah ini belum terselesaikan. (HAM,
2023)
Sementara itu, diskriminasi gender tampak dalam bentuk ketimpangan peran antara laki-
laki dan perempuan, serta kelompok gender non-biner. Perempuan masih menghadapi
hambatan dalam akses pendidikan, kesempatan kerja, hingga jabatan kepemimpinan. Data
dari BPS menunjukkan bahwa rata-rata upah perempuan masih lebih rendah 20-25%
dibanding laki-laki, meskipun memiliki kualifikasi kerja yang sama. Di sisi lain, kelompok
LGBTQ+ juga menghadapi diskriminasi dalam bentuk penolakan dari sosial dan hukum.
(Statistik, 2022)
Kejadian ini tidak hanya menyangkut persoalan hukum atau kebijakan negara, tetapi juga
melibatkan cara pandang masyarakat yang diwariskan secara turun-menurun. Sayangnya,
media sosial masih sering memperkuat stereotip ini melalui konten bernuansa rasis dan
seksis.
Diskriminasi rasial dan gender harus dipahami sebagai masalah stuktural yang hanya bisa
diselesaikan melalui pendidikan, kebijakakan yang adil, serta kesadaran yang kolektif.
Generasi muda adalah harapan perubahan yang perlu dibekali pemahaman kritis agar tidak
ikut melanggengkan ketidaksetaraan ini.
3
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengertian, bentuk, dampak, dan upaya penanggulangan diskriminasi rasial dan
gender?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memahami dan menjelaskan secara
komprehensif mengenai diskriminasi rasial dan gender yang masih terjadi di masyarakat.
4
PEMBAHASAN
2.1 Memahami Akaar Diskriminasi Rasial dan Gender
Menurut (Hidayat, 2021) Diskriminasi rasial dan gender adalah dua bentuk ketidakadilan
sosial yang telah berlangsung lama dalam berbagai budaya dan sistem masyarakat. Keduanya
lahir dari cara pandang yang menyimpang terhadap keberagaman manusia, di mana
perbedaan dianggap sebagai alasan untuk memperlakukan orang lain secara tidak setara.
Diskriminasi rasial mengacu pada perlakuan tidak adil terhadap seseorang atau kelompok
berdasarkan ras, warna kulit, atau asal etnisnya. Hal ini dapat muncul dalam berbagai bentuk,
mulai dari stereotip, prasangka, ujaran kebencian, pemisahan sosial, hingga kekerasan. Di
Indonesia, diskriminasi rasial masih dirasakan oleh sejumlah kelompok, seperti masyarakat
Papua, komunitas keturunan Tionghoa, dan suku minoritas lainnya. Mereka sering kali
dihadapkan pada stigma, pelecehan verbal, hingga pembatasan akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan. Komnas (HAM, 2023) mencatat bahwa laporan mengenai diskriminasi berbasis
ras dan etnis masih mendominasi pwngaduan di bidang pelanggaran hak sipil.
Sementara itu, diskriminasi gender merujuk pada ketidaksetaraan perlakuan berdasarkan
jenis kelamin atau identitas gender. Bentuknya bisa sangat bervariasi, dari yang paling halus
seperti upah kerja yang tumpang, kekerasan berbasis gender, atau pembatasan akses terhadap
pendidikan dan kepemimpinan. Meski ke dunia kerja dan pendidikan tinggi, statistik dari
Badan (Statistik, 2022) menunjukkan bahwa kesenjangan upah antara laki-laki dan
perempuan masih mencapai lebih dari 20% untuk pekerjaan yang setara.
Kedua memiliki akar yang kompleks. Faktor budaya, agama, struktur sosial patriarkal,
serta kurangnya pendidikan kesetaraan turut membentuk dam memperkuat praktik
diskriminatif ini. Tak jarang pula, diskriminasi tersebut terjadi secara tidak disadari atau
bahkan sudah dianggap sebagai hal yang “wajar” dalam masyarakat. Yang lebih
mengkhawatirkan, diskriminasi ini tidak hanya terjadi dalam interaksi tatap muka, tetapi juga
dalam ruang digital di media sosial, misalnya ujaran kebencian rasial maupun seksis kerap
kali tersebar luas tanpa pengawasan yang ketat. Hal ini mencerminkan bahwa diskriminasi
bukan hanya masalah hukum, tetapi juga masalah kesadaran dan mentalitas sosial.
Memahami pengertian diskriminasi rasial dan gender adalah langkah awal yang penting
untuk membangun sikap kritis terhadap ketidakadilan yang terjadi disekitar kita. Dengan
5
pemahaman tersebut, kita bisa mulai mengenali bentuk-bentuk diskriminasi yang kerap
tersembunyi dibalik kebiasaan sosial, taridisi, bahkan dalam institusi formal seperti
pendidikan dan hukum.
2.2 Ragam Bentuk Diskriminasi Rasial dan Gender di Masyarakat
Diskriminasi tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang mencolok. Banyak sekali
bentuk diskriminasi rasial dan gender yang terjadi secara halus, terstruktur, dan bahkan tidak
disadari oleh pelakunya. Pemahaman terhadap bentuk-bentuk diskriminasi ini penting agar
masyarakat lebih peka dan tidak terus-menerus mernomalisasikan perlakuan yang tidak adil.
A. Bentuk Diskriminasi Rasial
1. Strereotip dan Stigmatisasi
Kelompok ras tertentu sering mendapat label negatif yang diwariskan secara turun-
temurun, seperti anggapan bahwa masyarakat Papua “kasar”, atau bahwa kelompok
etnis tertentu “kikir” atau “ekslusif”. Stereotip ini berdampak pada cara masyarakat
memperlakukan mereka, baik secara sosial maupun prefosional.
2. Ekslusi Sosial
Masyarakat minoritas rasial seringkali dilibatkan dalam pengambilan keputusan atau
tidak dilibatkan dalam lembaga pemerintahan maupun organisasi. Hal ini terjadi
karena adanya asumsi bahwa mereka “tidak memiliki mayoritas”, atau tidak cukup
kompeten.
3. Kekerasan dan Intimidasi
dalam beberapa kasus, diskriminasi rasial bahkan mengarah pada kekerasan fisik dan
verbal. Contohnya, peristiwa rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada
2019, yang memicu gelombang protes nasional. (HAM, 2023)
4. Pemihasan Akses Layanan
Diskriminasi rasial juga bisa muncul dalam bentuk kesenjangan pelayanan publik,
seperti dalam akses pendidikan, kesehatan dan pekerjaan. Kelompok ras minoritas
sering kali tidak mendapatkan pelayanan yang sama dengan warga minoritas, terutama
di daerah terpencil.
Bentuk-bentuk diskriminasi ini tidak bisa dianggap remeh karena dampaknya bersifat
sistemik dan jangka panjang. Diskriminasi rasial dan gender bisa menghambat pembangunan
manusia secara merata dan menggerus nilai-nilai keadilan dalam masyarakat.
6
2.3 Dampak Diskriminasi Rasial dan Gender terhadap Individu dan Masyarakat
Diskriminasi rasial dan gender merupakan bentuk ketidakadilan sosial yang berdampak
luas dan sistemik. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh individu yang menjadi
korban, tetapi juga menyebar ke berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan politik dalam
masyarakat. Tanpa penanganan serius, diskriminasi bisa menciptakan siklus ketimpangan
yang terus berulang dan memperlemah tatanan sosial bangsa.
A. Dampak Psikologis terhadap Individu
Diskriminasi memberikan luka mental yang cukup mendalam bagi individu yang
mengalaminya. Mereka sering mengalami rasa malu, terisolasi, dan rasa rendah diri
akibat perlakuan yang tidak adil berdasarkan ras atau gender. Perempuan yang ridak
diberi kesempatan yang sama dalam karier, misalnya dapat merasa tidak dihargai meski
memiliki kompetensi yang sama atau bahkan lebih tinggi dari rekan laki-laki.
Menurut laporan (WHO, 2021), individu yang mengalami diskriminasi rasial atau gender
memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, gangguan kecemasan, dan bahkan
pemikiran untuk mengakhiri hidup, terutama jika diskriminasi tersebut terjadi dalam
jangka panjang. Hal ini menganggu perkembangan diri, produktivitas, dan relasi sosial
korban.
Selain itu, diskriminasi juga dapat menciptakan trauma kolektif, di mana kelompok
tertentu merasa terus-menerus dikucilkan dan dibatasi hak-haknya. Kondisi ini
memperlemah solidaritas sosial dan memperbesar jurang ketidakpercayaan
antarkelompok dalam masyarakat.
B. Dampak Sosial dan Budaya
Diskriminasi telah merusak tatanan sosial yang seharusnya dibangun di atas dasar
kesetaraan. Ia memperkuat stereotip negatif, seperti anggapan bahwa ras atau gender
tertentu lebih rendah, tidak cakap, atau layak ditempatkan dalam posisi subordinat.
Pandangan ini kemudain diwariskan dari satu generasi ke generasi lain, memperkuat
budaya patriarki atau rasisme yang mengakar.
Secara sosial, diskriminasi juga menyebabkan pengucilan terhadap kelompok tertentu,
sehingga mereka tidak memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan,
kepemimpinan dan partisipasi publik. (Women, 2022)
7
Kondisi ini memperlemah kohesi sosial dan berpotensi memicu konflik yang merusak
keutuhan bangsa. Ketika sekelompok masyarakat merasa tidak diakui dan tidak
dilindungi oleh sistem, maka akan muncul perasaan tidak memiliki terhadap negara dan
institusi sosial. (Indonesia, 2025; SKALA – Australia-Indonesia Partnership, 2023)
C. Dampak terhadap Demokrasi dan Hak Asasi Manusia
Diskriminasi yang terjadi secara sistemik mencedarai prinsip dasar demokrasi, yaitu
keadilan dan kesetaraan hak bagi semua warga negara. Jika institusi hukum dan kebijakan
publik tidak mampu menegakkan keadilan bagi semua golingan, maka kepercayaan
terhadap negara akan runtuh. Lebih datri itu, diskriminasi yang tidak dilanjuti secara tegas
akan menciptakan kesenjangan akses terhadap keadilan, pendidikan dan pelayanan publik
2.4 Upaya Mengatasi Diskriminasi Rasial dan Gender
Upaya untuk menghapus diskriminasi rasial dan gender telah menjadi agenda penting di
tingkat global maupun nasional. Diskriminasi yang berakar pada sejarah kolonialisme,
budaya patriarki, serta struktur sosial yang tidak adil, membutuhkan pendekatan menyeluruh
dan jangka panjang. Di Indonesia, upaya ini diwujudkan melalu kebijakan publik, kampanye
kesadaran, reformasi hukum, pendidikan inklusif, dan dukungn terhadap kelompok rentan.
A. Reformasi Kebijakan dan Hukum
Pemerintah Indonesia bersama mitra internasional seperti UNDP dan pogran SKALA
(Australia-Indonesia Partnership) telah mempeerkenalkan pendekatan Gender Equality,
Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dalam perencanaan kebijakan daerah. Strategi
ini menekankan pentingnya partisipasi perempuan, penyandng disabilitas, dan kelompok
minoritas dalam proses pengambilan keputusan.
Program GEDSI terbukti mampu meningkatkan kualitas layanan publik dengan
memperhitungkan kebutuhan kelompok rentan. Selain itu, beberapa perda (peraturan
daerah) mulai mengatur tentang perlindungan terhadap diskriminasi gender dan rasial,
meskiun masih memerelukan penguatan dalam implementasinya (UNDP, 2021)
B. Pendidikan dan Literasi Anti-diskriminasi
Pendidikan alat paling efektif untuk mengubah pola pikir masyarakat. Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan bersama NGO telah mengembangkan kurikulum toleransi
dan pendidikan multikultural di beberapa wilayah seperti Papua, NTT dan Sumatera
Utara. Di ranah digital, kampanye literasi digital juga dilakukan untuk melawan untuk
8
melawan ujaran kebencian berbasis ras dan gender. Penelitian oleh (Thomas J., 2024)
menunjukkan bahwa pelatihan literasi digital mampu menurunkan kepercayaan terhadap
berita bohong dan narasi diskriminatif di media sosial.
Organisasi seperti SAFEnet dan LBH APIK turut mengembangkan platform edukasi
digital yang menyuarakan kesetaraan dan mendorong narasi tandingan terhadap ujaran
kebencian. (Chung, Y.-L.; Tekiroglu, S. S.; Tonelli, S.; Guerini, 2021)
C. Penguatan Peran Masyarakat Sipil
Organisasi masyarakat memiliki peran strategis dalam mendapingi korban diskriminasi
serta melakukan advokasi hukum. Misalnya, komunitas jaringan Gusdurian aktif
mengadakan forum lintas agama dan etnis untuk memperkuat solidaitas sosial dan
membongkar stereotip rasial
Kelompok perempuan adat seperti di tanah Papua dan Kalimantan juga mulai
diberdayakan untuk mempertahankan identitas dan hak kolektif mereka. Model ini
menekankan pentingnya inklusi berbasis budaya lokal sebagai alat perlawanan terhadap
diskirminasi struktual.
9
PENUTUP
Diskriminasi rasial dan gender merupakan bentuk ketidakadilan sosial yang terus
hidup dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Meskipun masyarakat dunia telah
mengalami kemajuan dalam bidang hak asasi manusia, kenyataannya perlakuan tidak
setara masih dialami oleh kelompok-kelompok tertentu berdasarkan warna kulit, etnis,
asal daerah, serta jenis kelamin atau identitas gender. Diskriminasi ini tidak hanya
menciptakan luka sosial, tetapi juga memperparah ketimpangan ekonomi, politik, dan
budaya dalam masyarakat.
Melalui penelaahan terhadap definisi, dampak, bentuk, dan upaya penanggulangan
diskriminasi rasial dan gender, dapat disimpulkan bahwa persoalan ini bersifat sistemik
dan tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan hukum semata. Diperlukan
pendekatan multidimensional yang melibatkan reformasi kebijakan, peningkatan literasi
sosial dan digital, peran aktif masyarakat sipil, serta pemberdayaan kelompok rentan.
Selain itu, penting juga menanamkan nilai-nilai toleransi, keadilan, dan penghargaan
terhadap perbedaan sejak usia dini, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun
ruang publik lainnya.
Kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam menghapus diskriminasi rasial dan
gender. Ketika individu dan kelompok mulai menyadari bahwa setiap manusia memiliki
hak dan martabat yang sama tanpa memandang latar belakang, maka ruang-ruang sosial
akan menjadi lebih inklusif dan adil. Dengan demikian, perjuangan melawan diskriminasi
bukan hanya menjadi tanggung jawab negara atau aktivis sosial, tetapi menjadi tanggung
jawab bersama sebagai sesama manusia yang hidup berdampingan dalam keberagaman.
10
DAFTAR PUSTAKA
Chung, Y.-L.; Tekiroglu, S. S.; Tonelli, S.; Guerini, M. (2021). Empowering NGOs in
Countering Online Hate Messages. ArXiv Preprint.
HAM, K. (2023). Laporan Tahunan Pelanggaran HAM di Indonesia Tahun 2023.
Hidayat, R. (2021). Diskriminasi Sosial dan Ketimpangan Hak di Indonesia. Jurnal Sosiologi
Nusantara, 7(1), J. Sosiol. Nusant.
Indonesia, U. (2025). Gender Equality and Social Inclusion Strategy 2021–2025.
SKALA – Australia-Indonesia Partnership. (2023). Gender Equality, Disability and Social
Inclusion Strategy 2023–2026.
Statistik, B. P. (2022). Statistik Gender Indonesia 2022.
Thomas J., & G. G. (2024). In-group and Out-group Dynamics in Political Polarization.
Psychology of Social Identity, 36(2).
[Link]
UNDP. (2021). Inequality and Human Development Report.
WHO. (2021). Mental Health and Discrimination: Global Overview.
Women, U. (2022). Gender Equality and Economic Growth: The Global Nexus.
11