1
MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA
MELALUI PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
DI KELAS VI MIN 6 MAJALENGKA
KARYA TULIS ILMIAH (KTI)
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk Penilaian Kinerja Guru
Oleh :
HJ. DEDE ERNAFIT, [Link].I
NIP : 197805172007011017
KEMENTERIAN AGAMA
MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI 6 MAJALENGKA
Jl. Urata Winusakti Desa Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten
Majalengka
2
LEMBAR PENGESAHAN
1. JUDUL : Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe Script Pada Mata Pelajaran
IPS (PTK Pada Materi Masalah Sosial di Kelas V MIN 6 Majalengka
Kec. Talaga Kab. Majalengka).
2. IDENTITAS PENELITIAN :
Nama : HJ. DEDEH ERNAFIT, [Link].I
NIP : 197603122005012004
Golongan : Penata Tingkat I. III/d
Jabatan : Guru Muda
Unit Kerja : MIN 6 Majalengka
3. LOKASI PENELITIAN : MIN 6 Majalengka
4. BIAYA PENELITIAN : Mandiri
Mengetahui Gunungmanik, Maret 2023
Kepala MIN 6 Majalengka
Penulis
E. HAROBUDIN, [Link].I Hj. DEDEH ERNAFIT, [Link].I
NIP : 196706271998031001 Nip : 197603122005012004
3
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan
karya tulis yang
berjudul “Meningkatkan pemahaman siswa melalui penggunaan media
pembelajaran di kelas VI MIN 6 Majalengka”.
Adapun maksud dari penyusunan karya tulis ini adalah untuk memenuhi salah
satu tugas. Dalam menyusun karya tulis ini, penulis mendapat bantuan dan
bimbingan dari berbagai [Link] karena itu, melalui pengantar ini penulis
ucapkan banyak terima kasih atas segala bantuanyang telah diberikan. Semoga
semua kebaikan dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda.
Karena terbatasnya pengetahuan serta kemampuan yang dimiliki, penulis
menyadari bahwadalam penyusunan karya tulis ini masih jauh dari sempurna dn
masih terdapat kekurangan dan kesalahan baik dalam penyusunan kata, penulisan,
maupun isi serta pembahasannya. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan penyusunan karya tulis lain
di masa yang akan [Link] kata, penulis berharap semoga karya tulis ini
bermanfaat bagi penulis khususnya, dan umumnya bagi para pembaca.
Penulisi
4
A. Judul
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Model
Kooperatif Tipe Script Pada Mata Pelajaran IPS (PTK Pada Materi
Masalah Sosial di Kelas V MIN 6 Majalengka Kec. Talaga Kab.
Majalengka).
B. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu sektor pembangunan dalam
upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai UUD 1945 Pasal 31 Ayat
3, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan
nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia
yang diatur dalam Undang-undang. Dalam UU No. 20 pasal 1 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa :
pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
Masyarakat, Bangsa, dan Negara.
Sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan, kurikulum
merupakan acuan dalam menyelenggarakan pendidikan sekaligus sebagai
tolak ukur pencapaian tujuan pendidikan. Kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Pada dasarnya
kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
5
kepentingan siswa serta lingkungannya. Pendidikan dasar merupakan
jenjang pendidikan yang paling fundamental dalam pemberian
pengetahuan, sikap dan keterampilan. UU RI Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sisdiknas, pada pasal 37 ayat 1 menyatakan bahwa :
Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah wajib memuat: (a)
Pendidikan Agama, (b) Pendidikan Kewarganegaraan, (c) Bahasa,
(d) Matematika, (e) Ilmu Pengetahuan Alam, (f) Ilmu Pengetahuan
Sosial, (g) Seni dan Budaya, (h) Pendidikan Jasmani dan Olah
Raga, (i) Keterampilan, dan (j) Muatan Lokal.
Berdasarkan muatan mata pelajaran tersebut di atas, ilmu
pengetahuan sosial (IPS) memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap
perkembangan siswa dalam menghadapi tantangan zaman. Mata pelajaran
IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan
kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki
kehidupan bermasyarakat yang dinamis.
Iimu Pengetahuan Sosial bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,
inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan
sosial.
Tujuan yang terkandung dalam mata pelajaran IPS tersebut sudah
mengandung ide-ide yang dapat mengantisipasi perkembangan IPTEK
secara global. Namun kenyataan dilapangan tidak sejalan dengan tujuan
pada kurikulum, seperti temuan di lapangan tentang pembelajaran IPS di
sekolah dasar antara lain, guru belum melaksanakan pembelajaran yang
dapat menumbuhkan kemampuan berfikir, kerja dan bersikap ilmiah bagi
peserta didik dalam pembelajarannya guru memberikan siswa dengan
6
sejumlah konsep yang bersifat hafalan belaka. Dengan demikian, siswa
tidak memahami dasar kualitatif tentang fakta-fakta dalam materi serta
tingkat pemahaman semakin berkurang sehingga pada kenyataanya timbul
kebosanan, tujuan siswa agar menguasai konsep yang diajarkan justru
tidak tercapai. Kondisi seperti itu ditemukan juga pada pembelajaran IPS,
yaitu guru berusaha agar siswa mampu memahami materi sebanyak
mungkin sesuai yang diterangkan oleh guru. Dalam hal ini, yang terjadi
adalah pembelajaran berpusat pada guru dan bersifat satu arah, sehingga
siswa kurang mandiri dalam belajar bahkan siswa menjadi cenderung pasif
dan kurang aktif.
Untuk meningkatkan kualitas manusia tentunnya salah satunya
yaitu Guru harus memegang peranan yang sangat penting dalam
meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Guru memiliki peran yang
sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Guru yang
profesional diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Profesionalisme guru sebagai ujung tombak di dalam implementasi
kurikulum di kelas yang perlu mendapat perhatian (Depdiknas, 2005).
Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong,
membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai
tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu
yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa.
Tentunya salah satunya dalam proses belajar mengajar dalam kelas, agar
proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan optimal maka
7
diharapkan seorang guru dapat menggunakan berbagai macam variasi
model pembelajaran. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil
tidaknya proses belajar peserta didik, dan guru merupakan salah satu
paktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan perlu memberikan
perhatian besar kepada peningkatan prestasi belajar peserta didik di
sekolah. Dengan meningkatnya hasil belajar peserta didik di sekolah maka
akan berpengaruh juga terhadap peningkatan prestasi belajar peserta didik
di sekolah.
Disamping menguasai materi yang disampaikan dengan kata lain
guru harus menciptakan suatu kondisi belajar yang sebaik-baiknya bagi
peserta didik, inilah yang tergolong kategori peran guru sebagai pengajar.
Guru dituntut harus mampu merencanakan, memilih dan menggunakan
berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran
yang diinginkan. Pendidikan di sekolah sebagai salah satu upaya
pemerintah memperluas wawasan dan pengetahuan peserta didik. Berbagai
macam strategi dan jenis media pembelajaran yang di gunakan oleh guru
menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi peserta didik. Guru harus terampil
dalam menggunakan model pembelajaran yang akan diterapkan, tentunya
pemilihan model tersebut harus disesuaikan dengan materi yang akan kita
ambil, sehingga tujuan yang ingin di capai dapat terpenuhi.
Namun pada kenyataannya pada pembelajaran IPS seperti yang
dipaparkan diatas juga ditemui di MIN 6 Majalengka, berdasarkan hasil
observasi yang peneliti lakukan diperoleh informasi bahwa guru masih
8
kurang profesional dalam menggunakan model pembelajaran, di mana
guru masih kurang terampil dalam memadukan materi pembelajaran
dengan model pembelaran yang di gunakan, sehingga membuat
pembelajaran IPS menjadi membosankan. Selain itu pembelajaran hanya
terjadi satu arah (hanya guru yang berperan aktif saat proses pembelajaran)
dan bukan hanya itu saja pendidik hanya bisa menggunakan metode
konvensional yang merupakan metode tradisional seperti ceramah atau
penugasan di saat proses pembelajaran di mulai, sehingga proses
pembelajaran menjadi membosankan, tidak menyenangkan dan hal
tersebut mengakibatkan peserta didik cepat menggantuk dan tertidur dalam
ruangan, maka dengan adanya hal tersebut tentunya proses belajar yang
tadinya kita harapkan dapat berjalan dengan lancar dan optimal ternyata
tidak sesuai dengan kenyataan.
Banyaknya persepsi peserta didik tentang pembelajaran IPS yang
penuh dengan hapalan dan tidak terlalu penting karena tidak masuk pada
ujian sekolah. Dari hasil belajar peserta didik diperoleh data bahwa masih
ada peserta didik yang mendapatkan nilai rendah pada mata pelajaran IPS.
Masih ada 17 orang peserta didik yang mendapat nilai <70 untuk mata
pelajaran IPS, hanya 8 orang peserta didik yang mendapatkan nilai > 70,
sedangkan nilai KKM yang ditetapkan oleh kurikulum sekolah yaitu 70
untuk mata pelajaran IPS. Permasalahan yang dihadapi guru di sekolah
dasar (SD), termasuk di MIN 6 Majalengka adalah kurangnya minat atau
partisipasi aktif peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran.
9
Gejala tentang kurangnya minat peserta didik ini, lebih terasa pada saat
pertengahan sampai dengan berakhirnya pembelajaran. Pada rentang
waktu tersebut peserta didik terlihat jenuh, jarang bertanya ataupun
menjawab pertanyaan, bahkan tidak memperhatikan materi pembelajaran
yang dijelaskan oleh guru.
Dengan melihat pelaksanaan pembelajaran diatas pada mata
pelajaran IPS tersebut diperlukan adanya suatu upaya untuk meningkatkan
hasil belajar pada mata pelajaran IPS, agar siswa menjadi aktif dalam
mengembangkan keterampilan serta memahami konsep-konsep IPS
dengan mudah sehingga hasil belajar siswa dapat memenuhi kriteria
ketuntasan minimal yang telah ditetapkan sekolah.
Untuk meminimalisir permasalahan di MIN 6 Majalengka maka
perlu penerapan model pembelajaran Cooperative Learning . Menurut
Artz & Newman, 1990 (dalam Huda : 2014) didefinisikan sebagai :
small groups of learners working together as a team to solve a
problem, complete a task, or accomplish a command goal.
Model pembelajaran kooperatif mengharuskan siswa untuk
bekerja sama dan saling bergantung secara positif antar satu sama lain
dalam konteks struktur tugas,struktur tujuan, dan struktur reward. Gagasan
dibalik pembelajaran ini adalah bagaimana materi pembelajaran dirancang
sedemikian rupa hingga siswa dapat bekerja sama untuk mencapai sasaran
sasaran pembelajaran.
Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah solusi untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Salah satu solusi agar hasil belajar siswa pada
10
materi Kenampakan Alam dan Keragaman Sosial Budaya dapat meningkat
yakni memilih model pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan
seluas-luasnya kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan keinginan
dan kemampuan siswa. Salah satu model pembelajaran yang memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berkembang yakni model
Cooperative Learning tipe Script.
Model pembelajaran Kooperatif Learning tipe [Link]
menurut Lambiotte, dkk. (Huda, 2013: 213) menyatakan bahwa :
Cooperative Script adalah pembelajaran dimana siswa bekerja
secara berpasangan dan bergantian secara lisan dalam
mengikhtisarkan bagian-bagian materi yang dipelajari.
Berdasarkan uraian di atas, maka pada penelitian ini akan
digunakan model Cooperative Learning tipe script dengan pertimbangan
model ini adalah model pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan
siswa sehingga dimungkinkan bagi siswa dapat meningkatkan hasil belajar
dalam materi Kenampakan Alam dan Keragaman Sosial Budaya.
Dari ulasan latar belakang tersebut, maka peneliti merasa tertarik
untuk mengkaji melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “UPAYA
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI
PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE SCRIPT PADA MATA
PELAJARAN IPS (PTK PADA MATERI MASALAH SOSIAL DI
KELAS V MIN 6 MAJALENGKA KEC. TALAGA KAB.
MAJALENGKA) ” .
11
C. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat
diindentifikasi masalah-masalah dalam penelitian tindakan kelas di MIN 6
Majalengka Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka ini adalah :
1. Kurang terampilnya guru memadukan materi pembelajaran dengan
Model pembelajaran yang akan digunakan, sehingga membuat
pembelajaran IPS menjadi membosankan.
2. Pembelajaran hanya terjadi satu arah (hanya guru yang berperan aktif
saat proses pembelajaran) sehingga membuat proses pembelajaran
menjadi monoton.
3. Hasil belajar peserta didik mata pelajaran IPS masih rendah,
berdasarkan KKM yang ditetapkan oleh pihak sekolah yaitu 70 untuk
mata pelajaran IPS . 17 orang peserta didik yang mendapat nilai <70
untuk mata pelajaran IPS, sedangkan hanya 8 orang peserta didik yang
mendapatkan nilai > 70.
4. Peserta didik kurang aktif mengikuti pembelajaran IPS.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah
diuraikan dapat dirumuskan adanya permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan model cooperative learning tipe Script pada
materi Masalah Sosial di Kelas V MIN 6 Majalengka?
2. Bagaimana hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dalam materi
Masalah Sosial di Kelas V MIN 6 Majalengka?
12
3. Apakah pembelajaran IPS dalam materi Masalah Sosial dengan
penerapan model cooperative learning Script dapat meningkatkan
hasil belajar siswa kelas V MIN 6 Majalengka?
E. Tujuan penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas,
maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan model
cooperative learning tipe Script pada materi Masalah Sosial di
Kelas V MIN 6 Majalengka.
2. Untuk memperoleh gambaran mengenai hasil belajar peserta didik
pada mata pelajaran IPS dalam materi Masalah Sosial di Kelas V
MIN 6 Majalengka.
3. Untuk mengetahui apakah pembelajaran IPS dalam materi Masalah
Sosial dengan penerapan model cooperative learning tipe Script
dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V MIN 6
Majalengka.
F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini, penulis dapat menguraikannya
sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Bagi perkembangan keilmuan, peneliti ini memberikan sumbangan
teoretis tentang penggunaan model pembelajaran Cooperative Script
13
dalam upaya meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran IPS pada
peserta didik kelas V MIN 6 Majalengka.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa, menjadi lebih aktif dan termotivasi dalam kegiatan
pembelajaran, peserta didik berani dalam mengungkapkan
pendapat dan mengajukan pertanyaan, serta mudah memahami
materi pelajaran khususnya dalam mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS).
b. Bagi guru, penelitian ini akan menjadi masukan agar lebih terampil
dalam merancang model pembelajaran yang akan diterapkan saat
kegiatan belajar mengajar dimulai, sehingga peserta didik senang
dan tidak cepat bosan saat mengikuti proses pembelajaran,
terutama pada mata pelajaran IPS.
c. Bagi Sekolah, penelitian ini bermanfaat sebagai masukan bagi
Sekolah Dasar agar meningkatkan kinerja para guru dalam
meningkatakan hasil belajar peserta didik.
d. Bagi peneliti lain, Untuk menambah pengetahuan dan berbagai
sarana untuk menerapkan pengetahuan di bangku kuliah terhadap
masalah yang nyata serta dapat digunakan sebagai bahan untuk
mengembangkan pengetahuan serta bahan pebandingan bagi
pembaca yang akan melakukan pengembangan, khususnya tentang
pengembangan model pembelajaran dalam kegiatan belajar
mengajar.
14
G. Tinjauan pustaka
1) Hakikat Belajar
a. Pengertian Belajar
Menurut pengertian secara Psikologis, belajar merupakan
suatu proses perubahan Yaitu perubahan tingkah laku sebagai
hasil interaksi lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Perubahan perubahan tersebut akan nyata dalam
seluryuh aspek tingkah laku.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Belajar adalah
berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah
tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.
Beberapa pengertian belajar menurut teori :
1) Teori Gestalt
Teori ini dikemukakan oleh Koffka dan Kohler
(dalam Slameto, 2010:11) menurutnya belajar adalah
adanya penyesuaian utama yaitu memperoleh respon
yang tepat untu memecahkan problem yang dihadapi.
Belajar yang penting bukan mengurangi hal hal yang
harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh
insight. Adapun sifat sifat belajar dengan insight adalah;
a) insight tergantung pada kemmapuan dasar, b) insight
tergantung pada pengalaman masa lampau yang
relevan, c) insight hanya timbul apabila situasi belajar
15
diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang
perlu dapat diamati, d) insight adalah hal yang harus
dicari tidak dapat jatuh dari langit, e) belajar dengan
insight dapat diulangi, f) insight sekali didapat dapat
digunakan untuk menghadapi situasi situasi yang baru.
Prinsip belajar menurut Gestalt; a) belajar berdasarkan
keseluruhan, b) belajar adalah suatu proses
perkembangan, c) siswa sebagai organism keseluruhan,
d) terjadi transfer, e) belajar adalah reorganisasi
pengalaman, f) belajar harus dengan insight, g) belajar
lebih berhasil bila berhubungan dengan minat dan
keinginan siswa, h) belajar berlangsung terus menerus.
2) Teori J. Bruner
Kata Bruner belajar itu bukan untuk mengubah
tingkah laku seseorang tapi untuk mengubah kurikulum
sekolah menjadi sedemikian rupa sehingga siswa
belajar lebih banyak dan mudah. Sebab itu Bruner
mempunyai pendapat, alangkah baiknya bila sekolah
menyediakan kesempatan bagi siswa untuk maju
dengan kemmapuan siswa dalam mata pelajaran
tertentu. Di dalam proses belajar Bruner mementingkan
partisipasi aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan
baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk
16
meningkatkan proses belajar perlu lingkungan yang
dinamakan “discovery learning environmrnt”, ialah
lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi,
penemuan penemuan baru yang belum dikenal atau
pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui.
Dalam tiap lingkungan selalu ada bermacam macam
masalah, hubungan hubungan dan hambatan yang
dihayati oleh siswa secara berbeda beda pada usia yang
berbeda pula.
Menurut teori ini, dalam belajar guru perlu
memperhatikan 4 hal, yaitu; a) mengusahakan agar
setiap siswa berpartisipasi aktif, minatnya perlu
ditingkatkan, kemudian perlu dibimbing untuk
mencapai tujuan tertentu. b) menganalisis struktur
materi yang akan diajarkan, dan juga perlu disajikan
secara sederhana sehinhgga mudah dimengerti oleh
siswa. c) menganalisis sequence. Guru mengajar, berarti
membimbing siswa melalui urutan pernyataan
pernyataan dari suatu masalah, sehingga siswa
memperoleh pengertian dan dapat mentransfer apa yang
sedang dipelajari. d) member reinforment dan umpan
balik.
3) Teori Piaget
17
Pendapat Piaget mengenai perkembangan proses
belajar pada anak anak yaitu bahwa anak mempunyai
struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa.
Mereka bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk
kecil, mereka mempunyai cara yang khas untuk
menyatakan kenyataan dan untuk menghayati dunia
sekitarnya. Maka memerlukan pelayanan tersendiri
dalam belajar. Perkembangan mental pada anak melalui
tahap tahap tertentu, menurut suatu urutan yang sama
bagi semua anak. Walaupun berlangsungnya tahap
tahap perkembangan itu melalui suatu urutan tertentu,
tetapi jangka waktu untuk berlatih dari satu tahap ke
tahap yang lain tidaklah selalu sama pada setiap anak.
Perkembangan mental anak dipengaruhi oleh 4 faktor,
yaitu: a) kemasakan, b) pengalaman, c) interaksi sosial,
d) equilibration (proses dari ketiga factor diatas
bersama sama untuk membangun dan memperbaiki
struktur mental).
4) Teori R. Gagne
Menurut Gagne belajar mempunyai dua arti. Yaitu
yang pertama Belajar ialah suatu proses untuk
memperoleh motivasi dalam pengetahuan,
keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Yamh
18
kedua yaitu Belajar adalah penguasaan pengetahuan
atau keterampilan yang diperoleh dari intruksi. Gagne
menyatakan pula bahwa segala sesuatu yang dipelajari
manusia dapat dibagi menjadi 5 kategori, yang disebut
The domains of learning, yaitu: a) keterampilan
motoris, b) informasi verbal, c) kemmapuan intelektual,
d) strategi kognitif, e) sikap.
5) Teori Drs. Slameto
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah
laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi
dengan lingkungannya.
b. Pembelajaran
Pembelajaran dapat dikatakan sebagai hasil memori,
kognisi, dan metakognisi yang berpengaruh terhadap
pemahaman. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang
belajar, dan kondisi ini juga sering terjadi dalam kehidupan
sehari hari, karena belajar merupakan proses alamiah setiap
orang. Menurut Wenger (dalam Huda, 2014:2) mengatakan
bahwa pembelajaran bukanlah aktifitas, sesuatu yang dilakukan
seseorang ketika ia tidak melakukan aktifitas yang lain.
19
Pembelajaran bukanlah juga sesuatu yang berhenti dilakukan
oleh seseorang. Lebih dari itu, pembelajaran bisa terjadi
dimana saja dan pada level yang berbeda beda, secara
individual, kolektif, ataupun sosial.
Dengan demikian, pembelajaran dapat diartikan sebagai
proses modifikasi dalam kapasitas manusia yang dipertahankan
dan ditingkatkan levelnya menurut Gagne 1997 (dalam Huda,
2014:3). Selama proses ini, sesorang bisa memilih untuk
melakukan perubahan atau tidak sama sekali terrhadap apa
yang ia lakukan. Ketika pembelajaran diartikan sebagai
perubahan dalam perilaku, tindakan, cara, dan performa, maka
konsekuensinya jelas. Kita bisa mengobservasi, bahkan
memverifikasi pembelajaran itu sendiri sebagai objek.
Hilgard dan Bower 1972 (dalam Huda, 2014:4)
berpendapat bahwa kontroversi mengenai pembelajaran pada
hakikatnya adalah perdebatan mengenai fakta fakta, interpretasi
atas fakta fakta, dan bukan definisi istilah pembelajaran itu
sendiri. Meski demikian, hamper semua orang sepakat bahwa
pembelajaran berkaitan erat dengan pemahaman. Artinya
pembelajaran tidak hnaya berkaitan dengan interpretasi
berbasis fakta, tetapi juga mempresentasikan pemahaman
terapan. Singkatnya pembelajaran merupakan konsep yang
terbuka dan lepas. Kita seseorang berusaha memahami operasi
20
operasi kompleks proses pembelajaran, praktik pembelajaran
itu sendiri sebenarnya telah didefinisikan dengan cara yang
berbeda beda.
Hausstatter dan Nordkvelle 1978 (dalam Huda, 2014:5)
menyatakan bahwa pembelajaran merefleksikan pengetahuan
konseptual yang digunakan secara luas dan memiliki banyak
makna yang berbeda beda. Singkatnya, pembelajaran
merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh banyak
factor. Yang jelas, ia merupakan rekonstruksi dari pengalaman
masa lalu yang berpengaruh terhadap perilaku dan kapasitas
seseorang atau suatu kelompok.
Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian
belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran
terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau
tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain.
c. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam
pembelajaran. Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil
belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku
sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas
mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati
dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar
merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
21
mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan
proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar
merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27)
menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai
berikut: a) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang
hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan.
Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian
kaidah, teori, prinsip, atau metode, b) Pemahaman, mencakup
kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang
dipelajari, c) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan
metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan
baru. Misalnya, menggunakan prinsip, d) Analisis, mencakup
kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian
sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil,
e) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.
Misalnya kemampuan menyusun suatu program, f) Evaluasi,
mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa
hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai
hasil ulangan.
Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan
bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang
22
dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.
Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui
kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data
pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa
dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Manfaat belajar :
1. Dengan belajar dapat menumbuhkan kebiasaan pada
diri orang tersebut.
2. Dengan belajar dapat menumbuhkan motivasi dan dapat
menjadikan seseorang sukses.
3. Dengan belajar akan menambah banyak Ilmu
Pengetahuan.
4. Dapat dijadikan orang yang diperlukan bagi lingkungan
kita.
5. Dapat menambah keterampilan diri kita.
2) Pengertian Model
Menurut Agus Suprijono (2010:46) Model pembelajaran ialah pola
yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran
dikelas maupun tutorial.
Sedangkan menurut Arends :
Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan
digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran,
tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
23
Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik
mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berfikir, dan
mengekspresikan ide. Model pembelajaran berfungsi pula sebagai
pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam
merencanakan aktivitas belajar mengajar.
Dalam proses belajar banyak model pembelajaran yang dipilih
sesuai dengan materi yang disampaikan oleh guru. Macam-macam
model pembelajaran tersebut antara lain: Model Pembelajaran
Kontekstual, Model Pembelajaran Kooperatif, Model Pembelajaran
Quantum, Model Pembelajaran Terpadu, Model Pembelajaran
Berbasis masalah (PBL), Model Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction), Model Pembelajaran diskusi.
a) Model Cooperatif Learning
Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk
pembelajaran yang didasarkan faham konstruktivis yang
berpandangan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar
menggunakan secara sadar strateginya sendiri dalam belajar,
sedangkan guru membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang
lebih tinggi (Slavin, 1994; Abruscato, 1999). Pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran yang melibatkan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat
kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas
24
kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja
sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran.
Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai
jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan
pelajaran.
Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik
pembelajaran kooperatif sebagaimana dikemukakan oleh Slavin
(1995), yaitu penghargaan kelompok, pertanggung jawaban
individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
1) Penghargaan kelompok
Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-
tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan
kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok
mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan.
Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan
individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan
hubungan antar personal yang saling mendukung, saling
membantu, dan saling peduli.
2) Pertanggung jawaban individu
Keberhasilan kelompok tergantung dari
pembelajaran individu dari semua anggota kelompok.
Pertanggung jawaban tersebut menitikberatkan pada
aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam
25
belajar. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga
menjadikan setiap anggota siap untuk menghadapi tes dan
tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuan teman
sekelompoknya.
3) Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan
Pembelajaran kooperatif menggunakan metode
skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan
peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dari yang
terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap
siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi
sama-sama memperoleh kesempatan untukberhasil dan
melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.
Tujuan Pembelajaran Kooperatif :
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan
kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi,
dimana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan
orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif
adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu
ditentukan atau dipengaruhi olehkeberhasilan kelompoknya
(Slavin, 1994). Model pembelajaran kooperatif
dikembangkan untuk mencapai tidaknya tiga tujuan
pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al.
(2000), yaitu:
26
1) Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun
mencakup beragam tujuan sosial, juga
memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas
akademis penting lainnya. Beberapa ahli
berpendapat bahwa model ini unggul dalam
membantusiswa memahami konsep-konsep
sulit. Para pengembang model ini telah
menunjukkan bahwa model struktur
penghargaan kooperatif telah dapat
meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik
dan perubahan norma yang berhubungan dengan
hasil belajar. Di samping mengubah norma yang
berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran
kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada
siswa kelompok bawah maupun kelompok atas
yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-
tugas akademik.
2) Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif
adalah penerimaan secara luas dari orang-orang
yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas
sosial, kemampuan, ketidakmampuannya.
27
Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi
siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi
untuk bekerja dengan saling bergantung pada
tugas-tugas akademik dan melalui struktur
penghargaan kooperatif akan belajar saling
menghargai satu sama lain.
3) Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran
kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa
keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.
Keterampilan-keterampilan sosial, penting
dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak
muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
b) Cooperative Script
1. Pengertian Cooperative Script
Menurut Lambiotte, dkk, 1988 (dalam Huda,
2013:213) Cooperative Script adalah salah satu strategi
pembelajran dimana siswa bekerja secara pasangan dan
bergantian secara lisan dalam mengikhtisarkan bafgian
materi materi yang dipelajari. Strategi ini ditunjiukan untuk
membantu siswa berpikir secara sistematis dan
berkonsentrasi pada materi pelajaran. Siswa juga dilatih
untuk bekerja sama dalam suasana yang menyenangkan.
28
Cooperative Script juga memungkinkan siswa untuk
menemukan ide ide pokok dari gagasan besar yang
disampaikan oleh guru.
2. Langkah langkah dalam Cooperative Script
Sintak tahap tahap pelaksanaan strategi
pembelajaran Cooperative Script adalah :
a. Guru membagi siswa ke dalam kelompok
kelompok berpasangan.
b. Guru membagi wacana/materi untuk dibaca dan
dibuat ringkasannya.
c. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama
berperan sebagai pembicara dan siapa yang
berperan sebagai pendengar.
d. Pembicara membacakan ringkasan selengkap
mungkin dengan memasukan ide ide pokok ke
dalam ringkasannya. Selama proses pembacaan,
siswa siswi lain harus menyimak/menunjukan
ide ide pokok yang kurang lengkap dan
membantu mengingat dan menghapal ide ide
pokok dengan menghubungkannya dengan
materi sebelumnya atau dengan materi lain.
29
e. Siswa bertukar peran, yang semula sebagai
pembicara ditukar menjadi pendengar dan
sebaliknya.
f. Guru dan siswa melakukan kembali kegiatan
seperti diatas.
g. Guru dan siswa bersama sama membuat
kesimpulan materi pelajaran.
h. Penutup.
3. Kelebihan Cooperatif Script :
a. Dapat menumbuhkan ide atau gagasan baru, daya
berpikir kritis,serta mengembangkan jiwa keberanian
dalam menyampaikan hal hal baru yang diyakini benar.
b. Mengajarkan siswa untuk percaya kepada guru dan
lebih percaya lagi pada kemampuan sendiri untuk
berpikir, mencari informasi dan sumber lain, dan belajar
dari siswa lain.
c. Mendorong siswa untuk berlatih memecahkan masalah
dengan mengungkapkan idenya secara verbal dan
membandingkan ide siswa dengan ide temannya.
d. Membantu siswa belajar menghormati siswa yang
pintar dan siswa yang kurang pintar serta menerima
perbedaan yang ada.
30
e. Memotivasi siswa yang kurang pandai agar mampu
mengungkapkan pemikirannya.
f. Memudahkan siswa berdiskusi dan melakukan interaksi
sosial.
g. Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
4) Ilmu Pengetahuan Sosial
a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Istilah “Ilmu Pengetahuan Sosial” disingkat IPS,
merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar
dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi
identik dengan istilah “social studies” Sapriya (2009: 19)
menyatakan bahwa :
Istilah IPS di sekolah dasar merupakan nama mata
pelajaran yang berdiri sendiri sebagai integrasi dari
sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains
bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan.
Materi IPS untuk jenjang sekolah dasar tidak
terlihat aspek disiplin ilmu karena lebih dipentingkan
adalah dimensi pedagogik dan psikologis serta karakteristik
kemampuan berpikir peserta didik yang bersifat holistik.
IPS adalah suatu bahan kajian terpadu yang
merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan
modifikasi diorganisasikan dari konsep-konsep
ketrampilan-ketrampilan Sejarah, Geografi, Sosiologi,
31
Antropologi, dan Ekonomi. Adanya mata pelajaran IPS di
Sekolah Dasar para siswa diharapkan dapat memiliki
pengetahuan dan wawasan tentang konsep-konsep dasar
ilmu sosial dan humaniora, memiliki kepekaan dan
kesadaran terhadap masalah sosial di lingkungannya, serta
memiliki keterampilan mengkaji dan memecahkan
masalah-masalah sosial tersebut.
Pembelajaran IPS lebih menekankan pada aspek
“pendidikan” dari pada transfer konsep karena dalam
pembelajaran IPS siswa diharapkan memperoleh
pemahaman terhadap sejumlah konsep dan
mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral dan
ketrampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya.
IPS juga membahas hubungan antara manusia dengan
lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik
tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat
dan dihadapkan pada berbagai permasalahan di lingkungan
sekitarnya.
Berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan
bahwa :
Pembelajaran IPS sebagai proses belajar yang
mengintegrasikan konsep-konsep terpilih dari berbagai
ilmu-ilmu sosial dan humaniora siswa agar
berlangsung secara optimal.
b. Tujuan Pembelajaran IPS
32
Hakikat tujuan mata pelajaran IPS menurut Chapin,
J.R, Messick, R.G. (dalam Ichas Hamid Al -lamri dan
Tuti Istianti, 2006: 15) dapat diidentifikasi sebagai
berikut:
1. Membina pengetahuan siswa tentang pengalaman
manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa
lalu, sekarang, dan dimasa yang akan datang.
2. Menolong siswa untuk mengembangkan
ketrampilan (skill) untuk mencari dan mengolah/
memproses informasi.
3. Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/
sikap(value) demokrasi dalam kehidupan
bermasyarakat.
4. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk
mengambil bagian/ berperan serta dalam kehidupan
sosial.
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(2006: 67), mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut:
1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan
kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
33
2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan
kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah,
dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai
sosial dan kemanusiaan.
4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan
berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di
tingkat lokal, nasional, dan global.
Beberapa pengertian tentang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
seperti yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli di atas,
maka dapat peneliti simpulkan bahwa :
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah salah satu mata
pelajaran yang memadukan konsep-konsep dasar ilmu
sosial seperti geografi, sejarah, antropologi, dan psikologi
untuk diajarkan pada jenjang pendidikan.
5) SK dan KD
SK : Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan
kemajuan teknologi dilingkungan kabupaten/kota dan
provinsi.
KD : Mengenal permasalahan sosial di daerahnya
H. Hasil Penelitian yang relevan
1) Nama : Najwa
Ana
34
Andin
Tahun : 2022-2023
Judul : Penerapan Model Cooperative Script untuk Meningkatkan
Aktivitas dan Hasil Belajar IPS
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil
belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe
cooperative script. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas
(PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri
dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi
dan tes tertulis. Teknik analisis data yaitu analisis data kualitatif dan
kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model
kooperatif tipe cooperative script dapat meningkatkan aktivitas dan
hasil belajar siswa.
MIN 6 Majalengka, Kecamatan Talaga, Kab Majalengka. MIN 6
Majalengka memiliki tanah seluas 4.560 m2 dengan luas bangunan
914 m2. pada tahun pelajaran 2014/2015 terdiri dari kepala sekolah, 7
guru tetap (PNS), 3 guru honorer, 1 orang penjaga sekolah, 1 orang
staf tata usaha, dan 1 orang penjaga perpustakaan. Jumlah siswa MIN
6 Majalengka yaitu 139 orang dengan siswa laki-laki sebanyak 85
orang dan siswa perempuan sebanyak 57 orang.
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran
2022/2023. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus
35
dan masing-masing siklus terdiri dari satu pertemuan. Perbaikan
pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe cooperative
script dimulai pada Selasa, 3 Februari 2014 pada pukul 08.30-09.30
WIB. Materi yang dibahas yaitu mengenai peranan sumpah pemuda 28
Oktober 1928 dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Siklus II
dilaksanakan pada Selasa, 10 Februari 2015, pada pukul 08.30-09.30
WIB. Materi yang dibahas yaitu mengenai perumusan dasar negara.
Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa terjadi
peningkatan, kinerja guru aktivitas belajar siswa dan hasil belajar
siswa pada pembelajaran IPS siswa kelas VB dengan menerapkan
model pembelajaran kooperatif tipe cooperative
script. Siswa telah mencapai indikator keberhasilan pembelajaran
dan telah mencapai KKM yang ditentukan yaitu 66.
Kata kunci: aktivitas, cooperative script, hasil belajar.
2) Nama : Ana sofiatun
Tahun : 2022-2023
Judul : Pengaruh Penerapan model Cooperative Tipe Script
terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Geografi
Materi Lingkungan Hidup.
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh penerapan
model Cooperative script yang digunakan dalam pembelajaran
Geografi terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini melibatkan
36
kelompok perlakuan kelas dan kelompok Respon kelas. Penelitian ini
ditujukan untuk mengetahui seberapa besar perbedaan hasil belajar
siswa yang menerapkan model Cooperative Script dengan hasil
belajar siswa yang hanya menggunakan model pembelajaran
Convensional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V
MIN 6 Majalengka. Sampel diambil dengan menggunakan tehnik
cluster random sampling kemudian ditentukan kelas eksperimen
sebanyak 25 siswa yaitu kelasV, kelas Respon sebanyak 25 siswa
yaitu kelas V
Instrumen penelitian menggunakan tes. Tes ini dilaksanakan pada
siswa yang ada dikelompok perlakuan dan juga pada kelompok
Respon.
Kata Kunci : Hasil Belajar Siswa dan Model Cooperative Tipe Script
I. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan pembahasan diatas, maka dapat
dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini adalah: Dengan menerapkan
model pembelajaran Cooperative Learning tipe Script dapat meningkatkan
keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas
V MIN 6 Majalengka Kec. Talaga Kab. Majalengka.
J. Metodologi Penelitian
1) Setting Penelitian
a) Waktu Penelitian
37
Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu mulai bulan
Januari sampai dengan bulan Maret 2022 dan dilakuakan pada
Semester 2 atau Semester Genap. Dengan rincian kegiatan mulai
dari persiapan penyusunan proposal dan instrumen bulan Januari
2022, pelaksanaan prasiklus, siklus I, II. bulan Februari 2022,
analisis data bulan Februari 2022 , sedangkan penyimpulan hasil
penelitian, perbaikan dan penjilidan laporan pada bulan Maret
2022.
Alasan waktu yang digunakan adalah dengan melihat
kalender pendidikan untuk semester 2 yang kisarannya kurang
lebih sekitar 1 bulan lagi yaitu bulan januari, Februari dan Maret.
b) Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MIN 6 Majalengka. Sekolah
ini terletak di Desa Gunungmanik, Kecamatan Talaga, Kabupaten
Majalengka. Secara umum kondisi fisik MIN 6 Majalengka dapat
dikatakan telah memenuhi syarat kekondusifan bagi
berlangsungnya proses belajar mengajar.
Tempat penelitian ini penulis pilih karena lokasi penelitian
yang strategis dimana mudah dijangkau dari segala arah selain itu
juga lokasi penelitian ini dekat dengan lokasi tempat tinggal
penulis sehingga akan memudahkan penulis dalam pengambilan
data, mengkomunikasikan tahapan penelitian dan melaksanakan
penelitian yang akan dilaksanakan.
38
2) Subjek dan Objek Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah di MIN 6 Majalengka, yang
merupakan salah satu Sekolah Dasar Negeri yang berada di Kecamatan
Talaga. Sekolah ini mempunyai jumlah kelas sebanyak 6 kelas dari
kelas 1 sampai kelas 6, setiap jenjang hanya memiliki satu kelas.
Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas V di MIN 6
Majalengka, dengan jumlah siswa 25 orang, banyaknya siswa laki laki
10 orang, dan siswa perempuan sebanyak 15 orang.
3) Sumber Data
Menurut Arikunto (2006:129) yang dimaksud sumber data dalam
penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila
peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan
datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang
merespon atau menjawab pertanyaan pertanyaan peneliti, baik
pertanyaan tertulis maupun lisan. Apabila peneliti menggunakan teknik
observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda, gerak atau proses
sesuatu.
Apabila peneliti menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau
catatanlah yang menjadi sumber data, sedang isi catatan subjek
penelitian atau variabel penelitian. Sumber data dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu data Primer dan data Sekunder.
Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh
peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga
39
sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date. Untuk
mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara
langsung. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui tangan
kedua, atau data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh pihak
lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dan subjek penelitian.
Dalam hal ini data primer yang digunakan adalah hasil formatif
dan observasi terhadap siswa kelas V MIN 6 Majalengka Kec. Talaga
Kab. Majalengka Tahun Pelajaran 2022-2023. Termasuk dalam
penelitian ini sumber data primer adalah siswa kelas V MIN ^
Majalengka Kec. Talaga Kab. Majalengka Tahun Pelajaran 2022 –
2023 dan data sekunder berbentuk dokumentasi dan hasil tes kegiatan
PBM materi Kenampakan alam dan keragaman sosial budaya.
4) Teknik dan Alat Pengumpul Data
a) Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data atau Instrumen penelitian dapat
didefinisikan sebagai alat pengumpulan data yang telah baku atau
alat pengumpulan data yang memiliki standar validitas dan
realibilitas. Instrumen yang valid dan reliabel, akan sangat
menentukan kualitas data yang dikumpulkan. Suatu instrument
selain memiliki norma validitas dan realibilitas, juga harus
memiliki nilai objektifitas dan prosedur baku untuk
penggunaannya. Menurut Arikunto 2002 (dalam Badriah DL,,
2009:90) mengatakan bahwa instrument adalah alat pada waktu
40
penelitian menggunakan sesuatu metode. Instrument yang
digunakan peneliti dala penelitian kali ini adalah:
1. Teknis Tes
Evaluasi ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar
siswa dengan menggunakan model pembelajran Cooperative
Learning tipe Script pada materi Masalah Sosial. Tes yang
dilakukan peneliti untuk mengukur hasil yang diperoleh siswa
setelah diberikan tindakan. Tes berupa soal evaluasi, yang
berisi pertanyaan pertanyaan yang berkaitan dengan materi
Masalah Sosial yang telah dipelajari. Bentuk soal tes berupa
soal uraian terbatas dengan soal uraian 5 soal, dan Pilihan
Ganda sebanyak 10 soal untuk mengukur hasil belajar siswa.
(Selengkapnya terlampir).
2. Teknik Non Tes
Teknik Non Tes adalah suatu teknik penilaian yang
dilakukan tanpa menggunakan tes, akan tetapi dilakukan
dengan melalui pengamatan. Teknik non tes dilaksanakan
dengan melakukan wawancara dan observasi.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi digunakan peneliti untuk mengetahui
beberapa dokumen yang terkait dengan proses pelaksanaan
metode Cooperative Learning tipe Script pada pembelajaran
IPS di kelas V MIN 6 Majalengka, kecamatan Talaga,
41
Kabupaten Majalengka, seperti RPP, LOS, soal kuis dan daftar
siswa.
b) Alat Pengumpulan Data
a. Teknik tes
1. Tes tulis, yaitu tes tulis atau soal latihan yang diberikan
kepada siswa. Tes tulis pada penelitian ini berupa latihan
soal IPS Kenampakan alam dan keragaman sosial budaya.
Tes ini digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil
belajar siswa setelah menerapkan model Cooperative
Learning tipe Script.
2. Tes lisan, yaitu tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan
mengadakan tanya jawab secara langsung dengan peserta
didik.
b. Teknik Non tes
1. Lembar Observasi
Lembar Observasi digunakan sebagai pedoman
untuk memudahkan pengambilan data pada saat penelitian
dilakukan. Lembar observasi berupa pedoman saat
melakukan pada saat aktifitas guru dan siswa yang terjadi
ketika proses pembelajaran berlangsung dan penerapan
model pembelajaran Cooperative Script di dalam kelas.
Lembar observasi berisi pertanyaan pertanyaan yang terkait
dengan keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan
42
alternative jawaban “Ya” dan “Tidak” serta keterangan
untuk mendukung observer memilih alternative jawaban
tersebut. (Selengkapnya Terlampir)
2. Angket
Angket digunakan untuk mengetahui efektifitas dari
penerapan model pembelajaarn Cooperative Learning tipe
Script pada pembelajaran IPS materi Masalah Sosial.
Angket berisi pertanyaan pertanyaan yang dapat mengukur
efektifitas pelaksanaan model pembelajaran Cooperative
Learning tipe Script pada pembelajaran IPS materi Masalah
Sosial. (Selengkapnya Terlampir)
3. Wawancara
Menurut Badriah DL, dalam bukunya yang berjudul
Metodologi Penelitian (2009:97) wawancara adalah proses
percakapan yang berbentuk tanya jawab cengan tatap muka
langsung antara si penanya (pewawancara) dengan si
penjawan (yang di wawancarai). Jenis wawancara yang
digunakan peneliti adalah wawancara bebas, yang artinya
pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi selalu
memperhatikan rambu rambu dan standar data apa yang
harus diperoleh.
43
5) Prosedur Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan penulis adalah penelitian tindakan
kelas. Desain penelitian yang penulis laksanakan adalah menggunakan
model Penelitian Tindakan Kelas berdasarkan dari Kemmis dan Mc
Taggart (1988). Penelitian Tindakan Kelas model ini terdiri dari 3
siklus penelitian dan setiap siklus dijalankan dalam 4 tahap mencakup
kegiatan perencanaan (Planning), pelaksanaan (Action), pengamatan
(Observation), dan refleksi (Reflection). Tiga siklus yaitu terdiri dari
siklus I, siklus II dan siklus III, siklus II merupakan siklus perbaikan
pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I merupakan perbaikan
dari proses pembelajaran siklus II. Apabila pada siklus II sudah
berhasil maka kegiatan pembelajaran pun boleh hanya sampai pada
siklus II saja, model tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
PERENCANAAN
REFLEKSI
PELAKSANAAN
PENGAMATAN
PERENCANAAN
REFLEKSI PELAKSANAAN
PENGAMATAN
PERENCANAAN
REFLEKSI PELAKSANAAN
PENGAMATAN
44
Desain Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis & Mc Taggart
Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut adalah unsur
untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran beruntun yang
kembali ke langkah semula. Jadi satu siklus adalah dari tahap
penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain
adalah evaluasi. Diuraikan sebagai berikut:
1. Perencanaan (planning)
Pada langkah perencanaan peneliti mengawali dengan
menyiapkan keperluan dalam melaksanakan pembelajaran
seperti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),
membuat lembar evaluasi hasil belajar peserta didik dengan
indicator 10 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian, membuat
lebar observasi pembelajaran dan menyiapkan media
pembelajaran seperti gambar gambar yang berhubungan
dengan materi terkait.
2. Tindakan (Acting)
Pada tahap ini, semua yang sudah dipersiapkan dalam tahap
perencanaan kemudian dilaksanakan pada tahap tindakan.
Tahap melaksanakan tindakan dilakukan untuk mengetahui
pelaksanaan dan penilaian pembelajaran baik terhadap
pemahaman siswa maupun aktivitas belajar mengajar dengan
menggunakan model Cooperative tipe Script.
3. Pengamatan (observing)
45
Setiap tindakan pembelajaran dilakukan observasi, dalam
penelitian kali ini peneliti dibantu wali kelas V sebagai
observer untuk mengamati pembelajaran yang dilakukan dalam
penelitian kali ini. Instrument yang digunakan berupa lembar
observasi pembelajaran yang meliputi pelaksanaan
pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat.
4. Refleksi ( reflecting)
Setelah dilakukan pengamatan selanjutnya yaitu tahap
refleksi. Refleksi dilakukan terhadap pelaksanaan penerapan
model Cooperative tipe Script, serta menganalisis kelebihan
dan kekurangannya. Pada tahap ini data dan hasil yang
diperoleh pada tahap perencanaan, tindakan, pengamatan,
kemudian dianalisis untuk mengetahui sejauh mana penerapan
model pembelajaran Cooperative tipe Script, yang sudah
dilakukan sehingga dapat dijadikan pedoman dan bahan
pertimbangan untuk memperbaiki pelaksanaan tindakan pada
siklus berikutnya. Jika ditemukan masalah maka dilakukan
proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya hingga
permasalahan dapat teratasi.
Selanjutnya langkah-langkah dalam pelaksanaan penelitian
tindakan kelas secara bertahap dapat digambarkan sebagai
berikut:
A. Siklus I
46
a. Tahap Perencanaan (Planning)
Permintaan izin kepada Kepala Sekolah MIN 6
Majalengka, merumuskan media dan desain
pembelajaran yang digunakan dalam penelitian
tindakan kelas, membuat rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) berdasarkan pada tahapan-tahapan
kooperatif tipe Scrip.
b. Tahap Pelaksanaan
Tindakan I
Perencanaan tindakan I
1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
2. Menyiapkan media yang akan digunakan
3. Menyiapkan lembar observasi siswa dan kinerja
guru
Pelaksanaan tindakan I
Melakukan pembelajaran dengan materi Masalah
Sosial menggunakan model Cooperative Script.
Observasi tindakan I
Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,
mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa
selama pembelajaran berlangsung.
Refleksi tindakan I
47
Masih adanya kelemahman dalam siklus I tindakan
I sehingga perlu di adakan perbaikan pada tindakan
selanjutnya.
Tindakan II
Perencanaan tindakan II
1. Menyususun rencana pelaksanaan pembelajaran
sesuai dengan indikator yang digunakan.
2. Menyiapkan lembar observasi kinerja guru, aktvitas
siswa dan lembar tes.
Pelaksanaan tindakan II
Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana
pelaksanaan pembelajaran mengenai materi Kenampakan
alam dan keragaman sosial budaya yang membedakan
hanya pada indikator dan adanya tes siklus.
Observasi tindakan II
Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,
mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa
selama pembelajaran berlangsung.
Refleksi tindakan II
Masih adanya kelemahman dalam siklus I tindakan
II sehingga perlu di adakan perbaikan.
c. Observasi Siklus I
48
Pengamatan dilakukan melihat aktivitas guru dan siswa
pada saat pembelajaran dengan menggunakan model
Cooperative tipe Script. Penilaian terhadap siswa saat
proses pembelajaran Cooperative Script, yaitu pada aspek
diskusi kelompok dan mempersentasikan hasil diskusi
kelompok.
d. Refleksi Siklus I
Dalam kegiatan ini, dilakukan analisis dan evaluasi
terhadap kegiatan yang dilakukan pada siklus I tindakan 1
dan 2. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menganalisis
berbagai temuan serta untuk mengetahui ketercapaian
tujuan dalam setiap tindakan. Selain itu, refleksi
dilaksanakan pula untuk mendapat kejelasan dan
gambaran dalam merancang dan mempersiapkan siklus
selanjutnya siklus II.
1. Siklus II
a. Perencanaan Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan pada
akhir siklus I, maka dirancanglah rencana pembelajaran
untuk siklus II.
b. Pelaksanaan Siklus II
Tindakan I
Perencanaan
49
2. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
3. Menyiapkan media yang akan digunakan
4. Menyiapkan lembar observasi siswa dan kinerja guru
Pelaksanaan tindakan I
Melakukan pembelajaran dengan materi Kenampakan alam
dan keragaman sosial budaya serta menggunakan model
Cooperative learning tipe Script.
Observasi tindakan I
Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,
mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa
selama pembelajaran berlangsung.
Refleksi tindakan I
Masih adanya kelemahman dalam siklus II tindakan I
sehingga perlu di adakan perbaikan pada tindakan
selanjutnya.
Tindakan II
Perencanaan tindakan II
5. Menyususun rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai
dengan indikator yang digunakan.
6. Menyiapkan lembar observasi kinerja guru, aktvitas
siswa dan lembar tes.
Pelaksanaan tindakan II
50
Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana
pelaksanaan pembelajaran mengenai materi kenampakan
alam dan keragaman sosial budaya yang membedakan
hanya pada indikator dan adanya tes siklus.
Observasi tindakan II
Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,
mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa
selama pembelajaran berlangsung.
Refleksi tindakan II
Masih adanya kelemahman dalam siklus II tindakan
II sehingga perlu di adakan perbaikan.
c. Observasi siklus II
Pengamatan dilakukan melihat aktivitas guru dan
siswa pada saat pembelajaran mengenai materi kenampakan
alam dan keragaman sosial budaya dengan model
Cooperative tipe Script. Penilaian terhadap siswa saat
proses pembelajaran model Cooperative Script, pada saat
diskusi kelompok dan mempresentasikan hasil dari diskusi
kelompok.
d. Refleksi siklus II
Kegiatan ini dilakukan analisis dan evaluasi
terhadap kegiatan yang dilakukan pada siklus II tindakan I
51
dan 2. kegiatan ini untuk menganalisis berbagai temuan
serta untuk mengetahui ketercapaian tujuan dalam setiap
tindakan. Selain itu, refleksi dilaksanakan pula untuk
mendapat kejelasan dan gambaran dalam mempersiapkan
siklus selanjutnya.
2. Siklus III
a. Perencanaan Siklus III
Berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan
pada akhir siklus II, maka dirancanglah rencana
pembelajaran untuk siklus III
b. Pelaksanaan Siklus III
Tindakan I
Perencanaan tindakan I
1. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
2. Menyiapkan media yang akan digunakan
3. Menyiapkan lembar observasi siswa dan kinerja guru
Pelaksanaan tindakan I
Melakukan pembelajaran mengenai materi Masalah
Sosial dengan menggunakan model Cooperative learning
tipe Script.
Observasi tindakan I
52
Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,
mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa
selama pembelajaran berlangsung.
Refleksi tindakan I
Masih adanya kelemahman dalam siklus III
tindakan I sehingga perlu di adakan perbaikan pada
tindakan selanjutnya.
Tindakan II
Perencanaan tindakan II
1 Menyususun rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai
dengan indikator yang digunakan.
2 Menyiapkan lembar observasi kinerja guru, aktvitas
siswa dan lembar tes.
Pelaksanaan tindakan II
Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana
pelaksanaan pembelajaran mengenai materi Masalah Sosial
yang membedakan hanya pada indikator dan adanya tes
siklus.
Observasi tindakan II
Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,
mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa
selama pembelajaran berlangsung.
Refleksi tindakan II
53
Proses pembelajaran dan mengenai hasil belajar
siswa mengenai materi Masalah Sosial meningkat dari
siklus sebelumnya.
c. Observasi Siklus III
Pengamatan dilakukan melihat aktivitas guru dan
siswa pada saat pembelajaran dengan menggunakan model
Cooperative Script. Penilaian terhadap siswa saat proses
pembelajaran model cooperative script yaitu pada saat
diskusi kelompok, saat mempresentasikan hasil diskusi
kelompokdan kerjasama.
d. Refleksi siklus III
Kegiatan ini dilakukan setelah peneliti melakukan
pengolahan data secara kualitatif dan kuantitatif terhadap
data-data yang diperoleh pada siklus III tindakan 1 dan 2.
Kegiatan ini dilakukan untuk menganalisis serta
mengevaluasi berbagai temuan serta untuk mengetahui
ketercapaian tujuan pembelajaran pada suatu tindakan.
Refleksi juga dilakukan untuk menjelaskan secara
keseluruhan tindakan-tindakan yang telah dilakukan. Selain
itu, dilaksanakan pula refleksi secara keseluruhan terhadap
tindakan-tindakan dari setiap siklusnya, sebagai kesimpulan
akhir dari penelitian yang dilaksanakan.
54
K. Validasi Data
Menurut Badriah DL, (2006:104) validasi atau validitas sudah pasti
mempersoalkan apakah benar benar kita mengukur apa yang kita pikir
sedang kita ukur.
Sedangkan menurut Sugiyono (2015) :
Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi
pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh
peneliti. Suatu data dikatakan valid apabila tidak ada perbedaan
antara data yang dilaporkan peneliti dengan data yang
sesungguhnya.
Ada dua macam validitas penelitian, yaitu Validitas internal dan
validitas eksternal. Menurut Badriah DL (2006) validitas internal berkaitan
dengan kekuatan kesahihan yang melekat pada variabel penilaian yang
diukur atau dijadikan percobaan dan berkaitan dengan ketepatan
penggunaan alat ukur untuk variabel tersebut. Artinya apabila ada variabel
terikat benar benar disebabkan oleh perlakuan (variabel bebas) yang
diberikandan bukan oleh factor atau variabel diluar itu. Dalam hal ini,
yang biasa menjadi pertimbangan adalah keterlibatan variabel control.
Sedangkan validitas eksternal berkaitan dengan kesahihan dari hasil
percobaan untuk dibuatkan sebuah generalisasi untuk memberikan ukuran
terhadap populasi secara mantap. Hal ini dapat dilakukan dengan
pendekatan randomisasi pada populasi, sehingga hasil percobaan akan
cukup representatif untuk mewakili populasi.
Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji
credibility (validitas interbal), transferability (validitas eksternal),
55
dependability (realibilitas), dan confarmibility (objektivitas). Dalam
penelitian kali ini, peneliti menggunakan uji validitas Triangulasi.
Menurut Wiliam 1986 (dalam Sugiyono, 2015:372) Triangulasi
dapat diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan
berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi
sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.
Dari ketiga bentuk Triangulasi tersebut, dalam penelitian ini
peneliti menerapkan bentuk triangulasi pengumpulan data. Triangulasi
teknik pengumpulan data ini untuk menguji kredibilitas data dengan cara
mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda,
yaitu melalui observasi dan wawancara. Apabila dengan dua teknik
tersebut menghasilkan data yang berbeda beda, maka peneliti melakukan
diskusi lanjut kepada sumber data bersangkutan guna memastikan
kebenarannya atau mungkin semua dianggap benar karena sudut
pandangnya berbeda beda.
Observasi
Partisifatif
Sumber Wawancara
Data Mendalam
Sama
Dokumentasi
Triangulasi Teknik Pengumpulan Data
56
L. Analisis Data
Data-data dari penelitian ini setelah dikumpulkan kemudian diolah
dan dianalisis. Pengolahan dan analisis data ini dilakukan selama
berlangsungnya penelitian sejak awal sampai akhir pelaksanaan tindakan.
Jenis data yang didapat dalam penelitian ini yaitu data kualitatif dan data
kuantitatif.
1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif berasal dari tes siklus untuk hasil belajar siswa
mengenai pembelajaran IPS materi Masalah Sosial. Setelah data
diperoleh, kemudian dilakukan analisis dengan langkah langkah sebagai
berikut:
a. Tes Butir soal
Untuk melihat penilaian akhir siswa setelah diberikan tes, yaitu
rumus:
jumla h skor perole h an
Nilai Akhir = x 100
jumla h skor total
Sumber: ( Arikunto, 2010:30)
b. Untuk menghitung ketuntasan belajar
1) Ketentuan belajar berdasarkan KKM
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan untuk kelas V
MIN 6 Majalengka Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka
57
yaitu 70. Siswa dikatakan mencapai ketuntasan belajar bila sudah
mencapai nilai KKM.
No. KKM Kategori
1. 70%-100% Berhasil (Tuntas)
2. 0%-69% Belum Berhasil (Belum Tuntas)
Kategori perolehan Presentase KKM Siswa
2) Ketuntasan Belajar Klasikal
Presentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal
menggunakan rumus:
∑ S ≥ 70 %
TB= X 100 %
N
Keterangan:
TB : Ketuntasan Belajar
∑ S ≥ 70 % : jumlah siswa yang mendapat
nilai lebih besar atau sama dengan
70%
N : jumlah siswa
100% : Bilangan tetap
Pada penelitian ini ketentuan belajar dapat dilihat dari segi
proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran
dikatakan berhasil dan berkualitas apabila 80% atau 20 orang
siswa dari 25 siswa terlihat aktif dalam proses pembelajaran.
Sedangkan dari segi hasil pembelajaran dikatakan berhasil apabila
58
kriteria sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang,
kriteria itu ditentukan dengan menggunakan rumus :
Skor minimal : 20
Skor maksimal : 80
jumlah skor perolehan
Nilai Akhir= X 100
jumlah skor total
Nilai Akhir Keterangan
81 – 100 Sangat Baik
61- 80 Baik
41 – 60 Cukup
21 – 40 Kurang
0-20 Sangat Kurang
Sumber (Arikunto, 2010:30)
c. Lembar aktifitas siswa
Untuk data non tes diperoleh observasi aktifitas siswa pada saat
melaksanakan pembelajaran IPS kelas V MIN 6 Majalengka
denggan menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning
tipe Script aspek yang diamati keaktifan, kerjasama, dan perbuatan
dengan menggunakan criteria sangat baik, baik, cukup, kurang, dan
sangat kurang.
59
Kriteria itu ditentukan dengan rumus :
Skor minimal :7
Skor maksimal : 25
Rumus :
jumlah skor perolehan
Nilai Akhir = X 100
jumlah skor total
Nilai Akhir Keterangan
81 – 100 Sangat Baik
61- 80 Baik
41 – 60 Cukup
21 – 40 Kurang
0-20 Sangat Kurang
Sumber (Arikunto, 2010:30)
2. Data Kualitatif
Menurut Milles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2014:337),
mengemukakan bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan
secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas,
sehingga datanya sudah jenuh. Data kualitatif diperoleh melalui hasil
observasi, hasil wawancara, dan studi dokumentasi. Pengolahan data
kualitatif ini dilakukan dengan cara menerjemahkan dan mendiskusikan
dengan pengamat jika terdapat jawaban pengamat yang perlu
diklarifikasi dari setiap item pertanyaan.
60
Analisis data kualitatif yaitu dengan cara mendeskripsikan hasil
penelitian dalam bentuk narasi. Untuk memperoleh data yang valid perlu
dilakukan triangulasi dari semua sumber data yang diperoleh baik dari
peneliti, observer dan subjek peneliti yaitu siswa selama penelitian
tindakan kelas berlangsung. Langkah langkah dalam analisis data
kualitatif, yaitu:
a. Data Reduction (Reduksi Data)
Menurut Sugiyono (2014:339) Reduksi Data merupakan proses
berpikir sensitive yang memrlukan kecerdasan dan keluasan dan
kedalaman wawasan yang tinggi. Bagi peneliti dalam melakukan
reduksi data dapat mendiskusikan pada teman atau orang lain yang
dipandnag ahli. Melalui diskusi itu, maka wawasan peneliti akan
berkembang, sehingga dapat mereduksi data data yang memeiliki
nilai temuan dan pengembangan teori yang signifikan.
b. Data Displey (Penyajian Data)
Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam
bentuk uraian singkat, bagan, hubungna antar kategori, flowchart dan
sejenisnya. Menurut Milles dan Hiberman (dalam Sugiyono,
2014:341) menyatakan:
The most frequent from if display data for qualitative research data
in the past has been narrative tex. Yang artinya yang sering
digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif
adalah dengan teks yang bersifat naratif.
61
Dengan demikian akan memudahkan peneliti untuk memahami apa
yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa ynag
telah dipahami tersebut.
c. Conclusion Drawing/verification
Menurut Milles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2014:345)
langkah ketiga dalam analisi data adalah keismpulan dan verifikasi.
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan
akan berubah bila tidak ditemuakn bukti bukti yang kuat yang
mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila
kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti
bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan
mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan
merupakan kesimpulan yang kredibel.
62
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur [Link]: PT Rineka
Cipta.
Drs. Slameto. (2010). Belajar dan factor factor yang mempengaruhinya.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hatimah, Ihat. (2008). Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan.
Jakarta: universitas Terbuka.
Huda, Miftahul. (2011). Cooperative Learning..Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Huda, Miftahul. (2013). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran..
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Prof. Dr. Hj. Dewi Laelatul Badriah.(2006). Metodologi Penelitian Ilmu
ilmu Kesehatan. Bandung: Multazam.
Saiful Bahri & Aswan Zain. (1995). Strategi belajar Mengajar, Jakarta:
Rineka Cipta.
Sapriya. 2009 Pendidikan IPS. Bandung: PT. Remaja rosdakarya
.
Suprijono, A. 2012. Cooverative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Belajar
.
Sugiyono (2014) Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Sujana, N. 2009. Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.
Remaja rosdakarya.
Tim Bina Karya Guru. (2012). IPS Terpadu Untuk Sekolah Dasar Kelas
IV, Jakarta: Erlangga.
Yuliantoro, Agus. (2014). Penelitian Tindakan Kelas dengan Metode
Mutakhir. Yogyakarta: Andi.