0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan62 halaman

Media Pembelajaran untuk Siswa Kelas VI

Diunggah oleh

MIN 6 Majalengka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan62 halaman

Media Pembelajaran untuk Siswa Kelas VI

Diunggah oleh

MIN 6 Majalengka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA


MELALUI PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN
DI KELAS VI MIN 6 MAJALENGKA

KARYA TULIS ILMIAH (KTI)


Diajukan sebagai salah satu syarat untuk Penilaian Kinerja Guru

Oleh :

HJ. DEDE ERNAFIT, [Link].I

NIP : 197805172007011017

KEMENTERIAN AGAMA

MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI 6 MAJALENGKA

Jl. Urata Winusakti Desa Gunungmanik Kecamatan Talaga Kabupaten


Majalengka
2

LEMBAR PENGESAHAN

1. JUDUL : Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe Script Pada Mata Pelajaran

IPS (PTK Pada Materi Masalah Sosial di Kelas V MIN 6 Majalengka

Kec. Talaga Kab. Majalengka).

2. IDENTITAS PENELITIAN :

Nama : HJ. DEDEH ERNAFIT, [Link].I


NIP : 197603122005012004
Golongan : Penata Tingkat I. III/d
Jabatan : Guru Muda
Unit Kerja : MIN 6 Majalengka

3. LOKASI PENELITIAN : MIN 6 Majalengka

4. BIAYA PENELITIAN : Mandiri

Mengetahui Gunungmanik, Maret 2023


Kepala MIN 6 Majalengka
Penulis

E. HAROBUDIN, [Link].I Hj. DEDEH ERNAFIT, [Link].I


NIP : 196706271998031001 Nip : 197603122005012004
3

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah penulis dapat menyelesaikan


karya tulis yang

berjudul “Meningkatkan pemahaman siswa melalui penggunaan media


pembelajaran di kelas VI MIN 6 Majalengka”.

Adapun maksud dari penyusunan karya tulis ini adalah untuk memenuhi salah
satu tugas. Dalam menyusun karya tulis ini, penulis mendapat bantuan dan
bimbingan dari berbagai [Link] karena itu, melalui pengantar ini penulis
ucapkan banyak terima kasih atas segala bantuanyang telah diberikan. Semoga
semua kebaikan dibalas oleh Allah SWT dengan balasan yang berlipat ganda.
Karena terbatasnya pengetahuan serta kemampuan yang dimiliki, penulis
menyadari bahwadalam penyusunan karya tulis ini masih jauh dari sempurna dn
masih terdapat kekurangan dan kesalahan baik dalam penyusunan kata, penulisan,
maupun isi serta pembahasannya. Untuk itu saran dan kritik yang bersifat
membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan penyusunan karya tulis lain
di masa yang akan [Link] kata, penulis berharap semoga karya tulis ini
bermanfaat bagi penulis khususnya, dan umumnya bagi para pembaca.

Penulisi
4

A. Judul

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Model

Kooperatif Tipe Script Pada Mata Pelajaran IPS (PTK Pada Materi

Masalah Sosial di Kelas V MIN 6 Majalengka Kec. Talaga Kab.

Majalengka).

B. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan salah satu sektor pembangunan dalam

upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai UUD 1945 Pasal 31 Ayat

3, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan

nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia

yang diatur dalam Undang-undang. Dalam UU No. 20 pasal 1 Tahun

2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa :

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan


suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
Masyarakat, Bangsa, dan Negara.

Sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan, kurikulum

merupakan acuan dalam menyelenggarakan pendidikan sekaligus sebagai

tolak ukur pencapaian tujuan pendidikan. Kurikulum adalah seperangkat

rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta

cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan. Pada dasarnya

kurikulum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan


5

kepentingan siswa serta lingkungannya. Pendidikan dasar merupakan

jenjang pendidikan yang paling fundamental dalam pemberian

pengetahuan, sikap dan keterampilan. UU RI Nomor 20 Tahun 2003

tentang Sisdiknas, pada pasal 37 ayat 1 menyatakan bahwa :

Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah wajib memuat: (a)


Pendidikan Agama, (b) Pendidikan Kewarganegaraan, (c) Bahasa,
(d) Matematika, (e) Ilmu Pengetahuan Alam, (f) Ilmu Pengetahuan
Sosial, (g) Seni dan Budaya, (h) Pendidikan Jasmani dan Olah
Raga, (i) Keterampilan, dan (j) Muatan Lokal.

Berdasarkan muatan mata pelajaran tersebut di atas, ilmu

pengetahuan sosial (IPS) memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap

perkembangan siswa dalam menghadapi tantangan zaman. Mata pelajaran

IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan

kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki

kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

Iimu Pengetahuan Sosial bertujuan agar peserta didik memiliki


kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,
inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan
sosial.

Tujuan yang terkandung dalam mata pelajaran IPS tersebut sudah

mengandung ide-ide yang dapat mengantisipasi perkembangan IPTEK

secara global. Namun kenyataan dilapangan tidak sejalan dengan tujuan

pada kurikulum, seperti temuan di lapangan tentang pembelajaran IPS di

sekolah dasar antara lain, guru belum melaksanakan pembelajaran yang

dapat menumbuhkan kemampuan berfikir, kerja dan bersikap ilmiah bagi

peserta didik dalam pembelajarannya guru memberikan siswa dengan


6

sejumlah konsep yang bersifat hafalan belaka. Dengan demikian, siswa

tidak memahami dasar kualitatif tentang fakta-fakta dalam materi serta

tingkat pemahaman semakin berkurang sehingga pada kenyataanya timbul

kebosanan, tujuan siswa agar menguasai konsep yang diajarkan justru

tidak tercapai. Kondisi seperti itu ditemukan juga pada pembelajaran IPS,

yaitu guru berusaha agar siswa mampu memahami materi sebanyak

mungkin sesuai yang diterangkan oleh guru. Dalam hal ini, yang terjadi

adalah pembelajaran berpusat pada guru dan bersifat satu arah, sehingga

siswa kurang mandiri dalam belajar bahkan siswa menjadi cenderung pasif

dan kurang aktif.

Untuk meningkatkan kualitas manusia tentunnya salah satunya

yaitu Guru harus memegang peranan yang sangat penting dalam

meningkatkan prestasi belajar peserta didik. Guru memiliki peran yang

sangat penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Guru yang

profesional diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Profesionalisme guru sebagai ujung tombak di dalam implementasi

kurikulum di kelas yang perlu mendapat perhatian (Depdiknas, 2005).

Dalam proses belajar mengajar, guru mempunyai tugas untuk mendorong,

membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai

tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu

yang terjadi dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa.

Tentunya salah satunya dalam proses belajar mengajar dalam kelas, agar

proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar dan optimal maka
7

diharapkan seorang guru dapat menggunakan berbagai macam variasi

model pembelajaran. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil

tidaknya proses belajar peserta didik, dan guru merupakan salah satu

paktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan perlu memberikan

perhatian besar kepada peningkatan prestasi belajar peserta didik di

sekolah. Dengan meningkatnya hasil belajar peserta didik di sekolah maka

akan berpengaruh juga terhadap peningkatan prestasi belajar peserta didik

di sekolah.

Disamping menguasai materi yang disampaikan dengan kata lain

guru harus menciptakan suatu kondisi belajar yang sebaik-baiknya bagi

peserta didik, inilah yang tergolong kategori peran guru sebagai pengajar.

Guru dituntut harus mampu merencanakan, memilih dan menggunakan

berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran

yang diinginkan. Pendidikan di sekolah sebagai salah satu upaya

pemerintah memperluas wawasan dan pengetahuan peserta didik. Berbagai

macam strategi dan jenis media pembelajaran yang di gunakan oleh guru

menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi peserta didik. Guru harus terampil

dalam menggunakan model pembelajaran yang akan diterapkan, tentunya

pemilihan model tersebut harus disesuaikan dengan materi yang akan kita

ambil, sehingga tujuan yang ingin di capai dapat terpenuhi.

Namun pada kenyataannya pada pembelajaran IPS seperti yang

dipaparkan diatas juga ditemui di MIN 6 Majalengka, berdasarkan hasil

observasi yang peneliti lakukan diperoleh informasi bahwa guru masih


8

kurang profesional dalam menggunakan model pembelajaran, di mana

guru masih kurang terampil dalam memadukan materi pembelajaran

dengan model pembelaran yang di gunakan, sehingga membuat

pembelajaran IPS menjadi membosankan. Selain itu pembelajaran hanya

terjadi satu arah (hanya guru yang berperan aktif saat proses pembelajaran)

dan bukan hanya itu saja pendidik hanya bisa menggunakan metode

konvensional yang merupakan metode tradisional seperti ceramah atau

penugasan di saat proses pembelajaran di mulai, sehingga proses

pembelajaran menjadi membosankan, tidak menyenangkan dan hal

tersebut mengakibatkan peserta didik cepat menggantuk dan tertidur dalam

ruangan, maka dengan adanya hal tersebut tentunya proses belajar yang

tadinya kita harapkan dapat berjalan dengan lancar dan optimal ternyata

tidak sesuai dengan kenyataan.

Banyaknya persepsi peserta didik tentang pembelajaran IPS yang

penuh dengan hapalan dan tidak terlalu penting karena tidak masuk pada

ujian sekolah. Dari hasil belajar peserta didik diperoleh data bahwa masih

ada peserta didik yang mendapatkan nilai rendah pada mata pelajaran IPS.

Masih ada 17 orang peserta didik yang mendapat nilai <70 untuk mata

pelajaran IPS, hanya 8 orang peserta didik yang mendapatkan nilai > 70,

sedangkan nilai KKM yang ditetapkan oleh kurikulum sekolah yaitu 70

untuk mata pelajaran IPS. Permasalahan yang dihadapi guru di sekolah

dasar (SD), termasuk di MIN 6 Majalengka adalah kurangnya minat atau

partisipasi aktif peserta didik selama mengikuti proses pembelajaran.


9

Gejala tentang kurangnya minat peserta didik ini, lebih terasa pada saat

pertengahan sampai dengan berakhirnya pembelajaran. Pada rentang

waktu tersebut peserta didik terlihat jenuh, jarang bertanya ataupun

menjawab pertanyaan, bahkan tidak memperhatikan materi pembelajaran

yang dijelaskan oleh guru.

Dengan melihat pelaksanaan pembelajaran diatas pada mata

pelajaran IPS tersebut diperlukan adanya suatu upaya untuk meningkatkan

hasil belajar pada mata pelajaran IPS, agar siswa menjadi aktif dalam

mengembangkan keterampilan serta memahami konsep-konsep IPS

dengan mudah sehingga hasil belajar siswa dapat memenuhi kriteria

ketuntasan minimal yang telah ditetapkan sekolah.

Untuk meminimalisir permasalahan di MIN 6 Majalengka maka

perlu penerapan model pembelajaran Cooperative Learning . Menurut

Artz & Newman, 1990 (dalam Huda : 2014) didefinisikan sebagai :

small groups of learners working together as a team to solve a


problem, complete a task, or accomplish a command goal.

Model pembelajaran kooperatif mengharuskan siswa untuk

bekerja sama dan saling bergantung secara positif antar satu sama lain

dalam konteks struktur tugas,struktur tujuan, dan struktur reward. Gagasan

dibalik pembelajaran ini adalah bagaimana materi pembelajaran dirancang

sedemikian rupa hingga siswa dapat bekerja sama untuk mencapai sasaran

sasaran pembelajaran.

Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah solusi untuk mengatasi

permasalahan tersebut. Salah satu solusi agar hasil belajar siswa pada
10

materi Kenampakan Alam dan Keragaman Sosial Budaya dapat meningkat

yakni memilih model pembelajaran yang dapat memberikan kesempatan

seluas-luasnya kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan keinginan

dan kemampuan siswa. Salah satu model pembelajaran yang memberikan

kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk berkembang yakni model

Cooperative Learning tipe Script.

Model pembelajaran Kooperatif Learning tipe [Link]

menurut Lambiotte, dkk. (Huda, 2013: 213) menyatakan bahwa :

Cooperative Script adalah pembelajaran dimana siswa bekerja


secara berpasangan dan bergantian secara lisan dalam
mengikhtisarkan bagian-bagian materi yang dipelajari.
Berdasarkan uraian di atas, maka pada penelitian ini akan

digunakan model Cooperative Learning tipe script dengan pertimbangan

model ini adalah model pembelajaran yang menyenangkan dan melibatkan

siswa sehingga dimungkinkan bagi siswa dapat meningkatkan hasil belajar

dalam materi Kenampakan Alam dan Keragaman Sosial Budaya.

Dari ulasan latar belakang tersebut, maka peneliti merasa tertarik

untuk mengkaji melalui penelitian tindakan kelas dengan judul “UPAYA

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI

PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE SCRIPT PADA MATA

PELAJARAN IPS (PTK PADA MATERI MASALAH SOSIAL DI

KELAS V MIN 6 MAJALENGKA KEC. TALAGA KAB.

MAJALENGKA) ” .
11

C. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat

diindentifikasi masalah-masalah dalam penelitian tindakan kelas di MIN 6

Majalengka Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka ini adalah :

1. Kurang terampilnya guru memadukan materi pembelajaran dengan

Model pembelajaran yang akan digunakan, sehingga membuat

pembelajaran IPS menjadi membosankan.

2. Pembelajaran hanya terjadi satu arah (hanya guru yang berperan aktif

saat proses pembelajaran) sehingga membuat proses pembelajaran

menjadi monoton.

3. Hasil belajar peserta didik mata pelajaran IPS masih rendah,

berdasarkan KKM yang ditetapkan oleh pihak sekolah yaitu 70 untuk

mata pelajaran IPS . 17 orang peserta didik yang mendapat nilai <70

untuk mata pelajaran IPS, sedangkan hanya 8 orang peserta didik yang

mendapatkan nilai > 70.

4. Peserta didik kurang aktif mengikuti pembelajaran IPS.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah

diuraikan dapat dirumuskan adanya permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana penerapan model cooperative learning tipe Script pada

materi Masalah Sosial di Kelas V MIN 6 Majalengka?

2. Bagaimana hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dalam materi

Masalah Sosial di Kelas V MIN 6 Majalengka?


12

3. Apakah pembelajaran IPS dalam materi Masalah Sosial dengan

penerapan model cooperative learning Script dapat meningkatkan

hasil belajar siswa kelas V MIN 6 Majalengka?

E. Tujuan penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas,

maka tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan model

cooperative learning tipe Script pada materi Masalah Sosial di

Kelas V MIN 6 Majalengka.

2. Untuk memperoleh gambaran mengenai hasil belajar peserta didik

pada mata pelajaran IPS dalam materi Masalah Sosial di Kelas V

MIN 6 Majalengka.

3. Untuk mengetahui apakah pembelajaran IPS dalam materi Masalah

Sosial dengan penerapan model cooperative learning tipe Script

dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas V MIN 6

Majalengka.

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini, penulis dapat menguraikannya

sebagai berikut :

1. Manfaat Teoritis

Bagi perkembangan keilmuan, peneliti ini memberikan sumbangan

teoretis tentang penggunaan model pembelajaran Cooperative Script


13

dalam upaya meningkatkan hasil belajar pada pembelajaran IPS pada

peserta didik kelas V MIN 6 Majalengka.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi siswa, menjadi lebih aktif dan termotivasi dalam kegiatan

pembelajaran, peserta didik berani dalam mengungkapkan

pendapat dan mengajukan pertanyaan, serta mudah memahami

materi pelajaran khususnya dalam mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial (IPS).

b. Bagi guru, penelitian ini akan menjadi masukan agar lebih terampil

dalam merancang model pembelajaran yang akan diterapkan saat

kegiatan belajar mengajar dimulai, sehingga peserta didik senang

dan tidak cepat bosan saat mengikuti proses pembelajaran,

terutama pada mata pelajaran IPS.

c. Bagi Sekolah, penelitian ini bermanfaat sebagai masukan bagi

Sekolah Dasar agar meningkatkan kinerja para guru dalam

meningkatakan hasil belajar peserta didik.

d. Bagi peneliti lain, Untuk menambah pengetahuan dan berbagai

sarana untuk menerapkan pengetahuan di bangku kuliah terhadap

masalah yang nyata serta dapat digunakan sebagai bahan untuk

mengembangkan pengetahuan serta bahan pebandingan bagi

pembaca yang akan melakukan pengembangan, khususnya tentang

pengembangan model pembelajaran dalam kegiatan belajar

mengajar.
14

G. Tinjauan pustaka

1) Hakikat Belajar

a. Pengertian Belajar

Menurut pengertian secara Psikologis, belajar merupakan

suatu proses perubahan Yaitu perubahan tingkah laku sebagai

hasil interaksi lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan

hidupnya. Perubahan perubahan tersebut akan nyata dalam

seluryuh aspek tingkah laku.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Belajar adalah

berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah

tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Beberapa pengertian belajar menurut teori :

1) Teori Gestalt

Teori ini dikemukakan oleh Koffka dan Kohler

(dalam Slameto, 2010:11) menurutnya belajar adalah

adanya penyesuaian utama yaitu memperoleh respon

yang tepat untu memecahkan problem yang dihadapi.

Belajar yang penting bukan mengurangi hal hal yang

harus dipelajari, tetapi mengerti atau memperoleh

insight. Adapun sifat sifat belajar dengan insight adalah;

a) insight tergantung pada kemmapuan dasar, b) insight

tergantung pada pengalaman masa lampau yang

relevan, c) insight hanya timbul apabila situasi belajar


15

diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang

perlu dapat diamati, d) insight adalah hal yang harus

dicari tidak dapat jatuh dari langit, e) belajar dengan

insight dapat diulangi, f) insight sekali didapat dapat

digunakan untuk menghadapi situasi situasi yang baru.

Prinsip belajar menurut Gestalt; a) belajar berdasarkan

keseluruhan, b) belajar adalah suatu proses

perkembangan, c) siswa sebagai organism keseluruhan,

d) terjadi transfer, e) belajar adalah reorganisasi

pengalaman, f) belajar harus dengan insight, g) belajar

lebih berhasil bila berhubungan dengan minat dan

keinginan siswa, h) belajar berlangsung terus menerus.

2) Teori J. Bruner

Kata Bruner belajar itu bukan untuk mengubah

tingkah laku seseorang tapi untuk mengubah kurikulum

sekolah menjadi sedemikian rupa sehingga siswa

belajar lebih banyak dan mudah. Sebab itu Bruner

mempunyai pendapat, alangkah baiknya bila sekolah

menyediakan kesempatan bagi siswa untuk maju

dengan kemmapuan siswa dalam mata pelajaran

tertentu. Di dalam proses belajar Bruner mementingkan

partisipasi aktif dari tiap siswa, dan mengenal dengan

baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk


16

meningkatkan proses belajar perlu lingkungan yang

dinamakan “discovery learning environmrnt”, ialah

lingkungan dimana siswa dapat melakukan eksplorasi,

penemuan penemuan baru yang belum dikenal atau

pengertian yang mirip dengan yang sudah diketahui.

Dalam tiap lingkungan selalu ada bermacam macam

masalah, hubungan hubungan dan hambatan yang

dihayati oleh siswa secara berbeda beda pada usia yang

berbeda pula.

Menurut teori ini, dalam belajar guru perlu

memperhatikan 4 hal, yaitu; a) mengusahakan agar

setiap siswa berpartisipasi aktif, minatnya perlu

ditingkatkan, kemudian perlu dibimbing untuk

mencapai tujuan tertentu. b) menganalisis struktur

materi yang akan diajarkan, dan juga perlu disajikan

secara sederhana sehinhgga mudah dimengerti oleh

siswa. c) menganalisis sequence. Guru mengajar, berarti

membimbing siswa melalui urutan pernyataan

pernyataan dari suatu masalah, sehingga siswa

memperoleh pengertian dan dapat mentransfer apa yang

sedang dipelajari. d) member reinforment dan umpan

balik.

3) Teori Piaget
17

Pendapat Piaget mengenai perkembangan proses

belajar pada anak anak yaitu bahwa anak mempunyai

struktur mental yang berbeda dengan orang dewasa.

Mereka bukan merupakan orang dewasa dalam bentuk

kecil, mereka mempunyai cara yang khas untuk

menyatakan kenyataan dan untuk menghayati dunia

sekitarnya. Maka memerlukan pelayanan tersendiri

dalam belajar. Perkembangan mental pada anak melalui

tahap tahap tertentu, menurut suatu urutan yang sama

bagi semua anak. Walaupun berlangsungnya tahap

tahap perkembangan itu melalui suatu urutan tertentu,

tetapi jangka waktu untuk berlatih dari satu tahap ke

tahap yang lain tidaklah selalu sama pada setiap anak.

Perkembangan mental anak dipengaruhi oleh 4 faktor,

yaitu: a) kemasakan, b) pengalaman, c) interaksi sosial,

d) equilibration (proses dari ketiga factor diatas

bersama sama untuk membangun dan memperbaiki

struktur mental).

4) Teori R. Gagne

Menurut Gagne belajar mempunyai dua arti. Yaitu

yang pertama Belajar ialah suatu proses untuk

memperoleh motivasi dalam pengetahuan,

keterampilan, kebiasaan, dan tingkah laku. Yamh


18

kedua yaitu Belajar adalah penguasaan pengetahuan

atau keterampilan yang diperoleh dari intruksi. Gagne

menyatakan pula bahwa segala sesuatu yang dipelajari

manusia dapat dibagi menjadi 5 kategori, yang disebut

The domains of learning, yaitu: a) keterampilan

motoris, b) informasi verbal, c) kemmapuan intelektual,

d) strategi kognitif, e) sikap.

5) Teori Drs. Slameto

Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan

individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi

dengan lingkungannya.

b. Pembelajaran

Pembelajaran dapat dikatakan sebagai hasil memori,

kognisi, dan metakognisi yang berpengaruh terhadap

pemahaman. Hal inilah yang terjadi ketika seseorang sedang

belajar, dan kondisi ini juga sering terjadi dalam kehidupan

sehari hari, karena belajar merupakan proses alamiah setiap

orang. Menurut Wenger (dalam Huda, 2014:2) mengatakan

bahwa pembelajaran bukanlah aktifitas, sesuatu yang dilakukan

seseorang ketika ia tidak melakukan aktifitas yang lain.


19

Pembelajaran bukanlah juga sesuatu yang berhenti dilakukan

oleh seseorang. Lebih dari itu, pembelajaran bisa terjadi

dimana saja dan pada level yang berbeda beda, secara

individual, kolektif, ataupun sosial.

Dengan demikian, pembelajaran dapat diartikan sebagai

proses modifikasi dalam kapasitas manusia yang dipertahankan

dan ditingkatkan levelnya menurut Gagne 1997 (dalam Huda,

2014:3). Selama proses ini, sesorang bisa memilih untuk

melakukan perubahan atau tidak sama sekali terrhadap apa

yang ia lakukan. Ketika pembelajaran diartikan sebagai

perubahan dalam perilaku, tindakan, cara, dan performa, maka

konsekuensinya jelas. Kita bisa mengobservasi, bahkan

memverifikasi pembelajaran itu sendiri sebagai objek.

Hilgard dan Bower 1972 (dalam Huda, 2014:4)

berpendapat bahwa kontroversi mengenai pembelajaran pada

hakikatnya adalah perdebatan mengenai fakta fakta, interpretasi

atas fakta fakta, dan bukan definisi istilah pembelajaran itu

sendiri. Meski demikian, hamper semua orang sepakat bahwa

pembelajaran berkaitan erat dengan pemahaman. Artinya

pembelajaran tidak hnaya berkaitan dengan interpretasi

berbasis fakta, tetapi juga mempresentasikan pemahaman

terapan. Singkatnya pembelajaran merupakan konsep yang

terbuka dan lepas. Kita seseorang berusaha memahami operasi


20

operasi kompleks proses pembelajaran, praktik pembelajaran

itu sendiri sebenarnya telah didefinisikan dengan cara yang

berbeda beda.

Hausstatter dan Nordkvelle 1978 (dalam Huda, 2014:5)

menyatakan bahwa pembelajaran merefleksikan pengetahuan

konseptual yang digunakan secara luas dan memiliki banyak

makna yang berbeda beda. Singkatnya, pembelajaran

merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh banyak

factor. Yang jelas, ia merupakan rekonstruksi dari pengalaman

masa lalu yang berpengaruh terhadap perilaku dan kapasitas

seseorang atau suatu kelompok.

Istilah pembelajaran berhubungan erat dengan pengertian

belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran

terjadi bersama-sama. Belajar dapat terjadi tanpa guru atau

tanpa kegiatan mengajar dan pembelajaran formal lain.

c. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan bagian terpenting dalam

pembelajaran. Nana Sudjana (2009: 3) mendefinisikan hasil

belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku

sebagai hasil belajar dalam pengertian yang lebih luas

mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dimyati

dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar

merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak


21

mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan

proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar

merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.

Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27)

menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai

berikut: a) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang

hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan.

Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian

kaidah, teori, prinsip, atau metode, b) Pemahaman, mencakup

kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang

dipelajari, c) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan

metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan

baru. Misalnya, menggunakan prinsip, d) Analisis, mencakup

kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian

sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.

Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil,

e) Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.

Misalnya kemampuan menyusun suatu program, f) Evaluasi,

mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa

hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai

hasil ulangan.

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan

bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang


22

dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya.

Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif,

afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui

kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data

pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa

dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Manfaat belajar :

1. Dengan belajar dapat menumbuhkan kebiasaan pada

diri orang tersebut.

2. Dengan belajar dapat menumbuhkan motivasi dan dapat

menjadikan seseorang sukses.

3. Dengan belajar akan menambah banyak Ilmu

Pengetahuan.

4. Dapat dijadikan orang yang diperlukan bagi lingkungan

kita.

5. Dapat menambah keterampilan diri kita.

2) Pengertian Model

Menurut Agus Suprijono (2010:46) Model pembelajaran ialah pola

yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran

dikelas maupun tutorial.

Sedangkan menurut Arends :

Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan


digunakan, termasuk didalamnya tujuan-tujuan pembelajaran,
tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan
pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
23

Melalui model pembelajaran guru dapat membantu peserta didik

mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berfikir, dan

mengekspresikan ide. Model pembelajaran berfungsi pula sebagai

pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam

merencanakan aktivitas belajar mengajar.

Dalam proses belajar banyak model pembelajaran yang dipilih

sesuai dengan materi yang disampaikan oleh guru. Macam-macam

model pembelajaran tersebut antara lain: Model Pembelajaran

Kontekstual, Model Pembelajaran Kooperatif, Model Pembelajaran

Quantum, Model Pembelajaran Terpadu, Model Pembelajaran

Berbasis masalah (PBL), Model Pembelajaran Langsung (Direct

Instruction), Model Pembelajaran diskusi.

a) Model Cooperatif Learning

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk

pembelajaran yang didasarkan faham konstruktivis yang

berpandangan bahwa anak-anak diberi kesempatan agar

menggunakan secara sadar strateginya sendiri dalam belajar,

sedangkan guru membimbing siswa ke tingkat pengetahuan yang

lebih tinggi (Slavin, 1994; Abruscato, 1999). Pembelajaran

kooperatif merupakan model pembelajaran yang melibatkan

sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat

kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas


24

kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja

sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran.

Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai

jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan

pelajaran.

Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik

pembelajaran kooperatif sebagaimana dikemukakan oleh Slavin

(1995), yaitu penghargaan kelompok, pertanggung jawaban

individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil.

1) Penghargaan kelompok

Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-

tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan

kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok

mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan.

Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan

individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan

hubungan antar personal yang saling mendukung, saling

membantu, dan saling peduli.

2) Pertanggung jawaban individu

Keberhasilan kelompok tergantung dari

pembelajaran individu dari semua anggota kelompok.

Pertanggung jawaban tersebut menitikberatkan pada

aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam


25

belajar. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga

menjadikan setiap anggota siap untuk menghadapi tes dan

tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuan teman

sekelompoknya.

3) Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan

Pembelajaran kooperatif menggunakan metode

skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan

peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dari yang

terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap

siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi

sama-sama memperoleh kesempatan untukberhasil dan

melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.

Tujuan Pembelajaran Kooperatif :

Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan

kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi,

dimana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan

orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif

adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu

ditentukan atau dipengaruhi olehkeberhasilan kelompoknya

(Slavin, 1994). Model pembelajaran kooperatif

dikembangkan untuk mencapai tidaknya tiga tujuan

pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, et al.

(2000), yaitu:
26

1) Hasil belajar akademik

Dalam belajar kooperatif meskipun

mencakup beragam tujuan sosial, juga

memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas

akademis penting lainnya. Beberapa ahli

berpendapat bahwa model ini unggul dalam

membantusiswa memahami konsep-konsep

sulit. Para pengembang model ini telah

menunjukkan bahwa model struktur

penghargaan kooperatif telah dapat

meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik

dan perubahan norma yang berhubungan dengan

hasil belajar. Di samping mengubah norma yang

berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran

kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada

siswa kelompok bawah maupun kelompok atas

yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-

tugas akademik.

2) Penerimaan terhadap perbedaan individu

Tujuan lain model pembelajaran kooperatif

adalah penerimaan secara luas dari orang-orang

yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas

sosial, kemampuan, ketidakmampuannya.


27

Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi

siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi

untuk bekerja dengan saling bergantung pada

tugas-tugas akademik dan melalui struktur

penghargaan kooperatif akan belajar saling

menghargai satu sama lain.

3) Pengembangan keterampilan sosial

Tujuan penting ketiga pembelajaran

kooperatif adalah, mengajarkan kepada siswa

keterampilan bekerja sama dan kolaborasi.

Keterampilan-keterampilan sosial, penting

dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak

muda masih kurang dalam keterampilan sosial.

b) Cooperative Script

1. Pengertian Cooperative Script

Menurut Lambiotte, dkk, 1988 (dalam Huda,

2013:213) Cooperative Script adalah salah satu strategi

pembelajran dimana siswa bekerja secara pasangan dan

bergantian secara lisan dalam mengikhtisarkan bafgian

materi materi yang dipelajari. Strategi ini ditunjiukan untuk

membantu siswa berpikir secara sistematis dan

berkonsentrasi pada materi pelajaran. Siswa juga dilatih

untuk bekerja sama dalam suasana yang menyenangkan.


28

Cooperative Script juga memungkinkan siswa untuk

menemukan ide ide pokok dari gagasan besar yang

disampaikan oleh guru.

2. Langkah langkah dalam Cooperative Script

Sintak tahap tahap pelaksanaan strategi

pembelajaran Cooperative Script adalah :

a. Guru membagi siswa ke dalam kelompok

kelompok berpasangan.

b. Guru membagi wacana/materi untuk dibaca dan

dibuat ringkasannya.

c. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama

berperan sebagai pembicara dan siapa yang

berperan sebagai pendengar.

d. Pembicara membacakan ringkasan selengkap

mungkin dengan memasukan ide ide pokok ke

dalam ringkasannya. Selama proses pembacaan,

siswa siswi lain harus menyimak/menunjukan

ide ide pokok yang kurang lengkap dan

membantu mengingat dan menghapal ide ide

pokok dengan menghubungkannya dengan

materi sebelumnya atau dengan materi lain.


29

e. Siswa bertukar peran, yang semula sebagai

pembicara ditukar menjadi pendengar dan

sebaliknya.

f. Guru dan siswa melakukan kembali kegiatan

seperti diatas.

g. Guru dan siswa bersama sama membuat

kesimpulan materi pelajaran.

h. Penutup.

3. Kelebihan Cooperatif Script :

a. Dapat menumbuhkan ide atau gagasan baru, daya

berpikir kritis,serta mengembangkan jiwa keberanian

dalam menyampaikan hal hal baru yang diyakini benar.

b. Mengajarkan siswa untuk percaya kepada guru dan

lebih percaya lagi pada kemampuan sendiri untuk

berpikir, mencari informasi dan sumber lain, dan belajar

dari siswa lain.

c. Mendorong siswa untuk berlatih memecahkan masalah

dengan mengungkapkan idenya secara verbal dan

membandingkan ide siswa dengan ide temannya.

d. Membantu siswa belajar menghormati siswa yang

pintar dan siswa yang kurang pintar serta menerima

perbedaan yang ada.


30

e. Memotivasi siswa yang kurang pandai agar mampu

mengungkapkan pemikirannya.

f. Memudahkan siswa berdiskusi dan melakukan interaksi

sosial.

g. Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.

4) Ilmu Pengetahuan Sosial

a. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

Istilah “Ilmu Pengetahuan Sosial” disingkat IPS,

merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar

dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi

identik dengan istilah “social studies” Sapriya (2009: 19)

menyatakan bahwa :

Istilah IPS di sekolah dasar merupakan nama mata


pelajaran yang berdiri sendiri sebagai integrasi dari
sejumlah konsep disiplin ilmu sosial, humaniora, sains
bahkan berbagai isu dan masalah sosial kehidupan.

Materi IPS untuk jenjang sekolah dasar tidak

terlihat aspek disiplin ilmu karena lebih dipentingkan

adalah dimensi pedagogik dan psikologis serta karakteristik

kemampuan berpikir peserta didik yang bersifat holistik.

IPS adalah suatu bahan kajian terpadu yang

merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan

modifikasi diorganisasikan dari konsep-konsep

ketrampilan-ketrampilan Sejarah, Geografi, Sosiologi,


31

Antropologi, dan Ekonomi. Adanya mata pelajaran IPS di

Sekolah Dasar para siswa diharapkan dapat memiliki

pengetahuan dan wawasan tentang konsep-konsep dasar

ilmu sosial dan humaniora, memiliki kepekaan dan

kesadaran terhadap masalah sosial di lingkungannya, serta

memiliki keterampilan mengkaji dan memecahkan

masalah-masalah sosial tersebut.

Pembelajaran IPS lebih menekankan pada aspek

“pendidikan” dari pada transfer konsep karena dalam

pembelajaran IPS siswa diharapkan memperoleh

pemahaman terhadap sejumlah konsep dan

mengembangkan serta melatih sikap, nilai, moral dan

ketrampilannya berdasarkan konsep yang telah dimilikinya.

IPS juga membahas hubungan antara manusia dengan

lingkungannya. Lingkungan masyarakat dimana anak didik

tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat

dan dihadapkan pada berbagai permasalahan di lingkungan

sekitarnya.

Berdasarkan uraian di atas peneliti menyimpulkan

bahwa :

Pembelajaran IPS sebagai proses belajar yang


mengintegrasikan konsep-konsep terpilih dari berbagai
ilmu-ilmu sosial dan humaniora siswa agar
berlangsung secara optimal.

b. Tujuan Pembelajaran IPS


32

Hakikat tujuan mata pelajaran IPS menurut Chapin,

J.R, Messick, R.G. (dalam Ichas Hamid Al -lamri dan

Tuti Istianti, 2006: 15) dapat diidentifikasi sebagai

berikut:

1. Membina pengetahuan siswa tentang pengalaman

manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa

lalu, sekarang, dan dimasa yang akan datang.

2. Menolong siswa untuk mengembangkan

ketrampilan (skill) untuk mencari dan mengolah/

memproses informasi.

3. Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/

sikap(value) demokrasi dalam kehidupan

bermasyarakat.

4. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk

mengambil bagian/ berperan serta dalam kehidupan

sosial.

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

(2006: 67), mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik

memiliki kemampuan sebagai berikut:

1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan

kehidupan masyarakat dan lingkungannya.


33

2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan

kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah,

dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

3. Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai

sosial dan kemanusiaan.

4. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan

berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di

tingkat lokal, nasional, dan global.

Beberapa pengertian tentang Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

seperti yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli di atas,

maka dapat peneliti simpulkan bahwa :

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah salah satu mata


pelajaran yang memadukan konsep-konsep dasar ilmu
sosial seperti geografi, sejarah, antropologi, dan psikologi
untuk diajarkan pada jenjang pendidikan.
5) SK dan KD

SK : Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan

kemajuan teknologi dilingkungan kabupaten/kota dan

provinsi.

KD : Mengenal permasalahan sosial di daerahnya

H. Hasil Penelitian yang relevan

1) Nama : Najwa

Ana
34

Andin

Tahun : 2022-2023

Judul : Penerapan Model Cooperative Script untuk Meningkatkan

Aktivitas dan Hasil Belajar IPS

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil

belajar siswa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe

cooperative script. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas

(PTK) yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri

dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan lembar observasi

dan tes tertulis. Teknik analisis data yaitu analisis data kualitatif dan

kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model

kooperatif tipe cooperative script dapat meningkatkan aktivitas dan

hasil belajar siswa.

MIN 6 Majalengka, Kecamatan Talaga, Kab Majalengka. MIN 6

Majalengka memiliki tanah seluas 4.560 m2 dengan luas bangunan

914 m2. pada tahun pelajaran 2014/2015 terdiri dari kepala sekolah, 7

guru tetap (PNS), 3 guru honorer, 1 orang penjaga sekolah, 1 orang

staf tata usaha, dan 1 orang penjaga perpustakaan. Jumlah siswa MIN

6 Majalengka yaitu 139 orang dengan siswa laki-laki sebanyak 85

orang dan siswa perempuan sebanyak 57 orang.

Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran

2022/2023. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus


35

dan masing-masing siklus terdiri dari satu pertemuan. Perbaikan

pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe cooperative

script dimulai pada Selasa, 3 Februari 2014 pada pukul 08.30-09.30

WIB. Materi yang dibahas yaitu mengenai peranan sumpah pemuda 28

Oktober 1928 dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Siklus II

dilaksanakan pada Selasa, 10 Februari 2015, pada pukul 08.30-09.30

WIB. Materi yang dibahas yaitu mengenai perumusan dasar negara.

Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa terjadi

peningkatan, kinerja guru aktivitas belajar siswa dan hasil belajar

siswa pada pembelajaran IPS siswa kelas VB dengan menerapkan

model pembelajaran kooperatif tipe cooperative

script. Siswa telah mencapai indikator keberhasilan pembelajaran

dan telah mencapai KKM yang ditentukan yaitu 66.

Kata kunci: aktivitas, cooperative script, hasil belajar.

2) Nama : Ana sofiatun

Tahun : 2022-2023

Judul : Pengaruh Penerapan model Cooperative Tipe Script

terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Geografi

Materi Lingkungan Hidup.

Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh penerapan

model Cooperative script yang digunakan dalam pembelajaran

Geografi terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini melibatkan


36

kelompok perlakuan kelas dan kelompok Respon kelas. Penelitian ini

ditujukan untuk mengetahui seberapa besar perbedaan hasil belajar

siswa yang menerapkan model Cooperative Script dengan hasil

belajar siswa yang hanya menggunakan model pembelajaran

Convensional. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V

MIN 6 Majalengka. Sampel diambil dengan menggunakan tehnik

cluster random sampling kemudian ditentukan kelas eksperimen

sebanyak 25 siswa yaitu kelasV, kelas Respon sebanyak 25 siswa

yaitu kelas V

Instrumen penelitian menggunakan tes. Tes ini dilaksanakan pada

siswa yang ada dikelompok perlakuan dan juga pada kelompok

Respon.

Kata Kunci : Hasil Belajar Siswa dan Model Cooperative Tipe Script

I. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan pembahasan diatas, maka dapat

dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini adalah: Dengan menerapkan

model pembelajaran Cooperative Learning tipe Script dapat meningkatkan

keaktifan dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS pada siswa kelas

V MIN 6 Majalengka Kec. Talaga Kab. Majalengka.

J. Metodologi Penelitian

1) Setting Penelitian

a) Waktu Penelitian
37

Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu mulai bulan

Januari sampai dengan bulan Maret 2022 dan dilakuakan pada

Semester 2 atau Semester Genap. Dengan rincian kegiatan mulai

dari persiapan penyusunan proposal dan instrumen bulan Januari

2022, pelaksanaan prasiklus, siklus I, II. bulan Februari 2022,

analisis data bulan Februari 2022 , sedangkan penyimpulan hasil

penelitian, perbaikan dan penjilidan laporan pada bulan Maret

2022.

Alasan waktu yang digunakan adalah dengan melihat

kalender pendidikan untuk semester 2 yang kisarannya kurang

lebih sekitar 1 bulan lagi yaitu bulan januari, Februari dan Maret.

b) Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MIN 6 Majalengka. Sekolah

ini terletak di Desa Gunungmanik, Kecamatan Talaga, Kabupaten

Majalengka. Secara umum kondisi fisik MIN 6 Majalengka dapat

dikatakan telah memenuhi syarat kekondusifan bagi

berlangsungnya proses belajar mengajar.

Tempat penelitian ini penulis pilih karena lokasi penelitian

yang strategis dimana mudah dijangkau dari segala arah selain itu

juga lokasi penelitian ini dekat dengan lokasi tempat tinggal

penulis sehingga akan memudahkan penulis dalam pengambilan

data, mengkomunikasikan tahapan penelitian dan melaksanakan

penelitian yang akan dilaksanakan.


38

2) Subjek dan Objek Penelitian

Lokasi dalam penelitian ini adalah di MIN 6 Majalengka, yang

merupakan salah satu Sekolah Dasar Negeri yang berada di Kecamatan

Talaga. Sekolah ini mempunyai jumlah kelas sebanyak 6 kelas dari

kelas 1 sampai kelas 6, setiap jenjang hanya memiliki satu kelas.

Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas V di MIN 6

Majalengka, dengan jumlah siswa 25 orang, banyaknya siswa laki laki

10 orang, dan siswa perempuan sebanyak 15 orang.

3) Sumber Data

Menurut Arikunto (2006:129) yang dimaksud sumber data dalam

penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh. Apabila

peneliti menggunakan kuesioner atau wawancara dalam pengumpulan

datanya, maka sumber data disebut responden, yaitu orang yang

merespon atau menjawab pertanyaan pertanyaan peneliti, baik

pertanyaan tertulis maupun lisan. Apabila peneliti menggunakan teknik

observasi, maka sumber datanya bisa berupa benda, gerak atau proses

sesuatu.

Apabila peneliti menggunakan dokumentasi, maka dokumen atau

catatanlah yang menjadi sumber data, sedang isi catatan subjek

penelitian atau variabel penelitian. Sumber data dapat dibedakan

menjadi dua, yaitu data Primer dan data Sekunder.

Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh

peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga
39

sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date. Untuk

mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara

langsung. Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui tangan

kedua, atau data yang dikumpulkan, diolah dan disajikan oleh pihak

lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dan subjek penelitian.

Dalam hal ini data primer yang digunakan adalah hasil formatif

dan observasi terhadap siswa kelas V MIN 6 Majalengka Kec. Talaga

Kab. Majalengka Tahun Pelajaran 2022-2023. Termasuk dalam

penelitian ini sumber data primer adalah siswa kelas V MIN ^

Majalengka Kec. Talaga Kab. Majalengka Tahun Pelajaran 2022 –

2023 dan data sekunder berbentuk dokumentasi dan hasil tes kegiatan

PBM materi Kenampakan alam dan keragaman sosial budaya.

4) Teknik dan Alat Pengumpul Data

a) Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data atau Instrumen penelitian dapat

didefinisikan sebagai alat pengumpulan data yang telah baku atau

alat pengumpulan data yang memiliki standar validitas dan

realibilitas. Instrumen yang valid dan reliabel, akan sangat

menentukan kualitas data yang dikumpulkan. Suatu instrument

selain memiliki norma validitas dan realibilitas, juga harus

memiliki nilai objektifitas dan prosedur baku untuk

penggunaannya. Menurut Arikunto 2002 (dalam Badriah DL,,

2009:90) mengatakan bahwa instrument adalah alat pada waktu


40

penelitian menggunakan sesuatu metode. Instrument yang

digunakan peneliti dala penelitian kali ini adalah:

1. Teknis Tes

Evaluasi ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar

siswa dengan menggunakan model pembelajran Cooperative

Learning tipe Script pada materi Masalah Sosial. Tes yang

dilakukan peneliti untuk mengukur hasil yang diperoleh siswa

setelah diberikan tindakan. Tes berupa soal evaluasi, yang

berisi pertanyaan pertanyaan yang berkaitan dengan materi

Masalah Sosial yang telah dipelajari. Bentuk soal tes berupa

soal uraian terbatas dengan soal uraian 5 soal, dan Pilihan

Ganda sebanyak 10 soal untuk mengukur hasil belajar siswa.

(Selengkapnya terlampir).

2. Teknik Non Tes

Teknik Non Tes adalah suatu teknik penilaian yang

dilakukan tanpa menggunakan tes, akan tetapi dilakukan

dengan melalui pengamatan. Teknik non tes dilaksanakan

dengan melakukan wawancara dan observasi.

3. Dokumentasi

Metode dokumentasi digunakan peneliti untuk mengetahui

beberapa dokumen yang terkait dengan proses pelaksanaan

metode Cooperative Learning tipe Script pada pembelajaran

IPS di kelas V MIN 6 Majalengka, kecamatan Talaga,


41

Kabupaten Majalengka, seperti RPP, LOS, soal kuis dan daftar

siswa.

b) Alat Pengumpulan Data

a. Teknik tes

1. Tes tulis, yaitu tes tulis atau soal latihan yang diberikan

kepada siswa. Tes tulis pada penelitian ini berupa latihan

soal IPS Kenampakan alam dan keragaman sosial budaya.

Tes ini digunakan untuk mengetahui peningkatan hasil

belajar siswa setelah menerapkan model Cooperative

Learning tipe Script.

2. Tes lisan, yaitu tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan

mengadakan tanya jawab secara langsung dengan peserta

didik.

b. Teknik Non tes

1. Lembar Observasi

Lembar Observasi digunakan sebagai pedoman

untuk memudahkan pengambilan data pada saat penelitian

dilakukan. Lembar observasi berupa pedoman saat

melakukan pada saat aktifitas guru dan siswa yang terjadi

ketika proses pembelajaran berlangsung dan penerapan

model pembelajaran Cooperative Script di dalam kelas.

Lembar observasi berisi pertanyaan pertanyaan yang terkait

dengan keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan


42

alternative jawaban “Ya” dan “Tidak” serta keterangan

untuk mendukung observer memilih alternative jawaban

tersebut. (Selengkapnya Terlampir)

2. Angket

Angket digunakan untuk mengetahui efektifitas dari

penerapan model pembelajaarn Cooperative Learning tipe

Script pada pembelajaran IPS materi Masalah Sosial.

Angket berisi pertanyaan pertanyaan yang dapat mengukur

efektifitas pelaksanaan model pembelajaran Cooperative

Learning tipe Script pada pembelajaran IPS materi Masalah

Sosial. (Selengkapnya Terlampir)

3. Wawancara

Menurut Badriah DL, dalam bukunya yang berjudul

Metodologi Penelitian (2009:97) wawancara adalah proses

percakapan yang berbentuk tanya jawab cengan tatap muka

langsung antara si penanya (pewawancara) dengan si

penjawan (yang di wawancarai). Jenis wawancara yang

digunakan peneliti adalah wawancara bebas, yang artinya

pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi selalu

memperhatikan rambu rambu dan standar data apa yang

harus diperoleh.
43

5) Prosedur Penelitian

Penelitian yang dilaksanakan penulis adalah penelitian tindakan

kelas. Desain penelitian yang penulis laksanakan adalah menggunakan

model Penelitian Tindakan Kelas berdasarkan dari Kemmis dan Mc

Taggart (1988). Penelitian Tindakan Kelas model ini terdiri dari 3

siklus penelitian dan setiap siklus dijalankan dalam 4 tahap mencakup

kegiatan perencanaan (Planning), pelaksanaan (Action), pengamatan

(Observation), dan refleksi (Reflection). Tiga siklus yaitu terdiri dari

siklus I, siklus II dan siklus III, siklus II merupakan siklus perbaikan

pembelajaran yang dilaksanakan pada siklus I merupakan perbaikan

dari proses pembelajaran siklus II. Apabila pada siklus II sudah

berhasil maka kegiatan pembelajaran pun boleh hanya sampai pada

siklus II saja, model tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :


PERENCANAAN

REFLEKSI
PELAKSANAAN
PENGAMATAN

PERENCANAAN

REFLEKSI PELAKSANAAN

PENGAMATAN

PERENCANAAN

REFLEKSI PELAKSANAAN

PENGAMATAN
44

Desain Penelitian Tindakan Kelas Model Kemmis & Mc Taggart

Keempat tahap dalam penelitian tindakan tersebut adalah unsur

untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran beruntun yang

kembali ke langkah semula. Jadi satu siklus adalah dari tahap

penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain

adalah evaluasi. Diuraikan sebagai berikut:

1. Perencanaan (planning)

Pada langkah perencanaan peneliti mengawali dengan

menyiapkan keperluan dalam melaksanakan pembelajaran

seperti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP),

membuat lembar evaluasi hasil belajar peserta didik dengan

indicator 10 soal pilihan ganda dan 5 soal uraian, membuat

lebar observasi pembelajaran dan menyiapkan media

pembelajaran seperti gambar gambar yang berhubungan

dengan materi terkait.

2. Tindakan (Acting)

Pada tahap ini, semua yang sudah dipersiapkan dalam tahap

perencanaan kemudian dilaksanakan pada tahap tindakan.

Tahap melaksanakan tindakan dilakukan untuk mengetahui

pelaksanaan dan penilaian pembelajaran baik terhadap

pemahaman siswa maupun aktivitas belajar mengajar dengan

menggunakan model Cooperative tipe Script.

3. Pengamatan (observing)
45

Setiap tindakan pembelajaran dilakukan observasi, dalam

penelitian kali ini peneliti dibantu wali kelas V sebagai

observer untuk mengamati pembelajaran yang dilakukan dalam

penelitian kali ini. Instrument yang digunakan berupa lembar

observasi pembelajaran yang meliputi pelaksanaan

pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat.

4. Refleksi ( reflecting)

Setelah dilakukan pengamatan selanjutnya yaitu tahap

refleksi. Refleksi dilakukan terhadap pelaksanaan penerapan

model Cooperative tipe Script, serta menganalisis kelebihan

dan kekurangannya. Pada tahap ini data dan hasil yang

diperoleh pada tahap perencanaan, tindakan, pengamatan,

kemudian dianalisis untuk mengetahui sejauh mana penerapan

model pembelajaran Cooperative tipe Script, yang sudah

dilakukan sehingga dapat dijadikan pedoman dan bahan

pertimbangan untuk memperbaiki pelaksanaan tindakan pada

siklus berikutnya. Jika ditemukan masalah maka dilakukan

proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya hingga

permasalahan dapat teratasi.

Selanjutnya langkah-langkah dalam pelaksanaan penelitian

tindakan kelas secara bertahap dapat digambarkan sebagai

berikut:

A. Siklus I
46

a. Tahap Perencanaan (Planning)

Permintaan izin kepada Kepala Sekolah MIN 6

Majalengka, merumuskan media dan desain

pembelajaran yang digunakan dalam penelitian

tindakan kelas, membuat rencana pelaksanaan

pembelajaran (RPP) berdasarkan pada tahapan-tahapan

kooperatif tipe Scrip.

b. Tahap Pelaksanaan

Tindakan I

Perencanaan tindakan I

1. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

2. Menyiapkan media yang akan digunakan

3. Menyiapkan lembar observasi siswa dan kinerja

guru

Pelaksanaan tindakan I

Melakukan pembelajaran dengan materi Masalah

Sosial menggunakan model Cooperative Script.

Observasi tindakan I

Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,

mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa

selama pembelajaran berlangsung.

Refleksi tindakan I
47

Masih adanya kelemahman dalam siklus I tindakan

I sehingga perlu di adakan perbaikan pada tindakan

selanjutnya.

Tindakan II

Perencanaan tindakan II

1. Menyususun rencana pelaksanaan pembelajaran

sesuai dengan indikator yang digunakan.

2. Menyiapkan lembar observasi kinerja guru, aktvitas

siswa dan lembar tes.

Pelaksanaan tindakan II

Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana

pelaksanaan pembelajaran mengenai materi Kenampakan

alam dan keragaman sosial budaya yang membedakan

hanya pada indikator dan adanya tes siklus.

Observasi tindakan II

Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,

mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa

selama pembelajaran berlangsung.

Refleksi tindakan II

Masih adanya kelemahman dalam siklus I tindakan

II sehingga perlu di adakan perbaikan.

c. Observasi Siklus I
48

Pengamatan dilakukan melihat aktivitas guru dan siswa

pada saat pembelajaran dengan menggunakan model

Cooperative tipe Script. Penilaian terhadap siswa saat

proses pembelajaran Cooperative Script, yaitu pada aspek

diskusi kelompok dan mempersentasikan hasil diskusi

kelompok.

d. Refleksi Siklus I

Dalam kegiatan ini, dilakukan analisis dan evaluasi

terhadap kegiatan yang dilakukan pada siklus I tindakan 1

dan 2. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menganalisis

berbagai temuan serta untuk mengetahui ketercapaian

tujuan dalam setiap tindakan. Selain itu, refleksi

dilaksanakan pula untuk mendapat kejelasan dan

gambaran dalam merancang dan mempersiapkan siklus

selanjutnya siklus II.

1. Siklus II

a. Perencanaan Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan pada

akhir siklus I, maka dirancanglah rencana pembelajaran

untuk siklus II.

b. Pelaksanaan Siklus II

Tindakan I

Perencanaan
49

2. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran

3. Menyiapkan media yang akan digunakan

4. Menyiapkan lembar observasi siswa dan kinerja guru

Pelaksanaan tindakan I

Melakukan pembelajaran dengan materi Kenampakan alam

dan keragaman sosial budaya serta menggunakan model

Cooperative learning tipe Script.

Observasi tindakan I

Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,

mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa

selama pembelajaran berlangsung.

Refleksi tindakan I

Masih adanya kelemahman dalam siklus II tindakan I

sehingga perlu di adakan perbaikan pada tindakan

selanjutnya.

Tindakan II

Perencanaan tindakan II

5. Menyususun rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai

dengan indikator yang digunakan.

6. Menyiapkan lembar observasi kinerja guru, aktvitas

siswa dan lembar tes.

Pelaksanaan tindakan II
50

Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana

pelaksanaan pembelajaran mengenai materi kenampakan

alam dan keragaman sosial budaya yang membedakan

hanya pada indikator dan adanya tes siklus.

Observasi tindakan II

Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,

mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa

selama pembelajaran berlangsung.

Refleksi tindakan II

Masih adanya kelemahman dalam siklus II tindakan

II sehingga perlu di adakan perbaikan.

c. Observasi siklus II

Pengamatan dilakukan melihat aktivitas guru dan

siswa pada saat pembelajaran mengenai materi kenampakan

alam dan keragaman sosial budaya dengan model

Cooperative tipe Script. Penilaian terhadap siswa saat

proses pembelajaran model Cooperative Script, pada saat

diskusi kelompok dan mempresentasikan hasil dari diskusi

kelompok.

d. Refleksi siklus II

Kegiatan ini dilakukan analisis dan evaluasi

terhadap kegiatan yang dilakukan pada siklus II tindakan I


51

dan 2. kegiatan ini untuk menganalisis berbagai temuan

serta untuk mengetahui ketercapaian tujuan dalam setiap

tindakan. Selain itu, refleksi dilaksanakan pula untuk

mendapat kejelasan dan gambaran dalam mempersiapkan

siklus selanjutnya.

2. Siklus III

a. Perencanaan Siklus III

Berdasarkan hasil refleksi yang telah dilakukan

pada akhir siklus II, maka dirancanglah rencana

pembelajaran untuk siklus III

b. Pelaksanaan Siklus III

Tindakan I

Perencanaan tindakan I

1. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran

2. Menyiapkan media yang akan digunakan

3. Menyiapkan lembar observasi siswa dan kinerja guru

Pelaksanaan tindakan I

Melakukan pembelajaran mengenai materi Masalah

Sosial dengan menggunakan model Cooperative learning

tipe Script.

Observasi tindakan I
52

Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,

mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa

selama pembelajaran berlangsung.

Refleksi tindakan I

Masih adanya kelemahman dalam siklus III

tindakan I sehingga perlu di adakan perbaikan pada

tindakan selanjutnya.

Tindakan II

Perencanaan tindakan II

1 Menyususun rencana pelaksanaan pembelajaran sesuai

dengan indikator yang digunakan.

2 Menyiapkan lembar observasi kinerja guru, aktvitas

siswa dan lembar tes.

Pelaksanaan tindakan II

Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana

pelaksanaan pembelajaran mengenai materi Masalah Sosial

yang membedakan hanya pada indikator dan adanya tes

siklus.

Observasi tindakan II

Melihat proses pembelajaran yang dilakukan guru,

mengobservasi aktivitas kinerja guru dan aktivitas siswa

selama pembelajaran berlangsung.

Refleksi tindakan II
53

Proses pembelajaran dan mengenai hasil belajar

siswa mengenai materi Masalah Sosial meningkat dari

siklus sebelumnya.

c. Observasi Siklus III

Pengamatan dilakukan melihat aktivitas guru dan

siswa pada saat pembelajaran dengan menggunakan model

Cooperative Script. Penilaian terhadap siswa saat proses

pembelajaran model cooperative script yaitu pada saat

diskusi kelompok, saat mempresentasikan hasil diskusi

kelompokdan kerjasama.

d. Refleksi siklus III

Kegiatan ini dilakukan setelah peneliti melakukan

pengolahan data secara kualitatif dan kuantitatif terhadap

data-data yang diperoleh pada siklus III tindakan 1 dan 2.

Kegiatan ini dilakukan untuk menganalisis serta

mengevaluasi berbagai temuan serta untuk mengetahui

ketercapaian tujuan pembelajaran pada suatu tindakan.

Refleksi juga dilakukan untuk menjelaskan secara

keseluruhan tindakan-tindakan yang telah dilakukan. Selain

itu, dilaksanakan pula refleksi secara keseluruhan terhadap

tindakan-tindakan dari setiap siklusnya, sebagai kesimpulan

akhir dari penelitian yang dilaksanakan.


54

K. Validasi Data

Menurut Badriah DL, (2006:104) validasi atau validitas sudah pasti

mempersoalkan apakah benar benar kita mengukur apa yang kita pikir

sedang kita ukur.

Sedangkan menurut Sugiyono (2015) :

Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi


pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh
peneliti. Suatu data dikatakan valid apabila tidak ada perbedaan
antara data yang dilaporkan peneliti dengan data yang
sesungguhnya.

Ada dua macam validitas penelitian, yaitu Validitas internal dan

validitas eksternal. Menurut Badriah DL (2006) validitas internal berkaitan

dengan kekuatan kesahihan yang melekat pada variabel penilaian yang

diukur atau dijadikan percobaan dan berkaitan dengan ketepatan

penggunaan alat ukur untuk variabel tersebut. Artinya apabila ada variabel

terikat benar benar disebabkan oleh perlakuan (variabel bebas) yang

diberikandan bukan oleh factor atau variabel diluar itu. Dalam hal ini,

yang biasa menjadi pertimbangan adalah keterlibatan variabel control.

Sedangkan validitas eksternal berkaitan dengan kesahihan dari hasil

percobaan untuk dibuatkan sebuah generalisasi untuk memberikan ukuran

terhadap populasi secara mantap. Hal ini dapat dilakukan dengan

pendekatan randomisasi pada populasi, sehingga hasil percobaan akan

cukup representatif untuk mewakili populasi.

Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji

credibility (validitas interbal), transferability (validitas eksternal),


55

dependability (realibilitas), dan confarmibility (objektivitas). Dalam

penelitian kali ini, peneliti menggunakan uji validitas Triangulasi.

Menurut Wiliam 1986 (dalam Sugiyono, 2015:372) Triangulasi

dapat diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan

berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi

sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu.

Dari ketiga bentuk Triangulasi tersebut, dalam penelitian ini

peneliti menerapkan bentuk triangulasi pengumpulan data. Triangulasi

teknik pengumpulan data ini untuk menguji kredibilitas data dengan cara

mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda,

yaitu melalui observasi dan wawancara. Apabila dengan dua teknik

tersebut menghasilkan data yang berbeda beda, maka peneliti melakukan

diskusi lanjut kepada sumber data bersangkutan guna memastikan

kebenarannya atau mungkin semua dianggap benar karena sudut

pandangnya berbeda beda.

Observasi
Partisifatif

Sumber Wawancara
Data Mendalam
Sama

Dokumentasi

Triangulasi Teknik Pengumpulan Data


56

L. Analisis Data

Data-data dari penelitian ini setelah dikumpulkan kemudian diolah

dan dianalisis. Pengolahan dan analisis data ini dilakukan selama

berlangsungnya penelitian sejak awal sampai akhir pelaksanaan tindakan.

Jenis data yang didapat dalam penelitian ini yaitu data kualitatif dan data

kuantitatif.

1. Data Kuantitatif

Data kuantitatif berasal dari tes siklus untuk hasil belajar siswa

mengenai pembelajaran IPS materi Masalah Sosial. Setelah data

diperoleh, kemudian dilakukan analisis dengan langkah langkah sebagai

berikut:

a. Tes Butir soal

Untuk melihat penilaian akhir siswa setelah diberikan tes, yaitu

rumus:

jumla h skor perole h an


Nilai Akhir = x 100
jumla h skor total

Sumber: ( Arikunto, 2010:30)

b. Untuk menghitung ketuntasan belajar

1) Ketentuan belajar berdasarkan KKM

Indikator keberhasilan penelitian ini adalah Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan untuk kelas V

MIN 6 Majalengka Kecamatan Talaga Kabupaten Majalengka


57

yaitu 70. Siswa dikatakan mencapai ketuntasan belajar bila sudah

mencapai nilai KKM.

No. KKM Kategori

1. 70%-100% Berhasil (Tuntas)

2. 0%-69% Belum Berhasil (Belum Tuntas)

Kategori perolehan Presentase KKM Siswa

2) Ketuntasan Belajar Klasikal

Presentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal

menggunakan rumus:

∑ S ≥ 70 %
TB= X 100 %
N

Keterangan:

TB : Ketuntasan Belajar

∑ S ≥ 70 % : jumlah siswa yang mendapat

nilai lebih besar atau sama dengan

70%

N : jumlah siswa

100% : Bilangan tetap

Pada penelitian ini ketentuan belajar dapat dilihat dari segi

proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran

dikatakan berhasil dan berkualitas apabila 80% atau 20 orang

siswa dari 25 siswa terlihat aktif dalam proses pembelajaran.

Sedangkan dari segi hasil pembelajaran dikatakan berhasil apabila


58

kriteria sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang,

kriteria itu ditentukan dengan menggunakan rumus :

Skor minimal : 20

Skor maksimal : 80

jumlah skor perolehan


Nilai Akhir= X 100
jumlah skor total

Nilai Akhir Keterangan

81 – 100 Sangat Baik

61- 80 Baik

41 – 60 Cukup

21 – 40 Kurang

0-20 Sangat Kurang

Sumber (Arikunto, 2010:30)

c. Lembar aktifitas siswa

Untuk data non tes diperoleh observasi aktifitas siswa pada saat

melaksanakan pembelajaran IPS kelas V MIN 6 Majalengka

denggan menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning

tipe Script aspek yang diamati keaktifan, kerjasama, dan perbuatan

dengan menggunakan criteria sangat baik, baik, cukup, kurang, dan

sangat kurang.
59

Kriteria itu ditentukan dengan rumus :

Skor minimal :7

Skor maksimal : 25

Rumus :

jumlah skor perolehan


Nilai Akhir = X 100
jumlah skor total

Nilai Akhir Keterangan

81 – 100 Sangat Baik

61- 80 Baik

41 – 60 Cukup

21 – 40 Kurang

0-20 Sangat Kurang

Sumber (Arikunto, 2010:30)

2. Data Kualitatif

Menurut Milles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2014:337),

mengemukakan bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan

secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas,

sehingga datanya sudah jenuh. Data kualitatif diperoleh melalui hasil

observasi, hasil wawancara, dan studi dokumentasi. Pengolahan data

kualitatif ini dilakukan dengan cara menerjemahkan dan mendiskusikan

dengan pengamat jika terdapat jawaban pengamat yang perlu

diklarifikasi dari setiap item pertanyaan.


60

Analisis data kualitatif yaitu dengan cara mendeskripsikan hasil

penelitian dalam bentuk narasi. Untuk memperoleh data yang valid perlu

dilakukan triangulasi dari semua sumber data yang diperoleh baik dari

peneliti, observer dan subjek peneliti yaitu siswa selama penelitian

tindakan kelas berlangsung. Langkah langkah dalam analisis data

kualitatif, yaitu:

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Menurut Sugiyono (2014:339) Reduksi Data merupakan proses

berpikir sensitive yang memrlukan kecerdasan dan keluasan dan

kedalaman wawasan yang tinggi. Bagi peneliti dalam melakukan

reduksi data dapat mendiskusikan pada teman atau orang lain yang

dipandnag ahli. Melalui diskusi itu, maka wawasan peneliti akan

berkembang, sehingga dapat mereduksi data data yang memeiliki

nilai temuan dan pengembangan teori yang signifikan.

b. Data Displey (Penyajian Data)

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam

bentuk uraian singkat, bagan, hubungna antar kategori, flowchart dan

sejenisnya. Menurut Milles dan Hiberman (dalam Sugiyono,

2014:341) menyatakan:

The most frequent from if display data for qualitative research data
in the past has been narrative tex. Yang artinya yang sering
digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif
adalah dengan teks yang bersifat naratif.
61

Dengan demikian akan memudahkan peneliti untuk memahami apa

yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa ynag

telah dipahami tersebut.

c. Conclusion Drawing/verification

Menurut Milles dan Huberman (dalam Sugiyono, 2014:345)

langkah ketiga dalam analisi data adalah keismpulan dan verifikasi.

Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan

akan berubah bila tidak ditemuakn bukti bukti yang kuat yang

mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila

kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal, didukung oleh bukti

bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan

mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan

merupakan kesimpulan yang kredibel.


62

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur [Link]: PT Rineka


Cipta.

Drs. Slameto. (2010). Belajar dan factor factor yang mempengaruhinya.


Jakarta: Rineka Cipta.

Hatimah, Ihat. (2008). Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan.


Jakarta: universitas Terbuka.

Huda, Miftahul. (2011). Cooperative Learning..Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.

Huda, Miftahul. (2013). Model-model Pengajaran dan Pembelajaran..


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Prof. Dr. Hj. Dewi Laelatul Badriah.(2006). Metodologi Penelitian Ilmu


ilmu Kesehatan. Bandung: Multazam.

Saiful Bahri & Aswan Zain. (1995). Strategi belajar Mengajar, Jakarta:
Rineka Cipta.

Sapriya. 2009 Pendidikan IPS. Bandung: PT. Remaja rosdakarya


.
Suprijono, A. 2012. Cooverative Learning Teori dan Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Belajar
.
Sugiyono (2014) Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D, Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sujana, N. 2009. Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT.


Remaja rosdakarya.
Tim Bina Karya Guru. (2012). IPS Terpadu Untuk Sekolah Dasar Kelas
IV, Jakarta: Erlangga.

Yuliantoro, Agus. (2014). Penelitian Tindakan Kelas dengan Metode


Mutakhir. Yogyakarta: Andi.

Anda mungkin juga menyukai