BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
keduanya. Diabetes mellitus juga diartikan sebagai kumpulan masalah
anatomi dan kimiawi dari sejumlah faktor yang ditemukan defisiensi insulin
absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (Karolus et al., 2023)
Penyakit DM sering disebut sebagai sillent killer, artinya mati dengan
tenang. Seringkali penderita DM tidak menyadari bahwa dirinya menderita
DM, dan komplikasi terjadi ketika penderita mengetahui dirinya menderita
DM (Azhari & Septimar, 2022) Komplikasi akibat diabetes secara bermakna
mengakibatkan peningkatan morbiditas mortalitas, hal ini karena kerusakan
pada organ-organ tubuh sehingga menyebabkan berbagai penyakit, seperti
kebutaan, gagal ginjal, kerusakan saraf, jantung, kaki diabetik, dan
sebagainya (Faswita, 2024).
Menurut World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa
lebih dari 180 juta orang di seluruh dunia menderita diabetes mellitus. Jumlah
ini akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030 tanpa tindakan
darurat. Pada tahun 2000 sebanyak 150 juta penduduk dunia menderita
Diabetes Mellitus dan pada tahun 2005 diperkirakan 1,1 juta orang meninggal
akibates diabetes mellitus, hampir 80% di antaranya terjadi di negara
berpenghasilan rendah dan menengah, dan separuh dari pada orang di bawah
umur 70 tahun, 50% kematian diabetes mellitus (Karolus et al., 2023)
Internasional Diabetes Federation (IDF) melaporkan pada tahun 2019
diperkirakan 439 juta orang menderita diabetes dan akan mencapai 578 juta
pada tahun 2030, dan 700 juta pada tahun 2045 (Azhari & Septimar, 2022)
Menurut hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018, angka penyakit
Diabetes meningkat dari 6,9 persen menjadi 8,5 persen. Di Indonesia,
menurut data Perhimpunan Endokrin Indonesia (PERKENI), pada tahun 2015
sebanyak 9,1 juta orang menderita diabetes, menempati urutan kelima
penderita diabetes terbanyak setelah China, India, Amerika Serikat dan
Brazil, dimana Indonesia sebelumnya menduduki peringkat ketujuh 2013
(PERKENI, 2015). Data yang didapat dari (Riskesdas) tahun 2018, terdapat
kenaikan presentase pada penderita Diabetes Melitus usia ≥ 15 tahun. Pada
tahun 2013 terdapat 6,9% penyandang yang tercatat dan terdapat kenaikan
sejumlah 8,5% pada tahun 2018 (Azhari & Septimar, 2022)
Indonesia menduduki peringkat ke 6 dari 10 negara besar dengan kasus
diabetes melitus terbanyak di Asia (Dewa et al., 2022) Jawa Timur
menempati urutan kelima sebagai daerah dengan prevalensi Diabetes Melitus
tertinggi di Indonesia, yaitu sebesar 2,6%, (Arsya et al., 2025)
Prevalensi diabetes mellitus di provensi Bengkulu Data Dinas kesehatan
Provinsi Bengkulu tahun 2021 jumlah penderita diabetes melitus di provinsi
Bengkulu mencapai 18.453 orang dan tahun 2022 sebanyak 47.116 orang
(Dinas Kesehatan Provinsi, 2022). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan
Kota tahun 2021 jumlah penderita diabetes mellitus di Kota Bengkulu
sebanyak 797 orang dan tahun 2022 sebanyak 3.087 orang dan tahun 2023
sebanyak 3.746 orang (Dinas kesehatan Kota Bengkulu, 2023).
Pukesmas Telaga Dewa merupakan salah satu pukesmas dengan angka
kejadian Diabetes Melitus tertinggi di Kota Bengkulu pada tahun 2021
sebanyak 38 0rang, tahun 2022 sebanyak 149 orang dan Diabetes Melitus
tertinggi terdapat di puskesmas Telaga Dewa Kota Bengkulu pada tahun 2023
sebanyak 308 orang yang tercatat di rekam medis bulan Januari – Desember,
dari data tersebut bisa dilihat terjadinya peningkatan kejadian diabetes melitus
setiap tahunnya di Pukesmas Telaga Dewa Kota Bengkulu. (Profil Pukesmas
Telaga Dewa Kota Bengkulu, 2023).
Penyakit diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit tidak menular yang
sering terjadi akibat pola aktivitas fisik yang kurang baik (cholifa, 2015)
aktivitas fisik memiliki hubungan dengan kadar gula darah pada pasien
diabetes melitus tipe 2. Menurut Halminah (2013), aktivitas fisik merupakan
setiap gerakan tubuh yang memerlukan energi. Umumnya setiap orang
memiliki pola aktivitas fisik masing masing, hal ini juga dipengaruhi oleh
beberapa faktor seperti pola istirahat, usia dan olahraga. Tinggi rendahnya
aktivitas fisik yang dilakukan juga mempengaruhi kadar gula darah pada
pasien diabetes melitus tipe 2, hal tersebut dikarenakan aktivitas fisik dapat
membantu menurunkan kadar gula dalam darah (P2PT Kemenkes, RI,2019).
Aktivitas fisik mempengaruhi proses pemenuhan kadar gula darah pada
otot. Kurangnya aktivitas fisik akan menyebabkan peningkatan kadar gula
darah dalam tubuh. Olahraga yang dilakukan secara rutin akan memicu
kinerja otot lebih keras, sehingga kadar gula darah yang ada di dalam tubuh
akan diubah menjadi energi dan penumpukan kadar gula darah dapat
dihindari. Hal ini akan mengoptimalkan kinerja otot dalam membantu
menyerap kadar gula darah, sehingga mengakibatkan kadar gula dalam darah
akan diubah menjadi energi (Widiyoga, 2020).
Penelitian menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 2 yang melakukan
olahraga ringan memiliki kemungkinan 7,15 kali lebih besar untuk memiliki
kadar gula darah yang tidak terkontrol dibandingkan mereka yang melakukan
olahraga sedang (Rahmawati et al., 2016).
Berdasarkan urai di atas, peneliti tertarik ingin melakukan penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui “ hubungan ativitas fisik dengan kadar gula
sewaktu pada pasien diabetes mellitus tipe 2”
B. Rumus Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan masalah
penelitian melalui pertanyaan berikut “ apakah terdapat hubungan antara
aktivitas fisik dengan kadar gula pada pasien diabetes mellitus tipe 2 ?
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula
darah pada pasien diabetes mellitus tipe 2
2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi aktifitas fisik penderita diabetes mellitus tipe 2
b. Mengidentifikasi gula darah penderita diabetes militus tipe 2
c. Menganalisis hubungan aktifitas fisik dengan gula darah pada
penderita diabetes mellitus tipe 2
D. Manfaat penelitian
1. Manfaat teoritis
Peneliti ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengatasi kadar gula
darah yang tinggi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dan meningkatkan
kenyamanan serta kepuasan pasien
2. Manfaat praktis
a. Bagi perawat atau rumah sakit
Apabila penelitian ini berpengaruh terhadap kadar gula darah maka
diharapkan aktivitas fisik dapat dilakukan sebagi tindakan mandiri
yang dapat di lakukan
b. Bagi institusi pendidikan
Hasil penelitian ini bias digunakan sebagai salah satu bacaan ilmiah
sumber literatur yang berguna untuk menambah pengetahuan dan
wawasan khususnya tentang aktivitas fisik terhadap kadar gula darah
pasien diabetes mellitus
c. Bagi peneliti lainnya
Apabila penelitian ini terbukti berpengaruh terhadap kadar gula darah
di harapkan dapat menjadi sumber literatur untuk peneliti selanjutnya