0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan6 halaman

Analisis Pemecahan Masalah Pecahan

artikel tentang pemecahan masalah, dari google scholar

Diunggah oleh

dini Lianda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan6 halaman

Analisis Pemecahan Masalah Pecahan

artikel tentang pemecahan masalah, dari google scholar

Diunggah oleh

dini Lianda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MENDIDIK: Jurnal Kajian Pendidikan dan Pengajaran, 2021, Vol. 7 No.

1, Page: 54-59

Open Access l Url:[Link]

MENDIDIK: Jurnal Kajian Pendidikan dan Pengajaran


ISSN (Print): 2443-1435 || ISSN (Online): 2528-4290

[Link]

Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Dalam Menyelesaikan


Soal Cerita Pecahan
Yunia Astiana1, M. Yusuf Setia Wardana2, Ervina Eka Subekti3
1,2,3 Universitas PGRI Semarang

A RT I CL E IN F O A B ST RA CT
Article History: The background that drives this research is the difficulty of students in working
Received 06.01.2021 on problem solving problems in the form of story problems, namely their
Received in revised form inability to translate story problems into a mathematical model. problems in
20.01.2021
solving fraction story questions. The approach to be carried out in this study is a
Accepted 17.02.2021
Available online
qualitative descriptive research approach. Data collection in this study was
01.04.2021 carried out by means of written tests, interviews, and documentation. Taking the
subject in this study using purposive sampling technique. Interviews were
conducted with research subjects and class teachers. Based on the results of this
study, the problem solving ability of students in the low category is that students
have not been able to understand problems, plan solutions, do calculations, and
are still very little attention in checking / reinterpreting. The problem solving
ability of students in the medium category is that students are quite capable of
understanding problems, compiling resolution plans, doing calculations, but the
ability to interpret / check back is still lacking. The problem-solving ability of
students in the high category is that students are able to understand problems,
compile a solution plan, carry out calculations, but in interpreting / checking
back, there is still less attention in solving fraction story questions.

Keywords:1
Problem solving, fractional, story matter

This is an open access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution
DOI 10.30653/003.202171.143 4.0 International License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any
medium, provided the original work is properly cited. © 2020.

PENDAHULUAN
Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat menigkatkan kemampuan berpikir
dan beragumentsi, memberikan kontribusi dalam penyelesaian masalah sehari- hari dan dalam
dunia kerja, serta memberikan dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kebutuhan akan aplikasi matematika saat ini dan masa depan tidak hanya untuk keperluan

1Corresponding author’s address: PGSD FIP Universitas PGRI Semarang.


e-mail: yuniaastiana2018@[Link]

54
Yunia Astiana, M. Yusuf Setia Wardana, Ervina Eka Subekti

sehari- hari tetapi terutama dalam dunia kerja, dan untuk mendukung ilmu pengetahuan. Oleh
karena itu, matematika sebagai ilmu dasar perlu dikuasai dengan baik oleh peserta didik,
terutama sejak usia sekolah dasar Fanny (2019) dan (Nunuk Badriyah,dkk: 2020).

Mata pelajaran matematika salah satunya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan
memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model
matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh (Permendiknas 2006:
22). Silver dalam Mampuw, Helti L dan Saputri, Januar R (2018: 147) mengemukakan bahwa
pembelajaran matematika yang mencakup pemecahan masalah dan tugas dapat membantu siswa
untuk mengembangkan lebih kreatif dalam bidang matematika. Kemampuan pemecahan masalah
matematika pada peserta didik perlu ditekankan agar dapat membantu peserta didik
mengembangkan aspek- aspek penting dalam matematika seperti penerapan aturan pada
penemuan pola, penggeneralisasian, dan komunikasi matematika.
Dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah (soal cerita) matematika bukan sekedar
memperoleh hasil yang berupa jawaban dari hal yang ditanyakan tetapi yang lebih penting yaitu
peserta didik harus mengetahui dan memahami proses berpikir (langkah- langkah untuk
mendapatkan jawaban). Untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah (soal cerita) matematika
peserta didik harus memahami isi soal cerita, mengidentifikasi apa yang diketahui,
mengidentifikasi apa yang ditanya, mengubah kalimat soal menjadi kalimat matematika, dan
merumuskan strategi penyelesaian pemecahan masalah yang tepat. Polya dalam ( Ayu dan
Rakhmawati, 2019: 87).
Beberapa ahli menemukan langkah- langkah dalam memecahkan masalah matematika. Salah
satunya adalah langkah- langkah pemecahan masalah menurut Polya dalam (Mahmudi, Ali dan
Aji, Ratri E.W: 2018) sebagai berikut:
1. Understanding the problem( memahami masalah), yaitu memahami masalah secara benar dan
menyeluruh, memahami apa yang diketahui, apa yang tidak diketahui atau ditanyakan dan
syarat atau kondisi apa yang diberikan dalam masalah tersebut.
2. Devising a plan (menyusun rencana penyelesaian), yaitu memilih konsep, rumus, atau
alogaritma yang akan digunakan dalam menyelesaikan masalah dengan melihat keterkaitan
Antara apa yang diketahui dan apa yang dianyakan.
3. Carrying out the plan (melaksanakan rencana penyelesaian), yaitu menyelesaikan masalah sesuai
dengan rencana yang telah disusun, dengan memproses data dan rumus yang telah dipilih
kemudian melakukan perhitungan secara runtut.
4. Looking back (mengecek/ menafsirkan kembali), yaitu melakukan pengecekan kembali terhadap
semua langkah yang telah dikerjakan, menarik kesimpulan dari jawaban yang diperoleh dan
mengecek kembali jawaban yang diperoleh.
Berdasarkan observasi awal dan wawancara yang telah dilakukan pada guru kelas V SD Negeri
Karangtempel Semarang, mengatakan bahwa salah satu yang membuat peserta didik kesulitan
dalam mengerjakan soal pemecahan masalah bentuk soal cerita adalah ketidakmampuan mereka
dalam menerjemahkan soal cerita ke dalam model matematika. Sehingga memungkinkan peserta
didik sulit untuk mengetahui bagaimana cara mengoperasikannya dan menghitung soal cerita
matematika tersebut. Hal ini terbukti dengan kurang dari 75% peserta didik yang dapat
menyelesaikan soal pemecahan masalah bentuk soal cerita. Berbeda dengan memberikan soal
yang sudah ditentukan model matematikannya atau soal yang tinggal dihitung langsung oleh
peserta didik SD Negeri Karangtempel Semarang tanpa dibaca dan dipahami maksud dari soal
tersebut, dimana sebagian besar peserta didik dapat menyelesaikan soal tersebut dengan baik.
Hasil penelitian serupa dilakukan oleh dengan hasil penelitian Kusmaharti (2020) yang
menjelaskan siswa berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan masalah [Link] tetap
mampu menyelesaikan permasalahan dengan tepat, memiliki kemampuan operasi hitung peserta

55
Yunia Astiana, M. Yusuf Setia Wardana, Ervina Eka Subekti

didik sudah sangat baik. Peserta didik yang berkemampuan sedang dalam menyelesaikan
masalah, belum mampu melalui semua tahapan pemecahan masalah, belum mampu melalui
semua tahapan pemecahan masalah dan membuat rencana. Siswa berkemampuan rendah dalam
menyelesaikan masalah belum mampu melalui semua tahapan pemecahan masalah Polya, hanya
dapat melalui tahap memahami masalah dan membuat rencana. Siswa berkemampuan rendah
masih kesulitan dalam mengoperasikan bilangan pecahan.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan diatas menunjukkan adanya keberagaman
kemampuan pemecahan masalah pada peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita matenatika.
Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Analisis Kemampuan
Pemecahan Masalah Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Pecahan Pada Siswa Kelas V SD Negeri
Karangtempel Semarang”.

METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Pendekatan deskriptif kualitatif yang digunakan dalam
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemecahan masalah dalam
menyelesaikan soal cerita pecahan pada peserta didik kelas V SD Negeri Karangtempel Semarang.
Pengambilan subjek dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik
purposive sampling adalah teknik pengambilan subjek secara sengaja sesuai dengan persyaratan
subjek yang diperlukan (Murakapi dkk,2018: 140). Dalam penelitian ini,terdiri dari 4 peserta didik
dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yakni 1 peserta didik berkemampuan tinggi, 2 peserta didik
berkemampuan sedang, dan 1 peserta didik berkemampuan rendah. Pada penelitian ini peserta
didik dengan kategori berkemampuan tinggi dengan standar nilai Skor >86, berkemampuan
sedang dengan standar nilai 52 ≥ Skor < 86 , dan kemampuan rendah dengan standar nilai skor
<52.
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu tes tertulis (berbentuk soal cerita agar setiap
langkah penyelesaian yang ditulis peserta didik dapat menggambarkan cara berpikir peserta
didik terkait dengan kemampuan dalam menyelesaikan soal cerita pecahan), wawancara
(mengkonfirmasi ulang pengerjaan tes tertulis dari subjek penelitian untuk mengetahui lebih
lanjut terkait cara peserta didik terhadap kemampuan pemecahan masalah dalam menyelesaikan
soal cerita pecahan yang telah diberikan), dan dokumentasi (foto hasil tes kemampuan pemecahan
masalah dalam menyelesaiakan soal cerita, serta foto hasil wawancara dengan guru dan peserta
didik).
Data yang dianalisis adalah hasil dari soal yang dikerjakan peserta diidk dan hasil wawancara
peserta didik. Triangulasi yang digunakan pada triangulasi ini adalah triangulasi teknik.
Triangulasi teknik digunakan untuk mendapatkan data yang valid, yaitu dengan mengecek data
kepada sumber yang sama dengan dengan teknik yang berbeda.

DISKUSI
Hasil dari penelitian ini berupa deskripsi hasil tes tertulis dari soal kemampuan pemecahan soal
cerita pecahan maupun jawaban subjek ketika wawancara. Berikut deskripsi jawaban dari masing-
masing subjek.
Subjek Berkemampuan Tinggi
Subjek HA mampu menyelesaikan ke 5 soal cerita pecahan dengan langkah- langkah pemecahan
masalah Polya. Subjek HA mampu menuliskan identifikasi unsur- unsur yang terdapat pada soal
mengenai apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan, mampu menyusun rencana penyelesaian

56
Yunia Astiana, M. Yusuf Setia Wardana, Ervina Eka Subekti

dan membuat model matematika yang tepat, mampu melaksanakan rencana penyelesaian dengan
melakukan perhitungan secara runtut dan mampu mengoperasikan bilangan pecahan, dan
mampu menyimpulkan dari apa yang ditanyakan oleh soal. Akan tetapi dalam mengecek kembali
masih kurang diperhatikan dalam menyelesaikan soal cerita. Subjek HA mampu menuliskan
jawaban sesuai dengan langkah- langkah pemecahan masalah Polya dan bisa
mengkomunikasikan dengan baik dan benar setelah dilakukan wawancara terkait jawaban yang
[Link] ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mampouw, dkk (2018) yang
didalam penelitiannya mengatakan bahwa peserta didik berkemampuan tinggi dalam
menyelesaikan masalah mampu melalui semua tahapan pemecahan masalah Polya. Mereka
mampu menyelesaikan permasalahan yang tepat, memiliki kemampuan operasi hitung peserta
didik sudah sangat baik.
Subjek Berkemampuan Sedang
Subjek HB cukup mampu dalam memahami masalah pada semua nomor soal. Subjek HB tidak
menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan pada soal. Akan tetapi bukan berarti
subjek HB tidak memhami masalah. Pada saat wawancara subjek HB mampu mengidentifikasi
unsur- unsur apa yang ketahui dan apa yang ditanyakan pada soal. Berdasarkan wawancara
subjek HB tidak menuliskan identifikasi unsur apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan pada
soal karena subjek HB ingin cepat selesai. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Vilianti, dkk (2018) yang mengatakan bahwa peserta didik tidak menuliskan apa yang ia pahami
dari soal dan rencana penyelesaian bukan berarti tidak bisa mengerjakannya, hanya saja mereka
ingin mempersingkat waktu. Subjek HB mampu menyusun rencana penyelesaian dengan
menuliskan model matematika yang tepat berdasarkan soal, mampu melaksanakan perencanaan
penyelesaian dengan melakukan perhitungan secara runtut dan dapat mengoperasikan pecahan
dengan benar. Subjek HB tidak menuliskan kesimpulan dari apa yang ditanyakan pada soal akan
tetapi pada saat wawancara subjek HB mampu menarik kesimpulan. Akan tetapi kurang
diperhatikan dalam mengecek kembali terhadap semua langkah yang dikerjakan.
Subjek ST mampu memahami, menyusun rencana penyelesaian, melaksanakan rencana
penyelesaian, dan cukup mampu menarik kesimpulan pada soal nomor 1,3, dan 5. Pada soal
nomor 2 dan 4 subjek ST belum mampu dalam memahami masalah yang terdapat pada soal
sehingga subjek ST belum mampu menyusun rencana yang tepat. Begitupun dengan menarik
kesimpulan yang tepat. Subjek ST kurang diperhatikan dalam mengecek kembali terhadap semua
langkah yang dikerjakan.
Subjek Berkemampuan Rendah
Subjek AW mampu dalam memahami masalah yang terdapat pada soal nomor 1,2,dan 3. Mampu
menyusun rencana penyelesaian dengan menggunakan model matematika yang tepat akan tetapi
dalam melaksanakan rencana, peserta didik belum mampu dalam mengoperasikan pecahan dan
melakukan perhitungan dengan runtut, sehingga kesimpulan yang dihasilkan kurang tepat. Pada
soal nomor 4 dan 5 peserta didik belum mampu memahami masalah sehingga subjek AW belum
mampu menyusun rencana yang tepat. Begitupun dengan menarik kesimpulan yang tepat. Subjek
AW kurang diperhatikan dalam mengecek kembali terhadap semua langkah yang dikerjakan. Hal
ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Via (2015) dan Asbiallah (2018) yang
mengatakan bahwa peserta didik dalam kategori rendah adalah peserta didik belum mampu
memahami masalah, merencanakan penyelesaian, melakukan rencana penyelesaian dan melihat
kembali hasil penyelesaiannya dalam menyelesaikan soal cerita pecahan.

57
Yunia Astiana, M. Yusuf Setia Wardana, Ervina Eka Subekti

SIMPULAN
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:
1. Peserta didik berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan masalah mampu melalui semua
langkah- langkah pemecahan masalah Polya. Tetapi dalam mengecek kembali jawaban yang
diperoleh masih kurang diperhatikan.
2. Peserta didik dalam berkemampuan sedang dalam menyelesaikan masalah,cukup mampu
memahami masalah secara menyeluruh, mampu menyusun rencana penyelesaian, cukup
mampu dalam mengoperasikan bentuk pecahan dan dalam mengecek/ menafsirkan kembali
masih kurang diperhatikan.
3. Peserta didik dalam berkemampuan rendah dalam menyelesaikan masalah belum mampu
melalui semua langkah- lamgkah pemecahan masalah Polya, hanya dapat melalui langkah
memahami masalah dan membuat rencana penyelesaian. Peserta didik berkemampuan rendah
masih kesulitan dalam mengoperasikan bilangan pecahan dan dalam mengecek/ menafsirkan
kembali masih sangat kurang diperhatikan .
Cara meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dalam menyelesaikan soal cerita pecahan.
Memahami masalah, peserta didik membaca secara berulang- ulang permasalahan yang ada.
Guru dapat membantu membuat pertanyaan- pertanyaan yang membantu pemahaman peserta
didik terhadap permasalahan yang ada. Menyusun rencana penyelesaian, mengajak peserta didik
untuk menemukan model matematika atau kalimat matematika yang sesuai dengan membantu
dalam menunjukkan hubungan antara apa yang diketahui dengan apa yang
[Link] rencana penyelesaian, mengajak peserta didik untuk menekankan cara
penyelesaian masalah atau proses pengerjaan yang runtut. Peserta didik ditekankan agar tidak
hanya berorientasi pada hasil akhir saja tetapi juga pada cara penyelesaian soal.
Mengecek/menafsirkan kembali, menekankan kepada peserta didik untuk mengecek kembali
semua informasi penting yang sudah teridentifikasi, mengecek semua perhitungan pada setiap
langkah penyelesaian masalah, dan membuat kesimpulan perhitungan dari soal cerita dengan
kata “jadi” ataupun “maka” dengan menghubungkan apa yang ditanyakan pada soal tersebut.

REFERENSI
Aji, R.E.W. Mahmudi, Ali (2020). “Efektivitas Pembelajaran Matematika dengan Strategi Problem
Solving untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas VIII SMP”.
[Link] article/view/11169. Artikel.
Diakses 23 September 2020.
Asbiallah. (2017). Analisis Tingkat Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa VII MTs Badrussalam MW
Sekarbela dalam Menyelesaikan Soal Cerita Pevahan Tahun Ajaran 2017/ 2018”. Skripsi. Mataram
: UIN Mataram
Ayu, N.S. Rakhmawati, F. (2019). Analisis Kemampuan Siswa Menyelesaikan Soal Matematika Bentuk
Cerita di Kelas VIII MTs Negeri Bandar TP.2017/ 2018. Skripsi. Medan: Universitas Islam
Negeri Sumatera Utara.
Badriyah, N. dkk. (2020). “Analisis Kesulitan Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita
Matematika pada Materi Pecahan Kelas III SDN Lamper Tengah 02”. Dalam Pedagogik Jurnal
Pendidikan. Vol.15 No.1, Maret 2020.

58
Yunia Astiana, M. Yusuf Setia Wardana, Ervina Eka Subekti

Fanny, A. M. (2019). Analysis Of Pedagogical Skills And Readiness Of Elementary School Teachers In
Support Of The Implementation Of The 2013 Curriculum. In International Conference on Bussiness
Law and Pedagogy (Vol. 1, No. 1, pp. 59-63).
Kusmaharti, D. (2020). Efektivitas Online Learning terhadap Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika Mahasiswa. Journal of Medives: Journal of Mathematics Education IKIP Veteran
Semarang, 4(2), 311-318.
Murakapi,dkk. (2018). Analisis Kemampuan Penyelesaian Masalah Soal Cerita SPLDV Berdasarkan
Tingkat Kecerdasan Logika Matematika Siswa SMK.
[Link] Prosiding
Silogisme. Diakses 26 September 2020.
Permendiknas RI Nomor.22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
Roebyanto, G. Harmini, S. (2017). Pemecahan Masalah Matematika: untuk PGSD. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Rusminati, S. H. Sulistyawati, I. (2018). Implementasi lesson study menggunakan model think pair share
dan pendekatan saintifik. Premiere Educandum: Jurnal Pendidikan Dasar dan Pembelajaran, 8(1),
88-97.
Saputri, J.R dan Mampouw, H.L. (2018). Kemampuan Pemecahan Masalah dalam Menyelesaikan Soal
Materi Pecahan oleh Siswa SMP Ditinjau dari TahapanPolya. Dalam Mat Didactic: Jurnal
Pendidikan Matematika. Vol.4 No.1, Mei- Agustus 2018.
Via, Y. (2015). Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Melalui Pengembangan Lembar Kegiatan
Siswa (LKS) dengan Pendekatan Saintifik. Wahana, 64(1), 49-57.
Vilianti, Y., Pratama, F., & Mampouw, H. (2018). Description of the ability of social arithedical stories
by study problems by students VIII SMP reviewed from the polya stage. International Journal of
Active Learning, 3(1), 23-32.

59

Anda mungkin juga menyukai