0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan11 halaman

Etnomatematika di Benteng Marlborough

ini artikel tentang lkpd dari google scholar

Diunggah oleh

dini Lianda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan11 halaman

Etnomatematika di Benteng Marlborough

ini artikel tentang lkpd dari google scholar

Diunggah oleh

dini Lianda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN

Volume 6, No. 3, Juli 2025


[Link]

EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA BENTENG MALBOROUGH

Zinea Lazuardi Azra1, Sherli Amirah Khansa2, Betti Dian Wahyuni3


1,2,3
Program Studi Tadris Matematika, Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno
Bengkulu, Indonesia
zineaazra1881@gmail.com1, sherly.6875@gmail.com2, bettidian@[Link].id3

ABSTRACT; This study aims to explore the ethnomathematical concepts contained


in Marlborough Fort as a historical and cultural heritage site in Bengkulu. The
research approach used is qualitative descriptive with an ethnographic method to
uncover and analyze cultural elements related to mathematics in the architectural
design of the fort. Data were collected through direct observation and
documentation at the site. The results show that Marlborough Fort contains various
mathematical concepts, such as plane figures (triangle, pentagon, square,
trapezoid, parallelogram), solid figures (cuboid, triangular prism), as well as
geometric transformation concepts like reflection and translation applied to the
building’s elements. Beyond the mathematical aspects, the fort’s design, which
resembles the shape of a turtle, also holds philosophical and cultural meanings
reflecting resilience and protection, in accordance with the fort’s function as a
defensive structure. The ethnomathematics approach facilitates a more contextual
and meaningful learning of mathematics by connecting mathematical concepts with
local culture. This study recommends the integration of cultural values in
mathematics education to enhance students’ motivation and understanding while
strengthening cultural identity.

Keywords: Ethnomathematics, Marlborough Fort, Mathematical Concepts,


Cultural Philosophy, Contextual Learning.

ABSTRAK; Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep


etnomatematika yang terkandung dalam Benteng Marlborough sebagai warisan
sejarah dan budaya di Bengkulu. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah
deskriptif kualitatif dengan metode etnografi untuk menggali dan menganalisis
unsur-unsur kebudayaan yang berkaitan dengan matematika dalam desain
arsitektur benteng. Data dikumpulkan melalui observasi dan dokumentasi langsung
di lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Benteng Marlborough mengandung
berbagai konsep matematika, seperti bangun datar (segitiga, segilima, persegi,
trapesium, jajar genjang), bangun ruang (balok, prisma segitiga), serta konsep
transformasi geometri seperti refleksi dan translasi yang diaplikasikan pada
elemen-elemen bangunan. Selain aspek matematis, desain benteng yang
menyerupai bentuk kura-kura juga memiliki makna filosofis dan budaya yang
mencerminkan keteguhan dan perlindungan, sesuai dengan fungsi benteng sebagai
tempat pertahanan. Pendekatan etnomatematika memungkinkan pembelajaran
matematika yang lebih kontekstual dan bermakna dengan menghubungkan konsep-
konsep matematika dan budaya lokal. Penelitian ini merekomendasikan integrasi
387
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

nilai budaya dalam pendidikan matematika untuk meningkatkan motivasi dan


pemahaman siswa sekaligus memperkuat identitas budaya.

Kata Kunci: Etnomatematika, Benteng Marlborough, Konsep Matematika,


Filosofi Budaya, Pembelajaran Kontekstual.

PENDAHULUAN
Pembelajaran matematika di sekolah selama ini sering dianggap abstrak dan terlepas dari
realitas kehidupan sehari-hari siswa (Riyadi et al., 2025). Hal ini menyebabkan banyak siswa
kesulitan memahami dan mengaplikasikan konsep-konsep matematika secara bermakna (Yuni
et al., 2019). Untuk mengatasi permasalahan ini, pendekatan etnomatematika hadir sebagai
alternatif yang mengaitkan pembelajaran matematika dengan budaya lokal. Pendekatan ini
memungkinkan siswa mempelajari matematika melalui praktik budaya yang mereka kenal,
sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan relevan (Tindaon et al., 2025).
Istilah “etnomatematika” pertama kali diperkenalkan oleh seorang matematikawan asal
Brazil, yaitu D’Ambrosio pada tahun 1977, seorang matematikawan asal Brasil. Istilah ini
merupakan gabungan dari kata “etno” yang merujuk pada identitas budaya suatu kelompok,
dan “matematika” yang mencakup kegiatan seperti menghitung, mengklasifikasikan,
menyusun, dan memodelkan (Zaenuri et al., 2018). Etnomatematika adalah studi tentang
hubungan antara matematika dengan budaya dan cara pendang Masyarakat terhadap
matematika dalam kehidupan sehari-hari (Yulianasari et al., 2023). Dengan kata lain,
etnomatematika menjadi jembatan yang menghubungkan konsep-konsep matematis dengan
konteks budaya lokal. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengapresiasi peran budaya
dalam pembelajaran matematika serta mengakui bahwa pengetahuan matematika tidak hanya
bersifat universal, tetapi juga kontekstual.
Dalam konteks pembelajaran, etnomatematika memungkinkan siswa untuk mengaitkan
konsep-konsep abstrak dengan praktik budaya yang mereka kenal. Hal ini tidak hanya
meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa, tetapi juga menjadikan matematika lebih hidup
dan dekat dengan lingkungan mereka. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran
matematika realistik, yang menggunakan konteks budaya sehari-hari sebagai bahan ajar (Astuti
et al., 2021).

388
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

Salah satu bentuk warisan budaya yang potensial untuk dikaji secara etnomatematis
adalah bangunan bersejarah, seperti benteng peninggalan kolonial. Benteng Marlborough di
Kota Bengkulu, yang dibangun oleh Inggris pada abad ke-18, merupakan contoh nyata dari
objek budaya yang tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga menyimpan unsur-unsur
matematis yang menarik untuk dianalisis.
Bangunan Benteng Marlborough mengandung berbagai konsep geometri yang menarik
untuk dikaji. Kehadiran matematika yang bernuansa budaya (etnomatematika) memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap pembelajaran matematika, karena pendidikan formal
merupakan institusi sosial yang memungkinkan terjadinya sosialisasi dan integrasi
antarbudaya. Bentuk bangunan, pola ruang, simetri, serta proporsi struktural pada benteng
tersebut mencerminkan penerapan prinsip-prinsip matematika dalam perancangan arsitektur
masa lalu.
Eksplorasi etnomatematika pada Benteng Marlborough memberikan peluang untuk
mengintegrasikan aspek geometri, transformasi, dan pemodelan spasial ke dalam pembelajaran
matematika dengan pendekatan berbasis budaya. Dengan demikian, siswa tidak hanya
memahami konsep matematika secara lebih kontekstual, tetapi juga belajar mengenali dan
menghargai nilai-nilai budaya dan sejarah lokal. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi dan mendeskripsikan unsur-unsur matematika yang terkandung dalam
struktur dan ornamen Benteng Marlborough sebagai bahan ajar berbasis etnomatematika.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografi.
Pendekatan ini dipilih untuk mengungkap dan mendeskripsikan keterkaitan antara unsur-unsur
budaya lokal dengan konsep matematika pada struktur Benteng Marlborough di Bengkulu.
Penelitian kualitatif deskriptif bertujuan menghasilkan data dalam bentuk kata-kata tertulis
atau lisan dari objek yang diamati, serta menekankan pada makna dan proses dari suatu
fenomena sosial budaya (Moleong, 2013).
Metode etnografi digunakan untuk memahami dan mendeskripsikan makna budaya yang
hidup dalam suatu komunitas, melalui pengamatan terhadap praktik, simbol, dan struktur yang
mencerminkan nilai-nilai local (Spradley, 2007). etnografi bertujuan merekam dan
menganalisis perspektif budaya masyarakat dari sudut pandang mereka sendiri. Selain itu,
Creswell (2012) dalam (Astuti et al., 2021) etnografi merupakan rancangan penelitian kualitatif
389
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

yang mengkaji pola-pola nilai, perilaku, bahasa, serta keyakinan dari kelompok masyarakat
yang memiliki latar belakang budaya yang sama.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi observasi langsung dan
dokumentasi. Observasi dilakukan terhadap bentuk bangunan, ornamen, simbol, dan struktur
Benteng Marlborough yang berpotensi memuat konsep-konsep matematika seperti geometri,
simetri, proporsi, serta transformasi ruang. Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan
foto, arsip sejarah, dan catatan visual lainnya yang berkaitan dengan objek kajian.
Dokumentasi ini berfungsi untuk memperkuat hasil observasi serta menyediakan data
pelengkap yang mendukung analisis.
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan
Huberman, yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan
Kesimpulan (Zulfirman, 2022). Reduksi data dilakukan dengan memilah dan memilih data
yang relevan; penyajian data dilakukan dalam bentuk deskripsi naratif; dan penarikan
kesimpulan dilakukan melalui interpretasi makna budaya serta unsur matematis yang
terkandung dalam objek kajian

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Etnomatematika Pada Benteng Marlborough
Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi etnomatematika dalam kebudayaan
masyarakat Bengkulu, khususnya pada Benteng Marlborough. Selama ini, matematika sering
dianggap sebagai pelajaran yang sulit dipahami, sehingga diperlukan bukti konkret yang dapat
menarik minat siswa dalam belajar (Hanan & Alim, 2023). Padahal, matematika dapat
ditemukan di berbagai aspek kehidupan sehari-hari, bahkan tanpa kita sadari (Abdullah, 2020),
setiap bangunan mengandung konsep-konsep matematika, termasuk Benteng Marlborough.
Benteng Marlborough merupakan peninggalan kolonial Inggris yang dibangun pada
tahun 1714 hingga 1719 dan terletak di Kota Bengkulu. Sebagai situs sejarah dan budaya,
benteng ini tidak hanya menyimpan nilai historis tetapi juga nilai-nilai matematis yang dapat
diidentifikasi melalui pendekatan etnomatematika. Berdasarkan hasil observasi, analisis
terhadap struktur dan desain bangunan mengungkap adanya konsep-konsep geometri seperti
bangun datar, bangun ruang, transformasi geometri (refleksi dan translasi), serta makna budaya
di balik bentuk-bentuk tersebut.

390
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

1. Bangun Datar
Bangun datar merupakan bentuk geometri dua dimensi yang memiliki panjang dan lebar.
Pada Benteng Marlborough, bentuk-bentuk bangun datar ditemukan pada berbagai bagian
struktur bangunan. Tabel 1 menyajikan identifikasi bentuk-bentuk tersebut:
Tabel 1. Identifikasi Bangun Datar pada Benteng Marlborough
No Bagian Bangunan Bentuk Geometri
1 Segitiga

Kepala Benteng
2 Segilima

Sisi depan kiri & kanan


3 Segilima

Sisi belakang kiri & kanan


4 Persegi Panjang

Sisi tengah benteng


5 Persegi Panjang

Jembatan

391
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

No Bagian Bangunan Bentuk Geometri


6 Trapesium

Tembok depan
7 Persegi

Lantai
8 Persegi Panjang

Jendela
9 Jajar genjang

Atap depan

Bentuk segilima pada sisi kiri dan kanan benteng memperlihatkan keseimbangan desain.
Atap jajar genjang menunjukkan pemanfaatan bentuk geometri dalam struktur atap bangunan.
Bangun-bangun ini dapat menjadi media pembelajaran geometri datar yang kontekstual bagi
siswa.

2. Bangun Ruang
Bangun ruang merupakan bentuk geometri tiga dimensi yang memiliki panjang, lebar,
dan tinggi. Tabel 2 menunjukkan identifikasi bentuk bangun ruang pada Benteng Marlborough:

392
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

Tabel 2. Identifikasi Bangun Ruang pada Benteng Marlborough


No Bagian Bangunan Bentuk Geometri
1 Balok vertical

Tiang penyangga jembatan

2 Balok horizontal

Makam tokoh Inggris


3 Prisma segitiga

Atap rumah

Makam-makam tokoh Inggris seperti Thomas Parr dan Robert Hamilton menunjukkan
bentuk balok horizontal yang mencerminkan struktur sederhana namun kuat. Atap prisma
segitiga menunjukkan keunikan arsitektur kolonial.

3. Refleksi (Pencerminan/Simetri)
Refleksi adalah suatu transformasi yang memindahkan suatu titik atau bangun ke posisi
yang simetris terhadap suatu garis atau bidang. Refleksi ini sering disebut juga pencerminan.
Konsep refleksi ditemukan pada pintu dan jendela benteng. Bentuk sisi kiri merupakan
pencerminan dari sisi kanan terhadap sumbu vertikal yang melewati garis tengah. Hal ini
menunjukkan prinsip simetri lipat yang dapat digunakan sebagai konteks pembelajaran
transformasi geometri di sekolah dasar.

393
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

Tabel 3. Identifikasi Konsep Refleksi pada Benteng Marlborough


No. Bentuk Foto Deskripsi Bentuk
1. Pintu Sifat refleksi

2. Jendela Sifat refleksi

A` A

4. Translasi (Pergeseran)
Translasi adalah suatu transformasi yang memindahkan suatu titik atau bangun ruang ke
posisi yang lain tanpa mengubah bentuk atau ukurannya. Translasi terjadi pada pola jendela
dan pintu yang berulang sejajar secara horizontal. Objek berpindah posisi tanpa perubahan
bentuk atau ukuran. Dalam konteks pembelajaran, translasi ini menunjukkan pergeseran
sepanjang sumbu-x.
Tabel 4. Identifikasi Konsep Translasi pada Benteng Marlborough
No. Bentuk Gambar Deskripsi Bentuk
1. Pintu Translasi

394
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

2. Jendela Translasi

B. Makna Filosofis dalam Desain Benteng Marlborough dan Kontektualisasi


Pembelajaran
Selain mengandung berbagai konsep matematika, desain Benteng Marlborough juga
sarat dengan nilai filosofis dan makna budaya yang penting untuk ditinjau melalui pendekatan
etnomatematika. Salah satu temuan utama adalah bahwa bentuk keseluruhan benteng
menyerupai kura-kura. Dalam berbagai tradisi, termasuk budaya Melayu dan Nusantara, kura-
kura melambangkan keteguhan, perlindungan, dan keberlanjutan hidup. Bentuk ini
mencerminkan fungsi benteng sebagai pertahanan yang kuat sekaligus sebagai simbol
ketahanan terhadap penjajahan.
Desain simetris dan terstruktur dari bangunan ini tidak hanya merepresentasikan
ketelitian arsitektur kolonial, tetapi juga menyiratkan nilai-nilai harmoni dan keseimbangan
yang sering ditemui dalam budaya lokal. Hal ini tampak dari keberadaan bentuk-bentuk
refleksi yang simetris pada pintu dan jendela, serta keselarasan letak ruang-ruang di dalam
benteng.
Selain itu, letak dan orientasi benteng yang menghadap ke arah laut menunjukkan adanya
pemahaman spasial yang strategis, yang dalam konteks budaya juga mencerminkan
keterhubungan masyarakat pesisir Bengkulu dengan alam, laut, dan aktivitas perdagangan
masa lalu. Ini merupakan bentuk praktik matematika lokal yang terintegrasi dalam keputusan
arsitektural.
Dari sudut pandang pendidikan, pemanfaatan situs sejarah seperti Benteng Marlborough
sebagai media pembelajaran matematika kontekstual dapat meningkatkan motivasi dan
keterlibatan siswa. Siswa tidak hanya memahami konsep matematika seperti bangun datar dan
bangun ruang, tetapi juga belajar menghargai warisan budaya dan sejarah daerahnya. Dengan
demikian, pendekatan etnomatematika membuka ruang bagi pembelajaran yang lebih
bermakna, kontekstual, dan integratif.
395
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

Dengan demikian, Benteng Marlborough tidak hanya menyimpan nilai sejarah yang
penting, tetapi juga merupakan sumber inspirasi bagi pembelajaran matematika yang
kontekstual dan berakar pada budaya lokal. Melalui pendekatan etnomatematika, konsep-
konsep matematika dapat dipahami secara lebih mendalam dan bermakna, sekaligus
memperkuat identitas dan kecintaan terhadap warisan budaya. Oleh karena itu, integrasi nilai
budaya dalam pembelajaran matematika perlu terus dikembangkan untuk menciptakan
pendidikan yang lebih inklusif dan relevan dengan kehidupan masyarakat.

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Benteng Marlborough
mengandung berbagai konsep matematika yang nyata dalam bentuk bangun datar, bangun
ruang, serta transformasi geometri seperti refleksi dan translasi. Bentuk-bentuk geometris
tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen arsitektur, tetapi juga merefleksikan nilai
budaya dan filosofi yang melekat pada bangunan bersejarah ini. Bentuk keseluruhan benteng
yang menyerupai kura-kura mengandung makna simbolis keteguhan dan perlindungan, yang
sejalan dengan fungsi benteng sebagai pertahanan.
Pendekatan etnomatematika dalam penelitian ini menegaskan pentingnya mengaitkan
matematika dengan konteks budaya lokal untuk menciptakan pembelajaran yang lebih
bermakna dan kontekstual. Dengan memanfaatkan warisan budaya seperti Benteng
Marlborough, pembelajaran matematika tidak hanya menjadi lebih mudah dipahami, tetapi
juga dapat memperkuat identitas budaya dan motivasi belajar siswa. Oleh karena itu, integrasi
nilai-nilai budaya dalam pembelajaran matematika sangat direkomendasikan untuk
meningkatkan relevansi dan kebermaknaan pendidikan matematika di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, A. A. (2020). Etnomatematika; Eksplorasi Transformasi Geometri Pada Ragam Hias
Cagar Budaya Khas Yogyakarta. Jurnal Ilmiah Soulmath : Jurnal Edukasi Pendidikan
Matematika, 8(2), 131–138. [Link]
Astuti, H. A., Setiana, D., & Agustito, D. (2021). Eksplorasi Etnomatematika Pada Benteng
Marlborough. UNION: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 9(3), 289–295.
[Link]

396
EDUKREATIF: JURNAL KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN
Volume 6, No. 3, Juli 2025
[Link]

Hanan, M. P., & Alim, J. A. (2023). Analisis Kesulitan Belajar Matematika Siswa Kelas Vi
Sekolah Dasar Pada Materi Geometri. Al-Irsyad Journal of Mathematics Education, 2(2),
59–66. [Link]
Moleong, L. J. (2013). Metodologi Penelitian Kualitatif (14th ed.). PT. Remaja Rosdakarya.
Riyadi, D. D., Supriatna, E., Interaktif, P., & Formatif, P. (2025). Analisis Kesulitan Siswa
Kelas III Dalam Memahami Konsep Matematika : Studi Kasus Di Sekolah Dasar. 8,
1864–1873.
Spradley, J. P. (2007). Metode etnografi (M. Z. (penerjemah) Elisabeth &
Amirudin(penyunting) (eds.)). Tiara Wacana.
Tindaon, T. M., Nadeak, S. L., Sarma, L., & Pakpahan, U. (2025). Pengaruh
Pengimplementasian Etnomatematika Terhadap Minat Belajar Matematika Pada Siswa
Sekolah Dasar. 2, 1–8.
Yulianasari, N., Salsabila, L., Maulidina, N., & Maula, L. H. (2023). Implementasi
Etnomatematika sebagai Cara untuk Menghubungkan Matematika dengan Kehidupan
Sehari-hari. SANTIKA : Seminar Nasional Tadris Matematika, 3, 462–472.
Yuni, B., Wahyuningsih, Rachmatul, V., & Hidayati. (2019). Studi Kasus: Kesulitan Belajar
Matematika Dan Implikasinya Terhadap Kemampuan Penyelesaian Soal Pada Siswa
Sekolah Dasar. Jurnal Psikologi, 12(1), 34–43.
Zaenuri, Dwidayati, N., & Suyitno, A. (2018). Pembelajaran matematika melalui pendekatan
etnomatematika (studi kasus pembelajaran matematika di China).
Zulfirman, R. (2022). Implementasi Metode Outdoor Learning dalam Peningkatan Hasil
Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Agama Islam di MAN 1 Medan. Jurnal Penelitian,
Pendidikan Dan Pengajaran: JPPP, 3(2), 147–153.
[Link]

397

Anda mungkin juga menyukai