Laporan Pre Klinik Keperawatan Gawat Darurat
Laporan Pre Klinik Keperawatan Gawat Darurat
Disusun Oleh:
Putri Army Purnamasari
11211040000017
2. ETIOLOGI STEMI
STEMI terjadi akibat adanya penyumbatan total di 1 atau lebih arteri jantung yang
memasok darah ke jantung. Biasanya penyebab gangguan aliran yang terjadi secara
mendadak karena:
- pecah/rupturnya plak
- erosi fisura
- diseksi arteri koroner dengan trombus obstruktif
Faktor risiko dari STEMI adalah:
- dislipidemia
- diabetes
- hipertensi
- merokok
- riwayat keluarga dengan penyakit arteri koroner
- usia
- jenis kelamin
- merokok
- obesitas perut
- gaya hidup sedenter
- stresor psikososial
- pengguna kokain
Etiologi infark miokard berdasarkan patofisiologinya:
- IM tipe 1: berkaitan dengan aterotrombosis intrakoroner; terjadi secara spontan;
sebagian besar bermanifestasi NSTEMI
- IM tipe 2: ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard yang tidak
terkait dengan aterotrombosis koroner akut; terjadi secara spontan; sebagian
bermanifestasi NSTEMI
- IM tipe 3: hanya diidentifikasi pasca mortem
- IM tipe 4 & 5: terkait dengan prosedur medis
(Akbar, H., dkk, 2024)
3. PATOFISIOLOGI STEMI
Adanya trombotik koroner akut sehingga terjadi elevasi segmen ST pada EKG
permukaan setelah penyumbatan aliran darah total dan berkelanjutan. Aterosklerosis
koroner dan fibroatheroma berkapsul tipis berisiko tinggi mengakibatkan pecahnya
plak secara tiba-tiba. Peristiwa ini menyebabkan perubahan endotelium vaskular yang
menghasilkan kaskade adhesi, aktivasi, dan agregasi trombosit yang pada akhirnya
menyebabkan trombosis. (Akbar, H., dkk, 2024)
Oklusi arteri koroner menunjukan cedera miokardium yang menyebar dari miokard
subendokardial ke miokardium subepikardial yang menyebabkan infark transmural
sehingga menghasilkan elevasi segmen ST. KErusakan miokardium terjadi ketika aliran
darah terputus terus menerus sehingga memerlukan penanganan segera, Iskemia akut
yang terjadi tiba-tiba bisa mengakibatkan disfungsi mikrovaskular parah. (Akbar, H.,
dkk, 2024)
5. PENATALAKSANAAN STEMI
Pemberian terapi awal pada pasien dengan kemungkinan sindrom koroner akut
dengana danya keluhan angina pektoris namun belum didiagnosis STME/NSTEMI.
Pemebrian terapi awal berupa:
- tirah baring
- oksigen segera dengan saturasi oksigen <95% atau mengalami distress
respirasi
- oksigen diberikan pada semua pasien sindrom koroner akut di 6 jam pertama
tanpa mempertimbangkan saturasi o2
- aspirin 160-320 mg diberikan segera pada semua pasien yang tidak diketahui
intoleransi terhadap aspirin.
- penghambat reseptor ADP (adenosin tripospat), pilih:
a. ticagrelor
dosis awal: 180 mg/oral
dosis pemeliharaan 2 x 90 mg/hari
kontraindikasi: pada STMI yang direncanakan akan dilakukan reprfusi
menggunakan fibrinolitik
b. clopidogrel
dosis awal: 300 mg/oral
dosis pemeliharaan 75 mg/hari
indikasi: pasien yg direncanakan terapi reperfusi menggunakan agen
fibrinolitik, penghambat reseptor ADP
- nitral tablet/spray sublingual untuk pasien nyeri ada dan berlangsung saat tiba
di IGD jika nyeri ada tidak hilang dengan satu kali pemberian maka diulang
setiap 5 menit dengan maksimal 3 kali pemberian
- nitrat intravena untuk pasien tidak responsif dengan terapi sublingual tapi tidak
boleh pada pasien hipotensi dengan sistolik <90 mmHg dan laju jantung
<50c/menit atau ada infark ventrikel kanan dan pasien mengkonsumsi
sildenafil dalam 24 jam
- morfin sulfat 1-5 mg intravena diulang 10-30 menit bagia pasien tidak
responsif dengan nitrat sublingual 3 kali
(Keputusan Menteri Kesehatan RI, 2019)
Penatalaksanaan Farmakologi
Ada 3 kelas obat-obatan yang biasa digunakan untuk meningkatkan suplai oksigen:
vasodilator, antikoagulan, dan trombolitik.
- Analgetik: diberikan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri dada, nyeri
dikatitkan dengan aktivasi simpatis yang menyebabkan vasokonstriksi dan
meningkatkan beban jantung
- Antikoagulan (heparin): untuk membantu mempertahankan integritas jantung.
Heparin memperpanjang waktu pembekuan darah, sehingga dapat menurunkan
kemungkinan pembentukan trombus
- Trombolitik: melarutkan setiap trombus yang telah terbentuk di arteri koroner,
memperkecil penyumbatan dan juga luasnya infark. Ada 3 macam obat
trombolitik: streptokinase, aktivator plasminogen jaringan (t-PA=tissue
plasminogen activator) dan anistreplase.
Penatalaksanaan Non farmakologi
- prosedur PTCA (angiplasti koroner transluminal perkutan): memperbaiki aliran
darah arteri koroner dengan memecah plak atau ateroma yang telah tertimbun dan
mengganggu aliran darah ke jantung. Kateter dengan ujung berbentuk balon
dimasukkan ke arteri koroenr yang mengalami gangguan dan diletakan diantara
daerah aterosklerosis. Balon kemudian dikembangkan dan dikempeskan dengan
cepat untuk memecah plak
- CABG (coronary artery bypass graft): arteri koroner sudah mengalami sumbatan
paling tidak 70% untuk pertimbangan dilakukan CABG. Jika sumbatan pada
arteri kurang dari 70% maka aliran darah melalui arteri tersebut masih cukup
banyak, sehingga mencegah aliran darah yang adekuat pada pintasan. akibatnya
akan terjadi bekuan pada CABG sehingga hasil operasi menjadi sia-sia.
Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan
nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan
analgesik secara tepat
5. Ajarkan Teknik farmakologis
untuk mengurangi nyeri
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu
Terapeutik:
1. Posisikan pasien semi-fowler
atau fowler dengan kaki ke
bawah atau posisi nyaman.
2. Berikan diet jantung yang
sesuai (mis: batasi asupan
kafein, natrium, kolesterol,
dan makanan tinggi
lemak)Gunakan stocking
elastis atau pneumatik
intermitten, sesuai indikasi
3. Fasilitasi pasien dan keluarga
untuk modifikasi gaya hidup
sehat
4. Berikan terapi relaksasi
untuk mengurangi stress, jika
perlu
5. Berikan dukungan emosional
dan spiritua
6. Berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi
oksigen > 94%
Edukasi:
1. Anjurkan beraktivitas fisik
sesuai toleransi
2. Anjurkan beraktivitas fisik
secara bertahap
3. Anjurkan berhenti merokok
4. Ajarkan pasien dan keluarga
mengukur berat badan harian
5. Ajarkan pasien dan keluarga
mengukur intake dan output
cairan harian
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian
antiaritmia, jika perlu
2. Rujuk ke program
rehabilitasi jantung
Edukasi:
Anjurkan berhenti merokok
Anjurkan berolahraga rutin
Anjurkan mengecek air mandi
untuk menghindari kulit
terbakar
Anjurkan menggunakan obat
penurun tekanan darah,
antikoagulan, dan penurun
kolesterol, jika perlu
Anjurkan minum obat pengontrol
tekanan darah secara teratur
Anjurkan menghindari
penggunaan obat penyekat
beta
Anjurkan melakukan perawatan
kulit yang tepat (mis:
melembabkan kulit kering
pada kaki)
Anjurkan program rehabilitasi
vaskular
Ajarkan program diet untuk
memperbaiki sirkulasi (mis:
rendah lemak jenuh, minyak
ikan omega 3)
Informasikan tanda dan gejala
darurat yang harus
dilaporkan (mis: rasa sakit
yang tidak hilang saat
istirahat, luka tidak sembuh,
hilangnya rasa).