0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Laporan Pre Klinik Keperawatan Gawat Darurat

Diunggah oleh

skripsialya2025
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Laporan Pre Klinik Keperawatan Gawat Darurat

Diunggah oleh

skripsialya2025
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN PRE KLINIK KEPERAWATAN GAWAT

DARURAT DAN KRITIS


(IGD)
Tugas ini disusun untuk memenuhi penugasan Modul Pre Klinik Keperawatan Gawat
Darurat
Dosen Pengampu: Ns. Adelina Vidya Ardiyati, [Link]., Sp. KMB.

Disusun Oleh:
Putri Army Purnamasari
11211040000017

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
DESEMBER 2024M/1446 H
1. DEFINISI STEMI
STEMI (Segment ST Elevation Myocardial Infarction) atau Infark Miokard Akut
dengan Elevasi Segmen ST terjadi akibat penyumbatan total pada 1 atau lebih arteri
koroner, sehingga jika sudah terjadi STEMI akut bisa terjadi iskemia miokard
transmural yang mengakibatkan cedera atau nekrosis miokard. (Akbar, H., dkk, 2024)
STEMI adalah sindrom koroner akut berat yang ditandai dengan oklusi arteri
koroner total sehingga menyebabkan iskemia miokardium yang berkepanjangan dan
nekrosis otot jantung. Diagnosa stemi dilihat dari hasil EKG ada elevasi segmen ST dan
peningkatan biomarker jantung seperti troponin

2. ETIOLOGI STEMI
STEMI terjadi akibat adanya penyumbatan total di 1 atau lebih arteri jantung yang
memasok darah ke jantung. Biasanya penyebab gangguan aliran yang terjadi secara
mendadak karena:
- pecah/rupturnya plak
- erosi fisura
- diseksi arteri koroner dengan trombus obstruktif
Faktor risiko dari STEMI adalah:
- dislipidemia
- diabetes
- hipertensi
- merokok
- riwayat keluarga dengan penyakit arteri koroner
- usia
- jenis kelamin
- merokok
- obesitas perut
- gaya hidup sedenter
- stresor psikososial
- pengguna kokain
Etiologi infark miokard berdasarkan patofisiologinya:
- IM tipe 1: berkaitan dengan aterotrombosis intrakoroner; terjadi secara spontan;
sebagian besar bermanifestasi NSTEMI
- IM tipe 2: ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard yang tidak
terkait dengan aterotrombosis koroner akut; terjadi secara spontan; sebagian
bermanifestasi NSTEMI
- IM tipe 3: hanya diidentifikasi pasca mortem
- IM tipe 4 & 5: terkait dengan prosedur medis
(Akbar, H., dkk, 2024)

3. PATOFISIOLOGI STEMI
Adanya trombotik koroner akut sehingga terjadi elevasi segmen ST pada EKG
permukaan setelah penyumbatan aliran darah total dan berkelanjutan. Aterosklerosis
koroner dan fibroatheroma berkapsul tipis berisiko tinggi mengakibatkan pecahnya
plak secara tiba-tiba. Peristiwa ini menyebabkan perubahan endotelium vaskular yang
menghasilkan kaskade adhesi, aktivasi, dan agregasi trombosit yang pada akhirnya
menyebabkan trombosis. (Akbar, H., dkk, 2024)
Oklusi arteri koroner menunjukan cedera miokardium yang menyebar dari miokard
subendokardial ke miokardium subepikardial yang menyebabkan infark transmural
sehingga menghasilkan elevasi segmen ST. KErusakan miokardium terjadi ketika aliran
darah terputus terus menerus sehingga memerlukan penanganan segera, Iskemia akut
yang terjadi tiba-tiba bisa mengakibatkan disfungsi mikrovaskular parah. (Akbar, H.,
dkk, 2024)

4. MANIFESTASI KLINIS STEMI


Pada pasien Acute Coronary Syndrome akan bermanifestasi:
- nyeri dada tipikal angina
- didapati pasien gelisah saat pemeriksaan fisik
- ekstremitas pucat & keringat dingin
- kombinasi nyeri substernal > 30 menit dan keringat
- disfungsi ventricular S4 & S3 gallop
- penurunan intensitas jantung pertama & split paradoksikal bunyi jantung
kedua
- ditemukan murmur midsistolik atau late sistolik apical bersifat sementara

5. PENATALAKSANAAN STEMI
Pemberian terapi awal pada pasien dengan kemungkinan sindrom koroner akut
dengana danya keluhan angina pektoris namun belum didiagnosis STME/NSTEMI.
Pemebrian terapi awal berupa:
- tirah baring
- oksigen segera dengan saturasi oksigen <95% atau mengalami distress
respirasi
- oksigen diberikan pada semua pasien sindrom koroner akut di 6 jam pertama
tanpa mempertimbangkan saturasi o2
- aspirin 160-320 mg diberikan segera pada semua pasien yang tidak diketahui
intoleransi terhadap aspirin.
- penghambat reseptor ADP (adenosin tripospat), pilih:
a. ticagrelor
dosis awal: 180 mg/oral
dosis pemeliharaan 2 x 90 mg/hari
kontraindikasi: pada STMI yang direncanakan akan dilakukan reprfusi
menggunakan fibrinolitik
b. clopidogrel
dosis awal: 300 mg/oral
dosis pemeliharaan 75 mg/hari
indikasi: pasien yg direncanakan terapi reperfusi menggunakan agen
fibrinolitik, penghambat reseptor ADP
- nitral tablet/spray sublingual untuk pasien nyeri ada dan berlangsung saat tiba
di IGD jika nyeri ada tidak hilang dengan satu kali pemberian maka diulang
setiap 5 menit dengan maksimal 3 kali pemberian
- nitrat intravena untuk pasien tidak responsif dengan terapi sublingual tapi tidak
boleh pada pasien hipotensi dengan sistolik <90 mmHg dan laju jantung
<50c/menit atau ada infark ventrikel kanan dan pasien mengkonsumsi
sildenafil dalam 24 jam
- morfin sulfat 1-5 mg intravena diulang 10-30 menit bagia pasien tidak
responsif dengan nitrat sublingual 3 kali
(Keputusan Menteri Kesehatan RI, 2019)
Penatalaksanaan Farmakologi
Ada 3 kelas obat-obatan yang biasa digunakan untuk meningkatkan suplai oksigen:
vasodilator, antikoagulan, dan trombolitik.
- Analgetik: diberikan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri dada, nyeri
dikatitkan dengan aktivasi simpatis yang menyebabkan vasokonstriksi dan
meningkatkan beban jantung
- Antikoagulan (heparin): untuk membantu mempertahankan integritas jantung.
Heparin memperpanjang waktu pembekuan darah, sehingga dapat menurunkan
kemungkinan pembentukan trombus
- Trombolitik: melarutkan setiap trombus yang telah terbentuk di arteri koroner,
memperkecil penyumbatan dan juga luasnya infark. Ada 3 macam obat
trombolitik: streptokinase, aktivator plasminogen jaringan (t-PA=tissue
plasminogen activator) dan anistreplase.
Penatalaksanaan Non farmakologi
- prosedur PTCA (angiplasti koroner transluminal perkutan): memperbaiki aliran
darah arteri koroner dengan memecah plak atau ateroma yang telah tertimbun dan
mengganggu aliran darah ke jantung. Kateter dengan ujung berbentuk balon
dimasukkan ke arteri koroenr yang mengalami gangguan dan diletakan diantara
daerah aterosklerosis. Balon kemudian dikembangkan dan dikempeskan dengan
cepat untuk memecah plak
- CABG (coronary artery bypass graft): arteri koroner sudah mengalami sumbatan
paling tidak 70% untuk pertimbangan dilakukan CABG. Jika sumbatan pada
arteri kurang dari 70% maka aliran darah melalui arteri tersebut masih cukup
banyak, sehingga mencegah aliran darah yang adekuat pada pintasan. akibatnya
akan terjadi bekuan pada CABG sehingga hasil operasi menjadi sia-sia.

6. DIAGNOSA KEPERAWATAN STEMI

Diagnosa Keperawatan Luaran Keperawatan Intervensi Keperawatan


(SDKI) (SLKI) (SIKI)

Nyeri Akut (D.0077) b.d Luaran Utama: Manajemen Nyeri (I.08238)


Agen Pencedera fisiologi Tingkat nyeri menurun (L. Tindakan:
miokard d.d mengeluh nyeri, 08066) 1. Durasi, frekuensi, kualitas,
tampak meringis, bersikap Setelah dilakukan intervensi intensitas nyeri
proteksitf, gelisah, frekuensi keperawatan selama … jam 2. Identifikasi skala nyeri
nadi meningkat, sulit tidur diharapkan tingkat nyeri 3. Idenfitikasi respon nyeri non
menurun dengan kriteria hasil verbal
yakni: 4. Identifikasi faktor yang
1. Keluhan nyeri menurun memperberat dan
2. Meringis menurun memperingan nyeri
3. Sikap protektif menurun 5. Identifikasi pengetahuan dan
4. Gelisah menurun keyakinan tentang nyeri
5. Kesulitan tidur menurun 6. Identifikasi pengaruh budaya
6. Diaforesis menurun terhadap respon nyeri
7. Frekuensi nadi membaik 7. Identifikasi pengaruh nyeri
8. Pola napas membaik pada kualitas hidup
9. Tekanan darah membaik 8. Monitor keberhasilan terapi
PPNI (2018). Standar Luaran komplementer yang sudah
Keperawatan Indonesia: diberikan
Definisi dan Kriteria Hasil 9. Monitor efek samping
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: penggunaan analgetik
DPP PPNI.
Terapeutik:
1. Berikan Teknik non
farmakologis untuk
mengurangi nyeri (mis:
TENS, hypnosis, akupresur,
terapi music, biofeedback,
terapi pijat, aromaterapi,
Teknik imajinasi terbimbing,
kompres hangat/dingin,
terapi bermain).
2. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri (mis:
suhu ruangan, pencahayaan,
kebisingan).
3. Fasilitasi istirahat dan tidur.
4. Pertimbangkan jenis dan
sumber nyeri dalam
pemilihan strategi meredakan
nyeri

Edukasi:
1. Jelaskan penyebab, periode,
dan pemicu nyeri
2. Jelaskan strategi meredakan
nyeri
3. Anjurkan memonitor nyeri
secara mandiri
4. Anjurkan menggunakan
analgesik secara tepat
5. Ajarkan Teknik farmakologis
untuk mengurangi nyeri

Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian
analgetik, jika perlu

Penurunan curah jantung Luaran Utama: Perawatan jantung (I.02075)


(D. 0008) b.d Perubahan Curah jantung (L.02008) Observasi:
Irama Jantung d.d Setelah dilakukan intervensi 1. Identifikasi tanda/gejala
palpitasi, bradikardi/takikardi, keperawatan selama 1 x 24 jam primer penurunan curah
gambaran EKG aritmia atau diharapkan curah jantung jantung (meliputi: dispnea,
gangguan konduksi, lelah, meningkat dengan kriteria hasil kelelahan, edema, ortopnea,
edema, DVJ, CVP yakni: PND, peningkatan CVP)
meningkat/menurun, 1. Kekuatan nadi perifer 2. Identifikasi tanda/gejala
hepatomegali, dispnea, TD meningkat sekunder penurunan curah
meningkat/menurun, nadi 2. Ejection fraction (EF) jantung (meliputi:
perifer lemah, CRT>3detik, meningkat peningkatan berat badan,
oliguria, sianosis, PND, 3. Palpitasi menurun hepatomegaly, distensi vena
otopnea, batuk terdengar suara 4. Bradikardia menurun jugularis, palpitasi, ronkhi
jantung S3/S4, EF menurun 5. Takikardia menurun basah, oliguria, batuk, kulit
6. Gambaran EKG Aritmia pucat)
menurun 3. Monitor tekanan darah
7. Lelah menurun (termasuk tekanan darah
8. Edema menurun ortostatik, jika perlu)
9. Distensi vena jugularis 4. Monitor intake dan output
menurun cairan
10. Dispnea menurun 5. Monitor berat badan setiap
11. Oliguria menurun hari pada waktu yang sama
12. Pucat/sianosis menurun 6. Monitor saturasi oksigen
13. Paroximal nocturnal 7. Monitor keluhan nyeri dada
dyspnea (PND) menurun (mis: intensitas, lokasi,
14. Ortopnea menurun radiasi, durasi, presipitasi
15. Batuk menurun yang mengurangi nyeri)
16. Suara jantung S3 menurun 8. Monitor EKG 12 sadapan
17. Suara jantung S4 menurun 9. Monitor aritmia (kelainan
18. Tekanan darah membaik irama dan frekuensi)
19. Pengisian kapiler 10. Monitor nilai laboratorium
membaik jantung (mis: elektrolit,
enzim jantung, BNP, NT
proBNP)
11. Monitor fungsi alat pacu
jantung
12. Periksa tekanan darah dan
frekuensi nadi sebelum dan
sesudah aktivitas
13. Periksa tekanan darah dan
frekuensi nadi sebelum
pemberian obat (mis: beta
blocker, ACE Inhibitor,
calcium channel blocker,
digoksin)

Terapeutik:
1. Posisikan pasien semi-fowler
atau fowler dengan kaki ke
bawah atau posisi nyaman.
2. Berikan diet jantung yang
sesuai (mis: batasi asupan
kafein, natrium, kolesterol,
dan makanan tinggi
lemak)Gunakan stocking
elastis atau pneumatik
intermitten, sesuai indikasi
3. Fasilitasi pasien dan keluarga
untuk modifikasi gaya hidup
sehat
4. Berikan terapi relaksasi
untuk mengurangi stress, jika
perlu
5. Berikan dukungan emosional
dan spiritua
6. Berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi
oksigen > 94%

Edukasi:
1. Anjurkan beraktivitas fisik
sesuai toleransi
2. Anjurkan beraktivitas fisik
secara bertahap
3. Anjurkan berhenti merokok
4. Ajarkan pasien dan keluarga
mengukur berat badan harian
5. Ajarkan pasien dan keluarga
mengukur intake dan output
cairan harian

Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian
antiaritmia, jika perlu
2. Rujuk ke program
rehabilitasi jantung

Gangguan Sirkulasi Spontan Luaran utama: Manajemen Defibrilasi (I.02085)


(D. 0007) b.d Abnormalities Sirkulasi spontan (L.02015) Observasi:
Kelistrikan Jantung d.d tidak Setelah dilakukan intervensi 1. Periksa irama pada monitor
berespon, HR <50x/menit atau keperawatan selama 1 x 24 setelah RJP 2 menit
>150x/menit, TD sistolik <60 jam, maka sirkulasi spontan Terapeutik:
mmHg atau >200 mmHg, RR meningkat, dengan kriteria 1. Lakukan resusitasi jantung
<6x/menit atau >30x/menit, hasil: paru (RJP) hingga mesin
kesadaran menurun atau tidka 1. tingkat kesadaran defibrillator siap
sadar meningkat 2. Siapkan dan hidupkan mesin
2. Frekuensi nadi membaik defibrillator
3. Tekanan darah membaik 3. Pasang monitor EKG
4. Frekuensi napas membaik 4. Pastikan irama EKG henti
jantung (VF atau VT tanpa
nadi)
5. Atur jumlah energi dengan
metode asynchronized (360
joule untuk monofasik dan
120-200 joule untuk bifasik)
6. Angkat paddle dari mesin
dan oleskan jeli pada paddle
7. Tempelkan paddle sternum
(kanan) pada sisi kanan
sternum di bawah klavikula
dan paddle apeks (kiri) pada
garis midaksilaris setinggi
elektroda V6
8. Isi energi dengan menekan
tombol charge pada paddle
atau tombol charge pada
mesin defibrillator dan
menunggu hingga energi
yang diinginkan tercapai
9. Hentikan RJP saat
defibrillator siap
10. Teriak bahwa defibrillator
telah siap (misal: “I’m clear,
you’re clear, everybody’s
clear”)
11. Berikan syok dengan
menekan tombol pada kedua
paddle bersamaan
12. Angkat paddle dan langsung
lanjutkan RJP tanpa
menunggu hasil irama yang
muncul pada monitor setelah
pemberian defibrilasi
13. Lanjutkan RJP sampai 2
menit

Perfusi Perifer Tidak Efektif Luaran Utama: Perawatan Sirkulasi (I.02079)


(D.0009) b.d. Penurunan Perfusi Perifer Observasi:
aliran arteri d.d Pengisian Meningkat (L.02011) 1. Periksa sirkulasi perifer (mis:
kapiler (cappilary refill) >3 Setelah dilakukan intervensi nadi perifer, edema,
detik, Nadi perifer menurun keperawatan selama 1 x 24 pengisian kapiler, warna,
atau tidak teraba, Akral teraba jam, maka Perfusi Perifer suhu, ankle-brachial index)
dingin, Warna kulit pucat, meningkat, dengan kriteria 2. Identifikasi faktor risiko
Turgor kulit menurun hasil: gangguan sirkulasi (mis:
1. Pengisian Kapiler diabetes, perokok, orang tua,
membaik hipertensi, dan kadar
2. Akral Membaik kolesterol tinggi)
3. Tugor Kulit membaik 3. Monitor panas, kemerahan,
4. Warna kulit pucat nyeri, atau bengkak pada
menurun ekstremitas
5. Denyut Nadi perifer Terapeutik:
meningkat 1. Hindari pemasangan infus,
atau pengambilan darah di
area keterbatasan perfusi
2. Hindari pengukuran tekanan
darah pada ekstremitas
dengan keterbatasan perfusi
3. Hindari penekanan dan
pemasangan torniquet pada
area yang cidera
4. Lakukan pencegahan infeksi
5. Lakukan perawatan kaki dan
kuku
6. Lakukan hidrasi

Edukasi:
Anjurkan berhenti merokok
Anjurkan berolahraga rutin
Anjurkan mengecek air mandi
untuk menghindari kulit
terbakar
Anjurkan menggunakan obat
penurun tekanan darah,
antikoagulan, dan penurun
kolesterol, jika perlu
Anjurkan minum obat pengontrol
tekanan darah secara teratur
Anjurkan menghindari
penggunaan obat penyekat
beta
Anjurkan melakukan perawatan
kulit yang tepat (mis:
melembabkan kulit kering
pada kaki)
Anjurkan program rehabilitasi
vaskular
Ajarkan program diet untuk
memperbaiki sirkulasi (mis:
rendah lemak jenuh, minyak
ikan omega 3)
Informasikan tanda dan gejala
darurat yang harus
dilaporkan (mis: rasa sakit
yang tidak hilang saat
istirahat, luka tidak sembuh,
hilangnya rasa).

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSA STEMI


Diagnosa STEMi ditegakkan jika ada keluhan angina pektoris akutt disertai elevasi
segmen ST yang persisten di dua sadapan yang bersebelahan
a. Elektrokardiogram/EKG
- lakukan EKG 12 sadapan saat istirahat sebagai alat diagnostik utama untuk
evaluasi pasien dengan dugaan ACS
- Karakteristik hasil EKG adanya elevasi segmen ST pada sadapan tertentu
- pasien dengan dugaan ACS dikategorikan jadi 2 kelompok berdasarkan
temuan EKG awal
- Pada nyeri dada akut atau jika gejala sama dengan STEMI persisten atau
ekuivalen maka diberikan diagnosis STEMI
- kriteria EKG STEMI menurut AHA: elevasi segmen ST baru terjadi pada titik
J di 2 2 sadapan yang berdekatan dengan ambang batas lebih besar dari 0,1
mV di semua sadapan kecuali V2 & V3
- pada sadapan V2 & V3 ambang batasnya lebih besar dari 0,2 mV untuk pria di
atas 40 tahun, lebih besar dari 0,25 mV untuk pria di bawah 40 tahun dan lebih
besar dari 0,15 mV untuk wanita
b. Pemeriksaan troponin jantung
- karena ada kemungkinan nekrosis miokard maka dilakukan pengecekan
troponin untuk memenuhi kriteria infark miokard meskipun tidak semua
diagnosa akhirnya STEMI
- marka jantung yang digunakan adalah troponin I/T. Jika ada peningkatan
berma maka diagnosis menjadi NSTEMI
c. Biomarker jantung
- Infark miokard harus dikonfirmasi dengan adanya kadar biomarker jantung
abnormal
(Akbar, H., dkk, 2024)
DAFTAR PUSTAKA
ACLS. (2023). Acute Coronary Syndrome Algorithm: Assessment and Action. Acute coronary
syndromes algorithm: Assessments and actions
Akbar, Hina. dkk. (2024). ST Elevation Myocardial Infarction. Statpearls.
[Link]
Elendu, C., Amaechi, D. C., Elendu, T. C., Omeludike, E. K., Alakwe-Ojimba, C. E.,
Obidigbo, B., Akpovona, O. L., Oros Sucari, Y. P., Saggi, S. K., Dang, K., & Chinedu, C.
P. (2023). Comprehensive review of ST-segment elevation myocardial infarction:
Understanding pathophysiology, diagnostic strategies, and current treatment approaches.
Medicine, 102(43), e35687. [Link]
Keputusan Menteri Kesehatan RI. (2019). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata
Laksana Sindroma Koroner Akut.
[Link]
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan
Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI.
PPNI (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI.
ProACLS. (2017). Acute Coronary Syndrome (ACS) Algorithm. Acute Coronary Syndrome
(ACS) Algorithm - ACLS Wiki

Anda mungkin juga menyukai