A.
Pengembangan BABA Model ADDIE
Pada dasarnya model ADDIE bukanlan model pengembangan yang
dikhususkan untuk pengembangan buku ajar, melainkan suatu pendekatan
untuk pengembangan desain pembelajaran (Instructional Design). Model
ADDIE adalah salah satu model yang paling umum digunakan dalam bidang
desain instruksional sebagai panduan untuk menghasilkan sebuah desain yang
efektif. Model ini merupakan pendekatan yang membantu desain
instruksional, pengembang konten apa pun, atau bahkan guru untuk membuat
desain pembelajaran yang efisien dan efektif dengan menerapkan proses
model ADDIE pada produk instruksional (Aldoobie, 2015).
ADDIE adalah singkatan dari Analyze, Design, Develop, Implement,
dan Evaluate. Setiap fase dalam model ADDIE ini saling terkait dan
berinteraksi satu sama lainnya (Aldoobie, 2015). Konsep ADDIE ini
diterapkan untuk membangun pembelajaran berbasis kinerja. Filosofi ADDIE
adalah bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa, inovatif otentik, dan
inspiratif (Branch, 2009). Belakangan ini, banyak penelitian yang
menggunakan pendekatan ADDIE bukan untuk pengembangan desain
pembelajaran saja, tetapi juga digunakan atau diadopsi untuk pengembangan
buku ajar. Model ADDIE ini oleh Barnch (2009) digambarkan sebagai
berikut.
Dalam konteks pengembangan atau penyusunan BABA, Gambar di
atas menunjukkan tahapan yang dapat dijadikan pijakan dalam
mengembangkan atau menyusun BABA, yaitu mulai melakukan analisis,
mendesain, mengembangkan, menerapkan, dan mengevaluasi. Gambar
tersebut mengisyaratkan bahwa proses pengembangan atau penyusunan
BABA bukan bersifat linier, melainkan menggunakan sistem siklus yang
memberikan ruang perbaikan (revisi) pada setiap tahapannya. Artinya, untuk
menghasilkan produk yang sahih, andal, dan objektif, kegiatan revisi selalu
dilakukan pada setiap tahapan, bukan hanya pada akhir tahapan.
Berikut ini uraian pengimplementasian pengembangan atau
penyusunan BABA yang diadopsi dari Model ADDIE.1
1. Analisis (Analyze)
Tahap analisis (analyze) meliputi kegiatan sebagai berikut: (a)
melakukan analisis kompetensi yang dituntut kepada peserta didik; (b)
melakukan analisis karakter peserta didik tentang kapasitas belajarnya,
kemampuan, keterampilan, sikap yang telah dimiliki peserta didik
serta aspek lain yang terkait; (c) melakukan analisis materi sesuai
dengan tuntutan kompetensi.
Tahap analisis menyangkut tiga pertanyaan yang harus dijawab
secara tuntas. Pertama, kompetensi apa saja yang harus dikuasai
peserta didik setelah menggunakan produk pengembangan?
Pertanyaan ini berkaitan dengan kapabilitas belajar yang ingin dicapai
oleh peserta didik setelah memanfaatkan produk pengembangan dalam
pembelajaran, baik itu pengetahuan, sikap, maupun keterampilan.
Kedua, bagaimana karakteristik peserta didik yang akan menggunakan
produk pengembangan ini? Hal ini berkenaan dengan keadaan peserta
didik yang akan menjadi sasaran pengguna produk pengembangan.
Keadaan peserta didik yang dimaksud antara lain: pengetahuan awal
1
Mohammad Ainin, Memahami Buku Ajar Bahasa Arab (Malang: CV. Bintang Sejahtera,
2024), h. 116-117.
yang dimiliki, minat dan bakat secara umum, gaya belajar,
kemampuan berbahasa dan lain sebagainya. Ketiga, sesuai dengan
kompetensi yang dituntut dan karakteristik peserta didik, materi apa
saja yang perlu dikembangkan? Pertanyaan ketiga berkenaan dengan
analisi materi berupa materi-materi pokok, sub-subbagian dari materi
pokok, anak sub bagian dan seterusnya.2
2. Perancangan (Design)
Setelah tahap analisis, langkah berikutnya adalah desain. Pada
tahap ini, pengembang mulai merancang pengalaman belajar
berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan. Desain mencakup
pembuatan rencana pembelajaran, pemilihan metode pengajaran, dan
pengembangan materi ajar. Menurut Ulrich dan Eppinger (2012),
desain yang baik harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk
tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, dan konteks
pembelajaran.
Salah satu aspek penting dalam tahap desain adalah pemilihan
metode pengajaran yang sesuai. Metode yang dipilih harus mampu
mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Misalnya, jika tujuan
pembelajaran adalah meningkatkan keterampilan berbicara, maka
metode diskusi atau simulasi dapat dipilih. Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Torang Siregar (2023) yang
menunjukkan bahwa metode aktif dapat meningkatkan partisipasi dan
motivasi peserta didik.
Selain itu, pada tahap desain, pengembang juga perlu
merancang evaluasi formatif yang akan digunakan untuk mengukur
kemajuan peserta didik. Evaluasi ini penting untuk memberikan
umpan balik yang konstruktif selama proses pembelajaran. Mariam
dan Nam (2019) menunjukkan bahwa evaluasi formatif yang
2
Fayrus Abadi Slamet, Model Penelitian Pengembangan (Jawa Timur: Institut Agama Islam
Sunan Kalijogo Malang, 2022), h. 26-27.
dirancang dengan baik dapat membantu pengajar dalam menyesuaikan
strategi pengajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Desain juga mencakup pengembangan materi ajar yang
menarik dan relevan. Materi yang dirancang harus sesuai dengan
tingkat pemahaman peserta didik dan dapat memfasilitasi pencapaian
tujuan pembelajaran. Dalam konteks ini, penggunaan teknologi dalam
desain materi ajar dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik. Hal
ini sejalan dengan temuan Purnama (2016) yang menunjukkan bahwa
penggunaan multimedia dalam pembelajaran bahasa dapat
meningkatkan pemahaman peserta didik.
Dengan demikian, tahap desain merupakan langkah yang
sangat penting dalam model ADDIE. Desain yang baik akan
memastikan bahwa pengalaman belajar yang dirancang dapat
memenuhi kebutuhan peserta didik dan mendukung pencapaian tujuan
pembelajaran.
3. Pengembangan (Development)
Setelah tahap desain, langkah selanjutnya adalah
pengembangan. Pada tahap ini, materi ajar yang telah dirancang akan
dikembangkan menjadi produk pembelajaran yang siap digunakan.
Pengembangan mencakup pembuatan konten, pengujian, dan revisi
materi ajar. Menurut Gustiani (2019), proses pengembangan harus
dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan bahwa materi yang
dihasilkan berkualitas tinggi dan sesuai dengan desain yang telah
ditetapkan.
Salah satu aspek penting dalam tahap pengembangan adalah
pengujian materi ajar. Pengujian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
kelemahan dan kekuatan materi sebelum diterapkan secara luas.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Latief (2009), pengujian
dilakukan dengan melibatkan sekelompok peserta didik untuk
memberikan umpan balik tentang materi yang telah dikembangkan.
Hasil pengujian ini kemudian digunakan untuk melakukan revisi dan
perbaikan.
Selain itu, pengembangan juga mencakup penyusunan panduan
pengajaran bagi pengajar. Panduan ini sangat penting untuk membantu
pengajar dalam menyampaikan materi dengan cara yang efektif.
Menurut Richey dan Klein (2007), panduan yang jelas akan
memudahkan pengajar dalam mengimplementasikan strategi
pengajaran yang telah dirancang.
Pengembangan juga harus mempertimbangkan aspek
aksesibilitas. Materi ajar yang dikembangkan harus dapat diakses oleh
semua peserta didik, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan
khusus. Dalam konteks ini, penggunaan teknologi dapat membantu
dalam menciptakan materi yang lebih inklusif. Hal ini sesuai dengan
temuan yang diungkapkan oleh Mariam dan Nam (2019) yang
menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dapat meningkatkan
aksesibilitas pembelajaran.
Dengan demikian, tahap pengembangan adalah langkah yang
sangat penting dalam model ADDIE. Proses pengembangan yang baik
akan memastikan bahwa materi ajar yang dihasilkan berkualitas tinggi
dan siap digunakan dalam proses pembelajaran.
4. Implementasi (Implementation)
Tahap implementasi adalah langkah berikutnya dalam model
ADDIE, di mana materi ajar yang telah dikembangkan diterapkan
dalam konteks pembelajaran nyata. Implementasi mencakup
pelaksanaan pembelajaran di kelas, penggunaan metode pengajaran
yang telah dirancang, dan penerapan evaluasi formatif. Menurut Ulrich
dan Eppinger (2012), implementasi yang sukses memerlukan
persiapan yang matang dan dukungan yang memadai dari semua pihak
yang terlibat.
Salah satu faktor kunci dalam tahap implementasi adalah
kesiapan pengajar. Pengajar harus memahami materi ajar dan metode
pengajaran yang digunakan untuk dapat menyampaikan pembelajaran
dengan efektif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Purnama (2016),
pelatihan bagi pengajar dilakukan sebelum implementasi untuk
memastikan bahwa mereka siap menggunakan materi ajar yang telah
dikembangkan.
Selain itu, implementasi juga harus mempertimbangkan
konteks dan kondisi lingkungan belajar. Menurut Sugiyono (2012),
kondisi fisik kelas, alat bantu belajar, dan dukungan teknologi dapat
mempengaruhi efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, penting bagi
pengembang untuk bekerja sama dengan pengajar dan pihak sekolah
untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung.
Selama tahap implementasi, pengembang juga harus
melakukan pemantauan dan pengumpulan data untuk mengevaluasi
efektivitas pembelajaran. Data yang dikumpulkan dapat memberikan
informasi berharga tentang bagaimana peserta didik merespons materi
ajar dan metode pengajaran yang digunakan. Hal ini sejalan dengan
penelitian oleh Torang Siregar (2023) yang menunjukkan bahwa
pemantauan yang baik dapat membantu dalam menyesuaikan strategi
pengajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Dengan demikian, tahap implementasi merupakan langkah
yang sangat penting dalam model ADDIE. Implementasi yang baik
akan memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan dengan lancar
dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5. Evaluasi (Evaluation)
Tahap terakhir dalam model ADDIE adalah evaluasi. Evaluasi
dilakukan untuk menilai efektivitas pembelajaran dan untuk
mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki. Menurut Kothari (2004),
evaluasi dapat dilakukan dalam dua bentuk: evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dilakukan selama proses
pembelajaran untuk memberikan umpan balik yang konstruktif,
sedangkan evaluasi sumatif dilakukan setelah pembelajaran untuk
menilai pencapaian tujuan.
Salah satu metode yang umum digunakan dalam evaluasi
adalah tes. Tes dapat digunakan untuk mengukur pemahaman peserta
didik terhadap materi yang diajarkan. Dalam penelitian yang dilakukan
oleh Mariam dan Nam (2019), hasil tes menunjukkan bahwa peserta
didik yang mengikuti pembelajaran berbasis ADDIE memiliki hasil
yang lebih baik dibandingkan dengan metode tradisional.
Selain itu, evaluasi juga dapat dilakukan melalui umpan balik
dari peserta didik. Menurut Richey dan Klein (2007), umpan balik dari
peserta didik sangat penting untuk memahami bagaimana mereka
merasakan pengalaman belajar. Pengumpulan umpan balik ini dapat
dilakukan melalui survei atau wawancara, dan hasilnya dapat
digunakan untuk melakukan perbaikan pada materi ajar dan metode
pengajaran.
Evaluasi juga harus mempertimbangkan konteks dan tujuan
pembelajaran. Dalam konteks pendidikan, evaluasi tidak hanya
bertujuan untuk menilai pencapaian akademik, tetapi juga untuk
memahami perkembangan sosial dan emosional peserta didik. Oleh
karena itu, penting bagi pengembang untuk menggunakan berbagai
metode evaluasi yang holistik.
Dengan demikian, tahap evaluasi merupakan langkah yang
sangat penting dalam model ADDIE. Evaluasi yang dilakukan dengan
baik akan memberikan informasi berharga untuk perbaikan dan
pengembangan lebih lanjut dari proses pembelajaran.3
3
Zamsiswaya, Syawaluddin, dan Syahrizul, “Pengembangan Model ADDIE (Analisys,
Design, Development, Implemetation, Evaluation),” Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8, no. 3 (2024):
h. 46366-46368.