0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan30 halaman

Teori dan Ciri Pembelajaran Efektif

Diunggah oleh

rosdiana12103
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan30 halaman

Teori dan Ciri Pembelajaran Efektif

Diunggah oleh

rosdiana12103
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kajian Teori
1. Hakikat Pembelajaran
Pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik dan
pendidik untuk melakukan perubahan sikap serta pola pikir peserta didik
kearah yang lebih baik untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal.
Pembelajaran juga dapat diartikan sebagai proses memberikan bimbingan
atau arahan bagi peserta didik dalam melakukan proses belajar dan
pembelajaran. Menurut Usman (2012:12) “pembelajaran adalah inti dari
proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang
peranan utama. Pembelajaran merupakan suatu proses yang mengandung
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik
yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu”.
Sedangkan menurut Wragg (2012:12) “pembelajaran yang efektif adalah
pembelajaran yang memudahkan siswa untuk mempelajari sesuatu yang
bermanfaat seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep, dan bagaimana hidup
serasi dengan sesama, atau suatu hasil belajar yang diinginkan”.
Fathurrohman (2015:16) berpendapat bahwa:
“Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar pembelajaran
merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses
prolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat,
serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik”

Dimyati & Mudjiono dalam Sagala (2016:62) “Pembelajaran adalah


kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk
membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan
sumber belajar”. Menurut Khuluqo & Istaryatiningtias (2022:100)
“Pembelajaran adalah proses atau suatu cara ataupun perbuatan untuk
menjadikan orang (anak didik) mau belajar. Pembelajaran adalah proses
intraksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar”. Dari beberapa pendapat para ahli di atas disimpulkan

10
11

bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara pendidik dan peserta


didik dengan tujuan memperoleh ilmu pengetahuan dan meningkatkan
kemampuan yang dimiliki peserta didik. Dalam kegiatan belajar tentunya
terdapat banyak perbedaan, seperti adanya peserta didik yang mampu
mencerna materi pelajaran, dan ada juga peserta didik yang kurang mampu
memahami materi pelajaran. Hal tersebut yang membuat pendidik harus
bisa menyusun strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan peserta
didik.
a. Definisi Pembelajaran
Ihsana (2017: 1) “belajar merupakan akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia
dapat menunjukkan perubahan perilakunya”. Sedangkan menurut Sagala
(2016:61) “Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar
dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan
oleh peserta didik atau murid”. Menurut Djamarah dan Zain (2013:10)
“Belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan.
Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang
menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi
segenap aspek organisme atau pribadi”. Menurut Hamalik (2014:36)
pengertian secara psikologis “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh
kelakuan melalui pengalaman”. Menurut Trianto (2016:17) “Belajar
sebagai proses perubahan pada individu yang terjadi melalui pengalaman,
dan bukan karena pertumbuhan atau perkembangan tubuhnya atau
karakteristik seseorang sejak lahir”.
Berdasarkan beberapa teori di atas disimpulkan bahwa belajar
merupakan suatu perubahan berupa perilaku individu secara keseluruhan
melalui bimbingan dari pendidik yang dapat dilihat hasil dari belajar
tersebut yaitu dengan bertambahnya pengetahuan, pemahaman, sikap, dan
perilaku peserta didik tersebut.
b. Ciri-Ciri Pembelajaran
Menurut Narti (2019:222) “Yang dimaksud dengan ciri-ciri belajar
adalah sifat atau keadaan yang khas dimiliki oleh perbuatan belajar. Dengan
12

demikian ciri-ciri belajar ini akan membedakannya dengan perbuatan yang


bukan belajar”. Belajar mempunyai ciri-ciri khusus menurut Baharudin dan
Esa (dalam Fathurrohman, 2017, hlm. 8) menyimpulkan ada beberapa ciri
belajar yaitu sebagai berikut:
a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku yang
berarti bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah
laku, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi
terampil.
b. Perubahan perilaku relatif permanen yaitu perubahan perilaku
yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau
tidak berubah-ubah.
c. Perubahan “tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada
saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku
tersebut bersifat potensial.
d. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau
pengalaman.
e. Pengalaman atau latihan dapat memberi penguatan berupa
semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku”.

Sedangkan menurut Elbadiansyah & Masyni (2019:5) menyebutkan


setidaknya belajar memiliki ciri-ciri, sebagai berikut:
a. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah
laku bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan
(psiomotorik), maupun nilai dan sikap (afektif).
b. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap
atau dapat disimpan
c. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan
usaha. Perubahan terjadi dengan akibat interaksi dengan
lingkungan
d. Perubahan tidak semata-mata disebabkan karena kelelahan,
penyakit atau pengaruh obat-obatan

Pane & Dasopang (2017) beberapa ciri-ciri belajar sebagai berikut:


“1) Perubahan yang terjadi secara sadar. 2) Perubahan dalam belajar bersifat
fungsional. 3) Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif. 4)
Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara. 5) Perubahan dalam
belajar bertujuan dan terarah. 6) Perubahan mencakup seluruh aspek”.
Menurut Kurniyanti (2015:6) ciri-ciri belajar antara lain: (a) aktivitas yang
dapat menghasilkan perubahan dalam diri seseorang secara aktual dan
potensial; (b) perubahan yang didapat sesungguhnya adalah kemampuan
baru dan ditempuh dalam jangka waktu lama; (c) perubahan terjadi karena
13

ada usaha dari peserta didik. Dalam konteks pembelajaran, sebuah


perubahan tingkah laku peserta didik merupakan hasil usaha seorang guru
melalui kegiatan belajar. Sehingga dapat dipahami bahwa mengajar
merupakan suatu kegiatan guru untuk membantu dan membimbing peserta
didik agar dapat berubah dan berkembang menjadi seorang lebih baik.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-
ciri pembelajaran diantaranya:
a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan dan menambah
kemampuan baru
b. Belajar ditempuh dalam jangka waktu yang lama
c. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman
d. Kemampuan yang diperoleh peserta didik diperoleh karena
usahanya sendiri
c. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan arah yang ingin dituju dalam
proses pembelajaran. Menurut Subakti (2021, hlm. 7) “Tujuan
pembelajaran adalah faktor yang sangat penting dalam proses pembelajaran.
Dengan adanya tujuan, maka guru memiliki pedoman dan sasaraan yang
akan dicapai dalam kegiatan mengajar. Apabila tujuan pembelajaran sudah
jelas dan tegas, maka langkah dan kegiatan pembelajaran akan lebih
terarah”. Menurut Cooper dalam Rusmono (2014, hlm. 23) terdapat tujuan
pembelajaran yaitu: “1) berorientasi pada peserta didik 2) menggabarkan
perilaku sebagai hasil belajar 3) jelas dan komprehensif 4) dapat diamati”.
Sedangkan menurut Sardiman, (2014:26-27) secara umum, tujuan belajar
terdapat 3 jenis, yaitu:
1) Untuk mendapatkan pengetahuan.
Pengetahuan dan kemampuan berpikir tidak dapat dipisahkan,
karena kemampuan berpikir tidak dapat berkembang jika tanpa
bahan pengetahuan, begitupun sebaliknya. Oleh karena itu hal
ini ditandai dengan kemampuan berpikir.
2) Kemampuan konsep dan keterampilan.
Penanaman konsep atau merumuskan konsep juga memerlukan
suatu keterampilan, baik keterampilan jasmani serta
keterampilan rohani.
14

3) Pembentukan sikap.
Dalam menumbuhkan sikap mental, perilaku dan pribadi anak
didik tidak terlepas dari soal penanaman nilai-nilai, transfer of
values. Oleh karena itu, peran pendidik bukan hanya sekedar
mengajar namun sebagai pendidik yang akan memindahkan
nilai-nilai itu pada anak didik.

Hamalik (2014: 77) memberikan pengertian tujuan pembelajaran


“sebagai dasar untuk mengukur hasil pembelajaran dan juga menjadi
landasan untuk menentukan isi pelajaran dan metode mengajar”. Menurut
Muhammad (2020: 71) “ketika tujuan pembelajaran tidak ada atau tidak
jelas, siswa mungkin tidak mengetahui apa yang diharapkan dari mereka,
yang kemudian dapat menimbulkan kebingungan, frustrasi, atau faktor lain
yang dapat menghambat proses pembelajaran”. Berdasarkan penjelasan
tentang tujuan pembelajaran di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan
pembelajaran adalah:
1) Merupakan upaya membekali diri peserta didik dengan kemampuan-
kemampuan yang bersifat pengalaman pemahaman.
2) Untuk mendapatkan pengetahuan
3) Meningkatkan kemampuan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap
2. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Kunandar, (2013:62) “hasil belajar yaitu kompetensi atau
kemampuan tertentu, baik dari aspek kognitif, afektif maupun psikomotor,
yang dicapai atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti proses
belajar mengajar”. “Hasil belajar merupakan perubahan perilaku seseorang
yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perubahan perilaku
ini didapatkan setelah peserta didik menyelesaikan proses pembelajarannya
melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar dan lingkungan belajar
(Rusmono, 2017). Hasil belajar menurut Gagne & Briggs dalam
Suprihatiningrum (2016:37) adalah “kemampuan-kemampuan yang
dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui
penampilan siswa. Menurut Bloom (dalam Suprijono 2013: 6), hasil belajar
mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik.
15

Dari beberapa definisi diatas, disimpulkan bahwa hasil belajar


merupakan suatu tolak ukur yang dilihat dari suatu proses belajar kemudian
dilakukan oleh peserta didik yang dinilai oleh pendidik atau diamati oleh
pendidik, baik berupa angka atau perubahan dari tingkah laku peserta didik
sebagai akibat dari proses belajar yang dilakukan.
b. Indikator Hasil Belajar
Bloom dalam Sudjana (2012:22-31) membagi hasil belajar menjadi
tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. Pada
setiap ranahnya memiliki kategori lebih rinci.
1. Ranah Kognitif
Penjelasan tentang ranah kognitif Bloom dijelaskan oleh Degeng
dan Turmuzi dalam Darmawan & Sujoko (2013:31-32) bahwa terdapat
enam kategori yaitu sebagai berikut:
a. Pengetahuan yang menekankan pada mengingat;
b. Pemahaman yang menekankan pada pengubahan bentuk
informasi ke bentuk yang lebih mudah dipahami;
c. Aplikasi yang hasil belajarnya menggunakan abstraksi pada
situasi tertentu dan konkret;
d. Analisis yang hasil belajarnya diperoleh dari memilah informasi
ke dalam satuan yang lebih rinci;
e. Sintesis, hasil belajar dari klasifikasi ini yaitu penyatuan bagian-
bagian ke dalam bentuk satuan yang baru dan unik;
f. Evaluasi, hasil yang diperoleh merupakan pertimbangan-
pertimbangan tentang nilai dari suatu tujuan tertentu.
Seiring dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi,
Anderson yang merupakan salah satu murid Bloom merevisi taksonomi
Bloom pada ranah kognitif dengan mengubah kata kunci, pada katagori
dari benda menjadi kata kerja. Anderson tidak mengubah jumlah dalam
kategori kognitif melainkan hanya memasukan kategeori baru yaitu
creatting yang sebelumnya tidak ada, sehingga taksonomi Bloom yang
telah direvisi oleh Anderson dalam Rusman (2017:133) adalah sebagai
berikut:
16

C1 (Mengingat)

C2 (Memahami)

C3 (Menerapkan)

C4 (Menganalisis)

C5 (Mengevaluasi)

C6 (Menciptakan)

Gambar 2. 1 Dimensi Proses Kognitif (Taksonomi Bloom)


2. Ranah Afektif
Bloom dalam Thobroni (2016:21) ranah afektif mencakup receiving
(sikap menerima), Responding (memberikan respon), valuing (nilai),
organization (organisasi), dan Characterization (karakterisasi). Krathwohl
dalam Ahmad (2014:17-18) menjelaskan cakupan tersebut dan untuk lebih
jelasnya penulis uraikan sebagai berikut:
a. Receiving atau attending siswa memiliki keinginan memperhatikan
suatu fenomena atau stimulus.
b. Responding merupakan partisipisasi aktif yang dilakukan oleh
siswa.
c. Valuing yaitu melibatkan penentuan nilai keyakinan atau sikap
yang menunjukan derajat internalisasi dan komitmen. Hasil belajar
pada tingkat ini berhubungan dengan prilaku yang konsisten dan
stabil agar nilai dikenal secara jelas.
d. Organization, nilai satu dengan lain dikaitkan, konflik antar nilai
diselesaikan. Hasil belajar pada tingkat ini berupa konseptualisasi
nilai atau organisasi sistem nilai.
e. Characterization, siswa memiliki sistem nilai yang mengendalikan
prilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup.
Hasil belajar ini berkaitan dengan pribadi, emosi dan sosial.
3. Ranah Psikomotorik
Dave dalam Suyono & Hariyonto (2012:173) memaparkan bahwa
pada ranah psikomotorik mencakup beberapa kategori, yaitu:
1. Peniruan (imitation) yaitu berperilaku menjiplak, mengamati, dan
kemudian menirukan.
17

2. Manipulasi yaitu berupa memproduksi kegiatan dari intruksi atau


ingatan.
3. Ketepatan (precision) yaitu dengan menjalankan keterampilan
yang handal, mandiri tanpa bantuan.
4. Penekanan (articulation) yaitu beradaptasi dan memadukan
keahlian untuk memenuhi tujuan yang tidak baku.
5. Naturalisasi yaitu secara otomatis, dibawah sadar menguasai
aktivitas dan keterampilan terkait pada level yang strategis.

Kemudian Bloom dalam Sudjana (2012:31-32) bahwa hasil belajar


psikomotoris ditunjukan dalam bentuk keterampilan dan kemampuan
bertindak seseorang. Enam keterampilannya sebagai berikut:
a. Gerakan refleks (keterampilan pada gerakan yang tidak sadar).
b. Keterampilan pada gerak-gerakan dasar.
c. Kemampuan perseptual, termasuk di dalamnya membedakan
visual, mebedaan auditif, motoris, dan lain-lain
d. Kemampuan di bidang fisik misalnya kekuatan, keharmonisan,
dan ketepatan
e. Gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai
pada keterampilan yang komplek
f. Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive
seperti gerakan ekspresid dan interpreatif.

Berdasarkan indikator hasil belajar yang dikemukan oleh beberapa


ahli di atas dapat disimpulkan bahwa indikator hasil belajar ialah:
a. Indikator hasil belajar di bagi menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif,
ranah afektif, dan ranah psikomotoris
b. Pada ranah kognitif pengetahuan menekankan pada kemampuan
mengingat
c. Ranah afektif mencakup receiving (sikap menerima), Responding
(memberikan respon), valuing (nilai), organization (organisasi), dan
Characterization (karakterisasi).
d. Hasil belajar psikomotoris ditunjukan dalam bentuk keterampilan dan
kemampuan bertindak seseorang.
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Slameto (2013:54-72) menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua yakni faktor intern
(jasmaniah, psikologis, dan kelelahan) dan ekstern (keluarga, sekolah,
masyarakat). Khusus untuk faktor psikologis, Sardiman (2014:55)
18

menyatakan bahwa faktor psikologis dalam belajar yakni faktor motivasi,


konsentrasi, reaksi pemahaman, organisasi, ulangan, perhatian, minat,
fantasi, faktor ingin tahu, serat sifat kreatif. Sementara menurut teori Gestalt
(dalam Susanto, 2013:12) menyebutkan bahwa “hasil belajar siswa
dipengaruhi oleh dua hal, siswa itu sendiri dan lingkungannya”. Pertama,
siswa; dalam arti kemampuan berpikir atau tingkah laku intelektual,
motivasi, minat, dan kesiapan siswa, baik jasmani maupun rohani. Kedua,
lingkungan; yaitu sarana dan prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru,
sumber–sumber belajar, metode serta dukungan lingkungan, dan keluarga.
Pendapat tersebut juga dikemukakan oleh Wasliman (dalam Susanto,
2013:12), hasil belajar yang dicapai oleh siswa merupakan hasil interaksi
antara berbagai faktor yang mempengaruhi, baik faktor internal maupun
eksternal, berikut penjelasannya.
1. Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri
siswa yang mempengaruhi kemampuan belajarnya yaitu kecerdasan,
minat, motivasi belajar, dan ketekunan.
2. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri siswa
yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan
masyarakat.

Purwanto (2014:107) menyatakan yang dapat mempengaruhi “hasil


belajar terdiri dari faktor dari dalam diri peserta didik (internal) dan faktor
dari luar diri peserta didik (eksternal). Faktor dari dalam yakni fisiologi dan
psikologi sedangkan faktor dari luar yakni lingkungan dan instrumental”.
Dengan demikian, disimpulkan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi
hasil belajar peserta didik terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal.
Pengaruh dari dalam diri peserta didik, merupakan hal yang wajar, sebab
hakikat belajar adalah perubahan tingkah laku yang diniati dan disadarinya.
Peserta didik harus merasakan adanya kebutuhan untuk belajar dan
berprestasi. Meskipun demikian, hasil yang dicapai masih juga tergantung
dari lingkungan. Artinya, ada faktor-faktor yang berada di luar dirinya yang
dapat menentukan atau mempengaruhi hasil belajar yang dicapai. Salah satu
lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar di
sekolah adalah kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran adalah tinggi
19

rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai


tujuan pengajaran.
3. Model Pembelajaran
a. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran digunakan guru sebagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran di kelas. Joyce & Weil (dalam Rusman,
2012:133) berpendapat bahwa “model pembelajaran adalah suatu rencana
atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana
pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan
membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain”. Menurut Adi (dalam
Suprihatiningrum, 2013:142) memberikan definisi model pembelajaran
“merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur dalam
mengorganisasikan pengalaman pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran”. Sedangkan menurut Hamiyah & Mohammad, (2014:57)
“Model pembelajaran adalah jalur atau teknik presentasi yang digunakan
guru”.
Fathurrohmah (2017:29) mengatakan bahwa “model pembelajaran
adalah kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam
melakukan kegiatan pembelajaran”. Sedangkan menurut Ngalimun (2012,
hlm.27) berpendapat bahwa “model pembelajaran adalah suatu rancangan
atau pola yang digunakan sebagai pedoman pembelajaran di kelas. Artinya
model pembelajaran adalah suatu rancangan yang digunakan guru untuk
melakukan pengajaran di kelas”. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya
adalah suatu pendekatan pembelajaran digunakan oleh pendidik terhadap
peserta didik untuk dapat merubah perilaku peserta didik untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
b. Ciri-Ciri Model Pembelajaran
Kardi & Nur dalam Ngalimun (2016:7-8) model pembelajaran
mempunyai empat ciri khusus yang membedakan dengan strategi, metode
atau prosedur. Ciri-ciri tersebut antara lain:
1. Model pembelajaran merupakan rasional teoretik logis yang disusun
oleh para pencipta atau pengembangnya.
20

2. Berupa landasan pemikiran mengenai apa dan bagaimana peserta


didik akan belajar (memiliki tujuan belajar dan pembelajaran yang
ingin dicapai).
3. Tingkah laku pembelajaran yang diperlukan agar model tersebut
dapat dilaksanakan dengan berhasil; dan lingkungan belajar yang
diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Sedangkan menurut Hamiyah dan Jauhar (2014:58) ciri-ciri model


pembelajaran adalah sebagai berikut.
1) Berdasarkan teori pendidikan dan teori belajar tertentu.
2) Mempunyai misi atau tujuan pendidikan tertentu.
3) Dapat dijadikan pedoman untuk perbaikan kegiatan pembelajaran di
kelas.
4) Memiliki perangkat bagian model.
5) Memiliki dampak sebagai akibat penerapan model pembelajaran
baik langsung maupun tidak langsung.

“Pada hakikatnya istilah model pembelajaran ini memiliki makna yang


begitu luas daripada pendekatan, strategi, metode, atau prosedur
Beragamnya model pembelajaran yang bisa guru atau tenaga pendidik pilih
dan digunakan yang sesuai dan efisien guna mencapai tujuan pembelajaran
yang dikehendaki” (Ahyar, dkk, 2021:9). Model pembelajaran ini memiliki
ciri-ciri sebagaimana dikemukakan Rusman (2018: 136) sebagai berikut:
1. Bersumber pada teori pendidikan serta teori belajar dari para pakar
tertentu. Sebagai contoh, model riset kelompok yang disusun oleh
Herbert Thelen serta bersumber pada teori John Dewey Model ini
dirancang dan didesain guna melatih partisipasi dalam kelompok
secara demokratis.
2. Memiliki misi ataupun tujuan pembelajaran tertentu. Misalnya
model berfikir induktif dirancang guna meningkatkan proses
berfikir induktif
3. Bisa dijadikan sebagai pedoman ataun acuan untuk melakukan
perbaikan dan pengembangan dalam kegiatan belajar mengajar di
kelas. Sebagai contoh model Synectic yang kemudian dirancang
untuk memperbaiki kreativitas dalam pelajaran mengarang
4. Memiliki bagian-bagian model dalam pelaksanaan, yaitu: (1)
urutan langkah-langkah pembelajaran (syntax), (2) adanya prinsip-
prinsip reaksi, (3) sistem sosial, dan (4) sistem pendukung.
Keempat bagian tersebut ialah pedoman praktis yang bisa
digunakan oleh guru dalam melaksanakan suatu model
pembelajaran.
5. Memiliki dampak sebagai akibat dari hasil terapan model
pembelajaran. Beberapa Dampak yang dimaksud adalah sebagai
berikut: (1) dampak pembelajaran, yaitu hasil dari proses
21

pembelajaran yang dapat diukur dan (2) dampak pengiring, yaitu


hasil belajar jangka panjang.
6. Membuat persiapan mengajar dengan berpedoman pada model
pembelajaran yang dipilihnya.

Octavia (2020:14-15) mengemukakan bahwa pada umumnya model-


model mengajar yang baik memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri yang dapat
dikenali secara umum sebagai berikut:
1. Memiliki prosedur yang sistematik. Jadi, sebuah model mengajar
merupakan prosedur yang sistematik untuk memodifikasi perilaku
siswa, yang didasarkan pada asumsi-asumsi tertentu.
2. Hasil belajar ditetapkan secara khusus. Setiap model mengajar
menentukan tujuan-tujuan khusus hasil belajar yang diharapkan
dicapai siswa secara rinci dalam bentuk unjuk kerja yang dapat
diamati.
3. Penetapan lingkungan secara khusus menetapkan keadaan
4. Lingkungan secara spesifik dalam model mengajar Ukuran
keberhasilan Menggambarkan dan menjelaskan hasil-hasil belajar
dalam bentuk perilaku yang seharusnya ditunjukkan oleh setelah
menempuh dan siswa menyelesaikan urutan pengajaran.
5. Interaksi dengan lingkungan. Semua model mengajar menetapkan
cara yang memungkinkan siswa melakukan interaksi dan bereaksi
dengan lingkungan.

Berdasarkan penyampaian ciri-ciri model pembelajaran dari beberapa


ahli di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Berupa landasan pemikiran yang memiliki tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai
2. Bersumber dari teori pendidikan serta teori belajar
3. Dijadikan sebagai pedoman perbaikan kegiatan pembelajaran
4. Memiliki prosedur yang sistematik
5. Memiliki dampak sebagai akibat dari hasil terapan model
pembelajaran

c. Jenis-Jenis Model Pembelajaran


Penggunaan model pembelajaran secara afektif adalah faktor yang
penentu keberhasilan pada kegiatan pembelajaran yang dipimpin instruktur.
Dengan cara ini, pendidik dapat memilih jenis model pembelajaran yang
sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Menurut
Wahyuni, dkk (2022:49) menyebutkan bahwa “beberapa jenis model
22

pembelajaran diantarannya pembelajaran kontekstual, kooperatif,


pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis permasalahan, serta
pembelajaran berbasis tugas”. Sedangkan menurut Septantiningtyas, dkk
(2019:18) menyebutkan jenis-jenis model pembelajaran yaitu:
Adapun Jenis-jenis model pembelajaran dalam pembelajaran
Sains antara lam: Model pembelajaran langsung (Direct Instruction),
Model pembelajaran Children Learning In science (CLIS), Model
pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Instructions), Model
Siklus Belajar (Learning Cycle), Model pembelajaran EKPA, Model
pembelajaran STM, Model pem belajaran Kooperatif, dan Pembelajaran
Inkuiri.
Maulida, dkk (2019:16) menjelaskan bahwa “model pembelajaran bisa
dibedakan menjadi beberapa jenis, tergantung dari sudut pandang mana yang
akan dipilih. Ada model pembelajaran yang didasarkan pada konsep
pembelajaran kooperatif, problem based, kontekstual, inkuiri, teknik
mengajar, media dan teori belajar”. Adapun menurut Utami, dkk. (2013: 45-
75), mengklasifikasi model pembelajaran menjadi empat macam, yakni: 1)
Model Pemrosesan informasi, 2) Model Personal, 3) Model Sosial, 4) Model
sistem perilaku dalam pembelajaran. Selain empat model pembelajaran
tersebut Utami, dkk. (2013:47-75), juga dapat dipilih menjadi: 1) Model
pembelajaran ekspositori, 2) Model pembelajaran inkuiri, 3) Model
pembelajaran berbasis masalah, 4) Model pembelajaran peningkatan
kemampuan berpikir, 5) Model pembelajaran kooperatif, 6) Model
pembelajaran kontekstual, 7) Model pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif,
dan Menyenangkan (PAKEM).

Berdasarkan jenis-jenis model pembelajaran tersebut, pendidik harus


memilih dan menggunakan model pembelajaran yang cocok, tepat dan
efisien untuk diterapkan merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam
kegiatan pembelajaran, supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai sesuai
dengan yang di harapkan. Adapun jenis-jenis model pembelajaran yang bisa
diterapkan oleh pendidik yaitu: model pembelajaran inkuiri, model
pembelajaran berbasis masalah (PBL), model pembelajaran kooperatif,
model pembelajaran ekspositori, model pembelajaran berbasis proyek
(PJBL) dan lain-lain.
23

4. Model Problem Based Learning (PBL)


a. Pengertian Model Problem Based Learning (PBL)
Problem based learning (PBL) pertama kali diperkenalkan pada awal
tahun 1970-an di Universitas Mc Master Fakultas Kedokteran Kanada,
sebagai satu upaya menemukan solusi dalam diagnosis dengan membuat
pertanyaan pertanyaan sesuai situasi yang ada. Menurut Gunantara (2014:2)
Problem Based Learning merupakan “model pembelajaran yang melibatkan
siswa dalam memecahkan masalah nyata. Model ini menyebabkan motivasi
dan rasa ingin tahu menjadi meningkat. Model PBL juga menjadi wadah bagi
siswa untuk dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan keterampilan
berpikir yang lebih tinggi”.
Huda (dalam Murfiah, 2017:143) menjelaskan “fitur-fitur penting
dalam model Problem Based Learning (PBL) mereka mengatakan bahwa
ada tiga elemen dasar yang seharusnya muncul dalam model Problem Based
Learning (PBL), yaitu: masalah awal (initiating trigger), meneliti isu-isu
yang diidentifikasi sebelumnya, dan memanfaatkan pengetahuan dalam
memahami lebih jauh situasi masalah”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa
langkah pertama dalam model Problem Based Learning (PBL) yang
pertama adalah mencari masalah, selanjutnya mengidentifikasi masalah,
dan langkah terakhir memecahkan masalah.
“Model Problem Based Learning (PBL) merupakan pendekatan yang
menekankan pada terpaparnya masalah sebagai pemicu belajar, sehingga
belajar tidak lagi terkotak-kotak menurut bidang ilmu, tetapi terintegrasi
secara keseluruhan” Gagne (dalam Suherti & Siti, 2017:61). Murfiah,
(2017: 271) menyatakan bahwa “pembelajaran berbasis masalah sebagai
pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan
resolusi suatu masalah. Masalah tersebut dipertemukan pertama-tama dalam
proses pembelajaran”. Jadi dapat disimpulkan bahwa model Problem Based
Learning (PBL) merupakan pembelajaran yang bersifat berpusat pada
peserta didik (student centered) yang berfokus pada proses belajar, bukan
mengajar.
24

Daryanto (2014, hlm. 29) menyatakan bahwa “Problem Based


Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu yang
menantang peserta didik untuk belajar bagaimana belajar”. Permasalahan
yang diberikan kepada peserta didik digunakan untuk membuat rasa ingin
tahu peserta didik meningkat pada pembelajaran, masalah diberikan
sebelum peserta didik mempelajari materi yang berkenaan dengan
permasalahan yang harus dipecahkan.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, dapat ditarik kesimpulan
bahwa Problem Based Learning (PBL) merupakan inovasi pembelajaran
yang berbasis masalah. Proses pembelajarannya peserta didik diminta untuk
dapat berfikir kritis agar dapat menyelesaikan masalah baik dilakukan
secara individu ataupun kelompok, tugas guru adalah memonitoring
berjalannya diskusi, dengan begitu akan menumbuhkan pengetahuan dan
keterampilan peserta didik.
b. Karakteristik Model Problem Based Learning (PBL)
Menurut Abidin (2014, hlm. 161) Problem Based Learning (PBL)
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Masalah menjadi titik awal pembelajaran.
2) Masalah yang digunakan dalam masalah bersifat kontekstual dan
otentik.
3) Masalah mendorong lahirnya kemampuan peserta didik
berpendapat secara multiperspektif.
4) Masalah yang digunakan dapat mengembangkan pengetahuan,
sikap, dan keterampilan, serta kompetensi peserta didik.
5) Model PBL berorientasi pada pengembangan belajar mandiri.
6) Model PBL memanfaatkan berbagai sumber belajar.
7) Model PBL dilakukan melalui pembelajaran yang menekankan
aktivitas kolaborasi, komunikatif, dan kooperatif.
8) Model PBL menekankan pentingnya perolehan keterampilan
meneliti, memecahkan masalah, dan penguasaan pengetahuan.
9) Model PBL mendorong peserta didik agar mampu berpikir
tingkat tinggi, analisis, sintesis, dan evaluatif
10) Model PBL diakhiri dengan evaluasi, kajian pengalaman belajar,
dan kajian proses pembelajaran.

Model Problem Based Learning (PBL) memiliki Ciri-ciri yang


dikemukanan oleh Baron dalam Rusmono (2012: 74) mengemukakan
bahwa:
25

1) Menggunakan permasalahan dalam dunia nyata.


2) Pembelajaran dipusatkan pada penyelesaian masalah.
3) Tujuan pembelajaran ditentukan oleh siswa.
4) Guru berperan sebagai fasilitator. Kemudian “masalah” yang
digunakan menurutnya harus: relevan dengan tujuan
pembelajaran, mutakhir, dan menarik, berdasarkan informasi
yang luas, terbentuk secara konsisten dengan masalah lain, dan
termasuk dalam dimensi kemanusiaan.
Ngalimun (2013: 90) mengemukan karakteristik model Problem
Based Learning sebagai berikut:

1) Belajar dimulai dengan suatu masalah


2) Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan
dengan dunia nyata siswa/mahasiswa
3) Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan seputar
disiplin ilmu
4) Memberiakan tanggungjawab yang besar kepada pelajar dalam
membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar
mereka sendiri
5) Menggunakan kelompok kecil
6) Menuntut pelajar untuk mendemonstrasikan apa yang telah
mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.

Rusmono (2014:82) proses pembelajaran dengan menggunakan


model Problem Based Learning (PBL) ditandai dengan karakteristik
sebagai berikut:
1) Siswa menentukan isu-isu pembelajaran
2) Pertemuan-pertemuan pembelajaran berlangsung open-ended
atau masih membuka peluang untuk berbagi ide tentang
pemecahan masalah, sehingga memungkinkan pembelajaran
tidak berlangsung satu kali pertemuan
3) Tutor adalah fasilitator dan tidak bertindak sebagai pakar yang
merupakan satu-satunya sumber informasi
4) Tutorial berlangsung sesuai dengan tutorial PBL yang berpusat
pada siswa.

Sementara menurut Rusman (2014:232) Karakteristik PBL dalam


pembelajaran di sekolah yaitu:
1) Permasalahan menjadi starting point dalam belajar
2) Permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di
dunia nyata yang tidak terstruktur
3) Belajar pengarahan diri menjadi hal yang utama
4) Pemanfaatan sumber pengetahuan yang beragam,
penggunaannya, dan evaluasi sumber informasi merupakan
proses yang esensial dalam PBM
26

5) Belajar adalah kolaboratif, komunikatif, kooperatif serta


pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah
sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk
mencari solusi dari sebuah permasalahan
Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas, dapat disimpulkan
bahwa karakteristik model Problem Based Learning (PBL) diantaranya:

1) Merupakan fokus pelajarannya terletak pada pemecahan


masalah yang ada di dunia nyata
2) Kemampuan peserta didik dalam hal menganalisis masalah yang
disajikan oleh pendidik yang berperan sebagai fasilitator
3) Peserta didik mampu memecahkan masalah dalam kegiatan
pembelajaran.
4) Menggunakan kelompok kecil dan akan mendemonstrasikan apa
yang telah peserta didik pelajari berupa produk atau kinerja.
c. Kelebihan Model Problem Based Learning (PBL)
Smith (dalam Nafiah, 2014, hlm. 31) menjelaskan model Problem
Based Learning (PBL) mempunyai keunggulan yaitu meningkatkan
kecakapan memecahkan masalah, lebih mudah mengingat, meningkatkan
pemahamannya, meningkatkan pemahamannya yang relevan dengan dunia
praktik, mendorong untuk berpikir, membangun kemampuan
kepemimpinan dan kerjasama, kecakapan belajar, dan memotivasi peserta
didik. Berikut ini tabel kelebihan dari model Problem Based Learning
(PBL) menurut para ahli:

Tabel 2. 1 Kelebihan model PBL menurut para ahli

No Nama ahli Kelebihan model Problem Based Learning (PBL)


1 Menurut Warsono 1) Peserta didik akan terbiasa menghadapi
masalah dan merasa tertantang untuk
& Hariyanto
menyelesaikan masalah, tidak hanya terkait
(2013) dengan pembelajaran dalam kelas, tetapi juga
dalam kehidupan sehari-hari.
2) Memupuk solidaritas social dengan terbiasa
berdiskusi dengan teman-teman sekelompok
kemudian berdiskusi dengan teman-teman
sekelasnya.
3) Makin mengakrabkan pendidik dengan
peserta didik.
27

4) Membiasakan peserta didik untuk menerapkan


metode eksperimen saat kegiatan belajar
berlangsung.
2 Kurniasih dan 1) Mengembangkan pemikiran kritis dan
keterampilan kreatif peserta didik;
Berlin (2015:49-
2) Dapat meningkatkan kemampuan
50) memecahkan memecahkan masalah para
peserta didik dengan sendirinya;
3) Meningkatkan motivasi peserta didik dalam
belajar;
4) Membantu peserta didik dalam belajar untuk
mentransfer pengetahuan dengan situasi yang
serba baru
5) Dapat mendorong peserta didik mempunyai
inisiatif untuk belajar secara mandiri;
6) Mendorong kreativitas peserta didik dalam
pengungkapan penyelidikan masalah yang
telah ia lakukan;
7) Dengan model pembelajaran ini akan terjadi
pembelajaran yang bermakna
8) Model ini mengintregasikan pengetahuan dan
keterampilan secara simultan dan
mengaplikasikannya dalam konteks yang
relevan;
9) Model pembelajaran ini dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan
inisiatif peserta didik dalam bekerja, motivasi
internal untuk belajar, dan dapat
mengembangkan hubungan interpersonal
dalam bekerja kelompok.

3 Hamdayama 1) Pembelajaran berpusat pada peserta didik


karena peserta didik dilibatkan pada kegiatan
(2016:117)
belajar sehingga peserta didik mampu
menyerap pengetahuan dengan baik;
2) Jiwa sosial peserta didik juga dikembangkan
karena peserta didik dilatih untuk bekerja
sama dengan peserta didik lain dalam
menyelesaikan masalah yang diberikan guru;
3) Peserta didik dapat memperoleh pengetahuan
baru dari berbagai sumber.

4 Menurut Rizema 1) Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan


lantaran ia yang menemukan konsep tersebut.
(2013:82)
2) Melibatkan siswa secara aktif dalam
memecahkan masalah dan menuntut
keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi.
28

3) Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata


yang dimiliki oleh siswa, sehingga
pembelajaran lebih bermakna.
4) Siswa dapat merasakan manfaaat
pembelajaran karena masalah- masalah yang
diselesaikan langsung dikaitkan dengan
kehidupan nyata. Hal ini dapat meningkatkam
motivasi dan ketertarikan siswa terhadap
bahan yang dipelajarinya.
5) Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa,
mampu memberi aspirasi dan menerima
pendapat orang lain, serta menanamkan sifat
sosial yang positif dengan siswa lainnya.
6) Pengondisian siswa dalam belajar kelompok
yang saling berinteraksi terhadap pembelajar
dan temannya, sehingga pencapaian
ketuntasan belajar siswa dapat di harapkan.
7) PBL diyakini pula dapat
menumbuhkembangkan kemampuan berpikir
siswa, baik secara individual dan kelompok,
karena hampir setiap langkah menuntut
adanya keaktifan siswa.

Disimpulkan bahwa keunggulan model Problem Based Learning


(PBL) dalam pembelajaran yaitu:
1. Peserta didik akan terbiasa ketika menghadapi masalah
2. Mengembangkan jiwa sosial peserta didik
3. Menjadikan peserta didik lebih mandiri, bertanggung jawab, dan mempu
bekerja sama dengan baik
4. Mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik
5. Dengan model PBL pembelajaran akan lebih bermakna
d. Kekurangan Model Problem Based Learning (PBL)
Lubis (2020:130) Menyebutkan “waktu yang dibutuhkan untuk
menerap kan model problem based learning (PBL) cukup lama,
kemungkinan timbul penyimpangan dari pokok persoalan, karena
permasalahan diberikan diawal pelajaran sehingga siswa belum paham
dengan materi pelajaran”. Meskipun model ini terlihat begitu baik dan
sempurna dalam meningkatkan kemampuan dan hasil belajar peserta didik,
29

namun tetap memiliki kekurangan seperti yang dikemukakan oleh Shoimin,


(2014:133) kekurangan model Problem Based Learning (PBL) yaitu:
1) Problem Based Learning (PBL) tidak dapat diterapkan untuk
setiap materi pelajaran, ada bagian pendidik berperan aktif dalam
menyajikan materi.
2) Problem Based Learning (PBL) lebih cocok untuk pembelajaran
yang menurut kemampuan tertentu yang kaitannya dengan
pemecahan masalah.
3) Dalam suatu kelas yang memiliki tingkat keragaman peserta didik
yang tinggi akan terjadi kesulitan dalam pembagian tugas.
4) Model Problem Based Learning (PBL) membutuhkan
pembiasaan, karena model ini cukup rumit dalam teknisnya, serta
peserta didik harus dituntut untuk konsentrasi dan daya kreasi.
5) Dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL)
berarti proses pembelajaran harus dipersiapkan dalam waktu yang
cukup panjang. Karena sedapat mungkin setiap persoalan yang
akan dipecahkan harus tuntas, agar maknanya tidak terpotong.
6) Peserta didik tidak dapat benar-benar tahu apa yang mungkin
penting bagi mereka untuk belajar, terutama bagi mereka yang
tidak memiliki pengalaman sebelumnya.
7) Sering juga ditemukan kesulitan terletak pada pendidik, karena
pendidik kesulitan dalam menjadi fasilitator dan mendorong
peserta didik untuk mengajukan pertanyaan yang tepat daripada
menyerahkan mereka solusi.
Menurut Rizema (2013:84) model PBL juga memiliki beberapa
kekurangan,yakni: 1) Bagi siswa yang malas, tujuan dari metode tersebut
tidak dapat tercapai. 2) Membutuhkan banyak waktu dan dana. 3) Tidak
semua mata pelajaran bisa di terapkan dengan metode PBL. Sedangkan
kelemahan dari model pembelajaran berbasis masalah menurut Hamdayama
(2016: 117) juga memaparkan kelemahan dari model Problem Based
Learning, antara lain: (1) untuk peserta didik yang malas, tujuan
pembelajaran ini tidak dapat dicapai; (2) membutuhkan banyak waktu dan
dana; (3) tidak semua pelajaran dapat diterapkan model ini. Pendapat lain
dari Susanto (2014:90) yang mengungkapkan bahwa kelemahan dari model
Problem Based Learning (PBL), yaitu:

1) Bila peserta didik tidak memiliki minat atau tidak memiliki


kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk pecahkan,
maka mereka merasa enggan untuk mencoba;
2) Keberhasilan pendekatan pembelajaran memulai pemecahan
masalah membutuhkan cukup waktu untuk persiapan;
30

3) Tanpa pemahaman mereka untuk berusaha memecahkan masalah


yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar dari apa
yang mereka pelajari
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa kelemahan dari model
problem based learning (PBL) yaitu:

1) Memerlukan waktu yang sangat lama pada penerapan proses


belajar mengajar
2) Mengakibatkan pendidik sulit menyesuaikan dengan waktu yang
telah ditentukan
3) Sulit merencanakan pembelajarannya karena pendidik masih
mendominasi atau pendidik yang lebih aktif.
4) Model PBL membutuhkan pembiasaan dan memiliki teknis yang
cukup rumit, maka dari itu peserta didik dituntut untuk
konsentrasi saat kegiatan belejar mengajar dilaksanakan.
5) Tidak semua pelejaran dapat diterapkan dengan menggunakan
model PB
e. Sintaks Model Problem Based Learning (PBL)
Menurut Suprihatiningrum (2013:226) proses pemecahan masalah
dalam problem based learning mengikuti 7 langkah, yaitu:
1. Mengidentifikasi masalah dan klarifikasi kata-kata sulit yang ada
didalam skenario;
2. Menentukan masalah;
3. Brainstorming, anggota kelompok mendiskusikan dan
menjelaskan masalah tersebut berdasarkan pengetahuan yang
mereka miliki;
4. Menentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai;
5. Memilih solusi yang paling tepat sebagai penyelesaian masalah;
6. Belajar mandiri, peserta didik belajar mandiri untuk mencari
informasi yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran;
7. setiap anggota kelompok menjelaskan hasil belajar mandiri
mereka dan saling berdiskusi.

Hamruni (dalam Suyadi, 2013:137) terdapat enam langkah untuk


dapat menerapkan model pembelajaran problem based learning berikut ini:
a. Menyadari Adanya Masalah; Penggunaan model pembelajaran
problem based learning harus dimulai dari membangun kesadaran
kritis peserta didik akan adanya masalah yang akan dipecahkan.
31

b. Merumuskan Masalah; Langkah selanjutnya adalah merumuskan


masalah. Setelah materi pelajaran dapat disajikan secara
problematik, dan peserta didik mampu menangkap masalah
tersebut, maka guru perlu membantu peserta didik untuk
merumuskan masalah
c. Merumuskan Hipotesis; Hipotesis adalah hubungan sebab akibat
yang bersifat sementara dan belum teruji kebenarannya, namun
memenuhi syarat logis rasional dan empiris.
d. Mengumpulkan Data; Sebagai konsekuensi proses berpikir
empirus, kebenaran data dalam kerangka berpikir ilmiah sangat
dibutuhkan
e. Menguji Hipotesis; Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan,
diharapkan peserta didik mampu menguji hipotesis yang diajukan
pada langkah ke-tiga.
f. Menentukan Tahap Pelihan Penyelesaian; Tahap terakhir dari
pelaksanaan model pembelajaran problem based learning adalah
memilih salah satu solusi yang telah teruji kebenaranya adalah
sebuah pilihan

Sebelum pembelajaran dimulai, guru terlebih dahulu merumuskan


langkah-langkah pembelajaran, sehingga proses belajar mengajar sudah
terarah dan terencana. Hal ini dikemukakan oleh John Dewey (dalam buku
Hamdayama 2016, hlm. 144) bahwa langkah-langkah Problem Based
Learning (PBL) adalah sebagai berikut: 1) merumuskan masalah, 2)
menganalisis masalah, 3) merumuskan hipotesis, 4) mengumpulkan data, 5)
menguji hipotesis, 6) merumuskan rekomendasi pemecahan masalah.
Sedangkan menurut Arends (dalam buku Ngalimun 2016:124) berpendapat
bahwa dalam mengimplementasikan Problem Based Learning ada 5
fase/tahapan yaitu: (1) mengorientasikan peserta didik pada masalah; (2)
mengorientasi peserta didik untuk belajar; (3) membimbing penyelidikan
individu maupun kelompok; (4) mengembangkan dan menyajikan hasil
karya; (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Menurut Arends (dalam Wisudawati dan Sulistyowati, 2015:91-92)
Langkah-langkah Problem Based Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
32

Tabel 2. 2 Sintaks Model PBL

Tahap Pembelajaran Perilaku Guru


Fase 1 Guru menyampaikan tujuan pembelajaran,
Memberikan Orientasi mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik
permasalahan kepada penting dan memotivasi peserta didik untuk
peserta didik terlibat dalam mengatasi masalah
Fase 2 Guru membantu peserta didik untuk
Mengorganisasikan mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-
peserta didik tugas terkait dengan permasalahannya
Fase 3 Guru mendorong peserta didik untuk
Membantu penyelidikan mendapatkan informasi yang tepat,
Individu atau kelompok melaksanakan eksperimen dan mencari solusi.
Fase 4 Guru membantu peserta didik menyiapkan atau
Mengembangkan dan merencanakan laporan, dokumentasi, dan
menyajikan hasil model-model serta membantu mereka untuk
menyampaikan kepada orang lain.
Fase 5 Guru membantu peserta didik melakukan
Menganalisis dan refleksi atau evaluasi terhadap proses dan hasil
mengevaluasi masalah penyelidikan yang mereka lakukan.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas disimpulkan bahwa sintaks


model Problem Based Learning (PBL) ialah:

1. Memberikan orientasi
2. Merumuskan hipotesis
3. Mengumpulkan data
4. Menguji hipotesis
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil

B. Penelitian Yang Relevan


Dalam penyusunan reverensi-reverensi penelitian yang sudah ada
tentunya sangat diperlukan. Penelitian terdahulu dengan menggunakan
metode yang sama, akan membantu penyusunan penelitian dan dijadikan
33

acuan dalam melaksanakan kegiatan penelitian. Beberapa penelitian


terdahulu adalah sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Resti Pujiani, Jayusman, dan Romadi pada
tahun 2016 yang berjudul “Eksperimen Model Problem Based Learning
dalam Pembelajaran Sejarah Terhadap Hasil Belajar Sejarah Siswa Kelas
XI SMA N 1 Pejagoan Tahun Pelajaran 2015/2016”. Mempunyai tujuan
untuk (1) Mengetahui hasil belajar siswa kelas yang diberi pembelajaran
dengan model pembelajaran Problem Based Learning, (2) Mengetahui hasil
belajar siswa kelas yang diberi pembelajaran dengan menggunakan metode
ceramah bervariasi, (3) Mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan
antara hasil belajar siswa yang diberi pembelajaran model Problem Based
Learning dan hasil belajar siswa yang menggunakan metode ceramah
bervariasi, dengan permasalahan yaitu rendahnya hasil belajar siswa serta
menggunakan metode eksperimen desain Quasi Experimental dan model
Problem Based Learning. Berdasarkan penelitian tersebut, hasil penelitian
dapat disimpulkan bahwa hasil belajar sejarah siswa yang diberi
pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based
Learning lebih baik dari pada siswa yang diberi pembelajaran dengan
metode ceramah bervariasi dilihat dari nilai rata-rata kelas eksperimen
sebelum dan sesudah perlakuan diperoleh nilai 61,63 menjadi 79,51. Hasil
belajar sejarah siswa dengan metode ceramah bervariasi termasuk kategori
baik karena dilihat dari rata-rata hasil belajar setelah dan sesudah posttest
diperoleh nilai rata-rata dari 59,5 menjadi 77,64, dan ada perbedaan yang
signifikan antara hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol yang
dibuktikan dengan uji perbedaan di rata-rata diperoleh t hitung sebesar 2,87
sedangkan t tabel 1,997.
2. Penelitian Fitriani pada tahun 2019 yang berjudul “Penerapan Model
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan
Analisis Siswa”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan
analisis siswa pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 3 Tapung.
Permasalahan yang ada yaitu rendahnya kemampuan analisis siswa. Metode
yang digunakan adalah metode penelitian tindakan kelas dengan model
34

Problem Based Learning (PBL). Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh hasil


bahwa model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan
kemampuan analisis peserta didik. Strategi PBL mampu memunculkan
peluang untuk peserta didik menjadi lebih terlibat secara langsung serta
aktif saat proses pembelajaran. Keaktifan peserta didik secara langsung
mampu meningkatkan kreatifitas, sehingga proses pembelajaran di kelas
lebih menyenangkan dan tujuan pembelajaran dapat dicapai.
3. Yasa dan Bhoke pada tahun 2019 dengan judul “Pengaruh Model Problem
Based Learning Terhadap Hasil Belajar Matematika Pada Siswa SD”.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan hasil belajar matematika
antara siswa yang belajar dengan model problem based learning dan siswa
yang belajar dengan model Pembelajaran Konvensional pada siswa SD.
Permasalahan pada penelitian ini yaitu hasil belajar matematika pada siswa
SD rendah. Metode dan jenis pada penelitian ini ialah quasi eksperimen
dengan rancangan penelitian yang digunakan adalah non equivalent control
group design dengan menggunakan model problem based learning (PBL).
Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh rata-rata hasil belajar
Matematika, yakni rata-rata hasil belajar Matematika kelompok eksperimen
lebih besar dari rata-rata hasil belajar Matematika kelompok kontrol (0,53
> 0,37). Hasil uji-t diperoleh thitung (5,673) dan ttabel (2,052) dengan
derajat kebebasan (db) = n1 + n2 – 2 = 27 dan taraf signifikansi 5%, maka
thitung > ttabel. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima sehingga
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima kebenarannya
dimana terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar Matematika antara
kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan model
problem based learning dengan kelompok siswa yang menggunakan model
pembelajaran konvensional. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
model problem based learning berpengaruh terhadap hasil belajar
matematika pada siswa SD.
4. Markus Iyus Supiandi, Hendrikus Julung pada tahun 2016 dengan judul
“Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) terhadap Kemampuan
Memecahkan Masalah dan Hasil Belajar Kognitif Siswa Biologi SMA”.
35

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model Problem Based


Learning (PBL) terhadap kemampuan memecahkan masalah dan hasil
belajar kognitif siswa kelas XI IPA SMA Panca Setya Sintang.
Permasalahan pada penelitia ini yaitu Kemampuan memecahkan masalah
dan hasil belajar kognitif siswa yang masih rendah. Menggunakan metode
eksperimen dengan model Problem Based Learning (PBL). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa model PBL secara signifikan meningkatan
kemampuan memecahkan masalah sebesar 17,73% dan hasil belajar
kognitif siswa sebesar 23,65%. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka
peneliti menyarankan supaya guru menggunakan model Problem Based
Learning (PBL) secara konsisten karena telah terbukti keberhasilannya
terhadap kemampuan memecahkan masalah dan hasil belajar kognitif
siswa.
5. Laila Kodariyati dan Budi Astuti tahun 2016 dengan judul penelitian yaitu
“Pengaruh Model PBL Terhadap Kemampuan Komunikasi Dan Pemecahan
Masalah Matematika Siswa Kelas V SD”. Penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan: (1) pengaruh model Problem Based Learning (PBL)
terhadap kemampuan komunikasi matematika; (2) pengaruh model PBL
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika; dan (3) pengaruh
model PBL terhadap kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah
matematika secara bersama-sama. Permasalahan pada penelitian ini ialah
kemempuan komunikasi dan pemecahan masalah matematika siswa masih
rendah. Metode dan jenis penelitian yang digunakan yaitu kuasi eksperimen
dengan desain Pre-test Post-test Control Group Design dengan
menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa (1) model PBL berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kemampuan komunikasi matematika dengan nilai signifikansi
lebih kecil dari 0,025; (2) model PBL berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika terhadap
kemampuan pemecahan masalah matematika dengan nilai signifikansi lebih
kecil dari 0,025; (3) model PBL berpengaruh positif dan signifikan terhadap
36

kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematika secara


bersama-sama dengan nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05.

C. Kerangka Berpikir
Menurut Sugiyono (2017:60) mengemukakan bahwa, “kerangka
berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai
masalah yang penting”. Kerangka berpikir menurut Sugiyono, (2018:95)
mengemukakan bahwa “kerangka berpikir ialah bentuk dari konseptual
terkait dari teori yang saling berkaitan dari bermacam-macam faktor yang
diidentifikasi sesuatu masalah yang dirasa penting”. Sedangkan menurut
Suriasumantri (dalam Sugiyono, 2017:60), kerangka pemikiran ini
“merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi
objek permasalahan”. Menurut Sugiyono (2014:93) mengemukakan bahwa
“kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai
masalah yang penting”.
Untuk mengetahui adakah pencapaian hasil belajar siswa, maka di
awal pembelajaran kedua kelas diberikan perlakuan yang berbeda, dengan
penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yaitu
dengan tahap menyadari masalah, merumuskan masalah, merumuskan
hipotesis, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan menentukan pilihan
penyelesaian pada kelas eksperimen. Sedangkan kelas kontrol
menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah dan penugasan) yaitu
dengan tahap menyampaikan tujuan, menyampaikan informasi, mengecek
pemahaman dan memberikan umpan balik, memberikan kesempatan latihan
lanjutan. Pada pertemuan ini dilakukan 12 hari, 6 hari untuk kelas
eksperimen dan 6 hari untuk kelas kontrol. Setelah itu, di akhir
pembelajaran masing-masing kelas diberikan tes dengan soal yang sama.
Tes ini disebut tes akhir (posttest). Hasil dari posttest ini kemudian
dianalisis untuk mengetahui adakah pengaruh model Problem Based
Learning (PBL) terhadap hasil belajar peserta didik kelas III SD Negeri
Pelesiran. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini
37

Rendahnya hasil belejar siswa

Faktor-Faktor Penyebab
1. Rendahnya minat belajar
2. Motivasi belajar yang kurang

Model konvensional
Model Problem Based
Learning (PBL) 1. Menyampaikan tujuan
1. Menyadari masalah 2. Menyampaikan
informasi
2. Merumuskan masalah
3. Mengecak pemahaman
3. Mengumpulkan data
dan memberikan umpan
4. Menguji hipotsis
balik
5. Menentukan pilihan
4. Memberikan kesempatan
penyelesaian
latihan lanjutan

Kelas Kontrol
Kelas Eksperimen

Hasil belajar
kelompok eksperimen
lebih baik dari pada
hasil belajar
kelompok kontrol

Gambar 2. 2 Bagan Kerangka Pemikiran


38

Berdasarkan gambar kerangka pemikiran di atas dapat dikatakan


bahwa kegiatan belajar mengajar harus lebih bervariasi supaya peserta
didik dapat memahami tujuan di setiap pembelajaran yang diberikan
pendidik. Salah satu model pembelajaran yang bisa membuat peserta didik
terlibat aktif dalam proses pembelajaran ialah model Problem Based
Learning (PBL), model ini mengutamakan pusat pembelajaran kepada
peserta didik bukan kepada pendidik sehingga akan mampu meningkatkan
hasil belajar peserta didik.

D. Asumsi dan Hipotesis Penelitian


1. Asumsi
Menurut Mukhtazar (2020:57) “Asumsi sering dikaitkan dengan aturan
praktis. Asumsi juga dapat diartikan sebagai suatu landasan berpikir yang
dianggap benar walaupun hanya untuk sementara”. Kemudian menurut
Widiasworo (2019:135) menyebutkan bahwa “Asumsi ini sebenarnya
bertujuan untuk memperjelas arah yang akan dituju dalam penelitian
sehingga ada penegasan pada hal-hal yang akan diteliti”. “Asumsi berarti
dugaan yang diterima sebagai dasar, landasan, berpikir karena dianggap
benar” (Firdaus & Zamzam, 2018, hlm. 63). “Asumsi adalah pernyataan
yang sangat mendasar. Digunakan sebagai persyaratan yang menjadi
penentu sebuah teori dapar meramal suatu gejala” (Panuju, 2018, hlm. 25).
Menurut Arijanto (2020:97) “Asumsi adalah suatu kondisi yang terjadi
selama kurun waktu program aksi dilaksanakan dan kondisi tersebut di luar
kendali manajemen program”.
Dari beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa asumsi
merupakan dugaan sementara yang kebenarannya belum terbukti, kemudian
harus di uji kebenarannya terlebih dahulu dan dibuktikan secara langsung.
Asumsi pada penelitian ini dengan menggunakan model Problem Based
Learning terhadap hasil belajar peserta didik, hasil belajar peserta didik dan
pembelajaran menjadi aktif serta membuat peserta didik merasa tertantang
dan mimiliki rasa ingin tahu yang tinggi dalam menyelesaikan masalah yang
di berikan.
39

2. Hipotesis
Wibowo (2021:72) menyatakan bahwa “hipotesis adalah merupakan
dugaan atau jawaban sementara yang mungkin benar mungkin juga salah.
Hipotesis sebenarnya suatu dugaan, tidak hanya asal membuat dengan
dugaan tetapidugaan yang didasarkan atas teori-teori atau hasil-hasil
penelitian yang pernah dilakukan”. Mukhtazar (2020:58) mengatakan
bahwa “Hipotesis penelitian merupakan jawaban yang bersifat sementara
terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus dibuktikan
secara empiris”. Menurut Sugiyono (2018:99) “hipotesis merupakan
jawaban sementara terhadap rumusan masalah, yang telah diolah
sedemikian rupa dan diuraikan dalam bentuk pertanyaan”. Menurut Lubis,
dkk (2019:38) “Hipotesis diperlukan untuk memberi petunjuk dan
memberikan arah dalam melaksanakan penelitian”. Sugito (2012:28)
membagi hipotesis menjadi dua macam yaitu:
Secara garis besar, hipotesis dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu: (a) hipotesis tentang hubungan, dan (b) hipotesis
tentang perbedaan. Hipotesis tentang hubungan, yaitu hipotesis yang
menyatakan ada atau tidak adanya saling berhubungan antara dua
variabel atau lebih. Hipotesis tentang perbedaan, yaitu hipotesis yang
menyatakan ada atau tidaknya perbedaan antar perlakuan yang dicoba.

Hipotesis adalah jawaban sementara yang berhubungan dengan


permasalahan yang harus dapat dibuktikan kebenarannya terlebih dahulu.
Dugaan tersebut merupakan kebenaran yang sifatnya sementara yang
kebenarnnya akan diuji menggunakan data yang dikumpulkan melalui
penelitian. Jawaban masih bersifat sementara di karenakan hanya diberikan
teori yang relevan berdasarkan data yang dikumpulkan dilapangan.
Berdasarkan teori dan kerangka berpikir yang telah dipaparkan diatas, maka
hipotesis penelitian ini adalah:
H0 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar peserta didik
menggunakan model Problem Based Learning dengan konvensional.
Ha:Terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar peserta didik
menggunakan model Problem Based Learning dengan konvensional.

Anda mungkin juga menyukai