AMDAL Pertambangan Batubara PTBA
AMDAL Pertambangan Batubara PTBA
(KA-ANDAL)
Oleh:
SURABAYA
2024
1
I. INFORMASI UMUM
1.1. Nama : Pertambangan Terbuka Batubara PT. Bukit Asam Tbk.
Usaha
dan/atau
Kegiatan
1.2. Penanggung Perusahaan
jawab Usaha
Nama : PT. BUKIT ASAM (PERSERO)
dan/atau
Kegiatan Alamat : Kelurahan Tanjung Enim, Kecamatan Lawang
Kidul, Kabupaten Muara Enim
Telepon/Fax : 0857575754331
Email : kaconkjaya@[Link]
Penanggung Jawab
Nama : Budiono Siregar
Jabatan : General Manager PT. Bukit Asam Tbk.
1.3. Tim enyusun AMDAL dilakukan oleh lembaga jasa konsultan lingkungan
P
Penyusun dengan identitas sebagai berikut:
Amdal 1. Penyusun : PT. Satu Cipta
2. No Registrasi : 017/LPJ/AMDAL-2/LRK/KLH
3. Masa Registrasi hingga : 15 Agustus 2045
4. Ketua : Putrie Afrilia Imeldha
5. Alamat : Jl. Panglima Sudirman No. 18, Jakarta
6. Telepon : +62 8745091
7. E-mail :satucipta@[Link]
Tim Penyusun terdiri dari:
No ama Tim
N Tenaga Ahli Sertifikat
Penyusun
1. P
rof. Putrie Ketua Tim ertifikat Kompensasi Ketua Tim
S
Afrilia Imeldha, Penyusun AMDAL
ST., [Link]., No. : 000812/SKPA/LSK-
Ph.D INDOENVIR/VI/2025
2. D
r. Alice Anggota Tim ertifikat Kompensasi Anggota
S
Eunike Tim Penyusun AMDAL
Sianturi, ST. No. : 000254/SKPA/LSK-
[Link] INDOENVIR/VI/2020
3. T
ania Irby, S. Anggota Tim ertifikat Kompensasi Anggota
S
Sos. Tim Penyusun AMDAL
No. : 000412/SKPA/LSK-
INDOENVIR/VI/2022
Tim Ahli
2
1. Ali Ibrahim, ST. A
hli ertifikat Kompensasi Anggota
S
Geofisik-Kim Tim Penyusun AMDAL
ia No. : 000412/SKPA/LSK-
INDOENVIR/VII/2024
2 M
. Faizin Ahli Biologi ertifikat Kompensasi Anggota
S
Mustofa, S. Si. Tim Penyusun AMDAL
No. : 000413/SKPA/LSK-
INDOENVIR/VI/2024
3 I ndra hli Sosial
A ertifikat Kompensasi Anggota
S
Herlambang , S. Ekonomi dan Tim Penyusun AMDAL
Sos. Budaya o. : 000414/SKPA/LSK-
N
INDOENVIR/VI/2024
4 A
hmad Jaelani, hli
A ertifikat Kompensasi Anggota
S
S. KM. Kesehatan Tim Penyusun AMDAL
Masyarakat o. : 000415/SKPA/LSK-
N
INDOENVIR/VI/2024
5 P
utra Bakhtiar, hli
A ertifikat Kompensasi Anggota
S
M. TR. Transportasi Tim Penyusun AMDAL
o. : 000416/SKPA/LSK-
N
INDOENVIR/VI/2024
6 R
ahmat hli
A ertifikat Kompensasi Anggota
S
Adiningrat, S. Planologi / Tim Penyusun AMDAL
PWK. Perpetaan o. : 000417/SKPA/LSK-
N
INDOENVIR/VI/2024
7 I rawan Ahli Geologi ertifikat Kompensasi Anggota
S
Suhendra, S. T. Tim Penyusun AMDAL
o. : 000418/SKPA/LSK-
N
INDOENVIR/VI/2024
8 R
aditya hli
A ertifikat Kompensasi Anggota
S
Laksana, S. T. Petambangan Tim Penyusun AMDAL
o. : 000419/SKPA/LSK-
N
INDOENVIR/VI/2024
3
3. B
ersamaan dengan kajian pemodelan kualitas udara dengan data
sekunder oleh PT. Sejahtera Enviro Konsultan tahun 2024
4. B
ersamaan dengan penyusunan Analisis Dampak Lalu Lintas
(ANDALALIN) oleh PT. Sejahtera Enviro Konsultan tahun 2024
Deskripsi Rencana Usaha atau Kegiatan Tahap Pra-Konstruksi
● Survei (Sosialisasi Masyarakat)
omponen lingkungan yang diperkirakan terkena dampak kegiatan survey
K
lapangan adalah timbulnya keresahan atau ketidaknyamanan warga sekitar.
Pihak pemrakarsa wajib mensosialisasikan rencana kegiatan yang akan
dilakukan di lokasi Tambang Batubara yang berada di sekitar lokasi
pemukiman penduduk khususnya di Kelurahan Tanjung Enim, Kecamatan
Lawang Kidul sehingga masyarakat mengetahui secara langsung informasi
dari Pemrakarsa. Selama kegiatan survey tidak ditemukan masalah di
lapangankarenamasyarakattelahmengenalkegiatanpenambanganbatubara.
Dengan demikian terjadi proses komunikasi dua arah (two way
communication) antara stakeholder dengan pihak – pihak yang sedang
melakukan survey di lapangan. Pada saat kegiatan survey lapangan lokasi
kegiatanyangdirencanakanberadadidalamareaeksistingtambangbatubara.
Sementara area sekitar lokasi adalah pemukiman, perkebunan , Jalan Raya,
Sungai, dan Laut. Pada tahap kali ini, terdapat beberapa perkiraan dampak
yang mungkin terjadi, antara lain :
- J umlah penduduk yang terkena dampak adalah masyarakat di wilayah
studi terutama di Kelurahan Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul,
Sumatera Selatan.
- Luas sebaran dampak diperkirakan lebih dari 40% luas wilayah studi.
- Ditinjau dari lamanya dampak, maka dampak kegiatan publikasi dan
survey proyek penambangan batubara diperkirakan tidak akan
berlangsung lama karena masyarakat sekitar sudah menerima kondisi
existing.
Tahap Konstruksi
- Penerimaan Tenaga Kerja Tahap Konstruksi
Melalui kegiatan survei lapangan dan berdasarkan pengetahuan
asyarakat sendiri atas pengalaman tentang beberapa proyek
m
pembangunan yang telah dilaksanakan di daerahnya masyarakat
berpersepsibahwaproyekpembangunanpadatahapkontruksitersebut
akan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang cukup besar
untuk berbagai pekerjaan konstruksi yang sesuai dengan level
pengetahuan dan keterampilan. Olehkarenaitukeberadaankontruksi
akan membawa perbaikan dengan bertambahnya peluang kerja.
- Mobilisasi Peralatan dan Material
obilisasi peralatan dan material pada tahap konstruksi proyek
M
tambang batubara bertujuanuntukmenyediakanseluruhsumberdaya
teknis yang diperlukan dalam pembangunan infrastruktur tambang,
termasuk alat berat seperti excavator, dump truck, dan material
4
b angunan. Kegiatan ini dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi
eksisting lingkungan sekitar, seperti jaringan jalan yang digunakan
untuktransportasiperalatansertaareasensitifsepertipemukimanatau
kawasan lindung. Mobilisasi yang tidak dikelola dengan baik dapat
menimbulkan berbagai dampak, antara lain peningkatan kebisingan,
polusi udara dari emisi kendaraan, kerusakan jalan, dan potensi
gangguan lalu lintas lokal, sehingga diperlukan perencanaan yang
matang dan langkah mitigasi yang efektif
- Pengurukan dan Pematangan Lahan
Adanya pengoperasian armada truk dari Palembang menuju lokasi
p royek untuk mengangkut tanah pengurukan dan pematangan lahan
dapat mengakibatkan kenaikan jumlah volume kendaraan dan derajat
kejenuhan pada Jalan Raya Talang Jaya. Melihat jalur transportasi
yang akan dilalui cukup panjang sampai ke lokasi proyek maka cukup
banyak manusia yang akan terkena dampak sehingga berpotensi
menimbulkan peningkatan volume lalu lintas. Dengan pengoperasian
kendaraan yang memobilisasi tanah urukan lewat jalur darat akan
menambah frekuensi lewatnya angkutan darat. ada tahap kali ini,
terdapat beberapa perkiraan dampak yang mungkin terjadi, antara lain
- Penduduk yang terkena dampak kemacetan adalah para
penggunatransportasidaratdidalamprovinsidanjumlahnya
diprakirakan < 10%.
- Dengan banyaknya pengoperasian kendaraan yang
memobilisasi tanah urukan lewatjalurdaratakanmenambah
tingkat polusi udara
- Pembangunan Jalan Petambangan
Pembangunan jalan pertambangan pada tahap konstruksi proyek
tambangbatubaraberfungsisebagaiaksesutamauntuktransportasialat
berat, material, dan hasil tambang dari areapenambangankefasilitas
pengolahan atau titik distribusi. Jalan ini direncanakan dengan
mempertimbangkan kondisi eksisting area tambang, yang sering kali
meliputi lahan hutan, lahan pertanian, atau tanah kosong dengan
topografi yang bervariasi. Potensi dampak dari kegiatan ini meliputi
perubahanbentangalam,erositanah,peningkatansedimentasidialiran
air, gangguan terhadap ekosistem lokal, serta potensi penurunan
kualitas air akibat limpasan sedimen. Selain itu, pembangunan jalan
dapat menimbulkan kebisingan, peningkatan debu, serta fragmentasi
habitat yang mempengaruhi flora dan fauna di sekitar lokasi proyek.
Olehkarenaitu,perluditerapkanlangkahmitigasi,sepertipengelolaan
drainase yang baik, revegetasilahanyangterganggu,danpemantauan
5
dampak lingkungan secara berkala.
- Pembangunan Fasilitas Pendukung
Pembangunan fasilitas pendukung pada tahap konstruksi proyek
tambang batubara berfungsi untuk menyediakan infrastruktur
penunjang operasional tambang, seperti kantor administrasi, bengkel
perawatanalatberat,tempatpenyimpananbahanbakar,danakomodasi
pekerja. Kegiatan ini dilakukan diareadengankondisieksistingyang
biasanya berupa lahan kosong atau vegetasi alami, yang dapat
mencakup habitat flora dan fauna lokal serta area yangdekatdengan
sumber daya air atau pemukiman penduduk. Kemungkinan dampak
dari pembangunan fasilitas ini meliputi perubahan penggunaanlahan,
hilangnyavegetasialami,peningkatanerosidansedimentasi,gangguan
terhadaphabitatsatwa,sertapolusiudaradankebisingandariaktivitas
konstruksi. Selain itu, pembangunan fasilitas pendukung juga dapat
menyebabkan peningkatan volume limbah konstruksi dan limbah
domestik. Untuk meminimalkan dampak tersebut, langkah-langkah
mitigasi perlu diterapkan, seperti pengelolaan limbah yang baik,
perencanaantataletakyangmenghindariareasensitif,danpemantauan
lingkungan secara berkelanjutan.
Tahap Operasi
- Penerimaan Tenaga Kerja
Melalui kegiatan survei lapangan dan berdasarkan pengetahuan
masyarakat sendiri atas pengalaman tentang beberapa proyek
pembangunan yang telah dilaksanakan di daerahnya masyarakat
berpersepsi bahwa proyek pembangunan pada tahap operasional
tersebut akan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang cukup
besar untuk berbagai pekerjaan operasional yang sesuai dengan level
pengetahuandanketerampilan.Olehkarenaitukeberadaanoperasiakan
membawa perbaikan dengan bertambahnya peluang kerja.
- Pengupasan dan Pemindahan Tanah Pucuk
Pengupasandanpemindahantanahpucukpadatahapoperasiproyek
tambangbatubaraberfungsiuntukmenghilangkanlapisantanahteratas
yangmengandungunsurhara,sebelumaktivitaspenambangandimulai.
Tanah pucuk ini biasanya disimpan untuk rehabilitasi lahan pasca
tambang. Kegiatan ini dilakukan pada area dengan kondisi eksisting
yang umumnya berupa lahan vegetasi alami, hutan, atau lahan
6
pertanian yang berpotensi mengandung keanekaragaman hayati.
Potensi dampak dari kegiatan pengupasan tanah pucuk meliputi
hilangnya vegetasi penutup tanah, meningkatnya risiko erosi dan
degradasi lahan, serta penurunan kualitas air akibat sedimentasi dari
limpasan permukaan. Selain itu, kegiatan ini dapat menyebabkan
gangguan terhadap habitat flora dan fauna lokal. Oleh karena itu,
diperlukanpengelolaanyangbaik,sepertipenyimpanantanahpucukdi
area yang terlindung, revegetasi cepat di area terbuka, serta
pengendalianerosimelaluipembangunanteraseringataudrainaseyang
tepat.
- Pengupasan dan Penimbunan Tanah Penutup (overburden)
Pengupasan dan penimbunan tanah penutup(overburden)padatahap
operasi proyek tambang batubara berfungsi untuk menghilangkan
lapisan tanah dan batuan yang menutupi lapisan batubara agar dapat
diakses untuk penambangan. Kegiatan ini dilakukan pada area yang
sering kali memiliki kondisi eksisting berupa lahan hutan, vegetasi
alami, atau lahan terbuka dengan topografi yang bervariasi. Dampak
yang mungkin timbul dari pengupasan tanah penutup meliputi
perubahan bentang alam, peningkatan erosi dan sedimentasi ke badan
air, penurunan kualitas tanah akibat hilangnya struktur tanah, serta
gangguan terhadap habitat satwa liar. Selain itu, proses penimbunan
overburden dapat menyebabkan terbentuknya timbunan tinggi yang
berpotensimenciptakanlongsoranjikatidakdikeloladenganbaik.Oleh
karena itu, diperlukan penerapan langkah-langkah mitigasi seperti
pengelolaan timbunan secara terencana, penanaman kembali
(revegetasi)diareayangterganggu,sertapemantauandanpengendalian
erosi secara berkala.
- Penggalian Batubara
Penggalian batubara pada tahap operasiberfungsiuntukmengambil
batubara dari lapisan bawah tanah yang telah dibebaskan dari tanah
penutup, sebagai bagian utama dari kegiatan produksi tambang.
Kegiataninidilakukanpadaareadengankondisieksistingyangsudah
melalui pengupasan dan pemindahan tanah penutup, sehingga
cenderung terbuka dan terdegradasi. Proses penggalian melibatkan
penggunaan alat berat seperti excavator dan dump truck untuk
mengangkut batubara ke lokasi pengolahan atau pengangkutan.
7
Dampak potensial dari kegiatan ini meliputi peningkatan debu dan
polusi udara, getaran serta kebisingan akibat operasi alat berat, dan
potensipenurunankualitasairpermukaandanairtanahakibatlimpasan
bahan tambang dan kontak dengan air hujan. Selain itu, penggalian
dapat mengganggu stabilitas tanah di sekitar area tambang, yang
berisiko memicu longsoran atau subsidensi. Mitigasi yang perlu
dilakukan meliputi pengelolaan debu dan air limbah, pemantauan
kebisingan,sertaperkuatanstrukturtanahuntukmenjagastabilitasarea
penambangan.
- Penyaliran Tambang
Penyaliran tambang pada tahap operasi berfungsi untuk
mengendalikandanmengalirkanairpermukaanmaupunairtanah
yang masuk ke area tambang agar tidak mengganggu aktivitas
penambangan danmencegahgenangandipittambang.Kegiatan
inidilakukanpadaareadengankondisieksistingyangseringkali
terdiri dari topografi terbuka dan terdegradasi akibat aktivitas
pengupasandanpenggalian,sertaberpotensimenerimalimpasan
air dari daerah sekitar atau rembesan air tanah.Potensidampak
dari kegiatan penyaliran tambang ini meliputi penurunan muka
airtanahdisekitartambang,perubahanpolaaliranairpermukaan
yang dapat mempengaruhi ekosistem di hilir, peningkatan
sedimentasi di badan air, serta potensi pencemaran air akibat
kontak dengan material tambang. Langkah mitigasi yang
diperlukan meliputi pembangunan sistem drainase yang baik,
penggunaan kolam pengendap untuk mengurangi sedimentasi,
serta pemantauan kualitas air secara berkala untuk menghindari
dampak negatif terhadap lingkungan dan sumber daya air di
sekitar tambang.
- Pengangkutan Batubara
Pengangkutan batubara pada tahap operasi berfungsi untuk
memindahkan batubara yang telah diekstraksi dari lokasi
tambangkefasilitaspengolahan,penyimpanan,ataulangsungke
titik distribusi untuk pasar. Kegiatan ini dilakukan pada area
dengan kondisi eksisting yang mencakup jalan akses tambang,
8
yang mungkin sudah mengalami perbaikan atau pembangunan
sebelumnya untuk mendukung aktivitas transportasi. Dampak
yang mungkin timbul dari pengangkutan batubara meliputi
peningkatan polusi udara akibat debu yang dihasilkan dari
kendaraan pengangkut, kebisingan dari mesin dan kendaraan
berat, serta potensi kecelakaan lalu lintasdijalanumum.Selain
itu, beban berat dari kendaraan pengangkut dapatmenyebabkan
kerusakan pada infrastruktur jalan. Oleh karena itu,
langkah-langkah mitigasi yang perlu diterapkan termasuk
penggunaan alat pengendalian debu, pemeliharaan rutin jalan,
pengaturan waktu dan rute pengangkutan untuk meminimalkan
gangguanpadamasyarakat,sertapenerapanstandarkeselamatan
yang ketat untuk pengemudi dan kendaraan.
- Penumpukan dan Pengolahan Batubara
Penumpukan dan pengolahan batubara pada tahap operasi
berfungsi untuk mempersiapkan batubara yang telah diekstraksi
agarsesuaidenganspesifikasikualitasyangdibutuhkansebelum
didistribusikankekonsumen.Kegiataninidilakukandiareayang
telah disiapkan dan biasanya terdiri dari fasilitas penumpukan
batubara,sepertibunkerataustockpile,sertainstalasipengolahan
yang mencakup proses pencucian, pengeringan, dan
penggilingan.Kondisieksistingdilokasiinimungkinmencakup
lahan yang sebelumnya telah terdegradasi akibat aktivitas
penambangan, dengan akses yang dirancang untuk mendukung
kendaraan berat dan proses pengolahan. Kemungkinan dampak
daripenumpukandanpengolahanbatubarameliputipeningkatan
polusi udara akibat debu dari batubara, potensi pencemaran air
akibat limpasan dari tumpukan batubara, dan risiko kebisingan
yang dihasilkan dari peralatan pengolahan. Selain itu, proses
pengolahan dapat menghasilkan limbah yang perlu dikelola
dengan baik untuk mencegah dampak negatif pada lingkungan.
Oleh karenaitu,langkah-langkahmitigasiyangperluditerapkan
mencakup penggunaan sistem pengendalian debu, pengelolaan
9
limbah yang efisien, dan pemantauankualitasairsecaraberkala
untuk memastikan bahwa dampak terhadap lingkungan tetap
dalam batas yang dapat diterima.
- Pengelolaan Limbah
Pengelolaan limbah pada tahap operasi proyek tambang
batubara berfungsi untuk mengelola dan mengurangi dampak
negatif darilimbahyangdihasilkanselamaprosespenambangan
dan pengolahan batubara, termasuk limbah padat, cair, dangas.
Kegiatan ini dilakukan di area yang telah ditentukan, dengan
fasilitas untuk pengumpulan, penyimpanan, dan pemrosesan
limbah, serta sistem untuk memantau dan melaporkan
pengelolaanlimbahsecaraberkala.Kondisieksistingdilokasiini
mungkin mencakup infrastruktur yang dirancang untuk
menangani limbah, seperti tempat pembuangan limbah yang
memenuhi standar lingkungan, serta akses yang baik untuk
pengangkutan limbah. Kemungkinan dampak dari pengelolaan
limbah yang tidak efektif meliputi pencemaran tanah dan air
akibat kebocoran limbah cair,peningkatanrisikokebakarandari
limbah organik, serta dampak pada kesehatan masyarakat dan
lingkungan akibat gasberbahaya.Untukmeminimalkandampak
ini, langkah-langkah mitigasi yang perlu diterapkan meliputi
pemisahan limbah sesuai jenis, pengolahan limbah sebelum
dibuang, serta pelatihan bagi pekerja mengenai praktik
pengelolaan limbah yang baik dan aman.
- Reklamasi dan Revegetasi Lahan
Reklamasi dan revegetasi lahan pada tahap operasi proyek
tambang batubara berfungsi untuk mengembalikan fungsi
ekologis dan estetika lahan yang telah terdegradasi akibat
aktivitas penambangan, serta mendukung pemulihan
keanekaragaman hayati di area tersebut. Kegiatan ini dilakukan
di lokasi yang telahselesaiditambang,dengankondisieksisting
yangseringkaliberupalahangunduldantanahyangterkompaksi
akibat pergerakan alat berat. Proses reklamasi mencakup
10
pemulihan topsoil, penanaman spesies vegetasi lokal, dan
pembuatan struktur kontur untuk mencegah erosi, serta
mempromosikan infiltrasi air. Kemungkinan dampak dari
reklamasi dan revegetasi yang tidak dikelola dengan baik
meliputi kegagalan pertumbuhan tanaman, invasi spesies asing
yang dapat mengganggu ekosistem lokal, danpeningkatanerosi
tanah akibat hilangnya penutup vegetasi. Oleh karena itu,
langkah-langkah mitigasi yang perlu diterapkan mencakup
pemilihan spesies tanaman yang sesuai, penerapan teknik
penanaman yang efektif, serta pemantauan dan pemeliharaan
lahan reklamasi secara berkala untuk memastikan keberhasilan
proses revegetasi dan pemulihan ekosistem.
Tahap Pasca Operasi
- Pembongkaran,PemindahandanPemanfaatankembaliBangunan
serta Instalasi Tambang dan infrastruktur
Pembongkaran, pemindahan, dan pemanfaatan kembali
bangunan serta instalasi tambang dan infrastruktur pada tahap
pascaoperasiberfungsiuntukmenghapusstrukturyangtidaklagi
diperlukan dan mengoptimalkan penggunaan lahan yang telah
ditambang untuk kegiatan lain, seperti rehabilitasi lahan atau
pengembangan baru. Kegiatan ini dilakukan di area dengan
kondisi eksisting yang mencakup bangunan dan infrastruktur
yangsudahmengalamikerusakanakibataktivitastambang,serta
potensi kontaminasi yang perlu diatasi. Proses ini dapat
melibatkan pengangkatan peralatan, pembersihan limbah, dan
pemulihan material yang masih dapat digunakan.Kemungkinan
dampak dari kegiatan ini meliputi peningkatan debu dan polusi
udara selama proses pembongkaran, serta risiko pencemaran
tanah dan air jika limbah berbahayatidakdikeloladenganbaik.
Selainitu,kegiataninidapatmenggangguhabitatlokaljikatidak
dilakukan dengan mempertimbangkan ekosistem sekitar. Oleh
karena itu, langkah-langkah mitigasi yang perlu diterapkan
mencakup pengendaliandebu,pemisahanlimbahberbahayadari
11
material yang dapat didaur ulang, serta pemantauan lingkungan
untukmemastikanbahwadampaknegatifterhadapekosistemdan
kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.
- Reklamasi dan Revegetasi Lahan
Reklamasi dan revegetasi pada tahap pasca operasi proyek
tambang batubara berfungsiuntukmemulihkanlahanyangtelah
terdegradasi akibat aktivitas penambangan, sehingga lahan
tersebut dapat berfungsi kembali sebagai ekosistem yang sehat
dan mendukung keanekaragaman hayati. Kegiataninidilakukan
di area yang sebelumnya terpapar dan kosong, dengan kondisi
eksisting yang mungkin mencakup tanah yang terkompaksi,
hilangnyalapisantanahatas,sertapencemaranyangdiakibatkan
oleh sisa-sisa aktivitas tambang. Proses reklamasi mencakup
pengolahan tanah, pemulihan topsoil, penanaman spesies
vegetasi lokal, danpengelolaanairuntukmeningkatkanpeluang
pertumbuhantanaman.Kemungkinandampakdarireklamasidan
revegetasiyangtidakdilakukansecaraefektifmeliputikegagalan
pertumbuhan vegetasi, munculnya spesies invasif yang dapat
merusak ekosistem lokal, serta peningkatan erosi tanah akibat
kurangnya penutup vegetasi. Untuk meminimalkan dampak ini,
langkah-langkah mitigasi yang perlu diterapkan mencakup
pemilihan spesies tanaman yang sesuai dengan kondisi lokal,
penerapanteknikpemeliharaanyangbaik,sertapemantauandan
evaluasiberkalauntukmemastikankeberhasilanupayareklamasi
dan kesehatan ekosistem yang dikembalikan.
- Penanganan Tenaga Kerja
Penanganan tenaga kerja pada tahap pasca operasi proyek
tambang batubara berfungsi untuk memastikan transisi yang
lancar bagi pekerja yang terlibat dalam kegiatan penambangan,
termasukprogrampemindahan,pelatihanulang,danpenempatan
kerja alternatif, guna mengurangi dampak sosial dan ekonomi
dari penutupan operasi tambang. Kegiatan ini dilakukan diarea
dengankondisieksistingyangmencakupkehadiranpekerjayang
12
telah berpengalaman dalam industri tambang, namun mungkin
menghadapi tantangan dalam mencari pekerjaan baru setelah
penutupan. Kemungkinan dampak dari penanganantenagakerja
yang tidak dikelola dengan baik dapat mencakup peningkatan
tingkat pengangguran, ketidakstabilan ekonomi lokal, dan
potensi konflik sosial akibat ketidakpuasan di kalangan mantan
pekerja. Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi yang perlu
diterapkan meliputi penyusunanprogrampelatihanketerampilan
yang relevan, penyediaan informasi tentang peluang kerja di
sektor lain, dan komunikasi yang efektif antara manajemen
tambang dan pekerja untuk memastikan transparansi dan
partisipasi dalam proses transisi, sehingga mengurangi dampak
negatif dan mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.
1 .5 Lokasi Rencana L
ingkup wilayah studi ditentukan dengan memperhatikan batas tapak, batas
Usaha dan/atau
ekologis,batassosialdanbatasadministrasi.Resultankeempatbatastersebut
Kegiatan
merupakan batas wilayah studi. Masing-masing batas tersebut diuraikan
sebagai berikut.
Batas Tapak
Batastapakmerupakanlokasidaerahkegiatanyangmeliputiarealfisiklahan
yang akan digunakan, dengan total luas lahan 25.000 Ha. Secara geografis
Tambang batubara terletak pada koordinat:
BM1: 3° 7' 20.50" S dan 104° 46' 30.40" E
BM2: 3° 7' 15.32" S dan 104° 46' 31.56" E
BM3: 3° 7' 13.30" S dan 104° 46' 28.40" E
BM4: 3° 7' 18.50" S dan 104° 46' 27.20" E
13
mengalami perubahan mendasar akibat aktivitas penambangan dalam dua
media utama:
1. Media Transportasi Limbah: Limbah padat dan cair yang dihasilkan
dari kegiatan tambang, termasuk air limpasan yang berpotensi
terkontaminasi, dapat menyebar melalui sistem drainase dan sungai
yang mengalir ke Sungai Lematang. Sebaran dampak diperkirakan
akan dipengaruhi oleh kecepatandanarahaliransungai,sertakondisi
hidrologi yang ada di sekitar tambang. Hal ini dapat mempengaruhi
kualitas air di sepanjang aliran sungai dan ekosistem perairan di
sekitarnya.
2. Media Transportasi Udara: Emisi debu dan gas buang dari aktivitas
penggalian, pengangkutan, dan pengolahan batubara yang dihasilkan
dapat terdispersi ke atmosfer, mempengaruhi kualitasudaradisekitar
tambang. Arah dan kecepatan angin, serta kondisi meteorologi lokal,
seperti suhu dan kelembaban, akan mempengaruhi sebaran polutan.
Modeldispersipolutanakandigunakanuntukmemperkirakandampak
kualitas udara ambiendalamradiuskuranglebih5kmdarititikpusat
kegiatan tambang. Hal ini penting untuk mengidentifikasi potensi
dampakterhadapkesehatanmasyarakatdanlingkungandisekitararea
operasi.
Batas Administratif
BatasadministrasiuntuktambangbatubaraPT.BukitAsamterletakdi
Desa Tanjung Enim, Kecamatan Muara Enim, Kabupaten Muara Enim,
Provinsi Sumatera Selatan.
Batas Sosial
Batas sosial untuk tambang batubara PT.BukitAsamditentukanoleh
adanyainteraksisosialyangberlangsungantaraperusahaan,masyarakatlokal,
danpemangkukepentinganlainnyadisekitarareatambang,khususnyadiDesa
Tanjung Enim dan sekitarnya. Wilayah ini merupakan pemukiman yang
memiliki norma dan nilai sosial yang sudah mapan, di mana masyarakat
berinteraksi dan beradaptasi dengan keberadaan kegiatan tambang. Dampak
dari aktivitas penambangan dapat dirasakan dalam berbagai bentuk, baik
positif, seperti peningkatan lapangan kerja dan infrastruktur, maupunnegatif,
seperti potensi gangguan terhadap kesehatan dan lingkungan. Pentingnya
memahamibatassosialiniberfungsisebagaiacuandalammerumuskanstrategi
komunikasi dan program pengembangan masyarakat yang inklusif, sehingga
14
hubungan antara PT. Bukit Asamdanmasyarakatdapatterjalinharmonisdan
saling menguntungkan.
Penetapan Batas Wilayah Studi
Batas wilayah studi ditetapkan berdasarkan seluruh batas yang ada. Batas
wilayah studi bisa didapatkan dengan menimpa seluruh batas sosial, batas
ekologis, batas tapak, serta batas administratif menjadi satu.
1 .6 Hasil Pelibatan KonsultasipublikAMDALuntukPembangunanTambangBatubaraPT.Bukit
Masyarakat
Asam dilakukan pada 15 Maret 2024 di Desa Tanjung Enim, Kecamatan
Muara Enim, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.
Metode pelaksanaan konsultasi publik
Melibatkan pemberitahuan melaluispandukdanpamfletsertarapatpublikdi
Balai Desa Tanjung Enim. Peserta konsultasi publik diberikan kesempatan
untuk mengajukan pertanyaan dan berdiskusi tentang rencana kegiatan
tambang.
Rapat Publik
Peserta konsultasi publik
Peserta konsultasi publik terdiri dari perwakilan masyarakat melaluiRT/RW
setempat yang terdampak secaraadministratif,tokohmasyarakat,sertaunsur
pemerintah dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan dan
pihak kecamatan. Dalam konsultasi ini, terdapat juga perwakilan dari
pemrakarsa dan penyusun AMDAL. Jumlah peserta konsultasi mencapai 60
orang, dengan rincian sebagai berikut:
● Unsur Masyarakat:
o Perwakilan RT/RW: 35 orang
o Tokoh Masyarakat: 5 orang
● Pemerintah:
o Dinas Lingkungan Hidup: 4 orang
o Pihak Kecamatan Muara Enim: 3 orang
● Pemrakarsa dan Penyusun AMDAL:
o Pemrakarsa: 1 orang
o Penyusun: 4 orang
Susunan Acara Konsultasi Publik
Susunan acara meliputi:
1. Pembukaan: 09.00 - 09.45
o Registrasi peserta
15
o Pembacaan tata tertib dan susunan acara
o Doa bersama
2. Sambutan: 09.45 - 10.15
o Perwakilan Kecamatan Muara Enim
o Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan
o Perwakilan Pemrakarsa
3. Pemaparan: 10.15 - 12.30
o Pemaparan dari tim konsultan: 10.15 - 10.45
o Diskusi (3 termin, setiap termin 3 pertanyaan): 10.45 - 12.00
o Persetujuan dan ringkasan hasil diskusi dari masyarakat serta
dinas terkait: 12.00 - 12.15
4. Penutupan: 12.15 - 12.30
Hasil Konsultasi Publik
Hasil dari konsultasi publik untuk rencana pembangunan tambang batubara PT.
Bukit Asam antara lain:
1. Mobilisasi alat berat dan material diharapkan dilakukan pada malam
hari untuk mengurangi gangguan lalu lintas.
2. Memprioritaskan alokasi tenaga kerja lokal dari Desa Tanjung Enim
dan sekitarnya.
3. Tingkat kebisingan selama proses konstruksi harus dikendalikan agar
tidak mengganggu aktivitas masyarakat, dengan jadwal kerja di luar
jam istirahat.
4. Polusi udara selama konstruksi harus dikelola secara efektif.
Tanggapan dari Hasil Diskusi
1. Pendataanwargalokalyangberminatuntukmenjaditenagakerjaakan
dilakukan oleh pihak perusahaan.
2. Mobilisasi material akandijadwalkanpadamalamharisaatlalulintas
lebih sepi.
3. Waktupelaksanaankonstruksiakandisesuaikandenganjamkerjayang
berlaku di masyarakat.
Pemasangan Spanduk dan Pamflet
Pemasangan spanduk dan pamflet untuk rencana pembangunantambang
batubara PT. Bukit Asam dilakukan setelah memperoleh persetujuan dari
hasil rapat publik yang sebelumnya dilaksanakan. Spanduk dan pamflet
tersebut dipasang di Balai Desa Tanjung Enim serta di berbagai lokasi
strategisdisekitarDesaTanjungEnimdanKecamatanMuaraEnim.Selain
16
itu, pemasanganjugadilakukandititik-titikpotensialyangmudahterlihat
oleh masyarakat yang terdampak secara administratif, guna memastikan
bahwa informasi mengenai kegiatan penambangan dapat diakses oleh
semua pihak yang berkepentingan. Upaya ini bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai rencana dan proses yang
akan dilaksanakan, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk
menyampaikan pendapat dan masukan mereka.
17
II.PROSES PELINGKUPAN
Tahapan Kegiatan
a b a b c d e a b c d e f g h i a b c
1 I klim mikro x x
2 Kualitas udara
x x
x
x x x x x
3 Kebisingan x x x x x x x
4 Getaran x x x x
5 Kualitas air permukaan x x x x x x x x x
6 Limpasan air permukaan x x x x x x x x x x
18
Tahapan Kegiatan
1 1 egetasi
V
x x x
12 Satwa liar x x x
13 Biota air x
14 Kesempatan x x
kerja
15 Kesempatan berusaha x
19
Keterangan tahapan kegiatan;
a. Pra Konstruksi
a. Survey (Sosialisasi Masyarakat
b. Sosialisasi
b. Konstruksi
a. Penerimaan tenaga kerja tahap konstruksi
b. Mobilisasi Peralatan dan Material
c. Pengerukan dan Pematangan Lahan
d. Pembangunan jalan pertambangan
e. Pembangunan Fasilitas Pendukung
c. Operasi
a. Penerimaan tenaga kerja tahap operasi
b. Pengupasan dan pemindahan tanah pucuk
c. Pengupasan dan Penimbunan tanah penutup(Overburden)
d. Penggalian batubara
e. Penyaliran tambang
f. Pengangkutan batubara
g. Penumpukan dan pengolahan batubara
h. Pengelolaan limbah
i. Reklamasi dan Revegetasi Lahan
d. Pascaoperasi
a. Pembongkaran fasilitas pendukung
b. Reklamasi dan revegetasi lahan
c. Penanganan tenaga kerja
20
Tabel Proses Pelingkupan
Pengelolaan
encana Usaha
R ingkungan Komponen
L Uraian Batas Batas
No dan/atau Kegiatan yang Sudah L ingkungan Wilayah aktu
W
yang Berpotensi Direncanakan erkena
T Studi Kajian
Menimbulkan valuasi
E ampak
D
Dampak
Dampak ampak
D Dampak Penting
Lingkungan Potensial Potensial Hipotetik
a b c d e f g h i
I. TAHAP PRA KONSTRUKSI
21
Pengelolaan K
omponen Uraian Batas Batas
Rencana Usaha Lingkungan Lingkungan Wilayah aktu
W
No dan/atau yang Sudah Terkena Studi Kajian
Kegiatan yang D
irencanakan Dampak
Berpotensi valuasi
E ampak
D
Menimbulkan ampak
D Dampak Penting
Dampak Potensial Potensial Hipotetik
Lingkungan
1 enerimaan
P enyediaan
p omponen
k Adanya tersediannya lapangan DPH - 2 minggu
tenaga kerja tenaga kerja demografi sosial kesempatan k erja
tahap kostruksi terutama untuk penambahan/pe kerja
warga lokal ngurangan
jumlah
penduduk
2 obilisasi
M jam mobilisasi kelancaran lalu tingkat obilisasiperalatandan
M DPH atas
B epanjang
S
peralatan dan dilakukan saat lintas kemacetan lalu material yang ekologi pelaksana
material jam sepi lintas dan dilaksanakan meliputi kualitas an
kerusakan jalan 4-6 truk per hari udara mobilisasi
selama kegiatan sehingga tidak karena peralatan
mobilisasi signifikan menimbulkan mobilisasi dan
debu TSP, namun jalur peralatan material
mobilisasiperalatandan dan material untuk
material yang melewati adalah konstruks
Jalandapatmengganggu sejauh 75 i karena
kelancaran lalulintasdi meter dari dampak
sekitar area proyek as jalan A akan
terjadi
selama
3 engerukan dan
P enyediakan
m kebisingan . penurunan
1 k egiatan pengerukan dan DPH atas tapak 2 bulan
B
Pematangan APD kualitas udara pematangan lahan proyek
lahan perlindungan [Link] memerlukan banyak alat
telinga bagi kebisingan berat, sehingga dapat
para pekerja meningkatkan kebisingan
4 embangunan
P emberian
p kebisingan . penurunan
1 DPH atas
B 2 bulan
kualitas udara b esar nya panjang jalan
jalan APD berupa pertambangan yang akan Ekologis,
pertambangan perlindungan 2. timbulnya batas
kebisingan dibangun akan banyak
telinga bagi memerlukan alat berat dan administrati
para pekerja akibat f, batas
pekerjaan pekerja yang dapat
menimbulkan dampak tapak
berupa peningkatan proyek
kebisingan di area proyek
tersebut
5 embangunan
P emantauan
p kualitas udara p
olusi udara
p embangunan fasilitas DPH atas
B 3 bulan
fasilitas kualitas udara akibat proses Ekologis,
pekerjaan pendukung memerlukan
pendukung banyak material batas
terutama debu administrati
bangunan, alat berat, dan
jumlah pekerja yang f, batas
tidak sedikit, sehingga tapak
dengan banyak nya proyek
fasilitas yang dibangun
seperti kantor, gudang,
tentu akan menimbulkan
polusi yang ditimbulkan
dari debu dan partikulat
lainnya selama
berlangsungnya proyek
22
enyediakan
m kebisingan, eningkatan
p p enggunaan alat berat DPH
APD untuk kebisingan untuk membangun
perlindungan berbagai fasilitas
telinga para pendukung akan
pekerja menimbulkan kebisingan
yang dapat mengganggu
warga sekitar dan para
pekerja
23
Pengelolaan K
omponen U raian Batas Batas
Rencana Usaha L ingkungan Lingkungan Wilayah aktu
W
No dan/atau yang Sudah Terkena Studi Kajian
Kegiatan yang Direncanakan Dampak
Berpotensi valuasi
E ampak
D
Menimbulkan ampak
D Dampak Penting
Dampak Potensial Potensial Hipotetik
Lingkungan
a b c d e F g h i
p
6 embangunan emantauan Kualitas udara penurunan
p f asilitas penduduk yang
fasilitas kualitas udara kualitas merasa terkena dampak
penduduk udara setelah dilakukan surveipada
peningkata tahap pra konstruksi akan
n dibangun sesuai kesepakatan
kebisingan dengan penduduk setempat
yang manapembangunannya
akan turut mempengaruhi
kualitas udara akibat
penggunaan alat berat dan
material bangunan
1 enerimaan
P emastikan
M Kesempatan danya
A embuka lapangan
M DPH atas
B
tenaga kerja sistem kerja kesemp pekerjaan, terjadinya sosial-ekono
tahap operasi perekrutan atan peningkatan populasi mi
berlandaskan kerja
meritokrasi
2 Pengupasan dan Penggunaan alatKualitas Udara enurunan Alat berat yang digunakan DPH
P Batas ekologi
pemindahan penekan debu kualitas dalam pengupasan dan
tanah pucuk dan penutupan udara pemindahan tanah pucuk
muatan [parameter menghasilkan polusi yang
debu TSP dapat menurunkan kualitas
dan udara di area proyek.
PM10]
embuatan
p Erosi Terjadinya Tanah yang terpapar DPH atas
B Tiga tahun
tanaman erosi setelah pengupasan lebih ekologi selama
penahan rentan terhadap erosi, limpasan air masa
angin terutama jika tidak ada permukaan operasional
tindakan konservasi tanah adalah tambang
yang tepat. sesuai tapak batubara
proyek yang karena data
dilakukan kualitas
lingkungan
24
Pengelolaan K
omponen Uraian Batas Batas
encana Usaha Lingkungan Lingkungan
R Wilayah aktu
W
No dan/atau Kegiatan yang Sudah Terkena Evaluasi Dampak ampak
D Studi Kajian
yang Berpotensi Direncanakan Dampak ampak
D Potensial Penting
Menimbulkan Potensial Hipotetik
Dampak
Lingkungan
3 engupasan
P emastikan Kebisingan
M enurunan
P artikel debu TSP yang DPH
P b atas
dan aspek kualitas dihasilkan dari aktivitas ekologis
penimbunan keselamatan udara pengupasan dan penimbunan berupa
tanah penutup dan kesehatan [parameter kualitas
tanah dapat tersebar ke udara,
[overburden] kerja bagi pada debu TSP] udara di
pekerja di area mencemari lingkungan sekitar. area yang
perrambangan Debu yangmenempelpadadaun terdampak
batubara tanaman dapat mengganggu pencemaran
proses fotosintesis, sehingga
menurunkan produktivitas
vegetasi di area sekitar.
Erosi Terjadinya Erosi dapat menyebabkan DPH b atas
e rosi k
ehilangan l
apisan tanah atas ekologis
(topsoil) yang subur, sehingga berupa area
pinggiran
mengurangi kemampuan tanah
sungai di
untuk mendukung vegetasi. sekitar
Materialhasilerosidapatterbawa lokasi
kesungaiataubadanairterdekat, proyek
meningkatkan sedimentasi yang
merusak ekosistem perairan.
ualitas air
k enurunan Limpasan dari area pengupasan DPH
P b atas
permukaan kualitas air dan penimbunan tanah dapat ekologis
permukaan membawa partikel tanah, bahan berupa
organik, dan polutan ke sungai, kualitas air
sehingga mencemari air permukaan
permukaan. Perubahan kualitas di sekitar
air, seperti peningkatan lokasi
kekeruhanataukandunganlogam proyek
berat, dapat merusak ekosistem
akuatik.
25
enyediakan
m Kebisingan eningkatan peledakan menggunakan bahan DPH
P b atas
APD untuk Kebisingan peledaktentuakanmeningkatkan ekologis
perlindungan kebisingan yang Mengganggu wilayah
telinga para kehidupan satwa liar, terutama pemukiman
pekerja hewan yang sensitif terhadap yang
suara, sehingga dapat terkena
memengaruhi keseimbangan dampak
ekosistem. kebisingan
elakukan
m Kualitas Udara enurunan
P artikel debu yang dihasilkan DPH
P
pemiliha bahan kualitas dari peledakan dapat menyebar
peledak sesuai udara (debu ke udara dan mencemari
standar yang TSP) lingkungan, mempengaruhi
diatur oleh kualitas udara di sekitar lokasi
pemerintah dan tambang.
dapat Dapat pula menimbulkan
meminimalisir terganggunya proses fotosintesis
penurunan tanaman di sekitar akibat debu
kualitas udara yang menempel pada daun.
5 engupasan
P emastikan K
M ualitas Udara Penurunan enurunan kualitas udara akibatDPH
P
batuan aspek kualitas kegiatan pengupasan batuan
penutup keselamatan udara penutup dapat menimbulkan
dan kesehatan [parameter dampak yang serius terhadap
kerja bagi pada debu TSP] kualitas hidup masyarakat sekitar.
pekerja di area
perrambangan
batubara
6 enimbunan
P Memastikan Kualitas Udara Penurunan enurunan kualitas udara akibatDPH
P
batuan aspek kualitas kegiatan penimbunan batuan
penutup keselamatan udara penutup dapat menyebabkan
dan kesehatan [parameter dampak serius terhadap
kerja bagi pada debu TSP] kesejahteraan masyarakat di
pekerja di area sekitar lokasi.
perrambangan
batubara
26
Pengelolaan Uraian Batas Batas
Rencana Usaha L ingkungan K omponen Wilayah aktu
W
No dan/atau yang Sudah Lingkungan Studi Kajian
Kegiatan yang Direncanakan Terkena
Berpotensi Dampak Evaluasi Dampak ampak
D
Dampak Penting
Menimbulkan otensial
P Potensial
Hipotetik
Dampak
Lingkungan
a b c d e f g h i
7 Penggalian m
elakukan B
entang Lahan Perubahan
K egiatan p
enggalian b
atubara d
apat DPH
batubara reklamasi lahan bentang menimbulkan dampak berupa
tambag pasca lahan perubahan topografi alami menjadi
operasi
cekungan atau lubang besar, yang
dapat menciptakan lahan sulit untuk
dikembalikan ke kondisi semula.
terbentuknya cekungan ini juga dapat
menimbulkan banyak korban jiwa
akibat terjatuh ke dalam cekungan
tambang. Kecelakaan ini disebabkan
oleh kelalaian perusahaan dalam
memberi peringatan di setiap area
ekstrim pertambangan. hal ini dapat
menimbulkan respon negatif dari
masyarakat setempat
elakukan
m erosi Terjadinya ongsor di area tambang dapat DPH
L
kajian untuk erosi menyebabkan kerusakan ekosistem
mengetahui dan membahayakan keselamatan para
potensi longsor,
pekerja, serta menurunkan
memberikan
panduan K3 bagi produktivitas perusahaan.
para pekerja
secara ketat
8 enumpukan
P membangun Kualitas Udara Penurunan paparan sinar matahari dapat membuat
batubara tempat kualitas batubara melepaskan gas berbahaya
penumpukan udara seperti sulfur dan metana sehingga
batubara di apabila berada di tempat terbuka akan
lokasi yang menimbulkan penurunan kualitas
tertutup udara
9 enanganan
P Membangun Kualitas air, Penurunan Air asam tambang (AAT) yang tidak DPH
air asam fasilitas kualitas air dikeloladenganbaikdapatmengalirke
tambang pengolahan air permukaan sungai atau badan air terdekat,
limbah [jika ada
sungai] meningkatkan keasaman (penurunan
pH) air permukaan.
Kandungan logam berat yang tinggi
(sepertibesi,mangan,danaluminium)
dalam AAT dapat mencemari sumber
air, membuatnya tidak layak untuk
kehidupan akuatik atau konsumsi
manusia.
Biota air Gangguan iota air, seperti ikan dan organisme DPH
B
terhadap akuatik lainnya, sensitif terhadap
biota air perubahan pH dan peningkatan
kandungan logam berat, yang dapat
menyebabkan kematian massal atau
penurunanpopulasi.Kerusakanhabitat
akuatikakibatsedimentasilogamberat
di dasar sungai dapat mengganggu
rantai makanan dan keseimbangan
ekosistem.
27
10 P
engangkutan enggunakan Kualitas udara
m enurunan Aktivitas truk pengangkut batubara DPH
P
batubara truk pengangkut kualita menghasilkan debu (TSP dan PM10)
menggunakan batubara yang udara yang terlepas dari muatan batubara
tidak banyak [parameter
truk
menimbulkan debu TSP ataudaripermukaanjalanyangdilalui.
emisi dan PM10] Polutan debu dapat mencemari udara
d i sekitar area transportasi,
memengaruhi vegetasi di sepanjang
jalan, serta menurunkan estetika
lingkungan. Polutan lainnya, seperti
emisi gas dari kendaraan berat, dapat
memperburuk kualitas udara di area
pengangkutan.
enyediakan Kesehatan
M angguan Paparan debu (TSP dan PM10) yang DPH
G
masker bagi paraMasyarakat Kesehatan dihasilkan dari truk pengangkut
pekerja dan Masyarakat batubara dapat menyebabkan
warga setempat
g angguan kesehatan, seperti infeksi
saluranpernapasanakut(ISPA),asma,
dan bronkitis..
28
Komponen Uraian atas
B Batas
encana Usaha
R Pengelolaan Lingkungan Wilayah aktu
W
dan/atau Kegiatan Lingkungan Terkena Studi Kajian
No yang Berpotensi Dampak
yang Sudah
Menimbulkan irencanakan
D Dampak Evaluasi Dampak ampak
D
Dampak otensial
P Potensial Penting
Lingkungan Hipotetik
11 P
engolahan elakukan
m kualitas udara Penurunan p engolahan batubara yang banyak DPH
Batubara pemantauan kualitas memerlukan proses pembakaran akan
kualitas udara di udara banyak menimbulkan pencemaran
area pengolahan udara
batubara
12 P
emindah erencanaan
P Perubahan Terjadinya erubahan arah aliran air dapat DPH
P
an aliran berupa DED arah aliran air Perubahan menyebabkan gangguan pada pola
sungai untuk hidrologi alami, termasuk
memastikan arah pengeringan di beberapa area dan
perubahan aliran aliran peningkatan aliran di area lain yang
air tidak tidak dirancang untuk itu. Dapat
berdampak air meningkatkanrisikobanjirdiwilayah
secara signifikan permukaan hilirataumenyebabkankekeringandi
pada ekosistem bagian hulu sungai.
sekitar
13 elakukan
M Kualitas air enurunan A
P ktivitas pemindahan sungai dapat DPH
kontrol pada permukaan kualitas air meningkatkan kekeruhan air akibat
kualitas alat permukaan partikelsedimenyangterlepasselama
berta yang proses pengerukan atau pengalihan
digunakan aliran. Bahan kimia, minyak, atau
sehingga tidak limbahdarialatberatyangdigunakan
banyak sedimen selama konstruksi dapat mencemari
yang lolos dan air sungai.
mencemari
kualitas air
sungai
29
15 O
perasi embuat
m Kualitas enurunan
P ktivitas kendaraan berat di jalan DPH
A
onal perencanaan Udara kualitas tambang menghasilkan partikel debu
jalan yang matang udara (debu (TSP)yangdapatmenyebarkeudara
pertamb terkait lalu lintas TSP) dan mencemari lingkungan sekitar.
angan di area tambang Debu yang menempel pada tanaman
agar tidak terlalu dapatmenggangguprosesfotosintesis
banyak dan menyebabkan penurunan
pergerakan yang produktivitasvegetasidisekitarjalan
tidak penting tambang.
30
Uraian
encana Usaha
R engelolaan
P omponen
K Batas Batas
o dan/atau Kegiatan
N Lingkungan Lingkunga ilaya
W aktu
W
yang Berpotensi yang Sudah n Terkena h Studi Kajian
Menimbulkan Direncanakan Dampak Dampak Evaluasi Dampak ampak
D
Dampak otensial
P Potensial Penting
Lingkungan Hipotetik
1 embongkaran
P enggunakan kualitas udara,
m .Peningkatan1. pembongkaran banyak fasilitas DPH
1
fasilitas alat berat kebisingan Kebisingan pendukung seperti kantor, gudang,
pendukung dengan kondisi [Link] dan lainnya akan memicu kebisingan
yang masih Udara dari pnggunaan alat berat dan
layak pakai kegiatan lainnya.
[Link] pembongkaran akan
banyak menghasilkan debu yang
bertebaran ke udara dan
menyebabkan pencemaran udara di
sekitar lokasi kegiatan
31
III. METODE STUDI
No DPH Data dan Metode Metode Analisis Data Metode Prakiraan Dampak Penting Metode Evaluasi
Informasi yang Pengumpulan
Relevan dan Data
Dibutuhkan
1 eningkatan
P ata PrimerLuas
D ata Primer
D etode Analisis Data
M RAKIRAAN DAMPAK
P etode
M Matrik
limpasan air area dan kondisi Pengumpulan data Debit air larian (r un off) di lokasi kegiatan dapat 1. Prakiraan dampak peningkatan debit air larian [contoh Leopold,
permukaan tata guna lahan luas area dan dihitungmenggunakanmetoderasional(Asdak,2010) (run off)akibatadanyarencanakegiatandengan Fisher Davis,
lokasi kegiatan kondisi tata guna sebagai berikut : menggunakan metode rasional dengan rumus Batelle, Sederhana,
lahan lokasi = 0,0028 x C x I x A
Q dengan perubahan nilai koefisien aliran C. dll] atau Metode Non
ata Sekunder
D kegiatan a. Debit sebelum adanya kegiatan Matrik [contoh bagan
1. Koefisien didapatkan Dimana: Q = 0,0028 x C1 x I x A alir]
aliran langsung dari Q = debit air larian (run off) (m³/detik) C = b. Debit setelah adanya kegiatan Uraikan dengan
permukaan penanggung jawab koefisienrun off Q = 0,0028 x C2 x I x A metode tersebut
yang kegiatan I = intensitas curah hujan (mm/jam) A = c. Selisih debit bagaimana
menyesuaikan dan dengan luas lokasi kegiatan (Ha) △Q = 0,0028 x (C2-C1) x I x A menentukan;
dengan tata melakukan survey Nilai parameter koefisien limpasan air hujan Dimana: 1. Suatu DPH
guna lahan lokasi. disesuaikan dengan tata guna lahan lokasi Q = Debit air larian (run off) (m³/detik) C = menjadi dampak
2. Data curah rencana kegiatan contoh; Koefisienrun off penting atau dampak
hujan 5 tahun okasi
L I = Intensitas curah hujan (mm/jam) A = tidak penting
terakhir Pengambilan Penggunaan Lahan atau Nilai C Luas lokasi kegiatan (Ha)
Bentuk Struktur 2. Karakteristik
(Tahun 2019.- data dampak secara total
Hutan Primer 0,02
2024) 1. tapak proyek 2. B
erdasarkan perhitungan peningkatan debit air dari usaha dan/atau
Hutan Produksi 0,05
3. Peta topografi larian (run off), kemudian dikonversi ke skala kegiatan
4. Peta kawasan ata Sekunder
D Sumber : Soewarno, 2000
kualitaslingkungan[jikaevaluasisecaraholistik 3. Bentuk
5. Citra 1. Pengumpulan Interpretasi Data menggunakan metode matrik] sebagai berikut : keterkaitan dan
Kawasan data curah Berdasarkan perhitungan debit air larian (r un off), interaksi DPH
hujan kemudiandikonversikeskalakualitaslingkungan[jika beserta karakteristik-
diperoleh dari evaluasi secara holistikmenggunakanmetodematrik] Debit Air nya yang digunakan
stasiun BMKG sebagai berikut: Konversi Skala
No Larian untuk menentukan
terdekat Lingkungan
(m3/ detik) sifat penting dan
2. Pengumpulan besaran dampak-
1 <0,50 angat baik
S 5
data peta tata dampak yang telah
guna lahan 2 0 ,6-1,0 Baik 4
berinteraksi pada
3 1,1-2,5 Sedang 3
32
an topografi
d Debit Air 4 2 ,6-5 uruk
B 2 r uang dan waktu
lahan eksisting Larian Konversi Skala yang sama
No 5 >5,5 Sangat Buruk 1
dilakukan (m3/detik) Lingkungan
.
melalui studi 1 <0,50 angat
S 5
literatur dan baik ari hasil perkiraaan dampak yang diperoleh,
D
dokumen- dikonversikan ke skala kualitas lingkungan [jika
2 ,6-1,0
0 Baik
4
dokumen atau metodeevaluasisecaraholistikmenggunakanmetode
data hasil 3 1,1-2,5 Sedang 3
matrik] untuk mendapatkan besaran dampak yaitu
laporan dari 4 2,6-5 Buruk 2
nilai kualitas lingkungan dengan proyek dikurangi
instansi 5 >5,5 Sangat 1 nilai kualitas lingkungan tanpa proyek
terkait. Buruk
33
34