Metode Simplex dalam Pemrograman Linier
Metode Simplex dalam Pemrograman Linier
PERTEMUAN 4
LINEAR PROGRAMMING (METODE SIMPLEX) FUNGSI TUJUAN
MAKSIMUM FUNGSI BATASAN “≤”
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi dalam pertemuan 4, mahasiswa mampu:
1. Memahami Pengertian metode simplek
2. Menentukan biaya optimum dengan metode SIMPLEX untuk fungsi tujuan
maksimum dan fungsi batasan ≤
B. Uraian Materi
1. Pengertian Metode Simplek
Masalahan yang sering dihadapi oleh manager produksi ntara lain adalah
penentuan jumlah produksi dan kombinasi dari beberapa produk disuatu
perusahaan. Disisi lain perusahaan selalu menginginkan keuntungan yang
maksimal tetapi dihadapkan dengan berbagai alternativ karena membutuhkan
pengetahuan untuk menentukan pilihan jumlah barang yang harus diproduksi.
Memproduksi barang jenis satu bila di produksi dalam jumlah banyak belum tentu
menghasilkan keuntungan yang maksimum, karena dalam memproduksi suatu
barang di pengaruhi oleh jenis material, jenis mesin yang digunakan dan lainnya.
Untuk menentukan dan menemukan jumlah atau kombinasi barang dari
masing masing jenis produk yang akan di produksi atau pengalaokasian tenaga
kerja salah satunya adalah dengan model program linier metode grafik. Namun
pada metofe grapik adalah terbatas yaitu hanya bias menyelesaikan atau berlaku
untuk dua variabel saja. Untuk variabel yang lebih dari dua digunakan metode
simplek yaitu Suatu teknik yang dapat memecahkan masalah-masalah program
linier secara umum. Dalam metode simpleks model diubah ke dalam bentuk
suatu tabel kemudian dilakukan beberapa langkah dan ketentuan.
Metode Simpleks adalah suatu metode yg secara matematis dimulai dari
suatu pemecahan dasar yg feasibel (basic feasible solution) ke pemecahan
dasar feasibel lainnya dan dilakukan secara berulang-ulang (iteratif) sehingga
akhirnya diperoleh suatu pemecahan dasar yang optimal.
Untuk mendapatkan nilai optimum adalah dengan menganalisis sumber-
sumber daya apakah telah digunakan secara penuh (scarce) atau secara
berlebih (Abundant) digunakan dengan pendekatan tabel simpleks optimal. Nilai
Riset Operasi 42
Universitas Pamulang Manajemen S-1
tersebut dapat dilihat pada bagian kolom NK (atau nilai kanan pada tabel sipleks
yang disederhanakan). Sebagai contoh apabila terdapat tiga kendala dalam
suatu kasus tertentu dan dalam tabel simpleks optimal diketahui nilai S1= 0 dan
S3=3, berarti terdapat kapasitas yang berlebihan (abundant) yaitu pada kendala
ke-1 sebesar 10 satua dan kendala kendala ke-3 sebesar 3 satuan. Sedangkan
untuk kendala ke-2 tidak tertera pada tabel simpleks optimal tersebut (S=2)
dengan demikian sumbe daya tersebut digunakan secara penuh (scarce)
Besarnya harga bayangan (price shadow) dapat diketahui dari tabel
simpleks optimal. Harga bayangan adalah besarnya perubahan nilai tujuan
sebagai akibat perubahan dari sumber daya ruas kanan fungsi kendala misalnya
sebesar satu satuan. Harga bayangan dapat dilihat pada tabel simpleks optimal
bagian baris Cj –Zj (atau baris Z pada tabel simpleks yang disederhanakan)
kolom S1, S2, …. [Link] contoh misalnya pada tabel simpleks optimal
terdapat nilai pada baris Cj –Zj kolom S1 = ¾ , S2 = 0, dan S3 = ¼. Dengan
demikian besarya harga bayangannya adalah S1 = ¾, S2 = 0 dan S3= 1/4 ,
berarti apabila sumber daya ke-1 berubah sebesar satu satuan akan merubah
nilai tujuan sebesar ¾ , begitu pula untuk sumber daya ke-2 tidak berubah
wlaupun terdapat perubahan pada sumber daya tersebut Tabel simplek dapat
digambarkan sebagai berikut:
Riset Operasi 44
Universitas Pamulang Manajemen S-1
mulai
Ya
selesai
Riset Operasi 45
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Langkah 3
menentukan kolom kunci yaitu kolom yang mempunyai angka yang bernilai
negatif (−) pada angka terbesar pada baris Z (fungsi tujuan) seperti tabel di
bawah ini:
Riset Operasi 46
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Langkah 4
Memilih baris kunci (yaitu baris yang mempunyai nilai index terkecil).
Perhitungan index adalah sbb.: Indeks = angka pada masing- masing baris
NK dibagi angka pada kolom kunci dari masing- masing baris
Langkah 5
Menentukan nilai-nilai baris kunci ( dengan angka kunci). Baris kunci
semula adalah S2 berobah menjadi X2. Angka kunci merupakan nilai yang
posisinya berada pada perpotongan antara kolom kunci dengan baris kunci pada
kausu ini adalah nilai 6 ,seperti tbel dibawah ini
Tabel 4.4 Tabel Simplex Langkah 5 Contoh Kasus 1
Var dsr Z X1 X2 S1 S2 S3 NK Index
Z 1 -6 -10 0 0 0 0
S1 0 4 0 1 0 0 16
S2 0 0 6 0 1 0 30 5
S3 0 12 10 0 0 1 60 6
Langkah 6
Menentukan nilai baris baru kunci yaitu semua baris kunci dibagi angka
kunci hasilnya seperti tabel berikut
Riset Operasi 47
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Langkah 7
Membuat baris baru dari masing masing baris lainnya (selain baris kunci)
dengan mengubah nilai-nilai baris, sehingga nila dengan langkah perhitungan
sbb.:
NBBK = Nilai baris baru kunci
Baris baru = baris lama – (KAKK x NBBK)
Menghitung nilai pada baris Z, S1 dan S3
Baris Z
Baris Lama [-6 -10 0 0 0 0]
NBBK -1 0 [0 1 0 1/6 0 5]
Baris S1
NBBK 0 [0 1 0 1/6 0 5]
Baris Baru 4 0 1 0 0 16
Baris S3
NBBK 0 [0 1 0 1/6 0 5]
Baris Baru 4 0 1 0 0 16
Bisa juga di cari denga cara sebagai berikut untuk Contoh baris Z
a. -6 - (-10 x0) = -6
Riset Operasi 48
Universitas Pamulang Manajemen S-1
b. -10 – (-10 x 1) = 0
c. 0 – (-10 x 0 ) = 0
d. 0 – (-10x 1/6) = -5/3
e. 0 – (-10 x 0) = 0
f. 0 – ( -10x 5 ) = 50
Begitu seterusnya dengan baris S1 dan S3
Nilai baris baru Z, S1, dan S3 yang telah didapat dimasukkan kedalam
tabel, sehingga didapat tabel seperti berikut:
Tabel 4.6 Tabel Simplex Langkah 6 Contoh Kasus 1
Var dsr Z X1 X2 S1 S2 S3 NK Index
Z 1 -6 0 0 5/3 0 50
S1 0 4 0 1 0 0 16
X2 0 0 1 0 1/3 0 5
S3 0 6 0 0 -5/3 1 10
Langkah 7
Melakukn perbaikan – perbaikan lagi (seperti langkah3 -6) karena nilai
negatif masih [Link] dengan menentukan baris kunci dan kolom kunci terlebih
dahulu. Hasil dengan pengerjaan yang sama dengan langkah 3 dan langkah 4
Langkah 8.
Menentukan nilai baris baru kunci yaitu dengan cara semua baris kunci
dibagi angka kunci hasilnya seperti tabel berikut
Tabel 4.7 Tabel Simplex Langkah 8 Contoh Kasus 1
Var dsr Z X1 X2 S1 S2 S3 NK Index
Z 1 -6 0 0 5/3 0 50
S1 0 4 0 1 0 0 16 4
X2 0 0 1 0 1/3 0 5 ÷÷
X1 0 1 0 0 -5/18 1/6 10/6 5/6
Langkah 9
Membuat baris baru dengan cara nilai nilai baris yang lama dikurangi
Riset Operasi 49
Universitas Pamulang Manajemen S-1
nilai-nilai pada baris kunci baru dimana sebelumnya telah dikalikan dengan
koefisien kolom kunci pada baris awal tersebut. Seperti langkah 7 sebelumnya
Menghitung nilai pada baris Z, S1 dan X2
Baris Z
Baris baru 0 0 0 0 1 60
Baris X1
Baris lama [4 0 1 0 0 16 ]
Langkah 10.
Menyusun nilai yang sudah ditentukan pada tebel berikut
Var dsr Z X1 X2 S1 X2 X3 NK Index
Z 11 0 0 0 0 1 60
S1 0 0 0 1 20/18 -2/3 9 1/3
X2 0 0 1 0 1/3 0 51
X1 0 1 0 0 -5/8 1/6 10/6
Cotoh kasus 2
Fungsi tujuan:
Riset Operasi 50
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Langkah 3
Pilih nilai negatif terbesar pada baris Z yaitu menjadi kolom kunci.
Kemudian hitung nilai index setiap baris, dengan membagi nilai NK dengan nilai
yang berada pada kolom kunci, Pilih nilai Index dengan angka positif terkecil.
Kemudian baris dengan nilai index terkecil merupakan baris kunci (dalam hal ini
adalah baris S1). Selanjutnya menentukan angka kunci yaitu angka pada
perpotongan antara baris dan kolom yaitu pada soal ini adalah angka 5
Tabel 4.8 Tabel Simplex Langkah 3 Contoh Kasus 2
Var dsr Z X1 X2 X3 S1 S2 S3 NK Index
Z 1 -15 -50 -15 0 0 0 0
S1 0 3 5 0 1 0 0 50 10
S2 0 0 4 6 0 1 0 60 15
S3 0 2 0 4 0 0 1 30 ∞
Nilai pada setiap baris kunci dibagi pada angka kunci, Baris S1 akan
digantikan dengan X2, ditambahkan dengan pengerjaan langkah 4 di bawah,
hasilnya dapat dilihat pada table berikut
Riset Operasi 51
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Langkah 4
Hitung nilai pada baris Z, S2 dan S3.
Baris S2
Baris Z
Baris S3
Baris lama
[2 0 4 0 0 1 30]
NBBK 0 [ 0.6 1 0 0.2 0 0 10]
Langkah yang sama seperti pada langkah 3 karena masih terdapat nilai
negatif. Pilih nilai negatif terbesar pada baris Z yang menjadi kolom kunci.
Kemudian hitung nilai index setiap baris ( table 4.9)
Pilih nilai Index dengan nilai Positif terkecil. Kemudian baris dengan nilai
index terkecil merupakan baris kunci. Dan nilai pada setiap baris kunci dibagi
pada nilai kunci, Nilai kunci yang merupakan perpotongan antara baris dan kolom
Riset Operasi 52
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Baris X2
Baris S3
Baris lama [2 0 4 0 0 1 30 ]
4 [0.4
NBBK 0 1 0.13 0.17 0 3.3 ]
Karena nilai Z sudah tidak ada yang negatif (−), maka sudah dapat
diperoleh hasil solusi optimum, yaitu:
X2= 10 ; X3=3.33 ;Zmax=616.67
Contoh Kasus 3
Fungsi tujuan:
Maksimalkan Z = 5x1+ 10x2 + 4x3
Fungsi Kendala:
2 X1 + 5 X2 ≤ 15
6 X2 + 2 X3 ≤ 30
Riset Operasi 53
Universitas Pamulang Manajemen S-1
4 X1 + 5 X3 ≤ 3
Langkah 1
Buat Fungsi Tujuan dan Fungsi Kendala kedalam persamaan “Sama Dengan / =”
Z - 5X1 - 10X2 - 4X3 = 0
2X1 + 5X2 + S1 = 15
6X2 + 2X3 + S2 = 30
4X1 + 5X3 + S3 = 35
Langkah 2
Masukkan fungsi persamaan tersebut kedalam tabel simplex seperti dibawah ini.
Langkah 3
Pilih nilai negatif terbesar pada baris Z. Kemudian hitung nilai index setiap
baris, dengan membagi nilai NK dengan masing masing nilai di kolom k u n c i .
Tabel 4.12 Tabel Simplex Langkah 3 Contoh Kasus 3
Langkah 4
Hitung nilai pada baris Z, S2 dan S3..
Baris Z
Baris lama [-5 -10 -4 0 0 0 0 ]
Riset Operasi 54
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Baris S2
Baris lama [0 6 2 0 1 0 30]
Baris S3
Baris baru [4 0 5 0 0 1 35 ]
Langkah 5
Hitung nilai pada baris Z, S2 dan S3..
Baris Z
Baris lama [-1 0 -4 2 0 0 30]
Riset Operasi 55
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Langkah 6
Hitung nilai pada baris Z, S2 dan S3..
Riset Operasi 56
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Karena nilai Z sudah tidak ada yang (−), maka sudah dapat diperoleh hasil solusi
optimum, yaitu:
X1 = 0.5 ; X2 = 2.8 ; X3 = 6.6 ; Z = 56,9
4. Fungsi tujuan:
Maksimalkan Z = 10X1 + 15X2 + 20X3
Fungsi Kendala:
2 X2 + 5 X3 ≤ 15
6 X1 + 2 X3 ≤ 30
4 X1 + 5 X2 ≤ 35
5. Fungsi tujuan:
Maksimalkan Z = 40X1 + 50X2 + 60X3
Fungsi Kendala:
4 X1 + 6 X2 + 8X3 ≤ 40
6 X1 + 8 X2 + 10 X3 ≤ 60
8 X1 + 10 X2 + 12 X3 ≤ 80
D. Referensi
Render Barry., Jay Hiizer. Prinsif prinsip Manajemen Operasi, Salemba empat
Siang, Jong Jek. 2011 .Riset Operasi dalam Pendekatan Algoritmis.
Jogjakarta : Andi Offset.
Wijaya, Andi.2012. Pengantar Riset Operasi. Jakarta : Mitra Wacana Media.
Riset Operasi 58
Universitas Pamulang Manajemen S-1
PERTEMUAN 5
LINEAR PROGRAMMING (METODE SIMPLEX) FUNGSI TUJUAN
MAKSIMUM FUNGSI BATASAN “=”
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah selesai mempelajari materi dalam pertemuan 5, mahasiswa mampu:
1. Memahami metode SIMPLEX untuk fungsi tujuan dan fungsi batasan “=”
2. Menentukan biaya optimum dengan metode SIMPLEX untuk fungsi batasan “=”
B. Uraian Materi
1. Metode Simplex
Metode Simpleks adalah bagian dari Linier program dalam memecahkan
permasalahan yang mempunyai dua atau lebih variable keputusan. Metode
simplek adalah dengan pendekatan table yang dinamakan table simplek Metode
simplek dimulai dari suatu pemecahan dasar yg feasibel (basic feasible solution)
ke pemecahan dasar feasibel lainnya dan dilakukan secara berulang- ulang
(iteratif) atau perbaikan sehingga diperoleh pemecahan solusi yang optimal.
2. Metode Simplex fungsi batasan “=”
Untuk masalah dengan fungsi kendala tanda “=” harus ditambah variable
buatan (artificial variable/M), karena batasan “ =” tidak memiliki variable basis.
Variabel basis adalah variable yang nilainya bukan nol pada sembarang itersi.
Iterasi adalah perhitungan berulang dimana hasil dalam perhitungan itu
tergantung dari nilai table [Link] karena itu dengan menambahnya
variable buatan maka table awal simplek dapat dibentuk
3. Langkah-langkah pengerjaan metode simpleks
Terdapat 10 langkah yang dapat dilakukan dalam metode simpleks dimana
pengerjaan pada semua fungsi batasan adalah sama kecuali pada saat
perubahan fungsi batasan = sebagai berikut
a. Mengidentifikasikan fungsi tujuan dan variiabel keputusan serta
memformulasikan dalam simbol matematis
b. Mengubah pertidaksamaan Fungsi kendala dengan tanda “=” yang harus
menambah variable buatan (artificial variable/M), karena batasan “=” tidak
memiliki variable basis.
c. Masukkan data fungsi tujuan dan kendala-kendala yang telah diubah tersebut
ke dalam tabel simpleks dan nilai kanan (NK)
d. Menentukan variabel M yang memiliki nilai negatif paling besar dan akan
Riset Operasi 59
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Riset Operasi 60
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Baris Lama Z -3 -5 0 0 M 0
M 6 5 0 0 1 30
Baris baru 1 -3-6M -5-5M 0 0 0 -30M
Langkah 4
Tentukan Variabel “M” yang memiliki nilai negatif paling besar yang akan menjadi
kolom kunci. Kemudian tentukan nilai index setiap baris yaitu membagi nilai NK
dengan masing masing nilai negatif di depan “M” terbesar (kolom kunci)
Tabel 5.2 Tabel Simplex Langkah 4 Contoh Kasus 1
Var dsr Z X1 X2 S1 S2 S3 NK Index
Z 1 -3- 6M -5-5M 0 0 0 -30M
S1 0 2 0 1 0 0 8 4
S2 0 0 3 0 1 0 15 ∞
S3 0 6 5 0 0 1 30 5
Langkah 5
Pilih nilai Index dengan nilai positif paling kecil. Jadikan baris tersebut merupakan
baris kunci, dalam kasus ini adalah bariis S2. Dengan membagi setiap nilai pada
baris kunci dengan angka kunci (angka 2) yang merupakan perpotongan antara
baris dan kolom didapatkan NBBK
Riset Operasi 61
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Baris Z
Baris S2
NBBK 0 [1 0 0.5 0 0 4 ]
Baris baru [0 3 0 1 0 15 ]
Baris S3
[0 5 -3 0 1 6]
Langkah 6
Ulangi langkah yang sama seperti langkah 4 dengan memilih nilai M dengan
negatif paling besar (table 5.3) Pilih nilai Index dengan nilai positif paling kecil.
Jadikan baris tersebut merupakan baris kunci. Dengan membagi setiap nilai pada
baris kunci dengan angka kunci yang merupakan perpotongan antara baris dan
kolom
Riset Operasi 62
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Hasil perhitungan baris baru di susun pada tabel berikut Tabel 5.4 Tabel Simplex
Langkah 6 Contoh Kasus 1
Tabel 5.4 Tabel Simplex Langkah 6 Contoh Kasus 1
Langkah 7
Karena pada nilai Z masih ada yang negatif, ulangi langkah yang sama seperti
langkah 4. di Pilih nilai Index dengan nilai positif paling kecil. Jadikan baris
tersebut merupakan baris kunci,
Hitung nilai pada baris Z , S2 dan S3 Baris Z
Riset Operasi 63
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Karena nilai Z sudah tidak ada yang (−), maka sudah dapat diperoleh hasil solusi
optimum, yaitu: X1 = 0.83 ; X2 = 5 ; Z = 27.5
Contoh Kasus 2
Fungsi tujuan:
Maksimalkan Z = 6x1+ 8x2
Fungsi Kendala:
2X1 + 3X2 ≤ 10
3X1 + 5X2 = 15
Riset Operasi 64
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Langkah 1
Merubah fungsi pertidaksamaan kedalam fungsi persamaan.
Z - 6X1 - 8X2 - M S2 = 0 2X1 + 3X2 + S1 = 10
3X1 + 5X2 + S2 = 15
Langkah 2
Fungsi Persamaan Z harus dikalikan dengan fungsi yang memiliki persamaan
“=”, seperti pada gambar dibawah ini.
Baris Z [ -6 -8 0 M 0 ]
M [ 3 5 0 1 15 ]
0
[ -6-3M -8-5M 0 -15M ]
Langkah 3
Masukkan fungsi persamaa kedalam tabel simplex
Tabel 5.6 Tabel Simplex Langkah 3 Contoh Kasus 2
Var dsr Z X1 X2 S1 S2 NK Index
Z 1 6-3M -8-5M 0 0 -15M
S1 0 2 3 1 0 10
S2 0 3 5 0 1 15
Langkah 4
Tentukan Variabel “M” yang memiliki nilai negatif paling besar (kolom kunci).
Kemudian tentukan nilai index setiap baris dengan membagi nilai yang berada
pada masing masing kolom dengan nilai negatif “M” terbesar (masing masing
kolom kunci)
Tabel 5.7 Tabel Simplex Langkah 4 dan 5 Contoh Kasus 2
Var dsr Z X1 X2 S1 S2 NK Index
Z 1 6-3M -8-5M 0 0 -15M
S1 0 2 3 1 0 10 3,33
S2 0 3 5 0 1 15
Langkah 5
Pilihris baris pada nilai Index dengan nilai positif paling kecil. Jadikan baris
tersebut merupakan baris kunci. Dengan membagi setiap nilai pada baris kunci
dengan angka kunci yang merupakan perpotongan antara baris dan kolom seperti
Riset Operasi 65
Universitas Pamulang Manajemen S-1
didapat nilai baris baru kunci (NBBK dapat dilihatpada tabel 5.8) dan seterusnya
dapat mencari baris baru lainnya seperti pengerjaan di bawah ini.
Tabel 5.8 Tabel Simplex Langkah Contoh Kasus 2
Var dsr Z X1 X2 S1 S2 NK Index
Z 1 6-3M -8-5M 0 0 -15M
S1 0 2 3 1 0 10 3,33
S2 0 0,6 1 0 0,2 3
Langkah 6.
Menentukan nilai baris baru dari Z, S1 dan S2 yang berubah menjadi X2
Hitung nilai pada baris Z dan S1 Baris Z
Baris Z
Baris lama [-6-3M -8-5M 0 0 -15 ]
NBBK
-8-5M [0.6 1 0 0.2 3 ]
Baris S1
Baris lama [2 -3 1 0 10 ]
NBBK
3 [0.6 1 0 0.2 3 ]
Hasil dari perhitungan baris baru di lihat pada tabel berikut Tabel 5.8 Tabel
Simplex Langkah 5 Contoh Kasus 2
Var dsr Z X1 X2 S1 S2 NK Index
Z 1 - 1,2 0 0 1,6+M 24
S1 0 0,2 0 1 -0,6 1 5
X2 0 0,6 1 0 0,2 3 5
Langkah 7
Ulangi langkah yang sama seperti langkah 4 dengan memilih nilai M dengan
negatif paling besar. Pilih nilai Index dengan nilai positif paling kecil. Jadikan
baris tersebut merupakan baris kunci. Dengan membagi setiap nilai pada baris
kunci dengan angka kunci yang merupakan perpotongan antara baris dan kolom.
Riset Operasi 66
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Baris X2
Baris lama [0.6 1 0 0.2 3 ]
NBBK 0,6 [1 0 5 -3 5 ]
baris baru di masukkan pada tabel berikut Tabel 5.9 Tabel Simplex Langkah 6
Contoh Kasus 2
Karena nilai Z sudah tidak ada yang (−), maka sudah dapat diperoleh hasil solusi
optimum, yaitu: X1 = 5 ; X2 = 0 ; Z = 30
Fungsi Kendala:
5 X1 + 6 X2 ≤ 30
3 X1 + 4 X2 = 40
4. Fungsi tujuan:
Maksimalkan Z = 10X1 + 15X2
Fungsi Kendala:
4X2 = 30
4 X1 + 5 X2 ≤ 35
5. Fungsi tujuan:
Maksimalkan Z = 20X1 + 25X2
Fungsi Kendala: 2 X1 + 3 X2= 20
3 X1 + 4 X2 ≤ 30
D. Daftar Pustaka
Taha, Hamdy [Link] Operasi. Tangerang : terjemah Binarupa Aksara Siang, Jong
Jek. 2011. Riset, Operasi dalam Pendekatan Algoritmis. Jogjakarta : Andi
Offset
Wijaya, Andi.2012. Pengantar Riset Operasi. Jakarta : Mitra Wacana Media.
Riset Operasi 68
Universitas Pamulang Manajemen S-1
PERTEMUAN 6
LINEAR PROGRAMMING (METODE SIMPLEX) FUNGSI TUJUAN
MINIMUM FUNGSI BATASAN “≥”
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah selesai mempelajari materi dalam pertemuan 6, mahasiswa mampu:
1. Memahami metode SIMPLEX untuk fungsi tujuan minimum dan fungsi batasan ≥
2. Menentukan biaya optimum dengan metode SIMPLEX untuk fungsi tujuan
minimum dan fungsi batasan ≥
B. Uraian Materi
1. Metode Simplex fungsi batasan “≥”
Fungsi kendala dengan tanda lebih besa atau sama dengan artinya
menentukan nilai optimum dalam hal ini adalan tentang biaya yang minimum.
Dengan menggunakan fungsi batasan “≥” harus diriubah terlebih dahulu
kebentuk “≤” dengan cara mengalikan dengan (–1), lalu diubah lagi kebentuk
persamaan dengan ditambahkan variabel slack. Kemudian karena RHS- nya
negatif, dikalikan lagi dengan (–1) dan ditambah artificial variable (M).
kunci
g. Mengubah angka pada baris kunci, menjadi nilai baris baru kunci (NBBK)
h. Membuat baris baru dari baris lainnya dengan sama seperti proses pada
kasus maksimasi
i. Sebaliknya dalam fungsi batasan “≥” pastikan seluruh elemen pada baris NKj –
Zj tidak ada yang bernilai positif pada konstanta di depan variabel M, apabila
masih terdapat nilai positif maka diulangi melalui langkah ke-6 dan seterusnya
j. Apabila seluruh elemen pada baris NKj -Zj tidak ada yang bernilai positif maka
proses eksekusi telah selesai. Besarnya keuntungan adalah dilihat dari nilai Z
pada kolom NK
2. Fungsi tujuan minimum dengan fungsi batasan ≥
Contoh Kasus Contoh Kasus 1
Fungsi tujuan:
Min z 3 X1 + 5 X2
Fungsi Kendala:
2X1 = 8
3 X2 ≤ 15
6 X1 + 5 X2 ≥ 30
Langkah 1
Merubah fungsi pertidaksamaan kedalam fungsi persamaan.
Z - 3X1 - 5X2 - M S1 - M S4 = 0
-1 ( Z - 3X1 - 5X2 - M S1 - M S4 = 0)
-Z + 3X1 + 5X2 + MS1 + MS4 = 0
2X1 + S1 = 8
3X2 + S2 = 15
6X1 + 5X2 - S3 + S4 = 30
Langkah 2
Fungsi Persamaan Z harus dikalikan dengan fungsi yang memiliki persamaan
“=”, seperti pada gambar dibawah ini.
Riset Operasi 70
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Baris Z [ 3 5 M 0 0 M 0]
M[ 2 0 1 0 0 0 8]
M[ 6 5 0 0 -1 ] 30
Langkah 3
Masukkan fungsi persamaa kedalam tabel simplex
Langkah 4
Tentukan Variabel “M” yang memiliki nilai negatif paling besar. Kemudian
tentukan nilai index setiap baris dengan membagi nilai yang berada pada kolom
dengan nilai negatif “M” terbesar.
Tabel 6.2 Tabel Simplex Langkah 4 Contoh Kasus 1
Var dsr Z X1 X2 S1 S2 S3 S4 NK Index
Z -1 3-8M 5-5M 0 0 M 0 -38M
S1 0 2 0 1 0 0 0 8 4
S2 0 0 3 0 1 0 0 15 ∞
S3 0 6 5 0 0 -1 1 30 5
Langkah 5
Pilih nilai Index dengan nilai positif paling kecil. Jadikan baris tersebut merupakan
baris kunci. Dengan membagi setiap nilai pada baris kunci dengan angka kunci
yang merupakan perpotongan antara baris dan kolom.
Riset Operasi 71
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Baris Z
Baris lama
[3-8M 5-5M 0 0 M 0 -38M ]
NBBK
3-8M [1 0 0.5 0 0 0 4 ]
Baris baru
0 5-5M -1.5-4M 0 M 0 -12-6M]
Baris X1
Baris lama [0 3 0 1 0 0 15 ]
NBBK
0 [1 0 0.5 0 0 0 4 ]
Baris baru 0 3 0 1 0 0 15 ]
BarisS2
Baris lama [6 5 0 0 -1 1 30 ]
NBBK
6 [1 0 0.5 0 0 0 4]
Baris baru 0 5 -3 0 -1 1 6 ]
Langkah 6
Ulangi langkah yang sama seperti langkah 4 di atas dengan memilih nilai M
dengan negatif paling besar.
Pilih nilai Index dengan nilai positif paling kecil. Jadikan baris tersebut merupakan
baris kunci. Dengan membagi setiap nilai pada baris kunci dengan angka kunci
yang merupakan perpotongan antara baris dan kolom
Riset Operasi 72
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Baris X1
Baris lama [1 0 0.5 0 0 0 4 ]
NBBK
0 [0 1 -0.6 0 -0.2 0.2 1.2 ]
Baris baru
[1 0 0.5 0 0 0 4 ]
BarisS2
Baris lama [1 3 0 1 0 0 15 ]
NBBK
3 [0 1 -0.6 0 -0.2 0.2 1.2 ]
V Z X1 X2 S1 S2 S3 S4 NK Index
Z -1 0 0 15+M 0 1 -1+M -18
X1 0 1 0 0,5 0 0 0 4
S2 0 0 0 1,8 1 0,6 0 11,4
X2 0 0 1 -0,6 0 -0,2 0,2 12
Karena nilai NK nya sudah negatif sudah , maka sudah dapat diperoleh hasil
solusi optimum, yaitu:
X1 = 4 ; X2 = 1.2 ; Z = 18
Contoh Kasus 2
Fungsi tujuan:
Min z = 8 X1 + 10 X2
Fungsi Kendala:
3 X1 ≤ 10
4 X1 + 6 X2 ≥ 1
Riset Operasi 73
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Langkah 1
Max Merubah fungsi pertidaksamaan kedalam fungsi persamaan.
Z- 8X1 - 10X2 - MS3 = 0
Min -Z + 8X1 + 10X2 + MS3 = 0
3X1 + S1 = 10
4X1 + 6X2 - S2 + S3 = 15
Langkah 2
Fungsi Persamaan Z harus dikalikan dengan fungsi yang memiliki persamaan
“=”, seperti pada gambar dibawah ini.
Baris Z [8 10 0 0 M 0 ]
M[4 6 0 -1 1 15 ]
Langkah 3
Masukkan fungsi persamaa kedalam tabel simplex
Langkah 4
Tentukan Variabel “M” yang memiliki nilai negatif paling besar. Kemudian
tentukan nilai index setiap baris dengan membagi nilai yang berada pada kolom
dengan nilai negatif “M” terbesar.
Riset Operasi 74
Universitas Pamulang Manajemen S-1
Langkah 5
Pilih nilai Index dengan nilai positif paling kecil. Jadikan baris tersebut merupakan
baris kunci. Dengan membagi setiap nilai pada baris kunci dengan angka kunci
yang merupakan perpotongan antara baris dan kolom
Baris Z
Baris lama [8-4M 10-6M 0 M 0 15M
Baris S1
Baris lama [3 0 1 0 0 10
NBBK
0 [0.667 1 0 -0.667 0.167 2.5
Baris baru [3 0 1 0 0 10
Karena nilai NK memiliki nilai negative maka metode simplex telah berhenti.
Dimana nilai X1= 0, X2 = 2.5 dengan nilai Z sebesar 25
Fungsi Kendala:
3 X1 + 4 X2 ≤ 20
5 X1 ≥ 25
7 X2 = 35
3. Fungsi tujuan:
Minimalkan Z = 20X1 + 30X2
Fungsi Kendala:
5 X1 + 6 X2 ≤ 30
3 X1 + 4 X2 = 40
4. Fungsi tujuan:
Minimalkan Z = 10X1 + 15X2
Fungsi Kendala:
2 X2 ≥ 15
4 X1 + 5 X2 ≤ 35
5. Fungsi tujuan:
Minimalkan Z = 40X1 + 50X2
Fungsi Kendala:
2 X1 + 3 X2 = 20
3 X1 + 4 X2 ≥ 30
D. Daftar Pustaka
Siang, Jong Jek. 2011. Riset Operasi dalam Pendekatan Algoritmis. Jogjakarta :
Andi Offset.
Taha, Hamdy [Link] Operasi. Tangerang : Binarupa Aksara.
Riset Operasi 76
Universitas Pamulang Manajemen S-1
PERTEMUAN 7
METODE TRANSPORTASI (PENDAHULUAN)
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah selesai mempelajari materi dalam pertemuan 8, mahasiswa mampu:
1. Memahami pengertian metode Transportasi
2. Mengidentifikasi permasalahan yang dapat diselesaikan dengan metode
transportasi
B. Uraian Materi
1. Pengertian Metode Transportasi
Hamdy A Taha (1996) mengemukakan bahwa dalam arti sederhana, model
transportasi berusaha menentukan sebuah rencana transportasi sebuah barang
dari sejumlah sumber ke sejumlah tujuan.
Metode transportasi adalah pengembangan dari persoalan LP,model
transportasi adalah pembahasan tentang penentuan rencana biaya minimum
(minimum cost) untuk transportasi (pengangkutan) single commodity dari
sejumlah lokasi sumber (sources) seperti pabrik, lokasi penambangan,
pelabuhan,dan lain lain ke sejumlah lokasi tujuan (destinations) seperti gudang,
pusat distribusi, tempat pemasaran, dan sebagainya.
Transportasi berkaitan dengan distribusi atau pemindahan barang dari
beberapa titik suplay ke sejumlah titik permintaan. .Masalah transportasi juga
bisa digunakan dalam mencoba untuk mengambil keputusan oleh suatu
perusahaan dimana telah ada rencana membuka fasilitas baru, sebelum
membuka gudang, perusahaan atau kantor pemasaran, sebaiknya menetapkan
beberapa tempat alternatif. Keputusan dalam penetapan lokasi yang tepat
meminimalisasi biaya transportasi dan produksi secara [Link]
dapat memberi dampak baik terhadap keuanngan perusahaan Sasaran
transportasi adalah mengalokasikan produk yang tersedia dari sumber asal
sehingga semua kebutuhan terpenuh pada tempat yang dituju. Dengan tujuan
adalah untuk mencapai biaya yang serendah-rendahnya (minimum) atau
mencapai jumlah laba.
Masalah pada pelaksanaan transportasi adalah pada pemilihan rute dalam
jaringan distribusi produk antara pusat industry atau sumber barangi dan
distribusi gudang penempatan barang atau antara distribusi gudang regional dan
distribusi pengeluaran lokal. Dalam metode transportasi, pihak manajemen
mencari dan menetapkan rute distribusi yang bisa mengoptimalkan tujuan
Riset Operasi 77