NASKAH DRAMA: PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA (Revisi III)
Tokoh:
Sutan Syahrir (Naufal 10)
Sukarni (Fadhlan 9)
Chairul Shaleh (Arkani)
Soekarno (Sultan Atqa)
Moh. Hatta (Milzam Dzakiri)
Ahmad Soebardjo (Fauzan 7)
Fatmawati (Keysa)
Sayuti Melik (Kenzi 9)
Suhud (Kenzi 7)
Latif (Zhafran Anaqi)
NARATOR
(Panggung kosong, suasana hening. NARATOR berdiri di samping panggung,
memegang naskah dengan wibawa.)
NARATOR: (Suara tegas, berwibawa)
Pada 14 Agustus 1945, di tengah gejolak kekuasaan yang bergolak di Asia, terdengar
kabar dari stasiun radio luar negeri: Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada
Sekutu. Berita ini adalah petir di siang bolong bagi para pemuda revolusioner
Indonesia. Mereka melihat celah, sebuah momentum langka, untuk merebut
kemerdekaan yang selama ini mereka impikan.
ADEGAN 1: KONFLIK ANTARA KAUM TUA DAN KAUM MUDA
(Panggung menggambarkan sebuah ruangan sederhana. Soekarno, Hatta, dan Ahmad
Soebardjo duduk di sofa, terlihat tenang. Tiba-tiba, pintu terbuka dengan tergesa-
gesa. Sutan Syahrir, Sukarni, dan Chairul Shaleh masuk, wajah mereka penuh
semangat yang mendesak.)
Sutan Syahrir: (Berjalan cepat ke arah Soekarno, nada bicara bersemangat)
Bung! Ini berita besar! Jepang telah menyerah! Kita harus segera memproklamasikan
kemerdekaan sekarang juga!
cinematic shocked sound effect
Soekarno: (Tetap tenang, menatap Syahrir dengan ekspresi datar)
Tenanglah, Syahrir. Berita itu belum pasti. Kita harus verifikasi.
Sukarni: (Mengepalkan tangan, tidak sabar)
Verifikasi apa lagi, Bung?! Kita dengar langsung dari radio luar negeri! Ini adalah
kekosongan kekuasaan! Kesempatan emas!
Moh. Hatta: (Menimpali dengan bijaksana)
Kalian gegabah. Kita tidak bisa terburu-buru. Kita harus merundingkan ini di sidang
PPKI. Kita harus melakukannya secara terorganisir, bukan karena paksaan.
Chairul Shaleh: (Nada menantang, maju selangkah)
PPKI itu buatan Jepang! Kami tidak mau merdeka dari tangan Jepang. Kami mau
merdeka dengan kekuatan sendiri! Kemerdekaan yang murni, bukan hadiah!
Soekarno: (Menghela napas, lelah dengan perdebatan)
Memproklamasikan kemerdekaan tanpa persiapan matang hanya akan memancing
agresi Sekutu. Kita harus bertindak cerdas, bukan membabi buta.
Sukarni: (Membentak, suaranya naik satu oktaf)
Jadi kita akan menunggu sampai kapan?! Sampai bangsa lain kembali menjajah kita?!
Sutan Syahrir: (Menarik tangan Sukarni, menatap Soekarno dengan tatapan penuh
kekecewaan)
Baiklah, Bung. Jika kalian tidak mau bertindak, kami yang akan mengambil langkah.
(Sutan Syahrir, Sukarni, dan Chairul Shaleh pergi meninggalkan ruangan dengan
langkah berat dan kecewa.)
NARATOR: (Suara pelan, naratif)
Para pemuda meninggalkan rumah Soekarno, bertekad untuk mengambil alih
keadaan. Mereka tidak bisa menerima keraguan para pemimpin bangsa. Mereka butuh
tindakan, bukan perundingan. Malam harinya, mereka merencanakan sesuatu yang
drastis untuk membangkitkan semangat revolusi Soekarno dan Hatta.
ADEGAN 2: PERISTIWA RENGASDENGKLOK
(Panggung gelap, suasana mencekam. Hanya ada lampu sorot yang menyoroti
Soekarno dan Fatmawati. Terdengar suara ketukan pintu yang terburu-buru dan
kasar. Soekarno dan Fatmawati terkejut. Soekarno membuka pintu, di depannya
berdiri Latif dan Suhud dengan wajah tegang.)
Soekarno: (Ekspresi bingung)
Ada apa ini? Mengapa kalian datang di tengah malam begini?
Latif: (Menjawab singkat, tidak sabar)
Maaf, Bung. Kami diutus untuk membawa Anda. Ini penting.
Soekarno: (Alis terangkat, curiga)
Ke mana?
Suhud: (Menjawab tegas)
Ke Karawang. Untuk keselamatan Anda.
(Tiba-tiba, Moh. Hatta keluar dari kamar, melihat keramaian. Di belakang para pemuda,
tampak siluet mobil kardus yang sederhana, menunggu di luar.)
Moh. Hatta: (Menatap para pemuda dengan tajam)
Apakah ini penculikan?
Latif: (Nada memaksa)
Ini bukan penculikan. Ini pengamanan. Anda harus ikut.
Fatmawati: (Maju ke depan, cemas)
Ada apa, Bung? Mengapa mereka datang tengah malam?
Soekarno: (Menghela napas, menatap Fatmawati, seolah memahami situasi)
Ikutlah, Bu.
Fatmawati: (Mengangguk patuh, namun wajahnya penuh kecemasan)
Baik, Bung.
(Soekarno, Hatta, dan Fatmawati naik ke dalam mobil kardus yang dihias seolah-olah
sebuah mobil sungguhan. Mobil kardus itu perlahan bergerak, diikuti oleh dua orang
pemuda. Mereka pergi menuju Rengasdengklok.
NARATOR: (Suara dramatis, penuh ketegangan)
Di Rengasdengklok, di sebuah rumah terpencil, Soekarno dan Hatta terus didesak
dengan keras. Atmosfer penuh ketegangan, seperti menanti bom yang siap meledak.
(Panggung berpindah ke ruangan yang lebih sederhana. Chairul Shaleh dan Sukarni
terlihat tidak sabar. Soekarno dan Hatta duduk di kursi, wajah mereka lelah namun
tetap tegar.)
Chairul Shaleh: (Menggebrak meja, emosi memuncak)
Sampai kapan, Bung?! Sampai kapan kita menunggu?! Darah para pejuang sudah
tumpah! Ini adalah waktu yang tepat!
Soekarno: (Menggelengkan kepala, tetap pada pendiriannya)
Tidak. Tidak sekarang.
(Tiba-tiba, pintu terbuka dengan suara keras. Ahmad Soebardjo dan Sayuti Melik
masuk, terlihat marah dan panik.)
Ahmad Soebardjo: (Menatap tajam ke arah para pemuda)
Apa yang kalian lakukan?! Ini bukan cara berjuang! Kalian tidak bisa menyandera
pemimpin bangsa seperti ini!
Sayuti Melik: (Menengahi dengan suara tenang namun tegas)
Kita selesaikan ini dengan kepala dingin. Tujuan kita sama, hanya caranya yang
berbeda. Bung Karno, kami sudah pastikan kabar Jepang menyerah. Laksamana
Maeda bersedia meminjamkan rumahnya untuk merumuskan naskah proklamasi.
Soekarno: (Menatap Soebardjo dan Sayuti Melik, ekspresinya berubah. Ada kelegaan
dan harapan di matanya.)
Maeda...? Rumahnya... di mana?
Ahmad Soebardjo: (Menjawab cepat, yakin)
Di Jakarta! Tempatnya aman. Dia orang Jepang yang mendukung kita.
(Soekarno menatap para pemuda, lalu beralih ke Hatta. Mereka saling mengangguk,
sebuah keputusan telah dibuat. Ketegangan mencair.)
Soekarno: (Berdiri tegak, suaranya penuh wibawa)
Baiklah. Saya akan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia!
(Para pemuda bersorak. Suasana berubah dari tegang menjadi penuh optimisme.)
NARATOR: (Suara naratif, penuh semangat)
Rombongan kembali ke Jakarta menuju rumah Laksamana Maeda. Di sana, di sebuah
ruangan kecil, tiga tokoh besar—Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo—
merumuskan sebuah naskah yang akan mengubah sejarah. Naskah itu diketik rapi
oleh Sayuti Melik.
ADEGAN 3: PROKLAMASI KEMERDEKAAN
(Panggung dihias seperti halaman depan rumah Soekarno, 17 Agustus 1945. Suasana
khidmat. Soekarno dan Hatta berdiri di samping tiang bendera yang sederhana.
Suhud dan Latif terlihat berdiri di dekat tiang, namun dengan wajah bingung.)
Suhud: (Berbisik kepada Latif, wajahnya terlihat cemas)
Kita akan mengibarkan apa? Benderanya tidak ada.
Latif: (Menggelengkan kepala, sama cemasnya)
Aku tidak tahu.
(Soekarno memperhatikan mereka, lalu berbalik ke arah Fatmawati.)
Soekarno: (Nada bersemangat, namun mendesak)
Bu, di mana bendera kita? Kita tidak bisa mengibarkan bendera Jepang!
Fatmawati: (Menghela napas, dengan tenang namun tegas)
Bung, kita tidak punya bendera yang pantas. Kainnya habis.
Soekarno: (Memberi perintah, penuh keyakinan)
Ambil kain merah dan kain putih yang kamu punya! Sekecil apa pun, jahit sekarang
juga! Ini penting!
Fatmawati: (Mengangguk sigap, mata penuh tekad)
Baik, Bung. Saya akan jahit sekarang juga.
(Fatmawati bergegas masuk ke dalam rumah. Setelah beberapa saat, dia kembali
dengan selembar kain merah-putih yang baru saja selesai dijahit. Dia memegang
bendera itu dengan bangga.)
NARATOR: (Suara khidmat, penuh haru)
Pagi hari 17 Agustus 1945. Di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Di sebuah
halaman rumah sederhana, sebuah bangsa besar dilahirkan. Fatmawati membawa
bendera yang dijahitnya sendiri. Detik-detik yang dinanti telah tiba.
(Musik instrumental "Indonesia Raya" mulai mengalun, sangat pelan.)
Soekarno: (Memegang naskah, berbicara dengan lantang dan berwibawa)
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara
saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno/Hatta.
(Selesai membaca, Soekarno memberikan isyarat kepada Suhud dan Latif. Suhud dan
Latif dengan sigap maju, mengambil bendera dari tangan Fatmawati, dan
menaikkannya perlahan-lahan. Semua hadirin berdiri tegak, air mata haru menetes.
Musik "Indonesia Raya" mengalun dengan lebih megah dan keras. Diiringi lagu,
bendera perlahan mencapai puncak tiang.)
NARATOR: (Suara penuh haru, puitis)
Bendera Merah Putih, yang dijahit dengan tangan dan hati, kini berkibar. Lambang
dari sebuah perjuangan panjang. Tangisan, doa, dan darah tumpah menjadi satu
dalam momen ini. Inilah Indonesia, merdeka!
(Lampu panggung perlahan meredup, hanya menyisakan sorot ke arah bendera yang
berkibar. Musik "Indonesia Raya" perlahan memudar.)
Properti Adegan 1: Konflik
● Meja ukuran sedang.
● Beberapa kursi atau sofa untuk Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo.
● Beberapa kursi atau bangku lain untuk kelompok pemuda.
● Naskah atau kertas yang dipegang oleh Sutan Syahrir.
Properti Adegan 2: Peristiwa Rengasdengklok
● Pintu yang bisa dibuka-tutup.
● Dua kursi untuk Soekarno dan Hatta di rumah pengasingan.
● Mobil kardus sederhana, cukup untuk dinaiki atau diduduki oleh tiga orang.
● Meja yang bisa digebrak oleh Chairul Shaleh.
Properti Adegan 3: Proklamasi Kemerdekaan
● Tiang bendera yang sederhana.
● Dua potong kain, satu merah dan satu putih, serta mesin jahit (opsional, bisa diganti dengan
properti) untuk adegan Fatmawati menjahit bendera.
● Bendera Merah Putih yang dijahit, siap untuk dikibarkan.
● Naskah Proklamasi untuk dibacakan oleh Soekarno.
● Mikrofon darurat.
Kostum Tokoh-tokoh Drama
1. Tokoh Proklamator (Soekarno, Moh. Hatta)
● Soekarno: Kenakan setelan jas putih atau krem yang rapi dan elegan. Padukan dengan
kemeja putih di dalamnya dan dasi berwarna cerah. Lengkapi penampilannya dengan peci
hitam yang ikonik. Pakaian ini mencerminkan wibawanya sebagai pemimpin.
● Moh. Hatta: Gunakan setelan jas yang lebih gelap, seperti abu-abu atau cokelat. Sama
seperti Soekarno, ia juga memakai kemeja dan dasi, serta peci hitam. Penampilan ini
menonjolkan karakternya yang bijaksana dan serius.
2. Tokoh Pemuda (Sutan Syahrir, Sukarni, Chairul Shaleh, Suhud, Latif, Sayuti Melik)
● Pakaian: Pakaian sederhana yang mencerminkan semangat revolusioner. Kemeja lengan
panjang atau pendek dengan warna-warna netral (putih, krem, cokelat muda) yang
dimasukkan ke dalam celana panjang berwarna gelap. Kemeja bisa dilinting di bagian lengan
untuk kesan lebih santai dan bersemangat.
● Aksesori: Beberapa bisa memakai peci hitam, sementara yang lain tidak. Pakaian ini
memberikan kesan bahwa mereka adalah aktivis yang siap berjuang kapan saja.
3. Tokoh Lain
● Fatmowati: Pakaiannya mencerminkan seorang ibu rumah tangga sekaligus istri pemimpin.
Gunakan kebaya sederhana atau blus dan kain jarik. Pilihlah warna-warna yang lembut,
seperti krem atau cokelat muda. Ini akan menonjolkan karakternya yang penuh kasih, sabar,
dan keibuan.
● Ahmad Soebardjo: Mirip dengan Soekarno dan Hatta, ia bisa mengenakan setelan jas dan
dasi. Penampilannya harus terlihat berwibawa dan resmi, karena ia adalah seorang
diplomat.
● Laksamana Maeda: Kenakan seragam perwira militer Jepang. Seragam ini biasanya
berwarna khaki atau hijau zaitun, lengkap dengan topi perwira. Kostum ini akan langsung
membedakannya dari tokoh-tokoh Indonesia.
Dengan kostum yang tepat, setiap karakter akan terlihat lebih hidup dan penonton akan semakin
larut dalam cerita yang dibawakan.
Hal-hal yang Perlu Ditambahkan atau Diperhatikan
1. Kostum dan Tata Rias
Kostum dan tata rias yang akurat akan membantu penonton langsung mengenali para tokoh dan
memahami latar waktu.
● Para Pemuda (Sutan Syahrir, Sukarni, Chairul Shaleh, Suhud, Latif, Sayuti Melik): Pakaian
sederhana, rapi, dan mencerminkan semangat pergerakan pada era 1940-an. Kemeja putih
atau coklat muda, celana panjang, dan mungkin peci. Hindari pakaian modern yang terlalu
rapi atau ketat.
● Tokoh Nasional (Soekarno, Moh. Hatta, Ahmad Soebardjo): Pakaian yang berwibawa
namun tetap sederhana, seperti setelan jas atau kemeja dengan dasi. Peci adalah properti
penting untuk Soekarno dan Hatta.
● Fatmowati: Kebaya sederhana atau pakaian rumah tangga yang mencerminkan statusnya
sebagai istri tokoh nasional pada masa itu.
● Laksamana Maeda: Seragam militer Jepang yang menunjukkan pangkatnya.
2. Tata Cahaya dan Suara
Aspek ini sangat vital untuk membangun suasana dan fokus dalam setiap adegan.
● Tata Cahaya: Gunakan cahaya untuk menciptakan suasana (misalnya, gelap dan tegang di
adegan Rengasdengklok, atau terang dan khidmat di adegan proklamasi). Cahaya bisa
diarahkan ke tokoh yang sedang berbicara untuk menyorot emosi mereka.
● Tata Suara: Musik latar yang sudah ada di naskah bisa diperkaya dengan efek suara
tambahan (seperti suara ketukan pintu, suara jangkrik malam, atau sorakan samar dari luar
panggung) untuk membuat adegan terasa lebih hidup dan nyata.
3. Blocking dan Gerakan
● Penataan Panggung (Blocking): Tentukan dengan jelas posisi setiap tokoh di atas panggung.
Siapa yang duduk di mana? Di mana posisi mereka saat bergerak?
● Gerakan (Acting): Selain dialog, perhatikan juga ekspresi wajah, gerakan tangan, dan postur
tubuh. Misalnya, Suhud yang "menggebrak meja pelan," Latif yang "mengacungkan jari,"
atau Soekarno yang "menghela napas." Detail-detail ini sangat penting untuk menyampaikan
emosi dan karakter.
Dengan melengkapi aspek-aspek di atas, pementasan Anda tidak hanya akan menceritakan kembali
sejarah, tetapi juga menghidupkannya dengan cara yang lebih mendalam dan berkesan bagi
penonton.