Pertanggungjawaban Pengguna Anggaran Korupsi
Pertanggungjawaban Pengguna Anggaran Korupsi
TINJAUAAN UMUM
mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Atas dasar itu, Undang-Undang Tindak Pidana
tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga diperlukan
suatu pengaturan lebih efektif dalam memberantas dan mencegah tindak pidana korupsi.
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. korupsi telah berkembang begitu canggih baik dari sisi
pelakunya maupun modus operandinya, maka pemberantasan korupsi akan kurang memadai
akuntabilitas sektor publik dandunia usaha. Pada gilirannya hal ini memerlukan upaya terpadu
perbaikan sistem akuntansi dan sistem hukum guna meningkatkan mutu kerja serta
memadukan pekerjaan lembaga pemeriksa dan pengawas keuangan (seperti BPK, Irjen,
Kehakiman). Sebagaimana sudah kita alami sendiri, kelemahan dan korupsi dalam satu mata
1
UU No. 20 th 2001tentang perubahan atas UU No.31 th 1999 pasal 1 ayat 2
rantai kelembagaan itu telah membuat negara kita dewasa ini sebagai salah satu negara yang
terkorup di dunia dan telah menyengsarakan rakyat sendiri. Akibat dari kelemahan dan ulah
sendiri tersebut, perekonomian dan seluruh sendi-sendi kehidupan sosial kita telah runtuh
sendiri pada tahun1997-1998 itu. Timor Timur memisahkan diri dari NKRI dan Indonesia
Salah satu aspek pembangunan nasional yang menjadi sorotan penting, yaitu
yang harus dibenahi. Pembangunan di bidang hukum sudah selayaknya memberikan motivasi
untuk mengefektifkan fungsi hukum dengan baik, dengan upaya penegakan hukum di semua
lapisan masyarakat, sehingga dapat menciptakan suatu masyarakat yang sadar hukum serta
menjunjung tinggi supremasi hukum dan keadilan Korupsi di Indonesia dapat menimbulkan
bahaya terhadap kehidupan umat manusia, karena telah merambah ke dun rakyat, keagamaan,
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas
Aparat negara yang berwenang dalam pemeriksaan perkara pidana adalah aparat Kepolisian,
Kejaksaan dan Pengadilan. Polisi, Jaksa dan Hakim merupakan tiga unsur penegak hukum
yang masing-masing mempunyai tugas, wewenang dan kewajiban yang sesuai dengan
Pembangunan di bidang hukum didukung pula oleh peranan dan tugas lembaga
peranan dan tugas lembaga peradilan dapat menjadi tolok ukur upaya penegakan hukum.
terlarang atau melawan hukum yang luas istilah korupsi mengacu pada berbagai aktifitas atau
tindakan secara tersembunyi dan illegal2 untuk mendapatkan keuntungan demi kepentingan
pribadi atau golongan. Dalam perkembangannya terdapat penekanan bahwa korupsi adalah
kepentingan pribadi.
Istilah korupsi berasal dari perkataan Latin coruptio atau corruptus yang3 berarti
kerusakan atau kebobrokan. Di samping itu diberbagai negara, dipakai juga untuk menunjukan
keadaan dan perbuatan yang busuk. Korupsi juga banyak dikaitkan dengan ketidakjujuran
seseorang di bidang keuangan. Arti harfiah dari kata itu ialah tidak bermoral, penyimpangan
dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah dan lain sebagainya.
Kemudian arti kata korupsi yang telah diterima dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia
itu, dapat disimpulkan bahwa korupsi ialah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang,
Tindak pidana korupsi merupakan masalah yang sangat serius, karena tindak pidana
membahayakan pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat, politik, bahkan dapat pula
membudayannya tindak pidana korupsi tersebut. Hal tersebut sebagaimana tercantum dalam
Preambul Ke-4 United Nation Convention Against Corruption, 2003 yang berbunyi sebagai
berikut yaitu
2
Adrian Sutedi, Aspek Hukum Pengadaan Barang Dan Jasa Dan Berbagai Permaslahannya, Sinar Grafika,
Jakarta, 2009, hlm. 80
3
Deni RM, [Link] hlm. 6
4
Meyakini bahwa korupsi tidak lagi merupakan masalah lokal, melainkan suatu
mendorong kerja sama Internasional unruk mencegah dan mengontrollnya esensial. Kegiatan
pemberantasan korupsi akan selalu tetap menjadi bahan yang aktual untuk disajikan sebagai
persoalan jenis kejahatan yang rumit penanggulangannya, karena korupsi mengandung aspek
yang majemuk dalam kaitannya dengan politik, ekonomi, dan sosial budaya.
Perbuatan korupsi membentuk aneka ragam pola perilaku dalam suatu siklus
Bentuk perbuata korupsi yang beraneka ragam dan berbagai faktor penyebab timbulnya korupsi
itu dalam pertumbuhannya makin meluas, sehingga batasan dari ciri perbuatan korupsi dan ciri
perbuatan yang tidak korupsi tetapi berciri sangat merugikan negara atau masyarakat menjadi
kejahatannya, korupsi dewasa ini selain menggerogoti keuangan (kekayaan negara), juga
Perbuatan korupsi dari segi bentuknya dapat dibagi sebagai berikut: pertama, yang lebih
materi. Kedua, berupa perbuatan memanipulasikan pungutan suara dengan cara penyuapan,
intimidasi, paksaan, dan/atau campur tangan yang dapat mempengaruhi kebebasan memilih.
4
Ermansjah Djaja,Memberantas Korupsi Bersama KPK(Komisi Pemberantasan Korupsi di
Indonesia,[Link] Aditama, Bandung, 2008, hlm3
Keberadaan tindak pidana korupsi dalam hukum positif Indonesia sebenarnya telah
cukup lama, yaitu sejak Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berlaku sebagai
kodifikasi atau unifikasi di Indonesia. Dalam keadaan mendesak dan perlu diaturnya tindak
Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian diganti dengan Undang-
Undang No. 3 Tahun 1971. Terjadinnya perkembangan mengenai pemberantasan tindak pidana
korupsi yang melibatkan penyelenggara dan pengusaha, Undang-Undang tersebut dirasa tidak
sesuai lagi sehingga ditetapkan bahwa Undang-Undang tersebut tidak berlaku lagi dan diganti
menjadi Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tentang
korupsi itu nampaknya sangat berkaitan erat dengan sistem kekuasaan dan pemerintahan di
Adapun pengertian korupsi yang berkaitan dengan kekuasaan, pertama kali telah
dipopulerkan oleh E. John Emerich Edward Dalberg Alton (Lord Alten). Ia adalah seorang
pakar sejarah Inggris yang mmperkenalkan kata-kata berupa dalil korupsi yang termasyur: The
Power Tends To Corrupt, But Absolute Power Corrupts Absolutely (kekuasaan cenderung
Di Indonesia pemberian hadiah yang dilakukan oleh para pejabat atau pemegang
kekuasaan negara sering diidentikkan dengan korupsi, namun tidak semua pemberian hadiah
merupakan korupsi. Hadiah yang sah biasanya dapat dibedakan dengan uang suap (korupsi).
5
Ibid,hlm. 8-10
6
John Emerich Edward Dalberg Alton dalam Ilham Gunawan, Postur Korupsi di Indonesia injauan Yuridis,
Sosiologis, Budaya dan Politik, Angkasa, Bandung, 1990, hlm. 8.
Hadiah dapat diberikan secara terbuka di depan orang ramai sedangkan uang suap (korupsi)
tidak. Pembedaan ini dilakukan karena orang biasanya berkelit ketika dipaksa mengaku telah
memberikan suap kepada orang lain maka alasan yang digunakan supaya lebih aman adalah
Ciri-ciri Korupsi menurut Syed Hussein Alatas memberikan ciri-ciri korupsi, sebagai
berikut :
1. Ciri korupsi selalu melibatkan lebih dari dari satu orang. 7 Inilah yang
membedakan antara korupsi dengan pencurian atau penggelapan.
2. Ciri korupsi pada umumnya bersifat rahasia, tertutup terutama motif
yang melatarbelakangi perbuan korupsi tersebut.
3. Ciri korupsi yaitu melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal
balik. Kewajiban dan keuntungan tersebut tidaklah selalu berbentuk
uang.8
4. Ciri korupsi yaitu berusaha untuk berlindung dibalik pembenaran
hukum.
5. Ciri korupsi yaitu mereka yang terlibat korupsi ialah mereka yang
memiliki kekuasaan atau wewenang serta mempengaruhi keputusan-
keputusan itu.
6. Ciri korupsi yaitu pada setiap tindakan mengandung penipuan,
biasanya pada badan publik atau pada masyarakat umum.
7. Ciri korupsi yaitu setiap bentuknya melibatkan fungsi ganda yang
kontradiktif dari mereka yang melakukan tindakan tersebut.
8. Ciri korupsi yaitu dilandaskan dengan niat kesengajaan untuk
menempatkan kepentingan umum di bawah kepentingan pribadi.
7
Andi Hamzah, 2007. Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional danInternasional. Penerbit PT
Raja Grafindo Persada : Jakarta.
8
Ibid hlm 72
2. Unsur-unsur Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan Undang- Undang No. 20 Tahun 2001
Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
9
Pasal 12 huruf a s/d huruf i Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi
Bentuk tindak pidana korupsi adalah rumusan tindak pidana korupsi yang berdiri
sendiri dan dimuat dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi No.20 tahun 2001 Dalam
a. Tindak pidana korupsi dengan memperkaya diri sendiri, atau orang lain suatu korporasi
Berdasarkan Pasal 2 yaitu memperkaya diri sendiri, atau orang lain suatu badan korporasi
dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian
negara. Secara substansif, perbedaan korupsi dalam Pasal 8 dan Pasal 3 jika dilihat dari sebab
beradanya objek dalam kekuasaan koruptor maka dalam pasal ini, objek kejahatan berada
dalam kekuasaannnya yang disebabkan langsung oleh perbuatan yang dilarang in casu atau
memperkaya.
Dalam rumusan perbuatan tersebut secara melawan hukum berasal dari kata
Wedderrechttelijk yang dimaksud akan dengan cara melawan hukum yakni jika si pembuat
dalam mewujudkan perbuatan memperkaya adalah tercela, dia tidak berhak untuk melakukan
Pompe berpendapat 11
Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara bukanlah menjadi syarat
untsyarat untuk terjadinya tindak pidana korupsi pasal 2 secara sempurna, melainkan akibat
kerugian keuangan negara dapat timbul dari perbuatan memperkaya dengan melawan hukum
tersebut perbuatan tersebut tidak hanya dianggap sebagai perbuatan melawan hukum formil,
akan tetapi juga dianggap sebagai perbuatan melawan hukum materill, yaitu tidak hanya
bertentangan dengan Undang-Undang tetapi juga bertentangan dengan kepatutan, kelaziman
di alam pergaulan masyarakat dalam hal ini perbuatan melawan hukum disini memiliki arti
yang sama didalam hukum perdata ( kasus Lindenbaum Cohen )
10
Chazawi Adami, hukum pidana materil dan formil korupsi di Indonesia,Banyumedia,Malang, 2003
11
Andi hamzah, locit hlm 125
Penjelasan umum dalam Undang-Undang ini dimaksudkan bahwa keuangan negara
merupakan seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun baik yang dipisahkan atau yang
tidak dipisahkan, termasuk segala bagian hak dan kewajiban yang timbul karena berada dalam
penguasaan pejabat lembaga negara, baik di tingkat pusat maupun daerah dalam pengurusan
dan pertanggung jawaban Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Yayasan,
Badan Hukum dan perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian
dengan negara.
Dalam rumusan ini tindak pidana korupsi ini memiliki unsur-unsur yaitu unsur-unsur
merugikan keuangan negara atau perekonomian negara karena jabatan atau karena kedudukan,
sedangkan unsur subjektif yaitu dengan tujuan menguntungkan sendiri, menguntungkan orang
Dalam tindak pidana korupsi suap ini mempunyai unsur objektif berupa perbuatan
memberikan sesuatau, menjanjikan, kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, unsur
subyektifnya adalah dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut
berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuai dalam jabatannya sehingga bertentangan dengan hak
dan kewajiban tugasnya. Selain itu didalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi No 20
Tahun 2001 disebutkan bahwa Sanksi Pidana yang diberikan yaitu sbb :
1) Pidana pokok
12
Muladi dan Barda Nawawi, teori–teori dan kebijakan pidana Cetakan ke 3, alumni,Bandung, 2005,hlm 86.
a) Terdapat pada Pasal 2 yaitu sanksi pidanannya adalah kumulatif yaitu pidana
pokok (penjara) dan pidana denda. Pidana penjara maksimum yaitu pidana
eumur hidup atau paling lama 20 (dua puluh) tahun dan minimum penjara
paling singkat 4 tahun. Dan denda makimum Rp.1000.000.000,00 (satu
milyar rupiah) sedangkan minimumnya yaitu Rp.200.000.000,-( dua ratus juta
rupiah).
b) Pemberatan ( pasal 2 ayat 2) yaitu pidana mati dapat dijatuhkan apabila tindak
pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1 dilakukan dalam
keadaan tertentu maksudnya apabila tindak pidana tersebut dilakukan
terhadap dana yang diperuntukan bagi penanggulangan bahaya, bencana alam
Nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas,
penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan penanggulangan tindak
pidana korupsi.
a) Perampasan barang bergerak yang berwujud atau tidak berwujud atau barang
tidak bergerak yang digunakan atau diperoleh dari tindak pidana korupsi,
termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi
dilakukan, begitu pula harga dari barang tersebut yang dilakukan pasal 18
ayat 1 huruf a.
c) Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya ama dengan harta benda pasal
18 ayat 1 huruf b.
d) Jika terpidana tidak membayar uang pengganti dalam waktu 1 bulan maka
harta bendannya dapat disita oleh Jaksa untuk dilelang untuk menutupi uang
pengganti.
B. Modus tindak pidana korupsi Dana Bantuan Sosial terhadap upaya pengembalian
kerugian Negara dilihat dari Undang – Undang tipikor Pasal 55 – 56 KUHP.
a. Penyertaan ( Deelneming )
Tindak Pidana Bersama-sama dan berlanjut dalam kitab Undang - undang Hukum
Pidana dan Undang- undang Tindak Pidana Korupsi. Penyertaan pada dasarnya diatur dalam
pasal 55 dan 56 KUHP yang berarti bahwa ada dua orang atau lebih yang melakukan suatu
tindak pidana atau dengan perkataan ada dua orang atau lebih mengambil bahagian untuk
mewujudkan suatu tindak pidana. Secara luas dapat disebutkan bahwa seseorang turut serta
ambil bagian dalam hubungannya dengan orang lain, untuk mewujudkan suatu tindak pidana,
1) Pelaku ( Pleger ) Menurut Hazewinkel Suringa yang dimaksud dengan pleger adalah
setiap orang yang dengan seorang diri telah memenuhi semua unsur dari delik seperti yang
telah ditentukan di dalam rumusan delik yang bersangkutan, juga tanpa adanya ketentuan
pidana yang mengatur masalah deelneming itu, orang-orang tersebut tetap dapat dihukum.
intelectualis menyuruh auctor physicus (dalam hal ini auctor physicus yang tidak dapat
diminta pertanggung jawabannya) untuk melakukan tindak pidana. Auctur intelectualis tidak
berbuat secara langsung, melainkan menggunakan orang lain sebagai alat untuk mengendalikan
Penjelasannya, turut serta diartikan melakukan bersama-sama. Dalam tindak pidana ini
pelakunya paling sedikit harus ada dua orang, yakni yang melakukan dan turut melakukan. Dan
melakukan tindak pidana itu Pembantu pembuat dalam Pasal 56 KUHP Pembantuan diatur
dalam Pasal 56 KUHP yang berbunyi “Dipidana sebagai pembantu suatu kejahatan:
13
P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Sinar Baru: Bandung, 1990), hal. 594.
-. Mereka yang sengaja memberikan kesempatan, sarana atau keterangan untuk
melakukan kejahatan.”
Berbicara tentang tindak pidana berlanjut (voortgezette handeling) tidak terlepas dari
apa yang disebut dengan perbarengan tindak pidana (concursus atau samenloop). Pada
dasarnya yang dimaksud dengan perbarengan ialah terjadinya dua atau lebih tindak pidana oleh
satu orang dimana tindak pidana yang dilakukan pertama kali belum dijatuhi pidana, atau
antara tindak pidana yang awal dengan tindak pidana berikutnya belum dibatasi oleh suatu
putusan hakim.14
(deelneming) yang mana korupsi tersebut dilakukan secara bersama-sama guna memperoleh
14
Ibid, hal. 109
15
Barda Nawawi Arief, Pola Pemidanaan Menurut KUHP dan Konsep KUHP, Departemen Kehakiman,
Jakarta,2001, hlm. 61.
Berkaitan dengan tujuan pemidanaan dalam Konsep KUHP tersebut, Sudarto
mengemukakan :16
Dengan demikian, terdapat dua sisi sasaran aspek pokok dalam tujuan pemidanaan
sebagai kepentingan yang hendak dilindungi secara berimbang yaitu kepentingan masyarakat
dan kepentingan individu pelaku. Oleh karena itu, dapatlah dilihat bahwa perkembangan tujuan
pidana dan pemidanaan tidak lagi hanya terfokus pada upaya untuk menderitakan, akan tetapi
Hal tersebut telah menjadi fenomena global bahwa masalah pendayagunaan dan upaya
mencari alternatif pidana perampasan kemerdekaan telah menjadi masalah yang bersifat
universal. Masalah ini menjadi semakin penting artinya bila dihubungkan dengan masalah
16
Sudarto, Pemidanaan Pidana dan Tindakan, BPHN, Jakarta, 1982, hlm. 42.
17
Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Departemen Kehakiman, Jakarta,2001, hlm.
98.
Penggunaan istilah korupsi dalam peraturan tersebut terdapat pada bagian
keuangan dan perekonomian Negara yang oleh khalayak ramai dinamakan korupsi.
Tuhan 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; Pembentukan sebuah18 undang-
undang baru sebagai sebuah instrument hukum pidana dalam penanggulangan korupsi, dapat
didekati dan di analisis atas dasar 3 alasan utama, 19yaitu:
1. Alasan Sosiologis
2. Alasan praktis
3. Kebijakan Politis
Jenis-jenis pidana dalam hukum pidana korupsi sama dengan hukum pidana umum,
tetapi sistem penjatuhan pidananya ada kekhususan jika dibandingkan dengan hukum pidana
18
H. Elwi Danil, Korupsi: Konsep, Tindak Pidana, dan Pemberantasannya, (Jakarta, PT. Rajagrafindo Persada,
2011), hal. 5.
19
Ibid, hal. 17.
Hukum pidana korupsi dua jenis pidana pokok yang dijatuhkan bersamaan dapat
1. Penjatuhan dua jenis pidana pokok yang bersifat imperatif, yaitu antara pidana
penjara dengan pidana denda. Dua jenis pidana ini wajib dijatuhkan serentak.
2. Penjatuhan dua jenis pidana pokok yang berisfat imperatif dan fakultatif, yaitu
antara pidana penjara dengan pidana denda. Diantara dua jenis pidana pokok ini
yang wajib dijatuhkan ialah pidana penjara (imperatif), namun dapat pula
dijatuhkan secara kumulatif dengan pidana denda (fakultatif). Pidana denda tidak
khusus dan maksimum khusus, baik mengenai pidana penjara maupun pidana denda
umum dalam KUHP (15 tahun), yakni paling tinggi sampai 20 (dua puluh) tahun.
Dalam KUHP boleh menjatuhkan pidana penjara sampai melebihi batas maksimum
umum 15 (lima belas) tahun yakni 20 (dua puluh) tahun, dalam hal bila terjadi
pengulangan atau perbarengan atau tindak pidana tertentu sebagai alternatif dari
pidana mati.
4. Hukum pidana korupsi tidaklah mengenal pidana mati sebagai suatu pidana pokok
Perilaku yang menyimpang dari atau melanggar peraturan kewajiban normal peran,instansi
pemerintah dengan jalan melakukan atau mencari pengaruh, status dan gengsi untuk
kepentingan pribadi.
Korupsi dari kepentingan umum apabila seseorang yang memegang kekuasaan atau yang
berwenang untuk melakukan hal-hal tertentu mengharapkan imbalan uang atau semacam
langkah atau menolong siapa saja yang menyediakan hadiah sehingga benar-benar
Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, orang lain, atau suatu badan, bersifat melawan
hukum baik secara formil maupun materildan perbuatan itu secara langsung atau tidak
langsung merugikan keuangan negara dan atau perekonomian negara atau perbuatan itu
diketahui atau patut disangka oleh si pembuat bahwa merugikan negara atau perekonomian
negara.
Korupsi,kolusi dan nepotisme adalah dalam suatu napas karena ketigannya elanggar kaidah
kejujuran dan norma hukum adapun faktor pendukung korupsi kolusi dan nepotisme (KKN)
adalah 1) Pranata-pranata sosial kontrol tidak efektif lagi, penyalahgunaan kekuasaan negara
Suatu tingkah laku yang meyimpang dari tugas-tugas resmi jabatannya dalam negara,
dimana untuk memperoleh keuntungan status atau uang yang menyangkut diri pribadi
(perorangan, keluarga dekat, kelompok sendiri), atau melanggar aturan pelaksanaan yang
menyangkut tingkah laku pribadi. Pengertian korupsi yang diungkapkan oleh Robert yaitu
penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.
Suatu masalah politik lebih dari pada ekonomi yang menyentuh keabsahan (legitimasi)
pemerintah di mata generasi muda, kaum elite terdidik dan para pegawai pada umumnya.
Akibat yang ditimbulkan dari korupsi ini ialah berkurangnya dukungan pada pemerintah dari
kelompok elite di tingkat provinsi dan kabupaten. Pengertian korupsi yang diungkapkan
yang mencakup pelanggaran norma, tugas dan kesejahteraan umum, yang dilakukan dengan
kerahasian, penghianatan, penipuan dan kemasabodohan akan berakibat panjang yang akan
Kata "korupsi" berasal dari bahasa latin yaitu "corruptio atau corruptus". Namun kata
"corruptio" itu berasal pula dari kata asal "corrumpere", yaitu suatu kata dalam bahasa latin
yang lebih tua. Dari bahasa latin ini kemudian turun ke banyak bahasa Eropa seperti Inggris
yaitu corruption, Prancis yaitu corruption, Belanda yaitu corruptie. Dari bahasa Belanda inilah
yaitu Setiap orang yang dengan sengaja secara melawan hukum untuk melakukan perbuatan
dengan tujuan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang
Merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan keuntungan
yang tidak resmi dengan mempergunakan hak-hak dari pihak lain, yang secara salah dalam
dirinya sendiri atau orang lain, yang berlawanan dengan kewajibannya dan juga hak-hak dari
pihak lain.
Alatas mengatakan ada tiga tipe fenomena yang tercakup dalam istilah korupsi yaitu :
Penyuapan (bribery), pemerasan (exortion) dan nepotisme. Dari Ketiga tipe tersebut berbeda,
namun dapat ditarik benang merah yang menghubungkan ketiga tipe korupsi itu yaitu