0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan19 halaman

Pertanggungjawaban Pengguna Anggaran Korupsi

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan19 halaman

Pertanggungjawaban Pengguna Anggaran Korupsi

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAAN UMUM

A. Tinjauan tentang Pertanggungjawaban Pengguna Anggaran terhadap tindak


Pidana Korusi dana bantuan sosial menurut UU,No.20 th,2001. Tentang
perubahan atas UU No.31 th 1999 pasal 1 ayat 2
Tindak pidana korupsi sangat merugikan negara atau perekonomian negara dan

menghambat pertumbuhan pembangunan nasional, sehingga harus diberantas dalam rangka

mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Atas dasar itu, Undang-Undang Tindak Pidana

Korupsi Undang-Undang No 31 Tahun 1999 dibentuk. Seiring berkembangnya zaman,

Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang 1Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sudah

tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga diperlukan

suatu pengaturan lebih efektif dalam memberantas dan mencegah tindak pidana korupsi.

Dengan tujuan tersebut, Undang-Undang No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan

Tindak Pidana Korupsi diperbaharui menjadi Undang-Undang No 20 Tahun 2001 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. korupsi telah berkembang begitu canggih baik dari sisi

pelakunya maupun modus operandinya, maka pemberantasan korupsi akan kurang memadai

jika hanya dilakukan dengan cara-cara biasa, sehingga karenanya pemberantasannyaharus

dilakukan [Link] korupsi memerlukan peningkatan transparansi serta

akuntabilitas sektor publik dandunia usaha. Pada gilirannya hal ini memerlukan upaya terpadu

perbaikan sistem akuntansi dan sistem hukum guna meningkatkan mutu kerja serta

memadukan pekerjaan lembaga pemeriksa dan pengawas keuangan (seperti BPK, Irjen,

Bawasda dan PPATK) dengan penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan,KPK maupun

Kehakiman). Sebagaimana sudah kita alami sendiri, kelemahan dan korupsi dalam satu mata

1
UU No. 20 th 2001tentang perubahan atas UU No.31 th 1999 pasal 1 ayat 2
rantai kelembagaan itu telah membuat negara kita dewasa ini sebagai salah satu negara yang

terkorup di dunia dan telah menyengsarakan rakyat sendiri. Akibat dari kelemahan dan ulah

sendiri tersebut, perekonomian dan seluruh sendi-sendi kehidupan sosial kita telah runtuh

sendiri pada tahun1997-1998 itu. Timor Timur memisahkan diri dari NKRI dan Indonesia

dianggap the sick man of Asia.

Salah satu aspek pembangunan nasional yang menjadi sorotan penting, yaitu

pembangunan di bidang hukum, karena dalam pelaksanaannya terdapat berbagai permasalahan

yang harus dibenahi. Pembangunan di bidang hukum sudah selayaknya memberikan motivasi

untuk mengefektifkan fungsi hukum dengan baik, dengan upaya penegakan hukum di semua

lapisan masyarakat, sehingga dapat menciptakan suatu masyarakat yang sadar hukum serta

menjunjung tinggi supremasi hukum dan keadilan Korupsi di Indonesia dapat menimbulkan

bahaya terhadap kehidupan umat manusia, karena telah merambah ke dun rakyat, keagamaan,

dan fungsi-fungsi pelayanan sosial lain.

Pemberantasan korupsi adalah dengan mengandalkan Undang-Undang Tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas

Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Aparat negara yang berwenang dalam pemeriksaan perkara pidana adalah aparat Kepolisian,

Kejaksaan dan Pengadilan. Polisi, Jaksa dan Hakim merupakan tiga unsur penegak hukum

yang masing-masing mempunyai tugas, wewenang dan kewajiban yang sesuai dengan

Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku.

Pembangunan di bidang hukum didukung pula oleh peranan dan tugas lembaga

peradilan dalam menyelesaikan berbagai sengketa yang terjadi di masyarakat, sehingga

peranan dan tugas lembaga peradilan dapat menjadi tolok ukur upaya penegakan hukum.

1. Pengertian Korupsi Secara Umum


Istilah “korupsi” dipergunakan sebagai suatu acuan singkat untuk serangkaian tindakan

terlarang atau melawan hukum yang luas istilah korupsi mengacu pada berbagai aktifitas atau

tindakan secara tersembunyi dan illegal2 untuk mendapatkan keuntungan demi kepentingan

pribadi atau golongan. Dalam perkembangannya terdapat penekanan bahwa korupsi adalah

tindakan penyalahgunaan kekuasaan ( abuse of power) atau kedudukan publik untuk

kepentingan pribadi.

Istilah korupsi berasal dari perkataan Latin coruptio atau corruptus yang3 berarti

kerusakan atau kebobrokan. Di samping itu diberbagai negara, dipakai juga untuk menunjukan

keadaan dan perbuatan yang busuk. Korupsi juga banyak dikaitkan dengan ketidakjujuran

seseorang di bidang keuangan. Arti harfiah dari kata itu ialah tidak bermoral, penyimpangan

dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah dan lain sebagainya.

Kemudian arti kata korupsi yang telah diterima dalam perbendaharaan kata bahasa Indonesia

itu, dapat disimpulkan bahwa korupsi ialah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang,

penerimaan uang sogok dan sebagainya.

Tindak pidana korupsi merupakan masalah yang sangat serius, karena tindak pidana

korupsi dapat membahayakan stabilitas dan keamanan negara dalam masyarakatnya,

membahayakan pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat, politik, bahkan dapat pula

merusak nilai-nilai demokrasi serta moralitas bangsa karena dapat berdampak

membudayannya tindak pidana korupsi tersebut. Hal tersebut sebagaimana tercantum dalam

Preambul Ke-4 United Nation Convention Against Corruption, 2003 yang berbunyi sebagai

berikut yaitu

2
Adrian Sutedi, Aspek Hukum Pengadaan Barang Dan Jasa Dan Berbagai Permaslahannya, Sinar Grafika,
Jakarta, 2009, hlm. 80
3
Deni RM, [Link] hlm. 6
4
Meyakini bahwa korupsi tidak lagi merupakan masalah lokal, melainkan suatu

fenomena transnasional yang mempengaruhi seluruh masyarakat dan ekonomi yang

mendorong kerja sama Internasional unruk mencegah dan mengontrollnya esensial. Kegiatan

pemberantasan korupsi akan selalu tetap menjadi bahan yang aktual untuk disajikan sebagai

persoalan jenis kejahatan yang rumit penanggulangannya, karena korupsi mengandung aspek

yang majemuk dalam kaitannya dengan politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Perbuatan korupsi membentuk aneka ragam pola perilaku dalam suatu siklus

pertumbuhan negara, perkembangan sistem sosial dan keserasian struktur pemerintahan.

Bentuk perbuata korupsi yang beraneka ragam dan berbagai faktor penyebab timbulnya korupsi

itu dalam pertumbuhannya makin meluas, sehingga batasan dari ciri perbuatan korupsi dan ciri

perbuatan yang tidak korupsi tetapi berciri sangat merugikan negara atau masyarakat menjadi

sukar dibedakan, serta mengakibatkan ketidakpastian cara memformulasikan kelompok

kejahatannya, korupsi dewasa ini selain menggerogoti keuangan (kekayaan negara), juga

sekaligus dapat merusak sendi-sendi kepribadian bangsa.

Tidak mengherankan kalau korupsi dimasa kini dapat menghancurkan negara,

menjatuhkan pemerintah atau minimal menghambat pembangunan untuk kesejahteraan rakyat.

Perbuatan korupsi dari segi bentuknya dapat dibagi sebagai berikut: pertama, yang lebih

banyak menyangkut penyelewengan di bidang materi (uang) yang dikategorikan korupsi

materi. Kedua, berupa perbuatan memanipulasikan pungutan suara dengan cara penyuapan,

intimidasi, paksaan, dan/atau campur tangan yang dapat mempengaruhi kebebasan memilih.

Ketiga, yang memanipulasikan ilmu pengetahuan.

4
Ermansjah Djaja,Memberantas Korupsi Bersama KPK(Komisi Pemberantasan Korupsi di
Indonesia,[Link] Aditama, Bandung, 2008, hlm3
Keberadaan tindak pidana korupsi dalam hukum positif Indonesia sebenarnya telah

cukup lama, yaitu sejak Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) berlaku sebagai

kodifikasi atau unifikasi di Indonesia. Dalam keadaan mendesak dan perlu diaturnya tindak

pidana korupsi ditetapkanlah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960 tentang Pengusutan,

Penuntutan dan Pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian diganti dengan Undang-

Undang No. 3 Tahun 1971. Terjadinnya perkembangan mengenai pemberantasan tindak pidana

korupsi yang melibatkan penyelenggara dan pengusaha, Undang-Undang tersebut dirasa tidak

sesuai lagi sehingga ditetapkan bahwa Undang-Undang tersebut tidak berlaku lagi dan diganti

menjadi Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

dan Undang-Undang tersebut telah mengalami perubahan dengan Undang-Undang No. 20

Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang No.31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan latar belakang sejarahnya, pengertian

korupsi itu nampaknya sangat berkaitan erat dengan sistem kekuasaan dan pemerintahan di

zaman dahulu maupun di zaman modern ini.5

Adapun pengertian korupsi yang berkaitan dengan kekuasaan, pertama kali telah

dipopulerkan oleh E. John Emerich Edward Dalberg Alton (Lord Alten). Ia adalah seorang

pakar sejarah Inggris yang mmperkenalkan kata-kata berupa dalil korupsi yang termasyur: The

Power Tends To Corrupt, But Absolute Power Corrupts Absolutely (kekuasaan cenderung

Korupsi, tetapi kekuasaan yang berlebihan mengakibatkan korupsi berlebihan pula.6

Di Indonesia pemberian hadiah yang dilakukan oleh para pejabat atau pemegang

kekuasaan negara sering diidentikkan dengan korupsi, namun tidak semua pemberian hadiah

merupakan korupsi. Hadiah yang sah biasanya dapat dibedakan dengan uang suap (korupsi).

5
Ibid,hlm. 8-10
6
John Emerich Edward Dalberg Alton dalam Ilham Gunawan, Postur Korupsi di Indonesia injauan Yuridis,
Sosiologis, Budaya dan Politik, Angkasa, Bandung, 1990, hlm. 8.
Hadiah dapat diberikan secara terbuka di depan orang ramai sedangkan uang suap (korupsi)

tidak. Pembedaan ini dilakukan karena orang biasanya berkelit ketika dipaksa mengaku telah

memberikan suap kepada orang lain maka alasan yang digunakan supaya lebih aman adalah

bahwa yang diberikan adalah hadiah.

Ciri-ciri Korupsi menurut Syed Hussein Alatas memberikan ciri-ciri korupsi, sebagai

berikut :

1. Ciri korupsi selalu melibatkan lebih dari dari satu orang. 7 Inilah yang
membedakan antara korupsi dengan pencurian atau penggelapan.
2. Ciri korupsi pada umumnya bersifat rahasia, tertutup terutama motif
yang melatarbelakangi perbuan korupsi tersebut.
3. Ciri korupsi yaitu melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal
balik. Kewajiban dan keuntungan tersebut tidaklah selalu berbentuk
uang.8
4. Ciri korupsi yaitu berusaha untuk berlindung dibalik pembenaran
hukum.
5. Ciri korupsi yaitu mereka yang terlibat korupsi ialah mereka yang
memiliki kekuasaan atau wewenang serta mempengaruhi keputusan-
keputusan itu.
6. Ciri korupsi yaitu pada setiap tindakan mengandung penipuan,
biasanya pada badan publik atau pada masyarakat umum.
7. Ciri korupsi yaitu setiap bentuknya melibatkan fungsi ganda yang
kontradiktif dari mereka yang melakukan tindakan tersebut.
8. Ciri korupsi yaitu dilandaskan dengan niat kesengajaan untuk
menempatkan kepentingan umum di bawah kepentingan pribadi.

7
Andi Hamzah, 2007. Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional danInternasional. Penerbit PT
Raja Grafindo Persada : Jakarta.
8
Ibid hlm 72
2. Unsur-unsur Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan Undang- Undang No. 20 Tahun 2001
Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Unsur - unsur tindak pidana korupsi berdasarkan Undang-Undang Tindak Pidana


Korupsi No 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi yaitu :9

a. Tindakan seseorang atau badan hukum melawan hukum.


b. Tindakan tersebut menyalahgunakan wewenang.
c. Dengan maksud memperkaya diri sendiri atau orang lain.
d. Tindakan tersebut merugikan negara atau perekonomian negara atau patut diduga
merugikan keuangan negara.
e. Memberi atau menjanjikan sesuatau kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara
dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau
tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.
f. Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau
berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban dilakukan atau tidak
dilakukan dalam jabatannya.
g. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi
putusan perkara yang diserahkan kepadannya untuk diadili.
h. Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang yang menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri sidang
pengadilan dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan
diberikan dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.
i. Adannya perbuatan curang atau sengaja membiarkan terjadinnya perbuatan curang
tersebut.
j. Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu
jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara dengan menggelapkan uang
atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat
berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain atau membantu melakukan
perbuatan tersebut.
k. Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal
diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena
kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya atau menurut
pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan
jabatannya.

3. Bentuk Korupsi Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan


Tindak Pidana Korupsi.

9
Pasal 12 huruf a s/d huruf i Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi
Bentuk tindak pidana korupsi adalah rumusan tindak pidana korupsi yang berdiri

sendiri dan dimuat dalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi No.20 tahun 2001 Dalam

Undang-Undang tersebut, secara jelas dirumuskan mengenai unsur-unsur tertentu yang

diancam dengan ancaman pidana dan pemidanaan tertentu.

a. Tindak pidana korupsi dengan memperkaya diri sendiri, atau orang lain suatu korporasi

Berdasarkan Pasal 2 yaitu memperkaya diri sendiri, atau orang lain suatu badan korporasi

dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian

negara. Secara substansif, perbedaan korupsi dalam Pasal 8 dan Pasal 3 jika dilihat dari sebab

beradanya objek dalam kekuasaan koruptor maka dalam pasal ini, objek kejahatan berada

dalam kekuasaannnya yang disebabkan langsung oleh perbuatan yang dilarang in casu atau

memperkaya.

Dalam rumusan perbuatan tersebut secara melawan hukum berasal dari kata

Wedderrechttelijk yang dimaksud akan dengan cara melawan hukum yakni jika si pembuat

dalam mewujudkan perbuatan memperkaya adalah tercela, dia tidak berhak untuk melakukan

perbuatan dalam rangka memeperoleh atau menambah kekayaannya 10

Pompe berpendapat 11

Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara bukanlah menjadi syarat
untsyarat untuk terjadinya tindak pidana korupsi pasal 2 secara sempurna, melainkan akibat
kerugian keuangan negara dapat timbul dari perbuatan memperkaya dengan melawan hukum
tersebut perbuatan tersebut tidak hanya dianggap sebagai perbuatan melawan hukum formil,
akan tetapi juga dianggap sebagai perbuatan melawan hukum materill, yaitu tidak hanya
bertentangan dengan Undang-Undang tetapi juga bertentangan dengan kepatutan, kelaziman
di alam pergaulan masyarakat dalam hal ini perbuatan melawan hukum disini memiliki arti
yang sama didalam hukum perdata ( kasus Lindenbaum Cohen )

10
Chazawi Adami, hukum pidana materil dan formil korupsi di Indonesia,Banyumedia,Malang, 2003
11
Andi hamzah, locit hlm 125
Penjelasan umum dalam Undang-Undang ini dimaksudkan bahwa keuangan negara

merupakan seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun baik yang dipisahkan atau yang

tidak dipisahkan, termasuk segala bagian hak dan kewajiban yang timbul karena berada dalam

penguasaan pejabat lembaga negara, baik di tingkat pusat maupun daerah dalam pengurusan

dan pertanggung jawaban Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Yayasan,

Badan Hukum dan perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga berdasarkan perjanjian

dengan negara.

b. Tindak pidana korupsi dengan menyalahgunakan kewenangan kesempatan, sarana jabatan


atau kedudukan.

Dalam rumusan ini tindak pidana korupsi ini memiliki unsur-unsur yaitu unsur-unsur

objektif yaitu perbuatan menyalahgunakan kewenangan, menyalahgunakan kesempatan,

menyalahgunakan kewenangan, menyalahgunakan12 sarana yang ada padanya yang dapat

merugikan keuangan negara atau perekonomian negara karena jabatan atau karena kedudukan,

sedangkan unsur subjektif yaitu dengan tujuan menguntungkan sendiri, menguntungkan orang

lain, menguntungkan suatu korporasi.

c. Tindak Pidana Korupsi Suap

Dalam tindak pidana korupsi suap ini mempunyai unsur objektif berupa perbuatan

memberikan sesuatau, menjanjikan, kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, unsur

subyektifnya adalah dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut

berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuai dalam jabatannya sehingga bertentangan dengan hak

dan kewajiban tugasnya. Selain itu didalam Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi No 20

Tahun 2001 disebutkan bahwa Sanksi Pidana yang diberikan yaitu sbb :

1) Pidana pokok

12
Muladi dan Barda Nawawi, teori–teori dan kebijakan pidana Cetakan ke 3, alumni,Bandung, 2005,hlm 86.
a) Terdapat pada Pasal 2 yaitu sanksi pidanannya adalah kumulatif yaitu pidana
pokok (penjara) dan pidana denda. Pidana penjara maksimum yaitu pidana
eumur hidup atau paling lama 20 (dua puluh) tahun dan minimum penjara
paling singkat 4 tahun. Dan denda makimum Rp.1000.000.000,00 (satu
milyar rupiah) sedangkan minimumnya yaitu Rp.200.000.000,-( dua ratus juta
rupiah).
b) Pemberatan ( pasal 2 ayat 2) yaitu pidana mati dapat dijatuhkan apabila tindak
pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1 dilakukan dalam
keadaan tertentu maksudnya apabila tindak pidana tersebut dilakukan
terhadap dana yang diperuntukan bagi penanggulangan bahaya, bencana alam
Nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas,
penanggulangan krisis ekonomi dan moneter, dan penanggulangan tindak
pidana korupsi.

2). Pidana Tambahan

a) Perampasan barang bergerak yang berwujud atau tidak berwujud atau barang
tidak bergerak yang digunakan atau diperoleh dari tindak pidana korupsi,
termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi
dilakukan, begitu pula harga dari barang tersebut yang dilakukan pasal 18
ayat 1 huruf a.

b) Putusan pengadilan mengenai perampasan barang-barang bukan kepunyaan


terdakwa jika dijatuhkan, apabila hak-hak pihak ke tiga yang beritikad baik
akan dirugikan.

c) Pembayaran uang pengganti yang jumlahnya ama dengan harta benda pasal
18 ayat 1 huruf b.

d) Jika terpidana tidak membayar uang pengganti dalam waktu 1 bulan maka
harta bendannya dapat disita oleh Jaksa untuk dilelang untuk menutupi uang
pengganti.

e) Apabila tidak mempunyai harta benda yang mencukupi untuk membayar


uang pengganti, maka dipidanan dengan pidana penjara yang lamannya tidak
melebihi ancaman maksimum.

B. Modus tindak pidana korupsi Dana Bantuan Sosial terhadap upaya pengembalian
kerugian Negara dilihat dari Undang – Undang tipikor Pasal 55 – 56 KUHP.

a. Penyertaan ( Deelneming )

Tindak Pidana Bersama-sama dan berlanjut dalam kitab Undang - undang Hukum

Pidana dan Undang- undang Tindak Pidana Korupsi. Penyertaan pada dasarnya diatur dalam
pasal 55 dan 56 KUHP yang berarti bahwa ada dua orang atau lebih yang melakukan suatu

tindak pidana atau dengan perkataan ada dua orang atau lebih mengambil bahagian untuk

mewujudkan suatu tindak pidana. Secara luas dapat disebutkan bahwa seseorang turut serta

ambil bagian dalam hubungannya dengan orang lain, untuk mewujudkan suatu tindak pidana,

mungkin jauh sebelum terjadinya. Pembuat dalam Pasal 55 KUHP 13

1) Pelaku ( Pleger ) Menurut Hazewinkel Suringa yang dimaksud dengan pleger adalah

setiap orang yang dengan seorang diri telah memenuhi semua unsur dari delik seperti yang

telah ditentukan di dalam rumusan delik yang bersangkutan, juga tanpa adanya ketentuan

pidana yang mengatur masalah deelneming itu, orang-orang tersebut tetap dapat dihukum.

2) Menyuruh lakukan (Doenplegen) Menyuruh lakukan yaitu dimana auctur

intelectualis menyuruh auctor physicus (dalam hal ini auctor physicus yang tidak dapat

diminta pertanggung jawabannya) untuk melakukan tindak pidana. Auctur intelectualis tidak

berbuat secara langsung, melainkan menggunakan orang lain sebagai alat untuk mengendalikan

auctor physicus tersebut.

3) Turut Serta (Medeplegen) Menurut R. Sugandi dalam bukunya KUHP dan

Penjelasannya, turut serta diartikan melakukan bersama-sama. Dalam tindak pidana ini

pelakunya paling sedikit harus ada dua orang, yakni yang melakukan dan turut melakukan. Dan

dalam tindakannya keduanya harus melakukan perbuatan pelaksanaan. Jadi keduanya

melakukan tindak pidana itu Pembantu pembuat dalam Pasal 56 KUHP Pembantuan diatur

dalam Pasal 56 KUHP yang berbunyi “Dipidana sebagai pembantu suatu kejahatan:

-. Mereka yang sengaja memberikan bantuan pada waktu kejahatan dilakukan.

13
P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Sinar Baru: Bandung, 1990), hal. 594.
-. Mereka yang sengaja memberikan kesempatan, sarana atau keterangan untuk

melakukan kejahatan.”

b. Tindak Pidana Berlanjut (Voortgezette Handeling)

Berbicara tentang tindak pidana berlanjut (voortgezette handeling) tidak terlepas dari

apa yang disebut dengan perbarengan tindak pidana (concursus atau samenloop). Pada

dasarnya yang dimaksud dengan perbarengan ialah terjadinya dua atau lebih tindak pidana oleh

satu orang dimana tindak pidana yang dilakukan pertama kali belum dijatuhi pidana, atau

antara tindak pidana yang awal dengan tindak pidana berikutnya belum dibatasi oleh suatu

putusan hakim.14

c. Tindak Pidana Korupsi Secara Bersama-Sama Dan Berlanjut

Di dalam suatu Tindak Pidana Korupsi dikenal adanya perbuatan penyertaan

(deelneming) yang mana korupsi tersebut dilakukan secara bersama-sama guna memperoleh

keuntungan bagi pihak-pihak yang melakukannya,sehingga dampaknya akan menyebabkan

kerugian keuangan/perekonomian pada negara.

Menurut Barda Nawawi Arief : 15

Istilah pedoman pemidanaan harus dibedakan dengan pengertian pola


pemidanaan menunjukan pada suatu yang dapat digunakan sebagai model,
acuan, pegangan atau pedoman untuk membuat atau menyusun sistem sanksi
(hukum) pidana, sedangkan pedoman pemidanaan lebih merupakan pedoman
bagi hakim untuk menjatuhkan atau menerapkan pemidanaan. Jadi pedoman
pemidanaan merupakan bagi badan legislatif.

14
Ibid, hal. 109
15
Barda Nawawi Arief, Pola Pemidanaan Menurut KUHP dan Konsep KUHP, Departemen Kehakiman,
Jakarta,2001, hlm. 61.
Berkaitan dengan tujuan pemidanaan dalam Konsep KUHP tersebut, Sudarto

mengemukakan :16

“Dalam tujuan pertama tersimpul pandangan perlindungan masyarakat (social


defence), sedang dalam tujuan kedua dikandung maksud rehabilitasi dan
resosialisasi terpidana. Tujuan ketiga sesuai dengan pandangan hukum adat
mengenai “adat reactie”, sedangkan tujuan yang keempat bersifat spiritual
yang sesuai dengan sila pertama Pancasila”.

Selanjutnya, Barda Nawawi Arief juga mengemukakan :17

“Bertolak dari pemikiran, bahwa pidana pada hakikatnya hanya merupakan


alat untuk mencapai tujuan, maka Konsep pertama-tama merumuskan. tentang
tujuan pemidanaan. dalam mengidentifikasikan tujuan pemidanaan, Konsep
bertitik tolak dari keseimbangan 2 (dua) sasaran pokok, yaitu “perlindungan
masyarakat” dan “perlindungan/pembinaan individu pelaku tindak pidana”.

Dengan demikian, terdapat dua sisi sasaran aspek pokok dalam tujuan pemidanaan

sebagai kepentingan yang hendak dilindungi secara berimbang yaitu kepentingan masyarakat

dan kepentingan individu pelaku. Oleh karena itu, dapatlah dilihat bahwa perkembangan tujuan

pidana dan pemidanaan tidak lagi hanya terfokus pada upaya untuk menderitakan, akan tetapi

sudah mengarah pada upaya perbaikan-perbaikan ke arah yang lebih manusiawi.

Hal tersebut telah menjadi fenomena global bahwa masalah pendayagunaan dan upaya

mencari alternatif pidana perampasan kemerdekaan telah menjadi masalah yang bersifat

universal. Masalah ini menjadi semakin penting artinya bila dihubungkan dengan masalah

tujuan pidana dan pemidanaan yang hendak dicapai.

d. Istilah Tindak Pidana Korupsi

16
Sudarto, Pemidanaan Pidana dan Tindakan, BPHN, Jakarta, 1982, hlm. 42.
17
Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Departemen Kehakiman, Jakarta,2001, hlm.
98.
Penggunaan istilah korupsi dalam peraturan tersebut terdapat pada bagian

konsideransnya, yang antara lain menyebutkan, bahwa perbuatan-perbuatan yang merugikan

keuangan dan perekonomian Negara yang oleh khalayak ramai dinamakan korupsi.

e. Sejarah Dan Perkembangan Pengaturan Tindak Pidana Korupsi di Indonesia

Sejarah perundang-undangan korupsi di Indonesia dapat dikelompokkan dalam

beberapa peraturan perundang-undangan yang pernah lahir berkaitan dengan upaya

pemberantasan tindak pidana korupsi, diantaranya:

1. Delik-delik Korupsi dalam KUHP;


2. Peraturan Pemberantasan Korupsi Penguasa Perang Pusat (Angkatan Darat dan Laut);
3. Undang-undang No. 24 (PRP) Tahun 1960 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi;
4. Undang-undang No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
5. Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
6. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31

Tuhan 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; Pembentukan sebuah18 undang-
undang baru sebagai sebuah instrument hukum pidana dalam penanggulangan korupsi, dapat
didekati dan di analisis atas dasar 3 alasan utama, 19yaitu:

1. Alasan Sosiologis

2. Alasan praktis

3. Kebijakan Politis

Jenis-jenis pidana dalam hukum pidana korupsi sama dengan hukum pidana umum,

tetapi sistem penjatuhan pidananya ada kekhususan jika dibandingkan dengan hukum pidana

umum, yaitu sebagai berikut:

18
H. Elwi Danil, Korupsi: Konsep, Tindak Pidana, dan Pemberantasannya, (Jakarta, PT. Rajagrafindo Persada,
2011), hal. 5.
19
Ibid, hal. 17.
Hukum pidana korupsi dua jenis pidana pokok yang dijatuhkan bersamaan dapat

dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1. Penjatuhan dua jenis pidana pokok yang bersifat imperatif, yaitu antara pidana

penjara dengan pidana denda. Dua jenis pidana ini wajib dijatuhkan serentak.

penjatuhan pidana imperatif kumulatif diancamkan pada tindak pidana korupsi

yang paling berat.

2. Penjatuhan dua jenis pidana pokok yang berisfat imperatif dan fakultatif, yaitu

antara pidana penjara dengan pidana denda. Diantara dua jenis pidana pokok ini

yang wajib dijatuhkan ialah pidana penjara (imperatif), namun dapat pula

dijatuhkan secara kumulatif dengan pidana denda (fakultatif). Pidana denda tidak

wajib dijatuhkan, melainkan boleh dijatuhkan bersama-sama dengan pidana

penjara. Pemidanaan pada tindak pidana korupsi menetapkan ancaman minimum

khusus dan maksimum khusus, baik mengenai pidana penjara maupun pidana denda

dan tidak menggunakan dengan menetapkan ancaman pidana maksimum umum

dan minimum umum seperti didalam KUHP.

3. Maksimum khusus pidana penjara yang diancamkan jauh melebihi maksimum

umum dalam KUHP (15 tahun), yakni paling tinggi sampai 20 (dua puluh) tahun.

Dalam KUHP boleh menjatuhkan pidana penjara sampai melebihi batas maksimum

umum 15 (lima belas) tahun yakni 20 (dua puluh) tahun, dalam hal bila terjadi

pengulangan atau perbarengan atau tindak pidana tertentu sebagai alternatif dari

pidana mati.

4. Hukum pidana korupsi tidaklah mengenal pidana mati sebagai suatu pidana pokok

yang diancamkan pada tindak pidana yang berdiri sendiri.

Transparency Internasional mendefinisikan korupsi sebagai menyalahgunakan kekuasaan dan

kepercayaan publik untuk kepentingan pribadi.


[Link] berpendapat bahwa korupsi adalah

Perilaku yang menyimpang dari atau melanggar peraturan kewajiban normal peran,instansi

pemerintah dengan jalan melakukan atau mencari pengaruh, status dan gengsi untuk

kepentingan pribadi.

Carl J fresrich, berpendapat bahwa

Korupsi dari kepentingan umum apabila seseorang yang memegang kekuasaan atau yang

berwenang untuk melakukan hal-hal tertentu mengharapkan imbalan uang atau semacam

hadiah lainnya yang tidak diperbolehkan Undang-Undang Membujuk untuk mengambil

langkah atau menolong siapa saja yang menyediakan hadiah sehingga benar-benar

membahayakan kepentingan umum.

Menurut Sudarto tindak pidana korupsi sebagai berikut

Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, orang lain, atau suatu badan, bersifat melawan

hukum baik secara formil maupun materildan perbuatan itu secara langsung atau tidak

langsung merugikan keuangan negara dan atau perekonomian negara atau perbuatan itu

diketahui atau patut disangka oleh si pembuat bahwa merugikan negara atau perekonomian

negara.

Selo Sumardjan merumuskan korupsi yaitu :

Korupsi,kolusi dan nepotisme adalah dalam suatu napas karena ketigannya elanggar kaidah

kejujuran dan norma hukum adapun faktor pendukung korupsi kolusi dan nepotisme (KKN)

adalah 1) Pranata-pranata sosial kontrol tidak efektif lagi, penyalahgunaan kekuasaan negara

sebagai short cut mengumpulkan harta, Pembangunan ekonomi menjadi panglima

pembangunan bukan pembangunan nasional.


Adapula pengertian dan ciri-ciri korupsi menurut para pakar lainnya seperti

Menurut Robert Klitgaard, Pengertian Korupsi adalah

Suatu tingkah laku yang meyimpang dari tugas-tugas resmi jabatannya dalam negara,

dimana untuk memperoleh keuntungan status atau uang yang menyangkut diri pribadi

(perorangan, keluarga dekat, kelompok sendiri), atau melanggar aturan pelaksanaan yang

menyangkut tingkah laku pribadi. Pengertian korupsi yang diungkapkan oleh Robert yaitu

korupsi dilihat dari perspektif administrasi negara.

Korupsi menurut The Lexicon Webster Dictionary

adalah Kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral,

penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah.

Korupsi menurut Gunnar Myrdal adalah

Suatu masalah dalam pemerintahan karena kebiasaan melakukan penyuapan dan

ketidakjujuran membuka jalan membongkar korupsi dan tindakan-tindakan penghukuman

terhadap pelanggar. Tindakan pemberantasan korupsi biasanya dijadikan pembenar utama

terhadap KUHP Militer.

Korupsi menurut Mubyarto adalah

Suatu masalah politik lebih dari pada ekonomi yang menyentuh keabsahan (legitimasi)

pemerintah di mata generasi muda, kaum elite terdidik dan para pegawai pada umumnya.

Akibat yang ditimbulkan dari korupsi ini ialah berkurangnya dukungan pada pemerintah dari

kelompok elite di tingkat provinsi dan kabupaten. Pengertian korupsi yang diungkapkan

Mubyarto yaitu menyoroti korupsi dari segi politik dan ekonomi.

Syeh Hussein Alatas mengemukan pengertian korupsi sebagai berkut.


Menurut beliau korupsi ialah subordinasi kepentingan umum di bawah kepentingan pribadi

yang mencakup pelanggaran norma, tugas dan kesejahteraan umum, yang dilakukan dengan

kerahasian, penghianatan, penipuan dan kemasabodohan akan berakibat panjang yang akan

diderita oleh rakyat itu sendiri .

Pengertian Korupsi menurut Fockema Andreae,

Kata "korupsi" berasal dari bahasa latin yaitu "corruptio atau corruptus". Namun kata

"corruptio" itu berasal pula dari kata asal "corrumpere", yaitu suatu kata dalam bahasa latin

yang lebih tua. Dari bahasa latin ini kemudian turun ke banyak bahasa Eropa seperti Inggris

yaitu corruption, Prancis yaitu corruption, Belanda yaitu corruptie. Dari bahasa Belanda inilah

yang kemudian turun ke bahasa Indonesia, sehingga menjadi korupsi.

Dalam UU No.31 Tahun 1999, Pengertian korupsi

yaitu Setiap orang yang dengan sengaja secara melawan hukum untuk melakukan perbuatan

dengan tujuan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang

mengakibatkan kerugian keuangan negara atau perekonomian negara.

Black’s Law Dictionaryi Pengertian Korupsi adalah

Merupakan suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan keuntungan

yang tidak resmi dengan mempergunakan hak-hak dari pihak lain, yang secara salah dalam

menggunakan jabatannya atau karakternya di dalam memperoleh suatu keuntungan untuk

dirinya sendiri atau orang lain, yang berlawanan dengan kewajibannya dan juga hak-hak dari

pihak lain.

Alatas mengatakan ada tiga tipe fenomena yang tercakup dalam istilah korupsi yaitu :
Penyuapan (bribery), pemerasan (exortion) dan nepotisme. Dari Ketiga tipe tersebut berbeda,

namun dapat ditarik benang merah yang menghubungkan ketiga tipe korupsi itu yaitu

menempatkan kepentingan publik di bawah kepentingan pribadi dengan pelanggaran norma-

norma tugas dan kesejahteraan, yang dilakukan dengan keserbarahasiaan, pengkhianatan,

penipuan dan juga pengabaian atas kepentingan publik

Anda mungkin juga menyukai