0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan7 halaman

Azka dan Skandal Blog Tersembunyi

Diunggah oleh

7C06Dimas Radinata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan7 halaman

Azka dan Skandal Blog Tersembunyi

Diunggah oleh

7C06Dimas Radinata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

CHAPTER 5

“Du-dudududu dududung, du-dudududu dudung, du- “Dengan gerakan yang


cepat, Azka mematikan keributan alarm hpnya. “Trus ja berisik,” dia membisik ke
dirinya, ngelamun untuk beberapa menit setelah bangun. Baru saja dia ingin tidur
kembali sebelum alarm ke-duanya mulai berisik “Du-dudu- “dia langsung
mematikannya setelah alarm tersebut mulai berbunyi. “Yaya aku dah bangun!” dia
bilang dengan nada yang sedikit geram, suaranya masih terdapat jejak-jejak
ngantuk dan keinginan untuk tidur kembali, tetapi, dia memaksakan dirinya untuk
bangun. Dengan susah payahnya seseorang yang malas sekolah, Azka bangun dari
kasurnya, membersihkannya, lalu keluar kamar untuk bersiap-siap untuk pergi ke
sekolah.

Hari ini hari senin. Hari pertama dari minggu pertama dari bulan yang baru, dan
vibes harinya sudah cukup suram. Langit sudah gelap, mengancam hujan untuk
turun. Azka hadir disekolah paling pertama, karena dia berangkat lebih awal
karena takutnya dilandai hujan jika berangkat pada jam biasanya dia berangkat.
Pertama kali yang dia lihat dari baru masuk kelas adalah betapa kotornya kelas.
“Kotor juga ni kelas,” Ucap Azka, kepada dirinya. “Untung aku piket nih, hari
senin piket bersih gara-gara aku ni bos!” Dia menyemangatkan dirinya, menaruh
tas dan mengambil sapu serta serok dari belakang kelas. Dia menyapu lantai kelas,
membersihkan papan, dan membuang sampah di atas meja. Tetapi, dia tidak
mengurus sampah di kolong karena terlalu jijik untuk mengambilnya tanpa sarung
tangan, yang tidak ada dikelas, jadi dia membiarkan sampah yang di kolong. “Nah,
ini baru nice Namanya. Azka hebat banget,” Dia memberikan dirinya pujian,
senyumannya cengir.

“Duh… Laper. Pergi kantin ja dah, sarapan,” Azka berpikir, dan langsugn setuju
dengan pikirannya sendiri, Dia ambil uang dari dompetnya dan langsung pergi ke
kantin untuk membeli sarapan paginya. Dia duduk di kursi dekat kantin 3,
menikmati makannya ala-ala orang yang kelaparan berminggu. Sambil makan, dia
ngecek WAnya, siapa tahu ada pesanan penting. Sambil makan, dia asik balas WA
orang lain, biar mereka tahu dia tu hidup.
Setelah sekian waktu, dia selesai makan. Sebelum dia balik ke kelas, dia mendapat
satu pesanan baru. Saat dia melihatnya, dia agak bingung. Orangnya profil nggak
ada, save di kontak nggak ada, namanya hanya berupa huruf number hpnya.

“Siapa ni orang?” Azka bergumam, membuka chat WA dengan orang misterius itu.
Dia ingin mengetahui apa yang dikirim, siapa tahu ini pesanan penting banget.

“Aku tahu apa yang kau pernah buat.”


“Akan ku sebar wujud asli kamu.”
“Ini merupakan buktinya, bahwa engkau tidak sehebat yang mereka bilang.”
“Semoga hidup kau tidak tenang setelah ini, Azka.”

“Wih,” ujar Azka, matanya mulai melotot dengan ketakutan saat dia membaca
pesanan yang dikirim oleh orang misterius itu, Hatinya mulai berdenyut cepat, dan
matanya mengarah pada pesanan terkahirnya. Pesannannya berupa link kepada
suatu post. Tentu saja, dia pencet link itu, dan dia mulai berharap bahwa ini tidak
asli setelah melihat kemana link itu mengantarnya. Linknya mengantar ke suatu
blog dengan judul “I Hate Sisma”, blog yang Azka buat karena keselnya saat
MPLS dan karena tidak diterimanya ke dalam SMANSA. Azka bingung, “Gimana
orang random ni temu blognya?” Perasaan dia blog ini sudah cukup tengelam,
seharusnya tidak ada yang menemunya. Lalu, dia memikir. “Apakah benar dia
menyebarnya?” Azka mulai takut, tentu dia akan menerima reaksi yang amat
negatif dari siswa-siswi lainnya, bahkan dari teman-temannya juga bisa. Dia
bangun dari kursi kantin, dan bergesa kembali ke kelas.

Baru saja dia buka pintu, kelas yang awalnya sepi penuh dengan teman kelasnya
yang melototi Azka, mereka semua melihatnya seperti dia penjahat. Tatapan
mereka tajam, bahkan bisa juga menyakiti perasaannya Azka. Dia sambil melihat
lantai jalan perlahan-lahan ke bangkunya, aman dibilang bahwa dia tidak tenang
selama pembelajaran di kelas berlangsung dengan tatapan dan bisikan yang
merendahkannya. Belum beberapa hari, dan berita blog Azka sudah jauh segini
menyebar, tidak lama sebelum satu sekolah mengetahui.
Setelah istirahat pertama mulai, Azka langsung keluar kelas dan pergi ke
perpustakaan. Dia merasa bahwa hanya disana dia tidak akan ditatap mati oleh
orang. Perjalannya ke perpustakaan tidak tenang, ada saja yang menatap dia seakan
mereka sudah tahu tentang blog lama dia itu. Saat sampai, dia buka grup WA
“Havename”, disana, dia mengeluh tentang hal yang terjadi.

“E, guys, gawat nihh, bisa ketemuan ngga?” Azka mengirim pesan di grup,
mengharap balasan.
“P, bisa nggaa? Hallloooo??” Azka mengirim pesan lagi setelah beberapa menit,
harapannya mulai menghilang.

Dia mengecek info pesannya, tanda biru, semua sudah melihat, tapi tidak ada yang
menjawab. Dia langsung sadar bahwa temannya sudah tahu duluan tentang
blognya Azka, dan memilih untuk menjauhnya daripada untuk konsultasi atau
mencari tahu dengan Azka. Merasa sakit, Azka langsung keluar dari grupnya, tidak
ingin berpotensi untuk melihat pesanan yang buruk dari temannya. Dia terdiam di
perpustakaan sampai istirahat selesai, tidak ingin kembali ke kelas. Aslinya, dia
ingin kabur dari sekolah, tidak kuat dengan tatapan-tatapan tajam di luar.

“Ddrringgg! Ddrriiingggg!” Suara HP Azka bergetar, ada yang menelponnya. Dia


melihat siapa yang menelponnya, Aurel. Azka pertama ingin mengangkat
telponnya, tapi mulai ragu-ragu saat tangannya beberapa centi dari tombol angkat
telpon. Dia takut Aurel juga akan menjauhinya, takut bahwa telpon ini hanya untuk
membilang mereka putus akibat itu. Jadinya, Azka mengambil balik tangannya,
tidak jadi mengangkat telpon Aurel. Azka menunggu sampai Aurel berhenti
menelpon, dan kembali merenung.
Waktu terus berjalan, dan Azka masih saja di dalam perpustakaan. Dari istirahat
pertama sampai hampir pulang sekolah dia masih di perpustakaan, hanya lagi satu
jam-an. Dia tidak ada bergerak, hp saja tidak disentuh selama dia merenung,
bingung bagaimana solusinya jika dia kembali ke titik pertama sekolah tanpa
teman untuk membantunya. Dia merasa sendiri. Tetapi, saat dia sibuk merenung,
Azka terkejut dengan rasa tangan di pundaknya dan suara yang sungguh amat dia
kenal.
“Azkaa, kamu lagi ngapain?” Aurel bertanya, tangannya menggenggam pundak
Azka secara lembut. “H-Hah? Rel? Mu ngapain disini?” Azka jawab, rasa kejutnya
mulai menghilang dan digantikan rasa takut. Takut bahwa Aurel akan menjauhkan
diri dari Azka juga.

“Aku khawatir, Ka,” Yang dibilang Aurel membuat Azka menatap Aurel yang di
belakangnya. Dia tidak mengira bahwa Aurel akan khawatir dengannya. “… Aku
bingung, Rel, aku bingung mau ngapain,” Ujar Azka, pandangannya menjauh dari
Aurel dan kembali ke hpnya, berapa pesan dia mengabaikan karena takutnya
semuanya negatif.

“… Berarti… Benar ya, blog itu?” Aurel tanya, mengharap jawaban yang jujur dari
pacarnya, Azka gugup, tidak berani menghadap Aurel. Tetapi, dia memberanikan
diri dan menjawab. “Iya, itu beneran,” Azka bilang. “Tapi aku buat itu pas baru-
baru masuk SISMA, aku awalnya mau SMANSA, tapi masuk sini, aku pas itu
ngga suka, ditambah diomelin OSIS saat MPLS, tugasnya yang buat aku begadang,
dan ditegurin guru, jadinya aku buat blog itu. Aku buat karena aku capek, pingin
aja aku mengeluarkan amarahku,” Dia menjelaskan alasannya membuat blog itu,
berharap Aurel memercayai kejujurannya.

Aurel awalnya terdiam, sebelum menggeggam pundak Azka lebih ketat. Dia
tersenyum, sambil memijat Azka. “Ngga papa kok, Ka. Aku percaya kamu, aku
mengerti kok perasaanmu,” Ujar Aurel, meyakinkan Azka bahwa hal seperti itu
seharusnya tidak dhiraukan. “Jugaan, itu semua sudah masa lalu, jauuhh banget.
Sebaiknya, hal seperti itu tidak dibahas lagi. Kamu kan sekarang udah lebih baik,
iya kan? Jadi pecinta Sisma, sama kayak yang lain.”

“Iya juga ya, Rel,” Azka jawab balik, akhirnya otaknya dia mulai damai kembali
dengan bantuan Aurel, dia bisa berpikir jernih. “… Makasih ya, sayangku,” Azka
bilang, menatap Aurel. “Sama-sama,” Aurel menjawab, senyumnya menghangati
Azka. Sekarang, Azka tau bahwa merenung sedih tidak akan menyelesaikan
masalahnya, dia harus mencari solusi yang tepat dan yang bisa menjaga
reputasinya, serta mengembalikan kepercayaan orang lain terhadap dia.
Hari-hari berjalan, dan Azka tetap semangat sekolah walaupun ada banyak tatapan
yang kurang enak. Dia juga mulai membela dirinya, menjelaskan kepada siapa saja
yang bertanya tentang blog itu, serta mencoba untuk mengembalikan kepercayaan
orang lain yang sudah tau blog itu, kadang sukses, kadang masih ada yang tidak
mau mendengarkan alasannya. Azka juga sadar betapa susahnya untuk
memperbaiki kerusakan dari blog tersebut, karena walaupun dia menjelaskan ke
orang lain yang melihatnya, disekolah dan di sosmed, tidak semua memercayainya,
termasuk teman-teman Azka di Havename. Arhan, Vio, Radit, Nia, Adit, Dinda,
dan Fikri, bukannya percaya dengan Azka, mereka malah lebih dingin dan
melebarkan jarak diantara Azka dan mereka, ditambah mereka kick Azka dari grup
Havename.

“Aduh… Kok ngga ada yang percaya aku sih?” Azka menggaruk kepalanya,
memikirkan ide untuk dengan cepat menyelesaikan masalah yang menurutnya
seharusnya tidak sebesar gini. “Gimana dah ya, orang-orang ni keras kepala ja
Ama blog tua gitu. Gimana sih, otak mere-“ suara HP begetar membuat Azka
memotong perkataannya, ia ambil HPnya dan melihat Aurel yang menelpon dia.
Azka langsung angkat telponan Aurel.

“Iyoo Rel, halo? Ada kenapa?” Azka tanya.


“Kaa, aku ada penting ni, ku kirim ke PC ya,” Ujar Aurel, suaranya terdengar
sedikit gembira melalui speaker HP.
Azka mengecak WA pribadinya dengan Aurel, dan melihat kumpulan vidio,
sebanyak 10 yang dikirim ke dia. Azka membuka salah satu vidio yang berdurasi 1
menit, di vidio, terlihat seorang siswa yang membully siswaain di sekolah. “Apaan
ni Rel? Kok vidio orang bully-bully?” Azka bertanya, agak bingung dengan vidio
yang dikirim Aurel.
“Itu loh di Sisma, tau ngga muka bullynya?” Aurel tanya kembali.
“Ngga, emang kenapa?” Azka jawab, tambah bingung.
“Dia tu Agus, Ka, anak kelas IPA. Dia loh yang nyebar link blog mu itu,” Aurel
memberitahu Azka.
“Beneran?” Azka tanya.
“Beneran,” ujar Aurel.
“Tunggu, Agus ni siapa sih?” Azka tanya, bingung kenapa orang yang dia tidak
tahu ingin menghancurkan hidupnya.
“Duh… Gimana ya jelasin? Dia tu kayak… Iri gitu sama kamu, soalnya dia itu
dulu suka sama aku, tapi kayak posesif gitu, pokoknya serem dah. Terus, dia marah
pas tau aku pacarana sama mu, Ka,” Aurel jelasin.
“… Lah? Gara-gara hal sepele gitu? Aneh dah…” Komentar Azka, tidak percaya
bahwa orang rela menggali akun sosmednya untuk menemukan blog itu hanya
karena hal percintaan.
“Trus, aku gimanain vidio ini? Apa gunanya ngirim sih?” Azka tanya lagi, tidak
mendapatkan ide Aurel.
“Itu pake buat bela diri lah Ka, post di sosmed, jelasin ini yang nyebar, sama
bilang kalo dia tu lebih parah daripadamu. Dia loh MPLS kayak mu, marah-marah,
tapi berani aja nantang OSIS. Masalahnya tu, dia sampe sekarang masih aja gini,
bolos sering, bully sering, tugas nyuruh orang lain. Kan bisa mu ngarahan tatapan
orang ke dia aja,” Aurel menjelaskan.
“Eh, iya juga ya Rel… Pintar banget idenya,” Azka memuji, dan bisa terdengar
ketawanya Aurel sedikit dari callnya. “Yaudah, makasih ya Rel, aku matiin, dada.”
“Dadaa Kaa,” Aurel jawab balik, sebelum callnya dimatikan oleh Azka.

Dengan ide yang diberikan Aurel, Azka langsung membuka akun sosmednya dan
segera membuat post klarifikasi tentang blognya, serta bukti bahwa yang menyebar
blog awalnya, Agus, lebih parah daripadanya. Azka menulis bahwa dia membuat
blog itu karena frustrasi, capek, dan hancurnya harapan dia memasuk SMANSA,
dia menjelaskan bahwa dia sudah jauh dari masa lalunya, bahwa dia sekarang
sudah lebih membaik dan sayang pada SISMA, selalu aktif dalam event-eventnya
dan mengharumi nama sekolah melalui lomba. Dia juga menulis kalau Agus itu
lebih parah karena saat MPLS dia nantang OSIS, dan dari dulu sampai sekarang
tidak pernah berubah, dia ngeattach semua video yang Aurel kirim sebagai
buktinya, dan membilang bahwa Agus itu tidak cinta Sisma sama sekali, dia selalu
menghancur fasilitas yang disedia SISMA, mengancam dan membully murid lain,
dan selalu berperilaku jelek yang bisa menjelek nama SISMA. Setelah selesai
ditulis, Azka langsung mengeluarkan post itu. Ia berharap bahwa ini akan
menyelesaikan masalahnya.

Setelah sekian hari lewat, Azka merasakan perbedaannya setelah memposting


klarifikasi dia. Hari ber hari tatapan yang awalnya dingin mulai menghilang,
sampai akhirnya tidak ada yang menatapi Azka dengan reaksi yang buruk lagi.
Postingannya satu SISMA sudah tahu, dan banyak yang mengarahkan amarah
mereka ke Agus, yang sekarang sedang tidak sekolah akibat bukti yang ada.
Hari Jumat, seminggu jauh dari hari blog Azka tersebar, Azka akhirnya bisa bilang
bahwa masalah blog itu sudah kembali tenggelam, dan pasti tidak akan balik lagi.
Saat di kelas, lagi menikmati jam kosong, Azka melihat notifikasi WA dari HPnya,
saat dia cek, ternyata dia dimasuk kembali ke grup Havename. Akhirnya, mereka
sudah tahu kebenaran, bahwa Azka seharusnya tidak disalahin. Azka buka
grupnya, dan diserang oleh banyak pesanan minta maaf dari teman-temannya, dan
inginnya bertemu lagi dengan dia untuk menguatkan kembali ikatan pertemanan
mereka.

Akhirnya, Azka tidak ada masalah lagi. Dia bisa fokus dengan tugasnya, bersenang
dengan temannya, dan bisa bersama Aurel tanpa halangan lagi.

Anda mungkin juga menyukai