0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan22 halaman

Pertumbuhan Jamur Tiram Putih pada Serbuk Kayu

Diunggah oleh

payiscoy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan22 halaman

Pertumbuhan Jamur Tiram Putih pada Serbuk Kayu

Diunggah oleh

payiscoy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

PERTUMBUHAN DAN HASIL JAMUR TIRAM


PUTIH(Pleurotus Oestreatus) PADA BERBAGAI
KOMPOSISI SERBUK KAYU DAN POLLARD

Oleh:

SURYA ABI ALFARIZ


NIM C1012221035

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNUVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
2024

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang
telah melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat
menyelesaikan proposal penelitian yang berjudul “Pertumbuhan dan Hasil
Jamur Tiram Putih (Pleurotus Oestreatus)
pada Berbagai Komposisi Serbuk Kayu dan Pollard”.Penulisan proposal
penelitian ini dibuat sebagai syarat untuk melakukan penelitian
dilapangan, tentunya tidak terlepas dari peran, bantuan, serta bimbingan
dari berbagai [Link] memgucapkan banyak trimaksih kepada diri saya
sendiri dan orang-orang terdekat saya yang telah mensuport saya .Penulis
menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan proposal
penelitian, maka diperlukan kritik dan saran yang membangun agar
kedepannya penulisan menjadi lebih baik.

Pontianak 08 Juni 2024


Penulis

Surya Abi Alfariz


NIM C1012221035

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................. i
DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii
I. PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
A. Latar Belakang .................................................................................................. 1
B. Masalah Penelitian ............................................................................................ 3
C. Tujuan Penelitian............................................................................................... 3
[Link] ............................................................................................................ 3
[Link] PUSTAKA......................................................................................... 4
A. Landasan Teori................................................................................................... 4
1. Botani............................................................................................................ 4
2. Syarat Tumbuh............................................................................................... 5
3. Budidaya Jamur Tiram Putih.......................................................................... 6
4. Serbuk Kayu................................................................................................... 7
5. Dolomit........................................................................................................... 9
6. Pollard.............................................................................................................10
III. METODE PENELITIAN.....................................................................................12
A. Waktu Dan Tempat Penelitian...........................................................................12
B. Alat Dan Bahan Penelitian ................................................................................12
C. Rancangan penelitian ........................................................................................12
D. Pelaksanaan Penelitian......................................................................................12
E. Variable Pengamatan..........................................................................................15
F. Analisis Statistik..................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................18

iii
[Link]

A. Latar Belakang
Jamur tiram (Pleurotus Ostreatus) dinamakan demikian karena
bentuknya seperti tiram atau ovster mushroom. Jamur tiram putih
termasuk dalam kelompok Basidiomycetes, yakni kelompok jamur busuk
putih yang ditandai dengan tumbuhnya miselium berwarna putih
memucat pada sekujur media tanam. Jamur tiram adalah jamur kayu yang
tumbuh berderet menyamping pada batang kayu lapuk. Jamur ini
memiliki tubuh buah yang tumbuh mekar membentuk corong dangkal
seperti kulit kerang. Jamur tiram disebut juga Jamur Barat. Jamur tiram
merupakan salah satu jenis sayuran sehat yang sudah banyak dikenal dan
dikonsumsi. Jamur tiram putih merupakan sumber mineral yang baik,
kandungan mineral utama adalah K, Na, P, Ca, dan Fe, jamur tiram juga
berkhasiat menurunkan kadar kolestrol, mencegah diabetes, dan berperan
sebagai anti kanker, mrupakan salah satu jenis jamur konsumsi yang
cukup digemari masyarakat dan juga berguna bagi tubuh karena bergizi
tinggi dan rendah lemak sehingga permintaan dari tahun ke tahun
semakin meningkat. Oleh karena itu, upaya peningkatan hasil jamur tiram
perlu ditingkatkan.
Tingkat produktivitas jamur tiram putih ditentukan oleh
faktor lingkungan dan media tanam yang digunakan. Upaya efektif perlu
dilakukan untuk meningkatkan produksi jamur tiram putih di Indonesia.
Salah satu upaya yang dapat diterapkan yaitu melalui penggunaan media
tanam yang berkualitas, murah, dan mudah diperoleh untuk mendukung
peningkatan produksi jamur tiram putih (Amaliyah dan Rini, 2019).
Jamur tiram dapat tumbuh di berbagai media, baik yang secara
alami (batang pohon berkayu) maupun media lain. Jamur tiram untuk
budidaya memerlukan media tanam yang tepat. Media yang umum
digunakan adalah seperti serbuk kayu, jerami padi, alang-alang, ampas
tebu, kulit kacang, dan bahan media lainnya. Bahan utama media serbuk
kayu ataupun jerami padi masih memerlukan tambahan formula lain,
seperti bekatul, kapur, gips, pollard dan bahan lainnya.

1
Serbuk kayu merupakan bahan organik yang terbuat dari partikel-
partikel kecil kayu yang telah dihancurkan menjadi serbuk halus. Sebagai
media tanam, serbuk kayu digunakan untuk meningkatkan retensi air,
sirkulasi udara, dan penyaluran nutrisi kepada tanaman. Selain itu, serbuk
kayu juga dapat membantu meningkatkan struktur tanah dan memperbaiki
drainase, serbuk gergaji dimanfaatkan sebagai media baglog budidaya
jamur tiram, sebagai media tanaman hias dan bahan pembuatan pupuk
kompos.. Serbuk gergaji memilik kandungan hara N sekitar 0,23-1,96%,
kandungan P2O5 sekitar 0,00-0,09%, dan K2O sekitar 0,01-0,48%
sehingga berpotensi apabila dijadikan sebagai pupuk dasar pembenah
tanah.
Pollard merupakan hasil samping dari pengolahan gandum dengan
kandungan nutrisi yang rendah, energi metabolisme 1140 kkal/kg, protein
11,8 %, serat 11,2 %, dan lemak (Ichwan, 2003). Berdasarkan Food Data
Central USDA tahun 2021 diketahui bahwa 100g pollard mengandung
energi 216 kkal,protein 15,6 g,lemak 4,25 g,karbohidrat 64,5g,kalsium
73mg,fosfor 1,010 mg,besi 10,6 mg,serta air 9,89 g., Pollard merupakan
kulitari gandum yang halus, mempunyai kandungan serat dan protein
yang cukup,umumnya digunakan untuk meningkatkan kandungan serat
pada makanan (terutama roti whole wheat) dan dapat juga dijadikan
pakan ternak. Hasil samping penggilingan gandum ini merupakan sumber
protein yang digunakan sebagai pakan ternak. Pratiwi (2023) pada
penelitiannya memberikan pollard pada media tanam jamur tiram dengan
serbuk kayu. Dosis pollard yang digunakan 10-30%. Hali penelitian
tersebut menunjukkan bahwa Pemberian dosis pollard berpengaruh nyata
terhadap parameter waktu awal tumbuh miselium, diameter terpanjang
tudung buah, berat tubuh buah per panen, berat tubuh buah total, serta
persentase efisiensi biologi. Berpengaruh sangat nyata pada waktu awal
tumbuh tubuh buah dan berat tubuh buah per baglog. Penambahan pollard
dari dosis 10, 20 dan 30% mengalami peningkatan untuk beberapa
parameter pertumbuhan dan produktivitas. Berdasarkan penelitian
tersebut, penambahan pollard dengan dosis yang lebih tinggi diduga dapat

2
meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas jamur tiram. Oleh karena
itu, penelitian tentang pemberian dosis pollard dengan berbagai dosis
yang lebih tinggi dengan kombinasi serbuk kayu perlu dilakukan sehingga
pertumbuhan dan produktivitas jamur tiram meningkat.

B. Masalah penelitian
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana
pertumbuhan dan produktivitas jamur tiram pada berbagai komposisi
serbuk kayu dan pollard?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitaian ini adalah untuk mengetahui komposisi
pertumbuhan dan produktivitas jamur tiram pada berbagai komposisi
serbuk kayu dan pollard
D. Hipotesis
Diduga pemberian pollard dapat meningkatkan pertumbuhan dan
hasil jamur tiram putih pada berbagai komposisi serbuk kayu

3
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Botani
Kedudukan taksonomi jamur tiram putih menurut Alexopoulos (1962)
dalam Djarijah dan Djarijah (2001), adalah sebagai berikut:
Kingdom : Myceteae
Divisio : Amastigomycota
Sub-divisio : Basidiomycotea
Kelas : Basidiomycetes
Ordo : Agaricales
Familia : Agaricaceae
Genus : Pleurotus
Spesies : Pleurotus ostreatus Jacq
Morfologi jamur tiram adalah sebagai berikit:
Jamur tiram (Pleurotus spp.) merupakan salah satu jamur yang banyak
dibudidayakan dan dikonsumsi di Indonesia. Jamur ini memiliki ciri khas
bentuk tubuh buahnya yang menyerupai tiram, dengan tudung yang lebar
dan tangkai yang eksentrik (tumbuh di samping).
Berikut adalah uraian morfologi jamur tiram secara lebih detail:
a. Tudung (pileus)
-bentuk: Beragam, umumnya cembung, bisa juga berbentuk kipas,
cekung, atau infundibuliform (berbentuk corong).
-Ukuran: Diameter 5-20 cm, tergantung jenis dan kondisi budidaya.
-Permukaan: Halus, licin, atau sedikit berbulu, dengan warna yang
beragam, seperti putih, krem, abu-abu, coklat, kuning, oranye, bahkan
merah muda.
-Tepi: Tajam, bergelombang, atau berlobang.
b. Tangkai (stipe)
-Bentuk: Silindris, pipih, atau eksentrik (tumbuh di samping tudung).
-Ukuran: Panjang 2-10 cm, diameter 1-3 cm, tergantung jenis dan kondisi
budidaya.

4
-Warna: Putih, krem, atau coklat.
-Permukaan: Halus, licin, atau sedikit berbulu.
c. Hymenofora
-Bagian bawah tudung mengandung spora
-Bentuk Beragam, bisa lamel (daun-daun tipis), pori-pori, atau tabung.
-Warna: Putih, krem, abu-abu, coklat, kuning, oranye, atau merah muda,
tergantung jenis jamur.
d. Miselium
Jaringan hifa yang membentuk tubuh vegetatif jamur.
Berwarna putih atau krem.
Tumbuh pada substrat tempat jamur tiram dibudidaya
2. Syarat Tumbuh
Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan jamur pangan yang populer
dibudidayakan karena mudah ditanam dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Untuk tumbuh optimal, jamur tiram membutuhkan beberapa syarat
berikut:
A. Media Tanam
Bahan: Jamur tiram dapat tumbuh pada berbagai media tanam, seperti
jerami padi, bagas tebu, ampas kopi, serbuk kayu, dan kapas.
Syarat: Media tanam harus steril, memiliki kandungan air yang cukup
(60-80%), dan memiliki pH yang netral (6-7).
B. Suhu
Pertumbuhan miselium: Suhu ideal untuk pertumbuhan miselium jamur
tiram adalah 22-28°C.
Pembentukan tubuh buah: Suhu ideal untuk pembentukan tubuh buah
jamur tiram adalah 16-22°C.
C. Kelembaban Udara
Pertumbuhan miselium: Kelembaban udara ideal untuk pertumbuhan
miselium jamur tiram adalah 60-80%.
Pembentukan tubuh buah: Kelembaban udara ideal untuk pembentukan
tubuh buah jamur tiram adalah 80-90%.
D. Cahaya

5
Pertumbuhan miselium: Jamur tiram tidak membutuhkan cahaya pada
fase pertumbuhan miselium.
Pembentukan tubuh buah: Jamur tiram membutuhkan sedikit cahaya (50-
300 lux) pada fase pembentukan tubuh buah.
E. Ventilasi
Ventilasi yang baik diperlukan untuk menjaga pertukaran udara dan
mencegah penumpukan gas CO2 yang dapat menghambat pertumbuhan
jamur tiram.
F. Kebersihan
Ruangan dan peralatan budidaya jamur tiram harus selalu dijaga
kebersihannya untuk mencegah kontaminasi oleh hama dan penyakit.
3. Budidaya Jamur Tiram
A. Persiapan
-Pilih jenis jamur tiram: Pilihlah jenis jamur tiram yang sesuai dengan
kondisi lingkungan dan pasar di daerah Anda. Beberapa jenis jamur tiram
yang populer dibudidayakan di Indonesia antara lain:
-Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus): Varietas yang paling umum
dibudidayakan, berwarna putih dengan tudung berbentuk kipas.
-Jamur Tiram Raja (Pleurotus ostreatus var. cystidiosus): Memiliki tudung
besar dan tebal dengan warna putih krem.
-Jamur Tiram Pink (Pleurotus djamor): Berwarna pink dengan tudung
berbentuk kipas.
-Jamur Tiram Coklat (Pleurotus ostreatus var. florida): Berwarna coklat
dengan tudung berbentuk kipas.
-Siapkan media tanam: Media tanam yang umum digunakan untuk
budidaya jamur tiram adalah jerami padi, bagas tebu, ampas kopi, serbuk
kayu, dan kapas. Pastikan media tanam yang Anda gunakan steril,
memiliki kandungan air yang cukup (60-80%), dan memiliki pH yang
netral (6-7).
-Siapkan ruangan budidaya: Ruangan budidaya jamur tiram harus bersih,
terhindar dari hama dan penyakit, dan memiliki ventilasi yang baik. Suhu
ideal untuk budidaya jamur tiram adalah 16-22°C dan kelembaban
udaranya 80-90%.
-Siapkan bibit jamur tiram: Bibit jamur tiram dapat dibeli dari
pembudidaya jamur tiram yang terpercaya. Pastikan bibit jamur tiram
yang Anda beli berkualitas baik dan bebas dari hama dan penyakit.

6
B. Penanaman
-Sterilisasi media tanam: Sterilisasi media tanam dapat dilakukan dengan
cara dikukus selama 2-3 jam atau direbus selama 30 menit.
-Pembuatan baglog: Baglog adalah wadah untuk media tanam jamur
tiram. Baglog biasanya terbuat dari plastik atau karung plastik.
-Inokulasi bibit: Masukkan bibit jamur tiram ke dalam baglog yang berisi
media tanam steril.
-Inkubasi: Simpan baglog di ruangan yang gelap dan lembab dengan suhu
22-28°C selama 10-14 hari untuk pertumbuhan miselium.
-Pemeliharaan: Setelah miselium tumbuh penuh, pindahkan baglog ke
ruangan budidaya dengan suhu 16-22°C dan kelembaban udara 80-90%.
Lakukan penyiraman secara teratur untuk menjaga kelembaban media
tanam.
-Panen: Jamur tiram dapat dipanen setelah 7-10 hari setelah pemindahan
ke ruangan budidaya. Petik jamur tiram dengan hati-hati agar tidak
merusak miselium.
C. Pasca Panen
-Sortasi: Setelah panen, jamur tiram harus disortir untuk memisahkan
jamur yang berkualitas baik dengan jamur yang tidak layak jual.
-Pengemasan: Jamur tiram yang telah disortir dikemas dengan rapi dan
aman untuk menjaga kesegarannya.
-Penyimpanan: Jamur tiram dapat disimpan di lemari es dengan suhu 4°C
untuk memperpanjang umur simpannya.
4. Serbuk Kayu
Serbuk kayu, yang juga dikenal sebagai sawdust atau wood dust, adalah
material yang terdiri dari potongan-potongan kecil kayu yang umumnya
dihasilkan dari proses penggergajian, pembuatan furniture, atau kegiatan
pertukangan lainnya. Ukuran serbuk kayu dapat bervariasi, mulai dari
partikel halus hingga potongan kecil kayu yang lebih besar. Serbuk
merupakan salah satu bentuk limbah industri penggergajian kayu jati dan
belum banyak dimanfaatkan. Hasil penelitian pada beberapa industri
penggergajian kayu jati di Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa limbah
yang dihasilkan rata- rata 52,56% dari bahan baku jati yang digunakan
(Arif dan Sanusi, 2001), termasuk di antaranya bentuk serbuk. Selain
pemanfaatan serbuk kayu secara komersil untuk pembuatan briket arang
atau charcoal (Hendra dan Darmawan, 2000), juga digunakan sebagai
media tumbuh jamur tiram Pleurothus sp., yang dikombinasikan dengan
bahan lain seperti bekatul dan CaCO3 (Marlina dan Siregar, 2001).Serbuk

7
kayu merupakan salah satu bahan media tanam yang umum digunakan
untuk budidaya jamur tiram. Serbuk kayu memiliki beberapa kelebihan
dan kekurangan sebagai media tanam jamur tiram, antara lain:
A. Kelebihan
-Mudah diperoleh: Serbuk kayu dapat diperoleh dengan mudah dan
murah dari industri penggergajian kayu atau mebel.
-Harga murah: Serbuk kayu merupakan bahan media tanam yang relatif
murah dibandingkan dengan bahan media tanam lainnya.
-Kapasitas air tinggi: Serbuk kayu memiliki kapasitas air yang tinggi,
sehingga dapat menjaga kelembaban media tanam dengan baik.
-Sumber nutrisi: Serbuk kayu mengandung beberapa nutrisi yang
dibutuhkan oleh jamur tiram untuk tumbuh.
B. Kekurangan
-Kandungan lignin tinggi: Serbuk kayu mengandung lignin yang tinggi,
yang dapat menghambat pertumbuhan miselium jamur tiram.
-Heterogenitas: Serbuk kayu dari berbagai jenis kayu memiliki komposisi
yang berbeda-beda, sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan jamur
tiram.
-Kontaminasi: Serbuk kayu dapat terkontaminasi oleh hama dan penyakit,
sehingga perlu dilakukan sterilisasi sebelum digunakan.
[Link]-jenis Serbuk Kayu untuk Media Jamur Tiram
Tidak semua jenis serbuk kayu dapat digunakan sebagai media tanam
jamur tiram. Berikut adalah beberapa jenis serbuk kayu yang umum
digunakan untuk budidaya jamur tiram:
-Serbuk kayu sengon: Serbuk kayu sengon merupakan jenis serbuk kayu
yang paling umum digunakan untuk media tanam jamur tiram karena
mudah diperoleh, murah, dan memiliki kapasitas air yang tinggi.
-Serbuk kayu mahoni: Serbuk kayu mahoni memiliki kandungan lignin
yang lebih rendah dibandingkan dengan serbuk kayu sengon, sehingga
dapat meningkatkan pertumbuhan miselium jamur tiram.
-Serbuk kayu jati: Serbuk kayu jati memiliki kandungan lignin yang
tinggi, sehingga perlu diolah terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai
media tanam jamur tiram.
-Serbuk kayu kapuk: Serbuk kayu kapuk memiliki tekstur yang halus dan
ringan, sehingga dapat meningkatkan aerasi media tanam.
[Link] Serbuk Kayu untuk Media Jamur Tiram

8
Sebelum digunakan sebagai media tanam jamur tiram, serbuk kayu perlu
diolah terlebih dahulu untuk:Menurunkan kandungan lignin: Lignin dapat
menghambat pertumbuhan miselium jamur tiram, sehingga perlu
diturunkan kandungannya. Penurunan kandungan lignin dapat dilakukan
dengan cara fermentasi, kompos, atau pre-treatment [Link]
media tanam: Serbuk kayu dapat terkontaminasi oleh hama dan penyakit,
sehingga perlu dilakukan sterilisasi sebelum digunakan. Sterilisasi dapat
dilakukan dengan cara dikukus, direbus, atau menggunakan bahan kimia
[Link] kayu merupakan salah satu bahan media tanam yang
dapat digunakan untuk budidaya jamur tiram. Serbuk kayu memiliki
beberapa kelebihan dan kekurangan, sehingga perlu diolah terlebih dahulu
sebelum digunakan. Jenis serbuk kayu yang umum digunakan untuk
budidaya jamur tiram antara lain serbuk kayu sengon, mahoni, jati, dan
kapuk.
5. Dolomit
Kapur dolomit, juga dikenal sebagai batu dolomit atau batu kapur
magnesium, adalah batuan sedimen yang tersusun atas mineral dolomit
(CaMg(CO3)2). Kapur dolomit memiliki banyak manfaat, terutama dalam
bidang pertanian dan industri. Kapur dolomit (CaMg(CO₃)₂), selain
berfungsi untuk menaikkan pH juga sebagai sumber hara penyedia
kalsium (Ca²⁺) dan Magnesium (Mg²⁺) yang diperlukan tanaman dalam
jumlah yang banyak (hara makro sekunder). Hasil penelitian Setiawan
(2008) bahwa pemberian kapur dolomit dosis 300 g/pohon dapat
meningkatkan produksi getah Agathis sp (kopal). Hasil penelitian Zahrah
(2009) bahwa pemberian kapur setara 1 x Al-dd dapat menigkatkan pH
tanah dari 4,45 - 5,60 (sangat masam-agak masam) dan menurunkan
kandungan Al-dd sebesar 57,09% yaitu dari 2,61 c mol/kg tanah menjadi
1,12 c mol/kg pada Ultisol. Hasil penelitian Megawati et al. (2014) bahwa
pemberian kapur dosis 750 g dan 1.500 g/lubang tanam pada tanah bekas
tambang batubara memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap
pertumbuhan tinggi tanaman Acacia mangium.
beberapa pengetahuan tentang kapur dolomit:
1. Sifat-sifat Kapur Dolomit:
-Warna: Kapur dolomit umumnya berwarna putih, krem, atau abu-abu.
-Tekstur: Kapur dolomit memiliki tekstur yang keras dan berbutir halus.
-Kelarutan: Kapur dolomit larut dalam air, tetapi lebih lambat daripada
kapur kalsium (CaCO3).
-pH: Kapur dolomit memiliki pH alkalis (basa), sekitar 8-9.
-Kandungan: Kapur dolomit mengandung kalsium (Ca) dan magnesium
(Mg) dalam proporsi yang hampir sama (sekitar 50% Ca dan 50% Mg).

9
2. Manfaat Kapur Dolomit:
-Meningkatkan pH tanah: Kapur dolomit dapat digunakan untuk
menetralkan tanah yang masam dan meningkatkan pH tanah ke tingkat
yang ideal untuk pertumbuhan tanaman.
-Menyediakan nutrisi: Kapur dolomit menyediakan kalsium dan
magnesium yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Kalsium
membantu memperkuat struktur dinding sel tanaman, sedangkan
magnesium membantu proses fotosintesis dan metabolisme tanaman.
-Meningkatkan kesuburan tanah: Kapur dolomit dapat membantu
meningkatkan kesuburan tanah dengan meningkatkan aktivitas
mikroorganisme tanah dan meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi
tanaman.
-Memperbaiki struktur tanah: Kapur dolomit dapat membantu
memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan agregasi partikel tanah
dan mengurangi erosi tanah.
-Bahan baku industri: Kapur dolomit digunakan dalam berbagai industri,
seperti industri kertas, kaca, dan konstruksi.
-Kapur dolomit dapat diaplikasikan langsung ke tanah dalam bentuk
bubuk atau butiran.
-Dosis yang digunakan tergantung pada tingkat keasaman tanah dan jenis
tanaman yang ditanam.
-Kapur dolomit sebaiknya diaplikasikan beberapa minggu sebelum tanam
atau saat pengolahan tanah.
-Kapur dolomit dapat dicampur dengan pupuk kandang atau kompos
untuk meningkatkan efektivitasnya.
4. Dampak Negatif Penggunaan Kapur Dolomit Berlebihan:
Penggunaan kapur dolomit berlebihan dapat meningkatkan pH tanah
terlalu tinggi, yang dapat menyebabkan keracunan kalsium dan
magnesium pada tanaman.
Penggunaan kapur dolomit berlebihan juga dapat mengganggu
ketersediaan unsur hara lain dalam tanah.
Kapur dolomit adalah bahan yang bermanfaat untuk meningkatkan
kualitas tanah dan pertumbuhan tanaman. Namun, penting untuk
menggunakan kapur dolomit dengan tepat dan sesuai dengan dosis yang
dianjurkan untuk menghindari dampak negatif.
6. Pollard
Pollard merupakan kulit gandum yang memiliki ukuran kecil dengan

10
tekstur yang lebih halus. Pollard memiliki kadar serat yang tinggi serta
granulasi yang lebih kecil. Pollard mengandung nilai gizi dan karbohidrat
yang cukup tinggi. Kandungan nutrisi pollard cukup baik, dengan energi
metabolis 2.103 kkal/kg, phospor (P) yang cukup tinggi, ferum (Fe),
tetapi kandungan kalsium (Ca) rendah (Juniyanto, 2015). Berdasarkan
Food Data Central USDA tahun 2021, diketahui bahwa dalam 100 g
pollard mengandung energi 216 kkal, protein 15,6 g, lemak 4,25 g,
karbohidrat 64,5 g, kalsium 73 mg, fosfor 1.010 mg, besi 10,6 mg, serta
air 9,89 g. Hasil penelitian Hasan et al. (2015), pemberian dosis 10%
pollard mencapai rata-rata bobot tubuh buah dan jumlah tubuh buah
jamur tiram putih tertinggi. Penggunaan dosis 20% pollard pada media
tanam jamur mampu mempercepat pertumbuhan miselium jamur tiram
putih, sehingga waktu panen akan semakin pendek serta mampu
menambah diameter jamur (Ashrafi et al., 2014). Pemberian pollard
dengan dosis 30% memiliki jumlah tubuh buah jamur tiram putih
terbanyak (Moonmoon, 2011). Komposisi media tanam berupa pollard
mampu mempercepat pertumbuhan miselium pada media tanam dan
menghasilkan kecepatan pertumbuhan yang lebih baik, karena media
tanam mendapat tambahan nutrisi dari pollard serta adanya kandungan
karbohidrat yang tinggi pada pollard mampu menunjang pertumbuhan
miselium jamur yang diketahui bahwa karbohidrat menjadi komponen
esensial semua organisme dalam menyusun sel dan sumber energi
(Maulidina dkk., 2015).
Pollard sebagai nutrisi tambahan pertumbuhan jamur tiram putih
memerlukan bahan baku pendukung. Bahan baku pendukung yang
mampu memacu pertumbuhan tubuh buah serta mengatur pH media
tanam yaitu dengan penambahan dolomit. Dolomit memiliki kandungan
Mg dan Ca yang berperan dalam membantu pertumbuhan miselium jamur
(Astawan dan Febrinda, 2010). Menurut Warisno dan Dahana (2011),
dolomit menjadi sumber mineral yang dapat mendukung pertumbuhan
jamur, meningkatkan pH media tanam, dan meningkatkan konsistensi
media tanam jamur.

11
III. METODE PENELITIAN

A. Waktu Dan Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan selama 3 bulan,Penelitian ini
dilakukan di rumah jamur yang terletak di Desa Rasau Jaya Tiga,
Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.
B. Alat Dan Bahan
1. Bahan
Bahan yang digunakan yaitu benih jamur tiram putih F1, serbuk
kayu, pollard, kapur dolomit, air, dan alkohol.
2. Alat
Skop,ember, alat pres baglog, rak bertingkat dari kayu,kantong
plastik,
karet gelang, koran, cicin dari paralon, steamer, terpal, dan
timbangan.
C. Rancangan penelitian
Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5
perlakuan komposisi media tanam. Setiap perlakuan terdiri dari 5
ulangan sehingga terdapat 25 unit baglog percobaan. Faktor
perlakuan terdiri dari:
P0 = 100% serbuk kayu
P1 = Pollard 15% + Serbuk kayu 85%
P2 = Pollard 30% + Serbuk kayu 70%
P3 = Polard 45% + Serbuk Kayu 55%
P4 = Pollard 60% + Serbuk kayu 40%
D. Pelaksanaan Penelitian
1. Persiapan
Kumbung yang digunakan dibuat tertutup dengan beralas lantai,bersisi
tembok, dan dilengkapi dengan atap genteng supaya kumbung tidak
terkena cahaya matahari secara langsung dan memiliki suhu ruang yang
lembap. Luas kumbung sebesar 8,12 m2. Selanjutnya, rak yang
digunakan untuk tata letak setiap perlakuan media jamur tiram putih
memiliki panjang 270 cm dengan lebar 40 cm (8 baris ke atas, setiap
baris terdapat 2 baglog masing-masing perlakuan) dengan jarak antar rak
40 cm, terdapat 3 rak dengan 8 tingkat. Kumbung yang digunakan

12
kemudian dilakukan penyemprotan dengan air pada seluruh sisi tembok
dan alas supaya kumbung tetap lembap dengan menggunakan alat
sprayer.
2. Persiapan media
Menyiapkan media yang digunakan yaitu serbuk kayu sengon,sabut
kelapa, pollard dan dolomit. Serbuk kayu sengon diperoleh dari industri
penggergajian kayu. Selanjutnya, sabut kelapa yang telah disiapkan
dibersihkan dari kotoran dan dicacah menggunakan alat sasak. Cacahan
sabut kelapa dikeringkan dibawah sinar matahari untuk mengurangi
kadar airnya. Setelah kering, sabut kelapa diayak untuk menghasilkan
serat sabut yang halus.
3. Pembuatan campuran media tanam baglog
Semua bahan yang telah disiapkan dicampur sesuai dengan perlakuan
(lampiran 11). Masing-masing perlakuan dicampur sampai homogen dan
ditambahkan air sebanyak 60% serta dolomit sebanyak 1% dan
dimasukkan ke dalam plastik poly propylene ukuran 18 cm x 35 cm yang
telah diberi kode perlakuan. Setelah itu, media dipadatkan menggunakan
alat press baglog dan diberi cincin pada leher plastik. baglog yang sudah
diberi cincin ditutup dengan tutup cincin.
4. Sterilisasi baglog
Sterilisasi dilakukan dengan menggunakan oven pada suhu 80-121oC
selama 6-9 jam. Pemanas yang digunakan yaitu berupa kompor gas dan
tabung gas. Baglog dimasukkan ke dalam oven yang telah diberi air
dibagian permukaan oven. Baglog ditata dengan posisi menghadap ke
atas secara rapat sesuai alas oven. Oven ditutup dengan pintu yang
terbuat dari besi yang telah dilengkapi dengan alat pengatur suhu. Setelah
itu, baglog dapat dikeluarkan dari oven dan dipindahkan ke dalam
kumbung yang bersih serta didiamkan sampai dingin selama 6-12 jam
sebelum dilakukan inokulasi dengan biakan F2.
5. Penanaman bibit
Penanaman bibit dilakukan setelah proses sterilisasi [Link] jamur
yang ditanam berasal dari bibit F2 yang merupakan hasil turunan dari
biakan F1. Pada proses inokulasi, dilakukan diruang yang steril dengan
tahapan penanaman sesuai prosedur sterilisasi yaitu membersihkan
tempat penanaman, membersihkan alat dengan spiritus, dan
menggunakan spiritus ditelapak tangan. Bibit jamur yang berasal dari
biakan F2 diaduk dan diambil dengan pinset panjang 30 cm dan
dimasukkan ke dalam baglog yang sebelumnya penutup mulut baglog
dibuka terlebih dahulu. Bibit yang dimasukkan sesuai dengan lubang
yang ada pada baglog sampai leher baglog. Setelah itu, baglog dipasang

13
cincin pada mulut baglog dan ditutup dengan kertas korankemudian
diikat menggunakan karet gelang sampai rapat untukmeminimalisir
bakteri yang tidak diinginkan masuk ke dalam media.
6. Penyimpanan baglog
Setelah dilakukan penanaman bibit, baglog dipindahkan ke dalam
kumbung budidaya untuk penumbuhan miselium jamur sampai
tumbuhnya bakal buah. Masa inkubasi dilakukan didalam kumbung
selama 40 hari dengan suhu 26oC dengan kelembapan 70%. Membuka
bagian tutup baglog, apabila miselium telah menutupi seluruh permukaan
baglog.
7. Pemeliharaan
a) Pengkabutan
Pemeliharaan baglog jamur tiram putih meliputi pengkabutan kumbung
dengan menggunakan air yang dikabutkan secara rutin pagi dan sore hari
setiap 3 hari sekali atau saat kondisi kelembapan kumbung menurun
dimulai pada hari ketiga setelah tanam. Pengkabutan bertujuan untuk
menjaga kelembapan tempat serta media jamur. Pengkabutan dilakukan
dengan menggunakan sprayer yang diisi air bersih. Air disemprotkan ke
bagian atap secara merata sampai kumbung terasa lebih sejuk dari
sebelumnya.
b) Pengendalian hama dan penyakit
Hama yang menyerang di antaranya tungau (Dermanyssus
gallinae), semut (Lasius niger), dan terdapat penyakit neurospora (jamur
kontaminan). Pengendalian dilakukan secara mekanik, hama semut
dikendalikan dengan pemberian kapur semut serta dengan penyemprotan
air untuk pengendalian tungau. Penyakit yang menyerang yaitu
neurospora pada beberapa baglog dikendalikan secara mekanik, yaitu
dengan membuang jamur oncom serta mengganti kertas koran yang
terkena jamur oncom tersebut.
c) Penorehan
Baglog ditoreh menggunakan cutter steril pada bagian atas,
dan belakang dengan membentuk huruf X. Penorehan dilakukan setelah
miselium telah menutupi seluruh permukaan baglog yaitu antara hari ke-
35 sampai ke-40 setelah tanam. Penorehan bertujuan untuk memberi
ruang untuk tubuh buah jamur muncul keluar plastik.
d) Panen
Panen dilakukan pada saat jamur tiram putih berumur hari setelah tanam
(hst) yang ditandai telah munculnya tudung jamur tiram berwarna putih

14
tebal. Panen jamur tiram putih dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu kali
budidaya. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut bagian pangkal
jamur tiram putih tanpa meninggalkan bekas tumbuh jamur yang telah
dipanen menggunakan tangan
E. Variable Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada 5 contoh baglog tiap kombinasi perlakuan
dengan parameter pengamatan meliputi :
1. Waktu awal tumbuh miselium (hari)
Pengamatan waktu awal tumbuh miselium dilakukan pada saat awal
miselium tumbuh pada media baglog jamur. Waktu awal tumbuh
miselium ditandai dengan adanya benang-benang putih yang muncul di
permukaan media tanam baglog.
2. Waktu awal tumbuh tubuh buah (hari)
Pengamatan waktu awal tumbuh tubuh buah jamur dilakukan pada saat
jamur mulai tampak menonjol keluar dari media tanam baglog. Ciri-ciri
awal tumbuhnya tubuh buah ditandai dengan munculnya spora dan
tudung jamur tiram putih pada sobekan atau lubang keluar jamur.
3. Jumlah tubuh buah jamur per baglog (buah)
Jumlah tubuh buah jamur merupakan banyaknya tubuh buah jamur per
baglog yang dipanen. Jumlah tubuh buah jamur didapat dengan
menghitung tubuh buah yang tumbuh dalam setiap panen.
4. Diameter terpanjang tudung buah (cm)
Diameter tudung buah jamur tiram putih diukur setiap panen pada bagian
tudung yang memiliki diameter terpanjang menggunakan penggaris.
5. Berat tubuh buah per panen (g)
Berat tubuh buah jamur tiram putih ditimbang menggunakan timbangan
digital yang dilakukan pada saat panen. Berat tubuh buah per panen
dihitung dengan menjumlahkan berat tubuh buah jamur dengan letak
tumbuh yang berbeda disetiap panen.
6. Berat tubuh buah per baglog (g)
Berat tubuh buah per baglog dihitung dengan menjumlahkan berat tubuh
buah jamur yang telah tumbuh selama 3 kali panen.
7. Berat tubuh buah total (g)
Berat tubuh buah total dihitung dengan menjumlahkan berat total jamur
tiram putih dari 5 sampel setiap kombinasi perlakuan selama 3 kali panen
pada setiap baglognya.

15
F. Analisis Statistik
Rancangan Acak Lengkap (RAL) adalah salah satu rancangan percobaan
yang paling umum digunakan dalam penelitian ilmiah. RAL digunakan
untuk membandingkan pengaruh beberapa perlakuan terhadap suatu
variabel respon. Dalam RAL, setiap perlakuan diulang beberapa kali
(ulangan) dan setiap ulangan dilakukan secara acak pada unit percobaan
yang berbeda.
Asumsi Dasar RAL
Independensi: Data pengamatan pada setiap unit percobaan saling
independen satu sama lain.
Normalitas: Data pengamatan pada setiap perlakuan mengikuti distribusi
normal.
Homoskedastisitas: Varians data pengamatan pada setiap perlakuan sama.
Model Statistik RAL
Model statistik RAL untuk data satu ulangan dapat dituliskan sebagai
berikut:
Yij = μ + αi + εij
Keterangan:
Yij: Nilai variabel respon pada unit percobaan ke-j pada perlakuan ke-i
μ: Rata-rata umum
αi: Efek perlakuan ke-i
εij: Kesalahan acak pada unit percobaan ke-j pada perlakuan ke-i
Analisis Ragam
Analisis ragam digunakan untuk menguji apakah terdapat perbedaan
yang signifikan secara statistik antara efek perlakuan. Uji statistik yang
digunakan dalam RAL adalah uji F.

Table rumus RAL


Rumus keterangan
Rata-rata perlakuan: X̄ i = ΣYij Rata-rata nilai variabel respon pada perlakuan
/n ke-i

16
Rata-rata umum: X̄ = ΣΣYij / Rata-rata nilai variabel respon secara
nt keseluruhan
Jumlah kuadrat total (JKT): Mengukur total variasi nilai variabel respon
ΣΣ(Yij - X̄ )^2
Jumlah kuadrat perlakuan Mengukur variasi nilai variabel respon yang
(JKP): ntΣ(X̄ i - X̄ )^2 disebabkan oleh perlakuan
Jumlah kuadrat galat (JKS): Mengukur variasi nilai variabel respon yang
ΣΣ(Yij - X̄ i)^2 tidak disebabkan oleh perlakuan
Derajat bebas total (dbT): nt - Jumlah total unit percobaan dikurangi satu
1
Derajat bebas perlakuan Jumlah perlakuan dikurangi satu
(dbP): t - 1
Derajat bebas galat (dbG): nt - Jumlah total unit percobaan dikurangi jumlah
t perlakuan
Rata-rata kuadrat perlakuan Rata-rata variasi nilai variabel respon yang
(KTp): JKP / dbP disebabkan oleh perlakuan per unit percobaan
Rata-rata kuadrat galat Rata-rata variasi nilai variabel respon yang tidak
(KTg): JKS / dbG disebabkan oleh perlakuan per unit percobaan
F hitung: KTp / KTg Nilai statistik uji F
F tabel: Nilai F yang diperoleh
dari tabel distribusi F dengan
derajat bebas perlakuan dan
derajat bebas galat pada tingkat
signifikansi tertentu (α)

RAL adalah metode analisis statistik yang digunakan untuk


membandingkan pengaruh beberapa perlakuan terhadap suatu variabel
respon. Asumsi dasar RAL adalah independensi, normalitas, dan
homoskedastisitas. Analisis ragam digunakan untuk menguji apakah
terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara efek perlakuan.

17
DAFTAR PUSTAKA

akiyah, E., H.U. Hasanah, dan D.N.R. Sari. 2017. Persilangan Jamur Tiram Coklat
(Pleurotus cytidiosus) dengan Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus)
Varietas Grey-Oyster Menggunakan Metode Fusi Miselium Monokarion.
Jurnal Bioma, 6(2): 11-20
Apriyani, S., Budiyanto, dan H. Bustamam. 2017. Produksi dan Karakteristik Jamur
Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) pada Media Tandan Kosong Kelapa Sawit
(TKKS). Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan,
7(1): 3-7.
Damanhuri dan E.A. Wahyuningtyas. 2019. Karakterisasi dan Identifikasi
Keragaman Jamur Tiram di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Jurnal Produksi
Tanaman, 7(10): 1835–1843.
Gustiawati, D., & Asih, S. (2018). Analisis Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
Aplikasi SPSS. Jurnal Statistika dan Komputasi, 12(2), 117-124.
[Link]
dengan-serbuk-gergaji-yang-sederhana-dan-mudah
[Link]
[Link]
[Link]
Istiqomah, N., dan S. Fatimah. 2014. Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram pada
Berbagai Komposisi Media Tanam, Ziraa’ah: Majalah Ilmiah Pertanian,
39(3):95-99.
Istuti, W. 2018. Budidaya Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus). Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian Jawa Timur. Malang.
Lianah. 2020. Budidaya Jamur Pangan Konsumsi Lokal. Alinea Media Dipantara.
Semarang.
Tunggul, Naibaho. RESPONS PERTUMBUHAN TANAMAN SENGON
SOLOMON (Paraserienthes falcataria moluccana subsp Solomonensis)
TERHADAP PEMBERIAN KAPUR DOLOMIT DAN KOMPOS
KOTORAN AYAM PADA TANAH BEKAS TAMBANG BATUBARA.
Diss. Universita Jambi, 2021.

18
19

Anda mungkin juga menyukai