0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan2 halaman

Konsep Sebab Akibat dalam Epidemiologi

Diunggah oleh

Eko Susanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan2 halaman

Konsep Sebab Akibat dalam Epidemiologi

Diunggah oleh

Eko Susanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Selanjutnya kita akan membahas tentang konsep sebab akibat didalam epidemiologi Kesehatan

masayarakat. Dalam konsep ini terdapat dua pendekatan untuk mengetahui hubungan sebab akibat dari
variabel yang diteliti,

Yang pertama adalah pendekatan determinisme disini hubungan sebab akibat antara variabel ekposure
maupun effect tergambar secara pasti dimana variabel dependen terbukti pasti dipengaruhi variabel
independent. Contoh dari pendekatan ini adalah tidak adakan ada penyakit AIDS tanpa ada virus HIV.

Namun pendekatan ini tidaklah dapat digunakan dalam semua kasus terutama untuk penyakit tidak
menular atau penyakit yang multiple causation. Untuk itu ada pendekatan lain yaitu pendekatan
probabilistic

Pendekatan probabilistic ini menggunakan teori peluang dan Teknik statistik untuk menganalisis
gambaran terjadinya penyakit atau permasalahan dalam suatu populasi. dengan pendekatan ini tidak
perlu membuktikan kausalitas pada setiap individu, melainkan dengan melakukan Teknik statistic untuk
menilai asosiasi dari variabel pada populasi untuk kemudian ditarik kesimpulan kausalnya. Dengan kata
lain melalui pendekatan ini kita dapat melakukan identifikasi factor risiko dari sebuah populasi yang
diteliti. Contohnya factor risiko penyebab hipertensi tidak hanya terdiri dari obesitas tapi banyak hal
yang berkaitan seperti aktivitias fisik, pola konsumsi diet, genetis dan dari setiap variabel tersebut dapat
dilakukan analisis untuk mengetahui kekuatan pengaruhnya.

Sementara untuk mengetahui kriteria ideal hubungan kausal kita dapat menggunakan persyaratan
hubungan kausalitas yang dikemukakan oleh Sir Austin Bradford Hill pada tahun 1965: ada Sembilan
kriteria yang dimaksud sebagai berikut:

1. Hubungan kekuatan: Besar kuatan disini sering dipakai adalah relative risk atau odd rasio jika
kedua angka tersebut semakin besar maka kejadian penyakit akan semakin besar. Hal tersebut
akan menjadikan hubungan kausalitas semakin kuat.
2. Konsisten: hasil penelitian akan sama jika dilakukan di tempat dan waktu yang berbeda akan
menunjukkan hasil yang sama, atau bahkan jika dilakukan dengan metode yang berbeda, hal
tersebut akan menunjukkan hubungan kausalitas yang semakin kuat.
3. Spesifitas disini adalah dimana paparan sebuah factor risiko dapat dilakukan identifikasi dalam
mempengaruhi sebuah efek spesifik yang ditimbulkan. Intinya semakin spesifik factor risiko
semakin kuat pula hubungan kausalitasnya.
4. Temporalitas disini mengacu pada urutan waktu dimana factor exposure harus selalu
mendahului effect. Apabila ditemukan fenomena ini maka hubungan kausalitasnya akan
semakin kuat
5. Derajat biologis atau biasa disebut hubungan dosis dan respond. Ini merupakan hubungan
antara factor risiko dengan effect dimana jika factor risiko semakin besar maka akan sejalan
dengan besaran efek yang ditimbulkan.
6. Plausibility menjelaskan bahwa hubungan kausalitas akan semakin kuat jika hasil dari penelitian
sejalan dengan teori atau konsep yang ada pada saat ini.
7. Koherens: Merupakan kebalikan dari plausibility dimana kekuatan kausalitas akan semakin kuat
jika hasilnya tidak harus bertentangan dengan Riwayat alamiah dan biologis
8. Bukti eksperimen: hubungan kausalitas akan dapat ditemukan dengan baik melalui pendekatan
epidemiologi analytic seperti yang dijelaskan pada slide sebelumnya, dengan memberikan
perlakuan pada subjek dan kontrol didalam studi eksperimental maka kita akan mendapatkan
fakta besaran dari pengaruh setiap factor yang diteliti dengan akibat yang ditimbulkan melalui
hasil dari sebuah studi eksperimental.
9. Analogi melakukan pengambilan keputusan dari penelitian sejenis yang dilakukan dapat
membantu untuk mengambil kesimpulan kausalitas, namun ada kekurangan dalam hal ini
karena tidak semua penelitian dapat dianalogikan ke penelitian lain karena spesifik dari variabel
yang diteliti serta hasil atau efek yang ditimbulkan contohnya adalah: Jika ada satu obat batuk
yang mempengaruhi efek respond dari pengemudi kendaraan maka obat batuk lain dapat
menyebabkan hal yang sama, tentunya hal tersebut tidak bisa dijadikan dasar yang kuat.

Demikian presentasi yang kami sampaikan, apabila ada pertanyaan akan kami persilakan. Atas
perhatiannya kami ucapkan banyak terima kasih.

Anda mungkin juga menyukai