0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan43 halaman

Edukasi Gizi Seimbang untuk Hipertensi

Diunggah oleh

Nurul Astipani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan43 halaman

Edukasi Gizi Seimbang untuk Hipertensi

Diunggah oleh

Nurul Astipani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

EFEKTIVITAS EDUKASI GIZI SEIMBANG TERHADAP PERUBAHAN


POLA MAKAN PASIEN HIPERTENSI DI RSUD H. ANDI SULTHAN
DAENG RADJA BULUKUMBA

EFFECTIVENESS OF BALANCED NUTRITION EDUCATION ON


CHANGES IN EATING PATTERNS OF HYPERTENSION PATIENTS AT H.
ANDI SULTHAN DAENG RADJA BULUKUMBA REGIONAL HOSPITAL

NURUL ASTIPANI
220305501088

PROGRAM STUDI GIZI


JURUSAN GIZI
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2025
LEMBAR PENGESAHAN

Judul :

Nama :

NIM :

Program Studi :

Menyetujui,
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI 3
BAB I 5
PENDAHULUAN 5
A. Latar Belakang 5
B. Rumusan Masalah 8
C. Tujuan Penelitian 8
D. Manfaat Penelitian 8
BAB II 10
TINJAUAN PUSTAKA 10
A. Kajian Teori 10
B. Kerangka Pikir dan Konsep 27
C. Hipotesis 28
BAB III 29
METODE PENELITIAN 29
A. Jenis Penelitian 29
B. Waktu dan Tempat Penelitian 29
C. Desain Penelitian 29
D. Populasi dan Sampel 29
E. Definisi Operasional 31
F. Prosedur Penelitian 32
G. Teknik Pengumpulan Data 33
I. Instrumen Penelitian 37
J. Pemeriksaan keabsahan data 39
K. Teknik analisis data 39
DAFTAR PUSTAKA 40
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jumlah kasus penyakit tidak menular (PTM) yang meningkat menjadi salah

satu tantangan bagi dunia kesehatan. Pergeseran pola penyakit di Indonesia

menyebabkan transisi epidemiologi yaitu terjadinya peningkatan penyakit tidak

menular yang meliputi penyakit kronis degenerative salah satunya hipertensi.

Penyakit hipertensi adalah salah satu penyakit degeneratif yang dewasa kini perlu

diwaspadai karena cenderung menyerang segala usia yaitu berupa gangguan

terhadap sistem peredaran darah. Hipertensi adalah suatu keadaan diamana tekanan

darah berada diatas ambang batas normal yaitu tekanan darah sistolik ≥140 mmHg

dan diastolik ≥90 mmHg (Lakoro et al., 2023).

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) prevalensi hipertensi

di Indonesia cukup tinggi, berdasarkan hasil pengukuran pada kelompok umur ≥ 18

tahun yaitu sebanyak 30.8%. Provinsi Kalimantan Tengah menduduki peringkat

pertama 40.7% dan yang terendah pada Provinsi Papua Pegunungan 19.9%.

Sedangkan prevalensi hipertensi di Sulawesi Selatan sendiri yaitu 31.3% yang

menduduki peringkat sepuluh tertinggi angka kejadian hipertensi di Indonesia

(Riskesdas, 2023). Berdasarkan profil kesehatan Bulukumba tercatat estimasi

penderita hipertensi di Bulukumba pada tahun 2023 sebanyak 109.505 orang

(Dinkes Bulukumba, 2024).


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Musdar et al., 2024) di RSUD

H. A. Sulthan Daeng Radja Bulukumba menunjukkan bahwa mayoritas penderita

hipertensi yaitu lansia berusia >60 tahun dengan persentase sebesar (41.8%),

dengan laki-laki sebanyak 29 orang (52.7%) dan perempuan 26 orang (47.3%).

Hipertensi dianggap sebagai salah satu kondisi kesehatan yang cukup serius

karena penyakit ini dapat terus bertambah parah tanpa disadari hingga dapat

mengancam hidup bagi penderita. Beberapa dampak yang disebabkan oleh

hipertensi antara lain stroke, gagal ginjal, penyakit jantung konorer dan dapat

menyebabkan kematian (Shabrina & Koesyanto, 2023).

Pola makan sangat berpengaruh terhadap kejadian hipertensi, beberapa jenis

makanan yang dapat menyebabkan hipertensi yaitu makanan siap saji yang

mengandung pengawet, makanan yang mengandung kadar garam yang tinggi, dan

konsumsi lemak berlebihan (Yuanta et al., 2023). Menurut (Mardianto et al., 2021)

terdapat hubungan signifikan antara pola makan dengan kejadian hipertensi. Pola

makan yang buruk dapat menjadi penyebab tekanan darah tinggi. Dari 28

responden, 16 orang (57.1%) memiliki pola makan yang tidak sehat dan menderita

hipertensi, sedangkan 12 orang (42.9%) memiliki pola makan sehat dan tidak

menderita hipertensi. Hasil uji statistik Chi-square memperkuat temuan ini dengan

nilai p=0,000 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua

variabel tersebut (Mardianto et al., 2021).

Salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit hipertensi yaitu

dengan mengubah perilaku. Dalam mengubah perilaku melalui perubahan sikap

dan pengetahuan. Sikap dan pengetahuan dapat di rubah melalui edukasi (Kafi et
al., 2023). Menurut (Didipu et al., 2025) menunjukkan bahwa edukasi pola makan

terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi. Penelitian

kasus pada Ny. U, pasien berusia 57 tahun dengan tekanan darah 150/100 mmHg,

menunjukkan adanya peenurunan tekanan darah setelah menerima edukasi tentang

penyebab, gejala dan makanan pemicu hipertensi (Didipu et al., 2025).

Berdasarkan data awal yang diperoleh melalui kuesioner terhadap 5 orang

pasien di RSUD H.A. Sulthan Daeng Radja Bulukumba diperoleh 3 dari 5 orang

pasien memiliki pola makan yang kurang baik. Pasien cenderung mengonsumsi

makanan yang mengandung tinggi natrium. Berdasarkan hasil wawancara pasien

belum pernah mmendapatkan edukasi terkait pola makan yang baik dan benar

khususnya bagi pasien hipertensi.

Oleh karena itu, menyadari pentingnya pola makan, edukasi gizi seimbang

menjadi intervensi non-farmakologis yang esensial. Program edukasi ini bertujuan

untuk meningkatkan pemahaman, mengubah sikap, dan mendorong pasien untuk

menerapkan pola makan yang sesuai dengan rekomendasi klinis. Di RSUD H. Andi

Sulthan Daeng Radja Bulukumba meskipun edukasi gizi secara umum telah

diberikan, namun upaya yang dilakukan belum terstruktur, terukur efektivitasnya

dan belum secara spesifik berfokus pada perubahan pola makan pasien.

Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengisi kesenjangan tersebut.

Dengan melakukan evaluasi efektivitas edukasi gizi seimbang terhadap

perubahan pola makan pasien, penelitian ini diharapkan dapat memberikan data

empiris yang kuat. Hasilnya akan menjadi dasar bagi pihak rumah sakit untuk

merancang program edukasi gizi yang lebih terstruktur yang berdampak nyata bagi
pasien hipertensi, sehingga pada akhirnya dapat membantu mengendalikan

penyakit ini dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah pada penelitian

ini, yaitu apakah edukasi gizi seimbang efektif dalam mengubah pola makan pasien

hipertensi di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum penelitian ini adalah menganalisis efektivitas edukasi gizi

seimbang terhadap perubahan pola makan pasien hipertensi di RSUD H. Andi

Sulthan Daeng Radja Bulukumba.

2. Tujuan Khusus

a. Mengukur Tingkat pengetahuan dan sikap pasien tentang gizi seimbang

sebelum dan sesudah edukasi diberikan

b. Menganalisis perbedaan pola makan pasien, khususnya asupan natrium dan

serat, sebelum dan sesudah diberikan edukasi gizi.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pengembangan

teori tentang efektivitas edukasi gizi seimbang dalam mengubah pola makan pasien
hipertensi, serta memperkaya pengetahuan tentang hubungan antara edukasi gizi

dan perubahan perilaku kesehatan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi pasien

Meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap, dan mempraktikkan pola

makan yang lebih sehat sehingga membantu mengelola tekanan darah

b. Bagi tenaga kesehatan

Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan penting bagi manajemen rumah

sakit dalam mengembangkan program edukasi gizi yang lebih terstruktur dan

efektif bagi pasien hipertensi

c. Bagi peneliti selanjutnya

Memberikan referensi dan informasi yang bermanfaat untuk penelitian

lanjutan tentang efektivitas edukasi gizi seimbang dalam perubahan perilaku

kesehatan, khususnya di bidang gizi klinik dan kesehatan masyarakat.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Hipertensi

a. Pengertian hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan seseorang mengalami peningkatan tekanan

darah di atas ambang batas normal, yaitu tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan

tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Hipertensi merupakan “silent killer” yang

biasa dikenal sebagai penyakit kardiovaskular. Hipertensi adalah salah satu faktor

utama penyebab kematian di dunia (Khairiyah et al., 2022).

Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu yang

lama dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal, jantung dan otak bila tidak

dideteksi secara dini dan mendapatkan pengobatan yang memadai (Al Rasyid et al.,

2022).

b. Klasifikasi hipertensi

Hipertensi berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi dua yaitu hipertensi

primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer (esensial) yaitu hipertensi yang

tidak diketahui penyebab pastinya dan tidak menunjukkan gejala apapun.

Hipertensi sekunder yaitu tekanan darah tinggi karena adanya kondisi dasar

tertentu. Hipertensi sekunder biasanya disebabkan oleh diabetes, penyakit ginjal,

pil kontrasepsi, penyakit lupus, dan kondisi hormon (Cahyanti et al., 2024).
Menurut European Society of Cardiology (ESC) dan European Society of

Hypertension (ESH) Guidelines, klasifikasi tekanan darah (hiipertensi) dibagi

menjadi beberapa kategori berdasarkan tekanan darah sistolik dan diastolik.

Tabel 2. 1 Klasifikasi Tekanan Darah

Kategori Tekanan Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)


Darah
Optimal <120 <80
Normal 120-129 80-84
Pra-hipertensi 130-139 85-89
Hipertensi Derajat 1 140-159 90-99
Hipertensi Derajat 2 160-179 100-109
Hipertensi Derajat 3 ≥180 ≥110
Hipertensi Sistolik Isolasi ≥140 <90
Sumber : Williams B., et al. (2018). 2018 ESC/ESH Guidelines for the management
of arterial hypertension: The Task Force for the management of arterial
hypertension of the European Society of Cardiology (ESC) and the European
Society of Hypertension (ESH). European Heart Journal, 39(33), 3021–3104.

c. Faktor- faktor yang mempengaruhi hipertensi

Faktor- faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi anatara lain

(Rahmadhani, 2021):

1) Usia

Usia merupakan salah satu faktor yang tidak dapat diubah dan berpengaruh

signifikan terhadap kejadian hipertensi. Pada rentang usia ini, terjadi peningkatan

risiko terjadinya hipertensi karena perubahan fisiologis dan faktor resiko lain

seiring bertambahnya usia.

2) Genetik

Faktor genetik atau riwayat keluarga yang mengalami hipertensi dapat

meningkatkan risiko terjadinya hipertensi pada individu. Hal ini disebabkan karena
adanya faktor keturunan yang mempengaruhi metabolisme garam, regulasi renin,

dan mekanisme lain yang berhubungan dengan tekanan darah.

3) Obesitas

Obesitas atau berat badan berlebih dapat menyebabkan penumpukan lemak

yang mempersempit pembuluh darah, meningkatkan resistensi vascular, dan

memicu aktivasi sistem saraf simpatis serta sistem renin angiotensin aldosterone.

Hal tersebut dapat memicu peningkatan tekanan darah dan berkontribusi terhadap

kejadian hipertensi

4) Faktor stress

Stress dapat meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik dan hormon stress

seperti kortisol, yang menyebabkan vasokonstriksi dan peningkatan volume darah.

Kondisi ini berkontribusi pada peningkatan tekanan darah secara jangka Panjang.

5) Alkohol

Konsumsi alcohol berlebih dapat meningkatkan tekanan darah melalui

stimulasi sistem saraf simpatik dan gangguan fungsi endotel. Penggunaan alkohol

secara berlebihan juga dapat menyebabkan peningkatan volume cairan dan

resistensi vascular.

6) Pola makan

Pola makan memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian hipertensi.

Pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi garam, lemak dan

makanan olahan dapat meningkatkan risiko hipertensi. Selain itu kebiasaan makan

yang tidak teratur juga berkontribusi terhadap kejadian hipertensi (Donatus et al.,

2021). Pola makan atau kebiasaan makan seseorang yang tidak sehat atau tidak
teratur seperti mengonsumsi ikan asin dan junk food dapat meningkatkan tekanan

darah tinggi (Mardianto et al., 2021).

d. Komplikasi hipertensi

Adapun komplikasi dari hipertensi adalah sebagai berikut (Telaumbanua &

Rahayu, 2023) :

1) Stroke

Stroke terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang ada di dalam otak atau

akibat embolus yang terlepas dari pembuluh nonotak. Stroke dapat terjadi pada

hipertensi kronis apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami hipertrofi

dan penebalan pembuluh darah pada area tersebut berkurang. Arteri yang

mengalami ateroklerosis dapat melemah dan meningkatkan terbentuknya

aneurisma.

2) Infark miokardium

Infark miokardium terjadi pada saat arteri koroner mengalami

arterosklerotik yang tidak menyuplai cukup oksigen ke miokardium apabila

terbentuk thrombus yang dapat menghambat aliran darah melalui pembuluh

tersebut. Karena terjadi hipertensi kronik dan hipertrofi ventrikel makan kebutuhan

oksigen miokardium tidak dapat terpenuhi dan terjadi iskemia jantung yang

menyebabkan infark

3) Gagal ginjal

Kerusakan pada ginjal bisa terjadi karena tekanan di kapiler glomerulus

terlalu tinggi. Ketika glomerulus rusak, darah dapat masuk kebagian penyaring

ginjal (nefron), hal tersebut mengganggu kerja ginjal. Apabila ginjal mengalami
kekurangan oksigen yang lama (hipoksia) dan bisa mengalami kerusakan permanen

atau kematian jaringan.

Selain itu, kerusakan pada glomerulus juga menyebabkan protein keluar

Bersama urine, padahal seharusnya tidak. Hal ini dapat menurunkan tekanan

osmotik dalam darah yang berfungsi menjaga cairan tetap di pembuluh darah.

Akibatnya, cairan merembes ke jaringan tubuh dan terjadi pembengkakan atau

edema.

1) Ensefalopati

Ensefalopati (kerusakan otak) terjadi pada yang mengalami kenaikan

tekanan darah yang cepat. Tekanan darah tinggi disebabkan oleh kelainan yang

membuat tekanan pada kapiler meningkat dan mendorong cairan kedalam ruang

intertisium diseluruh susunan sarag pusat. Akibatnya neuro-neuro disekitarnya

mengalami koma atau kematian.

e. Penatalaksaan hipertensi

Penatalaksanaan hipertensi dapat dilakukan dengan pendekatan nonfarmakologis

dan perubahan gaya hidup :

1) Pendekatan nonfarmakologis

Pengobatan hipertensi seringkali memerlukan penerapan prosedur

diagnostik yang kompleks untuk mengidentifikasi penyebab sekundernya serta

penggunaan polifarmasi yang efektif. Namun, terapi non-farmakologis juga

merupakan aspek penting dalam manajemen hipertensi.

2) Perubahan gaya hidup

a) Diet
Diet mediteranian merupakan diet tinggi serat seperti buah-buahan,

sayuran, sereal, biji-bijian, kacang-kacangan dan ikan. Selain itu, diet ini

membatasi konsumsi gula dan makanan kaleng. Selain diet mediteranian ada juga

disebut dengan diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension), diet ini

mirip dengan diet mediteranian, tetapi juga menekankan diet rendah garam dan

rendah lemak jenuh. Diet DASH mampu menurunkan tekanan darah dengan

mengurangi jumlah sodium menjadi 1500-2300 mg per hari dalam diet.

b) Aktivitas fisik dan penurunan berat badan

Aktivitas fisik yang dilakukan secara aktif dan teratur akan menyebabkan

pembuluh darah lebih elastis sehingga dapat mengurangi tahanan perifer. Aktivitas

fisik yang teratur akan menyebabkan kerja jantung lebih efisien sehingga curah

jantung akan berkurang dan akan menyebabkan penurunan tekanan darah (Indriani

et al., 2023). Brisk walking exercise merupakan salah satu Latihan fisik yang dapat

dilakukan dengan menggunakan teknik berjalan lebih cepat dari kecepatan normal

selama 20-30 menit dengan keecepatan rata-rata 4-6 km/jam. Berjalan adalah salah

satu latihan yang paling aman dan paling sederhana untuk pasien hipertensi dari

semua kelompok umur (Ratna Sari & Palupi, 2024).

Selain itu, penurunan berat badan berkontribusi secara signifikan terhadap

penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa penurunan berat badan sekitar 5-10% dari berat badan awal dapat

menurunkan tekanan darah sistolik sekitar 5-20 mmHg. Penurunan berat badan ini

berkaitan dengan berkurangnya resistensi perifer dan peningkatan sensitivitas


insulin, yang secara fisiologis memengaruhi regulasi tekanan darah (Hall et al.,

2021).

c) Restriksi alkohol

Pembatasan konsumsi alkohol merupakan bagian penting dalam upaya

perubahan gata hidup dalam mengontrol hipertensi. Individu dengan tekanan darah

tinggi dianjurkan untuk membatasi asupan alkohol harian mereka guna membantu

menurunkan tekanan darah dan mencegah komplikasi kardiovaskular (Charchar et

al., 2024).

2. Gizi Seimbang

a. Pengertian gizi seimbang

Gizi seimbang adalah susunan makanan sehari-hari yang mengandung zat

gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan

memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktivitas fisik, perilaku hidup

bersih serta mempertahankan berat badan ideal untuk mencegah masalah gizi.

Status gizi erat kaitannya dengan pola makan seseorang. Sehingga untuk mencegah

terjadinya masalah gizi, seorang individu harus memiliki pola makan sesuai

pedoman gizi seimbang (Kartika et al., 2021).

b. Prinsip dasar gizi seimbang

Dalam prinsipnya, gizi seimbang terdiri dari 4 pilar, yang pada dasarnya

merupakan upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar dan zat gizi

yang masuk dengan mengontrol berat badan secara teratur. Adapun 4 pilar gizi

seimbang tersebut, yaitu (Kemenkes, 2022):


1) Konsumsi makanan beragam

Tidak ada satu jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, kecuali ASI

untuk bayi 0–6 bulan. Oleh karena itu, kita perlu makan makanan yang bervariasi.

Karbohidrat (nasi, mie, umbi) memberi energi tapi rendah vitamin dan mineral.

Sayur dan buah kaya vitamin, mineral, dan serat, tapi rendah protein dan kalori.

2) Beraktivitas fisik

Aktivitas fisik membantu menyeimbangkan asupan dan pembakaran energi

serta memperlancar metabolisme. Lakukan olahraga minimal 3 kali seminggu, 30

menit per sesi untuk menjaga kebugaran dan keseimbangan gizi.

3) Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

PHBS mencegah penyakit, seperti diare yang 45% bisa dicegah dengan

mencuci tangan. Cuci tangan pakai sabun saat:

a) Sebelum/sesudah makan

b) Setelah buang air

c) Setelah menyentuh hewan, berkebun, atau bermain

4) Menjaga berat badan ideal

Pemantauan berat badan secara rutin sangat penting untuk mengetahui

apakah status gizi berada dalam kategori normal, kurang, atau berlebih. Cara

menghitungnya adalah dengan membagi berat badan (dalam kilogram) dengan

kuadrat tinggi badan (dalam meter). Hasil pengukuran tersebut kemudian

dibandingkan dengan kategori IMT yang umum digunakan sebagai acuan

kesehatan.
c. Diet sehat untuk pasien hipertensi

Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertentision) Adalah pola

makan yang dirancang untuk menurunkan tekanan darah tinggi serta meningkatkan

kesehatan jantung. Diet ini menekankan konsumsi makanan kaya akan buah-

buahan, sayuran, biji-bijian dan produk susu rendah lemak serta membatasi asupan

garam, lemak jenuh dan gula tambahan. Tujuannya yaitu untuk mengurangi risiko

hipertensi dan penyakit kardiovaskular (Dwiasstuti, 2025).

Penerapan diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH)

merupakan alternatif dalam memodifikasi pola nutrisi seimbang bagi penderita

hipertensi. Prinsip dari diet DASH adalah mengkonsumsi banyak sayuran dan buah,

serat pangan (30 gram per hari), mineral (kalium, magnesium, dan kalsium), serta

membatasi konsumsi garam. Selain menurunkan tekanan darah, diet DASH juga

dapat mencegah hipertensi (Fatmawati et al., 2023).

Penerapan Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertentision)

(Kemenkes, 2023):

1) Whole grains/gandum utuh (6 sampai 8 sajian per hari)

a) Ganti nasi putih dengan nasi beras merah

b) Bila ingin makan pasta, pilih pasta dari gandum utuh

c) Ganti roti tawar dengan roti gandum tanpa menambahkan keju, coklat atau

mentega

2) Sayuran dan buah-buahan (4 sampai 5 sajian per hari)


a) Pilih sayuran dan buah-buahan yang kaya Magnesium dan potassium seperti

pisang. Makan sebagai snack pada jam 11 pagi dan 5 sore atau 1 jam sebelum

makan besar

b) Sebaiknya jangan kupas kulit buah karena mengandung banyak zat gizi dan

serat serta pilih sayuran segar dibandingkan sayuran beku

3) Susu dan produk susu rendah atau tanpa lemak (2 sampai 3 sajian per hari)

a) Meminum susu rendah lemak/low fat/skim 1-2 gelas perhari

4) Daging , unggas dan ikan (maksimal 6 sajian perhari)

a) Konsumsi daging, unggas tanpa lemak (buang kulit dan gajih dari ayam dan

lemak (gajih) daging karena mengandung lemak yang tinggi

b) Cara pengolahan dengan cara memanggang, mengukus, atau merebus lebih

diutamakan daripada menggoreng

c) Pilih ikan yang kaya akan asam lemak omega-3 yang berfungsi untuk

menurunkan kolesterol seperti salmon dan tuna

5) Lemak dan minyak (2 sampai 3 sajian perhari)

a) Batasi asupan daging, mentega, keju, susu, krim dan telur serta makanan olahan

minyak kelapa

b) Hindari lemak trans yang banyak ditemukan pada olahan seperti biscuit,

gorengan dan snack kemasan

c) Baca dengan teliti label makanan pilihlah yang mengandung lemak jenuh dalam

kadar rendah dan bebas lemak trans

6) Manisan, terutama yang rendah atau tanpa lemak (maksimal 5 sajian per

minggu)
a) Hindari minuman kemasan yang mengandung pemanis buatan. Walaupun

berlabel diet atau low sugar, namun kandungan gula yang tidak terlalu

dibutuhkan tubuh tetap ada.

b) Pilihlah air putih sebagai minuman sehari-hari. Selain tanpa kalori, air putih

juga memiliki banyak fungsi seperti melarutkan racun tubuh, pembentuk sel dan

cairan tubuh, sebagai bantalan organ tubuh, sebagai pelumas, dan melancarkan

fungsi pencernaan.

7) Kacang-kacangan, biji-bijian dan polong-polongan (4 sampai 5 sajian per

minggu)

a) Perbanyak konsumsi kacang-kacangan : kacang hijau, kacang merah, kacang

tolo.

b) Perbanyak konsumsi biji-bijian : gandum, sorgum, cantel, jagung.

8) Sodium /garam (Tergantung dari jenis DASH Diet yang dipilih)

a) Konsumsi sodium (garam dapur) yang direkomendasikan adalah 1500 mg –

2300 mg per hari.

b) Membatasi garam dapur dan sumber Natrium yang lain

c) Batasi makanan sumber natrium seperti : kecap, garam dapur, tauco, petis, saos

tomat, sambal , margarin, makanan yang diawetkan dengan garam(telur

asin,keju,ebi,ikan asin, makanan dalam kaleng, makanan kemasan berbumbu

dan biscuit,penyedap rasa (monosodium glutamate).

d. Asupan zat gizi mikro

1) Asupan natrium

2) Asupan kalsium
3) Asupan kalium

4) Asupan magnesium

3. Edukasi gizi

a. Pengertian edukasi

Edukasi yaitu pemberian pengetahuan tentang suatu hal tertentu dengan

tujuan untuk meningkatkan pemahaman individu tentang suatu hal. Selain itu,

edukasi juga merupakan pendidikan dalam artian lain suatu upaya yang telah

direncanakan oleh seseorang agar dapat mempengaruhi orang lain, baik individu,

kelompok maupun masyarakat (Umasugi, 2021).

Edukasi bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran

individu atau masyarakat tentang pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan,

yang dapat membantu mencegah penyakit dan meningkatkan kualitas hidup secara

umum (Sawidi et al., 2025). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Didipu et

al., 2025) menunjukkan bahwa edukasi pola makan dapat meningkatkan

pengetahuan pasien mengenai hipertensi dan membantu menurunkan tekanan darah

pasien. Setelah dilakukan edukasi pasien menunjukkan pemahaman yang lebih baik

mengenai penyebab, tanda, gejala dan makanan yang dapat menyebabkan

hipertensi, serta terjadi penurunan tekanan darah yang signifikan.

b. Metode dan media edukasi

Metode adalah cara yang digunakan dalam melakukan pendidikan

[Link] proses pendidikan kesehatan yang menuju tercapainya atau tujuan

perubahan perilaku, dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti faktor materi atau
pesannya,pendidikan atau petugas yang melakukannya,dan alat bantu peraga atau

media yang digunakan. Metode yang digunakan diantaranya (Sainda, 2023):

1) Metode pendidikan individual berupa bimbingan dan penyuluhan serta

wawancara

2) Metode pendidikan kelompok berupa kelompok besar dan kelompok kecil.

Kelompok besar adalah apabila peserta penyuluhan lebih dari lima orang.

Metode yang baik digunakan untuk kelompok besar adalah ceramah dan

seminar. Sedangkan kelompok kecil adalah apabila peserta penyuluhan kurang

dari lima orang.

Media yang dapat digunakan yaitu:

1) Leaflet

Leaflet merupakan bahan cetak tertulis berupa lembaran yang dilipat tetapi

tidak dimatikan atau dijahit. Agar terlihat menarik biasanya leaflet didesain secara

cermat dilengkapi dengan ilustrasi dan menggunakan bahasa yang sederhana,

singkat serta mudah dipahami. Leaflet sebagai bahan ajar juga harus memuat materi

yang dapat menggiring peserta didik untuk menguasai satu atau lebih kompetensi

dasar (Saputra et al., 2017).

2) Poster

Poster adalah suatu media publikasi yang memadukan antara tulisan,

gambar atau kombinasi keduanya dengan tujuan untuk memberikan informasi

kepada khalayak (Anindya et al., 2023).


c. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan edukasi

Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan edukasi

(Nugraheni, 2024):

1) Tingkat pengetahuan awal pasien

2) Kemampuan memahami materi edukasi

3) Motivasi dan minat belajar pasien

4) Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar

5) Metode penyampaian edukasi yang menarik dan sesuai karakter audiens

6) Waktu yang tepat dalam pemberian edukasi.

4. Pola makan

a. Definisi pola makan

Pola makan merupakan suatu sistem di mana seseorang melakukan

kebiasan berulang-ulang secara teratur tentang aspek kebutuhan makanannya.

Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda tergantung pada jenis kelamin

dan kelompok umur (Waluyani et al., 2022).

Perubahan pola makan yang buruk merupakan salah satu upaya

penanggulangan hipertensi. Pola makan terbagi atas frekuensi makan, jenis dan

kombinasi makanan, serta jumlah porsi makan. Gizi yang baik adalah cara atau

upaya untuk menyesuaikan jumlah dan jenis makanan untuk tujuan tertentu.

Misalnya menjaga kesehatan, status gizi, mencegah dan mengobati penyakit

(Purwati et al., 2021).


b. Pola makan sehat bagi penderita hipertensi

Menurut (Pane, 2023) pola makan sehat bagi penderita hipertensi adalah :

1) Makan beberapa kali sehari dengan porsi kecil

Cara untuk membantu meningkatkan metabolisme dan mengatur gula darah

adalah makan beberapa kali dengan porsi kecil (sedikit)

2) Memperbanyak konsumsi sayur dan buah

Salah satu sumber bahan pangan yang baik untuk memperoleh zat gizi

adalah buah dan sayur. Porsi buah yang dianjurkan sehari untuk lansia adalah

sebanyak 200-300 gram atau 2-3 potong sehari sedangkan porsi sayuran dalam

bentuk tercampur yang dianjurkan sehari adalah 150-200 gram atau 1setengah atau

2 mangkok sehari. Mengkonsumsi buah dan sayur yang berserat tinggi seperti

sayuran hijau, pisang, tomat, melon dan jeruk setiap hari sangat penting karena

mengandung vitamin dan mineral yang mengatur pertumbuhan dan pemeliharaan

tubuh serta mngandung serat yang tinggi.

3) Hindari makanan olahan kaleng dan siap saji

Memasak makanan dari bahan segar sangat dianjurkan bagi kesehatan.

Kandungan vitamin, protein, pada bahan mentah yang segar dapat terpenuhi.

Berbeda dengan makanan yang dihangatkan atau siap saji. Kebiasaan

mengkonsumsi pangan yang kandungan zat gizinya kurang, seperti fastfood dapat

mengganggu status gizi seseorang karena dapat menyebabkan resiko terkena

hipertensi atau pennyakit degeneratif lainnya.

4) Jumlah makanan yang dikonsumsi


Jumlah makanan yang kita konsumsi harus seimbang antara jumlah kalori

yang masuk dengan jumlah energi yang kita keluarkan. Apabila jumlah kalori yang

masuk lebih besar dari energi yang kita kelurkan maka kita mengalami kelebihan

berat badan.

5) Jenis makanan yang dikonsumsi

Jenis makanan yang kita konsumsi yang mengandung karbohidrat, protein,

lemak dan nutrien spesifik. Karbohidrat komplek bisa kita penuhi dari gandum,

beras, terigu, buah dan sayuran. Pilih karbohidrat yang berserat tinggi dan kurangi

karbohidrat yang berasal dari gula, sirup dan makanan yang manis-manis.

Konsumsi makanan yang manis paling banyak 3-5 sendok makan per hari.

Kebutuhantubuh akan serat sebanyak lebih dari 25 gram per hari. Untuk

memenuhinya dianjurkan untuk mengkonsumsi buah dan sayur. Konsumsi protein

harus lengkap antara protein nabati dan hewani. Sumber protein nabati didapat dari

kedelai, tempe dan tahu, sedangkan hewani berasal dari ikan, daging (sapi, ayam,

kerbau, kambing), serta kurangi makanan yang mengandung lemak jenu. Tingginya

kolesterol dalam tubuh kita akan menyebabkan terjadinya plak-plak yang

menyumbat aliran darah, sehingga tekanan darah makin tinggi. Sebaiknya

konsumsi juga makanan yang mengandung kalium, magnesium, dan kalsium karna

mampu mengurangi hiopertensi.

c. Kaitan pola makan dengan tekanan darah

Pola makan merupakan faktor utama yang dapat dimodifikasi oleh penderita

penyakit hipertensi. Makanan yang dikonsumsi merupakan salah satu faktor yang

dapat mempengaruhi tekanan darah. Terlalu sering mengkonsumsi garam berlebih


serta penggunaan bumbu penyedap seperti monosodium glutamat (MSG) dalam

jumlah yang banyak akan mengakibatkan kenaikan tekanan darah karena

banyaknya natrium yang terkandung dalam makanan. Konsumsi natrium secara

berlebihan dapat menahan air sehingga terjadi peningkatan volume darah, yang

mengakibatkan peningkatan jumlah volume darah tersebut membuat jantung

bekerja lebih keras untuk memompanya dan tekanan darah menjadi naik (Ronaldo

& Winta, 2024).

Pengaruh pola makan dengan kebiasaan makan makanan berlemak sering

dihubungkan dengan tekanan darah tinggi karena konsumsi lemak berlebih dapat

memicu aterosklerosis, dimana dampak setelah terjadi aterosklerosis dapat

menyebabkan penebalan pada dinding arteri sehingga dapat menambah beban keja

jantung menjadi lebih kuat dan pada akhirnya dapat membuat tekanan darah akan

tinggi, sedangkan pada konsumsi garam berlebih dapat meningkatkan timbunan

cairan dalam darah (diuretik) yang menyebabkan sirkulasi darah terganggu

sehingga jantung akan bekerja lebih kuat dan akhirnya tekanan darah seseorang

akan tinggi (Sihombing et al., 2021).

Penelitian yang dilakukan oleh (Simamora et al., 2023) menunjukkan

bahwa dari 40 orang lansia menunjukkan bahwa 21 orang responden dengan

pola makan baik sebanyak 14 orang (66.7%) dengan hipertensi stage I dan

7 orang (33.3%) hipertensi stage II sedangkan pola makan yang tidak baik 5

orang (26.3%) dengan hipertensi stage I dan 14 orang responden (73.7%) dengan

hipertensi stage II. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p=0,05 sedangkan nilai
p-value=0,011 yang berarti bahwa ada hubungan yang signifikan antara Pola

Makan Dengan Tekanan Darah.

B. Kerangka Pikir dan Konsep

1. Kerangka pikir

Faktor Risiko Hipertensi:


1. Usia
2. Genetik
3. Stress Hipertensi
4. Obesitas
5. Pola makan (tinggi
natrium, rendah serat Edukasi Gizi :

(Sihombing et al., 2021; 1. Gizi Seimbang


Ronaldo & Winta, 2024) 2. Diet Dash
(Didipu et al., 2025; Kemenkes,
2023)

Manfaat Edukasi:
1. Peningkatan pengetahuan
2. Peningkatan sikap positif
3. Peningkatan pola makan
sehat (rendah natrium
tinggi serat)
4. Penurunan resiko hipertensi
5. Peningkatan kualitas hidup
(Shabrina & Koesyanto, 2023;
Dwiasstuti, 2025)

Keterangan : Variabel yang diteliti dicetak tebal

Gambar 2. 1 Kerangka Pikir


2. Kerangka konsep

Edukasi Gizi Seimbang


(Variabel Independen/X

Pengetahuan & Sikap Pasien


Variabel antara

Perubahan Pola Makan Pasien Hipertensi


Variabel Dependen/Y

Gambar 2. 2 Kerangka Konsep

C. Hipotesis

1. H1 : terdapat perbedaan yang signifikan pada pola makan pasien hipertensi

sebelum dan sesudah diberikan edukasi gizi seimbang di RSUD H. Andi

Sulthan Daeng Radja Bulukumba

2. H0 : tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pola makan pasien

hipertensi sebelum dan sesudah diberikan edukasi gizi seimbang di RSUD H.

Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

kuantitatif dengan pendekatan quasi-experimental. Secara epesifik, penelitian ini

menggunakan desain eksperimental semu untuk menguji hubungan sebab-akibat

antara intervensi (edukasi gizi seimbang) dengan hasilnya (perubahan pola makan).

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan September 2025 dan bertempat

di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan

C. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah One-Group Pretest-Posttest

Design. Desain ini subjek penelitiannya yaitu pasien hipertensi akan diukur

sebelum intervensi menggunakan pre-test dan diukur kembali setelah intervensi

menggunakan post-test. Perbedaan hasil pre-test dan post-test akan digunakan

untuk menilai efektivitas intervensi

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh pasien yang terdaftar dan

menjalani rawat jalan di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini yang memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien

hipertensi berusia >18 tahun dan bersedia jadi responden. Teknik pengambilan

sampel adalah purposive sampling.

a. Kriteria inklusi

1) Responden yang bersedia menjadi responden

2) Responden yang berusia >18 tahun

3) Responden dengan tekanan darah tinggi (hipertensi)

b. Kriteria eksklusi

1) Pasien dengan penyakit komplikasi

Maka penelitian ini akan dilakukan penentuan besar sampel dengan teknik

pengambilan sampel dengan rumus Slovin :

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁 (𝑒2 )

Keterengan :

N = Besaran populasi

n = Besaran responden

e = perkiraan tingkat kesalahan


Jadi, perhitungan sampel dalam penelitian ini adalah :

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁 (𝑒2 )

𝑁
𝑛=
1 + 𝑁 (𝑒2 )

𝑛 = 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛

Dapat ditarik kesimpulan, sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini

adalah .......pasien hipertensi.

E. Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Skala

Ukur

Edukasi gizi Pemberian materi tentang gizi Pengisian Checklist Nominal

seimbang (materi diet DASH, intervensi

rendah natrium) melalui leaflet

dan konseling selama ±10

menit

Pengetahuan Pemahaman pasien tentang gizi Pengisian Ordinal

seimbang yang dikur dengan Kuesioner pilihan

skor kuesioner ganda


Sikap Respon afektif pasien terhadap Pengisian Ordinal

pentingnya gizi seimbang dikur kuesioner sikap

dengan skala likert

Pola makan Asupan makan harian pasien, Pengisian Food Rasio

khususnya jumlah porsi sayur, Frequency

buah dan makanan sumber Questionnaire

natrium yang diukur dengan (FFQ)

FFQ

F. Prosedur Penelitian

1. Tahap awal

Pada tahap awal sebelum dilakukan penelitian peneliti menyerahkan surat

izin penelitian dari Universitas Negeri Makassar kepada lokasi penelitian yaitu

RSUD H. A. Sulthan Daeng Radja Bulukumba, kemudian melakukan identifikasi

masalah dan membuat rumusan masalah, selanjutnya menentukan tujuan penelitian

serta menentukan populasi dan sampel yang akan diteliti menggunakan metode

purpose Sampling.

2. Tahap pelaksanaan

a. Melakukan pretest dengan memberikan kuesioner pengetahuan, sikap dan FFQ

kepada sampel

b. Melakukan intervensi edukasi gizi seimbang


c. Setelah intervensi melakukan posttest dengan memberikan kuesioner dan FFQ

yang sama

3. Tahap akhir

Melakukan tabulasi data, analisis data dan penyusunan laporan hasil

penelitian

4. Alur penelitian

Observasi Awal

Identifikasi dan Rumusan Masalah

Tujuan penelitian

Menentukan Populasi dan Sampel

Gambar 3. 1 Alur Penelitian

G. Teknik Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif. Teknik pengumpulan

data yang digunakan adalah pengisian formulir FFQ dan kuesioner berupa pre-test

dan post-test dengan cara memberikan sejumlah pertanyaan kepada responden.


2. Sumber Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua kategori

yaitu :

a. Data primer

Data primer pada penelitian ini diperoleh dari subjek penelitian, Teknik

yang digunakan adalah:

1) Kuesioner untuk mengukur Tingkat pengetahuan dan sikap responden sebelum

dan sesudah intervensi

2) Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk mengumpulkan data mengenai

pola makan pasien

3) Catatan intervensi untuk mendokumentasikan proses edukasi yang diberikan

kepada pasien

b. Data sekunder

Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada. Data

sekunder yang akan digunakan adalah rekam medis pasien mengenai riwayat

diagnosis, usia, jenis kelamin dan data tekanan darah awal pasien dari RSUD H.

Andi Sulthan Daeng Radja Bulukumba.

3. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini:

a. Pengecekan data (Editing)


Editing merupakan proses melengkapi dan memeriksa kembali kesesuaian

data atau informasi yang telah dikumpulkan melalui instrumen penelitian. Peneliti

memeriksa pengisian lembar kuesioner.

b. Coding

Dalam langkah ini, dilakukan pengeditan seluruh kuesioner, lalu dilakukan

perubahan data yang berbentuk kalimat atau huruf menjadi angka atau bilangan

dengan memberikan kode. Setelah itu dimasukkan dalam lembar tabel kerja agar

memudahkan pembacaan.

1) Karekteristik responden berdasarkan jenis kelamin yang dibagi menjadi dua,

yaitu:

a) 1 = Laki-laki

b) 2 = Perempuan

2) Karakteristik responden berdasarkan pendidikan yang dibagi menjadi enam,

yaitu:

a) 1 = Tidak Sekolah

b) 2 = SD

c) 3 = SMP

d) 4 = SMA

e) 5 = S1

f) 6 = S2

3) Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dibagi menjadi enam, yaitu:

a) 1 = Tidak Bekerja

b) 2 = IRT
c) 3 = PNS

d) 4 = Karyawan

e) 5 = Wiraswasta

f) 6 = Buruh

4) Karakteristik riwayat hipertensi dibagi menjadi dua yaitu:

a) 1 = Ya

b) 2 = Hipertensi

5) Karakteristik kejadian hipertensi dibagi menjadi dua yaitu:

a) 1 = Normal

b) 2 = Hipertensi

6) Keterangan total skor variabel pola makan dibagi menjadi dua, yaitu:

a) Baik, jika rata-rata skor 0 – 14

b) Tidak baik, jika rata-rata skor 15 – 50

c. Entry

Data entry, yakni kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan dalam

data base computer. Peneliti memasukkan semua data yang diperoleh dari

responden dengan menggunakan Statistical Program For Sosial Sciene (SPSS).

Dalam entry data, peneliti diharapkan teliti dalam memastikan agar tidak ada data

yang tertinggal.
d. Tabulating

Tabulating data adalah proses penyusunan data yang memudahkan proses

analisis data. Dengan tujuan penelitian pada Microsoft Excel. Sehingga data yang

telah dimasukkan kemudian dicocokkan dan diperiksa kembali.

e. Cleaning

Setelah dilakukan pengumpulan dan peng-inputan semua data, maka perlu

dilakukan pengecekan ulang dalam memastikan tidak terdapat kesalahan kode atau

hal lainnya, lalu dilakukan koreksi atau perbaikan jika ditemukan.

4. Penyusunan Data

Tabulasi data yaitu proses memasukkan data pada tabel-tabel yang telah

disesuaikan dengan variabel dan mengatur angka tersebut untuk selanjutnya

dihitung.

I. Instrumen Penelitian

1. Instrumen Data Demografi

Bagian ini digunakan untuk mengumpulkan data karakteristik dasar

responden yang mungkin memengaruhi hasil penelitian. Data demografi ini

meliputi:

a. Identitas Responden

Berisi nama atau inisial, usia, dan jenis kelamin.

b. Riwayat Kesehatan
Berisi informasi tentang riwayat penyakit hipertensi, lama menderita

hipertensi, dan pengobatan yang sedang dijalani.

c. Pendidikan dan Pekerjaan

Berisi informasi mengenai tingkat pendidikan terakhir dan status pekerjaan

responden.

2. Instrumen Data Variabel Penelitian

Bagian ini adalah instrumen utama untuk mengukur variabel independen

dan dependen. Instrumen ini terdiri dari:

a. Kuesioner Pengetahuan dan Sikap:

1) Tujuan

Mengukur tingkat pemahaman (pengetahuan) dan pandangan (sikap)

responden mengenai gizi seimbang, diet rendah garam, manfaat serat, dan

manajemen hipertensi sebelum (pre-test) dan sesudah (post-test) diberikan edukasi.

2) Format

Berupa pertanyaan pilihan ganda atau pernyataan dengan skala Likert

(sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju).

b. Kuesioner Pola Makan:

1) Tujuan

Mengukur kebiasaan makan responden, termasuk asupan makanan tinggi

natrium dan serat.

2) Format
Dapat berupa kuesioner frekuensi makanan (Food Frequency

Questionnaire) atau metode Food Recall 2x24 jam untuk mendapatkan gambaran

asupan makanan yang lebih detail. Kuesioner ini akan digunakan untuk menilai

apakah ada perubahan pola makan setelah intervensi edukasi.

Semua kuesioner yang digunakan akan melalui tahap validasi dan

reliabilitas untuk memastikan alat ukur ini benar-benar mampu mengukur variabel

yang diteliti secara akurat dan konsisten.

J. Pemeriksaan keabsahan data

Untuk penelitian kuantitatif, keabsahan data difokuskan pada validitas dan

reliabilitas instrument penelitian. Validitas instrument akan diuji melalui validitas

isi dan konstruk, sedangkan reliablitas akan diuji dengan uji Cronbach’s Alpha.

K. Teknik analisis data

1. Analisis univariat : digunakan untuk mendekskripsikan karakteristik responden,

seperti usia, jenis kelamin dan tekanan darah awal

2. Analisis bivariat : digunakan untuk menguji hipotesis. Karena data yang akan

dibandingkan adalah data berpasangan (sebelum dan sesudah intervensi), akan

digunakan uji T berpasangan jika data berdistribusi normal. Jika tidak

berdistribusi normal, maka akan digunakan Wilcoxon Test


DAFTAR PUSTAKA

Al Rasyid, N. H. S., Febriani, N., Nurdin, O. F. T., Putri, S. A., Dewi, S. C., &
Paramita, S. (2022). TINGKAT KEEPATUHAN MINUM OBAT PASSIEN
HIPERTENSI DI PUSKESMAS LEMPAKE SAMARINDA. Jurnal
Kedokteran Mulawarman, 9(September), 55–63.
Anindya, K., Malawi, I., & Jatmikawati, M. (2023). Media Poster untuk
Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Deskriptif Siswa Sekolah Dasar.
Jurnal Educatio FKIP UNMA, 9(2), 666–672.
[Link]
Cahyanti, L., Yuliana, A. R., Putri, D. S., Fitriana, V., & Nur, H. A. (2024).
Konseling Pencegahan Penyakit Hipertensi di Desa Jepang Kecamatan
Mejobo Kabupaten Kudus. Jurnal Pengabdian Kesehatan, 7(1), 346–358.
[Link]
Charchar, F. J., Prestes, P. R., Mills, C., Ching, S. M., Neupane, D., Marques, F.
Z., Sharman, J. E., Vogt, L., Burrell, L. M., Korostovtseva, L., Zec, M., Patil,
M., Schultz, M. G., Wallen, M. P., Renna, N. F., Islam, S. M. S., Hiremath, S.,
Gyeltshen, T., Chia, Y. C., … Tomaszewski, M. (2024). Lifestyle management
of hypertension: International Society of Hypertension position paper
endorsed by the World Hypertension League and European Society of
Hypertension. Journal of Hypertension, 42(1), 23–49.
[Link]
Didipu, R., Febrianti, N., & Maryam, M. (2025). Edukasi Pola Makan Terhadap
Penurunan Tekanan Darah Pada Pasien Hipertensi Dengan Masalah
Keperawatan Defisit Pengetahuan Di Wilayah Kerja Puskesmas Talise Kota
Palu Diet Education for Lowering Blood Pressure in Hypertension Patients
with Nursing Problems. Jurnal Kolaboratif Sains, 8(1), 973–981.
[Link]
Dinkes Bulukumba. (2024). Profil Kesehatan Tahun 2023. Dinas Kesehatan
Bulukumba, 1–176.
Donatus, D., Syarifah, N., & Chasanah, S. U. (2021). Hubungan Pola Makan
Dengan Kejadian Hipertensi Diet Istimewa Yogyakarta. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Dan Penelitian Keperawaan, 10(1), 99–112.
Dwiasstuti, E. (2025). Which is more effective in hypertension?: Salt-free diet vs
DASH diet. Medicine (United States), 104(10), e41636.
[Link]
Fatmawati, B. R., Suprayitna, M., & Prihatin, K. (2023). EFEKTIVITAS EDUKASI
DIET DASH TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG DIET
DASH PADA PENDERITA HIPERTENSI. 10(1), 11–17.
Hall, M. E., Cohen, J. B., Ard, J. D., Egan, B. M., Hall, J. E., Lavie, C. J., Ma, J.,
Ndumele, C. E., Schauer, P. R., & Shimbo, D. (2021). Weight-Loss Strategies
for Prevention and Treatment of Hypertension: A Scientific Statement from
the American Heart Association. Hypertension, 78(5), E38–E50.
[Link]
Indriani, M. H., Djannah, S. N., & Ruliyandari, R. (2023). Pengaruh Aktivitas Fisik
terhadap Kejadian Hipertensi. Jurnal Kesehatan Masyarakat Terkini, 18(4),
1–5.
Kafi, I. A., Prihatin, S., & Jaelani, M. (2023). Pengaruh Pemberian Edukasi Gizi
Diet DASH dengan Media Audiovisual Terhadap Pengetahuan, Sikap, dan
Perilaku Gizi pada Pasien Hipertensi. Jurnal Riset Gizi, 11(1), 5–12.
[Link]
Kartika, R. C., Selviyanti, E., Umbaran, D. P. A., Fitriyah, D., & Yuanta, Y. (2021).
Peningkatan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Seimbang Untuk Mencegah
Permasalahan Gizi Pada Balita di Kabupaten Jember. Journal of Community
Development, 2(2), 91–96. [Link]
Kemenkes. (2022). Pilar Utama Gizi Seimbang. Dian Eka Yuningsih AMG.
[Link]
seimbang
Kemenkes. (2023). Penerapan Dietary Approach to Stop Hypertension (DASH).
Enny Dwiastuty. [Link]
dietary-approach-to-stop-hypertension-dash
Khairiyah, U., Yuswar, M. A., & Purwanti, N. U. (2022). Pola Penggunaan Obat
Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit.
Jurnal Syifa Sciences and Clinical Reasearch (JSSCR), 4(3), 609–617.
Lakoro, A., Handian, F. I., & Susanti, N. (2023). PENGARUH GAYA HIDUP
TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA PRALANSIA DI PUSKESMAS
BUALEMO. 12(April 2022), 15–25.
Mardianto, Darwis, & Suhartatik. (2021). Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian
Hipertensi. Jurnal Ilmiah Mahasiswa & Penelitian Keperawatan, 1(4), 507–
512.
Musdar, T. A., Junita, N., Asjur, A. V., Saputro, S., Hasmar, W. N., Santi, E.,
Ikhsan, M. K., Latu, S., Supardi, N., & Firdaus. (2024). Hubungan Tingkat
Kepatuhan dan Kualitas Hidup Pasien Hipertensi di RSUD H. A. Sulthan
Daeng Radja Bulukumba. 6(4), 519–523.
Nugraheni, R. (2024). Program Edukasi Gizi pada Remaja Putri untuk Mencegah
Stunting: Tinjauan Literatur Nutrition Education Program for Adolescent Girls
to Prevent Stunting: Literature Review. Jurnal Promotif Preventif, 7(3), 569–
577.
Pane, H. A. (2023). Hubungan Pola Makan Lansia Dengan Kejadian Hipertensi Di
Wilayah Kerja Puskesmas Sadabuan Tahun 2023. In ilmiah Mahasiswa &
Penelitian Keperwatan (Vol. 3, Issue 2).
Purwati, N., Wibowo, T. H., & Khasanah, S. (2021). Study Pola Makan Pasien
Hipertensi Literatur Review. [Link], 44(1), 45–58.
Rahmadhani, M. (2021). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Hipertensi
Pada Masyarakat Di Kampung Bedagai Kota Pinang the Factors That
Affecting Hypertension in Bedagai Village, Kota Pinang Society. Jurnal
Kedokteran STM (Sains Dan Teknologi Medik), 4(I), 52–62.
Ratna Sari, D., & Palupi, R. (2024). Pengaruh Latihan Fisik Brisk Walking
Terhadap Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Wilayah Kerja
Puskesmas Punggur. Health Research Journal of Indonesia, 2(3), 191–200.
[Link]
Riskesdas. (2023). SURVEI KESEHATAN INDONESIA (SKI).
Ronaldo, F., & Winta. (2024). Hubungan Pola Makan dengan Tekanan Darah pada
Lansia Riwayat Hipertensi di UPT Puskesmas Marina Permai Kota Palangka
Raya The Relationship Between Diet and Blood Pressure in Elderly
Hypertension History at UPT Puskesmas Marina Permai Palan. Jurnal
Kesehatan Saelmakers PERDANA, 7(1), 110–116.
Sainda, S. N. (2023). PENGARUH EDUKASI KESEHATAN DENGAN MEDIA
AUDIO VISUAL TERHADAP PENGETAHUAN IBU TENTANG STUNTING
PADA BALITA DI DESA SITARDAS KECAMATAN BADIRI KABUPATEN
TAPANULI TENGAH TAHUN. UNIVERSITAS AUFA ROYHAN.
Saputra, A., Sastrawan, A., & Chalimi, I. R. (2017). Pengaruh Penggunaan Media
Leaflet terhadap Hasil Belajar Sejarah pada Siswa Kelas XI IIS MAN 1
Pontianak. 1–11.
Sawidi, H., Nur, G. F., Fadillah, F., & Naldi, N. (2025). Edukasi tentang manfaat
pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan di Desa Tanete Kabupaten Maros.
JOURNAL OF Public Health Concerns, 4(6), 220–224.
[Link]
Shabrina, S. Q., & Koesyanto, H. (2023). Kejadian Hipertensi pada Pekerja Bagian
Machining. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development),
7(1), 12–18. [Link]
Sihombing, S. E., Cb, T., & Sinaga, F. (2021). LITERATURE REVIEW
HUBUNGAN POLA MAKAN TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI PADA
IBU HAMIL. 9(1).
Simamora, H. G., Simbolon, N., & Sianturi, E. (2023). Hubungan Pola Makan
Dengan Hipertensi Pada Lansia Di Kelurahan Mangga Dua Week Vii
Simalingkar. Jurnal Keperawatan Wiyata, 4(2), 15–20.
[Link]
Telaumbanua, A. C., & Rahayu, Y. (2023). PENYULUHAN DAN EDUKASI
TENTANG PENYAKIT HIPERTENSI. Jurnal Abdimas Saintika, 2, 154.
Umasugi. (2021). Sosialisasi dan Edukasi Pemberian Vaksin Sebagai Upaya Trust
Pada Masyarakat Kota Ambon. Journal of Human and Education Research &
Learning in Primary Education Journal Of Human And Education, 1, 1–3.
Waluyani, I., Siregar, F. N., Anggreini, D., Aminuddin, A., & Yusuf, M. U. (2022).
Pengaruh Pengetahuan, Pola Makan, dan Aktivitas Fisik Remaja Terhadap
Status Gizi di SMPN 31 Medan, Kecamatan Medan Tuntungan. PubHealth
Jurnal Kesehatan Masyarakat, 1(1), 28–35.
[Link]
Yuanta, Y., Widiyawati, A., Ayu, D. P., & Janna, T. A. (2023). Pengaruh Media
Flipchart terhadap Tingkat Pengetahuan dan Pola Makan Pada Pasien
Hipertensi Puskesmas Kaliwates Kabupaten Jember. Jurnal Ners, 7(2), 1100–
1106. [Link]

Anda mungkin juga menyukai