0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan72 halaman

Analisis Akuntansi UMKM Gula Aren Rokan Hulu

Skripsi psikologi

Diunggah oleh

FelinDiandra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan72 halaman

Analisis Akuntansi UMKM Gula Aren Rokan Hulu

Skripsi psikologi

Diunggah oleh

FelinDiandra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

ANALISIS AKUNTANSI PADA UMKM PENGOLAHAN GULA AREN


DI DESA RAMBAH TENGAH BARAT KECAMATAN RAMBAH
KABUPATEN ROKAN HULU

Disusun dan Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar
Sarjana Ekonomi Pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau

Oleh:

RITA PURWATI
NPM. 165310589

PROGRAM STUDI AKUNTANSI S1


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2021
ABSTRAK

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Rambah Tengah Barat Kecamatan


Rambah Kabupaten Rokan Hulu. Berkaitan dengan UMKM pengolahan gula aren
ini yang dipilih sebagai objek penelitian. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui kesesuaian penerapan akuntansi pada UMKM pengolahan gula aren
berdasarkan konsep-konsep dasar akuntansi.
Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data yang dikumpulkan
terdiri dari data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data menggunakan
wawancara dan dokumentasi, selanjutnya data yang didapat dianalisis secara
deskriptif.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa penerapan akuntansi yang
dilakukan pemilik usaha pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah Barat
belum sesuai dengan konsep dasar akuntansi. Konsep dasar pencatatan yang
dipakai pemilik usaha gula aren adalah cash basic. Konsep dasar kesatuan usaha
belum diterapkan sesuai konsep dasar akuntansi karena seluruh seluruh pemilik
usaha tidak melakukan pemisahan terhadap pencatatan pengeluaran usaha dan
disatukan dengan pengeluaran rumah tangga. Konsep kelangsungan usaha, belum
diterapkan sesuai konsep dasar akuntansi karena tidak ada satupun pemilik usaha
yang melakukan pencatatan terhadap penyusutan aset yang dimiliki. Konsep
periode waktu diterapkan dengan melakukan perhitungan laba rugi setiap satu
bulan sekali. Konsep penandingan, belum diterapkan sesuai konsep dasar
akuntansi karena tidak semua responden yang melakukan pemasukkan beban-
beban yang seharusnya dikeluarkan, tidak melakukan perhitungan biaya
penyusutan dari aset tetap dan peralatan yang digunakan.

Kata kunci : Penerapan, Konsep Dasar Akuntansi

i
ABSTRACT

This research was conducted at Rambah Tengah Barat village, Rambah


District, Rokan Hulu Regency. In connection with the palm sugar processing
micro business was chosen as the object of this research. The purpose of this
study was to determine the suitability of the application of accounting in palm
sugar processing micro business based on basic accounting concepts.
This research method using descriptive qualitative. The data collected
consisted of primary and secondary data. Methods of collecting data used
interviews and documentation, then the data obtained were analyzing by
descriptive.
The results of the study concluded that the accounting application carried
out by the palm sugar processing business owner in Rambah Tengah Barat
Village was not in accordance with the basic concepts of accounting. The basic
concept of recording used by palm sugar business owners is cash basis. The basic
concept of a business unit that has not been applied according to the basic
concept of accounting because all business owners do not separate recording and
business implementation by participating in household competitions. The business
concept is in accordance with the basic accounting concept because there is no
business owner who applies the application of the assets they have. The concept of
the time period is applied by calculating the profit and loss once a month. The
concept of matching has not been applied according to the basic accounting
concept because not all respondents who enter the expenses incurred do not
perform calculations that are applied to the fixed assets and equipment used.

Keywords: Application, Basic Concepts of Accounting

ii
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr, Wb.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat

Allah S.W.T yang telah memberikan segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga

penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi berjudul “Analisis Akuntansi pada

Usaha Pengolahan Gula Aren di Desa Rambah Tengah Barat Kecamatan Rambah

Kabupaten Rokan Hulu”. Adapun penulisan skripsi ini diajukan untuk memenuhi

salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE) pada Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau Pekanbaru.

Dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan

bimbingan, arahan, dan motivasi dari berbagai pihak, oleh sebab itu penulis pada

kesempatan kali ini ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada yang terhormat:

1. Bapak Prof. Dr. H. Syafrinaldi, SH., M.C.L, selaku Rektor Universitas

Islam Riau.

2. Bapak Dr. Firdaus Ar, SE., [Link]., Ak., CA selaku Dekan Fakultas

Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau.

3. Ibu Dr. Hj. Siska, SE., [Link]., Ak., CA selaku Ketua Program Studi

Akuntansi S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau.

4. Bapak Dian Saputra, SE., [Link]., Ak., CA selaku Sekretaris Program

Studi Akuntansi S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Riau.

5. Bapak Dr. Abrar, SE., [Link]., Ak., CA selaku Dosen Pembimbing yang

telah meluangkan waktunya ditengah kesibukan, namun selalu

iii
memberikan masukan, dorongan dan saran demi memberikan konsep

penelitian, sehingga penulis termotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.

6. Ibu Alfurkaniati, SE., [Link]., Ak., CA dan Ibu Lintang Nur Agya, SE.,

[Link]., Ak selaku Dosen Penguji yang telah memberikan saran, arahan

dan perbaikan agar skripsi ini menjadi lebih baik lagi.

7. Bapak dan Ibu seluruh Dosen di lingkungan civitas Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Universitas Islam Riau atas segala ilmu yang diberikan selama

kegiatan perkuliahan.

8. Bapak dan Ibu seluruh Staf dan Pegawai Tata Usaha Fakultas Ekonomi

dan Bisnis Universitas Islam Riau yang telah membantu mengurus

dokumen akademik.

9. Para masyarakat pemilik usaha pengolahan gula aren Desa Rambah

Tengah Barat yang telah bersedia memberikan data-data dan informasi

yang diperlukan dalam penelitian ini.

10. Teristimewa untuk orangtua beserta seluruh keluarga besar yang selalu

memberikan nasehat, semangat, dukungan dan dorongan baik moril

maupun materil sehingga penulis terus termotivasi dalam menyelesaikan

skripsi ini.

11. Teman-teman seperjuangan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Angkatan

2016/2017 atas segala persahabatan, bantuan dan kerjasamanya selama ini.

12. Semua pihak-pihak yang telah membantu sehingga dapat terselesaikan

skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

iv
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini masih

terdapat banyak kekurangan mengingat kemampuan penulis yang terbatas dan

jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati penulis

mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar menjadi bahan

koreksi yang ilmiah, sehingga skripsi ini kelak menjadi lebih baik dalam

menambah wawasan bagi seluruh pihak.

Wassalamualaikum, Wr. Wb…


Pekanbaru, 21 Juni 2021
Penulis,

RITA PURWATI
165310589

v
DAFTAR ISI

ABSTRAK....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... iii
DAFTAR ISI................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL........................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR...................................................................................... iii
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah............................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah..................................................................... 6
1.3. Tujuan Penelitian...................................................................... 6
1.4. Manfaat Penelitian.................................................................... 6
1.5. Sistematika Penulisan................................................................ 7
BAB II TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS
2.1. Telaah Pustaka.......................................................................... 9
...................................................................................................
2.1.1. Pengertian Akuntansi....................................................... 9
2.1.2. Konsep Dasar Akuntansi................................................. 10
2.1.3. Siklus Akuntansi.............................................................. 14
2.1.4. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah................................. 24
2.1.5. Akuntansi EMKM........................................................... 26
2.2. Hipotesis.................................................................................... 29
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Desain Penelitian....................................................................... 30
3.2. Objek Penelitian........................................................................ 30
3.3. Definisi Variabel Penelitian...................................................... 30
3.4. Populasi dan Sampel................................................................. 31
3.5. Jenis dan Sumber Data.............................................................. 32
3.6. Teknik Pengumpulan Data........................................................ 33
3.7. Teknik Analisis Data................................................................. 34

vi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Usaha Gula Aren......................................... 35
4.1.1. Identitas Responden...................................................... 35
4.1.2. Deskripsi Responden.................................................... 39
4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan.............................................. 45
4.2.1. Pencatatan Penerimaan dan Pengeluaran Kas.............. 45
4.2.2. Penjualan Kredit dan pencatatan Piutang..................... 46
4.2.3. Pembelian Kredit dan Pencatatan Hutang.................... 47
4.2.4. Pencatatan Persediaan................................................... 47
4.2.5. Pencatatan Aset Tetap................................................... 48
4.2.6. Perhitungan Laba Rugi................................................. 49
4.2.7. Periode Perhitungan Laba Rugi.................................... 49
4.2.8. Sumber Pendapatan...................................................... 50
4.2.9. Harga Pokok Penjualan................................................. 51
4.2.10. Biaya Yang Dikeluarkan............................................... 51
4.2.11. Fungsi Perhitungan Laba Rugi..................................... 54
4.3. Pembahasan............................................................................... 54
4.3.1. Konsep Kesatuan Usaha............................................... 54
4.3.2. Konsep Kelangsungan Usaha....................................... 54
4.3.3. Konsep Periode Waktu................................................. 55
4.3.4. Konsep Penandingan.................................................... 55
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan............................................................................... 56
5.2. Saran.......................................................................................... 57
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Populasi UMKM Pengolahan Gula Aren di Desa Rambah


Tengah Barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu.......... 32
Tabel 5.1 Distribusi Responden Dirinci Menurut Jenis Kelamin.................. 39
Tabel 5.2 Distribusi Responden Dirinci Menurut Tingkat Umur.................. 39
Tabel 5.3 Distribusi Responden Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan......... 40
Tabel 5.4 Distribusi Responden Dirinci Menurut Lama Usaha..................... 41
Tabel 5.5 Distribusi Responden Dirinci Menurut Status Kepemilikan
Usaha............................................................................................. 41
.......................................................................................................
Tabel 5.6 Distribusi Responden Dirinci Menurut Status Usaha.................... 42
Tabel 5.7 Distribusi Responden Dirinci Menurut Besar Modal yang
Dikeluarkan.................................................................................... 42
Tabel 5.8 Distribusi Responden Dirinci Menurut Jumlah Tenaga Kerja....... 43
Tabel 5.9 Distribusi Responden Dirinci Menurut Pemegang Keuangan
Usaha............................................................................................. 44
Tabel 5.10 Distribusi Responden Dirinci Menurut Kebutuhan Sistem
Pembukuan..................................................................................... 44
Tabel 5.11 Pencatatan Penerimaan Kas dan Pengeluaran Kas........................ 45
Tabel 5.12 Penjualan Kredit dan pencatatan Piutang...................................... 46
Tabel 5.13 Pembelian Kredit dan Pencatatan Hutang..................................... 47
Tabel 5.14 Pencatatan Persediaan.................................................................... 48
Tabel 5.15 Pencatatan Aset Tetap.................................................................... 48
Tabel 5.16 Perhitungan Laba Rugi.................................................................. 49
Tabel 5.17 Periode Perhitungan Laba Rugi..................................................... 49
Tabel 5.18 Harga Pokok Penjualan.................................................................. 51
Tabel 5.19 Biaya Yang Dikeluarkan................................................................ 52
Tabel 5.20 Fungsi Perhitungan Laba Rugi...................................................... 54

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Siklus Akuntansi.......................................................................... 15

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I. Kuesioner
Lampiran II. Data Jumlah UMKM yang terdaftar
Lampiran III. UMKM 1 Abdul Akhir
Lampiran IV. UMKM 2 Amner
Lampiran V. UMKM 3 Sahruddin
Lampiran VI. UMKM 4 Awirdan
Lampiran VII. UMKM 5 Rifardi Nasution
Lampiran VIII. UMKM 6 Ansari
Lampiran IX. UMKM 7 Munir
Lampiran X. UMKM 8 Paet
Lampiran XI. UMKM 9 Rifai Nasution
Lampiran XII. UMKM 10 Suardi
Lampiran XIII. UMKM 11 Suhelman
Lampiran XIV. UMKM 12 Nasrin
Lampiran XV. UMKM 13 Parmin
Lampiran XVI. UMKM 14 Jasril
Lampiran XVII.
................................................................................................
UMKM 15 Tabrani

x
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia merupakan salah

satu unsur utama penggerak perekonomian. Hal ini dibuktikan dari kontribusi

sektor UMKM yang berkontribusi dalam pertumbuhan dan perataan ekonomi,

penciptaan lapangan pekerjaan serta penyerapan tenaga kerja. Keberadaan

UMKM yang tersebar luas di seluruh daerah di Indonesia menjadi penopang

produksi nasional sekaligus sumber pendapatan dan kesejahteraan sebagian besar

masyarakat.

Semua pelaku UMKM pasti menginginkan usahanya berhasil sukses serta

mengalami pertumbuhan yang optimal. Namun hanya sebagian yang menyadari

bahwa untuk mengetahui sejauhmana perkembangan usaha dapat dilihat dari

laporan keuangan, karena menurut mereka dampak penyusunan laporan keuangan

tidak terlihat secara jelas terhadap kelangsungan usahanya (Hani, Mariati dan

Harahap, 2018:1).

Permasalahan yang sering terjadi dalam UMKM yaitu pengelola belum

memahami pentingnya akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan padahal

memiliki manfaat yang sangat besar bagi perkembangan usahanya. Menurut

Rahayu, Ramadhanti dan Widodo (2020:4) keuntungan utama yang didapat jika

UMKM menerapkan akuntansi ialah dapat memonitoring secara akurat kondisi

keuangannya, dan meskipun hal ini terkadang cukup rumit untuk diterapkan bagi

1
2

seluruh UMKM pada dasarnya masih banyak bantuan seperti lembaga pemerintah

yang memiliki program bantuan fasilitas seminar dan pelatihan khusus bagi para

UMKM di masing-masing daerah agar memiliki laporan keuangan yang baik.

Menurut Rudianto (2012:9) konsep dasar akuntansi adalah berbagai konsep

yang telah dijadikan rujukan dan dijadikan sebagai standar dalam menyampaikan

laporan keuangan yang rapi dan mudah dipahami. Konsep dasar akuntansi

memiliki beberapa poin utama yakni; 1) Konsep kesatuan usaha, 2) Dasar

pencatatan, 3) Konsep kelangsungan usaha, 4) Konsep periode waktu, 5) Konsep

laba/ rugi, dan 6) Konsep penandingan.

Tahapan siklus akuntansi menurut Kieso dkk (2011:98) terdiri dari; 1)

identifikasi transaksi, 2) pembuatan atau penerimaan bukti asli, 3) pencatatan

tansaksi dalam jurnal, 4) posting transaksi, 5) penyusunan neraca saldo sebelum

penyesuaian, 6) penyusunan jurnal penyesuaian, 7) neraca saldo setelah

penyesuaian, 8) penyusunan laporan keuangan, 9) jurnal penutup, 10) neraca saldo

setelah penutupan, dan 11) jurnal pembalik. Laporan keuangan dihasilkan dari

suatu proses yang disebut juga dengan siklus akuntansi, hal ini bermakna

serangkaian proses-proses pencatatan mulai dari terjadinya transaksi sampai

dengan penyusunan laporan keuangan, dan proses ini terus terjadi berulang-ulang

dalam suatu periode.

SAK EMKM disusun untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan

entitas mikro, kecil, dan menengah. Undang-Undang No 20 Tahun 2008 tentang

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dapat digunakan sebagai acuan dalam

mendefinisikan dan memberikan rentang kuantitatif EMKM. SAK ini ditujukan


3

untuk digunakan oleh entitas yang tidak atau belum mampu memenuhi

persyaratan akuntansi yang diatur dalam SAK ETAP. SAK EMKM berlaku

efektif per 1 Januari 2018, informasi ini terdiri dari informasi mengenai aset,

liabilitas, dan ekuitas entitas pada tanggal tertentu yang disajikan dalam laporan

SAK EMKM di rancang untuk memudahkan para pelaku UMKM dalam

menyusun laporan keuangan untuk tujuan akuntabilitas dan pengambilan

keputusan.

Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu yang telah dirangkum

menunjukkan penerapan akuntansi UMKM yang belum sesuai konsep dasar

akuntansi. Penelitian Syafitri (2018) dengan judul “Analisis Penerapan Akuntansi

pada Usaha Bawang Goreng di Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru”

menyimpulkan bahwa sebagian besar para pemilik usaha belum menerapkan

konsep dasar akuntansi yang benar dalam menerapkan konsep kesatuan usaha dan

konsep penandingan pendapatan serta beban. Sebagian besar pemilik usaha

membutuhkan sistem pembukuan dalam menjalankan usaha mereka namun

terkendala minimnya pemahaman atas akuntansi yang tepat bagi UMKM.

Penelitian Firdaus (2020) dengan judul “Analisis Penerapan Akuntansi pada

Usaha Kebab di Kota Pekanbaru” menyimpulkan bahwa akuntansi yang

diterapkan belum sesuai dengan prinsip akuntansi dengan baik. Beberapa

permasalahan yang ditemui ialah tidak menerapkan posisi keuangna dalam

usahanya, tidak memisahkan keuangan transaksi usaha dan non usaha, serta belum

menerapkan konsep kelangsungan usaha.


4

Penelitian Ningsih (2018) dengan judul “Analisis Penerapan Akuntansi

Pada Usaha Pengetaman Kayu di Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru”

menyimpulkan bahwa usaha pengetaman kayu yang ada di Kecamatan Rumbai

Pesisir Pekanbaru belum menerapkan akuntansi dengan baik. Pencatatan yang

dilakukan oleh pengusaha pengetaman kayu belum dapat menghasilkan informasi

keuangan yang bermanfaat dalam menjalankan usaha, karena pencatatan yang

dilakukan masih menggabungkan antara pengeluaran pribadi dengan pengeluaran

usahanya.

Sejalan dengan penelitian terdahulu pada sektor UMKM di atas, penelitian

ini dilakukan pada usaha pengolahan gula aren tepatnya di Desa Rambah Tengah

Barat. Desa Rambah Tengah Barat menjadi salah satu pusat industri pengolahan

gula aren di Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu. Hal ini didukung

dengan adanya organisasi HPR (Himpunan Pemuda Reformasi) sebagai satu-

satunya organisasi di desa ini. HPR merupakan organisasi yang diketuai oleh

Rifardi Nasution yang bertujuan menjadi perkumpulan pengusaha gula aren agar

bersama-sama mampu memasarkan gula aren sendiri ke berbagai wilayah.

Berdasarkan data perolehan hasil survei lapangan terdapat 15 usaha

pengolahan gula aren yang ada di Desa Rambah Tengah Barat. Survei awal

dilakukan terhadap tiga pengelola usaha yaitu Abdul Akhir, Amner, dan

Sahruddin.

Pada usaha pengolahan gula aren Bapak Abdul Akhir yang beralamatkan di

Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat, dalam menjalankan usahanya pemilik

melakukan pemisahan pencatatan kas masuk dan kas keluar dalam satu buku
5

catatan harian (Lampiran 3), kas masuk terdiri dari jumlah pesanan gula aren

dengan satuan kg serta harga totalnya. Pengeluaran kas yang dicatat antara lain

adalah untuk usaha yaitu kayu bakar, plastik, minyak tanah, serta belanja rumah

tangga yaitu tagihan listrik, pulsa, bayar tagihan arisan, dan upah sawit. Untuk

mengetahui keuntungan yang didapat pemilik hanya menjumlahkan seluruh

pendapatan dikurangi dengan pengeluaran setiap bulannya.

Pada usaha pengolahan gula aren Bapak Sahruddin yang beralamatkan di Jl.

Kaiti III Desa Rambah Tengah Barat, dalam menjalankan usahanya pemilik

melakukan pemisahan pencatatan kas masuk dan kas keluar dalam satu buku

catatan harian (Lampiran 9), kas masuk terdiri dari jumlah pesanan gula aren

dengan satuan kg serta harga totalnya. Pengeluaran kas yang dicatat antara lain

adalah untuk usaha yaitu kayu bakar, minyak tanah, daun pisang, saringan, teka

(alat pencetak gula aren), serta belanja rumah tangga yaitu listrik, pulsa, rokok.

Untuk mengetahui keuntungan yang didapat pemilik hanya menjumlahkan seluruh

pendapatan dikurangi dengan pengeluaran setiap bulannya.

Pada usaha pengolahan gula aren Bapak Amner yang beralamatkan di Jl.

Suri Anjung Jati Desa Rambah Tengah Barat, dalam menjalankan usahanya

pemilik melakukan pencatatan kas masuk dan kas keluar dalam satu buku catatan

harian (Lampiran 15), kas masuk terdiri dari jumlah pesanan gula aren dengan

satuan kg serta harga totalnya. Pengeluaran kas yang dicatat antara lain adalah

untuk usaha yaitu box kemasan, plastik, ember, daun pisang, serta belanja rumah

tangga yaitu token listrik, pulsa, dan arisan. Untuk mengetahui keuntungan yang
6

didapat pemilik hanya menjumlahkan seluruh pendapatan dikurangi dengan

pengeluaran setiap bulannya.

Pentingnya pencatatan akuntansi secara teratur dan rapi, karena melalui

pencatatan maka setiap pemilik usaha dapat mengetahui dengan jelas berapa

jumlah atau banyaknya barang produksi yang dibutuhkan dan berapa besar

keuntungan atau kerugian yang dialami oleh usahanya. Berdasarkan uraian latar

belakang masalah tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian lebih

lanjut dengan topik berjudul “Analisis Akuntansi pada Usaha Pengolahan Gula

Aren di Desa Rambah Tengah Barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan

Hulu”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah penelitian ini adalah:

“Apakah penerapan akuntansi pada Usaha pengolahan gula aren di Desa Rambah

Tengah Barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu telah sesuai dengan

konsep-konsep dasar akuntansi?”

1.3. Tujuan Penelitian

Dari rumusan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah: “Untuk

mengetahui kesesuaian penerapan akuntansi pada UMKM pengolahan gula aren

di Desa Rambah Tengah Barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu

berdasarkan konsep-konsep dasar akuntansi”.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian yang bisa diperoleh dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:
7

1) Sebagai bahan informasi dan masukan bagi pemilik UMKM pengolahan

gula aren atau UMKM sejenis pada umumnya dalam uapya mengetahui

penerapan akuntansi sesuai dengan kaidah dalam prinsip akuntansi.

2) Sebagai referensi atau bahan pertimbangan untuk penelitian berikutnya

dengan masalah atau konsep penelitian yang sama.

3) Sebagai sarana dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan bagi penulis

dibidang penelitian dan aplikasi ilmu akuntansi yang telah diperoleh selama

menjalani ilmu perkuliahan.

1.5. Sistematika Penulisan

Sistem penulisan dalam penelitian ini terbagi menjadi beberapa bagian yang

setiap bagiannya berisikan sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini membahas mengenai latar belakang masalah, rumusan

masalah, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan

yang digunakan setiap bab.

BAB II : TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS

Bab ini membahas tentang landasan-landasan teoritis menurut para

ahli yang relevan disertai dengan perumusan hipotesis penelitian yang

diajukan.

BAB III : METODE PENELITIAN

Bab ini penulis menjelaskan tentang lokasi penelitian, jenis dan

sumber data, jenis dan sumber data yang digunakan, teknik

pengumpulan data, dan teknik analisis data penelitian.


8

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini menguraikan secara singkat terkait gambaran umum

UMKM pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah Barat

Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu, selanjutnya juga

memaparkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai analisis

akuntansi yang digunakan.

BAB V : SIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini terdiri atas kesimpulan yang didapatkan dari hasil

penelitian dan saran-saran yang diberikan didasarkan atas kelemahan

yang ada sehingga diharapkan dapat berguna bagi UMKM pengolahan

gula aren.
BAB II

TELAAH PUSTAKA DAN HIPOTESIS

2.1. Telaah Pustaka

1.1.1. Pengertian Akuntansi

Menurut Soemarso (2013:14) akuntansi adalah disiplin ilmu yang

memberikan informasi penting sehingga memungkinkan pelaksanaan dan

penilaian yang efisien atas jalannya perusahaan. Akuntansi juga didefinisikan

sebagai proses mengidentifikasi, mengukur, dan melaporkan informasi ekonomi,

untuk memungkinkan penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka

yang menggunakan informasi tersebut.

Menurut Weygandt dkk (2014:11) akuntansi merupakan suatu sistem

informasi yang mengidentifikasikan, mencatat, dan mengomunikasikan peristiwa-

peristiwa ekonomi dari suatu organisasi kepada para pengguna yang

berkepentingan. Peristiwa ekonomi tersebut dicatat untuk menjadi alur aktivitas

keuangan perusahaan. Pencatatan ini terdiri atas jurnal peristiwa-peristiwa secara

sistematis dan kronologis, yang diukur dalam satuan mata uang tertentu.

Menurut American Insitute of Certified Public Accounting (AICPA) dalam

Primiana (2011:34) akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan

pengikhtisaran dengan beberapa cara tertentu dalam ukuran moneter, transaksi,

dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan termasuk menafsirkan

hasil-hasilnya. dan meringkas dengan cara tertentu dalam ukuran fiskal,

9
10

pertukaran dan kesempatan yang pada umumnya yang bersifat moneter dan dalam

menguraikan hasil.

Menurut Kieso dkk (2011:2) “Akuntansi terdiri dari 3 aktivitas yang

mendasar yakni identifikasi, pencatatan dan pengkomunikasian peristiwa ekonomi

sebuah organisasi kepada pihak yang berkepentingan. Perusahaan

mengidentifikasi peristiwa ekonomi sesuai dengan aktivitas usahanya dan

mencatat peristiwa tersebut untuk menyediakan catatan kegiatan keuangan”.

Menurut Hantono dan Rahmi (2018:2) akuntansi bermakna seni yang meliputi

kebersihan, kerapian, dan rincian pencatatan, pengklasifikasian, perangkuman,

dan pelaporan dengan cara yang optimal dalam suatu divisi moneter atas transaksi

yang terjadi dalam suatu perusahaan.

Dari penjelasan ahli tersebut, maka disimpulkan akuntansi adalah ilmu dan

teknologi untuk mencatat, mengelompokkan dan meringkas peristiwa dan

peristiwa, dan dapat melakukan pemikiran keuangan dengan cara yang dapat

dengan cepat memberikan instruksi yang dinyatakan dalam mata uang, dan dapat

memprediksi serta menjelaskan konsep keuangan yang dihasilkan.

1.1.2. Konsep Dasar Akuntansi

Konsep dasar akuntansi adalah “suatu konsep yang berlaku secara umum

tentang suatu asumsi, anggapan, pandangan atau pendapat dalam menyajikan

informasi keuangan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam konsep

kesatuan usaha ini, perusahaan merupakan suatu kesatuan ekonomi yang terpisah

dari pihak yang berkepentingan dengan sumber perusahaan (Soemarso, 2013:5).


11

Menurut Rudianto (2012:9) “Konsep dasar akuntansi adalah hal-hal dasar

yang membangun informasi akuntansi. Konsep dasar akuntansi sangat dibutuhkan

untuk mempelajari bagaimana pengolahan data keuangan dalam sebuah organisasi

atau perusahaan. Dengan konsep dasar tersebut pengolahan data keuangan bisa

dijamin berjalan dengan baik. Konsep dasar akuntansi adalah berbagai konsep

yang telah dijadikan rujukan dan dijadikan sebagai standar dalam menyampaikan

laporan keuangan yang rapi dan mudah dipahami.” Konsep dasar akuntansi

terdapat beberapa poin, diantaranya:

a. Konsep kesatuan usaha (entity concept)

Konsep akuntansi yang paling penting adalah konsep entitas, konsep entitas

bertujuan agar transaksi perusahaan tidak boleh digabung dengan transaksi pribadi

atau transaksi lainnya termasuk biaya rumah tangga.

Menurut Muawanah dkk (2018:402) entitas usaha mengandung arti bahwa

perusahaan dipandang sebagai sebuah unit usaha yang berdiri sendiri terpisah dari

pemiliknya dan dari kesatuan usaha lainnya dimana akuntansi itu berada. Artinya

akuntansi hanya akan melaporkan aktivitas ekonomis yang dialami perusahaan itu

sendiri bukan melaporkan aktivitas ekonomi pemiliknya sehingga ada pemisahan

yang jelas antara perusahaan dengan pemiliknya.

SAK EMKM (2018:6) menjelaskan entitas usaha adalah konsep bisnis, baik

yang merupakan usaha perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum,

maupun badan usaha yang berbadan hukum, harus dapat dipisahkan secara jelas

dengan pemilik bisnis tersebut maupun dengan entitas-entitas lainnya. Transaksi


12

yang berkaitan dengan bisnis tersebut harus dapat dipisahkan dari transaksi

pemilik bisnis tersebut, maupun dari transaksi entitas lainnya.

b. Dasar pencatatan (basic of recording)

Ada 2 macam dasar pencatatan dalam akuntansi yang digunakan dalam

mencatatan akuntansi diantaranya: 1) Dasar kas, dimana penerimaan dan

pengeluaran akan dicatat atau diakui apabila kas sudah diterima atau dikeluarkan.

2) Dasar akrual, dimana penerimaan dan pengeluaran dicatat atau diakui pada saat

terjadinya transaksi tanpa melihat apakah kas telah diterima atau dikeluarkan.

Menurut Muawanah dkk (2018:408) “proses pencatatan ini melibatkan dua

kegiatan yaitu penentuan pos-pos laporan keuangan yang dipengaruhi oleh

transaksi dan penentuan nilai untuk setiap pos tersebut. Proses penentuan pos-pos

ini dikenal dengan istilah pengakuan sedangkan proses penentuan nilainya dikenal

dengan istilah pengukuran.”

Menurut Soemarso (2013:59) “dasar pencatatan sebagai cara atau metode

yang digunakan untuk menyelenggarakan pencatatan-pencatatan mengenai

transaksi keuangan sehingga menghasilkan informasi yang relevan untuk

pengambilan suatu keputusan.”

c. Konsep kelangsungan usaha (going concern)

Konsep kesinambungan dalam akuntansi menyatakan bahwa suatu entitas

akan terus melakukan usahanya untuk masa yang tak dapat diramalkan dimasa

yang akan datang. Untuk itu diperlukan laporan keuangan secara periodik untuk

mengukur tingkat keuangan dan kemajuan usaha tersebut.


13

Menurut Muawanah dkk (2018:403) kelangsungan usaha ini memiliki arti

bahwa perusahaan diasumsikan akan beroperasi terus di masa depan tanpa

batasan, tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara

material skala usahanya. Jika maksud atau keinginan tersebut timbul, laporan

keuangan mungkin harus disusun dengan dasar yang berbeda dan dasar yang

digunakan harus diungkapkan.

SAK EMKM (2018:6) menjelaskan pada saat menyusun laporan keuangan,

manajemen menggunakan SAK EMKM dalam membuat penilaian atas

kemampuan entitas untuk melanjutkan usahanya di masa depan (kelangsungan

usaha). Entitas mempunyai kelangsungan usaha, kecuali jika manajemen

bermaksud melikuidasi entitas tersebut atau menghentikan operasi atau tidak

mempunyai alternatif realistis kecuali melakukan hal-hal tersebut. Jika entitas

tidak menyusun laporan keuangan berdasarkan asumsi kelangsungan usaha, maka

entitas mengungkapkan fakta mengapa entitas tidak mempunyai kelangsungan

usaha.

d. Konsep periode waktu (time period concept)

Menurut Muawanah dkk (2018:403) periode waktu dalam laporan keuangan

harus disusun dan disajikan secara periodik. Asumsi ini diterapkan karena

perusahaan dianggap beroperasi secara terus menerus dalam jangka waktu yang

tidak terbatas. Kalau ada pihak pihak yang membutuhkan informasi mengenai

posisi keuangan dan kinerja perusahaan, sebetulnya cara yang paling akurat

adalah dengan menghentikan aktivitas operasi perusahaan tersebut dalam jangka

waktu tertentu. Teknik atau cara ini tentu saja sangat tidak mungkin unutuk
14

dilaksanakan, karena pihak pihak yang membutuhkan informasi tadi harus segera

dipenuhi untuk membuat keputus harus dapat dipisahkan ke dalam periode waktu

yang ditetapkan batasa. Untuk itu aktivitas ekonomi sebuah perusahaannnya,

misalnya tahunan, semesteran atau bulanan. Oleh karena itu akuntansi atau posisi

keuangan maupun kinerja perusahaan.

Menurut Soemarso (2013:55) konsep periode waktu merupakan salah satu

tujuan informasi keuangan perusahaan yang harus dilaporkan secara berkala,

misalnya per tiga bulan, enam bulan, sembilan bulan atau satu tahun. diadakannya

pelaporan secara berkala ini adalah untuk menentukan strategi dan kebijakan

perusahaan pada masa yang akan datang.

e. Konsep penandingan (matching principle)

Menurut Sudiharto (2020:48) prinsip penandingan merupakan prinsip yang

menandingkan beban dan pendapatan. Beban diakui pada saat dibayarkan atau

ketika pekerjaan dilakukan atau pada saat produk diproduksi, tetapi ketika pekerja

atau produk secara aktual memberikan kontribusi terhadap pendapatan.

Pengakuan beban berkaitan dengan pengakuan pendapatan.

1.1.3. Siklus Akuntansi

Menurut Bahri (2018:18) siklus akuntasi adalah tahapan kegiatan mulai dari

terjadinya transaksi sampai dengan penyusunan laporan keuangan, sehingga siap

untuk pencatatan transaksi periode selanjutnya yang terus terjadi berulang-ulang.

Siklus akuntansi merupakan langkah-langkah dalam akuntansi formal dimulai dari

sebuah analisis terhadap transaksi bisnis, mencatat dalam buku jurnal, dan diakhiri

dengan suatu penyusunan daftar saldo setelah penutupan.


15

Tahapan siklus akuntansi menurut Kieso dkk (2011:99) memiliki alur yang

dapat dilihat pada gambar II.1 sebagai berikut:

Gambar 2.1.
Siklus Akuntansi

Identifikasi transaksi

Pembuatan atau penerimaan bukti asli

Pencatatan transaksi dalam jurnal

Posting transaksi

Penyusunan neraca saldo sebelum penyesuaian

Penyusunan jurnal penyesuaian

Neraca saldo setelah penyesuaian

Penyusunan laporan keuangan

Jurnal penutup

Neraca saldo setelah penutupan

Sumber: Kieso dkk (2011:99)

Adapun poin penting dari siklus akuntansi tersebut adalah:

1) Identifikasi Transaksi

Transaksi atau merubah posisi keuangan atau dapat disebut bukti adalah

setiap kejadian yang merubah posisi keuangan atau hasil usaha entity yang

dilaporkan (perusahaan/ lembaga). Kejadian yang dicatat dan dibukukan

hanya kejadian yang dapat dikategorikan sebagai transaksi. Menurut

Rudianto (2012:16) bukti transaksi dapat berupa faktur, kuitansi, nota


16

penjualan, invoice dan lainnya. Kieso dkk (2011:93) mendefinisikan

transaksi sebagai berikut:

“Suatu kejadian eksternal yang melibatkan transfer atau pertukaran

dimana dua kesatuan atau lebih.”

Dari pengertian transaksi tersebut dapat diketahui transaksi merupakan

penyebab awalnya adanya pencatatan karena yang dilakukan dalam

akuntansi merupakan pencatatan yang didasarkan pada bukti transaksi.

2) Pembuatan atau penerimaan bukti asli

Menurut Rudianto (2012:15) transaksi yang terjadi dibuktikan dengan

adanya dokumen. Suatu transaksi baru dikatakan sah atau benar bila

didukung oleh bukti-bukti yang sah. Bukti transaksi dapat berupa dokumen

intern yang dibuat sendiri oleh perusahaan atau bisa pula berupa dokumen

ekstren yang dibuat oleh pihak luar. Menurut Kieso dkk pembuatan atau

penerimaan bukti asli terdiri dari bukti kas keluar (cash voucher), bukti kas

masuk (official receipt), memo (voucher), sementara itu bukti ekstern terdiri

dari faktur (invoice), nota debit (debit note), nota kredit (crediti note).

3) Pencatatan transaksi kedalam jurnal

Menurut Rudianto (2012:16) jurnal merupakan buku yang

dipergunakan untuk mencatat transaksi perusahaan secara kronologi atau

berdasarkan urut waktu terjadi. Jurnal ini terdiri dari jurnal umum dan jurnal

khusus. Jurnal umum dibuat atas transaksi yang tidak dicatat dalam junal

khusus. Contohnya transaksi yang akan dicatat dalam jurnal umum adalah

transaksi retur pembelian, retur penjualan, serta transaksi pembelian


17

peralatan dan perlengkapan secara kredit. Selanjutnya Rudianto (2012:16)

menjelaskan jurnal khusus dibagi menjadi :

1) Jurnal penjualan (sales journal), digunakan untuk mencatat seluruh

transaksi penjualan barang dagang ke pelanggan secara kredit.

2) Jurnal pembelian (purchases journal), digunakan untuk mencatat

seluruh transaksi pembelian barang dagang dari supplier secara kredit.

3) Jurnal penerimaan kas (cash receipt journal), digunakan untuk

mencatat seluruh transaksi penerimaan kas.

4) Jurnal pembayaran kas (cash payments journal), digunakan untuk

mencatat seluruh transaksi pengeluaran kas.

Dari pengertian jurnal diatas dapat diketahui bahwa jurnal merupakan

tempat mencatat transaksi-transaksi yang dilakukan oleh perusahaan secara

teratur sesuai dengan urutan kejadian.

4) Posting transaksi

Posting transaksi menurut Rudianto (2012:43) adalah pencatatan

transaksi dari jurnal kedalam rekening-rekening yang terkait. Posting

transaksi pada dasarnya mengumpulkan item-item transaksi yang sama

kedalam satu tempat yang disebut dengan rekening pembukuan. Rekening

pembukuan dapat dibedakan kedalam kedua kategori yaitu rekening buku

besar (general ladger) dan rekening buku pembantu (subsidary ladger).

Memposting (pemindahan buku) setiap saldo akun yang terdapat pada jurnal

ke dalam buku besar untuk masing – masing akun. Buku besar untuk masing

– masing akun ini akan memperlihatkan secara terperinci mengenai setiap


18

perubahan (mutasi debet dan mutasi kredit) yang ditimbulkan dari seluruh

transaksi yang terjadi selama periode akuntansi. Bentuk buku besar yang

dapat dipergunakan oleh perusahaan antara lain yaitu:

1) Bentuk skontro, biasa disebut juga bentuk dua kolom atau bentuk T,

yang artinya sebelah menyebelah, sisi kiri disebut debet dan sisi kanan

disebut kredit.

2) Bentuk bersaldo, disebut dengan bentuk empat kolom.

Kieso dkk (2011:95) menjelaskan fungsi buku besar sebagai berikut:

1) Mencatat secara terperinci setiap jenis harta, hutang, dan modal beserta

perubahannya (transaksi atau kejadian)

2) Menggolongkan aspek transaksi atau kejadian sesuai dengan jenis akun

masing-masing.

3) Menghitung jumlah atau nilai dari setiap jenis akun

4) Mengikhtisarkan transaksi kedalam akun terkait untuk dapat menyusun

laporan keuangan.

Dari pengertian buku besar di atas, maka dapat diketahui bahwa buku

besar merupakan buku utama pencatatan transaksi keuangan yang

mengkonsolidasikan masukan dari semua jurnal akuntansi dan merupakan

penggolongan rekening sejenis. Buku besar dapat berbentuk skontro

ataupun bersaldo yang merupakan dasar pembuatan laporan neraca dan

laporan laba/ rugi.


19

5) Penyusunan neraca saldo sebelum penyesuaian

Neraca saldo adalah suatu daftar yang berisi seluruh jenis nama akun

beserta saldo total dari setiap akun yang disusun secara sistematis sesuai

dengan kode akun yang bersumber dari buku besar perusahaan pada periode

tertentu. Neraca saldo (trial balance), diperlukan untuk memastikan bahwa

tidak adanya kesalahan di dalam memposting jurnal debet/ kredit dari jurnal

ke buku besar (Hery, 2014:70).

Setelah membuat buku besar maka langkah selanjutnya dalam

penyelesaian siklus akuntansi adalah membuat neraca saldo. Daftar dari

semua saldo perkiraan, sebagai alat untuk menguji apakah total debet sama

dengan total kredit untuk semua perkiraan.

6) Penyusunan Jurnal Penyesuaian

Banyak saldo akun dalam buku besar yang dapat segera dilaporkan

dalam laporan keuangan tanpa mengalami perubahan. Akan tetapi, ada

beberapa akun yang perlu disusuaikan. Penyesuaian ini perlu dilakukan

dengan tujuan untuk memperbaharui (updating) data laporan keuangan agar

sesuai dengan konsep akrual dan konsep penandingan yang berlaku dalam

akuntansi. Menurut Hery (2014: 37) jurnal penyesuaian meliputi:

a) Beban yang harus dibayar atau beban akrual atau hutang akrual

b) Pendapatan yang mesti harus diterima atau pendapatan akrual atau

piutang akrual

c) Beban yang ditangguhkan atau biaya dibayar dimuka

d) Pendapatan yang ditangguhkan atau pendapatan yang diterima dimuka


20

Penyesuaian berarti pencatatan atau pengakuan (jurnal dan posting)

data-data transaksi tertentu pada akhir periode sehingga jumlah rupiah yang

terdapat dalam tiap rekening menjadi sesuai dengan kenyataan pada akhir

periode tersebut dan laporan keuangan yang dihasilkan menggambarkan

keadaan yang senyatanya pada tanggal laporan neraca.

7) Neraca saldo setelah penyesuaian

Setelah pembuatan jurnal penyesuaian selesai, maka langkah

selanjutnya adalah menyusun neraca saldo setelah penyesuaian dengan cara

mencari saldo-saldo rekening-rekening buku besar setelah posting jurnal

penyesuaian dilakukan. Setelah penyesuaian neraca saldo setelah

penyesuaian, maka proses selanjutnya adalah membuat laporan keuangan.

Namun kadang kala muncul kesulitan saat akan melakukan penyusunan

laporan keuangan sehingga akuntansi menyediakan alat bantu untuk

mempermudah penyusunan laporan keuangan yang dikenal dengan sebutan

neraca lajur atau kertas kerja.

8) Penyusunan laporan keuangan

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2012:5) laporan keuangan

merupakan struktur yang menyajikan posisi keuangan dan kinerja keuangan

dalam sebuah entitas. Tujuan umum dari laporan keuangan ini untuk

kepentingan umum adalah penyajian informasi mengenai posisi keuangan

(financial position), kinerja keuangan (financial performance), dan arus kas

(cash flow) dari entitas yang sangat berguna untuk membuat keputusan

ekonomis bagi para penggunanya. Untuk dapat mencapai tujuan ini, laporan
21

keuangan menyediakan informasi mengenai elemen dari entitas yang terdiri

dari aset, kewajiban, networth, beban, dan pendapatan (termasuk gain dan

loss), perubahan ekuitas dan arus kas. Informasi tersebut diikuti dengan

catatan, akan membantu pengguna memprediksi arus kas masa depan.

Menurut Subramanyam dan Wild (2013:409) analisis laporan keuangan

berfokus pada satu atau lebih elemen kondisi keuangan atau hasil operasi

perusahaan. Analisis laporan keuangan menekankan pada enam arena

tingkat kepentingan yang beragam yang terdiri dari likuiditas jangka

pendek, struktur modal dan solvabilitas, pengembalian atas modal yang

diinvestasikan, perputaran aset, kinerja operasi dan profitabilitas, peramalan

dan penilaian. Selanjutnya Brigham dan Houston (2014:130) laporan

keungan tidak disangsikan lagi telah banyak mendapatkan perbaikan selama

beberapa tahun terakhir. Kini, laporan tersebut memberikan banyak

informasi positif yang dapat digunakan oleh manajer, investor, kreditor,

pelanggan, pemasok dan regulator.

Berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa laporan keuangan

untuk perusahaan terdiri dari laporan-laporan yang melaporkan posisi

keuangan perusahaan pada suatu waktu tertentu, yang dilaporkan dalam

neraca dan perhitungan laba-rugi serta laporan perubahan ekuitas dan

laporan arus kas, dimana neraca menunjukkan jumlah aset, kewajiban dan

ekuitas perusahaan.

Terdapat beberapa jenis laporan keuangan menurut Kasmir (2013:28)

antara lain sebagai berikut:


22

a) Neraca (balance sheet)

Merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan perusahan pada

tanggal terntentu. Arti dari posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi

jumlah dan jenis aktivitas (harta) dan passiva (kewajiban dan ekuitas)

suatu perusahaan.

b) Laporan laba-rugi (income statement)

Merupakan laporan keuangan yang menggambarkan hasil usaha

perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dalam laporan laba rugi ini

terggambar jumlah pendapatan dan sumber-sumber pendapatan yang

diperoleh. Kemudian juga terggambar jumlah biaya dan jenis-jenis yang

dikeluarkan selama periode tertentu.

c) Laporan perubahan modal

Merupakan laporan yang berisi jumlah dan jenis modal yang dimiliki

pada saat ini. Kemudian, laporan ini juga menjelaskan perubahan modal

dan sebab-sebab terjadinya perubahan modal di perusahaan.

d) Laporan arus kas

Merupakan laporan yang menunjukkan arus kas masuk dan arus kas

keluar di perusahaan. Arus kas masuk berupa pendapatan atau pinjaman

dari pihak lain, sedangkan arus kas keluar merupakan biaya-biaya yang

telah dikeluarkan oleh perusahaan. Baik arus kas masuk maupun arus

kas keluar dibuat untuk periode tertentu.


23

9) Jurnal penutup

Menurut Subramanyam dan Wild (2013:501) pada setiap akhir periode

akuntansi setelah laporan keuangan disusun, bagian akuntansi perusahaan

perlu mempersiapkan ayat jurnal penutup. Hal ini dilakukan dengan cara

mentransfer seluruh akun yang sifatnya permanen. Proses penutupan buku

terdiri dari pemindahan saldo setiap perkiraan sementara (perkiraan

pendapatan dan biaya) kedalam perkiraan rugi laba. Pemindahan ini

dilakukan dengan membuat jurnal pendebitan seluruh saldo perkiraan

bersaldo kredit atau pengkreditan perkiraan yang bersaldo debit. Dengan

demikian saldo perkiraan tersebut akan bernilai nihil.

10) Neraca saldo setelah penutupan

Menurut Harahap (2012:106) neraca saldo adalah neraca yang memuat

semua perkiraan, tetapi yang dimaksudkan hanya biaya saldo akhirnya saja.

Manfaat neraca saldo ini sebelum penyesuaian akhir adalah:

a) Mempermudah dan mempercepat penyusunan laporan keuangan karena

tidak harus membolak-balik buku besar.

b) Menguji apakah pencatatan ke dalam seluruh rekening sudah benar

debit maupun kreditnya.

c) Mengetahui saldo pos-pos laporan keuangan dalam satu halaman

sehingga dapat dipelajari hubungan antara pos yang satu dan yang

lainnya secara mudah atau berguna untuk melakukan penyesuaian.

Dari pengertian neraca saldo di atas, maka dapat diketahui bahwa

neraca saldo merupakan ringkasan dari akun transaksi beserta saldonya yang
24

berfungsi sebagai dasar untuk menyiapkan laporan keuangan atau sebagai

bahan evaluasi. Neraca saldo setelah penutupan adalah daftar saldo

rekening-rekening buku besar, khusus untuk rekening-rekening permanen.

Setelah ayat jurnal penutup dibuat dan diposting ke masing – masing buku

besar akun terkait, adalah menyiapkan neraca saldo setelah penutupan (post-

closing trial balance).

11) Ayat jurnal pembalik

Menurut Kieso dkk (2011:117) ayat jurnal pembalik (revesing entries)

adalah sifatnya pilihan (optional). Ayat jurnal pembalik ini biasanya dibuat

pada setiap awal periode akuntansi dengan cara membalik ayat jurnal

penyesuaian yang telah dibuat pada akhir periode akuntansi sebelumnya.

Ayat jurnal pembalik merupakan kebalikan dari jurnal-jurnal tertentu yang

pada tahap penyesuaian yang dilakukan pada akhir periode tertentu.

1.1.4. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

UMKM atau usaha kecil menengah juga banyak berkontribusi terhadap

pendapatan daerah maupun negara. UMKM juga sangat penting dalam

membangun ekonomi karena berperan untuk menguranggi pengangguran dan

mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Menurut Rudjito (2012:82) “usaha kecil dan menengah adalah usaha yang

memiliki peran yang penting dalam perekonomian Indonesia, baik ditinjau dari

segi jumlah usaha maupuan dari segi penciptaan lapangan kerja. Dalam kaitannya

bahwa 1) Usaha kecil dan menengah adalah pengembangan empat kegiatan

ekonomi utama yang menjadi motor penggerak pembangunan, yaitu; agribisnis,


25

industri manufaktur, sumber daya manusia, dan bisnis kelautan. 2) Usaha kecil

dan menengah adalah pengembangan kawasan andalan untuk mempercepat

pemulihan perekonomian melalui pendekatan wilayah atau daerah, yaitu dengan

pemulihan wilayah atau daerah untuk mewadahi program prioritas dan

pengembangan sektor-sektor dan potensi. 3) Usaha kecil adalah peningkatan

upaya-upaya pemberdayaan masyarakat.”

Untuk mengatur usaha mikro, kecil, dan menengah ini khususnya di di

Indonesia agar memperoleh jaminan kepastian dan keadilan usaha dan untuk

menghadapi perkembangan lingkungan perekonomian yang semakin dinamis dan

global maka pemerintah mengganti Undang-Undang No. 9 tahun 1995 tentang

Usaha Kecil dengan Undang-Undang No. 20 tahun 2008. Untuk meningkatkan

kemampuan sumber daya manusia menggalakkan lembaga yang ada untuk

melakukan pendidikan, pelatihan, bimbingan dan konsultasi dalam rangka

peningkatan kemampuan manajerial teknik produksi, mutu produk, pelayanan,

desain teknologi, sumberdaya manusia dan pemasaran. Dari segi pencatatan

keuangan, aturannya telah jelas diatur dalam pasal 16 sampai 19 UU No. 20 tahun

2008 dengan meningkatkan kemampuan manajerial usaha.

Dalam penelitian ini, usaha pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah

Barat termasuk dalam kategori usaha mikro. Hal ini disesuaikan dengan

pengertian usaha mikro berdasarkan Undang-Undang No. 20 tahun 2008 tentang

usaha mikro, kecil, dan menengah yaitu usaha ekonomi produktif yang berdiri

secara mandiri miliki perorangan yang memiliki kriteria:


26

1) Mempunyai kekayaan bersih tertinggi atau paling banyak sebesar

Rp.50.000.000,- ‘lima puluh juta rupiah’ tetapi tidak termasuk

kepemilikan tanah dan kepemilikan bangunan tempat usaha, atau;

2) Mempunyai hasil penjualan tahunan tertinggi atau paling banyak

Rp.300.000.000,- ‘tiga ratus juta rupiah’.

Menurut Primiana (2011:7) “UKM merupakan suatu usaha ekonomi

produktif yang independen atau berdiri sendiri baik yang dimiliki perorangan atau

kelompok dan bukan sebagai badan usaha cabang dari perusahaan utama.

Dikuasai dan dimiliki serta menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung

dari usaha menengah yaitu industri manufaktur, agribisnis, bisnis kelautan dan

sumberdaya manusia.”

Dari berbagai penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan usaha pengolahan

gula aren termasuk dalam usaha mikro yaitu usaha ekonomi produktif yang

berdiri sendiri, karena dilakukan oleh orang atau perorangan dengan pendapatan

kekayaan paling banyak Rp50.000.000,-

1.1.5. Akuntansi EMKM

Menurut Rahayu, Ramadhanti dan Widodo (2020:4) terdapat beberapa

kelebihan jika UMKM berencana untuk menyusun laporan keuangan yang baik.

Sebuah usaha dapat mengetahui dengan pasti terkait kondisi keuangannya melalui

adanya laporan keuangan. Secara pajak ada banyak keuntungan yang dimiliki

laporan keuangan yang optimal. Pertama, pajak bisa dipotong dari keuntungan

usaha yang merupakan selisih penghasilan dengan beban titik jika tanpa

pembukuan, maka pajak dipotong kan langsung dari penghasilan tanpa beban.
27

Kedua, jika laporan keuangan menunjukkan perusahaan dalam keadaan merugi,

tidak perlu lagi membayar pajak. Ada banyak lembaga pemerintah, perbankan dan

pembiayaan, bahkan donor yang bersedia memberikan bantuan serta fasilitas

khusus kepada UMKM yang memiliki laporan keuangan yang baik.

Menurut Herwiyanti, Ulfah dan Pratiwi (2020:44) tingkat pemahaman

seseorang mengenai standar akuntansi merupakan seseorang yang pandai dan

mengerti mengenai isi dari standar akuntansi tersebut. Terdapat tiga indikator

utama dalam SAK EMKM yakni pengukuran SAK EMKM, asumsi dasar SAK

EMKM dan penyajian laporan keuangan SAK EMKM. Sosialisasi dan tingkat

pemahaman SAK EMKM menjadi faktor penting yang mempengaruhi

implementasi oleh UMKM oleh karena itu, kegiatan kegiatan sosialisasi dan

pelatihan perlu di diintensifkan dan ditingkatkan agar semakin banyak para

UMKM yang mampu menyusun laporan keuangannya sesuai dengan SAK yang

berlaku.

Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK

EMKM) disusun untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan entitas mikro,

kecil, dan menengah. Undang-Undang No 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,

Kecil, dan Menengah dapat digunakan sebagai acuan dalam mendefinisikan dan

memberikan rentang kuantitatif EMKM. SAK ini ditujukan untuk digunakan oleh

entitas yang tidak atau belum mampu memenuhi persyaratan akuntansi yang

diatur dalam SAK ETAP.

SAK EMKM berlaku efektif per 1 Januari 2018, informasi ini terdiri dari

informasi mengenai aset, liabilitas, dan ekuitas entitas pada tanggal tertentu yang
28

disajikan dalam laporan ini. Berikut penjelasan unsur-unsur laporan posisi

keuangan dalam SAK EMKM (2018:3) yaitu:

a. Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh entitas sebagai akibat dari

peristiwa masa lalu dan yang dari mana manfaat ekonomik di masa depan

diharapkan akan diperoleh oleh entitas.

b. Liabilitas adalah kewajiban kini entitas yang timbul dari peristiwa masa

lalu, yang penyelesaiannya mengakibatkan arus keluar dari sumber daya

entitas yang mengandung manfaat ekonomik.

c. Ekuitas adalah hak residual atas aset entitas setelah dikurangi seluruh

liabilitasnya.

Entitas yang laporan keuangannya telah patuh terhadap SAK EMKM

membuat pernyataan secara eksplisit dan tanpa kecuali tentang kepatuhan

terhadap SAK EMKM dalam catatan atas laporan keuangan. Entitas tidak dapat

mendeskripsikan bahwa laporan keuangan telah patuh terhadap SAK EMKM,

kecuali laporan keuangan tersebut telah patuh terhadap seluruh persyaratan dalam

SAK EMKM (2018:8) dengan laporan keuangan minimum yang terdiri dari:

a. Laporan posisi keuangan pada akhir periode

b. Laporan laba rugi selama periode

c. Catatan atas laporan keuangan, yang berisi tambahan dan rincian akun-akun

tertentu yang relevan.

Entitas mengidentifikasi secara jelas setiap laporan keuangan dan catatan

atas laporan keuangan. Selain itu, entitas menunjukkan informasi berikut dengan
29

jelas dan diulangi bilamana perlu untuk pemahaman informasi yang disajikan

(SAK EMKM, 2018:8) yaitu:

a. Nama entitas yang menyusun dan menyajikan laporan keuangan;

b. Tanggal akhir periode pelaporan dan periode laporan keuangan;

c. Rupiah sebagai mata uang penyajian; dan

d. Pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.

Menurut Hasanah, Muhtar dan Muliasari (2020:103) SAK EMKM

diharapkan dapat membantu 57,9 juta pelaku UMKM di Indonesia dalam

menyusun laporan keuangannya dengan tepat tanpa harus terjebak dalam

kerumitan standar akuntansi keuangan terdahulu.

1.2. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini ialah “Diduga penerapan akuntansi yang

dilakukan oleh Usaha pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah Barat

Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu belum sesuai dengan konsep dasar

akuntansi”.
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian

Desain penelitian ini adalah kualitatif, menurut Sugiyono (2016:15) adalah

suatu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti objek secara alamiah

dimana peneliti adalah instrumen kunci, penetapan informan berdasarkan

purposive atau sesuai karakteristik yang diteliti, teknik wawancara yang

ditekankan pada makna secara umum.

3.2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah UMKM pengolahan gula aren yang terletak di Desa

Rambah Tengah Barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu.

3.3. Definisi Variabel Penelitian

Variabel penelitian ini konsep-konsep dasar akuntansi adalah :

1) Dasar pencatatan, terdiri dari dasar kas dan dasar akrual. Dasar kas adalah

penerimaan dan pengeluaran akan dicatat atau diakui apabila kas sudah

diterima atau dikeluarkan. Dasar akrual, adalah penerimaan dan pengeluaran

dicatat atau diakui pada saat terjadinya transaksi tanpa melihat apakah kas

telah diterima atau dikeluarkan.

2) Konsep kesatuan usaha, yaitu suatu pemisahan antara transaksi usaha

dengan transaksi yang bukan usaha misalnya transaksi rumah tangga.

3) Konsep kelangsungan usaha, yaitu menganggap bahwa suatu usaha akan

dapat terus hidup, dalam arti usaha diharapkan tidak akan mengalami

30
31

likuidasi dimasa yang akan datang. Terdiri dari perhitungan laba dan rugi

digunakan sebagai pedoman untuk keberhasilan sebuah usaha, melakukan

pencatatan aset tetap yang dimiliki, melakukan perhitungan penyusutan

terhadap aset tetap, dan tingkat kebutuhan pada sistem pembukuan untuk

mengelola sebuah usaha.

4) Konsep periode waktu, yaitu suatu konsep yang menyatakan bahwa

akuntansi menggunakan periode waktu sebagai dasar dalam mengukur dan

menilai kemajuan suatu perusahaan. Konsep periode waktu juga

menyatakan bahwa umur ekonomis dari sebuah bisnis dapat dibagi ke dalam

periode waktu buatan. Maka diasumsikan aktifitas usaha dapat dibagi

menjadi bulan, kuartal (triwulan) atau bahkan tahunan untuk tujuan

pelaporan keuangan yang berarti.

5) Konsep penandingan, yaitu membandingkan seluruh pendapatan dengan

beban yang dimiliki. Barang dagang yang dijual dalam sebuah usaha,

perhitungan laba dan rugi jika melakukan kredit, melakukan perhitungan

harga pokok perolehan dalam menentukan perhitungan laba rugi.

3.4. Populasi dan Sampel

Menurut Sugiyono (2016:81) populasi merupakan jumlah seluruh objek

penelitian yang akan diteliti serta ditarik kesimpulannya. Populasi dalam

penelitian ini ialah pemilik UMKM pengolahan gula aren di Desa Rambah

Tengah Barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu dengan rincian pada

tabel berikut:
32

Tabel 3.1
Populasi UMKM Pengolahan Gula Aren di Desa Rambah Tengah Barat
Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu

No Nama pemilik Alamat


.
1 Abdul Akhir Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat
2 Ansari Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat
3 Awirdan Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat
4 Munir Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat
5 Paet Jl. Suri Anjung Jati Desa Rambah Tengah Barat
6 Rifai Nasution Jl. Suri Anjung Jati Desa Rambah Tengah Barat
7 Sahruddin Jl. Kaiti III Desa Rambah Tengah Barat
8 Suardi Jl. Haiti Karya Desa Rambah Tengah Barat
9 Suhelman Jl. Kaiti III Desa Rambah Tengah Barat
10 Nasrin Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat
11 Rifardi Nasution Jl. Suri Anjung Jati Desa Rambah Tengah Barat
12 Parmin Jl. Haiti Karya Desa Rambah Tengah Barat
13 Amner Jl. Suri Anjung Jati Desa Rambah Tengah Barat
14 Jasril Jl. Haiti Karya Desa Rambah Tengah Barat
15 Tabrani Jl. Kaiti III Desa Rambah Tengah Barat
Sumber: Kantor Camat Rambah, 2021

Seluruh pemilik usaha pengolahan gula aren tersebut diteliti dengan

menggunakan metode sensus yaitu menurut Sugiyono (2016:83) adalah

melibatkan seluruh jumlah populasi yang ada untuk diteliti dan ditarik

kesimpulannya.

3.5. Jenis dan Sumber Data

Adapun dalam penelitian ini terbagi dalam data primer dan data sekunder,

yaitu:

1) Data primer menurut Sugiyono (2016:308) dalam penelitian kualitatif ialah

data yang diperoleh secara langsung dilapangan dari responden melalui hasil

wawancara yang membahas penerapan akuntansi yang dilakukan oleh

UMKM pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah Barat Kecamatan

Rambah Kabupaten Rokan Hulu.


33

2) Data sekunder menurut Sugiyono (2016:402) dalam penelitian kualitatif

ialah data pendukung yang sifatnya mendukung data utama. Dalam

penelitian ini data sekunder merupakan laporan data kas masuk dan kas

keluar, pencatatan beserta dokumentasi.

3.6. Teknik Pengumpulan Data

Tenik pengumpulan data yang dipakai penulis secara umum terdiri beberapa

tahapan, mulai dari observasi, wawancara dan dokumentasi penelitian. Adapun

penjelasannya sebagai berikut:

1) Wawancara

Menurut Sugiyono (2016:231) wawancara adalah pertemuan dua

orang untuk saling bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga

dapat dibangun makna dalam topik tertentu. Dalam penelitian ini penulis

menggunakan wawancara testruktur dimana peneliti telah mengetahui

dengan pasti informasi apa yang akan diperoleh sehingga peneliti

menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan tertulis yang alternatif

jawabannya pun telah disiapkan.

2) Dokumentasi

Menurut Sugiyono (2016:235) dokumentasi adalah bentuk bukti

otentik ketika peneliti turun langsung ke lapangan untuk mengamati

perilaku dan aktivitas individu di lokasi penelitian yang sifatnya dapat

menjadi bukti yang autentik agar hasil penelitian lebih ilmiah dan

representatif. Dokumentasi dalam penelitian ini berbentuk foto-foto

penelitian, laporan data-data yang seluruhnya telah dijabarkan di lampiran.


34

3.7. Teknik Analisis Data

Data yang telah peneliti kumpulkan kemudian akan dikelompokan menurut

konsep dasarnya masing-masing sesuai jenis data tersebut. Setelah itu data akan

dikelompokkan kedalam suatu bentuk tabel, diuraikan secara deskriptif sehingga

dapat diketahui bagaimana penerapan akuntansi pada UMKM Pengolahan Gula

Aren di Desa Rambah Tengah Barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu

yang dijabarkan secara deskriptif kualitatif.


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Usaha Gula Aren

4.1.1. Identitas Responden

Adapun responden dalam penelitian ini adalah pemilik UMKM Pengolahan

Gula Aren di Desa Rambah Tengah Barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan

Hulu yang jumlahnya 15 orang responden. Gambaran umum masing-masing

responden dalam penelitian ini diuraikan secara rinci sebagai berikut:

1. Abdul Akhir

Abdul Akhir berusia 64 tahun merupakan tamatan SLTA dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat.

Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 30 tahun dan merupakan mata

pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.

2. Ansari

Ansari berusia 65 tahun merupakan tamatan SD dan usaha pengolahan

gula aren ini terletak di Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat. Usaha milik

pribadi ini sudah berjalan selama 20 tahun dan merupakan mata pencaharian

utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.

3. Awirdan

Awirdan berusia 39 tahun merupakan tamatan SLTP dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat.

35
36

Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 8 tahun dan merupakan mata

pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.

4. Munir

Munir berusia 40 tahun merupakan tamatan SLTP dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat.

Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 12 tahun dan merupakan mata

pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.

5. Paet

Paet berusia 60 tahun merupakan tamatan SD dan usaha pengolahan

gula aren ini terletak di Jl. Suri Anjung Jati Desa Rambah Tengah Barat.

Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 30 tahun dan merupakan mata

pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.

6. Rifai Nasution

Paet berusia 68 tahun merupakan tamatan SD dan usaha pengolahan

gula aren ini terletak di Jl. Suri Anjung Jati Desa Rambah Tengah Barat.

Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 11 tahun dan merupakan mata

pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.

7. Sahruddin

Sahruddin berusia 47 tahun merupakan tamatan SD dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Kaiti III Desa Rambah Tengah Barat.

Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 10 tahun dan merupakan mata

pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.


37

8. Suardi

Suardi berusia 41 tahun merupakan tamatan SLTP dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Haiti Karya Desa Rambah Tengah

Barat. Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 6 tahun dan merupakan

mata pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi

keluarga.

9. Suhelman

Suhelman berusia 38 tahun merupakan tamatan SD dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Kaiti III Desa Rambah Tengah Barat.

Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 6 tahun dan merupakan mata

pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.

10. Nasrin

Nasrin berusia 30 tahun merupakan tamatan SD dan usaha pengolahan

gula aren ini terletak di Jl. Kaiti II Desa Rambah Tengah Barat. Usaha milik

pribadi ini sudah berjalan selama 6 tahun dan merupakan mata pencaharian

sampingan yang dijalankan untuk menambah ekonomi keluarga, karena

mata pencaharian utamanya adalah buruh bangunan.

11. Rifardi Nasution

Rifardi Nasution berusia 56 tahun merupakan tamatan SD dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Suri Anjung Jati Desa Rambah

Tengah Barat. Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 19 tahun dan

merupakan mata pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi

ekonomi keluarga.
38

12. Parmin

Parmin berusia 53 tahun merupakan tamatan SLTP dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Haiti Karya Desa Rambah Tengah

Barat. Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 3 tahun dan merupakan

mata pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi

keluarga.

13. Amner

Amner berusia 58 tahun merupakan tamatan SD dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Suri Anjung Jati Desa Rambah

Tengah Barat. Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 3 tahun dan

merupakan mata pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi

ekonomi keluarga.

14. Jasril

Jasril berusia 43 tahun merupakan tamatan SD dan usaha pengolahan

gula aren ini terletak di Jl. Haiti Karya Desa Rambah Tengah Barat. Usaha

milik pribadi ini sudah berjalan selama 20 tahun dan merupakan mata

pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.

15. Tabrani

Tabrani berusia 52 tahun merupakan tamatan SLTP dan usaha

pengolahan gula aren ini terletak di Jl. Kaiti III Desa Rambah Tengah Barat.

Usaha milik pribadi ini sudah berjalan selama 22 tahun dan merupakan mata

pencaharian utama yang dijalankan untuk menghidupi ekonomi keluarga.


39

4.1.2. Deskripsi Responden

Identitas responden dalam penelitian ini klasifikasikan berdasarkan jenis

kelamin, tingkat umur, tingkat pendidikan, lamanya berusaha sebagai berikut:

1. Jenis Kelamin Responden

Jenis kelamin seluruh pengusaha gula aren dalam penelitian ini

hasilnya dijabarkan pada tabel 5.1 berikut.

Tabel 5.1
Distribusi Responden Dirinci Menurut Jenis Kelamin
No
Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
.
1 Laki-laki 15 100%
2 Perempuan 0 0%
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.1 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh responden

berjenis kelamin pria (100%). Hal ini disebabkan karena pemilik usaha

pengolahan gula aren ini seluruhnya adalah laki-laki dan dalam

pelaksanaannya terkadang dibantu oleh keluarga masing-masing.

2. Tingkat Umur Responden

Tingkat umur seluruh pengusaha gula aren dalam penelitian ini

hasilnya dijabarkan pada tabel 5.2 berikut.

Tabel 5.2
Distribusi Responden Dirinci Menurut Tingkat Umur
No
Tingkat umur (tahun) Jumlah Persentase (%)
.
1 30 – 35 1 7%
2 36 – 40 3 20%
3 41 – 45 2 13%
4 46 – 50 1 7%
5 51 – 55 2 13%
6 ≥ 56 6 40%
40

Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.2 di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar

responden berusia ≥ 56 tahun (40%). Hal ini berarti kemampuan motorik

dan daya tahan tubuh pada rentang usia responden dalam penelitian ini tidak

menghalangi dan terbukti masih dapat produktif dalam menjalankan usaha

gula aren.

3. Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan seluruh pengusaha gula aren dalam penelitian ini

hasilnya dijabarkan pada tabel 5.3 berikut.

Tabel 5.3
Distribusi Responden Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan

No
Pendidikan Jumlah Persentase (%)
.
1 Tamat SD 9 60%
2 Tamat SLTP 5 33%
3 Tamat SLTA 1 7%
Jumlah 15 100
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.3 di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar

responden adalah tamatan SD dengan jumlah 9 orang (60%). Sedangkan

sisanya adalah tamat SLTP dengan jumlah 5 orang (33%), dan tamatan

SLTA dengan jumlah 1 orang (7%).

4. Lama Usaha Responden

Lama berdiri usaha seluruh pengusaha gula aren dalam penelitian ini

hasilnya dijabarkan pada tabel 5.4 berikut.


41

Tabel 5.4
Distribusi Responden Dirinci Menurut Lama Usaha

No
Lama usaha (tahun) Jumlah Persentase (%)
.
1 1–5 2 13%
2 6 – 10 5 33%
3 11 – 15 2 13%
4 16 – 20 3 20%
5 21 – 25 1 7%
6 ≥ 26 2 13%
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.4 di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar usaha

pengolahan gula aren responden telah berdiri antara 6 – 10 tahun dengan

jumlah 5 orang (33%). Hal ini disebabkan karena Desa Rambah Tengah

Barat sudah lama menjadi desa penghasil gula aren, dan memiliki

pengusaha gula aren terbanyak dibandingkan desa-desa lainnya khususnya

di Kecamatan Rambah.

5. Status Kepemilikan Usaha

Lama berdiri usaha seluruh pengusaha gula aren dalam penelitian ini

hasilnya dijabarkan pada tabel 5.5 berikut.

Tabel 5.5
Distribusi Responden Dirinci Menurut Status Kepemilikan Usaha

No
Kepemilikan Usaha Jumlah Persentase (%)
.
1 Pribadi 15 100%
2 Sewa 0 0%
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan
42

Dari tabel 5.5 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh responden

(100%) usaha pengolahan gula aren adalah kepemilikan pribadi, dan tidak

ada satupun pemilik usaha yang menyewa.

6. Status Usaha

Status usaha seluruh pengusaha gula aren dalam penelitian ini

hasilnya dijabarkan pada tabel 5.6 berikut.

Tabel 5.6
Distribusi Responden Dirinci Menurut Status Usaha

No
Status Usaha Jumlah Persentase (%)
.
1 Utama 14 93%
2 Sampingan 1 7%
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.6 di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden

dengan jumlah 14 orang (93%) menjadikan usaha pengolahan gula aren ini

sebagai usaha utama untuk menghidupi ekonomi keluarga. Sementara itu,

juga terdapat usaha sampingan yaitu Nasrin yang menjadikan usaha

pengolahan gula aren ini sebagai usaha untuk menambah ekonomi keluarga,

karena mata pencaharian utamanya adalah buruh bangunan.

7. Besar Modal yang Dikeluarkan

Besar modal yang dikeluarkan seluruh pengusaha gula aren dalam

penelitian ini hasilnya dijabarkan pada tabel 5.7 berikut.

Tabel 5.7
Distribusi Responden Dirinci Menurut Besar Modal yang Dikeluarkan

No Persentase
Modal usaha (Rp) Jumlah
. (%)
1 Rp.100.000 – Rp.1.000.000 5 33%
43

2 Rp.1.100.000 – Rp.2.000.000 3 20%


3 Rp.2.100.000 – Rp.3.000.000 3 20%
4 Rp.3.100.000 – Rp.4.000.000 2 13%
5 Rp.4.100.000 – Rp.5.000.000 1 7%
6 ≥ Rp.5.000.000 1 7%
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.7 di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden

menjalankan usaha hanya dengan modal Rp.100.000 – Rp.1.000.000

sebanyak 5 responden (33%). Hal ini disebabkan karena seluruh responden

memanfaatkan dan mengolah gula aren yang berasal dari pohon nira yang

tumbuh dan dirawat dihalaman rumah pribadinya.

8. Jumlah Tenaga Kerja yang Dimiliki

Jumlah tenaga kerja yang dimiliki seluruh pengusaha gula aren dalam

penelitian ini hasilnya dijabarkan pada tabel 5.8 berikut.

Tabel 5.8
Distribusi Responden Dirinci Menurut Jumlah Tenaga Kerja

No
Nama pemilik Jumlah karyawan
.
1 Abdul Akhir 1
2 Ansari -
3 Awirdan 1
4 Munir 1
5 Paet -
6 Rifai Nasution 1
7 Sahruddin 1
8 Suardi -
9 Suhelman 1
10 Nasrin 1
11 Rifardi Nasution 3
12 Parmin -
13 Amner 1
14 Jasril 1
15 Tabrani -
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan
44

Dari tabel 5.8 di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas pengusaha

gula aren hanya memiliki 1 tenaga kerja saja, dan mayoritas berasal dari

keluarga/ kerabat. Rifardi Nasution menjadi usaha dengan jumlah tenaga

kerja terbanyak yaitu 3 orang.

9. Pemegang Keuangan Usaha

Pemegang keuangan usaha pengolahan gula aren dalam penelitian ini

hasilnya dijabarkan pada tabel 5.9 berikut.

Tabel 5.9
Distribusi Responden Dirinci Menurut Pemegang Keuangan Usaha

No
Respon responden Jumlah Persentase (%)
.
1 Pemilik usaha 15 100%
2 Karyawan 0 0%
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.9 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh responden

dengan jumlah 15 orang (100%) yang bertindak sebagai pemegang

keuangan usaha.

10. Kebutuhan Sistem Pembukuan

Kebutuhan sistem pembukuan usaha pengolahan gula aren dalam

penelitian ini hasilnya dijabarkan pada tabel 5.10 berikut.

Tabel 5.10
Distribusi Responden Dirinci Menurut Kebutuhan Sistem Pembukuan

No
Respon responden Jumlah Persentase (%)
.
1 Membutuhkan 15 100%
pembukuan
2 Tidak membutuhkan 0 0%
pembukuan
Jumlah 15 100%
45

Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.10 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh responden

dengan jumlah 15 orang (100%) membutuhkan pembukuan untuk mencatat

arus kas masuk dan kas keluar serta menjadi pedoman dalam melakukan

pencatatan keuangan.

4.2. Hasil Penelitian dan Pembahasan

4.2.1. Pencatatan Penerimaan dan Pengeluaran Kas

Pencatatan penerimaan kas pada usaha pengolahan gula aren dalam

penelitian ini hasilnya dijabarkan pada tabel 5.11 berikut.

Tabel 5.11
Pencatatan Penerimaan Kas dan Pengeluaran Kas

No
Pencatatan Penerimaan Kas Jumlah Persentase (%)
.
1 Melakukan pencatatan kas masuk 15 100%
dan kas keluar
2 Tidak melakukan pencatatan kas 0 0%
masuk dan kas keluar
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.11 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh responden

dengan jumlah 15 orang (100%) melakukan pencatatan penerimaan kas

masuk dan kas keluar yang diperoleh dari setiap transaksi penjualan, yang

terdiri dari tanggal, nama pemesan gula aren, jumlah berat, penerimaan uang

muka maupun cash dan sisa pembayaran.

Pencatatan pengeluaran kas ini digunakan sebagai dasar perhitungan

untuk menghitung laba rugi dari hasil penjualan. Seperti pengeluaran yang

dikeluarkan untuk biaya produksi mulai dari kayu bakar, plastik pelindung,
46

kemasan, minyak tanah, dan lainnya. Akan tetapi 15 orang pemilik usaha

juga mencatat biaya pengeluaran rumah tangga seperti biaya listrik, pulsa,

dan lainnya.

Usaha pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah Barat

melakukan pencatatan menggunakan pencatatan dasar kas seperti yang telah

diteliti. Seluruh pengusaha menggunakan pencatatan sistem akuntansi

tunggal (single entry), dimana pencatatan setiap transaksi hanya ditulis

dalam buku harian, dan tidak melakukan penjurnalan. Seharusnya usaha

pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah Barat menggunakan sistem

pencatatan berpasangan (double entry), adalah pencatatan yang melakukan

penjurnalan kemudian dipindahkan kedalam buku besar. Dengan demikian

dapat diketahui pemilik usaha masih melakukan proses akuntansi yang

masih sangat sederhana, yaitu mencatat transaksi yang terjadi hanya ke

dalam satu buku harian.

4.2.2. Penjualan Kredit dan pencatatan Piutang

Penjualan kredit dan pencatatan piutang pada usaha pengolahan gula

aren dalam penelitian ini hasilnya dijabarkan pada tabel 5.12 berikut.

Tabel 5.12
Penjualan Kredit dan pencatatan Piutang

No
Keterangan Jumlah Persentase (%)
.
1 Melakukan penjualan kredit dan 1 7%
pencatatan piutang
2 Tidak melakukan penjualan kredit 14 93%
dan pencatatan piutang
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan
47

Dari tabel 5.12 di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden

dengan jumlah 14 orang (93%) tidak melakukan pencatatan piutang karena

tidak melakukan penjualan secara kredit. Hanya 1 orang (7%) yang

melakukan pencatatan piutang yaitu Abdul Akhir. Pencatatan piutang ini

masih sangat sederhana, yaitu dicatat dalam kas masuk dan hanya ditandai

dengan stabilo berwarna kuning. Dalam melakukan penjualan, bapak Abdul

Akhir hanya mencatat besar total piutang dari jumlah total gula aren yang

dipesan. Tidak ada mencatat penerimaan uang muka dalam catatan harian,

dan sisa pembayaran atas pemesanan tersebut.

4.2.3. Pembelian Kredit dan Pencatatan Hutang

Pembelian kredit dan pencatatan hutang pada usaha pengolahan gula

aren dalam penelitian ini hasilnya dijabarkan pada tabel 5.13 berikut.

Tabel 5.13
Pembelian Kredit dan Pencatatan Hutang

No
Keterangan Jumlah Persentase (%)
.
1 Melakukan pembelian kredit dan 0 0%
pencatatan hutang
2 Tidak melakukan pembelian kredit 15 100%
dan pencatatan hutang
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.13 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh responden

dengan jumlah 15 orang (100%) tidak melakukan pencatatan hutang. Hal ini

disebabkan karena tidak ada satupun yang melakukan pembelian secara

hutang. Dalam mengolah gula aren, produksi nira cair berasal dari pohon

aren milik sendiri, untuk pembelian kayu bakar lebih sering mencari sendiri
48

di hutan atau membeli dari masyarakat sekitar dengan harga yang relatif

murah, sementara untuk cetakan gula aren (teka) dibuat sendiri dari bahan

bambu ataupun bahan kayu.

4.2.4. Pencatatan Persediaan

Pencatatan persediaan pada usaha pengolahan gula aren dalam

penelitian ini hasilnya dijabarkan pada tabel 5.14 berikut.

Tabel 5.14
Pencatatan Persediaan

No
Keterangan Jumlah Persentase (%)
.
1 Melakukan pencatatan persediaan 0 0%
2 Tidak melakukan pencatatan 15 100%
persediaan
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.14 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh responden

dengan jumlah 15 orang (100%) tidak melakukan pencatatan persediaan.

Dari hasil wawancara, responden hanya memantau persediaan nira cair

melalui ember-ember besar sebagai wadah penyimpanan, memperhatikan

jumlah tumpukan kayu bakar yang tersisa, sehingga menganggap tidak perlu

melakukan pencatatan persediaan.

4.2.5. Pencatatan Aset Tetap

Pencatatan aset tetap pada usaha pengolahan gula aren dalam

penelitian ini hasilnya dijabarkan pada tabel 5.15 berikut.

Tabel 5.15
49

Pencatatan Aset Tetap

No
Keterangan Jumlah Persentase (%)
.
1 Melakukan pencatatan aset tetap 0 0%
2 Tidak melakukan pencatatan aset 15 100%
tetap
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.15 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh responden

dengan jumlah 15 orang (100%) tidak melakukan pencatatan aset tetap. Dari

hasil wawancara, responden menganggap aset tetap yang mereka miliki

adalah pohon aren milik pribadi. Adapun jenis pohon aren yang mayoritas

pengusaha ini miliki jenis ‘Hotang’ dengan usia produktif 8 tahun dan juga

jenis ‘Gajah’ dengan usia produktif 16 tahun. Air nira seharusnya juga

dicatat sebagai aset tetap karena nira yang dibiarkan lama rasanya akan

berubah menjadi asam dan tidak layak untuk diolah menjadi gula aren.

4.2.6. Perhitungan Laba Rugi

Analisis mengenai perhitungan laba rugi untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada tabel 5.16 berikut.

Tabel 5.16
Perhitungan Laba Rugi

No
Uraian Jumlah Persentase (%)
.
1 Melakukan perhitungan laba rugi 15 100%
2 Tidak melakukan perhitungan laba - -
rugi
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.16 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh usaha

pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah Barat dengan jumlah 15


50

orang (100%) telah melakukan perhitungan laba rugi atas usaha yang

mereka jalankan. Untuk melakukan perhitungan laba rugi, para pemilik

usaha gula aren ini hanya menghitung seluruh penjualan dikurang dengan

modal lalu dikurang dengan pengeluaran.

4.2.7. Periode Perhitungan Laba Rugi

Analisis mengenai perhitungan laba rugi untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada tabel 5.17 berikut.

Tabel 5.17
Periode Perhitungan Laba Rugi
No
Uraian Jumlah Persentase (%)
.
1 Perminggu 1 7%
2 Perbulan 14 93%
3 Pertriwulan - -
4 Tidak ada perhitungan laba rugi - -
Jumlah 15 100
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.17 di atas, dapat disimpulkan bahwa mayoritas pemilik

pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah Barat sebanyak 14 responden

(93%) melakukan periode pelaporan perhitungan laba rugi perbulan, selain

itu juga terdapat 1 orang (7%) yang melakukan perhitungan setiap satu

minggu yaitu Nasrin.

Dari informasi diatas diketahui laba rugi terhadap usaha yang

dijalankan sangat perlu sehingga mereka menerapkan perhitungan laba rugi

pada usahanya. Perhitungan laba rugi yang dilakukan belum sesuai dengan
51

konsep dasar akuntansi yaitu konsep penandingan, dimana penandingan

biaya dan pendapatan yang hasilnya tidak diperhitungkan selama periode

terjadinya biaya tersebut.

4.2.8. Sumber Pendapatan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, didapatkan hasil bahwa

mayoritas responden melakukan penjualan secara tunai, dan hanya Bapak

Abdul Akhir yang melakukan penjualan secara kredit. Responden memiliki

sumber pendapatan dari penjualan seperti gula aren, nira aren, kolang-

kaling, gula aren semut, dan bubuk gula aren. Nira cair juga dijual dengan

harga antara Rp. 3.000,-/ liter sampai dengan Rp.5.000,-/ liter.

4.2.9. Harga Pokok Penjualan

Hasil analisis mengenai perhitungan harga pokok penjualan untuk

lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.18 berikut.

Tabel 5.18
Harga Pokok Penjualan

No
Uraian Jumlah Persentase (%)
.
1 Menghitung harga pokok penjualan - -
kedalam perhitungan laba rugi
2 Tidak menghitung harga pokok 15 100%
penjualan kedalam perhitungan laba
rugi
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.18 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh pemilik

usaha pengolahan gula aren di Desa Rambah Tengah Barat tidak

menghitung harga pokok penjualan kedalam perhitungan laba rugi. Salah

satu fungsi penting dari perhitungan harga pokok penjualan sangat krusial.
52

Hal ini disebabkan karena dengan adanya perhitungan harga pokok

penjualan maka perhitungan laba rugi yang diperoleh akan semakin rinci

dan akurat. Dampak dari pelaku usaha yang tidak melakukan perhitungan

harga pokok penjualan adalah sulitnya pelaku usaha mengetahui keuntungan

yang diperoleh.

4.2.10. Biaya Yang Dikeluarkan

Hasil analisis mengenai perhitungan harga pokok penjualan untuk

lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.19 berikut.


53

Tabel 5.19
Biaya Yang Dikeluarkan

Jawaban
No Jumlah
Uraian biaya Tida
. Ya % % (%)
k
1 Biaya bahan 15 100 - - 100%
%
2 Biaya gaji karyawan 1 7% 14 93% 100%
3 Biaya listrik 15 100 - - 100%
%
4 Biaya alat-alat 15 100 - - 100%
%
5 Biaya rumah tangga 15 100 - - 100%
%
6 Biaya penyusutan - - 15 100 100%
%
7 Biaya lain-lain 10 67% 5 33% 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.19 di atas, dapat disimpulkan bahwa seluruh responden

(100%) melakukan perhitungan biaya bahan yang terdiri dari daun pisang,

kayu bakar, plastik kiloan, minyak tanah, dan kemasan. Air nira tidak

dihitung sebagai biaya bahan, karena nira tersebut dihasilkan dari pohon

aren milik sendiri. Mayoritas responden 14 orang (93%) tidak menggaji

karyawan karena dibantu oleh keluarganya sendiri seperti istri, anak dan

kerabat mereka. Hanya 1 responden (7%) yang memberikan gaji karyawan

yaitu Rifardi Nasution karena mempekerjakan masyarakat setempat. Hal ini

tentu dapat meningkatkan keakuratan atas penyajian informasi laba rugi

karena gaji karyawan memang tidak menjadi beban usaha oleh mayoritas

pemilik usaha karena dibantu oleh keluarganya sendiri.

Seluruh responden melakukan perhitungan biaya listrik karena biaya

listrik dipakai bersama dengan keperluan rumah, dan usaha pengolahan gula
54

aren ini pada dasarnya hanya menggunakan lampu penerangan minyak

tanah jika proses memasak gula aren hingga larut malam. Tempat usaha ini

milik sendiri karena berada dalam prosesnya menggunakan kayu bakar dan

menimbulkan cukup banyak asap, sehingga di posisikan di belakang rumah

dekat dapur rumah. Hal ini tentu dapat menimbulkan keraguan atas

kewajaran informasi laba rugi karena biaya listrik yang seharusnya menjadi

beban rumah tangga justru dibebankan ke unit usaha.

Selanjutnya alat-alat seperti ember, baskom, dan ‘teka’ (cetakan gula

aren yang terbuat dari bambu atau kayu). Biaya rumah tangga yang meliputi

pulsa, upah sawit, arisan, rokok, cicilan sepeda motor, dan lain-lain. Cicilan

sepeda motor tidak dianggap sebagai aset tetap, hal ini disebabkan dalam

penjualan tidak diantarkan ke pelanggan, melainkan lebih sering pelanggan

itu sendiri yang menjemput ke rumah pemilik usaha. Hal ini tentu dapat

menimbulkan ketidakwajaran informasi laba rugi karena biaya yang

seharusnya menjadi beban rumah tangga justru dibebankan ke unit usaha.

Tidak ada satupun responden yang melakukan pencatatan biaya

penyusutan. Biaya lain-lain yang dicatat oleh 10 orang (67%) pengusaha

gula aren ini adalah biaya mendadak yaitu pembelian kayu bakar.

Terkadang saat kondisi penerimaan pesanan secara tiba-tiba atau mendadak

oleh pelanggan dalam jumlah yang banyak, pengusaha gula aren tidak

sempat pergi ke hutan mencari kayu bakar sendiri dan stok yang tersisa

jumlahnya sedikit ataupun kondisi basah. Biaya lain-lain ini dipergunakan

untuk membeli kayu bakar milik masyarakat setempat.


55

Menarik kesimpulan dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa

mayoritas tidak ada pemisahan biaya rumah tangga ke biaya produksi

karena mereka memiliki rumah yang sekaligus dijadikan tempat usaha.

4.2.11. Fungsi Perhitungan Laba Rugi

Hasil analisis mengenai fungsi perhitungan laba rugi untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada tabel 5.20 berikut.

Tabel 5.20
Fungsi Perhitungan Laba Rugi

No
Uraian Jumlah Persentase (%)
.
1 Menghitung laba rugi sebagai dasar 15 100%
pengukuran keberhasilan usaha
2 Tidak menghitung laba rugi sebagai - -
dasar pengukuran keberhasilan usaha
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Hasil Penelitian Lapangan

Dari tabel 5.20 di atas, dapat diketahui bahwa seluruh responden

dengan jumlah 15 orang (100) menjadikan perhitungan laba rugi sebagai

dasar pedoman pengukuran keberhasilan usaha pengolahan gula arennya.

4.3. Pembahasan

4.3.1. Konsep Kesatuan Usaha

Pengusaha gula aren di Desa Rambah Tengah Barat belum

menerapkan konsep kesatuan usaha sesuai konsep dasar akuntansi. Hal ini

diperoleh informasi bahwa pencatatan yang dilakukan oleh para pemilik

usaha yang tidak melakukan pemisahan terhadap beban pengeluaran usaha

dan disatukan dengan beban pengeluaran rumah tangga.

4.3.2. Konsep Kelangsungan Usaha


56

Pengusaha gula aren di Desa Rambah Tengah Barat belum

menerapkan konsep kelangsungan usaha sesuai konsep dasar akuntansi. Hal

ini disebabkan karena tidak ada satupun pemilik usaha yang melakukan

perhitungan dan pembebanan biaya aset yang dimiliki, karena seharusnya

hal ini dapat diketahui waktu dari penyusutan setiap aset yang dimiliki

sehingga dapat dipisahkan keuangannya untuk membeli aset baru jika umur

ekonomis dari aset lama sudah habis.

4.3.3. Konsep Periode Waktu

Pengusaha gula aren di Desa Rambah Tengah Barat sudah

menerapkan konsep periode waktu sesuai konsep dasar akuntansi. Hal ini

terbukti dari hasil penelitian diketahui para pemilik usaha sudah melakukan

perhitungan laba rugi selama sebulan sekali. Konsep periode waktu

merupakan suatu konsep yang menyatakan bahwa akuntansi menggunakan

atau memanfaatkan periode waktu sebagai dasar dalam pengukuran dan

penilaian kemajuan suatu usaha.

4.3.4. Konsep Penandingan

Pengusaha gula aren di Desa Rambah Tengah Barat belum

menerapkan konsep penandingan sesuai konsep dasar akuntansi. Konsep

penandingan yaitu konsep yang membandingkan jumlah pendapatan dengan

jumlah beban beban dalam suatu periode waktu tertentu. Belum semua

responden yang melakukan pemasukkan beban-beban yang seharusnya

dikeluarkan seperti tidak melakukan perhitungan biaya penyusutan dari

peralatan yang digunakan.


57
BAB VI

PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan analisis penelitian, maka dirumuskan kesimpulan

penelitian ini sebagai berikut:

1. Konsep dasar pencatatan, yang dipakai pemilik usaha gula aren adalah cash

basic, yang mengakui atau mencatat transaksi pada saat kas sudah diterima

atau dibayarkan.

2. Konsep dasar kesatuan usaha, belum diterapkan sesuai konsep dasar

akuntansi karena seluruh seluruh pemilik usaha tidak melakukan pemisahan

terhadap pencatatan pengeluaran usaha dan disatukan dengan pengeluaran

rumah tangga.

3. Konsep kelangsungan usaha, belum diterapkan sesuai konsep dasar

akuntansi karena tidak ada satupun pemilik usaha yang melakukan

pencatatan terhadap penyusutan aset yang dimiliki.

4. Konsep periode waktu, sudah diterapkan sesuai konsep dasar akuntansi

karena seluruh pemilik usaha melakukan perhitungan laba rugi setiap satu

bulan sekali.

5. Konsep penandingan, belum diterapkan sesuai konsep dasar akuntansi

karena tidak semua responden yang melakukan pemasukkan beban-beban

yang seharusnya dikeluarkan, tidak melakukan perhitungan biaya

penyusutan dari aset tetap dan peralatan yang digunakan.

58
59

6. Penerapan akuntansi yang dilakukan pemilik usaha pengolahan gula aren di

Desa Rambah Tengah Barat Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu

belum sesuai dengan konsep-konsep dasar akuntansi.

6.2. Saran

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan tersebut, maka

dirumuskan saran sebagai berikut:

1. Disarankan pengusaha gula aren menggunakan dasar pencatatan akrual,

sehingga setiap transaksi pesanan gula aren diakui pada saat kejadiaan tidak

harus menunggu saat kas diterima atau dibayarkan.

2. Disarankan pengusaha gula aren memenuhi konsep kesatuan usaha dengan

cara memisahkan biaya pengeluaran usaha dengan biaya pengeluaran rumah

tangga.

3. Disarankan pengusaha gula aren melakukan pencatatan terhadap penyusutan

aset yang dimiliki, khususnya nira karena memiliki batas usia penyimpanan

selain itu juga nira dapat dijual mengikuti harga pasar yaitu antara

Rp.3.000,- sampai dengan Rp.5.000,-/ liternya.

4. Disarankan pengusaha gula aren tetap melakukan perhitungan laba rugi

setiap satu bulan sekali, namun dengan pencatatan yang lebih akurat.

5. Disarankan pengusaha gula aren memasukkan beban-beban yang

seharusnya dikeluarkan, melakukan perhitungan biaya penyusutan dari aset

tetap yang dimiliki seperti peralatan yang digunakan.


60

DAFTAR PUSTAKA

Bahri, Syaiful (2018), Pengantar Akuntansi, Yogyakarta: Andi Offset.


Brigham, Eugene F, dan Joel F. Houston. (2014). Dasar-Dasar Manajemen
Keuangan. Edisi 14. Jakarta: Salemba Empat.
Hani, Syafrida; Mariati, dan Riva Ubar Harahap. (2018). Laporan Keuangan
UKM Syariah. Medan: LPPIA.
Hantono, dan Namira Ufrida Rahmi. (2018). Pengantar Akuntansi. Yogyakarta:
Deepublish.
Harahap, Sofyan Syafri (2012), Analisis Kritis atas Laporan Keuangan, Jakarta:
Rajawali Press.
Hasanah, Nuramalia; Saparuddin Muhtar, dan Indah Muliasari. (2020). Mudah
Memahami Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Ponorogo:
Uwais Press.
Herwiyanti, Eliada; Permata Ulfah, dan Umi Pratiwi. (2020). Implementasi
Standar Akuntansi Keuangan di UMKM. Yogyakarta: Deepublish.
Hery (2014), Akuntansi Sektor Jasa dan Dagang, Jakarta: Prenada.
Ikatan Akuntan Indonesia (2016), Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan
Entitas Mikro, Kecil dan Menengah, Jakarta: Dewan Standar Akuntansi
Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia Press.
Kasmir (2013), Analisis Laporan Keuangan, Jakarta: Salemba Empat.
Kieso, Donald E; Jerry J. Weygandt, dan Terry D. Warfield. (2011). Akuntansi
Keuangan Menengah. Jakarta: Salemba Empat.
Muawanah, Umi (2018), Konsep Dasar Akuntansi dan Pelaporan Keuangan,
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Ningsih, Sri Rahmadan (2018), Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha
Pengetaman Kayu di Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru, Pekanbaru:
Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau.
Primiana, Ina (2011), Ekonomi Mikro dan Makro, Edisi 2, Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Rahayu, Sri Mangesti; Wita Ramadhanti, dan Taufik Margi Widodo. (2020).
Akuntansi Dasar; Sesuai dengan SAK EMKM. Yogyakarta: Deepublish.
Rudianto (2012), Pengantar Akuntansi, Jakarta: Erlangga.
Siregar, Siti Aisyah (2018), Belajar Mudah Akuntansi Dasar Perusahaan Jasa,
Bandung: Pustaka Media.
Soemarso, Slamet Rahardjo (2013), Akuntansi Suatu Pengantar, Edisi 5, Jakarta:
Salemba Empat.
Subramanyam, Kevin R, dan John J. Wild. (2013). Analisis Laporan Keuangan.
Jakarta: Salemba Empat.
Sudiharto, Bintang (2020), Analisis Penerapan Akuntansi Pada Usaha Reklame di
Kota Dumai. Pekanbaru: Fakultas Ekonomi Universitas Islam Riau.
Sugiyono (2016), Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Syafitri, Yeyen (2018), Analisis Penerapan Akuntansi pada Usaha Bawang
Goreng di Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru, Pekanbaru: Fakultas
Ekonomi Universitas Islam Riau.
61

Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

Anda mungkin juga menyukai