Analisis Pondasi Telapak Bujur Sangkar
Analisis Pondasi Telapak Bujur Sangkar
PENYELESAIAN:
• Perhitungan tegangan tanah.
Beban kolom = 1300 + 700 = 2000 kN
Berat pondasi = 3(3)(0,6)(24) = 129,6 kN
Berat tanah =(32 – 0,62)(0,6)(16) = 82,944 kN
Beban total pada tanah = 2212,544 kN
2.212,544
Tegangan pada tanah = = 245,83 kN/2 < σall
3𝑥3
SOAL 1 (ANALISIS PONDASI TELAPAK BUJUR SANGKAR)
2 2
Vc1 =0,17(1+ )λ 𝑓′𝑐bod = 0,17(1+ )(1,0) 20(1.160x4)(506)
𝛽𝑐 1
=5.105.647,28 N
𝛼𝑠𝑑
Vc2 = 0,083( + 2) λ 𝑓′𝑐bod
𝑏𝑜
40𝑥506
=0,083( + 2)(1,0) 20 (1.160x4) (506)
4𝑥1.106
=5.463.330,44 N
Vc3 =0,33λ 𝑓′𝑐bod
= 0,33(1,0) 20(1.160x4)(506)
= 3.303.654,12 N
ϕVn = 0,75Vn = 0,75(3.303.654,12) = 2.477.740,59 N
= 2.477,74 > Vu2
SOAL 1 (ANALISIS PONDASI TELAPAK BUJUR SANGKAR)
Diperoleh
panjang penyaluran yang dibutuhkan sebesar 809,2 mm.
panjang penyaluran yang tersedia adalah 1200 – 75 = 1125 > ld
SOAL 1 (ANALISIS PONDASI TELAPAK BUJUR SANGKAR)
Penyelesaian:
• Penentuan dimensi telapak.
diperkirakan dahulu berat sendiri pondasi serta berat timbunan
tanah. beban pada tanah sebesar 0,6(15) = 9 kN/m2.
Sehingga tegangan izin tanah neto adalah
Pneto = 250 – 0,6(24) – 9 = 256,6 kN/m2
875+700
Aperlu = = 6,95 m2
22,6
dipilih ukuran telapak sebesar 2750 x 2750 mm2 (A = 7,56 m2)
SOAL 2 (ANALISIS PONDASI TELAPAK BUJUR SANGKAR)
Sedangkan dalam arah pendek, tersedia panjang penyaluran sebesar ½ (2000 – 450) –
75 = 700 mm < ld. Karena dalam arah pendek yang tidak tersedia jarak yang cukup
untuk panjang penyaluran, maka ujung tulangan dapat dibengkokkan untuk membentuk
kait 90°. Panjang kait yang dibutuhkan minimal sebesar 12db atau sama dengan 12(19)
= 228 mm.
Hasil perencanaan pondasi secara
lengkap ditunjukkan dalam Gambar
13.5 Pondasi Beton Polos
Penggunaan beton polos struktural dibatasi untuk komponen struktur yang di tahan oleh tanah secara
menerus atau di tahan oleh komponen struktural lainnya yang mampu memberikan tumpuan vertikal
secara menerus ( SNI 2847:2013 Pasal 22.2 ). Penggunaan beton polos pada struktur pondasi digunakan
sebagai struktur pemikul dinding, dan terbatas pada kondisi tanah dengan daya dukung yang baik.
Perencanaan penampang beton polos yang memikul beban lentur harus didasarkan pada:
ɸMn ≥ Mu
dengan Mu adalah momen terfaktor dan Mn adalah kuat momen nominal yang dihitung sebagai berikut :
Penyelesaian:
1. Total beban layan = 275 + (0.75)(1.75)(24) + 100
= 406,5 kN/m
406.5
2. Tegangan tanah maks =
1.75
=232,3 kN/m < 𝜎all (= 250 kN/m2)
2 OK
3. Momen lentur terfaktor dihitung pada penampang kritis di muka
dinding:
qu = 1.2(275) + 1.2(0.75)(1.75)(24) + 1.6 (100)
= 527,8 kN/m
527.8
Pult = 1.75 = 301,6 kN/m2
1
Mu = 2 (301.6)(0.725)2 = 79,264 kN.m
SOAL 4 (ANALISIS PONDASI BETON POLOS)
Kuat nominal beton polos dihitung dengan persamaan 13.23 : Mn = 0.42𝜆 𝑓𝑐′ Sm
Dengan Sm adalah modulus penampang pondasi telapak yang besarnya adalah Ig i(h/2),
sedangkan Ig adalah momen inersia penampang. Dengan mengabaikan 5 cm beton terbawah
(dengan asumsi bahwa setebal 5 cm beton terbawah memiliki mutu yang buruk). Maka
1
Ig = x 1000 x 7003 = 2,858. 1010 mm4
12
Sm = Ig i(h/2) = 2,585.1010/(7002) = 81.666.666,67 mm3
Sehingga
Mn = 0,42𝜆 𝑓𝑐′ Sm = 0.41 (1,0) 20 x 81.666.666,67 = 153.394.263,26 [Link]
ɸMn = 0.60(153.394.263,26) = [Link] [Link] = 92,04 kN.m > Mu
Kuat geser pondasi dianggap mencukupi sebab penumpang kritis terletak sejarak d dari muka
dinding, yang jatuh dekat tepi pondasi.
SOAL 5 (ANALISIS PONDASI BETON POLOS)
Lakukanlah analisis terhadap pondasi beton polos berikut yang
memikul beban mati sebesar 350 kN/m dan beban hidup 100 kN/m.
Mutu beton 𝑓′𝑐= 35 MPa dan tegangan izin tanah adalah 300
kN/m2.
Penyelesaian:
1. Tegangan beban layan = 350 + 100 + (0,6)(2)(24) = 478,8 kN/m
478,8
2. Tegangan tanah maks =
2
=239,4 kN/m2 < 𝜎all (= 300 kN/m2) OK
1. Momen lentur terfaktor dihitung pada penampang kritis di muka
dinding:
qu = 1.2(350) + 1.2(0.6)(2)(24) + 1.6 (100)
= 925,6 kN/m
925,6
Pult = = 462,8 kN/m2
2
1
Mu = (462,8)(0.75)2 = 130,1625 kN.m
2
SOAL 5 (ANALISIS PONDASI BETON POLOS)
4. Kuat nominal beton polos dihitung dengan persamaan 13.23 : Mn = 0.42𝜆 𝑓𝑐′ Sm
Dengan Sm adalah modulus penampang pondasi telapak yang besarnya adalah Ig i(h/2),
sedangkan Ig adalah momen inersia penampang. Dengan mengabaikan 5 cm beton terbawah
(dengan asumsi bahwa setebal 5 cm beton terbawah memiliki mutu yang buruk). Maka
1
Ig = x 1000 x 5503 = 1,387. 1010 mm4
12
Sm = Ig /(h/2) = 1,387. 1010 /(550/2) = 50.436.363,64 mm3
Sehingga
Mn = 0,42𝜆 𝑓𝑐′ Sm = 0.42 (1,0) 35 x 50.436.363,64 = 125.321.931,5 [Link]
ɸMn = 0.60(125.321.931,5) = 75.193.158,92 [Link] = 75,19 kN.m < Mu TIDAK OK
Kuat geser pondasi dianggap tidak mencukupi.
13.6 Pondasi Gabungan
Pada pondasi yang terletak pada tanah lembek (daya dukung tanah yang
kecil) terkadang diperlukan bar/ ukuran pondasi yang cukup besar., dan hal
ini berakibat terkadang akan ada pondasi yang saling bertumpangan. Untuk
mengantisipasi hal tersebut, dua titik kolom yang berdekatan dapat
digabung menjadi satu pondasi. Pondasi demikian sering dinamakan
dengan istilah pondasi gabungan. Tegangan tanah yang timbul, qu , akibat beban kolom, akan mengakibatkan
pondasi mengalami lendutan seperti pada Gambar 13.13. Contoh desain pondasi gabungan diberikan dalam
contoh 13.5.
Penyelesaian:
1. Tentukan lokasi resultan dari beban kolom, dengan cara mengambil jumlahan
momen terhadap pusat dari kolom I:
1.100 + 620 × 4.800
𝑥= = 2.700 𝑚𝑚
1.100 + 620 + 800 + 530
Dari tepi kiri pondasi, maka resultan beban kolom berada sejarak 2.700 +
600 = 3.300 mm. Agar lokasi resultan beban kolom berimpit dengan lokasi
resultan dari tegangan tanah yang timbul pada pondasi gabungan, maka
panjang pondasi gabungan dapat diambil sebesar 2 x 3.300 = 6.600 mm = 6,6
m.
SOAL 6 (DESAIN PONDASI GABUNGAN)
2. Menentukan luas pondasi gabungan. Ketebalan pondasi direncanakan dahulu sebesar 900
mm, sehingga tinggi efektif pondasi, d = 900 – 75 – 19 = 806 mm.
Beban kolom total = 1.330 + 1.720 = 3.050 kN
Pneto = 260 – 0,9(24) – 1,5(16) = 214,4 kN/m2
3.050 14,23
Aperlu = = 14,23 m2Lebar pondasi, 𝐵 = = 2,16 𝑚 ≈ 2,2 𝑚
214,4 6,6
9. Desain tulangan lentur dalam arah pendek, dilakukan seperti halnya pondasi telapak
setempat biasa. Lebar lajur di bawah masing-masing kolom ditetapkan sebesar lebar
kolom ditambah dengan 2 kali tinggi efektif di kedua sisi kolom.
a. Desain tulangan lentur arah pendek di bawah kolom I
Lebar lajur = lebar kolom + sisi luar kolom + d
= 400 + 400 + 806 = 1.606 mm ≈ 1,6 m
Tegangan tanah ultimit di bawah kolom I =
𝑃𝑢1 1.808
= = 821,82 𝑘𝑁/𝑚2
𝑙𝑒𝑏𝑎𝑟 𝑝𝑜𝑛𝑑𝑎𝑠𝑖 2,2
Jarak dari tepi pondasi ke muka kolom I dalam arah pendek adalah
2.200 400
− = 900 mm
2 2
SOAL 6 (DESAIN PONDASI GABUNGAN)
1
Mu (di muka kolom I pada arah pendek) = × 821,82 × 0,92 = 332,84 kN●m
2
𝑀𝑢 332,84 𝑥 106
Rn = = = 0,3558
𝜙𝑏𝑑 2 0,9 𝑥 1600 𝑥 8062
Jarak dari tepi pondasi ke muka kolom I dalam arah pendek adalah
2.200 500
− = 850 mm
2 2
SOAL 6 (DESAIN PONDASI GABUNGAN)
1
Mu (di muka kolom I pada arah pendek) = × 1.050,91 × 0,852 = 379,64
2
kN●m
𝑀𝑢 379,64 𝑥 106
Rn = = = 0,325
𝜙𝑏𝑑 2 0,9 𝑥 2.000 𝑥 8062
Apabila pondasi suatu bangunan terletak pada tanah dengan daya dukung yang jelek, dan didapati
bahwa lokasi kedalaman tanah keras cukup jauh dari muka tanah, maka terkadang digunakan
alternatif solusi berupa penggunaan pondasi dalam berupa tiang pancang.
Untuk memikul suatu beban kolom yang cukup berat, terkadang tidak cukup apabila hanya digunakan
satu buah tiang pancang saja. Guna menyatukan tiang pancang yang jumlahnya lebih dari satu itu,
maka diperlukan suatu struktur pile cap yang fungsinya untuk mendistribusikan beban dari kolom ke
masing-masing tiang pancang.
Perhitungan momen lentur dan gaya geser pada pile cap didasarkan pada asumsi bahwa reaksi dari
masing-masing tiang pancang terpusat pada pusat berat penampang tiang pancang (SNI 2847:2013
Pasal 15.2.3). Ketebalan minimum dari sebuah pile cap ditentukan sebesar 300 mm sesuai dengan
SNI 2847:2013 Pasal 15.7.
SOAL 7 (PERENCANAAN PILE CAP TIANG PANCANG)
Maka
Mu = 2(590)(0,75 - (0,4/2)) = 649 kN●m
𝑀𝑢 649 𝑥 106
Rn = = = 0,7046
𝜙𝑏𝑑 2 0,9 𝑥 2.400 𝑥 6532
Penyelesaian:
1. Total beban layan = 200 + (0,8)(1,5)(24) + 250
= 478,8 kN/m
406.5
2. Tegangan tanah maks =
1,5
=319,2 kN/m2 < 𝜎all (= 350 kN/m2) OK
3. Momen lentur terfaktor dihitung pada penampang kritis di muka
dinding:
qu = 1.2(200) + 1.2(0.8)(1.5)(24) + 1.6 (250)
= 674,56 kN/m
674,56
Pult = 1.5 = 449,707 kN/m2
1
Mu = 2 (449,707)(0.55) 2 = 68,018 kN.m
SOAL 8 (ANALISIS PONDASI BETON POLOS)
Kuat nominal beton polos dihitung dengan persamaan 13.23 : Mn = 0.42𝜆 𝑓𝑐′ Sm
Dengan Sm adalah modulus penampang pondasi telapak yang besarnya adalah Ig i(h/2),
sedangkan Ig adalah momen inersia penampang. Dengan mengabaikan 5 cm beton terbawah
(dengan asumsi bahwa setebal 5 cm beton terbawah memiliki mutu yang buruk). Maka
1
Ig = x 1000 x 7503 = 3,516. 1010 mm4
12
Sm = Ig i(h/2) = 3,516.1010/(750) = 46.880.000 mm3
Sehingga
Mn = 0,41𝜆 𝑓𝑐′ Sm = 0.41 (1,0) 40 x 46.880.000 = 121.563.012,9 [Link]
ɸMn = 0.60(121.563.012,9 ) = 72.9373807,74 [Link] = 72,94 kN.m > Mu
Kuat geser pondasi dianggap mencukup.
KERUNTUHAN TEKAN
• Apabila gaya tekan, Pn, melebihi gaya tekan dalam kondisi seimbang,
Pb, atau apabila eksentrisitas, e = Mn/Pn, lebih kecil daripada
eksentrisitas pada kondisi seimbang, eb. Maka penampang kolom
akan mengalami keruntuhan tekan.
• Pada kasus ini regangan pada beton akan mencapai 0,003, sedangkan
regangan pada tulangan baja akan kurang dari ey.
• Sebagian besar penampang beton akan berada dalam keadaan tekan.
• Sumbu netral akan bergerak ke atas mendekati tulangan tarik,
menambah luas daerah tekan beton, sehingga jarak sumbu netral dari
serat tekan beton akan melebihi jaraknya pada kondisi seimbang (c >
cb).
PROSEDUR ANALISIS KERUNTUHAN TEKAN
PROSEDUR ANALISIS KERUNTUHAN TEKAN
Contoh 3
• Tentukan kuat tekan nominal, Pn, untuk penampang pada Contoh 1, jika e = 250 mm.
Contoh 3
Tentukan kuat tekan nominal, Pn, untuk penampang pada Contoh 3, jika e = 250 mm.
DIAGRAM INTERAKSI
Diagram interaksi dapat dibuat dengan membuat kurva yang memberikan hubungan antara
Pn dan Mn untuk berbagai nilai eksentrisitas, mulai dari e = 0 (aksial murni, Mn = 0) hingga e =
∞ (lentur murni, Pn = 0).
Dari contoh sebelumnya (Keruntuhan Seimbang; Tarik dan Desak), diperoleh hasil :
Sedangkan untuk e = ∞ atau kasus lentur murni (Pn = 0), lakukan analisis untuk
menentukan Mn seperti halnya penampang balok, dengan mengabaikan tulangan
tekan.
As f y 4 660 400
a= = = 129,08 mm
0,85 f c/ b 0,85 27,5 350
a 129,08
M n = As f y d − = 4(660 )(400 ) 485 − = 444.005.760 kN m
2 2
Dengan menambahkan beberapa nilai eksentrisitas lainnya, maka nilai e, Pn, Mn
dapat ditampilkan pada Tabel berikut :
e a Pn Mn Pn M n Keterangan
0 - 0.65 6488.27 0 4217.37 0.00 Po
55 429.32 0.65 5190.61 285.48 3373.89 185.56 0,8Po
100 413.65 0.65 4383.86 438.39 2849.51 284.95 Tekan
150 354.77 0.65 3640.13 546.02 2366.08 354.91 Tekan
250 287.30 0.65 2652.03 663.01 1723.82 430.96 Tekan
300 267.54 0.65 2326.22 697.87 1512.04 453.61 Tekan
350 253.30 0.65 2071.81 725.13 1346.68 471.34 Tekan
375.54 247.35 0.65 1961.92 736.79 1275.25 478.91 Seimbang
500 179.26 0.81 1404.86 702.43 1137.94 568.97 Transisi
750 127.55 0.9 823.70 617.77 741.33 556.00 Tarik
1000 110.14 0.9 572.75 572.75 515.47 515.47 Tarik
1250 101.70 0.9 437.78 547.23 394.00 492.50 Tarik
2000 91.36 0.9 255.84 511.69 230.26 460.52 Tarik
∞ 129.08 0.9 0.00 444.01 0.00 399.61 Lentur Murni
CONTOH ANALISIS DIAGRAM MN-PN KOLOM
Buatlah diagram Mn-Pn penampang kolom penampang berikut dengan f’c= 25 MPa dan fy= 350 MPa !
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
SEIMBANG
Tentukan gaya tekan nominal kolom pada kondisi seimbang, Momen nominal kolom pada kondisi
seimbang serta besarnya eksentrisitas beban (Pb) pada penampang kolom berikut dengan f’c= 25 MPa
dan fy= 350 MPa !
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
SEIMBANG
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
SEIMBANG
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
SEIMBANG
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
SEIMBANG
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
SEIMBANG
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
TARIK
Tentukan gaya tekan nominal kolom (Pn) dan momen nominal (Mn) kolom pada kondisi keruntuhan
tarik dengan e= 400 mm pada penampang kolom berikut dengan f’c= 25 MPa dan fy= 350 MPa !
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
TARIK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
TARIK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
TARIK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
TARIK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
TARIK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
TARIK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
DESAK
Tentukan gaya tekan nominal kolom (Pn) dan momen nominal (Mn) kolom pada kondisi
keruntuhan desak dengan e= 150 mm pada penampang kolom berikut dengan f’c= 25 MPa
dan fy= 350 MPa !
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
DESAK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
DESAK
eb= 223,99mm
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
DESAK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
DESAK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
DESAK
ANALISIS PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN
DESAK
PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN AKSIAL
SENTRIS
PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN AKSIAL
SENTRIS
PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN LENTUR
MURNI
PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI KERUNTUHAN LENTUR
MURNI
PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI LENTUR MURNI
PENAMPANG KOLOM DALAM KONDISI LENTUR MURNI
DIAGRAM INTERAKSI MN-PN
7000
4000
3000 Mn-Pn
2000
1000
0
0 100 200 300 400 500 600 700
Momen Nominal (Knm)
Tugas!
Analisis Momen Nominal (Mn) dan Gaya Aksial Nominal (Pn) penampang kolom pada
kondisi desak murni, keruntuhan desak, kondisi seimbang, keruntuhan tarik, dan lentur
murni kemudian gambarkan diagram Interaksi Mn dan Pn. Apabila digunakan f /c =
27,5 MPa dan fy = 420 MPa.
50
5D29
D10 - 200
500 mm
5D29
50
350 mm
FONDASI
PENGANTAR REKAYASA FONDASI
fondasi dalam istilah ilmu teknik sipil dapat
didefinisikan sebagai bagian dari struktur bangunan
yang berhubungan langsung dengan tanah dan berfungsi
untuk menyalurkan beban-beban yang diterima dari
struktur atas ke lapisan tanah.
Proses disain struktur pondasi memerlukan analisis yang
cukup lengkap, meliputi kondisi/jenis struktur atas,
beban-beban kerja pada struktur, profil dari lapisan
tanah tempat bangunan/struktur tersebut berada serta
kemungkinan terjadinya penurunan (settlement).
fondasi dari suatu struktur pada umumnya terdari dari
satu atau lebih elemen-elemen fondasi. Elemen
pondasi adalah elemen transisi antara tanah atau
batuan dengan struktur atas (upper-structure).
PENGANTAR REKAYASA FONDASI
Selanjutnya untuk memperoleh daya dukung ijin, maka besarnya daya dukung ultimit, qu,
tersebut harus dibagi dengan suatu angka keamanan (safety factor) yang umumnya diambil
sama dengan 3.
q
qa = u
SF
Daya dukung ultimit untuk suatu tiang pancang dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
Qu = Q p + Qs
Dengan Qp adalah tahanan ujung tiang (end bearing resistance) dan Qs adalah tahanan friksi
(frictional resistance). Nilai Qp dan Qs dihitung dengan persamaan – persamaan berikut :
Qp = [Link] = Ap (c’Nc* + q’Nq*)
Qs = p.L.f
dengan :
Ap : luas penampang ujung tiang
c’ : nilai kohesi tanah pada ujung tiang
q’ : tegangan vertikal efektif pada ujung tiang
Nc*,Nq* : faktor kapasitas ujung
p : keliling penampang tiang pancang
L : panjang tiang pada lapisan tanah yang ditinjau
f : nilai tahanan friksi
FONDASI TELAPAK
Geser Satu Arah, Vu1
Guna melakukan tinjauan terhadap kemungkinan
kegagalan geser satu arah, maka dapat diambil
potongan kritis penampang yang terletak sejarak d
dari muka kolom.
Pemeriksaan terhadap geser pada potongan a-a
(Gambar 13.10) dapat dilakukan seperti halnya
pada analisis geser balok
Vc = (0,17√f /cbd)
Dengan = 0,75 dan b adalah sama
dengan lebar potongan a-a. Sedangkan
gaya geser terfaktor yang bekerja pada
potongan a-a adalah:
L c
Vu1 = q u B − − d
2 2
Apabila tidak digunakan tulangan geser,
maka d dapat dihitung dengan
mengasumsikan Vu = Vc, sehingga :
Vu1
d=
0,17 f c b
Geser Dua Arah, Vu2
Keruntuhan geser dua arah dapat timbul sebagai
akibat munculnya tegangan tarik diagonal yang
disebabkan oleh beban kolom yang disalurkan ke
pondasi.
Lokasi penampang kritis untuk peninjauan geser
dua arah diambil sejarak d/2 dari muka kolom
(Gambar 13.11).
Dalam SNI 2847:2013, pasal
[Link], menyatakan bahwa kuat
geser pondasi akibat geser dua
arah, Vc, adalah diperoleh dari nilai
terkecil antara :
2
Vc1 = 0,171 + f c bo d
c
d
Vc 2 = 0,083 s + 2 f c bo d
bo
Vc 3 = 0,33 f c bo d
dengan :
bo adalah keliling dari penampang kritis pada pelat pondasi telapak (mm)
d tinggi efektif pelat pondasi (mm)
c rasio sisi panjang terhadap sisi pendek dari beban terpusat atau daerah
tumpuan
s = 40 untuk kolom dalam, 30 untuk kolom tepi dan 20 untuk kolom sudut
Perhitungan momen yang muncul pada penampang pondasi
telapak ditentukan dalam SNI 2847:2013 pasal 15.4.
Momen luar akibat semua gaya yang bekerja pada pondasi,
harus dihitung terhadap suatu potongan bidang vertikal pada
pondasi tersebut yang terletak pada :
Muka kolom, pedestal atau dinding, untuk pondasi
telapak yang memikul kolom, pedestal atau dinding
beton
Setengah dari jarak yang diukur dari bagian tengah ke
tepi dinding, untuk pondasi telapak yang mendukung
dinding pasangan
Setengah dari jarak yang diukur dari muka kolom ke
tepi pelat alas baja, untuk pondasi yang mendukung
kolom dengan pelat dasar baja
Jumlah tulangan tarik terpasang pada suatu
pondasi telapak harus diperhatikan besarnya,
dengan luas minimum tulangan tarik dalam arah
bentang yang ditinjau harus memenuhi kebutuhan
tulangan untuk susut dan suhu yang besarnya
ditentukan dalam Tabel 13.2 (merujuk pada SNI
2847:2013 pasal [Link]).
Nilai dalam tabel tersebut tidak boleh kurang dari
0,0014. Sedangkan jarak antar tulangan maksimum
tidak boleh melebihi tiga kali tebal pondasi atau
450 mm.
Tulangan lentur pada pondasi telapak satu arah dan pondasi telapak bujur
sangkar harus disebarkan secara merata ke seluruh lebar dari pondasi
telapak tersebut. Sedangkan untuk tulangan lentur pada pondasi empat
persegi panjang dapat didistribusikan sebagai berikut :
dalam arah memanjang, tulangan lentur harus disebar merata ke seluruh
lebar dari pondasi telapak
untuk tulangan dalam arah pendek, maka sebagian luas tulangan lentur
(sebesar sAs) harus didistribusikan merata dalam suatu jalur selebar
ukuran dari sisi pendek pondasi. Sisa tulangan lainnya (sebesar (1 – s)As),
didistribusikan di luar jalur tadi. Sisa tulangan yang ada tersebut
jumlahnya tidak boleh kurang dari kebutuhan tulangan minimum untuk
susut dan suhu. Besaran s ditentukan sebagai berikut :
Batang tulangan tekan dari kolom harus disalurkan ke pelat pondasi
dengan panjang penyaluran yang nilainya tidak kurang dari persamaan
berikut :
0,24 f y
l dc = db
f c/
fy t e s
ld = d b
1,1 f c/ cb + K tr
d
b
Beban dari kolom disalurkan ke pondasi melalui
mekanisme tumpu. Besaran beban yang bekerja
pada dasar kolom, tidak boleh melampaui kuat
tumpu dari beton, yang dalam SNI 2847:2013 pasal
10.14.1 ditentukan sebesar :
N1 = (0,85f /cA1)
Dengan = 0,65, dan A1 adalah luas bidang tumpu
kolom.
Nilai dari persamaan tsb. masih dapat diperbesar
dengan mengalikannya terhadap faktor A A
2
1