Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam
Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam
KERANGKA TEORI
1. Belajar
a. Pengertian
Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses aktif untuk menuju satu arah
lanjut Ernest R. Hilgard (1968: 5), merinci rumusan belajar sebagai berikut; ”learning
baru. Belajar juga dapat diartikan suatu proses yang dapat menghasilkan suatu
aktifitas baru melalui pelatihan dilaboratorium maupun dilingkungan alam, yang hasil
tersebut berbeda dengan hasil yang diperoleh tanpa adanya proses latihan. Tokoh-
tokoh pendidikan lain yang memaknai belajar sebagai proses perubahan perilaku
yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman, antara lain: Di Vesta dan
Thompson, Gagne dan Berliner (1970: 256). Belajar adalah suatu proses latihan
menuju perubahan yang akan menghasilkan sesuatu yang dapat diukur dan dapat
dipertanggung jawabkan secara keilmuan, karena proses latihan tersebut telah melalui
12
tahapan-tahapan sistematis yang telah dipersiapkan sebelumnya melalui uji coba
secara ilmiah.
Demikian juga dengan pengalaman; ini berkenaan dengan segala bentuk membaca,
Pengertian belajar yang berbeda datang dari tokoh aliran psikologi kognitif.
Bagi mereka belajar merupakan proses perubahan yang bersifat internal, dan tidak
dapat diamati secara langsung, yang berupa suatu perubahan kemampuan individu
dalam merespon terhadap situasi tertentu. Perubahan pada perilaku yang tampak
merupakan refleksi dari perubahan yang bersifat internal (Sukmadinata, 2003: 157).
pendidikan yang sering menggunakan kata-kata perubahan dan tingkah laku tidak
perlu lagi disebut, mengingat kedua istilah tersebut sudah menjadi kebenaran umum
dan telah diketahui oleh semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan. Sebagai
kuantitatif (tinjauan dari sudut jumlah), dapat dimaknai sebagai kegiatan pengisian
Atau seberapa banyak materi yang dikuasai oleh siswa dalam belajar. Rumusan
13
institusional (tinjauan kelembagaan), dapat diartikan sebagai proses validasi
oleh siswa. Hal ini dapat diukur dengan semakin baik mutu mengajar yang dilakukan
oleh guru kepada siswa, semakin baik pula perolehan mutu siswa yang kemudian
yang ada disekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada
tercapainya daya pikir dan daya nalar serta tindakan yang berkualitas untuk
saat sekarang maupun dimasa yang akan datang (Lawson, 1991: 5).
tetapi terkandung suatu pemahaman, bahwa belajar adalah suatu proses untuk
mencapai perubahan yang akan menghasilkan sesuatu yang dapat diukur dan dapat
digolongkan menjadi tiga macam, yakni: 1) faktor internal (faktor dari dalam diri
siswa), misalnya kondisi jasmani (fisiologis) meliputi kondisi umum jasmani dan
tonus (tegangan otot yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-
sendinya), dan rohaniah siswa (psychis) meliputi tingkat kecerdasan, bakat, minat dan
14
motivasi siswa, 2) faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), misalnya kondisi
yakni suatu upaya belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa
1999: 131).
Pada realitasnya proses belajar bukanlah suatu peristiwa yang berdiri sendiri,
akan tetapi merupakan akumulasi dari berbagai hal yang saling mempengaruhi.
Enviromental
Input
Instrumental
Input
Gambar 2.1
Faktor–faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Mengajar
Keterangan: Arah panah menunjukkan faktor yang ikut mempengaruhi dalam
proses belajar mengajar
pengaruh dari berbagai faktor, seperti raw input atau masukan mentah berupa siswa,
yang memiliki karakteristik tertentu baik secara fisiologis (fisik) maupun psikologis.
15
anggota tubuh. Sedangkan karakteristik psikologis meliputi; minat, bakat, intelegensi,
motivasi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan aspek kejiwaan. Faktor lain yang
ikut mempengaruhi proses pembelajaran adalah instrumental input, yaitu faktor yang
kultural (Sumanto, 2003: 84). Dari interaksi dan akumulasi berbagai pengaruh inilah
yang melahirkan out put atau lulusan sebagai hasil dari proses panjang pembelajaran,
a. Pengertian
Prestasi belajar terdiri dari dua kata yang masing-masing mempunyai arti
yaitu prestasi dan belajar. Prestasi berasal dari bahasa Belanda “prestatie” (Arifin,
1991: 2), yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasi
Sedangkan menurut Aziz dan Majid (tt.: 169). pengertian belajar adalah:
“…suatu perubahan di dalam akal pikiran seseorang pelajar yang dihasilkan atas
16
Menurut Morgan, belajar adalah:”Learning is any relatively permanent change in
(belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen atau menetap yang
tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran, sekaligus sebagai bahan evaluasi bagi
para pelaku pendidikan. Atau dapat dirumuskan sebagai: 1) indikator kualitas dan
kuantitas materi pelajaran yang telah dikuasai siswa, 2) lambang hasrat ingin tahu
siswa. Artinya, semakin tinggi rasa ingin tahu siswa terhadap materi pelajaran yang
pelajaran, maka akan semakin tinggi prestasi yang dicapai oleh siswa. 3) inovasi dan
sebagai umpan balik bagi peningkatan mutu pendidikan (Arifin, 1990: 3).
Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil pencapaian peserta didik dalam
ketrampilan mata pelajaran disekolah yang biasanya ditunjukkan dengan nilai test
atau angka nilai yang diberikan oleh guru (Tu’u, 2004: 47). Untuk lebih kongkritnya
dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai
prestasi belajar adalah pencapaian nilai mata pelajaran berdasarkan kemampuan siswa
dalam aspek pengetahuan, ingatan, aplikasi, sintesis dan evaluasi, 3) prestasi belajar
adalah nilai yang dicapai oleh siswa melaui ulangan atau ujian yang diberikan oleh
guru (Tu’u, 2004: 75). Dapat disimpulkan, prestasi belajar adalah hasil belajar atau
17
nilai mata pelajaran yang dicapai oleh siswa melalui ulangan atau ujian yang
anak didik supaya mempunyai ilmu pengetahuan agama (Zuhairini, 2000: 27).
usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik supaya kelak setelah selesai
Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik
dalam meyakini, memahami dan menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui
yang bersama-sama dengan subjek studi yang lain dimaksudkan untuk membentuk
Sebagaimana diketahui, bahwa prestasi belajar siswa dalam arti luas adalah
keberhasilan siswa yang meliputi ranah cipta, rasa dan karsa. Yang dikenal dengan
ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar
yang ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat
pengalaman dan proses belajar siswa. Sedangkan Pendidikan Agama Islam (PAI)
18
yang dimaksud adalah mata pelajaran PAI sebagaimana di dalam kurikulum
Akhlaq, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam (Depag RI, 2004: v-vi).
Jadi secara sederhana Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah suatu mata
pelajaran yang diajarkan disekolah yang bertujuan agar peserta didik dapat meyakini,
hidup. Dengan demikian, maka prestasi belajar atau hasil belajar PAI adalah suatu
pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki siswa dalam mata pelajaran PAI setelah
melalui proses belajar mengajar yang ditunjukkan dengan nilai tes/angka yang
Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal
dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi belajar yang
dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor
19
natural curioucity (keinginan untuk mengetahui secara alami), balance
2) Faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal), terdiri dari:
keluarga yang harmonis, maka anak akan betah tinggal dalam keluarga tersebut
dan kegiatan belajarnya akan terarah”. Dengan keadaan yang demikian maka
prestasi belajar anak akan meningkat. Begitu juga sebaliknya, jika anak hidup
dalam keluarga yang kurang harmonis, penuh dengan percekcokan, maka anak
menjadi tidak betah tinggal dalam keluarga. Keadaan demikian akan membuat
terhadap prestasi belajar anak adalah ”cara mendidik orang tua terhadap anak
”sikap sosial dan emosional orang tua serta sikap keagamaan orang tua”.
(1) Interaksi guru dengan murid, di mana guru yang kurang berinteraksi
dengan siswa secara intim, maka akan menyebabkan proses belajar-
mengajar kurang lancar.
(2) Guru dan cara penyajian, di sini guru dituntut agar pandai-pandai cara
mengajarkan pengetahuan kepada anak didik.
(3) Alat-alat yang digunakan dalam belajar mengajar.
(4) Lingkungan dan kesempatan yang tersedia.
(5) Motivasi sosial (Purwanto, 1990: 102).
20
Menurut Suryabrata (1984: 233), kelompok faktor ini tak terbilang
jumlahnya, itu bisa berwujud keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu, tempat,
Prestasi belajar bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Prestasi belajar merupakan
hasil akumulasi dari berbagai hal yang mempengaruhi siswa. Berbagai hal yang
mempengaruhi prestasi belajar tersebut bisa datang dari luar (faktor eksternal) dan
bisa datang dari dalam diri siswa itu sendiri (faktor internal). Faktor dari luar
Sedangkan faktor dari dalam diri siswa meliputi; kecerdasan, minat, bakat, input,
21
motif, kesehatan dan cara belajar (Kartono, 1985: 1-5). Winkel (1983: 47)
motivasi belajar, minat, sikap, perasaan, keadaan sosial ekonomi, dan keadaan fisik
dapat dirumuskan lebih rinci. Faktor-faktor itu misalnya: karakteristik siswa, tenaga
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menjadi dua yaitu: faktor pertama
pribadi; faktor kedua meliputi: keluarga, guru dan cara mengajarnya, media dan alat
Dari berbagai hal yang mempengaruhi prestasi belajar, antara pengaruh yang
satu dan yang lainnya memiliki posisi saling terkait dan tidak ada satupun pengaruh
yang paling dominan. Siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi atau dapat
disebut sebagai anak dalam golongan gilted child atau talented chil, diasumsikan jika
secara layak dan tepat, maka anak tersebut akan mengalami kesulitan belajar yang
pada akhirnya tidak akan mampu mencapai prestasi belajar dengan baik. Demikian
juga sebaliknya, jika seorang siswa memiliki kecerdasan yang sedang, akan tetapi dia
mendapatkan pendidikan dan bimbingan dari seorang guru yang tepat, dan dia
mempunyai motivasi belajar yang tinggi, dia mendapatkan fasilitas belajar yang
memadai, maka siswa tersebut akan mampu meraih prestasi yang baik.
22
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa semua faktor yang ada, akan
secara simultan dan bersama- sama dalam bekerja. Untuk lebih memperjelas faktor-
faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat ditampilkan dalam bentuk tabel
berikut ini.
Tabel 2.2
Faktor- faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
P
R Eksternal :
Internal :
E
S
Kecerdasan T Lingkungan keluarga
Minat A Lingkungan sekolah
Bakat S Lingkungan masyarakat
Input I Kondisi alam sekitar
Motiv, Ekonomi misalnya: udara, suara,
Suasana hati B bau-bauan dsb
Kesehatan E
L
Kematangan usia
A
Cara belajar J
dsb. A
R
faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar terdiri dari faktor internal dan
eksternal. Selain itu sesuai dengan kajian yang diteliti, faktor internal siswa dalam
meraih prestasi belajar yang terpenting adalah motivasi belajar dan kecerdasan
intelektual yang dimiliki oleh siswa, maka akan semakin tinggi pula prestasi belajar
siswa. demikian juga sebaliknya, semakin rendah motivasi dan kecerdasan intelektual
23
c. Faktor yang Menghambat Prestasi Belajar
gangguan kesulitan belajar yang dapat dimaknai sebagai hambatan dan gangguan
dalam proses penyerapan materi pelajaran yang disampaikan guru kepada siswa. Pada
prinsipnya setiap siswa mempunyai hak dan peluang yang sama untuk memperoleh
mencolok antara siswa yang satu dengan siswa lainnya (ada siswa yang sangat bodoh
dan ada siswa yang sangat pandai), sehingga perlu adanya perhatian dan penanganan
khusus terhadap keduanya sehingga tidak akan timbul apa yang disebut dengan
rendah saja, akan tetapi juga dapat menimpa kepada mereka yang berkemampuan
Pertama, faktor intern siswa yang meliputi gangguan psiko-fisik siswa, yang
berkaitan dengan; a) aspek kognitif (ranah cipta), dalam hal ini terkait dengan
rendahnya kapasitas intelektual atau intelegensi siswa, b) aspek afektif (ranah rasa),
dalam hal ini terkait dengan labilnya emosi dan sikap, c) aspek psikomaotor (ranah
karsa), dalam hal ini terkait dengan terganggunya fungsi panca indera siswa.
Disamping hal tersebut, karena adanya sindrom psikologis yang berupa ketidak
mampuan belajar (learning disability), adanya gangguan kecil pada otak (minimal
brain disfunction).
24
Kedua, faktor ekstern siswa yang meliputi; a) lingkungan keluarga, misalnya;
dalam lingkungan kumuh (slum area) dan kelompok bermain yang nakal, c)
lingkungan sekolah, misalnya; tata letak sekolah yang kurang nyaman dan strategis
(dekat pasar, dekat rel kereta api, dekat terminal dan sebagainya), d) guru yang
kurang memiliki kompetensi dibidang mata pelajaran yang diampu, fasilitas belajar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka
salah satu bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di Madrasah adalah
pendidikan agama Islam, yang dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak
Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah
25
SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan
Syariah/fiqih (ibadah, muamalah) dan akhlak bertitik tolak dari aqidah, yakni
sebagai manifestasi dan konsekuensi dari aqidah (keimanan dan keyakinan hidup).
dengan Allah, sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Akhlaq merupakan
aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem
norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah dalam arti khas) dan
hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup
perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah
26
Pendidikan agama Islam (PAI) di Madrasah Aliyah yang terdiri atas empat
menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna
pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam
kurikulum hasil refleksi, pemikiran dan pengkajian dari kurikulum yang berlaku
sedang berlaku saat ini, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),
27
cerdas dalam membangun integritas sosial, serta mewujudkan karakter nasional
agar siswa/peserta didik tumbuh dan berkembang rasa keimanan dan ketakwaan
berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan
sebagai berikut:
1) al-Qur’an Hadis
peserta didik bergairah untuk membaca al-Qur’an Hadis dengan baik dan benar,
2) Aqidah Akhlaq
keimanan peserta didik yang diwujudkan dalam akhlaqnya yang terpuji, melalui
28
pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, serta pengalaman peserta
didik tentang aqidah dan akhlaq Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang
berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan
yang lebih tinggi (Depag. RI, 2004: 22); 2) mewujudkan manusia Indonesia yang
baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan
3) Fiqih
Mata pelajaran ini bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:
(1) Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam secara terperinci dan
menyeluruh, baik berupa dalil naqli dan aqli. Pengetahuan dan pemahaman
tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.
hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan
sejarah agama Islam dan kebudayaan Islam kepada peserta didik, agar memiliki
data yang obyektif dan sistematis tentang sejarah. (2) Mengapresiasi dan
mengambil ibrah, nilai dan makna yang terdapat dalam sejarah. (3) Menanamkan
29
penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan nilai-nilai Islam
berdasarkan cermatan atas fakta sejarah yang ada. (4) Membekali peserta didik
eksistensi madrasah sebagai bagian yang integral dalam satu sistem pendidikan
terhadap materi yang telah diterima. Dari kemampuan memahami dan menjelaskan
Materi pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) MTs. yang terdiri dari mata
pelajaran al-Qur’an Hadis, Aqidah akhlaq, Fiqih, dan Sejarah Kebudayaan Islam,
disampaikan berjenjang mulai kelas VII sampai kelas IX dengan pokok-pokok materi
sebagai berikut.
30
1. Mata pelajaran al-Qur’an Hadis
Tsanawiyah kelas VII semester gasal terdiri dari satu standar kompetensi, yaitu:
kompetensi dasar yaitu: 1) membaca makhorijul huruf, alif lam syamsiyah dan
tentang akhlaq terhadap ibu bapak dan sesama manusia, dan memahami hadis
tentang perintah bertaqwa dan berbuat baik pada sesama manusia, dan mampu
menerapkan ilmu tajwid dalam bacaan al-Qur’an. Kelas VII semester genap;
Terdiri dari tiga standar kompetensi, yaitu: 1) Menunjukkan cara berakhlaq pada
Melaksanakan perintah bertakwa dan akhlaq kepada sesama manusia (Depag. RI,
2004 : 11).
kebenaran Islam dan beristiqomah. 5) memahami hukum bacaan mim sukun, ra’
31
dan lam.
adalah Mampu memahami ayat al-Qur’an tentang setan sebagai musuh manusia,
berlaku dermawan, memahami Hadis-Hadis tentang cinta kepada Allah dan Rasul
dan mampu menerapkan ilmu tajwid dalam bacaan al-Qur’an. Kompetensi dasar
ayat-ayat al-Qur’an tentang semangat keilmuan, tentang makanan yang halal dan
baik, dan memahami Hadis-Hadis tentang perintah menuntut ilmu dan keutamaan
ayat-ayat al-Qur’an tentang sabar dan tabah menghadapi cobaan, tentang bersikap
konsekuen dan jujur, serta memahami hadis-hadis tentang taat kepada Allah,
membiasakan taat kepada Allah, Rasul dan pemerintah (Depag. RI, 2004 : 18).
Materi pokok mata pelajaran Aqidah akhlaq kelas VII Semester gasal
32
standar kompetensi: Memahami sifat-sifat wajib, mustahil Allah yang nafsiyah
dan salbiyah, berakhlaq terpuji kepada Allah dan menghindari akhlaq tercela
sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah dan salbiyah, 3) meyakini sifat-sifat Allah
yang nafsiyah dan salbiyah 4) membiasakan diri berakhlaq terpuji terhadap Allah,
dan meneladani sifat dan perilaku kehidupan rasul/sahabat/ ulama’/ulil amri dan
atau tokoh.
Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan rasul serta mempedomani dan
yang diturunkan kepada Nabi Daud As, Musa As. dan Isa As., 3) mempedomani
kitab suci al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw.
sifat jaiz bagi Allah, berakhlaq terpuji pada diri sendiri, menghindari akhlaq
33
meyakini sifat-sifat mustahil Allah yang ma’ani/ma’nawiyah 3) meyakini sifat
jaiz Allah, 4) membiasakan diri berakhlaq terpuji kepada diri sendiri dalam
Rasul/sahabat/ulama’.
mu’jizat Nabi dan Rasul dan meneladani akhlak Nabi Muhammad dalam
meneladani kisah rasul Ulul ’Azmi, 4) meneladani akhlaq Nabi Muhammad saw.,
adanya hari akhir dan alam gaib dalam kehidupan sehari-hari, berakhlaq terpuji
beriman kepada alam gaib yang berhubungan dengan hari akhir, 3) mengamalkan
lingkungan flora dan fauna serta menghindari akhlaq tercela terhadap lingkungan
flora dan fauna, serta meneladani akhlaq para rasul/sahabat atau ulul amri dalam
34
kehidupan sehari-hari, 1) mengamalkan akhlaq terpuji terhadap lingkungan flora
Materi pokok mata pelajaran Fiqih kelas VII Semester gasal dan genap
(s}alat wajib, jamaah, jama’ qas}ar, darurat, janazah, s}alat sunnah) serta
menjelaskan tata cara bersuci dari hadas̀^, najis dan kotoran. 2) menjelaskan tata
s}alat jama’. 9) menjelaskan tata cara s}alat qas}ar. 10) menjelaskan tata cara
s}alat dalam keadaan darurat. 11) menjelaskan tata cara s}alat janazah. 12)
menjelaskan tata cara shalat sunnah malam. 13) menjelaskan tata cara s}alat ’Id.
14) menjelaskan tata cara shalat D{uha. 15) menjelaskan cara s}alat Tahiyyatul
informasi tentang sujud syukur, z^ikir dan doa’, haji dan umroh, qurban dan
35
aqiqah. Kompetensi dasarnya adalah: 1) menjelaskan tata cara pelaksanaan sujud
syukur dan tilawah, 2) menjelaskan tata cara pelaksanaan berz^ikir dan berdo’a
menjelaskan tata cara pelaksanaan haji dengan benar, 6) menjelaskan tata cara
cara muamalah, muamalah selain jual beli, kewajiban terhadap sesama (janazah,
dan ziarah kubur), tata pergaulan remaja, jinayat, hudud dan sangsi hukumannya,
qirad}. 4) menjelaskan tata cara berpiutang, gadai dan borg dengan baik. 5)
kubur dengan benar. 9) Menjelaskan tata cara pergaulan remaja yang sesuai
ajaran Islam. 10) menjelaskan hukum jinayat dan hudud. 10) menjelaskan tata
36
menjelaskan undang-undang negara. 15) menjelaskan hukum kewajiban
membela tanah air. 16) menjelaskan hukum mematuhi syariat Islam. 17)
Dinasti Umayah (Muawiyah bin Abi Sofyan, Abdul Malik bin Marwan, Walid
bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik);
biografi dan kebijakan khalifahh Abdul Malik bin Marwan serta meneladani
kebijakan kholifah Umar bin Abdul Aziz serta meneladani kesalehannya dan
37
Kelas VIII Semester gasal dan genap standar kompetensi: Membiasakan
dan kebijakan khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah yang terkenal (Abu Ja’far al-
38
menganalisis keruntuahan Dinasti Abbasiyah (1.4) menganalisis kemajuan-
Tingkah laku yang diharapkan itu terjadi setelah siswa mempelajari pelajaran
agama dan dinamakan hasil belajar siswa dalam bidang pangajaran agama.
Hasil belajar atau bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan itu
adanya evaluasi/ penilaian atau pengukuran yang dapat dilakukan melalui tes. Hasil
belajar anak didik, apakah pembelajaran berhasil atau gagal. Hasil belajar digunakan
juga untuk memperbaiki motivasi belajar yang akan diberikan kepada siswa, aktivitas
dan cara belajar siswa dan fasilias yang perlu disediakan (Purwanto, 2002 :5).
Untuk mengetahui sampai sejauh mana prestasi yang dicapai oleh siswa
39
penilaian. Dari hasil penilaian atau evaluasi inilah akan diketahui apakah siswa yang
bersangkutan berprestasi ataukah tidak. Jika pencapaian nilai atau skor yang dicapai
oleh siswa memenuhi atau bahkan melampaui standar yang telah ditentukan, maka
siswa bersangkutan dapat dikatakan sebagai siswa yang berprestasi. Hal ini
tujuan (Slameto, 1984:3). Skor yang dicapai oleh siswa sebagai simbul pencapaian
prestasi belajar merupakan kumulatif dari pengukuran aspek kognitif, aspek afektif,
dan aspek motorik, yang masing- masing ranah memiliki jenis, indikator dan cara
pengembangan intelektual saja, melainkan juga mencakup sikap dan perilaku yang
berkembang dari kondisi siswa sebelum belajar sampai kondis siswa setelah belajar.
Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan jenis, indikator, dan cara evaluasi prestasi
belajar.
40
Tabel 2.1
Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi Belajar
Dari pengukuran yang meliputi tiga ranah, kognitif, afektif, dan psikomotor
tersebut, dapat ditentukan tingkat pencapaian hasil belajar atau prestasi belajar siswa
41
melalui skor yang diperoleh siswa. Kemudian dari perolehan skor tersebut
telah dibakukan. Diantara norma-norma pengukuran tersebut adalah: 1). Norma skala
angka dari 0 sampai 10; dan 2). Norma skala angka dari 0 sampai 100. Perolehan skor
terendah yang dapat dinyatakan sebagai keberhasilan belajar atau kelulusan (passing
grade) untuk skala 0-10 adalah 5,5 atau 6,0, sedangkan untuk skala 0-100 adalah 55
atau 60. artinya, jika seorang siswa dapat menyelesaikan lebih dari separuh tugas atau
dapat menjawab lebih dari setengah instrumen evaluasi dengan benar, maka ia
minimal) yang lebih tinggi (misalnya 65 atau 70), mengingat mata pelajaran inti
merupakan “kunci pembuka” ilmu pengetahan lainnya. Mata pelajaran inti ini (Core
siswa tersebut berlaku untuk siswa tingkat pendidikan dasar dan menengah (Syah,
1999: 196-197). Pencapaian skor tersebut merupakan hasil interaksi dari berbagai
dengan menunjukkan hasil pencapaian prestasi belajar agama Islam siswa, yang dapat
ditempuh melalui pengukuran dari tiga aspek sebagaimana telah ditentukan dalam
dan aspek sikap. Artinya, dalam menentukan prestasi belajar agama Islam, seorang
42
guru dalam menentukan nilai yang diperoleh siswa berdasarkan jumlah total nilai
yang diperoleh siswa dari masing-masing aspek dengan menggunakan skala 0–100.
Dari perhitungan tersebut, siswa dapat dinyatakan memiliki prestasi sangat baik jika
mampu mencapai nilai komulatif lebih dari (<90), dinyatakan berprestasi baik jika
mampu meraih nilai komulatif (80–89), dan berprestasi cukup baik jika mencapai
nilai komulatif (70-79), serta dianggap berprestasi cukup jika mencapai nilai
komulatif (60-69) dan dianggap memiliki prestasi kurang apabila siswa hanya
mampu mencapai nilai kurang dari (>59) (Tabel Kriteria Ketuntasan Minimal, MTs.
Bentuk pengukuran prestasi belajar agama Islam, terbagi dalam tiga bentuk
pemberian tes tertulis kepada siswa dengan sejumlah pertanyaan yang terkait dengan
materi pelajaran. Dari hasil jawaban atau respon siswa terhadap pertanyaan tersebut,
kemudian dicocokkan dengan norma pengukuran atau standar penilaian yang telah
ditentukan oleh guru, dari hasil respon inilah siswa diberi skor untuk aspek
pengetahuan.
untuk mempraktekkan materi pelajaran yang telah disampaikan guru kepada siswa.
dari pemberian tugas praktek tersebut akan diketahui sampai sejauhmana siswa
mampu mempraktekkan materi pelajaran yang telah disampaikan guru kepada siswa
secara tepat dan benar. Misalnya materi pelajaran shalat janazah, maka yang diukur
adalah sampai sejauh mana siswa mampu mempraktekkan shalat janazah secara tepat
43
Ketiga, aspek sikap, dengan bentuk pengamatan langsung terhadap perilaku
siswa sehari-hari di sekolah, atau dapat juga melalui bantuan guru BP untuk
mengetahui apakah siswa yang bersangkutan sering mempunyai kasus ataukah tidak.
langsung melalui orang tua siswa tentang perilaku siswa bersangkutan ketika di
rumah. Dari hasil pengamatan tersebut kemudian guru memberi skor kepada siswa
Jumlah total skor yang dicapai oleh siswa dari tiga aspek tersebut, kemudian
dijumlahkan. Hal ini menunjukkan bahwa penentuan nilai pendidikan agama Islam
untuk siswa, tidak lagi semata-mata ditentukan hanya dari aspek kognitif, tetapi juga
ditentukan oleh aspek afektif dan psikomotor. Karena ajaran Islam bukan hanya
terkait dengan pengetahuan semata, akan tetapi yang paling menentukan adalah
menekankan pentingnya pelajaran agama Islam diikuti dengan praktek langsung oleh
tiap-tiap siswa yang mengikuti materi pelajaran pendidikan Islam. Lebih lanjut Azizy
mencontohkan, ajaran Islam yang bermuatan etika sosial seperti kesucian dan
kebersihan (t}aharah dan naz}afah) seharusnya bukan untuk dihafal saja, melainkan
(mas’u<liyah), menepati janji (wafa’ al ‘ahd), dan hal-hal yang terkait dengan hak-
hak orang lain (haq al-adami), juga harus dipraktekkan langsung, disamping tentunya
ajaran pokok Islam, s}alat, zakat, puasa dan haji (Azizy, 2003: 58). Dengan
demikian, akan dapat dihindari adanya pemberian nilai yang kurang tepat. Misalnya,
44
memberikan nilai 9 atau bahkan 10 pada mata pelajaran agama Islam terhadap siswa
yang tidak rajin shalat, tidak rajin puasa, dan tidak memiliki akhlak yang baik, hanya
karena siswa tersebut mampu menjawab dengan benar sebagian besar atau bahkan
Sedangkan siswa yang rajin s}alat, rajin puasa, dan menunjukkan prilaku
akhlakul karimah memperoleh nilai 6 pada mata pelajaran agama Islam hanya
karena tidak dapat menjawab dengan benar semua pertanyaan atau sebagian besar
pertanyaan yang diujikan. Dengan sitem penilaian semisal ini, akan lebih fair dan
jujur dalam menilai siswa, sekaligus menghindari tuduhan sebagian orang yang
B. Motivasi Belajar
1. Pengertian
motivasi untuk menyatakan hal yang sama. Mempersamakan kedua istilah itu
memang tidak menimbulkan kerugian, namun ada baiknya diketahui, bahwa istilah
45
”...daya penggerak di dalam diri orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi motif itu merupakan suatu
kondisi internal atau disposisi internal. Dalam bahasa yang lebih sederhana,
motif itu adalah ”kesiap-siagaan” dalam diri seseorang. Motivasi diartikan
sebagai motif yang sudah menjadi aktif pada saat melakukan suatu perbuatan,
sedangkan motif sudah ada dalam diri seseorang, jauh sebelum orang itu
melakukan suatu perbuatan”.
states that activate or energize the organism and that lead to goal directed
behaviour”. (motivasi adalah suatu istilah yang sifatnya luas, yang digunakan dalam
atau memberi kekuatan kepada organisme, dan mengarahkan tingkah laku organisme
mencapai tujuan).
sebagai berikut: ”Motif adalah suatu disposisi laten yang berusaha dengan kuat untuk
menuju ke tujuan tertentu; tujuan ini dapat berupa prestasi, afiliasi, atau kekuasaan”.
”Motivasi adalah keadaan individu yang terangsang yang terjadi jika suatu motif telah
Sardiman (2001: 71), berpendapat bahwa motivasi berasal dari kata “motif ”
yang diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam
Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap-siagaan ). Berawal
dari kata “motif” maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah
menjadi aktif. Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri
46
seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan
tanggapan terhadap adanya tujuan. W.S Winkel mengatakan bahwa “motif” adalah
demi mencapai suatu tujuan tertentu. Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang
mendorong individu atau melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan
general term referring to state that motivate behaviour, to the behaviour motivated by
these, and to the goals or end of such behaviour”. Motivasi adalah istilah umum yang
menunjukkan kepada keadaan yang menggerakkan tingkah laku, tingkah laku itu
digerakkan oleh adanya kedudukan dan untuk tujuan akhir dari tingkah laku.
Dalam kegiatan belajar mengajar, apabila ada seseorang siswa, tidak berbuat
sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab itu
problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan
energi, tidak terangsang afeksinya untuk melakukan sesuatu, karena tidak memiliki
tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan daya upaya
mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata
lain siswa perlu diberi rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya.
kondisi tertentu, sehingga sesorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia
tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak
47
suka itu. Jadi motivasi dapat dirangsang oleh faktor luar tetapi motivasi itu adalah
tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat
dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan
kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang
memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh
subyek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan keseluruhan, karena pada umumnya ada
yang khas adalah dalam menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat untuk
belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk
melakukan kegiatan belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri suatu ceramah, tetapi
karena tidak tertarik pada materi yang diceramahkan, maka tidak akan mencamkan,
apalagi mencatat isi ceramah tersebut. Seseorang itu tidak memiliki motivasi, kecuali
cukup tinggi, boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi (Sardiman, 2001: 73).
Hasil belajar itu akan optimal kalau ada motivasi yang tepat dengan demikian
maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja mempersalahkan pihak siswa. Sebab
mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu
membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat belajar. Jadi tugas guru
Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-
48
atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, apa yang dilihat seseorang
sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu
(biasanya disertai dengan perasaan senang), karena itu merasa ada kepentingan
dengan sesuatu itu. Menurut Bernard, minat timbul tidak secara tiba-tiba/spontan,
belajar atau bekerja. Jadi minat akan selalu berkait dengan soal kebutuhan atau
keinginan. Oleh karena itu yang penting bagaimana menciptakan kondisi tertentu
tidak hanya mendorong orang untuk bertingkah laku, tetapi juga memberi arah pada
tingkah laku yang mengarah pada pencapaian tujuan, bahwa motif itu bersifat
potensial, sedangkan motivasi bersifat aktual. ”Motivasi belajar” dapat diartikan suatu
tenaga daya penggerak yang bersifat non intelektual, yang berupa dorongan, (alasan,
kemauan), dari dalam maupun dari luar yang menyebabkan siswa berbuat atau
2. Macam-macam Motivasi
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi, dapat dilihat dari berbagai sudut
pandang. Dengan demikian menurut Sardiman (2001: 84), motivasi atau motif-motif
49
1) Motif-motif bawaan.
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak
lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Misalnya dorongan untuk makan,
biologis. Relevan dengan ini, maka Frandsen (Sardiman, 2001: 84) memberi
manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain,
sesama, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hal ini
a) Cognitive motives
individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya
berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer
50
dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan
pengembangan intelektual.
b) Self-Expression
kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu
terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang
diperlukan kreativitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang itu ada
c) Self-enhancement
meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi
salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana
kompetisi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.
motivasi adalah:
bernafas, seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan
2) Motif-motif darurat, yang termasuk dalam jenis ini anatara lain: dorongan
memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
51
3) Motif-motif obyektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan
muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif .
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua
jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi
1) Motivasi intrinsik
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam
diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh
seseorang yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau
segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, maka yang dimaksud dengan motivasi
instrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan
membaca itu sendiri. Seorang siswa itu melakukan belajar, karena betul-betul
motivations are inherent in the learning situasions and meet pupil-needs and
purpses”. Motivasi instrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang
52
dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti
memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli
dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang
ingin dicapai adalah belajar, tanpa belajar tidak mungkin dapat pengetahuan, tidak
mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu
terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran
diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbul dan seremonial.
2) Motivasi ekstrinsik
karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena
tahu besuk paginya akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga
akan mendapatkan pujian dari temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar
ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar
mendapatkan pujian. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang
dilakukannya itu. Oleh karena itu motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan
diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan
53
Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi esktrinsik ini tidak baik
kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin
menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik. Karena itu pula
(Rusyan,1989:120).
menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dari
motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya
Di dalam realitas pendidikan, motivasi belajar tidak selalu timbul dalam diri
siswa. Sebagian siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi, tetapi sebagian lain
motivasinya rendah atau bahkan tidak ada sama sekali (Darsono, 1984: 63). Bagi
siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar, besar kemungkinan ia tidak akan
mencapai tujuan belajar. Bila hal seperti ini tidak diperhatikan, di bantu, maka siswa
akan gagal dalam belajar. Oleh karena itu, guru sebagai orang yang membelajarkan
siswa, harus peduli dengan masalah motivasi ini. Guru bukanlah pengajar yang sudah
lega bila semua pokok bahasan dari suatu mata pelajaran sudah tersampaikan tepat
pada waktunya. Ia tidak hanya berbangga hati bila ia telah menyampaikan materi
54
Disamping itu semua, yang tidak kalah pentingnya, ia harus mau dan mampu
siswa yang sudah mempunyai motivasi belajar. Kepedulian guru terhadap masalah
motivasi belajar siswa bukanlah hal yang mengada-ada, melainkan sebagai tugas
yang melekat dalam diri guru. Sekali guru dapat membangun motivasi siswa terhadap
pelajaran yang diajarkan, diharapkan seterusnya siswa akan selalu meminta mata
pelajaran tersebut.
Bahwa motivasi yang dilakukan oleh guru, pada mulanya bersifat ekstrinsik,
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak
mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar
adalah:
55
Dalam membangkitkan motivasi belajar para siswa, guru perlu memperhatikan
(Sardiman AM, 2001: 89 ). Dalam kaitan itu, perlu diketahui bahwa cara dan jenis
kadang-kadang tepat, dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Guru harus hati-
hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak
a. Memberi angka
56
Angka dalam hal ini sebagai simbul dari nilai kegiatan belajarnya.
Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka atau nilai baik.
Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai pada
Angka-angka yang baik bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat
kuat. Bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar pokoknya
naik kelas saja. Ini menunjukkan motivasi yang dimilikinya kurang berbobot bila
itu harus diingat oleh guru bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum
merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu
pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif
b. Hadiah
demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik
bagi seorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan tersebut.
Misalnya hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan
c. Saingan/ kompetisi
57
persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. memang
d. Ego-involvement
mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang
cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai
prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik
adalah simbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa subjek belajar.
Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
e. Memberi ulangan
Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan.
Oleh karena itu memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi
yang harus diingat oleh guru, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari)
karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal ini guru harus terbuka
f. Mengetahui hasil
mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa hasil
belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan
g. Pujian
58
Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan
baik, perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif
dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu supaya pujian ini
merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan
h. Hukuman
secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, guru harus
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk
belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang
tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada
motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
j. Minat
tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan
berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Minat dapat dibangkitkan dengan
59
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, merupakan
alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus
dicapai, dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah
(Darsono, 64). Agar kegiatan ini terwujud, harus ada motivasi, yang disebut
motivasi belajar.
memiliki motivasi belajar tinggi dan terkadang motivasi belajarnya rendah, hal ini
67), siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi atau rendah di indikasikan
sebagai berikut:
Cita-cita disebut juga aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai.
Penentuan target ini tidak sama bagi semua siswa. Target ini diartikan sebagai
tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi
seseorang.
Yang dimaksud dengan cita-cita atau aspirasi disini ialah tujuan yang
(Winkel, 1989: 96). Aspirasi ini dapat bersifat positif, dapat pula bersifat negatif.
60
Siswa yang mempunyai aspirasi positif adalah siswa yang menunjukkan
aspirasi negatif atau tidak realistik apabila penetapan taraf keberhasilan itu tidak
wajar, artinya terlalu tinggi atau terlalu rendah dibanding dengan kemampuan
b. Kemampuan Belajar
aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa, misalnya pengamatan, perhatian,
ingatan, daya pikir, dan fantasi. Orang belajar dimulai dengan mengamati bahan
Makin baik pengamatan seseorang makain jelas tanggapan yang terekam dalam
ukuran. Siswa yang taraf perkembangan berfikirnya kongkrit tidak sama dengan
siswa yang sudah sampai pada taraf perkembangan berpikir operasional. Jadi
61
dalam belajar, karena siswa sepertinya itu lebih sering memperoleh sukses,
c. Kondisi Siswa
lemah, misalnya lesu, mengantuk atau sakit, serta kondisi psikis, cemas dan
d. Kondisi Lingkungan
ada tiga, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berarti unsur-unsur
yang mendukung atau yang menghambat dapat berasal dari ketiga lingkungan
tersebut. Suasana belajar yang menyenagkan, penampilan diri guru yang menarik,
membantu siswa termotivasi dalam belajar. Lingkungan fisik sekolah, sarana dan
prasarana yang baik dan memadai membuat siswa betah dan termotivasi belajar.
psikologis harus terpenuhi, agar motivasi belajar timbul dan dapat dipertahankan.
kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali, khususnya kondisi-kondisi yang
62
sifatnya kondisioanal. Misalnya keadaan emosi siswa, gairah belajar, situasi
menarik perhatian siswa, mengevaluasi hasil belajar siswa dan lain-lain. Bila
C. Kecerdasan (Intelegensi)
1. Pengertian
Kecerdasan atau intelligence ini pada awalnya menjadi perhatian utama bagi
berbagai pengertian dan definisi tentang kecerdasan (intelligence) dari para ahli ke
(suatu benda) atau kekuatan, yang terletak dalam bagian tertentu dari tubuh
seseorang, perilaku intelegen atau cerdas ada kaitannya dengan konsep intelegensi.
Claparede dan Stern dalam Sarwono (1996: 71), memberi definisi inteligensi
adalah penyesuaian diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. Di lain pihak
Buhler memberi definisi intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman
63
Intelegensi adalah kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah,
serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Kemampuan itu adalah
kemampuan untuk mengolah lebih jauh lagi hal-hal yang kita amati. Kemampuan ini
terdiri dari dua jenis, yaitu kemampuan umum dan kemampuan khusus.
tanda-tanda yang timbul di alam sekitar dan diri sendiri dan mengubah serta
menghasilkan itu semua menjadi satu pola-pola instruksi yang optimal. Optimal
dalam artian memberikan hasil yang menguntungkan bagi individu atau kelompok
melalui penilaian, pengertian dan penalaran, dalam suatu kesatuan untuk mendeteksi,
alam sekitar dan diri sendiri dan mengubah serta menghasilkan itu semua menjadi
satu pola-pola instruksi yang optimal. Optimal dalam artian memberikan hasil yang
2. Kecerdasan Intelektual
disamping manusia diberi kesempurnaan dan keindahan tubuh oleh Allah, manusia
juga diberi otak yang cerdas, dengan otak yang cerdas inilah manusia sangat berbeda
berfikir dan melahirkan peradaban. Sedangkan makhluk yang lain tidak mampu
64
Istilah kecerdasan Intelektual diperkenalkan untuk pertama kalinya pada
tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi berkebangsaan Jerman bernama William
Stero. Salah satu cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya intelegensi
dari yang bersifat kuantitatif dan fenomenal, seperti matematika, fisika, data-data
kemampuan seseorang untuk mengenal dan merespon alam semesta atau obyek yang
berada diluar dirinya (outward looking). Hal senada diungkapkan oleh Mulyadi
dalam Ummi (2002: 9) pemerhati dan praktisi masalah anak, ia mengatakan bahwa
kecerdasan Intelektual itu penting untuk memahami gejala alam dan gejala
pengetahuan.
Sebagaimana telah diketahui, bahwa semua jenis kecerdasan itu sebagai suatu
potensi; sesungguhnya ada pada setiap orang hanya saja tinggi rendah atau kuat
potensi kecerdasan intelektual, ada pada setiap orang akan tetapi tingkatnya berbeda-
beda. Perbedaan tingkat Kecerdasan Intelektual (IQ) itu, dapat dilihat dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Wechster yang dikutip oleh Amin (2003: 70), dengan
65
IQ 110 – 119 : Cakap normal
IQ 90 – 109 : Rata-rata
IQ 80 – 89 : Lamban normal
IQ 70 – 79 : Batas dungu
IQ 70 – ke bawah : Cacat mental
a. Penalaran
melakukan penalaran terhadap segala hal, terutama tentang fenomena alam, pada
b. Eksperimen
oleh orang cerdas intelektual. Dorongan rasa ingin tahu yang tinggi membuat
c. Ingatan
Orang yang cerdas Intelektual, mempunyai daya ingat yang baik. Daya
ingat atau kemampuan mengingat itu sangat penting, baik untuk keperluan
belajar, pengembangan ilmu pengetahuan dan lain-lain. Lebih lanjut Amin (2003:
66
51-52) mengutip dalam buku “The Great Memory Book” karya Eric Jensen dan
beri kode dan dipanggil kembali”. Pada dasarnya ingatan adalah suatu yang
membentuk jati diri manusia dan membedakan manusia dari makhluk hidup
lainnya. Ingatan memberi manusia titik-titik rujuk pada masa lalu dan perkiraan
masa depan, ingatan merupakan kumpulan reaksi elektronika yang rumit yang
diaktifkan melalui beragam saluran inderawi dan disimpan dalam jaringan syaraf
yang sangat rumit dan unik diseluruh bagian otak. Ingatan yang sifatnya dinamis
itu terus berubah dan berkembang sejalan dengan bertambahnya informasi yang
disimpan.
Taraf kecerdasan umum tiap-tiap orang berbeda-beda. Hal ini antara lain
sudah ditentukan atau merupakan bawaan sejak lahir. Di samping orang- orang
yang pandai, terdapat pula orang-orang yang bodoh, sedangkan yang terbanyak
adalah yang bertaraf rata-rata (Sarwono, 1996: 72). Menyadari hal ini, sejak lama
satuan ukuran tertentu yang dapat menyatakan tinggi rendahnya inteligensi yang
67
menyelesaikan problem-problem dari yang bersifat kualitatif dan fenomenal
seseorang untuk mengenal dan merespon alam semesta atau obyek yang berada
diluar dirinya.
3. Kecerdasan Emosional
a. Pengertian
oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari
and persist in the face of frustration, to control impulse and delay gratification, to
regulate one’s moods and keep distress from swamping the ability to think, to
dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan
68
untuk memotivasi dirinya sendiri dan menata dengan baik emosi yang muncul
membaca bahasa tubuh non verbal dan nada suara, yang sering lebih banyak
dan bebas dari pengendalian luar (Schaefer, 1994: 45). Tujuannya adalah
untuk menjadi seorang manusia yang mengatur diri sendiri, mengarahkan diri
mencapai tujuan dimana motif ini bukanlah sesuatu yang dapat diamati secara
dapat disaksikan.
69
4. Kecerdasan Spiritual
a. Pengertian
EQ. Pencetusnya adalah salah seorang anggota dari angkatan ke empat (the fourth
force) dalam sejarah psikologi yaitu David Lukots. Spiritual dalam Bahasa
Inggris berasal dari kata “Spirit” yang berarti batin, rohani dan keagamaan
(Echol, 1992: 546). Sedangkan dalam kamus psikologi, spiritual diartikan sebagai
makna dan konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan untuk menilai
bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan
secara efektif. Dengan SQ manusia dapat menggali potensi yang demikian untuk
tumbuh dan berubah serta menjalankan lebih lanjut evaluasi potensi yang
70
yang lebih utuh karena kita memiliki potensi untuk itu. Pada tingkatan ego murni
kita adalah egois, ambisius terhadap materi, serba aku, dan sebagainya. Akan
tumbuh melebihi ego terdekat diri kita dan mencapai lapisan yang lebih dalam
yang tersembunyi di dalam diri kita ia membantu kita menjalani hidup pada
Disiplin merupakan kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari
keteraturan dan ketertiban. Nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian perilaku dalam
SQ menuntut kita untuk benar-benar jujur kepada diri sendiri, benar-benar sadar akan
diri kita sendiri. SQ tinggi menuntut integritas pribadi yang paling kuat, menuntut kita
agar terbuka menerima pengalaman, agar kita dapat menangkap kembali kemampuan
kita untuk memandang kehidupan dan orang lain denga cara pandang baru. Seolah-
olah dengan mata seorang anak, ia menuntut kita untuk tidak lagi mencari
perlindungan di dalam apa yang kita ketahui dan terus-menerus kita selidiki dan
Kesadaran diri adalah mengetahui apa yang dirasakan pada suatu saat dan
71
mempunyai tolok ukur yang realitis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang
• Penilaian diri serta teliti: mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri.
pertanyaan yang terdiri dari berbagai soal (hitungan, kata-kata, gambar-gambar, dan
lain-lain) dan menghitung berapa banyaknya pertanyaan yang dapat dijawab dengan
menghitung sampai 10 atau 100, menyebut nama-nama hari atau bulan, membuka
pintu dan menutupnya kembali, dan lain-lain). Jumlah pekerjaan yang bisa dilakukan
anak kemudian dicocokkan dengan membuat daftar untuk mengetahui usia mental
(mental age = MA) anak. Makin banyak yang bisa dijawab atau dikerjakan anak,
makin tinggi usia mentalnya. Usia mental ini kemudian dibagi dengan usia kalender
anak mempunyai usia mental 7 tahun sedangkan usia kalendernya 6 tahun, usia
72
IQnya = 7/6 X 100 = 116,6 atau 117. Kalau usia mentalnya hanya 5,5 tahun
sedangkan usia kalendernya 6 tahun, maka IQnya = 92. Kalau usia mentalnya tepat 6
Di antara berbagai skala IQ yang diajukan oleh berbagai ahli, yang paling
banyak digunakan adalah skala yang dikembangkan oleh Wechsler dan Bellevue
yang dimulai dari 0 (nol) sampai dengan 200, dengan bilangan 100 sebagai titik
tengah atau rata-rata. (Sarwono, 1986: 72-73). Mereka menyatakan bahwa kalau
semua orang di dunia diukur inteligensinya maka akan terdapat orang-orang yang
berikut:
73
Tabel 2.3
Klasifikasi kecerdasan intelektual
Pengukuran IQ yang dilakukan di atas diarahkan pada satu teori bahwa ada
yang dinamakan faktor umum (General faktor atau G-Faktor) pada inteligensi itu. G.
Faktor inilah yang diukur dengan IQ tersebut. Dengan demikian orang yang ber IQ
120, misalnya, akan berpenampilan sama dengan orang- orang lain yang ber IQ 120
juga. Kalau ada perbedaan maka itu disebabkan oleh faktor-faktor lain di luar
Faktor ada juga S-Faktor (Special Faktor atau faktor khusus) di dalam intelligensi itu
74
sedangkan orang yang lain lebih fasih dalam kemampuan lisan sehingga ia menjadi
ahli bahasa.
ada. Yang ada hanya sekelompok faktor khusus yang olehnya diberi nama
kemampuan mental primer (Primary Menthal Abilities) yang terdiri dari 7 faktor
bahwa faktor umum dalam intelligensi tidak ada, tetapi juga faktor khusus yang
berbeda-beda dari orang ke orang dan dari waktu ke waktu pada orang yang sama.
Faktor-faktor itu sedemikian banyaknya, tetapi yang berfungsi pada suatu saat
tertentu hanyalah sebagian kecil saja dari keseluruhan faktor yang ada (Sarwono,
1986 :107).
Di antara alat ukur kecakapan dasar (inteligensi) yang paling banyak dikenal
dan digunakan, juga di Indonesia, ialah Test Binet Simon (verbal test) yang
Stanford (USA) mulai tahun 1916 ( Makmun, 59). Test Binet Simon dipersiapkan
untuk orang yang berusia mulai 3 sampai 15 tahun. Perhitungan IQ untuk orang yang
berusia lebih dari 15 tahun, CA-nya diperhitungkan menurut tingkat usia 15 tahun ini,
75
dengan asumsi bahwa perkembangan kecerdasan mencapai kemantapannya (mature)
Guilford dan Gardner, mengembangkan konsep kecerdasan baru yang dikenal dengan
multiple intelligence, yakni teori faktor jamak, dimana kecerdasan manusia dianggap
memiliki tujuh dimensi yang semi otonom, masing-masing adalah (i) linguistik, (ii)
estetis-musik, (iii) matematis-logis, (iv) visual-spasial, (v) kinestetik fisik, (vi) sosial-
interpersonal dan (vii) intra personal. Disebut dimensi-dimensi yang semi otonom,
karena orang yang cerdas dalam satu dimensi, misalnya matematika, tidak selalu
cerdas pada dimensi lainnya, misalnya estetik-musik. Teori ini banyak dirujuk
sejumlah pihak karena dianggap bisa memberikan deteksi dini terhadap bakat, potensi
Untuk mendeteksi dasar khusus (aptitudes, bakat khusus) telah pula ada
sekolah. Anak-anak kita yang telah sekolah, baik ditingkat dasar maupun lanjutan,
76
sebenarnya sedang dalam proses meningkatkan kecerdasan dalam pengertian
tersebut. Tetapi dalam proses pendidikan tersebut apakah anak kita cukup cerdas,
sangat cerdas, atau kurang cerdas? Pertanyaan seperti ini selalu menjadi konsern dan
kepedulian orang tua. Karena dengan mengetahui tingkat kecerdasan tersebut, orang
tua bisa mengambil langkah-langkah yang sesuai, tentunya demi masa depan
anaknya.
atau kekuatan, yang terletak dalam bagian tertentu dari tubuh seseorang, perilaku
intelegen atau cerdas ada kaitannya dengan konsep intelegensi. Kecerdasan adalah
sesungguhnya kecakapan individu atau yang sering juga disebut abilitas (ability) itu
dapat dibedakan ke dalam dua kategori, 1) kecakapan nyata atau aktual (actual
didemontrasikan dan diuji sekarang juga karena merupakan hasil, atau belajar yang
bersangkutan dengan cara, bahan, dan dalam hal tertentu yang telah dijalaninya
menunjukkan kepada aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri yang
77
mungkin dapat merupakan: abilitas dasar umum (general intelligence), dan abilitas
dalam menggunakan bilangan (facility in the use of the numbers); 2) efisiensi dalam
(imagination).
kecerdasan dasar umum (general intelegence test) maupun kecakapan dasar khusus
(aptitude tests). Berdasarkan data atau informasi hasil pengukuran, para ahli telah
(general intelegence), orang-orang yang berasal dari atau berada lama dalam populasi
produk dapat dibagi ke dalam kategori: (a) superior atau genius1 (b) normal2 (c) sub
1
Superior atau genius (mereka yang dapat bertindak jauh lebih cepat dan dengan
kemudahan dibandingkan dengan anggota kelompok lainnya); Pria ber IQ tinggi dicirikan-tak
mengherankan dengan serangkaian luas kemampuan dan minat intelektual. Penuh ambisi dan
produktif, dapat diramalkan dan tekun dan tidak dirisaukan oleh urusan-urusan tentang dirinya
sendiri. Cenderung bersikap kritis dan meremehkan, pilih-pilih dan malu-malu, kurang menikmati
seksualitas dan pengalaman sensual, kurang ekspresif dan menjaga jarak, dan secara emosional
78
Dalam term kecakapan dasar khusus (aptitudes, group faktors) orang-orang
dalam bidang: (a) bilangan (numirical abilities); (b) bahasa (verbal abilities) (c)
tilikan ruang (spatial abilities); (d) tilikan hubungan sosial (social abilities); (e) gerak
berasal dari atau berada lama dalam populasi produk dapat dibagi ke dalam kategori :
(a) superior atau genius (b) normal (c) sub normal atau mentally deffective atau
mentally retarded.
membosankan dan dingin (Goleman, 2000: 60). Wanita yang ber-IQ tinggi mempunyai keyakinan
intelektual yang tinggi, lancar mengungkapkan gagasan, menghargai masalah-masalah
intelelektual, dan mempunyai minat intelektual dan estetika yang amat luas. Mereka juga
cenderung mawas diri, mudah cemas, gelisah dan merasa bersalah dan ragu-ragu untuk
mengungkapkan kemarahan secara terbuka (meskipun melakukannya secara tidak langsung)
(Goleman: 61).
2
Normal (mereka yang rata-rata atau pada umumnya dapat bertindak biasa dengan
kecepatan, ketepatan, dan kemudahannya seperti tampak pada sebagian besar kelompoknya
menurut batasan- batasan waktu dan tingkat kesukaran yang telah ditetapkan );
3
Sub-normal atau mentally defective atau mentally retarded (mereka yang bertindak jauh
lebih lambat kecepatannya, dan jauh lebih banyak ketidak tepatannya dan kesulitannya,
dibandingkan dengan anggota kelompoknya yang lain ) yang secara lebih teliti lagi dibedakan ke
dalam kategori orang- orang 1) debil (moron) yang masih mendekati orang normal yang berusia 9-
10 tahun; 2) imbecile mendekati orang normal sekitar usia 5-6 tahun; 3) idiot mendekati orang
normal berusia di bawah 4 tahun.
79
dasar khusus dalam bidang: (a) bilangan, (b) bahasa, (c) tilikan ruang, (d) tilikan
D. Penelitian Terkait
intelektual terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Tsanawiyah, pada mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI), secara umum memiliki kesamaan dengan penelitian
yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Namun secara spesifik dan
Tua dan Latar Belakang Pendidikan Siswa terhadap Prestasi Belajar Agama Siswa
SMKN Jepara”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hubungan
antara latar belakang pendidikan siswa dengan perhatian orang tua, dan interaksi antar
faktor-faktor tersebut terhadap pencapaian prestasi belajar PAI siswa. hasil penelitian
itu menunjukkan bahwa: 1) tidak terdapat perbedaan antara prestasi belajar PAI yang
cukup signifikan, 2) tidak terdapat perbedaan antara siswa yang mendapat perhatian
tinggi dan perhatian rendah dari orang tua mereka. 3) tidak terdapat pengaruh yang
interaktif antara perhatian orang tua baik tinggi maupun rendah dan latar belakang
pendidikan baik MTs maupun SMP terhadap prestasi belajar, 4) terdapat perbedaan
80
antara prestasi belajar PAI yang cukup signifikan antara yang berlatar belakang
Pembelajaran Konvensional Siswa SMP Negeri 24 Bandar Lampung” dalam tesis ini
menyimpulkan adanya hubungan yang positif dan cukup erat serta signifikan antara
Berdasar telaah penelitian Muchtarom dan Astuti, maka dalam penelitian ini
akan ditampilkan kajian tentang hubungan antara motivasi belajar dan kecerdasan
tersebut, menurut peneliti belum tersentuh sama sekali. Padahal variabel kecerdasan
intelektual siswa, sangat penting dan belum pernah ada yang meneliti, terutama pada
E. Kerangka Pemikiran
tidur dan lain-lain. Oleh karena itu motivasi belajar sangat dibutuhkan dalam proses
belajar dan pembelajaran. Motivasi belajar tidak sama kuatnya pada setiap siswa, dan
motivasi dalam diri seorang siswa tidak tetap, kadang-kadang kuat, dan kadang-
kadang lemah, bahkan suatu saat motivasi belajar dapat hilang sama sekali.
timbul dalam diri siswa. Sebagian siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi,
81
tetapi sebagian lain motivasinya rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagi
siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar. Bila hal ini tidak diperhatikan, tidak
dibantu, maka siswa akan gagal dalam belajar. Oleh karena itu, guru sebagai orang
yang membelajarkan siswa, harus peduli dengan masalah motivasi ini (motivasi
ekstrinsik). Guru bukanlah pengajar yang sudah lega bila semua pokok bahasan dari
suatu mata pelajaran sudah tersampaikan tepat pada waktunya. Dan tidak hanya
berbangga hati bila ia telah menyampaikan materi pelajaran dengan bebagai metoda
pembelajaran yang canggih. Disamping itu semua, yang tidak kalah pentingnya,
adalah harus mau dan mampu memotivasi siswa yang rendah motivasi belajarnya,
Kepedulian guru terhadap masalah motivasi belajar siswa bukanlah hal yang
mengada-ada, melainkan sebagai tugas yang melekat dalam diri guru. Asumsinya
sekali guru dapat membangun memotivasi siswa terhadap pelajaran yang diajarkan,
semakin tinggi motivasi belajar anak, baik motivasi itu bersifat (intrinsik ) dari
dalam ataupun karena dorongan dari luar (ekstrinsik), maka semakin tinggi pula
prestasi belajar agama yang diraih siswa. Demikian sebaliknya, semakin rendah
motivasi belajar anak, baik motivasi itu bersifat (intrinsik ) dari dalam ataupun
karena dorongan dari lauar (ekstrinsik ), maka semakin rendah pula prestasi
82
2. Hubungan Kecerdasan Intelektual dengan Prestasi Belajar Agama Islam
individu atau yang sering juga disebut abilitas (ability) itu dapat dibedakan ke dalam
dua kategori yaitu; kecakapan nyata atau aktual (actual ability), yang menunjukkan
kepada aspek kecakapan yang segera dapat didemontrasikan dan diuji sekarang juga
karena merupakan hasil, atau belajar yang bersangkutan dengan cara, bahan, dan
dalam hal tertentu yang telah dijalaninya (achievement, prestasi). Dan kecakapan
potensial (potensial ability), yang menunjukkan kepada aspek kecakapan yang masih
intelligence), dan abilitas dasar khusus dalam bidang tertentu (bakat, aptitudes).
Sesungguhnya kecerdasan intelektual ada pada setiap orang, hanya saja tinggi rendah
berikut.
83
Mengingat siswa yang belajar di Madrasah rata-rata memiliki IQ sedang
maka, dari penjelasan tersebut dapat diasumsikan bahwa, siswa yang memiliki
kemampuan IQ tinggi akan mampu meraih prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada
maka semakin tinggi pula prestasi belajar agama siswa, demikian sebaliknya,
semakin rendah kecerdasan intelektual siswa, maka semakin rendah pula prestasi
Salah satu rahasia psikologi yang telah menjadi makanan umum adalah
ketidakmampuan relatif nilai-nilai IQ, atau nilai SAT (School Aptitude Test, tes
bakat), kendati daya tarik test tersebut amat besar, untuk meramalkan dengan tepat
siapa-siapa yang akan berhasil. Yang jelas ada, suatu kaitan antara IQ dan lingkungan
persen bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup (termasuk prestasi
pelajaran karena kekurangan/rendahnya motivasi. Anak yang gagal, tak begitu saja
dapat disalahkan. Hal ini bukan hanya faktor guru saja yang tak berhasil memberi
84
motivasi yang membangkitkan kegiatan pada anak, akan tetapi IQ anak itu sendiri
Disamping itu, siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi atau dapat
disebut sebagai anak dalam golongan gilted child atau talented chil, jika didalam
dan tepat, maka anak tersebut akan mengalami kesulitan belajar yang pada akhirnya
diduga tidak akan mampu mencapai prestasi belajar dengan baik. Demikian juga
sebaliknya, jika seorang siswa memiliki kecerdasan yang sedang, akan tetapi dia
mendapatkan pendidikan dan bimbingan dari seorang guru yang tepat, dan dia
mempunyai motivasi belajar yang tinggi, dia mendapatkan fasilitas yang memadai,
maka siswa tersebut diasumsikan akan mampu meraih prestasi yang baik. Dengan
demikian, dapat dipahami bahwa semua faktor yang ada, akan mampu berfungsi
sebagaimana seharusnya, jika semua faktor tersebut berfungsi secara simultan dan
F. Hipotesis Penelitian
ajukan adalah:
3. Terdapat hubungan antara motivasi belajar dan kecerdasan inteletual siswa secara
85