0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan74 halaman

Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam

Diunggah oleh

najlakeysa234
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan74 halaman

Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam

Diunggah oleh

najlakeysa234
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KERANGKA TEORI

A. Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam

1. Belajar

a. Pengertian

Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses aktif untuk menuju satu arah

tertentu yang dapat meningkatkan perbuatan, kemampuan atau pengertian baru.

Menurut rumusan Gathrie and Brown (1950: 145);….“learning is always a case of

improving same perfornce or gaining same new ability or understanding”. Lebih

lanjut Ernest R. Hilgard (1968: 5), merinci rumusan belajar sebagai berikut; ”learning

is the process by which an activity originates or is changes through training

procedures wheter in the laboratory or in the natural environment distinguished from

changes by faktors not attributabel to training “.

Berdasarkan rumusan tersebut, dapat ditarik suatu pengertian bahwa belajar

adalah sesuatu yang dapat meningkatkan perbuatan, kemampuan, atau pengertian

baru. Belajar juga dapat diartikan suatu proses yang dapat menghasilkan suatu

aktifitas baru melalui pelatihan dilaboratorium maupun dilingkungan alam, yang hasil

tersebut berbeda dengan hasil yang diperoleh tanpa adanya proses latihan. Tokoh-

tokoh pendidikan lain yang memaknai belajar sebagai proses perubahan perilaku

yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman, antara lain: Di Vesta dan

Thompson, Gagne dan Berliner (1970: 256). Belajar adalah suatu proses latihan

menuju perubahan yang akan menghasilkan sesuatu yang dapat diukur dan dapat

dipertanggung jawabkan secara keilmuan, karena proses latihan tersebut telah melalui

12
tahapan-tahapan sistematis yang telah dipersiapkan sebelumnya melalui uji coba

secara ilmiah.

Perubahan dalam rumusan pengertian belajar tersebut dapat menyangkut

semua aspek kepribadian individu, yang didalamnya menyangkut penguasaan,

pemahaman, sikap, nilai, motivasi, kebiasaan, minat, apresiasi dan sebagainya.

Demikian juga dengan pengalaman; ini berkenaan dengan segala bentuk membaca,

melihat, mendengar, merasakan, melakukan, menghayati, membayangkan,

merencanakan, melaksanakan, menilai, mencoba, menganalisis, dan sebagainya

(Sukmadinata, 2003: 156).

Pengertian belajar yang berbeda datang dari tokoh aliran psikologi kognitif.

Bagi mereka belajar merupakan proses perubahan yang bersifat internal, dan tidak

dapat diamati secara langsung, yang berupa suatu perubahan kemampuan individu

dalam merespon terhadap situasi tertentu. Perubahan pada perilaku yang tampak

merupakan refleksi dari perubahan yang bersifat internal (Sukmadinata, 2003: 157).

Sedangkan Lawson (1991:5) berpendapat bahwa rumusan-rumusan

pendidikan yang sering menggunakan kata-kata perubahan dan tingkah laku tidak

perlu lagi disebut, mengingat kedua istilah tersebut sudah menjadi kebenaran umum

dan telah diketahui oleh semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan. Sebagai

gantinya ia menawarkan rumusan belajar dalam tiga macam rumusan yaitu: 1)

rumusan kuantitatif, 2) rumusan institusional, dan 3) rumusan kualitatif. Rumusan

kuantitatif (tinjauan dari sudut jumlah), dapat dimaknai sebagai kegiatan pengisian

atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta yang sebanyak-banyaknya.

Atau seberapa banyak materi yang dikuasai oleh siswa dalam belajar. Rumusan

13
institusional (tinjauan kelembagaan), dapat diartikan sebagai proses validasi

(pengabsahan) terhadap penguasaan siswa atas materi–materi yang telah dipelajari

oleh siswa. Hal ini dapat diukur dengan semakin baik mutu mengajar yang dilakukan

oleh guru kepada siswa, semakin baik pula perolehan mutu siswa yang kemudian

dinyatakan dalam bentuk skor atau nilai.

Rumusan kualitatif (tinjauan mutu), dapat diartikan sebagai proses

memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia

yang ada disekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada

tercapainya daya pikir dan daya nalar serta tindakan yang berkualitas untuk

memecahkan atau menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa baik

saat sekarang maupun dimasa yang akan datang (Lawson, 1991: 5).

Dari bebrapa rumusan belajar tersebut, terdapat beberapa perbedaan, akan

tetapi terkandung suatu pemahaman, bahwa belajar adalah suatu proses untuk

mencapai perubahan yang akan menghasilkan sesuatu yang dapat diukur dan dapat

dipertanggung jawabkan secara keilmuan. Perubahan tersebut dapat menyangkut

semua aspek kepribadian individu yang didalamnya menyangkut penguasaan

penalaran, sikap, nilai, motivasi, kebiasaan, minat, apresiasi dan sebagainya.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar

Secara umum faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat

digolongkan menjadi tiga macam, yakni: 1) faktor internal (faktor dari dalam diri

siswa), misalnya kondisi jasmani (fisiologis) meliputi kondisi umum jasmani dan

tonus (tegangan otot yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-

sendinya), dan rohaniah siswa (psychis) meliputi tingkat kecerdasan, bakat, minat dan

14
motivasi siswa, 2) faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), misalnya kondisi

lingkungan disekitar siswa, termasuk didalamnya lingkungan alam dan lingkungan

manusia atau keluarga, dan 3) faktor pendekatan belajar (approach to learning),

yakni suatu upaya belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa

untuk melakukan kegiatan pembelajaran terhadap materi-materi pelajaran (Syah,

1999: 131).

Pada realitasnya proses belajar bukanlah suatu peristiwa yang berdiri sendiri,

akan tetapi merupakan akumulasi dari berbagai hal yang saling mempengaruhi.

Dalam hal ini Nasution (1992: 2) menggambarkan faktor-faktor yang mempengaruhi

proses belajar sebagai berikut:

Enviromental
Input

Raw Input Learning Teaching Out Put


Process

Instrumental
Input

Gambar 2.1
Faktor–faktor yang Mempengaruhi Proses Belajar
Mengajar
Keterangan: Arah panah menunjukkan faktor yang ikut mempengaruhi dalam
proses belajar mengajar

Learning teaching process, merupakan pusat pembelajaran yang menerima

pengaruh dari berbagai faktor, seperti raw input atau masukan mentah berupa siswa,

yang memiliki karakteristik tertentu baik secara fisiologis (fisik) maupun psikologis.

Karakteristik fisiologis meliputi; kemampuan fungsi panca indera, kemampuan fungsi

15
anggota tubuh. Sedangkan karakteristik psikologis meliputi; minat, bakat, intelegensi,

motivasi dan hal-hal lain yang berhubungan dengan aspek kejiwaan. Faktor lain yang

ikut mempengaruhi proses pembelajaran adalah instrumental input, yaitu faktor yang

dengan sengaja dipersiapkan dan dirancang untuk menunjang keberhasilan proses

pembelajaran, dan manajemen pengelolaan sekolah.

Sedangkan Enviromental input merupakan faktor lingkungan dimana proses

pembelajaran itu berlangsung, yang meliputi; lingkungan keluarga, sekolah dan

masyarakat, yang didalamnya mencakup lingkungan fisiologis, psikologis, dan sosio

kultural (Sumanto, 2003: 84). Dari interaksi dan akumulasi berbagai pengaruh inilah

yang melahirkan out put atau lulusan sebagai hasil dari proses panjang pembelajaran,

atau disebut juga dengan prestasi belajar.

2. Prestasi Belajar PAI

a. Pengertian

Prestasi belajar terdiri dari dua kata yang masing-masing mempunyai arti

yaitu prestasi dan belajar. Prestasi berasal dari bahasa Belanda “prestatie” (Arifin,

1991: 2), yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasi

belajar. Dalam bahasa pendidikan Islam dikenal dengan ‫ انجاز‬atau achievement.

Sedangkan belajar adalah modifikasi atau mempertegas kelakuan melaui pengalaman

(Learning is defined as the modification or strengthening through experiencing)

(Hamalik, 1995: 36).

Sedangkan menurut Aziz dan Majid (tt.: 169). pengertian belajar adalah:

“…suatu perubahan di dalam akal pikiran seseorang pelajar yang dihasilkan atas

pengalaman masa lalu sehingga terjadilah di dalamnya perubahan yang baru”.

16
Menurut Morgan, belajar adalah:”Learning is any relatively permanent change in

behavior which accours as a result of practise or experience”(Morgan, 1971: 112).

(belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif permanen atau menetap yang

dihasilkan dari praktek atau pengalaman).

Prestasi belajar memiliki posisi penting dalam pendidikan, karena sebagai

tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran, sekaligus sebagai bahan evaluasi bagi

para pelaku pendidikan. Atau dapat dirumuskan sebagai: 1) indikator kualitas dan

kuantitas materi pelajaran yang telah dikuasai siswa, 2) lambang hasrat ingin tahu

siswa. Artinya, semakin tinggi rasa ingin tahu siswa terhadap materi pelajaran yang

ditunjukkan dengan giat mempelajari dan memahami serta menguasai materi

pelajaran, maka akan semakin tinggi prestasi yang dicapai oleh siswa. 3) inovasi dan

pendorong bagi peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus berperan

sebagai umpan balik bagi peningkatan mutu pendidikan (Arifin, 1990: 3).

Prestasi belajar dapat diartikan sebagai hasil pencapaian peserta didik dalam

mengerjakan tugas atau kegiatan pembelajaran, melalui penguasaan pengetahuan atau

ketrampilan mata pelajaran disekolah yang biasanya ditunjukkan dengan nilai test

atau angka nilai yang diberikan oleh guru (Tu’u, 2004: 47). Untuk lebih kongkritnya

dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai

oleh siswa ketika mengikuti dan mengerjakan tugas pembelajaran di sekolah, 2)

prestasi belajar adalah pencapaian nilai mata pelajaran berdasarkan kemampuan siswa

dalam aspek pengetahuan, ingatan, aplikasi, sintesis dan evaluasi, 3) prestasi belajar

adalah nilai yang dicapai oleh siswa melaui ulangan atau ujian yang diberikan oleh

guru (Tu’u, 2004: 75). Dapat disimpulkan, prestasi belajar adalah hasil belajar atau

17
nilai mata pelajaran yang dicapai oleh siswa melalui ulangan atau ujian yang

diberikan oleh guru.

Pendidikan agama berarti usaha-usaha secara sadar dan pragmatif membantu

anak didik supaya mempunyai ilmu pengetahuan agama (Zuhairini, 2000: 27).

Sedangkan Saleh (1973: 19) mendefinisikan bahwa pendidikan agama merupakan

usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik supaya kelak setelah selesai

pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam serta

menjadikannya sebagai way of life. Dalam “Ruh Al-Tarbiyah Wa Al-Ta’lim”, M

Athiyah Al-Abrasyi (1950: 6) menerangkan pengertian pendidikan sebagai berikut:

.‫ص ِحْي َح ًة َس ِعْي َد ًة‬ ِ ِ ِ ِِ ِ ِ‫أ ر‬


َ ‫ي الطربِْي َعة للط ْف ِل َكى يَ ُك ْو ُن قَاد ًرا َعلَى اَ ْن يُ َق ِو ًد َحيَا ًة َخلْقيَة‬
ُّ ‫ب الْ َق ِو‬
ُ ْ‫َلَّتبيَةُ ََتْذي‬
ْ
Artinya: “Pendidikan adalah membentuk tabiat kepada anak agar ia mempu

mencapai kehidupan manusia yang sehat dan bahagia”.

Pendidikan agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik

dalam meyakini, memahami dan menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui

kegiatan bimbingan, pengajaran atau latihan. Sedangkan Ibnu Hadjar (1999: 4)

mendefinisikan bahwa pendidikan agama Islam merupakan sesuatu subjek pelajaran

yang bersama-sama dengan subjek studi yang lain dimaksudkan untuk membentuk

manusia yang utuh.

Sebagaimana diketahui, bahwa prestasi belajar siswa dalam arti luas adalah

keberhasilan siswa yang meliputi ranah cipta, rasa dan karsa. Yang dikenal dengan

ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar

yang ideal meliputi segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat

pengalaman dan proses belajar siswa. Sedangkan Pendidikan Agama Islam (PAI)

18
yang dimaksud adalah mata pelajaran PAI sebagaimana di dalam kurikulum

Madrasah Tsanawiyah yang meliputi mata pelajaran; al-Qur’an Hadis, Aqidah

Akhlaq, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam (Depag RI, 2004: v-vi).

Jadi secara sederhana Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah suatu mata

pelajaran yang diajarkan disekolah yang bertujuan agar peserta didik dapat meyakini,

memahami dan mengamalkan agama Islam dan menjadikannya sebagai pedoman

hidup. Dengan demikian, maka prestasi belajar atau hasil belajar PAI adalah suatu

pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki siswa dalam mata pelajaran PAI setelah

melalui proses belajar mengajar yang ditunjukkan dengan nilai tes/angka yang

diberikan oleh guru.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar PAI

Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal

dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi belajar yang

dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor

tersebut. Adapun faktor-faktor yang dimaksud adalah:

1) Faktor yang berasal dari dalam individu (internal)

Faktor internal dibagi menjadi dua yaitu:


(a) Aspek Jasmaniah, mencakup kondisi dan kesejahteraan jasmani dari
individu. Kondisi fisik menyangkut pula kelengkapan dan kesehatan indra
penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pencacapan.
Kesehatan inilah merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan belajar.
(b) Aspek Psikis atau Rohaniah, menyangkut kondisi kesehatan psikis,
kemampuan-kemampuan intelektual, sosial, psikomotor, serta kondisi
afektif dan konatif dari individu (Sukmadinata, 2003: 162).

Menurut M. Umar dan Sartono (1998: 178), dalam aspek psikologis

selain intelligensi meliputi juga adanya “motif, minat, konsentrasi perhatian,

19
natural curioucity (keinginan untuk mengetahui secara alami), balance

personality (pribadi yang seimbang), self confidense (kepercayaan pada diri

sendiri). Self dicipline (disiplin terhadap diri sendiri) serta ingatan”.

2) Faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal), terdiri dari:

(a) Faktor Sosial

Purwanto (1990: 102) menyebutkan bahwa yang termasuk faktor sosial

adalah: “keluarga/keadaan rumah tangga, kalau anak berada dalam sebuah

keluarga yang harmonis, maka anak akan betah tinggal dalam keluarga tersebut

dan kegiatan belajarnya akan terarah”. Dengan keadaan yang demikian maka

prestasi belajar anak akan meningkat. Begitu juga sebaliknya, jika anak hidup

dalam keluarga yang kurang harmonis, penuh dengan percekcokan, maka anak

menjadi tidak betah tinggal dalam keluarga. Keadaan demikian akan membuat

anak malas belajar sehingga prestasi belajarnya menurun.

Menurut Thoha (1989: 127), lingkungan keluarga yang berpengaruh

terhadap prestasi belajar anak adalah ”cara mendidik orang tua terhadap anak

”sikap sosial dan emosional orang tua serta sikap keagamaan orang tua”.

(1) Interaksi guru dengan murid, di mana guru yang kurang berinteraksi
dengan siswa secara intim, maka akan menyebabkan proses belajar-
mengajar kurang lancar.
(2) Guru dan cara penyajian, di sini guru dituntut agar pandai-pandai cara
mengajarkan pengetahuan kepada anak didik.
(3) Alat-alat yang digunakan dalam belajar mengajar.
(4) Lingkungan dan kesempatan yang tersedia.
(5) Motivasi sosial (Purwanto, 1990: 102).

(b) Faktor Non Sosial

20
Menurut Suryabrata (1984: 233), kelompok faktor ini tak terbilang

jumlahnya, itu bisa berwujud keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu, tempat,

alat-alat yang dipakai untuk belajar.

Sedangkan Ahmadi dan Supriyono (1991: 138-139), menjelaskan bahwa

factor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar Pendidikan Agama Islam ada 2,

yaitu: faktor internal dan faktor eksternal.

1) Faktor internal meliputi:


a) Faktor jasmaniah (fisiologis) baik yang bersifat bawaan maupun yang
diperoleh, misalnya: penglihatan, pendengaran, struktur dan
sebagainya.
b) Faktor psikologi, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh
yang terdiri atas: 1) Faktor interaktif yang meliputi: faktor potensial
yaitu kecerdasan dan bakat, dan faktor kecakapan nyata yaitu prestasi
yang telah dimiliki. 2) Faktor non interaktif, yaitu unsur-unsur
kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat motivasi, emosi,
penguasaan diri.
c) Faktor kematangan fisik maupun psikis.
2) Faktor eksternal meliputi:
(a) Faktor sosial yang terdiri atas: Lingkungan keluarga, masyarakat,
sekolah, dan kelompok.
(b) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi,
kesenian.
(c) Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim.
(d) Faktor lingkungan spiritual atau keamanan.
(e) Demikian pula faktor internal dan eksternal yang berinteraksi baik
secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi prestasi
belajar siswa, oleh karena itu perlu memperhatikan faktor-faktor
tersebut.

Prestasi belajar bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Prestasi belajar merupakan

hasil akumulasi dari berbagai hal yang mempengaruhi siswa. Berbagai hal yang

mempengaruhi prestasi belajar tersebut bisa datang dari luar (faktor eksternal) dan

bisa datang dari dalam diri siswa itu sendiri (faktor internal). Faktor dari luar

meliputi; lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat.

Sedangkan faktor dari dalam diri siswa meliputi; kecerdasan, minat, bakat, input,

21
motif, kesehatan dan cara belajar (Kartono, 1985: 1-5). Winkel (1983: 47)

menyatakan bahwa prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor kecerdasan,

motivasi belajar, minat, sikap, perasaan, keadaan sosial ekonomi, dan keadaan fisik

serta psikis siswa.

Dengan demikian, faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa,

dapat dirumuskan lebih rinci. Faktor-faktor itu misalnya: karakteristik siswa, tenaga

pengajar, materi yang diajarkan, fasilitas pengajaran, kondisi fisik sekolah,

lingkungan sekolah, kurikulum dan tujuan pengajaran, dapat juga dikategorikan;

faktor yang mempengaruhi prestasi belajar menjadi dua yaitu: faktor pertama

individual, yang meliputi; kematangan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor

pribadi; faktor kedua meliputi: keluarga, guru dan cara mengajarnya, media dan alat

atau sarana yang menunjang proses pembelajaran.

Dari berbagai hal yang mempengaruhi prestasi belajar, antara pengaruh yang

satu dan yang lainnya memiliki posisi saling terkait dan tidak ada satupun pengaruh

yang paling dominan. Siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi atau dapat

disebut sebagai anak dalam golongan gilted child atau talented chil, diasumsikan jika

didalam proses pembelajaran, kemampuan yang dimilikinya tidak terakomodasi

secara layak dan tepat, maka anak tersebut akan mengalami kesulitan belajar yang

pada akhirnya tidak akan mampu mencapai prestasi belajar dengan baik. Demikian

juga sebaliknya, jika seorang siswa memiliki kecerdasan yang sedang, akan tetapi dia

mendapatkan pendidikan dan bimbingan dari seorang guru yang tepat, dan dia

mempunyai motivasi belajar yang tinggi, dia mendapatkan fasilitas belajar yang

memadai, maka siswa tersebut akan mampu meraih prestasi yang baik.

22
Dengan demikian, dapat dipahami bahwa semua faktor yang ada, akan

mampu berfungsi sebagaimana seharusnya. Jika semua faktor tersebut berfungsi

secara simultan dan bersama- sama dalam bekerja. Untuk lebih memperjelas faktor-

faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat ditampilkan dalam bentuk tabel

berikut ini.

Tabel 2.2
Faktor- faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

P
R Eksternal :
Internal :
E
S
Kecerdasan T Lingkungan keluarga
Minat A Lingkungan sekolah
Bakat S Lingkungan masyarakat
Input I Kondisi alam sekitar
Motiv, Ekonomi misalnya: udara, suara,
Suasana hati B bau-bauan dsb
Kesehatan E
L
Kematangan usia
A
Cara belajar J
dsb. A
R

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar terdiri dari faktor internal dan

eksternal. Selain itu sesuai dengan kajian yang diteliti, faktor internal siswa dalam

meraih prestasi belajar yang terpenting adalah motivasi belajar dan kecerdasan

intelekktual siswa. Artinya, diasumsikan semakin tinggi motivasi dan kecerdasan

intelektual yang dimiliki oleh siswa, maka akan semakin tinggi pula prestasi belajar

siswa. demikian juga sebaliknya, semakin rendah motivasi dan kecerdasan intelektual

siswa, maka akan rendah pula prestasi belajar siswa.

23
c. Faktor yang Menghambat Prestasi Belajar

Prestasi belajar akan sulit tercapai, apabila seorang siswa mengalami

gangguan kesulitan belajar yang dapat dimaknai sebagai hambatan dan gangguan

dalam proses penyerapan materi pelajaran yang disampaikan guru kepada siswa. Pada

prinsipnya setiap siswa mempunyai hak dan peluang yang sama untuk memperoleh

atau mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan. Namun

pada kenyataannya ada perbedaan kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar

belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar, yang terkadang sangat

mencolok antara siswa yang satu dengan siswa lainnya (ada siswa yang sangat bodoh

dan ada siswa yang sangat pandai), sehingga perlu adanya perhatian dan penanganan

khusus terhadap keduanya sehingga tidak akan timbul apa yang disebut dengan

kesulitan belajar (learning difficult ).

Kesulitan belajar tidak hanya dapat menimpa siswa yang berkemampuan

rendah saja, akan tetapi juga dapat menimpa kepada mereka yang berkemampuan

tinggi. Ada dua faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar siswa.

Pertama, faktor intern siswa yang meliputi gangguan psiko-fisik siswa, yang

berkaitan dengan; a) aspek kognitif (ranah cipta), dalam hal ini terkait dengan

rendahnya kapasitas intelektual atau intelegensi siswa, b) aspek afektif (ranah rasa),

dalam hal ini terkait dengan labilnya emosi dan sikap, c) aspek psikomaotor (ranah

karsa), dalam hal ini terkait dengan terganggunya fungsi panca indera siswa.

Disamping hal tersebut, karena adanya sindrom psikologis yang berupa ketidak

mampuan belajar (learning disability), adanya gangguan kecil pada otak (minimal

brain disfunction).

24
Kedua, faktor ekstern siswa yang meliputi; a) lingkungan keluarga, misalnya;

ketidak harmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, rendahnya pendapatan

ekonomi keluarga, b) lingkungan perumahan atau masyarakat, misalnya; berada

dalam lingkungan kumuh (slum area) dan kelompok bermain yang nakal, c)

lingkungan sekolah, misalnya; tata letak sekolah yang kurang nyaman dan strategis

(dekat pasar, dekat rel kereta api, dekat terminal dan sebagainya), d) guru yang

kurang memiliki kompetensi dibidang mata pelajaran yang diampu, fasilitas belajar

yang kurang memadai dan sebagainya (Syah, 1999: 165-167).

d. Tujuan Pembelajaran PAI di MTs.

Di dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan

bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk

watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan

kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar

menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara

yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka

salah satu bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di Madrasah adalah

pendidikan agama Islam, yang dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi

manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak

mulia (BSNP, 2007: 5).

Secara umum, pendidikan agama Islam bertujuan untuk meningkatkan

keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama

Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah

25
SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan

bernegara (Muhaimin, 2002: 75).

Pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah terdiri atas empat mata

pelajaran, yaitu: al-Qur’an Hadis, Aqidah-akhlak, fiqh, dan tarikh (sejarah)

kebudayaan Islam. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling

terkait, isi mengisi dan melengkapi. Al-Qur’an-Hadis merupakan sumber utama

ajaran Islam, dalam arti ia merupakan sumber aqidah-akhlak, syari’ah/fiqih (ibadah,

muamalah), sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Aqidah (ushuluddin)

atau keimanan merupakan akar atau pokok agama.

Syariah/fiqih (ibadah, muamalah) dan akhlak bertitik tolak dari aqidah, yakni

sebagai manifestasi dan konsekuensi dari aqidah (keimanan dan keyakinan hidup).

Syari’ah/fiqih merupakan sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia

dengan Allah, sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Akhlaq merupakan

aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem

norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah dalam arti khas) dan

hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup

dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik,

ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan/seni, iptek, olahraga/

kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi oleh aqidah yang kokoh.

Sedangkan tarikh (sejarah) kebudayaan Islam merupakan perkembangan

perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah

(beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem

kehidupannya yang dilandasi oleh aqidah.

26
Pendidikan agama Islam (PAI) di Madrasah Aliyah yang terdiri atas empat

mata pelajaran tersebut memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Al-Qur’an-Hadis,

menekankan pada kemampuan baca tulis yang baik dan benar, memahami makna

secara tekstual dan kontekstual, serta mengamalkan kandungannya dalam kehidupan

sehari-hari. Aspek aqidah menekankan pada kemampuan memahami dan

mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan

mengamalkan nilai-nilai al-asma’ al-husna. Aspek Akhlak menekankan pada

pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam

kehidupan sehari-hari. Aspek Fiqh menekankan pada kemampuan cara melaksanakan

ibadah dan muamalah yang benar dan baik.

Sedangkan aspek Tarikh & kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan

mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh

berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi,

ipteks dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.

Sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi Dasar yang merupakan

kurikulum hasil refleksi, pemikiran dan pengkajian dari kurikulum yang berlaku

sebelumnya pembelajaran PAI di Madrasah Tsanawiyah diharapkan dapat membantu

mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan di masa depan. Standar

kompetensi dan kompetensi dasar diarahkan untuk memberikan keterampilan dan

keahlian bertahan hidup dalam kondisi penuh dengan berbagai perubahan,

persaingan, ketidakpastian dan kerumitan dalam kehidupan. Melalui kurikulum yg

sedang berlaku saat ini, yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP),

pembelajaran PAI di Madrasah diharapkan menghasilkan tamatan yang kompeten,

27
cerdas dalam membangun integritas sosial, serta mewujudkan karakter nasional

(BNSP, 2007: 3).

Dalam konteks madrasah, tujuan pembelajaran PAI di madrasah adalah untuk

menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif dengan

pendekatan berbasis kompetensi. Basis kompetensi yang dikembangkan diharapan

agar siswa/peserta didik tumbuh dan berkembang rasa keimanan dan ketakwaan

kepada Allah SWT, menghayati dan mengamalkan hukum Islam, penguasaan

keterampilan hidup, kemampuan akademik, seni dan pengembangan kepribadian

yang paripurna, yaitu berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat,

berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan

yang lebih tinggi (BNSP, 2007: 5).

Tujuan masing-masing mata pelajaran yang masuk lingkup mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam (PAI) yang dikembangkan di Madrasah Tsanawiyah adalah

sebagai berikut:

1) al-Qur’an Hadis

Mata Pelajaran al-Qur’an Hadis di Madrasah Tsanawiyah bertujuan agar

peserta didik bergairah untuk membaca al-Qur’an Hadis dengan baik dan benar,

serta mempelajarinya, memahami, meyakini kebenarannya, dan mengamalkan

ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai petunjuk dan

pedoman dalam seluruh aspek kehidupan (Depag. RI, 2004: 4).

2) Aqidah Akhlaq

Mata pelajaran ini bertujuan untuk: 1) menumbuhkan dan meningkatkan

keimanan peserta didik yang diwujudkan dalam akhlaqnya yang terpuji, melalui

28
pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, serta pengalaman peserta

didik tentang aqidah dan akhlaq Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang

terus berkembang dan meningkat kualitas keimanan dan ketakwaannya kepada

Allah SWT, serta berahlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat

berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan

yang lebih tinggi (Depag. RI, 2004: 22); 2) mewujudkan manusia Indonesia yang

berakhlak mulia dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari

baik dalam kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran dan

nilai-nilai aqidah Islam.

3) Fiqih

Mata pelajaran ini bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat:

(1) Mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam secara terperinci dan

menyeluruh, baik berupa dalil naqli dan aqli. Pengetahuan dan pemahaman

tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup dalam kehidupan pribadi dan sosial.

(2) Melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar.

Pengamalan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kataatan menjalankan

hukum Islam, disiplin dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan

pribadi maupun sosialnya (Depag. RI, 2004: 47).

4) Sejarah Kebudayaan Islam

Mata pelajaran ini bertujuan untuk: (1) Memberi pengetahuan tentang

sejarah agama Islam dan kebudayaan Islam kepada peserta didik, agar memiliki

data yang obyektif dan sistematis tentang sejarah. (2) Mengapresiasi dan

mengambil ibrah, nilai dan makna yang terdapat dalam sejarah. (3) Menanamkan

29
penghayatan dan kemauan yang kuat untuk mengamalkan nilai-nilai Islam

berdasarkan cermatan atas fakta sejarah yang ada. (4) Membekali peserta didik

untuk membentuk kepribadiannya melalui imitasi terhadap tokoh-tokoh teladan

sehingga terbentuk kepribadian yang luhur (Depag. RI, 2004: 69).

e. Materi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di MTs.

Sesuai dengan UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 36 dan 38, kurikulum

dikembangkan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk

mewujudkan tujuan pendidikan nasional; dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan

satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik. Kurikulum madrasah

dikembangkan dengan mengacu dan didasarkan pada dokumen kurikulum yang

dikembangkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, sebagai konsekuensi logis

eksistensi madrasah sebagai bagian yang integral dalam satu sistem pendidikan

nasional (Depag. RI, 2004: iii-iv).

Materi pokok pembelajaran pendidikan agama Islam meliputi, aspek

pengetahuan, ketrampilan dan sikap. Aspek pengetahuan terkait dengan kemampuan

pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, dan kemampuan menjelaskan

terhadap materi yang telah diterima. Dari kemampuan memahami dan menjelaskan

inilah kemudian diaplikasikan kedalam bentuk ketrampilan konkrit, kemudian

dijadikan sikap dasar dalam berperilaku sehari-hari.

Materi pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) MTs. yang terdiri dari mata

pelajaran al-Qur’an Hadis, Aqidah akhlaq, Fiqih, dan Sejarah Kebudayaan Islam,

disampaikan berjenjang mulai kelas VII sampai kelas IX dengan pokok-pokok materi

sebagai berikut.

30
1. Mata pelajaran al-Qur’an Hadis

Materi-materi pokok mata pelajaran al-Qur’an Hadis pada Madrasah

Tsanawiyah kelas VII semester gasal terdiri dari satu standar kompetensi, yaitu:

Mampu menerapkan kaidah ilmu tajwid dalam bacaan al-Qur’an, meliputi 3

kompetensi dasar yaitu: 1) membaca makhorijul huruf, alif lam syamsiyah dan

qomariyah. 2) Mendemontrasikan hukum bacaan nun sukun dan tanwin, 3)

Menguasai hukum dasar bacaan al-Qur’an (Ilmu Tajwid) dan penerapannya.

Semester genap standar kompetensi: Mampu memahami ayat-ayat al-Qur’an

tentang akhlaq terhadap ibu bapak dan sesama manusia, dan memahami hadis

tentang perintah bertaqwa dan berbuat baik pada sesama manusia, dan mampu

menerapkan ilmu tajwid dalam bacaan al-Qur’an. Kelas VII semester genap;

Terdiri dari tiga standar kompetensi, yaitu: 1) Menunjukkan cara berakhlaq pada

ibu bapak dan sesamama manusia. 2) Membaca qolqolah dan waqof. 3)

Melaksanakan perintah bertakwa dan akhlaq kepada sesama manusia (Depag. RI,

2004 : 11).

Untuk Kelas VIII semester gasal standar kompetensinya adalah: Mampu

memahami sejarah turunnya al-Qur’an, memahami ayat-ayat al-Qur’an tentang

persatuan dan persaudaraan, memahami arti hadis| dan macam-macamnya,

memahami Hadis-Hadis dan meyakini kebenaran dan istiqomah dan mampu

menerapkan ilmu tajwid dalam bacaan al-Qur’an. Meliputi komptensi dasar;1)

menjelaskan sejarah turunnya al-Qur’an, 2) membedakan arti Hadis dan macam-

macamnya 3) menunjukkan sikap persatuan dan persaudaraan 4) meyakini

kebenaran Islam dan beristiqomah. 5) memahami hukum bacaan mim sukun, ra’

31
dan lam.

Standar kompetensi materi al-Qur’an Hadis kelas VIII semester genap

adalah Mampu memahami ayat al-Qur’an tentang setan sebagai musuh manusia,

berlaku dermawan, memahami Hadis-Hadis tentang cinta kepada Allah dan Rasul

dan mampu menerapkan ilmu tajwid dalam bacaan al-Qur’an. Kompetensi dasar

1) menyadari syetan sebagai musuh manusia 2) berlaku dermawan 3)

mendemontrasikan bacaan mad 4) menunjukkan sikap cinta kepada Allah dan

Rasul (Depag. RI, 2004 : 15).

Kelas IX Semester gasal standar kompetensinya: Mampu memahami

ayat-ayat al-Qur’an tentang semangat keilmuan, tentang makanan yang halal dan

baik, dan memahami Hadis-Hadis tentang perintah menuntut ilmu dan keutamaan

orang yang berilmu. Meliputi kompetensi dasar: 1) memiliki semangat

keilmuaan, 2) membiasakan makan-makan yang halal dan baik serta tidak

berlebih-lebihan, 3) menguasai Hadis tentang perintah menuntut ilmu secara lisan

dan tertulis, 4) menjelaskan Hadis tentang keutamaan orang yang berilmu.

Kelas IX Semester genap standar kompetensinya; Mampu memahami

ayat-ayat al-Qur’an tentang sabar dan tabah menghadapi cobaan, tentang bersikap

konsekuen dan jujur, serta memahami hadis-hadis tentang taat kepada Allah,

Rasul dan pemerintah. Kompetensi dasarnya meliputi: 1) berperilaku sabar dan

tabah dalam menghadapi cobaan, 2) bersikap konsekuen dan jujur, 3)

membiasakan taat kepada Allah, Rasul dan pemerintah (Depag. RI, 2004 : 18).

2. Mata Pelajaran Aqidah ahklaq

Materi pokok mata pelajaran Aqidah akhlaq kelas VII Semester gasal

32
standar kompetensi: Memahami sifat-sifat wajib, mustahil Allah yang nafsiyah

dan salbiyah, berakhlaq terpuji kepada Allah dan menghindari akhlaq tercela

kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi dasarnya; 1) meyakini

sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah yang nafsiyah-salbiyah, 2) meyakini

sifat-sifat wajib Allah yang nafsiyah dan salbiyah, 3) meyakini sifat-sifat Allah

yang nafsiyah dan salbiyah 4) membiasakan diri berakhlaq terpuji terhadap Allah,

5) membiasakan diri menghindari berakhlaq tercela terhadap Allah, 6) mencintai

dan meneladani sifat dan perilaku kehidupan rasul/sahabat/ ulama’/ulil amri dan

atau tokoh.

Kelas VII Semester genap standar kopetensi: Memahami kitab-kitab

Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan rasul serta mempedomani dan

mengamalkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kompetensi

dasarnya meliputi; 1) beriman kepada kitab-kitab Allah, 2) meyakini kitab Allah

yang diturunkan kepada Nabi Daud As, Musa As. dan Isa As., 3) mempedomani

kitab suci al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw.

dalam kehidupan sehari-hari, 4) mencintai dan meneladani sifat dan perilaku

kehidupan sahabat/ulama’ (Depag. RI, 2004:33).

Kelas VIII Semester gasal standar kompetensi: Memahami dan

mengamalkan sifat-sifat wajib dan mustahil Allah yang ma’ani/ma’nawiyah serta

sifat jaiz bagi Allah, berakhlaq terpuji pada diri sendiri, menghindari akhlaq

tercela kepada diri sendiri, serta meneladani perilaku kehidupan Rasul/sahabat/

ulama’ dalam kehidupan sehari-hari. Kompetensi dasarnya adalah: 1) memahami

dan meyakini sifat-sifat wajib dan mustahil Allah yang ma’ani/ma’nawiyah, 2)

33
meyakini sifat-sifat mustahil Allah yang ma’ani/ma’nawiyah 3) meyakini sifat

jaiz Allah, 4) membiasakan diri berakhlaq terpuji kepada diri sendiri dalam

kehidupan bersama, 5) membiasakan diri menghindari akhlaq tercela dalam

kehidupan sehari-hari, 6) mencintai dan meneladani sifat dan perilaku kehidupan

Rasul/sahabat/ulama’.

Kelas VIII Semester genap standar kompetensi: Memahami sifat-sifat dan

mu’jizat Nabi dan Rasul dan meneladani akhlak Nabi Muhammad dalam

kehidupan sehari-hari. Kompetensi dasarnya: 1) meyakini mu’jizat Allah yang

diturunkan kepada rasul-Nya, 2) meyakini sifat-siafat wajib dan mustahil rasul, 3)

meneladani kisah rasul Ulul ’Azmi, 4) meneladani akhlaq Nabi Muhammad saw.,

5) mencintai dan meneladani sifat dan perilaku kehidupan sahabat/ulama’

(Depag. RI, 2004 : 38).

Kelas IX Semester gasal standar kompetensi: Memahami dan meyakini

adanya hari akhir dan alam gaib dalam kehidupan sehari-hari, berakhlaq terpuji

dan menghindari akhlaq tercela terhadap lingkungan sosial/sesama manusia

dalam masyarakat. Kompetensi dasarnya; 1) beriman kepada hari akhir, 2)

beriman kepada alam gaib yang berhubungan dengan hari akhir, 3) mengamalkan

akhlaq terpuji terhadap lingkungan sosial/sesama manusia dalam masyarakat, 4)

membiasakan diri berakhlaq terpuji terhadap sesama, 5) membiasakan diri

menghindari akhlaq tercela terhadap sesama.

Kelas IX Semester genap standar kompetensi: Berakhlaq terpuji terhadap

lingkungan flora dan fauna serta menghindari akhlaq tercela terhadap lingkungan

flora dan fauna, serta meneladani akhlaq para rasul/sahabat atau ulul amri dalam

34
kehidupan sehari-hari, 1) mengamalkan akhlaq terpuji terhadap lingkungan flora

dan fauna (tumbuh-tumbuhan dan hewan), 2) menjauhi akhlaq tercela terhadap

lingkunagn flora dan fauna (tumbuh-tumbuhan dan hewan), 3) mencintai dan

meneladani sifat dan perilaku kehidupan rasul/sahabat/ulama’/ulil amri/tokoh

yang beriman dan berakhlaq mulia (Depag. RI, 2004 : 42).

3. Mata Pelajaran Fiqih

Materi pokok mata pelajaran Fiqih kelas VII Semester gasal dan genap

standar kompetensi: Menguasai tata cara bersuci (t}aharah), pelaksanaan shalat

(s}alat wajib, jamaah, jama’ qas}ar, darurat, janazah, s}alat sunnah) serta

mampu mengamalkannya dalam kehiupan sehari-hari. Kompetensi dasar 1)

menjelaskan tata cara bersuci dari hadas̀^, najis dan kotoran. 2) menjelaskan tata

cara berwudlu dan mempraktekannya. 3) menjelaskan tata cara mandi. 4)

menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan haid. 5) menjelaskan tata cara

tayamum dan mempraktekannya. 6) menjelaskan tata cara s}alat jum’at. 7)

menjelaskan tata cara pelaksanaan s}alat berjamaah. 8) menjelaskan tata cara

s}alat jama’. 9) menjelaskan tata cara s}alat qas}ar. 10) menjelaskan tata cara

s}alat dalam keadaan darurat. 11) menjelaskan tata cara s}alat janazah. 12)

menjelaskan tata cara shalat sunnah malam. 13) menjelaskan tata cara s}alat ’Id.

14) menjelaskan tata cara shalat D{uha. 15) menjelaskan cara s}alat Tahiyyatul

Masjid (Depag. RI, 2004: 56).

Kelas VIII Semester gasal dan genap standar kompetensi: Kemampuan

membiasakan untuk mencari, menyerap, menyampaikan, dan menggunakan

informasi tentang sujud syukur, z^ikir dan doa’, haji dan umroh, qurban dan

35
aqiqah. Kompetensi dasarnya adalah: 1) menjelaskan tata cara pelaksanaan sujud

syukur dan tilawah, 2) menjelaskan tata cara pelaksanaan berz^ikir dan berdo’a

setelah shalat, 3) menjelaskan tata cara pelaksanaan puasa naz^ar, 4) menjelaskan

tata cara pelaksanaan menginfaqkan harta benda di luar kewajiban zakat, 5)

menjelaskan tata cara pelaksanaan haji dengan benar, 6) menjelaskan tata cara

pelaksanaan umrah, 7) menjelaskan ketentuan kurban, 8) menjelaskan ketentuan

aqiqah (Depag. RI, 2004: 58).

Kelas IX Semester gasal dan genap standar kompetensi: Menguasai tata

cara muamalah, muamalah selain jual beli, kewajiban terhadap sesama (janazah,

dan ziarah kubur), tata pergaulan remaja, jinayat, hudud dan sangsi hukumannya,

kewajiban mematuhi undang-undang negara dan syariat Islam, kewajiban

mengelola dan mengolah lingkungan untuk kesejahteraan sosial.

Kompetensi dasar 1) menjelaskan tata cara pelaksanaan jual beli yang

benar. 2) menjelaskan tata cara khiyar. 3) menjelaskan tata cara pelaksanaan

qirad}. 4) menjelaskan tata cara berpiutang, gadai dan borg dengan baik. 5)

menjelaskan tata cara pelaksanaan upah dan luqat}ah. 6) menjelaskan batasan-

batasan riba dengan benar. 7) menjelaskan tindakan yang harus dilakukan

terhadap jenazah. 8) menjelaskan tata cara pelaksanaan ta’ziyah dan ziarah

kubur dengan benar. 9) Menjelaskan tata cara pergaulan remaja yang sesuai

ajaran Islam. 10) menjelaskan hukum jinayat dan hudud. 10) menjelaskan tata

cara pelaksanaan diyat. 11) menjelaskan larangan minuman keras. 12)

menjelaskan hukum pencopetan, penjambretan, pencurian, penyamunan,

perampokan dan perompakan. 13) menjelaskan permasalahan hukum zina. 14)

36
menjelaskan undang-undang negara. 15) menjelaskan hukum kewajiban

membela tanah air. 16) menjelaskan hukum mematuhi syariat Islam. 17)

menjelaskan pola kepemimpinan dalam Islam. 18) menjelaskan pentingnya

memelihara lingkungan hidup. 19) menjelaskan cara meningkatkan

kesejahteraan sosial (Depag. RI, 2004 : 63).

4. Mata Pelajaran SKI

Materi pokok mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII

Semester gasal dan genap standar kompetensi: Membiasakan untuk mencari,

menyerap, menyampaikan, dan menggunakan informasi tentang sejarah

pembentukan Dinasti Umayah; biografi dan kebijakan khalifah-khalifah

Dinasti Umayah (Muawiyah bin Abi Sofyan, Abdul Malik bin Marwan, Walid

bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz dan Hisyam bin Abdul Malik);

Kemajuan Dinasti Umayah (bidang politik dan militer). Kompetensi dasar 1)

mendiskripsikan pembentukan pemerintah Dinasti Umayah. 2) menjelaskan

biografi dan kebijakan khalifah Muawiyah bin Abi Sofyan. 3) menjelaskan

biografi dan kebijakan khalifahh Abdul Malik bin Marwan serta meneladani

keberanian, keteguhan dan kebijaksanaannya. 4) menjelaskan biografi dan

kebijakan khalifah Walid bin Abdul Malik. 5) menjelaskan biografi dan

kebijakan kholifah Umar bin Abdul Aziz serta meneladani kesalehannya dan

kezuhudannya. 6) mrenjelaskan biogarafi dan kebijakan khalifah Hisyam bin

Abdul Malik. 7) menganalisis kemajuan-kemajuan Dinasti Umayah di bidang

sosial budaya. 8) menganalisis kemajuan-kemajuan Dinasti Umayah di bidang

politik dan militer (Depag. RI, 2004 : 76).

37
Kelas VIII Semester gasal dan genap standar kompetensi: Membiasakan

untuk mencari, menyerap, menyampaikan, dan menggunakan informasi tentang

kemajuan-kemajuan Dinasti Umayah (bidang ilmu agama Islam) dan mengkaji

sebab-sebab keruntuhannya; Sejarah terbentuknya Dinasti Abbasiyah, biografi

dan kebijakan khalifah-khalifah Dinasti Abbasiyah yang terkenal (Abu Ja’far al-

Mansur, Harun al-Rasyid dan Abdullah al-Makmun); Kemajuan Dinasti

Abbasiyah (bidang sosial budaya, politik dan militer). Kompetensi dasar 1)

menganlisis kemajuan-kemajuan Dinasti Umayah di bidang ilmu Agama Islam.

2) menganalisis keruntuhan Dinasti Umayah dan mengambil ibrahnya. 3)

menjelaskan sejarah terbentuknya Dinasti abbasiyah. 4) menjelaskan biografi dan

kebijakan khalifah Abu Ja’far al Mansur. 5) menjelaskan biografi dan kebijakan

khalifah Harun al-Rasyid. 6) menjelaskan biografi dan kebijakan khalifah

Abdullah al-Ma’mun serta meneladani kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.

7) menganlisis kemajuan-kemajuan Dinasti Abbasiyah dibidang sosial budaya. 8)

menganlisi kemajuan-kemajuan Dinasti Abbasiyah di bidang politik dan militer

(Depag. RI, 2004 : 79).

Kelas IX Semester gasal dan genap standar kompetensi: Membiasakan

untuk mencari, menyerap, menyampaikan, dan menggunakan informasi tentang

kemajuan-kemajuan Dinasti Abbasiyah (bidang ilmu pengetahuan dan bidang

Agama Islam) dan mengkaji sebab-sebab keruntuhannya, serta kemajuan-

kemajuan Dinasti al-Ayyubiyah. Kompetensi dasar 1) menganlisis kemajuan-

kemajuan Dinasti Abbasiyah di bidang ilmu pengetahuan. 2) menganalisis

kemajuan-kemajuan Dinasti Abbasiyah di bidang ilmu Agama Islam. 3)

38
menganalisis keruntuahan Dinasti Abbasiyah (1.4) menganalisis kemajuan-

kemajuan Dinasti al-Ayyubiyah (Depag. RI, 2004 : 80).

Program pengajaran agama dapat dipandang sebagai suatu usaha

mengubah tingkah laku siswa dengan menggunakan bahan pengajaran agama.

Tingkah laku yang diharapkan itu terjadi setelah siswa mempelajari pelajaran

agama dan dinamakan hasil belajar siswa dalam bidang pangajaran agama.

Hasil belajar atau bentuk perubahan tingkah laku yang diharapkan itu

meliputi tiga aspek yaitu: Pertama, aspek kongnitif, meliputi perubahan-

perubahan dalam segi penguasaan pengetahuan dan perkembangan ketrampilan

atau kemampuan yang diperlukan untuk menggunakan pengetahuan tersebut.

Kedua, Aspek afektif meliputi perubahan-perubahan dalam segi mental, perasaan

dan kesadaran. Ketiga, aspek psikomotor, meliputi perubahan dalam bentuk-

bentuk tindakan motorik.

f. Pengukuran Prestasi Belajar PAI

Untuk mengetahui suatu keberhasilan dalam proses pembelajaran, diperlukan

adanya evaluasi/ penilaian atau pengukuran yang dapat dilakukan melalui tes. Hasil

penilaian tes digunakan sebagai parameter untuk mengukur tingkat keberhasilan

belajar anak didik, apakah pembelajaran berhasil atau gagal. Hasil belajar digunakan

oleh seorang pendidik selain untuk mengetahui keberhasilan proses pembelajaran

juga untuk memperbaiki motivasi belajar yang akan diberikan kepada siswa, aktivitas

dan cara belajar siswa dan fasilias yang perlu disediakan (Purwanto, 2002 :5).

Untuk mengetahui sampai sejauh mana prestasi yang dicapai oleh siswa

dalam proses pembelajaran dapat ditempuh dengan mengadakan pengukuran atau

39
penilaian. Dari hasil penilaian atau evaluasi inilah akan diketahui apakah siswa yang

bersangkutan berprestasi ataukah tidak. Jika pencapaian nilai atau skor yang dicapai

oleh siswa memenuhi atau bahkan melampaui standar yang telah ditentukan, maka

siswa bersangkutan dapat dikatakan sebagai siswa yang berprestasi. Hal ini

menunjukkan juga bahwa proses pembelajaran telah berlangsung sesuai dengan

tujuan (Slameto, 1984:3). Skor yang dicapai oleh siswa sebagai simbul pencapaian

prestasi belajar merupakan kumulatif dari pengukuran aspek kognitif, aspek afektif,

dan aspek motorik, yang masing- masing ranah memiliki jenis, indikator dan cara

evaluasi yang berbeda (Syah, 1999: 187-188).

Obyek pengukuran yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor

menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa tidak semata-mata dari hasil

pengembangan intelektual saja, melainkan juga mencakup sikap dan perilaku yang

berkembang dari kondisi siswa sebelum belajar sampai kondis siswa setelah belajar.

Untuk lebih jelasnya berikut ini disajikan jenis, indikator, dan cara evaluasi prestasi

belajar.

40
Tabel 2.1
Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi Belajar

Ranah/JenisPrestasi Indikator Cara Evaluasi


A. Kognitif
(ranah cipta )
1. Pengamatan 1. Dapat menunjukkan, mem- 1. Tes lisan, tulisan,
bandingkan,menghubungkan. observasi.
2. Ingatan 2. Dapat menyebutkan, menunjuk- 2. Tes lisan, tulisan,
kan kembali. observasi.
3. Pemahaman 3. Dapat menjelaskan, mendefini- 3. Tes lisan, tulisan.
sikan dengan lisan sendiri.
4. Aplikasi 4. Dapat memberikan Contoh dan 4. Tes lisan, tulisan,
menggunakan secara tepat. observasi.
5. Analisis 5. Dapat menguraikan dan meng- 5. Tes tulis dan pem-
pemeriksaan dan [Link] menghubung- berian tugas.
pemilihan secara kan, menyimpulkan, mengene-
teliti). ralisasi.
6. Sintesis pembuat 6. Tes tulis dan pem-
panduan baru dan berian tugas.
utuh).
B. Afektif
(ranah rasa)
1. Penerimaan 1. Menunjukkan sikap menerima, 1. Tes tulis, tes skala
dan menolak. sikap, observasi.
2. Sambutan 2. Kesediaan terlibat dan meman- 2. Tes skala sikap,
faatkan. pemberian tugas,
observasi.
3. Apresiasi (sikap 3. Menganggap penting, berman- 3. Tes skala penilai-
menghargai) faat, indah, harmonis, menga- an sikap, pemberi-
gumi an tugas, obser-
vasi.
4. Internalisasi 4. Mengakui, meyakini, menging- 4. Tes skala sikap,
(pendalaman) kari. pemberian tugas,
ekspresi.
5. Karakterisasi 5. Melembagakan atau meniada- 5. Pemberian tugas,
(penghayatan) kan. menjelmakan dalam peri- ekspresif dan
laku sehari- hari. proyektif observasi
C. Psikomotor
(ranah karsa)
1. Ketrampilan bergerak 1. Kecakapan mengkordinasikan g. Tes tindakan
dan ber-tindak gerak mata, tangan, kaki, dan h. observasi
2. Kecakapan anggota tubuh lainnya.
Ekspresi verbal 2. kefasihan melafalkan keca-kapan 1. Tes lisan, obser-
dan non verbal membuat mimik dan gerakan vasi
jasmani. 2. Tes tindakan.

Sumber: Syah (1999: 193-195)

Dari pengukuran yang meliputi tiga ranah, kognitif, afektif, dan psikomotor

tersebut, dapat ditentukan tingkat pencapaian hasil belajar atau prestasi belajar siswa

41
melalui skor yang diperoleh siswa. Kemudian dari perolehan skor tersebut

dikonsultasikan kepada alternatif norma pengukuran tingkat keberhasilan siswa yang

telah dibakukan. Diantara norma-norma pengukuran tersebut adalah: 1). Norma skala

angka dari 0 sampai 10; dan 2). Norma skala angka dari 0 sampai 100. Perolehan skor

terendah yang dapat dinyatakan sebagai keberhasilan belajar atau kelulusan (passing

grade) untuk skala 0-10 adalah 5,5 atau 6,0, sedangkan untuk skala 0-100 adalah 55

atau 60. artinya, jika seorang siswa dapat menyelesaikan lebih dari separuh tugas atau

dapat menjawab lebih dari setengah instrumen evaluasi dengan benar, maka ia

dianggap telah memenuhi target minimal keberhasilan belajar.

Namun demikian, untuk mata pelajaran inti (Core Subjects) perlu

dipertimbangkan perlunya menetapkan passing grade atau KKM (kriteria ketuntasan

minimal) yang lebih tinggi (misalnya 65 atau 70), mengingat mata pelajaran inti

merupakan “kunci pembuka” ilmu pengetahan lainnya. Mata pelajaran inti ini (Core

Subjects) meliputi bahasa dan matematika. Skala pengukuran tingkat keberhasilan

siswa tersebut berlaku untuk siswa tingkat pendidikan dasar dan menengah (Syah,

1999: 196-197). Pencapaian skor tersebut merupakan hasil interaksi dari berbagai

faktor yang mempengaruhinya, yang dapat dijadikan ukuran keberhasilan atau

kegagalan proses pembelajaran.

Keberhasilan proses pembelajaran pendidikan agama Islam dapat diketahui

dengan menunjukkan hasil pencapaian prestasi belajar agama Islam siswa, yang dapat

ditempuh melalui pengukuran dari tiga aspek sebagaimana telah ditentukan dalam

kurikulum pendidikan agama Islam, yakni aspek pengetahuan, aspek ketrampilan,

dan aspek sikap. Artinya, dalam menentukan prestasi belajar agama Islam, seorang

42
guru dalam menentukan nilai yang diperoleh siswa berdasarkan jumlah total nilai

yang diperoleh siswa dari masing-masing aspek dengan menggunakan skala 0–100.

Dari perhitungan tersebut, siswa dapat dinyatakan memiliki prestasi sangat baik jika

mampu mencapai nilai komulatif lebih dari (<90), dinyatakan berprestasi baik jika

mampu meraih nilai komulatif (80–89), dan berprestasi cukup baik jika mencapai

nilai komulatif (70-79), serta dianggap berprestasi cukup jika mencapai nilai

komulatif (60-69) dan dianggap memiliki prestasi kurang apabila siswa hanya

mampu mencapai nilai kurang dari (>59) (Tabel Kriteria Ketuntasan Minimal, MTs.

Negeri Keling Jepara tahun pelajaran 2007/2008).

Bentuk pengukuran prestasi belajar agama Islam, terbagi dalam tiga bentuk

pengukuran untuk tiga aspek. Pertama, untuk aspek pengetahuan berbentuk

pemberian tes tertulis kepada siswa dengan sejumlah pertanyaan yang terkait dengan

materi pelajaran. Dari hasil jawaban atau respon siswa terhadap pertanyaan tersebut,

kemudian dicocokkan dengan norma pengukuran atau standar penilaian yang telah

ditentukan oleh guru, dari hasil respon inilah siswa diberi skor untuk aspek

pengetahuan.

Kedua, aspek ketrampilan dengan bentuk pemberian tugas kepada siswa

untuk mempraktekkan materi pelajaran yang telah disampaikan guru kepada siswa.

dari pemberian tugas praktek tersebut akan diketahui sampai sejauhmana siswa

mampu mempraktekkan materi pelajaran yang telah disampaikan guru kepada siswa

secara tepat dan benar. Misalnya materi pelajaran shalat janazah, maka yang diukur

adalah sampai sejauh mana siswa mampu mempraktekkan shalat janazah secara tepat

dan benar, baik kefasihan lafaz, mahraj, maupun kekhusuan.

43
Ketiga, aspek sikap, dengan bentuk pengamatan langsung terhadap perilaku

siswa sehari-hari di sekolah, atau dapat juga melalui bantuan guru BP untuk

mengetahui apakah siswa yang bersangkutan sering mempunyai kasus ataukah tidak.

Disamping melakukan pengamatan langsung, juga melakukan pengamatan tidak

langsung melalui orang tua siswa tentang perilaku siswa bersangkutan ketika di

rumah. Dari hasil pengamatan tersebut kemudian guru memberi skor kepada siswa

bersangkutan untuk aspek sikap (Depdiknas, 2003: 58).

Jumlah total skor yang dicapai oleh siswa dari tiga aspek tersebut, kemudian

dijumlahkan. Hal ini menunjukkan bahwa penentuan nilai pendidikan agama Islam

untuk siswa, tidak lagi semata-mata ditentukan hanya dari aspek kognitif, tetapi juga

ditentukan oleh aspek afektif dan psikomotor. Karena ajaran Islam bukan hanya

terkait dengan pengetahuan semata, akan tetapi yang paling menentukan adalah

dalam aplikasinya dalam kehidupan (pengamalannya). Azizy (2003: 58),

menekankan pentingnya pelajaran agama Islam diikuti dengan praktek langsung oleh

tiap-tiap siswa yang mengikuti materi pelajaran pendidikan Islam. Lebih lanjut Azizy

mencontohkan, ajaran Islam yang bermuatan etika sosial seperti kesucian dan

kebersihan (t}aharah dan naz}afah) seharusnya bukan untuk dihafal saja, melainkan

harus langsung dipraktekkan.

Demikian pula ajaran tentang ketepatan waktu (al-as}r), tanggung jawab

(mas’u<liyah), menepati janji (wafa’ al ‘ahd), dan hal-hal yang terkait dengan hak-

hak orang lain (haq al-adami), juga harus dipraktekkan langsung, disamping tentunya

ajaran pokok Islam, s}alat, zakat, puasa dan haji (Azizy, 2003: 58). Dengan

demikian, akan dapat dihindari adanya pemberian nilai yang kurang tepat. Misalnya,

44
memberikan nilai 9 atau bahkan 10 pada mata pelajaran agama Islam terhadap siswa

yang tidak rajin shalat, tidak rajin puasa, dan tidak memiliki akhlak yang baik, hanya

karena siswa tersebut mampu menjawab dengan benar sebagian besar atau bahkan

keseluruhan pertanyaan yang diujikan.

Sedangkan siswa yang rajin s}alat, rajin puasa, dan menunjukkan prilaku

akhlakul karimah memperoleh nilai 6 pada mata pelajaran agama Islam hanya

karena tidak dapat menjawab dengan benar semua pertanyaan atau sebagian besar

pertanyaan yang diujikan. Dengan sitem penilaian semisal ini, akan lebih fair dan

jujur dalam menilai siswa, sekaligus menghindari tuduhan sebagian orang yang

beranggapan bahwa Islam diajarkan lebih menekankan pada hafalan, menekankan

pada hubungan formalitas antara hamba dengan Tuhan, mengabaikan penalaran

dan argumentasi berfikir untuk problem-problem keagamaan, dan mengabaikan

penghayatan nilai-nilai agama dalam pengamalannya, serta mengukur

keberhasilan pendidikan agama Islam hanya masih bersifat formalitas dan

verbalitas (Azizy, 2003: 61).

B. Motivasi Belajar

1. Pengertian

Dalam pengggunaan istilah, sering terdapat penyamaan istilah motif dan

motivasi untuk menyatakan hal yang sama. Mempersamakan kedua istilah itu

memang tidak menimbulkan kerugian, namun ada baiknya diketahui, bahwa istilah

itu tidak persis sama.

W.S. Winkel (1983: 53) mengatakan bahwa ”motif” adalah:

45
”...daya penggerak di dalam diri orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas
tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu. Jadi motif itu merupakan suatu
kondisi internal atau disposisi internal. Dalam bahasa yang lebih sederhana,
motif itu adalah ”kesiap-siagaan” dalam diri seseorang. Motivasi diartikan
sebagai motif yang sudah menjadi aktif pada saat melakukan suatu perbuatan,
sedangkan motif sudah ada dalam diri seseorang, jauh sebelum orang itu
melakukan suatu perbuatan”.

Whittaker dalam Pasaribu (1983: 50), mendefinisikan motif sebagai berikut:

”Motivasion is broad term used in psichology to cover those internal conditions or

states that activate or energize the organism and that lead to goal directed

behaviour”. (motivasi adalah suatu istilah yang sifatnya luas, yang digunakan dalam

psikologi, yang meliputi kondisi-kondisi atau keadaan internal yang mengaktifkan

atau memberi kekuatan kepada organisme, dan mengarahkan tingkah laku organisme

mencapai tujuan).

Mulyani M. dalam Darsono (1984: 62), mengambil definisi dari Atkinson

sebagai berikut: ”Motif adalah suatu disposisi laten yang berusaha dengan kuat untuk

menuju ke tujuan tertentu; tujuan ini dapat berupa prestasi, afiliasi, atau kekuasaan”.

”Motivasi adalah keadaan individu yang terangsang yang terjadi jika suatu motif telah

dihubungkan dengan suatu pengharapan yang sesuai”.

Sardiman (2001: 71), berpendapat bahwa motivasi berasal dari kata “motif ”

yang diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan

sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan di dalam

subyek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.

Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiap-siagaan ). Berawal

dari kata “motif” maka motivasi dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah

menjadi aktif. Menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri

46
seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului dengan

tanggapan terhadap adanya tujuan. W.S Winkel mengatakan bahwa “motif” adalah

daya penggerak di dalam diri orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu,

demi mencapai suatu tujuan tertentu. Motif adalah keadaan dalam pribadi orang yang

mendorong individu atau melakukan aktivitas tertentu guna mencapai suatu tujuan

(Suryabrata, 1990: 70).

Sedangkan Clifford T. Morgan (1961: 66) berpendapat, “Motivation is a

general term referring to state that motivate behaviour, to the behaviour motivated by

these, and to the goals or end of such behaviour”. Motivasi adalah istilah umum yang

menunjukkan kepada keadaan yang menggerakkan tingkah laku, tingkah laku itu

digerakkan oleh adanya kedudukan dan untuk tujuan akhir dari tingkah laku.

Dalam kegiatan belajar mengajar, apabila ada seseorang siswa, tidak berbuat

sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab itu

biasanya bermacam-macam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, lapar, ada

problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan

energi, tidak terangsang afeksinya untuk melakukan sesuatu, karena tidak memiliki

tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan daya upaya

yang dapat menemukan sebab-sebabnya dan kemudian mendorong seseorang siswa

mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata

lain siswa perlu diberi rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya.

Motivasi juga dapat dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-

kondisi tertentu, sehingga sesorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia

tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak

47
suka itu. Jadi motivasi dapat dirangsang oleh faktor luar tetapi motivasi itu adalah

tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat

dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan

kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang

memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh

subyek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan keseluruhan, karena pada umumnya ada

bebrapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi

belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya

yang khas adalah dalam menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat untuk

belajar. Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk

melakukan kegiatan belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri suatu ceramah, tetapi

karena tidak tertarik pada materi yang diceramahkan, maka tidak akan mencamkan,

apalagi mencatat isi ceramah tersebut. Seseorang itu tidak memiliki motivasi, kecuali

karana paksaan atau sekedar seremonial. Seseorang yang memiliki intelligensia

cukup tinggi, boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi (Sardiman, 2001: 73).

Hasil belajar itu akan optimal kalau ada motivasi yang tepat dengan demikian

maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja mempersalahkan pihak siswa. Sebab

mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu

membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat belajar. Jadi tugas guru

bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi.

Persoalan motivasi ini, dapat juga dikaitkan dengan persoalan minat.

Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-

ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan

48
atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, apa yang dilihat seseorang

sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu

mempunyai hubungan dengan kepentingannya sendiri. Hal ini menunjukkan

bahwa minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang kepada seseorang

(biasanya disertai dengan perasaan senang), karena itu merasa ada kepentingan

dengan sesuatu itu. Menurut Bernard, minat timbul tidak secara tiba-tiba/spontan,

melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu

belajar atau bekerja. Jadi minat akan selalu berkait dengan soal kebutuhan atau

keinginan. Oleh karena itu yang penting bagaimana menciptakan kondisi tertentu

agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar.

Berdasarkan definisi dan penjelasan tersebut dapat disimpukan bahwa ”motif”

tidak hanya mendorong orang untuk bertingkah laku, tetapi juga memberi arah pada

tingkah laku yang mengarah pada pencapaian tujuan, bahwa motif itu bersifat

potensial, sedangkan motivasi bersifat aktual. ”Motivasi belajar” dapat diartikan suatu

tenaga daya penggerak yang bersifat non intelektual, yang berupa dorongan, (alasan,

kemauan), dari dalam maupun dari luar yang menyebabkan siswa berbuat atau

melakukan aktivitas belajar.

2. Macam-macam Motivasi

Berbicara tentang macam atau jenis motivasi, dapat dilihat dari berbagai sudut

pandang. Dengan demikian menurut Sardiman (2001: 84), motivasi atau motif-motif

yang aktif itu sangat bervariasi.

a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya

49
1) Motif-motif bawaan.

Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak

lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Misalnya dorongan untuk makan,

dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan

seksual. Motif-motif ini seringkali disebut motif-motif yang disyaratkan secara

biologis. Relevan dengan ini, maka Frandsen (Sardiman, 2001: 84) memberi

istilah jenis motif Psysiological drives.

2) Motif-motif yang dipelajari.

Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Misalnya;

doronganm untuk mengajar sesuatu didalam masyarakat. Motif-motif ini

seringkali disebut dengan motif-motif yang diisyaratkan secara sosial. Sebab

manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain,

sehingga motivasi itu terbentuk. Frandsen mengistilahkan dengan affiliative

needs. Sebab justru dengan kemampuan berhubungan, kerja sama di dalam

masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri. Sehingga manusia perlu

mengembangkan sifat-sifat ramah, kooperatif, membina hubungan baik dengan

sesama, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hal ini

dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi. Frandsen masih menambah

jenis- jenis motif ini:

a) Cognitive motives

Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut kepuasan

individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya

berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer

50
dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan

pengembangan intelektual.

b) Self-Expression

Penampilan diri adalah sebagaian dari perilaku manusia. yang penting

kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu

terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang

diperlukan kreativitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang itu ada

keinginan untuk aktualisasi diri.

c) Self-enhancement

Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan

meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi

salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana

kompetisi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.

b. Jenis-jenis Motivasi Menurut Woodworrth dan Marquis

Menurut Woodworrth dan Marquis dalam Sardiman (2001: 86), jenis-jenis

motivasi adalah:

1) Motif atau kebutuhan organis, misalnya; kebutuhan untuk minum, makan,

bernafas, seksual, berbuat dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan

jenis Psysiological drives dari Frandsen.

2) Motif-motif darurat, yang termasuk dalam jenis ini anatara lain: dorongan

untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk

memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.

51
3) Motif-motif obyektif. Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan

eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini

muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif .

c. Motivasi Jasmaniah dan Rohaniah

Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua

jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi

jasmaniah misalnya; refleks, instink otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk

motivasi rohaniah, yaitu kemauan (Sardiman, 2001: 86).

d. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik

1) Motivasi intrinsik

Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang

menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam

diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh

seseorang yang senang membaca, tidak usah ada yang menyuruh atau

mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Dilihat dari

segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, maka yang dimaksud dengan motivasi

instrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan

membaca itu sendiri. Seorang siswa itu melakukan belajar, karena betul-betul

ingin mendapat pengetahuan, nilai atau ketrampilan agar dapat berubah

tingkahlakunya secara konstruktif, tidak karena tujuan yang lain-lain. ” Instrinsic

motivations are inherent in the learning situasions and meet pupil-needs and

purpses”. Motivasi instrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang

didalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan

52
dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti

contoh bahwa seseorang belajar, memang benar-benar ingin mengetahui segala

sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.

Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan

memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli

dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang

ingin dicapai adalah belajar, tanpa belajar tidak mungkin dapat pengetahuan, tidak

mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu

kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharusan untuk menjadi orang yang

terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran

diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbul dan seremonial.

2) Motivasi ekstrinsik

Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya

karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena

tahu besuk paginya akan ujian dengan harapan mendapatkan nilai baik, sehingga

akan mendapatkan pujian dari temannya. Jadi yang penting bukan karena belajar

ingin mengetahui sesuatu, tetapi ingin mendapatkan nilai yang baik, atau agar

mendapatkan pujian. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang

dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang

dilakukannya itu. Oleh karena itu motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan

sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan

diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak secara mutlak berkaitan

dengan aktivitas belajar.

53
Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi esktrinsik ini tidak baik

dan tidak penting. Dalam kegiatan belajar-mengajar tetap penting. Sebab

kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin

komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang

menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik. Karena itu pula

motivasi diklasifikasikan menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik

(Rusyan,1989:120).

Kesimpulanya adalah bahwa motivasi intrinsik yaitu motif-motif yang

menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dari

dalam individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan

motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya

perangsang dari luar.

3. Fungsi Motivasi dalam Belajar

Di dalam realitas pendidikan, motivasi belajar tidak selalu timbul dalam diri

siswa. Sebagian siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi, tetapi sebagian lain

motivasinya rendah atau bahkan tidak ada sama sekali (Darsono, 1984: 63). Bagi

siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar, besar kemungkinan ia tidak akan

mencapai tujuan belajar. Bila hal seperti ini tidak diperhatikan, di bantu, maka siswa

akan gagal dalam belajar. Oleh karena itu, guru sebagai orang yang membelajarkan

siswa, harus peduli dengan masalah motivasi ini. Guru bukanlah pengajar yang sudah

lega bila semua pokok bahasan dari suatu mata pelajaran sudah tersampaikan tepat

pada waktunya. Ia tidak hanya berbangga hati bila ia telah menyampaikan materi

pelajaran dengan berbagai metode pembebelajaran yang canggih.

54
Disamping itu semua, yang tidak kalah pentingnya, ia harus mau dan mampu

memotivasi siswa yang rendah motivasi belajarnya, dan meningkatkan motivasi

siswa yang sudah mempunyai motivasi belajar. Kepedulian guru terhadap masalah

motivasi belajar siswa bukanlah hal yang mengada-ada, melainkan sebagai tugas

yang melekat dalam diri guru. Sekali guru dapat membangun motivasi siswa terhadap

pelajaran yang diajarkan, diharapkan seterusnya siswa akan selalu meminta mata

pelajaran tersebut.

Bahwa motivasi yang dilakukan oleh guru, pada mulanya bersifat ekstrinsik,

tetapi diharapkan untuk selanjutnya dapat berubah menjadi motivasi intrinsik.

Sebagai konsekuensi tugas memotivasi siswa, guru hendaknya memahami,

menghayati dan menerapkan konsep-konsep dan teknik-teknik memotivasi siswa.

Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak

mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar

adalah:

a. Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir


b. Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan
dengan teman sebaya
c. Mengarahkan kegiatan belajar
d. Membesarkan semangat belajar
e. Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja
yang berkesinambungan; individu dilatih untuk menggunakan
kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat berhasil (Dimyati dan
Mudjiono, 1994: 120).

Keberhasilan siswa dalam belajar bukan hanya ditentukan oleh

kemampuan intelektual, tetapi juga oleh segi-segi afektif terutama motivasi.

55
Dalam membangkitkan motivasi belajar para siswa, guru perlu memperhatikan

beberapa hal, yaitu:

1) Lebih banyak memberikan penghargaan atau pujian daripada hukuman,


sebab siswa lebih termotivasi oleh hal-hal yang menimbulkan rasa senang
daripada rasa sakit
2) Terhadap pekerjaan-pekerjaan siswa, sebaiknya guru memberikan
komentar tertulis dan jangan hanya komentar lisan
3) Pendapat dari teman-teman sekelas lebih memberikan motivasi yang kuat
daripada hanya pendapat dari guru
4) Strategi atau metode mengajar yang sesuai dengan minat siswa akan lebih
membangkitkan motivasi dibandingkan dengan yang bersifat teoritis
5) Guru hendaknya banyak menekankan pelajaran kepada kenyataan sebab
hal-hal yang nyata lebih membangkitkan motivasi dibandingkan dengan
yang bersifat teoritis
6) Penggunaan metode atau strategi mengajar yang bervariasi dapat
membangkitkan motivasi belajar
7) Kegiatan belajar yang banyak memberikan tantangan, lebih mengaktifkan
dan memberikan dorongan yang wajar (Sukmadinata, 2003: 265-266).

4. Bentuk-bentuk Motivasi di Sekolah

Motivasi bagi pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat

mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar

(Sardiman AM, 2001: 89 ). Dalam kaitan itu, perlu diketahui bahwa cara dan jenis

menumbuhkan motivasi adalah bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik

kadang-kadang tepat, dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Guru harus hati-

hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak

didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak

menguntungkan perkembangan belajar siswa.

Beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan

belajar di sekolah menurut Djamarah (2002: 115), diantaranya:

a. Memberi angka

56
Angka dalam hal ini sebagai simbul dari nilai kegiatan belajarnya.

Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka atau nilai baik.

Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai pada

raport angkanya baik.

Angka-angka yang baik bagi para siswa merupakan motivasi yang sangat

kuat. Bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar pokoknya

naik kelas saja. Ini menunjukkan motivasi yang dimilikinya kurang berbobot bila

dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka baik. Namun semua

itu harus diingat oleh guru bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum

merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu

langkah selanjutnya yang ditempuh adalah bagaimana cara memberikan angka-

angka dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap

pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif

saja tetapi juga keterampilan dan afeksinya.

b. Hadiah

Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu

demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik

bagi seorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan tersebut.

Misalnya hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan

menarik bagi seseorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.

c. Saingan/ kompetisi

Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk

mendorong belajar siswa. persaingan, baik persaingan individual maupun

57
persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. memang

persaingan banyak dimanfaatkan di dalam dunia industri atau perdagangan, tetapi

juga sangat baik digunakan untuk meningkatkan kegiatan belajar siswa.

d. Ego-involvement

Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas

dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan

mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang

cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai

prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik

adalah simbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa subjek belajar.

Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.

e. Memberi ulangan

Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan.

Oleh karena itu memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi. Tetapi

yang harus diingat oleh guru, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari)

karena bisa membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal ini guru harus terbuka

maksudnya, kalau akan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.

f. Mengetahui hasil

Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan

mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa hasil

belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan

suatu harapan hasilnya terus meningkat.

g. Pujian

58
Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan

baik, perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif

dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu supaya pujian ini

merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan

memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta

sekaligus akan membangkitkan harga diri.

h. Hukuman

Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan

secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu, guru harus

memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.

i. Hasrat untuk belajar

Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk

belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang

tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada

motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.

j. Minat

Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga

tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan

berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Minat dapat dibangkitkan dengan

cara; a) membangkitkan adanya suatu kebutuhan, b) menghubungkan dengan

persoalan pengalaman yang lampau, c) memberi kesempatan untuk mendapatkan

hasil yang baik, d) menggunakan berbagai macam bentuk mengajar.

k. Tujuan yang diakui

59
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, merupakan

alat motivasi yang sangat penting. Sebab dengan memahami tujuan yang harus

dicapai, dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah

untuk terus belajar.

5. Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Belajar adalah suatu tingkahlaku atau kegiatan dalam rangka

mengembangkan diri, baik dalam aspek kognitif, psikomotor, maupun sikap

(Darsono, 64). Agar kegiatan ini terwujud, harus ada motivasi, yang disebut

motivasi belajar.

Motivasi belajar dapat timbul tenggelam atau berubah, terkadang siswa

memiliki motivasi belajar tinggi dan terkadang motivasi belajarnya rendah, hal ini

disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Menurut Darsono(1984: 64-

67), siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi atau rendah di indikasikan

sebagai berikut:

a. Cita-cita atau Aspirasi

Cita-cita disebut juga aspirasi adalah suatu target yang ingin dicapai.

Penentuan target ini tidak sama bagi semua siswa. Target ini diartikan sebagai

tujuan yang ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi

seseorang.

Yang dimaksud dengan cita-cita atau aspirasi disini ialah tujuan yang

ditetapkan dalam suatu kegiatan yang mengandung makna bagi seseorang

(Winkel, 1989: 96). Aspirasi ini dapat bersifat positif, dapat pula bersifat negatif.

60
Siswa yang mempunyai aspirasi positif adalah siswa yang menunjukkan

hasratnya untuk memperoleh keberhasilan (Darsono, 1984: 65).

Sebaliknya siswa yang memiliki aspirasi negatif adalah siswa yang

menunjukkan keinginan atau hasrat menghindari kegagalan. Siswa yang

mempunyai aspirasi positif dan memmiliki taraf aspirasi realistik biasanya

mempunyai motif berprestasi, demikian sebaliknya. Siswa yang mempunyai

aspirasi negatif atau tidak realistik apabila penetapan taraf keberhasilan itu tidak

wajar, artinya terlalu tinggi atau terlalu rendah dibanding dengan kemampuan

belajar siswa atau kenyataan yang dicapai siswa sehari-hari.

b. Kemampuan Belajar

Dalam belajar dibutuhkan kemampuan, kemampuan ini meliputi beberapa

aspek psikis yang terdapat dalam diri siswa, misalnya pengamatan, perhatian,

ingatan, daya pikir, dan fantasi. Orang belajar dimulai dengan mengamati bahan

yang dipelajari. Pengamatan dilakukan dengan mengfungsikan panca indera.

Makin baik pengamatan seseorang makain jelas tanggapan yang terekam dalam

dirinya, dan makin mudah orang mereproduksi atau mengingatnya dan

mengolahnya kembali dengan berfikir, sehingga memperoleh sesuatu yang baru.

Daya fantasi juga sangat berpengaruh terhadap perolehan pengetahuan,

ketrampilan dan sikap.

Dalam kemampuan belajar, taraf perkembangan berfikir siswa, menjadi

ukuran. Siswa yang taraf perkembangan berfikirnya kongkrit tidak sama dengan

siswa yang sudah sampai pada taraf perkembangan berpikir operasional. Jadi

siswa yang mempunyai kemampuan belajar tinggi biasanya lebih bermotivasi

61
dalam belajar, karena siswa sepertinya itu lebih sering memperoleh sukses,

sehingga kesuksesan ini memperkuat motivasinya.

c. Kondisi Siswa

Kondisi siswa juga mempengaruhi motivasi belajar, kondisi fisik yang

lemah, misalnya lesu, mengantuk atau sakit, serta kondisi psikis, cemas dan

perasaan-perasaan yang tidak menyenagkan yang terbawa ke sekolah. Maka

kondisi-kondisi fisik dan psikologis semacam ini dapat menguragi bahkan

menghilangkan motivasi belajar siswa.

d. Kondisi Lingkungan

Kondisi lingkungan merupakan unsur-unsur yang datang dari luar diri

siswa. Lingkungan siswa, sebagaimana juga lingkungan individu pada umumnya,

ada tiga, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berarti unsur-unsur

yang mendukung atau yang menghambat dapat berasal dari ketiga lingkungan

tersebut. Suasana belajar yang menyenagkan, penampilan diri guru yang menarik,

membantu siswa termotivasi dalam belajar. Lingkungan fisik sekolah, sarana dan

prasarana yang baik dan memadai membuat siswa betah dan termotivasi belajar.

Kebutuhan berprestasi, dihargai, diakui yang merupakan kebutuhan emosional

psikologis harus terpenuhi, agar motivasi belajar timbul dan dapat dipertahankan.

e. Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar

Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang

keberadaannya dalam proses belajar tidak stabil, kadang-kadang kuat, kadang-

kadang lemah dan bahkan hilang sama sekali, khususnya kondisi-kondisi yang

62
sifatnya kondisioanal. Misalnya keadaan emosi siswa, gairah belajar, situasi

dalam keluarga dan lain-lain.

f. Upaya Guru Membelajarkan siswa

Upaya yang dimaksud adalah bagaimana guru mempersiapkan diri dalam

membelajarkan siswa mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikannnya,

menarik perhatian siswa, mengevaluasi hasil belajar siswa dan lain-lain. Bila

upaya-upaya tersebut dilaksanakan dengan berorientasi pada kepentingan siswa

maka diharapkan akan menimbulkan motivasi belajar siswa.

C. Kecerdasan (Intelegensi)

1. Pengertian

Kecerdasan atau intelligence ini pada awalnya menjadi perhatian utama bagi

kalangan ahli psikologi pendidikan. Semiawan (1997: 81-83) mengikhtisarkan

berbagai pengertian dan definisi tentang kecerdasan (intelligence) dari para ahli ke

dalam tiga kriteria, yakni judgment (penilaian), comprehension (pengertian), dan

reasoning (penalaran). Kecerdasan, (kecakapan) atau inteligence bukanlah substansi

(suatu benda) atau kekuatan, yang terletak dalam bagian tertentu dari tubuh

seseorang, perilaku intelegen atau cerdas ada kaitannya dengan konsep intelegensi.

Kecerdasan adalah penyifatan kualifikasi perilaku individu yang menunjukkan

pernyataan intelek yang digunakan (Makmun, 2004:53).

Claparede dan Stern dalam Sarwono (1996: 71), memberi definisi inteligensi

adalah penyesuaian diri secara mental terhadap situasi atau kondisi baru. Di lain pihak

Buhler memberi definisi intelegensi adalah perbuatan yang disertai dengan pemahaman

atau pengertian. Lebih lanjut ia memberikan definisi intelegensi sebagai berikut:

63
Intelegensi adalah kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah,

serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Kemampuan itu adalah

kemampuan untuk mengolah lebih jauh lagi hal-hal yang kita amati. Kemampuan ini

terdiri dari dua jenis, yaitu kemampuan umum dan kemampuan khusus.

Menurut Langer (2001: 16), inteligensi adalah kesanggupan dalam suatu

kesatuan untuk mendeteksi, mengartikan, menyimpan, menyusun dan memproses

tanda-tanda yang timbul di alam sekitar dan diri sendiri dan mengubah serta

menghasilkan itu semua menjadi satu pola-pola instruksi yang optimal. Optimal

dalam artian memberikan hasil yang menguntungkan bagi individu atau kelompok

dimana inteligensi itu bekerja.

Kesimpulanya inteligensi adalah kesanggupan penyesuaian diri secara mental

melalui penilaian, pengertian dan penalaran, dalam suatu kesatuan untuk mendeteksi,

mengartikan, menyimpan, menyusun dan memproses tanda-tanda yang timbul di

alam sekitar dan diri sendiri dan mengubah serta menghasilkan itu semua menjadi

satu pola-pola instruksi yang optimal. Optimal dalam artian memberikan hasil yang

menguntungkan bagi individu atau kelompok dimana inteligensi itu bekerja.

2. Kecerdasan Intelektual

Salah satu keistimewaan manusia dibandingkan dengan makhluk lain adalah

disamping manusia diberi kesempurnaan dan keindahan tubuh oleh Allah, manusia

juga diberi otak yang cerdas, dengan otak yang cerdas inilah manusia sangat berbeda

dengan makhluk-makhluk lainnya. Karena dengan kecerdasan otak manusia bisa

berfikir dan melahirkan peradaban. Sedangkan makhluk yang lain tidak mampu

berfikir layaknya manusia (Amin, 2003: 51).

64
Istilah kecerdasan Intelektual diperkenalkan untuk pertama kalinya pada

tahun 1912 oleh seorang ahli psikologi berkebangsaan Jerman bernama William

Stero. Salah satu cara yang digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya intelegensi

adalah dengan menerjemahkan hasil tes Intelegensi kedalam angka-angka yang

menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila di

bandingkan secara relatif terhadap suatu norma (Azwar, 1999: 51).

Dalam perspektif psikologis, kecerdasan Intelektual dianggap sebagai

kemampuan mental seseorang dalam merespon dan menyelesaikan problem-problem,

dari yang bersifat kuantitatif dan fenomenal, seperti matematika, fisika, data-data

sejarah dan sebagainya. Menurut Suharsono kecerdasan intelektual adalah

kemampuan seseorang untuk mengenal dan merespon alam semesta atau obyek yang

berada diluar dirinya (outward looking). Hal senada diungkapkan oleh Mulyadi

dalam Ummi (2002: 9) pemerhati dan praktisi masalah anak, ia mengatakan bahwa

kecerdasan Intelektual itu penting untuk memahami gejala alam dan gejala

pengetahuan.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa semua jenis kecerdasan itu sebagai suatu

potensi; sesungguhnya ada pada setiap orang hanya saja tinggi rendah atau kuat

lemahnya masing-masing kecerdasan itu berbeda-beda. Demikian halnya dengan

potensi kecerdasan intelektual, ada pada setiap orang akan tetapi tingkatnya berbeda-

beda. Perbedaan tingkat Kecerdasan Intelektual (IQ) itu, dapat dilihat dari hasil

penelitian yang dilakukan oleh Wechster yang dikutip oleh Amin (2003: 70), dengan

klasifikasi intelegensi sebagai berikut:

IQ 130 – ke atas : Sangat unggul (genius)


IQ 120 – 129 : Unggul

65
IQ 110 – 119 : Cakap normal
IQ 90 – 109 : Rata-rata
IQ 80 – 89 : Lamban normal
IQ 70 – 79 : Batas dungu
IQ 70 – ke bawah : Cacat mental

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan kecerdasan

Intelektual (Amin, 2003: 70-80) adalah:

a. Penalaran

Penalaran adalah cara kerja dan sekaligus karakteristik kecerdasan

Intelektual, untuk mengembangkan kecerdasan Intelektual harus terus menerus

melakukan penalaran terhadap segala hal, terutama tentang fenomena alam, pada

diri manusia sendiri, perkembangan IPTEK dan sebagainya.

b. Eksperimen

Disamping penalaran, eksperimen juga merupakan langkah penting untuk

mengembangkan kecerdasan intelektual dan menjadi kegiatan yang disenangi

oleh orang cerdas intelektual. Dorongan rasa ingin tahu yang tinggi membuat

mereka suka melakukan eksperimen. Biasanya mereka tidak terlalu

mempedulikan kegagalan, justru kegagalan menjadi batu loncatan bagi

penyempurnaan-penyempurnaan terhadap temuan mereka.

c. Ingatan

Orang yang cerdas Intelektual, mempunyai daya ingat yang baik. Daya

ingat atau kemampuan mengingat itu sangat penting, baik untuk keperluan

belajar, pengembangan ilmu pengetahuan dan lain-lain. Lebih lanjut Amin (2003:

66
51-52) mengutip dalam buku “The Great Memory Book” karya Eric Jensen dan

Karen Markowitz: “ingatan merupakan suatu proses biologi yakni informasi di

beri kode dan dipanggil kembali”. Pada dasarnya ingatan adalah suatu yang

membentuk jati diri manusia dan membedakan manusia dari makhluk hidup

lainnya. Ingatan memberi manusia titik-titik rujuk pada masa lalu dan perkiraan

masa depan, ingatan merupakan kumpulan reaksi elektronika yang rumit yang

diaktifkan melalui beragam saluran inderawi dan disimpan dalam jaringan syaraf

yang sangat rumit dan unik diseluruh bagian otak. Ingatan yang sifatnya dinamis

itu terus berubah dan berkembang sejalan dengan bertambahnya informasi yang

disimpan.

Taraf kecerdasan umum tiap-tiap orang berbeda-beda. Hal ini antara lain

sudah ditentukan atau merupakan bawaan sejak lahir. Di samping orang- orang

yang pandai, terdapat pula orang-orang yang bodoh, sedangkan yang terbanyak

adalah yang bertaraf rata-rata (Sarwono, 1996: 72). Menyadari hal ini, sejak lama

sudah diusahakan dalam psikologi, untuk mengukur taraf inteligensi pada

manusia. Dalam psikologi, pengukuran inteligensi dilakukan dengan alat-alat

psiko-diagnostik tertentu (psikometri), yang oleh orang awam lebih dikenal

dengan nama psikotes, hasil pengukuran inteligensi biasanya dinyatakan dalam

satuan ukuran tertentu yang dapat menyatakan tinggi rendahnya inteligensi yang

diukur, yaitui IQ (singkatan dari istilah bahasa Inggris “ Intelligence Quotient”,

yang berarti “ hasil bagi taraf kecerdasan” (Makmun, 2004: 59-60).

Dengan demikian dapat diambil suatu pengertian bahwa kecerdasan

intelektual adalah kemampuan mental seseorang dalam merespon dan

67
menyelesaikan problem-problem dari yang bersifat kualitatif dan fenomenal

(matematika, fisika, data-data sejarah dan sebagainya), dan atau kemampuan

seseorang untuk mengenal dan merespon alam semesta atau obyek yang berada

diluar dirinya.

3. Kecerdasan Emosional

a. Pengertian

Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990

oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari

University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional

yang tampaknya penting bagi keberhasilan (Shapiro, 1997: 5).

Istilah kecerdasan emosional baru dikenal secara luas dengan

diterbitkannya buku Daniel Goleman: Emotional Intelligence. Goleman

mengatakan: “Emotional Intelligence: abilities as being able to motivate oneself

and persist in the face of frustration, to control impulse and delay gratification, to

regulate one’s moods and keep distress from swamping the ability to think, to

empathizes and to hape (Goleman, 1995: 35).

“Kecerdasan emosional: kemampuan seperti kemampuan untuk

memotivasi diri sendiri dan bertahan mengahadapi frustasi, mengendalikan

dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan

menjaga agar beban stress yang dapat melumpuhkan kemampuan berfikir,

berempati dan berdo’a.”

Dengan kata lain kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan untuk

memahami perasaan diri masing-masing dan perasaan orang lain. Kemampuan

68
untuk memotivasi dirinya sendiri dan menata dengan baik emosi yang muncul

dalam dirinya dan dalam hubungan dengan orang lain.

b. Komponen Kecerdasan Emosional

1) Empati: Kemampuan untuk ikut merasakan perasaan orang lain empati

diartikan sebagai melihat sesuatu melalui mata orang lain. Beberapa

ketrampilan yang diperlukan adalah mendengarkan dengan seksama serta

membaca bahasa tubuh non verbal dan nada suara, yang sering lebih banyak

mengungkapkan perasaan dari pada kata-kata. Empati bisa dipandang dengan

memahami emosi non verbal orang lain (Asatiadarma, 2003: 45).

2) Kemandirian: Bentuk sikap terhadap obyek dimana individu memiliki

independensi yang tidak terpengaruh terhadap orang lain. Schaefer

menggunakan otonomi untuk kemandirian yang berarti berdiri di atas kaki

sendiri yaitu keinginan untuk menguasai dan mengendalikan tindakan sendiri

dan bebas dari pengendalian luar (Schaefer, 1994: 45). Tujuannya adalah

untuk menjadi seorang manusia yang mengatur diri sendiri, mengarahkan diri

sendiri, mengambil inisiatif mengatasi kesulitan-kesulitannya.

3) Motivasi: Sesuatu yang mendorong terjadinya suatu tindakan, perbuatan atau

pekerjaan, dapat dikatakan pula motivasi adalah kondisi mental seseorang

yang mendorong, mengarahkan dan menuntun melakukan aktivitas guna

mencapai tujuan dimana motif ini bukanlah sesuatu yang dapat diamati secara

langsung melainkan hanya dapat disimpulkan adanya, karena suatu yang

dapat disaksikan.

69
4. Kecerdasan Spiritual

a. Pengertian

Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan jenis ketiga setelah IQ dan

EQ. Pencetusnya adalah salah seorang anggota dari angkatan ke empat (the fourth

force) dalam sejarah psikologi yaitu David Lukots. Spiritual dalam Bahasa

Inggris berasal dari kata “Spirit” yang berarti batin, rohani dan keagamaan

(Echol, 1992: 546). Sedangkan dalam kamus psikologi, spiritual diartikan sebagai

sesuatu mengenai nilai-nilai transcendental (Hanafi, 1995:633). makna spiritual

sendiri berhubungan erat dengan eksistensi manusia dalam dunia ini.

Zohar dan Ian Marsal (2000: 3) berpendapat bahwa kecerdasan spiritual

adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup seseorang dalam

makna dan konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan untuk menilai

bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan

yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk menfungsikan IQ dan EQ

secara efektif. Dengan SQ manusia dapat menggali potensi yang demikian untuk

tumbuh dan berubah serta menjalankan lebih lanjut evaluasi potensi yang

dimilikinya. Manusia menggunakan SQ untuk menjadi kreatif, serta untuk

berhadapan dengan masalah eksistensial yaitu saat seseorang secara pribadi

merasa terpuruk, terjebak oleh kebiasaan.

SQ menjadikan kita sadar bahwa kita memiliki masalah eksistensial dan

membuat kita mampu mengatasinya atau setidak-tidaknya bisa berdamai dengan

masalah tersebut. SQ memberi kita semua rasa yang “dalam” menyangkut

perjuangan hidup. Kita menggunakan SQ untuk mencapai perkembangan diri

70
yang lebih utuh karena kita memiliki potensi untuk itu. Pada tingkatan ego murni

kita adalah egois, ambisius terhadap materi, serba aku, dan sebagainya. Akan

tetapi kita memiliki gambaran-gambaran transpersonal terhadap kebaikan,

keindahan, kesempurnaan, pengorbanan dan sebagainya. SQ membantu kita

tumbuh melebihi ego terdekat diri kita dan mencapai lapisan yang lebih dalam

yang tersembunyi di dalam diri kita ia membantu kita menjalani hidup pada

tingkatan makna yang lebih dalam (Nggermanto, 2002:143).

b. Komponen Kecerdasan Spiritual.

Disiplin merupakan kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari

serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan,

keteraturan dan ketertiban. Nilai-nilai tersebut telah menjadi bagian perilaku dalam

kehidupannya. Perilaku itu tercipta melalui proses binaan melalui keluarga,

pendidikan dan pengalaman.

Kejujuran adalah memberitahukan, memutuskan sesuatu dengan sebenarnya.

SQ menuntut kita untuk benar-benar jujur kepada diri sendiri, benar-benar sadar akan

diri kita sendiri. SQ tinggi menuntut integritas pribadi yang paling kuat, menuntut kita

agar terbuka menerima pengalaman, agar kita dapat menangkap kembali kemampuan

kita untuk memandang kehidupan dan orang lain denga cara pandang baru. Seolah-

olah dengan mata seorang anak, ia menuntut kita untuk tidak lagi mencari

perlindungan di dalam apa yang kita ketahui dan terus-menerus kita selidiki dan

pelajari apa yang tidak kita ketahui.

Kesadaran diri adalah mengetahui apa yang dirasakan pada suatu saat dan

menggunakannya untuk memandu mengembalikan keputusan diri sendiri,

71
mempunyai tolok ukur yang realitis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang

kuat. Kesadaran diri meliputi:

• Kesadaran emosi diri sendiri.

• Penilaian diri serta teliti: mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri.

• Percaya diri, keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri.

5. Tes IQ (Inteleligensi Question)

Ukuran inteligensi dinyatakan dalam IQ (Intelligence Quotient). Pada orang

dewasa (umur 16 tahun ke atas) IQ dihitung dengan cara memberikan seperangkat

pertanyaan yang terdiri dari berbagai soal (hitungan, kata-kata, gambar-gambar, dan

lain-lain) dan menghitung berapa banyaknya pertanyaan yang dapat dijawab dengan

benar dan membandingkannnya dengan sebuah daftar (yang dibuat berdasarkan

penelitian yang terpercaya) dan didapatkanlah nilai IQ orang yang bersangkutan

(Sarwono, 2004: 78).

Tetapi pada anak-anak cara menghitung IQ adalah dengan menyuruh anak

untuk melakukan pekerjaan tertentu dan menjawab pertanyaan tertentu (misalnya

menghitung sampai 10 atau 100, menyebut nama-nama hari atau bulan, membuka

pintu dan menutupnya kembali, dan lain-lain). Jumlah pekerjaan yang bisa dilakukan

anak kemudian dicocokkan dengan membuat daftar untuk mengetahui usia mental

(mental age = MA) anak. Makin banyak yang bisa dijawab atau dikerjakan anak,

makin tinggi usia mentalnya. Usia mental ini kemudian dibagi dengan usia kalender

(Callender age = CA) dan dikalikan 100, maka didapatkan IQ anak.

Jadi rumusnya adalah sebagai berikut: IQ = MA/CA X 100. Misalnya seorang

anak mempunyai usia mental 7 tahun sedangkan usia kalendernya 6 tahun, usia

72
IQnya = 7/6 X 100 = 116,6 atau 117. Kalau usia mentalnya hanya 5,5 tahun

sedangkan usia kalendernya 6 tahun, maka IQnya = 92. Kalau usia mentalnya tepat 6

tahun, maka anak yang berumur 6 tahun itu mempunyai IQ =100.

Di antara berbagai skala IQ yang diajukan oleh berbagai ahli, yang paling

banyak digunakan adalah skala yang dikembangkan oleh Wechsler dan Bellevue

yang dimulai dari 0 (nol) sampai dengan 200, dengan bilangan 100 sebagai titik

tengah atau rata-rata. (Sarwono, 1986: 72-73). Mereka menyatakan bahwa kalau

semua orang di dunia diukur inteligensinya maka akan terdapat orang-orang yang

sangat pandai sama banyaknya dengan orang-orang yang terbelakang. Orang-orang

yang superior sama banyaknya dengan orang-orang yang tergolong perbatasan

(border-line). Sedangkan yang terbanyak adalah orang-orang dari golongan

inteligensi rata-rata. Kalau dijabarkan skor IQ dan klasifikasinya adalah sebagai

berikut:

73
Tabel 2.3
Klasifikasi kecerdasan intelektual

IQ Klasifikasi % di antara Bila dihubungkan dg


Penduduk Dunia Tingkat Sekolah
Sampai de-
ngan 67 Terbelakang 2,2 Tidak dapat mengikuti
sekolah biasa
68 – 79 Perbatasan 6,7 Dapat mempelajari se-
suatu tetapi lambat
80 – 90 Kurang dari 16,1 Dapat menyelesaikan se-
rata- rata kolah dasar
91 – 110 Rata-rata 50,0 Dapat menyelesaikan
sekolah lanjutan
111 – 119 Di atas rata-rata 16,1 Dapat menyelesaikan
sekolah di atas sekolah
lanjutan tanpa banyak
kesulitan
120 – 127 Superior 6,7 Dapat menyelesaikan
tingkat Universitas tanpa
banyak kesulitan
128 ke atas Sangat superior 2,2 Orang-orang yg sangat
pandai: sarjana terke-
muka, pemimpin dunia,
para jenius dsb.
(Sarwono, 1996 : 73, 2004 : 79 ).

Pengukuran IQ yang dilakukan di atas diarahkan pada satu teori bahwa ada

yang dinamakan faktor umum (General faktor atau G-Faktor) pada inteligensi itu. G.

Faktor inilah yang diukur dengan IQ tersebut. Dengan demikian orang yang ber IQ

120, misalnya, akan berpenampilan sama dengan orang- orang lain yang ber IQ 120

juga. Kalau ada perbedaan maka itu disebabkan oleh faktor-faktor lain di luar

intelligensi seperti minat, pengalaman, sikap dan sebagainya.

Spearman dalam Sarwono (1986: 107) menyatakan bahwa di samping G-

Faktor ada juga S-Faktor (Special Faktor atau faktor khusus) di dalam intelligensi itu

sendiri. S. Faktor inilah yang menyebabkan orang-orang yang ber IQ sama,

penampilannya berbeda-beda. Sama-sama ber IQ 120, misalnya, orang yang satu

lebih terampil dalam bidang angka-angka sehingga ia menjadi ahli matematika,

74
sedangkan orang yang lain lebih fasih dalam kemampuan lisan sehingga ia menjadi

ahli bahasa.

Sedangkan Thurstone (1887-1955), mengatakan bahwa faktor umum itu tidak

ada. Yang ada hanya sekelompok faktor khusus yang olehnya diberi nama

kemampuan mental primer (Primary Menthal Abilities) yang terdiri dari 7 faktor

yaitu: pengertian lisan (verbal comprehension), kemampuan angka-angka (numerical

ability), penglihatan keruangan (spatial visualization), kemampuan penginderaan

(perceptual ability), ingatan (memory), penalaran (reasoning) dan kelancaran kata-

kata (word fluency) (Sarwono, 1986: 106).

Selanjutnya Thomson (1881-1955), kurang sependapat, bahkan juga tidak

setuju dengan faktor-faktor yang disebutkan oleh Thurstone itu. Ia berpendapat

bahwa faktor umum dalam intelligensi tidak ada, tetapi juga faktor khusus yang

berbeda-beda dari orang ke orang dan dari waktu ke waktu pada orang yang sama.

Faktor-faktor itu sedemikian banyaknya, tetapi yang berfungsi pada suatu saat

tertentu hanyalah sebagian kecil saja dari keseluruhan faktor yang ada (Sarwono,

1986 :107).

Di antara alat ukur kecakapan dasar (inteligensi) yang paling banyak dikenal

dan digunakan, juga di Indonesia, ialah Test Binet Simon (verbal test) yang

dikembangkan sejak tahun 1905 di Perancis dan direvisi serta dikembangkan di

Stanford (USA) mulai tahun 1916 ( Makmun, 59). Test Binet Simon dipersiapkan

untuk orang yang berusia mulai 3 sampai 15 tahun. Perhitungan IQ untuk orang yang

berusia lebih dari 15 tahun, CA-nya diperhitungkan menurut tingkat usia 15 tahun ini,

75
dengan asumsi bahwa perkembangan kecerdasan mencapai kemantapannya (mature)

pada tingkat usia tersebut (Makmun, 60).

Selanjutnya sejumlah ahli pendidikan, seperti Charles Spearman, Thurston,

Guilford dan Gardner, mengembangkan konsep kecerdasan baru yang dikenal dengan

multiple intelligence, yakni teori faktor jamak, dimana kecerdasan manusia dianggap

memiliki tujuh dimensi yang semi otonom, masing-masing adalah (i) linguistik, (ii)

estetis-musik, (iii) matematis-logis, (iv) visual-spasial, (v) kinestetik fisik, (vi) sosial-

interpersonal dan (vii) intra personal. Disebut dimensi-dimensi yang semi otonom,

karena orang yang cerdas dalam satu dimensi, misalnya matematika, tidak selalu

cerdas pada dimensi lainnya, misalnya estetik-musik. Teori ini banyak dirujuk

sejumlah pihak karena dianggap bisa memberikan deteksi dini terhadap bakat, potensi

dan kecenderungan anak (Suharsono, 2001: 82).

Untuk mendeteksi dasar khusus (aptitudes, bakat khusus) telah pula ada

berbagai perangkat alat ukurnya, antara lain: SRA-PMA (Science Research

Association-Primary Mental Abilities), DAT (Differential Aptitudes Tests), FACT

(Flanagan Aptitude Classification Tests). Tes ini dapat digunakan untuk

mengungkapkan, antara lain:

V = Verbal comprehension (pemahaman kata)


W = Word fluency (Kefasihan mengungkapkan kata)
N = Number (pemahaman bilangan)
S = Space (tilikan ruang)
M = Associative memory (daya mengingat secara asosiatif)
I or R = Induction or General Reasoning (berpikir logis)
Mo = Motor (Kecakapan gerak) (Makmun, 2004: 60).
Kalau diperhatikan secara seksama teori multiple intelligence tersebut,

sebenarnya sebagian besarnya telah diimplementasikan di dalam mata pelajaran di

sekolah. Anak-anak kita yang telah sekolah, baik ditingkat dasar maupun lanjutan,

76
sebenarnya sedang dalam proses meningkatkan kecerdasan dalam pengertian

tersebut. Tetapi dalam proses pendidikan tersebut apakah anak kita cukup cerdas,

sangat cerdas, atau kurang cerdas? Pertanyaan seperti ini selalu menjadi konsern dan

kepedulian orang tua. Karena dengan mengetahui tingkat kecerdasan tersebut, orang

tua bisa mengambil langkah-langkah yang sesuai, tentunya demi masa depan

anaknya.

6. Indikator Kecerdasan (Intelligen)

Kecerdasan, (kecakapan) atau inteligence bukanlah substansi (suatu benda)

atau kekuatan, yang terletak dalam bagian tertentu dari tubuh seseorang, perilaku

intelegen atau cerdas ada kaitannya dengan konsep intelegensi. Kecerdasan adalah

penyifatan kualifikasi perilaku individu yang menunjukkan pernyataan “intelect put

to use” (intelek yang digunakan) (Makmun, 2004:53).

Individu memperoleh kecakapan tertentu bukan karena kelahirannya semata-

mata, melainkan juga karena perkembangan dan pengalamannya. Memang ia

dianugerahi potensi dasar atau kapasitas (capacity) untuk berperilaku intelligen,

sesungguhnya kecakapan individu atau yang sering juga disebut abilitas (ability) itu

dapat dibedakan ke dalam dua kategori, 1) kecakapan nyata atau aktual (actual

ability), yang menunjukkan kepada aspek kecakapan yang segera dapat

didemontrasikan dan diuji sekarang juga karena merupakan hasil, atau belajar yang

bersangkutan dengan cara, bahan, dan dalam hal tertentu yang telah dijalaninya

(achievement, prestasi); 2) kecakapan potensial (potensial ability), yang

menunjukkan kepada aspek kecakapan yang masih terkandung dalam diri yang

bersangkutan yang diperolehnya secara herediter (pembawaan kelahirannya), yang

77
mungkin dapat merupakan: abilitas dasar umum (general intelligence), dan abilitas

dasar khusus dalam bidang tertentu (bakat/aptitudes).

Kecerdasan atau intelegensi dan bakat (kecakapan potensial) hanya dapat

dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikator yang dimanifestasikan dalam

kualifikasi perilaku. Witherington (1952) dalam (Makmun, 2004: 54), menunjukkan

manifestasi dari indikator-indikator perilaku intelegen antara lain: 1) kemudahan

dalam menggunakan bilangan (facility in the use of the numbers); 2) efisiensi dalam

bahasa (language efficiency); 3) kecepatan dalam pengamatan (speed of perception );

4)kemudahan dalam mengingat (facility in memorizing ); 5)kemudahan dalam

memahami hubungan (facility in comprehending relationships ); 6) imaginasi

(imagination).

Dengan mengetahui indikator-indikator perilaku intelligen, para ahli telah

mengembangkan alat ukurnya yang dibakukan (standardized test) baik untuk

kecerdasan dasar umum (general intelegence test) maupun kecakapan dasar khusus

(aptitude tests). Berdasarkan data atau informasi hasil pengukuran, para ahli telah

mengadakan pengelompokan, yang diperlukan bagi proses seleksi atau penempatan

orang-orang, menurut intelegensia perilaku. Dalam term kecakapan dasar umum

(general intelegence), orang-orang yang berasal dari atau berada lama dalam populasi

produk dapat dibagi ke dalam kategori: (a) superior atau genius1 (b) normal2 (c) sub

normal atau mentally deffective atau mentally retarded3.

1
Superior atau genius (mereka yang dapat bertindak jauh lebih cepat dan dengan
kemudahan dibandingkan dengan anggota kelompok lainnya); Pria ber IQ tinggi dicirikan-tak
mengherankan dengan serangkaian luas kemampuan dan minat intelektual. Penuh ambisi dan
produktif, dapat diramalkan dan tekun dan tidak dirisaukan oleh urusan-urusan tentang dirinya
sendiri. Cenderung bersikap kritis dan meremehkan, pilih-pilih dan malu-malu, kurang menikmati
seksualitas dan pengalaman sensual, kurang ekspresif dan menjaga jarak, dan secara emosional

78
Dalam term kecakapan dasar khusus (aptitudes, group faktors) orang-orang

dapat dikelompokkan ke dalam kategori yang memiliki kemampuan dasar khusus

dalam bidang: (a) bilangan (numirical abilities); (b) bahasa (verbal abilities) (c)

tilikan ruang (spatial abilities); (d) tilikan hubungan sosial (social abilities); (e) gerak

motoris (motorical abilities) (Makmun, 2004: 55).

Kecerdasan atau intelegensi dan bakat (kecakapan potensial) hanya dapat

dideteksi dengan mengidentifikasi indikator-indikator yang dimanifestasikan dalam

kualifikasi perilaku. Manifestasi dari indikator-indikator perilaku intelegen antara

lain: 1) kemudahan dalam menggunakan bilangan, 2) efisiensi dalam bahasa, 3)

kecepatan dalam pengamatan, 4) kemudahan dalam mengingat, 5) kemudahan dalam

memahami hubungan, 6) imaginasi.

Dalam term kecakapan dasar umum (general intelegence), orang-orang yang

berasal dari atau berada lama dalam populasi produk dapat dibagi ke dalam kategori :

(a) superior atau genius (b) normal (c) sub normal atau mentally deffective atau

mentally retarded.

Sedangkan dalam term kecakapan dasar khusus (aptitudes, group faktors)

orang-orang dapat dikelompokkan ke dalam kategori yang memiliki kemampuan

membosankan dan dingin (Goleman, 2000: 60). Wanita yang ber-IQ tinggi mempunyai keyakinan
intelektual yang tinggi, lancar mengungkapkan gagasan, menghargai masalah-masalah
intelelektual, dan mempunyai minat intelektual dan estetika yang amat luas. Mereka juga
cenderung mawas diri, mudah cemas, gelisah dan merasa bersalah dan ragu-ragu untuk
mengungkapkan kemarahan secara terbuka (meskipun melakukannya secara tidak langsung)
(Goleman: 61).
2
Normal (mereka yang rata-rata atau pada umumnya dapat bertindak biasa dengan
kecepatan, ketepatan, dan kemudahannya seperti tampak pada sebagian besar kelompoknya
menurut batasan- batasan waktu dan tingkat kesukaran yang telah ditetapkan );
3
Sub-normal atau mentally defective atau mentally retarded (mereka yang bertindak jauh
lebih lambat kecepatannya, dan jauh lebih banyak ketidak tepatannya dan kesulitannya,
dibandingkan dengan anggota kelompoknya yang lain ) yang secara lebih teliti lagi dibedakan ke
dalam kategori orang- orang 1) debil (moron) yang masih mendekati orang normal yang berusia 9-
10 tahun; 2) imbecile mendekati orang normal sekitar usia 5-6 tahun; 3) idiot mendekati orang
normal berusia di bawah 4 tahun.

79
dasar khusus dalam bidang: (a) bilangan, (b) bahasa, (c) tilikan ruang, (d) tilikan

hubungan social, (e) gerak motoris.

Dengan demikian indikator-indikator perilaku intelligen adalah, orang yang

mempunyai kemampuan; kemudahan dalam menggunakan bilangan, efisien dalam

berbahasa, kecepatan dalam pengamatan, kemudahan dalam mengingat, kemudahan

dalam memahami hubungan, dan memiliki imaginasi positif.

D. Penelitian Terkait

Telaah atas penelitian, tentang pengaruh motivasi belajar dan kecerdasan

intelektual terhadap prestasi belajar siswa Madrasah Tsanawiyah, pada mata pelajaran

Pendidikan Agama Islam (PAI), secara umum memiliki kesamaan dengan penelitian

yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Namun secara spesifik dan

fokus masalah, ada perbedaan. Beberapa peneliti dimaksud:

Muchtarom (2005) menulis tesis dengan judul “Pengaruh Perhatian Orang

Tua dan Latar Belakang Pendidikan Siswa terhadap Prestasi Belajar Agama Siswa

SMKN Jepara”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hubungan

antara latar belakang pendidikan siswa dengan perhatian orang tua, dan interaksi antar

faktor-faktor tersebut terhadap pencapaian prestasi belajar PAI siswa. hasil penelitian

itu menunjukkan bahwa: 1) tidak terdapat perbedaan antara prestasi belajar PAI yang

cukup signifikan, 2) tidak terdapat perbedaan antara siswa yang mendapat perhatian

tinggi dan perhatian rendah dari orang tua mereka. 3) tidak terdapat pengaruh yang

interaktif antara perhatian orang tua baik tinggi maupun rendah dan latar belakang

pendidikan baik MTs maupun SMP terhadap prestasi belajar, 4) terdapat perbedaan

80
antara prestasi belajar PAI yang cukup signifikan antara yang berlatar belakang

pendidikan MTs dan SMP.

Astuti (2007) dengan judul “Perbedaan motivasi berprestasi dan Hasil

Belajar Fisika Dengan menggunakan Model Pembelajaran Induktif dan Model

Pembelajaran Konvensional Siswa SMP Negeri 24 Bandar Lampung” dalam tesis ini

menyimpulkan adanya hubungan yang positif dan cukup erat serta signifikan antara

motivasi belajar dengan hasil belajar pada pembelajaran induktif.

Berdasar telaah penelitian Muchtarom dan Astuti, maka dalam penelitian ini

akan ditampilkan kajian tentang hubungan antara motivasi belajar dan kecerdasan

intelektual siswa terhadap prestasi belajar PAI siswa. Karena variabel-variabel

tersebut, menurut peneliti belum tersentuh sama sekali. Padahal variabel kecerdasan

intelektual siswa, sangat penting dan belum pernah ada yang meneliti, terutama pada

MTs tempat penulis melakukan penelitian.

E. Kerangka Pemikiran

1. Hubungan Motivasi Belajar dengan Prestasi Belajar Agama Islam.

Melakukan perbuatan belajar, secara relatif, tidak semudah melakukan

kebiasaan-kebiasaan yang sudah dilakukan secara rutin, seperti makan, tersenyum,

tidur dan lain-lain. Oleh karena itu motivasi belajar sangat dibutuhkan dalam proses

belajar dan pembelajaran. Motivasi belajar tidak sama kuatnya pada setiap siswa, dan

motivasi dalam diri seorang siswa tidak tetap, kadang-kadang kuat, dan kadang-

kadang lemah, bahkan suatu saat motivasi belajar dapat hilang sama sekali.

Dalam kenyataannya, motivasi belajar ini (motivasi Intrinsik) tidak selalu

timbul dalam diri siswa. Sebagian siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi,

81
tetapi sebagian lain motivasinya rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Bagi

siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar. Bila hal ini tidak diperhatikan, tidak

dibantu, maka siswa akan gagal dalam belajar. Oleh karena itu, guru sebagai orang

yang membelajarkan siswa, harus peduli dengan masalah motivasi ini (motivasi

ekstrinsik). Guru bukanlah pengajar yang sudah lega bila semua pokok bahasan dari

suatu mata pelajaran sudah tersampaikan tepat pada waktunya. Dan tidak hanya

berbangga hati bila ia telah menyampaikan materi pelajaran dengan bebagai metoda

pembelajaran yang canggih. Disamping itu semua, yang tidak kalah pentingnya,

adalah harus mau dan mampu memotivasi siswa yang rendah motivasi belajarnya,

dan meningkatkan motivasi siswa yang sudah mempunyai motivasi belajar.

Kepedulian guru terhadap masalah motivasi belajar siswa bukanlah hal yang

mengada-ada, melainkan sebagai tugas yang melekat dalam diri guru. Asumsinya

sekali guru dapat membangun memotivasi siswa terhadap pelajaran yang diajarkan,

diharapkan seterusnya siswa akan selalu meminta mata pelajaran tersebut.

Dengan demikian, dapat ditarik suatu pmahaman bahwa diasumsikan

semakin tinggi motivasi belajar anak, baik motivasi itu bersifat (intrinsik ) dari

dalam ataupun karena dorongan dari luar (ekstrinsik), maka semakin tinggi pula

prestasi belajar agama yang diraih siswa. Demikian sebaliknya, semakin rendah

motivasi belajar anak, baik motivasi itu bersifat (intrinsik ) dari dalam ataupun

karena dorongan dari lauar (ekstrinsik ), maka semakin rendah pula prestasi

belajar agama yang diraih siswa.

82
2. Hubungan Kecerdasan Intelektual dengan Prestasi Belajar Agama Islam

Kecerdasan adalah penyifatan kualifikasi perilaku individu yang

menunjukkan pernyataan “intelect put to use” (intelek yang digunakan). Individu

memperoleh kecakapan tertentu bukan karena kelahirannya semata-mata, melainkan

juga karena perkembangan dan pengalamannya. Memang ia dianugerahi potensi

dasar atau kapasitas (capacity) untuk berperilaku intelegen, sesungguhnya kecakapan

individu atau yang sering juga disebut abilitas (ability) itu dapat dibedakan ke dalam

dua kategori yaitu; kecakapan nyata atau aktual (actual ability), yang menunjukkan

kepada aspek kecakapan yang segera dapat didemontrasikan dan diuji sekarang juga

karena merupakan hasil, atau belajar yang bersangkutan dengan cara, bahan, dan

dalam hal tertentu yang telah dijalaninya (achievement, prestasi). Dan kecakapan

potensial (potensial ability), yang menunjukkan kepada aspek kecakapan yang masih

terkandung dalam diri yang bersangkutan yang diperolehnya secara heredite

(pembawaan kelahirannya), yang dapat merupakan: Abilitas dasar umum (general

intelligence), dan abilitas dasar khusus dalam bidang tertentu (bakat, aptitudes).

Sesungguhnya kecerdasan intelektual ada pada setiap orang, hanya saja tinggi rendah

atau kuat lemahnya kecerdasan dari masing-masing orang itu berbeda-beda.

Perbedaan tingkat kecerdasan para siswa (Orang) dapat di klasifikasikan sebagai

berikut.

IQ 130 – ke atas : Sangat unggul


IQ 120 – 129 : Unggul
IQ 110 – 119 : Cakap normal
IQ 90 – 109 : Rata-rata
IQ 80 – 89 : Lamban normal
IQ 70 – 79 : Batas dungu
IQ 70 – ke bawah : Cacat mental

83
Mengingat siswa yang belajar di Madrasah rata-rata memiliki IQ sedang

maka, dari penjelasan tersebut dapat diasumsikan bahwa, siswa yang memiliki

kemampuan IQ tinggi akan mampu meraih prestasi belajar yang lebih tinggi dari pada

siswa yang hanya memiliki kemampuan IQ sedang bahkan rendah.

Dengan demikian, diasumsikan semakin tinggi kecerdasan intelektual siswa,

maka semakin tinggi pula prestasi belajar agama siswa, demikian sebaliknya,

semakin rendah kecerdasan intelektual siswa, maka semakin rendah pula prestasi

belajar agama yang diraih siswa.

3. Hubungan Motivasi Belajar dan Kecerdasan Intelektual secara Bersama-


sama (Simultan) dengan Prestasi Belajar

Salah satu rahasia psikologi yang telah menjadi makanan umum adalah

ketidakmampuan relatif nilai-nilai IQ, atau nilai SAT (School Aptitude Test, tes

bakat), kendati daya tarik test tersebut amat besar, untuk meramalkan dengan tepat

siapa-siapa yang akan berhasil. Yang jelas ada, suatu kaitan antara IQ dan lingkungan

tempat tinggal bagi kelompok-kelompok besar secara keseluruhan.

Ada banyak perkecualian terhadap pemikiran yang menyatakan bahwa IQ

meramalkan kesuksesan banyak (atau lebih banyak) perkecualian daripada kasus

yang cocok dengan pemikiran itu. Setinggi-tingginya, IQ menyumbang kira-kira 20

persen bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup (termasuk prestasi

belajar), maka yang 80 persen diisi oleh kekuatan-kekuatan lain.

Anak yang mempunyai IQ (Inteligensi Question) tinggi mungkin gagal dalam

pelajaran karena kekurangan/rendahnya motivasi. Anak yang gagal, tak begitu saja

dapat disalahkan. Hal ini bukan hanya faktor guru saja yang tak berhasil memberi

84
motivasi yang membangkitkan kegiatan pada anak, akan tetapi IQ anak itu sendiri

juga mempunyai bagian penting dalam penentuan tinggi rendahnya motivasi.

Disamping itu, siswa yang memiliki tingkat kecerdasan tinggi atau dapat

disebut sebagai anak dalam golongan gilted child atau talented chil, jika didalam

proses pembelajaran, kemampuan yang dimilikinya tidak terakomodasi secara layak

dan tepat, maka anak tersebut akan mengalami kesulitan belajar yang pada akhirnya

diduga tidak akan mampu mencapai prestasi belajar dengan baik. Demikian juga

sebaliknya, jika seorang siswa memiliki kecerdasan yang sedang, akan tetapi dia

mendapatkan pendidikan dan bimbingan dari seorang guru yang tepat, dan dia

mempunyai motivasi belajar yang tinggi, dia mendapatkan fasilitas yang memadai,

maka siswa tersebut diasumsikan akan mampu meraih prestasi yang baik. Dengan

demikian, dapat dipahami bahwa semua faktor yang ada, akan mampu berfungsi

sebagaimana seharusnya, jika semua faktor tersebut berfungsi secara simultan dan

bersama-sama dalam bekerja.

F. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka berfikir tersebut diatas, maka hipotesis yang penulis

ajukan adalah:

1. Terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar PAI.

2. Terdapat hubungan antara kecerdasan intelektual dengan prestasi belajar PAI.

3. Terdapat hubungan antara motivasi belajar dan kecerdasan inteletual siswa secara

bersama-sama (simultan) dengan prestasi belajar PAI.

85

Anda mungkin juga menyukai