0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan20 halaman

Masalah Sosial dalam Gim A Space for The Unbound

Diunggah oleh

jokiteknik68
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan20 halaman

Masalah Sosial dalam Gim A Space for The Unbound

Diunggah oleh

jokiteknik68
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108

Terakreditasi Sinta 4

Representasi masalah sosial dalam gim A Space for The Unbound kajian
analisis wacana A Teun Van Dijk

Awang Gandi Sebastian1, Purwanti2, & Irma Surayya Hanum3


1,2,3
Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Mulawarman
Email: ramlah211341@[Link]

ABSTRAK

Gim A Space for The Unbound merupakan game indie asal Indonesia yang merepresentasikan isu-isu
sosial di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan masalah-masalah sosial yang terdapat
dalam gim tersebut berdasarkan indikator dan kategori yang telah ditetapkan. Metode penelitan yang digunakan
ialah metode kualitatif. Penelitian metode ini berfokus pada eksplorasi dan pemahaman makna dibalik sejumlah
individu atau kelompok orang terkait dengan masalah-masalah sosial. Pendekatan kualitatif secara umum
digunakan untuk menyelidiki aspek-aspek kehidupan masyarakat, sejarah, perilaku, konsep, masalah sosial, dan
topik-topik lainnya. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan kajian analisis wacana Teun A Van Dijk untuk
menganalisis struktur teks, wacana kognisi, dan wacana konteks sosial, lalu dihubungkan dengan teori representasi
Stuart Hall. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gim A Space for The Unbound merepresentasikan masalah-
masalah sosial seperti pedagang yang nakal, perundungan, kekerasan dalam rumah tangga, dan premanisme yang
kuat adanya relevansi masalah sosial yang ada di kehidupan sehari-hari.

Kata kunci: game, masalah sosial, representasi, wacana

ABSTRACT

The game A Space for The Unbound is an indie game from Indonesia that represents social issues in
Indonesia. The aim of this research is to describe the social problems contained in the game based on predetermined
indicators and categories. The research method used is a qualitative method. This research method focuses on
exploring and understanding the meaning behind a number of individuals or groups of people related to social
problems. A qualitative approach is generally used to investigate aspects of people's lives, history, behavior,
concepts, social problems, and other topics. The researcher used qualitative methods with Teun A Van Dijk's
discourse analysis technique, to examine text structure, cognitive discourse, and social context discourse, then
connected it to Stuart Hall's theory of representation. This research concludes that the Game A Space For The
Unbound represents social problems such as naughty traders, bullying, domestic violence, and strong thuggery are
the relevance of social problems that exist in everyday life.

Keywords: game, social issues, representation, discourse

A. PENDAHULUAN
Gim A Space for The Unbound merupakan hasil karya studio pengembang gim indie asal
Indonesia bernama Mojiken Studio. Mojiken Studio didirikan oleh seorang pengembang gim
bernama Mohammad "Mojiken" Fahmi pada tahun 2017. A Space for The Unbound
dikembangkan dengan menggabungkan elemen budaya Indonesia, pengalaman pribadi dari
tim pengembang, serta inspirasi dari kehidupan sehari-hari di Indonesia, terutama pada era
tahun 1990-an. Game A Space for The Unbound menarik sebab berisi cerita yang mengiringi

89
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

gim tersebut. Adapun masalah-masalah sosial dalam gim tersebut yang memuat isu sosial
yang memiliki kemiripan dengan isu sosial yang ada di Indonesia. Isu-isu tersebut berupa
masalah sosial berupa ekonomi, perundungan, premanisme.
Mojiken Studio menghadirkan A Space for The Unbound dengan tujuan untuk
mengangkat tema-tema yang menyentuh, memperkenalkan keunikan budaya Indonesia, dan
menyajikan pengalaman bermain yang berbeda dari gim lainnya. A Space for The Unbound
dari Mojiken Studio telah memenangkan penghargaan Japan Game Awards 2022 dalam
kategori Future Division. Selain itu, masuk nominasi untuk penghargaan The Game Awards
di Los Angeles pada 7 Desember 2023 dalam kategori Game For Impact 2023. Penghargaan
kategori Game For Impact sering kali diberikan pada gim yang memiliki dampak positif atau
pesan yang kuat, yang mampu menginspirasi pemain atau menyentuh isu-isu sosial dan
emosional yang mendalam.
Beberapa penelitian yang memiliki relevansi dengan penelitian ini adalah:
Tungga (2019) Universitas Semarang dengan judul Nilai Agama dalam Film Yowis Ben
(Menggunakan Analisis Wacana Teun a Van Dijk). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai
agama yang terdapat dalam Film Yowis Ben sesuai indikator dan kategori yang merujuk pada
teori analisis wacana Teun A Van Dijk. Hasil penelitian disimpulkan bahwa film Yowis Ben
merepresentasikan nilai agama dalam indikator Hablumminallah, dan Hablumminannas.
Tokoh utama dan beberapa pemeran lainnya memegang teguh nilai agama, dan memandang
Tuhan sebagai sosok yang mampu mengatur segala hal yang terjadi di dunia ini. Pada sisi lain,
tokoh juga memiliki hubungan keluarga dan sosial yang sangat baik, sehingga hal tersebut
menjadi representasi nilai agama, di dalam film Yowis Ben. Perbedaan penelitian yang akan
diteliti ialah pada objek penelitian, namun memakai teori yang sama.
Prasetyo (2017) Universitas Muhammadiyah Surakarta dengan judul Bullying Chatting
dalam Game Online Dota 2 pada Perilaku Komunikasi Interpersonal Pemain. Penelitian bertujuan
melihat perundungan dalam aplikasi pesan game dota 2 daring. Penelitian ini menggunakan
teori CMC (Computer-Mediated-Comunication).
Metode penelitian yang digunakan peneliti yaitu metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian
berupa komunikasi interpersonal anak pelaku perundungan aplikasi pesan dalam gim tidak
memenuhi unsur komunikasi interpersonal seperti konsep diri, kemampuan mendengar,
kemempuan mengekspresikan diri, emosi dan membuka diri. Perbedaan penelitian ialah pada
objek dan teori.
Wicaksono (2020) Universitas Pembangunan Nasional “VeteranJawa Timur” dengan ju
dul Representasi Kekerasan dalam Video Game (Studi Analisis Semiotik Pada Video Game “Grand
Theft Auto V”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bentuk kekerasan yang
terkandung dalam vidio gim. Pendekatan metode yang digunakan adalah kualitatif yang
menjelaskan jenis dan bentuk kekerasan dalam vidio gim tersebut. Penelitian inimenggunakan
analisis semiotika John Fiske dengan tiga levelnya yakni realitas, representasi dan
juga idiologi. Hasil penelitian ini adalah representasi kekerasan dalam vidio gim Grand Theft
Auto V membuktikan adanya pergeseran budaya. Kekerasan yang dilatarbelakangi idiologi
materialisme yang digunakan dijadikan hiburan. Penelitian yang dilakukan Wicaksono
memiliki persamaan dengan penelitian ini, yakni sama-sama menelaah gim namun
menggunakan teori yang berbeda.
Peneliti tertarik terhadap gim A Space For The Unbound disebabkan karena gim tersebut
memiliki pesan sosial sebagaimana gim tersebut masuk nominasi yang bergengsi seperti

90
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

penghargaan The Game Award. Oleh karena itu, dilakukan penelitian terhadap masalah sosial
yang digambarkan pada gim A Space For The Unbound serta melihat relevansinya dengan
realitas. Peneliti memilih gim A Space For The Unbound menjadi subjek penelitian, dengan
pertimbangan bahwa game tersebut telah mendapatkan nominasi penghargaan kategori Game
For Impact 2023, juga gim tersebut memenangkan penghargaan Japan Game Awards 2022
dalam kategori Future Division. Berdasarkan uraian sebelumnya peneliti melakukan penelitian
berjudul “Representasi Masalah Sosial dalam Game A Space For The Unbound (Analisis
Wacana Teun A Van Dijk)”.

B. LANDASAN TEORI

1. Representasi
Representasi merujuk pada cara atau metode untuk menyatakan, menggambarkan, atau
menggambarkan sesuatu. Ini dapat mencakup berbagai hal, mulai dari representasi grafis atau
visual dari data atau konsep hingga representasi simbolis dalam matematika atau representasi
konseptual dalam pemikiran seseorang. Dalam konteks umum, representasi juga dapat merujuk
pada cara sesuatu dipahami, dipresentasikan, atau diinterpretasikan dalam suatu konteks
tertentu. Teori representasi (Theory of Representation) yang dikemukakan oleh Stuart Hall
digunakan dalam penelitian untuk menggambarkan masalah sosial atau mereprsentasikan
keadaan masalah sosial. Pemahaman utama dari teori representasi adalah penggunaan bahasa
(language), untuk menyampaikan sesuatu yang berarti (meaningful) kepada orang lain. (Hall,
1995: 13) Menurut Hall (2003) dalam bukunya Representation: Cultural Representation and
Signifying Practices, “representation connects meaningand language to culture. Representation
is an essential part of process by which meaning is produced and exchanged between members
of culture.” Melalui representasi, suatu makna diproduksi dan dipertukarkan antar anggota
masyarakat.

2. Analisis Wacana Teun A Van Dijk


Analisis Wacana model Van Dijk berusaha menggambarkan beragam masalah kompleks
dan rumit. Karenanya, Van Dijk tidak hanya membatasi modelnya pada analisis teks semata. Ia
juga mempertimbangkan struktur sosial, dominasi, serta kelompok kekuasaan yang terdapat
dalam masyarakat, dan bagaimana pikiran, kesadaran, dan kognisi masyarakat berperan serta
memengaruhi suatu teks tertentu. Wacana oleh Van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi
atau bangunan: teks, kognisi sosial, dan konteks sosial. Inti analisis Van Dijk adalah
menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam kesatuan analisis.
Analisis yang dilakukan oleh Van Dijk ini berusaha untuk menghubungkan analisis tekstual
yang hanya memusatkan perhatian pada teks dengan analisis yang lebih holistik tentang
bagaimana teks berita diproduksi, baik dalam kaitannya dengan individu maupun masyarakat
secara keseluruhan. Model dari analisis Van Dijk ini dapat digambarkan sebagai berikut:
a) Teks, meliputi segala bentuk penggunaan bahasa, tidak hanya terbatas pada kata-kata yang
tertulis di atas kertas, tetapi juga termasuk segala bentuk komunikasi seperti ucapan,
ilustrasi, gambar, tata letak, grafik, musik, efeksuara, dan sebagainya.
b) Kognisi Sosial, Ini adalah kesadaran mental yang membentuk struktur teks tersebut.
Analisis wacana tidak hanya terbatas pada kerangka teks saja karena kerangka wacana itu
sendiri memuat sejumlah makna, opini, dan ideologi yang membantu dalam

91
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

mengungkapkan makna tersembunyi dari teks. Hal ini membutuhkan analisis kognitif dan
konteks sosial. Peristiwa dipahami dan diinterpretasikan berdasarkan pada skema. Van
Dijk merujuk pada skema sebagai model. Analisis kognisi sosial menekankan pada
bagaimana peristiwa dipahami, didefinisikan, dianalisis, dan diinterpretasikan yang
direpresentasikan dalam suatu model dalam ingatan.
c) Konteks Sosial, mencakup semua kondisi dan faktor di luar teks yang mempengaruhi
penggunaan bahasa, seperti orang- orang yang terlibat dalam percakapan, situasi di mana
teks tersebut dibuat, tujuan dari teks tersebut, dan sebagainya. Kemudian, wacana
didefinisikan sebagai gabungan dari teks dan konteks. Fokus analisis wacana adalah untuk
memeriksa teks dan konteks bersama-sama dalam proses komunikasi. (Alex Sobur, 2004:
56)

3. Masalah Sosial
Masalah sosial merujuk pada kondisi, situasi, atau keadaan dalam masyarakat yang
dianggap tidak sesuai dengan norma, nilai, atau harapan yang ada. Ini melibatkan
ketidakseimbangan, ketidakadilan, atau ketidaksetaraan dalam berbagai aspek kehidupan yang
dapat mempengaruhi individu atau kelompok secara negatif. Masalah sosial menurut Soetomo
(2010), adalah suatu kondisi yangtidak diinginkan oleh sebagian besar warga masyarakat. hal
itu disebabkankarena gejala tersebut merupakan kondisi yang tidak sesuai dengan harapan atau
tidak sesuai dengan nilai, norma, dan standar sosial yang berlaku. Lebih dari itu, suatu kondisi
juga dianggap sebagai masalah sosial karena menimbulkan berbagai penderitaan dan kerugian
baik fisik maupunnonfisik.
Menurut Soerjono (2002: 186) Banyak terdapat sumber masalah sosial di dalam masyarakat
dan lingkungannya, antara lain adalah faktor ekonomis, biologis, psikologis dan kebudayaan
setempat. Semua faktor itu memunculkankekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial.
Serupa dengan Soejono terkait masalah sosial, menurut Elly dan Usman (2011: 53-59)
mengidentifikasi beberapa jenis masalah sosial yang sering dihadapi oleh masyarakat, termasuk
tetapi tidak terbatas pada:
a) Kemiskinan, Kemiskinan merujuk pada situasi di mana seseorang tidak memiliki
kemampuan untuk memenuhi standar kehidupan yangada dalam kelompoknya dan tidak
mampu menggunakan kemampuan mental dan fisiknya sesuai dengan norma kelompok
tersebut. Dalam konteks kehidupan sosial, selalu ada sekelompok individu yang hidup
dalam kondisi kemiskinan, sementara di sisi lain terdapat kelompok lain yang hidup di atas
batas standar kehidupan sosial.
b) Kejahatan, tidak hanya terbatas pada perilaku individu ataukelompok yang menyebabkan
cedera atau kerugian pada individu atau kelompok lain. Tindakan seperti korupsi,
pemalsuan, premanisme dan penipuan yang dapat merugikan kehidupan seseorang atau
sekelompok orang juga termasuk dalam kategori kejahatan. Aspek yang penting untuk
dipelajari dalam bidang sosiologi adalah penyebab di balik tindakan kejahatan yang
dilakukan oleh individu atau kelompok tertentu, dan orang atau kelompok lain yang
menjadi korban dari kejahatan tersebut. Salah satu pemicu utama terjadinya kejahatan
adalah ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan atau hak-hak seseorang. Oleh karena
itu, untuk memperoleh pemenuhan akan kebutuhan dan hak-hak tersebut, seseorang
kadang melakukan tindakan yang kontroversial, yaitu bertentangan dengan nilai-nilai dan
norma yang umum berlaku.

92
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

c) Disorganisasi keluarga, juga dikenal sebagai perpecahan keutuhan keluarga atau "broken
home." Ketika keluarga mengalami disorganisasi atau perpecahan, itu menandakan bahwa
anggota keluarga telah melanggar norma-norma dan nilai-nilai yang biasanya berlaku di
lingkungan keluarga tersebut. Penyimpangan semacam ini sering kali berasal dari kegagalan
dalam memenuhi kebutuhan atau hak-hak keluarga, atau dari beberapa individu yang
menjadi bagian dari struktur keluarga tersebut.
d) Kenakalan Remaja, Masa remaja merupakan fase perkembangan anak yang berada di
antara masa anak-anak dan masa dewasa, sering dianggap sebagai masa transisi. Selama
periode ini, anak cenderung mencari tokoh idola seperti bintang film, tokoh terkenal dalam
olahraga, atau figurlainnya. Mereka juga mengalami permasalahan dalam mencari identitas
diri, sambil menginginkan perhatian dari lingkungan sekitarnya. Akibatnya, seringkali
anak-anak ini meniru perilaku dan gaya hidup tokoh idola mereka. Mereka juga dapat
terjebak dalam tindakan kontroversial, termasuk perilaku menyimpang yang dilakukan oleh
individu di sekitarnya, seperti merokok, minumalkohol penyalahgunaan narkoba, terlibat
dalam pertengkaran, dan sebagainya.
e) Peperangan, merupakan salah satu fenomena sosial di mana terdapat ambisi dari lebih dari
satu kelompok manusia untuk saling menyerang demi memperoleh kemenangan. Konflik
bersenjata dapat terjadi antara berbagai kelompok masyarakat dalam skalayang beragam,
mulai dari pertempuran antardesa, antarsuku, hingga konflik antarnegara. Biasanya,
peperangan dipicu oleh sikap atau tindakan sekelompok individu yang menyinggung
kelompok lain, atau mungkin disebabkan oleh keinginan sekelompok bangsa untuk
menguasai wilayah lain dengan tujuan penjajahan. Peperangan bisa menyebabkan
perubahan sosial dalam struktur masyarakat, seperti pergeseran nilai-nilai, norma sosial,
stratifikasi sosial, sistem pemerintahan, dan sebagainya.
f) Kelainan Seksual, adalah ketertarikan manusia terhadap lawan jenis yang lebih kuat.
Kelainan seksual berbeda dengan penyimpangan seksual. Penyimpangan seksual lebih
berfokus pada perilaku seksual yang melanggar norma-norma yang mengatur hubungan
seksual, seperti aturan dalam bidang agama yang menetapkan bahwa hubungan seksual
harus terjadi dalam konteks pernikahan. Penyimpangan seksual sering terkait dengan
individu yang memiliki orientasi homoseksual. Homoseksualitas dapat terjadi antara pria
dengan pria yang disebut sebagai gay, maupun antara wanita dengan wanita yang disebut
sebagai lesbian. Faktor internal dalam diri manusia, seperti hormon kelamin, memainkan
peran penting dalam hal ini. Hormon laki-laki, dikenal sebagai testosteron, dan hormon
perempuan, dikenal sebagai progesteron, cenderung mendominasi perilaku seksual
manusia. Biasanya, pria didominasi oleh hormon testosteron, sementara wanita didominasi
oleh hormon progesteron. Kedua hormon ini memiliki pengaruh signifikan terhadap
perilaku seksual manusia, sehinggapenyimpangan seksual bisa disebabkan oleh kelainan
hormonal. Misalnya, jika seseorang secara fisik berjenis kelamin laki-laki tetapi hormon
yang mendominasi dalam dirinya adalah progesteron, maka ia mungkin memiliki
kecenderungan untuk menjadi homoseksual.
g) Masalah Kependudukan, perhatian utama dalam masalah kependudukan umumnya
terfokus pada pertumbuhan terus-menerus jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Jika laju
kelahiran (natalitas) tinggi, ini menunjukkan peningkatan populasi, tetapi jika tingkat
kematian (mortalitas) menurun, maka ini mengindikasikan adanya lebih banyak
pengangguran. Perubahan jumlah penduduk, baik peningkatan maupun penurunan, akan

93
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

memiliki dampak pada tingkat produksi yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar
populasi. Jika jumlah penduduk terus meningkat tanpa pertumbuhan yang seimbang dalam
produksi, hal ini dapat mengakibatkan konsekuensi yang merugikan bagi kehidupan sosial.
h) Masalah Gender, tidak hanya terkait dengan perbedaan biologis antara laki-laki dan
perempuan. Konsep gender lebih berkaitan dengan dimensi sosial, di mana terdapat
perbedaan dalam peran dan posisi antara wanita dan pria dalam perspektif sosiologis.
Dalam struktur masyarakat yang tradisional, terdapat budaya yang memarginalkan dan
menjadikan peran wanita sebagai inferior, berbeda dengan pria yang sering ditempatkan
pada posisi dan peranyang lebih superior dalam hierarki sosial.
i) Masalah Kekerasan, kekerasan merupakan salah satu bentuk perilaku yang melanggar
norma sosial dan merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM). Banyak
kasus kekerasan yang terjadi dalam masyarakat kita, terutama kekerasan di lingkungan
rumah tangga, kekerasan terhadap anak-anak, kekerasan dalam konteks pendidikan baik
itu di institusi militer maupun lingkungan pendidikan lainnya, serta kekerasan antar
kelompok.

C. METODE

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research)
yaitu serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka. Metode
penelitian yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah metode kualitatif.
Pendekatan kualitatif secara umum digunakan untuk menyelidiki aspek-aspek kehidupan
masyarakat, sejarah, perilaku, konsep, fenomena, masalah sosial, dan topik-topik lainnya. Salah
satu alasan utama penggunaan pendekatan kualitatif adalah kemampuannya bagi peneliti untuk
menemukan dan memahami aspek tersembunyi dari suatu fenomena yang seringkali sulit
dipahami secara langsung. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis
wacana Teun A Van Dijk, untuk meneliti struktur teks, kognisi, dan konteks soaial, lalu
dihubungkan dengan teori representasi Stuart Hall. Dalam penelitian ini data yang diteliti ialah
kata-kata berupa dialog serta narasi dan gambar yang ada dalam game yang akan diteliti.

D. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Temuan Masalah Sosial dalam Game a Space for The Unbound
Penelitian ini dibatasi dan berfokus kepada masalah sosial yang ada pada gim a Space for
The Unbound. Dalam dialog dan adegan gim a Space for The Ubound yang dijadikan sebuah
teks. Pencatatan scene yang peneliti lakukan berdasarkan alur cerita game a Space for The
Ubound. Berikut adalah tangkap layar gambar dan dialog yang menunjukkan atau
menggambarkan masalah sosial yang ada pada game A Space for The Unbound, yang akan
dijadikan penelitian, lalu peneliti menganalisa wacana pada setiap dialog sebagai data pada
penelitian. Dan berikut peneliti menemukan beberapa masalah sosial seperti yang ada sebagai
berikut:

94
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

a) Representasi Masalah Sosial Pedagang Rokok

Gambar 1. Pedagang Rokok

Bapak penjual rokok : Kamu butuh rokok, ‘kan? Aku jual eceran. Aku bahkan bisa
memberimu diskon! Hanya 1.500 rupiah saja untuk sohibku!
Atma : Kamu yakin tidak akan mendapatkan masalah menjual itu ke
anak sekolahan?
Bapak penjual rokok : Heh. Aku bahkan menjualnya ke anak-anak yang lebih kecil
darimu!
Atma : Bukankah itu… Ilegal?
Bapak penjual rokok : Bisnis ya bisnis, sob.

Analisis Struktur Makro (Tematik)


Tema yang ada ialah penggambaran tentang pedagang yang sedang menjualkan
rokok kepada anak yang belum cukup usia untuk membeli rokok, hal tersebut diperkuat
Atma seorang anak sekolahan pada kalimat “Atma: Kamu yakin tidak akan
mendapatkan masalah menjual itu ke anak sekolahan?” dan Kalimat “Bapak penjual
rokok: Heh. Aku bahkan menjualnya ke anak-anak yang lebih kecil darimu!”. Dua
kalimat tersebut mempertegaskan bahwasannya ada seorang penjual yang nakal sedang
memperbolehkan anak-anak belum cukup umur dapat membeli rokok. Di Indoesia
sendiri ada peraturan pemerintah no 109. Tahun 2012 pasal 46 yang berbunyi “Setiap
orang dilarang menyuruh anak dibawah usia 18 tahun untuk menjual, membeli, atau
mengonsumsi produk tembakau.”. Dan sangat jelas jika seorang memperdagangkan
rokok kepada seorang yang berusia dibawah 18 tahun maka hal tersebut dapat dikatakan
tindakan illegal.

Superstruktur
Superstruktur teks atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari
pendahuluan sampai akhir. Alur tersebut menunjukan sebagaimana membentuk satu
kesatuaan arti. Inti Cerita atau alur tersebut pada tokoh Atma yang ia adalah anak SMA
sedang ditawarkan rokok oleh pedagang kaki lima dan ada pun kalimat yang
mempertegaskan inti cerita pada kalimat “Bapak Penjual Rokok: Kamu butuh rokok,
‘kan? Aku jual eceran. Aku bahkan bisa memberimu diskon! Hanya 1.500 rupiah saja
untuk sohibku! dan kalimat yang mempertegaskan Atma adalah anak SMA pada kalimat
“Atma: Kamu yakin tidak akan mendapatkan masalah menjual itu ke anak sekolahan?”.

95
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

Dua kalimat tersebut memperlihatkan inti dari cerita bahwasannya ada seorang
pedagang yang sedang menawarkan rokok kepada anak sekolahan.

Struktur Mikro
Latar, penggambaran tentang adanya pedagang kaki lima yang membiarkan
barang dagangannya dibeli oleh anak yang belum cukup umur untuk dapat membeli
barang seperti rokok dan hal tersebut dapat dikatakan tindakan yang illegal, seperti
tertera pada kalimat “Bapak penjual rokok: Heh. Aku bahkan menjualnya ke anak-anak
yang lebih kecil darimu!” dan kalimat “Atma: Bukankah itu… Ilegal?”. Terjadinya suatu
tindakan illegal yang dilakukan oleh pedagang kaki lima membiarkan barang
dagangannya dibeli anak yang belum cukup usia dapat membeli barang seperti rokok.
Detail, Penulis cerita game A Space for The Unbound sebagai komunikator yang
menampilkan adanya tindakan illegal yang dilakukan pedagang kaki lima yang
memperbolehkan barang dagangannya dibeli oleh anak yang belum cukup usia untuk
dapat membeli barang seperti rokok. Komunikator ingin memberi tahu bahwasannya hal
tersebut tidak baik dan tindakan tersebut termasuk perbuatan yang illegal seperti yang
tertera pada peraturan pemerintah no 109. Tahun 2012 pasal 46 yang berbunyi “Setiap
orang dilarang menyuruh anak dibawah usia 18 tahun untuk menjual, membeli, atau
mengonsumsi produk tembakau.”.
Maksud, Adanya penggambaran yang dilakukan pedagang kaki lima yang
memperjualkan rokok kepada anak dibawah umur ialah tindakan yang melanggar
hukum dan perbuatan yang illegal. Penulis cerita sebagai komunikator ingin menkritik
keadaan sosial yang sedang terjadi dan adanya kesadaran diri dari masing-masing dalam
tindakan pedagang kaki lima atau semacamnya membiarkan anak dibawah umur dapat
membeli barang dagangan yang ditujukan barang tersebut hanya bisa dibeli pada
individu yang sudah cukup umur untuk membeli barang dagangan seperti rokok.
Sintaksis, adanya satu kalimat penawaran, dua kalimat pertanyaan, dan dua
kalimat deklaratif. Kalimat penawaran yang ada tertera pada kalimat “Bapak Penjual
Rokok: Kamu butuh rokok ‘kan? Aku jual eceran. Aku bahkan bisa memberimu diskon!
Hanya 1.500 rupiah saja untuk sohibku!”. Tokoh Atma yang sedang ditawarkan barang
dagangan oleh pedagang kaki lima. Dua kalimat pertanyaan tertera pada kalimat “Atma:
Kamu yakin tidak akan mendapatkan masalah menjual itu ke anak sekolahan?” dan
“Atma: Bukankah itu… Ilegal?”. Tokoh atma yang sedang mempertanyakan tindakan
pedagang yang sedang menjualkan barangnya kepada anak SMA. Dua kalimat deklaratif
tertera pada kalimat “Bapak penjual rokok: Heh. Aku bahkan menjualnya ke anak-anak
yang lebih kecil darimu!” dan “Bapak penjual rokok: Bisnis ya bisnis, sob.”. Jawaban
dari pedagang kaki lima termasuk kalimat deklarasi yang ditujukan kepada pertanyaan
Atma. Ada pun penggunaan warna pada kata “rokok dan “1.500 rupiah”. Penggunaan
warna kuning dalam dunia psikologi melambangkan kecerdasan, optimisme, kesetiaan,
kesenangan, dan harapan bagi yang menggunakannya. Namun, warna ini tidak hanya
memiliki makna positif; ia juga dapat menyiratkan aspek negatif, seperti pengkhianatan,
kebohongan, kecemburuan, kehati-hatian, dan penipuan. Dalam dua hal tersebut uang
menjadi alat tukar untuk membeli rokok yang fungsi dari rokok digunakan sebagai cara
menghilangkan stress. Rokok menciptakan rasa relaksasi secara langsung, membuatnya
perokok meyakini hal tersebut dapat mengurangi stress. Beigtu pula dengan uang yang

96
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

di kehidupan modern ini banyaknya medial sosial yang memperlihatkan gaya hidup yang
mewah sehingga membuat seseorang menggangpkan uang adalah hal yang segalanya.
Rokok dan uang sebagaimana psikologi melambangkan kecerdasan, optimisme,
kesetiaan, kesenangan, dan harapan bagi mereka, namun bisa juga menyiratkan hal yang
negatif seperti pengkhianatan, kebohongan, kecemburuan, kehati-hatian, dan penipuan.
Stilistik, Elemen ini menandakan bagaimana seseorang melakukan pemilihan
kata yang tersedia (style) atau bisa juga disebut dengan kata-kata yang paling dekat
dengan ungkapan sehari-hari, sehingga mudah dicerna dan ditangkap maksudnya. Kata
yang paling dekat dengan ungkapan sehari-hari adalah “Sohibku dan sob” disini style yang
ada ialah panggilan yang seolah-oalah hubungan mereka akrab. Adanya penggunaan
warna yang berbeda seperti yang ada pada kata “rokok”. Penggunaan warna yang
berbeda pada kata tersebut ialah menekankan kalo barang tersebut ialah rokok dan tidak
boleh anak dibawah umur dapat membeli barang tersebut.

Wacana Kognisi Sosial


Kognisi sosial adalah kesadaran dari kreator pembuat cerita gim yang membentuk
suatu teks. Dalam game tersebut, adanya penggambaran sosial yang dilakukan pedagang
kaki lima menjualkan barang dagangannya kepada anak yang belum cukup untuk dapat
membeli barang dagangan seperti rokok. Game A Space for The Unbound berlatarkan
waktu tahun 90-an yang salah satu permasalahan yang digambarkan ialah berkaitan
dengan rokok. Adanya relevansi yang sangat mirip hingaa saat ini.
Jumlah perokok aktif di Indonesia terus bertambah. Berdasarkan data dari Survei
Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan
(Kemenkes), diperkirakan ada sekitar 70 juta perokok aktif di negara ini, dengan 7,4% di
antaranya merupakan perokok yang berusia antara 10 hingga 18 tahun. Eva Susanti
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian
Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan, Kenaikan jumlah perokok aktif di Indonesia
terkait erat dengan agresifnya pemasaran produk tembakau oleh industri, khususnya
kepada anak-anak dan remaja, melalui media sosial. Menurut data dari Tobacco
Enforcement and Reporting Movement (TERM) edisi Mei–Agustus 2023, lebih dari dua
pertiga pemasaran produk tembakau dilakukan melalui Instagram (68%), diikuti oleh
Facebook (16%) dan X (14%). Selain itu, industri tembakau juga mempromosikan
produknya dengan membuka gerai di festival musik dan acara olahraga untuk menarik
minat anak muda. Eva menambahkan bahwa, selain menjadi sponsor acara
kepemudaan, industri produk tembakau juga menggunakan strategi lain untuk
mempengaruhi pemuda, yaitu dengan menyediakan biaya pendidikan. "Industri terus
menciptakan berbagai daya tarik untuk mengundang anak-anak menjadi pengguna atau
konsumen. Jadi, bagaimana cara kita melindungi anak-anak agar tidak terjebak dalam
penggunaan rokok?" ujar Eva Susanti selaku Kemenkes. Selain menyajikan pemasaran
dengan cara yang menarik, industri rokok juga mempengaruhi kecanduan remaja dengan
menghadirkan rokok elektrik dalam berbagai rasa. Inovasi ini terbukti efektif menarik
perhatian anak muda untuk menggunakan produk tersebut. Dalam empat tahun terakhir,
penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja meningkat signifikan. Berdasarkan hasil
GATS 2021, prevalensi rokok elektrik melonjak dari 0,3% pada 2019 menjadi 3% pada
2021. Untuk melindungi masyarakat dari risiko produk tembakau, pemerintah telah

97
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

mengesahkan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Undang-undang ini mencakup


pengaturan terhadap zat adiktif, termasuk produk tembakau dan rokok elektronik.

Wacana Konteks Sosial


Analisis sosial adalah untuk melihat konteks atau latar belakang terbentuknya teks
tersebut. Jadi hal ini berkaitan dengan keadaan atau situasi yang terjadi pada tulisan atau
sebuah teks dibuat.
Game A Space for The Unbound menggambarkan realitas sosial yang terjadi pada
pedagang yang membiarkan anak dibawah umur bisa membeli rokok dagangannya. Hal
tersebut dapat dilihat pada berita detik health yang berjudulkan “Kata Kemperin Soal
Warung Jual Rokok ke Anak di Bawah Umur”. Direktur Industri Minuman, Hasil
Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan
Pintaria, mengungkapkan bahwa anak-anak di bawah umur masih dapat dengan mudah
membeli rokok di warung-warung kelontong. Meskipun aturan sudah ada, penegakan
dan penerapan sanksi yang tegas di lapangan masih dianggap kurang efektif.
Di Indonesia sendiri rokok bukanlah barang illegal dan barang tersebut sangat
mudah ditemukan di warung pinggir jalan. Pemerintah sendiri sudah mengatur
perdagangan rokok kepada anak dibawah umur sebagaimana tertera pada peraturan
pemerintah no 109. Tahun 2012 pasal 46 yang berbunyi “Setiap orang dilarang
menyuruh anak dibawah usia 18 tahun untuk menjual, membeli, atau mengonsumsi
produk tembakau.”. Kurangnya kesadaran dari orang dewasa untuk memperbolehkan
anak-anak membeli rokok menjadi masalah utama pada hal ini. Seperti yang ada pada
penelitian Arief dan Halfisyah yang berjudulkan “Perlindungan Konsumen Terhadap
Penjualan Rokok Kepada Anak Di Bawah Umur Di Kota Banda Aceh” yang
mendapatkan kesimpulan “Ada beberapa alasan mengapa pelaku usaha menjual rokok
kepada anak di bawah usia 18 tahun. Ini termasuk kurangnya pemahaman tentang
hukum, kekurangan informasi dan pengawasan, pelaksanaan hukum yang tidak efektif,
kesadaran hukum yang rendah, kurangnya integritas dari pelaku usaha, dan kurangnya
kesadaran masyarakat akan masalah ini.”. Pada penelitan ”Faktor Penyebab Rendahnya
Kesadaran Hukum Masyarakat Menjadi Saksi Tindak Pidana” oleh Maya Hehanusa
menyimpulkan “Kesadaran hukum yang rendah dapat dipengaruhi oleh faktor internal
seperti tingkat pendidikan, tingkat tanggung jawab, pola pikir, dan ekonomi masyarakat
yang kurang sejahtera. Faktor-faktor yang menyebabkan kesadaran hukum sebagai saksi
tindak pidana menjadi rendah termasuk keterbatasan waktu, keterbatasan ekonomi yang
mengakibatkan kesulitan dalam transportasi, citra dan kinerja yang kurang baik dari
pihak kepolisian dalam menangani saksi, membuat masyarakat enggan berurusan
dengan polisi karena takut akan balasan dari tersangka atau keluarganya,
ketidaklancaran proses penggantian biaya bagi saksi sesuai dengan peraturan, prosedur
yang rumit dalam penanganan saksi, dan kurangnya sosialisasi mengenai hak dan
kewajiban saksi sebagai warga negara sesuai dengan perundang-undangan yang
[Link] yang menyebabkan kurangnya kesadaran di masyarakat dapat dijelaskan
sebagai berikut: Pertama, Kaidah Hukum (Soejono Soekanto, 1982), yang
mencerminkan seperangkat peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh lembaga
yang berwenang, namun belum menunjukkan perlindungan yang memadai terhadap
masyarakat. Kedua, persepsi masyarakat bahwa hukum di Indonesia belum mampu

98
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

memberikan jaminan yang memadai bagi mereka. Ketiga, Aparat Penegak Hukum
sebagai pembuat dan pelaksana hukum masih belum sepenuhnya mampu menerapkan
peraturan yang telah ditetapkan.

b) Representasi Masalah Sosial Perundungan Verbal

Gambar 2. Siluet sekumpulan orang

Orang A: Orang Aneh


Orang B: Ini Cerita terbodoh yang pernah kubaca seumur hidup!
Orang C: Bahkan anak balita bisa menulis lebih baik dari ini.
Orang D: Buang-buang.

Gambar 3. Atma yang sedang berada di kamar

Ayah Raya : BOCAH BRENGSEK! BUKA PINTUNYA! DASAR ANAK TIDAK


TAHU TERIMA KASIH!
Ayah Raya : Beraninya kamu mengunci pintu. Kamu masih mengambar dan menulis
hal-hal bodoh itu, ‘kan? Anak yang kurang ajar dan istri yang idiot! Betapa
beruntungnya aku.

99
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

Gambar 4. Dua anak SMA yang bercakap

Gadis A : Hei, apa ada yang melihat Raya?


Gadis B : Sepertinya dia membolos. Kenapa juga kamu mencarinya? Mau jadi
orang aneh juga?
Gadis A : Tidak, lah.

Gambar 5. Dua ibu rumah tangga yang sedang bercakap

Ibu A: Ada apa? Apa ada masalah?


Ibu B: Anakku… Belakangan ini dia takut sekali pergi ke sekolah. Dan Suamiku…
Hubungan dengan bosnya tidak begitu baik. Dia juga stress… Yah, memikirkan
uang yang harus kami pinjam untuk menyekolahkan Nirmala. Dan… Dia
memlampiaskannya pada Nirmala (Raya)… *hiks*

Analisis Struktur Makro (Tematik)


Tema yang ada ialah penggambaran tentang perundungan dan KDRT
(Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang kerap terjadi dikehidupan sosial. Adanya
bentuk kata atau kalimat yang menunjukan terjadinya penggambaran perundungan
terjadi pada kalimat “Orang B: Ini Cerita terbodoh yang pernah kubaca seumur hidup!”
dan “Orang D: Buang-buang.”. Kalimat pertama menggambarkan suatu kondisi dimana
indvidu yang membuat atau mengarang suatu cerita dihina secara verbal oleh indvidu
lainnya dan kalimat kedua ialah respon dari indvidu lainnya untuk menyerukan suatu

100
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

buku atau catatan memuat cerita tersebut dibuang saja. Ada pun penggambaran bentuk
KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) terjadi pada kalimat “Ayah Raya: BOCAH
BRENGSEK! BUKA PINTUNYA! DASAR ANAK TIDAK TAHU TERIMA
KASIH!” dan “Ayah Raya: Beraninya kamu mengunci pintu. Kamu masih mengambar
dan menulis hal-hal bodoh itu, ‘kan? Anak yang kurang ajar dan istri yang idiot! Betapa
beruntungnya aku.” Dua kalimat tersebut mengindikasikan terjadinya KDRT
(Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yang dialami oleh anak dan istri.

Superstruktur
Superstruktur teks atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari
pendahuluan sampai akhir. Alur tersebut menunjukkan sebagaimana membentuk satu
kesatuaan arti. Inti Cerita, beberapa tokoh menjadi korban dari perundungan dan
menjadi korban perbuatan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Dalam hal ini,
tokoh yang menjadi korban ialah anak dan ibu dalam suatu rumah tangga. Hal ini terlihat
pada kalimat “Ayah Raya: Beraninya kamu mengunci pintu. Kamu masih mengambar
dan menulis hal-hal bodoh itu, ‘kan? Anak yang kurang ajar dan istri yang idiot! Betapa
beruntungnya aku”. Ada pun perundungan yang terjadi di lingkungan sosial, hal tersebut
terjadi pada kalimat “Gadis B: Sepertinya dia membolos. Kenapa juga kamu
mencarinya? Mau jadi orang aneh juga?” dan kalimat “Orang A: Orang aneh”. Dua
kalimat tersebut menggambarkan terjadinya bentuk perundungan sosial yang
mengakibatkan reputasi dari seseorang. Biasanya hal tersebut terjadi pada lingkungan
sosial seperti sekolahan, tempat kerja, atau suatu perkumpulan.

Struktur Mikro
Latar, adanya penggambaran latar cerita bentuk suatu perbuatan sosial yang
dapat merugikan seseorang seperti perundungan dan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah
Tangga). Adapun penggambaran pada kalimat “Ayah Raya: Beraninya kamu mengunci
pintu. Kamu masih mengambar dan menulis hal-hal bodoh itu, ‘kan? Anak yang kurang
ajar dan istri yang idiot! Betapa beruntungnya aku.” dan “Gadis B: Sepertinya dia
membolos. Kenapa juga kamu mencarinya? Mau jadi orang aneh juga?”.
Detail, penulis cerita gim A Space for The Unbound sebagai komunikator yang
menampilkan adanya bentuk-bentuk perbuatan yang tidak baik terjadi dalam kehidupan
sosial sebagai contoh penulis menggambarakan perbuatan perundungan dan KDRT
(Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Maksud, Adanya penggambaran bentuk
perundungan dan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dalam gim A Space for
The Unbound. Komunikator sebagai penulis gim tersebut ingin mengkritik keadaan
sosial dalam dua perbuatan sosial yang merugikan seseorang.
Sintaksis, adanya frasa pada dialog “Orang aneh” ditujukan sebagai bentuk
hinaan pada suatu indvidu dalam gim tersebut. Frasa “Orang aneh” dirasa tidak terlalu
menghina tapi perasaan setiap individu tidak ada tolak ukur maka bisa saja ucapan
tersebut dapat melukai perasaan seseorang. Adapun Frasa “BOCAH BRENGSEK”
ialah dapat dikatakan bentuk hinaan verbal yang dianggap sangat buruk dalam
lingkungan sosial. Pada kalimat “Beraninya kamu mengunci pintu. Kamu masih
mengambar dan menulis hal-hal bodoh itu, ‘kan? Anak yang kurang ajar dan istri yang
idiot! Betapa beruntungnya aku.” Terdapat dua kata berupa “bodoh” dan “idiot” yang

101
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

dapat dikatakan dua kata tersebut ialah suatu bentuk hinaan verbal. Korban dari kata
tersebut dialami oleh anak dan istri.
Stilistika, terdapat kalimat yang semuanya menggunakan huruf kapital seperti
kalimat “BOCAH BRENGSEK! BUKA PINTUNYA! DASAR ANAK TIDAK TAHU
TERIMA KASIH!”. Penulis cerita gim menggunakan huruf kapital dan tanda seru dalam
kalimat tersebut ingin menegaskan adanya lonjakan emosi berupa amarah seseorang
dalam kalimat tersebut. Adapun kalimat yang menggambarkan emosi sediih, nangis,
atau keadaan yang menyedihkan pada kalimat “Anakku… belakangan ini dia takut
sekali pergi ke sekolah. Dan Suamiku… Hubungan dengan bosnya tidak begitu baik. Dia
juga stress… Yah, memikirkan uang yang harus kami pinjam untuk menyekolahkan
Nirmala. Dan… Dia memlampiaskannya pada Nirmala (Raya)… *hiks*”. Penulis cerita
ingin menggambarkan suatu perasaan kacau berupa kesedihan seseorang yang ditandai
pada beberapa tanda titik-titik dalam kalimat tersebut. Dan penggunaan *hiks* biasa
penggambaran yang biasanya digunakan untuk penggambaran emosi sedih pada suatu
teks dialog.

Wacana Kognisi Sosial


Kognisi sosial adalah kesadaran dari kreator pembuat cerita gim yang membentuk
suatu teks. Dalam gim A Space for The Unbound menggambarkan suatu perisitiwa sosial
yang terjadi pada realitas sosial yang berupa kasus perundungan. Federasi Serikat Guru
Indonesia (FSGI) melaporkan bahwa hingga Mei 2023, tercatat 15 kasus kekerasan
seksual di institusi pendidikan, baik di sekolah maupun pondok pesantren. Dari jumlah
tersebut, 46,67 persen terjadi di pesantren dan 53,33 persen di sekolah umum. Semua
pelaku adalah laki-laki. Jumlah korban mencapai 124 anak, baik laki-laki maupun
perempuan. Selain itu, pada awal tahun 2023, ada satu kasus kekerasan seksual berbasis
daring yang terjadi di Lampung. Kasus ini melibatkan anak-anak usia SD (rata-rata 12
tahun), dengan total 36 korban, 22 di antaranya merupakan teman sekelas. Dalam hal
tersebut perundungan yang mana dapat mengganggu psikologis seseorang menjadi
kekhawtiran dari penulis cerita game A Space for The Unbound.

Wacana Konteks Sosial


Analisis sosial adalah untuk melihat konteks atau latar belakang terbentuknya teks
tersebut. Jadi hal ini berkaitan dengan keadaan atau situasi yang terjadi pada tulisan atau
sebuah teks dibuat. Penggambaran sosial dalam gim A Space for The Unbound menjadi
cerminan realitas sosial yang terjadi pada saat ini yang maraknya terjadi kasus
perundungan dan kekerasan dalam rumah tangga. Terdapat pemberitaan kasus
perundungan yang pada berita daring Okezone News yang berjudulkan “Gelagat Aneh
Siswa SMK di Bandung Barat yang Tewas Usai Diduga Alami Perundungan Selama 3
Tahun”. Berita tersebut berisikan tentang seorang siswa berusia 18 tahun dari SMK di
Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, diduga telah mengalami perundungan oleh
teman-temannya selama tiga tahun. Akibat dari perlakuan tersebut, korban dilaporkan
mengalami gangguan kejiwaan dan akhirnya meninggal dunia. Adapun berita kasus
KDRT yang diberitakan oleh Okezone News yang berjudulkan “Viral Cut Intan Nabila
Jadi Korban KDRT, Ini respons Kemen PPPA”. Berita tersebut berisikan Kasus
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa selebgram dan atlet anggar Cut
Intan Nabila saat ini menjadi perhatian publik. Intan Nabila telah membagikan video

102
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

rekaman CCTV yang menunjukkan dirinya sedang dianiaya oleh suaminya, Armor
Toreador.
Menurut WHO (2020), sekitar 37% remaja perempuan dan 42% remaja laki-laki
mengalami bullying. Jenis-jenis bullying yang terjadi meliputi kekerasan seksual,
pertengkaran fisik, dan perundungan. Menurut data dari Komisi Perlindungan Anak
Indonesia, terdapat 1.567 kasus perundungan yang tercatat di lingkungan pendidikan.
Dari jumlah tersebut, 76 kasus melibatkan remaja sebagai korban, sementara 12 kasus
melibatkan remaja sebagai pelaku perundungan di sekolah (Sulistiowati, Wulansari,
Swedarma, Purnama, & Kresnayanti, 2022). Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap
Perempuan (Komnas Perempuan) telah merilis catatan tahunan (catahu) untuk tahun
2023. Dalam laporan tersebut, Komnas Perempuan mencatat sebanyak 401.975 kasus
kekerasan yang terjadi sepanjang tahun 2023. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku
perundungan dan kekerasan dalam rumah tangga masih merupakan masalah sosial yang
terjadi di Indonesia atau pun dunia, sehingga perlu adanya penanganan atau langkah-
langkah pencegahan untuk mengatasi masalah tersebut.

c) Representasi Masalah Sosial Premanism

Gambar 6. Premanisme

Preman A : Ayo, bayarlah, dan kami tidak akan mengganggumu.


Pemilik took : Tidak mau, sudah cukup! Kalian terus-terusan meminta uang! Aku
harus memberi makan orang rumah, Tahu!
Preman A : Keamanan datang dengan biaya. Selalu begitu. Kau bayar, kami
lindungi.
Preman B : T-T-Tidak bayar? T-T-Tidak kami lindungi!
Pemilik toko : Lindungi dari apa? Kami hanya perlu berlindung dari orang macam
kalian!

Analisis Struktur Makro (Tematik)


Tema yang ada ialah penggambaran tentang masalah sosial yang dilakukan suatu
kelompok atau indvidu untuk mendapatkan uang dengan cara paksa kepada indivdu
lainnya, dan biasanya mereka memakai alas an untuk dalih uang keamanan. Dapat

103
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

dikatakan praktek tersebut sebagai premanisme. Hal ini dapat ditertera pada kalimat
“Preman A: Keamanan datang dengan biaya. Selalu begitu. Kau bayar, kami lindungi”.

Superstruktur
Superstruktur: Teks atau wacana umumnya mempunyai skema atau alur dari
pendahuluan sampai akhir. Alur tersebut menunjukan sebagaimana membentuk satu
kesatuaan arti. Inti cerita, seorang pengusaha atau pemilik tempat gim arcade (warnet
game) yang yang dimintain uang keamanan oleh dua orang laki-laki. Pemilik usaha
merespon dengan ia tidak ingin membayar uang keamanan karena ia udah pernah
membayar mereka sebelumnya. Hal tersebut dapat tertera pada kalimat “Pemilik toko:
Tidak mau, sudah cukup! Kalian terus-terusan meminta uang! Aku harus memberi
makan orang rumah, Tahu!” dan kalimat “Preman B: T-T-Tidak bayar? T-T-Tidak kami
lindungi!!”

Struktur Mikro
Latar, penggambaran yang terjadi pada praktik premanisme yang melakukan
pemerasan atau pungutan liar kepada orang yang memiliki suatu usaha. Hal tersebut
biasanya pelaku pemerasan meminta uang dengan alasan sebagai uang keamanan agar
pelaku usaha dapat perlindungan. Hal tersebut dapar terlihat pada kalimat “Keamanan
datang dengan biaya. Selalu begitu. Kau bayar, kami lindungi.” Detail, penulis cerita gim
A Space for The Unbound sebagai komunikator yang memperlihatkan praktik yang
marak terjadi pada kehidupan sosial. Untuk kegiatan premanisme tersebut menjadi
masalah yang sangat sering terjadi, dan kegiatan ini mengganggu.
Maksud, penulis cerita gim A Space for The Unbound sebagai komunikator yang
menampilkan terjadinya kegiatan sosial yang salah satunya dapat meresahkan. Adanya
praktik premanisme dengan meminta uang keamanan menjadi rahasia umum terjadi.
Komunikator ingin menegaskan bahwasannya praktik tersebut dapar merugikan
seseorang. Pada analisis sintaksisnya terdapat bentuk satu kalimat perintah, penolakan,
dan deklaratif. Kalimat perintah tertera pada kalimat “Preman A: Ayo, bayarlah, dan
kami tidak akan mengganggumu.” Kalimat penolakan dapat ditemukan pada kalimat
“Pemilik toko: Tidak mau, sudah cukup! Kalian terus-terusan meminta uang! Aku harus
memberi makan orang rumah, Tahu!”. Dan kalimat deklaratif ditemukan pada kalimat
“Keamanan datang dengan biaya. Selalu begitu. Kau bayar, kami lindungi”.
Stilistik, terdapat gaya repitisi dan hal tersebut diindikasikan menunjukkan emosi
atau sifat seseorang pada kalimat “Preman A: Ayo, bayarlah, dan kami tidak akan
mengganggumu.” dan “Preman B: T-T-Tidak bayar? T-T-Tidak kami lindungi!”. Dua
kalimat tersebut menggunakan suku kata “T” yang dilakukan berulang atau repitisi. Hal
tersebut dapat dikatakan tokoh dari Preman B menunjukkan ia gugup pada saat
melakukan pemerasan atau juga karakter dari dari tokoh Preman B memiliki gangguan
dalam berbicara yaitu gagap. Bisa jadi juga tokoh dari Preman B ialah anak buah dari
tokoh Preman A.

Wacana Kognisi Sosial


Kognisi sosial adalah kesadaran dari kreator pembuat cerita game yang
membentuk suatu teks. Dalam game A Space for The Unbound menampilkan praktik
premanisme yang selama ini sangat meresahkan warga sekitar. Hal tersebut sebagai

104
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

bentuk representasi dari masalah sosial yang menjadi cerminan keadaan sosial yang
sebagaimana sedang terjadi saat ini. Maraknya fenomena preman yang terjadi di
Indonesia juga menjadi salah satu hal yang meresahkan masyarakat. Seperti berita yang
dimuat [Link] berjudulkan “Pedagang Keluhkan Keberadaan para preman yang
Lakukan Pungli di Pondok Aren”.

Wacana Konteks Sosial


Analisis sosial adalah untuk melihat konteks atau latar belakang terbentuknya teks
tersebut. Jadi hal ini berkaitan dengan keadaan atau situasi yang terjadi pada tulisan atau
sebuah teks dibuat. Pencerminan bentuk pemerasan yang dilakukan preman dalam game
A Space faa` or The Unbound memiliki relevansi yang sedang terjadi pada keadaan
sosial terutama wilayah Indonesia. Menurut data Pusiknas Polri, sepanjang tahun 2020
ada 785 kejahatan premanisme yang tercatat. Pada tahun 2021 sampai pertengahan
bulan Oktober terhitung sebanyak 295 kejahatan yang telah dilakukan. Premanisme
merujuk pada perilaku yang melanggar hukum dan norma-norma sosial, di mana
individu menggunakan kekerasan atau intimidasi untuk memaksa orang lain mengikuti
kehendak mereka. Salah satu aspek krusial dari premanisme adalah keberadaan
organisasi preman, yang sering disebut sebagai geng. Organisasi ini sering terlibat dalam
aktivitas kriminal dan praktik pemerasan. Adapun beberapa faktor yang menunjang
terjadi masalah sosial ini ialah kemiskinan. Di Indonesia, kemiskinan memiliki dampak
yang besar terhadap keterlibatan premanisme. Individu yang hidup dalam kemiskinan
cenderung merasa putus asa dan tidak memiliki jalan keluar dari situasi keuangan
mereka. Hal ini dapat mendorong mereka untuk terlibat dalam aktivitas criminal seperti
pemerasan dan penjambretan sebagai upaya mencari nafkah. Dalam konteks ini,
memungkinkan mereka bergabung dengan kelompok preman yang menawarkan
perlindungan dan dukungan, sehingga memperoleh pendapatan yang lebih baik.
Kesulitan dalam memperoleh pekerjaan yang sesuai juga menjadi penyebab
berkembangnya organisasi preman. Banyak individu, terutama remaja dan pemuda,
tidak memiliki keterampilan dan pendidikan yang cukup untuk mendapatkan pekerjaan
yang memadai dan mencukupi kebutuhan hidup mereka. Sebagai akibatnya, mereka
cenderung mencari cara untuk memperoleh uang secara ilegal. Organisasi preman
seringkali menawarkan pelatihan dan peluang pekerjaan kepada anggotanya, yang
memungkinkan mereka untuk mendapatkan penghasilan melalui jalur yang tidak baik.

2. Pembahasan
Peneliti mengaitkan hasil dari temuan penelitian analisis wacana dari gim Space for The
Unbound, dengan teori yang sudah ada, yaitu representasi Struat Hall. Gim A Space For The
Unbound merupakan sumber data utama peneliti untuk dikaji dalam penelitian ini. Melalui teori
Stuart Hall, peneliti dapat mengetahui penelitian terkandung dalam gim A Space for The
Unbound. Dengan pemaknaan teori Stuart Hall ini, makna dari penelitian ini akan terbentuk
sehingga peneliti dapat menemukan representasi masalah sosial dalam gim A Space for The
Unbound. Representasi masalah sosial seperti gambaran nyata dalam konteks sosial Masyarakat
yang sedang terjadi dan relevansi yang kuat pada tahun 2024 ini walaupun gim ini menggunakan
latar tahun 90-an. Wacana yang ada ialah bentuk kompleksitasnya kehidupan bermasyarakat
yang dialami masyarakat. Dalam hal ini, faktor ekonomi dan psikologi merupakan akar dari

105
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

permasalahan sosial yang ada pada gim A Space for The Unbound. Faktor dari dua hal tersebut
memunculkan beberapa masalah sosial seperti KDRT, perundungan, premanisme.

D. PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa gim A Space for The
Unbound merepresentasikan masalah-masalah sosial seperti pedagang yang nakal,
perundungan, kekerasan dalam rumah tangga, dan premanisme. Masalah-masalah sosial
tersebut merupakan isu sosial yang beredar di tengah masyarakat. Gim ini menampilkan
relevansi yang kuat terhadap keadaan bermasyarakat masa kini walaupun latar dari gim tersebut
berlatar kehidupan pada tahun 90-an. Masalah psikologis dan sosial yang menggambarkan
tantangan hidup sehari-hari pada Masyarakat. Cerita membawa pemain melalui berbagai krisis
pribadi dan sosial yang dialami oleh karakter-karakter tersebut, dengan pendekatan yang sensitif
terhadap isu-isu seperti gangguan kesehatan mental, kehilangan, dan pencarian makna hidup.
Dalam penelitian ini hanya mengandalkan dan menggunakan informasi yang ada pada
buku, jurnal, artikel, dan internet. Hal tersebut membuat peneliti tidak menggali informasi
dengan cara mewawancarai pihak produksi gim. Oleh sebab itu, peneliti menyarankan agar
penelitian ini dapat dilanjutkan dengan melibatkan pihak produksi gim.

DAFTAR PUSTAKA

Alex, Sobur. 2004. Semiotika. Bandung: Remaja Rodaskarya.


Soetomo. 2010. Masalah Sosial dan Upaya Pemecahannya. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Soerjono, Soekanto. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hall, Stuart. 1995. Reprsentation: Cultural Representation and Signifying Pratices. Londond:
Sage Publication.
Hall, Stuart. 2003. The work of representation: “Representation: Culture Representation and
Signifying Pratices (Culture, media and Identities series). Ed Stuart Sage Publication.
Soerjono, Soekanto. 1982. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Prasetyo, Devandara Abi. 2024. “Kata Kemperin Soal Warung Jual Rokok ke Anak di Bawah
Umur”. [Link]
warung-jual-rokok-ke-anak-di-bawah-umur (diakses 30 Oktober 2024).
Rizki, Ferry Bangkit. 2024. “Gelagat Aneh Siswa SMK di Bandung Barat yang Tewas Usai
Diduga Alami Bullying Selama 3 Tahun”.
[Link]
di-bandung-barat-yang-tewas-usai-diduga-alami-bullying-selama-3-tahun?page=all
(diakses 30 Oktober 2024).

106
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

Rizka, Annastasya. 2024. “Viral Cut Intan Nabila Jadi Korban KDRT, Ini Respon
KemenPPA”. [Link]
cut-intan-nabila-jadi-korban-kdrt-ini-respon-kemenpppa?page=all (diakses 30 Oktober
2024).
Rokom. 2024. “Perokok Aktif di Indonesia Tembus 70 Juta Orang, Mayoritas Anak Muda”.
[Link]
di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda/ (diakses 30 Oktober 2024).
Rosa, Nikita. 2023. “Hari Pendidikan Nasional 2023, FSGI: 46,67% Kekerasan Seksual Terjadi
di Sekolah Dasar”. [Link]
nasional-2023-fsgi-46-67-kekerasan-seksual-terjadi-di-sekolah-dasar (diakses 30 Oktober
2024).

107
e-ISSN 2549-7715 | Volume 9 | Nomor 1 | Januari 2025 | Halaman 89—108
Terakreditasi Sinta 4

108

Anda mungkin juga menyukai