0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan11 halaman

Pemahaman dan Penanganan BPH pada Pria

Diunggah oleh

Kirito Rigara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan11 halaman

Pemahaman dan Penanganan BPH pada Pria

Diunggah oleh

Kirito Rigara
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDAHULUAN

A. Pengertian
1. Definisi Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)
Ada beberapa pengertian penyakit Benigna Prostate Hiperplasia (BPH)
menurut beberapa ahli adalah :
a. Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) ditandai dengan pembesaran
kelenjar prostat dan sangat sering ditemukan, muncul pada > 50%
pria berusia 60 tahun dan 80% pada pria berusia > 80 tahun. BPH
biasanya muncul dengan gambaran obstruksi saluran kandung kemih,
aliran urin yang buruk, urin menetes setelah selesai berkemih
(Patrick, 2008)
b. Benigna Prostate Hiperplasia (BPH) merupakan kondisi yang belum
diketahui penyebabnya, ditandai oleh meningkatnya ukuran zona
dalam (kelenjar periuretra) dari kelenjar prostat (Pierce dan Neil,
2007).
c. BPH merupakakan penyakit yang paling sering pada pria berusia di
atas 50 tahun setidaknya 70% pria berusia 70 tahun mengalami BPH
40% di antara mengalami beberapa gejala obstruksi aliran keluar
kandung kemih (Linda, 2008).
2. Etiologi
Bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan testosterone
estrogen karena produksi testosterone menurun dan terjadi konversi
testosterone menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer. Berdasarkan
angka autopsi perubahan mikroskopik pada prostat sudah dapat ditemukan
pada usia 30-40 tahun. Perubahan mikroskopik ini terus berkembang, akan
terjadi patologik anatomik. Pada lelaki usia 50 tahun, angka kejadiannya
sekitar 50%, dan pada usia 80 tahun sekitar 80%. Sekitar 50% dari angka
tersebut diatas akan menyebabkan dan tanda klinis.
Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan, efek perubahan
juga terjadi perlahan-lahan. Pembesaran prostat terjadi pada tahap awal,
resistensi pada leher vesika dan daerah prostat meningkat, dan detrusor
menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih
dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trabekulasi (buli-
buli balok).
Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat [Link] mukosa
yang kecil dinamakan sakula, sedangkan yang besar disebut divertikum.
Fase penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding. Apabila
keadaan berlanjut, detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terajdi
retensi urin (Sjamsuhidajat dan Jong, 2005).
3. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala penyakit BPH secara terperinci menurut Mary dkk,
(2014).
a. Hesitansi perkemihan adalah kesulitan mengawali aliran urin karena
tekanan pada uretra dan kandung kemih.
b. Frekuensi perkemihan adalah sering kencing karena adanya penekanan
pada kandung kemih.
c. Urgensi perkemihan adalah perlu ke kamar mandi segera karena adanya
tekanan pada kandung kemih.
d. Nocturia adalah perlu bangun malam karena adanya penekanan pada
kandung kemih.
e. Turunnya kekuatan aliran air kemih
f. Aliran urin tidak lancar
g. Hematuria
Adapun jenis penanganan pada pasien dengan tumor prostat tergantung
pada berat gejala kliniknya. Berat derajat klinik dibagi menjadi empat
gradasi berdasarkan penemuan pada colok dubur dan sisa volume urin.
Seperti yang tercantum dalam bagan berikut ini:
a. Derajat 1 : Apabila ditemukan keluhan protatismus, pada colok dubur
ditemukan penonjolan prostat, batas atas mudah teraba dan sisa urin
kurang dari 50 ml.
b. Derajat 2 : Ditemukan penonjolan prostat lebih jelas pada colok ubur dan
batas atas dapat tercapai, sedangkan sisa volume urin 50 – 100 ml.
c. Derajat 3 : Saat dilakukan pemeriksaan colok dubur batas atas prostat
tidak dapat diraba dan sisa volume urin lebih dari 100 ml.
d. Derajat 4 : Apabila sudah terjadi retensi urin.
4. Patofisiologi
Saat keadaan prostat membesar akan menekan uretra sehingga timbul
obstruksi urine, yang juga mengakibatkan hipertrofi otot-otot vesika urina
sebagai kompensasi. Hipertrofi otot membentuk kantong yang berisi urin.
Tidak semua urine yang ada dalam kantong ini dapat dikeluarkan ketika
pasien berkemih (retensi urine dalam kantong). Makin lama tonus otot-otot
vesika urinaria menjadi jelek. Pasien tidak bisa mengosongkan vesika
urinaria dengan sempurna, maka ada statis urine, karena statis urine menjadi
alkalin dan bisa menjadi medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri.
Obstruksi urin berkembang secara perlahan. Aliran urin tidak banyak dan
tidak deras. Sesudah berkemih, masih ada urine yang menetes. Pasien juga
merasa bahwa vesika urinari tidak menjadi kosong setelah berkemih. Gejala
iritasi juga menyertai obstruksi urine. Vesika urinaria mengalami iritasi dari
urine yang tertahan di dalamnya. Pasien ini juga mengalami nokturia,
disuria, urgensi, dan sering berkemih. Hematuria bisa timbul karena ruptur
pembuluh darah. Refluks dari urine bisa menyebabkan masalah ginjal seperti
hidronefrosis dan piolonefritis (Baradero dkk, 2007).
5.
6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien Benigna Prostat Hiperplasia terdiri dari
penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan keperawatan menurut (Pierce
dan Neil, 2007) antara lain :
a. Penatalaksanaan medis.
1) Pemberian obat-obatan antara lain Alfa 1-blocker seperti :
doxazosin, prazosin tamsulosindan terazosin. Obat-obat tersebut
menyebabkan pengenduran otot-otot pada kandung kemih
sehingga penderita lebih mudah berkemih.
2) Beri antiandrogen yang bekerja selektif pada tingkat selular
prostat, semisal : Finasterid, obat ini menyebabkan meningkatnya
laju aliran kemih dan mengurangi gejala. Efek samping dari obat
ini adalah berkurangnya gairah seksual. Untuk prostatitis kronis
diberikan antibiotik.
3) Kateterisasi jika terdapat kegagalan otot detusor.
4) Dilatasi balon dan stenting pada prostat (pada pasien yang tidak
siap operasi).
5) Ubah asupan cairan oral, kurangi konsumsi kafein, alkohol,colat.
6) Pada sebagian besar pasien dilakukan pembedahan.
7) Pengangkatan bagian adenomatosa prostat dengan pembedahan.
8) Protektomi terbuka pada ukuran yang besar dapat dilakukan
secara transversal atau retropublik(insisi abdomen mendekati
kelenjar prostat, yaitu antara arkus pubis dan kandung kemih
tanpa memasuki kandung kemih).
9) Dilakukan Transuretral Resection of The Prostate (TURP)
dengan elektrokauter atau laser.
b. Penatalaksanaan keperawatan.
1) Mandi air hangat.
2) Segera berkemih pada saat keinginan untuk berkemih muncul.
3) Menghindari minuman beralkohol.
4) Menghindari asupan cairan yang berlebihan terutama pada malam
hari.
5) Untuk mengurangi nokturia, sebaiknya kurangi asupan cairan
beberapa jam sebelum tidur.
7. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Parick (2008), pemeriksaan penunjang pada pasien BPH
meliputi.
a. Pengukuran kadar kreatinin serum.
b. Ultrasonografi saluran ginjal.
c. Urodinamika.
d. Penentuan kadar antigen spesifik-prostat (prostate-specific antigen
[PSA]) karena nilainya akan meningkat saat terjadi pada keganasan
prostat.
8. Komplikasi
Menurut Arifiyanto (2008), komplikasi yang dapat terjadi pada BPH
adalah:
a. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter,
hidronefrosis, gagal ginjal.
b. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu
miksi.
c. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya
batu.
d. Hematuria.
e. Disfungsi seksual.
B. Asuhan Keperawatan
Menurut Nursalam (2008), asuhan keperawatan pada kasus BPH.
1. Pengkajian
a. Kaji gejala riwayat adanya gejala meliputi serangan, frekuensi urinaria
setiap hari, berkemih pada malam hari, sering berkemih, perasaan tidak
dapat mengosongkan vasika urinaria, dan menurunya pancaran urin.
b. Gunakan indeks gejala untuk menentukan gejala berat dan dampak
terhadap gaya hidup.
c. Lakukan pemeriksaan rektal (palpasi ukuran, bentuk, dan konsistensi)
dan pemeriksaan abdomen untuk mendeteksi distensi kandung kemih
serta derajat pembesaran prostat.
d. Lakukan pengukuran erodinamika yang sederhana, uroflowmetry, dan
pengukuran residual prostat, jika diindikasikan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan penilaian klinis tentang respon
individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah esehatan atau proses
kehidupan aktual ataupun potensial sebagai dasar pemilihan intervensi
keperawatan untuk mencapai hasil tempat perawat bertanggung jawab.
Diagnosa keperawatan yang muncul:
a. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi uretra.
b. Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan, imobilitas, dan
terpasang kateter.
c. Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan.
3. Intervensi keperawatan
a. Diagnosa Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan obstruksi uretra
Tujuan : fasilitasi drainase urine.
1) Monitor penutup aliran irigasi three-way dan sistem drainase jika
dibutuhkan.
2) Lakukan irigasi manual 50 ml cairan irigasi dengan menggunakan
teknik aseptik.
3) Cegah overdistensi kandung kemih, karena dapatmenyebabkan
perdarahab.
b. Diagnosa Resiko infeksi berhubungan dengan insisi pembedahan,
imobilitas, dan terpasang kateter.
Tujuan : pencegahan infeksi.
1) Monitoring tanda-tanda vital.
2) Observasi balutan insisi jika ada.
3) Perawatan luka balutan insisi jika ada. d) Beri antibiotik dengan
resep.
c. Diagnosa Nyeri berhubungan dengan prosedur pembedahan.
Tujuan : hilangkan nyeri.
1) Monitor PCA sesuai petunjuk.
2) Atur posisi yang nyaman.
3) Beritahu keluarga untuk mencegah ketegangan
4) Pastikan kateter berada pada paha dan tuba agar tidak menyebabkan
kateter tertarik, karena dapat menyebabkan nyeri dan potensi
perdarahan.
4. Implementasi
Implementasi adalah realisasi rencana tidakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan, kegiatannya meliputi pengumpulan data
berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan
tindakan.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan penilaian dengan cara membandingkan perubahan
keadaan klien (hasil yang dimati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang
dibuat pada tahap perencanaan.
a. Diagnosa 1 : drainase berwarna kuning jernih melalui kateter.
b. Diagnosa 2 : insisi tanpa drainase, tidak demam.
c. Diagnosa 3 : menunjukan penyembuhan nyeri yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Madjid, Dewi Irawaty, Tuti Nuraini. 2011. Penurunan Keluhan Dribbling Pasien
Pasca Trans Urethral Resection Of The Prostate Melalui Kegel ’S Exercise.
Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume 14, No. 2, Juli 2011: hal 121-126

Andarmoyo Sulistyo, 2013. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Jakarta: ArRuzz
Media

Andi Prastowo. 2011. Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan


Penelitian. Jogjakarta: Ar-Ruzz

Media Arifiyanto. 2008. Patient Satisfaction With Acute Pain Management. Diperoleh
Dari Http://[Link].

Baradero. M. 2007. Gangguan System Reproduksi & [Link] Kedokteran.


Jakarta: EGC

Benson, H., & Proctor, W. 2002. Dasar-dasar respon relaksasi: bagaimana


menggabungkan respon relaksasi dengan keyakinan pribadi anda (alih bahasa
oleh Nurhasan). Bandung: Kaifa

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 8 Vol 2.
Jakarta: EGC

Dermawan, Deden. 2012. Proses Keperawatan Penerapan dan Kerangka Kerja.


Yogyakarta: Gosyen Publising

Gad Datak, kristna Yetti, Rr tutik Sri Hariyati. 2008. Penurunan Nyeri Pasca Bedah
TUR Prostat Melalui Relaksasi Benson. Jurnal Keperawatan Indonesia, Volume
12, No. 3, November 2008: hal 173-178

Green dan Setyawati. 2005. Seri Buku Kecil Terapi Altenatif. Yayasan Spiritia:
Yogyakarta.
Hidayat, A.A. 2014. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknis Analisis Data. Jakarta:
Salemba Medika ISO. 2014. ISO Indonesia Informasi Spesialite Obat. Volume
49. Jakarta: PT. ISFI

Anda mungkin juga menyukai