0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan8 halaman

Asuhan Keperawatan Pneumonia ICU 2026

Diunggah oleh

Dinda Story
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan8 halaman

Asuhan Keperawatan Pneumonia ICU 2026

Diunggah oleh

Dinda Story
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN YANG MENGALAMI PNEUMONIA

DENGAN MANEJEMEN JALAN NAFAS DI RUANG

INTENSIVE CARE UNIT RSUD ADE M. DJOEN

SINTANG

ADINDAH RAMADANI

NIM : 231151001

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN PONTIANAK

JURUSAN KEPERAWATAN SINTANG

PRODI DIPLOMA III

TAHUN 2026
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pneumonia adalah bentuk infeksi saluran pernapasan akut yang mempengaruhi
paru-paru. Paru-paru terdiri dari kantong kecil yang disebut alveoli, yang terisi
udara ketika seseorang yang sehat bernapas. Ketika seseorang menderita
pneumonia, alveoli terisi nanah dan cairan, yang membuat pernapasan menjadi
menyakitkan dan membatasi asupan [Link] adalah penyebab infeksi
tunggal terbesar kematian pada anak-anak di seluruh dunia. Pneumonia membunuh
740.180 anak di bawah usia 5 tahun pada tahun 2019, yang menyumbang 14% dari
semua kematian anak di bawah 5 tahun tetapi 22% dari semua kematian pada anak
berusia 1 hingga 5 tahun. Pneumonia mempengaruhi anak-anak dan keluarga di
mana saja, tetapi kematian tertinggi terjadi di Asia selatan dan Afrika sub-Sahara.
Anak-anak dapat dilindungi dari pneumonia, dapat dicegah dengan intervensi
sederhana, dan dapat diobati dengan obat dan perawatan berbiaya rendah dan
teknologi rendah (World Health Organization, 2022).

Pneumonia dapat menyebar dengan beberapa cara. Virus dan bakteri yang
biasanya ditemukan di hidung atau tenggorokan anak dapat menginfeksi paru-paru
jika terhirup. Mereka juga dapat menyebar melalui tetesan di udara dari batuk atau
bersin. Selain itu, pneumonia dapat menyebar melalui darah, terutama selama dan
sesaat setelah kelahiran. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan tentang berbagai
patogen penyebab pneumonia dan cara-cara penularannya, karena ini sangat penting
untuk pengobatan dan pencegahan. Pada anak-anak di bawah usia 5 tahun yang
mengalami batuk dan/atau kesulitan bernapas, dengan atau tanpa demam,
pneumonia didiagnosis berdasarkan adanya pernapasan cepat atau tarikan dinding
dada bawah di mana dada mereka bergerak masuk atau menyusut saat menghirup
(pada orang sehat, dada mengembang saat menghirup). Suara mengi lebih umum
terjadi pada infeksi [Link] yang sangat sakit mungkin tidak dapat memberi
makan atau minum dan juga dapat mengalami ketidaksadaran, hypothermia, dan
kejang (World Health Organization, 2022).
Pada tahun 2015, persentase kematian global akibat infeksi saluran napas
bawah menurun dibandingkan tahun 2000 yaitu dari 55,7 menjadi 43,4
kematian/100.000 penduduk dan masih menempati urutan ke-3 penyebab kematian
dengan 5,7% dari seluruh kematian dengan persentase kumulatif sebesar 32,2%. Di
Amerika Serikat, pneumonia merupakan penyakit yang menyebabkan rawat inap
terbanyak. Setiap tahun, sekitar 1 juta pasien menderita pneumonia dengan angka
kematian 50,000 jiwa. Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
Tahun 2018, penderita pneumonia segala usia mencapai 2,21%, dengan rincian
kelompok usia 44-64 tahun 2,5%, usia 64-74 tahun 3,0%, dan usia 75 tahun ke atas
2,9%. Berdasarkan data statistik JKN 2014-2018, pneumonia merupakan salah satu
dari sepuluh kasus rawat inap terbanyak. Pada tahun 2018, kasus pneumonia
berdasarkan diagnosis primer pada rawat inap dengan kode diagnosis primer ICD X
J180 dan J189 adalah 271,496 admisi, dengan total biaya klaim pada kode
INACBGs J-4-16-I yaitu pneumonia ringan & whooping cough ringan senilai
sekitar Rp769.000.000.000 (tujuh ratus enam puluh sembilan miliar rupiah).
Sedangkan pada rawat jalan di fasilitas kesehatan tingkat pertama, infeksi saluran
pernafasan akut merupakan salah satu penyakit dengan jumlah yang banyak secara
konsisten tiap tahunnya (MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
2023).

Penanganan ARDS dimulai dengan ventilasi mekanik lung protektif dan terapi
faktor predisposisi, dengan sepsis sebagai faktor predisposisi yang paling sering
menyebabkan ARDS. Terapi PAL pada ARDS merupakan salah satu contoh
protokol de-resusitasi yang baik yang dapat memperbaiki luaran. Perbaikan klinis
yang terjadi pada pasien ini, walaupun terapi yang dilakukan tidak persis sama
dengan terapi PAL dan CRRT juga hanya dilakukan dalam periode waktu yang
singkat, nampaknya merupakan hasil efek sinergistik dari semua pendekatan terapi
yang diambil. Hal yang harus diperhatikan dalam melakukan de- resusitasi adalah
pemantau hemodinamik dan fungsi organ untuk menghindari hipoperfusi akibat
fluid removal yang berlebihan (Pangerang, Madjid, Anestesiologi, Sakit, & Jakarta,
2020). Pasien dengan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) akan
mengalami beberapa masalah antara lain gangguan pertukaran gas, bersihan jalan
nafas, penurunan kesadaran bahsak sepsis yang disebabkan oleh perubahan perfusi
ventilasi paru karena pada ARDS yang mengisi alveoli adalah cairan eksudat.
Barier alveolar-kapiler mengalami peningkatan permeabilitas, sehingga cairan yang
mengandung protein masuk ke dalam alveoli. Adanya cairan pada alveoli
menyebabkan penurunan komplians sistem pernapasan, right-to-left shunting, dan
hipoksemia(Bakhtiar & Maranatha, 2015) Semakin awal pasien terdiagnosis ARDS,
semakin cepat kita memberikan terapi, maka semakin besar peluang pasien untuk
sembuh sehingga angka mortalitas dapat ditekan. Pada daerah dengan keterbatasan
fasilitas, dapat digunakan kriteria Kigali untuk mendiagnosis ARDS dan foto toraks
dapat digantikan dengan penggunaan ultrasonografi. Terapi utama adalah
pemberian ventilasi mekanik dengan melaksanakan lung protective strategy
sekaligus pencegahan terjadinya VILI dan infeksi lanjutan (VAP). Terapi cairan
konservatif lebih dipilih untuk menghindari keseimbangan cairan yang positif.
Terapi farmakologi tidak banyak terbukti efektif dalam tatalaksana ARDS, tetapi
tetap bisa menjadi pilihan pada beberapa kasus, sesuai hasil evaluasi kondisi pasien
(ARIYADI, 2021).

Salah satu komplikasi utama pneumonia adalah gangguan bersihan jalan


napas. Akibatnya, pasien seringkali mengalami kesulitan bernapas yang signifikan.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat memburuk dan memerlukan intervensi
medis di rumah sakit. Salah satu masalah keperawatan utama pada pasien
bronkopneumonia adalah ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas secara
efektif. Manajemen jalan napas merupakan intervensi yang paling krusial dalam
penanganan pasien trauma. Menjaga patensi jalan napas merupakan prioritas utama
untuk mencegah terjadinya hipoksemia dan kematian. Keterlambatan atau
kesalahan dalam melakukan manajemen jalan napas dapat berakibat fatal. Dahak
yang dihasilkan oleh saluran napas mengandung sel-sel inflamasi, bakteri, dan
debris seluler. Penumpukan dahak ini dapat menyebabkan obstruksi jalan napas
kecil, yang dapat mengarah pada atelectasis dan konsolidasi paru. Selain itu, dahak
yang kental dan sulit dikeluarkan dapat menjadi media pertumbuhan bakteri,
sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi berulang. Oleh karena itu, penting
untuk melakukan tindakan yang bertujuan untuk mengencerkan dan mengeluarkan
dahak, sehingga dapat memperbaiki ventilasi dan oksigenasi. Penatalaksanaan
ketidak efektifan bersihan jalan napas secara umum terbagi menjadi dua
pendekatan, yaitu farmakologis dan non-farmakologis. Terapi inhalasi (nebulizer)
dan oksigenasi merupakan intervensi farmakologis yang bertujuan untuk
memperbaiki ventilasi dan oksigenasi pada pasien dengan gangguan pernapasan.
Kedua terapi ini bekerja dengan cara mengurangi beban kerja pernapasan,
meningkatkan kadar oksigen darah, dan mengurangi distress pernapasan. Selain
terapi farmakologis, intervensi non-farmakologis seperti posisi semifowler dan
teknik batuk efektif juga berperan penting dalam manajemen ketidak efektifan
bersihan jalan napas. Posisi semifowler dan batuk efektif secara sinergis membantu
memfasilitasi pengeluaran sekret dari saluran napas, sehingga meningkatkan
oksigenasi dan mengurangi beban kerja pernapasan. Teknik batuk efektif
merupakan suatu manuver yang bertujuan untuk memfasilitasi pengeluaran sekret
dari saluran napas. Dengan mengontrol pernapasan sebelum batuk, pasien dapat
menghasilkan batuk yang lebih kuat dan efektif dalam mengeluarkan sputum.
Konsumsi air hangat sebelum melakukan teknik batuk dapat membantu
mengencerkan sekret, sehingga lebih mudah dikeluarkan (KVivi Jumini, Yusrah
Taqiyah, Sudarman, 2024).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka rumusan masalah yang di
peroleh sebagai berikut “Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien pneumonia di
ruang intensive care unit RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang tahun 2026 ? “

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umun
Untuk menganalisis Asuhan Keperawatan pada pasien pneumonia di RSUD
Ade Muhammad Djoen Sintang tahun 2026.

2. Tujuan Khusus
a) Mampu melakukan pengkajian Keperawatan pada pasien Pneumonia
di Ruang intensive care unit RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang
tahun 2026.
b) Mampu merumuskan diagnosa Keperawatan pada pasien Pneumonia
di Ruang intensive care unit RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang
tahun 2026.
c) Mampu menyusun intervensi Keperawatan pada pasien Pneumonia
di Ruang intensive care unit RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang
tahun 2026
d) Mampu melakukan implementasi keperawatan pada pasien
Pneumonia di Ruang intensive care unit RSUD Ade Muhammad
Djoen Sintang tahun 2026.
e) Mampu melakukan evaluasi dan dokumentasi keperawatan pada
pasien Pneumonia di Ruang intensive care unit RSUD Ade
Muhammad Djoen Sintang tahun 2026.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Partisipan
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi secara umum
pada masyarakat terutama pada penderita Pneumonia.
2. Bagi Penelitian
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang melakukan asuhan
keperawatan pada pasien pneumonia.
3. Bagi Rumah Sakit
Hasil Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat digunakan sebagai tambahan
referensi yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu kesehatan khususnya
bidang keperawatan untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan
pada pasien Pneumonia di RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang.
4. Bagi Podi D III Keperawatan Sintang
Sebagai referensi bagi mahasiswa kesehatan secara umum dan khususnya
mahasiswa Prodi D III Keperawatan Sintang agar dapat digunakan untuk
penelitian lebih lanjut tentang Asuhan Keperawatan pada Anak masalah
Pneumonia.

E. Keaslian Penelitian
No Judul Peneliti Tahun Hasil Persamaan Perbedaan
1. ASUHAN Intan 2022 Hasil 1. Etika 1. Judul
KEPERAWAT Agustin, penelitian penelitia penelitian
AN PADA TN. [Link] dari seorang n 2. Waktu dan
E DENGAN partisipan tempat
DIAGNOSA dengan 3. Latar
MEDIS penyakit Belakang
PNEUMONIA pneumonia berbeda
DI RUANG C2 didapatkan 4. Jumlah
RSPAL Dr. pasien partisipan
RAMELAN dengan 5. Metode
SURABAYA beberapa pengumpulan
masalah data
keperawatan (Wawancara,O
yaitu pola bservasi dan
nafas tidak dokumentasi)
efektif
berhubungan
dengan
hambatan
upaya nafas,
nausea
berhubungan
dengan
distensi
lambung,
ketidakstabil
an glukosa
darah
berhubungan
dengan
disfungsi
pankreas.
2. ASUHAN FEBRI 2024 Hasil 1. Etika 1. Judul
KEPERAWAT CELLY penelitian Penelitia penelitian
AN PADA NA dari seorang n 2. Waktu dan
KLIEN KUSMI partisipan tempat
PNEUMONIA TA dengan 3. Latar
DI RUANG penyakit Belakang
GATUTKACA pneumonia berbeda
RSUD didapatkan 4. Jumlah
JOMBANG diagnosa partisipa
medis 5. Metode
bersihan pengumpulan
jalan nafas data
tidak efektif (Wawancara,O
disesuaikan bservasi dan
dengan SIKI dokumentasi)
yaitu
manajemen
jalan nafas
dengan
Tindakan
monitor pola
nafas,
monitor
bunyi nafas
tambahan,
monitor
sputum,
melakukan
fisioterapi
dada.
3. Asuhan Namira 2023 Hasil 1. Etika 1. Judul
keperawatan Indah penelitian penelitia penelitian
pada klien arahma dari seorang n 2. Waktu dan
dengan ganggan yani partisipan tempat
system dengan 3. Latar
pernapasan : penyakit Belakang
Pneumonia di pneumonia 4. Metode
ruangan ICU didapatkan pengumpulan
Robert diagnose data
WolterMongins medis pola (Wawancara,O
idi Manado nafas tidak bservasi, dan
efektif, dokumentas)
deficit
nutrisi dan
intoleransi
aktivitas.

Anda mungkin juga menyukai