“Media Audio (media dengar) adalah media yang isi pesannya hanya diterima melalui indera
pendengaran”. Dengan kata lain, media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang
disampaikan melalui media audio berupa lambang-lambang auditif baik verbal maupun non
verbal (Sadiman, dkk. 2002: 49). Media audio adalah “media yang penyampaian pesannya hanya
dapat diterima oleh indera pendengaran. Pesan atau informasi yang disampaikan dituangkan ke
dalam lambang-lambang auditif yang berupa kata-kata, musik, dan sound effect” (Riyana, 2012:
39). Media audio (dalam [Link]) diartikan sebagai “media yang mengandung pesan
dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian,
dan kemauan anak untuk mempelajari isi tema”. Media audio dalam dunia pembelajaran
diartikan sebagai bahan pembelajaran yang dapat disajikan dalam bentuk auditif yang dapat
merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa sehingga terjadi proses belajar
mengajar (Riyana, 2012: 133). Berdasarkan pengembangan pembelajaran, media audio dianggap
sebagai bahan ajar yang ekonomis, menyenangkan, dan mudah disiapkan dan digunakan oleh
guru dan siswa. Materi pelajaran dapat diurutkan penyajiannya, serta bersifat tetap, pasti, dan
juga dapat digunakan untuk media instruksional belajar secara mandiri (Anderson, 1987: 127).
Sejarah media audio itu sendiri tidak bisa lepas dari perkembangan teknologi komunikasi suara
yang digunakan manusia dari masa ke masa. Perkembangan media audio jika dilihat dari sejarah
komunikasi suara, pada tahun 1844 Morse mengirim berita lewat kawat dari Baltimore ke
Washington, maka dikenallah teknologi yang dinamakan telegrafi. Dari temuan tersebut,
Alexander Graham Bell kemudian berpikir bahwa tidak hanya bunyi saja yang dapat disalurkan
melalui kawat, suara pun juga bias. Pada tahun 1875, Alexander Graham Bell melakukan
percakapan lewat telepon sebagai temuan baru di bidang komunikasi suara. Beberapa tahun
kemudian, yaitu pada tahun 1895 ditemukanlah radio oleh Marconi. Temuan tersebut menjadi
temuan yang paling akrab dan dikenal masyarakat. Sebelum ditemukannya alat komunikasi lain,
hampir semua informasi disampaikan dari generasi ke generasi melalui media audio
(pendengaran). Banyak orang menghabiskan waktu untuk mendengarkan informasi melalui
radio. Setelah ditemukannya radio, kemudian mulai ditemukannya alat perekam suara oleh
Thomas Edison yaitu dikenal dengan phonograph. Melalui alat ponograf ini, orang dapat
melakukan perekaman suara dengan menggunakan piringan hitam. Temuan ini kemudian
berkembang seiring dengan perkembangan zaman yaitu orang mulai merekam dengan
menggunakan cassette tape recorder. Di masa sekarang, peran kaset juga telah digantikan
dengan perangkat baru yang bersifat digital seperti Compact Disc (CD), Flash disc, dan
sebagainya.
A. Fungsi
Fungsi media audio dalam pembelajaran adalah.
1. Mengatasi keterbatasan pengalaman mendengarkan dan menyimak yang dimiliki siswa.
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga serta daya penglihatan.
3. Media audio yang menarik dapat menimbulkan gairah belajar pada siswa.
4. Memungkinkan siswa belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan auditorinya.
5. Media audio dapat menghadirkan rangsangan yang sama dan mempersamakan
pengalaman.
6. Media audio dapat menimbulkan sikap positif dan dapat membangkitkan motivasi dan
rangsangan siswa untuk belajar.
7. Dengan media audio, peran guru dalam proses pembelajaran berubah ke arah yang positif
(Riyana. 2012: 14-15; [Link]
B. Kelebihan
1. Tersedia di mana-mana dan mudah digunakan karena sebagian besar orang sudah
sering menggunakannya.
2. Tidak mahal, jika perangkat sudah dibeli maka tidak memerlukan biaya tambahan lagi
karena perangkat yang disimpan bisa dihapus dan dipergunakan kembali. Untuk
fasilitas audio dengan bantuan internet juga tersedia internet secara gratis atau berbiaya
murah.
3. Bisa diproduksi, materi audio dapat dengan mudah diduplikat dengan bantuan piranti
lunak dan perangkat yang sesuai.
4. Menyediakan pesan lisan untuk meningkatkan pembelajaran, siswa yang kurang
menguasai pembelajaran dengan cara visual bisa belajar dengan mendengarkan.
5. Menyediakan informasi terbaru, siaran audio biasanya berbasis berita, pidato,
presentasi, atau penampilan langsung.
6. Menyediakan akses gratis bagi berkas-berkas audio, semua itu dapat kita dapatkan
dengan bantuan web yang tersedia di dunia maya.
7. Ideal untuk mengajar bahasa asing, memungkinkan para pembelajar untuk mendengar
dan merekam pelafalan kata-kata dalam bahasa asing.
8. Merangsang imajinasi, karena pesan lisan disampaikan dengan lebih dramatis sehingga
akan merangsang daya imajinasi siswa.
9. Bisa diputar ulang sesering mungkin sesuai kebutuhan untuk lebih memahami materi.
10. Portable, praktis mudah dibawa dan digunakan di mana pun dan kapan pun.
11. Memudahkan penyiapan mata pelajaran, artinya pengajar bisa merekam mata pelajaran
terlebih dahulu dengan baik, untuk kemudian diperdengarkan kepada siswa di kelas.
12. Pilihan mudah ditempatkan, artinya berkas sudio dapat dengan mudah di tempatkan ke
dalam media penyimpanan yang sesuai dengan kebutuhan.
13. Tahan kerusakan, berkas audio yang disimpan baik di dalam CD maupun MP3 tahan
terhadap kerusakan, goresan biasa pada CD tidak akan mempengaruhi kualitas suara
(Heinich, dkk. 2002: 376-377).
C. Kelemahan
1. Perhatian terhadap hak cipta masih kurang sehingga berkas audio dengan mudah dapat
diperbanyak tanpa izin resmi (illegal). Hal tersebut menimbulkan pelanggaran hak
cipta.
2. Tidak memantau perhatian, artinya ketika rekaman audio diperdengarkan siswa
mungkin saja mendengarkan tetapi tidak menyimak dan memahaminya dengan baik,
dan guru tidak dapat mengetahui kondisi tersebut.
3. Kesulitan dalam penentuan kecepatan, artinya dengan beragamnya kemampuan belajar
siswa guru akan sulit menentukan durasi pemutaran dan pengulangan yang mungkin
diperlukan.
4. Kebutuhan perlengkapan digital dan piranti lunak.
5. Urutan yang kaku, artinya berkas audio yang sudah terekam tidak dapat dengan mudah
dimajukan atau diundur seperti pada media cetak.
6. Kesulitan dalan menempatkan segmen.
7. Berpotensi terjadi penghapusan yang tidak disengaja (Heinich, dkk. 2002: 377-378).