0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Laporan Penyakit DBD: Epidemiologi dan Pencegahan

Diunggah oleh

yoelsimbar09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan13 halaman

Laporan Penyakit DBD: Epidemiologi dan Pencegahan

Diunggah oleh

yoelsimbar09
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

PENYAKIT DBD

DISUSUN OLEH:

NAMA: YOEL SIMBAR

KELAS: FASE E LANKES 4

SMK NEGERI 6 MANADO

TAHUN AJARAN 2024/2025

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya
sehinggaa laporan ini dapat selesai tidak lupa juga berterima kasih kepada pihak yang
membantu penyusunan laporan ini.

Saya sadar dalam laporan ini terdapat kekurangan untuk itu saya menerima kritik dan
saran sebagai bahan evaluasi saya agar dapat menyajikan laporan yang lebih baik lagi.

Penyusun

Yoel Simbar

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
a. PENDAHULUAN........................................................................................1
b. TUJUAN......................................................................................................2
BAB II ISI...............................................................................................................3
a. PENGERTIAN.....................................................................................................3
b. ETIOLOGI...........................................................................................................3
c. MANIFESTASI KLINIS......................................................................................4
d. PATOFISIOLOGI.................................................................................................5
e. PEMERIKSAAN PENUNJANG.........................................................................6
BAB III PENUTUP................................................................................................8
a. KESIMPULAN....................................................................................................8
b. SARAN................................................................................................................8
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................10

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. PENDAHULUAN
Dengue Fever (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. DBD
menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius, terutama di daerah
tropis dan subtropis. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terdapat sekitar
390 juta infeksi dengue per tahun, dengan sekitar 96 juta di antaranya menunjukkan
gejala klinis.

Di Indonesia, DBD merupakan salah satu penyakit yang paling umum dilaporkan,
dengan angka kejadian yang meningkat setiap tahunnya. Data Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2022, terdapat lebih dari 40.000
kasus DBD, dengan jumlah kematian mencapai 400 jiwa. Peningkatan jumlah kasus
ini dipicu oleh faktor-faktor seperti urbanisasi, perubahan iklim, dan perilaku
masyarakat yang kurang memperhatikan pencegahan vektor.

Gejala DBD bervariasi dari ringan hingga berat, dan dalam kasus yang parah, dapat
mengakibatkan komplikasi serius seperti syok dengue dan perdarahan, yang dapat
berujung pada kematian. Upaya pencegahan melalui pengendalian vektor dan edukasi
masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi angka kejadian penyakit ini. Melalui
laporan ini, akan dibahas lebih lanjut mengenai epidemiologi DBD, gejala,
penanganan, serta strategi pencegahan yang efektif untuk memerangi penyakit ini.
Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan
berperan aktif dalam menanggulangi penyebaran DBD.

1
B. TUJUAN
Tujuan dari laporan ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui Apa Itu DBD: Memberikan penjelasan tentang pengertian, penyebab,
dan mekanisme penularan DBD.

2. Menjelaskan Gejala dan Komplikasi: Memberikan pemahaman yang jelas tentang


gejala klinis DBD serta potensi komplikasi yang dapat muncul pada pasien.

3. Mengevaluasi Penanganan Medis: Mengulas metode diagnosis, perawatan, dan


penanganan pasien DBD, serta mengidentifikasi praktik terbaik dalam pengelolaan
penyakit ini.

Dengan mencapai tujuan-tujuan tersebut, diharapkan makalah ini dapat memberikan


kontribusi dalam upaya penanggulangan DBD dan meningkatkan pemahaman kita
tentang penyakit ini.

2
BAB II
ISI

A. PENGERTIAN
Demam berdarah atau DBD adalah penyakit yang menular melalui nyamuk yang
terjadi di daerah tropis dan subtropis di dunia.

Demam berdarah dengue (DBD) ini disebabkan oleh virus dengue yang terbagi
menjadi 4 jenis yaitu DEN 1, DEN 2, DEN 3 dan DEN 4.

Virus ini biasanya dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti & Aedes albopictus betina.

Meski umumnya penyakit ini ditularkan oleh nyamuk tetapi penyakit ini juga dapat
ditularkan melalui ibu hamil kepada janinnya, dan masih banyak lagi.

Penyakit ini masih menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat di Indonesia, dan
tingkat penyebarannya di Indonesia termasuk yang tertinggi di antara negara-negara
Asia Tenggara.

B. ETIOLOGI
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan sesuai
dengan namanya yaitu disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan kepada manusia
oleh nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus betina yang telah terinfeksi virus
dengue.
Ketika nyamuk tersebut menggigit manusia, virus masuk ke dalam tubuh manusia.
Nyamuk Aedes aegypti umumnya berukuran kecil dengan tubuh berwarna hitam
pekat, memiliki dua garis vertikal putih di punggung dan garis-garis putih horizontal
pada kaki. Nyamuk ini aktif terutama pada pagi hingga sore hari, meskipun kadang-
kadang mereka juga menggigit pada malam hari. Mereka lebih sering ditemukan di
dalam rumah yang gelap dan sejuk dibandingkan di luar rumah yang panas. Nyamuk
penyebab demam berdarah ini biasanya hidup di genangan air yang tenang dan
dasarnya bersih, seperti genangan air di ban mobil, sampah plastik, atau tempat
minum hewan.

Faktor risiko seseorang terkena demam berdarah dengue antara lain tinggal atau
bepergian ke daerah tropis. Tinggal atau berada di daerah tropis dan subtropis
meningkatkan risiko terkena virus dengue. Daerah yang berisiko meliputi Asia
Tenggara, pulau-pulau di Pasifik Barat, Amerika Latin, dan Afrika. Selain itu,

3
memiliki riwayat terinfeksi virus dengue sebelumnya juga meningkatkan risiko
mengalami gejala yang lebih parah ketika terkena DBD. Usia di bawah 15 tahun juga
memiliki risiko lebih tinggi terkena demam dengue dan demam berdarah dengue.

C. MANIFESTIS KLINIS
Penyakit demam berdarah terbagi menjadi dua jenis. Pertama, demam berdarah
dengue (Dengue Hemorrhagic Fever) yang membuat kebocoran pembuluh darah.
Lalu, demam dengue (Dengue Fever) yang tidak membuat pembuluh darah bocor.

Banyak orang tidak mengalami tanda atau gejala DBD. Ketika gejala benar-benar
terjadi, ini sering dikira sebagai penyakit lain, seperti flu.
Biasanya gejala DBD akan muncul mulai empat hingga 10 hari setelah mendapat
gigitan nyamuk.

Penyakit ini bisa menyebabkan demam tinggi hingga 40 derajat Celsius yang
berlangsung 2-7 hari, kemudian turun dengan cepat. Selain itu, beberapa gejala
lainnya, antara lain:

-Sakit kepala.
-Nyeri otot, tulang atau sendi.
-Mual dan muntah.
-Sakit di belakang mata
-Kelenjar bengkak.
-Ruam.
-Menggigil.
-Lemas.
-Kulit kemerahan.
-Kesulitan menelan makanan dan minuman.
-Gusi berdarah.
-Mimisan
-Buang air besar berwarna hitam.

Selanjutnya, demam akan turun dan pasien merasa lebih baik. Namun, pada fase ini,
trombosit justru sedang turun drastis dan terjadi kebocoran pada pembuluh darah.

4
Akibatnya, pasien beresiko mengalami pendarahan dan syok karena pembuluh darah
kehilangan banyak cairan.

Fase setelah demam turun merupakan fase kritis umumnya sekitar 1 dari 20 orang
yang sakit demam berdarah akan mengalami demam berdarah yang parah. Pada fase
ini pasien harus diawasi secara ketat. Tanda-tanda peringatan biasanya dimulai dalam
24-48 jam setelah demam menghilang. Gejala penyakit ini pada fase kritis antara lain:
-Nyeri perut berat
-Muntah-muntah tidak kunjung berhenti (minimal 3 kali dalam 24 jam)
-Lemas setelah sudah merasa membaik
-Jantung berdebar
-Nafas cepat
-Kulit dingin, pucat, dan basah
-Pendarahan dari hidung atau gusi

D. PATOFISIOLOGI
Manusia adalah inang (host) utama dari virus dengue. Nyamuk Aedes sp akan
terinfeksi virus dengue apabila menggigit seseorang yang sedang mengalami viremia,
kemudian virus dengue akan bereplikasi di dalam kelenjar liur nyamuk selama 8−12
hari. Namun, proses replikasi ini tidak memengaruhi hidup nyamuk.

Kemudian, nyamuk ini akan mentransmisikan virus dengue jika menggigit manusia
lain, sehingga akan mengalami gejala setelah masa inkubasi rata-rata 4−7 hari
(kisaran 3−14 hari). Virus dengue masuk ke dalam peredaran darah dan menginvasi
leukosit untuk bereplikasi. Pasien akan berstatus infeksius selama 6−7 hari setelah
digigit nyamuk.

Leukosit akan merespon viremia dengan mengeluarkan protein cytokines dan


interferon, yang bertanggung jawab terhadap timbulnya gejala penyakit seperti
demam, flu-like symptoms, dan nyeri otot. Bila replikasi virus bertambah banyak,
maka virus dapat masuk ke dalam organ hati dan sumsum tulang.

Sel-sel stroma pada sumsum tulang yang terinfeksi akan rusak, sehingga produksi
trombosit menurun. Kondisi trombositopenia akan mengganggu proses pembekuan

5
darah dan meningkatkan risiko perdarahan, sehingga DF berlanjut menjadi DHF.
Gejala perdarahan mulai tampak pada hari ke-3 atau ke-5 setelah gejala demam
timbul, baik berupa petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan mukosa mulut,
hematemesis, melena, menorrhea, maupun hematuria.

Replikasi virus pada hati akan menyebabkan hepatomegali dengan tanda nyeri tekan,
tetapi jarang menyebabkan ikterus. Bila penyakit ini berlanjut, maka terjadi pelepasan
zat anafilaktosin, histamin, serotonin, serta aktivasi sistem kalikrein yang
meningkatkan permeabilitas dinding kapiler. Kemudian terjadi ekstravasasi cairan
intra ke ekstra vaskular.

Kondisi tersebut mengakibatkan volume darah turun, ditandai dengan penurunan


tekanan darah dan penurunan suplai oksigen ke organ dan jaringan. Akral tubuh akan
terasa dingin karena peredaran darah lebih diutamakan ke organ-organ vital. Proses
ekstravasasi yang berlanjut akan menyebabkan hemokonsentrasi, hipoproteinemia,
efusi, dan renjatan, sehingga pasien memasuki fase DSS.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang untuk demam berdarah dengue (DBD) meliputi beberapa tes
berikut:

Tes Laboratorium Darah:


Hemoglobin dan Hematokrit: Untuk memantau dehidrasi dan hemoconcentration.
Trombosit: Jumlah trombosit biasanya menurun pada DBD.
Leukosit: Biasanya mengalami penurunan.

Tes Serologi:
Dengue NS1 Antigen: Untuk deteksi awal infeksi dengue.
Antibodi IgM dan IgG: Menunjukkan infeksi dengue; IgM menandakan infeksi baru,
sedangkan IgG menunjukkan infeksi sebelumnya.

PCR (Polymerase Chain Reaction):


Digunakan untuk mendeteksi virus dengue dalam darah, terutama pada fase akut.

6
Ultrasonografi:
Untuk mengevaluasi komplikasi seperti efusi pleura atau asites.
Pemeriksaan ini membantu dalam diagnosis dan manajemen DBD, serta dalam
memantau perkembangan

7
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dengue Fever (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue,
yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Penyakit ini dapat menyebabkan gejala yang bervariasi, mulai dari demam tinggi,
nyeri sendi, hingga perdarahan, yang dapat berujung pada komplikasi serius.

Perjalanan penyakit DBD dimulai dengan masa inkubasi yang biasanya


berlangsung antara 4 hingga 10 hari setelah gigitan nyamuk. Setelah gejala
muncul, penyakit ini dapat berkembang dari fase demam akut ke fase kritis, yang
dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan tepat.

Pemeriksaan penunjang, seperti tes darah untuk mengukur kadar trombosit dan
hematokrit, serta serologi untuk mendeteksi antibodi atau virus, sangat penting
dalam diagnosis dan penanganan DBD. Dengan memahami pengertian, penyebab,
gejala, perjalanan penyakit, dan pemeriksaan penunjang DBD, masyarakat dan
tenaga medis dapat lebih siap dalam mengatasi dan mencegah penyebaran
penyakit ini.

B. SARAN
1. Edukasi Masyarakat: Diperlukan program edukasi yang lebih intensif untuk
masyarakat mengenai pencegahan DBD. Ini dapat meliputi penyuluhan tentang
pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, menghilangkan tempat-tempat
genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk, dan penggunaan obat nyamuk
serta kelambu.

2. Deteksi Dini: Masyarakat harus didorong untuk lebih sadar akan gejala awal
DBD, seperti demam tinggi, nyeri otot, dan ruam. Peningkatan akses terhadap
pemeriksaan kesehatan, seperti tes serologi dan pemeriksaan darah, sangat penting
untuk memungkinkan diagnosis dini.

8
3. Program Vaksinasi: Pemerintah harus memperluas program vaksinasi DBD,
terutama di daerah endemis. Penelitian lebih lanjut tentang efektivitas vaksin dan
studi tentang populasi yang paling rentan juga perlu dilakukan.

4. Surveilans dan Respons Cepat: Penguatan sistem surveilans kesehatan untuk


memantau dan merespons wabah DBD secara cepat sangat penting. Implementasi
sistem informasi kesehatan yang efisien dapat membantu dalam pengumpulan
data dan analisis epidemiologi.

5. Penelitian Berkelanjutan: Diharapkan adanya penelitian lanjutan mengenai


patofisiologi DBD dan pengembangan terapi baru. Penelitian tentang hubungan
antara DBD dan faktor lingkungan juga perlu dilakukan untuk memahami pola
penyebarannya lebih baik.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan dapat menurunkan insidensi DBD dan


meningkatkan kesadaran serta respons masyarakat terhadap penyakit ini.

9
DAFTAR PUSTAKA

1. "Demam Berdarah." Halodoc, Halodoc, [Link]/kesehatan/demam-


berdarah?
srsltid=AfmBOopiNUS2LkWNF7I1o5c5320UOxP7r1aRPuJpXaRHdaVnThNoVHIC
. Akses pada 20 September 2024.

2. "Demam Berdarah Dengue." Ayo Sehat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,


[Link]/topik/demam-berdarah-dengue. Akses pada 20
September 2024.

3. "Kenali Demam Berdarah Dengue (DBD)." Dinas Kesehatan Provinsi NTB,


[Link]/berita/kenali-demam-berdarah-dengue-dbd/. Akses pada 20
September 2024.

4. "Demam Berdarah." Alodokter, Alodokter, [Link]/demam-berdarah.


Akses pada 20 September 2024.

5. "Gejala Demam Berdarah." Mitra Keluarga, [Link]/artikel/gejala-


demam-berdarah. Akses pada 20 September 2024.

6. "Perjalanan Penyakit DBD." RS PMI Bogor, [Link]/news/artikel-


kesehatan/perjalanan-penyakit-dbd. Akses pada 20 September 2024.

7. "Patofisiologi Demam Dengue." Alomedika, [Link]/penyakit/penyakit-


infeksi/demam-dengue/patofisiologi. Akses pada 20 September 2024.

8. "ChatGPT." OpenAI, [Link] Akses pada 20-21 September 2024.

10

Anda mungkin juga menyukai