0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan2 halaman

Elara dan Gerbang Dunia Eldoria

Diunggah oleh

klorofil40
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan2 halaman

Elara dan Gerbang Dunia Eldoria

Diunggah oleh

klorofil40
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Eldoria: Rahasia Istanboel

Book 1 – Seri Eldoria

Bab 1: Gerbang yang Terlarang

Di bawah cahaya rembulan yang lembut, berdirilah seorang gadis muda di tepi sebuah
hutan purba. Usianya sekitar tujuh belas tahun, bahunya yang ramping tertutup oleh jubah
akademi biru tua yang sedikit kebesaran. Rambut hitamnya tergerai, memantulkan kilau
perak dari sinar bulan. Gadis itu menatap nanar ke arah pepohonan yang menjulang,
sementara jemari tangannya memainkan seikat bunga liar yang baru saja ia petik. Namanya
adalah Elara.

Sejak kecil, Elara memiliki kemampuan mengendalikan elemen air—sebuah anugerah yang
sering dianggap langka di kalangan murid Akademi Istanboel, sekolah sihir terbesar di
Eldoria. Namun, bakat yang terkesan hebat itu sering kali tidak berjalan sesuai harapan.
Sihir yang ia coba kuasai lebih sering berakhir dengan kegagalan konyol daripada
keberhasilan.

Malam itu, di sudut hutan dekat Akademi, Elara mencoba sebuah mantra kecil. Ia
mengangkat tangannya, memusatkan pikiran, dan berbisik pelan. Butiran air mulai
berkumpul di udara, membentuk bola kecil yang berkilau bagai kristal. Namun sebelum
sempat ia tersenyum puas, bola itu meledak begitu saja, memercikkan air ke seluruh
wajahnya. “Astaga…” gumamnya sambil mengusap wajah, basah kuyup dari kepalanya
hingga ke leher.

Dari balik pepohonan, suara tawa renyah terdengar. “Elara, kau lagi-lagi mandi malam
tanpa permisi, ya?” Seorang elf berambut pirang dengan telinga runcing keluar dari balik
semak, matanya berbinar penuh canda. Dialah Lila, sahabat sekaligus teman sekelas Elara di
Akademi Istanboel.

“Bukan salahku! Mantranya memang bandel,” sahut Elara, pipinya memerah menahan malu.

Lila terkekeh, lalu menepuk bahu Elara. “Kalau kau terus-terusan gagal begini, jangan-
jangan air lebih menyayangiku daripada dirimu.”

Sebelum Elara sempat membalas, sebuah getaran halus menggema dari dalam hutan. Suara
aneh seperti desir angin bercampur dengan dentuman rendah. Lila spontan terdiam,
telinganya bergerak waspada. “Kau dengar itu?”
Elara mengangguk. Mereka berdua menoleh ke arah sebuah celah di antara pepohonan.
Cahaya kebiruan mulai merembes, semakin lama semakin terang, seolah-olah ada matahari
kecil yang meledak di sana. Jantung Elara berdetak kencang. “Itu… bukan… bukan
seharusnya terbuka.”

Di hadapan mereka, berdiri sebuah gerbang bercahaya, lingkaran runik berputar perlahan
dengan energi yang memancar. Gerbang Dunia—portal kuno yang, menurut semua buku
sejarah, sudah ditutup selamanya berabad-abad lalu.

“Lila… kita harus lapor ke Profesor Armand…” suara Elara bergetar.

Namun sebelum mereka sempat melangkah, cahaya dari gerbang itu berdenyut kuat, dan
dari dalamnya, sosok asing melangkah keluar. Seorang pria muda, tinggi dengan rambut
hitam berantakan, mata kelamnya penuh kewaspadaan. Ia mengenakan pakaian aneh,
bukan jubah murid, bukan pula baju ksatria Eldoria. Tubuhnya tampak letih, namun
auranya dingin, misterius.

Elara membeku di tempat, sementara Lila menelan ludah keras-keras. Sosok itu
mengangkat kepalanya, menatap langsung ke arah mereka berdua. Dalam diam yang
menyesakkan, Elara hanya bisa berpikir satu hal—hidupnya baru saja berubah selamanya.

Anda mungkin juga menyukai