Determinan Opini Audit Keuangan Daerah
Determinan Opini Audit Keuangan Daerah
CURRENT
Jurnal Kajian Akuntansi dan Bisnis Terkini
[Link]
Keywords Abstract
Internal Control System, The primary objective of this research is to examine which factors
Compliance with Laws among legal compliance, internal control systems, and audit
and Regulations, Follow- recommendation follow-ups exert the strongest impact on auditor
up on Audit opinions regarding Indonesian provincial governments between
Recommendations, Audit 2018 and 2022. The investigation relies on secondary data sources,
Opinion, specifically drawing from two key documents: the Semester II Audit
Results Overview Report issued by BPK RI and the Compilation of
Article informations Audit Recommendation Follow-up Monitoring Results spanning
2018-2022, accessed through BPK RI's media center. The research
Received: encompasses all 34 Provincial Financial Statements (LKPDs)
2024-07-11 across Indonesia as its sample population. Statistical analysis was
Accepted: conducted through binary logistic regression methodology,
2024-11-22 utilizing SPSS version 25 software. The findings reveal that when
Available Online: examined individually, neither the internal control system nor legal
2024-11-30 compliance demonstrated significant influence on audit opinions.
However, the follow-up of audit recommendations, when analyzed
separately, showed a meaningful impact on audit outcomes. When
all three variables were considered collectively, the research
discovered that internal control systems, legal compliance, and
audit recommendation follow-ups jointly influenced the resulting
audit opinions.
PENDAHULUAN
Pemerintah Indonesia telah menetapkan kebijakan terkait pemerintahan daerah yang
berlandaskan pada Undang-Undang No. 23 Tahun 2014. Aturan ini mengatur pelaksanaan
otonomi daerah di Indonesia, di mana daerah otonom diberikan kewenangan, tanggung jawab,
dan kapasitas untuk secara tegas menetapkan hak dalam menentukan kebijakan lokal, serta
memberikan pandangan mengenai ruang lingkup, pembentukan, dan pencabutan kebijakan
tersebut. Pelaksanaan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dilakukan berdasarkan
prinsip otonomi dan tugas pembantuan, dalam rangka mempertahankan sistem dan prinsip
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Mengacu pada ketentuan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006, Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) diberi mandat sebagai lembaga negara yang berperan vital dalam
pandangan BPK dapat menunjukkan seberapa baik daerah mengelola keuangannya. Berbeda
dengan audit dengan tujuan tertentu yang hanya menghasilkan simpulan, audit kinerja
menghasilkan temuan, simpulan, dan saran (Meza dkk., 2023).
Opini Audit
120 100 100
94 97 94
100
80
60
40
20 6 0 0 0 0 0 3 0 0 0 0 0 6 0 0
0
2018 WTP
2019 WDP
2020 TMP
2021 TW2022
Gambar 1
IHPS 2018-2022
Sumber: Ikhtisar Hasil Pemeriksaan BPK RI, Tahun 2018-2022
Opini hasil audit mengalami penurunan dari tahun 2018 ke tahun 2022, berdasarkan
data Ringkasan Hasil Audit (IHPS) Semester I tahun 2023. Hal ini menunjukkan bahwa
pemerintah daerah belum menyampaikan laporan keuangannya secara akurat. Hal ini
dibuktikan dengan tidak adanya opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) di dua provinsi pada
tahun 2022. Pada tahun 2022, opini LKPD tingkat pemerintah provinsi turun dari 34 (100%)
menjadi 32 (94%) LKPD, dibanding tahun 2021. Dengan melihat situasi ini, pemerintah
provinsi perlu melakukan berbagai upaya perbaikan agar opini WTP dapat ditingkatkan atau
dipertahankan di masa mendatang. Peran BPK, terutama dalam memberikan rekomendasi dan
memantau pelaksanaan tindak lanjut, juga perlu diperkuat.
Berdasarkan laporan yang dipublikasikan oleh [Link], Pemerintah Provinsi Maluku
Utara pada tahun 2022 menerima opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) untuk Laporan
Keuangannya. Penilaian ini didasarkan pada temuan signifikan terkait kelemahan dalam
implementasi Sistem Pengendalian Internal dan ketidakpatuhan terhadap regulasi yang
berlaku. Kedua faktor ini memberikan dampak substansial pada akurasi penyajian Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
BPK, dalam proses pemeriksaan lapangannya, mengidentifikasi berbagai
permasalahan yang kemudian dijadikan sebagai bukti audit yang memperkuat dasar
pemberian opini WDP tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa untuk mencapai opini tertinggi
yaitu Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), sebuah laporan keuangan pemerintah daerah harus
memenuhi sejumlah kriteria kritis yang ditetapkan oleh auditor.
Kriteria tersebut mencakup empat aspek fundamental: pertama, implementasi sistem
pengendalian internal yang efektif dan terstruktur; kedua, ketepatan dalam pengungkapan
informasi keuangan; ketiga, kepatuhan komprehensif terhadap seluruh peraturan perundang-
undangan yang relevan; dan keempat, kesesuaian dengan standar akuntansi pemerintahan
yang berlaku. Keempat aspek ini menjadi tolok ukur penting dalam menentukan kualitas
pengelolaan keuangan daerah dan kelayakan untuk memperoleh opini WTP (Ulum &
Suryatimur, 2022).
Dalam proses pemeriksaan lapangan, BPK mengidentifikasi berbagai permasalahan di
Provinsi Maluku Utara dan Papua, yang kemudian menjadi bukti audit yang konkret. Merujuk
pada standar pemeriksaan yang harus dipatuhi oleh auditor, opini Wajar Tanpa Pengecualian
(WTP) hanya dapat diberikan kepada Laporan Keuangan Pemerintah Daerah yang telah
memenuhi serangkaian kriteria komprehensif.
Kriteria pemberian opini ini didasarkan pada empat pilar utama: pertama, ketaatan
terhadap standar akuntansi pemerintahan; kedua, transparansi dalam pengungkapan informasi;
ketiga, kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku; dan keempat, efektivitas sistem
pengendalian internal. Evaluasi terhadap kedua provinsi tersebut mengindikasikan bahwa
untuk tahun anggaran 2022, terdapat ketidaksesuaian dengan satu atau lebih kriteria tersebut,
yang mengakibatkan pemberian opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP).
Fenomena ini menekankan pentingnya bagi setiap pemerintah daerah untuk
memberikan perhatian khusus terhadap variabel-variabel yang berpengaruh dalam penentuan
opini BPK. Terdapat hubungan kausal yang signifikan antara kewajaran penyajian laporan
keuangan dengan kualitas opini audit yang dihasilkan. Hal ini menggarisbawahi bahwa
pencapaian opini WTP bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan dari komitmen
pemerintah daerah dalam mengelola keuangan secara profesional dan bertanggung jawab.
Setiap pemerintah daerah perlu memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi
pemberian opini BPK terhadap laporan keuangan mereka. Tingkat opini audit tergantung
penyajian laporan keuangan, yang mana jika laporan keuangan semakin wajar maka tingkat
opini audit yang diterima akan meningkat. Berdasarkan penelitian terdahulu menurut
(Simanjuntak dkk., 2023) Sistem Pengendalian Internal berpengaruh terhadap Opini Audit.
Sedangkan penelitian (Jessica, 2022) Sistem Pengendalian Internal tidak berpengaruh
terhadap Opini Audit.
Selanjutnya berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh (Mutiara dkk., 2022) yang
menyimpulkan bahwa secara parsial Kepatuhan pada Perundang-Undangan berpengaruh dan
signifikan terhadap Opini Audit Pemerintah Daerah. Namun Pada Penelitian dilakukan
(Nasution dkk., 2023) menyimpulkan kepatuhan tidak berpengaruh terhadap opini audit. Lalu
Kemudian berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Kamilah dkk., 2022) Bagian penting
dan berpengaruh dari opini audit adalah tindak lanjut atas rekomendasi yang dibuat dalam
laporan audit, sedangkan penelitian yang dilakukan (Mutiara dkk., 2022) menilai bahwa Opini
Audit tidak terpengaruh oleh Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Audit.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian (Nasution dkk., 2023), dimana
melihat faktor-faktor yang mempengaruhi opini audit berdasarkan penelitian tersebut. Adapun
keterbaruan pada penelitian ini yang menjadi pembeda dengan penelitian tersebut, dimana
pada penelitian tersebut populasi dan sampel dilakukan dengan menggunakan 33 LKPD
Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera utara dalam tahun 2019-2021. Sedangkan,
dalam penelitian ini penulis mengubah populasi dan sample menjadi 34 pemerintah daerah
Provinsi di Indonesia dengan tahun penelitian 2018-2022. Hal ini dikarenakan opini audit
pada pemerintah daerah menurun ditahun 2022 dan terdapat temuan masalah kelemahan SPI
dan ketidakpatuhan terhadap perundang-undangan pada provinsi maluku utara dan papua
sehingga menyebabkan kedua provnsi tersebut mendapatkan WDP. Berdasarkan kondisi
tersebut penulis tertarik untuk menguji penyebab opini audit pada pemerintah daerah Provinsi
di Indonesia dengan tahun penelitian 2018-2022. Adanya perbedaan tersebut membuat
perbedaan lain yaitu sumber data yang diambil, pada penelitian tersebut bersumber dari LHP
atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Utara
sementara dalam penelitian ini bersumber dari LHP atas Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah Provinsi yang ada di Indonesia. Serta pada penelitian ini juga menambahkan 1
variabel independen yaitu Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan yang
mempengaruhi Opini Audit.
Penulis merasa terdorong untuk meneliti Opini Audit di Provinsi-provinsi Indonesia
setelah membaca uraian di atas. Opini audit atas laporan keuangan pemerintah daerah
merupakan penyebab fenomena ini, yang seharusnya berujung pada berkurangnya temuan
kekurangan sistem pengendalian internal dan pelanggaran peraturan. Namun, kenyataannya,
kelemahan-kelemahan tersebut masih sering ditemukan dalam laporan keuangan. Selain itu,
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Pengaruh Sistem Pengendalian Internal terhadap Opini Audit
Merujuk pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 2008
tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, "pengawasan intern" merupakan serangkaian
proses pengawasan sistematis terhadap implementasi tugas dan fungsi organisasi. Proses ini
dilaksanakan melalui berbagai mekanisme yang meliputi kegiatan audit, review, evaluasi,
pemantauan, serta aktivitas pengawasan sejenis.
Implementasi pengawasan intern memiliki tujuan strategis untuk mendukung para
pimpinan dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Hal ini
dicapai melalui pemberian keyakinan yang memadai bahwa seluruh kegiatan operasional
telah dijalankan dengan tingkat efisiensi dan efektivitas yang optimal, sesuai dengan
parameter dan standar yang telah ditetapkan.
Sistem pengawasan intern ini berfungsi sebagai mekanisme kontrol preventif dan
detektif yang memungkinkan organisasi untuk mengidentifikasi potensi penyimpangan sejak
dini, sekaligus memastikan bahwa setiap aktivitas organisasi sejalan dengan regulasi dan
prosedur yang berlaku. Efektivitas pengawasan intern menjadi salah satu indikator penting
dalam penilaian kualitas pengelolaan keuangan pemerintah dan dapat mempengaruhi opini
audit yang diberikan oleh BPK (Herlina dkk., 2023).
Ketika auditor mendeteksi kerentanan dalam sistem pengendalian internal sebagai
akibat dari laporan keuangan yang tidak dapat diandalkan, mereka dapat membuat beberapa
rekomendasi untuk penyelidikan lebih lanjut (SPKN, 2007). Untuk itu, seberapa baik
rekomendasi audit ditindaklanjuti tergantung pada kualitas sistem pengendalian internal.
Saran audit lebih efektif ditindaklanjuti ketika sistem pengendalian internal baik (Fitriana
dkk., 2020). Hal ini sejalan dengan Agency Theory yang menyebutkan bahwa Pertanggungjawaban
pemerintah daerah (agen) kepada masyarakat yang diwakili oleh DPRD (prinsipal) menyatakan
bahwa kebutuhan untuk membangun pengendalian internal yang efisien di dalam lembaga
keuangan negara merupakan komponen penting dari akuntabilitas agen kepada masyarakat
yang diwakili oleh prinsipal, DPRD. Kelemahan dalam sistem tersebut terungkap ketika
sistem pengendalian internal tidak dirancang dan diterapkan dengan baik.
Menurut penelitian (Yusuf & Gustiana, 2022), Sistem pengendalian internal yang
efektif dapat membuat perbedaan. Hasil yang konsisten juga terlihat dalam penelitian
(Simanjuntak dkk., 2023), Apabila efisiensi sistem pengendalian intern juga terbukti, maka
dapat disimpulkan bahwa kualitas opini suatu daerah berkaitan langsung dengan sistem
pengendalian internnya.
Berdasarkan penelitian (Yusuf & Gustiana, 2022) sistem pengendalian internal berpengaruh
positif terhadap opini audit. Hal ini juga sama pada penelitian (Simanjuntak dkk., 2023) sistem
pengendalian internal berpengaruh positif terhadap opini audit. Temuan-temuan ini mengindikasikan
bahwa terdapat hubungan kausal yang kuat antara kualitas sistem pengendalian internal suatu daerah
dengan opini audit yang diperolehnya. Semakin robust dan efektif sistem pengendalian internal yang
diterapkan oleh pemerintah daerah, semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan opini audit yang
favorable. Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis untuk penelitian ini adalah:
: Sistem Pengendalian Internal berpengaruh positif terhadap Opini Audit.
rekomendasi hasil pemeriksaan mempengaruhi opini audit. Dengan kata lain, jika semakin
banyak rekomendasi yang diselesaikan dan perbaikan dilakukan untuk mengatasi kesalahan
sebelumnya, maka kualitas laporan yang disusun akan meningkat dan memenuhi standar yang
berlaku. Akibatnya, opini yang diberikan akan lebih baik.
Pada Penelitian (Wahyuni dkk., 2023) tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan
berpengaruh positif terhadap opini audit. Hal serupa juga sama pada penelitian (Kusumawati
& Ratmono, 2017) yang menyatakan bahwa tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan
berpengaruh positif terhadap opini audit. Maka bisa kita artikan bahwa tindak lanjut
rekomendasi hasil pemeriksaan terhadap opini yaitu, jika semakin banyak rekomendasi yang
diselesaikan dan diperbaiki sehingga kesalahan sebelumnya dapat dihentikan berarti laporan
yang disusun semakin akan baik dan sudah mengikuti standar yang ada maka opini yang akan
diberikan adalah opini yang baik. Berdasarkan uraian diatas, maka hipotesis untuk penelitian
ini adalah:
: Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan berpengaruh positif terhadap
Opini Audit.
METODE PENELITIAN
34 provinsi di Indonesia yang menjadi bagian dari populasi penelitian ini diteliti dari
tahun 2018 sampai dengan tahun 2022. Berdasarkan Tabel 1, tujuan penelitian adalah untuk
memilih individu atau unit sampel berdasarkan kriteria tertentu, dan Metode pemilihan yang
bertujuan berdasarkan pada pengambilan sampel nonprobabilitas digunakan (Emzir, 2020;
Sudaryono, 2018; Sugiyono, 2019). Sebanyak seratus tujuh puluh dua sampel penelitian
digunakan untuk penelitian ini; sampel tersebut terdiri dari provinsi-provinsi di Indonesia
yang menjadi subjek Opini BPK, memiliki laporan hasil pemeriksaan BPK RI yang
mencakup sistem pengendalian internal dan kepatuhan terhadap peraturan serta informasi
tindak lanjut tentang hasil rekomendasi pemeriksaan dari tahun 2018 sampai dengan tahun
2022.
Tabel 1
Sampel Penelitian
Jumlah pemerintah daerah provinsi di Indonesia 38
Provinsi dimana tidak terdapat data yang lengkap (4)
Provinsi yang menjadi sampel 34
Dikali: jumlah tahun 5
Ukuran sampel akhir 170
Sumber: Data diolah, 2024
Data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari sumber sekunder,
khususnya bahan yang sudah beredar. Temuan dari Laporan Hasil Pemeriksaan Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah di Provinsi Indonesia, Ringkasan Hasil Pemeriksaan Semester
(IHPS) 2018–2022, dan Daftar Rekapitulasi Hasil Pemantauan Tindak Lanjut Rekomendasi
Pemeriksaan 2018–2022, yang semuanya bersumber dari pusat media BPK RI, merupakan
indikasi data sekunder yang relevan.
Penelitian ini menggunakan SPSS versi 25, paket perangkat lunak dan layanan statistik,
untuk melakukan analisis regresi logistik. Mengidentifikasi potensi pengaruh variabel
penjelas terhadap variabel dependen, digunakan metode analisis logistik ini. Pendekatan
regresi logistik dipilih oleh peneliti karena dapat diterapkan pada penelitian yang mencakup
variabel dependen kategoris (nominal atau non-metrik).
Tabel 2
Operasional Variabel
Variabel Pengukuran Skala
Opini Audit (Y) variabel dummy, nilai 1 (satu) untuk Opini WTP dan Nominal
nilai 0 (nol) untuk Opini non-WTP
Sistem Pengendalian Kelemahan SPI diukur dengan: Total Temuan Nominal
Internal (X1) Kelemahan Sistem Pengendalian Internal.
Kepatuhan terhadap Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan Nominal
Peraturan Perundang- diukur dengan: Total Temuan Kepatuhan terhadap
Undangan (X2) Peraturan Perundang-Undangan.
Tindak Lanjut Rasio
Rekomendasi Hasil TLRHP =
Pemeriksaan (X3)
Sumber: Data diolah, 2024
Statistik Deskriptif
Metrik statistika dispersi dan kemiringan, serta nilai rata-rata, simpangan baku,
varians, total, rentang, minimum, dan maksimum, digunakan dalam statistika deskriptif
(Ghozali, 2018:19). Berikut ini adalah deskripsi variabel penelitian:
Tabel 3
Hasil Uji Statistik Deskriptif
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
SPI 170 2 48 7.8353 5.92327
KTP 170 1 34 10.1294 5.89813
TLRHP 170 .00 .88 .2653 .19835
Opini Audit 170 .00 1.00 .9647 .18507
Valid N (listwise) 170
Sumber: Data diolah, Output SPSS 25, 2024
Tabel 4
Hasil -2 Log Likehood Block 0
Iteration Historya,b,c
Coefficients
Iteration -2 Log likelihood Constant
1 67.002 1.882
2 48.284 2.778
3 45.301 3.306
Step 0
4 45.116 3.481
5 45.115 3.496
6 45.115 3.497
a. Constant is included in the model.
b. Initial -2 Log Likelihood: 45.115
c. Estimation terminated at iteration number 6 because parameter estimates changed by less than
.001.
Sumber: Data diolah, Output SPSS 25, 2024
Nilai hasil pengujian dua fase pertama (Blok 0) model -2 Log Likelihood ditunjukkan
pada Tabel 4. Nilai 45,115 untuk -2 Log Likelihood Blok 0 ditunjukkan pada tabel 4.
Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai -2 Log Likelihood pada tahap awal
(Block 0) dengan nilai -2 Log Likelihood pada tahap akhir (Block 1). Penurunan nilai dari -2
Log Likelihood awal ke -2 Log Likelihood akhir menunjukkan bahwa model yang
dihipotesiskan sesuai dengan data. Jika terjadi penurunan nilai Log Likelihood, ini
menandakan bahwa model regresi menjadi semakin baik.
Tabel 5
Hasil -2 Log Likehood Block 1
Model Summary
Step -2 Log likelihood Cox & Snell R SquareNagelkerke R Square
1 31.474a .077 .331
a. Estimation terminated at iteration number 8 because parameter estimates changed by less than
.001.
Sumber: Data diolah, Output SPSS 25, 2024
Pada langkah terakhir (Blok 1), nilai temuan pengujian ditunjukkan pada Tabel 5
sebagai -2 Log Likelihood. Nilai -2 Log Likelihood pada Blok 1 adalah 31,474. Hasilnya,
nilai akhir -2 Log Likelihood lebih rendah daripada nilai awal -2 Likelihood. Dimana jika
terjadinya penurunan nilai Log Likelihood, ini menandakan bahwa model regresi menjadi
semakin baik. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa H0 diterima karena model yang
dihipotesiskan fit dengan data. Oleh karena itu, hipotesis nol (H0) diterima karena data sesuai
dengan model yang diusulkan.
Tabel 6
Hasil Hosmer and Lemeshow Test
Hosmer and Lemeshow Test
Step Chi-square df Sig.
1 10.638 8 .223
Sumber: Data diolah, Output SPSS 25, 2024
Nilai Chi-Square adalah 10,638 pada tingkat signifikansi 0,223, seperti yang terlihat
pada Tabel 6 di atas. jika nilai Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test melebihi 5%
atau 0,05, maka model dapat memprediksi nilai observasi dengan baik, menunjukkan bahwa
model dapat diterima karena sesuai dengan data observasi penelitian. Hasil data empiris
penelitian ini konsisten dengan model regresi, karena nilai signifikansi 0,223 lebih besar dari
0,05 atau nilai signifikansi 0,223 > 0,05. Karena model dan data tidak berbeda secara
signifikan, kita dapat menyimpulkan bahwa model tersebut sesuai. Sederhananya, model
regresi ini sesuai untuk penyelidikan lebih lanjut.
Koefisien Determinasi
Dapat dibandingkan dengan koefisien determinasi (R2) model regresi linier berganda,
uji nilai Nagelkerke R2 mengungkap seberapa besar variabel independen—IRS, kepatuhan
regulasi, dan tindak lanjut rekomendasi audit—menjelaskan dampak variabel dependen—
opini audit Pemerintah Daerah.
Tabel 7
Hasil Koefisien Determinasi
Model Summary
Step -2 Log likelihood Cox & Snell R Square Nagelkerke R Square
1 31.474a .077 .331
a. Estimation terminated at iteration number 8 because parameter estimates changed by less than
.001.
Sumber: Data diolah, Output SPSS 25, 2024
Matriks Klasifikasi
Untuk mengetahui seberapa akurat model tersebut, kami menggunakan uji matriks
klasifikasi. Uji matriks klasifikasi dalam penelitian ini menunjukkan kemampuan model
regresi logistik untuk meramalkan pandangan audit di pemerintahan provinsi Indonesia. Tabel
Klasifikasi menampilkan hasil uji matriks klasifikasi alat analisis SPSS 25 dengan regresi
logistik.
Tabel 8
Hasil Matriks Klasifikasi
Classification Tablea
Predicted
Opini Audit
Selain Opini WTP
(Opini WDP, TW, Opini WTP Percentage
Observed TMP) Correct
Step 1 Opini Selain Opini WTP 0 5 .0
Audit (Opini WDP,TW,TMP)
Uji Hipotesis
Uji Wald (Uji Parsial t)
Dengan menggunakan uji Wald, seseorang dapat menguji hipotesis tentang pengaruh
parsial dalam analisis regresi logistik. Kami berharap dapat mempelajari hal baru tentang
hubungan antara variabel dependen, Opini Audit Pemerintah Daerah, dan variabel
independen, Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan, Sistem Pengendalian
Internal, dan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Audit, dengan melakukan pengujian ini.
Pengujian ini menggunakan uji-t.
Adapun hipotesis dalam penenelitian ini yaitu:
H1 : Dihipotesiskan bahwa Sistem Pengendalian Internal berpengaruh positif dan
signifikan secara statistik terhadap Opini Audit Pemerintah Daerah.
H2 : Kami berhipotesis bahwa Opini Audit Pemerintah Daerah dipengaruhi secara
positif dan signifikan oleh Kepatuhan parsial terhadap Peraturan Perundang-undangan.
H3 : Opini audit pemerintah daerah kemungkinan besar akan dipengaruhi secara
positif dan signifikan oleh tindak lanjut sebagian terhadap rekomendasi hasil audit.
Tabel 10
Hasil Uji Wald
Variables in the Equation
Tabel di atas menunjukkan hasil uji-T dan nilai signifikansi setiap variabel
independen; juga menunjukkan apakah hipotesis diterima atau ditolak (Sistem Pengendalian
Internal, Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan, dan Tindak Lanjut
Rekomendasi Hasil Audit). Berikut ini sebagai simpulan dari statistik T tersebut (Uji Parsial):
1. Variabel Sistem Pengendalian Internal (X1) memiliki nilai t sebesar 0,556 dan nilai p
sebesar 0,456. Hal ini dapat dilihat dari nilai t lebih kecil dari nilai t tabel (0,556 < 1,974)
dan nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (0,456 > 0,05). Oleh karena itu, Opini Audit
tidak dipengaruhi oleh variabel Sistem Pengendalian Internal. Dengan demikian, Sistem
Pengendalian Internal tidak berpengaruh signifikan terhadap Opini Audit, karena Ho
diterima dan H1 ditolak.
2. Nilai t sebesar 0,368 dan nilai p (sig) untuk variabel X2 (Kepatuhan terhadap Peraturan
Perundang-undangan) sebesar 0,544. Karena nilai t lebih kecil dari 1,974 dan nilai
signifikansi lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa nilai tersebut lebih
besar dari 0,544. Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-undangan dan Opini Audit
tampaknya tidak berhubungan dengan cara apa pun yang akan menjamin kesimpulan
statistik. Kami menyimpulkan bahwa Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-
undangan tidak memiliki pengaruh substansial terhadap Opini Audit, dan kami menerima
Ho sambil menolak H1.
3. X3, Variabel Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Audit, memiliki nilai-t 8,685 dan nilai-p
0,003. Dibandingkan dengan T-tabel, T-hitung (8,685> 1,974) lebih besar, sedangkan
nilai signifikansi (0,003 < 0,05) lebih rendah. Jadi, aman untuk mengatakan bahwa
variabel Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Audit memengaruhi variabel Opini Audit
secara signifikan. Ini berarti bahwa kami merekomendasikan Hasil Audit berdasarkan
penerimaan H1 dan penolakan H0. Bobot yang cukup besar diberikan pada pengaruh
tindak lanjut terhadap Opini Audit.
Berdasarkan Tabel 11, signifikansi sebesar 0,003 < 0,05 dan F hitung sebesar 13,641
> 2,66, F Tabel juga menunjukkan bahwa 13,641 > 0,05. Uji simultan F digunakan dalam
proses ini, di mana hipotesis diterima jika nilai F-hitung lebih besar dari F-tabel, dengan
demikian dapat disimpulkan Sistem Pengendalian Intern, Kepatuhan terhadap Peraturan
Perundang-Undangan, dan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan berkorelasi positif
dan signifikan terhadap Opini Hasil Pemeriksaan Pemerintah Daerah di Provinsi di Indonesia.
Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sistem Pengendalian Internal tidak memengaruhi
Opini Audit sehingga hipotesis 1 (H1) ditolak. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya
oleh (Jessica, 2022), (Kamilah dkk., 2022) dan (Mutiara dkk., 2022), yang menunjukkan bahwa Dari
segi opini audit pemerintah, sistem pengendalian internal tidaklah signifikan. Fakta bahwa opini audit
Pemerintah Daerah tidak terpengaruh oleh jumlah sistem pengendalian internal menunjukkan bahwa
semakin banyaknya temuan audit yang berkaitan dengan sistem tersebut di provinsi-provinsi di
Indonesia tidak selalu menunjukkan rendahnya kualitas pengungkapan informasi keuangan. Hal ini
mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa temuan terkait Sistem Pengendalian Internal tidak selalu
menunjukkan kesalahan material, terutama jika temuan tersebut tidak memiliki dampak finansial yang
signifikan.
Kepatuhan terhadap perundang-undangan tidak memengaruhi opini audit, menurut kesimpulan
penelitian sehingga hipotesis 2 (H2) ditolak. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh
(Nasution dkk., 2023) dan (Alfiani dkk., 2017), yang juga menemukan bahwa Pendapat auditor
pemerintah tidak terpengaruh oleh apakah suatu organisasi mematuhi hukum dan peraturan yang
berlaku atau tidak. Peningkatan temuan audit yang berkaitan dengan kepatuhan tidak selalu
mencerminkan pengungkapan informasi keuangan yang tidak memadai, seperti yang ditunjukkan oleh
tidak adanya pengaruh dari jumlah kepatuhan peraturan terhadap pendapat audit pemerintah daerah.
Hal ini mungkin disebabkan oleh kenyataan bahwa temuan kepatuhan terhadap peraturan tidak selalu
mencerminkan kesalahan material, terutama jika temuan tersebut tidak memiliki dampak finansial
yang signifikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan
memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Opini Audit Pemerintah sehingga hipotesis 3
(H3) diterima. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh (Wahyuni dkk., 2023),
(Kamilah dkk., 2022) dan (Kusumawati & Ratmono, 2017), yang juga mengindikasikan bahwa
Mengambil tindakan berdasarkan rekomendasi audit memiliki pengaruh besar terhadap opini audit
yang dikeluarkan oleh lembaga pemerintah. Semakin banyak rekomendasi yang dilaksanakan sebagai
hasilnya, semakin baik perbaikan kesalahan saat ini, semakin banyak kesalahan umum yang dapat
dihilangkan, dan laporan keuangan dianggap lebih disiapkan sesuai standar. Jadi, jika laporan
keuangan sesuai dengan aturan, dapat diasumsikan bahwa tidak ada salah saji yang besar dan auditor
mungkin akan memberikan penilaian yang positif.
SIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial sistem pengendalian internal
dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan tidak memengaruhi opini audit
pemerintah provinsi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa jumlah temuan audit terkait sistem
pengendalian internal dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan di provinsi-
provinsi tersebut tidak selalu mencerminkan kualitas pengungkapan informasi keuangan yang
buruk. Hal ini mungkin disebabkan oleh fakta bahwa banyaknya temuan tidak selalu
menggambarkan kesalahan material, terutama jika temuan tersebut tidak memiliki dampak
finansial. Untuk variabel tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan berpengaruh positif
dan signifikan secara parsial terhadap Opini Audit Pemerintah Daerah pada Provinsi di
Indonesia. Hal ini berarti semakin besar jumlah tindak lanjut sesuai rekomendasi yang
dilakukan suatu pemerintah daerah dapat mencerminkan baik tidaknya pengelolaan keuangan
suatu pemerintah daerah, dengan memperbaiki kesalahan kesalahan yang ada. Secara simultan
Sistem Pengendalian Internal, Kepatuhan terhadap Peraturan Perundang-Undangan dan
Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan berpengaruh terhadap Opini Audit
Pemerintah Daerah pada Provinsi di Indonesia.
penelitian lebih lanjut harus menggunakan periode studi yang lebih panjang dan lebih
banyak variabel independen yang dapat memengaruhi penilaian audit agar dapat menawarkan
pandangan yang lebih komprehensif. Penelitian ini memiliki keterbatasan pada penggunaan
hanya tiga variabel dan sampel yang terbatas, terutama karena faktor waktu. Oleh karena itu,
peneliti berikutnya sebaiknya juga memperluas populasi dan ukuran sampel untuk mencakup
lebih banyak provinsi atau periode yang lebih panjang. Temuan penelitian akan lebih
mencerminkan kondisi sebenarnya karena data yang dikumpulkan akan lebih komprehensif
dan representatif. Selain itu, Mengevaluasi faktor-faktor eksternal yang dapat berdampak pada
hasil penelitian juga akan memberikan wawasan tambahan yang lebih mendalam dan relevan.
REFERENSI
Adinata, W., Puspandoyo, T., & Ling, M. (2023). Pengaruh Opini Audit Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Di Daerah. Indonesian
Treasury Review, 8(3), 219–234.
Alfiani, A. N., Rahayu, S., & Nurbaiti, A. (2017). Jumlah Temuan Audit atas Sistem
Pengendalian Intern dan Jumlah Temuan Audit atas Kepatuhan terhadap Opini
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah. Jurnal Riset Akuntansi Kontemporer, 9(1),
12–18.
Emzir. (2020). Metodologi Penelitian Pendidikan (1 ed.). Rajawali Pers.
Fitriana, N., Anugerah, R., & Fitrios, R. (2020). Pengaruh Sistem Pengendalian Internal,
Kepatuhan Pada Peraturan Perundang-Undangan Dan Dana Insentif Daerah Terhadap
Opini Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Dengan Tindak Lanjut Rekomendasi
Audit Sebagai Variabel Intervening Nur. Jurnal Ilmu Pendidikan, 7(2), 809–820.
Ghozali, M. P. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate IBM SPSS 25. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Herlina, B., Zulfachry, Z., Sumarni, S., & Syamsiar, S. (2023). Analisis Kinerja Aparat
Pengawas Internal Pemerintah (APIP) dalam Mewujudkan Good Governance di
Kantor Inspektorat Daerah Kabupaten Wajo. Journal on Education, 05(04), 15921–
15927.
Jessica, V. (2022). Pengaruh Temuan Spi, Temuan Kepatuhan, Tindak Lanjut Hasil
Pemeriksaan Dan Penyelesaian Kerugian Daerah Terhadap Opini Audit Di
Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Selatan. .550–.552 ,)7202.5.8(4 ,הארץ.
Kamilah, F., Zakaria, A., & Mulyasari, I. (2022). Pengaruh SPI, Kepatuhan Peraturan
Perundang-Undangan, dan Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Pemeriksaan terhadap
Opini Audit BPK. Analisis Studi Kelayakan Bisnis Dalam Aspek Produksi, 2(1), 133.
Kusumawati, D., & Ratmono, D. (2017). Determinan Opini Atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah Di Indonesia. Diponegoro Journal of Accounting, 6(1), 1–15.
Meza, K. ultra, Martini, R., & Armaini, R. (2023). Determinan Opini Audit Atas Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Se-Sumatera. Jurnal Riset Terapan
Akuntansi, 7(2), 152–160.
Mutawalli, M. (2022). Kewenangan Badan Pemeriksa Keuangan Dalam Melakukan
Pemeriksaan Dana Desa Yang Bersumber Dari Apbn. LitigasI, 23(1), 61–82.
Mutiara, R., Masnila, N., & Nurhasanah. (2022). Pengaruh Kelemahan Sistem Pengendalian
Intern, Ketidakpatuhan Pada Perundang-Undangan Dan Tindak Lanjut Rekomendasi
Hasil Pemeriksaan Terhadap Opini Audit Pemerintah Daerah. Journal of Economic
Perspectives, 2(1), 1–4.
Nasution, N. I., Rokan, M. K., & Lubis, A. W. (2023). Pengaruh Kelemahan Sistem
Pengendalian Intern dan Ketidakpatuhan atas Ketentuan Peraturan Perundang-
Undangan terhadap Opini Audit Bpk atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
Sumatera Utara Tahun 2019-2021. 7, 31109–31126.
Rumihin, R., Ahuluheluw, N., & Leiwakabessy, T. F. F. (2019). Pengaruh Karakteristik
Pemerintah Daerah Terhadap Opini Audit Atas Laporan Keuangan Pada Kab/Kota Di
Provinsi Maluku Tahun 2016-2018. Journal of Cleaner Production, 19(11), 1–13.
Setiawan, R. A., & Mediaty, M. (2017). Pengaruh Sistem Pengendalian Intern dan Kepatuhan